top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Menyambut Koleksi Kurasawa

    MASA pendudukan Jepang telah lewat 74 tahun silam. Namun masih banyak misteri yang belum tuntas. Buku Bibliografi Beranotasi Sumber SejarahMasa Pendudukan Jepang di Indonesia ini bertujuan menjadi pintu gerbang bagi peneliti muda Indonesia. Buku ini memuat daftar lengkap sumber-sumber sejarah primer dari berbagai tempat. Selain koleksi Kishi Koichi dan koleksi Nishijima Shigetada yang sebelumnya sudah dikenal para peneliti, buku ini mendata sumber-sumber dari lembaga resmi seperti Lembaga Kajian Pertahanan Jepang (NIDS), Arsip Departemen Luar Negeri Jepang, dan Perpustakaan Parlemen Jepang. Selain itu, buku ini memuat sumber-sumber arsip dari Asahi Shinbun , salah satu penerbit suratkabar resmi pada masa pendudukan Jepang, terutama di Jawa dan Borneo (Kalimantan). Pada masa itu ada Jawa Shinbun dan Borneo Shinbun yang terbit di bawah Asahi Shinbun .    Yang paling menarik dari daftar sumber dalam buku ini adalah koleksi pribadi milik Aiko Kurasawa, sejarawan Jepang. Kurasawa-sensei telah meneliti Indonesia selama lebih dari 50 tahun dan mengumpulkan banyak sumber primer. Dokumen-dokumen yang dikumpulkannya meliputi catatan harian, dokumen pribadi dari pelaku/saksi sejarah, dan beberapa dokumen yang tidak diketahui lagi lokasi penyimpanannya.   Dengan menyajikan daftar inventaris yang lengkap, buku ini berfungsi sebagai penuntun awal bagi para peneliti untuk melihat langsung sumber arsip dan dokumen pada masa pendudukan Jepang. Lebih jauh, buku ini dapat menjadi batu pondasi untuk menyelami sumber-sumber primer guna meningkatkan pengetahuan kita sendiri. Judul: Bibliografi Beranotasi Sumber Sejarah Masa Pendudukan Jepang di Indonesia. Penyusun: Aiko Kurasawa dan Mitsuko Nanke.Penerbit: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Terbit: Jakarta, 2018. Tebal: 266 halaman. Tantangan bagi Peneliti Muda Memang, sebagian besar sumber arsip dan dokumen ini ditulis dalam bahasa Jepang.  Bagi peneliti Indonesia, mempelajari bahasa Jepang tentu menjadi tantangan tersendiri. Bukan hanya sekadar untuk berbicara, tapi membaca naskah. Terlebih naskah tulisan tangan. Pula, dalam bahasa Jepang dari masa Perang Dunia II. Bahasa Jepang, seperti bahasa-bahasa lainnya, mengalami perubahan dan perkembangan drastis. Bahasa Jepang masa Perang Dunia II jelas berbeda dari bahasa Jepang abad ke-21. Bekerjasama dengan peneliti Jepang adalah salah satu cara mengatasi tantangan ini. Saat ini, penelitian sejarah tidak bisa mengabaikan aspek kerjasama antarpeneliti dari berbagai bangsa. Dari kerjasama ini diharapkan akan tumbuh generasi baru Indonesia yang benar-benar ahli membaca arsip dan dokumen sejarah Jepang. Dengan kemahiran berbahasa yang mumpuni, peneliti muda Indonesia tentu akan punya andil yang penting dalam mengembangkan teknis membaca dan menafsir sejarah.  Selain itu, dari daftar sumber-sumber primer ini terlihat bahwa masih ada banyak kisah sejarah yang belum sepenuhnya digarap. Kisah-kisah ini masih terpendam, belum sepenuhnya dipahami, atau masih perlu ditafsir-ulang. Ini adalah lahan yang terbuka lebar bagi peneliti muda Indonesia. Jalan Masih Panjang Di samping arsip dan dokumen dari zaman penjajahan Jepang, sesungguhnya masih ada banyak foto dan film yang belum seluruhnya diinventaris lengkap dan dikategorisasikan. Foto dan film adalah juga sumber sejarah penting. Karena itu, perlu kiranya ada usaha untuk melengkapi ini. Buku ini diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan tujuan untuk menyebarluaskan upaya pengembangan penulisan sejarah. Dengan menggunakan dana publik, buku ini tidak untuk dijual. Kiranya, buku ini dapat diperoleh dengan mudah, tak terkecuali bagi para peminat sejarah di tanah air. Acara peluncuran buku ini akan berlangsung pada 26 Juni 2019 di perpustakaan Universitas Rikkyo, Tokyo, dengan dihadiri Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid sebagai pembicara utama. Juga akan berlangsung seminar yang akan dihadiri sejumlah peneliti Jepang antara lain Nakamura Mitsuo, Hayase Shinzo, dan Himemoto Yumiko.

