top of page

Hasil pencarian

9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Gubernur Soerjo di Palagan Surabaya

    “Kita ini bangsa yang besar, tundukkan kompeni, kalahkan tentara Inggris. Kita harus menjaga kehormatan Bangsa Indonesia. Tunjukkan pada tentara Inggris bahwa kita bangsa Indonesia benar-benar ingin merdeka. Merdeka atau mati! ”. Penggalan kalimat itu, sebagaimana dikutip Abdul Waid dalam Bung Tomo , dibacakan Bung Tomo di hadapan ribuan rakyat Surabaya pada pidato 10 November 1945, kala perang melawan Inggris pecah di Kota Pahlawan itu. Kepiawaian Bung Tomo memimpin rakyat Surabaya terbukti mampu membakar semangat perlawanan terhadap kaum penjajah dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dia juga dikenal sebagai pejuang terkemuka Surabaya, yang namanya kerap diidentikan dengan peristiwa 10 November 1945 di ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut. Namun perlu diketahui, tokoh penting di palagan Surabaya itu tidak hanya Bung Tomo seorang. Ada begitu banyak arek Suroboyo  yang mencurahkan seluruh waktu, jiwa, dan raganya untuk memperjuangan kemerdekaan di tanah kelahirannya tersebut. Perjuangan mereka sama-sama besar nilainya. Dan di antara tokoh-tokoh itu, satu nama yang kiranya mesti diingat jasa-jasanya selama perang Surabaya adalah RMT. Ario Soerjo, atau sering juga dipanggil Gubernur Soerjo. Riwayat Perjuangan Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo lahir di Magetan, Jawa Timur, pada 9 Juli 1895. Ayahnya, Raden Mas Wiriosoemarto, menjabat jaksa di Magetan. Sementara ibunya, Raden Ayu Koestiah, merupakan adik bupati Madiun kala itu, Raden Ronggo Koesnodiningrat. Sebagai anak dari keluarga terpandang, sejak kecil Ario Soerjo telah mendapat pendidikan yang baik. Pendidikan formal tingkat dasarnya dimulai di Tweede Indlandsche School di Magetan, dan HIS. Soerjo lalu melanjutkan sekolah ke pendidikan pamongpraja (OSVIA) di Madiun. Setelah lulus tahun 1918, ia ditempatkan di Ngawi sebagai pegawai pemerintahan untuk urusan pribumi. Pada 1923, Soerjo mendapat tawaran pendidikan di Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat. Setelah kurang lebih tujuh tahun mengenyam pelatihan kepolisian, Soerjo lanjut menimba ilmu pemerintahan dan kepamongprajaan, selama dua tahun, di Bestuuracademie di Batavia. Selepas pendidikan di Batavia, Soerjo ditempatkan di Mojokerto. Kemudian tahun 1933, ia diangkat menjadi wedana di Porong, Sidoarjo. Setelah menjabat wedana selama lima tahun, pada 1938 Soerjo menduduki jabatan bupati di Magetan. “Sorjo dikenal sebagai seorang bupati yang berani dan tegas. Sikapnya selalu terbuka dan bersifat melindungi sehingga ia sangat dicintai oleh rakyat Magetan. Rakyat juga menaruk kepercayaan kepada tokoh ini sebagai bupati mereka yang terkenal berani membela rakyatnya,” ungkap Susanto Zuhdi, dkk dalam Tokoh-tokoh Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia Vol. 1 . Sewaktu pendudukan tentara Jepang terjadi pada 1942, ia diberi jabatan syucokan atau residen di Bojonegoro. Jabatan itu, kata Susanto, kekuasaannya setara dengan gubernur, tetapi daerah pemerintahannya hanya sebatas keresidenan. Selain itu, hanya sedikit orang Indonesia saja yang dipercaya oleh Jepang memangku jabatan seperti Soerjo itu. Pada saat pemerintah pendudukan Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Soerjo terpilih sebagai anggota yang diangkat langsung pemerintah Jepang. Setelah proklamasi, Soerjo diberi jabatan gubernur Jawa Timur. Ia tercatat sebagai tokoh yang turut berjuang menggelorakan semangat rakyat Surabaya pada peristiwa 10 November 1945. Sebagai Gubernur Usai pernyataan kemerdekaan oleh Sukarno-Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945, Soerjo diangkat menjadi gubernur Jawa Timur pertama. Banyaknya penglaman di pemerintahan, sebagai wedana dan bupati, membuat pengangkatan Soerjo dianggap tepat untuk menjaga kondisi tetap aman di sisi Timur pulau Jawa. Segera setelah memangku jabatan gubernur, Soerjo membersihkan sisa-sisa pasukan Jepang di Surabaya. Sekira bulan September, gubernur Soerjo mendengar kabar akan kedatangan pasukan Inggris (Sekutu), sebagai pemenang perang, ke Indonesia dalam rangka pelucutan persenjataan milik tentara Jepang, serta pembebasan tahanan perang, sekaligus mengembalikan pemerintahan ke tangan kolonial Belanda. Diceritakan Frank Palmos dalam Surabaya 1945: Sakral Tanahku , kabar itu membuat gubernur Soerjo tidak senang. Ia tidak ingin terjadi konflik di wilayahnya. Untuk itu, selama masa persiapan menghadapi Inggris, gubernur Soerjo berusaha mengumpulkan senjata bekas tentara Jepang dan menampung bekas tahanan dalam keadaan siap dipulangkan. Ia sekuat tenaga mencegah kemungkinan masuknya tentara Inggris ke dalam kota Surabaya. Sang gubernur bertekad meyakinkan petinggi Inggris bahwa pasukan republik di Surabaya telah melaksanakan tugas melucuti persenjataan Jepang. “Karena itu, Pak Soerjo tidak berusaha menghalang-halangi mendaratnya Inggris. Sebuah rombongan penyambutan bahkan dikirim untuk mengalungkan rangkaian bunga pada sejumlah petinggi militer Inggris. Namun rupanya petinggi senior Inggris seperti Jenderal Christison, Hawtorn, dan Brigadir A.W.S. Mallaby yang baru ditunjuk memiliki rencana lain,” tulis Palmos. Rencana para jenderal Inggris itu membuat usaha gubernur Soerjo mencegah pertempuran menjadi percuma. Sejak awal para Sekutu memang sudah merencanakan pendudukan di Surabaya. Bahkan pada 8 November, Mayor Jenderal E.C. Mansergh menyatakan bahwa Inggris tidak mengakui jabatan Ario Soerjo sebagai gubernur Jawa Timur. Sang jenderal juga menuduh gubernur Soerjo dan jajarannya gagal menjalankan kesepakatan pusat, yakni menghalang-halangi tugas Sekutu melucuti senjata Jepang dan mengevakuasi warga Eropa. Sejak itu, ditambah penolakan atas panggilan Mallaby, hubungan gubernur Soerjo dan petinggi Inggris di Surabaya semakin memburuk. Inggris bersikeras menuduh rakyat Surabaya telah melakukan kekerasan dan berbuat onar. Tuduhan itu membuat berang gubernur Soerjo. Maka di dalam sebuah pidato, Ario Soerjo mengajak rakyat Surabaya untuk bersatu dan berani menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi dengan pihak Inggris. “Semua usaha kita untuk berunding senantiasa gagal. Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum itu. Dalam menghadapi segala kemungkinan besok pagi, mari kita semua memelihara persatuan yang bulat antara pemerintah, rakyat, TKR, polisi, dan semua badan-badan perjuangan pemuda dan rakyat kita,” kata Ario Soerjo. Pidato gubernur Soerjo, kata Palmos, disampaikan dalam nada seirus mirip gaya berpidato PM Inggris Churchill semasa Perang Dunia II. Penyampaiannya terdengar terhormat dan berwibawa. Setiap tutur katanya pun teratur, serta mudah ditangkap maknanya. Berbeda jauh dengan pidato Bung Tomo yang berapi-api dan berdarah-darah. Sebagaimana diketahui pertempuran di Surabaya baru berakhir pada 20 November 1945. Gubernur Soerjo kala itu masih memimpin Jawa Timur dan turut membantu membersihkan kekacauan pasca perang besar di daerahnya. Selepas dari jabatannya, Ario Soerjo ditunjuk Presiden Sukarno menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada Juni 1947. Namun nahas, pada November 1948, Ario Soerjo tewas dibunuh di Kali Kakah, Ngawi, oleh para simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Moeso.

  • Sukarno, Pan Am, dan CIA (2)

    TELEVISI ABC menayangkan film seri tentang maskapai penerbangan Amerika Serikat, Pan Am, tahun 1960-an . Fokus ceritanya pada para pramugari, yaitu Maggie Ryan (Christina Ricci), Kate Cameron (Kelli Garner), Laura Cameron (Margot Robbie), dan Collete Valois (Karine Vanasse). Masing-masing memiliki karakter dan peran berbeda. Bahkan, Kate Cameron bekerja pada CIA (Central Intelligence Agency atau Dinas Intelijen Amerika Serikat) untuk menyampaikan informasi atau barang rahasia kepada agen yang ditempatkan di berbagai negara termasuk Indonesia. Di salah satu episode, dia menyerahkan barang rahasia kepada agen CIA di Jakarta.

  • Siapa Ayah dan Ibu Kamala Harris?

