top of page

Hasil pencarian

9837 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jungkir Balik Mengimpor NBA ke Indonesia

    GEGAP gempita pentas basket NBA bergulir lagi.Namun khusus kali ini, digelarnya lewat ranah virtual. Kompetisi aslinya masih ditunda sejak 11 Maret 2020 sebagai imbas pandemi SARS-Cov-2 (COVID-19/virus corona ). Setidaknya 16 pebasket bakal ikutan NBA versi virtual yang digagas NBA bekerjasama dengan NBPA atau asosiasi pebasket NBA. Kevin Durant, Derrick Jones Jr., Donovan Mitchell, Devin Booker, dan DeMarcus Cousins di antaranya. Mereka akan adu skill basket lewat game “NBA 2K Players Tournament” yang sudah dimulai sejak Jumat (3/4/2020) lalu. Bagi yang penasaran , bisa menyaksikannya lewat saluran televisi berbayar ESPN dan ESPN2 , atau di aplikasi ESPN dan NBA. Siaran juga bisa disaksikan via streaming di akun medsos (Twitter, Twitch, Youtube, Facebook) milik NBA dan NBA2K. Toh, upaya menghibur para penggila basket di masa kampanye “#dirumahaja” semacam ini takkan sama dengan menonton langsung, baik di stadion maupun lewat layar kaca. Virtual NBA lewat gim “NBA 2K Players Tournament” jadi alternatif hiburan selepas kompetisi NBA aslinya ditunda sebagai imbas pandemi virus corona (Foto: nba2k.com ) Di Indonesia sendiri tayangan NBA dalam beberapa tahun belakangan, di “zaman normal” sebelum virus corona menerjang, bergantian ditayangkan beberapa stasiun TV swasta nasional, dari SCTV , Indosiar sampai O Channel . Untuk musim 2019-2020, sebelumnya disiarkan secara streaming oleh vidio.com . Siaran NBA beberapa waktu terakhir ini memang tak sepopuler era 1990-an. Bahkan IBL atau pentas basket nasional pun masih kalah pamor ketimbang siaran liga sepakbola nasional. Padahal, pada awal 1990siaran NBA begitu populer di kalangan kelas menengah masyarakat kota setelah susah-payah didatangkan dari Amerika Serikat ke Indonesia oleh Ary Sudarsono. NBA Pendongkrak Basket Nasional Nama Ary Sudarsono sudah dikenal luas dalam perbasketan Asia pada medio 1980-an. Setelah pensiun dari pemain, pamor Ary mengglobal lewat kiprahnya sebagai wasit, hingga disematkan titel “ Mr. Golden Whistle ” oleh FIBA atau induk basket Asia. Begitu pensiun jadi wasit dan pulang ke Indonesia pada 1985, Ary merampungkan pendidikannya di Alabama Sport Academy setahun berikutnya.Ia lalu dipercaya pengusaha Aburizal Bakrie untuk membantu membangun klub basketPelita Jaya. Ary pula kemudian mencetuskan ide untuk mendatangkan pemain asing untuk mengatrol popularitas Kobatama, pendahulu IBL. “Karena saya lama dikenal di Filipina, saya datangin juga pemain dari sana, Bong Ramos buat Pelita Jaya. Kemudian saya dipanggil Perbasi (induk basket nasional) karena mungkin melihat saya total mempopulerkan basket. Kobatama disuruh saya yang pegang,” k ata Ary meng enang , kepada Historia. Langkah pertama Ary setelah memegang Kobatama adalah menggandeng SCTV untuk kerjasama siaran Kobatama. Untuk lebih mendongkrak kepopulerannya lagi, Ary mencetuskan ide mendatangkan pula siaran NBA ke tanah air. “Saya bilang sama Henry, untuk mempercepat, mengangkat, dan mendobrak nilai jual, ambil (siaran) NBA. Jadi penonton dikasih perbandingan. Ada NBA, ada Kobatama yang nantinya bisa dikatrol nih. Tapi saya tunggu-tunggu sebulan, enggak ada jawaban. Lalu saya ke RCTI . Mereka mau tapi cuma bisa bantu (mengongkosi) tiket Jakarta-New York,” lanjutnya. Ary Sudarsono berkisah pengalamannya nekat ke markas NBA untuk melobi siarannya diimpor ke Indonesia (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Meski hanya dimodali tiket pesawat, Ary tak patah arang karena asanya yang membumbung tinggi. “Selebihnya saya jual mobil Rp30 juta buat ke sana,” kata pria yang dulunya kiper itu. Dengan tiket dan uang hasil jual mobil itulah Ary berangkat ke Amerika medio 1990. Rasa optimismenya mengalahkan rasa gugup lantaran di era itu publik Amerika masih asing mendengar nama Indonesia. “Berangkatlah gue . Belaga gila aja walau enggak kenal siapa-siapa di NBA. Indonesia siapa? Amerika enggak melihat. Paling orang sana tahunya Bali, kan?” imbuh Ary yang menghabiskan waktu sekira dua pekan mencari celah melobi bos-bos NBA. Ary mulanya ingin langsung bertatap muka dengan Komisioner NBA David Stern (periode 1984-2014). Sayangnya upaya itu bertepuk sebelah tangan karena Ary datang dari “negara dunia ketiga”. “Untuk ketemu komisionernya, ‘tar sok, tar sok’ (entar/nanti-besok, red. ). Awalnya hanya bisa ketemu PR-nya (humas) NBA. Saya jelasin bahwa atmosfer basket di Indonesia bagus. Sudah mulai ada pemain asing juga. Bahwa (basket) akan lebih cepat populer kalau NBA bisa masuk ke Indonesia. Kan hitung-hitung saya bantu marketing NBA untuk lebih luas,” tuturnya. “Apalagi populasi negara kita 100 juta lebih. Saya kasih pandangan bahwa nanti NBA bisa mendapat viewer jutaan penonton. Ya masak mereka bisa kasih (siaran NBA) ke China, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura (tapi kita) enggak dikasih. Akhirnya mereka luluh. Sementara waktu itu sudah 10 hari di sana, sudah tipis nih isi dompet,” kata Ary lagi. Dibantu Magic Johnson Selang berapa hari, Ary diundang lagi ke NBA. Namun ada dilema yang dihadapinya ketika mendapat kabar baik dan buruk. Kabar baiknya, NBA tertarik untuk memberi hak siar. Sialnya, NBA hanya berkenan memberi siaran laga-laga tim papan bawah. “Lemes gue. Aduh gila ini sih. Gue dikasih tanggung begini. Enggak dapat (siaran pertandingan) LA Lakers, Chicago Bulls, Utah Jazz, Boston Celtics, Detroit Pistons. Sialan nih NBA. Cuma dikasih tim-tim macam Denver Nuggets, Indiana Pacers begitu. Merasa dikerjain, gue merasa belum mau pulang,” tambahnya. Kolase Ary Sudarsono bersama Earvin 'Magic Johnson Jr. (kiri) & Julius Winfield 'Dr. J' Erving II (Foto: Instagram @sudarsonoary) Ary kembali melobi untuk bisa minta tayangan NBA dua kali sepekan, meski “separuh-separuh”alias satu pertandingan tim beken, satu lagi tim papan bawah. Negosiasi itu jelas membutuhkan waktu lebih lagi. Namun keajaiban yang tak dinyana mendatangi Ary saat hendak makan siang usai nego dengan pihak NBA. “Pas lagi makan siang sama PR-nya NBA, datang Magic Johnson (Earvin ‘Magic’ Johnson, legenda tim LA Lakers dan timnas basket Amerika) yang lagi mau fitness. Lalu gue dikenalinbahwa gue dari Indonesia dan lagi minta bantu NBA mendongkrak basket. Wah gue langsung didukung Magic Johnson,” kata Ary mengingat pertemuan itu. “ Don’t worry, Brother. I’ll help you. You can contact me, tomorrow we have lunch together ,” kata Johnson sebagaimana ditirukan Ary. “Hampir seminggu gue diajak dia, termasuk dikenalin sama ‘Dr. J’ (julukan legenda NBA Julius Erving). Diajak juga nonton Celtics vs Lakers. Jadi akhirnya komunikasi sama NBA jadi bagus. Akhirnya NBA pusat mengontak NBA Asia di Hong Kong. Lalu gue diminta jadi salah satu NBA Representative Asia,” tandas Ary. Perjalanan Ary melintas benua pun tak sia-sia. NBA disiarkan RCTI mulai musim 1991. Ary pun setahun berselang dikontrak menjadi “Mr. NBA Asia”. Ditambah beberapa program olahraga lain dengan Ary sebagai host -nya, termasuk program “Boom Basket”, Kobatama pun turut terdongkrak pamornya hingga mulai jadi olahraga favorit ketiga anak muda kala itu selain sepakbola dan bulutangkis.