  • Kala Bandung Dilanda Bingung

    TERSIARNYA berita pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak hanya membuat suka cita, tetapi juga kebingungan. Bandung menjadi salah satu daerah yang mengalami situasi tersebut. “Seperti halnya di berbagai tempat, di sini pun telah ada bermacam-macam kelompok lokal yang sulit dikoordinasikan berhubung rapinya pengawasan Jepang,” tulis A.H. Nasution, dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 1 . Namun walau begitu, para pemuda Bandung tidak kehilangan cara untuk mengabarkan proklamasi,. Alih-alih kehilangan nyali, mereka malah lebih bersemangat untuk menyiarkan berita kemerdekaan Indonesia di kotanya. “Dengan menaiki sepeda masing-masing, kami bergegas ke balai kota, menemui shicho (walikota). Pada waktu itu walikota adalah Pak Atmadinata. Beliau sudah berumur,” kenang Achmad Tirtosudiro dalam biografinya, Jenderal dari Pesantren Legok: 80 Tahun Achmad Tirtosudiro karya Rayani Sriwidodo. Misi utama para pemuda itu adalah meminta walikota untuk menginstruksi penurunan bendera Jepang yang tersebar di sudut-sudut kota Bandung, dan segera menggantinya dengan mengibarkan bendera merah putih.Di antara mereka yang pergi menemui walikota ada Mashudi (pangkat terakhir Letanan Jenderal dan mantan gubernur Jawa Barat), serta Achmad Tirtosudiro (pangkat terakhir Letnan Jenderal). Setelah berhasil bertemu, Achmad dan Mashudi langsung meminta jawaban walikota atas situasi kemerdekaan tersebut. Tetapi bukannya mendapat arahan yang tegas, Atmadinata malah kebingungan. Para pemuda yang tidak sabar mendesak walikota untuk segera mengambil tindakan sebelum situasi bertambah kacau. Namun bukannya mengambil sikap, sang walikota malah nyaris menangis karena bingung, tidak berani menentukan tindakan apa yang harus diambil sebelum ada instruksi resmi. Dalam situasi yang semakin tidak menentu karena ketidaktegasan sang walikota, para pemuda itu segera pergi menemui syucho (residen). Saat itu karesidenan Priangan dipimpin oleh Puranegara. Namun setelah berhasil menemui residen, lagi-lagi para pemuda tidak mendapat perintah yang jelas dan tegas. Mereka malah kembali harus melihat ketidakmampuan para pemimpin untuk menentukan sikap dalam situasi yang harus serba cepat itu. “Kami, para pemuda yang sedang haus-hausnya akan kepastian tindakan yang seharus dilakukan ketika itu, malah tidak mendapat pengarah sama sekali,” kata Achmad. Nasution menyebut bahwa pertimbangan-pertimbangan militer dari para pemuda Bandung mengalami jalan buntu. Mereka memutuskan untuk menunggu instruksi dari Jakarta. Keyakinan para pemuda dan barisan rakyat Bandung sangat besar terhadap para pemimpin di pusat. "Suatu keyakinan yang ternyata sangat naif. Dan seharusnya kita jangan berat sebelah dalam memperhitungkan pemberontakan secara militer," tulis Nasution. Tanpa di sangka-sangka, beberapa kelompok rakyat Bandung melakukan pergerakan. Walau masih ragu-ragu, karena tekanan polisi Jepang, tetapi mereka sudah berani turun ke jalan. Mahasiswa dan masyarakat bersatu melakukan aksi demonstrasi. Senjata dan kendaraan milik pasukan Jepang dengan cepat diliucuti.

