top of page

Hasil pencarian

9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Keluar dari Bayang-Bayang Liem Swie King

    HARIYANTO Arbi jadi satu dari sekian legenda bulutangkis Indonesia yang turut mengernyitkan dahi kala mendengar kabar Audisi PB Djarum hendak dihentikan mulai 2020. Ia sendiri jebolan PB Djarum dan berkat didikan klub yang lahir di Kudus, Jawa Tengah tersebut ia jadi termasuk eks atlet yang bergelimang gelar dunia. “Kami tiga bersaudara yg sangat berhutang budi dengan @PBDjarum berkat didikannya Bendera Merah Putih bisa kami kibarkan di manca negara. Sudah 50 tahun tak henti2nya @PBDjarum membina juara2 baru. Tetap semangat PB Djarum demi Indonesia Juara!!” cuitnya di akun Twitter -nya @arbismash . Darah Olahragawan Lahir dari keluarga olahragawan pada 21 Januari 1972 di Kudus, langkah Hariyanto lurus mengikuti jejak kedua kakaknya, Hastomo dan Eddy. Hastomo merupakan salah satu atlet binaan PB Djarum angkatan pertama sebagaimana maestro Liem Swie King. Hariyanto dan kedua kakaknya merupakan putra salah satu jagoan bulutangkis lokal, Ang Tjin Bik. Ang-lah yang memperkenalkan bulutangkis pada Hariyanto dan kedua kakaknya. Hariyanto mengikuti jejak Hastomo dan Eddy menseriusi bulutangkis dengan masuk PB Djarum. Ia masuk asrama Kaliputu pada 1982. “Paling dirindukan ya, kehidupan di asrama. Ada saja kegiatan. Kalau pas enggak latihan, bisa main bola, kadang tenis meja bareng-bareng. Begitu juga tradisi lari ke (bukit) Colo dan Kaliyitno. Lari jaraknya kira-kira 18 kilometer dari asrama,” kata Hariyanto mengenang, kala ditemui Historia di kantor Flypower, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Hariyanto Arbi di kantor Flypower (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Dalam biografi Hariyanto Arbi, Smash 100 Watt, wartawan senior Broto Happy Wondomisnowo mencatat, kecemerlangan Hariyanto sudah tampak sejak usia pelajar. Saat mengikuti Kejuaraan Pelajar se-Asia di Hongkong pada 1986, ia andil dalam membawa pulang gelar juara beregu. Prestasi Hariyanto dilanjutkan dengan gelar juara Invitasi Bulutangkis Dunia Yunior tiga tahun berselang. Era 1980-an menandai kemonceran Hariyanto di tingkat yunior. Di era 1990-an, namanya sudah melesat di level senior. Dari yang mulanya kalahan dari para seniornya seperti Joko Supriyanto, Ardy Bernardus Wiranata hingga Eddy Kurniawan, Hariyanto bangkit berkat dorongan mental dari para mentornya di PB Djarum. “Waktu itu memang sempat ada beberapa pelatih di pelatnas (PBSI, red. ) pernah ngomong bahwa prestasi saya sudah mentok. Biasanya yang bisa menguatkan itu orangtua dan klub. Jadi PB Djarum benar-benar membantu saya. Kalau lagi kesepian karena saya enggak ada sepantarannya di asrama PBSI, saya ‘ngungsi’ ke asrama PB Djarum Jakarta,” sambung Hariyanto. Bayang-Bayang Liem Swie King Perlahan tapi pasti, Hariyanto bangkit. Ia membuktikannya dengan menggamit gelar All England 1993. Gelar prestisius pertama itu tak pernah lekang dari ingatannya itu ia pertahankan di tahun berikutnya. “Kalau dulu kan PB Djarum identiknya dengan All England ya. Jadi waktu juara awal All England itu yang membanggakan banget. Jadi kalau zaman dulu kan Liem Swie King patokannya. Kalau sudah juara All England seperti dia, itu sudah luar biasa sekali,” lanjutnya. Lewat gaya permainannya yang atraktif dengan jumping smash -nya, tak ayal ia mulai disebut-sebut sebagai reinkarnasi Liem Swie King. “Ya saya sih senang-senang saja dibilang mirip Liem Swie King. Karena memang Om Swie King kan idola saya. Dan perjalanan dia untuk mencapai juara All England luar biasa,” tambah Hari. Hariyanto Arbi & Liem Swie King dengan jersey legendaris PB Djarum (Foto: Instagram @hariyanto_arbi) Semasa belia di kandang PB Djarum di Kudus, ia dibina para pelatihnya macam Arisanto dan Anwari dengan diberi patokan sosok Swie King. “Waktu kecil di tempat latihan, oleh pelatih kita diberitahu bahwa di Djarum ini ada sosok yang luar biasa, Liem Swie King. Bahwa dia kalau latihan enggak mau kalah, disiplin juga. Jadi kita kalau latihan diceritakan itu. Oh , kalau mau bagus ya diarahkannya mengikuti Om Swie King ini.” Smash 100 Watt Hariyanto lantas dikenal luas bukan hanya karena gelar-gelar prestisiusnya macam Thomas Cup 1994, dua emas Asian Games 1994 serta Kejuaraan Dunia 1995. Ia juga tenar lantaran senjata mematikannya yang ikonik, Smash 100 Watt, yang membuatnya keluar dari bayang-bayang Swie King. Dalam biografinya disebutkan bahwa julukan itu mencuat setelah ia ditantang seniornya, Ardy BW, untuk bisa mengalahkan Rashid Sidek di kandangnya pada final Malaysia Open 1993. Tantangan itu pun dijawab Hariyanto lewat perkataan bahwa dia akan mengalahkan Rashid dengan “Smash 100 (berkekuatan) Watt”. Celetukan itu lantas terdengar wartawan Indonesia dan ketika menang, sebutan itu muncul di headline beberapa suratkabar nasional. Pukulan ikoniknya itu menurut salah satu pelatihnya di PB Djarum, Arisanto, dalam  biografinya, dikatakan terinspirasi dari jumping smash Liem Swie King . Namun, Hariyanto tidak membenarkan 100 persen. “Benar bahwa inspirasi salah satunya dari Liem Swie King. Kedua, pelatih saya, Indra Gunawan, menyarankan juga melihat Mas Hastomo. Dia posturnya kecil tapi lompatan smash -nya tinggi. Saya disuruh coba latihan kayak gitu. Seperti menambah skipping , lompat pagar, drilling , latihan shadow /bayangan, banyak prosesnya sampai bisa kayak gitu,” tuturnya. Alhasil, gerakannya “Smash 100 Watt” tak 100 persen sama dengan jumpingsmash Swie King. Jika Swie King lazimnya lebih dulu ambil selangkah mundur sebelum melompat, Hariyanto langsung melompat dan melakukan smash keras itu. Hariyanto menutup kariernya tahun 2000. Enggan mengikuti jejak Hastomo yang masih melatih di PB Djarum, Hariyanto memilih berbisnis peralatan olahraga bersama seniornya Fung Permadi dengan membangun merek Flypower. Hariyanto Arbi saat menangi All England 1994 (kiri) & emas Asian Games 1994 di Hiroshima (Foto: Instagram @hariyanto_arbi) Di balik suksesnya dalam karier dan bisnis, Hariyanto masih menyimpan satu penyesalan. Dari semua gelar yang dibanggakannya, ia kecewa belum pernah menyumbangkan medali olimpiade buat negerinya. Pada Olimpiade 1992 di Barcelona ia tak masuk dalam line-up tim. Di Olimpiade Atlanta 1996, ia disingkirkan wakil Denmark Poul-Erik Høyer Larsen di semifinal 11-15 dan 6-15. Untuk perebutan perunggu pun ia keok di tangan Rashid Sidek lewat pertandingan tiga set: 15-5, 11-15 dan 6-15. Ia pun gagal menambah pundi medali dari cabang bulutangkis, sebagaimana kelima rekannya: Ricky Subagdja/Rexy Mainaky (emas), Mia Audina (perak), serta Susy Susanti dan Denny Kantono/Antonius Ariantho (masing-masing perunggu). “Waktu Olimpiade 1996 itu paling pahit. Saya sudah masuk semifinal tapi tidak mendapatkan medali sama sekali. Itu pengalaman yang sangat mengecewakan buat saya. Dulu sebelumnya kan belum ada olimpiade (baru dipertandingkan 1992). Patokan prestis biasanya All England. Setelah ada olimpiade, semua mencita-citakan juara di olimpiade,” tandasnya.