  • Kiprah Dokter di Dunia Pergerakan

    Benar rasanya jika saat ini semua orang berpikir bahwa para tenaga medis adalah pahlawan. Peran mereka begitu penting dalam menghadapi pandemi virus Covid-19 yang penyebarannya semakin hari semakin mengkhawatirkan. Dilansir kompas.com , Menteri Pertahanan Prabowo Subianto juga memberi apresiasi atas kinerja mereka. Dia menyebut tenaga medis sebagai pejuang di garis depan, ibarat tentara di masa lalu. “Kalau dulu dalam perang terbuka, mungkin tentara di garis depan, sekarang dokter. Pahlawan bangsa. Jadi kami sangat menghormati mereka,” kata Prabowo. Tidak lupa Prabowo memberikan ucapan terima kasih kepada para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang telah berdedikasi merawat dan mengobati para pasien Covid-19. Perjuangan tak kenal lelah para dokter yang berusaha menekan angka kematian di masyarakat seolah kembali menegaskan peran tenaga medis ini dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dari sekian banyak dokter yang sudah lahir di negeri ini, Historia mencoba menggali perjalanan hidup lima orang dari mereka yang perjuangannya membawa perubahan bagi Indonesia. Berikut kisahnya. Politik Soetomo Soetomo dan istrinya Everdina Bruring ( Kemdikbud.go.id ) Tidak hanya mengabdikan diri di dunia kedokteran, Soetomo pun aktif berjuang dalam dunia politik semasa pergerakan nasional di awal abad ke-20. Dilahirkan pada 30 Juli 1888 di Nganjuk, Jawa Timur, Soetomo menempuh pendidikan di Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen/Sekolah dokter bagi bumiputera) pada 1903. Di sekolah itulah dia terkenal aktif menyuarakan pendapatnya. Pada akhir 1907, Soetomo kedatangan tamu seorang dokter Jawa dari kalangan priayi rendahan, Wahidin Soedirohoesodo. Soetomo mengundangnya berceramah di Stovia mengenai pentingnya pendidikan sebagai kunci kemajuan. Wahidin sendiri memang sedang melakukan kampanye mencari beasiswa bagi anak-anak muda bumiputera yang pandai. Akira Nagazumi dalam Bangkitnya Nasionalisme Indonesia Budi Utomo 1908-1918 , menyebut Soetomo dan kawannya, Soeradji, lebih terkesan oleh perangai, pikiran, dan semangat pengabdian Wahidin ketimbang rencana-rencananya. “Barangkali ia pun tidak berbicara tentang beasiswa sama sekali, tetapi kata-katanya tergores mendalam di lubuk hati dua anak muda itu,” ungkap Nagazumi. “Sekali dirasuki oleh gagasan Wahidin, Soetomo segera larut dalam kegiatan mendirikan suatu perkumpulan di dalam Stovia.” Pada 20 Mei 1908, puluhan anak muda berkumpul di aula Stovia. Turut hadir siswa-siswa dari sekolah pertanian ( landbouw school) dan kehewanan ( veeartsnij school ) di Bogor; sekolah pamongpraja (Osvia) di Magelang dan Probolinggo; sekolah menengah petang ( hogere burger school ) di Surabaya; serta sekolah pendidikan guru bumiputra ( normaalschool ) di Bandung, Yogyakarta, dan Probolinggo. Dalam pertemuan itu para pemuda sepakat mendirikan sebuah organisasi. Namanya Boedi Oetomo –dikutip oleh Soeradji dari ucapan Soetomo kepada Wahidin: “ Punika satunggaling padamelan sae sarta nelakaken budi utami (Ini merupakan perbuatan baik serta mencerminkan keluhuran budi)”. Demi merealisasikan pembentukan organisasi Boedi Oetomo ini, Soetomo dibantu rekan-rekannya: Soeradji, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soewarno, Goembrek, Mohammad Saleh, dan Soelaeman. Tak lama setelah berdiri, para siswa Stovia berusaha menarik hati rekan-rekan dari sekolah lanjutan lainnya untuk bergabung dengan Boedi Oetomo. Dengan cepat cabang organisasi ini berdiri di tiga daerah: Magelang, Yogyakarta, dan Surabaya. Hingga Juli 1908, jumlah anggota Boedi Oetomo mencapai 650 orang. “Kendati demikian selama tahun-tahun pertama Stovia tetap merupakan pusat kegiatan Budi Utomo,” tulis Nagazumi. Sadar akan peran kaum priayi yang besar di kalangan bumiputera, para pendiri Boedi Oetomo mulai melakukan pendekatan. Bupati Tuban, Temanggung, Jepara, Demak, Karanganyar, Kutoarjo, Serang, dan Pakualaman, menunjukkan minat membantu para pemuda ini. Maka diputuskan Boedi Oetomo akan melaksanakan kongres pertamanya pada 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Dari kongres tersebut tercipta sejumlah resolusi: perbaikan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi dengan tanggungan beasiswa, membatasi jangkauan gerak hanya pada penduduk Jawa dan Madura, melibatkan diri dalam kegiatan politik, dan tak akan menyimpang dari ketentuan hukum adat. Selain itu, Tirtokoesoemo (bupati Karanganyar) terpilih sebagai ketua Boedi Oetomo, didampingi Wahidin di kursi wakil. Sementara Tjipto masuk dalam susunan pengurus sebagai komisaris. Dengan komposisi kepengurusan seperti itu, para siswa Stovia yang menahkodai lahirnya Boedi Oetomo tidak bisa menentukan arah kemudi organisasi. Mereka harus rela menyerahkan kepemimpinan Boedi Oetomo, “kepada anggota-anggota yang lebih dewasa”. Golongan muda juga tidak mengambil kesempatan menentukan arah dalam kongres kedua tahun 1909. Tjipto, Goenawan, dan Soetomo tidak bersuara. Pemain utama dipegang oleh Dwidjosewojo, Mohammad Tahir, dan Sastrowidjojo. Setelah melepaskan perhatiannya dari Boedi Oetomo, Soetomo fokus terhadap profesinya sebagai dokter. Ia lulus dari Stovia pada 1911, dan bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Tahun 1919, dia berkesempatan melanjutkan studi spesialis di Universitas Amsterdam, Belanda. Soetomo juga sempat menjadi pengajar di Nederlandsch Artsen School. Kekerasan Sikap Seorang Tjipto Tjipto Manoenkoesoemo duduk paling kiri (KITLV) Di era zaman bergerak, kiprah Tjipto Mangoenkoesoemo terbilang sangat aktif. Sama halnya dengan Soetomo, Tjipto berprofesi sebagai dokter sebelum akhirnya lebih memilih aktif di dunia politik. Dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah pada 1886, ketika menginjak usia 13 tahun Tjipto mendaftarkan diri ke sekolah dokter Jawa. Setelah lulus tahun 1905, dia menjadi dokter pemerintah. Salah satu prestasi Tjipto sebagai dokter adalah berhasil mengatasi penyakit pes di Malang, Jawa Timur. Berkat jasanya, pemerintah Belanda memberinya penghargaan Willem Klas 3 , namun ditolak. Dia memang dikenal keras dalam menentang praktik kolonialisme. Tjipto lalu mundur sebagai dokter pemerintah dan terjun berpolitik. Bersama Soetomo dan adiknya, Goenawan Mangoenkoesoemo, dia memulai karirnya di Boedi Oetomo. Dalam kongres Boedi Oetomo di Yogyakarta, Tjipto gigih mengusulkan agar organisasi itu menjadi organisasi politik yang memperjuangkan kebangsaan, ketimbang hanya mengurusi persoalan kebudayaan yang baginya hanya konsumsi istana dan terlalu asing bagi rakyat kebanyakan. Namun usulannya ditolak. “Dari kebangsaan-kebangsaan, Dokter Cipto menuju ke arah kebangsaan yang lebih besar, yakni kebangsaan Hindia,” tulis Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional . Setelah meletakkan jabatannya sebagai komisaris Boedi Oetomo, pada 1912 Tjipto mendirikan Indishce Partij. Di sini Tjipto berjuang bersama Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat. Sebagai pemimpin surat kabar De Express di Bandung, dia menerbitkan tulisan kawannya Soewardi: “Als Ik Een Nederlander was” (Andai saya orang Belanda). Kritik terhadap Kerajaan Belanda itu mengundang petaka. Trio Indische Partij dibuang ke Belanda. Meski menentang kolonialisme Belanda, Tjipto lebih khawatir terhadap fasisme. Ketika Jerman menduduki Belanda pada 1940, dia berbalik menunjukkan simpati kepada Belanda. Begitu juga ketika Jepang masuk Hindia Belanda. Tjipto mengimbau agar rakyat membantu pemerintah Belanda melawan para fasis tersebut. Komitmen yang ditunjukkan Tjipto dalam memerangi fasisme Jepang adalah memfasilitasi pembentukan Gerakan Anti Fasis (Geraf) pada Mei 1940, pimpinan Amir Sjarifuddin. Pada 8 Maret 1943, Tjipto menghembuskan nafas terakhirnya karena kesehatannya memburuk. Dengan demikian dia sama sekali tidak pernah merasakan kekejaman fasisme Jepang dan menyaksikan kalahnya ideologi politik di akhir Perang Dunia ke-2.  Teladan Wahidin Soedirohoesodo Wahidin Soedirohoesodo (Wikimedia Commons) Perjuangan kebangsaannya menginspirasi Soetomo membentuk organisasi Boedi Oetomo. Adalah Wahidin Soedirohoesodo, dokter dari kalangan priayi Jawa yang menjadi teladan bagi para juniornya di Stovia. Wahidin lahir pada 7 Januari 1852 di Sleman, Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan lanjutan di Yogyakarta, Wahidin memilih jalur kesehatan di sekolah dokter Jawa. Dalam biografi Dr. Wahidin Sudirohusodo terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, diceritakan Wahidin pernah diasuh seorang petinggi perkebunan milik pemerintah bernama Frits Kohle. Di sana dia mempelajari banyak hal, terutama bahasa Belanda. Namun di sisi lain dia sadar bahwa jurang pemisah antara orang Barat dengan bumiputera telalu lebar. Lulus dari sekolah dokter Jawa, Wahidin segera ditugaskan oleh pemerintah Belanda menanggulangi wabah cacar di pelosok-pelosok pulau Jawa. Dia dan lulusan dokter Jawa lainnya memang khusus ditempatkan dekat dengan masyarakat bumiputera, karena kebanyakan dokter Eropa hanya menerima pasien sesamanya saja. Kesadaran memajukan bangsanya sendiri di tengah kalangan Eropa semakin besar tumbuh di dalam diri Wahidin. Dia pun rela tidak dibayar sepeser pun oleh rakyat yang tidak memiliki uang untuk berobat. Aksi Wahidin semakin nyata tatkala dirinya mulai melakukan aksi penggalangan dana bagi biaya pendidikan pemuda-pemuda bumiputera. Wahidin mulai berkeliling Jawa pada 1906. Aski nyatanya itu disambut oleh bangsawan yang menyatakan kesediaannya membantu Wahidin, termasuk dari kalangan Kesultanan Ngayogyakarta. Sebagai seorang dokter, Wahidin tidak pernah lepas dari kegiatan praktik kesehatan, meski sibuk mengurusi berbagai persoalan kemajuan pendidikan yang menjadi tujuannya. Reputasi Wahidin sampai juga di telinga Soetomo dan pemuda Stovia lainnya. Saat berada di Batavia, dia diundang untuk memberi ceramah di hadapan Soetomo dan kawan-kawannya. Wahidin jugalah yang kemudian memicu Soetomo untuk ikut berjuang dalam memajukan bangsa, sehingga lahirlah Boedi Oetomo. A. Mochtar Sang Martir Pusara Achmad Mochtar (Rahadian Rundjan/Historia) Achmad Mochtar adalah direktur bumiputera pertama di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Pada 3 Juli 1945, dia dieksekusi mati oleh Jepang atas tuduhan sabotase vaksin buatan lembaganya, TCD (Typhus Cholera Dysentery), yang mengakibatkan ratusan orang romusha (pekerja paksa) tewas. Mochtar dan lembaga pimpinannya menjadi tertuduh atas kasus tersebut. Naas bermula ketika Juli 1944 ratusan romusha di Klender, Jakarta terkena wabah penyakit. Dokter-dokter Jepang berusaha menyembuhkannya dengan menyuntikkan vaksin tipes, kolera, dan disentri. Alih-alih sembuh, sekira 900 orang tewas. Pemerintah pendudukan Jepang langsung mencurigai para peneliti di Eijkman. Pemeriksaan Kenpetai (polisi Jepang) menunjukkan lembaga Eijkman memasukkan racun kedalam vaksinnya. Pemeriksaan Kenpetai berubah tragis ketika para dokter-peneliti, termasuk Mochtar, ditangkap dan disiksa pada Oktober 1944. Ada yang dipukuli, disetrum, sampai dibakar hidup-hidup. Achmad Mochtar dituduh sebagai pelaku utama. Demi menyelamatkan nyawa kolega-koleganya di Lembaga Eijkman, dia memutuskan mengaku. Pada Januari 1945, Jepang membebaskan staf-staf Eijkman dalam keadaan yang menyedihkan. Dua dokter, Marah Achmad Arif dan Soeleiman Siregar, meninggal dunia dalam tahanan akibat siksaan. Sementara Achmad Mochtar dijatuhi hukuman mati. Menurut Moh. Ali Hanafiah, asisten dr Mochtar, dalam Drama Kedokteran Terbesar , Achmad Mochtar dipaksa mengaku mengotori vaksin yang menyebabkan kematian banyak orang itu. Dia dituduh memasukkan bakteri tetanus ke dalam vaksin yang digunakan dokter Jepang. Pada Juli 1945, Achmad Mochtar dieksekusi tanpa pengadilan dengan cara dipancung. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman massal Ancol. Peristiwa tersebut menimbulkan tanda tanya besar dan menjadi tragedi memilukan dalam dunia kedokteran Indonesia. JK Baird, Direktur Clinical Research Unit Oxford University, kemudian melakukan penelitian atas kasus tersebut. Menurut Bird, dikutip theguardian.com , kematian romusha disebabkan eksperimen dokter Jepang yang membuat vaksin tetanus untuk kebutuhan tentara dan penerbangan Jepang. Para romusha itu menjadi kelinci percobaannya. Untuk menutupi hal ini, Lembaga Eijkman difitnah. Sebagai kepala lembaga Achmad Mochar menjadi kambing hitam untuk menyelamatkan koleganya. “Kisah tentang Prof. Achmad Mochtar merupakan drama kemanusiaan yang terjadi dalam kurun waktu yang amat bersejarah untuk Indonesia, dan terjadi dari berbagai peristiwa militer dan politik pada periode 1942-1945,” ucap Sangkot Marzuki, penulis War Crime in Japan-Occupied Indonesia: A Case by Medicine . Pergerakan Bahder Djohan Bahder Djohan (Wikimedia Commons) Bahder Djohan hadir ketika para pemuda sebayanya menyuarakan aksi kebangsaan di dalam suatu kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928. Tanpa melupakan perannya sebagai murid di sekolah dokter, Bahder berjuang mencari keindonesiaan di tengah kepungan para kolonialis yang terus memperkuat pengaruhnya terhadap Bumiputra. Bahder Djohan dilahirkan di Lubuk Begalung, Padang, Sumatera Barat pada 30 Juli 1902. Sebagai sesama putra Minangkabau, Bahder bersahabat karib dengan Hatta. Keduanya, bersama pemuda Minangkabu lainnya, memperkuat ikatan di Jong Sumatranen Bond (JSB). Organisasi ini merupakan wadah perjuangan semasa pergerakan nasional. Menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah (HIS) dan sekolah lanjutan (MULO) di Padang, pada 1919 Bahder memilih merantau ke Batavia untuk mendaftar sekolah dokter Stovia. Dikisahkan Mardanas Safwan dalam Prof. Dr. Bahder Djohan: Karya dan Pengabdiannya , Bahder semakin aktif di JSB ketika di perantauannya ini. Dia menjadi perwakilan JSB di Kongres Pemuda I pada 30 April 1926, dan Kongres Pemuda II pada 1928. Lulus dari Stovia pada1927, Bahder bekerja di Centrale Burgerlijke Zienkenhuis (CBZ), kini RS Cipto Mangunkusumo. Meski ada di lingkungan para kolonialis, dia tidak melupakan hakikatnya sebagai pejuang pergerakan. Di bidang kedokteran, Bahder berusaha meningkatkan derajat dokter bumiputera agar dapat sejajar dengan dokter Eropa. Dia juga ikut menyuarakan ketidakadilan dalam akses informasi kesehatan yang diterima dokter bumiputera oleh pemerintah Belanda. Akses majalah Genuskundig Tijdschrift van Nederlandsh Indie (GTNI) ini baginya amat penting untuk pembelajaran para dokter. Maka Bahder merasa perlu memperjuangkannya. Hasilnya kebijakan pembatasan akses itu dihapuskan.