  • Ketika Rumah Susi Susanti Nyaris Dibakar

    KENANGAN pahit itu masih mengendap di kepala Alan Budikusuma kendati sudah 21 tahun berlalu. Kala sebagian etnis Tionghoa yang tergabung dalam tim Thomas dan Uber Cup Indonesia sedang berjuang di Hong Kong untuk mempersembahkan Thomas dan Uber Cup kepada ibu pertiwi, etnis Tionghoa di tanah air justru jadi mangsa saat negeri tengah dilumpuhkan huru-hara.  “Konsentrasi tim tuh pecah. Bingung dengan keadaan di tanah air pada 1998 itu. Pusing kita, sempat berpikir, gimana ya? Apa mereka masih bisa bertanding dengan situasi seperti ini?,” tutur Alan mengingat 21 tahun lalu saat ditemui Historia di Kelapa Gading. Kerusuhan rasialis di tanah air pecah pada 13-14 Mei 1998. Jelas saja mental para pemain terpengaruh. Mereka yang beretnis Tionghoa mengkhawatirkan kondisi keluarga masing-masing. Alan yang turut dalam tim sebagai asisten pelatih, merasakan betul kecemasan mendalam istrinya (Susi Susanti) akan keluarganya di Tasikmalaya. “Keadaan semua panik dan cemas. Apalagi rumah orangtua Susi di Tasikmalaya itu sudah hancur, kaca jendela sudah habis. Mau dibakar (massa) rumahnya,” imbuhnya. Alan Budikusuma menceritakan 21 tahun lalu ketika tim bulutangkis berjuang di tengah situasi prahara. (Randy Wirayudha/Historia) Dewi Anggraeni dalam Mereka Bilang Aku China: Jalan Mendaki Menjadi Bagian Bangsa menyingkap, ayah Susi, Risad Haditono (Ong Siong Lie) nyaris jadi bulan-bulanan massa. Gerombolan massa sudah pasang target untuk membumihanguskan rumah peraih medali emas pertama Olimpiade bagi Indonesia itu. “Ayah Susi waktu itu sedang sendirian di rumah. Lalu dia mendengar bunyi-bunyi gerombolan massa. Mereka berteriak, ‘Bakar Rumah Susi Susanti!’ dan melemparkan batu. Untunglah ayah Susi sempat mencari perlindungan dan terhindar dari cedera fisik. Ternyata massa bukan dari warga lokal, melainkan orang luar,” tulis Dewi. Risad sudah lebih dulu diamankan para tetangga dekatnya. Rumahnya pun akhirnya urung dibakar massa tak dikenal berkat campur tangan warga sekitar. “Kebetulan tetangga-tetangga ini kan dekat hubungannya walau mereka bukan Tionghoa. Sudah seperti saudara. Mereka yang bantu. Yang mau bakar rumah Susi dihalau oleh mereka,” sambung Alan. Keluarga Alan sendiri di Surabaya dalam kondisi aman. Situasi Kota Pahlawan relatif kondusif. Pengalaman keluarga Susi itu jadi hal yang luput dari jaminan yang sebelumnya diberikan ketum PBSI. Saat kejadian, manajer tim mengeluarkan kebijakan membolehkan para pemain mengontak keluarga masing-masing di tanah air. “Kami semua dikumpulkan, dimintai alamat rumahnya, keluarganya, kemudian beliau (manajer tim, red. ) berpesan: ‘Sekarang kita di sini baru berjuang, keluarga yang ada di Indonesia dijamin aman.’ Beliau sampaikan itu, kemudian kita sendiri jadi termotivasi ya, apapun yang terjadi di Indonesia, ya kita lagi berjuang, kita membawa nama merah putih. Apapun itu, sebisa mungkin kita semaksimal yang kami mampu pada saat itu,” ujar Sigit Budiarto, anggota tim Thomas, kepada Historia . Sigit Budiarto, salah satu anggota tim Thomas 1998 Indonesia. (Randy Wirayudha/Historia) Alan ditunjuk jadi koordinator urusan mengontak keluarga masing-masing. “Jadi saya yang bantu anak-anak, meng- arrange kalau ada butuh apa-apa. Jadi kamar saya yang di- open (sambungan) telefonnya untuk mengontak masing-masing orangtua,” ujarnya. Toh , kebijakan itu tak menghilangkan rasa cemas masing-masing pemain. Terutama buat tim Uber, yang gagal di partai puncak setelah dibekuk China 1-4 pada 23 Mei 1998.  “Kami terganggu? Iya. Tapi tugas tetap berjalan. Susi sendiri menang tapi timnya kalah. Tapi syukur putranya (tim Thomas) masih bisa menang,” imbuh Alan lagi. Tim Thomas menang 3-2 atas Malaysia sehari setelahnya. Sigit yang berpasangan dengan Candra Wijaya di partai pamungkas, ganda putra, menjadi penentu kemenangan itu. “Itu momen pertamakali saya ikut Thomas Cup. Alhamdulillah kita bisa pertahankan, itu jadi suatu kebanggaan tersendiri. Pada saat Indonesia terjadi huru-hara sampai sedemikian rupa ya pada saat itu, kami di sana sedang berjuang dan kemudian kita menang. Merah Putih berkibar, nyanyi ‘Indonesia Raya’, kemudian kita pulang juga dengan suasana yang berbeda ya. Kita diterima dengan presiden yang lain. Kepada kita, presiden (BJ Habibie, red. ) berterimakasih sudah memberikan yang terbaik buat bangsa Indonesia,” kata Sigit menutup obrolan.

  • Gaya Rambut Nabi Muhammad

    Penyanyi religi Aunur Rofiq Lil Firdaus alias Opick mengaku membawa sehelai rambut Nabi Muhammad Saw. Dia menerimanya dari Dewan Dakwah dan Pemerintah Turki, saat dia dan istrinya, Bebi Silvana, berbulan madu ke Timur Tengah.  “Opick menceritakan, sehelai rambut Nabi Muhammad Saw. itu telah dijaga 100 pasukan khusus dan dikawal tujuh pesawat tempur saat dibawa ke Rusia untuk dipamerkan,” demikian dikutip tribunnews.com . Masduki Baidlowi, Ketua MUI Pusat Bidang Informasi dan Komunikasi, menanggapi bahwa “banyak yang bertanya kebenarannya. Sehingga perlu ada penelitian dari laboratorium.” Namun, menurut Masduki, memang ada museum yang memelihara artefak kehidupan Nabi Muhammad, salah satunya adalah rambut. Di museum itu pula dirawat dan dipelihara berbagai peninggalan Nabi Muhammad. Terkait sehelai rambut Nabi Muhammad yang dibawa Opick itu, Masduki menyatakan, ada beberapa pandangan ulama. “Banyak yang menyebutnya sebagai barokah dari peninggalan Nabi. Saat Nabi mencukur rambutnya, ada kisah bahwa rambutnya diambil para sahabat,” kata Masduki dikutip tribunnews.com . Lalu, seperti apa gaya rambut Nabi Muhammad? KH Moenawar Chalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Saw Jilid III , menyebut bahwa rambut Nabi Muhammad lebih lebat dan tidak terlalu panjang (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Aisyah Ra). Riwayat lain (HR Nasa’i dari Anas bin Malik Ra). menyebut rambut Rasulullah berombak, tidak keriting dan tidak pula lurus, antara kedua telinganya dan tengkuknya. “Beberapa