top of page

Hasil pencarian

9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Oligarki Zaman Kuda Gigit Besi hingga Era Jokowi

    ISU RUU Cipta Kerja yang belum lama ini diteken Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga perihal Pilkada 2020 menyebarkan lagi aroma oligarki. Sangitnya bau oligarki tak hanya jadi pembicaraan di ruang-ruang diskusi formal, tapi juga di beraneka media sosial. Hingga lebih dari 20 tahun pasca-Reformasi di negeri ini, oligarki belum musnah meski sudah eksis semenjak zaman kuda gigit besi. Meski sederhanya oligarki merupakan sistem kekuasaan yang terpusat pada segelintir orang saja, kenyataannya yang terjadi lebih rumit daripada itu. Menurut Vedi R. Hadiz dan Richard Robison dalam Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets , oligarki, terutama di Indonesia, adalah suatu sistem kekuasaan yang terstruktur di mana terjadi fusi antara kekuatan politik birokratis dan kekuatan ekonomi. Konseptualisasinya, oligarki jadi sistem di mana kekuatan birokrasi yang memegang kendali sumber daya ekonomi bisa bergandengan tangan dengan kelompok yang punya kepentingan bisnis untuk meraup keuntungan bersama. “Oligarki yang ada di Indonesia sangat berkaitan erat dengan perkembangan kapitalisme di Indonesia. Kapitalisme sudah bersentuhan dengan Indonesia memang dari zaman Belanda tapi karena sifat dari struktur ekonomi kolonial itu sangat mercantil, dampaknya terhadap perubahan struktur sosial di internal masyarakat itu cenderung masih terbatas,” ujar Vedi dalam diskusi daring Historia.id  bertajuk  “Riwayat dan Praktik Oligarki di Indonesia” , Kamis (5/10/2020). Lima tahun pasca-Indonesia merdeka, warisan kolonial itu sempat ingin diberangus lewat Program Benteng dan sisten ekonomi “Ali-Baba”. Tujuannya, tulis Irvan T. Harja dalam Metakuasa Perdagangan Global , adalah membangun kelas pengusaha nasional dari kaum pribumi. “Program-programnya di sektor perbankan komersil, pemerintah memberi bantuan dana kepada bank-bank swasta domestik. Di sektor manufaktur, dirancang Soemitro Djojohadikusumo dengan Program Darurat Ekonomi. Juga di sektor pertanian dengan memasukkan investasi asing,” ungkap Irvan. Namun program-program itu secara umum kandas pada 1957. Menurut Vedi, akar oligarki kolonial di struktur sosial-ekonomi masyarakat Indonesia belum habis sepenuhnya. Tak peduli di masa itu juga muncul beragam ideologi yang dibawakan partai-partai politik. “Tahun 1950-an ideologi banyak bermunculan karena konsolidasi negara pascakolonial belum terjadi secara penuh. Jadi antara merosotnya negara kolonial sampai dengan 1965 adalah masa di mana negara belum rekonsolidasi. Lalu Program Benteng itu juga gagal jauh sebelum 1965,” sambung Vedi. Profesor Vedi R. Hadiz dalam Dialog Sejarah "Riwayat dan Praktik Oligarki di Indonesia". ( Historia.id ). Kegagalan Prorgam Benteng antara lain disebabkan oleh penyalahgunaan si pemegang wewenang.  “Karena orang-orang yang diberikan fasilitas oleh negara itu menjualnya lagi. Bisnis yang sudah lebih tertanam kuat karena dia mempunyai posisi yang sudah lebih stabil karena dia lahir di dalam struktur sosial kolonial, jadinya dijual lagi. Tadinya kan ingin menggantikan orang-orang Tionghoa di kelas tengah yang dominan dalam bisnis. Karena di zaman kolonial mereka enggak boleh jadi petani, makanya masuk dalam perdagangan dan jadi perantara antara ekonomi tradisional dan modern yang dikuasai kolonial,” lanjutnya. Oligarki, lanjut Vedi, melejit lebih pesat di masa Orde Baru (Orba). Pasca-Sukarno jatuh dan digantikan Soeharto, kapitalisme dengan perekonomian nasionalnya secara dahsyat menyerbu Indonesia dan mempengaruhi penataan kembali struktur sosial dan ekonomi domestik. “Kita lihat di masa Orba muncul kelas kapitalis besar modern. Kelas borjuasi besar. Ini tidak mungkin berkembang tanpa hubungan dengan kekuasaan negara. Sampai sekarang pun hubungan bisnis dan politik terstruktur dengan cara yang berkaitan dengan asal-usulnya, bahwa bisnis besar diinkubasi oleh kekuasaan negara lewat kebijaksanaan-kebijaksanaan preferensi, proteksionisme, kredit, subsidi dsb.. Yang disebut-sebut sebagai bisnis-bisnis cukong itulah yang dimaksud sebagai kapitalisme Orba,” imbuh profesor kajian Asia di University of Melbourne itu. Dengan fokus pada pembangunan ekonomi, pemerintahan Orde Baru mengesampingkan aspek-aspek lain seperti politik demi tujuan utamanya tersebut. “Di zaman Orba situasi politik sudah enggak seperti 1950-an. Setelah masuk (zaman) Orba adalah representasi dari rekonsolidasi negara dari zaman kolonial. Lalu munculnya borjuasi besar sangat dimungkinkan karena ada situasi historis yang sangat spesifik, yaitu terjadinya boom minyak tahun 1970-an yang menyebabkan negara punya revenue yang besar, hingga memungkinkan memainkan peranan yang dominan untuk bisa memilih lahan bisnis apa yang dikembangkan, siapa yang boleh dan tidak boleh dikasih subsidi, kredit, dan proteksi,” tambah Vedi. Oligarki dari pusat itu lantas menjamah sejumlah daerah yang lantas berkaitan erat dan aristokrasi. Walaupun begitu, di era Orba oligarki masih terpusat dan ujung-ujungnya tak pernah lari dari Cendana (kediaman Soeharto) dan kroni-kroninya. Reinkarnasi Oligarki di Masa Reformasi Kala terjadi geger 1998 yang bermula dari krisis ekonomi yang berujung Reformasi, oligarki sempat mati suri. Namun kemudian ia berreinkarnasi dan bertransformasi. Tak lagi tersentralisir, oligarki kemudian terdesentralisir hingga jamak memunculkan “raja-raja kecil”. Hal itu tak lepas dari otonomi daerah (otda). Otda membolehkan pemerintah daerah turut menyediakan fasilitas yang memudahkan kemesraan hubungan keluarga-keluarga birokrasi politik dan keluarga bisnis. “Perkawinan” politik-bisnis itu lantas berfusi dalam kepentingannya dan melahirkan perusahaan-perusahaan. “Apa yang mestinya terjadi di Krisis 1998 itu sebetulnya kan memberikan peluang untuk reorganisasi ekonomi politik secara fundamental karena oligarki pada waktu itu goyah. Ia sempat vakum antara Mei-Agustus 1998, di mana waktu itu kekuatan-kekuatan oligarki kalang kabut,” ujar Vedi lagi. “Tapi tidak ada kekuatan civil society teroganisir yang koheren dan punya grassroot mencukupi, punya visi ideologis, serta agenda masa depan yang bisa menyatukan dan yang bisa mengisi kevakuman itu. Akhirnya setelah Agustus 1998, walau ada tantangan dari luar, reformasi dikendalikan kekuatan oligarki juga. Lalu dibentuk sedemikian rupa agar oligarki itu bertahan,” lanjutnya. Cara yang digunakan untuk mengembalikan oligarki, sambung Vedi, adalah dengan menguasai demokrasi di Indonesia melalui partai-partai besar yang dikuasai kepentingan-kepentingan oligarkis. Lalu kekuatan-kekuatan oligarki berkendaraan partai politik yang di zaman Orde Baru selalu berujung pada Cendana, di era Reformasi sudah bisa bermanuver sendiri dengan lebih cair dan dinamis, hingga membangun kekuatan untuk saling berkompetisi antara satu kekuatan dengan kekuatan oligarki lain. “Mereka saling bersaing menguasai instrumen-instrumen yang mengatur alokasi sumber daya politik dan ekonomi dan itu terjadi terutama di masa Pemilu dan Pilkada. Kalau kita lihat, partai ini kan yang ideologis sekali hampir enggak ada. Praktis semuanya, walau pakai retorika berbeda, pada dasarnya mereka himpunan dari aliansi-aliansi ekonomi politik dan mengorganisirnya untuk berkompetisi di arena politik formal,” terang Vedi. Presiden Soeharto di Orde Baru membuka keran kapitalisme yang meroketkan oligarki. ( nationaalarchief.nl ). Hal itu ibarat “naluri” bertahan oligarki di tengah terbukanya keran demokrasi di masa Reformasi. Oligarki ternyata tak seketika itu lenyap atas nama hak dan kesetaraan dalam demokrasi. “Asumsi yang keliru bahwa oligarki tak bisa beradaptasi dengan demokrasi. Bahwa oligarki bertentangan dengan demokrasi. Tidak seperti itu. Karena di dalam semua masyarakat yang sistemnya demokratis, tidak ada social economy equality . Demokrasi memberi Anda hak politik yang sama, tapi kemampuan Anda menggunakan hak itu tidak sama dengan orang yang punya akses terhadap sumber daya ekonomi yang lebih dari Anda,” jelasnya. Di alam demokrasi, kekuatan-kekuatan oligarki itu juga menyusup ke sebagian besar civil society. Tujuannya agar civil society yang sejatinya bisa jadi pengimbang antara kekuatan bisnis dan politik tak jadi batu sandungan. Sejumlah civil society di Indonesia justru sudah disusupi dan menjadi proxy kekuatan oligarki di akar rumput. “Karena oligarki di Indonesia tidak bisa dibatasi oleh kekuatan terstruktur dan teroganisir yang jadi pembatas terhadap operasi, jangkauan, dan kepentingannya. Misal kalau ada aliansi antara bisnis dan birokrasi di Swedia, ada tantangannya dari kekuatan serikat buruhnya yang berpusat pada civil society -nya, hingga jadi semacam pengimbang. Di Indonesia enggak ada,” tuturnya. Sejak Reformasi hingga era Presiden Joko Widodo praktik oligarki masih lestari. ( setneg.go.id ). Ketiadaan penyeimbang itu membuat panas pertentangan politik, terutama di masa-masa menjelang pemilu. “Ketika terjadi pertentangan politik, terutama di masa Pemilu, muncul mobilisasi massa dan belum tentu itu refleksi suatu gerakan civil society yang dalam benak banyak orang, tapi berkaitan dengan intra-oligarki competition. Jadi sudah disusupi, sudah dibajak untuk memobilisasi massa dengan anggapan atas dasar ideologis. Tapi yang menggerakkan belum tentu dimotivasi oleh pemikiran ideologis,” papar Vedi. Pada akhirnya, oligarki menjadi sistem yang takkan pernah punah di Indonesia. Pasalnya semua partai penguasa pasca-Reformasi, meski dengan kepentingan berbeda yang tak lagi tersentralisir, justru jadi jembatan antara dunia politik dan bisnis. “Kondisi seperti 1998 jarang sekali terjadi dalam sejarah. Kalau bicara bagaimana supaya oligarki itu punah atau hilang, sebetulmya memerlukan krisis lagi walau itu enggak menjamin. Nanti bisa ada kekuatan yang menandingi lagi, berulang lagi. Sehingga kita sekarang berada dalam suasana demokrasi tapi yang oligarkis,” tandasnya.

