Hasil pencarian
9837 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Presiden Soeharto Becanda di Papua
AWAL Maret 1973, Presiden Soeharto melakukan kunjungan ke Papua. Itu adalah kali kedua Soeharto datang ke provinsi yang masih bernama Irian Barat itu, setelah kunjungan perdananya tahun 1969. Dalam kunjungan tersebut, Soeharto membawa sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara. Salah satu diantaranya ialah Jaksa Agung Soegih Arto.
- Muasal Logo Dolar
PANDEMI corona atau Covid-19 mengakibatkan perekonomian dunia kacau. Kebijakan lockdown yang diambil banyak negara dan pemerintahan di bawahnya untuk memutus penyebaran wabah corona mengakibatkan aktivitas ekonomi berjalan amat lambat. “Covid-19 adalah ujian terbesar bagi kita sejak pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini adalah kombinasi antara penyakit yang menebar ancaman dan dampak ekonomi yang menyebabkan resesi dalam skala yang tidak bisa dibandingkan dengan sebelumnya,” ujar Sekjen PBB Antonio Guterres sebagaimana diberitakan cnbcindonesia.com, 2 April 2020. Dampak pandemi bagi perekonomian juga amat kentara dalam perekonomian Indonesia. “Resesi yang semakin pasti, bahkan mungkin sudah terjadi, membuat investor menerapkan ‘social distancing’ dari aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia. Seretnya arus modal ke pasar keuangan Tanah Air membuat Rupiah melemah,” sambungnya.
- Roh Gunung dan Wabah Penyakit
PADA suatu pagi, setelah seminggu terus-menerus hidup seperti dirundung malang, raja Lombok memanggil semua pejabat, pendeta dan pangeran yang ada di Mataram. Raja mengatakan, selama beberapa hari hatinya sangat sakit tanpa tahu penyebabnya. “Aku telah bermimpi semalam Roh Gunong Agong, muncul di hadapanku dan berkata agar aku pergi ke puncak gunung,” kata raja. Para hadirin di hadapannya diperbolehkan untuk ikut mengiringi kepergiannya hingga mendekati puncak. Namun ia harus melanjutkan pendakian seorang diri agar Roh Gunung Agung yang bersemayam di puncak gunung mau muncul di hadapannya. “Ia akan mengatakan sesuatu yang penting bagiku,” ujar raja. Persiapan pun dilakukan. Rombongan kerajaan berangkat pagi-pagi. Empat hari berlalu sampai raja harus mulai mendaki gunung dengan hanya diikuti rombongan kecil pendeta dan pangeran serta pembantu. Begitu mendekati puncak, raja memerintahkan para pengikutnya berhenti. Ia akan meneruskan perjalanannya dengan ditemani dua bocah pembawa kotak sirih. Puncak gunung berada di tengah bebatuan dan di pinggir kawah yang berasap. Sampai di sana, raja meminta kotak sirihnya dan menyuruh dua bocah tadi duduk diam sambil melihat ke bawah gunung. Raja pun menemui sang Roh Gunung Agung seorang diri. Tiga hari kemudian raja memanggil para pendeta, pangeran, dan para pembesar di Mataram. “Roh Agung telah berseru kepadaku,” kata raja. “’O Raja! Banyak wabah penyakit dan bencana akan melanda bumi, melanda manusia, melanda kuda dan ternak. Tetapi karena kau dan rakyatmu mematuhiku serta talah datang mendaki gunungku yang agung, aku akan memberitahukan cara menghindarinya’.” Raja pun berkata, Roh Gunung Agung memerintahkan mereka untuk membuat 12 keris keramat. Bahannya dari jarum yang jumlahnya mewakili jumlah penduduk di tiap desa. Satu jarum mewakili satu penduduk. Bila suatu penyakit yang berbahaya muncul di suatu desa, maka salah satu keris akan dikirim ke desa itu. “Jika jumlah jarum yang dikirim tak sesuai dengan jumlah penduduk, keris yang dikirim tidak akan berkhasiat apa-apa,” jelas raja. Dengan segera semua kepala desa mengumpulkan jarum. Setelah semua desa mengumpulkan, raja membagi kumpulan jarum itu ke dalam 12 bagian yang sama banyaknya. Lalu ia perintahkan pandai besi terbaik di Mataram untuk menjadikannya keris. Tiap keris dibungkus dengan kain sutra. Semuanya disimpan sampai pada saat nanti dibutuhkan. Naturalis Inggris Alfred Russel Wallace menceritakan kisah itu dalam bukunya The Malay Archipelago . Wallace melakukan perjalanan ke Lombok pada 1856 di tengah ekspedisinya berkeliling Nusantara. Ada maksud tersembunyi di balik pembuatan keris itu. Raja Lombok sebenarnya ingin juga mendapatkan data jumlah penduduk untuk disesuaikan dengan perolehan upeti yang seharusnya ia terima. Kendati begitu, “sabda” Roh Gunung Agung tetap saja dipercayai. Kehadiran 12 keris keramat membawa arti besar. Bila wabah penyakit muncul di suatu daerah, salah satu keris dikirimkan. Bila wabah mereda, keris dikembalikan dengan upacara penghormatan. Kepala desa lalu akan bercerita kepada raja tentang tuah keris itu. Sembari mereka mengucapkan terima kasih. Bila penyakit tak hilang, semua orang yakin ada kesalahan dalam jumlah jarum yang diserahkan oleh kampung itu. Karena kesalahan itu, keris keramat tak mampu melawan penyakit yang melanda kampung. Maka harus dikembalikan kepala desa dengan berat hati. “Walaupun demikian rasa hormat terhadap keris itu tidak berkurang karena mereka yakin kegagalan itu disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri,” catat Wallace. Dari penuturan Wallace, peran Roh Agung Gunung begitu besar dalam menentukan sikap masyarakat Lombok menghalau wabah penyakit. Kendati dalam kisah itu tak jelas wabah penyakit apa yang menjangkit, rupanya orang Sasak masih memberikan penghormatan yang sama pada sang penguasa gunung. Mereka mengenal tradisi menjamu dewi penguasa Gunung Rinjani untuk menjinakkan penyakit, khususnya cacar. Tolak Bala Suku Sasak Lalu Wacana, dkk. dalam Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Nusa Tenggara Barat menjelaskan, secara umum orang Sasak di Lombok mengenal upacara tolak bala untuk mengusir wabah penyakit. Ritualnya disebut metulak. Metulak , kata dalam bahasa Sasak, yang artinya: tulak (kembali) dan metulak (mengembalikan). “Arti kiasannya menolak bala, yang dalam bahasa Sasak bahla ,” jelas Lalu. Dalam sebutan lain tolak bala disebut tulak bahla. Bahla artinya wabah. “Maksud upacara metulak ini adalah untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dijauhi dari segala marabahaya dan wabah yang dapat menimpa tanaman padi dan manusia,” tulisnya. Upacara ini biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan. Baik itu karena umur, ilmu dan pengalamannya. Mereka harus memahami betul tata upacara metulak. Tak diketahui pasti sejak kapan dimulainya upacara metulak dilakukan. “Dari beberapa orang informan hanya menerangkan bahwa tradisi ini telah berkembang sejak nenek moyang mereka,” jelas Lalu. Yang jelas, setidaknya ada enam peristiwa dalam hidup orang Sasak yang akan diiringi dengan prosesi metulak . Yaitu saat seseorang atau anggota keluarga tertimpa sakit, pendirian dan penempatan rumah baru, potong rambut bayi, menjelang keberangkatan haji, wabah penyakit cacar ( ngayah ) menyerang, dan padi mulai berisi. Dalam bentuk yang lebih sempit, dikenal pula upacara Besentulak. Ini pun upacara tolak bala. Tapi kalau besentulak terbatas untuk suatu keluarga yang mengadakan upacara itu saja. “Diadakan