riwayat menerangkan bahwa panjang rambut Nabi Saw. sampai ke atas kedua bahunya, atau sampai ke cuping kedua telinganya, kadang-kadang sampai ke pertengahan kedua telinganya, kadang-kadang dibiarkan sampai ke bahunya,” tulis Moenawar Chalil. Abdul Moqsith Ghazali, dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, mengutip keterangan Ibn Katsir dalam Al-Bidayat wa al-Nihayat, Juz VI , bahwa kesukaan Nabi Muhammad memodel rambutnya seperti kebiasaan orang Yahudi dan Nasrani yang suka membiarkan rambutnya terurai lepas. Nabi kerap meniru kebiasaan orang-orang Musyrik yang suka membelah tengah rambutnya.  "Aisyah sering membantu membelah tengah rambut Nabi," tulis Abdul Moqsith Ghazali dalam Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis al-Qur’an . Menurut Moenawar Chalil, Aisyah meriwayatkan cara menyisir rambut Nabi Muhammad: "bila aku mengorakkan (menguraikan, membuka) rambut Rasulullah Saw., aku belah orakan rambut beliau dari ubun-ubunnya dan aku uraikan di antara kedua pelipis beliau." KH Ali Mustafa Yaqub, mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, menjelaskan dalam tausiyahnya di  @islamidotco (31/12/2018) bahwa ada hadis yang sahih yang tidak pernah disampaikan oleh sementara orang tentang gaya rambut Nabi Muhammad. Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Sahih Bukhari , bersumber dari sahabat Ibn Abbas Ra.  Beliau mengatakan Rasulullah semula kalau menyisir rambut memakai jambul di depan. Dan itu tradisi orang-orang Musyrikin. Tapi kemudian Rasulullah mengubah cara menyisir rambutnya dengan dibelah ke kanan dan ke kiri. Dan itu adalah tradisi orang-orang Yahudi dan Nasrani –Abd. Moqsith Ghazali menyebutnya tradisi kaum Musyrikin. Rasulullah menyukai model rambut kedua itu.  "Makanya Ibn Abbas mengatakan Rasulullah suka untuk menyamai orang-orang Yahudi dan Nasrani selama tidak ada larangan," kata Ali Mustafa Yaqub. "Jadi, Islam itu sebenarnya sangat lentur sekali. Yang bikin sumpek dan kaku itu sebagian orang Islam yang tasyaddud (mempersulit diri)."

  • Belanda Mabuk

    USIANYA jelas tak lagi muda. Namun meski sudah lebih dari seabad, kondisi Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran masih amat baiksiang itu. Tak satu pun dari pilar-pilarnya yang keropos diasup rayap atau rapuh dimakan usia. Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran dibangun pada masa Mangkunegara IV. Joglo seluas lebih dari 3000 m2 itu mengalami renovasi besar pada 1938 semasa kekuasaan Mangkunegara VII. “Beliau kan orangnya multitalenta,” ujar Supriyanto dari Dinas Urusan Istana Mangkunegara kepada Historia. “Gagasannya datang dari Stutterheim ketika konsultasi dengan Karsten dan Sang Pangeran. Stutterheim membuat dua foto lukisan pada langit-langit kayu yang ia lihat di Ceylon (Sri Langka), menyimbolkan planet-planet, meski di dalam foto terdapat sembilan planet (bukan delapan seperti yang direncanakan untuk hiasan langit-langit pendopo astana),” tulis Madelon