top of page

Cerita Sedih dari Bukittinggi

Bagaimana orang-orang Minang menuturkan kejamnya perang saudara.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 17 Jun 2019
  • 3 menit membaca

BUKITTINGGI, 2008. Pagi baru saja menyeruak, ketika Sutan Iskandar berdiri mematung tepat di bawah Jam Gadang. Matanya seolah menyapu pemandangan sekeliling. Angin bulan Desember berdesir lembut, mengarahkan hawa sejuk pegunungan ke pori-pori tubuh. Dalam wajah sendu dan bibir agak gemetar, mulut Iskandar nampak komat-kamit membaca sebait doa.


“Semoga ninik mamak kita yang sudah berpulang dan menjadi korban perang saudara di masa lalu diterima di haribaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Amiiinnn…” ujarnya, nyaris tak terdengar.


Sutan Iskandar masih berusia 12 tahun ketika kejadian itu berlangsung. Dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan tentara-tentara pusat (sebutan orang-orang Minang saat itu kepada tentara pemerintahan Sukarno) menggiring ratusan orang dalam kelompok-kelompok kecil ke sekitar monumen Jam Gadang. Mereka mayoritas adalah laki-laki.


“Selanjutnya saya tidak menyaksikan lagi mereka diapakan, tapi memang saya mendengar tembakan berkali-kali dari arah Jam Gadang,” kenang lelaki kelahiran Bukittinggi pada 1947 itu. Apa yang terjadi di ranah Minang saat itu?


Tersebutlah PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang dicetuskan oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein (tokoh pejuang kemredekaan Sumatera Barat) pada 10 Februari 1958 di Padang. Gerakan ini sejatinya menurut sejarawan R.Z. Leirissa dalam PRRI Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis adalah koreksi politik terhadap pemerintahan Presiden Sukarno yang dianggap berat ke sebelah kiri.


Alih-alih menerima dengan lapang dada, kritik dan tawaran untuk membubarkan kabinet Djuanda, Presiden Sukarno malah memerintahkan tentara untuk menyerang Sumatera Barat. Maka diadakanlah Operasi 17 Agustus yang diluncurkan pada 17 April 1958, dipimpin oleh Kolonel Achmad Yani dengan mengirimkan pasukan ke wilayah-wilayah Sumatera Barat. Sejak itulah ranah Minang dibekap perang saudara yang memilukan.


Saya sendiri baru menulis kembali kisah sedih itu hari ini. Ketika kali pertama saya mendengarnya dari mulut Iskandar 11 tahun yang lalu, saya hanya menyimpan data sejarah tersebut dan belum sempat mengkonfirmasinya ke dokumen-dokumen atau buku-buku tentang gerakan PRRI. Hingga beberapa hari lalu saya menemukan sebuah buku berjudul PRRI: Pemberontakan atau Bukan? hasil riset seorang guru jebolan fakultas sejarah Universitas Negeri Padang bernama Syamdani.  


Dalam buku itu putra kelahiran Minang tersebut, menukil sebuah artikel yang pernah dimuat surat kabar Singgalang pada 20 Januari 2000 berjudul "Tragedi di Bawah Jam Gadang, Pasukan A. Yani Bunuh 187 Orang". Di artikel itu disebutkan dari jumlah 187 orang yang dibunuh hanya 17 orang yang teridentifikasi sebagai gerilyawan PRRI, sedangkan 170 lainnya adalah rakyat sipil yang belum tentu terlibat dalam gerakan itu. Rupanya apa yang diceritakan oleh Sutan Iskandar kepada saya 11 tahun lalu bukanlah isapan jempol semata.


Selain Insiden Jam Gadang, pembunuhan, penyiksaan dan teror pun banyak dialami oleh rakyat Sumatera Barat kala itu. Betti Yusfa dalam sebuah makalah yang dikeluarkan oleh IKIP Padang pada 1998, "Kekerasan dalam Zaman PRRI di Tlatang Kamang 1958-1961", menuliskan kisah pilu keluarga seorang ulama asal Kamang bernama Kari Mangkudung. Dari hasil wawancara Betti dengan seorang tokoh masyarakat di Kamang, Z. Sutan Kabasaran, dituturkan bagaimana keluarga Kari Mangkudung musnah dibantai tentara pusat.


“Mereka hanya menyisakan seorang bayi berusia tiga bulan yang kemudian dibawa seorang tentara pusat dan sampai sekarang tidak diketahui lagi di mana rimbanya,” ungkap Sutan Kabasaran seperti dikutip oleh Betti dalam makalahnya.


Betti juga mengungkap insiden di Desa Bansa pada 1959. Dari saksi sejarah bernama M. Datuk Manindieh dikisahkan tentang kisah sedih tiga pemuka masyarakat Desa Bansa bernama Datuk Kabasaran, Datuk Beco dan Datuk Alam. Tanpa sebab musabab, ketiga orang tua yang tak berdaya itu diperintahkan jalan ke Desa Pauh (berjarak 4 km dari Bansa) sambil diiringi oleh sekelompok tentara pusat.


Begitu sampai di Desa Pauh, para tentara itu menyuruh ketiga orang tua tersebut mendaki sebuah bukit. Sambil terseok-seok, ketiganya menuruti apa yang diperintahkan oleh para prajurit tersebut. Alih-alih dibebaskan, ternyata ketiganya hanya menjadi sasaran latihan tembak.


