Hasil pencarian
9871 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Masa Bersiap dan Ironi Belanda
Selama Oktober 1945, di seluruh Jawa dan sebagian kecil Sumatra, aksi-aksi berdarah dilakukan nyaris setiap hari oleh sebagian orang Indonesia. Dalam catatan Mary van Delden, sejarawan dari Universitas Radboud, Belanda, jumlah korban yang jatuh mencapai ribuan jiwa. “Andaikan tentara Indonesia tidak ikut campur menjaga sebagian kamp internir saat itu, saya yakin korban jiwa akan jauh lebih banyak,” tulis Marry dalam disertasinya “ De republikeinse kampen in Nederlands-Indië, Oktober 1945-Mei 1947. Orde in de chaos? ” (Kamp Republik di Hindia-Belanda, Oktober 1945-Mei 1947. Ketertiban di tengah kekacauan?). Menurut Robert B. Cribb, seluruh aksi brutal itu sejatinya ditujukan kepada orang-orang Belanda dan para pengikutnya yang memiliki gelagat ingin berkuasa kembali di negeri bekas jajahannya. Tidak ada satu pun sasasaran yang logis untuk dijadikan pelampiasan revolusiener selain orang-orang tersebut. Di Batavia dalam kurun itu, orang-orang Eropa menghilang, bahkan ketika sedang berada di kota dan pada akhirnya tubuh mereka ditemukan mengambang di salah satu kanal beberapa hari kemudian. Rumah-rumah keluarga kulit putih juga dikepung pada malam hari dan para penghuninya dibunuh tanpa ampun, termasuk anak-anak dan perempuan. “Molenvliet, suatu kanal panjang yang mengalir dari kota tua ke arah selatan merupakan tempat favorit kaum inlander untuk melakukan penyergapan, seperti halnya jalan utama dari Senen ke Jatinegara,” papar Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949: Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni. Praktek teror itu pada akhirnya menyebar ke seluruh kawasan luar Batavia. Karawang dan Bekasi adalah dua wilayah ommelanden (luar tembok kota) yang tak terlepas dari kegilaan revolusiener orang-orang pribumi. Telan (94), masih ingat bagaimana para pemuda di wilayah Tambun menggerebek rumah orang-orang Tionghoa dalam suatu dini hari. “Karena orang Belanda sedikit di wilayah itu, para pemuda lalu menjadikan orang-orang Cina sebagai sasaran. Mereka banyak dibunuh dan mayatnya dicempungin ke Sungai Citarum,” ungkap eks anggota sebuah lasykar di Karawang itu. Telan menyebutkan sebagian pemuda yang terlibat dalam aksi di masa bersiap itu adalah anggota-anggota Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan para jagoan (sekarang dikenal dengan istilah: preman) yang kelak banyak bergabung ke Lasjkar Rakjat Djakarta Raja (LRDR). Menurut jurnalis cum peneliti sejarah Wenri Wanhar, tidak hanya di “kandangnya masing-masing”, para jagoan Karawang-Bekasi itu juga ikut meramaikan aksi gedoran di Depok pada 11 Oktober 1945. Di bawah pimpinan Camat Nata, mereka datang dari arah timur Depok dengan menggunakan kereta api, truk dan gerobak sapi. “Gerombolan tersebut dengan bebas merampok dan mengobrak-abrik rumah-rumah dan mengusir penghuninya, terutama penduduk Kristen Eropa,” ungkap Wenri dalam Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955 . Pihak intelijen Belanda (NEFIS) meyakini bahwa dengan melihat ciri-cirinya, sangatlah jelas bahwa aksi-aksi itu merupakan aksi kolektif yang terorganisir secara baik. Artinya ada orang atau kelompok tertentu yang mengorganisasi aksi-aksi tersebut. Berdasarkan keyakinan itu, tidak mustahil jika NEFIS mengantongi nama-nama pelaku kekerasan dalam masa bersiap. Namun ironisnya, sekira dua tahun usai kejadian berdarah itu, alih-alih menangkap mereka dan membawanya ke pengadilan, para komandan di jajaran militer Belanda malah memobilisasi para penjahat itu ke dalam Pasukan Non-organik Milik Sang Ratu (HAMOT). Itu suatu milisi yang berisi “para pembelot” dari kubu Republik yang terdiri dari eks prajurit TNI, oknum kriminal dan eks anggota-anggota LRDR. “Para penguasa kolonial mempersenjatai mereka dan memberi imunitas sementara untuk berperang di bawah bendera Belanda melawan para mantan sejawat mereka sendiri,” ungkap Remy Limpach dalam Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia. Semua kompromi itu terpaksa dilakukan oleh militer Belanda karena adanya keterbatasan personil dan upaya mengefesiensikan pergerakan para serdadu mereka. Para komandan militer Belanda berharap dengan keterlibatan “para kriminal” itu, tingkat kematian dan cidera di kalangan para prajurit kulit putih akibat perang bisa ditekan serendah mungkin. Hingga November 1947, sepakterjang HAMOT memang kerap menuai sukses dalam berbagai operasi tempur. Selain keberanian mereka, faktor penguasaan medan juga mempengaruhi kemenangan-kemenangan itu. Namun menjelang penutupan tahun 1947, secara cepat para anggota HAMOT kembali kepada perangai lamanya: berbuat brutal dan senang menjarah. Mereka kemudian dikenal sebagai milisi yang selalu melakukan tindakan ekstrem secara kemanusiaan. “Bahkan di wilayah yang dikuasai oleh Belanda…” ujar Limpach.
- The Old Guard, Misteri Ksatria Abadi dalam Lorong Sejarah
SEJAK awal, Andy (diperankan Charlize Theron) sudah punya perasaan tak enak. Ia ingin menolak karena pantang bagi kelompok mereka menerima misi dua kali dari orang yang sama. Namun Booker (Matthias Schoenaerts) meyakininya bahwa misi yang mereka terima betul-betul hanya mereka yang bisa menjalaninya. Misi itu datang dari mantan agen CIA James Copley (Chiwetel Ejiofor). Copley meminta bantuan Andy cs. untuk menyelamatkan sejumlah gadis yang disekap kelompok teroris di Sudan Selatan. Lantaran terenyuh mengetahui detail misi itu, Andy akhirnya setuju. Dua sisa rekannya, Nicky (Luca Marinelli) dan Joe (Marwan Kenzari), pun turut diterbangkan dari Maroko ke Sudan, lokasi misi. Namun di lokasi, alih-alih para korban penyekapan yang mereka temui, mereka malah bertemu sekelompok orang bersenjata yang menjebak. Seketika kuartet Andy-Booker-Nicky-Joe tumbang setelah bertubi-tubi diteembus timah panas. Tanpa dinyana, keempatnya bangkit. Mereka hidup lagi. Belasan kelompok tak dikenal itu pun jadi sasaran amuk. Copley pun jadi target balas dendam Andy dkk. Adegan dahsyat itu jadi pembuka film laga bertajuk The Old Guard. Film garapan Gina Prince-Bythewood dengan action yang penuh greget ini diadaptasi dari komik dengan judul serupa karangan Greg Rucka. Sang penulis komiknya juga terlibat dalam film sebagai penulis naskah. Alur maju-mundur yang diterapkan Prince-Bythewood seolah ingin membuat penonton mudah menikmati film dengan pengungkapan sejarah di balik keempat pahlawan super tanpa jubah itu. Andy alias Andromache of Scythia jadi yang tertua sekaligus pemimpin di kuartet pembunuh bayaran itu. Disebutkan, usianya sudah lebih dari enam ribu tahun. Nicky atau Nicolò dari Genoa dan Joe alias Yusuf al-Kaysani berasal dari era Perang Salib I. Mereka berasal dari dua pasukan bermusuhan namun akhirnya berteman dan bahkan saling mencintai sebagai sesama jenis. Lantas ada Booker atau Sebastian Le Livre yang berasal dari abad ke-19. Ia dulunya salah satu prajurit di pasukan Kaisar Prancis Napoléon Bonaparte yang turut dalam kampanye menaklukkan Rusia pada 1812. Dalam perjalanan memburu Copley, keempatnya mendapat tambahan kombatan. Yakni, Nile Freeman (KiKi Layne) yang prajurit marinir perempuan Amerika yang bertempur di Afghanistan. Yang menarik, kekuatan mereka tak serupa superhero kebanyakan. Mereka tak bisa terbang. Tak pula sanggup menahan peluru dengan biji mata bak Superman. Namun, seperti yang dikisahkan di intro The Old Guard , mereka tak bisa mati. Jika memang belum “waktunya”, mereka takkan mati. Walau ditembus peluru atau ditebas benda tajam pun, mereka akan hidup lagi. Mirip superhero Hancock atau Deadpool, kira-kira. Pertanyaannya, siapa mereka? “Mengapa mereka bisa terlahir seperti itu” jadi pertanyaan besar bagi keempatnya yang oleh Andy pun belum bisa dimengerti. Jawabannya akan mereka temukan seiring berjalannya di film. Oleh karenanya, saksikan saja sendiri. Aksi-aksi kerennya bisa disaksikan via daring di Netflix sejak film ini rilis pada 10 Juli 2020. Nile Freeman, anggota termuda dalam kumpulan kombatan "The Old Guard". ( skydance.com ). Mitos Perempuan Pejuang Untuk menunjang adegan-adegan laganya dengan tone gelap, The Old Guard memadukan music scoring klasik dan modern garapan komposer Volker Bertelmann dan Dustin O’Halloran. Kombinasinya kian meningkatkan sensasi yang bisa menghanyutkan perasaan penonton, utamanya dalam scene masa lalu sosok Andromache (Andy). Siapa sebenarnya Andromache? Bertolak dari mana Rucka dan ilustrator Leandro Fernández melahirkan karakternya? “(Komik) The Old Guard (bertolak, red .) dari ide tentang cerita-cerita hantu terkait prajurit yang tak bisa mati. Cerita-cerita itu ada di hampir semua budaya militer. Beberapa unsur mitologi juga muncul dalam ide itu, di mana ada seorang wanita yang secara usia sangat tua namun dia tak bisa mati dan menjadi pejuang yang berbahaya di dunia karena dia punya pengalaman bertempur selama tujuh ribu tahun,” tutur Rucka kepada Esquire , 12 Juli 2020. Rucka juga mengemukakan, alur kisahnya tentang ambisi seorang hartawan dan pemilik kerajaan teknologi. Dari masa ke masa orang-orang semacam itu, yang digambarkan Rucka dalam sosok antagonis Steven Merrick, selalu berhasrat untuk mencari rahasia untuk hidup abadi demi menikmati kekayaannya. “Saya cukup yakin bahaw pertamakali Homo sapiens mengetahui kematian, artinya segala urusan orang itu sudah berakhir. Pemikiran berikutnya adalah, apa yang terjadi jika mereka tidak mati? Kita, manusia, memimpikan keabadian sejak mengetahui apa itu kematian,” lanjutnya. “Kita hidup di era di mana kita hidup tidak sehat tapi ingin hidup lebih lama. Teknologi kemudian terlibat, dan bukan rahasia lagi beberapa konglomerat di planet ini mungkin sedang mencari cara untuk hidup selamanya. Kematian memang menakutkan tapi itulah siklus alam. Jika kita bisa hidup selamanya, muncul pertanyaan siapa yang