Djajadiningrat dalam “Tidak Adakah yang Bisa Kita Perbuat dengan Cermin yang Buruk Itu?”, dimuat dalam buku suntingan Peter JM Nas Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia . Mengkunegara VII dikenal amat disipilin. Kendati sudah naik takhta, dia turun langsung mencari bibit untuk dilatih menari. Mangkunegara VII juga mengawasi langsung latihan tari para anak didiknya. Mangkunegara VII biasanya membawa kayu sambil mengawasi proses latihan. Apabila ada yang melakukan kesalahan, Mangkunegara VII langsung menegur dengan memukulkan kayu itu ke peserta latihan yang melakukan kesalahan. Sifat disipilin Mangkunegara VII itu diperolehnya dari didikan sang paman sekaligus ayah angkatnya, Mangkunegara VI, raja yang dikenal sebagai pendobrak tradisi. Mangkunegara VI mempelopori ditegakkannya kedisiplinan di praja Mangkunegaran. “Pembaruan dalam aspek ini sangat menarik karena sangat bersentuhan dengan tradisi orang Jawa secara keseluruhan yang sering dianggap tidak disiplin oleh orang Barat,” tulis Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896-1944 . Dengan menegakkan kedisiplinan, Mangkunegaran tak hanya hendak memajukan praja sekaligus kawula -nya. Lebih dari itu, ia ingin menunjukkan eksistensi diri yang otonom, berbeda dari bekas induknya, Kasunanan, yang jauh dari disiplin. Aturan kedisiplinan itu pula yang membuat Susuhunan Pakubuwono X dipermalukan dalam sebuah acara yang diadakan Mangkunegaran. Pasalnya, Susuhunan berjanji akan datang pukul 21.00, namun ketika ditunggu hingga pukul 21.30 dirinya tak kunjung terlihat. Mangkunegara VI pun langsung memerintahkan gerbang istana ditutup. Maka ketika Susuhanan tiba, dia tak bisa masuk. Di lain waktu, Susuhunan kembali kena “tembak”. Tanpa pemberitahuan, Susuhunan menginap di sebuah pesanggrahan di Karanganyar, wilayah kekuasaan Mangkunegaran, untuk berburu. Begitu pulang, dia langsung mendapat surat tagihan ( bill ) dari Mangkunegaran. Jumlahnya, 100 gulden untuk biaya penginapan per malam dan 50 gulden untuk denda karena Susuhunan melepaskan tembakan tanpa izin khusus di wilayah Mangkunegaran.   Aturan kedisiplinan itu pula yang di lain kesempatan “memakan” korban seorang asisten residen. Tanpa mengikuti prosedur yang ditetapkan, di mana setiap orang yang hendak bertamu ke Mangkunegaran mesti mendapat izin patih terlebih dulu, sang asisten residen nyelonong masuk ke kantor Mangkunegara VI. Dia langsung mengetuk pintu. Mangkunegara VI yang saat itu sedang membaca koran, hanya menoleh dan kembali membaca koran. Tamunya yang orang Belanda itu tak dihiraukannya. Lantaran sakit hati dihina, asisten residen langsung melaporkannya kepada Residen Surakarta G.F van der Wijk. Mangkunegara VI pun langsung ditegur lewat telepon. Alih-alih manggut-manggut, Mangkunegara VI dengan santai memberi jawaban sambil bergurau. “Saya kira Belanda mabuk,” katanya. Jawaban itu membuat Van der Wijk balik memarahi asistennya yang dianggapnya mengangkangi aturan tata krama Mangkunegaran.