“Dari jarak yang cukup jauh, tentara pusat menembaki mereka satu persatu hingga mayat-mayat ketiganya bergulingan ke kaki bukit,” ungkap Datuk Manindieh.


Teror juga dilakukan oleh tentara pusat terhadap orang-orang Kuala Tangkar. Kesaksian seorang penduduk bernama Sanur dalam surat kabar Singgalang, 2 Februari 2000, menyebutkan bahwa pernah karena orang-orang Kuala Tangkar dianggap pro-PRRI, mereka menyerang desa itu dengan mengerahkan empat tank baja.


“Tank-tank itu menghujani rumah-rumah penduduk dengan peluru-peluru secara membabi buta hingga musnah terbakar,” ungkap Sanur.


Pembantaian massal juga pernah dilakukan tentara pusat pada November 1959 di Kamang. Pada hari Senin saat diadakan hari pakan/pasar, sejak pukul 7 pagi, tak hentinya tentara pusat mengirimkan peluru-peluru mortir dari Bukittingi. Tak cukup dengan menggunakan mortir, artileri berat dari Angkatan Darat pun ikut berbunyi disusul dengan serangan udara dari sebuah pesawat tempur. Akibatnya banyak rakyat bersimbah darah.


Teror pun dilakukan dengan mengumpulkan anak-anak dan perempuan. Mereka kemudian diinterogasi satu persatu dan disuruh mengaku bahwa suami-suami mereka terlibat dalam gerakan PRRI. Kemudian aksi-aksi identifikasi dilkukan oleh tentara pusat dengan memberi tanda silang besar pada rumah-rumah yang dicurigai salah satu anggota keluarganya terlibat dalam gerakan PRRI.


“Zaman itu adalah zaman yang penuh kesedihan, tak ada orang Minang yang hidup saat itu segera bisa melupakannya,” kata Sutan Iskandar, masih terngiang  begitu jelas di telinga saya.


1 Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
Dinilai 5 dari 5 bintang.

Saya baru mengetahui cerita ini semenjak dahulu membaca mengenai PRRI/PERMESTA ataupun mengenai pemberontakan PKI. Sungguh cerita yang memilukan terutama bagi rakyat Sumatra pada saat itu.

Suka
bg-gray.jpg
Pernah menjadi wartawan perang dan penerjemah dalam momen-momen penting sejarah dunia, Sosrokartono yang menguasai banyak bahasa menutup hidup dengan ilmu kebatinan.
bg-gray.jpg
Prasasti Tugu turut meriwayatkan Kali Bekasi dan Kali Cakung Lama. Satu dari tujuh prasasti penting warisan Tarumanagara.
bg-gray.jpg
This is a story of a watch repairman who contributed to Christianization in Surabaya, Indonesia. He wanted Javanese Christians to be like the Dutch.
bg-gray.jpg
Jambi termasuk daerah sulit direbut pasukan payung dan Gadjah Merah Belanda. Diprioritaskan untuk direbut karena menjadi penghasil minyak buat Indonesia.
Setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II, pasukan Soviet berusaha mencari jenazah Adolf Hitler. Penemuan jenazah mirip Hitler memicu spekulasi bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II, pasukan Soviet berusaha mencari jenazah Adolf Hitler. Penemuan jenazah mirip Hitler memicu spekulasi bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Dituding membocorkan rahasia negara, Asa Bafagih menjadi wartawan pertama yang dilaporkan ke Kejaksaan Agung. Peristiwa Bafagih sekaligus yang pertama dalam sejarah pers Indonesia ketika hak ingkar wartawan berhasil dipertahankan.
Dituding membocorkan rahasia negara, Asa Bafagih menjadi wartawan pertama yang dilaporkan ke Kejaksaan Agung. Peristiwa Bafagih sekaligus yang pertama dalam sejarah pers Indonesia ketika hak ingkar wartawan berhasil dipertahankan.
Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu mobilitas penduduk terbesar yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan perkembangan transportasi serta infrastruktur. Grafik berikut memperlihatkan dinamika kenaikan dan penurunan jumlah pemudik di Indonesia.
Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu mobilitas penduduk terbesar yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan perkembangan transportasi serta infrastruktur. Grafik berikut memperlihatkan dinamika kenaikan dan penurunan jumlah pemudik di Indonesia.
Propaganda perang terus bergonta-ganti wahana seturut perkembangan teknologi. Bila Indonesia punya K’Tut Tantri, dulu Blok Poros juga punya propagandis perempuan lewat radio. Kini Iran pakai AI untuk “nge-troll” Amerika.
Propaganda perang terus bergonta-ganti wahana seturut perkembangan teknologi. Bila Indonesia punya K’Tut Tantri, dulu Blok Poros juga punya propagandis perempuan lewat radio. Kini Iran pakai AI untuk “nge-troll” Amerika.
Kerajaan ini tercatat sebagai kerajaan tertua di Jawa. Raja Purnawarman, sebagai raja yang paling terkenal pernah menghadiahkan 1000 ekor sapi.
Kerajaan ini tercatat sebagai kerajaan tertua di Jawa. Raja Purnawarman, sebagai raja yang paling terkenal pernah menghadiahkan 1000 ekor sapi.
Sukses menjadi penyanyi di Belanda, Sandra Reemer amat didukung ayahnya yang mantan serdadu KNIL di Bandung.
Sukses menjadi penyanyi di Belanda, Sandra Reemer amat didukung ayahnya yang mantan serdadu KNIL di Bandung.
transparant.png
bottom of page