    DENGAN mata berkaca-kaca terharu, Shyamala Gopalan tampak fokus memperhatikan kata per kata dari serangkaian kalimat sumpah yang diucapkan Hakim Agung California Ronald M. George. Di hadapan sang hakim, berdiri sosok putri sulungnya, Kamala Devi Harris, yang tangan kanannya diangkat dan tangan kirinya memegang sebuah Alkitab. Momen itu jadi kebanggaan besar terakhir yang disaksikan Shyamala atas pencapaian putrinya. Kala itu, awal Januari 2004, Kamala mengucapkan sumpah dalam pelantikannya sebagai jaksa Distrik San Francisco. “Kamala D. Harris adalah perempuan dan Afro-Amerika pertama yang terpilih menjadi jaksa distrik di San Francisco. Ibunya ikut mengamati saat upacara pelantikannya. Jaksa distrik yang baru ini adalah jaksa veteran dengan pengalaman 13 tahun. Sebelum momen bersejarah itu, sosok berusia 39 tahun tersebut memimpin Divisi Pelayanan Rumah Tangga dan Anak-anak di kantor kejaksaan kota,” tulis majalah Ebony  edisi Maret 2004. Namun sang ibu tak lagi mendampingi ketika Kamala dilantik jadi Jaksa Agung California pada 2011, anggota Senat Amerika Serikat pada 2017. Pun nanti pada saat Kamala dilantik sebagai wakil presiden (wapres) Amerika. Shyamala wafat lima tahun setelah pelantikan Kamala jadi jaksa Distrik San Francisco. Kamala Harris (kanan) saat disumpah menjadi Kepala Jaksa Distrik San Fransisco. (Majalah Ebony edisi Maret 2004). Kamala tercatat jadi wapres Amerika perempuan keturunan Asia-Afrika pertama, setelah bersama Joe Biden memenangi Pilpres Amerika 2020. Pasangan Biden-Kamala dari Partai Demokrat unggul atas pasangan Donald Trump-Mike Pence dari Partai Republik dengan electoral votes 290 (batas pemenang 270) berbanding 214. “Saya berterimakasih kepada perempuan yang paling bertanggungjawab atas eksistensi saya di sini, ibu saya, Shyamala Gopalan Harris. Saat dia datang ke sini dari India di usia 19 tahun, mungkin dia takkan membayangkan momen ini. Namun dia sangat percaya pada Amerika di mana momen seperti ini adalah hal yang mungkin,” ujar Kamala, disitat NDTV , Minggu (8/11/2020). “Saya memikirkan dia dan generasi perempuan, perempuan kulit hitam, Asia, putih, Latin, perempuan pribumi Amerika sepanjang sejarah negeri ini yang telah membuka jalan untuk momen malam ini,” sambungnya dalam pidato pertamanya sebagai wapres terpilih. Sebagaimana Barack Obama, Kamala adalah representasi keragaman etnis dan ras yang bercampur-baur di negeri Paman Sam. Kamala yang lahir 57 tahun lampau adalah buah hati sejoli imigran yang punya asal-usul dari dua belahan bumi berbeda berjarak 15 ribu kilometer. Ibu dari Kasta Brahmana Shyamala merupakan satu dari empat bersaudara yang dilahirkan pasangan suami-istri (pasutri) Rajam Ayyar dan P.V. Gopalan pada 7 April 1938 di Madras (kini Chennai), ibukota Negara Bagian Tamil Nadu. Meski tumbuh di tengah keluarga Hindu berkasta Brahmana, ayah Shyamala tak pernah membelenggu pemikiran terbuka anak-anaknya. Mengingat ayahnya pegawai pemerintahan kolonial British India, Shyamala tak menyia-nyiakan kesempatan untuk sekolah hingga jenjang tinggi di Jurusan Kesehatan masyarakat di Lady Irwin College, kampus ternama di India untuk kaum perempuan di New Delhi. Ketika di usia 19 tahun Shyamala lulus dan berhasrat melanjutkan pendidikan ke Amerika, ayahnya tak melarang. Sikap itu melangkahi adat bahwa perempuan dari kasta Brahmana lazimnya dilarang pergi ke luar negeri sebelum menikah. Bahkan sang ayah mendukung penuh dengan membiayai kuliah Shyamala di Universitas California Berkeley dan biaya hidup pada tahun pertama dari tabungan pensiunannya. “Di masa itu (1950-an), jumlah perempuan lajang India yang pergi ke Amerika untuk kuliah – mungkin tak sampai dua digit. Tetapi ayah saya orang yang terbuka. Dia bilang, ‘jika kamu diterima masuk, maka pergilah,’” ungkap Balachandran Gopalan, adik Shyamala, kepada LA Times , 25 Oktober 2019. Dalam otobiografi Kamala Harris, The Truths We Hold: An American Journey , Kamala juga menceritakan bagaimana ibunya bertemu ayahnya, Donald Jasper Harris, di kampus yang sama. Perbedaan keyakinan, di mana Donald Harris seorang Nasrani, tak menghalangi keduanya bersatu ke jenjang pernikahan pada 1963. Shyamala dan Donald pertamakali bertemu dalam sebuah rapat Afro American Association di Berkeley pada musim gugur 1962. Saat itu Donald menjadi salah satu pembicaranya. Shyamala Gopalan (kiri) saat di Universitas California Berkeley. (Facebook Page Kamala Harris). Awalnya hubungan Shyamala-Donald tak disetujui karena Shyamala sudah dijodohkan. “Ibu saya diharapkan pulang ke India setelah lulus karena orangtuanya sudah mengatur perjodohannya. Diasumsikan ibu saya akan menurut. Namun takdir berkata lain. Ibu dan ayah saya bertemu dan jatuh cinta di Berkeley saat ikut pergerakan HAM. Pernikahan dan keputusannya tinggal di Amerika adalah puncak dari tindakan menentukan nasibnya sendiri atas nama cinta,” tulis Kamala. Orangtua Shyamala akhirnya memberi restu setelah Donald datang ke India untuk meminta izin menikahi Shyamala. “Saya membayangkan betapa sulit bagi orangtuanya merelakan ibu saya pergi, namun ibu saya mendapat restu pindah ke California dan kakek saya tak melarang. Dia masih remaja saat masuk Berkeley pada 1958 untuk mengejar gelar S-2 dalam bidang nutrisi dan endokrin, mengejar cita-citanya menjadi peneliti kanker payudara,” sambungnya. Shyamala tetap giat dalam perkuliahan dan aktivitasnya menyerukan HAM dan anti-Perang Vietnam kala kemudian mengandung Kamala. Gelar PhD-nya juga sukses diraihnya pada Februari 1964 dengan tesis “The Isolation and Purification of a Trypsin Inhibitor from Whole Wheat Flour”. Shyamala kemudian bekerja di Departemen Zoologi dan Laboratorium Riset Kanker Berkeley hingga punya anak kedua, Maya Lakhsmi Harris, yang lahir pada 1967. Namun biduk rumah tangga Shyamala-Donald retak pada 1969. Dua tahun berselang keduanya bercerai. “Mereka berpisah tak lama setelah ayah mengambil pekerjaan di Universitas Wisconsin. Mereka tak memperebutkan uang, melainkan buku-buku. Saya sering berpikir seandainya mereka saat itu sudah lebih matang secara emosional dan usia, mungkin pernikahan mereka akan bertahan,” kata Kamala yang tak pernah tahu penyebab perceraian kedua orangtuanya. Setelah bercerai pada 1971, Shyamala Gopalan berjuang membesarkan Kamala dan Maya sebagai ibu tunggal. (Facebook Page Kamala Harris). Shyamala pun menjadi ibu tunggal ketika membesarkan kedua putrinya di sebuah duplex di Bancroft Way, Berkeley. Namun, itu bukan satu-satunya beban berat yang dipikulnya. “Saya pikir, buat ibu saya perceraian merepresentasikan kegagalan yang tak pernah ia perkirakan. Pernikahannya saja sudah laiknya pemberontakan. Menjelaskannya kepada orangtuanya sudah sulit. Menjelaskan tentang perceraian, saya bayangkan, lebih sulit lagi,” tambahnya. Meski Kamala memeluk Nasrani mengikuti kepercayaan ayahnya, Shyamala tetap memperkenalkan budaya dan tradisi India kepada anak-anaknya. “Kamala mengenal semua mitos dan tradisi Hindu dan Kamala sama-sama nyaman berada di kuil maupun di gereja. Saya memberi nama Kamala terinspirasi dari Dewi Lakshmi. Sebuah budaya yang menyembah dewa-dewi menghasilkan para perempuan tangguh. Oleh karenanya Kamala juga sering mengunjungi Kuil Shiva Vishnu di Livermore. Keluarga saya selalu menginginkan anak-anak bisa belajar tradisi, terlepas di mana mereka lahir,” kata Shyamala, dikutip Peter Schweizer dalam Profiles in Corruption: Abuse of Power by America’s Progressive Elite . Shyamala kemudian memboyong dua putrinya ke Montreal, Kanada, lantaran menerima dua pekerjaan sekaligus di Lady Davis Institute for Medical Research dan Fakultas Medis Universitas McGill. Sepanjang karier penelitiannya yang berfokus pada pertautan hormon progesteron dan kanker payudara, Shyamala setidaknya berhasil menghasilkan tujuh laporan jurnal kesehatan. “Estrogenic of Murine Uterine 90-kilodaton Heat Shock Protein Gene Expression” sebagai jurnal pertamanya terbit pada Agustus 1989 dan “Cellular Expression of Estrogen and Progesterone Receptors in Mammary Gland: Regulation by Hormones Development and Aging” sebagai jurnal terakhirnya terbit pada 2002. Penelitian terakhirnya dilakoni Shyamala ketika sudah kembali ke Lawrence Berkeley National Laboratory, California seraya aktif di organisasi amal Breast Cancer Action. Pada 11 Februari 2009, Shyamala mengembuskan nafas terakhir di usia 70 tahun setelah menderita kanker usus besar. Jenazahnya dikremasi dan abunya dibawa Kamala untuk dilarung di pantai selatan Chennai sesuai tradisi Hindu. “Breast Cancer Action menyatakan penghormatannya kepada Shyamala G. Harris. Seorang ilmuwan terkemuka dunia yang juga sahabat baik Breast Cancer Action. Karya penelitian Harris dalam mengisolasi dan menggolongkan gen reseptor progesteron mengubah pemahaman medis akan respons hormon dalam jaringan payudara. Penemuannya memicu banyak kemajuan mengenai peran progesteron dan sel reseptornya dalam biologi dan kanker payudara,” demikian pernyataan Breast Cancer Action , 21 Juni 2009. Ayah Ekonom Marxis Sebagaimana ibundanya, ayah Kamala Harris, Donald Joseph Harris, juga bukan berasal dari keluarga sembarangan. Lahir Brown’s Town, Provinsi Saint Ann, Jamaika pada 23 Agustus 1938, Donald merupakan buah hati pasutri keturunan tuan tanah dan pemilik budak Oscar Joseph Harris dan Beryl Christie Finnegan. Lewat artikel bertajuk “Reflections of a Jamaican Father” yng dimuat laman diaspora Jamaika, Jamaica Global , 14 Januari 2019, Donald menguraikan nenek moyang dari garis ayah dan ibunya lebih detail. “Akar keluarga, sepengetahuan saya, dari garis ayah ada sosok nenek, Miss Chrishy (Christiana Brown), keturunan Hamilton Brown yang dalam catatan sejarahnya adalah pemilik budak dan perkebunan serta pendiri kota Brown’s Town. Nenek dari ibu saya, Miss Iris (Finnegan), adalah petani dan pengajar dari Aenon Town dan Inverness,” terang Harris. “Nama Harris berasal dari kakek di garis ayah, Joseph Alexander Harris, seorang tuan tanah dan eksportir cengkeh dan rempah-rempah. Dia meninggal setahun setelah saya lahir (1939). Kedua nenek saya punya pengaruh besar dalam masa kecil saya. Miss Chrishy sosok yang disiplin, sementara Miss Iris adalah orang paling lembut yang pernah saya temui,” kenangnya. Donald Jasper Harris bersama Kamala yang masih bayi. ( The Truths We Hold: An American Journey ). Sang nenek Chrishy lebih senang berdagang dengan membuka toko. Sementara ayahnya mengurusi perkebunan keluarga. Dengan latar belakang keluarganya itu, Donald tumbuh dengan minat yang besar akan bidang ekonomi. Maka setelah lulus dari SMA di Titchfield High School, Donald melanjutkan studi ke University College of the West Indies untuk pendidikan strata-1 dan Universitas California Berkeley untuk strata-2 lewat program beasiswa. Donald bertemu Shyamala Gopalan di sebuah rapat asosiasi pelajar kulit hitam pada 1962 dan menikah setahun berikutnya. Biduk rumah tangganya tak bertahan lama, mereka bercerai pada 1971. Meski berpisah, Donald sebisa mungkin tetap mengunjungi Kamala dan Maya, dua buah hatinya hasil pernikahan dengan Shyamala. Ketidakmampuannya untuk sering menengok buah hatinya disebabkan karena kesibukannya sebagai profesor ekonomi di Universitas Wisconsin kemudian Universitas Stanford. Ia acap jadi dosen tamu di beragam kampus, bahkan hingga ke Meksiko, Brasil, dan Malaysia. Miss Iris, nenek Donald Harris saat menggendong Kamala. ( jamaicaglobalonline.com ). Disertasinya semasa di Berkeley, “Inflation, Capital Accumulation and Economic Growth: A Theoretical and Numerical Analysis”, merupakan pemikirannya tentang pembangunan ekonomi yang terinspirasi dari para pemikir ekonomi seperti Karl Marx hingga John Maynard Keynes. Lantaran banyak memakai metode Karl Marx saat mengajar, Donald dijuluki Suratkabar The Stanford Daily , 3 November 1976, sebagai akademisi “Marxis”. Penggunaan metode Marxis oleh Donald bahkan  pernah bikin resah para koleganya di Stanford. “Sebuah argumentasi muncul dua tahun lalu di Departemen Ekonomi dalam oposisi terhadap penunjukan Prof. Donald Harris secara permanen, seorang akademisi Marxis, di mana keahliannya sebagai dosen menarik minat para mahasiswanya untuk mendalami pemikirannya,” tulis suratkabar itu. “Beberapa pengajar Fakultas Ekonomi memerhatikan efek pada sejumlah mahasiswa Harris: (1) adanya sebuah sinyal di mana mahasiswa tak mampu memilih mata kuliah-mata kuliah penting untuk pendidikannya dan (2) sebuah demonstrasi tentang bahayanya cara mengajar yang mengakibatkan melebarnya fokus mahasiswa,” lanjutnya. Donald Harris bersama putrinya, Kamala & cucunya, Meenakshi. ( jamaicaglobalonline.com ). Meski pemikirannya tak terlalu diterima di Amerika, pemikiran Donald bisa diterima baik di negeri asalnya, Jamaika. Pada 1990-an, Donald sempat pulang ke Jamaika untuk mengaplikasikan teorinya demi pembangunan. Sebelumnya, dia telah melakukan riset mendalam tentang ekonomi makro dan mikro di Jamaika. Hasilnya, pemerintah Jamaika menetapkan National Industrial Policy (NIP) pada 1996. Inti dari kebijakan itu adalah, dorongan inisiatif dan kerangka legalitas dari pemerintah kepada sektor-sektor swasta sebagai alat untuk bernegosiasi demi menarik investasi asing. Pada 2011, pemikiran Donald membuahkan Growth Inducement Strategy (GIS). Inti GIS adalah strategi proaktif pemerintah dan sektor swasta dalam kerjasama untuk membangun lingkungan investasi yang stabil dengan di -endorse IMF.