pula pada waktu wabah cacar sedang berjangkit. Wabah cacar dalam bahasa Sasak disebut ngayah,” jelas Lalu. Dalam Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat yang disusun Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, disebutkan kalau pada masa kolonial kesejahteraan rakyat kurang diperhatikan, terutama kesehatan. Dalam periode-periode tertentu penyakit epidemi selalu berulang, seperti cacar. Dewi Anjani Sang Penguasa Cacar Masyarakat Sasak punya perhatian khusus terhadap penyakit cacar. Mungkin karena wabah ini pernah menjadi yang paling ditakuti di wilayah Asia Tenggara. Ia menyebar termasuk sampai ke Nusantara. Hal itu banyak diungkap dalam catatan dari masa setelah abad ke-16. Sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin menyebutkan, misalnya cerita dari abad ke-17 tentang didirikannya Ayutthaya pada abad ke-14. Kisah itu menyebutkan adanya janji bahwa kota itu bebas dari cacar. Lalu ada lagi Undang Undang Hukum Melaka yang disusun Kesultanan Malaka pada abad ke-15-16. Disebutkan bahwa penyakit kulit yang akut dibolehkan menjadi alasan perceraian atau penolakan pembelian seorang hamba sahaya. Bukti dari abad ke-16 dan ke-17 lebih banyak tersedia. Misalnya dalam catatan orang Portugis dan Spanyol yang menyebutkan penyakit cacar sebagai pembunuh penduduk di Maluku, Filipina, dan Ternate (1558), Ambon (1564), Balayan, Filipina (1592), dan Pegu (Birma Bawah) pada abad ke-17. Menurut Reid, di berbagai pusat penduduk dan perdagangan yang besar, cacar mungkin sudah menjadi endemik, terutama pada abad ke-16. Yang menjadi korban terutama anak-anak yang belum memiliki kekebalan. Penyakit itu bangkit setiap tujuh hingga sepuluh tahun. Sebaliknya, kata Reid, pada penduduk yang lebih terpencil, seperti di Borneo dan Filipina, cacar menjadi tamu yang tak begitu sering berkunjung. Namun tetap ditakuti. Penyakit ini menelan sebagian besar penduduk yang belum pernah kena. “Roh cacar banyak berperan dalam mitos rakyat, terutama di Borneo,” katanya. Di Lombok, kata Lalu, orang Sasak menganggap cacar sebagai rahmat Tuhan yang bersifat menguji iman dan ketakwaan umat manusia. Karenanya wabah ini tak dimusuhi, tetapi justru dijinakkan dengan jalan dijamu. Mereka mengenal upacara tolak bala yang disebut nemoe artinya menjamu tamu. Ini berbeda dengan arti tolak bala yang berarti mengusir jenis penyakit lain selain cacar. Yang dijamu adalah Dewi Anjani. Ia adalah ratu, makhluk gaib terpenting yang bersemayam di Puncak Gunung Rinjani. “Menurut kepercayaan suku bangsa Sasak, dewi ini menguasai wabah penyakit cacar sebagai piaraannya,” kata Lalu.*
- Nasib Nahas Lukisan Vincent van Gogh
BUKAN hanya warga Belanda yang menjadi korban pandemi virus corona (SARS-COV-2) dengan di- lockdown , sebuah lukisan berharga karya pelukis Vincent van Gogh pun turut jadi “korban”. Lukisan yang dipajang di Museum Singer Laren itu hilang dicuri pada Senin (30/3/2020) dini hari waktu setempat atau tepat di peringatan ke-167 kelahiran sang seniman. “Saya merasa marah dan sedih. Utamanya di masa-masa sulit seperti ini, saya merasa bahwa benda seni bisa jadi penenang untuk menginspirasi dan menyembuhkan kami,” tutur Direktur Museum Jan Rudolph de Lorm kepada The New York Times , Senin (30/3/2020). Lukisan karya Van Gogh yang dicuri itu bertajuk De pastorie in Nuenen in het voorjaar atau Taman Pendeta di Musim Semi. Lukisan berdimensi 25 cm x 57 cm itu tengah dipinjam Museum Singer Laren sejak 14 Januari dalam rangka pameran “Mirror of the Soul” yang mestinya bergulir hingga 10 Mei 2020. Pameran dan museum itu terpaksa ditutup menyusul kebijakan lockdown dikeluarkan pemerintah Belanda sejak 13 Maret 2020. Lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring itu dipinjam Museum Singer Laren dalam rangka pameran dari Museum Groninger sebagai pemiliknya sejak 1962. Lukisan itu dikembalikan pada 2023 dalam sebuah tas terpal IKEA. Lukisan di Awal Kiprah Van Gogh The Parsonage Garden at Neunen in Spring yang dibuat dengan pena dan cat minyak di atas kertas pada papan kayu itu dikerjakan pada medio Mei 1884. Saat itu merupakan masa awal karya Van Gogh dikenal publik sejak ia menekuni seni rupa tiga tahun sebelumnya. “Lukisannya berasal dari masa-masa awal, sebelum ia berperjalanan ke Arles dan Paris. Jadi lukisannya memang lebih gelap dan belum terlalu dikenal sebagai salah satu mahakarya Van Gogh,” sambung Direktur Museum Groninger, Andreas Blühm, dikutip The New York Times. Van Gogh membuat The Parsonage Garden at Neunen in Spring setelah pindah dari Den Haag, Sien Hoornik, Drenthe, dan tinggal bersama orangtuanya di Neunen, dekat Hervormde Kerk (Gereja Reformasi) tak jauh dari kota Eindhoven pada Desember 1883. Usianya baru 30 tahun ketika Van Gogh pindah. Ayahnya merupakan pendeta di gereja tersebut. Sejak tinggal di Neunen, Van Gogh banyak menciptakan lukisan bertema taman. Salah satunya, The Parsonage Garden at Neunen in Spring yang ia buat sekira Mei 1884 atau enam bulan sejak pindah ke Neunen. Van Gogh merupakan sosok penyuka taman dan hobi berkebun. “Dia sangat menyukai taman pendeta di tempat ayahnya dan ketika ia hanyut dalam pengaruh impresionisme, dia menuliskan dalam catatannya betapa banyaknya taman yang dia kunjungi selama 10 tahun masa-masa produktifnya. Termasuk juga taman rumahsakit Arles, taman pertanian Provençal dekat Arles, Taman Puisi di Arles, taman rumahsakit jiwa Saint-Paul, taman bunga milik Dr. Paul Gachet di Auvers, dan taman mawar milik seniman Charles Daubigny di Auvers,” tulis Derek Fell dalam Van Gogh’s Gardens. Vincent Willem van Gogh di usia antara 17-19 tahun (Foto: Van Gogh Museum) Lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring hanya satu dari sedikitnya empat lukisan bertema taman dekat gereja tempat ayahnya menjadi pendeta di Neunen yang ia buat. Pasalnya Van Gogh melukiskan taman itu di masing-masing musim sepanjang tahun. “Salah satunya menggambarkan taman yang tertutup salju, menegaskan garis perspektif yang diciptakan oleh dinding yang membatasi taman dan lingkungan sekitarnya. Latar belakangnya terdapat menara gereja berwarna gelap yang menyembul dari lanskap yang datar di bawah langit berwarna gradasi biru dan kuning terang,” lanjut Fell menerangkan karya Van Gogh bertajuk The Parsonage Garden at Neunen in the Snow (1885). Dalam The Parsonage Garden at Neunen in Spring, Van Gogh mendeskripsikan seorang wanita berpakaian gelap di tengah taman yang di belakangnya terdapat sisa bangunan menara gereja tua. Van Gogh melukiskannya dengan palet hijau dan coklat gelap, serta sedikit sentuhan gradasi warna merah, sebagai indikasi bahwa musim semi telah tiba menggantikan musim dingin. Selama dua tahun tinggal di Neunen, Van Gogh menciptakan delapan lukisan bertema taman gereja itu, termasuk The Parsonage Garden at Neunen in Spring yang jadi karya ketiga sejak pindah pada Desember 1883. Di masa itu, ia mendapat tekanan emosional lantaran dalam kurun dua tahun