  • Sultan Hamengkubuwono IX Naik Takhta

    Pada September 1939, Gusti Raden Mas Dorojatun menerima sebuah telegram dari ayahnya, Sultan Hamengkubuwono VIII. Dorojatun yang sedang menempuh pendidikan di Belanda bersama saudara-saudaranya, tidak menyangka akan dihubungi sang ayah. Terlebih surat itu memuat juga permintaan mengejutkan ayahnyat: sesegera mungkin kembali ke tanah air. Rupanya Sri Sultan khawatir kondisi gawat di Eropa pasca penyerbuan Jerman ke Polandia mengancam keselamatan putra-putranya di Belanda. Maka disiapkanlah rencana pemulangan oleh pejabat Belanda yang khusus mengurusi perjalanan para putra Yogyakarta. Namun tiket pelayaran menuju Hindia Belanda hanya tersisa satu kursi. Diputuskanlah di antara kelima putra Sultan, sesuai permintaan, Dorojatun berangkat lebih dahulu. Perjalanan pulang yang memakan waktu berminggu-minggu pun dimulai. “Terselip rasa kecewa sejenak karena ia merasa sebagai mahasiswa tingkat doktoral sebaiknya menyelesaikan studi sampai tuntas, lalu pulang membawa gelar yang diinginkan. Akan tetapi, dalam surat-surat dari rumah ia merasakan kecemasan keluarganya. Ia maklum, situasi memang gawat. Lagi pula ia mendengar kesehatan ayahanda akhir-akhir ini mundur keadaannya,” tulis Mohammad Roem, dkk. Diceritakan Roem dalam Takhta Untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX , pada tahun-tahun itu Sri Sultan memang telah merasakan firasat bahwa ajalnya semakin dekat. Penyakit diabetes yang menyerang Sultan berusia 59 tahun itu kian memburuk. Itulah kenapa ia meminta putra-putranya pulang segera. Terutama Dorojatun yang diharpkan selalu ada di sampingnya. Pada 18 Oktober 1939, kapal yang mengangkut Dorojatun tiba di Tanjung Priok, Batavia. Begitu menginjakan kaki di dermaga ia langsung disambut oleh adik-adiknya, serta para kerabat. Kemudian mereka membawanya ke Hotel des Indes, tempat Sri Sultan menginap. Dalam suasana haru Dorojatun akhirnya bertemu sang ayah setelah sekian lama berpisah. Keberadaan Sultan HB VIII di Batavia dimanfaatkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menjalin hubungan politik. Hampir setiap hari, selama tiga hari di Batavia, Sultan harus menghadiri perjamuan para pejabat Belanda. Dorojatun kerap menemaninya. Berbagai perjamuan itu membuat kondisi kesehatan HB VIII semakin memburuk. Satu waktu, Sultan meminta para kerabat, termasuk Dorojatun, hadir di kamarnya. Di sanalah kemudian Sri Sultan menyerahkan keris pusaka “Kyahi Jaka Piturun” secara langsung kepada Dorojatun. Penyerahan keris tersebut diketahui merupakan tanda raja menginginkan si penerima sebagai putra mahkota. Kejadian itu pun memperjalas maksud Sultan HB VIII memanggil Dorojatun lebih cepat dibanding putra-putra lainnya. “Dengan penyerahan keris tersebut pada saya waktu itu, menjadi jelaslah maksud ayah bagi saya dan saudara-saudara saya,” kata Sultan HB IX. Pada 21 Oktober 1939, keluarga Sultan kembali ke Yogyakarta. Para pejabat keraton diketahui telah menyiapkan upacara penyambutan megah bagi Dorojatun. Akan tetapi, belum lama kereta bertolak dari Stasiun Gambir, HB VIII jatuh pingsan. Penanganan darurat segera dilakukan di atas kereta. Sementara pengobatan dari dokter pribadi Sultan baru bisa dilakukan di Kroya. Setiba di Yogyakarta, Sultan langsung dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Berdasar cerita populer di masyarakat, kata Roem, ketika rombongan tiba di stasiun dan raja diturunkan dari kereta, petir besar menyambar langit kota. Padahal cuaca Yogya ketika itu sedang cerah, tidak terlihat awan sedikit pun. Kejadian itu dipercaya menjadi pertanda penting dari alam untuk keluarga Kesultanan Yogyakarta. “Menyambarnya petir pada siang hari yang cerah ketika itu diartikan sebagai isyarat bakal wafatnya seorang pembesar. Bersamaan dengan ini, pengertian lain adalah sebagai tanda akan datangnya seorang putra mahkota yang diberikati dengan sifat-sifat kepribadian yang luhur,” kata Roem, dkk. “Apakah benar ada petir menyambar dan apakah gejala alam biasa itu memang merupakan pertanda bagi sesuatu yang bakal terjadi, sulit untuk diselidiki kebenarannya.” Sementara itu, usaha para dokter menangani Sultan HB VIII tidak berjalan lancar. Sang Sultan tak pernah sadar dari komanya, dan keesokan harinya, 22 Oktober 1939, Sultan HB VIII dinyatakan wafat. Sebagai calon penerus kuat takhta Yogyakarta, Dorojatun sadar pengetahuannya tentang pemerintahan di Yogya masih sangat terbatas, mengingat ia telah cukup lama berada di Belanda. Ia lalu mengumpulkan seluruh kerabat dari keluarga HB VII dan HB VIII. Dalam pertemua itu secara terbuka Dorojatun mempersilahkan jika di antara para kerabat ada yang mau memangku gelar Sultan Hamengkubuwono IX. Ia merasa keterbukaan akan membawa kebaikan bagi keraton. “Ternyata dalam pertemuan itu segera didapat kata sepakat dan penegasan bahwa di antara mereka tak ada yang ingin menjadi Hamengku Buwono IX. Ini merupakan pernyataan yang spontan dari para paman, kakak, dan adik-adik Dorojatun, semua kompak mendukungnya,” tulis Roem, dkk.

  • Kerikil Bernama Nobby Stiles

    KECIL-kecil cabe rawit. Walau posturnya cilik, sosok Nobby Stiles acap jadi batu kerikil yang menyusahkan para pemain lawan. Bersama Sir Bobby Charlton, ia jadi legenda dengan catatan unik yang belum bisa disamai pemain Inggris manapun, hingga akhir hayatnya. Stiles menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya pada Jumat (30/10/2020) di usia 78 tahun. Selain mengalami demensia atau penyakit penurunan daya ingat, Stiles mengidap kanker prostat. “Keluarga Stiles dengan bersedih menyampaikan bahwa Nobby Stiles meninggal dalam damai dikelilingi keluarganya setelah lama menderita sakit. Kami meminta pengertian dan privasi di masa-masa duka ini,” demikian pernyataan keluarga, disitat ITV , Jumat (31/10/2020). Stiles dikenal sebagai gelandang bertahan tangguh tim nasional (timnas) Inggris dan Manchester United (MU) era 1960-an. Ia termasuk dalam skuad Inggris yang memenangi Piala Dunia 1966. Stiles jadi satu-satunya pilar yang tak pernah diganti sepanjang turnamen. Bersama Bobby Charlton, ia jadi pemain Inggris yang punya catatan prestasi memenangkan Piala Dunia (1966) dan Liga Champions (1967-1968). Yang menyedihkan, Bobby sang sahabat Stiles dikabarkan juga mengalami demensia. “Satu lagi pahlawan kami yang memenangkan Piala Dunia 1966 terdiagnosa mengalami demensia. Mungkin yang terbaik dari mereka semua, @SirBobby. Dua kabar ini sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan,” kicau Gary Lineker, bomber Inggris 1984-1992, di akun Twitter -nya, @GaryLineker , Minggu (1/11/2020). Nobby Stiles (kiri) & Bobby Charlton (tengah) saat merayakan gelar European Cup pertama untuk MU pada 1968. ( manutd.com ). Macan Ompong yang “Bergigi” Saat Pertempuran Britania pada Perang Dunia II bergolak di langit Inggris, 18 Mei 1942, Norbert Peter Stiles dilahirkan dari rahim Kitty, masinis kereta listrik di Manchester yang bersuamikan Charlie, seorang pengurus mayat. Situasi yang  mencekam karena bombardir Jerman Nazi kala itu membuat persalinan Nobby harus keluar dilakukan di ruang bawah tanah rumahnya di Collyhurst, distrik di utara kota Manchester. Nobby yang punya darah Irlandia dari kedua orangtuanya dibesarkan sebagai seorang Katolik taat. Sejak kecil ia sudah getol dengan si kulit bundar yang dikenalkan ayahnya yang seorang fans MU. Dalam otobiografinya, After the Ball , Stiles mengisahkan mulanya ia sering bermain bola sendiri di tanah kuburan seraya ikut ayahnya bekerja mengurus pemakaman. Lama-kelamaan, ayahnya membuatkan lapangan mini di belakang rumahnya. Saat Stiles yang mengenyam pendidikan di St. Patrick’s Catholic School, pada usia 15 tahun ia sering terpilih masuk skuad England Schoolboys atau Timnas Pelajar Inggris di beberapa kejuaraan. Bakatnya kemudian dilirik pelatih MU Matt Busby, yang lantas menawarkannya status pemain magang di tim akademi pada November 1957. “Ayah saya ketika kami mendapat panggilan ke Old Trafford untuk menandatangani kontrak, dia bilang: ‘Naiklah, Nak dan aku akan membawamu ke sana.’ Jadi kami datang ke sana dengan naik mobil jenazahnya,” ungkap Stiles. Nobby Stiles menjalani debutnya di Manchester United pada usia 18 tahun. ( manutd.com ). Dalam kontrak magang itu, Stiles berlatih di tim akademi dan juga mengerjakan sejumlah pekerjaan bagian umum. Pun begitu, Stiles justru senang lantaran bisa sering bertemu pemain yang dikaguminya, Eddie Coleman. “Eddie Coleman adalah idola saya. Dulu saya membersihkan sepatu sepakbola semua pemain, namun saya memberikan perhatian ekstra dan istimewa saat membersihkan sepatu Eddie,” imbuhnya. Karier Stiles di MU sebagai pemain magang tak lebih dari setengah tahun. Pasca-“Munich Air Disaster” (6 Februari 1958) yang menewaskan banyak para pilar utama Manchester United, Busby terpaksa membangun fondasi tim dengan bertulangpunggungkan para pemain muda. Stiles, yang merasa terpukul oleh tewasnya Coleman dalam tragedi itu, termasuk di dalamnya. Secara fisik, Stiles punya banyak kekurangan. Posturnya hanya 5 kaki enam inci (168 cm), matanya pun rabun dekat sehingga harus selalu memakai kacamata atau memasang lensa kontak saat sedang bermain. Dua gigi depannya pun ompong akibat sering berkelahi sebelum masuk tim akademi MU. “(Stiles) pribadi yang menyenangkan di luar lapangan. Tetapi jika dia sudah melepas gigi (palsu) itu, dia menjadi sosok yang berbeda. Saya peringatkan, di lapangan Anda takkan mau berhadapan dengan Nobby sama sekali,” ujar Norman Hunter, anggota timnas Inggris 1965-1974, sebagaimana dikutip John Rowlinson dalam The Boys of ’66: The Unseen Story Behind England’s World Cup Glory. Nobby Stiles (tengah) bersama Geoff Hurst (kiri) dan Bobby Moore pada persiapan jelang Piala Dunia 1966. ( manutd.com ). Namun di balik semua kekurangannya, Busby melihat kelebihan dari sosok Stiles. Selain enerjik, Stiles ngotot saat berebut bola dengan pemain lawan, passing -nya baik, dan pandai membaca jalannya permainan. Kelebihan-kelebihan ini dimanfaatkan Busby untuk menjadikan Stiles sebagai “gelandang pengangkut air” alias pemain yang bertugas menjemput bola dari pertahanan dan mengirimnya ke depan, utamanya Bobby Charlton. “Tugas saya adalah memenangkan (perebutan) bola dan mengopernya ke Bobby Charlton,” sambung Stiles Stiles menjalani debutnya di tim utama MU pada 1 Oktober 1960 kala MU menghadapi Bolton Wanderers di Liga Inggris dan berkesudahan 1-1. Sejak saat itu perannya sebagai gelandang tengah tak tergantikan. Meski masih muda, Stiles memupuk karakter pemimpin di jantung permainan tim, hingga dijuluki “ Toothless Tiger ” alias “Macan Ompong” mengacu pada giginya yang ompong. “Sebagai pemain muda di Old Trafford, dia harus berjuang di setiap kesempatan yang diberikan. Saya ingat seseorang bilang dia sekadar pemain serba bisa, tapi saya katakan bahwa Stiles adalah gelandang terbaik di klub. Tak jarang ia membangun semangat rekan-rekannya. Ia tak hanya menjalankan tugasnya; dia juga memastikan semua rekannya melakoni tugasnya masing-masing,” puji Harry Gregg, kiper veteran Manchester United yang selamat dari tragedi Munich, dikutip Rowlinson. Gigi Palsu dan Trofi Piala Dunia Meski sudah jadi andalan di MU sejak 1960, baru pada 1965 Stiles dipanggil pelatih Alf Ramsey ke timnas Inggris untuk persiapan Piala Dunia 1966. Seperti halnya Busby, Ramsey memasang Stiles sebagai gelandang jangkar di depan bek sentral Bobby Moore dan Jack Charlton. Sejak babak penyisihan Grup 1 hingga partai final, tak sekalipun Ramsey mencadangkan Stiles. Padahal, tekanan FA (induk sepakbola Inggris) dan FIFA (induk sepakbola dunia) kepada Ramsey begitu besar akibat Stiles mencederai pemain Prancis Jacques Simon di babak penyisihan Grup 1, 20 Juli 1966. Nobby Stiles (kanan) jadi andalan Inggris untuk melumpuhkan Eusébio di semifinal Piala Dunia 1966 (Twitter @FIFAWorldCup) Dikisahkan Rowlinson, Ramsey pasang badan membela Stiles, di mana tekel Stiles kepada Simon lebih kepada tekel yang terlambat ketimbang tekel yang disengaja untuk mencederai. “Jika saya dipaksa menggantikan dia (Stiles), Anda harus mencari pelatih lain,” kata Ramsey mengancam FA. Keputusan Ramsey membela Stiles untuk tetap jadi pilar utama terbayar kala Inggris menghadapi Portugal dengan bintangnya Eusébio da Silva di semifinal, 26 Juli 1966. Stiles yang dititahkan Ramsey untuk melakukan man-to-man marking bikin Eusébio mati kutu. Eusébio sempat bikin satu gol untuk menyamakan kedudukan, namun itu dari tendangan penalti gegara handball Jack Charlton. “Saat skuad Inggris masuk ke ruang ganti di akhir semifinal melawan Portugal (skor akhir 2-1), Alf Ramsey meminta segenap skuad memberi aplaus untuk Nobby Stiles yang menjalani tugasnya dengan luar biasa me- marking Eusébio, pemain terbaik Eropa tahun itu. Ramsey mengatakan: ‘Saya jarang membicarakan seorang individu, tapi saya rasa kalian harus setuju bahwa hari ini Nobby tampil sangat profesional,’” tulis Jonathan Mayo dalam The 1966 World Cup Final: Minute by Minute. Si "Macan Ompong" Nobby Stiles (kanan) saat mengelu-elukan Trofi Jules Rimet. ( manutd.com ). Laga final kontra Jerman Barat harus dilalui dengan perpanjangan waktu. Inggris akhirnya menang 4-2. Untuk pertamakali, Inggris mengklaim trofi Piala Dunia. Saat mendapat giliran mengusung trofi, Stiles berlarian, berloncatan, menari dengan tangan kiri menggenggam trofi Jules Rimet dan tangan kanan memegang gigi palsu di Stadion Wembley. Sementara di klub, puncak karier Stiles diukirnya bersamaan dengan gelar European Cup (kini Liga Champions) pertama MU pada musim 1967-1968. Stiles kembali jadi batu kerikil yang “melumpuhkan” Eusébio kala di final MU menjungkalkan SL Benfica, 4-1, juga di Stadion Wembley (29 Mei 1968). Nobby Stiles (duduk, kedua dari kanan) di tim juara European Cup 1968. ( manutd.com ). Tetapi setelah itu karier Stiles antiklimaks. Utamanya setelah lututnya cedera. Perlahan kehidupannya berbalik 180 derajat. Selain mulai jarang dipanggil lagi ke timnas Inggris, pada 1971 Stiles dijual ke Middlesbrough. Dia pensiun di Preston North End pada 1975. Sesudah itu dia melatih Preston (1977-1981), kemudian Vancouver Whitecaps (1981-1984), dan West Bromwich Albion (1985-1986). Namun karier kepelatihannya tak secemerlang kariernya sebagai pemain. “Semua orang mengenang Anda di masa-masa jaya tapi yang jelas setiap orang juga punya masa-masa sulit, tak hanya saya. Anda tetap harus melaluinya. Dari situlah Anda mendapatkan pengalaman. Semasa saya melatih jadi bagian pembelajaran dalam hidup saya. Dalam kasus saya, pengalaman itu menyadarkan saya bahwa saya tak berbakat,” papar Stiles. Di masa senja kala Nobby Stiles bersua bebuyutannya Eusébio. ( manutd.com ). Pelatih Sir Alex Ferguson mencoba melibatkannya di akademi klub untuk mengasuh Nicky Butt, David Beckham, Ryan Giggs, Paul Scholes hingga Gary dan Phil Neville pada 1989. Namun ia hanya bertahan hingga 1993. Setelah terdiagnosa alzheimer, demensia, serta kanker prostat, kondisi finansialnya ambruk. Pada 2010 ia terpaksa melelang medali kehormatan pemenang Piala Dunia 1966 dan Liga Champions 1968. Manajemen MU yang prihatin kemudian membeli keduanya seharga 209 ribu poundsterling untuk disimpan di museum klub. “Saya mengalami masa sulit dan saya ingin meninggalkan sesuatu untuk keluarga saya,” kata Stiles kala melelang dua penghargaan itu, dinukil Daily Mail dalam obituari mengenang Stiles, Sabtu (30/10/2020).