  • Protes Haji Misbach di Tengah Wabah Pes

    Dari Malang, wabah pes yang muncul sejak 1910 mulai menjalar ke berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Di Surakarta, penyakit pes mulai muncul pada 1913 dan mulai merebak secara masif setahun setelahnya. Kasus pertama berasal dari orang Belanda yang merupakan pendatang dari perkebunan tebu di Pasuruan. Ia meninggal karena pes di Stasiun Kereta Api Jebres, Surakarta dan sejak itu penyakit pes mulai menulari orang-orang Sala. Maret 1915, epidemi pes pecah di Kota Surakarta. “Wabah pes yang semula hanya berkembang di wilayah kota kemudian menyebar keluar kota itu,” tulis Wasino dalam Kapitalisme Bumiputera, Perubahan Masyarakat Mangkunegaran . Salah satu kebijakan pemerintah kolonial untuk memberantas wabah ialah dengan program perbaikan rumah penduduk. Namun, biaya perbaikan rumah dibebankan kepada penduduk atau menggunakan dana pinjaman dari pemerintah. Kebijakan ini memberatkan rakyat yang tidak mampu. Apalagi, berbagai kebijakan administratif yang berlebihan juga dikeluarkan oleh pemerintah. Hal ini kemudian menyulut perlawanan Insulinde, organisasi lanjutan Indische Partij, lewat Haji Misbach. Haji Misbach bergabung dengan Insulinde Surakarta pada Maret 1918. Pada bulan yang sama, mereka membentuk satu komite untuk menyelidiki kegelisahan penduduk akibat kebijakan pemerintah itu. Misbach sebagai wakil aktif di Kauman kemudian menjadi tokoh utama komite. Pada saat yang bersamaan, wabah pes terus menyebar di Kota Surakarta hingga ke kawasan Kartasura dan Delanggu. “Pemimpin Insulinde Surakarta menunjuk Misbach sebagai komisaris dan memberi wewenang mengadakan rapat umum propaganda melawan tindakan-tindakan pemberantasan wabah pes dari pemerintah dan mendirikan kring  (anak cabang, red. ) di luar kota Surakarta,” tulis Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Misbach kemudian segera mengorganisir Insulinde cabang Kartasura. Insulinde Kartasura diketuai oleh Atmokertanto, seorang pegawai pegadaian dan sekretarisnya H. Bakri, pedagang batik. Kampanye melawan kewajiban perbaikan rumah dengan biaya pinjaman dari pemerintah lalu dilancarkan. Terutama di wilayah luar Kota Surakarta, penolakan-penolakan digaungkan. Hasilnya ternyata sukses, penduduk kemudian enggan mengembalikan pinjaman pemerintah. “Sesudah mengadakan rapat umum pada Mei, penduduk Kartasura benar-benar berhenti mengembalikan pinjaman pemerintah untuk perbaikan rumah secara paksa,” sebut Shiraishi. Keberhasilan kampanye Misbach memicu kemarahan Asisten Residen Surakarta. Pimpinan Insulinde Surakarta, Galestian dan Soetadi, kemudian diperintahkan untuk menghentikan propaganda Misbach dan mengadakan rapat umum untuk meminta maaf kepada penguasa. “Namun, pengaruh Tjipto di Insulinde masih kuat sehingga Misbach tetap dapat menjalankan aksi-aksinya sebagai Komisaris Insulinde,” tulis Syamsul Bakri dalam Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942. Tjipto Mangunkusumo memang cukup berpengaruh di Insulinde. Pasca menangani pes di Malang, Tjipto ditolak untuk turut membantu pemberantasan pes di Surakarta hingga ia mengembalikan bintang jasa dari pemerintah. Dukungannya kepada Misbach di Surakarta menjadi cukup berarti. Insulinde Surakarta kemudian berkembang pesat di tengah berbagai perhimpunan di Surakarta. Meski demikian, Insulinde juga tak luput dari celaan sebagian komponen masyarakat. Namun, Insulinde justru semakin eksis sebagai wadah dan media bagi kaum kromo , oposan, dan revolusioner. Menurut Shiraishi, Misbach sendiri menjadi salah satu yang menarik perhatian karena kehangatan, keterbukaan, keramahan serta konsistensi antara kata-kata dan perbuatannya. Kombinasi antara Tjipto Mangunkusumo dan Misbach juga menjadikan Insulinde terlihat benar-benar revolusioner di Surakarta.

  • Sang Pembawa Peluru

    KAKI Gunung Mananggel, Cianjur pada Desember 2019. Lelaki tua itu berjalan terseok-seok dengan tongkatnya. Saat akan melewati jalan menurun, dua remaja mendekatinya lantas menuntun sang kakek hingga di jalan yang rata. Sejenak mereka berbincang akrab dan tertawa bersama. “ Barudak  (anak-anak) itu, selalu baik kepada saya…” ungkapnya. Atmah nama lelaki tua itu. Sehari-hari bekerja sebagai petani kecil. Orang-orang di Desa Pawati mengenalnya sebagai orang tua miskin. Namun tak banyak orang tahu di balik kemiskinannya itu dia merupakan manusia yang kaya akan pengalaman hidup. Termasuk pengalamannya menjadi petempur di era perang melawan Belanda tengah berkecamuk di Indonesia. “Padahal saat itu saya masih anak-anak, baru 11 tahun,” kenangnya. Bagaimana dia bisa menjadi seorang bocah perang? Ceritanya, pada 1948, satu kelompok pasukan lasykar rakyat pimpinan Sersan Kentjoeng datang ke kampungnya yang terletak di wilayah Ciranjang. Sejak itulah, nyaris tiap sore Atmah kerap menonton latihan baris berbaris pasukan tersebut di lapangan desa.  Suatu hari, saat dia duduk di pinggir lapangan, tetiba Sersan Kentjoeng mendekatinya. Sambil menatap, sang komandan seksi tersebut lantas menepuk pundak Atmah kecil. " Jang ! Mulai sekarang kamu ikut pasukan saya ya?!" Atmah kaget. Kendati sangat mengagumi para pejuang republik yang tidak ikut hijrah ke Yogyakarta itu, namun tak terlintas dalam pikirannya untuk bergabung dengan mereka saat itu. Karenanya, dia agak ragu dan merasa terkejut saat Sersan Kentjoeng mengajaknya (lebih tepat memerintahkannya). "Jangan ragu-ragu, Jang . Kalau ragu-ragu, nanti saya …Euhhh," kata Sersan Kentjoeng sembari mengacungkan jari jempol dan tulunjuknya, memperagakan bentuk pistol, ke kepalanya sendiri. Atmah menyatakan bahwa ia tidak bisa mengiyakan begitu saja permintaan tersebut. Selain tidak memiliki bekal yang cukup, dia pun masih memiliki orangtua yang harus dimintai izin. “Soal bekal tidak usah dipikirkan, kalau masalah izin orangtua, saya akan urus,” kata Sersan Kentjoeng. Dengan diantar sang sersan, dia lantas menemui orangtuanya untuk mohon izin. Melihat tampang Sersan Kentjoeng yang menyeramkan, orangtua Atmah juga tak bisa apa-apa. Sang ibu hanya bisa menangis sedangkan sang ayah hanya bisa terdiam dalam kebimbangan. "Ya pada akhirnya secara terpaksa mereka melepas saya berangkat ke front. Sambil menangis, mereka hanya berpesan kepada saya: jangan pernah menyakiti orang yang sudah tak berdaya" kenang Atmah . Kisah selanjutnya, resmilah sudah bocah Atmah "terperangkap" dalam kegilaan perang di wilayah Ciranjang dan sekitarnya. Sebagai komandan, Sersan Kentjoeng “mendidiknya” secara sungguh-sungguh untuk menjadikan Atmah kecil seorang petarung. Tak aneh dalam usia sangat muda, Atmah  mahir memegang berbagai senjata. Dari Lee Enfileld buatan Inggris hingga pistol semi otomatis Luger Parabellum buatan Jerman, pernah dia pegang dalam beberapa pertempuran. "Tapi karena saya ingat pesan orangtua, senjata-senjata itu tak pernah saya tembakan, kecuali kalau dalam posisi terdesak," ujanya. Kentjoeng tentu saja kesal dengan ulah Atmah. Dia lantas “menurunkan” peran  Atmah hanya sebagai pembawa sekaligus pelayan pembagian peluru dalam setiap pertempuran. Tugas ini dalam kenyataannya jauh lebih berbahaya dibanding sebagai petempur biasa. “Pokoknya kalau ada suara memanggil “pelor! pelor!” saya harus bergegas menuju suara tersebut sambil membawa amunisi, tak peduli pertempuran sedang berlangsung sehebat apapun,” kenang lelaki kelahiran Ciranjang 81 tahun lalu. Sangat wajar, jika dikatakan saat itu Atmah sangat akrab dengan bau mesiu dan kenyang akan penderitaan di medan laga. Dalam suatu pertempuran, dia bahkan pernah nyaris gugur saat sebutir peluru musuh menghantam paha kanannya. “Walau saya sudah terjatuh  tapi peluru kan harus tetap saya sampaikan, makanya saya paksakan terus untuk tetap bergerak dengan cara merayap kendati saya ingat waktu itu banyak kotoran kerbau bertebaran di sekitar saya dan saya merasakan sakit luar biasa di paha kanan,” katanya sambil tertawa. Kendati pantang menyerah, dan kukuh dalam melaksanakan tugas, Atmah tetap seorang anak yang patuh kepada orangtua. Kepada siapa pun, dia tak pernah berusaha untuk berlaku brutal termasuk kepada para musuhnya yang sudah tak berdaya. Pernah dalam suatu penghadangan, pasukan Sersan Kentjoeng berhasil menghancurkan satu seksi pasukan musuh dan menawan 12 tentara Belanda. Mereka dibawa ke markas di wilayah Gunung Halu untuk diperiksa. Selama dalam tawanan, para prajurit itu diperlakukan secara kasar oleh para anak buah Sersan Kentjoeng: dipukuli, ditendang dan diludahi.  Saat itulah, Sersan Kentjoeng memanggil Atmah. Seraya tertawa, dia kemudian memerintahkan sang bocah untuk menampar satu persatu para serdadu Belanda yang sudah tak berdaya tersebut. Mendapat perintah itu, darah muda Atmah mendidih. Ada dorongan dalam dirinya untuk memperlihatkan keberaniannya di depan komandan dan kawan-kawannya. Tapi pesan orangtuanya untuk tidak menyakiti orang yang sudah tak berdaya, terngiang-ngiang di telinganya. Dengan tegas dia pun menolak perintah Sersan Kentjoeng itu. "Saat saya tolak, komandan langsung menggampar dan menjewer saya sekuat tenaga. Ya apa boleh buat, saya terima saja, saya lebih takut kualat kepada orangtua jika melakukan itu…" ujar Atmah. Akhir 1949, perang pun usai. Atmah menolak ketika ditawari untuk menjadi serdadu. Dia lebih memilih kembali pulang ke rumah dan memutuskan menjadi petani saja. Suatu cita-cita yang sejak kecil ingin didalaminya. Kini bersama lima putra-putrinya, Atmah hidup sangat sederhana di lereng Gunung Mananggel tepatnya di Desa Pawati. Meskipun dia pernah berjuang, tak sepeser pun di masa tuanya Atmah mendapat tunjangan pensiun. Apakah dia tidak berusaha untuk mendapatkan hak-nya itu? "Ya sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Mungkin keterlibatan saya di masa perang memang  sudah menjadi suratan takdir saya. Bukankah takdir dan rezeki itu sudah ditentukan oleh Gusti Allah? " katanya. Tawanya terkekeh memperlihatkan giginya yang tinggal beberapa lagi. Atmah memang selalu riang, walau bisa jadi kehidupannya sangat susah.