  • Hatta Bikin Pengusaha Hasjim Ning Pening

    HASJIM Ning, pengusaha-sahabat Presiden Sukarno sekaligus keponakan Wapres Moh. Hatta, selalu ingat pribadi Hatta sangat teguh memegang prinsip. Salah satu prinsip yang teguh dipegang Hatta adalah ketidakmauannya menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. “Misalnya, pada suatu hari di awal tahun 1950, Bung Hatta yang telah begitu lama tidak ketemu dengan ibundanya sudah demikian rindunya. Aku disuruh menjemput ke Sumedang,” kata Hasjim dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Bagi Hasjim, permintaan Bung Hatta kurang sesuai dengan adat ketimuran. Hasjim menyarankan Bung Hatta mengirimkan mobil dinasnya untuk menjemput sang ibu jika Bung Hatta tak punya waktu. Dengan menunjukkan bakti kepada ibunya begitu, Hasjim yakin sang ibu pasti bangga. “Tidak bisa. Pakai saja mobil Hasjim,” jawab Bung Hatta. “Mobil itu bukan kepunyaanku. Mobil itu milik negara.” Hasjim yang bingung dengan sikap pamannya itu pun mau-tak mau menurutinya. Kebingungan itu pula yang dirasakan Hasjim ketika suatu kali menemui Bung Hatta dan menjelaskan keinginannya untuk berderma. “Oom,” kata Hasjim, “perusahaanku ingin menyumbang, karena memperoleh untung lumayan tahun ini. Siapa menurut Oom yang perlu dibantu?” “Hasjim tentu lebih tahu. Kasihkan padanya,” jawab Bung Hatta singkat dan datar. “Baik juga kalau ada yang Oom calonkan,” kata Hasjim terus mengejar. “Coba Hasjim tanya Margono!” Hasjim lalu menemui Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) sekaligus ayah ekonom Soemitro Djojohadikusumo, yang dimaksud Hatta. Margono merupakan pendiri sekaligus ketua Yayasan Bung Hatta, yayasan yang bergerak di bidang perpustakaan. Kepada Margono, Hasjim menceritakan soal pembicaraannya dengan Hatta. Margono langsung tertawa begitu mendengar penjelasan Hasjim. “Bung Hatta, Bung Hatta. Untuk menyebut yayasan yang memakai namanya saja ia tidak mau. Ia malah menyuruh Hasjim kepadaku sebagai ketua yayasan,” kata Margono, dikutip Hasjim. Sebagai salah seorang sahabat dan pernah menjadi bawahan Hatta di Departemen Urusan Perekonomian semasa pendudukan Jepang, Margono tahu betul pribadi Hatta. “Ia seorang yang keras memegang ajaran dan hukum agamanya, tanpa fanatik dan mengganggu orang-orang lain. Di dalam sikap hidupnya ia selalu mendengrakan suara hati nuarninya dan sangat menghargakan waktu sampai kepada soal yang berkecil-kecil,” kata Margono dalam otobiografinya, Kenang-Kenangan dari Tiga Zaman: Satu Kisah Kekeluargaan Tertulis . Penjelasan Margono pun membuka pintu lebih bagi Hasjim dalam memahami Bung Hatta. “Seringkali sikap Bung Hatta itu menyesakkan napasku karena aku tidak bisa mengerti. Kalau ingin mengetahui sikapnya, tak ada gunanya mengajaknya berdebat. Ia selalu punya alasan. Tapi yang terutama ia tidak pernah mau berubah dari pendiriannya semula,” kata Hasjim. Keteguhan sikap Hatta itu makin membuat Hasjim enggan memanfaatkan kedekatannya dengan Bung Hatta untuk meminta katebelece . Namun, suatu ketika, keadaan memaksa Hasjim minta katebelece kepada Bung Hatta. Hasjim memintanya untuk keperluan bisnisnya ke Amerika Serikat (AS). Pasalnya, Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Jakarta baru akan memberinya visa jika ada jaminan dari dua orang terkemuka Indonesia. Hasjim langsung mendatangi Bung Hatta usai mendapat pemberitahuan dari Kedubes AS. Dia yakin bakal mendapatkan apa yang diinginkannya dari Bung Hatta mengingat perjalanan bisnisnya juga menyangkut kepentingan negara. Setelah menceritakan duduk perkaranya, Hasjim meminta jaminan tertulis kepada Bung Hatta. Alih-alih  mendapatkannya, Hasjim justru ditanya balik oleh Bung Hatta. “Mengapa tidak Hasjim minta pada presiden direktur Chrysler saja?” kata Bung Hatta. “Akan memakan waktu lama, Oom,” jawab Hasjim menjelaskan lamanya proses surat-menyurat formal Indonesia-AS saat itu yang bisa memakan waktu sebulan. “Tidak mengapa menunggu.”

  • Teman Lama Ternyata CIA

    UPAYA pemerintah pusat meredam pergolakan di Sumatra dan Sulawesi menemui jalan buntu. Pemerintah tak bisa memenuhi tuntutan para panglima daerah. Mereka juga tak mau berkompromi dengan tuntutannya, terutama pulihkan dwitunggal Sukarno-Hatta, ganti pimpinan TNI AD (KSAD Mayjen TNI A.H. Nasution diganti sebagai langkah pertama stabilisasi TNI), otonomi daerah yang luas, dan melarang komunisme yang hakikatnya berorientasi internasional.