  • Darah Aktivis Kamala Harris

    PINTU menuju kursi penguasa negeri adidaya Amerika Serikat terbuka lebar buat Kamala Harris yang maju jadi calon wakil presiden Amerika bersama Capres Joe Biden dari Partai Demokrat. Pasangan Biden-Kamala unggul jauh dalam perolehan electoral votes  dari duet petahana Partai Republik, Donald Trump-Mike Pence. Hingga kini, Sabtu (7/11/2020) pukul 23.00 WIB, Biden-Kamala memimpin jauh dengan perolehan 264 electoral votes  (214) sejak digelarnya Pilpres Amerika empat hari lalu. Meski Trump ingin membawa hasilnya ke Mahkamah Agung Federal Amerika, Biden-Kamala sudah bersiap merayakan kemenangan yang tinggal menanti enam electoral votes  (270) lagi untuk resmi jadi capres-cawapres terpilih. Jika begitu, sejarah akan kembali tercipta setelah Barack Obama jadi orang kulit hitam pertama yang menjabat presiden Amerika pada 2009. Kamala akan jadi wakil presiden perempuan dan berkulit hitam pertama Amerika. Catatan sejarah itu akan melanjutkan catatan yang dibuatnya pada 2017. Kala itu Kamala menjadi politikus perempuan keturunan Afro-Asia pertama yang menjadi senator (Negara Bagian California). Kamala Harris bersama Joe Biden di ambang sejarah baru Amerika Serikat ( joebiden.com ) Berdemonstrasi dengan Kereta Bayi Meski terpisah ribuan mil dari tempat Kamala mengikuti kontestasi pilpres, Masyarakat Tamil Nadu, terutama di Desa Thulasendhirapuram, berbondong-bondong mendatangi Kuil Dharmasastha. Mereka mendoakan Kamala menang di pilpres Amerika. Desa Thulasendhirapuram mempunyai kedekatan emosional dengan Kamala. Ia merupakan kampung kelahiran P.V. Gopalan, kakek Kamala dari garis ibu. “Pada 2014, ibunya, Shyamala, pernah memberikan sumbangan atas nama Kamala Harris, jadi para penduduk desa mengenalnya dengan sangat baik,” tutur Kepala Desa Thulasendhipuram Arulmozhi Sudhakar sebagaimana diberitakan Hindustan Times , Rabu, 4 November 2020. Orangtua Kamala Harris: Donald Jasper Harris & Shyamala Gopalan ( joebiden.com ) Kamala Harris lahir di Oakland, California pada 20 Oktober 1964 sebagai sulung dua bersaudari dari orangtua blasteran Tamil-Jamaika. Ibunya, Shyamala Gopalan, berasal dari Chennai di selatan India; sementara ayahnya, Donald Jasper Harris, merupakan imigran dari Jamaika. Dalam memoarnya, The Truths We Hold: An American Journey , Kamala mengisahkan ia dilahirkan oleh orangtua yang cemerlang secara akademik meski kehidupan masa kecil keduanya tak mudah. Donald Harris sejak muda tumbuh menjadi akademisi di bidang ekonomi sebagai lulusan Universitas London dan penyandang gelar PhD di Universitas Berkeley. Sementara, Shymala pada usia 19 tahun sudah lulus dari Lady Irwin College di New Delhi dan langsung mengejar gelar S-2, juga di Berkeley. Keduanya saling mengenal di kampus Berkeley lantas berpacaran. Pada 1963, keduanya menikah. “Hidup ibu saya dimulai ribuan mil dari asalnya di belahan timur, di selatan India. Ia merantau pada 1958 untuk mengejar gelar doktor dalam bidang nutrisi dan spesialis endokrin. Ayah dan ibu saya jatuh cinta saat ikut pergerakan HAM di Berkeley,” ungkap Harris. Kakek-nenek Kamala Harris dari garis ibu: P. V. Gopalan & Rajam Gopalan (Facebook Page Kamala Harris) Aktivis, itulah yang diturunkan ke dalam diri Kamala dari garis ibunya. Kakek dan neneknya dikenal sebagai dua dari segelintir tokoh masyarakat yang berpengaruh di wilayah Tamil. “Nenek saya, Rajam Gopalan, tak pernah sekolah sampai SMA, namun dia seorang yang terampil dalam sosial kemasyarakatan. Ia akan selalu menampung perempuan korban kekerasan suami dan selalu mengancam agar para suami mau mengurus istri dengan baik dan kalau tidak, dia yang akan mengurusnya di rumahnya. Dia juga sering mengedukasi perempuan di desanya tentang kontrasepsi,” tutur Kamala. Kamala melanjutkan, “Kakek saya P.V. Gopalan pernah menjadi bagian dari pergerakan untuk memenangkan kemerdekaan India. Pada akhirnya dia menjadi diplomat senior di pemerintahan. Dia dan nenek sempat menghabiskan waktu hidupnya di Zambia setelah India merdeka, untuk membantu para pengungsi.” Dari merekalah Shyamala belajar tentang kepedulian dan aktivisme yang lantas diturunkan ke Kamala. Menurut Kamala dari cerita ibunya, pernah suatu ketika Kamala yang baru berusia sekitar dua tahun (tahun 1966) sampai dibawa ikut berunjuk rasa dengan para aktivis Free Speech Movement (FSM) untuk menyuarakan HAM, anti-rasisme, dan anti-Perang Vietnam. “Ibu saya sangat paham dengan sejarah, kesadaran politik, dan kesadaran akan perjuangan dan persamaan. Maka orangtua saya sering membawa saya dengan kereta bayi bersama mereka ke aksi-aksi menyuarakan HAM. Sedikit yang saya ingat waktu itu hanya melihat lautan kaki bergerak ke sana-sini. Teringat akan energi di sekeliling dan teriakan-teriakan,” tambahnya. Sejak balita sudah diajak ikut unjuk rasa dan pada usia tujuh tahun sudah jadi korban broken home (Facebook Page Kamala Harris) Mereka saat itu bergerak di Sproul Plaza untuk memprotes dengan damai karena diserang polisi dengan selang air. “Mereka datang untuk bertemu Martin Luther King Jr. yang berbicara di Berkeley, di mana ibu saya berkesempatan bertatap muka. Dia menceritakan pada satu aksi protes anti-perang, massa dikonfrontir (geng motor) Hell’s Angels. Saat kerusuhan pecah, ibu saya dilindungi teman-temannya untuk membawa saya keluar dari situasi itu,” kata Kamala. Namun ketika Kamala baru berusia tujuh tahun dan Maya, adiknya yang masih balita, harus jadi korban broken home. Shyamala dan Donald bercerai. Sejak itu, Kamala dan Maya dibesarkan oleh ibunya. “Saya tahu mereka saling mencintai tapi kelamaan mereka menjadi seperti air dan minyak. Hubungan mereka sudah retak sejak saya berusia lima tahun. Setelah ayah saya mengambil pekerjaan mengajar di Universitas Wisconsin, mereka bercerai. Uniknya bukan uang yang mereka perebutkan, melainkan koleksi buku-buku. Ayah saya tetap jadi bagian hidup kami yang selalu datang pada akhir pekan,” ungkapnya. Pembela LGBT Meski dibesarkan di keluarga yang tak utuh, Kamala Harris tetap tumbuh jadi anak secemerlang kedua orangtuanya. Mereka sempat pindah untuk mengikuti aktivitas sang ibu yang sambil mengajar di Montreal, Kanada juga melakukan banyak penelitian tentang hormon progesterone dan tentang kanker payudara . Selepas SMA, Kamala hidup mandiri di Washington DC sebagai mahasiswi jurusan Ilmu Politik dan Ekonomi Universitas Howard. Lulus pada 1986, ia melanjutkan studinya dengan mengambil jurusan Hukum di Hastings College of the Law, University of California berbekal  beasiswa dari Legal Education Opportunity Program (LEOP). Pada 1988, Kamala ikut program magang di Pengadilan Tinggi Alameda County, Oakland, California. “Saya magang bersama sembilan mahasiswa lain di kantor jaksa distrik. Saya sudah lama memendam niat menjadi jaksa penuntut. Saya ingin berada di baris terdepan dalam reformasi pengadilan kriminal, di mana saya ingin melindungi yang lemah. Pekerjaan kami lebih kepada belajar dan mengamati segala kegiatan di sana, di mana kami masing-masing ditempatkan bersama para jaksa yang mengerjakan beragam kasus dari Driving under the Influence hingga pembunuhan,” terangnya. Di situ pula Kamala mengawali kariernya sebagai salah satu deputi jaksa Distrik Alameda County setelah lulus pada 1990. Kariernya melejit berkat otak encernya. Setelah berpacaran dengan Willie Brown, seorang duda yang juga ketua Majelis Negara Bagian California, Kamala melenggang jadi anggota Dewan Unemployment Insurance Appeals pada 1994, dan pada 1998 jadi kepala Divisi Karier Kriminal di Pengadilan Tinggi San Francisco. Saat itu Willie sudah menjabat walikota San Francisco (1996-2004). Sejak Agustus 2000, Kamala mengepalai Divisi Pelayanan Rumah Tangga dan Anak-Anak di Balai Kota San Francisco di bawah jaksa kota Louise Renne. Di sanalah Kamala menemukan passion -nya untuk membela orang lemah, terutama perempuan dan anak-anak. Kamala Harris semasa di Universitas Howard (kiri) & wisuda Hastings College of the Law (Facebook Page Kamala Harris) Namun ketika hendak mengajukan diri sebagai jaksa Distrik San Francisco pada November 2002, Kamala