  • Sultan Banten, Wihara, dan Wabah Penyakit

    VIHARA Avalokitesvara terletak di Kampung Pamarican, Kota Serang, Provinsi Banten. Avalokitesvara merupakan bahasa Sanskerta untuk Dewi Kwan Im yang diyakini suka menolong manusia dari berbagai kesulitan. Lokasi wihara itu sekitar 500 meter di sebelah utara Masjid Agung Banten dan Keraton Surosowan di Kawasan Banten Lama. Wihara itu dibangun tahun 1652 pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (berkuasa 1651–1683). Awalnya wihara itu dibangun di Kampung Dermayon, Kabupaten Serang, sekitar 500 meter di selatan Masjid Agung Banten. Menurut sejarawan Prancis, Claude Guillot dalam Banten, Sejarah dan Peradaban X–XII , kita hanya memiliki sumber tak jelas mengenai tempat-tempat ibadah orang Tionghoa. Padahal, Banten terkenal karena adanya kelenteng yang dijadikan Vihara Avalokitesvara. Jika sudah ada pada abad ke-17, pasti kelenteng ini disebut-sebut dengan jelas dalam sumber. Sumber asing yang cukup meyakinkan menyebut tentang kelenteng adalah catatan J.P. Cortemunde yang menghadap Sultan Ageng Tirtayasa pada 1673. Dokter bedah asal Denmark itu menyebut “di Banten mereka memiliki kelenteng yang sangat megah, dengan gambar-gambar setan dari emas atau perak yang memiliki hiasan sangat indah tetapi sangat menakutkan... Mereka biasa mengizinkan para pemeluk agama Nasrani masuk dan melihat seluruhnya”. “Jadi hanya catatan ini yang menyatakan bahwa orang Tionghoa memiliki beberapa kelenteng di Banten tahun 1673,” tulis Guillot. Sementara itu, terkait Vihara Avalokitesvara, sepasang sejarawan Prancis, Denys Lombard dan Claudine Salmon menyebutkan dalam penelitian mengenai masyarakat dan inskripsi Tionghoa di Banten, bahwa batu bertulis yang tertua di kelenteng itu dibuat tahun 1754. Sedangkan catatan pertama yang menyebutkan tentang kelenteng itu berasal dari tahun 1747, dan sumbernya berupa sebuah akta notaris yang menjelaskan adanya sebuah lahan di sebelah barat “Chineese Tempel”. Ritual Mengusir Wabah Vihara Avalokitesvara awalnya bernama Bantek Ie yang artinya “sejuta kebajikan”. Wihara itu dipindahkan dari Kampung Dermayon ke Kampung Pamarican sekitar tahun 1774. Bangunan ini pertama kali dipugar pada 1932. Menurut buku Pemetaan Kerukunan Umat Beragama di Banten  terbitan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Kementerian Agama, pada 1774, Sultan Banten (Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin, 1773–1799) menghadiahkan sebidang tanah, yang sekarang berdiri bangunan Vihara Avalokitesvara, atas jasa orang Tionghoa yang ikut melakukan ritual keagamaan saat terjadi wabah penyakit yang menyerang penduduk Banten. Wihara itu sampai sekarang berada di lingkungan permukiman penduduk yang beragama Islam. Jenis penyakitnya tidak diketahui pasti. Namun, kemungkinan wabah sakit perut jika merujuk kepada wabah penyakit yang menyerang Cirebon pada 1772–1773 (dan 1805–1806) yang mengakibatkan seperempat penduduknya meninggal dunia. Sebelumnya, pada 1625, wabah penyakit pes membunuh sepertiga penduduk Banten. Adapun ritual yang dilakukan orang Tionghoa itu adalah mengarak Patung Dewi Kwan Im. Asaji Manggala Putra, humas Vihara Avalokitesvara, menjelaskan pada saat itu terjadi wabah penyakit di Banten yang sangat serius. Banyak penduduk yang meninggal dunia. Sultan meminta agar Patung Dewi Kwan Im diarak keliling kampung. “Ternyata setelah itu dilakukan berhasil dan wabah penyakit itu hilang. Penduduk di Banten pun bisa kembali melakukan aktivitas dan kegiatan mereka, dan dari situlah, tradisi mengarak Patung Dewi Kwan Im atau biasa disebut Gotong Petekong bermula. Namun, kini sudah tidak lagi dilakukan karena ada sesuatu hal,” kata Asaji dikutip kabar-banten.com .*