  • Film Indonesia Pertama yang Menggunakan Efek Khusus

    Babi kecil itu ditaruh di atas meja untuk disembelih. Ketika sang jagal sedang mengambil kapak, si babi berubah menjadi seorang manusia berkepala babi. Sang jagal kaget dan ketakutan. Manusia babi itu lalu menghilang. Tie Pat Kai namanya, siluman babi itu hendak memperistri Tjoei Lan, anak gadis seorang hartawan. Ia berubah menjadi pemuda tampan untuk mengelabui Tjoei Lan dan keluarganya. Setelah berhasil menikah, mereka dikaruniai seorang anak berwujud babi. Akhirnya, penyamaran Tie Pat Kay terbongkar. Tie Pat Kay Kawin  (1935) merupakan film besutan The Teng Chun produksi Java Industrial Film. Film ini merupakan koleksi film tertua yang dimiliki Indonesia, yang saat ini tersimpan di Sinematek. Namun, dari durasi 43 menit, hanya 21 menit yang bisa ditonton. Sebagian film telah rusak. “Itu yang bisa diselamatkan, sisanya kondisinya tidak memungkinkan. Ada pula yang semacam mengkristal,” kata Budi Ismanto, pekerja Sinematek. Film ini merupakan salah satu film era awal yang menggunakan efek khusus untuk memvisualisasikan filmnya. Efek-efek khusus digunakan pada adegan perkelahian, perubahan wujud atau bentuk, serta jurus-jurus yang menunjukkan kesaktian. Misalnya pada saat babi berubah menjadi manusia berkepala babi, terdapat kilatan putih pada tubuh babi lalu membesar hingga berubah menjadi siluman babi. Siluman babi mengeluarkan jurus berwujud kilatan putih. Jika saat ini efek khusus menggunakan CGI atau Computer Generated Image , seperti pada film-film superhero , film  Tie Pat Kay Kawin ternyata hanya menggunakan teknik sederhana dan sangat manual. Agustinus Dwi Nugroho, pengajar di Program Studi Media Rekam, Jurusan Film dan Televisi Institut Seni Yogyakarta (ISI), dalam "Special Effect Technology in Film Tie Pat Kay Kawin (1935) and Tengkorak Hidoep (1941)" yang dipresentasikan di International Conference for Asia Pasific Art Studies (ICAPAS) 2017 menyebut bahwa efek-efek khusus tersebut dibuat dengan teknik scratch atau goresan untuk merusak lapisan emulsi pada pita seluloid. Frame demi frame dirusak lapisannya dengan bentuk gambar berbeda untuk menghasilkan gambar bergerak. Teknik untuk menggerakkan efek goresan ini biasanya disebut teknik stop motion . “Untuk menghasilkan efek berdurasi 1 detik maka harus secara manual menggores 24 frame sesuai gambar yang diinginkan. Namun ada pula frame yang hanya digores kurang dari 24 frame , maka efek yang dihasilkan terlihat bergerak sangat cepat, dengan motivasi membentuk efek kecepatan,” jelas Dwi. Warna putih menunjukkan goresan pada frame. (Dok. Agustinus Dwi Nugroho). Bentuk-bentuk seperti kilatan cahaya dan seperti kobaran api akan dihasilkan dari teknik ini. Goresan pada lapisan emulsi seluloid mengakibatkan warna yang muncul di frame berwarna putih. Efek scratch tidak hanya muncul di shot statis, namun juga muncul di shot dengan pergerakan kamera dengan teknik pan. Efek scratch dikombinasikan transisi editing (transisi cut ) untuk menghasilkan efek khusus yang kompleks. Transisi editing dipakai pada adegan Tie Pat Kay yang ketika menghilang ( out frame ) ataupun muncul ( in frame ) di frame secara tiba-tiba. Visualisasi efek khusus lainnya juga terdapat pada perubahan bentuk karakter, dan obyek. Perubahan bentuk atau wujud ini memberikan efek transisi jump cut . Menurut Dwi, teknik-teknik efek khusus yang dipakai Tie Pat Kay Kawin ini belum ditemui di film-film era selanjutnya dan perlu diteliti lebih lanjut. “Saat ini yang saya tau belum ada. Saya tanya petugas Sinematek sepertinya juga nggak ada film sejenis. Di film Tengkorak Hidoep yang saya teliti pun tekniknya sangat sederhana dan tidak ada teknik scratch effect -nya,” kata Dwi kepada Historia . Penggunaan efek khusus pada era early cinema bisa dijumpai pada karya-karya George Melies, sutradara asal Prancis. Melies membuat ratusan film pendek pada 1896-1913 yang penuh trik dan efek khusus. A Trip to the Moon (1902) adalah salah satu karyanya yang kental akan efek khusus. Namun belum diketahui apakah George Melies yang menginspirasi The Teng Chun. “Kesimpulan sementara, dilihat dari tekniknya, di film-film George Melies menggunakan teknik-teknik seperti transisi editing dan properti asli dalam filmnya, sedangkan di film Tie Pat Kay Kawin juga menggunakan hal yang sama namun juga ada satu teknik lagi yang dinamakan scratch effect (menggores seluloid) di film ini yang secara dominan dipakai,” ungkap Dwi. Film-film George Melies lebih banyak menggunakan trik-trik serta ilusi sulap mengingat ia juga merupakan seorang pesulap. “Di film-film George Milies sepertinya jarang menggunakan scratch ini,” sebut Dwi. Selain  Tie Pat Kay Kawin , Dwi juga meneliti film Tengkorak Hidoep . Penggunaan efek khusus film ini terdapat pada adegan bangkit dari kubur yang memperlihatkan properti asli berupa bentuk kerangka tengkorak berubah menjadi manusia. Efek ini dibuat mengunakan transisi dissolve . Properti berbentuk kerangka dimungkinkan merupakan replika kerangka manusia. ”Transisi editing dissolve yang secara perlahan mengubah sosok kerangka menjadi Maha Daru mampu memberikan efek kengerian. Transisi dissolve macam ini tidak muncul dalam Tie Pat Kay Kawin . Teknik ini selalu digunakan pada adegan yang menunjukkan perubahan wujud karakter serta muncul/hilangnya tokoh dalam frame ,” jelas Dwi.