itu, sering tercipta tensi tinggi antara dirinya dengan sang ayah dan sang adik, Theo, yang tinggal di Paris. “Sejak 1884 ia sering bersurat kepada Theo, bahwa dia akan mengirimkan lukisan-lukisannya untuk menebus pinjaman uang sebelumnya. Dia berharap Theo mau menjualkan lukisan-lukisannya di Paris dan hasilnya untuk membayar pinjaman uang, serta berharap ada keuntungan lebih yang juga bisa didapat Van Gogh,” tulis Susie Hodge dalam The Great Artists: Vincent van Gogh. Nahas, lukisan-lukisan Van Gogh itu tak laku. Para pedagang barang seni enggan membelinya lantaran belum terlalu mengenal nama Van Gogh. Sayangnya riwayat lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring di kemudian hari tak begitu terang. Hanya disebutkan pada 1927, lukisan tersebut dimiliki seorang kolektor J.A. Fruin dan dipajang di Galeri Seni Oldenzeel, Rotterdam, sebelum dibeli Museum Groninger pada 1962. Lukisan yang nilainya berkisar 1-6 juta euro (Rp18-108 miliar) itu kemudian dicuri orang atau kelompok tak dikenal tepat di peringatan ulang tahun ke-167 Van Gogh. Itu bukan kali pertama terjadi pencurian terhadap lukisan Van Gogh. Pada 1991, Museum Van Gogh di Amsterdam dibobol maling yang membawa kabur 20 lukisan sang seniman. Total kerugiannya mencapai sekira USD500 juta (Rp8,3 triliun). Hingga kini, kabarnya masih gelap. Lalu pada 2002, museum yang sama kecolongan lagi dua lukisan, namun kemudian ditemukan di Napoli setelah kepolisian Italia menggerebek sarang pengedar narkoba.
- Kejenakaan Haji Agus Salim
DIKENAL sebagai seorang intelektual dan diplomat handal, tidak menjadikan Haji Agus Salim melulu berurusan dengan hal-hal serius. Bahkan bisa dikatakan keseharian mantan menteri luar negeri Republik Indonesia itu sejak mudanya memang selalu dipenuhi kisah-kisah jenaka. Almarhumah Bibsy Soenharjo (Siti Asia), salah satu putri Haji Agus Salim, mengakui kebiasaan melucu dari sang ayah. Selain itu hal yang disenangi Bibsy dari Haji Agus Salim adalah kebiasaanya untuk memberikan kebebasan berkespresi kepada anak-anaknya. Kendati sebagian besar putra dan putri Haji Agus Salim tidak pernah mengeyam bangku sekolah formal, namun itu tidak menjadikan mereka kuper. Bahkan sebaliknya, di bawah didikan langsung sang ayah mereka justru tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan berpengetahuan terutama dalam penguasaan bahasa asing. “ Patjee (panggilan akrab keluarga untuk Haji Agus Salim) tak pernah memerintahkan atau memaksa kami untuk belajar. Kalaupun ia ingin memberitahu sesuatu, pasti dilakukannya dalam suasana santai dan penuh jenaka,” ujar perempuan sepuh yang menguasai secara baik beberapa bahasa Inggris, Belanda dan Jepang tersebut. Mantan diplomat sekaligus tokoh Masyumi Mohamad Roem, mengakui asyiknya belajar dari Haji Agus Salim. Berbeda dengan guru-guru pada umumnya, Haji Agus Salim selain jenaka juga selalu tak menampilkan dirinya sebagai seorang yang paling tahu. Materi pengajaran pun akan mengalir begitu saja laiknya momen obrolan biasa. “Dia selalu tanamkan kemauan untuk mencari sendiri pengetahuan lebih lanjut,” ungkap Roem dalam Manusia dalam Kemelut Sejarah . Ada kejadian lucu yang selalu dikenang oleh Roem dari Haji Agus Salim. Ketika tinggal di Tanah Tinggi, Jakarta, jalan menuju rumah Haji Agus Salim selalu becek jika turun hujan. Situasi tersebut tak jarang menjadikan para pemuda pergerakan yang kerap mengunjungi rumah Haji Agus Salim harus turun dari sepeda dan mengangkatnya ke atas guna menghindari lumpur yang memenuhi ban sepeda. Kondisi itu kadang menjadi bahan ejekan Haji Agus Salim jika para pemuda itu datang dalam kondisi sangat payah dan kotor karena harus menangani sepedanya. Dalam suatu pertemuan dengan Mohamad Roem dan kawan-kawan, Haji Agus Salim sempat melontarkan leluconnya tentang itu: “Hari ini anda datang secara biasa. Kemarin peranan sepeda dan manusia terbalik: manusia justru yang ditunggangi sepeda.” Bukan hanya orang Indonesia saja yang merasakan hal tersebut. Jeff Last, salah satu tokoh sosialis Belanda, termasuk manusia yang sangat mengagumi Haji Agus Salim. Jeff mengakui dari Haji Agus Salim bahwa ia mendapatkan penjelasan yang mengesankan tentang Islam. “Dalam kebijaksanaannya yang riang, beliau telah berhasil menghilangkan prasangka-prasangka yang bukan-bukan mengenai Islam yang saya peroleh ketika menjadi murid HBS Kristen,” tulis Jeff Last dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim . Begitu kagumnya Jeff kepada Haji Agus Salim hingga seusai orang tua tersebut menyampaikan ceramahnya di depan anak-anak muda marxis Belanda di Kijkduin pada 1929, ia nekat mengajak Haji Agus Salim untuk mengunjungi rumahnya di Jalan Baarsjes. Tanpa diduga Haji Agus Salim menyambut baik ajakan Jeff itu. Hanya dalam waktu semalam saja, Haji Agus Salim telah berhasil menarik hati seluruh keluarga Jeff. Haji Agus Salim dengan gayanya yang santai berbicara akrab dengan seluruh anggota keluarga Jeff dan bercanda dalam cerita-cerita jenaka dengan anak-anaknya Jeff. “Dalam waktu satu jam, ia telah berhasil menarik hati anak-anak saya,” kenang Jeff. Femke, salah satu putri Jeff sangat menyukai Haji Agus Salim. Begitu berkesannya Femke kepada Haji Agus Salim sampai dalam suatu kesempatan ia bertanya kepada ayahnya apakah Haji Agus Salim merupakan sinterklaas dari Indonesia? Kedekatan jiwa Haji Agus Salim dengan anak-anak menjadikan ia mudah sekali mengajarkan apapun kepada putra-putrinya. Ketika Jeff mengungkapkan rasa herannya atas kefasihan Islam (nama salah satu putra Haji Agus Salim) dalam berbahasa Inggris, ia bertanya kepada Haji Agus Salim: “Bagaimana mungkin anak itu menguasai bahasa Inggris begitu bagus tanpa bersekolah?” Menjawab pertanyaan itu, dalam nada santai seperti biasa, Haji Agus Salim menyatakan kepada Jeff: “Apakah kamu pernah dengar tentang sebuah sekolah di mana kuda diajari meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami, dan anak-anak kuda tentunya akan ikut meringkik. Begitu pun saya meringkik dalam bahasa Inggris dan otomatis si Islam pun ikut meringkik juga dalam bahasa Inggris.” Haji Agus Salim memang selalu istimewa di mata siapa pun. Uniknya, kendati dia seorang diplomat, sesepuh bangsa dan tentunya seorang yang sangat cerdas, tidak menjadikannya silau terhadap materi. Sampai akhir hayatnya, mantan jurnalis itu tetap memilih kesederhanaan sebagai jalan hidupnya.*
- “Raja Hutan” Bob Hasan Pulang ke Haribaan Tuhan