diserang saingannya, Terence Hallian dan Bill Fazio, dengan isu hubungannya dengan walikota yang memuluskan kariernya. Sebagaimana diungkapkan Peter Byrne dalam artikelnya yang dimuat San Francisco Weekly , 24 September 2003, “Kamala’s Karma”, Hallinan dan Fazio menyerang Kamala dengan isu nepotisme. Kamala pun membela diri bahwa apa yang dicapainya selama ini bukan berkat mantan pacarnya. “Saya menolak mendesain kampanye saya dengan mengelilingi kritik terhadap Willie Brown karena saya mengajukan diri secara independen. Tak diragukan lagi saya pribadi yang mandiri dan terlepas dari pengaruhnya dan faktanya dia tak bisa mengontrol saya. Kariernya sudah habis; saya masih akan hidup dan berjuang untuk 40 tahun ke depan. Saya tak berutang apapun kepadanya,” ujar Kamala, dikutip Byrne. Kamala akhirnya menang pada pemilihan jaksa distrik 2003. Setelah menjadi jaksa, ia tetap memegang janjinya semasa kampanye untuk tidak akan pernah mengajukan hukuman mati kepada terdakwa dengan kasus kejahatan apapun. Di jabatan itulah dia mulai menonjolkan diri sebagai jaksa pembela LGBT, dengan membentuk Unit Kejahatan (berdasarkan) Kebencian pada 2005. Unit ini memfokuskan diri pada kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) korban hate crime . Salah satu kasusnya yang terpenting adalah peninjauan kasus pembunuhan Gwen Araujo, remaja transgender 17 tahun yang dihabisi empat pelaku di Newark, California, 4 Oktober 2002. Kamala Harris kala menjadi Jaksa Agung (kiri) & Senator Negara Bagian California (Facebook Page Kamala Harris) Menurut The San Francisco Examiner , 5 Juli 2006, Kamala sampai menggelar konferensi selama dua hari untuk menghimpun 200 jaksa dan aparat penegak hukum guna membahas strategi hukumnya. Pasalnya, empat tersangka pelaku menggunakan hak “Gay Panic Defense”, aturan yang memungkinkan keempatnya membela diri dengan melukai atau membunuh sebagai reaksi atas provokasi yang timbul dari kepanikan terkait hubungan seks sesama jenis yang tak diinginkan. LGBT jadi salah satu isu yang disuarakan Kamala dalam kampanyenya sejak 2008 kala maju dalam pemilihan jaksa agung Negara Bagian California. Saat sudah menjadi jaksa agung California, Kamala mengajukan laporan amicus curiae (dasar hukum sahabat pengadilan, red. ) ke Ninth Circuit (Pengadilan Banding Federal). Dalam laporannya, Kamala menegaskan bahwa Proposition 8, yang mengatur hanya pernikahan beda jenis yang dilegalkan di California, tak punya dasar hukum kuat. Ninth Circuit akhirnya mencabut larangan pernikahan sesama jenis pada Juni 2013. Sejak saat itu kaum LGBT senantiasa berada di belakang Kamala. Termasuk saat Kamala maju menjadi Senat California pada 2017 dan mendampingi Joe Biden di Pilpres Amerika, 3 November 2020.

  • Sejarah Laïcité, Dasar Falsafah Sekularisme Prancis

    Sejak September lalu, setidaknya ada tiga insiden terkait terorisme di Prancis. Dua orang staf rumah produksi diserang di dekat kantor Majalah Charlie Hebdo  pada akhir September. Pada 16 Oktober, seorang guru bernama Samuel Paty dipenggal setelah memperlihatkan kartun Nabi Muhammad di sekolah. Lalu pada 29 Oktober, tiga orang tewas dalam serangan di Nice. Situasi semakin memanas. Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait kebebasan berpendapat di negerinya dianggap sebagai sikap anti-Islam. Negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim mengecam Macron dan aksi boikot produk-produk Prancis dilakukan di berbagai tempat. Mengutip bbc.com , pada awal Oktober lalu, Presiden Macron mengatakan bahwa “sekularisme adalah dasar negara” dan “separatisme Islam harus ditangani.” Sekularisme yang hendak dipertahankan Prancis itu memang telah menjadi dasar falsafah Prancis selama lebih dari 100 tahun. Sekularisme atau yang dalam istilah Prancis disebut Laïcité,  memiliki akar yang panjang dalam sejarah Prancis. Revolusi Prancis Revolusi Prancis (1789–1799) berdampak besar pada sejarah modern Prancis. Monarki runtuh dan rezim kuno gereja yang berperan penting melegitimasi kekuasaan raja digugat. Demokrasi liberal dan sekularisme kemudian tumbuh di negeri yang selalu gaduh dari revolusi ke revolusi ini. Dalam sejarah Prancis, gereja memegang posisi strategis dalam kekuasaan. Para pendeta mendapat hak-hak istimewa, prioritas sosial, menanggung pajak lebih ringan serta keuntungan-keuntungan terkait kepemilikan tanah. Gereja Katolik Roma juga menguasai urusan keagamaan dan memegang kendali terhadap pendidikan. “Gereja berusaha untuk mempertahankan keseragaman agama –gereja Katolik Roma adalah satu-satunya yang diizinkan mengadakan kebaktian– dan menikmati kekuatan penyensoran,” tulis Anne Stevens dalam The Government and Politics of France . Namun, periode awal revolusi mulai merontoki hubungan monarki dan gereja. Pada 1790, “Civil Constitution of the Clergy” melucuti hak-hak istimewa atas kepemilikan tanah gereja. Dua tahun kemudian, 1792, Republik Prancis Pertama berdiri dan menandai berakhirnya kekuasaan monarki.  Pada ekspansi 1796-1797, pasukan Prancis yang telah menembus Jerman kemudian memasuki Semenanjung Italia dan menduduki Roma. Namun, pada 1801 Napoleon Bonaparte menjalin sebuah Konkordat atau perjanjian antara pemerintah Prancis dengan Vatikan. Konkordat 1801 Konkordat 1801 mengakui Katolik sebagai agama mayoritas penduduk Prancis dan mengesahkan dimulainya kembali ibadat umum. Pemeritah juga kembali membayar para imam dan uskup. Meski demikian, gereja harus menerima bahwa tanah-tanah mereka tak bisa kembali. Paus Pius VII dan umat Katolik Prancis menerima itu sebagai harga yang harus dibayar agar ibadat umum dapat kembali dilaksanakan. “Banyak mantan revolusioner terkemuka yang keberatan dengan Konkordat; mereka menyalahkan Napoleon karena meninggalkan kemenangan Revolusi yang diraih dengan susah payah atas apa yang mereka lihat sebagai takhayul kuno,” tulis Jeremy D. Popkin dalam A History of Modern France . Monarki yang pulih pada 1815 memang tidak mencabut Konkordat, tapi Revolusi 1830 mengaitkan gereja dengan ide-ide politik reaksioner. Sementara pada Revolusi 1848, pemerintah Kekaisaran Kedua mendukung gereja. Pada akhir abad ke-19, gereja secara jelas diidentifikasikan dengan kekuatan-kekuatan kaum kanan reaksioner dan kaum konservatif yang mendambakan kembali masyarakat hierarkis yang teratur. Pemisahan Gereja dan Negara Sikap gereja kemudian dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip revolusioner kaum republikan. Pada 1902, Prancis dipimpin oleh Emile Combes, seorang republikan anti-klerikal militan. “Jengkel oleh kebencian gereja, Combes akhirnya memutuskan untuk sepenuhnya mengubah aturan dasar hubungan gereja-negara,” tulis Popkin. Pemerintahan Combes memutuskan hubungan dengan Vatikan pada 1904. Setahun kemudian, Majelis membatalkan Konkordat 1801 yang telah mengatur hubungan gereja-negara sejak zaman Napoleon. Hukum pemisahan gereja dan negara ini disebut Loi concernant la Séparation des Eglises et de L'etat. Secara formal, negara tidak lagi mengakui agama apapun, tidak mensubsidi gereja, dan tidak membayar pendeta atau imam dari agama apapun. Dalam perjalannya, Prancis mengalami berbagai tantangan dalam penerapan hukum ini. Sepanjang abad ke-20, keberagaman Prancis bertambah dengan masuknya banyak pendatang. Termasuk di dalam pendatang itu mereka yang memiliki identitas agama yang sebelumnya tidak diatur maupun dipertimbangkan dalam hukum 1905. Menurut Stephen M. Davis dalam Rise of French Laicite , Prancis yang heterogen dan menerima beragam identitas itu dapat dilihat misalnya dari pengakuan penguburan menurut agama hingga makanan kosher dan halal yang disajikan di angkatan bersenjata. “Contoh-contoh ini sering ditawarkan untuk menunjukkan bahwa Laïcité bukanlah dogma yang tidak berwujud dan bahwa Republik telah mengetahui cara menyesuaikan praktiknya,” tulis Davis. Lebih dari 100 tahun berlalu dan hukum 1905 terus berada di tempat fundamental dalam hukum publik Prancis. Abad ke-21 juga memunculkan dinamika sendiri. Kini tantangan bergeser dari perlawanan terhadap pengaruh gereja ke separatisme agama seperti dikatakan Macron.