  • Petualangan Pelaut Prancis di Nusantara

    Pada 15 Juni 1526, dua kapal penuh muatan di pelabuhan Honfleur, Normandi, Prancis, tengah bersiap melakukan perjalanan jauh. Seorang penjelajah berkebangsaan Italia, Giovanni de Verrazano, dipercaya Raja Prancis memimpin rombongan tersebut. Dengan bekal catatan pelayaran Ferdinand Magellan pada 1520 yang tersebar di seluruh Eropa, Verrazane membawa puluhan awak kapal menuju kepulauan rempah-rempah di Timur jauh. Pada pelayaran pertama itu, sang kapten mencoba mengikuti jalur Samudera Pasifik, persis seperti yang dilakukan Magellan. Tetapi jalur yang berat membuatnya terpaksa membalikan kemudi kapal. Ia pun memutuskan mengambil jalur lain, yakni melalui bagian selatan Samudera Atlantik, menuju wilayah paling ujung Afrika, kemudian memasuki Samudera Hindia. Verrazane memanfaatkan gerak Angin Timur dalam pelayaran tersebut. “Tapi, para awak kapal yang sudah kelelahan dan tidak mendapatkan bayaran dalam perjalanan yang sia-sia itu memutuskan untuk memberontak. Mereka menuntut agar paling tidak satu di antara dua kapal itu tidak melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi,” tulis Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX . Akhirnya diputuskan, kapal kedua yang dipimpin Pierre Caunay yang akan melanjutkan pelayaran menuju Timur. Sementara Verrazano kembali ke Prancis. Sekira musim panas 1527, Caunay berhasil melihat garis pantai Pulau Sumatra. Ia pun segera merapatkan kapalnya, di sekitar wilayah pantai barat Aceh. Namun baru saja menginjakkan kaki di sana, para pelaut Prancis itu langsung ditolak penduduk setempat. Kedua kubu lalu terlibat pertempuran, hingga Prancis akhirnya memilih mundur. Nahas, kapten kapal dan sejumlah besar awak terbunuh. Kehilangan kapten kapal membuat awak yang tersisa memutuskan tidak melanjutkan perjalanan. Mereka memilih kembali ke tanah airnya, melalui jalur mereka datang. Namun sayangnya para pelaut itu tidak pernah sampai ke Prancis. Sebagian memilih tinggal di Madagaskar, sementara lainnya terdampar di Mozambik. Banyak juga pelaut yang ditangkap oleh orang-orang Portugis. Pada 1529, saudagar kaya Jean Ango kembali mendukung perjalanan menuju Hindia Timur. Kali ini dua bersaudara Jean dan Raoul Parmentier de Dieppe dipercaya menjadi pemimpin pelayaran. Keduanya diberi kapal besar oleh Jean Ango, lengkap dengan perbekalan dan awak yang begitu banyak. Tugas keduanya masih sama: menjalin hubungan dagang langsung dengan kepulauan rempah-rempah Hindia Tmur. April 1529, kedua petualang memulai perjalanannya dari Dieppe. Dijelaskan Harry Charles Purvis Bell dalam The Voyage of Francois Pyrard of Laval to the East Indies , pada Oktober 1529, mereka berhasil mencapai pantai barat Sumatra. “Pelayaran itu dianggap perjalanan kilat pada masa itu (kurang dari dua puluh tujuh bulan) karena kapal hanya berhenti sebentar untuk alasan teknis di beberapa pelabuhan, padahal biasanya singgah lebih lama agar para awaknya dapat beristirahat,” kata Dorleans. Parmentier bersaudara sempat singgah di Pulau Pini, wilayah Nias sekarang, dan memberi nama pulau itu “Pulau Parmentier”. Pulau-pulau lain di Kepulauan Batu pun satu persatu diberi nama Prancis. Keduanya juga singgah di pulau Tiku, sebelah utara Padang sekarang, untuk memenuhi persediaan merica yang dianggap sangat berharga di negerinya. Tidak seperti pendahulunya, kontak pertama Parmentier bersaudara dengan para pribumi berjalan cukup lancar. Itu berkat salah seorang awak kapal yang bisa sedikit berkomunikasi menggunakan bahasa Melayu. Para pelaut Prancis itu mendapat sambutan yang hangat. Mereka bahkan diundang makan malam bersama dalam sebuah acara penyambutan. Di sana, orang-orang Prancis mempelajari kebiasaan-kebiasaan penduduk yang terkadang dianggap tidak lazim, seperti kebiasaan makan sirih dan mabuk-mabukan dengan menghisap tanaman ganja. Para pria di tempat itu juga tidak bekerja, dan hanya menghabiskan waktu berjudi. Para penduduk Tiku digambarkan oleh pelaut Prancis sebagai seorang yang cukup terbelakang. Mereka berkulit hitam, dengan tubuh yang ramping dan tinggi. Cara berbicara mereka sangat keras tapi suara yang dikeluarkan tidak enak didengar. Mereka mengenakan pakaian dari kain berwarna merah, coklat, dan biru tua. Hampir seluruh penduduk bertelanjang kaki. Penduduk juga umumnya menggunakan ikat kepala atau topi jerami. Di tempat Parmentier bersaudara tinggal tidak dikenal adanya pelacuran. Meski pakaian para perempuan di sana tidak tertutup sempurna tapi ada hukum setempat yang melarang hubungan di luar pernikahan. “Kesucian benar-benar sangat dijaga di Sumatra, pelacuran adalah perilaku yang tak dikenal…,” kata Parmentier bersaudara seperti dikutip Ayang Utriza dalam Sejarah Hukum Islam Nusantara . Meski sempat disambut hangat, perundingan dengan pejabat pribumi di Tiku tidak cukup memuaskan. Pulau Tiku sendiri bukan tempat yang baik untuk berdagang. Tempat itu tidak lebih dari sebuah desa nelayan miskin. Hampir tidak ada saudagar yang menjual banyak rempah-rempah sebagaimana pencarian para pelaut Prancis tersebut. Perangai para penduduk juga berubah-ubah. Terkadang mereka baik dan bersahabat, namun sering dijumpai penduduk yang berperangai jahat dan licik. Gagal dengan upaya menguasai Tiku, pelancor Prancis itu memutuskan kembali berlayar menuju selatan. Mereka diketahui bergerak menuju Indrapura. Tapi di tengah-tengah pelayaran, Parmentier bersaudara terserang penyakit. Jean wafat pada 3 Desember 1529, sedangkan saudaranya Raoul menyusul lima hari kemudian. Sejumlah awak kapal juga banyak yang meregang nyawa akibat sakit tifus tidak lama setelah kedua kapten kapal mereka. “Para pelaut yang dapat bertahan mengangkut sedikit dagangan yang terdiri paling banter 30 barel merica dan berhasil kembali ke Prancis pada Juli 1530. Pelayaran yang sia-sia tersebut sekali lagi benar-benar membawa kerugian besar bagi pemilik armada Jean Ango,” tulis Dorleans.