MOHAMMAD ‘Bob’ Hasan berpulang ke haribaan Illahi pada Selasa (31/3/2020) di usia 89 tahun. Taipan kayu yang intim dengan Soeharto sang penguasa Orde Baru itu meninggal di RSPAD Gatot Subroto setelah lama menderita kanker paru-paru. Siapa tak kenal Bob Hasan? Ia salah satu pengusaha dan kroni Soeharto paling berpengaruh sepanjang Orde Baru. Kedekatan itu membuat ia leluasa berbuat, termasuk memberi perhatian terhadap olahraga atletik di Indonesia. Terlebih, setelah ia menjabat ketua PB PASI sejak 1978. Pada cabang-cabang lain, ia juga bersumbangsih di Percasi, PB PABBSI, dan PB Persani. Bob Hasan lahir di Semarang pada 24 Februari 1931 dengan nama The Kian Seng. Identitas orangtuanya tak jelas. Banyak sumber menyebutkan Bob menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Mohammad ‘Bob’ Hasan setelah diangkat anak oleh Gatot Soebroto, perwira TNI yang dihormati banyak perwira muda macam Ahmad Yani dan Soeharto semasa revolusi fisik hingga Orde Lama. Namun, Raden Eddy Soeroto Koesoemonoto dan Muhammad Salim Jamaleng dalam studi tentang analisa logika Gerakan 1 Oktober 1965 yang dibukukan bertajuk Jaringan Zionis Van der Plas Jatuhkan Bung Karno, menyebut Bob Hasan bukan anak angkat Gatot. “Ternyata Bob Hasan adalah anak kandung Gatot Soebroto dengan wanita keturunan Cina, nama kecilnya The Kian Seng, lahir di Semarang dan ikut ibunya. Setelah umur 10 tahun baru ikut Gatot Soebroto, diakui anak angkat,” sebut Raden Eddy Soeroto dan Jamaleng. Masa depan gemilangnya bermula dari perkenalannya dengan Soeharto ketika Gatot masih menjabat komandan TT IV/Jawa Tengah (kini Kodam IV Diponegoro). Hubungan Bob Hasan dan Soeharto kian erat saat Soeharto naik menjadi komandan TT IV/Jawa Tengah menggantikan Kolonel Moch. Bachrum pada 1956. Bob Hasan (tengah) wafat di usia 89 tahun karena kanker paru-paru (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Bob Hasanlah yang dilibatkan Soeharto dalam sejumlah aktivitas perdagangan. Dalam Asian Godfathers: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa, Joe Studwell menyebut, selama Soeharto menjabat komandan kodam, Bob Hasan “diberi” keleluasaan menggulirkan aktivitas perdagangan monopoli bersama kolega Tionghoanya, Liem Sioe Liong. “Soeharto menghadapi ancaman pengadilan karena penyelundupan pada 1959, namun berkat dukungan ayah angkat Bob Hasan, Jenderal Gatot Soebroto, ia hanya dipindahkan ke Sekolah Staf Angkatan Darat di Bandung,” ungkap Studwell. Penyelundupan yang melibatkan Bob Hasan dan Liem Sioe Liong itu adalah penyelundupan dan korupsi gula dan beras. Kasusnya ditangani tim inspeksi TNI AD pada 18 Juli 1959 yang berbuntut pada pencopotan Soeharto dari jabatan pangdam. Soeharto berkilah bahwa ia sengaja melakukan penyelundupan beras dari Singapura itu demi kebutuhan beras di Jawa Tengah yang kala itu tengah gagal panen. “Sebagai Penguasa Perang, saya merasa ada wewenang mengambil keputusan darurat untuk kepentingan rakyat, ialah dengan barter gula dengan beras. Saya tugasi Bob Hasan melaksanakan barter ke Singapura, dengan catatan beras harus datang lebih dahulu ke Semarang,” ujar Soeharto dalam otobiografinya yang ditulis Ramadhan KH Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya . Dewi Soekarno dan Raja Hutan Di masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru, nama Bob Hasan disebut-sebut berinisiatif ingin meredakan ketegangan antara Sukarno dan Soeharto. Menurut Probosutedjo, adik tiri Soeharto, dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto , cara yang digunakan Bob Hasan adalah mengundang Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi Sukarno, istri resmi keenam Sukarno, untuk bermain golf di Rawamangun. “Nah pada saat yang sama ia juga mengundang Mas Harto bermain golf di lokasi yang sama. Niat Bob Hasan baik, barangkali melalui lobi pada Dewi, hubungan Mas Harto dan Bung Karno bisa lumer kembali,” ungkap Probo. Namun apa lacur, Ibu Tien yang lantas mengetahuinya malah murka. Kemarahan Ibu Tien berdampak pada Soeharto yang didiamkan berhari-hari. “Kasihan sekali Mas Harto. Melihat ini saya jadi prihatin. Saya datangi Bob Hasan dan saya tegur. ‘Aduh, buat apa sih dipertemukan segala. Itu Bu Harto jadi marah.’ Bob minta maaf karena ia tidak mengira akan terjadi konflik antara Mas Harto dan Mbakyu Harto,” lanjutnya. “Di rumah, saya segera temui Mbakyu Harto dan menjelaskan maksud baik Bob Hasan mempertemukan Mas Harto dan Dewi. Mbakyu Harto akhirnya bisa mengerti dan mau bicara lagi dengan suaminya,” sambung Probo. Kisah tersebut kemudian dibantah Bob Hasan lewat memoarnya yang terbit pada 2010. “ Ndak ada itu (main) golf dengan Dewi Sukarno. Dewi tidak pernah main golf. Dia orang night club , bar girl di Tokyo. Waktu itu saya juga masih muda, ndak ada soal golf dengan Pak Harto,” kata Bob Hasan, dikutip detik.com , 8 Juni 2018. Bob Hasan jadi salah satu kroni paling setia rezim Soeharto (Foto: antikorupsi.org ) Semenjak Soeharto resmi menjadi presiden Indonesia kedua pada 1968, geliat Bob Hasan dalam bisnis kian menggurita. Bob memulainya dengan mendorong Soeharto menengok bisnis kehutanan di dua pulau terbesar di barat Indonesia: Sumatera dan Kalimantan. “Pada 1971 Bob Hasan diberi kepercayaan Soeharto untuk menjadi agen tunggal bagi perusahaan-perusahaan asing yang mau menanam modalnya di bidang kehutanan di Kalimantan dan tempat-tempat lain. Dalam kesempatan itu Bob menjadi mitra patungan perusahaan Amerika Serikat Georgia Pacific; Bob pun menjadi perantara mempertemukan perusahaan-perusahaan asing dengan mitra patungannya di Indonesia,” tulis Sri Bintang Pamungkas dalam Ganti Rezim Ganti Sistim: Pergulatan Menguasai Nusantara . Namun ketika pemerintah mulai melarang ekspor kayu gelondongan pada 1981, Georgia Pacific terpaksa dijual dan dibeli Bob Hasan dengan perusahaannya, Kalimanis Group. Sejak saat itu Bob yang memimpin Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) sekaligus APHI (Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia), dijuluki “raja hutan” karena menguasai pemasokan dan pasar kayu lapis terbesar di dunia dengan memegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seluas dua juta hektar. Karena itulah maka Majalah Forbes edisi 28 Juli 1997 mendaulatnya sebagai salah satu dari 500 orang paling tajir di dunia dengan kekayaan USD3 miliar. Setahun berikutnya, konglomerat yang juga melebarkan sayap bisnisnya ke bidang media (pendiri Majalah Gatra ), asuransi, otomotif dan keuangan itu diangkat Soeharto menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan di Kabinet Pembangunan VII. Jabatan yang jadi “kado” ultah Bob Hasan dari Soeharto itu diberikan pada Maret 1998 atau beberapa hari setelah beranjak usia ke-67. Namun seiring jatuhnya Soeharto, mulai rontok pula hegemoni Bob Hasan sebagai salah satu kroni paling setia. Ia tak lagi kebal hukum. Pada Februari, Bob Hasan 2001 sebagai direktur utama PT Mapindo Pratama diseret ke meja hijau atas korupsi pemetaan hutan senilai Rp2,4 triliun. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonisnya hukuman dua tahun penjara dipotong masa tahanan, ditambah denda Rp15 juta, dan mewajibkan melakukan ganti rugi Rp14 miliar. Menganggap vonis itu terlalu lembek, jaksa menuntut lagi kasusnya ke Pengadilan Tinggi, yang kemudian menelurkan keputusan baru berupa vonis penjara delapan tahun. Tapi Bob kemudian bebas bersyarat pada Februari 2004 setelah menjalani masa tahanan berpindah-pindah dari LP Salemba, Cipinang, Batu, dan Nusakambangan.