  • Bob Hasan di Lintasan

    MULAI atletik hingga catur, dari angkat besi sampai panahan dan senam, nama Bob Hasan begitu harum di dalam cabang-cabang olahraga itu. Dunia olahraga Indonesia begitu kehilangan ketika pengusaha berjuluk “Raja Hutan” itu wafat pada 31 Maret 2020 di usia 89 tahun. Konglomerat yang menggurita lewat bisnis-bisnisnya yang moncer itu dikenal pro aktif mengangkat derajat negara lewat olahraga, utamanya atletik sejak 1970-an. Satu warisannya yang masih populer adalah olahraga lari. Cabang atletik ini bahkan kian beken dengan bertaburannnya event-event lari 5-10K (5-10 kilometer). Tren lari nomor itu belakangan digandrungi banyak kalangan. Terlebih, menyediakan hadiah yang tak sepele. Bob Hasanlah yang mempeloporinya pada 1987 dengan menggelar “Bob Hasan Bali 10K”. “Jasa beliau sangat luar biasa untuk olahraga Indonesia, khususnya cabor atletik. Setelah tiga hari dilantik menjadi Menpora, saya mendatangi tempat pelatnas atletik yang sedang persiapan SEA Games Filipina. Di situ saya ngobrol lama dengan Pak Bob,” kata Menpora Zainudin Amali mengenang, dikutip laman Kemenpora , 3 Maret 2020. “Kesan saya ketika itu, bahwa hebat orang tua ini. Sudah seusia yang sepuh seperti itu, beliau masih mau tiap hari ke lapangan Stadion Madya Senayan menemani pelatih, atlet, dan pengurus cabor. Kalau bukan panggilan jiwa beliau dan dedikasi yang luar biasa untuk olahraga, tidak mungkin beliau ada di lapangan,” sambungnya. Bob Hasan (kanan) kala bersua Menpora Zainudin Amali di Stadion Madya (Foto: kemenpora.go.id ) Nakhoda di Lintasan Atletik Menukil Leo Suryadinata dalam “Mohammad Bob Hasan: Timber King, Soeharto’s Cabinet Minister, Promoter of Sports” yang dimuat di Southeast Asian Personalities of Chinese Descent , keterlibatannya dalam olahraga Indonesia adalah hal yang tak disengaja. Ia mulai gandrung terhadap olahraga lari setelah ia sering menderita sakit punggung pada awal 1970-an. “Sejak saat itu ia mulai sering lari setidaknya lima kilometer sehari. ‘Jika saya tidak lari, semua badan saya sakit-sakit’,” katanya dikutip Leo. PB PASI kemudian jadi wadah untuk Bob Hasan menyalurkan hobi sekaligus merintis dedikasinya dalam olahraga. Ia mulai masuk kepengurusan PB PASI sejak induk atletik Indonesia itu dipimpin eks Jaksa Agung Letjen (Purn) Soegih Arto (1973-1976) dan bekas Dubes RI untuk Jepang Letjen (Purn) Sajidiman Soerjohadiprodjo (1976-1978). Pada 1978, Bob Hasan menakhodai PB PASI sebagai ketua umum “abadi” hingga empat dekade berikutnya. Termasuk ketika ia tengah mendekam di penjara tak lama usai Orde Baru rontok. “Hal pertama yang ia lakukan adalah menggenjot popularitas olahraga lari. Ia akui bahwa atlet-atlet Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. Ia mengusulkan atletik masuk kurikulum sekolah dengan harapan bisa menghasilkan atlet-atlet kelas dunia,” sambung Leo. Bob Hasan mengomando PB PASI sebagai ketum sejak 1978 (Foto: Instagram @m.bobhasan) Sebagai konglomerat kelas kakap yang intim dengan keluarga Cendana, Bob sering merogoh kocek sendiri untuk mengirim atlet-atlet berlatih di luar negeri atau menyewa pelatih asing. Bob juga tak segan sowan ke Asian Athletic Association (AAA). Hasilnya, Bob sukses melobi AAA untuk menggelar Kejuaraan Atletik Asia 1985 di Stadion Madya, Jakarta kurun 25-29 September 1985. Hasil yang ditorehkan para atlet Indonesia memang belum menggembirakan. Dari puluhan nomor dan kategori, tuan rumah Indonesia hanya mampu menyabet masing-masing dua perak (M. Purnomo 100 dan 200 meter putra) dan perunggu (Emma Tahapary 400 meter putri dan Iece Magdalena Siregar 10.000 meter jalan cepat putri). Meski begitu, Bob Hasan tak kecewa. Sejak sejumlah atletnya dikirim ke Olimpiade Los Angeles 1984 sekaligus berlatih di Amerika, ia memang merasa atlet-atlet Indonesia belum waktunya untuk unjuk gigi di level Asia. “Itu belum cukup mengejar ketertinggalan kita. Kita baru mulai. Sabar saja dulu. Tak menang, ya menonton saja dulu,” kata Bob berkelakar dalam Kiprah Sarengat, Purnomo dan Mardi Lestari Pelari Legendaris Nasional. Kendati para atletnya gagal memetik emas, hikmah yang diambil Bob adalah masyarakat Indonesia lebih aware akan olahraga atletik. Maklum, pada 1980-an atletik masih kalah pamor ketimbang sepakbola dan bulutangkis. Perlahan tapi pasti, publik mulai menengok olahraga atletik. Sementara untuk para atletnya, hikmah dari kegagalan itu jadi pengalaman dan pelajaran meski pahit. “Biar mereka tahu apa gunanya saya marah-marah selama ini dan terus menekan mereka agar terus berlatih sekeras-kerasnya,” tambahnya. Untuk mempopulerkan atletik, khususnya lari jarak 10 kilometer, Bob di bawah bendera PB PASI memulainya dengan menggelar event lari pertama yang hingga kini masih digemari banyak kalangan, yakni Bali 10K. Bagi Bob, program semacam itulah yang jadi salah satu faktor pendorong kesuksesan prestasi atletik di negara-negara maju. “Lomba lari 10K merupakan lomba lari paling bergengsi di dunia. Di Indonesia mulai dipertandingkan pada 1987 yang dikemas PB PASI dengan nama ‘Bob Hasan Bali 10K’. Lomba internasional itu mendapat sambutan baik dari pelari nasional maupun mancanegara, sehingga PB PASI menjadikan lomba itu sebagai kalender tahunan PB PASI,” sebagaimana dikutip dari Majalah Gatra edisi 16 Desember 2009. “Lomba lari ‘Bob Hasan Bali 10K’ berlanjut hingga 1989. Lalu pada 1990 dipindahkan ke Yogyakarta dengan nama ‘Bob Hasan Borobudur 10K’ hingga 1992. Setelah itu giliran Jakarta, di mana puncaknya terjadi pada 1995, ketika juara dunia maraton asal Ethiopia memecahkan rekor dunia lomba lari 10K,” lanjut ulasan tersebut. Lomba lari dan pembinaan yang serius berbekal sokongan dana yang lebih dari cukup itu berbuah manis. Selama empat dekade menakhodai PB PASI, sejumlah jagoan atletik yang diakui dunia dilahirkan Indonesia. Purnomo Yudhi, Mardi Lestari, Maria Londa, Triyaningsih, Suryo Agung Wibowo, hingga penerusnya di era kekinian, Lalu Muhammad Zohri, merupakan di antara bintang-bintang yang dilahirkan itu. Triyaningsih, salah satu andalan atletik putri Indonesia asuhan Bob Hasan (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Tidak hanya dalam atletik, Bob Hasan juga mengasuh beberapa cabang olahraga lain lewat induk organisasinya seperti Percasi (catur), PB PABBSI (angkat besi dan binaraga), Persani (senam), dan Perpani (panahan). Di olahraga panahan bahkan Bob punya “saham” dalam raihan medali olimpiade pertama Indonesia di Olimpiade Seoul 1988. Kala itu medali perak dipersembahkan trio srikandi Kusuma Wardhani, Lilies Handayani, dan Nurfitriyana Saiman. "Saat Indonesia mendapat perak di panahan, saya langsung ditelepon Bob Hasan (ketua Pembina PB Perpani, red ). Hal ini tentu tidak terlepas dari hubungan baik antara olahraga dan antarlembaga kala saya menjabat asisten Menpora sejak Maret 1988," ungkap Mangombar Ferdinand Siregar dalam biografinya yang dituliskan Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti Handayani, Matahari Olahraga Indonesia. Prestasi tersebut diapresiasi Presiden Soeharto dengan mengundang ketiga srikandi dan pelatih mereka Donald Pandiangan ke Bina Graha pada 10 Oktober 1988.  Mereka datang ditemani Bob Hasan dan M. F. Siregar. Ketiga srikandi panahan itu juga dihadiahi beasiswa Supersemar. Aktivitas segudangnya di beragam gelanggang itu jadi bukti sahih bahwa olahraga jadi hal tak terpisahkan dari diri Bob Hasan dalam segala keadaan. Kala ia mendekam di LP Salemba, Batu, hingga Nusakambangan sejak 2001 akibat kasus korupsi pemetaan hutan, Bob banyak mengisi waktunya dengan beraneka kegiatan olahraga. Selain demi menjaga kebugaran, juga untuk menjaga kewarasan di balik tembok penjara. “Saya bisa menjalani hidup di penjara dengan tingkat stres yang minim karena saya membuat kesibukan juga untuk penghuni LP. Saya memang tidak bisa diam, ada saja yang saya pikirkan untuk membuat keadaan di LP itu menjadi sehat,” tulisnya dalam salah satu bab testimoni di buku Pak Harto, Sisi-Sisi yang Terlupakan yang disusun OC Kaligis, dkk. “Awalnya saya belikan beberapa set meja pingpong (tenis meja, red. ), lantas gotong royong dengan napi yang lain membuat lapangan bulutangkis, juga lapangan futsal. Kalau dulu saya bisa memberikan bonus ratusan juta rupiah untuk atlet berprestasi, maka hadiah dari saya untuk LP adalah keceriaan dan keringan para napi yang bercucuran setelah mereka berolahraga, sehingga bisa terbuang racun-racun depresi yang mengendap di tubuhnya,” lanjutnya. Meski usianya sudah kepala delapan Bob Hasan tetap getol mengurusi atletik (Foto: Instagram @m.bobhasan) Begitu menghirup udara bebas, Bob Hasan yang statusnya masih ketum PB PASI, kembali sering nongol untuk mengawasi langsung para atletnya berlatih. Itu berjalan hingga hari-hari terakhirnya. Sikap itu menjadi bukti nyata Bob selaku pemimpin induk olahraga tak hanya duduk anteng di belakang meja menanti laporan menggembirakan tanpa mau “berkotor-kotoran”. “Bob Hasan mendedikasikan diri di dunia atletik selama lebih dari 40 tahun. Ia telah berkontribusi menggelar sejumlah kompetisi (atletik) tingkat Asia, ketika tak satupun mau menjadi tuan rumahnya. Persaudaraan atletik Asia akan selalu mengenang jasa-jasanya. Oleh karenanya kami turut berbelasungkawa. Semoga arwahnya bisa beristirahat dengan tenang,” tutur Presiden AAA Dahlan al-Hamad dalam pernyataan resminya terkait wafatnya Bob Hasan, di laman resmi AAA.

  • Yang Pertama dari Kedokteran Indonesia

    Penghormatan setinggi-tingginya ditujukkan untuk seluruh tenaga medis Indonesia. Di tengah semakin mewabahnya virus Covid-19, peran mereka sebagai garda terdepan sangat dibutuhkan. Tanpa kenal lelah, para tenaga medis ini berjuang menyelamatkan nyawa pasien-pasiennya. Meski nyawa mereka juga bisa ikut terancam. Apresiasi bagi petugas medis ini juga datang dari istana. Diberitakan laman resmi Sekretaris Kabinet Republik Indonesia, setkab.go.id, Presiden Joko Widodo menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh petugas medis yang telah bekerja keras merawat para pasien terpapara virus tersebut. “Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada para dokter, para perawat dan seluruh jajaran rumah sakit, yang sedang bekerja keras penuh dedikasi dalam melayani dan merawat para pasien yang terinveksi Covid-19,” ucap Presiden. Kapan dan di mana pun profesi dokter serta tenaga medis akan selalu dibutuhkan. Keberadaan mereka menjadi penjaga keseimbangan suatu negara. Di Indonesia, profesi tersebut telah ada selama lebih dari seratus tahun. Bermula dari masa Hindia-Belanda, pemeran utama dunia kesehatan ini pun akhirnya terlahir. Berikut serba pertama soal dokter di Indonesia. Dokter Lulusan Belanda Pertama Mas Asmaoen (Repro Di Negeri Para Penjajah) Namanya mungkin terdengar asing di telinga masyarakat. Mas Asmaoen, merupakan lulusan pertama asal Indonesia yang meraih gelar dokter di Belanda. Dilahirkan pada 1880 di Surakarta, Mas Asmaoen sempat mengenyam pendidikan di STOVIA (sekolah dokter untuk bumiputra) sebelum akhirnya diizinkan menempuh kuliah kedokteran di Belanda. Kesempatan untuk melanjutkan studi di Belanda tidaklah mudah. Hanya para siswa yang bettul-betul pintar mampu mendapat akses terbatas tersebut. Pada 1904, Menteri Urusan Daerah Jajahan Dirk Fock mengeluarkan izin studi kedokteran di Belanda bagi lulusan STOVIA. Abdul Rivai menjadi yang pertama mendapatkannya. Mas Asmaoen juga menggunakan kesempatan itu untuk mendaftar. Bersama Mas Boenjamin, Mas Asmaoen mencatatkan namanya di fakultas kedokteran Universitas Amsterdam. Keduanya merupakan mahasiswa yang cemerlang sejak di STOVIA. Menurut Hans Pols dalam Nurturing Indonesia: Medicine and Decolonisation in the Dutch East Indies , kendati Abdul Rivai yang pertama masuk Universitas Amsterdam, tetapi Mas Asmaoen yang pertama lulus. “Karena Rivai sibuk menulis untuk majalah Bintang Hindia, Asmaoen menjadi bumiputra pertama yang menerima gelar dokter Belanda,” ungkapnya. Setelah lulus, Mas Asmaoen sempat beberapa bulan bekerja di Institute of Naval and Tropical Medicine di Hamburg, Jerman. Begitu mendapat kesempatan pulang ke Hindia Belanda, dia bekerja sebagai perwira kesehatan di pasukan kolonial. Mas Asmaoen memperoleh kewarganegaraan Belanda, dan menikahi seorang perempuan Belanda kelahiran Surabaya, Adriana Asmaoen-Punt. “Dia diangkat menjadi perwira kesehatan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Dia menjadi orang Indonesia pertama dalam kedudukan itu,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Para Penjajah . Karir Mas Asmaoen di KNIL tidak lama. Dia mendapat penolakan dari perwira Belanda karena latar belakangnya sebagai bumiputra. Dia kemudian dipindahkan ke Irian, tapi di sana jatuh sakit. Menurut Poeze, Asmaoen tidak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi di Indonesia. Terlalu lama tinggal di Belanda membuatnya sulit beradaptasi. Mas Asmaoen meninggal dunia pada 1916 (sumber lain menyebut tahun 1917). Dokter Perempuan Pertama Marie Thomas di ruang persalinan ( javapost.nl ) Sejak secara resmi menjalankan fungsinya sebagai sekolah pada 1902, STOVIA tidak menerima murid perempuan. Hanya para murid laki-laki yang boleh mengenyam pendidikan dokter di sana. Namun peraturannya perlahan berubah semenjak Marie Thomas mendapat izin berstudi di sekolah khusus bumiputra tersebut. Diterimanya perempuan kelahian Likupang, Manado, tahun 1896 itu tidak lepas dari peran Aletta Jacobs, dokter perempuan pertama di Negeri Belanda. Diceritakan sejarawan Belanda Liesbeth Hessleink dalam “Marie Thomas (1896-1966), de eerste vrouwelijke arts in Nederlands-Indie”, dimuat Javapost.nl , kesempatan Marie Thomas datang pada 18 April 1912. Itu terjadi saat Aletta Jacobs singgah di Batavia dalam kegiatan tur keliling dunia. Di Hindia Belanda ini Aletta bertemu dengan Gubernur Jenderal AWF Idenburg. Pada pertemuan itu, Aletta menyampaikan keinginan agar perempuan bumiputra memperoleh kesempatan mendapat pendidikan kedokteran. Sehingga tidak hanya laki-laki saja yang berkarir di dunia medis. Tidak berlangsung lama, harapan Aletta berbuah hasil. Peraturan baru segera dikeluarkan pejabat pemerintah Hindia Belanda terkait masalah tersebut. Melalui beasiswa dari sebuah yayasan yang bergerak mengeluarkan dana pendidikan bagi dokter perempuan, Studiefonds voor Opleiding van Vrouwelijke Indlandsche Arsten (SOVIA), Marie Thomas mendaftar ke Stovia. Memasuki pertengahan tahun 1912, dirinya tercatat sebagai mahasiswa STOVIA. Lulus tahun 1922, Marie Thomas memulai karirnya di Centraal Burger Ziekenhuis (kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), Batavia. Marie Thomas menjadi spesialis Indonesia pertama dalam bidang ginekologi dan kebidanan. Sekolah Dokter Pertama Suasana di kelas anatomi, Stovia (Repro Healers on the Colonial Market) Permulaan abad ke-19, epidemi penyakit menular merebak di seluruh wilayah Hindia Belanda. Pemerintah ketika itu kesulitan menghentikan penyebarannya karena penyakit berkembang di kalangan bumiputra. Sementara rumah sakit yang tersedia hanya diperuntukkan bagi orang-orang Eropa saja. Akibatnya penyebaran itu tidak dapat dibendung dan mulai menyerang semua kalangan. Demi terhindar dari dampak yang lebih buruk, Kepala Dinas Kesehatan Umum Hindia Belanda Williem Bosch melayangkan usulan kepada pemerintah agar kalangan bumiputra diperbolehkan menerima pendidikan menjadi dokter. Para lulusannya akan disebar menekan penyakit di banyak daerah, dan diproyeksikan mengganti peran dukun sebagai tenaga medis tradisional. Usulan itu makin mendesak ketika wilayah Jawa Tengah diserang epidemi penyakit tahun 1847. Pada 1 Januari 1851, setelah melalui serangkaian perdebatan, usulan Bosch dapat direalisasikan. Pemerintah kemudian membuka sekolah kedokteran pertama di Hindia Belanda dengan nama resmi School ter Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen. Dikenal luas di masyarakat dengan sebutan Sekolah Dokter Jawa. Gedung untuk pendidikan menempati salah satu bagian rumah sakit militer. Direktur pertamanya dijabat oleh P. Bleeker, seorang iktiologis dengan reputasi interasional. Di dalam bukunya, Healers on the Colonial Market , sejarawan Liesbeth menyebut tidak ada pelajaran khusus yang ditujukan untuk kondisi umum masyarakat lokal. Sebagian besar pengajarnya bahkan hampir tidak punya pengalaman menangani pasien bumiputra. Tahun pertama, para murid sekolah dokter ini mempelajari dasar-dasar ilmu pengobatan, kimia, geologi, botani, zoologi, anatomi, psikologi, dan otopsi. Tahun berikutnya mereka diajari pembedahan dan operasi pada jenazah. “Seluruh alumni Sekolah Dokter Jawa, termasuk mereka yang membuka praktik dokter sendiri, disupervisi oleh dokter Eropa yang bertanggung jawab kepada Dinas Kesehatan,” ungkap Liesbeth. Kehadiran para dokter dari kalangan bumiputra ini terbukti mampu menjaga penularan penyakit secara masif di masyarakat. Mereka juga menjadi agen yang memperkenalkan pengobatan modern Barat kepada masyarakat awam. Atas kesuksesan itu, tahun 1875 program pendidikan dokter Jawa direformasi. Durasinya diperpanjang dari tiga menjadi tujuh tahun. Jumlah siswa yang diterima bertambah dari 50 menjadi 100. Bahasa pengantarnya pun berganti menjadi bahasa Belanda. Pada 1902, bersamaan dengan kebijakan politik etis, revisi pendidikan ikut mengalami perubahan. Nama sekolah berganti menjadi School tot Opleiding van Indlandsche Artsen (STOVIA). “Istilah dokter Jawa berubah jadi Inlandsche Arts atau dokter bumiputra. Kemudian pada 1913, sekolah membuka pendaftaran bagi seluruh ras tanpa terkecuali maka gelar tersebut diubah menjadi Indische Arts atau dokter Hindia,” ungkap Liesbeth.

