top of page

Hasil pencarian

9813 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Upaya Memberantas Cacar

    SAAT tiba di Jawa pada 1811, John Crawfurd, dokter berkebangsaan Inggris, disambut wabah cacar. Menurutnya, penyakit cacar telah menimbulkan kekacauan luar biasa di kalangan pribumi. Di Pekalongan, cacar menyerang tiap dua-tiga tahun sekali, sementara di Surakarta dan Yogyakarta cacar menjadi penyakit paling mengkhawatirkan sebelum 1820. Dari seluruh anak yang lahir di Yogyakarta pada 1820-an, 10 persen di antaranya meninggal karena cacar. Cacar sudah ditemukan di Jawa sejak awal abad ke-17. Pernyakit tersebut diperkirakan masuk ke Jawa melalui Batavia pada 1644. Kasus cacar kemudian makin parah dan mewabah lantaran belum mutakhirnya obat dan kelangkaan jumlah tenaga medis. Pada abad ke-18, penyakit cacar sudah menyerang Priangan, Bogor, Semarang, Banten, dan Lampung. Diperkirakan ada 100 penduduk Jawa terserang cacar pada 1781, 20 di antaranya meninggal dunia. Virus ini rentan menyerang bayi yang daya tahan tubuhnya masih rendah. Pada akhir abad ke-18 tingkat kematian bayi karena cacar di Bogor dan Priangan mencapai 20 persen. Intensitas serangan cacar makin naik pada abad ke-19 hingga memunculkan temuan bahwa pada masa tertentu, suatu penyakit akan muncul (siklis). Di beberapa daerah, cacar muncul tiap tujuh tahun sekali. Di Pekalongan, cacar muncul dua tahun sekali di mana terjadi puncak-puncak wabah pada 1820, 1835, 1842, 1849, 1862, dan 1870. Dari 1019 bayi yang lahir, setidaknya 102 yang meninggal akibat cacar. Tingkat kematian akibat cacar pada anak di bawah 14 tahun juga tinggi, antara 10-30 persen. Usaha penanggulangan cacar pun sudah dilakukan sejak penyakit ini muncul. Sebelum vaksin ditemukan, variolasi jadi langkah medis pertama untuk pencegahan dan penanganan cacar. Variolasi dilakukan dengan menginfeksi pasien dengan virus cacar berkadar ringan. Tubuh pasien yang terpapar cacar ringan akan membangun antibodi yang menghindarkan pasien dari penyakit cacar parah yang mematikan. Percobaan pertama variolasi dilakukan dokter muda J van der Steege kepada 13 pasien cacar, beberapa di antaranya anak-anak, di Batavia pada 1779. Hingga 1781, 100 penderita cacar telah divariolasi di Batavia. Namun risiko penyembuhan dengan metode tersebut juga tinggi, mulai dari bekas luka borok parah hingga meninggal dunia akibat tak cukup kuatnya daya tahan tubuh pasien. Vaksin cacar yang ditemukan pada akhir abad ke-18, baru digunakan di Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Vaksin cacar pertama tiba di Batavia pada Juni 1804 dengan diangkut kapal Elisabeth dari Pulau Isle de France. Sebelum sampai ke Batavia, vaksin ini dibawa dari pusat pengembangan vaksin di Jenewa, kemudian dikirim ke Baghdad dan Basra, lalu singgah ke India. Dari India, vaksin ini dibawa ke Isle de France lalu diteruskan ke Hindia. Begitu diterima di Batavia, vaksin langsung dikirim ke Surabaya, Semarang, Jepara, Surakarta, dan Yogyakarta. “Upaya vaksinasi cacar besar-besaran dilakukan pada masa pemerintahan Raffles dengan memperluas daerah operasi di luar daerah Surabaya, Semarang, dan Batavia,” tulis Baha’Udin dalam “Dari Mantri hingga Dokter Jawa” yang dimuat dalam Humaniora Oktober 2006. Namun, adanya vaksin belum mengatasi masalah lantaran kurangnya dokter yang bertugas menyembuhkan sekaligus mendistribusikan vaksin. Akibatnya, ketika wabah cacar menyerang Banyumas pada 1847, pemerintah kolonial kelimpungan. Wabah itu menewaskan buruh-buruh pekerja perkebunan, yang mengganggu perekonomian Hindia. Keadaan makin sulit karena adanya interaksi antara para buruh dengan tuan tanah atau mandor yang mengakibatkan orang kulit putih khawatir tertular cacar. Lantaran cepatnya virus cacar menyebar, pemerintah kolonial mengirim banyak dokter yang semua orang Belanda ke berbagai daerah. Namun jumlahnya tetap tak memadai, terlebih ditambah dengan banyaknya dokter yang enggan ke pelosok dan memilih menetap di kota. Para pribumi di kampung pun banyak yang meninggal akibat cacar. Untuk menanganinya, pemerintah lalu mendirikan Sekolah Dokter Djawa di Batavia pada 1851. Pemerintah menanggung seluruh biaya pendidikan dengan masa studi 2 tahun dan 17 mata pelajaran yang disampaikan dengan bahasa Melayu itu. Para murid tinggal di asrama. “Alasan utama dibukanya Sekolah Dokter Jawa ialah dibutuhkan tenaga untuk memberikan vaksinasi atau menjadi vactinateur cacar. Penyakit cacar masih jadi masalah besar yang bisa merenggut nyawa kala itu. Penyakitnya menular sampai ke desa-desa sementara tenaga medis belum memadai,” tulis Firman Lubis dalam Jakarta 1960-an. Pada tahun pertama pembukaannya, hanya ada 12 siswa yang mandaftar. Jumlah itu naik tahun berikutnya jadi 11 siswa. Setelah 5 tahun berjalan, sekolah ini sudah mencetak 23 dokter jawa yang bertugas sebagai mantri cacar. Sementara, untuk memudahkan distribusi vaksin ke Hindia, pada 1870 pemerintah Belanda mendirikan perhimpunan produsen dan distributor vaksin cacar. Tiap 2-3 bulan sekali vaksin cacar dikirim dari Amsterdam, Rotterdam, Utrech, dan Den Haag. Sejak itu, penyakit cacar tak seganas di masa sebelumnya.

  • Pangeran Jepara Menuntut Takhta Banten

    Sultan Banten Hasanuddin dikaruniai dua anak laki-laki dari pernikahannya dengan putri Sultan Demak, Tranggana, pada 1552. Yang sulung, Maulana Yusuf, menggantikan ayahnya yang meninggal pada 1570. Sedangkan adiknya diasuh dan dijadikan anak angkat oleh bibi dari pihak ibunya: Ratu Kalinyamat, karena tidak memiliki anak. “Dia diberi nama Pangeran Aria dan kemudian Pangeran Jepara; di Jepara dia diperlakukan sebagai ‘putra’ mahkota; dan setelah bibinya meninggal, dia memegang kekuasaan di kota pelabuhan itu,” tulis H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa. Ratu Kalinyamat dijuluki Ratu Pajajaran. Pemberian julukan itu menandakan di Keraton Demak pada pertengahan abad ke-16 ada kebiasaan memberi nama gelar kepada para pangeran atau putri keturunan raja yang menunjuk ke daerah-daerah yang jauh. “Mungkin dengan harapan agar mereka yang memakai gelar itu kelak dalam hidupnya benar-benar akan mendapatkan daerah itu,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Tentu saja Ratu Kalinyamat tak pernah mendapatkan Pajajaran. Namun, Pajajaran berhasil ditaklukkan oleh kemenakannya, Maulana Yusuf, pada 1579. “Pangeran Jepara tidak ikut dalam ekspedisi melawan Pajajaran,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Maulana Yusuf meninggal dunia pada 1580. Dia meninggalkan seorang anak lelaki berusia delapan tahun, Pangeran Mohammad. Takhta Banten pun jadi rebutan dua kekuatan: kaum bangsawan dan pedagang. “Kelompok pertama mendukung pangeran dari Jepara yang saat itu telah dewasa, dan berharap mampu mengembalikan hak istimewa para bangsawan dan membatasi pengaruh kaum pedagang dalam pemerintahan Banten,” tulis Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII . Menurut Guillot kaum pedagang yang bersekutu dengan para pejabat tinggi ( ponggawa ) menyisihkan Pangeran Jepara, calon putra mahkota yang sah yang sudah cukup usianya untuk memerintah, untuk mengangkat Mohammad yang masih kanak-kanak. Tujuan mereka untuk menguasai kewalirajaan, yang tak lain adalah pimpinan kesultanan, sampai Mohammad dewasa. “Kiyai Wijamanggala bersama empat tokoh penting dari kalangan pedagang berhasil mengusir Pangeran Jepara dan membentuk dewan kewalirajaan,” tulis Guillot. Pangeran Jepara gagal merebut takhta Banten karena dikhianati seorang patih yang awalnya akan membantunya. “Setelah itu, timbullah di Banten pertempuran yang hebat. Ki Demang Laksamana gugur, dan Pangeran Jepara terpaksa kembali ke kotanya dengan tangan hampa,” tulis De Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram . Demang Laksamana, panglima armada, menemui ajalnya dalam perkelahian melawan perdana menteri Banten. Apakah serangan yang gagal itu dilakukan atas gagasan Ratu Kalinyamat? Menurut De Graaf, namanya tidak ada dalam kisah tersebut. Tetapi memang sangat mungkin Ratu Kalinyamat sudah meninggal antara tahun 1574 dan 1580. Pangeran Jepara kemudian menggantikan ibu angkatnya. Di bawah Pangeran Jepara, kekuatan Jepara sempat ditakuti bahkan oleh Mataram. “Mereka (Mataram, red. ) mungkin masih merasa gentar melihat benteng yang mengelilingi kota dan benteng di Gunung Danareja,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Menurut pelaut-pelaut Belanda, kebanyakan kota pelabuhan di Jawa dikelilingi tembok batu atau kayu, pada sisi yang menghadap daerah pedalaman. Pada dasawarsa terakhir abad ke-16, kekuasaan Pangeran Jepara di laut masih dihormati. Pada 1593, dia memerintahkan armadanya menduduki Pulau Bawean di Laut Jawa. Pada 1598, dia masih mengesankan orang Belanda seakan-akan memiliki sarana kekuasaan yang luar biasa. Akhirnya, pasukan Mataram menyerang Jepara tahun 1599. Tamatlah kekuasaan Pangeran Jepara. Penghancuran kota Jeparadisebut dalam surat berbahasa Belanda tahun 1615. Serangan Mataram dari pedalaman ke kota-kota pelabuhan pesisir yang makmur itu mengakibatkan kerusakan berat. Tidak mustahil, Jepara juga menjadi korban amukan mereka. Mungkin saja istana Kalinyamat juga dihancurkan. “Tidak ada kabar tentang nasib keluarga raja Jepara,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Penguasa Mataram kemudian mengangkat seorang bupati untuk memerintah di Jepara .