- Calon Arang Memuja Durga Sang Penguasa Penyakit
Hampir tengah malam. Calon Arang berjalan menuju kuburan. Ia diiringi murid-muridnya: Voksirsa, Mahisawadana, Lende, Guyang, Larung, dan Gandi. Mereka akan berdoa dan menari, menghormat pada Bhatari Durga. Kepadanya, Calon Arang akan menyampaikan permohonan agar kesumatnya bisa dibalaskan. Calon Arang adalah perempuan sakti ahli sihir dari Desa Girah. Ia sudah pada puncaknya merasa terhina karena tak ada yang mau menikah dengan putrinya yang cantik, Ratna Manggali. Semua lelaki takut menjadi menantu seorang Calon Arang. Di kuburan itu mereka pun menari sambil membunyikan alat musik. Tak lama Sang Durga pun menampakkan diri bersama para pengiringnya. “Tuanku, putera tuanku ingin mohon kehancuran penduduk seluruh negeri, demikian tujuan hamba,” kata Calon Arang sambil menyembah di hadapan Bhatari. “Baik, saya setuju, tetapi jangan sampai terlalu besar kemarahanmu hingga ke pusat negeri,” jawab sang Bhatari Bhagavati. Calon Arang menurut. Setelah menari sekali lagi mereka pulang ke Desa Girah. Tak lama kemudian banyak orang di desa-desa sakit hingga jatuh korban jiwa. Karena menyebabkan kekacauan, tentara raja mencoba memusnahkan Calon Arang. Calon Arang makin marah dan kembali mengajak murid-muridnya ke kuburan. Ia membaca mantra diiringi murid-muridnya. Alat-alat musik dibunyikan. Mereka menari. Ia mengirim kekuatan tenung hingga ke ibu kota dari empat arah mata angin. Calon Arang berjalan ke tengah kuburan, mencari mayat yang meninggal pada hari Sabtu Kliwon. Mayat itu diikatkan ke pohon kepuh lalu dihidupkannya kembali. Baru juga hidup, sang penyihir langsung memotong leher si zombie hingga kepalanya melesat. Darah yang memancar ia pakai untuk keramas. Ususnya dipakai untuk selempang dan kalung. Badannya dimasak untuk persembahan bagi Bhuta dan semua yang ada di kuburan itu, terutama Bhatari Bhagavati. Maka, keluarlah Sang Bhatari. “Saya mohon izin kepada paduka Bhatari untuk membinasakan orang seluruh negara sampai di ibu kota sekalian,” kata Calon Arang. Permohonan Calon Arang diizinkan. Wabah penyakit yang hebat di seluruh negara mengakibatkan banyak orang mati. Mayat-mayat membusuk di rumah dan menumpuk di kuburan, ladang, dan jalan. Desa menjadi sepi, orang-orang menyelamatkan diri ke desa-desa lain. Begitulah dahsyatnya kutukan Calon Arang ke seluruh negeri. Kisah ini ditemukan dalam naskah berjudul Calon Arang . Filolog R.Ng . Poerbatjaraka menerjemahkannya dari bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Belanda pada 1926 dalam tulisannya, De Calon Arang . Poerbatjaraka menduga naskah Calon Arang ini mungkin menggambarkan peristiwa pada masa Raja Airlangga. Ia menghubungkannya dengan Prasasti Sanguran ( Calcutta Stone ) dari 982 M. Di dalamnya tertulis seorang raja perempuan yang sangat sakti seperti raksasi. Sihirnya telah dibinasakan oleh Airlangga, raja yang masyhur. Gambaran ini mengisahkan perseteruan antara Airlangga dan Calon Arang. Namun, Hariani Santiko, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasinya “Kedudukan Bhatari Durga di Jawa pada Abad X-XV Masehi”, berpendapat bahwa cerita Calon Arang lebih pas jika ditempatkan pada masa Singhasari akhir atau Majapahit. Alasannya, nama Mpu Barada baru muncul pada prasasti Arca Joko Dolog dari masa Kertanegara tahun 1289. Terlebih lagi bukti-bukti adanya praktik upacara Tantra seperti dalam cerita Calon Arang masih sangat jarang dijumpai pada abad-abad sebelum pemerintahan Kertanegara. “Sangat diragukan bahwa Calon Arang pertama kali disusun pada masa Airlangga,” katanya. Dari kisah Calon Arang itu, menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, yang menarik untuk dicermati bahwa akibat teluh seorang ahli sihir, penduduk Daha tertimpa wabah penyakit mematikan. Di luar persoalan teluh, kemungkinan wabah penyakit memang benar pernah terjadi. “Dalam kisah itu penyakit disebabkan karena teluh Calon Arang. Apakah ini simbolik gambaran tentang pagebluk yang terjadi?” ujar Dwi kepada Historia. Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin, berpendapat bahwa kisah-kisah lokal semacam itu terlalu kabur. Terutama cerita yang berkembang beberapa abad sebelum orang benar-benar mulai terbiasa mencatat. “Karena peninggalan-peninggalan tertulis yang ada hanya sampai pada kurun niaga, tidaklah bijaksana untuk terlalu mempercayai bukti-bukti mengenai parahnya wabah pada waktu itu,” tulis Reid. Kendati begitu, kata Hariani Santiko, pada masa lalu praktik memuja Durga untuk mengusir wabah penyakit memang pernah dilakukan. Masyarakat kuno pernah mengenal beberapa dewi yang dipercaya sebagai penguasa penyakit. Mereka mudah marah dan harus dijaga kepuasannya agar wabah penyakit tak menyerang. Menenangkan Bumi Di India, beberapa dewi dianggap sebagai pelindung manusia dari penyakit. Terutama dua penyakit yang sangat ditakuti: cacar dan kolera. Kendati dianggap pelindung, mereka terkadang juga bertindak sebagai penyebar penyakit. Terutama jika sang dewi murka dan tak puas terhadap manusia. Hariani menjelaskan, di India Utara sang penguasa penyakit dikenal dengan nama Sitala Dewi. Sementara di India Selatan dikenal beberapa nama dewi yang bertugas sama. Mariamma atau Mari dianggap sebagai dewi penguasa penyakit yang sangat ditakuti. Lalu ada anak-anak Durga, berjumlah tujuh dewi. Mereka dianggap sebagai penguasa penyakit yang mengancam anak-anak kecil. Ada juga para Gramadewata, yang di antaranya dianggap sebagai penguasa penyakit. Gramadewata adalah pelindung desa atau permukiman penduduk yang juga dikenal di India Utara. Khususnya di India Selatan pemujaan kepada Gramadewata ini sangat populer dan jumlahnya ribuan. “Setiap permukiman memiliki satu Gramadewata,” ujar Hariani. Hariani menjelaskan, munculnya dewi-dewi pelindung ini berhubungan dengan kepercayaan penduduk bahwa alam semesta penuh dengan kekuatan gaib. Kekuatan ini setiap waktu dapat mencelakakan manusia. Dewi pelindung, Gramadewata, diharapkan dapat menjaga mereka dari ancaman itu. Ini adalah upaya agar penduduk terhindar dari penyakit menular, gangguan makhluk jahat, penyakit ternak yang merugikan, kegagalan panen, kebakaran, atau tidak mempunyai keturunan. Namun, Gramadewata menuntut imbalan dari manusia. Penduduk harus memberi mereka persembahan yang memuaskan. Kalau kurang, Gramadewata akan berbalik mencelakakan penduduk. Karenanya setiap permukiman