  • Pemerintah Kolonial Libatkan Masyarakat dalam Kawasan Konservasi

    Penutupan Pulau Rinca di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk melanjutkan pembangunan Taman Wisata ala Jurassic Park mengundang pro dan kontra. Pegiat lingkungan menilai pembangunan mengancam habitat komodo dalam kawasan konservasi dan mengabaikan keterlibatan masyarakat. Tapi pemerintah mengatakan bahwa pembangunan sudah mempertimbangkan dua hal tersebut. Pelibatan masyarakat dalam kawasan konservasi sejatinya bukan hal baru. Sejarah konservasi alam masa Hindia Belanda telah menunjukkan beberapa kecenderungan pemerintah kolonial untuk melibatkan peran masyarakat dalam konservasi. “Sejak pertama kali pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan tentang kehutanan, baik hutan lindung, cagar alam maupun suaka margasatwa, penduduk setempat telah menerima perhatian untuk dipertimbangkan,” catat Harto Juwono dan Gunung Sinaga dalam Sejarah Konservasi Alam di Indonesia (Periode 1865–1950) . Pelibatan masyarakat tersua dalam aturan hutan lindung 1875 ( Staadblad van Nederlansch Indie over het jaar 1875 no 216 ). Disebutkan bahwa penduduk sekitar hutan lindung berhak mengambil jenis-jenis tanaman tertentu dalam hutan. Selain itu, ada pula kriteria larangan, pelanggaran, dan kejahatan terhadap hutan lindung yang dikenakan pada setiap orang, termasuk penduduk setempat. Pemerintah membentuk polisi hutan pada 1897 untuk mengawasi hutan lindung. Kebanyakan mereka orang-orang Eropa. Mereka berhubungan langsung dengan penduduk setempat dan ikut mengabarkan aturan-aturan baru terkait dengan wilayah konservasi. Misalnya ketika pemerintah mulai menerbitkan aturan baru tentang hutan lindung pada 1909. “Penduduk sekitar boleh memasuki hutan lindung tetapi harus memperhatikan peralatan yang dibawa,” sebut Harto dan Gunung. Meski pemerintah telah menetapkan banyak wilayah konservasi hingga 1909, penebangan secara terbatas di dalam kawasan tersebut tetap diperbolehkan. Sebab, pemerintah memandang segi ekonomi kawasan konservasi perlu juga untuk digali. Aturan penebangan cukup ketat bagi orang di luar kawasan konservasi. Tapi cukup longgar untuk penduduk sekitar. Contohnya tersua dalam Besluit Gubernur Jenderal pada 13 April 1914. Ada sejumlah produk kehutanan boleh dimanfaatkan oleh penduduk sekitar, termasuk menjualnya. “Melalui penjualan, hak milik penduduk pribumi menjadi sah dan tidak bisa diperdebatkan lagi,” terang Harto dan Gunung. Pemerintah juga memperhatikan nilai-nilai adat dan tradisi lokal dalam mengatur kawasan konservasi. Nilai dan tradisi itu menyangkut pula status tanah marga, tanah adat, hak ulayat, hak kasuwiyang dan sebagainya yang ada dalam kawasan konservasi. Dalam Besluit Gubernur Jenderal 12 Oktober 1911, tersua pemanfaatan hasil hutan untuk pembangunan infrastruktur dengan tujuan sosial seperti tempat ibadah, kepercayaan, dan sejenisnya. Sementara itu, untuk perburuan hewan dalam kawasan konservasi, pemerintah kolonial menerapkan aturan sangat ketat bagi seluruh penduduk. Kebijakan ini dikeluarkan setelah pemerintah meneliti populasi satwa di kawasan suaka margasatwa terus menurun pada 1930. Perburuan liar dianggap sebagai biang keroknya. Perburuan liar meliputi tindakan mengganggu atau membunuh hewan. Termasuk pula mencakup apakah sebagian atau seluruh tubuh hewan itu diambil atau tidak. Biasanya perburuan diikuti oleh penjualan kembali sebagian atau seluruh tubuh hewan. Nilai hewan-hewan dari Hindia Belanda memiliki harga tinggi di pasar internasional. Karena itulah, pemerintah kolonial melarang perburuan di kawasan suaka margasatwa bagi seluruh penduduk pada 1930. Tapi setahun kemudian, pemerintah merevisi aturan tersebut dengan memberikan kelonggaran kepada penduduk sekitar. “Bahwa selama penduduk pribumi berburu untuk memenuhi kebutuhan sendiri, apakah untuk mendapatkan daging atau produk hewani lainnya yang dimanfaatkan bagi busana atau hiasan, mereka diizinkan selama tidak mengancam kelestarian hewan tertentu,” lanjut Harto dan Gunung. Kelonggaran lain bagi para penduduk sekitar termaktub pada aturan tentang perburuan pada 1941. Melalui aturan ini, penduduk sekitar boleh memasuki cagar alam dan suaka margasatwa sepanjang untuk menggembalakan ternak. Sementara orang luar perlu surat izin dari pengelola kawasan konservasi untuk memasukinya. Posisi istimewa penduduk sekitar dalam kawasan konservasi mulai hilang sejak masa pendudukan Jepang. Selama masa ini, Jepang mengeruk habis kawasan konservasi untuk kepentingan militer. Semua penduduk dilarang memasuki kawasan konservasi. Pelibatan penduduk sekitar hanya terbatas pada pemanfaatan kawasan tersebut untuk kepentingan militer.