berhak hidup abadi? Apakah kaum kaya? Karena jika itu terjadi, dia hanya akan bertambah kaya,” sambungnya. Lukisan Andromache tengah meratapi kematian suaminya, Hector, karya Jacques-Louis David tahun 1783. (Louvre Museum). Rucka turut terinspirasi dari mitologi Yunani dalam menciptakan karakter utama Andromache. Dalam mitologi Yunani, setidaknya ada dua perempuan yang menyandang nama itu ribuan tahun silam, sebelum Masehi. Pertama adalah Andromache dari Troya. Ia adalah istri Hector, putra mahkota Kerajaan Troya, yang tewas dalam duel kontra petarung Yunani Achilles di Perang Troya (antara 1260-1180 SM). “Setelah Hector tewas, Troya direbut pasukan Yunani dan Astyanax, putra Andromache dan Hector dibunuh dengan dilemparkan dari tembok kota. Andromache kemudian dijadikan selir Neoptolemus, putra Achilles. Karakter Andromache merepresentasikan penderitaan para perempuan Troya selama dan setelah perang,” ungkap Luke dan Monica Roman dalam Encyclopedia of Greek and Roman Mythology. Selain kebajikannya, Andromache dikenal karena kesetiaannya. Meski kemudian menikahi Helenus, adik Hector pasca-kematian Neoptolemus, Andromache yang sudah menjadi Ratu Epirus membangun banyak monumen Hector. Di monumen Hector, setiap hari Andromache datang membawa persembahan sembari meratap hingga Andromache meninggal karena usia yang sudah renta. Karakter setia dan penuh lara Andromache di masa lalunya digambarkan Rucka dalam komik The Old Guard sebagai Andy yang juga punya kepedihan masa lalu. Andy hidup abadi namun kerap meratapi kekasihnya, Lykon, yang lebih dulu meninggal. Andromache kedua dalam mitologi Yunani yakni, ksatria perempuan Amazon. Rucka menjadikannya sebagai inspirasi untuk mendeskripsikan ketangkasan dan keperkasaan Andy dalam bertarung. Amazon yang dimaksud tentu bukan yang di Brasil, melainkan nama suku yang dalam mitologi Yunani berasal dari Asia Minor (Semenanjung Anatolia, Turki). Kisah Andromache asal Amazon ini tergambar dalam lukisan karya Timiades yang menghiasi sebuah bejana Thyrrenian kuno dari tahun 570 SM. Lukisan tersebut mengisahkan Perang Attic yang mempertemukan Andromache melawan Herakles alias Hercules, putra Dewa Zeus. “Lukisan di bejana itu menggambarkan Herakles tengah menggenggam tangan Andromache saat sang ksatria perempuan itu ingin menghindar. Dikisahkan walau bertarung dengan sengit, Andromache dikalahkan Herakles, walau dalam bejana itu digambarkan juga perempuan Amazon lainnya, Panariste, mengalahkan petarung Yunani lainnya,” tulis Emma Stafford dalam Herakles. Lukisan duel antara Andromache vs Herakles dalam bejana dari era 570 SM-560 SM (kiri) & penggambaran Andromache dalam film. (Perseus Digital Library/ netflix.com ). Sementara, soal “Scythia” di belakang nama Andy dalam The Old Guard merujuk pada suku bangsa nomaden asal Siberia Selatan di era sekitar abad ke-11 SM hingga abad ke-2 M. Seperti halnya bangsa Mongol, orang Scythia juga merupakan bangsa petarung yang biasa bertualang dari Siberia ke Stepa Eurasia hingga Pegunungan Carpathia. Dari mitos-mitos dan dongeng masa kuno itulah Rucka menciptakan latarbelakang Andy ketika merampungkan komik The Old Guard jilid pertamanya pada 2017. “Latar belakang Andy berakar jauh dalam sejarah, berdasarkan kisah-kisah petarung perempuan Amazon. Para petarung ini bermunculan dari wilayah Kaukasus dan mengembara ke mana-mana dari ujung utara Eropa hingga Mediterania, bahkan hingga Afrika Utara,” tandas Rucka. Namun, inti kisah The Old Guard bukanlah soal rahasia bisa hidup abadi, melainkan bagaimana kelima ksatria “abadi” itu bisa jadi kunci atas keseimbangan atas apa yang terjadi di dunia dari zaman ke zaman. Rucka menguraikannya lewat karakter Copley yang memantau aksi-aksi Andi cs. Setiap anak yang diselamatkan Andy cs. dalam peristiwa-peristiwa bersejarah terdahulu, ternyata jadi “juru selamat” bagi dunia. Mereka menjadi mesias melalui beragam cara, entah ketika dewasa menjadi dokter, penemu vaksin, ataupun relawan kemanusiaan yang menyelamatkan banyak nyawa. Data film Judul: The Old Guard | Sutradara: Gina Prince-Bythewood | Produser: Charlize Theron, David Ellison, Dana Goldberg, Don Granger, AJ Dix, Beth Kono, Marc Evans| Pemain: Charlize Theron, KiKi Layne, Marwan Kenzari, Luca Marinelli, Matthias Schoenaerts, Chiwetel Ejiofor, Harry Melling, Veronica Ngo | Produksi: Skydance Media, Denver and Delilah Productions, Marc Evans Productions | Durasi: 125 Menit | Rilis: 10 Juli 2020 (Netflix).
- Djatikusumo Bungkam Panglima RAF
Pada suatu hari di tahun 1958, Kolonel Djatikusumo dipanggil Presiden Sukarno ke Istana Merdeka. Oleh presiden, mantan KSAD itu diberi tugas yang di luar bidang profesinya. “Heh, Djati. Kamu mau saya jadikan Konjen di Singapura!” kata Sukarno. “Pekerjaan Konjen itu apa sih, Bung?” jawab Djati. “Tidak tahu!” “Lalu suruh apa?” “Tahu sendiri!” Itulah dialog Djati dengan presiden di Istana yang dituliskan Solichin Salam dalam biografi berjudul GPH Djatikusumo: Prajurit-Pejuang dari Kraton Surakarta . Djati akhirnya memenuhi permintaan tersebut. Dia menjabat sebagai konsul jenderal di Singapura merangkap konsul di Sarawak, Brunei dan Tawao dari 1958 sampai 1959. Selama masa jabatannya, Djati memainkan peran penting. Antara lain, sebagaimana yang dikatakan KSAD Nasution, membantu Lee Kuan Yew dalam memenangkan pemilihan umum. Bantuan itulah yang membuatnya dekat dengan Lee. Saking dekatnya, Djati sampai pernah mengadukan soal dijadikannya Singapura sebagai tempat penjualan senjata yang digunakan untuk kombatan PRRI dan itu merugikan Indonesia. “Singapura, ternyata dijadikan tempat penjualan senjata kalangan Barat untuk mensuplai senjata kepada gerakan separatis itu. Kepada Letjen Djatikusumo, konsul jenderal Indonesia di Singapura, Lee Kuan Yew mengatakan, bahwa kalau ia nanti berkuasa, para pedagang senjata ( arms dealers ) itu akan dikeluarkan dari Singapura,” tulis Sulastomo dalam Lengser Keprabon . Soal dijadikannya Singapura sebagai tempat penjualan senjata itu bahkan dipermasalahkan Djati sejak awal. Dia mengemukakannya kepada Mr. David, sekretaris Gubernur Singapura William A.C Goode, saat menyerahkan exequatur (surat resmi dari pemerintah Indonesia untuk meminta izin memulai tugas di negeri bersangkutan). Dalam pertemuan tersebut, David menanyakan Djati apa permasalahan Singapura-Indonesia yang bisa diselesaikan saat itu. Pertanyaan itu menjadi kesempatan buat Djati untuk mengutarakan kedongkolannya. “Itu ada penyelundup-penyelundup mbok ditindak. Itu ada teman-teman pemberontak, mbok itu jangan dikasih visa,” kata Djati menjawab pertanyaan David, dikutip Solichin. “Di sini tidak ada penyelundup, yang ada pedagang,” kata David. “Saya mengerti, orang Indonesia yang sudah meninggalkan perairan wilayah indonesia, di Singapura itu sudah orang dagang. Saya tahu, kembalinya mereka membawa senjata. Apa ini tidak bisa ditindak?” Permintaan Djati ditolak David lantaran pada prinsipnya Singapura tidak bisa menindak seseorang bila tidak melakukan sesuatu yang melanggar undang-undang. Singapura tak peduli bila orang itu melanggar aturan hukum di negeri asalnya. Pernyataan itu membuat Djati mencari akal. “Bolehkah saya ambil tindakan di wilayah Indonesia sendiri?” tanyanya. “Yah, itu hak Saudara,” jawab David. Jawaban David menjadi acuan Djati untuk mengambil tindakan terhadap pesawat-pesawat RAF yang digunakan untuk mendrop senjata ke kombatan PRRI. “Maka ia pun kirim surat kepada KSAD AH Nasution dan KSAU Suryadarma dengan permintaan, coba pasang mitraliyur ukuran 12,7 di pulau depan Singapura. Dengan pesan, kalau ada pesawat RAF terbang rendah, tembak! Tapi jangan sampai kena. Kalau kena, repot. Hanya sebagai peringatan saja, bahwa mereka telah melanggar wilayah Indonesia,” tulis Solichin. Tiga hari setelah mengirim surat kepada KSAD dan KSAU, Djati mendengar suara tembakan dari rumahnya ketika sedang makan siang. Saat kembali ke kantornya, dia mendapat telepon dari David dan diminta datang karena ada hal serius yang mesti dibicarakan. Djati pun menyanggupinya. David menginformasikan, dia ditelepon panglima RAF (AU Inggris) di Singapura Marsekal Udara Earl of Bandon dan diberitahu pesawat-pesawatnya ditembaki serdadu-serdadu Indonesia. David meminta Djati menanganinya karena RAF merupakan organisasi militer resmi, bukan gerombolan atau milisi. Mendengar keterangan David, Djati dengan enteng memberi jawaban. “Ya, memang begitu,” kata Djati yang membuat David bingung dan kesal. David pun kembali melontarkan pertanyaan mengapa bisa begitu tindakan yang diambil Indonesia. “Katanya kemarin saya boleh ambil tindakan di rumah saya sendiri. Dan sekarang ada pesawat terbang asing terbang rendah di wilayah kita, kita suruh tembak. Itu kan hak kita,” Djati menjawab. David yang kesal lalu menjelaskan bahwa pesawat RAF diizinkan terbang rendah di wilayah Indonesia sejak masa Hindia Belanda. Penjelasan itu menjadi blunder buatnya karena Djati langsung menjawab bahwa sepengetahuannya tidak ada perjanjian antara pemerintah Indonesia dan Inggris terkait izin terbang rendah pesawat RAF di wilayah Indonesia. Kegagalan David mengatasi masalah tersebut membuat panglima RAF di Singapura turun tangan menyelesaikannya. Dia mengundang Djati makan malam hari itu juga dan dipenuhi Djati. Pertanyaan kenapa pesawat-pesawat RAF ditembaki personil APRI langsung dikeluarkan tuan rumah. Djati menceritakan obrolannya dengan David siangnya, sebagai jawaban terhadap pertanyaan Bandon. Penjelasan Djati membuat panglima RAF itu menjadi paham. “Orang-orang sipil itu tidak mengerti apa-apa. Nanti saya urus. Tapi besok pagi, pesawat saya jangan ditembaki lagi!” ujar Bandon. Djati pun menyanggupi permintaan Bandon. Sejak keesokan harinya, tak ada lagi penembakan terhadap pesawat-pesawat RAF. Sebaliknya, penyelundupan senjata menggunakan pesawat-pesawat RAF juga tak ada lagi sejak itu.