  • Kisah Garda Bahari di Awal Revolusi

    KETIKA berpidato menyambut HUT TNI AL ke-74 pada Selasa, 10 September 2019, KSAL Laksamana Siwi Adji menekankan fakta historis bahwa TNI AL berembrio dari kekuatan rakyat. “Bersama rakyat, TNI AL siap membangun SDM unggul, pondasi Indonesia Maju,” ujar Laksamana Adji di dermaga Koarmada I Pondok Dayung, Jakarta Utara. Eksisnya TNI AL, 10 September 1945, berangkat dari lahirnya Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut. Sejalan dengan pembentukan tentara resmi oleh pemerintah, nama itu pun selanjutnya berubah secara berurutan menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut, Tentara Republik Indonesia (TRI) Laut, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), dan terakhir TNI AL.  Ia merupakan badan perjuangan yang diisi para pelaut yang digembleng sejak zaman Belanda, Jepang, ditambah para pemuda dan buruh pelabuhan di kota-kota pesisir. “Selama 74 tahun TNI Angkatan Laut menunjukkan jati dirinya sebagai komponen pertahanan negara yang tangguh di tengah perubahan lingkungan strategis yang kian dinamis,” lanjut Adji dalam amanatnya selaku inspektur upacara. Selaras dengannya, maka defile kali ini tak hanya diikuti satuan-satuan di TNI AL, namun juga satu barisan BKR Laut lengkap dengan atribut masa 1945. Pasukan BKR Laut memang bukan diisi para pejuang sebenarnya, namun oleh puluhan reenactor (pereka ulang sejarah) dari Jakarta, Bekasi, Bogor, Bandung, dan Surabaya. Kehadiran para reenactor justru mendapat tepuk tangan riuh, termasuk dari KSAL, lantaran mencerminkan pasukan laut di masa awal kemerdekaan.  Berdirinya BKR Laut Pusat, menurut Zamzulis Ismail dan Burhanuddin Sanna dalam Siapa Laksamana R.E. Martadinata, dibidani sejumlah pelaut di kantor bekas gedung Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) Kali Besar Barat yang lantas disahkan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Markas pertamanya di gedung SMA Budi Utomo, Jalan Budi Utomo (kini SMA Negeri 1 Jakarta). “Dipelopori oleh kelompok pemuda pelaut bekas siswa dan guru SPT serta pelaut-pelaut dari Jawatan Pelayaran Jawa Unko Kaisha , Akatsuki Butai yang antara lain dikoordinasikan oleh Mas Pardi, Adam, RE Martadinata, R. Soerjadi, Oentoro Koesmardjo dan Jasanatakoesoemah, pada tanggal 10 September 1945 berhasil dibentuk BKR Laut Pusat.” Bara di Utara Jakarta Kedaulatan republik yang baru beberapa pekan lahir mulai terusik dengan kedatangan Sekutu, 16 September 1945. Adalah BKR Laut dan para pemuda pelabuhan yang pertamakali berkontak dengan Sekutu di Tanjung Priok. Mereka datang disertai Belanda (NICA). “Karena sikap serdadu-serdadu Inggris dan NICA sangat angkuh dan sama sekali tidak mau menghargai aparatur pelabuhan RI, maka terjadilah bentrokan senjata antara mereka dengan para pemuda pejuang (BKR Laut, red.) di sekitar Menara Air, Stasion (Stasiun Tj. Priok), dan Zeeman’s Huis (mess pelaut),” ungkap tim Dinas Sejarah Militer Kodam V Jaya dalam Sejarah Perjuangan Rakyat Jakarta, Tanggerang dan Bekasi dalam Menegakkan Kemerdekaan R.I. Barisan BKR Laut di HUT TNI AL ke-74 oleh puluhan reenactor Bekasi, Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya. (Ist/Indra Eka Saputra). Pasukan BKR Laut di Utara Jakarta dipimpin Matmuin Hasibuan, pemuda Batak yang sebelumnya “bos” buruh pelabuhan. Oleh Letkol Moeffreni Moe’min, pemimpin BKR Jakarta Raya, Hasibuan dan Martadinata ditunjuk jadi penanggungjawab pengamanan wilayah Utara Jakarta merangkap BKR Laut Cabang Jakarta. Hasibuan bersama pasukannya baku-tembak dengan pasukan Inggris dan NICA mengakibatkan markas BKR Laut terpaksa dipindah. Menukil Sejarah Teluk Jakarta karya Dinas Museum Sejarah dan DKI Jakarta, markas BKR Laut dipindah dari gedung SMA Budi Utomo ke Gang Z, mengungsi ke kantor Jawatan Pelabuhan dan lantas ke Cilincing. Sampai awal Oktober 1945, Inggris dan NICA sudah menguasai Priok dan kemudian memperluas basis hingga ke Cilincing.  Hasibuan dan pasukannya mendapat bantuan serdadu dari segala pelosok Utara Jakarta dan Bekasi untuk membuat perimeter pertahanan di sekitar Jembatan Kali Kresek, Cilincing. Di Jembatan Kali Kresek inilah sekira 6 Oktober 1945 pecah pertempuran pertama antara serdadu laut republik (per 5 Oktober BKR Laut berubah menjadi TKR Laut) dengan Sekutu dan NICA. Meski skala kecil, pertempuran tergolong sengit lantaran berlangsung sehari semalam. Inggris sampai mengerahkan pesawat-pesawat P-40-nya untuk mematahkan perlawanan kaum republik. “Cilincing merupakan medan pertempuran yang menguntungkan pihak RI karena daerah penuh ditumbuhi pepohoan mangrove, banyak sungai kecil, jalannya tak beraspal, sempit dan berbelok-belok,” lanjut tim Kodam Jaya. Perimeter di Jembatan Kali Kresek akhirnya jebol juga. Pada 10 November, Sekutu dan NICA sudah merangsek ke arah Koja, Jembatan Tinggi, dan Pasar Ikan. Sejak jebolnya “gerbang” Priok, teror-teror terhadap rakyat meningkat di berbagai pelosok Jakarta. Kondisi tersebut membuat PM Sutan Sjahrir mengeluarkan maklumat pada 19 November 1945. Seluruh satuan TKR diperintah meninggalkan Jakarta.  Sisa TKR Laut pimpinan M. Hasibuan yang sebelumnya berbasis di Priok dan Cilincing, pun menyingkir ke Babelan, Bekasi. Mereka mengonsolidasikan kekuatan dengan Laskar Hisbullah pimpinan KH. Noer Ali di Utara Bekasi. Sementara, Martadinata dan KSAL Laksamana III Mas Pardi sudah pindah ke Yogyakarta pada 15 November 1945.  Di Bekasi, pasukan Hasibuan lagi-lagi terlibat pertempuran sengit. Bersama Laskar Hisbullah, TKR Laut terjun di Palagan Sasak Kapuk (kini Pondok Ungu), 29 November 1945. Tiada yang menang dalam palagan ini.  Beberapa hari setelahnya, KH Noer Ali prihatin dengan tertangkapnya Hasibuan oleh NICA. Hasibuan ditangkap pada 5 Desember 1945 saat berperjalanan bersama wedana Priok Hindun Witawinangun ke kantor penghubung TKR di Jalan Cilacap, Jakarta.  “Mereka ditahan dan disiksa NICA di Kamp Polonia hingga Hindun Witawinangun tewas. Madnuin (Hasibuan) juga disiksa, namun selamat. Ia baru dibebaskan 15 Desember 1945,” tulis Ali Anwar dalam biografi KH Noer Ali, Kemandirian Ulama Pejuang menyebut.  Setelah Agresi Militer Belanda I, KH Noer Ali dan Hasibuan terus mundur dari Bekasi. KH Noer Ali akhirnya menyingkir ke Yogyakarta dan pasukan Hasibuan hijrah ke Tegal.