  • Misteri Pembela Omar Dani

    Sehari sebelum sidang perkaranya di Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) yang dijadwalkan pada 1 Desember 1966, mantan Men/Pangau Laksdya TNI Omar Dani akhirnya bertemu dengan R. Soenario, yang dipilih Teperpu untuk menjadi pembelanya. Dani berharap Soenario akan memberi banyak masukan hukum untuk persiapan sidang. Namun, Dani ternyata salah berharap. “Pembela tersebut dalam pertemuan pertamanya dengan Omar Dani hanya menyibukkan diri dengan segala macam cerita yang tidak ada hubungannya dengan tuduhan yang telah ditujukan kepada Omar Dani, kliennya,” tulis Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku . Selain membanggakan diri dengan menceritakan kesuksesannya ketika menangangi kasus Jungschlager, mantan tentara Belanda yang mendukung Gerakan APRA-Westerling, Soenario hanya bercerita tentang hal-hal remeh yang sama sekali tak berkait dengan permasalahan hukum yang dihadapi kliennya. Ketika diminta Dani membicarakan soal hukum, Soenario dengan enteng menjawab belum sempat membaca tuduhan, terlebih berita acaranya Dani. Soenario tak sedikitpun menunjukkan simpatinya. Sebelum berpisah, Soenario menyarankan agar Dani mengatakan di persidangan semua yang diketahuinya dan Soenario paling banter hanya bisa menolong Dani dengan menurunkan vonis dari hukuman mati ke hukuman seumur hidup. Perkataan dan perbuatan Soenario jelas mengecewakan Dani. Lebih jauh, hal itu juga janggal dalam sebuah hubungan antara pengacara dengan kliennya. Bila pada umumnya pengacara akan selekasnya menemui klien untuk mendapatkan keterangan selengkap mungkin mengenai perkara yang membelit kliennya, Soenario sejak awal ditunjuk membela Dani tak menyediakan waktu untuk menemui Dani. “Dia bukan pembela pilihan Omar Dani, melainkan pembela yang diberikan, ditugaskan untuk bertindak sebagai pembela Omar Dani. ‘Penugasan’ itu tentu mengandung muatan-muatan yang hanya diketahui oleh pemberi tugas,” sambung Benedicta dan Soeparno. Tak jelas siapa orang yang menunjuk Soenario sebagai pembela Dani. Penunjukan Soenario dan perilaku yang diperlihatkannya sama-sama menunjukkan kejanggalan seperti yang terjadi pada sidang-sidang Mahmilub. “Pada Desember 1966, mantan Men/Pangau Laksdya Omar Dani diajukan ke muka Mahmilub. Mahmilub ini ternyata bukan untuk membuktikan kesalahan Omar Dani semata, lebih dari itu digunakan untuk membuktikan keterlibatan dan dukungan Presiden Sukarno kepada G30S. Akibatnya, sidang yang dipublikasi secara luas ini menimbulkan dorongan kuat bagi para penentang Presiden Sukarno untuk melakukan aksi-aksi penggulingan terhadap dirinya,” tulis Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Puasaran Politik . Yang pasti, penunjukan Soenario terjadi setelah permohonan Dani untuk mengajukan pembelanya ditolak. Pada Oktober 1966, ditanyai Teperpu apakah ingin mengajukan pembela sendiri atau tidak dalam persidangannya kelak. Mendapat secercah harapan itu, Dani lalu mengajukan nama Oei Tjoe Tat, mantan Menteri Negara Diperbantukan pada Presiden, sebagai pembelanya. Karena nama Oei ditolak dengan alasan sedang ditahan juga, Dani lalu mengajukan nama Mr. Sartono, pengacara Bung Karno di masa penjajahan, dan Mr. Iskak Tjokroadisurjo. Kedua nama tersebut dikenal sebagai ahli hukum sejak zaman kolonail dan bersama Bung Karno mendirikan PNI. Sekira dua pekan sebelum sidang perdananya (1 Desember 1966), Dani mendapat pemberitahuan bahwa dua nama yang diajuakannya sebagai pembela ditolak. Pihak Teperpu beralasan penolakan Sartono dan Iskak diambil karena keduanya telah mengajukan persayarakat yang sudah patut diketahui bahwa persyaratan tersebut tidak akan mungkin dipenuhi Teperpu. Dani yang penasaran pun mengejar dengan pertanyaan, persyaratan apa yang membuat Sartono dan Iskak jadi ditolak. Dani tak mendapatkan jawabannya karena Teperpu bungkam. Alhasil, Dani pun terpaksa menerima Soenario. Sebelum memasuki ruang sidang pada 15 Desember 1966 dengan agenda pembacaan tuntutan, Soenario menemui Dani di ruang tunggu gedung Mahmilub (kini Gedung Bappenas). Dia mengutarakan sesuatu. “Dia tidak mau membicarakan mengenai tuduhan dengan alasan bahwa dia juga diminta bertemu oleh ayah Omar Dani, di samping dia menyatakan masih belum siap mempelajari berkas-berkas perkara,” ujarnya sebagaimana ditulis Benedicta-Soeparno. Pernyataan janggal Soenario itu tentu menimbulkan tanda tanya besar di benak Dani. Namun, Dani tak melanjutkan. Dia terus menjalani sidang demi sidang hingga akhirnya dijatuhi vonis hukuman mati oleh Mahmilub pada 23 Desember 1966. Dalam perjalanan, Dani akhirnya menjalani hukuman penjara seumur hidup meski pada suatu periode dia sempat tiap malam menunggu regu tembak yang akan mengakhiri hidupnya. Dalam masa penahanan panjang itu, Dani yang mulanya tak diizinkan mendapat besuk dari keluarga akhirnya bisa mendapat besukan istri dan anak-anaknya kendati jarang. Dalam pertemuan pertama dengan istri dan anaknya itulah Dani mendapatkan informasi yang sedikit menguak “permainan” di balik persidangannya. Ternyata, tak pernah sekali pun orangtua Dani meminta seperti apa yang dikatakan Soenario. Pun dengan Sri Wuryanti istri Dani. Sebaliknya, Wuryanti malah memberi informasi yang membuka tabir misteri adanya "permainan" di balik pemilihan Sonario sebagai pembela Dani. “Teperpu telah bohong. Aku datang kepada Pak Sartono dan beliau mengatakan, ‘Jeng, katakan pada suamimu, Mas Omar Dani, bahwa saya dan Iskak tidak hanya mau, tetapi ingin membela suamimu, tetapi Teperpu tidak mengijinkan kami berdua bertemu dengan Mas Omar Dani sebelum sidang. Lha, itu namanya hukum apa??” kata Wuryanti menirukan perkataan Sartono, dikutip Benedicta-Soeparno.

  • Kala Sumedang Larang di Bawah Kuasa Mataram

    Tahun 1608 (sumber lain menyebut 1601/1610), penduduk Sumedang Larang ditimpa duka. Salah seorang penguasa terbesar mereka, Prabu Geusan Ulun, dipanggil Sang Pencipta. Raja yang membawa kejayaan bagi Sumedang itu meninggalkan wilayah kuasa yang cukup besar. Sepeninggalnya konflik politik pun tak terhindarkan hingga membagi Sumedang Larang menjadi dua: kerajaan yang berpusat di Dayeuh Luhur, diperintah Pangeran Rangga Gede; dan kerajaan yang berpusat di Tegal Kalong, dipimpin Pangeran Suriadiwangsa. Sumedang Larang sendiri lahir setelah Kerajaan Pakuan Pajajaran (terletak di wilayah Bogor sekarang) dikuasai oleh Kesultanan Banten pada 1579. Menurut Edi S. Ekadjati dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Barat , peristiwa hancurnya kerajaan Sunda bercorak Hindu Budha terakhir itu membuat kekuasaan orang-orang Sunda terdorong ke wilayah timur Jawa Barat, yakni Galuh dan Sumedang. Prabu Geusan Ulun ketika itu muncul sebagai penguasa baru, yang wilayah pemerintahannya ada di Kutamaya, Sumedang. Kekuasaannya meliputi seluruh Priangan –daerah antara Sungai Cipamali di Timur dan Sungai Cisadane di Barat–, kecuali Galuh. Pemerintahan di Sumedang pun berjalan baik di dua tempat tersebut. Akan tetapi, sebagaimana diceritakan Sejarawan Mumuh Muhsin Z dalam Sumedang pada Masa Pengaruh Kesultanan Mataram (1601-1706) , pada 1614 tersiar kabar bahwa Kesultanan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung telah menyampaikan pretensi (klaim) kepada VOC bahwa seluruh wilayah Jawa Barat, kecuali Banten dan Cirebon, telah ada di bawah kekuasaannya. “Meskipun pretense Kesultanan Mataram ini merupakan klaim sepihak, hal itu membuat Raden Suriadiwangsa “ketakutan”. Jika tidak memosisikan diri sebagai kerajaan bawahan, Raden Suriadiwangsa khawatir Kesultanan Mataram akan menyerangnya,” ungkap Mumuh. Demi menghindari kemungkinan terburuk, pada 1620 Suriadiwangsa memutuskan pergi menghadap Sultan Agung. Dia bermaksud menyatakan pengakuan bahwa Sumedang yang dipimpinnya bersedia menjadi negara vasal Mataram. Tidak dijelaskan apakah Pangeran Rangga Gede juga melakukan hal sama, tetapi seluruh wilayah Sumedang Larang pada akhirnya ada di bawah kuasa Mataram. Dalam tesis karya Sobana Hardjasaputra, Bupati-bupati Pirangan: Kedudukan dan Peranannya pada Abad ke-19 ,  disebutkan ada dua faktor utama Suriadiwangsa bersikap demikian. Pertama, Suriadiwangsa berusaha menghindarkan Sumedang Larang dari kondisi terjebak di antara dua kekuatan (Mataram dan Banten), sehingga dia harus memilih salah satunya. Kedua, hubungan kekerabatan dari pihak ibunda, Ratu Harisbaya, dengan Mataram. “Bagi pihak Mataram hal itu tentu saja merupakan keuntungan besar, sebab dengan demikian seluruh wilayah Priangan ditambah daerah Karawang berada di bawah kekuasaannya. Mataram dapat menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanan di bagian Barat terhadap kemungkinan serangan pasukan Banten atau Kompeni yang berkedudukan di Batavia,” kata Sobana. Kedatangan Suriadiwangsa itu mendapat sambutan baik Sultan Agung. Berkat pengakuan sukarela tersebut, imbuh Mumuh, Suriadiwangsa diberi gelar Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumadinata. Wilayah kekuasaannya di Tagal Kalong, Sumedang, juga diubah namanya menjadi Prayangan , selanjutnya menjadi Priangan , yang berarti “tulus-ikhlas”. Status Sumedang pun ikut diubah. Jika sebelumnya berbentuk kerajaan, oleh Mataram statusnya diganti menjadi kabupaten sebagai vasal Kesultanan Mataram. Dengan begitu, Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumadinata, juga Pangeran Rangga Gede, tidak lagi menyandang gelar raja, tapi bupati yang memegang kuasa di kabupatennya masing-masing. “Akan tetapi posisi Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumadinata, selain sebagai bupati yang memimpin pemerintahan Kabupaten Sumedang, juga sebagai koordinator para bupati lainnya yang ada di wilayah Priangan, yang dikenal dengan istilah Bupati Wedana,” tulis Mumuh. Pada 1624, setelah empat tahun lamanya menjadi negara vasal Mataram, Pangeran Kusumadinata mendapat tugas pertama dari Sultan Agung: menaklukan Sampang, Madura. Berangkatlah dia dengan sejumlah pasukan pilihannya. Sampai di Madura, Pangeran Kusumadinata mendapati bahwa penguasa Sampang merupakan saudara jauhnya. Maka tanpa perlu melalui jalan peperangan, sukseslah dia menjadikan Sampang sebagai negara vasal Mataram. Keberhasilan itu membuat Sultan Agung merasa sangat gembira. Sebagai penghargaan atas usahanya itu, Pangeran Kusumadinata diminta untuk tinggal di Mataram. Dia diberi satu daerah untuk diperintah, yang menurut Mumuh, sampai sekarang dikenal sebagai Kasumedangan, termasuk desa Bembem di Yogyakarta. Namun belum lama tinggal di Mataram, pada 1625, Pangeran Kusumadinata harus meregang nyawa. Menurut beberapa sumber, dia dipancung oleh Sultan Agung karena terlalu membanggakan penaklukannya di Sampang dan meremehkan kekuatan Mataram. Sepeninggalnya Pangeran Kusumadinata ke Mataram, situasi pemerintahan di Sumedang menjadi labil. Selanjutnya kekuasaan di tempat itu diserahkan kepada Pangeran Rangga Gede, saudara tiri (anak kandung Geusan Ulun) Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumadinata. Di bawah pemerintaha Rangga Gede, dua pemerintahan yang sebelumnya terpecah berhasil dipersatukan. Namun demikian Sumedang tetap ada di bawah kuasa Mataram.