- Kala Khalifah Umar jadi Korban Penusukan
PEMUKA agama Syekh Ali Jaber diserang seorang pemuda kala menghadiri pengajian dan wisuda Tahfidz Alquran di Masjid Falahudin, Bandar Lampung, Minggu (13/9/2020) sore. Syekh Ali Jaber ditusuk sebilah pisau oleh pemuda tak dikenal saat berbincang dengan dua jamaahnya di acara tersebut. Nyawanya masih utuh lantaran pisau pelaku terbenam di bahu sang ulama, bukan di bagian tubuh yang vital. Dengan demikian, penusukan Syekh Ali Jaber tak seperti yang dialami Khalifah bin al-Khattab 13 abad sebelumnya. Umar ditusuk berkali-kali pada 23 Dzulhijjah 23 Hijriah (6 Oktober 644 M) ketika tengah mendirikan shalat. Kisah Islam di bawah Kekhalifahan Umar, disebutkan Peter Crawford dalam The War of the Three Gods: Romans, Persians, and the Rise of Islam , adalah cerita permulaan kejayaan Islam. Di bawah Kekhalifahan Umarlah ajaran Islam menyebar ke luar Jazirah Arab. Utamanya ke barat dengan menaklukkan Romawi Timur dan ke timur lewat penaklukkan Persia. “Di bawah (Kekhalifahan) Umar ajaran itu menyebar ke hampir semua penjuru mata angin. Beliau juga bertanggungjawab atas kuatnya organisasi pemerintahan yang membuat kekhalifahan bisa mengonsolidasikan kekuasaannya di wilayah-wilayah baru yang telah ditaklukkan,” tulis Crawford. Wilayah-wilayah taklukan Umar di sepanjang Suriah, Palestina, Mesopotamia, dan Persia lalu dibagi menjadi provinsi. Tiap provinsi yang dikepalai gubernur pilihan Umar memiliki hierarki kepemimpinan masing-masing untuk menegakkan hukum dan keadilan, serta mengumpulkan pajak-pajak. “Di masa Umar pula pada tahun 639 ditetapkan penanggalan Islam dimulai dari peristiwa Hijrah, peristiwa kala Nabi Muhammad pindah dari Mekkah ke Madinah,” sambungnya. Upaya Pembunuhan Khalifah Umar Kendati Umar berusaha memerintah dengan seadil-adilnya menurut syariat Islam, tak semua orang senang terhadapnya. Terutama, orang-orang dari negeri yang ditaklukkan, semisal Persia. Piruz Nahavandi alias Abu Lu’lu’ah salah satunya. Dalam History of the Caliphs karya Rasul Ja’fariyan disebutkan, Abu Lu’lu’ah adalah pelaku tunggal pembunuhan terhadap Khalifah Umar. Motifnya adalah kejengkelan Abu Lu’lu’ah karena merasa ‘curhatnya’ terhadap Khalifah Umar terkait pajak yang membebaninya sebagai budak dari Al-Mughirah bin Syu’bah, Duta Besar Kekhalifahan untuk Persia, tidak mendapat jawaban yang memuaskannya. “Mulanya Umar tak mengizinkan orang non-Arab untuk masuk Madinah. Namun Mughira bersurat kepada Umar yang mengatakan bahwa ia punya budak yang juga seorang pelukis, pandai besi, dan tukang kayu handal dan akan berfaedah bagi rakyat di Madinah. Umar pun setuju Mughirah membawa Abu Lu’lu’ah ke Madinah,” tulis Ja’fariyan. Baca juga: Suatu Hari Khalifah Umar di Yerussalem Tetapi ketika bertemu Umar, Abu Lu’lu’ah komplain. Ia merasa terbebani dengan pajak dua dirham per hari yang mesti dibayarkannya sebagai budak kepada tuannya, Mughirah. Umar, sambung Ja’fariyan, lalu menjawab. “‘Apa pekerjaanmu?’ Abu Lu’lu’ah menjelaskan dia seniman, pandai besi, dan tukang kayu. ‘Mengingat pekerjaanmu, pajakmu tidaklah berat.’ Umar sejatinya berniat untuk membicarakannya pula kepada Mughirah. Namun Abu Lu’lu’ah sudah terlebih dulu memendam kedengkian.” Beberapa hari kemudian, Umar meminta Abu Lu’lu’ah membuatkannya kincir angin. Permintaan itu dijawab Abu Lu’lu’ah dengan mengatakan, dia akan membuatkan kincir angin yang akan dibicarakan semua orang di dunia. “Umar sebenarnya sudah mencium ancaman dari kata-kata itu, tetapi memilih untuk diam,” tambah Ja’fariyan. Penggambaran konspirasi membunuh Khalifah Umar berdasarkan kesaksian Abdul Rahman Abu Bakar (Foto: Tarikhuna bi-uslub qasasi) Abu Lu’lu’ah yang murka lalu mulai merencanakan untuk membunuh Umar dengan belati bermata dua yang ia buat sendiri dan ia lumuri dengan bisa ular. Pada 23 Dzulhijjah 23 H (31 Oktober 644 M), Abu Lu’lu’ah membulatkan tekadnya untuk menikam Umar saat memimpin shalat Subuh di Masjid Nabawi. “Abu Lu’lu’ah ikut salat persis di belakang Umar. Seperti biasa, setelah iqamah dilantunkan, Umar menasihati para makmum, ‘Luruskanlah barisan kalian!’ Saat Umar melakukan takbiratul ihram, Abu Lu’lu’ah menikam pundak Umar dari arah belakang dan merobek perutnya dengan belati bermata dua. Umar pun terjatuh,” tulis Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi dalam Biografi Umar bin Al-Khathab. Abu Lu’lu’ah total menghujamkan senjata tajamnya enam kali ke tubuh Umar. Salah satunya ke arah pusar yang mengakibatkan luka fatal. Sembari berusaha kabur, Abu Lu’lu’ah menyempatkan membunuh 15 makmum, 12 makmum lain terluka. Abu Lu’lu’ah akhirnya terpojok di satu sudut di luar masjid. Enggan ditangkap dan diadili, dia memilih bunuh diri. Baca juga: Hagia Sophia dan Keteladanan Khalifah Umar Umar yang terluka lalu dirawat. Dalam sakitnya, ia masih mengeluarkan perintah agar digelar musyawarah di antara para sahabat nabi demi menentukan penggantinya. Sementara musyawarah masih digelar, Umar memberi mandat kepada Suhayb ar-Rumi sebagai khalifah sementara. Suhayb akan memimpin hingga putusan hasil musyawarah terkait siapa khalifah dikeluarkan. Umar juga melarang Said bin Zaid, sepupu sekaligus adik iparnya, ikut dalam musyawarah. Larangan itu terkait kebijakan Umar menolak penunjukan sosok pengganti pemimpin Islam yang masih punya hubungan darah, tak peduli meski orang itu punya kualifikasi yang laik. Tiga hari menjalani perawatan, Umar akhirnya wafat pada 26 Dzulhijjah 23 H (3 November 644 M). Sesuai wasiatnya, jenazahnya dikebumikan dekat Masjid Nabawi, berdekatan dengan makam Rasulullah SAW dan Khalifah Abu Bakar. Umar Korban Konspirasi? Penusukan Umar membuat putra bungsunya, Ubaidullah bin Umar, tak terima. Ia bikin perhitungan, ingin menghabisi semua orang Persia di Madinah. Hurmuzan, orang Persia yang jadi mualaf, jadi target pertama Ubaidullah. Target berikutnya adalah Jafinah (di beberapa sumber disebut Jufaina), orang Nasrani kawan Hurmuzan, dan seorang putri Abu Lu’lu’ah. Ubaidullah menyasarkan pembalasannya terhadap Hurmuzan bukan tanpa alasan. Disebutkan Tayeb el-Hibri dalam Parable and Politics in Early Islamic History , kesaksian Abdul Rahman bin Abu Bakar memunculkan kecurigaan besar bahwa Hurmuzan terlibat dalam konspirasi pembunuhan terhadap Umar yang dilakoni Abu Lu’Lu’ah. “Abdul Rahman dalam pernyataannya mengaku melihat pertemuan pada malam sebelum pembunuhan antara Hurmuzan, Abu Lu’lu’ah, dan Jafinah. Dikatakan bahwa dalam pertemuan itu, Hurmuzan tampak memeriksa belati bermata dua yang identik dengan yang dipakai pelaku untuk menusuk Umar. Saat memeriksanya, Hurmuzan menjatuhkan belatinya hingga kemudian ia sadar telah dipantau banyak orang,” tulis El-Hibri. Baca juga: Pesan Terakhir Nabi Rumor konspirasi itu, lanjut El Hibri, meluaskan kecurigaan lebih besar terhadap konspirasi orang-orang Persia di Madinah dan menciptakan pertikaian antara orang-orang Arab dan para mualaf non-Arab. Kecurigaan merujuk kepada para simpatisan Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. Hurmuzan salah satu yang dicurigai. Hurmuzan seperti disebut oleh Mughirah sebelum status budak Abu Lu’lu’ah dialihkan kepadanya pasca-Persia takluk, merupakan gubernur Khuzestan, provinsi milik Kekaisaran Sasaniah yang menguasai Persia. Hurmuzan kemudian ditangkap dan ditawan pasca-Pertempuran Al-Qadisiyyah (636 M). “Hurmuzan sering berdebat dengan Umar tak hanya mengatasnamakan orang-orang Persia di Madinah, namun juga mengatasnamakan Ali. Hurmuzan sering membanding-bandingkan kebijakan Umar dengan Ali di antara kaum Anshar,” lanjutnya. Deskripsi Pertempuran Siffrin, salah satu pertempuran terbesar dalam Perang Saudara I (Foto: Smithsonian Institution) Fakta itu ditambah kesaksian Abdul Rahman membuat Ubaidullah membunuh Hurmuzan. Amuk Ubaidullah baru reda setelah dinasihati Gubernur Mesir Amr bin al-Ash. Umar yang sempat mendengar hal itu menjelang ajalnya, memerintahkan putra bungsunya itu dijebloskan ke penjara. Namun, perintah itu tak dilaksanakan Utsman bin Affan yang terpilih menjadi khalifah empat hari pasca-Umar wafat. Utsman pula yang menyarankan Ubaidullah pindah dari Madinah ke Kufa untuk menghindari utang “nyawa dibayar nyawa” akibat membunuh Hurmuzan, saat terjadi peralihan kekuasaan ke Khalifah Ali (656 M). Ubaidullah lalu terbunuh di hari kedua Pertempuran Siffin (26-28 Juli 657 M) sebagai bagian dari Perang Saudara I. Baca juga: Paman Rasulullah dan Masjidnya di China