biasanya memiliki kuil sederhana. Tempat suci ini dikhususkan untuk Gramadewata. Di sana akan ditempatkan arca atau benda yang menjadi lambang dewi-dewi itu. Menurut I Wayan Redig, arkeolog Universitas Udayana, pemujaan terhadap dewi beralasan karena secara makrokosmis, bumi ini adalah ibu. Di bumi, segalanya dihidupkan, dipelihara, dan mati. Karenanya, untuk urusan memelihara, menyiapkan sumber kehidupan Ibu Pertiwi, seperti juga Durga menjadi Dewi Ibu yang akan selalu dipuja di banyak tempat. “Dewi Durga menjadi Dewi Ibu yang dipuja sepanjang masa karena selama manusia perlu hidup dan kehidupan ia tidak bisa lepas dari pangkuan sang Ibu ilahi ini,” jelas Redig dalam makalah “Durga Mahisasuramardini (Pemujaan Dewi Ibu Sepanjang Masa)” yang disampaikan pada Rembug Sastra (21 Mei 2016) di Pura Jagatnata, Denpasar, Bali. Durga Sang Penguasa Penyakit Di India Utara dan Selatan, Durga sama-sama dipuja sebagai dewi pelindung dari penyakit. “Durga dan Kali adalah dewi penting yang menguasai segala segi kehidupan manusia,” kata Hariani. “Di beberapa tempat Durga berbaur dengan Gramadewata dan akan menyebarkan penyakit kepada manusia dan ternak jika marah.” Durga memiliki berbagai aspek. Tiga di antaranya sering dibicarakan dalam kitab-kitab Purana dan Tantra , yaitu Durga sebagai pembinasa asura , Durga sebagai penguasa tanam-tanaman dan kesuburan, dan Durga sebagai penguasa penyakit menular. Durga sangat ditakuti karena bisa menyebarkan penyakit sekaligus melindungi manusia dari wabah penyakit. Dalam kitab-kitab Purana, Durga seringkali dihubungkan dengan tujuh dewi pelindung anak-anak dari penyakit, yakni Kaki, Halima, Malini, Vrnila, Arya, Palala, dan Vaimitra. “Pemujaan tujuh ibu ini sangat penting di India Selatan, dan mereka dianggap sebagai saudara perempuan Durga,” kata Hariani. Karenanya, Durga Puja pun dilakukan. Menurut Hariani, berdasarkan Kitab Kalika Purana apabila menjalankan Durga Puja pada tanggal 8 paro terang bulan Caitra akan bebas dari segala kesusahan dan penyakit. Di Nusantara, khususnya di Jawa sedikit berbeda. Durga dikenal dalam dua aspek saja. Ia sebagai pembinasa asura dan penguasa penyakit. Sementara penguasa tanaman dan kesuburan lebih dikenal sebagai Dewi Sri. Aspek Durga sebagai penguasa penyakit menular dalam sumber tertulis hanya ditemukan dalam kitab Calon Arang. Lebih banyak yang membicarakannya sebagai pembinasa asura . Sebagai aspek ini, ia dikenal dengan nama Durga Mahisasuramardini. Hariani mengatakan upacara yang dilakukan oleh Calon Arang dan murid-muridnya adalah upacara Tantra dengan mempergunakan ilmu gaib destruktif atau ilmu hitam. “Di sini yang dipuja adalah aspek Durga sebagai penguasa penyakit menular,” jelas Hariani. Kisah wabah penyakit akibat dendam Calon Arang itu pun berakhir setelah Mpu Bharadah membunuh dan meruwat sang ahli sihir dan Desa Girah.
- Kisah Hanoman dari Kota Lama
Kawasan Kota Lama Semarang menyimpan daya tarik untuk dikunjungi. Banyak bangunan peninggalan Belanda masih berdiri kokoh. Sebagian dimanfaatkan menjadi kedai-kedai minuman atau makanan dengan interior yang menarik. Tempat ini ramai saban akhir pekan atau musim liburan sebelum pandemi Covid-19 melanda. Salah satu bangunan bersejarah di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia). Karena ramai pengunjung, Kota Lama juga menjadi tempat mengais rezeki bagi penampil jalanan. Salah satunya Heri Sudron (46). Dia biasa tampil sebagai Hanoman, salah satu tokoh dalam wiracarita Ramayana. Dia mengenal perwayangan sejak kecil sehingga tidak asing lagi dengan berbagai tokoh wayang. Dia tampil sebagai Hanoman karena menurutnya tokoh ini menarik. Heri merias wajahnya untuk menjadi Hanoman di Kota Lama. (Fernando Randy/Historia). “Sejak usia 9 tahun di Banyuwangi saya sudah sering menonton wayang, hingga akhirnya saya bergabung dengan grup kesenian yang memainkan seni Janger,” ujar Heri. Janger adalah kesenian asal Banyuwangi yang memadukan tarian, kostum, dan gamelan Bali yang mengambil cerita rakyat Jawa sebagai lakonnya. Heri mengaku kecintaanya terhadap seni peran dan Hanoman membuat dirinya melakoni peran sebagai seorang performance art hingga kini. Dia memperoleh sedikit rupiah dari orang yang berfoto bersama dirinya. Heri bersiap dengan kostum Hanomannya. (Fernando Randy/Historia). Hal-hal detail seperti gelang dan lainnya juga dipersiapkan oleh Heri. (Fernando Randy/Historia). Menurut Heri Hanoman adalah karakter yang sudah melekat pada dirinya. (Fernando Randy/Historia). “Setelah menikah, saya pusing mikir mau kerja apa. Hingga akhirnya saya kembali teringat akan sosok Hanoman. Akhirnya saya merantau dan kembali menjadi Hanoman hingga saat ini," lanjut pria berambut gondrong ini. Selama menjadi Hanoman, Heri mengalami banyak suka dan duka. Saat Kota Lama sedang ramai pengunjung, dompetnya ikut ramai. Tapi saat sepi, dompetnya sering tak berisi. "Menjadi Hanoman harus mengerti berbagai karakter masyarakat yang ingin berfoto. Ada yang hanya foto bersama, ada yang sampai naik pundak saya. Namun ya itu tadi saya adalah Hanoman yang bertugas melayani dan melindungi masyarakat,” kata Heri. Para pengunjung saat berfoto bersama sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Para pengunjung menyaksikan sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Sang Hanoman di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia). Seorang pengunjung mengajak sang hanoman untuk berfoto bersama. (Fernando Randy/Historia). Heri sendiri tidak mematok berapa bayaran bagi pengunjung Kota Lama Semarang yang sekadar ingin berfoto bersama dirinya. Semuanya suka rela. “Berapa saja bayarannya. Saya tidak pernah mematok harga untuk berfoto bersama saya. Yang penting ikhlas saja,” lanjut Heri. Ikhlas adalah bayaran yang didapat oleh Heri sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Sang Hanoman beraksi di tengah Kota Lama. (Fernando Randy/Historia). Puluhan tahun memerankan Hanoman, Heri mempunyai harapan bagi kesenian wayang. Dia berharap semua generasi turut andil merawat kesenian ini. “Pesan saya untuk semua, bukan hanya anak-anak, warisan leluhur seperti ini jangan sampai terlupakan. Jangan sampai tersaing dengan musik-musik Barat. Jangan sampai kita melupakan dan meninggalkan kesenian tradisional,” kata Heri. Sang Hanoman berharap kesenian tradisional seperti wayang terus dijaga oleh generasi muda. (Fernando Randy/Historia).