  • Kelana Opsir KNIL Mencari Manusia Purba

    SATU set meja kayu retro yang jadi alas mesin ketik melengkapi sesosok patung pria  berkumis mengenakan setelan kemeja dan celana putih yang sudah lusuh. Ia jadi bagian dari salah satu diorama di Ruang Pamer I Museum Purbakala Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Siang itu masih termasuk masa-masa libur Lebaran. Tak heran museum disesaki pengunjung. Pun begitu, sosok patung yang digambarkan sedang mengetik itu acap luput dari perhatian. Ia dianggap kurang menarik untuk dijadikan latar berfoto ria para pengunjung yang masih awam jika dibandingkan koleksi-koleksi lain yang dipamerkan semisal tempurung manusia purba atau fosil-fosil hewan purba. Banyak dari para pengunjung yang membanjiri Museum Sangiran itu pemudik yang mencari wahana rekreasi untuk mengisi libur mudik. Berbekal karcis masuk Rp8 ribu (turis mancanegara Rp15 ribu), kebanyakan dari mereka hanya membawa hasil foto di kamera mereka. Ada juga yang membawa pulang oleh-oleh yang dijajakan banyak pedagang yang hilir-mudik atau menggelar lapak di lingkungan museum yang dikelola Balai Pelestarian Situs Manusia Purba. Jika mau bawa pulang wawasan seperti yang dilakukan beberapa pengunjung, mesti bersedia merogoh kocek untuk menyewa jasa pemandu. Pun begitu, tetap saja sosok patung pria berkumis dengan kemeja lusuh luput dari penjelasan detail. Sayup-sayup terdengar sang pemandu mengatakan bahwa sosoknya adalah Eugène Dubois, sang penemu manusia Jawa. Diorama sosok Marie Eugene ravene Francedilois Thomas Dubois di Museum Sangiran. (Randy Wirayudha/Historia). Tapi di balik itu menarik menggali Siapa Dubois? Mengapa ia tergelitik memburu manusia purba sampai ke Hindia Belanda (kini Indonesia) dan meninggalkan kehidupan mapannya di Belanda? Pakar Purbakala Masuk Tentara Nama Marie Eugène François Thomas Dubois acap muncul di halaman-halaman buku mata pelajaran sejarah di sekolah menengah. Ia disebutkan sebagai penemu Pithecanthropus erectus atau manusia Jawa di Trinil, Ngawi, Jawa Timur pada 1891. Penemuannya dianggap melengkapi mata rantai yang hilang dari teori evolusi Charles Darwin. Nama Dubois tentu patut dikenang setiap Hari Purbakala Nasional yang jatuh setiap 14 Juni. Lahir Eijsden, Belanda pada 28 Januari 1858, Dubois sejak kecil sudah dikenalkan dengan ilmu alam. Ayahnya, Jean Joseph Balthasar Dubois, merupakan seorang apoteker yang lantas jadi burgemeister (walikota) di Eijsden. Mengutip Pat Shipman dalam The Man who Found the Missing Link: Eugène Dubois and His Lifelong Quest to Prove Darwin Right , di usia sekolah di Roermond, Dubois sudah berkenalan dengan teori evolusi Darwin dari mentornya Karl Vogt, pakar biologi dan geologi asal Jerman. Meski begitu, Dubois punya perbedaan pandangan dengan mentornya soal Teori Darwin. Teori yang dikenalkan Darwin dalam On the Origin of Species pada 1859 itu menyatakan leluhur manusia berasal dari satu gen kera. Sementara Karl Vogt menganggap manusia memang berasal dari kera namun dari kera yang berbeda. Vogt menulis dalam Lectures on Man pada 1864, manusia ras kulit putih berasal dari kera yang berbeda dari orang Negro atau manusia kulit berwarna gelap lain. Perbedaan pendapat itu mendorong Dubois ingin membuktikan teori Darwin itu dan ia merasa hanya bisa melakukannya jika berkelana ke Asia pascalulus dari studi medisnya di Universiteit van Amsterdam pada 1884. Di sela kuliahnya, Dubois  belajar anatomi manusia ketika membantu proyek-proyek salah satu dosennya, Max Fürbringer, ahli anatomi asal Jerman. Dubois hidup mandiri saat kuliah lantaran menentang ambisi ayahnya yang ingin Dubois meneruskan karier politik sang ayah. Dubois kemudian jadi dosen di kampusnya dan menikah dengan Anna Geertruida Lojenga. Rasa penasarannya untuk mencari mata rantai yang hilang evolusi manusia kian kuat lewat diskusi dengan beberapa koleganya sesama “Darwinis” seperti Hugo De Vries, Charles Lyell, dan Ernst Haeckel. Namun, bagaimana caranya bisa sampai ke Hindia Belanda? Salah satu cara tercepat dan termudah mencapai koloni Belanda itu adalah dengan masuk tentara. Di sisi lain, Dubois butuh uang untuk menghidupi anak-istrinya. Dubois lantas mendaftarkan diri ke Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Dengan begitu Dubois bisa mendapat gaji untuk menafkahi keluarga selagi menjalani riset yang tentu juga butuh duit. “Mulanya Dubois mengajukan subsidi untuk risetnya tapi hasilnya nihil. Apalagi Belanda sedang diguncang depresi ekonomi parah pada 1885, di mana akhirnya pembiayaan proyek sains bukan jadi prioritas pemerintah. Dengan bergabung dengan Tentara Kerajaan-lah jalannya terbuka lebar, mengikuti jejak para pakar lain seperti Pieter Bleeker dan Cornelis Swaving,” ungkap L. T. Theunissen dalam Eugène Dubois and the Ape-Man from Java: The History of the First ‘Missing Link’ and Its Discoverer . Eksplorasi Sumatra dan Jawa Mendaftar ke KNIL, Dubois masuk unit Geneeskundige (medis) sebagai Opsir Medis Kelas II, sesuai bidang akademiknya. Ia lalu dikirim ke Sumatra pada 1887, membawa istri dan ketiga anaknya. Dalam pelayaran selama 44 hari itu, Dubois seringkali mengajari istrinya, Anna, berbicara bahasa Melayu untuk mengusir bosan. Mereka akhirnya tiba di Padang pada 11 Desember 1887. Situs Ekskavasi Dubois di Trinil. (ReproThe Dubois Collection: A New Look at an Old Collection). Bulan-bulan pertama di Padang Dubois disibukkan tugas sebagai opsir medis di rumahsakit. Baru pada Mei 1888 rutinitasnya tak sesibuk di Padang ketika Dubois dipindahtugaskan untuk memimpin sebuah bangsal rumahsakit untuk KNIL di Payakumbuh. Dia bisa memulai lagi aktivitas risetnya, mengeksplorasi gua-gua dan dasar-dasar sungai di Payakumbuh. Tapi, yang dia dapatkan hanya fosil hewan purba. “Ia hanya mendapat kekecewaan lantaran deposit tanah di Sumatra tergolong masih terlalu muda untuk bisa menemukan bukti-bukti manusia purba. Tapi kemudian Dubois mendengar kabar bahwa di Jawa telah ditemukan fosil manusia purba, utamanya di timur Pulau Jawa,” tulis H. James Birx dalam Encyclopedia of Anthropology, Volume 1. Fosil yang dimaksud adalah sisa-sisa tengkorak manusia purba yang lantas dinamakan homo wajakensis (Manusia Wajak) lantaran ditemukan di Wajak, Tulungagung. Fosil itu ditemukan secara tak sengaja oleh insinyur pertambangan B. D. van Rietschoten. Dubois pun minta dipindahkan ke Jawa. Kegagalannya di Sumatra membuat Dubois putar otak memainkan kata-kata dalam artikel dan suratnya kepada pemerintah Hindia Belanda agar tetap berkenan menyokong proyeknya. “Penemuannya tinggal menunggu waktu. Pakar-pakar asing lain juga sedang mengalihkan perhatian mereka ke Hindia Belanda,” tulis Dubois dalam laporannya mengenai prestis pemerintah kolonial Belanda di antara para kolonial Eropa lain, dikutip Theunissen. Pemerintah merasa tersentil. Tak hanya mengabulkan permintaan Dubois untuk dipindah ke Jawa, pemerintah juga menyerahkan fosil temuan di Wajak kepada tim Dubois. Direktorat Pendidikan, Agama, dan Industri bahkan mengirim bantuan personil ahli Franke dan Van de Nesse serta 50 buruh untuk proyek riset dan ekskavasi Dubois. Di situs tempat homo wajakensis ditemukan, para buruh gali Dubois akhirnya menemukan fosil manusia Wajak kedua pada 1890. Dubois mengeksplorasi banyak tempat, termasuk Perbukitan Kendeng tempat pelukis Raden Saleh menemukan banyak fosil hewan purba. Baru pada periode Agustus hingga Oktober 1891, Dubois menemukan satu per satu yang dicarinya. Di Trinil, Jawa Timur, Para kuli gali Dubois menemukannya sebuah fosil tempurung kepala dan tulang paha yang dipercaya sebagai manusia. Manusia purba itu diyakini sebagai bagian dari mata rantai evolusi Darwin yang hilang. Dalam laporannya tahun 1894, “Pithecanthropus erectus, eine menschenaehnliche Uebergangsform”, Dubois mengklaim bahwa yang ditemukannya adalah makhluk primata yang tingkatan evolusinya lebih tinggi dari kera tapi masih di bawah manusia saat ini, pithecanthropus erectus atau manusia kera yang berdiri tegak. Kendati harus kehilangan salah satu anaknya akibat terserang malaria, perjuangan Dubois tak sia-sia. Dalam jurnalnya itu, Dubois juga mengungkapkan bahwa Hindia Timur merupakan tempat lahir manusia, bukan Afrika sebagaimana yang disebutkan idolanya, Darwin. Sekembalinya ke Belanda pada 1897, Dubois dianugerahi doktor oleh Universiteit van Amsterdam. Temuannya itu lantas menggemparkan Eropa hingga menimbulkan banyak perdabatan di sejumlah forum akademisi dan para pemuka gereja Katolik. Dubois terpaksa menyembunyikan fosil-fosil manusia Jawa itu di rumahnya, di Haarlem, selama 30 tahun, terlepas ia kembali dianugerahi titel profesor pada 1907. Kendati sudah pensiun pada 1928, Dubois tetap menjadi kurator di Museum Teylers, Haarlem sampai akhir hayatnya. Dubois mengembuskan nafas terakhirnya pada 16 Desember 1940 di usia 83 tahun karena serangan jantung. Ia dikebumikan di Algemene Befraafplaats, Venlo tanpa konsekrasi lantaran temuannya berkebalikan dari kepercayaan Gereja Katolik.

