- 9 Feb 2023
- 4 menit membaca
Diperbarui: 15 Mei
GERAKAN Aron pecah di Sumatra Timur pada masa pendudukan Jepang. Kapten Inoue Tetsuro, Kepala Kepolisian Deli-Serdang, diperintahkan untuk membasminya. Setelah mempelajari insiden-insiden gerakan Aron, pada 7 Agustus 1942 Inoue mendatangi rumah Iwan Siregar alias Iwan Siregar, Ketua Partai Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) Sumatra Timur.
Inoue disambut oleh seorang perempuan Indo bertubuh jangkung dan ramping. Perempuan bernama Murni itu kemudian memanggil Iwan. “Iwan yang segera muncul adalah pria yang sangat jelek, sangat bertolak belakang dengan istrinya yang cantik,” tulis Inoue Tetsuro dalam memoarnya “Bapa Jango: Bapa Djanggut” yang termuat dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs of 1942–1945.
Inoue membawa Iwan ke kantor polisi malam itu juga. Keesokan harinya, ia datang lagi menggeledah rumah Iwan untuk mencari dokumen yang diperlukan dan bertemu lagi dengan istri Iwan. Murni begitu tenang dan tampak bertanggung jawab atas rumah. Inoue pun kehilangan minat mencari dokumen karena dengan perempuan seperti itu, sepertinya tak ada dokumen penting yang akan didapat.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