  • Langsa Diancam, Gubernur Hasan Bertindak Cepat

    SUATU hari seorang opsir Jepang datang tergesa-gesa menghadap Gubernur Sumatra Teuku Mohammad Hasan. Dia menyampaikan pesan Panglima Tentara Jepang di Pematang Siantar. Isinya, mendesak Hasan supaya meninjau Kota Langsa karena keadaan sangat genting: akan terjadi pertempuran antara pihak militer Jepang dengan para pejuang Indonesia. “Mengingat kepentingan keamanan umum dan kepentingan negara, maka desakan Jepang ini saya setujui,” kenang Hasan dalam memoarnya Mr. Teuku Hasan dari Aceh ke Pemersatu Bangsa . Pada 29 Desember 1945, rombongan Hasan berangkat menuju Langsa. Setengah perjalanan tibalah di Kuala Simpang. Hasan menemui pimpinan tentara Jepang, Mayor Jenderal Sawamura. Laporan Sawamura menyebutkan kejahatan orang-orang Langsa. Mereka telah merampas senjata milik Jepang. Padahal, tentara Jepang telah menyerahkan senjatanya kepada TKR, pimpinan Letkol Bachtiar. Selain itu, TKR merampas pula obat-obatan, uang, beras, pakaian, makanan, kendaraan dan kendaraan Jepang. Perampasan yang terjadi membuat tentara Jepang siap siaga menggempur Langsa. Moncong meriam telah diarahkan. Sawamura menuntut senjata yang dirampas dikembalikan. Hasan meneruskan perjalanannya ke Langsa.   Tiba di Langsa, Hasan bertemu dengan T. Hasan Ibrahim, pemimpin laskar rakyat. Dari Ibrahim didapati keterangan tentang tindakan Jepang yang kejam dan kasar. Makanya rakyat Aceh dari seluruh penjuru berduyun-duyun ke Langsa. Bersenjatakan tombak, rencong, bambu runcing, mereka hendak menggempur tentara Jepang. Pada 30 Desember 1945, diadakanlah rapat antara Gubenur Sumatra dengan pemuka rakyat bertempat di rumah asisten residen. Sepanjang jalan dipenuhi oleh laskar rakyat yang membawa aneka senjata tajam. Mereka berjalan sambil melantunkan kalimat syahadat dan ayat-ayat Al- Qur’an. “Keadaan suasana waktu itu sangat seram dan tegang, seolah-olah hendak menyerbu saja tentara Jepang yang kejam itu,” kata Hasan.Setelah dengar pendapat, Hasan berkesimpulan pertempuran dengan Jepang buang-buang tenaga dan waktu. Tengah hari, Hasan berangkat dari Langsa menuju Kuala Simpang untuk berunding dengan Sawamura. Reaksi Sawamura tidak disangka-sangka. Dia tetap bersikukuh agar senjata Jepang dikembalikan. Sawamura lantas memanggil opsir-opsirnya dan memberikan perintah. Seorang kolonel yang bertugas sebagai penerjemah memberi tahu Hasan bahwa Sawamura marah. Ultimatum dilontarkan: besok pagi pukul 6 meriam-meriam akan ditembakan ke Kota Langsa sampai hancur. Hasan melobi pihak Jepang untuk mengulur waktu. Waktu tambahan diberikan hingga pukul 12 untuk pengembalian senjata. Kembali ke Langsa, Hasan bertindak cepat. Dia meminta komandan TKR dan kepala polisi setempat untuk mencari beberapa pucuk senapan rampasan, lalu menyerahkannya langsung kepada Sawamura. Hasan juga membujuk Hasan Ibrahim agar menyerahkan senjata yang dirampas oleh para laskar. Mendengar anjuran Hasan, Ibrahim menyadari bahaya yang akan menimpa Kota Langsa. Dia berjanji menyerahkan beberapa pucuk senjata kepada Hasan untuk dikembalikan kepada pihak Jepang. Pagi hari, tanggal 31 Desember 1945, sudah terkumpul puluhan pucuk senapan di kediaman Hasan. Pukul 9 pagi, semua barang itu diantar oleh staf Hasan, Abdul Xarim MS ke Kuala Simpang. Sebelum jam 12, sampailah senjata rampasan itu kepada pihak Jepang. Kepada rakyat di Langsa, Hasan memberi penjelasan tentang keputusannya untuk mengembalikan senjata rampasan. Maka terhindarlah Kota Langsa dari amukan balatentara Jepang.