  • Cerita Sedih dari Bukittinggi

    BUKITTINGGI, 2008. Pagi baru saja menyeruak, ketika Sutan Iskandar berdiri mematung tepat di bawah Jam Gadang. Matanya seolah menyapu pemandangan sekeliling. Angin bulan Desember berdesir lembut, mengarahkan hawa sejuk pegunungan ke pori-pori tubuh. Dalam wajah sendu dan bibir agak gemetar, mulut Iskandar nampak komat-kamit membaca sebait doa. “Semoga ninik mamak kita yang sudah berpulang dan menjadi korban perang saudara di masa lalu diterima di haribaan Allah Subhanahu wa Ta'ala . Amiiinnn…” ujarnya, nyaris tak terdengar. Sutan Iskandar masih berusia 12 tahun ketika kejadian itu berlangsung. Dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan tentara-tentara pusat (sebutan orang-orang Minang saat itu kepada tentara pemerintahan Sukarno) menggiring ratusan orang dalam kelompok-kelompok kecil ke sekitar monumen Jam Gadang. Mereka mayoritas adalah laki-laki. “Selanjutnya saya tidak menyaksikan lagi mereka diapakan, tapi memang saya mendengar tembakan berkali-kali dari arah Jam Gadang,” kenang lelaki kelahiran Bukittinggi pada 1947 itu. Apa yang terjadi di ranah Minang saat itu? Tersebutlah PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang dicetuskan oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein (tokoh pejuang kemredekaan Sumatera Barat) pada 10 Februari 1958 di Padang. Gerakan ini sejatinya menurut sejarawan R.Z. Leirissa dalam PRRI Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis adalah koreksi politik terhadap pemerintahan Presiden Sukarno yang dianggap berat ke sebelah kiri. Alih-alih menerima dengan lapang dada, kritik dan tawaran untuk membubarkan kabinet Djuanda, Presiden Sukarno malah memerintahkan tentara untuk menyerang Sumatera Barat. Maka diadakanlah Operasi 17 Agustus yang diluncurkan pada 17 April 1958, dipimpin oleh Kolonel Achmad Yani dengan mengirimkan pasukan ke wilayah-wilayah Sumatera Barat. Sejak itulah ranah Minang dibekap perang saudara yang memilukan. Saya sendiri baru menulis kembali kisah sedih itu hari ini. Ketika kali pertama saya mendengarnya dari mulut Iskandar 11 tahun yang lalu, saya hanya menyimpan data sejarah tersebut dan belum sempat mengkonfirmasinya ke dokumen-dokumen atau buku-buku tentang gerakan PRRI. Hingga beberapa hari lalu saya menemukan sebuah buku berjudul PRRI: Pemberontakan atau Bukan?  hasil riset seorang guru jebolan fakultas sejarah Universitas Negeri Padang bernama Syamdani.   Dalam buku itu putra kelahiran Minang tersebut, menukil sebuah artikel yang pernah dimuat surat kabar Singgalang pada 20 Januari 2000 berjudul "Tragedi di Bawah Jam Gadang, Pasukan A. Yani Bunuh 187 Orang". Di artikel itu disebutkan dari jumlah 187 orang yang dibunuh hanya 17 orang yang teridentifikasi sebagai gerilyawan PRRI, sedangkan 170 lainnya adalah rakyat sipil yang belum tentu terlibat dalam gerakan itu. Rupanya apa yang diceritakan oleh Sutan Iskandar kepada saya 11 tahun lalu bukanlah isapan jempol semata. Selain Insiden Jam Gadang, pembunuhan, penyiksaan dan teror pun banyak dialami oleh rakyat Sumatera Barat kala itu. Betti Yusfa dalam sebuah makalah yang dikeluarkan oleh IKIP Padang pada 1998, "Kekerasan dalam Zaman PRRI di Tlatang Kamang 1958-1961", menuliskan kisah pilu keluarga seorang ulama asal Kamang bernama Kari Mangkudung. Dari hasil wawancara Betti dengan seorang tokoh masyarakat di Kamang, Z. Sutan Kabasaran, dituturkan bagaimana keluarga Kari Mangkudung musnah dibantai tentara pusat. “Mereka hanya menyisakan seorang bayi berusia tiga bulan yang kemudian dibawa seorang tentara pusat dan sampai sekarang tidak diketahui lagi di mana rimbanya,” ungkap Sutan Kabasaran seperti dikutip oleh Betti dalam makalahnya. Betti juga mengungkap insiden di Desa Bansa pada 1959. Dari saksi sejarah bernama M. Datuk Manindieh dikisahkan tentang kisah sedih tiga pemuka masyarakat Desa Bansa bernama Datuk Kabasaran, Datuk Beco dan Datuk Alam. Tanpa sebab musabab, ketiga orang tua yang tak berdaya itu diperintahkan jalan ke Desa Pauh (berjarak 4 km dari Bansa) sambil diiringi oleh sekelompok tentara pusat. Begitu sampai di Desa Pauh, para tentara itu menyuruh ketiga orang tua tersebut mendaki sebuah bukit. Sambil terseok-seok, ketiganya menuruti apa yang diperintahkan oleh para prajurit tersebut. Alih-alih dibebaskan, ternyata ketiganya hanya menjadi sasaran latihan tembak. “Dari jarak yang cukup jauh, tentara pusat menembaki mereka satu persatu hingga mayat-mayat ketiganya bergulingan ke kaki bukit,” ungkap Datuk Manindieh. Teror juga dilakukan oleh tentara pusat terhadap orang-orang Kuala Tangkar. Kesaksian seorang penduduk bernama Sanur dalam surat kabar Singgalang , 2 Februari 2000, menyebutkan bahwa pernah karena orang-orang Kuala Tangkar dianggap pro-PRRI, mereka menyerang desa itu dengan mengerahkan empat tank baja. “Tank-tank itu menghujani rumah-rumah penduduk dengan peluru-peluru secara membabi buta hingga musnah terbakar,” ungkap Sanur. Pembantaian massal juga pernah dilakukan tentara pusat pada November 1959 di Kamang. Pada hari Senin saat diadakan hari pakan/pasar, sejak pukul 7 pagi, tak hentinya tentara pusat mengirimkan peluru-peluru mortir dari Bukittingi. Tak cukup dengan menggunakan mortir, artileri berat dari Angkatan Darat pun ikut berbunyi disusul dengan serangan udara dari sebuah pesawat tempur. Akibatnya banyak rakyat bersimbah darah. Teror pun dilakukan dengan mengumpulkan anak-anak dan perempuan. Mereka kemudian diinterogasi satu persatu dan disuruh mengaku bahwa suami-suami mereka terlibat dalam gerakan PRRI. Kemudian aksi-aksi identifikasi dilkukan oleh tentara pusat dengan memberi tanda silang besar pada rumah-rumah yang dicurigai salah satu anggota keluarganya terlibat dalam gerakan PRRI. “Zaman itu adalah zaman yang penuh kesedihan, tak ada orang Minang yang hidup saat itu segera bisa melupakannya,” kata Sutan Iskandar, masih terngiang  begitu jelas di telinga saya.