  • Meruwat untuk Mengusir Kekuatan Jahat

    Warga di Madiun, Jawa Timur, menggelar atraksi kesenian Dongkrek untuk mengusir pagebluk. Di antaranya ada yang menggunakan topeng genderuwoberwarna-warni. Dengan diringi musik, mereka berkeliling ke sudut-sudut sejumlah desa. Dalam Kesenian Dongkrek Internasilisasi Nilai dan Ketahanan Budaya , sejarawan IKIP PGRI Madiun, Muhammad Hanif, dkk. menjelaskan ritual ini sudah ada sejak 1867 dan terus berjaya hingga 1902. Kesenian ini lahir pada masa Raden Sosro Widjoyo, yang bergelar Raden Ngabehi Lho Prawiro Dipoero III menjabat sebagai Palang Caruban atau sekarang Kecamatan Mejayan. Palang setara dengan jabatan lurah kepala. Pada 1866, daerah Caruban diserang pagebluk yang menelan banyak korban. Raden Prawiro Dipoero berusaha mencari jalan keluar. Ia bermeditasi dan bertapa di wilayah Gunung Kidul Caruban. Saat bertapa, ia diganggu segerombolan genderuwo . Ia mengalahkan genderuwo itu dengan cemeti yang didapatkan nya dari seorang kakek sakti saat bertapa. Bahkan, Raden Prawiro Dipoero membuat genderuwo itu membantunya mengusir wabah penyakit. Ia bersama abdinya dan genderuwo berjalan keliling kawasan Mejayan. Mereka menggiring keluar roh halus pembawa wabah yang menyerang wilayah mereka. Setelah krisis pangan dan wabah berlalu Raden Prawiro Dipoera membuat topeng menyerupai sosok genderuwo. Ia menjadikanya topeng seremonial untuk diarak keliling kampung setahun sekali pada tengah malam. Ini sebagai ritual tolak bala atau mencegah agar wabah tak muncul kembali. Keyakinan adanya roh atau hantu jahat yang mendatangkan musibah bagi manusia sudah ada sejak lama. “Dalam prasasti ada kata hanitu atau hantu, ‘lenyaplah segala hanitu ’. Artinya sebagai suatu yang mengancam. Dalam keyakinan itu penyakit dianggap sebagai kekuatan jahat yang perlu disirnakan. Jadi nonmedis,” kata Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang kepada Historia. Mengusir Pengaruh Jahat Hari Lelono, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, menjelaskan dengan tujuan sama, umumnya masyarakat Jawa menggelar upacara bersih desa. Ada juga yang menyebutnya ruwatan. Bersih desa berasal dari pengertian orang Jawa yang berarti membersihkan hal buruk. Tujuannya agar manusia terhindar dari bermacam gangguan, baik alam maupun roh jahat. Sementara ruwatan berasal dari kata ruwat, artinya luwar atau lepas. “Jadi, bersih desa atau dusun dan ruwatan berarti melepas segala bentuk perbuatan jelek, malapetaka, hal kotor,” jelas Hari Lelono dalam “Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana” , terbit di Berkala Arkeologi Vol. 35 , 2015 . Ruwatan bisa dilakukan terhadap alam semesta sebagai tempat hidup manusia, serta segala isinya seperti bumi, sungai, laut, danau. Pun ruwatan bisa dilakukan terhadap manusia secara individu maupun kelompok. Pada masa lalu, khususnya masyarakat Jawa dan Bali,mengenal upacara bhumisuddha. Artinya upacara kurban pemberian ( suddha ) bumi dari segala pengaruh jahat. Menurut Hari, pada masa Bali Kuno, sekira abad ke-10, dikenal upacara kurban yang disebut Haywahaywan dan pamahayu, yang berarti cantik, damai, dan sejahtera. “Selanjutnya masyarakat Jawa sekarang mengenal kata-kata mutiara: mamayu hayuning bawana . Maksudnya mempercantik dunia,” kata Hari. Upacara bhumisuddha tak berbeda jauh dengan ruwatan bumi. Konsep ini kemudian berkembang menjadi bersih desa. “Bersih itu suddha, desa itu bhumi. Atau slametan sedekah bumi,” jelasnya. Ritual ini juga biasanya diiringi dengan persembahan “kurban” kepada Sang Penguasa Alam. Kurbannya berupa sesajian dengan segala macam perlengkapannya. Biasanya kegiatan ini dilakukan setelah musim panen,supaya masyarakat punya dana yang cukup untuk melakukan prosesinya. Hari menyebut masyarakat Tengger, suku asli yang mendiami wilayah Gunung Bromo dan Semeru, Jawa Timur, biasanya melakukan upacara terpusat di Candi Sanggar, Dusun Wonogriyo. Mereka percaya di sana tempat tinggal roh-roh leluhur cikal bakal desa atau danyang . Karenanya pada waktu-waktu tertentu, mereka harus melakukan upacara menghormati para danyang. Tujuannya agar mereka selalu dijaga dan dihindarkan dari gangguan roh-roh jahat penyebab bencana. “Bencana itu baik berupa bencana alam maupun musibah seperti penyakit, kematian, dan pengaruh jahat lainnya,” jelas Hari. Roh Jahat Kegiatan menangkal roh jahat pembawa petaka pada masa kuno, dipahatkan pada pendopo Candi Panataran di Blitar, Jawa Timur. “Ada gambaran seorang tokoh memberikan sesajian yang dimaksudkan untuk menangkal gangguan yaitu hantu. Artinya ada tempat-tempat tertentu untuk menyirnakan penyebab petaka, disebut hantu jahat,” jelas Dwi. Arkeolog Setyawati Suleman dalam Batur Pendopo Panataran , menjelaskan bahwa dalam pendopo Candi Panataran itu seorang tokoh dengan tutup kepala tekes tampak sedang membawa sajian dalam bentuk tumpeng kepada Durga di pekuburan yang penuh dengan hantu. Ia berjumpa dengan hantu yang badannya setengah terkubur di tanah. Di atas relief ini terdapat tulisan yang oleh J.L.A Brandes, ahli purbakala Belanda, dibaca sebagai hanja hanja nngah . I nskripsi ini cocok dengan adegan tadi, yang berarti hantu berbadan setengah. Pada adegan ini tampak pula tangan besar yang terulur ke atas, ini adalah hantu tangan. Ia disebut dengan tetangan dalam kisah Sudhamala. Di atasnya kepala Bhuta tengah meringis.  Soal hantu, ada inskripsi singkat lain yang ditemukan di relief pendopo ini. Tertulis hanja hanja kasturi. Mungkin yang dimaksud adalah hantu wangi. Kendati adegan di bawahnya tak memperlihatkan adegan yang ada hantunya.  Dwi juga menyebutkan kisah Sudhamala yang ditemukan pada relief di dinding Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, Karanganyar dan di Candi Tegowangi di Kediri. Di sana ada adegan Sadewa, salah satu dari tokoh Pandawa, yang berhasil meruwat raksasi bernama Durga Ranini, penguasa Setra Gandamayu tempat para jin dan setan. Setelah diruwat, Ranini kembali ke wujudnya semula, Batari Uma yang canti k jelita. “Dalam Sudhamala ada Ranini penguasa Setra Gandamayu, yang digambarkan sebagai kekuatan jahat. Lalu setelah diruwat, murkanya diredakan,” jelas Dwi. Ada pula relief Angling Dharma pada dinding Candi Jago di Malang. Angling Dharma pada ujung cerita meruwat seorang resi dari wujudunya yang seperti raksasa. Kondisinyakembali stabil saat sang resi mendapatkan wujudnya yang suci dan diangkat ke surga. Paling Mudah Dicerna Dwi mengatakan segala bencana yang terjadi pada masyarakat kuno selalu dianggap sebagai murka alam atau murka ilahi. Karenanya masyarakat perlu meredakan murkanya. “Karena berkaitan dengan keyakinan jadi dilakukannya juga berdasarkan keyakinan tertentu,” jelas Dwi. Pada perkembangannya, menurut sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, kemarahan roh-roh orang mati yang tak puas tetap merupakan penjelasan yang lebih cepat dan lebih mudah bagi suatu bencana yang terjadi. Itu bila dibandingkan dengan pandangan tentang kejahatan dari kitab-kitab suci yang ada. “Sekalipun agama-agama kitabiah berhasil mengurangi pengaruh roh-roh halus, orang tetap saja ada yang sakit, sial, dan mati,” katanya. Bagaimanapun, kata Hari Lelono, kepercayaan mempunyai fungsi salah satu n ya untuk mengurangi kegelisahan. “Dengan religi manusia bisa mendapat ketenangan untuk menghadapi hal-hal di luar jangakauan pikirannya, seperti kematian, penyakit, bencana, dan lainnya,” katanya.