  • Warna-warni Kehidupan Sean Connery

    SANG “James Bond” pergi dengan tenang. Aktor legendaris Sir Thomas Sean Connery mengembuskan nafas terakhirnya di usia 90 tahun dalam tidurnya di kediamannya di Nassau, Kepulauan Bahama, pada Sabtu (31/10/2020). Disebutkan putra semata wayangnya, Jason Connery, sang ayah memang sudah sakit-sakitan, meski tanpa menyebut penyakit apa yang dideritanya. “Ayah sudah tidak sehat beberapa waktu belakangan ini. Sebuah hari yang menyedihkan untuk semua orang yang mengenal dan mencintai ayah saya dan sebuah kehilangan yang pedih untuk semua orang di dunia yang menikmati bakat luar biasanya sebagai aktor,” ujar Jason sebagaimana disitat BBC , Sabtu (31/10/2020). Siapa tak mengenal Sean yang memerankan sosok agen Inggris 007 James Bond di tujuh seri filmnya selama 1962-1983. Walau kemudian peran James Bond dimainkan aktor-aktor lain, Sean tetap tak tergantikan dan fondasi yang diwarisinya tetap abadi. Sebagai pemeran pertama James Bond di seri perdana, Dr. No (1962), Connery meletakkan fondasi karakter James Bond sebagai karakter pahlawan cerdik, berani, dan elegan. American Film Institute menempatkan Bond sebagai tokoh terhebat ketiga dalam sejarah perfilman versi, di bawah karakter Atticus Finch yang diperankan Gregory Peck dalam film To Kill a Mockingbird (1962), dan karakter Indiana Jones yang dimainkan Harrison Ford dalam film Raiders of the Lost Ark (1981). Menolak Manchester United Thomas Sean Connery menyapa dunia kala depresi ekonomi melanda Eropa. Ia lahir di Fountainbridge, ujung barat kota Edinburgh, Skotlandia pada 25 Agustus 1930 sebagai anak pertama pasangan Joseph Connery, pengemudi lori sebuah pabrik karet, dan Euphemia McBain McLean, asisten rumah tangga. Kakek Sean dari Joseph Connery merupakan imigran Irlandia yang pindah ke Skotlandia pada pertengahan abad ke-19. Walau hidup dalam keadaan melarat, Sean masih bisa mencicipi bangku sekolah. Namun ketika adiknya, Neil, lahir pada 1938, Sean memutuskan harus ikut membantu menopang ekonomi keluarga. Di usia sembilan tahun, ia menyambi jadi tukang pengantar susu untuk koperasi St. Cuthbert’s Co-operative Society. “Latarbelakang masa lalu saya sangat keras. Keluarga kami miskin walau saya tak pernah tahu seberapa melaratnya hingga bertahun-tahun kemudian,” tutur Sean dalam biografi yang ditulis Michael Feeney Callan, Sean Connery . Di masa muda Sean Connery sempat bertugas jadi awak Kapal Induk HMS Formidable. ( Twitter @OnthisdayRN). Sean kecil bahkan kemudian punya satu pekerjaan sambilan lain, yakni jadi pembantu di sebuah toko daging. Dengan dua perkerjaan part-time itu Sean membawa pulang tiga poundsterling dalam sepekan untuk menambah uang sewa rumah orangtuanya. “Di luar sekolah dan waktu kerja, kegemaran utama Tommy (panggilan kecil Sean Connery) adalah sepakbola. Di sebuah distrik yang populasinya padat, lapangan luas untuk bisa bermain bola lengkap dengan wasitnya adalah hal yang mahal. Connery sudah getol bermain bola sejak dia bisa berjalan. John Brady, teman kecil Connery, mengatakan, keunggulan Connery dalam bermain bola adalah dia bisa berlari cepat,” lanjut Callan. Setahun setelah Perang Dunia II selesai, Sean masuk Angkatan Laut Inggris. Dia masuk Sekolah kru meriam antipesawat di Pangkalan AL Portsmouth. Setelah lulus sebagai kelasi, ia ditempatkan di kapal induk HMS Formidable. Tapi itu hanya dijalaninya sebentar lantaran pada 1948 ia dibebastugaskan akibat punya penyakit duodenal ulcer di usus 12 jari. Namun baginya, tiada kata patah arang. Di usia 18 tahun dengan postur 188 cm, Sean yang aktif melakoni beraneka pekerjaan serabutan. Mulai dari pengemudi lori, penjaga kolam renang, buruh pabrik peti mati, pekerja bagian umum di belakang panggung King’s Theatre, hingga jadi model lukisan di Edinburgh College of Art dijalaninya. Sean bahkan mulai ikut berbagai kontes binaraga setelah berkenalan dengan instruktur fitness Angkatan Darat (AD) Inggris Ray Ellington. Sean Connery (duduk, kedua dari kanan) di tim Bonnyrigg Rose. ( scottishjuniorfa.com ). Profesi itu dijalaninya sambil tetap bermain bola bersama Bonnyrigg Rose dan East Fife FC di level amatir. Kecintaannya pada sepakbola itulah yang membuatnya menarik perhatian pelatih Manchester United Matt Busby yang kagum pada talentanya di lapangan hijau. Di suatu hari pada musim semi 1953 itu, Sean menjalani tur untuk pementasan teater musikal South Pacific di kota Manchester . Dia mendapat peran figuran di situ. Di sela-sela produksi, tim teater South Pacific menggelar pertandingan sepakbola persahabatan dengan sebuah tim amatir lokal. Entah bagaimana ceritanya, ada Matt Busby di pertandingan itu sedang memantau bakat-bakat baru. Menurut Christopher Bray dalam Sean Connery: The Measure of a Man , Busby terkesan dengan postur dan stamina Sean. Sang aktor pun ditawarkan trial satu hari di Old Trafford. Busby yang puas dengan performanya pun menawarkan kontrak senilai 25 pounds (senilai 703 pounds dalam kurs 2019) sepekan. “Sejujurnya sepakbola saat itu memang tak menghasilkan banyak uang, seperti juga dunia teater. Lagipula usia produktif dalam sepakbola tidaklah panjang. Connery sudah akan beranjak 24 tahun dalam beberapa bulan. Sebagus apapun seorang pesepakbola, seberapa besar Busby membantunya membangun talenta, Connery takkan banyak bermain hingga usia 30 tahun. Setelahnya harus kembali banting tulang tanpa masa depan yang jelas,” tulis Bray. Sean akhirnya menolak tawaran Busby untuk berseragam Manchester United. “Saya sangat ingin menerimanya. Tapi saya sadar bahwa pesepakbola top sudah akan masuk puncak kariernya di usia 30 dan saya saat itu sudah 23 tahun. Saya memutuskan untuk jadi aktor saja dan ternyata itu pilihan yang paling cerdas,” kenang Connery di laman federasi sepakbola Skotlandia, scottishfa.co.uk , 2 Juni 2015. James Bond yang Dibenci Dari panggung teater Connery perlahan membangun kariernya di dunia seni peran. Sean kemudian mampu menyewa jasa agen, Richard Hatton, yang membawa kariernya ke layar perak pertamanya. Film Lilacs in the Spring (1954) jadi debut Sean di dunia film meski hanya sebagai ekstra. Tiga tahun kemudian, Sean mendapat peran karakter pendukung bernama Spike di film No Road Back (1957). Dalam film ini untuk pertamakalinya nama Sean Connery muncul di credit film. Setelah ikut membintangi film kolosal bertema Perang Dunia II, The Longest Day (1962), di tahun yang sama Sean mendapat peran sebagai agen Inggris “007” James Bond untuk seri pertama film James Bond , Dr. No. Sejatinya, dia bukan pilihan utama Eon Productions. Pun bukan favorit sang sutradara Terence Young maupun Ian Fleming, pencipta karakter James Bond. Ian merasa badan tegap dan berotot Sean bukan imej yang ingin ia perlihatkan ke publik. “Dia (Connery) bukan sosok yang saya bayangkan tentang penampilan James Bond. Saya mencari figur Komandan Bond dan bukan sosok stuntman berbadan besar,” cetus Fleming, dikutip Paul G. Roberts dalam Style Icons, Volume 2 . Namun, Sean punya kharisma dan postur yang memancarkan daya tarik seks pada para perempuan. Kelebihan inilah yang dilihat Dana Broccoli, istri produser Albert Broccoli, dan Blanche Blackwell, pacar Ian. Keduanya meyakinkan produser dan Ian bahwa Connerylah sosok yang tepat memerankan James Bond. Setelah filmnya rilis, Broccoli dan Fleming tak menyesali bujukan dua perempuan terdekat mereka. Begitu masuk Amerika Serikat, Dr. No langsung menembus jajaran film-film box office . Saking bangganya, Ian sampai menciptakan latarbelakang keluarga James Bond yang punya silsilah asal Skotlandia di novel berikutnya, You Only Live Twice (1964). Di film Dr. No , Sean Connery pertamakali memerankan karakter James Bond. ( 007.com ). Nama Sean meroket setelah itu . Dia memerankan James Bond hingga lima film berikutnya: From Russia with Love (1963), Goldfinger (1964), Thunderball (1965), You Only Live Twice (1967), dan Diamonds Are Forever (1971). Namun seiring menguatnya popularitas James Bond, Sean makin tak betah lantaran imej James Bond acapkali melekat padanya meskipun dia sedang tidak dalam rangka mempromosikan filmnya. Andrew Yule dalam Sean Connery: Neither Shaken Nor Stirred menceritakan, di manapun Sean berada, selalu ada saja yang menyapanya dengan sebutan James Bond. Peduli setan dia memainkan peran berbeda di film-film berbeda, publik sudah mengabadikan imej bahwa Sean Connery adalah James Bond dan James Bond adalah Sean Connery. Itu bikin muak Sean. “Jika Anda masih merasa temannya, Anda takkan mengungkit subyek Bond. Memang dia aktor terbaik untuk memerankannya, namun dia menjadi sosok yang sama dengan Bond. Jika dia berada di jalanan, orang-orang akan berkata: ‘Lihat, itu James Bond!’ Itu yang membuatnya muak dan membencinya (karakter Bond),” ujar Michael Caine, aktor veteran dan sahabat Sean, dikutip Yule. Dalam wawancaranya dengan Majalah Life , 25 Agustus 2015, Sean menyatakan kejengkelannya pada James Bond. “Saya selalu benci James Bond sialan itu. Saya ingin membunuhnya. Saya sudah muak dengan semua imej Bond,” katanya. Karakter James Bond di- franchise-kan oleh Eon Productions kemudian diberikan pada aktor-aktor lain, seperti George Lazenby dan Roger Moore. Sean comeback memerankan Bond di tahun 1983 lewat Never Say Never Again. Namun, saat itu sudah digarap Warner Bros, bukan lagi oleh Eon . Sean Connery terakhir kali memerankan James Bond di film Never Say Never Again.  (Metro-Goldwyn-Mayer Studios Inc.). Bukan hal gampang membujuk Sean untuk mau memainkan James Bond setelah 11 tahun absen. Pasalnya setelah film Diamonds Are Forever (1971), Sean bersumpah takkan mau memerankan James Bond lagi. Tetapi bayaran USD3 juta (USD8 juta kurs 2019) yang ditawarkan produser Jack Schwartzman menggoyahkan sumpah Sean. Sebelum dijuduli Never Say Never Again , film itu diberi tajuk James Bond of the Secret Service . Namun Warner Bros kemudian tergelitik untuk menerima usul istri kedua Connery, Micheline Roquebrune, untuk mengganti judul menjadi Never Say Never Again . Judul ini merujuk pada sumpah yang dilanggar Sean. Maka di credit title akhir, Warner Bros membubuhi kontribusi Micheline: “ Never Say Never Again by: Micheline Connery. ” Tetapi itu bukan hanya film James Bond terakhir Sean. Film itu juga jadi babak akhir Sean terlibat dengan PH besar. Pasalnya banyak perkara sudah membelitnya sejak awal produksi. Selain gugatan Ian Fleming dan PH Eon, perkara lain ialah pertikaian antara produser dan sutradara, masalah finansial produksi, hingga pergelangan tangan Sean yang patah saat berlatih adegan perkelahian dengan koreografer Steven Seagal. Sejak itu Sean jarang mau jadi pemeran utama kalaupun membintangi film ber- budget besar. Sean juga mulai terlibat dalam produksi, baik sebagai produser maupun produser eksekutif sejak di film Rising Sun (1993), dilanjutkan Just Cause (1995), hingga Sir Billi (2012) yang menjadi film terakhirnya sebelum memutuskan pensiun. Namun, bukan karakter James Bond yang membawanya meraih anugerah tertingginya di dunia perfilman, melainkan karakter Jimmy Malone yang diperankannya di film The Untouchables (1987). Lewat Jimmy Malone, Sean menyabet Piala Oscar (Academy Awards). Piala Oscar disabet Sean Connery lewat perannya di film The Untouchables.  (Paramount Pictures/ seanconnery.com ). Sean juga mendapat anugerah BAFTA Film Award dan Golden Globe Awards untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik. Dua anugerah terakhir didapatkannya lagi pada 1989 lewat film Indiana Jones and the Last Crusade. Sean sempat main di 20 serial televisi sebelum pensiun. Sebelum memutuskan pensiun pada 2012, Sean menjadi narator untuk film dokumenter Ever to Excel . Setelah pensiun, Sean memilih Nassau di Kepulauan Bahama –tempat syuting film Thunderball dan Never Say Never Again dilakukan– sebagai kediaman untuk menikmati hari-hari di usia senjanya. Hampir enam dekade (1954-2012) berkecimpung di dunia seni peran, Sean tercatat membintangi 76 film, termasuk dokumenter maupun film pendek. Dunia seni peran membuat Sean jadi salah satu figur paling dielu-elukan masyarakat Skotlandia selain Sir Alex Ferguson (legenda pelatih Manchester United). Polling suratkabar The Sunday Herald pada 2004 mengusung Sean sebagai “The Greatest Living Scot”. “Dia merevolusi dunia dengan potret pemberani dan jenaka dari agen rahasia (James Bond) yang seksi dan karismatik. Tak diragukan lagi dialah orang di belakang kesuksesan film-film seri (Bond) dan kami akan selamanya berterimakasih kepadanya,” tulis Produser Eon Productions Michael G. Wilson dan Barbara Broccoli, sebagaimana dinukil The Hollywood Reporter , Sabtu (31/10/2020).