- D.I. Pandjaitan Bernatal di Tengah Hutan
DI masa revolusi kemerdekaan, berada di rumah berkumpul bersama keluarga adalah kesempatan langka yang sangat mahal. Hal seperti inilah yang dialami Kapten Donald Isaac Pandjaitan ketika Belanda melancarkan agresi militer yang kedua. Waktu itu Pandjaitan menjabat sebagai kepala staf umum yang mengurusi logistik Komandemen Sumatra. Pada 24 Desember 1948, Pandjaitan mengadakan misi ke Riau. Panglima Komandemen Sumatra Kolonel Hidayat Martaatmadja menugaskan Pandjaitan mencari senjata untuk persiapan perang gerilya. Pandjaitan disertai beberapa orang stafnya. Mereka antara lain Letnan Pieter Simorangkir, Letnan Sumihar Siagian, Sersan Mayor G.G. Simamora, dan Bustami -Wali Negeri Rao- sebagai penunjuk jalan. Pukul 06.25 pagi, rombongan Pandjaitan berangkat dari Rao, Pasaman, Sumatra Barat. “Mereka berlima menelusuri jalan tikus, memasuki rimba raya di lereng-lereng Bukit Barisan. Bustami yang mengenal wilayah gawat itu berjalan di depan,” tutur istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan br, Tambunan dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Setelah lima jam menerobos hutan, menuruni lembah, dan mendaki bukit, perjalanan mendekati perkampungan. Setibanya di Kampung Pintu Padang, rombongan Pandjaitan singgah sebentar untuk makan siang. Penduduk menerima dan menjamu mereka dengan baik. Atas sambutan hangat itu, Pandjaitan sekalian mengajak rakyat setempat untuk ikut berjuang dalam perang gerilya. Diterangkannya bagi mereka yang tidak memanggul senjata, dapat menyiapkan makanan dan mengirimkannya ke garis depan. Ajakan Pandjaitan bersambut. istri pemuka setempat memberikan perhiasan miliknya untuk biaya perjuangan. Setelah minta diri dan mengucapkan terima kasih rombongan Pandjaitan melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya Desa Rumbai yang berjarak sekira 36 km dari Pintu Padang. Kurang dari lima jam, mereka sudah sampai. Karena hari telah petang, mereka beristirahat di sebuah kedai yang di atasnya difungsikan sebagai penginapan. Setelah berbaring hingga pukul 20.45, Pandjaitan belum dapat tertidur. Pandjaitan menyadari bahwa saat itu adalah malam Natal. Sebagai seorang Kristiani, saat demikian lazimnya mengadakan misa diikuti dengan kebaktian di gereja pada keesokan pagi bersama keluarga. Pandjaitan teringat pula dengan istri dan anaknya yang sedang mengungsi pasca agresi. Tetiba Pandjaitan bangkit dan mengambil dua buku bersampul hitam: Kitab Injil dan Kidung Pujian. Dia menatap Siagian, Simorangkir, Simamora yang masih terjaga. Ketiganya Kristen. Sementara Bustami yang beragama Islam, sudah tertidur pulas. “ Gentlemen ,” kata Pandjaitan, “Tidak seorang pun di antara kita yang menduga akan sampai di tempat ini. Hal ini disebabkan oleh panggilan tugas. Justru inilah yang saya sebut sebagai kehendak Tuhan.” Kendati jauh dari keluarga dan gereja, Pandjaitan membesarkan hati para stafnya. Sebagai wujud syukur, Pandjaitan memimpin mereka melantunkan kidung pujian. Dengan pelan-pelan namun khidmat, mereka melantunkan lagu Malam Kudus . Pandjaitan menutup ibadah itu dengan doa, selanjutnya mereka saling bersalaman. Selamat hari Natal! Pagi-pagi tanggal 25 Desember, rombongan Pandjaitan melanjutkan perjalanan menuju Riau. Mereka terjaga dengan tubuh yang lebih segar setelah berisitrahat semalam. Setelah sarapan, mereka berangkat pukul 06.20 pagi. Menurut Marieke perayaan Natal 1948 di desa kecil yang dikelilingi oleh hutan belantara itu sungguh amat terkesan di hati Pandjaitan. Dia selalu ingat peristiwa yang sangat mengharukan itu. Di tengah perjuangan gerilya, Pandjaitan menjalani kewajiban terhadap negara dan sekaligus terhadap Tuhan. “Hari yang suci itu dialaminya selagi bangsa dan negara dalam ancaman penjajahan, apalagi isteri dan anak-anak yang masih kecil tengah dalam pengungsian,” kenang Marieke. Pandjaitan kelak menjadi Atase Militer Republik Indonesia untuk Jerman Barat. Dia mencapai puncak karier militernya sebagai Asisten IV/Logistik Menteri Panglima AD. Setelah gugur dalam Insiden 30 September 1965, namanya kemudian lebih dikenal sebagai salah satu dari pahlawan revolusi.*
- Orang-orang Rawagede
HAWA panas menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang siang itu. Deretan pohon bakau melambai-lambai kala disapa angin. Suara debur ombak pantai utara terdengar lembut bersanding dengan bau anyir ikan dari arah kampung nelayan setempat. Di sebuah rumah usang yang terletak dekat pantai, kendaraan yang saya tumpangi berhenti. Dari dalam, seorang perempuan uzur muncul. Tertatih-tatih dia menyambut saya. Tubuhnya gemetaran karena pengaruh usia. “Kita bicara di luar saja ya, di dalam gelap,” jawabnya dalam bahasa Sunda berlogat pesisir. Wanti nama perempuan tua itu. Dia adalah salah satu janda korban pembantaian militer Belanda di Dusun Rawagede pada 1947. Bersama seorang korban, anak korban dan tujuh janda korban Rawagede lainnya, pada 2011 dia menggugat pemerintah Belanda ke Pengadilan Tinggi di Den Haag. Setelah melalui jalan berliku, upaya mereka berhasil. Namun apakah itu menjadikan hidup mereka lebih baik? Selasa, 9 Desember 1947. Orang-orang Rawagede dikejutkan oleh suara stengun dan brengun yang menyalak tiba-tiba dari arah timur pagi itu. Demi mendengar tembakan-tembakan tersebut, kontan para laki-laki yang belum sempat berangkat ke sawah berhamburan ke arah Kali Balong sedang kaum perempuan dan anak-anak justru memilih bertahan di rumah. Wanti yang saat itu tengah hamil tua memilih bersembunyi di bewak (bekas lubang perlindungan zaman Jepang) yang ada di bawah rumah panggungnya. Begitu juga dengan nenek dan kakeknya. Saat berlindung tetiba dia teringat Sarman, suaminya yang beberapa jam lalu sudah pergi sawah. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dalam kondisi penuh ketegangan, tetiba seorang tentara Belanda berseragam loreng masuk ke lingkungan rumah Wanti. Sambil membawa senjata, dia langsung membuka pintu bewak dan membentak dalam bahasa Melayu: “Kemana laki-lakinya?” “Tidak ada Tuan,” jawab Wanti dalam nada gemetar. “Pergi ke mana?!” “Ke sawah, Tuan.” Serdadu bule itu kemudian menunjuk dua orang tua yang saat itu tengah sembunyi di kolong meja. “Ini siapa?” "Ini kakek saya, Tuan. Itu nenek saya, Tuan.” Setelah menggeledah seluruh sudut ruangan, sang serdadu pun berlalu. Sementara itu di tempat lain, Telan melakukan langkah seribu ke arah Kali Balong. Pemuda yang dikenal sebagai anggota Lasykar Hizbullah itu lantas berjalan menyisir tepi kali untuk mengamankan diri ke arah Desa Mekarjaya, yang bertetangga dengan Dusun Rawagede. “Suasana sangat mencekam kala itu. Suara tembakan terdengar diringi jeritan kaum perempuan dan anak-anak kecil,” ujar lelaki kalahiran Rawagede itu. Beberapa waktu kemudian, rombongan serdadu-Belanda berpakaian macan tutul memasuki Rawagede. Mereka adalah anggota Yon 3-9-RI Divisie 7 December , sebagian kecil prajurit 1e Para Compagnie dan 12 Genie Veld Compagnie (keduanya merupakan brigade cadangan dari pasukan parakomando Depot Speciale Troepen ) pimpinan Mayor Alphons J.H. Wijnen. Begitu memasuki dusun, mereka langsung beraksi. Sebagian berjaga-jaga di mulut dusun, sedang sebagian lagi menyebar, mendobrak pintu rumah (termasuk rumah Wanti) dan memerintahkan secara kasar agar para penghuninya keluar. “Para perempuan dan anak-anak mereka biarkan begitu saja, tapi kaum lelaki yang tak sempat lari dikumpulkan dalam beberapa kelompok,” kenang almarhum Sai, salah seorang penduduk Rawagede yang belakangan lolos dari maut. Satu kelompok yang yang berisi 15 laki-laki lantas dijejerkan. Seorang sersan berkulit putih lantas menanyai satu persatu orang-orang tersebut dalam nada membentak. "Ekstrimis ya?!” “Bukan, Tuan.” “Kamu tahu di mana itu Laskar?! Kamu tahu Lukas?!” “Tidak tahu, Tuan." Mendengar jawaban kompak para lelaki yang tertangkap, tanpa banyak bicara lagi, seorang serdadu Belanda yang berdiri di bagian belakang para tawanan lantas mengokang senjatanya. Darah pun berhamburan, mengental merah mewarnai bumi Rawagede. Beberapa jam setelah pembantaian itu. Langit Rawagede dibekap mendung. Suara ratusan burung gagak mengoak, bersanding dengan teriakan pilu dan tangisan sekelompok perempuan yang kehilangan anak dan suami. Bau mesiu masih menyengat, bercampur dengan bau anyir darah yang tercecer di tanah, dedaunan dan sisa-sisa kayu bekas bangunan yang terbakar. Di beberapa sudut kaum perempuan mengorek tanah dengan golok. Sekuat tenaga, mereka berupaya memakamkan secara layak mayat suami, anak ataupun ayah mereka. Usai menguburkan jasad-jasad itu di dalam lobang yang dangkal, mereka lantas menumpuk makam-makam itu dengan daun jendela, kayu bakar, daun pintu yang merupakan sisa puing-puing rumah mereka yang dibakar militer Belanda. Wanti adalah salah satu dari ratusan perempuan tersebut. Bersama ayah dan ibu mertuanya, ia memakamkan jasad Sarman tepat di di halaman rumahnya. “Setelah mencari kesana kemari, saya menemukan tubuh kaku suami saya tertelungkup di daerah Sumur Bor dengan kepala dan tengkuk berlubang penuh darah,” kenangnya. Telan termasuk yang kehilangan keponakan dan kakak: Sewan dan Natta. Begitu juga ratusan orang Rawagede lainnya. Tidak saja di dalam dusun, di Kali Cibalong pun ratusan pemuda Karawang yang meregang nyawa terbawa hanyut. Telan, masih menyaksikan Tong Wan (pemuda Tionghoa yang bergabung dengan Hizbullah) sekarat lalu dibawa hanyut air Kali Balong yang saat itu tengah banjir. “Sebelum ditembak, ia sempat berteriak: merdeka!" ujar lelaki tua yang meninggal pada 2019. Hawa panas yang menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang sudah mulai tak terasa. Tapi deretan pohon bakau masih melambai-lambai disapa angin laut sore. Wanti tua kembali melangkah masuk diringi Sopia, salah satu putrinya yang tersisa. Dia kemudian duduk di kursi butut tanpa meja sambil menghadap saya. “Hingga sekarang, Emak tak pernah mengerti mengapa suami Emak dibunuh. Dia hanya seorang petani, bukan tentara atau laskar,” ujar Wanti dalam nada lirih. Sebagai konsekuensi dari kekalahannya di Pengadilan Tinggi Den Haag, Pemerintah Belanda akhirnya meminta maaf dan memberikan sejumlah uang kompensasi (jika dirupiahkan sebanyak Rp240.000.000,00) kepada para penggugat. Apakah uang kompesasi tersebut sampai kepada mereka? “Ya sampai. Walaupun saya hanya menerima uang utuhnya ke tangan sekitar 40 juta rupiah, tapi Alhamdulillah saya sendiri bisa membeli rumah ini dan satu televisi untuk hiburan,” kata nenek dari beberapa cucu itu. Wanti sendiri tidak pernah mempersoalkan haknya yang terpotong oleh berbagai pihak. Dia malah merasa bersyukur bahwa di masa tuanya bisa menerima kemurahan Tuhan dengan memiliki rumah sendiri, kendati kondisinya sangat memprihatinkan (ketika awal 2019 saya ke Pantai Sedari, rumah Wanti sudah hancur dimakan abrasi). Bagi salah satu saksi sejarah yang masih tersisa ini, kehilangan suami dan dihantui rasa trauma sejatinya tak bisa terbayar oleh uang sebanyak apapun. “Saya selalu berusaha melupakan kejadian itu. Tapi kalau lagi sendiri kadang bayangannya muncul begitu saja, membuat saya kembali bersedih,” ujarnya dalam nada pelan. Setitik air bening meleleh di kulit pipinya yang keriput. Tulisan ini dibuat untuk mengenang Bu Wanti dan Pak Telan, yang beberapa waktu lalu baru saja mangkat.





