  • Berburu Kesenangan di Pagelaran Rakyat Jakarta

    SORE itu Jakarta Internasional Expo (JIEXPO) di Kemayoran terlihat diserbu oleh ribuan orang. Mereka silih berganti berdatangan. Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2019, perayaan tahunan di ibu kota RI tersebut, adalah salah satu tujuan.  Farizi Fatwa (24), adalah salah seorang dari pengunjung . Antrian yang mengular di pintu masuk tidak menajadi soal baginya untuk ikut larut menikmati JFK 2019 ini. “Seumur hidup saya belum pernah mengunjungi PRJ. Karena promosi besar-besaran di media massa dan pemerintah akhirnya saya tertarik untuk datang ke sini,” ucap Farizi kepada Historia . Terlahir dari ide  Ali Sadikin (salah satu gubernur DKI Jaya yang terkemuka), Jakarta Fair menjadi pagelaran tahunan masyarakat ibu kota. Digelar pertama kali pada Juni 1968, festival rakyat ini diberi nama ‘Djakarta Fair’. Bang Ali, sapaan akrab Ali Sadikin, ingin menghidupkan kembali pasar malam yang pernah digelar masa Belanda di Jakarta (sebutannya masih Batavia kala itu). “Saya ingat, dulu semasa kecil ada Pasar Gambir. Itu merupakan keramaian yang menyenangkan,” kenang Ali Sadikin dalam biografinya, Bang Ali: Demi Jakarta . Gelaran Pasar Gambir dilakukan sebagai bentuk perayaan atas hari kelahiran Ratu Wilhelmina dan penobatannya sebagai Ratu Belanda pada 1921. Dalam perayaan itu disajikan banyak hiburan untuk masyarakat Batavia. Dalam buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan 1882-1959 karya Tio Tek Hong, sulap, komidi putar, dan American Carnaval Show menjadi acara yang paling diminati. Permainan panjat-panjatan juga menarik banyak perhatian pengungjung karena hadiah yang ditawarkan. Perayaan Pasar Gambir terhenti pada masa pendudukan Jepang. Setelah itu tidak ada lagi gagasan tentang festival rakyat ini. Barulah pada 1953, pemerintah kotapraja Jakarta menggelar acara bertajuk Pekan Raya Nasional. Masih di tahun yang sama, pemerintah Indonesia juga mengadakan sebuah perayaan yang dinamai Pekan Raya Internasional. Namun sayang kedunya hanya bertahan dua tahun. Tak ada lagi perayaan di Jakarta, baik bersakala nasional maupun internasional. Gagasan membangkitkan pekan raya di Jakarta kembali muncul pada 1968. Pemerintahan Bang Ali saat itu merasa kebutuhan perayaan semacam ini sudah mendesak di ibu kota. “Selain sebagai wadah promosi industri dan perdagangan, pekan raya juga dimaksudkan untuk menambah tempat-tempat hiburan yang sehat bagi warga kota,” tulis Ali Sadikin dalam Gita Jaya: Catatan H. Ali Sadikin . Setelah melalui berbagai persiapan, Djakarta Fair –selanjutnya dikenal sebagai ‘Pekan Raya Jakarta (PRJ)’ –yang pertama terselenggara pada 15 Juni 1968, sebagai bagian dari kemeriahan HUT Kota Jakarta ke-441. Acaranya berlangsung selama 30 hari. Sebagai penyelenggara, pemerintah Jakarta bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jaya membentuk sebuah kepanitiaan. Lokasi yang dipilih untuk acara utama adalah bagian selatan Lapangan Monas, di areal seluas kira-kira 11 hektar. Terdapat 161 peserta, terdiri dari pengusaha dalam dan luar negeri, serta pemerintah daerah, yang mengisi booth dalam acara tersebut. Antusiasme yang tinggi dari masyarakat membuat pemerintah Jakarta segera menetapkan PRJ sebagai acara tahunan. Melalui Keputusan Gubernur Kepala Daerah tanggal 16 Desember 1968 No. Jb.3/3/28/1968 tentang Pembentukan Yayasan Penyelenggara Pekan Raya Jakarta, didirikan badan kepanitiaan tetap perayaan tersebut. Pada perjalanannya, PRJ terus mengalami perubahan. Baik itu dalam isi acara yang dihadirkan, maupun jenis hiburannya. Tercatat pada perayaan tahun 1969, panitia menambah waktu penyelenggaraan menjadi 71 hari. Keputusan itu diambil setelah melihat sambutan yang begitu tinggi dari masyarakat pada gelaran sebelumnya. Tapi setelah itu acara tidak pernah digelar lebih dari 40 hari. Walau terus berubah, ada yang tetap dipertahankan dalam gelaran PRJ, yakni sebagai pusat kegiatan ekonomi dan sebagai pusat hiburan rakyat. Keduanya menjadi fondasi utama pagelaran rakyat di Jakarta, baik saat perayaan Pasar Gambir, Pekan Raya Nasional, Pekan Raya Internasional, hingga Pekan Raya Jakarta. Hal itulah yang terlihat pada JFK 2019 ini. Ada lebih dari 200 booth perusahaan besar dan kecil, mulai dari fashion, kuliner, furniture, elektronik, hingga otomotif yang meramaikan acara tahun ini. Mereka menghadirkan ribuan produk unggulannya dengan harga yang cukup terjangkau. Tidak lupa, diskon besar pun dipampang untuk menarik perhatian para pengunjung. Jika pada awal kehadirannya para pengunjung dikenakan tarif Rp25 (dewasa) dan Rp5 (anak-anak), tahun ini biaya masuknya sebesar Rp25.000 sampai Rp40.000. Setiap harinya JFK akan diramaikan dengan berbagai pertunjukan, baik musik maupun budaya di dua panggung utama yang dipersiapkan. Tidak hanya bagi dewasa, anak-anak pun terlihat sangat menikmati setiap acara yang disuguhkan JFK. Areal Gambir Expo, Kids Area dan Wara-Wiri menyediakan banyak booth rekreasi yang mampu menghibur mereka. Ada lempar bola, panahan, Bianglalaa, Snow Park, dan lain sebagainya yang aman untuk dimainkan. Berbagai fasilitas yang disediakan dalam pagelaran JFK 2019 ini sudah baik. Pengunjung tidak perlu khawatir kesulitan mencari toilet. Bahkan tempat ibadah pun tersedia di banyak tempat. Namun sayang sejauh yang saya lihat, panitia penyelenggara tidak tersebar secara merata. Banyak tempat yang tidak mendapat penjagaan dari panitia, sehingga agak sulit untuk menemukan mereka.

  • Lelucon Long March Siliwangi

    BEGITU Belanda menyerang ibu kota Yogyakarta pada 19 Desember 1948, atas perintah Pang lima Besar Jenderal Soedirman, prajurit-prajurit dari Divisi Siliwangi bergerak kembali ke Jawa Barat. Selama perjalanan panjang ( long march ) menempuh jarak sekitar 600 km tersebut, banyak halangan yang menghadang mereka termasuk serangan tentara Belanda dan medan yang berat. Suatu hari, Batalion Kala Hitam yang dipimpin oleh Mayor Kemal Idris tengah bergerak menuruni Gunung Ijen. Untuk mencapai kampung terdekat, mereka harus melewati hutan lembab yang banyak dipenuhi pacet. Itu sejenis lintah yang hidup di wilayah lembab nan dingin. Untuk menghindari gigitan pacet, mereka mempergunakan tembakau yang dibasahi lalu digosokan ke badan dan kaki. “ Walaupun pacet tidak berbahaya, tetapi banyak orang merasa geli melihat lenturan tubuh pacet …” ujar Kemal Idris dalam otobiografinya: Bertarung dalam Revolusi. Salah satu perwira bawahan Kemal Idris ternyata memiliki rasa jijik yang luar biasa terhadap binatang melata itu. Kendati seluruh tubuhnya sudah dilumuri tembakau, namun ketegangan masih mewarnai wajahnya saat pasukan mulai memasuki hutan lembab tersebut. Satu menit, dua menit hingga setengah jam, perjalanan masih aman. Namun begitu memasuki waktu satu jam, tiba-tiba terdengar letusan pistol. Semua anggota pasukan kontan berlindung dan mengokang senjata, siap melakukan pertarungan maut. Setelah diselediki, ternyata pelepas tembakan pistol tersebut adalah letnan yang sangat jijik terhadap pacet-pacet itu. Rupanya saat seekor pacet hinggap di sepatunya, tanpa berpikir panjang ia mengeluarkan pistol dan menembaki pacet malang  tersebut. Akibatnya sungguh fatal: bukan sang pacet hancur lebur namun kaki sang letnan pun ikut terluka akibat tembakan sendiri. “ Kejadian itu akhirnya menjadi bahan lelucon saat tiba di markas kami di Cianjur…” ujar Kemal. Lain kisah Kemal, lain pula kisah J.C. Princen, serdadu Belanda yang membelot ke kubu Indonesia dan ikut long march bersama Bataliyon Kala Hitam. Princen bercerita, suatu hari rombongan  Yon Kala Hitam sampai di suatu desa yang kosong namun minim makanan. Rupanya, makanan yang ada di desa tersebut telah habis diberikan kepada rombongan long march terdahulu dari pasukan-pasukan Divisi Siliwangi lainnya. Satu-satunya bahan mentah yang bisa didapat di sana hanyalah ikan-ikan mas yang bertebaran di sebuah kolam besar. Mereka lantas mengambil ikan-ikan tersebut dan mengolahnya di dapur umum. Singkat cerita, masakan ikan mas sudah matang dan dihidangkan. Semua anggota Yon Kala Hitam pun dipanggil untuk makan, termasuk Princen. Tanpa banyak cakap, lelaki kelahiran Den Haag yang tengah kelaparan itu pun langsung mengambil sepotong ikan “yang terlihat sangat lezat”. Namun, belum sampai ke tenggorokan, potongan ikan itu langsung dimuntahkannya kembali. “ Rasanya aneh dan membuat perutku mual…” kata Princen. Selidik punya selidik, saking tak adanya bumbu ternyata ikan-ikan mas tersebut pengolahannya hanya direbus di…Air gula! Ya, semacam kolak ikan mas ala long march . “Saat tahu ikan itu hanya diolah dengan menggunakan gula merah, saya lebih memilih kelaparan dan makan dedaunan saja,” kenang Princen. Tak terasa, setelah lebih dari 40 hari berjalan kaki dari Yogyakarta. rombongan long march   Bataliyon Kala Hitam sudah mulai memasuki wilayah Jawa Barat. Di tengah kegembiraan karena sudah kembali menapaki tanah kelahiran, di suatu kawasan pegunungan, Mayor Kemal dikejutkan oleh suara teriakan anak buahnya secara tiba-tiba.  “Kita diseraaaaangggg, awasss pesawat Belandaaaaa!!!” Tanpa menunggu komando dari  Mayor Kemal, sontak semua orang berlarian. Puluhan orang menjatuhkan diri ke jurang dangkal, sedang yang lainnya memasuki hutan. Anak-anak yang menangis “dibekap” mulutnya oleh ibunya masing-masing. Suasana begitu sangat menegangkan. Namun setelah ditunggu-tunggu, pesawat Belanda itu tak jua menghamburkan peluru. Kemal yang juga ikut bersembunyi, lantas keluar semak-semak untuk memastikan keadaan. “ Setelah diperhatikan sungguh-sungguh, ternyata itu hanya seekor elang besar yang sedang mengintai mangsanya,” ujar lelaki yang kelak dikenal sebagai oposan rezim Orde Baru itu.