  • Mencari Sriwijaya di Jambi

    Beberapa ahli ragu kalau pusat Kedatuan Sriwijaya ada di Palembang. Mereka yakin lokasi Sriwijaya harus dicari di Jambi. Salah satunya arkeolog R. Soekmono yang mengemukakan pendapatnya dua kali dalam dua seminar berbeda. Pada 1958, Soekmono menyampaikannya lewat tulisan “Tentang Lokasi Sriwijaya” yang terbit dalam Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional I . Pendapatnya kembali dia perkuat pada 1979 lewat tulisan “Sekali Lagi Tentang Lokasi Sriwijaya” di Pra Seminar Penelitian Sriwijaya . Berdasarkan kajian geomorfologis, dalam tulisannya itu, dia menyimpulkan kalau Sriwijaya tak tepat berlokasi di Palembang sekarang. Namun, lebih tepat di Jambi, di tepian Sungai Batanghari.  Menurutnya, letak Jambi istimewa. Lokasinya ada di dalam teluk yang dalam dan terlindung. Namun, ia langsung menghadap ke lautan lepas tempat persimpangan jalan pelayaran antara Laut Cina Selatan di timur, Laut Jawa di Tenggara, dan Selat Malaka di barat laut. “Maka dibanding dengan Palembang dahulu. Jambi memiliki unsur-unsur yang lebih menguntungkan untuk menjadi pusat kegiatan kerajaan maritim Sriwijaya itu,” tulis Soekmono. Pendapat Soekmono sepertinya tak mendapat pembuktian lebih lanjut. Banyak ahli yang kemudian tetap percaya bahwa ibu kota Sriwijaya berada di Palembang. Padahal, bukan hanya Soekmono yang berpendapat bahwa Sriwjaya berlokasi di Jambi. Sejarawan O.W. Wolters berpendapat Sriwijaya sempat berpindah ibu kota dari Palembang ke Jambi. Berdasarkan kajian ulang terhadap sumber-sumber yang ada, Wolters berkesimpulan bahwa antara 1079 dan 1082 pusat Sriwijaya pindah ke Jambi sekarang. Sementara pemikiran yang terbaru meyakini kalau ibu kota Sriwijaya berada di Jambi sejak awal berdiri hingga keruntuhannya pada abad ke-12. Dengan kata lain, ibu kota Sriwijaya tak pernah berpindah. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Kaladesa menjelaskan, hipotesis itu sebenarnya mendukung pendapat Soekmono. Pendapat Agus didasarkan pada catatan biksu Tiongkok, I-Tsing. Ketika singgah di Sriwijaya, dia menyaksikan ada ribuan biksu yang belajar di kota Foshi. I-Tsing pun menganjurkan agar para pendeta Tiongkok untuk belajar terlebih dulu bahasa Sanskerta di Sriwijaya sebelum melanjutkan ziarah ke India. Berita I-Tsing itu didukung oleh temuan arkeologis di situs Muarojambi. Di sana, terdapat gugusan monumen Buddhis dengan kolam buatan, saluran air, bukit buatan simbol Mahameru (Bukit Perak), fragmen arca pantheon Buddha, dan ribuan pecahan keramik Tiongkok. Kesaksian I-Tsing menunjukkan adanya aktivitas agama Buddha yang luas dan ramai. Menurut Agus, ribuan biksu itu harus meminta sedekah makan sehari dua kali kepada penduduk desa. Artinya, di dekat pusat keagamaan Muarojambi harus ada permukiman penduduk yang ramai atau kota sehingga dapat menyongkong kegiatan para biksu. “Kota besar itu tidak lain adalah Sriwijaya,” tulis Agus. Di Sriwijaya pun, menurut I-Tsing, seseorang yang berdiri tidak mempunyai bayangan. Itu berarti matahari tepat di atas kepala. Sementara di Palembang, seseorang masih punya bayangan jika berdiri di tengah hari. “Tidak ada bayangan apapun, apalagi jika orang itu berdiri di situs Bukit Perak yang terletak di ujung rangkaian paling barat gugusan monumen Buddha di situs Muarojambi,” tulis Agus. Jambi, lanjut Agus, merupakan kawasan pilihan dalam konsep Buddhisme. Beberapa toponimi dapat dikaitkan dengan konsep keagamaan. Misalnya, Sungai Batanghari yang berarti sungai milik Avalokiteswara. “Kata hari berasal dari mantra pemujaan kepada Avalokiteswara yang berbunyi ' hrih …',” lanjutnya. Salah satu aspek Awalokiteswara ialah Hariharihariwahanodhbawa-Lokeswara. Ia merupakan Dhyani Bhoddisattwa dalam agama Buddha Mahayana yang dipuja oleh kaum Tantra. Nama Sungai Batanghari jelas berasal dari pemujaan Awalokiteswara Dhyani Bhoddisattwa yang welas asih. “Dapat diibaratkan bahwa aliran Sungai Batanghari yang tidak pernah berhenti mengalir seakan-akan mantra yang terus menerus dikumandangkan untuk memujanya,” tulis Agus. Adapun kata jambi atau jambe adalah nama lain tanaman pinang. Dalam kajian relief candi Jawa Kuno, diketahui kalau penggambaran pohon pinang penting dalam pemujaan dewa. Menurut Agus, pohon pinang atau jenis tanaman yang mirip dengan tal sangat disenangi para dewa. Berdasarkan mitologi, kekuatan dewa-dewa dapat bersemayan di daun tal. Karenanya, ketika para pujangga mengguratkan karya sastranya, pohon pinang, enau, kawung, lontar, dan sejenisnya dapat dianggap sebagai penghubung antara dunia manusia dan dewa-dewa. Dengan begitu, jika suatu daerah banyak ditumbuhi pohon pinang dan sejenisnya, maka daerah itu dianggap akan menjadi kesenangan para dewa. Di daerah itulah kekuatan dewata dapat turun naik dari bumi ke dunia kedewataan. “Jadi, Jambi merupakan kawasan yang dipilih bagi pengembangan agama Buddha pada zaman Sriwijaya di Sumatra, bahkan di Asia Tenggara,” tulis Agus. Ditambah lagi, di Pulau Sumatra tak ada kompleks bangunan suci Buddha seluas Muarojambi. "Karenanya, pusat Sriwijaya haruslah berlokasi di Jambi, tak jauh dari pusat keagamaan, Situs Muarojambi," tulis Agus. Sementara itu, Palembang kedudukannya pada masa itu sama dengan Bangka, Lampung, dan daerah Merangin, Jambi. Semuanya didatangi oleh balatentara Sriwijaya untuk kemudian dikuasai dan ditancapkan prasasti Jayastambha . Isinya, kutukan bagi siapapun yang coba-coba melawan raja. “Raja Sriwijaya tidak pernah mengeluarkan Jayastambha yang mengutuk penduduk kotanya sendiri,” tulis Agus.

  • Gelegar Senjata Biologis Cacar

    Sebelum vaksinnya ditemukan, penyakit cacar amat mematikan. Daya mematikannya makin bertambah karena virusnya mudah menyebar. Wabah cacar pun menjadi teror mengerikan bagi penduduk. Kengerian inilah yang dimanfaatkan para komandan perang untuk melemahkan pasukan lawan.  Pada awal abad ke-14, tentara Tartar melempari musuhnya dengan mayat penderita cacar untuk melemahkan lawan. Praktik ini jadi salah satu contoh penggunaan cacar sebagai senjata biologis untuk membunuh sebagian besar populasi. Dalam “Smallpox: a Disease and a Weapon”, fisikawan Rusia Dr. Ken Alibek menyebut cacar dijadikan senjata biologis dalam perang antara Prancis dan Inggris di Amerika Utara (kini Kanada) pada 1754-1767. Sebagian penduduk Indian di Amerika Utara berada di pihak Prancis. Banyaknya pasukan dari pihak Prancis membuat Inggris putar otak untuk mencari siasat. Dalam laporan kepada atasannya Colonel Hendry Bouquet di Markas Philadelphia, pemimpin Fort Pitt Kapten Inggris Simeon Ecuyer menyatakan keadaan Inggris di Amerika Utara terdesak. Rumahsakit di Fort Pitt sedang sibuk menangani kasus cacar. Sementara, benteng di Fort Pitt berhasil diduduki pribumi (Indian) dan Prancis. Bouquet kemudian meneruskan laporan ini ke Sir Jeffery Amherst, panglima pasukan Inggris di Amerika Utara. Amherst yang berdarah dingin langsung membalas surat itu. “Apakah ada kemungkinan untuk menyebarkan cacarnya ke orang-orang Indian? Dalam situasi ini kita harus menggunakan segala strategi untuk melemahkan mereka,” kata Amherst dalam suratnya, dikutip History.com. “Bagaimanapun, saya akan menjaga diri sendiri supaya tidak tertular,” balas Bouquet dalam suratnya, menyanggupi perintah Amherst. Para serdadu Inggris lalu ditugaskan mendistribusikan selimut bekas penderita cacar dari rumahsakit ke penduduk Amerika. Cacar pun mewabah. Orang Amerika yang tidak pernah bersinggungan dengan cacar, tidak punya imunitas. Epidemi ini membunuh setengah dari populasi. Cacar juga digunakan sebagai senjata selama Perang Revolusi Amerika pada 1775-1783. Selama musim dingin 1775, tentara Amerika berusaha membebaskan Quebec dari pengaruh Inggris. Setelah berhasil merebut Montreal, usaha ini hampir berhasil. Namun pada Desember 1775, pempimpin pasukan Inggris mengirim warga yang terkena cacar untuk menulari pasukan Amerika. Cara ini berhasil membunuh 10 ribu orang Amerika. Wabahnya menimbulkan kekacauan. Ancaman cacar sebagai senjata biologis baru bisa diredam ketika dokter Inggris Edward Jenner menemukan vaksin cacar pada Mei 1796. Jenner menemukan seorang pemerah susu bernama Sarah Nelms yang terserang cacar sapi. Sarah punya bintil-bintil cacar sapi di tangan dan lengannya. Ketika merawat Sarah, Jenner mengambil kesempatan untuk menguji teorinya. Jenner mengambil nanah cacar sapi di lengan sarah dan memindahkannya (inokulasi) ke tubuh James Phipps, anak tukang kebunnya yang baru berumur delapan tahun. James lalu mengalami demam ringan dan bintil-bintil di sekitar area yang diberi nanah cacar sapi. Namun setelah beberapa hari, anak itu pulih. Dua bulan kemudian, Jenner kembali menginokulasi James pada kedua lengan dengan bahan dari cacar. Teorinya terbukti, James tidak merasakan efek apa pun. Anak itu sudah kebal terhadap cacar. Dalam “Smallpox as Biological Weapon”, Donald A Handerson, dokter yang melakukan kampanye internasional pemberantasan cacar bersama rekan-rekannya, menyebut Uni-Soviet berusaha mengolah virus cacar selama 1930-an. Dengan melakukan serangkaian percobaan, pada 1980-an pemerintah Uni Soviet mencanangkan program produksi virus cacar dalam skala besar. Mereka berencana membuat bom cacar atau misil balistik antarbenua. Program ini tidak berhasil karena kekurangan dana. Pertentangan pada penggunaan cacar sebagai senjata biologis muncuat pada 1967. WHO pada 1980 menyarankan agar seluruh negara berhenti mengembangkan virus cacar. WHO kemudian merekomendasikan agar seluruh virus dihancurkan pada Juni 1999. Negara yang meneliti cacar sebagai senjata biologis diminta menyerahkan seluruh sampel virus cacar ke WHO atau mengirimnya ke lembaga yang ditunjuk, seperti Institute of Virus Preparation Laboratories di Moskow, Rusia atau Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta, Amerika Serikat.