- Jurnalisme Kepiting Jakob Oetama
Jakob Oetama masih bekerja di majalah Penabur , mingguan berhaluan Katolik, ketika pertama kali jumpa dengan Petrus Kanisius Ojong. Perkenalan mereka terjadi pada 1958. Jakob mengenal Ojong sebagai pemimpin redaksi majalah bermutu dan populer Star Weekly . Jakob datang berguru kepada Ojong. “Ketika terbetik berita Star Weekly akan ditutup, ia mendekati saya, apakah bersedia meneruskannya. Ia sempat ke Yogya, kami bersama menyaksikan Sendratari Ramayana di Prambanan,” tutur Jakob dalam Kompas , 2 Juni 1980. Jakob saat itu sedang menyelesaikan studi tahun terakhir pada Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada. Ojong lebih tua 11 tahun dari Jakob. Namun, mereka nyambung dalam bertukar pikiran karena sama-sama berlatar belakang sebagai guru. Pada awal 1960, Ojong sering bertemu dengan Jakob dalam gerakan asimilasi. Kemudian, mereka juga duduk dalam kepengurusan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. Pada 1963, Ojong dan Jakob mendirikan majalah ilmu pengetahuan Intisari . Dua tahun kemudian bermodalkan uang Rp100.000 (sebagian dari keuntungan Intisari) pada 26 Juni 1965 lahirlah harian Kompas . Dalam susunan redaksi, Jakob Oetama menjadi pimpinan sedangkan nama Ojong tidak tercantum. Nama Ojong tabu untuk periode politik saat itu lantaran kurang disukai pemerintah. Awak redaksi Kompas mula-mula hanya berjumlah tujuh orang dan masih belum berpengalaman. Di tangan mereka, Kompas mengusung slogan “Amanat Hati Nurani Rakyat”. Baca juga: Cara Orba Kuasai Berita Dalam menjalankan Kompas , Jakob memusatkan perhatiannya dalam redaksional. Sementara itu, Ojong mengurusi bidang tata usaha. Kendati demikian, Ojong aktif menulis opini dalam kolom “Kompasiana” rubrik yang sangat digemari pembaca. “Ojong dan saya sebenarnya sama-sama tidak suka tampil. Setelah 1966, kami melakukan pembagian kerja. Sebagai pemimpin redaksi, mau tidak mau saya yang kebagian untuk tampil,” kata Jakob seperti dikutip Helen Iswara dalam Hidup Berpikir Mulia: P.K. Ojong Satu dari Dua Pendiri Kompas Gramedia. Pada 1968, tiras Kompas melampaui Sinar Harapan sehingga menduduki peringkat kedua. Sementara di peringkat pertama bertengger Berita Yudha , suratkabar yang berafiliasi dengan ABRI. Memasuki dekade 1970, tiras Kompas melampaui koran lain di Indonesia dengan jumlah mendekati 100.000 eksemplar per hari. Dari Jalan Pintu Besar Selatan, markas Kompas pindah ke Jalan Palmerah Selatan lengkap dengan percetakan sendiri. Mesti diakui Ojong begitu gigih membangun citra dan reputasi Kompas . Baginya nama baik dan konsistensi tidak dapat ditawar. Untuk itu, kesejahteraan para wartawan maupun karyawan lainnya amat diperhatikan. Namun, Ojong bisa menjadi sangat tegas bahkan keras dalam menyikapi kelalaian. Jakob yang lebih kalem biasanya menjadi penyejuk. “Kalau bukan karena Jakob, sejak awal saya sudah berhenti,” kata P. Swantoro kepada Helen Iswara. Swantoro merupakan wakil pemimpin redaksi dan menjadi orang ketiga dalam jajaran Kompas . Baca juga: Indonesia Raya , Independensi yang Memihak Badai datang pada 1978. Pada 19-20 Januari, Kompas menulis tajuk tentang gerakan mahasiswa yang menginginkan agar Soeharto jangan lagi mencalonkan diri sebagai presiden. Pada 21 Januari, Kompas terkena bredel alias dilarang terbit oleh pemerintah. Selain Kompas , koran yang kerap bersuara kritis seperti Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis dan Pedoman pimpinan Rosihan Anwar juga ikut dibredel. Pemerintah kemudian menawarkan pengampunan dengan serangkaian syarat yang patut dituruti. Ojong yang saklek ragu-ragu menerima tawaran pemerintah. Adalah Jakob Utama yang pasang badan menandatangani “pengampunan” itu. Akhirnya, pada 6 Februari 1978, Kompas diperkenankan terbit kembali. Beberapa wartawan Indonesia Raya dan Pedoman masuk ke Kompas setelah koran mereka dipaku mati rezim Soeharto. Menurut Jakob, dengan masih hidup, Kompas masih bisa bergulat; masih bisa bergerilya menegakkan demokrasi. Asalkan tidak menggadaikan suara hati saja. Meski terlihat pragmatis, pertimbangan Jakob pun dilandasi rasa kemanusiaan. Petrus Kanisius Ojong dan Jakob Oetama, pendiri harian Kompas. (Jitet/Wikimedia Commons). Seperti diungkap St. Sularto dalam Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama , Kompas saat itu mempekerjakan sebanyak 2.000-an orang karyawan. Mereka terancam kehilangan pekerjaan apabila koran ini dibredel. Belum lagi orang-orang yang memperoleh berkah dari produk Kompas secara tidak langsung. Penutupan akan menjadi bencana bagi mata pencaharian dan mengakibatkan masalah yang beranak pinak. Ojong kemudian menghormati keputusan itu. Setelah luput dari badai bredel, keluarga besar Kompas dirundung duka. P.K. Ojong wafat pada 31 Mei 1980. Di depan jenazah Ojong, Jakob berkata, “Engkau terlalu pagi meninggalkan kami,” katanya. Meski demikian, mendiang Ojong sempat merumuskan cetak biru Kompas yang kemudian disempurnakan menjadi falsafah perusahaan. Baca juga: Aksi Koran Indonesia Raya Bikin Kejutan April Mop Sepeninggal Ojong, tiras Kompas telah mencapai 312.589 eksemplar dan pada Desember 1980 mencapai 325.485 eksemplar. Selain itu, Kompas juga telah memancangkan tonggak di sektor bisnis lain. Orang tentu mengenal toko buku Gramedia, radio Sonora dan hotel Santika. Itu semua merupakan diversifikasi produk bisnis yang bernaung di bawah grup Kompas . Tanggung jawab redaksi dan bisnis selanjutnya beralih kepada Jakob Oetama. Dengan fondasi kokoh yang dibangun bersama Ojong, Jakob kemudian membawa Kompas merajai industri media di Indonesia. Namun, Jakob menakhodai Kompas dengan siasat main aman khususnya dalam berhadapan dengan penguasa. Ibarat kepiting, ada saatnya maju, ada saatnya menyamping ( mlipir ), ada saatnya menarik mundur. Maka tidak heran, Kompas di bawah pimpinan Jakob identik dengan istilah "jurnalisme kepiting". Julukan itu setidaknya bertahan hingga rezim Orde Baru tumbang. "Cara ini sulit dan makan hati, sebab dengan gampang dicap pengecut, sehingga tagline bisnis Kompas mata hati kata hati pun pernah dipelesetkan tinggal Kompas hati-hati ," tulis Sularto. Baca juga: Pers Mahasiswa Menggugat Orde Baru Hati-hati. Ya, dengan kata itulah Jakob bisa membesarkan Kompas jadi media raksasa. Ketika banyak koran terpuruk dan gulung tikar, Kompas kian tak tertandingi. Dengan oplah rata-rata 500 ribu eksemplar perhari, Kompas merupakan koran dengan sirkulasi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, serta menempati peringkat lima dalam jajaran suratkabar papan atas dunia. Di luar media cetak, Jakob Oetama melebarkan sayap bisnis Kompas ke berbagai lini usaha di bawah bendera Kompas Gramedia Grup. Media televisi dirambah dengan kehadiran Kompas TV dan sektor pendidikan dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Sektor lainnya seperti properti, jaringan hotel yang tersebar di berbagai kota, lembaga bahasa asing, sampai tisu juga menggeliat. Bila ditotal, semuanya berjumlah 400 jaringan usaha. Baca juga: Komik Strip Panji Koming Merekam Zaman Kendati demikian, Jakob Oetama bukanlah pribadi yang tanpa cela. P. Swantoro –wafat pada 11 Agustus 2019– yang tergolong orang dekat Jakob mengungkapnya dalam pengantar biografi Jakob yang disusun St. Sularto. Selama bertahun-tahun mendampingi Jakob, Swantoro mendapati bahwa dia kadang kurang tegas, dan kebapakannya sering disalahgunakan oleh anak buah. Orang luar barangkali melihat Jakob hidup enak, serba cukup dan terhormat. “Namun saya yang puluhan tahun menjadi pendampingnya mengetahui betapa berat hidup seorang Jakob,” ujar Swantoro. Terlepas dari betapa berpeluh dirinya, Jakob menganggap keberhasilan Kompas perpaduan dari kerja sama, keberuntungan, dan rahmat Sang Khalik. Untuk yang terakhir itu, Jakob suka menyebutnya dalam bahasa latin Providentia dei (penyelenggaraan ilahi). Hingga sepuhnya, Jakob masih aktif di harian Kompas sebagai pemimpin umum. Dunia jurnalistik memang menjadi panggilan hidupnya. Dari hari ke hari Jakob kian renta. Setelah setengah abad lebih membangun dan memimpin Kompas, Jakob akhirnya beristirahat dari semua jerih lelah kehidupan. Menyusul para sahabatnya Ojong dan Swantoro yang telah mendahului. Jakob Oetama wafat pada 9 September 2020 dalam usia 88 tahun.