  • Menelusuri Gagasan LRT di Indonesia

    Kereta Lintas Rel Terpadu atau Light Rail Transit (LRT) mulai beroperasi secara terbatas di Jakarta sejak Selasa, 11 Juni 2019. Warga boleh naik moda transportasi publik baru berbasis rel ini selama program uji coba gratis. Seluruh rutenya melayang, melintang sejauh 5,8 kilometer dari Kelapa Gading (Utara)—Velodrome Rawamangun (Timur). Satu rangkaian LRT Jakarta terdiri atas dua kereta. Tiap kereta hanya mampu mengangkut 135 penumpang sekali jalan. Lebih kecil dari kapasitas angkut kereta Moda Raya Terpadu atau Mass Rapid Transit (MRT) yang mencapai 350 orang per kereta. Sebab bobot LRT lebih ringan ketimbang kereta MRT. Kesamaan keduanya terletak pada kecepatan, ketepatan waktu, kenyamanan, dan teknologi kiwari. Pembangunan fisik LRT Jakarta mewujud pada Juni 2016. Tetapi gagasan seputar LRT di Jakarta telah mengemuka sejak 1987. Masa inilah gagasan LRT di Indonesia mulai bertumbuh. Wiyogo Atmodarminto, Gubernur Jakarta 1987—1992, memperoleh masukan dari tim gabungan studi sistem angkutan kota untuk mengembangkan transportasi massal berbasis rel. Tim studi menilai penggunaan kereta api sebagai transportasi publik masih rendah. Dari satu juta perjalanan warga per hari di Jakarta, hanya 30.000 perjalanan terlayani oleh kereta api (sekira 3 persen). Selebihnya dengan kendaraan bermotor pribadi dan umum (bus, angkot, dan taksi). “Padahal menurut teori, seharusnya sebaliknya. Pada waktu ini kami mempunyai sasaran agar warga yang dilayani kereta api bisa mencapai 20%,” kata Wiyogo dalam Catatan Seorang Gubernur . Angka 20 persen berasal dari Master Plan Jakarta 1965. Orientasi Angkutan Berbasis Rel Semangat mengembangkan transportasi publik berbasis rel di Jakarta terdorong oleh situasi dan diskusi tentang transportasi publik dari luar dan di dalam negeri. Wiyogo mengetahui Manila, ibukota Filipina, telah membangun sistem LRT pada 1984, lalu menyusul Bangkok, ibukota Thailand. Kemudian pada 1987, Asosiasi International Angkutan Umum menggelar kongres tentang teknologi LRT. “Disimpulkan bahwa sistem LRT mencakup konsep angkutan yang terpisah dari lalu-lintas pribadi, pengembangan rutenya dalam beberapa tahap, sangat fleksibel dan efisien, serta biaya investasi rendah,” catat Roos D, pengamat transportasi dalam “LRT Generasi Trem Modern”, termuat di Kompas , 7 November 1991. Dari dalam negeri, diskusi seputar kemungkinan pembangunan kereta bawah tanah (MRT) di Jakarta kian mengemuka. Tim studi dari Japan International Agency Cooperation (JICA) juga sedang berupaya gencar memperbaiki sistem Kereta Rel Listrik (KRL) komuter Jakarta—Bogor—Tangerang—Bekasi (Jabotabek). Wiyogo ingin menghadirkan alternatif transportasi publik berbasis rel. “Yang kami maksud dengan kereta api di sini adalah kereta api ringan—Light Rail Transport (LRT)—yang tidak seberat kereta api biasa,” kata Wiyogo. Keunggulan LRT di atas moda transportasi publik lainnya bertumpu pada kapasitas angkut dan kecepatan. LRT mampu mengangkut sekira 340 orang per kereta. Dua kali lebih besar daripada kapasitas angkut bus terpandu ( guided bus ). LRT sanggup bergerak lebih cepat daripada bus terpandu dan KRL. Jalur LRT melayang sehingga tidak bersilangan dengan jalur moda transportasi lain seperti KRL atau bus terpandu.   Bus terpandu merupakan salah satu rencana perbaikan transportasi publik pada era Wiyogo. Bus akan melaju di sepanjang jalur Blok M (Selatan)—Kota (Utara), satu jalur dengan MRT. “Bis terpandu bisa dipakai sebagai kelengkapan,” tambah Wiyogo. Dengan demikian, dia lebih mengedepankan moda transportasi massal berbasis rel. Semangat pengembangan transportasi publik berbasis rel di Jakarta merambah ke perusahaan swasta. PT Citra Patenindo Nusa Pratama (PT CPNP), perusahaan milik Tutut Soeharto, menyatakan siap membantu Pemerintah DKI Jakarta mewujudkan rencana pembangunan LRT. PT CPNP telah menghadirkan prototipe kereta LRT di kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada April 1989. Nama kereta itu aeromovel . Tapi di TMII, penggunaan aeromovel lebih bertujuan untuk wahana wisata. Aeromovel bergerak memanfaatkan tenaga angin dan listrik. Asal teknologi ini dari Brazil. Pemerintah kota setempat sudah menerapkan teknologi aeromovel untuk sistem kereta LRT. Teknologi ini berbeda dari LRT di Eropa. Investasi pengembangan a eromovel Braziljauh lebih murah ketimbang LRT di Eropa dan sejumlah negara Asia. “Hanya US$ tiga juta per kilometer. Kalau ingin perbandingan, LRT (Light Rail Train) yang diterapkan di Bangkok —sama-sama teknologi baru di bidang perkeretaapian— menelan 19 juta untuk lintasan single track dengan panjang yang sama,” tulis majalah Clayperon , Vol. 28, Desember 1989. Tetapi keinginan PT CPNP menjadikan aeromovel sebagai teknologi kereta LRT terganjal regulasi. Aeromovel tidak kunjung menerima sertifikat kelayakan dari pemerintah sebagai moda transportasi publik. Tak ada sertifikat berarti tak ada proyek. Triple Decker Gagal dengan aeromovel sebagai LRT, grup usaha lain milik Tutut Soeharto, PT Citra Lamtorogung Persada (PT CLP), mengajukan konsep penggabungan LRT dengan jalan layang susun tiga ( Triple Decker ). Mereka menggandeng perusahaan swasta asal Swedia, Jerman, Prancis, dan Kanada demi menggolkan proyek ini. Triple decker terbagi atas jalan arteri, jalan tol, dan jalur LRT. Penggabungan ini untuk menyiasati nilai investasi, menekan harga tiket LRT, dan mempersingkat termin balik modal perusahaan tersebut. Menteri Pekerjaan Umum Radinal Mochtar (menjabat 1988—1998) cukup berterima dengan konsep triple decker . “Untuk jangka pendek, triple decker perlu segera dibangun karena investasinya lebih murah, bisa subsidi antara jalan tol dengan LRT,” kata Radinal dalam Eksekutif , Agustus 1996. Triple Decker akan melintang sejauh 25,7 kilometer dari selatan ke utara (Bintaro hingga Kota). Studi pendahuluan bersama tim Sistem Angkutan Umum Massal Jabotabek dan PT CLP menyebut kelak triple decker juga akan membujur sepanjang 36,5 kilometer dari barat ke timur (Tangerang ke Bekasi) dan membentang di pusat perkantoran/pemerintahan. Tidak seperti aeromovel , teknologi kereta LRT dalam triple decker menggunakan tenaga listrik penuh. Daya angkutnya mencapai 25 ribu orang per jam untuk dua arah. “Investasi proyek transportasi baru ini Rp2,2 triliun. Dananya 80% dari pinjaman sindikasi dan 20% modal sendiri,” catat Eksekutif . PT CLP merencanakan pembangunan fisik triple decker mulai pada 1998. Beriringan dengan pembangunan fisik MRT/ subway Jakarta. Kedua proyek itu telah memperoleh lampu hijau dari pemerintah pusat dan daerah. Tetapi bala krisis keuangan melanda Indonesia pada 1998. Rezim Soeharto rontok. Begitu pula dengan sejumlah perusahaan milik anaknya.    Setelah sekian lama terpendam, LRT akhirnya mengada di Palembang pada Agustus 2018, saat Asian Games. Tetapi keberadaannya justru menuai kritik. Antara lain tersebab ketidakjelasan studi pendahuluan dan kelayakan, besaran dana pembangunan, sudah ditinggalkan oleh negara maju, kerugian operasional, dan sengkarut izin operasi. Begitu juga dengan LRT Jakarta. Banyak keberatan dari berbagai pihak. Orang juga menduga LRT Jakarta akan bernasib serupa LRT Palembang. Benarkah demikian? Kita tunggu jawabannya kelak ketika LRT Jakarta mulai beroperasi secara komersial.