  • Krisis Barang pada Zaman Jepang

    PANDEMI Covid-19 menyebabkan beberapa barang langka di pasaran. Contohnya masker dan cairan pembersih tangan. Belakangan barang kebutuhan pokok semisal gula ikut langka. Kekhawatiran muncul dari masyarakat terhadap ketersediaan barang kebutuhan pokok. Tapi pemerintah meyakinkan tidak akan ada kelangkaan barang kebutuhan pokok.

  • Tragedi Pesawat Angkatan Udara di Mata Utami Suryadarma

    SEBAGAI bagian dari upaya pemerintah mengatasi pandemi corona atau Covid-19, TNI Angkatan Udara (AU) ikut andil dengan mengerahkan pesawat angkutnya ke RRC. “TNI Angkatan Udara memberangkatkan pesawat angkut berat C 130 Hercules ke Shanghai, China untuk mengangkut logistik kesehatan penanganan virus Corona (COVID-19) di Indonesia,” demikian diberitakan detik.com , 22 Maret 2020. Menkopolhukam Mahfud MD menyebut tugas yang dijalankan TNI AU itu amat mengharukan. “Menurutnya, di saat rakyat Indonesia diminta pemerintah untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah, sedangkan personel TNI itu diminta pergi jauh dari rumah untuk mencari obat Corona.” Apa yang dilakukan para personil TNI AU itu seolah melanjutkan perjuangan para perwira muda AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, nama sebelum TNI AU) yang menjalankan tugas mengangkut obat-obatan pada 1947 yang kemudian dijadikan Hari Bakti AU. Kejadian itu selalu diingat  Utami Suryadarma, istri KSAU Komodor Suryadarma, yang kemudian menuliskannya dalam memoar berjudul Saya, Soeriadi, dan Tanah Air.  Utami ingat betul suatu hari di pengujung Juli tahun 1947 ketika kediamannya di Yogyakarta didatangi Adisujipto dan “dokter karbol” Abdulrachman Saleh. Kedua pemuda-perwira yang bersama Suryadarma ikut merintis AURI itu datang untuk berpamitan.  Adisutjipto dan dokter karbol –julukan yang melekat pada Abdulrahman Saleh karena kebiasaannya semasa sekolah kedokteran di Batavia mengepel asrama menggunakan karbol– akan berangkat ke Singapura untuk mengambil bantuan obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia. Mereka akan terbang menggunakan pesawat DC-3 Dakota bernomor registrasi VT-CLA. Pertemuan berjalan akrab seperti biasa ketika kedua bawahan Suryadarma itu membahas masalah AURI dan perjuangan dengan sang KSAU. Ketika kunjungan selesai, kedua perwira muda AURI itu berpamitan seperti biasa mereka bertemu sebelumnya. Semua berjalan seperti biasa setelah itu. Adisutjipto dan dokter kadet berangkat ke Singapura, sementara Suryadarma mengurusi AURI dan Utami bersumbangsih dengan membantu perjuangan di garis belakang bersama gerakan perempuan. Namun, pada 29 Juli 1947 sore Utami mendapati kejanggalan di atas langit Yogyakarta. “Kita semua mendengar bunyi deruman sebuah pesawat Dakota. Suamiku heran karena biasanya pesawat kita yang datang dari luar negeri, mendarat di Yogyakarta pada malam hari kalau hari sudah sungguh-sungguh gelap. Saat itu sore hari yang masih terang-benderang,” ujarnya. Kejanggalan itulah yang membuat Suryadarma, kata Utami, segera berlari ke mobilnya untuk menuju Lanud Maguwo (kini Lanud Adisucipto) yang letaknya tak terlalu jauh dari kediaman KSAU. Kedua anak Suryadarma-Utami, yakni Priyanti dan Erlangga, ikut dengan ayah mereka. Utami menunggu di rumah dengan hati cemas. Kecemasannya seketika berubah menjadi kesedihan ketika suami bersama kedua anaknya tiba dari Maguwo petang itu. Suryadarma mengabarkan bahwa pesawat Dakota yang suaranya mereka dengar sore itu ternyata Dakota yang –disewa AURI dari Kalingga Air milik Bidju Patnaik, pengusaha India yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia– ditumpangi Adisutjipto dan dokter karbol dan pesawat itu baru saja jatuh ditembak pesawat Belanda. “Dakota VT-CLA mengeluarkan asap; baling-baling sebelah kanan patah. Pesawat itu kehilangan keseimbangan dan tembakan masih gencar dilancarkan. Ketika menukik tajam, dari pintu pesawat tampak beberapa sosok tubuh terlempar ke luar. Pesawat miring hingga sayap kirinya melanggar pucuk pohon, kemudian jatuh melayang membentur tanggul sawah,” kata saksi bernama Soma Pawiro sebagaimana dikutip Irna Soewito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 . “Hatiku tersayat-sayat rasanya,” kata Utami mengingat keadaan saat dia mendengar kabar pilu itu. “Untuk petama kalinya saya menyaksikan suamiku menangis sekembalinya dari Maguwo.” Malam itu juga Suryadarma –yang sebelum pulang ikut membawa jenazah korban Dakota ke rumahsakit– dan Utami ke Rumahsakit Bethesda, tempat para jenazah disemayamkan. Presiden Sukarno, Wapres Moh. Hatta, dan Pangsar Jenderal Soedirman sudah ada di rumahsakit ketika mereka tiba. Suryadarma amat terpukul oleh kejadian itu, kata Utami. Selain kehilangan sahabat sekaligus bawahan-bawahan yang cakap, dia sebagai pemimpin AURI yang masih seumur jagung kehilangan pencetak-pencetak kader penerbang-penerbang baru. Praktis hanya tinggal Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi yang dapat diandalkannya untuk terus menjalankan roda kehidupan AURI. Sama dengan suaminya, Utami juga terpukul oleh kejadian tersebut. “Sebelumnya saya merasa ngeri melihat janazah para korban, tetapi rasa itu hilang ketika saya melihat wajah Adisoetjipto dan dr Karbol. Wajah mereka berdua utuh sepenuhnya, meskipun ada sedikit luka terbakar. Namun saya tidak dapat menahan airmata yang bercucuran. Baru beberapa hari yang lalu mereka berdua datang berpamitan ke rumah, karena akan berangkat ke Singapura untuk tugas penting ini. Sekarang mereka sudah kembali dari menjalankan tugas, tetapi mereka telah tidak bernyawa. Bagaimana saya tidak sedih dan bagaimana saya dapat menahan airmata mengingat itu semua,” kata Utami.