- Kisah Penangkapan Ahmad Subardjo
Pada 4 Januari 1946, ibu kota Republik Indonesia resmi berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Presiden dan wakil presiden, beserta jajaran menteri, membawa serta keluarga mereka ke sana. Pemerintahan Indonesia pun seluruhnya dijalankan di kediaman Sri Sultan Hamengkubuwono tersebut. Turut hadir di Yogyakarta, meski sudah tidak menjabat menteri, Ahmad Subardjo. Mantan Menteri Luar Negeri pertama RI itu datang terpisah dari rombongan presiden. Dia tinggal bersama istri dan keempat anaknya di dalam benteng keraton, di tempat kerabatnya. Subardjo ketika itu menjabat penasihat Sutan Sjahrir di departemen luar negeri. Namanya pun ada dalam daftar hitam pemerintah Belanda. Suatu waktu di tahun 1949, Rohman, putra Subardjo menderita sakit pencernaan. Subardjo pun segera membawanya ke dokter Sim Ki Ay, kawannya ketika menjadi mahasiswa di Belanda. Oleh sang dokter Subardjo disarankan merujuk putranya ke rumah sakit di Jalan Gondokusuman. Putranya itu harus segera menjalankan operasi pengangkatan usus buntu. Dia pun segera membawa putranya ke sana. Namun berhubung jarak dari rumah ke Gondokusuman jauh, juga karena namanya masuk dalam daftar polisi Belanda, Subardjo memutuskan membawa semua keluarganya tinggal di rumah sakit. Itu dilakukan agar dia dan keluarganya tidak mondar-mandir di jalanan yang dijaga ketat polisi Belanda. “Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Rohman berhasil dioperasi perutnya dengan selamat. Di rumah sakit itu banyak ruangan yang kosong, tempo-tempo mendengar suara senapan dan mitraliur karena ada pertempuran di Jalan Gondokusuma itu,” tulis Subardjo dalam otobiografinya Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi . Pada satu hari, saat sedang menunggu putranya, Subardjo izin mencari udara segar kepada istrinya. Dia pun memilih pergi ke perpustakaan dekat rumah sakit. Belum sempat menyelesaikan satu judul buku di tangannya, seorang polisi Belanda berpakaian sipil masuk ke ruangan tempat Subardjo duduk. Dia pun dengan sopan mendekat. “Apakah anda saudara Subardjo?” tanya dia dalam bahasa Belanda. “Betul saya adalah Subardjo,” jawab Subardjo yang sudah menduga pria di depannya seorang polisi. Rupanya informasi tentang keberadaan Subardjo di perpustakaan itu terendus oleh badan intelijen Belanda. Polisi pun segera bergerak untuk menangkapnya. Subardjo kemudian dipersilahkan naik mobil. Dia dibawa ke kantor polisi militer Belanda. Si polisi juga mengatakan kalau Subardjo akan ditahan sampai waktu yang tidak ditentukan. “Kalau begitu bawalah saya ke tempat kediaman keluarga saya dulu,” kata Subardjo. Permintaan itu dikabulkan. Subardjo dibawa ke rumah sakit, tempat keluarganya berada. Dia lalu menceritakan tentang penangkapan itu kepada istrinya. Istrinya berusaha tegar dan membantu mempersiapkan segala kebutuhan suaminya. Sambil menenangkan anak-anaknya yang menangis mengetahu ayahnya dibawa pihak Belanda, Subardjo meminta keluarganya tetap berada di tempat aman dan tenang dalam menunggu kepulangannya. Di kantor polisi militer, Subardjo dimasukkan ke sebuah kamar. Di sana rupanya sudah cukup banyak orang Indonesia ditahan, salah satunya kenalan Subardjo, Pangeran Prodjokusumo. Sekira sepuluh hari berada di kantor polisi militer, Subardjo dan tahanan lain dibawa ke Ambarawa. Mereka dimasukkan ke sebuah benteng. Di sana ada lebih banyak lagi orang Indonesia yang ditahan, antara lain Adam Malik. Setelah hampir enam bulan ditahan di Amabarawa, Subardjo mendapat kabar bahwa para tahanan akan dibebaskan. Berdasar resolusi PBB, semua tahanan politik akan dikembalikan ke rumah masing-masing. Subardjo bersama beberapa kawan dinaikkan ke sebuah truk menuju Yogyakarta. Setiba di depan Hotel Merdeka, mereka disambut oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. “Saudara-saudara! Sekarang pertikaian dengan Belanda telah berakhir dan saya menyampaikan selamat atas kebeabasan saudara-saudara,” ucap Sri Sultan.
- Selamat Jalan Alfred Riedl
Menjelang akhir 2010, asa pendukung tim nasional sepakbola Indonesia melambung. Dalam helatan piala AFF 2010, Timnas Garuda tampil memikat di bawah asuhan Alfred Riedl. Serangannya bagai badai tornado dan pertahanannya menjadi serapat beton. Kuku Garuda benar-benar bikin Laos porak poranda, Malaysia hancur lebur, dan Thailand minta ampun di babak penyisihan. Filipina, sang kuda hitam, ngos-ngosan tak kuasa melawan kuku Garuda di semifinal. Ekspresi Alfred Riedl saat memimpin latihan timnas Indonesia di Jakarta. (Fernando Randy/Historia.id). Nama Alfred Riedl pun dielu-elukan. Fans timnas menaruh harapan besar padanya untuk membantu Indonesia merengkuh gelar Piala AFF untuk kali pertama. Tapi menjelang pertandingan final melawan Malaysia, fans dikejutkan oleh keputusan Riedl mencoret salah satu bintang Timnas, Boaz Solossa. Alfred Riedl pelatih yang memimpin timnas Indonesia selama tiga periode. (Fernando Randy/ Historia.id ). Riedl mengatakan Boaz telah berbuat indisipliner. Dia tak peduli Boaz seorang bintang. Hukum adalah hukum. Harus ditegakkan biarpun bumi runtuh. Siapa yang melanggar, harus dihukum. Banyak orang menuding keputusan itu sebagai sebab kekalahan timnas di final Piala AFF 2010. Riedl mengatakan kekalahan Timnas tidaklah ditentukan oleh satu atau dua orang. Tapi dia mengakui, kekalahan timnas adalah tanggung jawabnya. Kiri: Boaz Solossa sosok yang pernah dicoret Riedl. Kanan: Riedl memimpin latihan timnas Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Disiplin dan tegas adalah ciri khas dari Alfred Riedl. (Fernando Randy/ Historia.id ). Itulah Riedl. Sosok pelatih berambut putih asal Austria. Dia dikenal bertanggung jawab dan sangat tegas pada siapapun. Bahkan terkesan dingin. Tapi cukup menyenangkan dalam memberikan informasi kepada para jurnalis. Pernah suatu hari, saya sebagai fotografer dan seorang kawan reporter mewawancarainya pada 2012. Kami menghubungi Riedl via email untuk membuat janji. Riedl sepakat menerima kami di Hotel Kempinski, Jakarta. Kami parkir motor di lantai bawah tanah. Jauh dari tempat pertemuan. Akibatnya, kami terlambat lima menit. Riedl pun menyemprot kami. "Kalian terlambat lima menit. Sebagai wartawan, kalian harus lebih menghargai waktu," katanya saat kali pertama bertemu kami. Untungnya, dia mau mengerti alasan kami. Wawancara pun berjalan lancar. Alfred Riedl saat menjalani sesi wawancara khusus. (Fernando Randy/ Historia.id ). Jurnalis lain dari bolalob.id yang juga rekan saya, Kukuh Wahyudi, punya kesan yang sama terhadap Riedl. Dia sering berinteraksi dengan Riedl. “Riedl sosok yang menyenangkan bagi jurnalis. Komentarnya selalu tegas, tak sekadar normatif. Sangat membantu dalam menyampaikan informasi secara jelas kepada pembaca,” kata Kukuh. Riedl saat memimpin latihan Irfan Bachdim dan Ruben Sanadi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Alfred Riedl saat memimpin latihan timnas Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Riedl sang juru taktik dari Austria. (Fernando Randy/ Historia.id ). Riedl tercatat menangani timnas dalam tiga helatan Piala AFF: 2010, 2014, dan 2016. Hasilnya, dua kali masuk final dan sekali tersungkur