  • Habibie Kecil dan Soeharto Muda

    BACHARUDDIN Jusuf Habibie tak dibiarkan menunggu terlampau lama di ruang tamu kediaman Soeharto, Jalan Cendana. Hanya berselang beberapa menit setelah tiba pada pukul 7 malam, 28 Januari 1974 itu, ia bersua (kembali) dengan sosok Bapak Pembangunan itu.

  • Pangkas Rambut Ko Tang Bertahan dari Tekanan Zaman

    DI sebuah gang sempit di kawasan Glodok, Jakarta Barat, ada sebuah tempat yang tak biasa di mana pemiliknya bisa memegang kepala siapapun, termasuk pejabat hingga presiden. Ya, tak mungkin ia tak memegang kepala sebab profesinya adalah pemangkas rambut. Namanya Pangkas Rambut Ko Tang –berasal dari bahasa Tiongkok, artinya kelas atas. Lokasinya di Gang Gloria, Glodok. Berdiri sejak 1936, Ko Tang menjadi salah satu pangkas rambut tertua di Jakarta.  Pi Cis saat membersihkan telinga salah satu pelanggan Ko Tang. (Fernando Randy/Historia). Para pemangkas rambut di sana bekerja turun-temurun. Semula ada sembilan orang, kini hanya menyisakan Pi Cis (58), Apauw (59), dan A  Ciu (68). Pi Cis dan Apauw sudah lebih dari 15 tahun bekerja di Ko Tang, sedangkan A Ciu baru bergabung sekitar satu tahun lalu.  Kendati sudah beroperasi lebih dari delapan dekade, dan  di tengah gempuran  barbershop  modern, Ko Tang tetap bertahan.  Ko Tang tak pernah sepi. Setiap pelanggan seringkali tertidur lelap saat rambutnya dipangkas di sini.  Para pelanggan yang kerap tertidur saat di cukur di Ko Tang. (Fernando Randy/Historia). Pi Cis, generasi ketiga pemangkas rambut Ko Tang, mengatakan ia tak punya resep khusus dalam mencukur. “Riset saya tentang model-model rambut baru paling sering jalan-jalan ke mall saja, lihat-lihat anak muda, atau sekadar duduk di sini. Terus lihat keluar, orang-orang yang lalu-lalang di depan, dan memperhatikan rambutnya.” Salah satu ciri khas Ko Tang yang tetap dipertahankan sampai sekarang adalah layanan membersihkan telinga bagi para pelanggannya. “Coba kamu lihat, jarang sekali pangkas rambut yang bisa membersihkan telinga. Mungkin hanya di sini,” kata A Pauw.  Bangku yang sudah usang seakan menunjukan umur pangkas rambut Ko Tang. (Fernando Randy/Historia). Pelanggan setia pangkas rambut Ko Tang, Zakharia saat dicukur oleh Pi Cis. ( Foto : Fernando Randy ) Bukan hanya Pi Cis dan Apauw yang puluhan tahun bekerja di sana. Para pencuci rambut hingga kasir juga sudah bekerja lebih dari 10 tahun.  Rasa kekeluargaan begitu kental di Ko Tang. Keceriaan dan kebersamaan membuat mereka betah. Hingga muncul rasa saling memiliki.  Para pegawai yang sudah puluhan tahun bekerja di Ko Tang. (Fernando Randy/Historia). Peralatan Ko Tang kian menua. Gunting, pisau cukur, sisir, dan bangku pelanggan mulai berkarat. Entah bagaimana nasib Ko Tang nantinya. “Jujur saja, saya belum tahu bagaimana nasib Ko Tang 5 atau 10 tahun lagi,” ujar Pi Cis. “Anak-anak saya juga tidak ada yang berminat menjadi tukang cukur. Regenerasi memang sulit terwujud. Apalagi kami juga sudah tua.” Namun Pi Cis bertekad tidak akan menyerah pada zaman.  Ko Tang tak akan sekadar jadi kenangan. Peralatan sederhana yang menjadi senjata utama Ko Tang. (Fernando Randy/Historia). “Kami terus mencari solusi agar Ko Tang ini tetap bertahan. Karena bagi kami, Ko Tang sudah memberikan segalanya. Untuk itulah sekuat tenaga kami akan menjaganya,” sambung Pi Cis lirih. Beberapa pelanggan datang. Mereka seumuran Pi Cis, A Pauw, dan A Ciu. Tugas memangkas rambut sudah menanti.  “Sekarang anak-anak muda sudah lebih memilih pangkas rambut yang lebih modern, lebih masa kini. Jarang yang pada mau ke sini. Padahal saya juga bisa motong rambut gaya anak zaman sekarang,” ujar Pi Cis.* Seorang pelanggan keluar dari Ko Tang usai di cukur dan dibersihkan telinga di Ko Tang. (Fernando Randy/Historia).