  • Tak Ada Dokter, Mantri pun Jadi

    ISTILAH “mantri” kini hampir tak diketahui orang. Di masa lalu, mantri menjadi andalan orang sakit untuk bisa sembuh, selain dokter, perawat, atau bidan. Mantri merupakan petugas medis yang biasanya terdapat di desa dan pelosok. “Mantri cuma ada di Indonesia karena jumlah lulusan kedokteran belum banyak sehingga mantri dikerahkan,” kata Martina Safitry, dosen Institute Agama Islam Negeri Surakarta, pada Historia. Mantri, tulis Martina dalam tesis berjudul “Dukun dan Mantri Pes”, mulanya berarti juru rembug dan sebuah pangkat dalam birokrasi keraton Jawa. Ada mantri guru, mantri tanam, mantri ukur, dan lain-lain. Mantri yang mengurus kesehatan muncul kemudian, ketika wabah cacar menjangkiti Banyumas pada 1847. Wabah itu kebanyakan menyerang buruh pribumi di perkebunan milik Belanda. Lantaran virusnya cepat menyebar dan obat penangkalnya kala itu belum mutakhir, orang-orang Belanda khawatir tertular. Selain itu, wabah cacar yang menyerang buruh membuat usaha perkebunan rugi lantaran jumlah buruh berkurang dan produktivitas turun. Untuk menanggulangi wabah itu, pemerintah kolonial mengirim banyak dokter yang semua orang Belanda. Namun jumlah dokter tak memadai. Lebih lagi, wabah cacar menyerang sampai ke pelosok sementara petugas kesehatan baru terdapat di kota. “Karena keterbatasan jumlahnya, (para dokter, red. ) merasa tidak sanggup untuk menanggulangi keganasan penyakit,” tulis  Baha’udin dalam artikelnya di Jurnal Humaniora, Oktober 2006, “Dari Mantri hingga Dokter Jawa” . Akhirnya, dibentuklah profesi baru di bidang kesehatan dengan memberikan pelatihan kilat kepada pribumi. Saat itulah profesi mantri kesehatan lahir, dengan bermacam kategori. Ada mantri cacar, mantri vaksin, mantri pes, bahkan mantri kakus. Arsip foto menunjukkan, pribumi yang dapat pelatihan mantri hanya lelaki, sehingga populer kalimat “berobat ke Pak Mantri”. Upaya pembangunan medis lebih serius baru muncul pada Oktober 1847, saat Kepala Miliataire Geneeskundige Dienst (Dinas Kedokteran Militer) Dr. William Bosch mengusulkan pada Gubernur Jenderal J.J. Rochussen agar mengadakan pendidikan kedokteran Barat untuk penduduk pribumi. Hasilnya, didirikanlah Dokter Djawa School di Weltevreden, Batavia dengan masa studi dua tahun. Di tahun pertama, para siswa diberi pelajaran seputar Fisika, Kimia, Geologi, Botani, Zoologi, dan analisis terhadap tubuh manusia. Sementara pada tahun kedua, para murid diberikan ilmu bedah, Patologi, Anatomi Patologis, material medica, obat-obat pokok, dan pelatihan praktek di klinik. Ketika lulus, siswa mendapat gelar Dokter Jawa meski sebenarnya mereka bukan dokter, melainkan pembantu dokter Eropa ( hulp geneesher ). Sebagian dari Dokter Jawa itu diberi tugas sebagai mantri cacar. Jumlah petugas medis masih belum memadai kendati sekolah dokter pribumi sudah ada. Maka ketika wabah penyakit seperti malaria atau pes muncul, perekrutan dan pelatihan mantri masih terus dilakukan. Ide pembentukan profesi mantri yang lebih paten dilakukan pemerintah Hindia Belanda pada 1935 dengan mendirikan Sekolah Mantri Kesehatan, bekerjasama dengan Rockefeller Foundation. Distrik Purworkerto ditetapkan sebagai model dan labolatorium pelatihan mantri. Para lulusan sekolah itu ditempatkan di kampung-kampung dan daerah terpencil. Sosok mantri kadang tidak bisa dibedakan dengan dokter Jawa karena mereka menggunakan atribut dan peralatan yang sama. Para mantri juga berperilaku laiknya dokter, menganalisis penyakit pasien dan memberi obat. “Kalau menurut peraturan internasional, yang boleh memberi obat hanya dokter, tapi karena jumlahnya masih sedikit, mantri bertugas seperti dokter umum,” kata Martina. Kehadiran mantri di kampung-kampung menjadi jalan bagi pribumi untuk mengenal pengobatan modern yang tidak berjarak lantaran penyembuh dan pasien sama-sama pribumi. Banyak pasien pribumi lantas berobat ke “Pak Mantri” kala penyakit menyerang. Namun, jalaran banyaknya kritik pada kualitas lulusan dokter jawa, pada 1898 Sekolah Dokter Jawa diubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Masa studinya diperpanjang jadi delapan tahun dan gelar yang didapat bukan lagi Dokter Jawa, melainkan Inlandsche Arts (dokter pribumi). “Ada perbaikan kurikulum dan dokter pribumi mulai dicetak. Lulusan eranya Tjipto Mangoenkoesoemo atau Radjiman Wedyodiningrat, bukan difungsikan sebagai mantri atau dokter jawa tapi dokter betulan,” Kata Martina.

  • Tan Malaka di Hong Kong

    HONG KONG yang lazimnya ramai oleh beragam aktivitas bisnis dan kehidupan sosial dengan udara bebas, kini bergejolak. Sekira satu juta penduduknya turun ke jalan menentang Undang-Undang Ekstradisi yang tengah dibahas badan legislatifnya. Jika UU itu disahkah, roda kehidupan di Hong Kong dipercaya takkan lagi sama. Sejak dikembalikan Inggris pada 1997, Hong Kong dijadikan wilayah otonomi khusus di bawah Republik Rakyat China (RRC). Sampai 50 tahun usai penyerahan, Hong Kong diberi jaminan ketertiban hukum, kebebasan berpendapat, dan sistem perekonomiannya akan tetap sama sebagaimana saat masih di bawah ketiak Inggris.

  • Ganja untuk Ritual Pemakaman

    Baru-baru ini sebuah penelitian menunjukkan kalau mengisap ganja sudah dilakukan manusia paling tidak sejak 2.500 tahun lalu di Tiongkok. Dari hasil penelitian para arkeolog dan ahli kimia dari Chinese Academy of Sciences dan Chinese Academy of Social Sciences di Beijing, sejenis ganja teridentifikasi sebagai tanaman yang dibakar dalam ritual di makam purba dari 500 SM. Masyarakat di Pegunungan Pamir, Tiongkok Barat, yang melakukan ritual dengan membakar ganja tersebut. Berdasarkan artikel berjudul “The origins of cannabis smoking: Chemical residue evidence from the first millennium BCE in the Pamirs” yang diterbitkan Science Advance, Rabu (12/6), kandungan ganja ditemukan saat menganalisis potongan kayu sisa pembakaran di makam. Residu yang ditemukan di situs mengandung senyawa kimia yang menunjukkan tingkat tetrahydrocannabinol (THC) dalam kadar tinggi. Itu adalah senyawa tanaman yang bersifat psikoaktif atau bisa memunculkan efek euforia pada penggunanya. Selain sisa kayu bakar, peneliti juga menemukan piring dan mangkuk, manik-manik kaca, kain sutra, dan harpa Tiongkok. Ada pula tulang-belulang manusia yang memiliki lubang ditengkoraknya. Lubang pada tengkorak itu diperkirakan akibat hantaman benda keras. Karenanya para peneliti menduga beberapa orang yang dimakamkan di lokasi itu tewas dalam ritual pengurbanan manusia. “Kita dapat mulai menyatukan gambaran tentang upacara penguburan yang meliputi api, musik dan asap halusinogen, yang semuanya dimaksudkan untuk membimbing seseorang ke dalam kondisi setengah sadar,” tulis para peneliti itu. Sebelumnya, batang dan biji ganja pernah ditemukan di beberapa situs pemakaman di sekitar Eurasia. Namun bukti di pemakaman Pamir, yang diverifikasi oleh teknologi ilmiah canggih, menunjukkan hubungan yang lebih langsung antara tanaman dan ritual pada masa-masa awal. “Temuan baru ini memperluas jangkauan geografis penggunaan ganja di wilayah Asia Tengah yang lebih luas,” kata Mark Merlin, profesor botani di Universitas Hawaii di Manoa, yang tidak ikut serta dalam penelitian ini. Menurut sejarawan yang meneliti ganja itu, temuan ganja itu penting. Artinya ganja pernah digunakan untuk memfasilitasi tubuh berkomunikasi dengan alam baka dan dunia roh. Dari penelitian itu juga bisa dikatakan orang pada masa itu telah sengaja menanam ganja dan secara sadar memilih spesies yang efeknya lebih kuat karena temuan itu mengandung senyawa THC tinggi. “Ganja liar, yang tumbuh secara umum di kaki gunung berair di Asia Tengah, biasanya memiliki kadar cannabinol yang rendah, itu suatu metabolit THC,” tulis para peneliti. History  mencatat ada beberapa bukti bahwa orang-orang dari budaya kuno sudah tahu tentang sifat psikoaktif tanaman ganja. Mereka mungkin telah menanam beberapa varietas yang menghasilkan THC lebih tinggi untuk digunakan dalam upacara keagamaan atau praktik penyembuhan. “Benih ganja yang terbakar telah ditemukan di kuburan dukun di Cina dan Siberia sejak 500 SM,” tulis laman itu. Ilustrasi tanaman ganja dalam Vienna Dioscurides (512 M) Kendati begitu, studi lain pernah diterbitkan oleh para peneliti dari Freie Universität Berlin dua tahun lalu. Lewat jurnal Vegetation History and Archaeobotany diungkapkan kalau ganja telah digunakan di Jepang dan Eropa Timur dalam waktu hampir bersamaan, yaitu antara 11.500 dan 10.000 tahun yang lalu. Sebagaimana dikutip laman New Scientist, penelitian itu mengkaitkan peningkatan penggunaan ganja di Asia Timur dengan meningkatnya perdagangan lintas benua antara Eropa dan Timur antara 4.000 dan 5.000 tahun yang lalu, pada awal Zaman Perunggu. Orang-orang Yamnaya, yang bermarkas di tempat yang sekarang disebut Eropa Timur, diperkirakan telah mengangkut ganja melintasi benua saat mereka melakukan perjalanan ke arah timur. Diperkirakan ganja adalah salah satu barang komoditas di sepanjang Jalur Perunggu ke Asia, yang kemudian jalur itu dikenal sebagai Jalur Sutra. Jalur itu adalah jaringan kuno rute perdagangan yang menghubungkan Eropa dan Cina. "Tanaman ganja tampaknya telah didistribusikan secara luas sejak 10.000 tahun yang lalu, atau bahkan lebih awal,” ujar Tengwen Long, yang memimpin tim peneliti. Dia menambahkan nilai tinggi tanaman sangat bisa digunakan sebagai alat tukar. Selain sifat piskoaktifnya, ganja juga diambil seratnya untuk bahan pembuatan kain.  “Ini akan membuatnya menjadi barang yang ideal,  yaitu sebagai tanaman komersial sebelum ada uang tunai,” jelas Tengwen Long.