di babak penyisihan. Sebagai pelatih yang telah beberapa kali menangani timnas, dia hafal luar dalam kelemahan dan kelebihan pemain timnas. Kelemahan mendasarnya ketahanan fisik. Sedangkan untuk kelebihannya, dia melihat pada kemampuan individual para pemain. Riedl dan asistennya Wolfgang Pikal. (Fernando Randy/ Historia.id ). Hansamu Yama saat mencetak gol di semifinal Piala AFF 2016 kontra Vietnam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Riedl menyalami M. Ridwan dan Hariono usai bertanding melawan Suriah di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Setelah menangani timnas, Riedl pulang kampung ke Austria. Kabarnya tak banyak terdengar lagi. Sampai akhirnya kabar duka itu datang. Alfred Riedl meninggal dunia dalam usia 70 tahun di Austria pada 8 September 2020. Persatuan sepakbola Palestina, Vietnam, dan Laos menyatakan berduka cita. Di sanalah Riedl pernah pula memberikan jasanya selain pada Indonesia. Pemain timnas seperti Evan Dimas, Irfan Bachdim, Ahmad Bustomi, dan Boaz Solossa tak ketinggalan ikut menyatakan duka. Riedl saat berjalan menuju lapangan untuk memulai latihan. (Fernando Randy/ Historia.id ). Alfred Riedl memang belum pernah memberikan gelar juara pada Indonesia. Tapi namanya akan terus dikenang dalam sejarah sepakbola Indonesia. Selamat jalan, Alfred Riedl. Ekspresi Alfred Riedl saat di lapangan latihan timnas Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Pendiri Bangsa Cerita tentang Sepeda
Semangat bersepeda menjalar ke kota-kota besar di Indonesia selama pandemi Covid-19. Permintaan sepeda melonjak. Pabrik sepeda kewalahan menyediakan sepeda. Rakyat jelata, selebritas, politikus, dan tokoh masyarakat gemar berfoto dengan sepeda dan mengunggah ke media sosial. Bersepeda memang menyenangkan. Para pendiri bangsa pun punya cerita tentang sepeda. Mulai dari Sukarno. Dia pernah gandrung dengan sepeda. Saat itu dia masih menjadi siswa HBS (setingkat sekolah menengah atas) di Surabaya pada akhir tahun 1910-an. Jarak rumah kosnya dengan sekolah sekira satu kilometer. Dia pergi ke sekolah dengan berjalan kaki atau membonceng sepeda temannya. “Setiap anak mepunyai sepeda. Aku sendiri yang tidak,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Sukarno kepingin juga punya sepeda seperti teman-temannya. Tapi uang di kantongnya tak cukup. Maka dia mulai menabung hari demi hari. Akhirnya dia berhasil membeli sepeda seharga delapan rupiah. “Kubeli fongers yang hitam mengkilat, sepeda keluaran Negeri Belanda,” lanjut Sukarno. Dia bangga sekali dengan sepedanya. Baca juga: Budaya Sepeda Orang Indonesia Fongers salah satu sepeda sohor masa Hindia Belanda. Sepeda buatan Belanda lainnya berjenama Batavus, Sparta, dan Gazelle. Sepeda dari Inggris juga ada. Antara lain Raleigh, Humber, dan Phillips. Secara kualitas, semuanya hampir mirip. Harganya tak beda jauh. Sangat mahal bagi kebanyakan orang. “Hampir sama dengan 1 ons emas. Oleh karena itu, masyarakat biasa hanya mampu membeli sepeda bekas atau menunggu harga sepeda turun,” sebut Hermanu dalam Seri Lawasan Piet Onthel . Dari semua merk tadi, Fongers memegang penjualan terbaik di Hindia Belanda. “Sangat digandrungi orang setelah sepeda merk Raleigh keluaran Inggris,” ungkap Hasyim Ning dalam Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Baca juga: Aturan Bersepeda pada Masa Lampau Sukarno merawat sepeda Fongers hasil menabung itu sepenuh hati. Dia merawatnya bagai seorang ibu menyayangi anaknya. “Ia ku gosok-gosok. Ku pegang-pegang. Ku belai-belai,” kata Sukarno. Karena itu, Fongers miliknya selalu tampak kinclong dan memikat orang sekitar. Salah satunya Harsono, anak H.O.S. Tjokroaminoto, pemilik rumah kos. Harsono berusia 7 tahun, 10 tahun lebih muda dari Sukarno. Dia menggunakan Fongers diam-diam. Tapi nahas, dia kurang mahir bersepeda sehingga menabrak pohon. Fongers itu pun rusak. Sukarno marah besar mengetahui sepeda kesayangannya rusak parah. Sukarno menyepak pantat Harsono sampai membuatnya menangis. Tapi setelah itu, Sukarno justru merasa bersalah. Dia menabung lagi dan membelikan sepeda jenama lain seharga 8 rupiah untuk Harsono. Sepeda pertama milik Mohammad Hatta dipajang di Museum Kelahiran Bung Hatta. ( indonesiakaya.com ). Mohammad Hatta Tokoh penggemar sepeda lainnya ialah Mohammad Hatta. Dia gemar bersepeda sejak kecil. Sebuah foto dalam otobiografinya, Memoir , menampilkan Hatta ketika berusia 7 tahun memegang sepeda dengan diapit dua orang penunggang kerbau di kanan dan kirinya. Semasa bersekolah di Jakarta, Hatta kerap pergi kesana-kemari dengan sepeda. Padahal dia pemuda rantau. Kebanyakan pemuda rantau susah memperoleh sepeda. Uang mereka habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Ditambah pula harga sepeda mahal untuk ukuran mereka. Tapi Hatta cukup beruntung. “Di Jakarta Hatta banyak mempunyai kaum keluarga yang menyayangi dan membantunya. Oleh karena itu tidak heran kalau ia mempunyai sepeda yang merupakan kendaraan yang penting dan terhormat waktu itu,” tulis Bahder Djohan dalam Bahder Djohan Pengabdi Kemanusiaan. Baca juga: Sejarah Lajur Khusus Sepeda di Indonesia Bahder Djohan adalah anak rantau dari Sumatra sekaligus pelajar Stovia (Sekolah Dokter Bumiputra). Dia sahabatan dengan Hatta di Jakarta. Mereka sering pergi menghabiskan waktu bersama-sama. Setelah mengantarnya pulang, Hatta pulang ke rumah dengan menggunakan sepeda. Kebiasaan Hatta bersepeda masih bertahan ketika dia sudah menjadi wakil presiden. “Di Yogya dan di Jakarta tiap pagi setelah sembahyang subuh, Bung Hatta berkeliling kota naik sepeda, sambil melihat keadaan kota dan untuk sport ,” beber Yus Sudarso dalam Pribadi Manusia Hatta: Hatta dan Sumpahnya . Haji Agus Salim Selain Sukarno dan Hatta, Haji Agus Salim juga punya cerita menarik yang berhubungan dengan fungsi dan hakikat sepeda. Dia adalah mentor bagi banyak pemuda pada masa pergerakan nasional seperti Mohamad Roem dan Kasman Singodimedjo. Suatu hari pada masa pergerakan nasional, Haji Agus Salim mendapat kunjungan dari para pemuda. Beberapa di antaranya menggunakan sepeda. Rumah Haji Agus Salim terletak di Tanah Tinggi, Batavia. Bila hujan tiba, tanah itu lembek dan debel (tanah lengket habis hujan). Itu membuat ban sepeda tak bisa berputar. Sehingga, Kasman Singodimedjo harus membopong sepedanyahingga ke hadapan Haji Agus Salim. Baca juga: Soeharto dan Sepeda Turangga “Saya ditunggangi sepeda,” kata Kasman seperti diceritakan kepada Mohamad Roem dalam “Memimpin Adalah Menderita: Kesaksian Haji Agus Salim”, termuat di Manusia dalam Kemelut Sejarah. Beberapa hari kemudian, Kasman dan kawan-kawannya datang bertamu lagi ke rumah Haji Agus Salim. Kali ini tanahnya kering. Dia bersepeda seperti biasa dan mudah melewati tanah tersebut hingga ke rumah Haji Agus Salim. Menyambut kedatangan mereka, Haji Agus Salim berkata, “Hari ini Anda datang secara biasa. Kemarin peranan sepeda dan manusia terbalik.” Cerita Haji Agus Salim masih relevan pada masa sekarang. Ketika orang-orang justru banyak “ditunggangi” sepeda dan mengubah fungsi serta hakikat sepeda. Orang-orang membelanjakan apa saja demi sepedanya. Sehingga benda justru memperbudak manusia. Bukan sebaliknya.
