- 28 Jan 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 1 hari yang lalu
INOUE Tetsuro, Kepala Kepolisian Kabupaten Deli-Serdang telah mempersiapkan semuanya pada 11 Agustus 1942 untuk memberantas gerakan Aron. Ia mengumpulkan 30 kuli untuk membawa peralatan, makanan dan obata-obatan, sepuluh polisi sebagai penjaga, seorang penerjemah bahasa Karo dan seorang penerjemah bahasa Indonesia, serta seorang petani Karo sebagai pemandu.
Tetsuro begitu detil menulis misinya itu dalam memoarnya “Bapa Jango: Bapa Djanggut” yang termuat dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs of 1942–1945.
“Selain itu, kami memiliki seekor kuda bernama Marco untuk saya (ras Anglo Norman), dan dua kuda (ras lokal) untuk penerjemah. Sebelum kami berangkat, saya menginstruksikan urutan berbaris berikut (dengan kepala di sebelah kiri): polisi, pemandu, saya, penerjemah bahasa Indonesia, inspektur polisi, polisi, kuli, penerjemah bahasa Karo, polisi,” tulis Tetsuro.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