  • Jagoan Udara Bernama Leo Wattimena

    Jangan coba-coba meniru aksi Leo Wattimena. Pesan itu tercetus dari kolega Leo sendiri sesama penerbang, Roesmin Noerjadin. Di kalangan sejawatnya, Leo terkenal sebagai penerbang “gila”. Kepiawaiannya dalam menerbangkan pesawat sambil akrobatik tidak dapat ditandingi siapapun.   “Saya pernah meniru satu kali, tapi langsung diperingatkan Pak Roesmin Noerjadin, agar jangan meniru orang gila itu lagi,” kenang Moesidjan. Pada 1958, Moesidjan salah satu penerbang pesawat tempur P-51 Mustang dalam Skadron 3 AURI yang bermarkas di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Komandan skadronnya saat itu ialah Roesmin Noerjadin. “Kalau kamu ulangi, kamu enggak usah jadi penerbang tempur,” kata Roesmin ditirukan Moesidjan dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer Indonesia suntingan Soemakno Iswadi. Teguran itu bukan tanpa alasan. Belajar dari pengalaman, seorang penerbang lain pernah mengalami kecelakaan di Pangkalan Udara Hussein Sastranegara, Bandung. Gara-gara mau meniru gaya Leo Wattimena, pesawat yang dikemudikan Letnan I (Udara) Subagyo jatuh menghujam landasan ketika lepas landas. Subagyo pun gugur seketika. Sebagai jagoan di udara, Leo Wattimena tidak bermodal keberuntungan semata. Dibandingkan rekannya sesama penerbang, Leo selalu mengambil bobot yang lebih berat untuk mengasah kemampuan. Ternyata, Leo diam-diam sudah sering melatih berbagai gaya atraksi di udara. Inilah rahasianya. Dia sering berlatih terbang di atas gumpalan awan dan menganggap awan sebagai landasan.  Ukurannya, kalau sampai pesawat menyentuh awan, berarti pesawat telah jatuh. Setelah berkali-kali percobaan, barulah atraksinya itu dilakukan di atas landasan.      Selain giat berlatih, Leo punya postur tubuh yang menunjang untuk ukuran pilot pesawat tempur. Secara kasat mata, Leo terlihat kekar, berleher pendek, dan bertubuh gempal. Leher pendek sangat menguntungkan bagi penerbang tempur karena jarak jantung memompakan darah ke kepala menjadi dekat. Dengan demikian, sang pilot akan mudah mengatasi kondisi kehilangan kesadaran ketika berada di ketinggian tertentu. “Postur fisik Leo memang mendukung. Di selalu bisa cepat mengatasi kondisi-kondisi blank itu. Bahkan, ia melakukan sambil tersenyum atau melambaikan tangan kepada teman terbangnya,” tulis Iswadi. Dengan Mustang kesayangannya, Leo mengangkasa sesuka hati. Begitu pula di kalangan AURI, Leo adalah penerbang tempur yang disegani. Tapi, itu semua tidak membuat Leo lupa daratan. Di balik reputasi gemilang itu, Leo memperlihatkan kehidupan pribadi yang sederhana. Pada 1956, Leo menikahi Corrie Dingemans seorang perempuan indo asal Jakarta. Pada awal perkawinannya, keluarga Leo tinggal di mess di kawasan Setiabudi. Sebenarnya, Leo sudah ditawari rumah besar di kota tetapi tidak diambilnya karena ingin tinggal di Halim Perdanakusuma. Pada awal 1960, keluarga Leo kemudian berpindah ke Komplek Trikora Halim. Salah satu kebiasaan Leo yang diingat banyak koleganya adalah secara berkala mengantarkan beras kepada ibunya yang tinggal di Bandung. Dia mengantarkannya langsung dengan pesawat Mustang yang dikemudikan sendiri. Padahal, pekerjaan itu bisa dititipkan kepada anak buahnya.   Dikisahkan dalam riwayat hidup Leo Wattimena yang disusun Kapten Heri Susanto dari Dispen AU, ketika operasi Trikora pembebasan Irian Barat, Leo pernah mendapat tugas mengirim gula dari Jakarta ke Makassar. Sementara itu, di rumah Leo sendiri sedang tidak ada gula. Alih-alih aji mumpung, Leo malah memilih untuk tidak mau mengambil sedikit pun gula untuk keperluan rumahnya. “Tanpa gula kita bisa membesarkan anak-anak,” begitu kata Leo kepada istrinya. Sekali waktu, Leo juga pernah tersulut amarah sebagai tanda solidaritasnya kepada pasukan terdepan. Pada saat makan bersama, Leo tiba-tiba membuang makanan miliknya karena menyaksikan para prajurit yang akan diterjunkan ke Irian Barat cuma dikasih makan tempe. Sementara itu, para perwira tinggi yang duduk di garis belakang mendapat jatah makan dengan lauk daging ayam. Luapan emosional itu semata-mata ditunjukkan Leo karena menghormati hak-hak prajurit yang belum tentu dapat kembali pulang dari pertempuran dengan selamat. “ Spirit de corps -nya tinggi. Leo selalu penuh dedikasi,” kenang kolega Leo yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (Purn.) Ashadi Tjahyadi dikutip Iswadi. Di hadapan siapapun yang mengenalnya, Leo juga tidak sungkan unjuk kebolehan selain menerbangkan pesawat. Leo memiliki hobi menyanyi, bermain musik, melukis, bahkan memasak. “Kalau ada Leo, tidak pernah sepi,” begitulah teman-temannya mengenang sosok Leo Wattimena.

  • Ketika Orang Sunda Mulai Berhaji

    SUATU hari di awal tahun 1700-an. Bupati Cianjur Aria Wiratanu II (1691–1707) merasa pusing dengan prilaku sang adik yang bernama Raden Prawatasari. Bagi pejabat yang mengabdi kepada VOC itu, sikap keras Prawata terhadap orang-orang Belanda membuatnya ada dalam posisi dilematis. Supaya sang adik lebih “dewasa” dan berpikir dingin, maka Aria Wiratanu II memberangkatkan Prawatasari untuk pergi berhaji ke Makkah. “Namun boro-boro menjadi lebih tenang, sepulang dari Makkah, Haji Prawatasari malah semakin keras sikapnya terhadap kompeni dan bahkan melancarkan perlawanan bersenjata yang sulit dikendalikan,” tutur sejarawan Cianjur, Luki Muharam. Jika cerita di atas memang benar, itu membuktikan Bupati Aria Wiratanu II memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap VOC. Menurut sejarawan Henri  Chambert-Loir, sejak akhir 1600-an, VOC sangat selektif memberikan izin kepada orang-orang muslim di Nusantara untuk pergi berhaji. Sebabnya: mereka khawatir orang-orang Nusantara terpengaruh ajaran perang sabil selama di tanah Arab tersebut.

  • Sukarno, Pan Am, dan CIA (1)

    DALAM kunjungan kenegaraan ke berbagai negara, Presiden Sukarno suka menyewa pesawat Pan American World Airways. Namun, pemerintah Uni Soviet tak senang Sukarno menggunakan pesawat musuhnya, Amerika Serikat.