  • Ketika Sultan Hamengkubuwono IX Masih Bernama Henkie

    Sabtu Pahing, 12 April 1912, di Yogyakarta lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Dorojatun. Putra pasangan Gusti Pangeran Haryo Puruboyo dan Raden Ajeng Kustilah itu kehadirannya amat dinanti. G.P.H. Puruboyo sendiri merupakan putra tunggal Pangeran Puruboyo dari garwa padmi  (permaisuri). Saat diangkat menjadi raja, G.P.H. Puruboyo bergelar Sultan Hamengkubuwono VIII. Sejak masih berusia empat tahun, sang ayah telah menentukan pendidikan apa yang akan diterima Dorojatun. Ia bersama saudara-saudaranya harus tinggal dengan keluarga seorang Belanda. Diceritakan Mohammad Roem, dkk dalam Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX,  Sultan ingin putra-putranya menanggalkan semua kemewahan keraton, dan hidup dalam kesederhanaan. Namun tetap bisa belajar dengan baik, layaknya para bangsawan kala itu. “Instruksi sang Pangeran ketika itu jelas, yaitu agar putra-putranya dididik sebagai anak orang biasa saja, tidak diistimewakan karena status sosialnya yang tinggi. Hendaknya anak-anak itu menyerap kebiasaan hidup sederhana dan penuh disiplin sebagaimana yang ada dalam kalangan orang-orang Belanda,” tulis Roem, dkk. Dorojatun tinggal bersama keluarga Mulder, seorang kepala sekolah di Neutrale Hallands Javanese Jongens School (NHJJS). Sementara saudara yang lain tinggal bersama keluarga Belandanya masing-masing. Dorojatun tidak pernah hidup di satu keluarga yang sama dengan saudara-saudaranya. Sultan juga tidak pernah menyediakan pelayan pribadi kraton untuk putranya itu. Semua kebutuhan rumah dilakukan Dorojatun secara mandiri, dibantu pelayan keluarga Mulder. Oleh keluarga angkatnya itu, Dorojatun diberi panggilan Henkie (Henk yang kecil). Henkie berfoto bersama Sultan Hamengkubuwono VIII dan saudara-saudaranya. (Perpusnas RI). Setelah menyelesaikan sekolah Frobel (taman kanak-kanak), menurut Sutrino Kutoyo dalam Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Riwayat Hidup dan Perjuangan , pada usia enam tahun Henkie dimasukkan ke sekolah dasar Eerste Europese Lagere School B, di Jalan Panembahan Senopati sekarang. Kemudian Neutrale Europese Lagere School , di Jalan Kaliurang. Di sekolah dasar, Henkie terkenal aktif. Kegemarannya adalah bermain bola, berkemah, dan antem-anteman (pukul-pukulan), serta memasak. Pada waktu itu Henkie sudah cukup fasih berbahasa Belanda. Ia juga telah pindah dari keluarga Mulder ke keluarga Cock. Pada 1925, setamat sekolah dasar Henkie melanjutkan sekolah ke HBS Semarang. Di sana ia mondok di rumah keluarga Voskuil, keluarga kepala penjara Mlaten. Namun tidak lama, hanya sekitar setahun saja, karena cuaca Semarang tidak cocok dengannya. Ia lalu pindah ke HBS Bandung, tinggal bersama keluarga De Boer. Cuaca Bandung yang lebih sejuk dari Semarang dirasa cocok untuk kesehatan Henkie. Di kota berjuluk Paris van Java itu, ia tinggal selama 4 tahun sebelum akhirnya dipindahkan ke Belanda. “Taman kanak-kanak sampai sekolah dasar dan sekolah menengah dididik menurut pola Belanda. Senantiasa dipondokkan kepada orang Belanda. Akhirnya jadi mahasiswa pun di Negeri Belanda pula,” kata Dorojatun sebagaimana ditulis Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Peringatan 40 tahun (18 Maret 1940–18 Maret 1980) . “Nah Gusti Djatun yang pendidikannya tegas-tegas bercorak Barat, tidak tumbuh menjadi Sultan Belanda.” Henkie bersama teman-temannya di Fakultas Indologi tahun 1939. (Perpusnas RI). Pada Maret 1930, Henkie bersama kakaknya BRM Tinggarto, serta keluarga Hofland, berangkat menuju Holland. Mula-mula ia memilih sekolah Gymnasium di Haarlem. Untuk tempat tinggal, Henkie menetap di rumah keluarga Ir. W.C.G.H. Mourik Broekman, direktur sekolah tersebut. Ia bersekolah di sana hingga 1934. Selanjutnya Henkie memilih Rijksuniversiteit di Leiden, mengambil jurusan Indologi, bidang pendidikan gabungan hukum dan ekonomi yang umumnya diambil oleh orang-orang yang akan terjun ke bidang pemerintahan di Hindia Belanda. Selama menjadi mahasiswa di Leiden, Henkie aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan. Ia pernah menjabat ketua di perkumpulan mahasiswa Verenigde Facultien . Pernah juga menjabat komisaris di perkumpulan Minerva . Ia pun aktif mengikuti diskusi-diskusi soal politik dan ekonomi kenegaraan yang biasanya diisi para tokoh pendidik Belanda, seperti Professor Schrieke. “Saya merasa dapat menyelami karakter orang Belanda melalui pendidikan dan pergaulan dengan Belanda. Ini akan sangat membantu bagi siapapun yang dalam pekerjaannya akan selalu berhubungan dengan orang Belanda,” kata Dorojatun. Pada 1939, Dorojatun diminta pulang ke Tanah Air oleh Sultan Hamengkubuwono VIII karena situasi di Eropa semakin gawat seiring mulai pecahnya Perang Dunia II. Ia juga diminta menemani sang ayah yang kondisinya terus menurun setelah divonis sakit diabetes. Dorojatun pun terpaksa meninggalkan sekolah doktoralnya.

  • Pernyataan Bersama AD-AURI yang Tak Disetujui

    Setelah Peristiwa G30S pecah, para anggota Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) terkena getahnya. Banyak personil AURI yang dilecehkan dan dihina. Perwira tinggi tak menjadi pengecualian. Laksamana Muda Udara Aburachmat mobilnya dengan sengaja ditabrak oleh jip pasukan RPKAD (kini Kopassus). “Pasukan karbol yang berdiri di pinggir jalan dalam sikap sempurna dan memberi hormat pada iring-iringan jenazah para jenderal korban G-30-S, mukanya diludahi oleh pasukan Angkatan Darat yang berada di atas panser,” kata mantan Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksmana Madya Omar Dani dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku  yang ditulis Benedicta A. Surodjo dan JMV Soeparno. Perlakuan diskriminatif akibat berita bahwa AURI terlibat di dalam Peristiwa G30S itu juga diterima para keluarga mereka. “Mobil-mobil WARA ditabraki, Ibu-ibu AU di pasar diludahi dan lain-lain,” kata Omar Dani dalam kesaksiannya kepada JMV Soeparno M. Cholil yang dimuat di buku Menyingkap Kabut Halim 1965 . Namun, perlakuan tersebut tak diterima para anggota AURI yang bertugas di Pangkalan AU (PAU) Atang Sanjaya, Bogor. Menurut Kolonel (Purn.) Pramono Adam, hal itu terjadi berkat kerjasama erat antara PAU Atang dengan Kodam Siliwangi yang dipimpin Mayjen Ibrahim Adjie. “Pak Ibrahim Adjie juga ngomong, AU tidak terlibat secara institusional. Kalau ada paling oknum. Dengan kita (Adjie) sudah sering ketemu, jadi tau situasi yang sebenarnya. Maka terus hubungan kita dengan Pak Ibrahim Adjie baik sekali,” kata Pramono kepada Historia  tahun lalu. Keyakinan Adjie bahwa AU tidak terlibat secara institusional membuatnya bersikap untuk memberi keamanan lebih kepada para personil AURI di wilayah kekuasaannya agar terhindar dari perlakuan-perlakuan buruk seperti yang diterima personil-personil AURI di Jakarta dan tempat-tempat lain. Dalam briefing  oleh Presiden Sukarno di Istana Bogor, 4 Oktober 1965, Adjie menyempatkan menemui Menpangau Omar Dani sebelum briefing dimulai. Dani saat itu tinggal di Paviliun 3 Istana Bogor. “Mayjen Ibrahim Adjie sempat datang di Paviliun 3 dan mengusulkan kepada Omar Dani untuk membuat pernyataan bersama antara Angkatan Darat dan Angkatan Udara,” tulis Bendicta-Soeparno. Dani yang menganggap ide Adjie amat bagus langsung mengiyakan ajakan sang tamu. Dia lalu mengajak Adjie mengkonsep pernyataan bersama itu yang berpijak pada amanat presiden agar merapatkan barisan dan menghentikan pertumpahan darah. Setelah selesai, pernyataan bersama itu dibawa Adjie yang menjanjikan akan menyerahkannya kepada Mayjen Pranoto Reksosamodra selaku caretaker  Menpangad. Namun hingga keesokan harinya, 5 Oktober, pernyataan bersama itu belum juga diumumkan. Maka ketika bertemu dengan Mayjen Pranoto di rapat pleno kabinet yang diadakan presiden di Istana Bogor, 6 Oktober, Dani memerlukan mengajak Pranoto mampir ke paviliunnya. Di tempat tinggal sementaranya itu Dani menanyakan kabar surat pernyataan bersama yang telah dibuatnya bersama Mayjen Adjie. “Jen. Soeharto tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Saya tidak bisa apa-apa!” kata Pranoto, dikutip Bendicta-Soeparno. Jenderal Soeharto yang dimaksud merupakan panglima Kostrad yang setelah G30S mengambilalih pimpinan AD.  Dani hanya bisa kecewa mendengar jawaban Pranoto. Sementara, semakin hari AURI semakin dipojokkan di masyarakat. Hal itu bahkan dialami sendiri oleh Dani ketika sudah pindah ke PAU Atang, Semplak pada 9 Oktober. Dani mengetahui bahwa beberapa personil RPKAD selalu berada di sekitar PAU untuk mengawasi. Lantaran merasa tak nyaman, Dani memerintahkan Dan PAU Atang Kolonel Udara Soewoto Soekendar agar meminta Danrem Bogor menghadap kepadanya. Di hadapan Dani, Danrem berjanji akan menjaga keamanan Dani beserta keluarga yang saat itu tinggal di Atang. Maka sejak itu, Dani merasa lebih aman. Tak jelas apakah sikap Danrem Bogor tersebut merupakan inisiatif pribadi atau perintah dari Pangdam Mayjen Adjie. Sebab, ketika Panglima Komando Regional Udara (Korud) Kolonel Udara Ashadi Tjahjadi menghadap Dani di PAU Atang pada 12 Oktober untuk menyampaikan permintaan bantuan air support dari Mayjen Adjie, Dani mendapatkan laporan kesepakatan yang dibuat Ashadi dengan Adjie. “Panglima Korud Jabar/Komandan Pangkalan Angkatan Udara Husein Sastranegara, Kol. Ud. Ashadji Tjahjadi datang di PAU Atang Sanjaya, Semplak untuk melaporkan bahwa dia telah menandatangani Pernyataan Bersama antara Kodam Siliwangi dan Korud Jabar yang ditandatangani oleh Mayjen Ibrahim Adjie dan Kol. Ud. Ashadi Tjahjadi, atas inisiatif Mayjen Ibrahim Adjie sebagai gantinya Pernyataan Bersama antar sesama angkatan, AD-AU,” tulis Benedicta-Soeparno.