  • Sejarah Gedung Mahkamah Konstitusi dan Medan Merdeka Barat

    Pagar kawat berduri, ratusan polisi, dan tameng anti huru-hara. Beginilah pemandangan keseharian di halaman depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK) Jalan Merdeka Barat, Jakarta, menjelang hari sidang Perselisihan Hasil Pemilu pada Jumat, 14 Juni 2019. Polisi telah melarang massa berunjuk rasa di depan gedung MK. Mereka juga akan menutup Jalan Medan Merdeka Barat ketika sidang berlangsung demi menjaga keamanan gedung MK dan kawasan bersejarah di sekitarnya. Gedung MK belum lama berdiri. Gedung ini mulai dibangun pada Juli 2005. Penggunaan gedung MK secara resmi berlangsung pada 13 Agustus 2007, bertepatan dengan hari jadi MK. Sebelum menggunakan gedung ini, MK berkantor secara nomaden dan menumpang ke beberapa lembaga negara. Antara lain di Hotel Santika, parkir Plaza Centris, dan gedung milik Kementerian Komunikasi dan Informasi. Adolf Heuken dalam Medan Merdeka Jantung Ibukota RI menyebut gedung MK berarsitektur campuran: gaya modern dan neo-klasik. Dua gaya itu terwakili oleh menara 16 lantai (modern) di belakang gedung utama dan pilar besar di sisi depan (fasade) gedung utama (neo-klasik). Paduan dua gaya ini bermaksud menciptakan kesan berwibawa, monumental, dan megah. Pilar di gedung utama berjumlah sembilan, melambangkan jumlah hakim agung MK. Tetapi, menurut Heuken, jumlah pilar ganjil di depan menyimpang dari kode dan semangat arsitektur neo-klasik. Lazimnya pilar fasade berjumlah genap. “Akibatnya gedung gado-gado ini tampak kurang elegan dan maksud semula tidak tercapai,” ungkap Heuken. Heuken juga menyebut ketiadaan standar perancangan gedung di Jalan Merdeka Barat ikut menyumbang ketidakharmonisan lingkungan. Keadaan ini tidak terjadi pada masa sekarang saja, melainkan juga berjejak pada masa kolonial.    Jauh sebelum gedung MK berdiri, Jalan Medan Merdeka Barat bernama Koningsplein West. Peta Koningsplein West sebelum 1900-an menunjukkan bangunan di tepi jalan masih sepi. Hanya ada sejumlah rumah dan museum. Rumah saat itu kemungkinan bergaya indische woonhuis . Tetapi memasuki 1900-an hingga 1930-an sejumlah bangunan baru berdiri dengan beragam gaya. Antara lain bangunan milik pemerintah, rumah pribadi, kantor usaha swasta, perkumpulan teosofi, hotel, dan konsulat negara tetangga. Ada dua bangunan menonjol milik pemerintah di Koningsplein West : gedung Bataviaasch Genotschap van Kunsten Wetenschappen (sekarang menjadi Museum Nasional) dan Rechtshoogeschool (sekarang menjadi Kementerian Pertahanan). Masing-masing bangunan mewakili tahun dan gaya berbeda. Bangunan pertama bergaya klasik dan berasal dari tahun 1864, sedangkan bangunan kedua bergaya modern dan dibangun pada 1924. Catatan mengenai rumah pribadi di Koningsplein West sangat langka. Dalam bukunya, Heuken hanya menghadirkan satu foto tentang dua rumah bergaya modern. Scott Merillees, seorang kolektor kartu pos jadul, menyatakan dua rumah tersebut berlahan lebih sempit daripada rumah model mansion atau bergaya indische woonhuis . Menyiasati keterbatasan lahan, rumah tersebut dibangun bertingkat. Merillees menduga bertumbuh cepatnya populasi orang Eropa di Batavia sebagai penyebab perubahan gaya rumah pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kebanyakan mereka bekerja sebagai pegawai perusahaan atau pegawai negeri ketimbang pedagang besar. Penghasilan mereka lebih rendah daripada pedagang besar sehingga berpengaruh terhadap kemampuan membeli lahan. Dua rumah tersebut kini sudah runtuh. Tergerus perluasan Museum Nasional pada dekade 1990-an. Demikan catat Merillees dalam Greetings From Jakarta: Postcards of a Capital 1900—1950 . Bangunan swasta di KoningspleinWest terekam dalam koleksi kartu pos lain milik Merillees dari tahun 1902. Sebuah bangunan beratap trapesium dan berlantai agak tinggi dengan beberapa tiang kecil di sejumlah sudut lantai menjadi kantor The Netherlands Indies Sport Company . Perusahaan ini berkutat di bisnis jual beli dan servis sepeda. Memanfaatkan demam sepeda di Hindia Belanda pada 1890-an. Tak jauh dari kantor The Netherlands Indies Sport Company , berdiri sebuah bangunan dengan kubah kecil. Di atasnya terdapat mahkota menyerupai bintang. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat pertemuan (loji) masyarakat Teosofi. Perkumpulan Teosofi berdiri di New York pada 1875. “Mereka memperoleh sambutan baik di kalangan elite Eropa dan Jawa di Hindia Belanda pada 1910-an,” tulis Merillees. Mereka memiliki jadwal pertemuan teratur di loji dan mengumumkannya di media massa. Sekarang loji beralih rupa menjadi gedung Sapta Pesona milik Kementerian Pariwisata. Zaman bergerak. Beberapa bangunan lama di Koningsplein West sempat dirombak. Tujuannya untuk memperbaharui citra. “Usaha ini biasanya meleset. Bagian dalam dan belakang bangunan seringkali tidak diubah,” catat Heuken. Akibatnya lingkungan jadi kurang harmonis. Kini hampir semua bangunan di Jalan Medan Merdeka Barat telah menjadi milik pemerintah, bergaya modern, dan tinggi menjulang. Terdapat satu gedung milik swasta, kantor Indosat Ooredoo di bagian selatan jalan tersebut. Beberapa bangunan tua masih tersisa. Seperti Museum Nasional. Tetapi terbenam di antara ketinggian gedung jangkung modern.