  • Larbi Benbarek, Bintang Sepakbola Prancis yang Dilupakan

    SUATU hari yang cerah di bulan September 1992. Abdelkader Larbi Ben M’barek alias Larbi Benbarek (diperankan Mohamed Khashla) baru selesai mendirikan salat di kediamannya. Tak lama kemudian, Hassan (Abdelhamid Qarqouri) sahabatnya mengajaknya ke Stade Mohammed V di Kasablanka, Maroko untuk menyaksikan laga timnas Maroko. Namun sesampainya di tujuan, Larbi ditolak masuk. Ia tetap dilarang masuk ke stadion ketika menunjukkan selembar kartu pas berlogo FIFA. Penolakan itu jadi kali terakhir Larbi menengok stadion terbesar Maroko itu lantaran seminggu kemudian, pada 16 September 1992, Larbi mengembuskan nafas terakhirnya. Prolog film Larbi: Ou le destin d’un grand footballeur  (2011) garapan sineas Driss Mrini itu dengan gamblang menggambarkan figur seberpengaruh Larbi Benbarek begitu cepat dilupakan. Tidak hanya dalam ingatan publik Prancis, negeri tempat Benbarek berkarier hingga bersinar di masa muda, namun juga di negeri kelahirannya, Maroko. Nama Larbi Benbarek memang terbilang asing bagi penikmat sepakbola era modern. Maklum, pesepakbola muslim yang pernah menjadi bagian dari timnas Prancis itu melanglang buana di Eropa pada 1930-an hingga 1950-an. Namanya tenggelam oleh sederet nama bintang yang terus bermunculan di era-era setelahnya. Terlebih setelah era Zinedine Zidane pada 1990-an dan Paul Pogba pada masa kini, yang sama-sama mempersembahkan trofi Piala Dunia kepada Prancis. Padahal, Zidane, Pogba, Karim Benzema, hingga Adil Rami merupakan penyambung tongkat estafet dari peran yang dimainkan Benbarek. Meski prestasi yang ditorehkan Benbarek tak sebaik bintang-bintang penerusnya, Benbarek peletak fondasi kiprah peranakan Afrika Utara sebagai tulang punggung di timnas Prancis yang diakui dunia. Larbi Benbarek sebelum jadi bintang di Prancis, hidup sengsara di Maroko. ( onisep.fr / fff.fr ). Bermain dengan Sandal Sejatinya, sejak 1936 timnas Prancis sudah punya anggota pesepakbola muslim imigran seperti Ali Benouna dan Benbarek. Namun, bintang yang paling kondang saat itu ialah Benbarek. Benbarek lahir di Casablanca pada 16 Juni 1914. Saat dia lahir, Maroko masih terbagi dua, antara di bawah kolonialisme Prancis dan protektorat Spanyol. Casablanca bersama Marrakesh jadi kota besar yang dikuasai Prancis. Benbarek yang datang dari keluarga miskin di pinggiran Casablanca sudah menjadi yatim sejak kecil. Satu-satunya kesenangan yang bisa dirasakannya ialah main sepakbola di jalan dengan bertelanjang kaki sebagaimana anak-anak sebayanya di lingkungannya. Sepatu bola masih jadi barang mewah bagi si yatim itu. Benbarek berkawan baik dengan Marcel Cerdan yang kelak jadi petinju besar Prancis. Diungkapkan C. R. Pennell dalam Morocco Since 1830: A History , Banbarek bahkan nyaris menggeluti tinju yang tengah ditekuni Cerdan. “Tinju jadi alternatif (selain sepakbola) untuk melarikan diri dari kemiskinan. Sahabat Benbarek muda adalah Marcel Cerdan, putra dari seorang tukang daging di Casablanca. Pada 1939, Cerdan menjadi juara dunia kelas menengah,” tulis Pennell. Larbi Benbarek (jongkok, kedua dari kiri) di Skuad Olympique Marseille, klub Prancis pertamanya setelah merantau dari Maroko. ( om.fr ). Di usia 16 tahun, Benbarek memilih sepakbola sebagai jalan hidupnya. Seraya bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah perusahaan minyak, Benbarek mulai merajut peruntungan di lapangan bersama klub amatir FC Ouatane de Casablanca.  Pada 1930, ia akhirnya main di klub profesional L’Idéal Club de Casablanca. “Larbi Benbarek tak pernah mengenakan sepatu sepakbola, jadi dia memainkan laga profesional perdananya mengenakan sandal. Saat itu (debutnya) melawan klub raksasa US Marocaine, tiga kali juara Piala Afrika Utara. Benbarek mencetak dua gol,” ungkap Matt Rendell dalam Olympic Gangster. Perlahan tapi pasti Benbarek mulai ditakuti banyak pemain bertahan. Bermodal stamina prima, driblling apik, gaya permainan ala Brasil, dan postur tinggi, Benbarek dikenal sebagai gelandang serang yang trengginas. Pasca-mengantarkan L’Idéal menjadi finalis Coupe du Maroc de Football 1935, Benbarek direkrut US Marocaine. Di tahun itu juga Benbarek mulai sering dipanggil tim Maroko IX, pendahulu timnas Maroko. Saat itu Maroko masih jadi jajahan Prancis dan belum punya timnas. Tiga kali Benbarek mengumpulkan caps di laga-laga persahabatan antara tim-tim serupa di Aljazair dan Tunisia. Titik balik kariernya terjadi usai membawa US Marocaine menjuarai Liga Maroko dan kampiun Championnat d’Afrique du Nord de Football (Piala Afrika Utara) 1937. Kecemerlangannya menarik minat klub Prancis Olympique Marseille yang kemudian meminangnya dengan mahar 44 ribu franc alias 50 kali lipat gajinya kala jadi petugas kebersihan. Dewa Sepakbola Benbarek langsung membuktikan diri sebagai pemain paling menonjol di antara pemain-pemain dalam gelombang pertama imigran muslim di sepakbola Prancis, 1930-an. “Benbarek langsung memberi kesan luar biasa di Prancis. Dia mencetak dua gol pada debutnya di Liga Prancis dan dalam empat bulan berikutnya, sebagai warga Prancis, ia terpilih mewakili Les Bleus (julukan Timnas Prancis),” tulis sejarawan International Centre for Sports History & Culture De Monfort University Matt Taylor, di laman lcfc.com , 20 April 2020. Larbi Benbarek (jongkok kedua dari kiri) masuk Timnas Prancis sejak 1938. ( histoire-immigration.fr ). Debut Benbarek di timnas Prancis terjadi pada laga persahabatan kontra Italia di Napoli, 4 Desember 1938. Sayangnya, Prancis kalah 0-1. Namun dalam laga persahabatan kontra Polandia, 22 Januari 1939, Benbareck mencetak hattrick pertamanya dan Prancis menang 4-0. Kiprah manis Benbarek namun harus terhenti hingga 1945 karena Perang Dunia II pecah. Benbarek pun pulang ke Maroko selama perang. Ia kembali ke Prancis usai perang untuk memperkuat Stade Français yang ditukangi Helenio Herrera. Tiga tahun berselang kala Herrera pindah ke klub Spanyol Atlético Madrid, Benbarek turut dibawa Herrera sehingga menjadi pemain kulit hitam pertama di Liga Spanyol. Kepindahan Benbarek menggegerkan publik Prancis yang tak rela ditinggal pergi Benbarek. “Para jurnalis di media-medianya mengecam dalam suratkabar-suratkabar: ‘Jual (monumen) Arc de Triomphe atau jual Menara Eiffel, tetapi jangan jual Benbarek!’” sambung Rendell. Larbi Benbarek (berdiri, keempat dari kanan) jadi bintang berkulit hitam pertama di Liga Spanyol. ( atleticodemadrid.com ). Namun angka 17 juta franc, seperti diungkapkan Mickael Grall dalam Red Card!: 20 Broken Destinies of Legendary Footballers , (sumber lain menyebut 8 juta franc) sebagai rekor mahar Atlético untuk Stade Français terlalu mubazir untuk ditolak. Jadilah Benbarek melebarkan sayapnya ke Semenanjung Iberia sebagai pemain bintang berkulit hitam pertama di Liga Spanyol. Jika kelak legenda Argentina Diego Maradona dijuluki “Si Tangan Tuhan”, Benbarek lebih dulu disematkan julukan Pie de Dio alias “Kaki Tuhan” oleh publik Madrid, mengingat keunggulan postur di bagian kakinya yang jenjang. Keputusan Herrera mendatangkan Benbarek ke klub rival sekota Real Madrid itu tak keliru meski harus mengeluarkan mahar 17 juta franc –sumber lain menyebut 8 juta franc– sehingga kepindahan Benbarek mencetak rekor. Sepanjang sepakterjangnya di 113 laga bersama Atlético (1948-1953), Benbarek menorehkan 56 gol. Ia jadi pahlawan kala Atletico menyabet dua gelar liga berturut-turut (1950 dan 1951) dan satu titel Copa Eva Duarte (kini Supercopa de España ) pada 1950. Edson Arantes do Nascimento alias Pelé (kanan) yang memuja Larbi Benbarek. (Twitter @MoroccoStats). Namun, kebintangan Benbarek gagal diuji di Piala Dunia. Prancis mundur dari keikutsertaan di Piala Dunia 1950. Sementara di Piala Dunia 1954, penampilan Benbarek mulai menurun seiring bertambahnya usia. Benbarek memainkan laga terakhirnya bersama timnas Prancis di laga persahabatan kontra Jerman Barat di Hannover, 16 Oktober 1954. Benbarek kembali ke Prancis pada 1953 dan bermain untuk Marseille. Senjakala kariernya dihabiskan Benbarek di USM Bel-Abbes (Aljazair) sebagai pemain-pelatih pada 1955 dan Rabat FUS pada 1957. Di tahun yang sama usai pensiun, ia dipercaya menukangi timnas Maroko yang lahir tak lama setelah merdeka dari Prancis. Sejak saat itulah nama Benbarek mulai dilupakan. Namun, ia tidak pernah dilupakan oleh Pelé , bintang legendaris asal Brasil. Dalam sebuah pertemuan di tahun 1957, Pelé, yang baru mulai mendaki kebintangannya, mengungkapkan kekagumannya pada Benbarek. “Bagi banyak pemain yang pernah melawannya, Larbi Benbarek tak sekadar pesepakbola Afrika hebat pertama: dialah yang terhebat. Pelé disebutkan sampai menyembahnya: ‘Jika saya raja sepakbola, maka dia dewanya.’ Tetapi di awal 1990-an hidupnya terisolasi dan terlupakan, bahkan di Maroko, di mana jasadnya saja baru ditemukan seminggu setelah ia meninggal (16 September 1992),” tulis Rendell.

  • Pesawat Mata-Mata Amerika Ditembak Jatuh di Kuba

    Sabtu pagi 58 tahun silam di Pangkalan AU McCoy, Orlando, Florida, Amerika Serikat. Mayor Udara Rudolf Anderson sibuk mempersiapkan semua hal untuk penerbangannya. Dia akan menjalankan penerbangan satu jam 15 menit di atas Kuba untuk misi pengintaian ( air spy ). Meski berbahaya, misi itu dijalaninya dengan senang. Tak tampak sedikitpun raut ketakutan di wajahnya. “Terbang adalah hidup dan hasratnya. Saat kanak-kanak, dia membuat pesawat model dan bercita-cita menjadi pilot,” tulis Michael Dobbs dalam One Minute to Midnight . Sementara Anderson sibuk mempersiapkan penerbangannya, Sabtu (27 Oktober 1962) pagi itu orang-orang di Havana dan di sebagian besar kota-kota di Kuba beraktivitas seperti biasa. Masyarakat beraktivitas seolah tak mengetahui ada bahaya besar yang mengancam mereka. Kepanikan warga tak terlihat padahal negeri mereka sedang berada dalam ancaman kehancuran oleh nuklir Amerika Serikat. “Orang-orang pada umumnya tidak menunjukkan antusiasme atau kepanikan. Mereka telah membeli stok barang-barang seperti parafin, minya, kopi, tetapi tidak ada hiruk-pikuk di toko-toko, dan persediaan makanan tampaknya masih mencukupi,” kata Duta Besar Inggris untuk Kuba Herbert Marchant sebagaimana dikutip Michael Dobbs dalam One Minute to Midnight . Ketiadaan kepanikan warga Kuba juga disaksikan wartawan Argentina Adolfo Gilly. Alih-alih harapannya bertemu Che Guevara berhasil ketika dia mengunjungi Kementerian Perindustrian, dia malah mendapati kabar bahwa Che berada di Pinar del Rio. Seorang asisten juga memberitahunya berita buruk. “Kami memperkirakan penyerangan (Amerika, red .) siang ini antara pukul tiga dan empat,” kata sang asisten, dikutip Dobbs. Asisten tersebut tak menunjukkan wajah ketakutan saat memberi kabar, seolah kabarnya seringan kabar akan datangnya sebuah tamu delegasi asing. Pun dua milisi yang dilihat Gilly di bawah, tak sedikit pun menunjukkan kepanikan akan bahaya dahsyat yang akan datang. Dengan tanpa beban salah seorang milisi itu menyatakan kepada kawannya bahwa sang kawan harus menunggu sampai perang usai untuk bisa mencukur rambut karena mereka yakin serangan AS akan segera datang. Suasana mengerikan yang seolah tak dipedulikan warga Kuba itu terjadi dalam masa Krisis Misil Kuba (16-28 Oktober 1962). Krisis yang membawa dunia di ambang perang nuklir itu dipicu oleh penempatan sejumlah rudal balistik Uni Soviet di Kuba. Penempatan itu merupakan respon Uni Soviet atas kesepakatan yang dicapai antara PM Nikita Khrushchev dan pemimpin Kuba Fidel Castro tiga bulan sebelumnya. Dalam pertemuan itu, Castro meminta Soviet menempatkan rudal-rudal balistiknya di sejumlah tempat di Kuba untuk mengantasipasi agar invasi seperti Invasi Teluk Babi pada 1961 yang disokong Amerika Serikat tak terulang kembali. Penempatan sejumlah rudal balistik itu pun memicu Amerika mengerahkan lebih banyak penerbangan mata-mata ( air spy ). Pasalnya, dalam penerbangan perdana pada 14 Oktober 1962, pesawat U-2 Amerika yang dipiloti Letkol Richard Heyser berhasil memotret situs-situs rudal balistik Soviet di Kuba. Ketika keesokannya Anderson menjalankan misi serupa, lebih banyak situs rudal balistik Soviet ditemukan di dekat Sagua la Grande, Kuba Tengah. Amerika pun makin gencar memata-matai tetangganya lewat udara dengan mengerahkan 4028th Strategic Reconnaissance Weather Squadron, 4080th Strategic Reconnaissance Wing. Penerbangan mata-mata Amerika dirintis sejak masa pemerintahan Eisenhower dan diprakarsai CIA dengan sasaran wilayah udara Soviet. “Untuk mewujudkan misi tersebut, CIA membuat U-2 Program guna menghasilkan pesawat khusus spionase yang bisa terbang setinggi 65.000-70.000 kaki agar tak bisa dijangkau pesawat-pesawat dan rudal-rudal Soviet. U-2 Program sejalan dengan Skunk Works, program pengembangan pesawat Lockheed Martin yang dijalankan bekerjasama dengan  dengan CIA. “Ketika CIA mengambil alih keamanan Skunk Works, menyegel perimeter dengan orang-orang berpakaian preman berwajah serius yang membawa senjata otomatis, dan mengatur untuk mendanai kontrak Lockheed senilai $35 juta melalui perusahaan tiruan, (Clarence L Johnson, desainer pesawat – red .) Kelly memilih tim khusus dan menyelesaikan cetak birunya untuk pesawat revolusioner,” tulis Francy Gary Powers Jr. dan Keith Dunnavant dalam Spy Pilot: Francis Gary Powers, the U-2 Incident, and a Controversial Cold War Legacy . Setelah menyasar wilayah udara Soviet, penerbangan mata-mata Amerika itu juga menjangkau Kuba. Namun demi keamanan, Presiden Kennedy mengalihkan misi tersebut dari CIA ke AU AS. “Kennedy lebih memilih tampilan biru Angkatan Udara terbang di atas Kuba daripada pilot CIA: lebih sedikit pertanyaan yang akan diajukan jika mereka ditembak jatuh,” tulis Dobbs. Anderson, pilot AU AS, merupakan bagian dari misi tersebut. Dia telah sukses dalam banyak misi mata-mata tersebut. Oleh karena itu, dia sempat protes ketika komandannya menyuruh istirahat sehari karena lukanya saat bertugas di Alaska. Nama Anderson tak ada dalam daftar empat penerbangan mata-mata pada Sabtu (27 Oktober) pagi itu. Namun, Anderson akhirnya berhasil melobi dan jadi satu-satunya pilot yang menjalankan misi penerbangan mata-mata pada hari itu. “Satu per satu dari tiga misi pertama dibatalkan pada Sabtu dini hari. Angkatan Laut sedang melakukan pengintaian pada ketinggian rendah terhadap situs-situs rudal, jadi tidak masuk akal jika mengirim U-2 ke wilayah yang sama pada saat Soviet mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka. Seorang pilot, Kapten Charles Kern, sudah duduk di kokpit pesawatnya ketika ada perintah dari Washington untuk membatalkan penerbangan. Tinggal tersisa misi 3128 –misi Anderson,” sambung Dobbs. Maka setelah semua persiapan diselesaikan dengan baik dengan bantuan Kapten Roger Herman, Anderson langsung mengudarakan pesawatnya No. 56-6676 dari Pangkalan AU McCoy pada pukul 9.09 pagi. Melewati rute pantai timur Florida, Anderson dapat melihat pantai pasir putih Cayo Coco dan Cayo Gullermo, tempat mancing favorit Ernest Hemingway, tak lama kemudian. Namun, di sanalah pesawat Anderson ditangkap oleh radar Soviet. Seorang perwira Soviet yang mencatat masuknya pesawat asing itu langsung mengabarkan sistem pertahanan udara di lain tempat. Sistem pertahanan udara, yang diseluruh Kuba dikomando oleh Mayjen Statsenko, pun segera disiagakan. Sementara pemerintah Kuba mengumumkan keadaan bahaya dan memerintahkan Komite Pertahananan Lokal untuk memberi beberapa instruksi kepada pejabat lokal dan penduduk. Di ruang kontrol sistem pertahanan anti-serangan udara Soviet di dekat Banes, Kuba, Mayor Gerchenov memerintahkan tembak kepada pesawat Anderson menggunakan dua rudal. Tak lama kemudian, dua rudal pun melesat ke udara memburu pesawat Anderson. Di layar monitor, dua titik terus bergerak mendekati sebuah titik yang merupakan pesawat Anderson. Tak lama kemudian, di langit yang gelap, cahaya benderang muncul. “Beberapa pecahan peluru menembus kokpit, menembus setelan tekanan parsial pilot dan bagian belakang helmnya. Rudolf Anderson mungkin tewas seketika. Dia entah bagaimana selamat dari ledakan awal, dia pasti mati beberapa detik kemudian, karena kehilangan oksigen dan karena depresurisasi,” sambung Dobbs. “’Target Nomor 33 dihancurkan,’ lapornya pada pukul 10.19 pagi.” Reruntuhan pesawat Anderson mayoritas jatuh ke daratan sekira delapan mil dari situs SAM Banes. Sebuah sayapnya jatuh di Desa Veguitas, sementara ekor pesawat jatuh ke laut, dan bagian badan pesawat berikut tubuh Anderson di dalamnya jatuh di ladang tebu. Pada 31 Oktober, Sekjen PBB U Thant, yang baru menemui Castro, mengumumkan Anderson telah tewas. Pemerintah Kuba kemudian menyerahkan jenazahnya pada 4 November. Presiden Kennedy lalu menganugerahi Anderson, satu-satunya korban jiwa dalam Krisis Misil Kuba, dengan First Air Force Cross. Upaya perdamaian yang dibangun Presiden Kennedy dan PM Soviet Khrushchev lewat surat-menyurat pribadi sejak 1961 pun kembali membentur tembok dengan kematian Anderson. Padahal, pada Jumat malam 26 Oktober sebelum misi Anderson, Kennedy menyepakati tawaran Khrushchev untuk menarik rudal-rudal Amerika di Turki sebagai ganti penarikan rudal-rudal Soviet di Kuba. Atas kematian Anderson, Kennedy didesak Kepala Gabungan Kepala Staf untuk mengerahkan serangan balasan pada Senin, 2 November 1962. Namun, Kennedy tak segera mengiyakan. Setelah berpikir keras, dia akhirnya mengambil keputusan penting. “JFK membatalkan pembalasan Angkatan Udara atas jatuhnya U-2. Dia melanjutkan pencarian resolusi damai. Kepala Gabungan kecewa. Robert Kennedy dan Theodore Sorensen kemudian membuat draf surat untuk menerima proposal pertama Khrushchev, sambil mengabaikan permintaan selanjutnya agar AS menarik misilnya dari Turki,” tulis James W. Douglass dalam JFK and the Unspeakable: Why He Died and Why It Matters .