- Saat Jenderal Djati "Dikencingi"
Pertempuran Ambarawa dan Pertempuran Lima Hari Semarang memakan banyak korban dari kalangan pemuda-pelajar. Tenaga potensial bangsa itu meregang nyawa sia-sia karena tak memiliki pengetahuan memadai tentang militer. Hal itu membuat Jenderal Mayor –sebelum diturunkan menjadi kolonel dalam Re-Ra– Djatikusumo prihatin. “Beliau berpendapat bahwa sangat disayangkan para pelajar yang memiliki kemampuan yang potensial dan merupakan harapan bangsa yang baru memproklamasikan kemerdekaannya itu banyak menjadi korban dalam pertempuran karena hanya berbekal semangat berjuang yang besar,” tulis Himpunan Pas T Ronggolawe dalam Pasukan “T” Ronggolawe: Perjalanan Sejarah Sekelompok Pemuda Pelajar Semarang . Kenyataan pahit tersebut meyakinkan Djati akan perlunya memberi pendidikan militer kepada mereka. Dengan persetujuan Kepala Staf Markas Besar Oemoem (MBO) Letjen Urip Sumohardjo, Djati lalu mendirikan Sekolah Opsir Tjadangan (SOT) pada 1946 di Salatiga. SOT anggotanya merupakan pelajar dan guru di wilayah kekuasaan Divisi IV yang dipimpin Djati. Diharapkannya, setelah mengikuti pendidikan selama 18 bulan para taruna diharapkan dapat menjadi opsir sampai tingkat pemimpin kompi. Mereka akan disatukan dalam korps opsir cadangan. Oleh karena itu, para taruna diasramakan selama mengikuti pendidikan SOT. Mereka hanya diperbolehkan keluar asrama pada Sabto sore-Minggu. Pendidikan di SOT memadukan pendidikan dasar militer dan pendidikan umum SMP dan SMT. Pendidikan umum diberikan setelah para taruna selesai mengikuti pendidikan SOT tiap harinya. Kurikulumnya dibuat oleh Darsono (kepala Staf Intelijen yang mantan kepala Sekolah Guru), Soemarso (staf pribadi Djati), dan Sukamto (eks Peta) atas perintah Djati. Djati terjun langsung memegang pejaran-pelajaran khusus militer. Materi yang diberikan selain pelatihan beragam keterampilan adalah pengenalan senjata, ilmu persenjataan, taktik, dan strategi. Mengenai dua yang terakhir, Djati antara lain mendasarkan pengajaran pada buku karya Jenderal Prusia Carl von Clausewitz Vom Kriege (On War). Djati amat keras dalam mengajarkan disiplin. Suatu ketika, saat para taruna mengikuti latihan Operasi Kompi Kawal Depan, Djati sampai memarahi Peppy Adiwoso lantaran kedapatan mencuri buah coklat karena kehausan. Namun, pengalaman-pengalaman di SOT tak hanya melulu kedisiplinan, ketegangan ataupun hukuman. Pengalaman-pengalaman lucu pun menjadi bagian keseharian selama pendidikan. Seperti saat para taruna menjalani latihan pertempuran malam, misalnya. Lantaran menggunakan peluru hampa, mereka merasa tidak puas karena dianggap kurang seru. Maka, sebelum latihan dimulai mereka buru-buru membuat peluru mereka yang dapat bersuara layaknya peluru sungguhan dengan mengganti pelor ( bullet ) dengan sumbatan dari kertas koran. Alhasil, suara tembakan selama latihan pun terdengar seperti tembakan dalam pertempuran sungguhan. Namun ketika latihan usai, kelompok pasukan pertahanan tak juga melepaskan tawanan dari kelompok pasukan penyerang. Samudono, salah satu tawanan, bahkan di- bully kawan-kawannya dari pasukan pertahanan. Entah siapa yang melontarkan perkataan “tembak saja!”, Samudono pun kemudian ditembak bagian pantatnya sampai berteriak kesakitan. Celana dan celana dalamnya pun bolong terkena tembakan itu. Setelah semuanya dilepas, ternyata pantat Samudono berdarah. Pengalaman sial juga dialami Entjung Sadjadi saat mengikuti latihan penyerangan objek vital yang dilakukan pada malam. Dia ditugaskan sebagai komandan pasukan penyerang. Maka ketika telah memerintahkan anak buahnya menyerang, dia “beraksi” bak komandan sungguhan yang hilir-mudik mengawasi jalannya operasi sambil menenteng tongkatnya. Saat itulah dia melihat di kejauhan seorang peserta berjongkok di tepi jalan membuang air kecil. Entjung langsung mendatanginya sambil menepuk bahu orang itu menggunakan tongkat. “ Nguyuhbae (Kencing aja),” kata Entjung. Lelaki yang ditepuk Entjung pun kaget dan terbengong melihat orang yang menepuknya. Dalam kegelapan malam itu Entjung tak memperhatikan serius lelaki itu, dia terus berjalan dengan gagah. Dia tak sadar bila orang yang ditepuknya merupakan Jenderal Djati.
- Siapa Bachtaruddin Said Tokoh PKI Sumatera Barat?
DI tengah makin gawatnya persoalan pandemi virus corona , isu politik tentang Sumatera Barat (Sumbar) menyembul di publik. Setelah perkara pernyataan Ketua DPR RI Puan Maharani soal provinsi itu bikin heboh, muncul isu anggota DPR RI dan politikus PDIP Arteria Dahlan yang disebut punya kakek pendiri Partai Komunis Indonesia (PKI) di Sumbar. Isu bermula dari penjelasan budayawan Minang Hasril Chaniago dalam forum Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa (8/9/2020) terkait demokrasi di tanah Minang. Hasril memaparkan bahwa meski orang Minang berbeda ideologi politik, hubungan personal dan silaturahimnya tak putus. Seperti di keluarga Arteria, contohnya. Keluarganya Masyumi namun ada Bachtaruddin Said, kakek Arteria, yang PKI. Arteria membantah pernyataan Hasril. Walau sama-sama asal Maninjau, Sumbar, Arteria mengaku tak punya hubungan darah dengan Bachtaruddin. “Tidak benar saya cucu tokoh PKI. Kakek-nenek, orangtua saya berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumbar. Memang ada tokoh PKI dari Maninjau bernama Bachtaruddin. (Tetapi) tidak ada hubungan kekeluargaan antara Bachtaruddin dengan kakek-nenek saya,” aku Arteria dalam keterangan tertulis kepada Historia . Dalam silsilah keluarganya, Arteria menguraikan bahwa kakek dari pihak ibu, H. Wahab Syarif, seorang pedagang tekstil di Tanah Abang sejak 1950. Neneknya, Hj. Lamsiar, ibu rumahtangga semata. Ibunya, Hj. Wasniar, seorang guru di Perguruan Cikini. Adapun dari pihak ayah, kakeknya bernama H. Dahlan bin Ali, juga pedagang. Sedangkan neneknya, Hj. Dahniar Yahya, tokoh Masyumi. Pernyataan Hasril, menurut sejarawan asal Minang Profesor Asvi Warman Adam, bisa berbuntut urusan hukum. “Ternyata kan Arteria sudah membantah itu. Bahkan diklarifikasi ibunya bahwa nenek dan kakeknya (Arteria) dari pihak ibu dan ayahnya bukan Bachtarudin. Artinya kalau tidak benar, Arteria kan bisa menuntut itu Hasril bahwa dia menuduh, dan ternyata kakek Arteria bukan Bachtarudin itu,” ujar Asvi kepada Historia. Satu Suku Satu Keluarga Bachtarudin merupakan saudara tiri –satu ayah lain ibu– akvitis perempuan yang pada 1974 digelari pahlawan nasional, HR. Rasuna Said. Bedanya, Rasuna Said sejak kecil diberi pendidikan secara Islam, sementara Bachtarudin menerima pendidikan Barat. “Bachtarudin sekolahnya di HIS dan MULO di Jakarta. Lalu bekerja di pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Di zaman Jepang, bekerja sebagai polisi Jepang,” sambung Asvi. Pasca-kemerdekaan, Bachtaruddin keluar dari kepolisian untuk terjun ke politik sebagai eksponen kiri. Menurut sejarawan Fikrul Hanif Sufyan, keputusan itu dipengaruhi ketokohan Datuk Haji Batuah, pentolan Sarekat Rakyat di Padang Panjang yang ditahan pemerintah kolonial di Boven Digul. “Sebelumnya, hampir semua pentolan PKI di Indonesia, termasuk Sarekat Rakyat Padang Panjang, umumnya masih diasingkan di Australia. Artinya ada semacam benang merah yang terputus soal perkembangan komunis setelah mereka di-Digul-kan. Lalu ada perkembangan pemerintah kolonial mengurangi interniran yang dianggap sudah tak berbahaya ke kampung halamannya, termasuk Haji Datuk Batuah,” tutur Fikrul, penulis buku Menuju Lentera Merah: Gerakan Propagandis Komunis di Serambi Mekah 1923-1949, saat dihubungi Historia. Sementara itu, PKI di Sumbar sudah kembali berdiri pada Oktober 1945 setelah keluar Maklumat Nomor X tahun 1945 tentang berdirinya partai-partai. Bachtaruddin memanfaatkan momen tersebut dengan mendirikan partai. “Di zaman kemerdekaan, (Bachtaruddin, red .) membentuk PKI dengan tiga orang kawannya di Sumatera Tengah,” kata Asvi. PKI jadi partai politik pertama yang eksis di Tanah Minang dan ketuanya adalah Bachtaruddin. “Setelah Haji Datuk Batuah dipulangkan dari Australia, tampuk kepemimpinan (PKI) dikembalikan Bachtaruddin kepada Haji Datuk Batuah. Jadi ada peralihan kepemimpinan di sini, walau Bachtaruddin tetap menjadi kader PKI,” sambung Fikrul. Haji Datuk Batuah (kedua dari kanan) (Foto: Repro "Menuju Lentera Merah") Pada 1946, mengutip buku Propinsi Sumatera Tengah terbitan Departemen Penerangan tahun 1953, Bachtaruddin sebagai perwakilan PKI turut dalam Dewan Perwakilan Sumatera (DPS) yang dibentuk pemerintah pusat pada 17 April 1946. Bachtaruddin termasuk anggota DPS untuk Sumatera Barat bersama sejumlah tokoh politik Minang lain seperti Chatib Sulaeman, Aziz Chan, dan saudara tirinya, Hj. Rangkayo Rasuna Said. “Menariknya, sosok Bachtaruddin ketika ada pergolakan (pemberontakan, red .) di Madiun pada 1948, waktu itu Muso meminta PKI cabang Sumbar untuk menyatukan visi mereka di Madiun yang membentuk FDR (Front Demokrasi Rakyat) dan ingin mendirikan negara Soviet. Muso meminta Bachtaruddin melakukan hal yang sama di Sumatera Barat. Namun Bachtaruddin menolak permintaan Muso,” tambah Fikrul. “Alasannya, karena menurut Bachtaruddin apa yang dilakukan Muso sudah di luar jalur. Di sisi lain, setelah penolakan itu, sebelum PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) berdiri, Bachtaruddin juga turut memimpin revolusi kemerdekaan di Pasukan Temi, pasukan laskar para eks-Sarekat Rakyat Padang Panjang. Bersama Natar Zainuddin, Bachtaruddin di pasukan