  • Kisah Yamin "Sang Pemecah Belah Abadi"

    GERBANG perjuangan bangsa Indonesia telah terbuka sejak dekade pertama abad ke-20. Melalui berbagai organisasi, tokoh-tokoh nasionalis di negeri ini telah berupaya menghapuskan praktek ketidakadilan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda. Pergerakan mereka yang sebelumnya terpisah pun berhasil disatukan dalam satu wadah yang sama, yakni Volksraad (Dewan Rakyat). Nama-nama besar seperti Muhammad Husni Thamrin, H. Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, dan Otto Iskandardinata, pernah menduduki kursi Volksraad. Mereka adalah perwakilan rakyat Indonesia di depan parlemen Belanda. Umumnya para anggota dewan dipilih mewakili partainya masing-masing, namun tidak sedikit yang menjadi wakil dari daerah. Salah seorang tokoh Volksraad yang cukup banyak diperbincangkan kala itu adalah Muhammad Yamin. Dalam buku Muhammad Yamin dan Cita-Cita Persatuan karya Restu Gunawan, Yamin dikenal sebagai sosok yang keras oleh sesama anggota dewan. “Selama di Volksraad, Yamin merupakan tokoh yang sangat radikal dalam menanggapi berbagai masalah,” ucap Restu. Yamin sendiri bergabung bukan mewakili partainya, melainkan dari perwakilan daerah. Ia merasa partainya, Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia), selalu kalah dari partai lain. Oleh karena itu demi memuluskan jalannya menduduki kursi dewan , Yamin memutuskan mendekati pejabat daerah Minangkabau. Proses untuk mengikuti pemilihan anggota Volksraadini bukan perkara mudah bagi Yamin. Pemerintah Hindia Belanda telah sejak lama memantau aktivitasnya. Ia dan beberapa anggota partai Gerindo masuk ke dalam daftar orang-orang yang diawasi. “Muhamamd Yamin dilarang (pemerintah Hindia) Belanda untuk pulang ke Padang mendekati anggota gemeente yang akan memilih perwakilannya di Volksraad, karena Yamin dianggap merah oleh (Hindia) Belanda,” tulis Restu. Dalam Chairul Saleh: Tokoh Kontroversial, Irna H.N. Hadi Soewito menyebut pemerintah Hindia Belanda hanya melakukan usaha yang sia-sia untuk menghalangi Yamin. Karena mayoritas suara di daerah Minangkabau tetap memilih dirinya. Namun terpilihnya Yamin di kursi dewan ini berdampak kepada posisinya di dalam partai. Mayoritas anggota Gerindo tidak setuju dengan keputusan Yamin. Ia akhirnya dipecat. Pemikiran-pemikiran Yamin terkadang memang tidak dapat dipahami. Ia kerap kali melakukan perdebatan dengan sesama anggota dewan dari Fraksi Nasional pimpinan Thamrin. Seperti saat ia terlibat debat panas dengan Soetardjo Kartohadikoesoemo, salah seorang anggota Fraksi Nasional yang nantinya menjadi gubernur pertama Jawa Barat. Pada Juli 1936, Soetardjo mengajukan sebuah petisi guna mengatur hubungan baik antara negeri Belanda dengan Hindia Belanda melalui sebuah konferensi. Diberitakan Surat Kabar Pembangoenan 18 September 1936, Soetardjo menginginkan adanya keterbukaan dari pihak pemerintah Hindia Belanda. Ia merasa wakil-wakil pribumi harus dilibatkan dalam menjalankan pemerintahan. Sehingga Soetardjo meminta diberikan zelfstandigheid (kemandirian) di daerah-daerah. Petisi Soetardjo itu mendapat beragam reaksi. Umumnya mendukung gagasan yang dianggap berani dari seorang pegawai Hindia Belanda. Namun tidak bagi Yamin. Ia merasa isi Petisi Soetardjo itu terlalu kabur dan hanya mewakili pribadinya. Yamin tidak menangkap batas dari kemandirian yang diminta Soetardjo. Ia khawatir hal itu akan berdampak buruk bagi rakyat Indonesia. “Langkah dan taktik Soetardjo ini boleh dipuji tetapi sebenarnya tidak ada isi dan tujuannya.” Meski begitu, pada 28 September 1936, Volksraad menerima Petisi Soetardjo. Lebih dari setengah anggota dewan ini setuju dengan usulan tersebut. Akibatnya Fraksi Nasional terpecah. Ada kubu yang mendukung Petisi Soetardjo, dan kubu yang menolaknya seperti Yamin. Menanggapi permasalahan di fraksinya, secara pribadi Thamrin berharap Petisi Soetardjo dapat dikaji dengan penjelasan yang lebih rinci. Namun ia juga merasa langkah ini baik bagi terbukanya konferensi antara Belanda dan Indonesia agar perwakilan rakyat dapat mengutarakan langsung pemikirannya di depan parlemen Belanda. Dan pada 1938 pertemuan kedua negara itu pun dapat terwujud. ”Selama menjadi anggota Volksraad, Yamin dijuluki sebagai ‘pemecah belah abadi’, mengingat Yamin pulalah yang dipandang sebagai biang keladi terjadinya perpecahan dalam Fraksi Nasional,” tulis Restu. Pada 1939 di dalam suatu sidang, Yamin mengutarakan sebuah konsepsi hasil buah pikirnya. Sutrisno Kutoyo dalam Prof. Mohamad Yamin S.H, menyebut Yamin ingin Fraksi Nasional memiliki program tersendiri di samping kegiatan Volksraad. Ia juga mengusulkan agar fraksi terbesar di Dewan Rakyat itu lebih memperhatikan kepentingan luar Pulau Jawa, jangan hanya terpusat di Jawa saja. Namun konsepsi Yamin itu kurang mendapat tanggapan. Fraksi Nasional merasa ada ketidaksesuaian dengan tujuan yang selama ini mereka bangun. Akhirnya pada 10 Juli 1939, Yamin memutuskan keluar dari Fraksi Nasional. Yamin kemudian mendirikan Golongan Nasional Indonesia (GNI), yang merupakan wadah bagi wakil-wakil utusan daerah. Kepentingan yang dibawa bukan sebatas anggota partai saja, tetapi jauh lebih luas. Tokoh-tokoh yang ikut dalam fraksi Yamin ini di antaranya, Mangaraja Suangkupon (Sumatera Utara), Dr. Abdul Rasjid, dan Mr. Tadjudin Noor (Kalimantan). Meski terpecah, Yamin dan Thamrin memiliki pandangan yang sama tentang kemerdekaan dan persatuan Indonesia. Seperti terlihat saat keduanya sepakat untuk menentang kedudukan Belanda di Indonesia ketika kekuatan hukum negeri itu hancur akibar serangan Jerman pada 10 Mei 1940. Belanda yang mengungsikan pemerintahannya ke Inggris dianggap melanggar peraturan. “Jadi perbedaan dalam prinsip dan pemikiran boleh saja terjadi, tetapi ketika sampai pada tujuan yaitu Indonesia yang merdeka para tokoh selalu pada satu kata,” ucap Restu.

bottom of page