  • Ujung Perseteruan Sukarno dengan Presiden Prancis

    Presiden Sukarno pernah punya pengalaman tidak mengenakan dengan Charles de Gaulle. Beredar rumor bahwa Presiden Prancis itu benci kepada Bung Karno. Dengan alasan tertentu, de Gaulle cenderung bersikap sinis terhadap Sukarno.  “Suatu kali saya mengetahui bahwa de Gaulle tidak senang kepada saya,” ujar Sukarno kepada penulis otobiografinya Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Charles André Joseph Marie de Gaulle merupakan Presiden Prancis yang memerintah pada periode 1959--1969. Antipati de Gaulle, menurut Sigit Aris Prasetyo dalam Dunia dalam Genggaman Bung Karno  bermula karena Sukarno dianggap merecoki kepentingan Prancis di wilayah jajahan. Seperti diketahui, Sukarno begitu aktif menyokong perjuangan koloni Prancis untuk merdeka dari penjahahan, macam Aljazair di Afrika atau Vietnam, Laos, dan Kamboja di Indocina. Selain itu, Gaulle mencap Sukarno sebagai pemimpin Asia  yang doyan perempuan cantik. Istilah Prancisnya, “ Le Grand Seducteur ” atau sang perayu agung. Pemimpin Kamboja Norodom Sihanouk tahu apa yang terjadi antara Sukarno dan De Gaulle. Sebagai sahabat Sukarno, Sihanouk dapat mendukung gagasan Sukarno tentang kemerdekaan dan antiimperialisme. Sihanouk juga dapat memahami kegemaran Sukarno dalam bercinta. Namun bagi de Gaulle, kepribadian Sukarno yang lekat dengan syahwat adalah tercela. “Tidak semua pemimpin negara asing menyukai Sukarno seperti saya,” kata Sihanouk kepada Bernard Krisher dalam World Leaders I Have Known . “Di mata de Gaulle dan istrinya yang bermartabat baik,” lanjut Sihanouk, “Sukarno adalah seorang playboy yang jangak (cabul).” Sebaliknya, Sukarno pun menilai Prancis tiada beda dengan bangsa-bangsa imperialis Eropa lainnya. Dengan kata lain, Sukarno juga menggolongkan de Gaulle sebagai pemimpin negara yang ikut melakukan penjajahan. Eksploitasi kemanusian itu bahkan kerap kali diserukan Sukarno memakai adagium Prancis yang terkenal, “ exploitation de l’homme par l’homme ”. Sekalipun demikian, Sukarno sekali waktu memutuskan untuk bertemu dengan de Gaulle.   Dalam otobiografinya, Sukarno menyebut perjumpaan pertama dengan de Gaulle terjadi di  Wina, Austria. Sekira tahun 1961, Sukarno berkunjung ke Austria dalam suatu lawatan sekaligus berobat. Di saat yang sama ada de Gaulle di sana. Sebagai orang yang lebih muda, Sukarno yang mendatangi de Gaulle lebih dahulu. Pertemuan itu menjadi berkesan sebab de Gaulle tidak menyangka kalau Sukarno fasih berbahasa Prancis. Mereka pun saling berbincang dalam bahasa Prancis tanpa penerjemah. Lagi-lagi de Gaulle takjub dengan lawan bicaranya. Sukarno yang di masa mudanya melahap pemikiran pemikir-pemikir Prancis abad pencerahan ternyata paham betul sejarah revolusi Prancis yang disebut “ La grande revolution ”. De Gaulle yang tadinya benci Sukarno berangsur-angsur mulai simpati. Menurut Sigit, de Gaulle memang beralasan untuk mengaggumi Sukarno. Dalam bukunya, Sigit mengutip cerita menarik saat berlangsungnya percakapan antara de Gaulle dan Sukarno. Cara Sukarno menghadapi de Gaulle membuktikan kejeniusannya dalam berdiplomasi.    “Presiden Sukarno, mengapa Anda selalu tidak bisa berteman dengan Prancis,” tanya de Gaulle. Pertanyaan itu merujuk kepada sikap Indonesia yang gigih membantu perjuangan kemerdekaan Aljazair. Tapi, pertanyaan itu dibalas dengan cerdik oleh Sukarno. Katanya, “Tuan Charles de Gaulle, kami melakukan ini sesuai dengan ajaran revolusi Prancis, yaitu Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan).” “Mendengar jawaban tersebut, Charles de Gaulle hanya manggut-manggut tanda mengiyakan,” tulis Sigit. Perjumpaan itu merupakan awal yang baik bagi hubungan Sukarno dan de Gaulle selanjutnya. Sebab, Sukarno menjalin beberapa pertemuan lagi dengan de Gaulle dikemudian hari. Pada bulan Juni 1963, Sukarno melakukan kunjungan ke Paris dan bertemu de Gaulle. Sukarno mengunjungi Paris lagi pada 20 Oktober 1964. Kunjungan terakhir Sukarno ke Prancis berlangsung pada Juli 1965. Pada 1 Juli 1965, pesawat Sukarno mendarat di bandar udara Paris setelah lawatan di Kairo, Mesir mempersiapkan KTT Asia-Afrika II. Presiden de Gaulle kembali menyambut Sukarno di Istana Elysee. Dari yang tadinya benci, “setelah itu sikapnya (de Gaulle) berubah,” kenang Sukarno dalam otobiografinya. De Gaulle sendiri dalam pemerintahannya menjadikan Prancis sebagai negara Barat yang berpandangan moderat. Dia melakukan sejumlah terobosan penting bagi negara dunia ketiga. Pada 1962, misalnya Prancis memberikan hak referendum bagi Aljazair yang kemudian memilih untuk merdeka. De Gaulle juga bersedia “mengusir” markas NATO dari Paris ke Brussel di Belgia dan itu tentu saja  mengejutkan blok Barat. Pada saat negara Eropa lainnya ogah memandang Tiongkok, De Gaulle malah membuka hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Sukarno mengapresiasi kebijakan de Gaulle itu sebagai langkah yang luar biasa. Dia menyebut de Gaulle berani tampil beda di luar kebiasaan. Saling menghormati diantara keduanya menjadikan Prancis sebagai negara Barat yang lebih bersahabat bagi Indonesia ketimbang negara Barat lainnya.