Temi ikut gabung dengan beberapa laskar lain di Front Pertahanan Nasional (FPN).” FPN dibentuk dari sejumlah laskar onderbouw partai-partai yang ada atas permintaan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Pembentukan itu bertujuan membangun sinergi kekuatan bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk menghadapi Agresi Militer Belanda. FPN yang dalam rapat musyawarahnya dipimpin Haji Datuk Batuah, mengambil keputusan mendaulat Datuk Indomo Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka dari Masyumi sebagai ketuanya. Selepas masa revolusi fisik, Bachtaruddin masuk DPR sebagai Wakil Ketua I Fraksi PKI lewat Pemilu 1955. Namun, dia hanya menjabat setahun lantaran pada 1956 wafat pada 24 Juni. Namanya kemudian diabadikan oleh partai menjadi Akademi Ilmu Politik Bachtaruddin. Kakek Arteria Dahlan? Benarkah Arteria Dahlan tak punya hubungan keluarga dengan Bachtiaruddin? Baik Asvi maupun Fikrul tak bisa memastikan kebenaran pernyataan Hasril maupun sanggahan Arteria. “Kemungkinan Arteria punya versi sendiri, juga Bang Hasril. Kalau dalam perspektifnya Arteria, barangkali dia mengambil langsung silsilah keluarganya ke atas tanpa melihat silsilah yang lainnya. Tapi dalam budaya Minang (silsilah keluarga) itu bersifat komunal,” jelas Fikrul. “Di Minang itu kalau di dalam sebuah suku (marga, red. ) ada dua orang bergelar Datuk, dia dianggap masih dalam satu keturunan. Misalnya suku Chaniago, di mana di dalam nagari ada dua orang datuk. Nah di dalam silsilahnya orang Minang, dia tidak hanya mengakui hanya pada satu jalur datuknya saja tapi kepada jalur datuk yang lain,” lanjutnya. Klarifikasinya Hasril Chaniago di Youtube Hersubeno Point , Kamis (10/9/2020), senada dengannya. Menurut Hasril, ketika ia mewawancarai Fauzi Makruf, paman Arteria, disebutkan ia masih punya hubungan kekerabatan dengan Bachtaruddin. “Dia (Fauzi) menanggapi wawancara kita sebelumnya. Dikatakan dia, jadi kami (Fauzi) itu sebenarnya masih punya hubungan dengan Bachtaruddin. Begitulah uniknya. Pak Fauzi itu tokoh masyarakat Minang asal Maninjau di Jakarta dengan gelar Datuk Gunuang Ameh. Katanya, beliau dari keluarga Masyumi tapi Bachtaruddin dari PKI dan secara pribadi hubungan mereka biasa-biasa saja,” ujar Hasril. Anggota DPR RI Arteria Dahlan membantah Bachtaruddin, tokoh PKI Sumbar adalah kakeknya (Foto: dpr.go.id ) Ketika bersua Fauzi, Hasril mengingat bahwa mereka membicarakan Arteria yang dianggapnya kurang sopan terhadap orang yang lebih tua. Utamanya kala anggota DPR RI dapil Jawa Timur itu membentak sambil menunjuk-nunjuk Profesor Emil Salim di talkshow Mata Najwa, 10 Oktober 2019. “Saya bilang Pak Fauzi karena beliau tokoh Minang asal Maninjau juga. Tolong diajari dia. Katanya, ‘Oh, dia keponakan saya.’ Kalau begitu tepat betul untuk mengingatkan dia. Di Minang tidak ada stratifikasi sosial, tidak ada pangkat, jabatan. Orang hanya menghormati karena umur. Yang muda harus santun pada yang tua. Dia jadi kontroversial karena menunjuk-nunjuk Pak Emil Salim. Itu tidak sopan bagi adat Minang,” sambungnya. Hasril memberi contoh bahwa di masa republik masih bayi, Hatta sebagai orang Minang yang lebih muda selalu menghormati Tan Malaka yang lebih tua dan lebih dulu memperjuangkan kemerdekaan, meski Tan seorang oposan. “Ketika di ILC (Selasa, 8 September 2020), Arteria datang. Ketika rehat, dia saya panggil untuk mengingatkan hal itu. Saya puji dia karena hebat sebagai orang Minang tapi tak berebut 14 kursi (DPR) dari dapil Sumbar. Lalu saya sebut, saya berteman dengan Fauzi Makruf. Katanya, ‘Oh, dia ungku saya.’ Ungku itu mamak atau paman yang sudah bergelar Datuk.” Jika dilihat generasi itu, sambung Hasril, Bachtarudin adalah generasi kakek Arteria dari segi umur. Seandainya Hasril asal bicara dalam forum ILC itu, mestinya Arteria sudah langsung membantah. Pasalnya, Hasril menguraikan maksudnya itu bukan dalam hubungan biologis, melainkan komunal seperti yang juga diterangkan Fikrul di atas. “Kalau dia merasa saya tuduh, pastinya dia bantah saat itu juga. Apalagi dia pengacara hebat. Cuma setelah itu muncul isunya di medsos karena mungkin ada yang nggak suka sama Arteria. Dari medsos masuk media mainstream . Padahal sistem kekerabatan Minang itu terlalu luas. Saya juga saat itu sedang menjelaskan, inilah contoh berdemokrasi di Minangkabau,” tandas Hasril.
- Akhir Tragis Menteri Surachman
Suasana hutan Tumpak Kepuh (terletak di kawasan Desa Sumberdadi, Blitar Selatan) masih remang-remang. Pagi baru saja tiba, ketika seorang lelaki hampir paruh baya melintasi jalan setapak hutan tersebut. Langkahnya yang terburu-buru dan cepat mengundang perhatian Peltu Jatimin dan beberapa anak buahnya dari Kompi C Batalyon 521 Kodam Brawijaya. Tanpa pikir panjang Jatimin berteriak memerintahkan lelaki itu untuk menghentikan langkahnya. Alih-alih dituruti, yang diperintah malah menjalankan langkah seribu. Tembakan peringatan pun dilontarkan tiga kali. Tetap tak digubris. Sebagai jalan terakhir, Kopral Dua Soepono terpaksa mengarahkan senapannya. Dor! Dor! Dor! Terjungkallah lelaki itu seketika. Saat didekati, nampak pangkal pahanya nyaris putus. Namun lelaki itu masih hidup. Dalam kondisi sakratul maut, dia masih menyebut namanya sebagai “Gunawan”. Beberapa detik kemudian nyawanya pun lepas. Ketika memeriksa tas hitam yang yang dibawanya, nampaklah sehelai sarung usang berwarna hijau. Kain itu membalut sebuah radio transistor kecil dan sebuah buku berjudul Kaum Buruh Sedunia Bersatulah! karya pemimpin komunis Tiongkok, Mao Zedong. Dua hari kemudian yakni pada 17 Juli 1968, Wakil Komandan Satuan Tugas Operasi Trisula (operasi khusus memburu sisa-sisa anggota PKI di wilayah Blitar Selatan) Letnan Kolonel Sasmito membuat pengumuman yang mengejutkan: lelaki itu ternyata adalah Ir. Surachman, Menteri Irigasi Kabinet Dwikora II sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Nasional Indonesia (PNI) yang sejak Februari 1966 menjadi buronan karena dituduh sebagai anggota PKI. Demikian pernyataan Sasmito dalam buku Operasi Trisula Kodam VIII Brawijaya karya Semdam VIII Brawijaya. Hampir setahun kemudian, peran politik Surachman sebagai “orang PKI yang diselusupkan” ke tubuh PNI dikuatkan oleh Kusnun alias Abdullah, anggota verfikasi CC PKI urusan Kalimantan. Dalam sidang hari ke-4 pengadilan subversi terhadap terdakwa Sardjono dan Florentinus Suharto pada 30 Mei 1969, Kusnun menyebut bahwa Ir. Surachman (PNI) dan Karim DP merupakan para infiltran PKI. Tetapi ketika ditanya tentang bukti administratif mengenai keberadaan para anggota PKI yang berada di partai-partai lain itu, Kusnun menjawab soal tersebut sulit dihadirkan di pengadilan. “Karena untuk kepentingan security , maka bukti-bukti itu biasanya dimusnahkan,” kata Kusnun seperti dikutip oleh Abadi , 31 Mei 1969. Pendapat Surachman sebagai orang komunis yang menyelundup di tubuh PNI semakin kuat ketika Profesor Soenarjo S.H (salah seorang pendiri PNI) menyebut dalam bukunya Banteng Segitiga , Surachman sebagai anggota PNI yang lebih pandai mengekor PKI. Namun benarkah semua tuduhan itu? Satya Graha, mantan wakil pemimpin redaksi Suluh Indonesia (koran milik PNI), menyatakan ketidakpercayaannya terhadap tuduhan itu. Sebagai seorang yang pernah mengenal insinyur pertanian lulusan UGM itu (1961), dia tidak yakin bahwa tokoh muda PNI tersebut sebagai orang PKI. “Saya kira karena dia loyalis Bung Karno yang sangat radikal, lantas musuh-musuh politik Bung Karno mem-PKI-kan-nya setelah Peristiwa Gestok (Gerakan Satu Oktober),” ungkap Satya. Keyakinan Satya Graha berkelindan dengan pendapat ahli sejarah politik Indonesia J. Eliseo Rocamora. Dalam bukunya, Nasionalisme Mencari Ideologi: Bangkit dan Runtuhnya PNI 1946-1965 , Rocamora menyebut tuduhan itu tidak memiliki dasar sama sekali. “Tulisan-tulisan panjangnya di koran PNI Suluh Indonesia tidak menyingkapkan sedikit pun gaya penulisan atau pemikiran PKI,” ungkapnya. Jikalau pendiriannya terlihat lebih cenderung kepada hal-hal yang dikeluarkan oleh PKI (soal pembentukan Angkatan Kelima misalnya) dan sikap-sikapnya terkesan mendua terhadap insiden-insiden aksi sepihak yang dilakukan oleh banyak kader PKI, itu bisa dimaklumi. Sebagai seorang loyalis Sukarno, Surachman tentunya akan mengacu kepada sikap junjungannya itu yang menurut Rocamora sikapnya terhadap kedua isu tersebut juga mendua. Rocamora pun bisa memahami jika di tengah “ketidakpastian” dan aksi Letnan Jenderal Soeharto menangkapi menteri-menteri-nya Sukarno pasca Gerakan 30 September 1965, Surachman jadi berpaling kepada musuh Soeharto yakni PKI. Ketika sisa-sisa PKI melancarkan aksi gerilya di Blitar Selatan, Surachman membuat keputusan cepat untuk bergabung dengan para pemberontak. Terlebih baginya Malang Selatan dan Blitar Selatan adalah dua tempat yang tidak asing, mengingat sebagai anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) pada era Perang Kemerdekaan (1946-1949), dia pernah bergerilya melawan Belanda di wilayah tersebut. Namun upaya cari selamat itu ternyata tak berbanding lurus dengan suratan takdirnya. Gegara tembakan seorang kopral, pelariannya itu malah mempercepat kematiannya. Maka berakhirlah hidup sang menteri dengan membawa sejumlah misteri yang tak pernah terjawab pasti hingga kini.
- Andi Mappanyuki, Jago dari Sulawesi
Aristokrat dari Sulawesi yang getol menyerang Belanda. Enggan bekerja sama dengan penjajah hingga akhir hayat.





