  • Kisah Sang Penghilang Batas

    DI DUNIA sains siapa yang tak mengenal Stephen Hawking? Vonis mati yang diterimanya tidak serta merta membuat hidup ilmuwan ini goyah. Itu dibuktikan denan terus berkaryanya dia di bidang ilmu fisika. Sejak tahun 1960-an tidak henti-hentinya, dia mengguncang dunia dengan spekulasi dahsyatnya tentang alam semesta dan kehidupan makhluk hidup di dalamnya. Dilahirkan di Oxford, Inggris, pada 8 Januari 1942, Hawking merupakan putra sulung dari empat bersaudara. Sejak remaja, dia telah memperlihatkan ketertatikan yang besar terhadap ilmu sains dan teknologi. Ketika belajar di St. Albans, Hawking (16 tahun) bersama kawan-kawannya mampu merakit sebuah komputer dengan memanfaatkan suku cadang bekas jam dan pesawat telepon. Pada 1962, Hawking lulus dari Universitas College, Oxford. Menurut Marcus Chown, seorang mantan astronom radio, walau mendapat gelar kehormatan kelas satu di bidang pengetahuan alam, Hawking pernah mengakui dirinya sebagai pemalas ketika masih menjadi mahasiswa. Tidak puas dengan gelar kesarjanaannya, Hawking pun memutuskan untuk mengejar gelar Ph.D di Universitas Cambridge. Di sana dia memilih jurusan yang waktu itu kurang populer, yakni relativitas umum, salah satu teori tentang gravitasi milik Albert Einstein yang mengantarkannya pada kepopuleran sepanjang masa. Namun belum genap setahun belajar di Cambridge, Hawking harus nenerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Bermula dari Natal 1962, ia menyadari tubuhnya semakin lemah tanpa mengetahui sebabnya. Kemudian pada akhir semester pertama di Cambridge, ibunya membujuk Hawking untuk menemui dokter. Setelah melalui rangkaian tes melelahkan selama dua pekan, dokter memvonis Hawking menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS): bentuk paling umum dari penyakit saraf motorik yang menyebabkan kemunduran pada fungsi sel-sel otak. "Pada usia 21 tahun, Hawking menghadapi vonis mati. Yang luar biasa, kendati dia merasa putus asa, dia tidak pernah menyerah." tulis Marcus. Normalnya, penderita penyakit ini hanya akan bertahan hidup tidak lebih dari tiga tahun. Brian Dickie, direktur Asosiasi Pengembangan Riset MND ( motor neurone disease ), menyebut penyakit saraf memiliki tingkatan yang berbeda tergantung dari gen dan lingkungan para penderitanya. "Mengingat obat yang efektif kurang tersedia, kemungkinan Hawking bisa hidup begitu lama bukan lantaran obat tetapi disebabkan oleh jenis penyakitnya." ucap Dickie. Lebih dari itu, alasan Hawking dapat bertahan adalah Jane Wilde. Dia jatuh cinta pada perempuan yang ditemuinya dalam acara pesta mahasiswa di kampusnya. Pasangan itu melangsungkan pernikahan pada 1965. dukungan dari Jane membuat Hawking berjanji akan memanfaatkan sisa waktunya semaksimal mungkin. Ajaibnya, setelah melewati hari-hari bersama perempuan yang dicintainya, perkembangan penyakit Hawking mulai melambat. Semangat hidup Hawking melawan keterbatasannya menjadi penggalan kisah paling menarik dalam buku ini. Penjelasan tentang penyakit yang dideritanya pun disajikan dalam koridor ilmiah yang mudah dicerna awam. Namun sayangnya buku ini tidak menyertakan data-data tentang perkembangan penyakit Hawking. Selain itu tidak adanya wawancara personal berisi pertanyaan lebih intim membuat buku  Stephen Hawking A Mind Without Limits  ini kurang memperlihatkan sisi pribadi Hawking. Menghilangkan Batas Selain menjelaskan perjalanan hidup, buku ini juga mencoba membantu mengarahkan para pembaca pada penemuan-penemuan ilmiah Hawking yang begitu menakjubkan. Dalam buku ini para ahli dihadirkan, sebagai kontributor, untuk menjelaskan bidang keahliannya. Seperti Peter J. Bentley, seorang profesor ilmu komputer yang memaparkan secara rinci teknologi yang terpasang pada kursi roda Hawking untuk membantu kesehariannya. Hawking dikenal sebagai perintis di bidang fisika dan kosmologi modern. Dengan cerdas, ia mampu menggabungkan dua bidang keilmuan yang tidak saling berhubungan tersebut. Namun meski begitu, hampir setengah masa hidupnya dihabiskan tanpa bergerak dan bersuara. Sebelum benar-benar kehilangan kemampuan berbicara, Hawking masih memberikan kuliah umum di beberapa perguruan tinggi di Inggris. Dia selalu membawa keluarga serta asistennya untuk menerjemahkan ucapannya yang sudah tidak jelas. Hawking tidak ingin kekurangannya itu menjadi halangan untuk dia terus berkarya. Namun pil pahit kembali harus ditelan Hawking. Pada 1985, dalam sebuah perjalanan dinas ke CERN (Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir), Hawking terserang pneumonia. penyakit itu nyaris merenggut nyawanya. "Dokter-dokter yang menanganinya terpaksa menjalankan operasi trakeonomi untuk memasukkan slang pernapasan, tetapi tindakan ini menyebabkan Hawking kehilangan suaranya." tulis Peter J. Bentley, profesor ilmu komputer di Universitas College, London. Tentu bukan perkara mudah untuk Hawking dapat menerima keadaannya. Karir akademiknya menutut kemampuan berkomunikasi yang baik. Dia harus memberi kuliah di hadapan mahasiswanya, mempresentasikan hasil penelitiannya, bahkan mempublikasikan tulisan-tulisannya. Karena tidak bisa melakukan semua itu, Hawking merasa hidupnya bagai bencana. Tapi bukannya menyerah, Hawking malah mengalihkan perhatiannya pada teknologi. Ia sadar bahwa hanya pengetahuan modern yang dapat membantunya. Untuk itu, Martin King, dokter pribadi Hawking, menghubungi perusahaan teknologi asal California, Words+, yang telah mengembangkan equalizer untuk penderita penyakit saraf motorik. Sistem yang ditawarkan memungkinkan pemakainya memilih kata-kata hanya dengan ketukan tangan. "Sebuah kursor bergerak di bagian atas layar." terang Hawking. "Saya dapat menghentikannya dengan tombol di tangan saya. Dengan cara ini, saya bisa memilih kata-kata yang terpampang di bagian bawah layar. Saya bisa memberikan kuliah, menulis makalah, dan berkomunikasi dengan keluarga saya." Sistem equalizer awalnya dijalankan di sebuah komputer Apple II yang tersambung ke perangkat penyintesis wicara buatan Speech Plus. tidak lama, perangkat lunaknya diganti dengan versi terbaru bernama EZ Keys, buatan perusahaan yang sama. Teknologi itu termasuk paling canggih pada zamannya karena dapat menyimpan lebih dari 4.000 kosakata yang dibutuhkan Hawking. Selama hampir 20 tahun, sejak 1988, Hawking memanfaatkan teknologi penyintesis wicara itu untuk berbagai keperluan ilmiahnya. Namun pada 2005 penyakit ALS yang dideritanya semakin parah. Ia kembali kehilangan kemampuan berkomunikasi karena tidak lagi memiliki kekuatan untuk menekan tombol perangkat wicara di kursi rodanya. Untuk mengatasinya, beberapa asisten serta mahasiswa bimbingannya menciptakan perangkat LED dan sensor inframerah khusus Hawking. Teknologi itu dipasang di kacamata Hawking untuk mendeteksi gerakan kecil pada otot di pipinya. Berkat peranti ini, Hawking dapat terus melanjutkan kegemilangannya dalam membangun ilmu fisika. "Kemampuan komunikasi Hawking kian memburuk ketika dia kehilangan kendali atas otot, dan pada 2011, dia hanya bisa membuat dua kata per menit." tulis Bentley. Setelah itu, Hawking menghubungi salah satu pendiri Intel, Gordon Moore, yang dahulu pernah ditemuinya. Moore kemudian meminta bantuan Justin Rattner, CEO Intel saat itu untuk menyelesaikan persoalan Hawking. Di bawah intel, sebuah tim peneliti dibentuk. Mereka mencoba mencari model komunikasi yang pas bagi Hawking. Berbagai bentuk interface baru pun dicoba untuk mendapat hasil yang sempurna. Percobaan pertama menghasilkan teknologi yang dapat memilih kata dengan cara menggerakkan pupil mata. Namun tidak berhasil karena kelopak mata Hawking selalu turun. Pada percobaan selanjutnya, tercipta teknologi pengukur gelombang otak. Tetapi tidak menunjukkan kemajuan apapun. Akhirnya dengan bantuan asisten mahasiswa Hawking, Jonathan Wood, tim itu dapat menciptakan sistem komunikasi yang canggih. Teknologi yang khusus diciptakan untuk Hawking ini memanfaatkan jaringan saraf tiruan yang mampu memprediksi kata selanjutnya dari sebuah kata yang biasa digunakan Hawking. Misalnya kata "lubang" biasanya diikuti oleh "hitam". Kiprah Nyata Sejak memulai penelitian pasca-doktoralnya, Hawking telah benar-benar fokus pada permasalahan kosmologi, ilmu pengetahuan alam, evolusi, teknologi, dan akhir alam semesta. Dia mengkaji cukup dalam beberapa teori Einstein, terutama yang berhubungan dengan asal mula alam semesta. Pada 1965 dan 1970, Hawking membuat sejumlah teorema besar tentang singularitas:keadaan di mana suatu objek yang dihitung menjadi tak terhingga. Dia bekerja bersama Roger Penrose, ahli matematika Inggris yang mendampingi Hawking dalam sejumlah penemuan penting pertamanya. Penelitian singularitas tersebut menjadi kiprah pertama Hawking dalam mencari bukti terciptanya kehidupan alam semesta. Hawking dan Penrose bahkan berhasil menunjukkan bahwa teori Einstein memiliki kekurangan. Sehingga membuka jalan bagi para ilmuwan untuk terus mencari kebenaran yang sesungguhnya. "Penelitian Hawking tentang singularitas akhirnya membawanya mempelajari aspek destruktif dan misterius yang bertebaran di seluruh alam semesta." tulis Marcus. Setelah mempelajari singularitas, Hawking mulai mengalihkan fokusnya pada salah satu teori paling menakjubkan mengenai alam semesta, yakni lubang hitam. Selama bertahun-tahun, Hawking membuat teori untuk menemukan kebenaran dari “objek hitam” yang baginya tidak benar-benar legam karena berpendar dengan partikel-partikel yang terlepas di sekitarnya. “Jauh dari hampa, ruang ini sesungguhnya sarat energi. Khususnya, partikel-partikel dan antipartikel-antipartikel subatomik yang terus-menerus bermunculan secara berpasangan.” katanya. Hawking mengeluarkan banyak spekulasi yang membuat para ilmuwan dunia kebingungan, sekaligus termotivasi untuk memperdalamnya. Sebagian ilmuwan mencoba membuktikan teorinya dengan memberikan data dan fakta baru. Namun hingga Hawking wafat, belum ada yang secara tepat menjelaskan keadaan dan keberadaan lubang hitam di alam semesta. Secara keseluruhan buku ini  layak untuk dibaca. Pemaparan secara ilmiah dan mendalam, dengan bahasa sederhana, tentang hasil kerja Hawking semasa hidupnya membuat para pembaca akan nyaman mencerna isinya. Walau alangkah lebih baik jika buku  Stephen Hawking A Mind Without Limits  ini memberikan lebih banyak ruang untuk menceritakan keseharian Hawking menghadapi penyakitnya sampai bisa terus berkarya mencengangkan dunia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page