  • Keindahan yang Terjaga dari Hutan Tua

    SIAPAPUN akan takjub bila mengunjungi Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Begitu memasuki pintu gerbang Rowobendo, Anda akan disambut pemandangan rimbunan pohon mahoni di kanan-kiri jalan. Begitu indah. Bak lukisan atau sebuah tempat nun jauh di masa lalu. Tapi ini awal dari perjalanan yang akan mengejutkan Anda. Alas Purwo punya objek wisata yang terbilang lengkap dan mempesona. Dari pantai pasir putih hingga padang savana. Dari situs sejarah yang menggelitik hingga goa-goa yang beraroma mistik. Anda bisa menunggangi ombak, meneliti hewan liar, dan masih banyak lagi. Alas Purwo memiliki keanekaragaman hayati dan satwa yang mengagumkan. Pada masa Hindia Belanda, kawasan hutan ini ditetapkan sebagai cagar alam (1920) lalu suaka margasatwa (1936). Statusnya kemudian meningkat jadi taman nasional (1992) dan juga ditetapkan sebagai kawasan lindung nasional (2008). Bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, keberadaan TNAP seluas sekitar 43.420 hektar adalah sebuah berkah. Pesona alamnya dimanfaatkan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan. Salah satunya dengan menggelar sejumlah event yang memadukan olahraga dan wisata ( sport tourism ). Akhir November 2019, misalnya, digelar Alas Purwo Geopark Green Run yang diikuti sekitar 500 pelari dari dalam maupun luar negeri. Para peserta melewati lebatnya pepohonan mahoni lalu menyusuri pinggiran Pantai Trianggulasi yang berpasir putih. “Jadi kini akses ke hutan-hutan sudah beres, termasuk jalanan di Alas Purwo. Sekarang sudah mulus. Setelah kemarin sukses dengan Ijen Green Run, ada ide menggelar jungle run ,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Ijen Green Run, yang digelar sejak 2016, memanjakan para pelari dengan kesegaran dan keindahan alam kaki Gunung Ijen. Taman Nasional Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Hutan Tua Alas Purwo adalah hutan tua, bahkan dianggap yang tertua, di Pulau Jawa. Dalam bahasa Jawa, Alas Purwo punya arti “hutan pertama” atau “hutan permulaan”. Maka, ia dikaitkan dengan mitos awal mula penciptaan Pulau Jawa. Sejumlah penelitian arkeologi memang terus dilakukan. Beberapa penelitian menemukan banyak goa yang mirip dengan goa hunian manusia prasejarah di wilayah karst lainnya. Karst adalah bagian yang mendominasi Alas Purwo. Menurut Obyek dan daya Tarik Wisata Taman Nasional Alas Purwo , hutan lindung ini memiliki sekira 40 goa alami. Beberapa di antaranya menjadi tempat laku spiritual atau semedi seperti Goa Istana, Goa Mayangkoro, Goa Padepokan, Goa Mangleng, dan Goa Kucur. Masyarakat sekitar percaya bahwa Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Kerajaan Majapahit yang menghindar dari serbuan Mataram. Mereka juga yakin hutan ini masih menyembunyikan Keris Sumelang Gandring, salah satu pusaka Majapahit . Di tengah Alas Purwo  juga terdapat Situs Kawitan yang merupakan situs peninggalan Majapahit. Situs Kawitan, dalam bahasa Jawa juga berarti permulaan atau nenek moyang, ditemukan secara tidak sengaja oleh penduduk sekitar pada 1960-an. Karena diyakini sebagai tempat suci, di dekat situ didirikan Pura Giri Selaka. Sampai saat ini banyak umat Hindu mendatangi Pura untuk upacara keagamaan Pagerwesi yang diadakan setiap 210 hari sekali. Kesan mistis dan sakral itu, alih-alih dihilangkan, malah dipakai Pemkab Banyuwangi untuk mempromosikan Alas Purwo sebagai destinasi wisata. “Semakin tersembunyi semakin dicari, semakin mistis semakin diminati. Itulah Alas Purwo,” ujar Anas kepada kumparan.com . Hal itu pula yang memunculkan gagasan dari benak Anas untuk menggelar Festival Kejawen dalam waktu dekat. Tapi sebenarnya, jauh dari kesan mistis, Alas Purwo terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Karena lokasinya berbatasan dengan Samudera Hindia, TNAP diberkahi deretan pantai eksotis seperti Pantai Parang Ireng, Pantai Ngagelan, Pantai Pancur, hingga Pantai Plengkung. Anda bisa bermain di tepi pantai, melihat konservasi penyu, atau berselancar di atas ombak setinggi enam meter. Jika tertarik dengan konservasi satwa liar, datanglah ke Sadengan, sebuah padang rumput atau savana yang luas. Awalnya tempat pengamatan banteng, Sadengan kini difungsikan sebagai “Wildlife Research Station”. Di sana Anda bisa mengamati burung merak, rusa, dan banteng Jawa. Ada juga pemandangan hamparan mangrove di sepanjang Sungai Segara Anakan di kawasan Bedul. B angunan Sanggrahan yang megah dengan motif rumah Osing, suku asli Banyuwangi. Masih banyak lagi. Bukan hanya rekreasi dan pariwisata, Alas Purwo cocok untuk tujuan penelitian hingga ilmu pengetahuan. Ia menjadi rumah bagi ratusan jenis flora dan fauna. Hewan yang ikonik adalah banteng Jawa, lutung budeng, dan penyu. Sementara tumbuhan khas dan endemik adalah bambu manggong ( Gigantochloa manggong ) dan sawo kecik ( Manilkara kauki ). Pohon sawo kecil Alas Purwo pernah diminta khusus oleh Siti Hartienah Soeharto atau Ibu Tien untuk diukir fragmen Rama Tambak dari kisah Ramayana. Kini, batang sawo kecik berukir itu bisa disaksikan di Museum Purna Bhakti Pertiwi di kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Dengan semua itu, tak heran jika TNAP –bersama Gunung Ijen di Banyuwangi– ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan, pada 2016. Selain itu, TNAP –selain Blue Fire di Gunung Ijen dan Pulau Merah d Banyuwangi– ditetapkan sebagai situs Taman Bumi atau Geological Park (Geopark) Nasional 2018. Taman Nasional Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Konsep Sport Tourism Dengan segala pesonanya, Alas Purwo kini menjadi salah satu destinasi favorit di Banyuwangi. Kunjungan wisatawan tercatat terus meningkat. Keberhasilan itu tak lepas dari upaya Pemkab Banyuwangi untuk memoles Alas Purwo. Pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana untuk mendukung pengelolaan kawasan digiatkan. Dari kantor balai hingga akses jalan di dalam kawasan. Jalan rusak berganti mulus. Bangunan tua nan usang berganti modern dan kokoh. Pasokan listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga sudah masuk. Tak bisa diabaikan inovasi dari Pemkab Banyuwangi dengan menggelar sejumlah event sport tourism . Misalnya balap sepeda Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) dengan titik start di Alas Purwo hingga melewati rute mendaki ke Gunung Ijen. TdBI digelar sejak 2012 dan jadi kejuaraan balap sepeda resmi Federasi Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste International). Setiap tahun event yang diadakan di Alas Purwo, terutama sport tourism , makin bertambah. Pada 2019, selain Alas Purwo Geopark Green Run, Banyuwangi mengadakan ajang kompetisi bersepeda sekaligus berlari dengan nama Banyuwangi Savana Duathlon. Lalu, pada Banyuwangi Festival 2020, meluncurkan Alas Purwo Food Festival (Juni) serta World Surf League (WSL) Championship Tour  (Juni) di Pantai Plengkung (G-Land) dan Banyuwangi International Geopark Walk (November). Yang membanggakan tentu saja terpilihnya Banyuwangi sebagai salah satu tuan rumah WSL Championship Tour. Ini adalah liga selancar paling bergengsi di dunia. Biasanya digelar April-Desember setiap tahunnya di berbagai pantai di dunia. Tahun ini terpilih Australia, Amerika Serikat, Brazil, Hawaii, Tahiti, Afrika Selatan, Portugal, hingga Prancis. ”Banyak daerah di belahan dunia lain yang sangat berminat menjadi tuan rumah. Kami bersyukur, justru Banyuwangi dipilih WSL,” kata Bupati Anas. Terpilihnya Banyuwangi tak lepas dari perhatian pemerintah daerahnya dalam mengembangkan sport tourism . Selain itu, G-Land punya ombak bagus dan berada di kawasan TNAP yang elok. Nah, kurang apa lagi. Setelah badai Covid-19 atau Corona berlalu, Alas Purwo bisa jadi pilihan berlibur yang menyenangkan. Yuk, siapkan dari sekarang.

  • Kesedihan Haji Agus Salim

    TAK ada yang meragukan kiprah Haji Agus Salim sebagai seorang pejuang. Sejak aktif di Volksraad (1921-1924), dia telah dikenal kritis dan garang terhadap berbagai kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang dianggap menindas rakyat. Bahkan ketika merasa segala kritiknya tak disambut, dengan lantang dia berpidato bahwa Volksraad tak lebih sebagai “komedi omong yang disensor” dari sebuah parlemen gadungan. “Usai melakukan kritiknya itu, Haji Agus Salim lantas keluar dari Volksraad,” ujar Agustanzil Sjahroezah, salah seorang cucu dari Haji Agus Salim. Di lain waktu, Haji Agus Salim pernah balik mempermalukan orang-orang yang menghinanya. Alkisah, suatu hari beberapa aktivis muda Sarekat Islam (SI) Merah yang berhaluan komunis mendatangi sebuah rapat yang menghadirkan Haji Agus Salim sebagai pembicara utamanya. Tujuan mereka datang tak lain hanya ingin “mengacaukan” rapat tersebut. Maklum sebagai anak-anak muda, mereka lagi “genit-genitnya” secara intelektual. Setiap Haji Agus Salim yang memiliki jenggot kambing itu bicara, maka anak-anak muda kiri tersebut serempak menyahutinya dengan suara: “embeeekkk”. Satu kali didiamkan.Dua kali masih tidak diacuhkan. Begitu kali ketiga embikan berjamaah itu terdengar, tiba-tiba Haji Agus Salim  mengangkat tangan seraya berkata: “Tunggu sebentar. Bagi saya,adalah suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun berkenan datang ke ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali, mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan, agar sementara, mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekadar menikmati rumput di lapangan. Sesudah pidato yang saya tujukan kepada manusia ini selesai, silakan mereka kembali masuk dan saya akan pidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Perlu diketahui, dalam Islam, kambing pun memiliki haknya sendiri. Karena saya menguasai banyak bahasa, maka saya akan memenuhi hak mereka.” Demi mendengar kata-kata Haji Agus Salim itu, orang-orang yang hadir di sana bergemuruh dalam tawa. Adapun anak-anak muda itu, alih-alih meninggalkan ruangan, mereka yang seolah-olah  menjadi “sekelompok  badut muda”  terpaksa harus “menikmati" ejekan masal itu dengan muka merah padam. Namun Haji Agus Salim yang cerdas, sangar dan jenaka pernah sangat bersedih. Itu terjadi pada akhir Januari 1946, saat Haji Agus Salim mendengar kabar anak ke-5-nya, Achmad Sjewket Salim gugur dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang di Lengkong, Tangerang. “ Paatje memang berduka sekali dengan meninggalnya Sjewket karena sebelumnya Sjewket yang selalu sakit-sakitan itu sudah dilarang untuk masuk Akademi Militer Tangerang,” ungkap a lmarhumah Bibsy Soenharjo (Siti Asia), salah satu putri Haji Agus Salim. Ketika memimpin perjuangan diplomasi di Mesir pada 1947, Haji Agus Salim terlihat sering menggunakan sebuah jaket militer usang. Menurut diplomat senior M. Zein Hassan, kendati anggota delegasi Indonesia lainnya agak penasaran dengan kebiasaan orang tua tersebut, namun tak ada yang berani menanyakannya langsung kepada yang bersangkutan. Hingga suatu malam, selagi semua anggota delegasi RI duduk di beranda atas Hotel Continental Cairo untuk menikmati cahaya bulan yang keperak-perakan, tetiba Haji Agus Salim menyanyikan secara lantang sebuah lagu perjuangan. “Kami yang hadir semuanya terdiam seperti terpukau,” ungkap M. Zein Hassan dalam bukunya Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri . Situasi semakin hening begitu lagu selesai dinyanyikan, sejenak Haji Agus Salim terdiam lantas menangis tersedu-sedu, seolah ingin melepaskan segala sesak dada yang menekan dirinya. Lagi-lagi tak ada yang berani bertanya atau memulai pembicaraan. Keheningan itu mulai dipecahkan lagi oleh suara Haji Agus Salim sendiri. “Lagu itulah yang dinyannyikan anak saya, ketika pelor Jepang menembus dadanya,” kata Haji Agus Salim dalam nada parau. Sejurus kemudian, Haji Agus Salim kembali diam. Lalu saat beberapa detik berlalu, dia menghalau lagi keheningan sambil menunjuk jaket militer yang selalu dipakainya sehari-hari selama di Mesir. “Baju inilah yang dipakainya ketika ia jatuh menjadi syahid,” ujarnya. Sjewket, remaja 19 tahun yang telah tiada itu, memang selalu hidup dalam benak Haji Agus Salim . Bisa jadi dia sempat merasa menyesal karena tidak bisa meyakinkan putranya itu untuk tidak menjadi seorang prajurit. Menurut sejarawan Rushdy Hoesein yang pernah mendengar langsung dari adik Sjewket, Islam Salim, Haji Agus Salim pernah menasehati Sjewket untuk berjuang lewat jalan lain. Toh perjuangan mempertahankan proklamasi tidak harus lewat menjadi seorang prajurit, kata Haji Agus Salim . “Tapi ya dasar pemuda yang sedang semangat-semangatnya ingin berjuang, Sjewket diam-diam mendaftarkan diri ke Akademi Militer Tangerang dan lulus hingga dia gugur bersama komandannya, Mayor Daan Mogot,” ungkap Rushdy. Mohamad Roem pernah melukiskan rasa cinta Haji Agus Salim kepada Sjewket. Ketika Haji Agus Salim sedang serius berdiskusi dengan para aktivis muda di rumahnya, tetiba datang Sjewket (yang saat itu berusia 4 tahun) mendekati Haji Agus Salim . Dalam bahasa Belanda, Sjewket kecil minta kepada ayahnya untuk menggaruk punggungnya yang terasa gatal. “Dengan wajah penuh kasih sayang, perhatian Haji Agus Salim langsung beralih kepada anaknya dan sesudah bertanya (juga dalam bahasa Belanda) sebelah mana yang gatal agar dapat digaruk dengan cepat, Haji Agus Salim menjalankan apa yang dimintakan,” ungkap Roem seperti tercuplik dalam buku Manusia dalam Kemelut Sejarah.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page