  • Triple Agent di Indonesia

    WOLFGANG Reif tiba di Jakarta pada 1971 untuk bertugas sebagai diplomat di Kedutaan Besar Republik Demokratik Jerman atau biasa disebut Jerman Timur. Tak lama kemudian, dia direkrut oleh HVA (Hauptverwaltung Aufklarung), badan intelijen luar negeri Jerman Timur, bagian dari Stasi (Ministry of State Security atau State Security Service).

  • Joe Biden dan Pemimpin Gagap

    JOSEPH Robinette Biden Jr. alias Joe Biden dari Partai Demokrat untuk sementara memimpin perolehan suara Pemilihan presiden Amerika Serikat pada Selasa, 3 November 2020 (Rabu, 4 November WIB). Data Associated Press  per Rabu (4/10/2020) pukul 11 malam WIB menunjukkan, Biden unggul 238 electoral votes  dari Donald Trump yang diusung Partai Republik (213 electoral votes ). Untuk menang, salah satu kandidat harus meraup 270 electoral votes . Meski punya keyakinan besar, Biden berusaha untuk sabar menunggu perhitungan perolehan suaranya 100 persen rampung. “Bukan kewenangan saya atau Donald Trump untuk mendeklarasikan kemenangan pemilu ini. Melainkan kewenangan para pemilik suara. Kami senang dengan keunggulan kami. Kami percaya sudah berada di trek yang benar untuk memenangkannya,” kicau Biden di akun Twitter -nya, @JoeBiden , Rabu (4/10/2020). Bersama Kamala Harris sebagai calon wakil presidennya, Biden menang di 23 negara bagian. Jika Biden resmi terpilih jadi presiden Amerika ke-46, dia akan jadi presiden pertama yang punya kekurangan dalam berbicara di depan publik, yakni gagap.   Lahir di Scranton, Pennsylvania, 20 November 1942 sebagai anak sulung pasangan blasteran Irlandia-Prancis, Catherine Eugenia Finnegan dan Joseph Robinette Biden Sr., sejak kecil Biden sudah mengalami gagap bicara. Dituliskan Michael V. Uschan dalam biografi, Joe Biden , kegagapannya makin parah semenjak usia sekolah. “Sejak kecil ia sudah gagap dan tak pernah jadi masalah serius sampai dia mulai sekolah. Sebelumnya, teman-teman dan keluarganya menerima apa adanya dan dia tak merasa malu ketika tiba-tiba berhenti saat bicara. Namun kegagapan Biden semakin buruk di sekolah karena dia gugup bicara di depan orang banyak yang tak dikenal,” ungkap Uschan. Joe Biden (kiri) bersama Kamala Devi Harris sebagai Capres-Cawapres Amerika di Pilpres 2020. ( joebiden.com ). Tak ayal, Biden acap jadi korban olok-olok baik oleh teman-teman sekolahnya maupun gurunya. Pernah suatu ketika di masa sekolah dasar di St. Helena School, Pennsylvania, Biden diejek  “Tuan Bu-bu-bu-Biden” oleh kepala biarawati Suster Agnes Constance yang mengajar di kelasnya. Ejekan itu membuat Biden mengadu pada ibunya. Tanpa pikir panjang sang ibu pun mendatangi sekolah dan mencari biarawati perundung putranya. Dalam memoarnya, Promises to Keep: On Life and Politics, Biden mengenang sang ibu mendatangi sekolahnya dengan membawa Biden dan Frank adiknya yang masih bayi. Sang ibu langsung melabrak suster di ruang kepala sekolah. Meski Biden menunggu di luar ruangan, ia masih ingat betul pembicaraan itu yang terdengar sampai ke luar. Sang ibu menyela penjelasan yang diberikan suster. “Saya tahu itu, Suster, tapi apa yang Anda katakan?” “ Well , Nyonya Biden, saya tidak sungguh-sungguh mengatakan…” “Apakah Anda mengatakan Bu-bu-bu-bu-Biden?” “ Well , itu tidak relevan, nyonya…” “Apakah Anda mengatakan Bu-bu-bu-bu-Biden?” “Ya, Nyonya Biden, saya saat itu sedang menjelaskan…” “Jika Anda bicara pada putra saya seperti itu lagi, saya akan kembali dan mencabik-cabik kerudung di kepala Anda. Apakah Anda mengerti?” kata sang ibu yang langsung membanting pintu kantor kepala sekolah dengan keras sembari membawa pulang Frankie dan memerintahkan Biden kembali ke kelas. Catherine Eugenia Finnegan bersama anak-anaknya. ( joebiden.com ). Setelah pengaduan akibat olok-olok terakhir itu, Biden tak pernah lagi mengadu walau perundungan tetap dialaminya bahkan hingga masa kuliah. Perundungan yang diterimanya terus berlangsung tak peduli Biden merupakan pemuda cakap dalam olahraga American footbal dan bisbol sejak SMA. Julukan-ejekan seperti “Joe Impedimenta” (Joe cacat) atau “Joe Dash” tetap diterimanya. “’ Dash ’ (tanda pisah, red. ) jadi julukan semenjak saya main American football. Saya memang cepat dan mencetak banyak touchdown . Tapi mereka memanggil saya ‘Dash’ lebih kepada saya bicara seperti kode Morse. Titik-titik-titik-titik- dash-dash-dash-dash, ” tambah Biden. Meski tak pernah mengatasinya dengan terapi, Biden berusaha mengurangi kegagapannya dengan banyak membaca puisi di depan cermin sejak masuk Archmere Academy di Claymont. Kegagapannya berulang-kali tetap muncul hingga ketika Biden menjadi wakil presiden Amerika ke-47 mendampingi Barack Obama (2009-2017). Toh, Biden bukan satu-satunya tokoh politik yang memiliki kegagapan bicara. Jauh sebelumnya, raja Inggris juga mengalami hal yang sama. George VI, Raja yang Gagap Raja Inggris George VI (1936-1952) diketahui juga punya kelainan syaraf yang sama dengan Biden. Raja yang lahir pada 14 Desember 1895 dengan nama Pangeran Albert Frederick Arthur George ini juga sudah mengalami kelainan gagap sejak kecil. Akibatnya ia tumbuh jadi bocah pendiam. Bicaranya hanya lancar di depan keluarga dan orang-orang terdekatnya. Namun, menurut Mark Logue dan Peter Conradi dalam The King’s Speech: How One Man Saved the British Monarcy , publik baru mengetahui bahwa anak kedua Raja George V itu gagap ketika diminta berpidato pada upacara penutupan sebuah pameran di British Empire Exhibition Stadium (kini Stadion Wembley), 31 Oktober 1925. Pada 1926, sang pangeran mencoba mengatasinya dengan mengambil jasa terapis Lionel Logue. Sang pangeran dikenalkan kepada terapis asal Australia itu oleh kerabatnya, Lord Stamfordham. “Tuan Logue mendapati diagnosa bahwa George mengalami koordinasi (syaraf) yang buruk antara pangkal tenggorokan dan diafragma toraksnya. Ia menyarankan George untuk terapi vokal harian,” tulis Conradi dan Mark Logue, cucu Lionel Logue. Lionel George Logue, terapis pidato Raja George VI. ( npr.go.uk ). Sejak saat itu Logue rutin menerapi sang pangeran. Terapi makin intens setelah George diangkat menjadi raja pada Desember 1936 menggantikan kakaknya, Edward VIII, yang tak punya keturunan. Kendati demikian, tak pernah ada catatan detail metode apa yang digunakan dalam terapi rutin harian Logue terhadap pasien terpentingnya itu. Yang pasti terapi yang dilakukan di ruang tertutup itu membuat Raja George lebih rileks menghadapi publik. “Terapi (Logue) membuat George lebih bisa rileks dan menghindari kejang otot. Hasilnya, public speaking -nya meningkat pesat tanpa tergagap-gagap. Tuan Logue ikut menggerakkan lidah dan mulut untuk mendorong latihan pidato yang akan disiarkan di radio,” lanjutnya. Bimbingan terpenting Logue terjadi menjelang pidato radio deklarasi perang Inggris terhadap Jerman Nazi yang dikumandangkan Raja George VI pada 3 September 1939. Raja George VI tak boleh sekali pun terganggu gagap dalam pidato itu lantaran raja menjadi simbol terpenting yang jadi pegangan rakyatnya menyongsong Perang Dunia II. Raja George VI saat menyampaikan pidato 3 September 1939 menyatakan perang terhadap Jerman. ( thecrownchronicles.co.uk ). Maka sebelum pidato itu disiarkan, naskah dipelajari Logue terlebih dulu. Logue memberikan banyak coretan di naskah tersebut sebagaimana dilihat Mark Logue sang cucu yang memegang satu salinannya. Coretan itu dijadikan Logue sebagai penanda di mana sang raja harus berhenti bicara dan mengambil nafas, lalu melanjutkannya lagi. “Garis-garis vertikal ini dijadikan penanda berhenti sementara agar sang raja bisa mempersiapkan otot syarafnya untuk mengeluarkan suara di kata-kata berikutnya tanpa ragu dan gagap. Ada juga coretan untuk mengganti beberapa kata yang sulit dengan kata yang lebih mudah untuk diucapkan raja,” tandas Mark Logue. Upaya Logue berhasil. Pidato Raja George VI pada 3 September 1939 itu menjadi salah satu pidato ikonik pada Perang Dunia II. Pidato tersebut membakar semangat rakyatnya untuk bersiap menghadapi pasukannya Adolf Hitler.

bottom of page