  • Enam Muslim Pionir di Sepakbola Prancis

    PERSEPAKBOLAAN Prancis turut terguncang oleh pernyataan kontroversial Presiden Emmanuel Macron  pada 2 Oktober 2020. Ia menyatakan akan menetapkan undang-undang (UU) tentang sekularisme lantaran menganggap Islam kini sudah menjadi agama yang berada di ambang krisis. Pernyataan itu diperparah dengan pidatonya pada 21 Oktober 2020 setelah munculnya kasus pemenggalan Samuel Paty, guru sejarah di Paris, oleh seorang imigran muslim Chechen. Paty dibunuh setelah memamerkan karikatur Nabi Muhammad SAW di hadapan murid-muridnya. “Kita tidak akan menghentikan kartun-kartun, gambar-gambar, bahkan jika yang lain menghentikannya. Sang guru (Paty) dibunuh karena ia mewakili republik. Kami akan melindungi kebebasan yang Anda ajarkan dan kami akan membawakan sekularisme,” cetusnya di Universitas Sorbonne, dinukil Euronews , 21 Oktober 2020. Pidato Macron pun menuai kecaman, termasuk dari pemerintah Indonesia. Karikatur Nabi Muhammad dianggap penodaan dan penghinaan terhadap tokoh paling dihormati dunia Islam. Presiden Prancis Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron (kiri) saat berpose dengan trofi Piala Dunia 2018 yang tujuh di antara skuad Prancisnya terdapat para pemain muslim. ( fifa.com ). Kecaman juga datang dari dunia sepakbola Prancis. Paul Pogba menyesalkan penghinaan terhadap agamanya itu yang sejatinya merupakan agama yang mengajarkan perdamaian. “Saya marah, syok, dan frustrasi oleh media yang memanfaatkan saya untuk membuat headline palsu terkait isu yang kini sedang terjadi di Prancis dan membubuhkan tentang agama saya dan timnas Prancis. Saya menentang semua bentuk teror dan kekerasan. Agama saya adalah agama perdamaian dan penuh kasih,” ungkap Pogba di akun Instagram -nya @paulpogba , Selasa (27/10/2020). Pogba jadi bagian dari tujuh pemain muslim yang menghuni Les Bleus (julukan timnas Prancis) kala memenangkan Piala Dunia 2018. Selain Pogba, pemain imigran muslim Prancis kala itu adalah Benjamin Mendy, N’Golo Kanté, Adil Rami, Djibril Sidibé, Nabil Fekir, dan Ousmane Dembélé. Prestasi mereka mengulang prestasi dua dekade sebelumnya. Di Piala Dunia 1998, Zinedine Zidane, yang juga muslim peranakan, berjasa besar menghadirkan trofi Piala Dunia ke Prancis untuk pertama kalinya. Para bintang tersebut menjadi penyambung untaian historis sepakbola Prancis yang sejak 1930-an sudah diramaikan pemain, pelatih, hingga wasit peranakan muslim. Berikut enam pionirnya: Ali Benouna Ali Benouna (jongkok paling kanan) pemain muslim pertama di Timnas Prancis. ( sfrc.fr ). Lahir di Alger, Aljazair pada 23 Juli 1907, Benouna tercatat jadi pemain muslim dan peranakan Afrika Utara pertama yang bermain di Liga Prancis. Dia bahkan jadi yang pertama menghuni tim nasional (timnas) Prancis, pada 1936. Benouna memulai kariernya di Prancis sejak Juli 1930 bersama klub FC Sète. Kala itu klub-klub Prancis memulai tren merekrut pemain dari Aljazair dan Maroko. “Sejak 1929 FC Sète dan Olympique Marseille jadi klub spesialis merekrut para pemain dari Arika. Selama musim 1933-1934, winger brilian Ali Benouna berjasa membawa FC Sète memenangi dua gelar (Coupe de France dan liga) dan menjadi pemain Afrika Utara pertama yang terpilih masuk timnas Prancis,” tulis Claude Boli dalam “African Sports Personalities and the African Diaspora in Europe” yang dimuat dalam buku Sport in the African World . Benouna tercatat hanya dua kali membela panji triwarna Prancis di bawah asuhan pelatih asal Inggris, Gabriel Sibley ‘Kid’ Kimpton. Data FFF (induk sepakbola Prancis) menyingkap, debut Benouna terjadi pada 9 Februari 1936 di stadion Parc des Princes, Paris. Dalam laga persahabatan kontra Cekoslovakia itu, Prancis menelan kekalahan 0-3. Laga kedua cum terakhir Benouna dilakoni dalam laga persahabatan kontra Belgia di Stade Olympique de Colombes, 8 Maret 1936. Prancis menang 3-0. Selebihnya, Benouna bertualang di level klub. Selain bersama FC Sete, ia memperkuat US Boulougne pada 1936-1937, Stade Rennais setahun berikutnya dan mengakhiri karier pada 1939 di RC Roubaix. Larbi Benbarek Haj Abdelkader Larbi Ben M’Barek yang berjuluk "Mutiara Hitam" di skuad Prancis. ( lcfc.com ). Meski dipuja legenda sepakbola Pelé, Haj Abdelkader Larbi Ben M’Barek alias Larbi Benbarek, pesepakbola pertama yang berjuluk “Mutiara Hitam”, dilupakan oleh publik. Padahal, Benbarek bintang sepakbola Prancis pertama yang diakui dunia, pada 1930-an, meski bukan muslim pertama yang bermain di Liga Prancis atau timnas Prancis. “Pelé mengatakan (pada 1975): ‘Jika saya raja sepakbola, maka dia (Benbarek) adalah dewanya sepakbola.’ Tetapi pada 1990-an Benbarek begitu terisolasi dan terlupakan, bahkan di tanah kelahirannya (Maroko, red .), di mana jasadnya hampir sepekan tak ditemukan setelah kematiannya,” tulis Matt Rendell dalam Olympic Gangster. Pemain kelahiran Casablanca, 16 Juni 1914 itu memulai petualangannya di Eropa bersama Marseille pada 1938. Meski kedatangannya terlambat lantaran beberapa bulan sebelumnya Piala Dunia 1938 sudah digelar di Prancis, performanya di musim perdananya (1938-1939) begitu dahsyat. Sepuluh gol torehannya membuat publik Prancis berdecak kagum. Pelatih Gaston Barreau pun manggilnya ke timnas. Kala Perang Dunia II berkobar, Benbarek pulang kampung ke Maroko dan baru kembali ke Prancis pada 1945 bersama Stade Français. Namanya makin bersinar kala direkrut Atlético Madrid pada 1948. Hingga enam tahun berikutnya ia membukukan 113 gol serta berperan menyumbang dua gelar Liga Spanyol di musim 1949-1950 dan 1950-1951. Sempat kembali ke Marseille pada 1953, Benbarek menghabiskan kariernya di kampung halamannya bersama Fath Union Sport de Rabat pada 1957. Sementara, kariernya di timnas Prancis membentang dari 1938-1954 dengan koleksi 17 gol. Pada 1998 atau enam tahun pasca-kematiannya (16 September 1992), ia dianugerahi FIFA Order of Merit. Amadou Jean Tigana Nama Amadou Jean Tigana melejit bersama Girondins Bordeaux. ( girondins.com ). Pada 1950-an, rasisme masih jadi isu paling mengusik kaum imigran di Prancis. Termasuk yang dialami Jean Tigana, bintang Prancis era 1980-an, di masa kecilnya. Lahir di Bamako (Mali), 23 Juni 1955, Tigana sempat menyembunyikan identitasnya sebagai muslim setelah bermigrasi ke Prancis pada usia empat tahun. “Sebelumnya, para pesepakbola menyembunyikan fakta bahwa mereka seorang muslim. Contohnya Jean Tigana, yang mengganti namanya dari Touré Amadou Tidiane. Di masa kini kebalikannya, para pesepakbola menjadi mualaf setelah mendapatkan hidayahnya,” tutur Charaffedine Mouslim, Presiden Étudiants Musulmans de France (EMF/Perhimpunan Pelajar Muslim Prancis), disitat SoFoot , 13 Desember 2009. Tigana mengakui, sejak kecil acap jadi korban perundungan berbau rasisme di sekolahnya. “Saya sering diserang dan dihina. Saya dicaci dengan kata-kata negro kotor atau Arab busuk, tanpa memedulikan bahwa di dalam hati saya merasakan sakit hati. Saya tak bisa melawan dengan tangan kecil saya,” kenang Tigana, dikutip Lindsay Sarah Krasnoff dalam The Making of Les Bleus: Sport in France, 1958-2010 . Sepakbola jadi satu-satunya tempat Tigana menyalurkan emosinya. Ia bersinar sebagai gelandang sentral bersama Olympique Lyonnais sejak 1978 dan dua tahun kemudian dipanggil ke timnas Prancis. Untuk pertama dan terakhir kali, Tigana menyandang ban kapten timnas pada 16 Juni 1987 kala Prancis meladeni Norwegia dalam kualifikasi Euro 1988 di Stadion Ullevaal, Oslo. Tigana tercatat sebagai pemain muslim imigran pertama yang menyandang ban kapten timnas Prancis. Zinedine Zidane Zinedine Yazid Zidane yang keturunan Aljazair menyandang ban kapten Timnas Prancis periode 2005-2006. ( fifa.com ). Jika di era klasik Benbarek jadi pujaan, di era modern Zidane-lah yang paling disanjung. Lahir di Marseille pada 23 Juni 1972, Zidane sudah berseragam timnas Prancis sejak 1988 di kategori U-17 setelah mendaki karier bersama Cannes. “Saya memang punya keterkaitan dengan dunia Arab. Ada di dalam darah saya melalui orangtua saya. Saya sangat bangga sebagai orang Prancis tapi saya juga bangga akan keturunan ini dan keragaman yang ada di dalamnya” kata Zidane saat diwawancara Esquire , 8 Agustus 2016. Sejak melejit bersama Bordeaux pada 1992 dan Juventus empat tahun kemudian, Zidane tak pernah luput dari pemanggilan timnas. Prestasi demi prestasi dia gapai baik untuk perorangan maupun kolektif. Puncaknya, dua golnya di final Piala Dunia 1998 mengantarkan Prancis meraih Piala Dunia pertamanya. Zidane satu-satunya pemain muslim di skuad besutan Aime Jacquet itu. Tapi nahas, ia mengakhiri masa baktinya di timnas Prancis, di final Piala Dunia 2006, dengan “coreng”. Peristiwa pahit itu terjadi akibat provokasi berbau rasisme. Emosi Zidane meledak setelah keluarganya diejek sebagai keluarga teroris oleh bek Italia Marco Materazzi. Zidane langsung menanduk Materazzi dan akibatnya dikartu merah oleh wasit. Meski Pancis akhirnya kalah dalam adu penalti di laga itu, publik Prancis tetap berada di belakang Zidane. “Saya tahu Anda sedih dan kecewa tapi saya juga Ingin mengatakan bahwa seluruh negeri sangat bangga. Anda telah memberi kehormatan pada negara dengan kualitas luar biasa dan semangat petarung yang fantastis, di mana itu selalu menjadi kekuatan Anda di masa-masa sulit dan masa-masa kemenangan,” ujar Presiden Prancis Jacques Chirac dikutip The Guardian , 10 Juli 2016. Vahid Halilhodžić Lahir di Bosnia, Vahid Halilhodžić mendapat kewarganegaraan Prancis pada 2004. ( fifa.com ). Meski paspornya belum lama berganti dari Bosnia ke Prancis setelah dinaturalisasi, Vahid Halilhodžić dihormati publik dan bahkan pemerintah Prancis sebagai salah satu pionir pelatih muslim dalam sepakbola Prancis. Pada 2004, ia menerima anugerah Legion d’honneur atau medali kehormatan dari pemerintah Prancis kelas Chevalier (ksatria) untuk pengabadiannya dalam sepakbola selama 34 tahun. “Kehormatan dari hati saya yang paling dalam. Tak pernah dalam hidup saya mengalami perasaan semacam ini. Saya merasa sangat senang, melebihi capaian meraih sebuah trofi. Tapi apakah saya laik mendapatkannya? Terlepas dari itu saya ingin berterimakasih kepada (publik) Prancis dan Presiden Prancis (Jacques Chirac). Ini sangat berarti buat saya yang datang dari Bosnia dan belum lama dinaturalisasi,” ungkapnya kepada Le Parisien , 15 Juli 2004. Mantan kapten timnas Yugoslavia era 1980-an itu mulai berkarier sebagai pelatih di Prancis pada 1993 dengan menangani klub kasta keempat Liga Prancis, AS Beauvais. Pria kelahiran Bosnia (Jablanica) itu mengukir reputasinya di liga teratas kala mulai menukangi OSC Lille pada 1998. Setelah menangani Stade Rennais pada 2002, dia menukangi Paris Saint-Germain (2003-2005) dan mempersembahkan trofi Coupe de France di musim perdananya. Saïd Ennjimi Saïd Ennjimi wasit muslim asal Prancis pertama berlisensi FIFA. (Twitter @SaidEnnjimi75). Kendati Prancis punya sekitar 45 wasit berlisensi FIFA baik yang masih aktif maupun yang sudah gantung peluit, Saïd Ennjimi masih jadi satu-satunya wasit peranakan muslim. Dia lahir di Casablanca, Maroko, 13 Juni 1973. Sosok yang juga berprofesi sebagai akuntan itu sudah berkecimpung sebagai wasit profesional sejak 1998 setelah bermigrasi dari Maroko pada 1975. Pada usia 17 tahun dia sempat mengadu peruntungan dengan jadi pemain di klub AS Coubertin. Namun ia ditolak dan malah disarankan menukar masa depannya dari pemain jadi wasit. Ennjimi yang tak takut mencoba, perlahan mendapatkan lisensi nasionalnya pada 1991. Delapan tahun kemudian, dia dipercaya memimpin kompetisi profesional di liga kasta keempat, Championnat National 2. Namun sebagai imigran muslim, ia pernah ditempa perlakuan rasis kala memimpin laga. “Prancis selalu menjadi negara rasis. Akan tetapi saya merasa keadaannya selalu berbalik dengan sendirinya. Terdapat enam juta muslim di Prancis dan walaupun terdapat beberapa pengecualian, mereka mencintai negaranya (Prancis). Saya berpikir bahwa sepakbola selalu membuat orang-orang rukun dan mempromosikan integrasi. Saya salah satu contohnya,” tutur Ennjimi, dikutip Jeune Afrique , 12 November 2016. Karier Ennjimi melejit pada 2004 kala mulai memimpin laga-laga di Ligue 1, kasta teratas Liga Prancis. Puncak karier sosok yang dikenal tegas di lapangan itu ialah mendapat lisensi UEFA dan FIFA pada 2008. Dari situ ia mulai jadi pengadil di laga-laga Liga Champions, Euro, dan Piala Dunia hingga kini.

bottom of page