  • Dua Presiden Menangkal Ancaman

    UJARAN yang membahayakan nyawa Presiden Joko Widodo lagi-lagi dilontarkan. Dalam aksi unjuk rasa ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), seorang pria yang diketahui berinisial HS mengatakan akan memenggal kepala Presiden Jokowi. Kata penggal lebih dari sekali diucapkan pemuda yang mengaku berasal dari Poso, Sulawesi Tengah ini.   “Dari Poso nih, siap penggal kepalanya Jokowi. Jokowi siap lehernya kita potong, Demi Allah,” kata HS dalam video yang viral di media sosial.   Kepolisian segera bertindak. HS pun kena ciduk. Akibat ucapannya, HS terjerat pasal makar . Kini, anak muda itu telah ditahan dan terancam hukuman mati. Sejak negeri ini berdiri, ancaman senantiasa menyasar presiden dari masa ke masa. Ancaman itu bisa berbentuk ujaran, aksi teror, hingga upaya pembunuhan. Presiden RI pertama, Sukarno, setidaknya tercatat mengalami tujuh kali percobaan pembunuhan. Dari tujuh percobaan pembunuhan terhadap dirinya, yang paling diingat Sukarno adalah Peristiwa Cikini pada 30 November 1957. Saat itu, iring-iringan mobil rombongan Presiden Sukarno dilempari granat usai menghadiri acara malam amal di Perguruan Cikini. Sebanyak 10 orang tewas, termasuk anak-anak dan ibu hamil, dan 48 lainnya mengalami luka-luka. Beruntung, Presiden Sukarno selamat dari tragedi berdarah itu. “Kartosuwiryo adalah orang yang meludahkan api di tahun ’50 dengan ucapannya, ‘Bunuh Sukarno’,” ujar Sukarno menyebut dalang Peristiwa Cikini dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Pelaku pelemparan granat merupakan anggota Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Mereka terkait erat dengan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan S.M. Kartosuwiryo. Di masa muda, Sukarno dan Kartosuwiryo adalah kawan sepondokan yang tinggal di rumah Haji Tjokroamoniro, tokoh Sarekat Islam. Di kemudian hari, keduanya bersilang jalan. Sukarno yang berpaham nasionalis menjadi presiden Indonesia. Sementara Kartosuwiryo memilih jalan radikal untuk mewujudkan negara Islam yang didambanya. Darul Islam yang dibentuk Kartosuwiryo selama bertahun-tahun merongrong pemerintahan Sukarno dengan menebar teror dan perlawanan bersenjata. Pemberontakan Kartosuwiryo berakhir setelah pengadilan memutuskan vonis mati.  “Di tahun 1963 Kartosuwiryo mengakhiri hidupnya di hadapan regu tembak. Ini bukan tindakan untuk memberikan kepuasan hati. Ia adalah tindakan untuk menegakkan keadilan,” kata Sukarno Berlanjut ke era Soeharto. Selama 32 tahun berkuasa, rasanya tiada yang berani mengancam Soeharto secara terang-terangan. Meski tangguh menghabisi lawan-lawannya, pernah pula Soeharto menghadapi ancaman serius. Seperti halnya Sukarno, Soeharto pun menindaknya  dengan dengan tegas walau pendekatannya agak berbeda. Bermula dari rencana kunjungan Presiden Soeharto ke Belanda pada awal September 1970. Rencana kedatangan Soeharto ditentang oleh kelompok separatis Maluku (RMS) yang berdiam di Belanda. Penolakan itu berkaitan dengan ditembak matinya pemimpin RMS Dr. Soumokil di Indonesia pada 1966. Soeharto terkena buntutnya. Padahal, esksekusi Soumokil terjadi pasa masa pemerintahan Sukarno. Satu hari sebelum jadwal kedatangan Soeharto, 1 September 1970, RMS memulai ancamannya dengan aksi berdarah. Seorang polisi Belanda yang ditugaskan menjaga keamanan  KBRI, ditembak mati oleh 32 pemuda anggota RMS yang menyerbu. Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Taswin Natadingrat sempat melarikan diri melalui lubang pada tembok belakang. Namun 30 orang lainnya disandera, termasuk istri sang duta besar. Pemerintah Belanda berniat membatalkan kunjungan Soeharto. Kabar ini diterima oleh Soeharto dari salah satu menterinya, Mashuri Saleh, pada saat rombongan kepresiden di Bandara Halim Perdanakusuma bersiap untuk berangkat. Apa lacur, Soeharto bersikukuh untuk tetap datang ke Belanda. Sebagaimana dikisahkan Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965—1998 , Soeharto berkata kepada Mashuri, “Saya tidak paham, Belanda tidak tegas. Kenapa tidak ditembak saja  dan sesudah mereka kehabisan amunisi, baru lakukan penyerbuan.” "Benar, tapi Pak Presiden, istri duta besar ada diantara para sandera,” jawab Mashuri . “Bukannya untuk itulah makam pahlawan dibuat?,” timpal Soeharto. Menurut Jusuf Wanandi, bagi Soeharto, semua orang dapat dikorbankan. Setelah melalui perundingan alot antara beberapa pejabat terkait dengan Presiden RMS J.A. Manusama, penyanderaan di KBRI akhirnya dapat diatasi. Semua sandera dibebaskan dan para pengacau RMS menyerahkan diri. Pada 3 September 1970, Soeharto akhirnya mendarat di Bandara Schiphol, Belanda. Sebanyak 5000 pasukan dikerahkan untuk menjaga keamanan. Dengan senjata dan tongkat pemukul, mereka siap menyergap siapa saja yang mencurigakan. Sudah ada beberapa yang langsung diringkus dan dimasukkan ke mobil patroli berterali. “Tibalah saat kunjungan Soeharto. Seluruh Belanda dikepung! Begitu berita di koran-koran. Bagaimana tidak, belum pernah Belanda terkesan begitu mencekam demi menyambut kedatangan seorang presiden,” tulis Walentina Waluyanti dalam “Presiden Soeharto Berkunjung, Kerajaan Belanda Siagakan 5000 Pasukan Pengamanan” termuat di laman soeharto.co. Dari bandara Schiphol, rombongan kepresidenan diterbangkan ke bandara militer Ypenburg, di dekat kota Den Haag. Setelah sempat dipusingkan dengan ancaman penyanderaan di kedutaan, Soeharto dapat melenggang bersua dengan Ratu Juliana. Ini adalah kunjungan perdana Soeharto ke negeri Belanda, sekaligus menjadi presiden Indonesia pertama yang datang ke negeri bekas penjajahnya .

  • Kisah Para Perempuan Sumba

    DI depan rumah, orang-orang berkumpul untuk menghadiri pemakaman dalam kepercayaan Marapu. Mereka melakukan itu setelah ada kesepakatan para tokoh adat tentang tata cara pemakaman empat raja sekaligus. Kesepakatan itu dicapai setelah negosiasi bertahun-tahun. Pasalnya, umumnya pemakaman dilakukan satu per satu. Namun karena penyelenggaraan adat yang besar, beberapa orang berpikir untuk melakukannya sekaligus. Mereka lalu menyembelih kerbau dan kuda. Sejurus kemudian, ramai-ramai mereka menarik batu penutup makam. Empat raja dimakamkan sekaligus dalam upacara adat yang super megah ini. Scene itu jadi salah satu sajian Lasya F Susatyo dalam film dokumenter garapannya kali ini, Perempuan Tana Humba . Lasya mengisahkan tentang dampak tradisi Sumba pada perempuan. Ia membagi cerita dalam tiga babak: Marapu, Belis, dan Perkawinan. Babak Marapu menyajikan gambar ciamik tentang rangkaian upacara adat Sumba dari perkawinan hingga kematian. Sementara babak Belis (mas kawin) bercerita tentang posisi perempuan dalam keluarga yang dipengaruhi oleh belis yang diberikan. Wujud belis biasanya ternak yang dianggap maskulin, semisal kuda atau kerbau. Seiring waktu, belis tak melulu ternak tapi kombinasi dengan barang berharga atau uang. Jumlah belis tergantung posisi keluarga perempuan di masyarakat. Ada maramba (bangsawan), rakyat biasa, dan hamba atau budak. Perempuan kasta maramba umumnya meminta belis yang tinggi sebagai tanda penghormatan bagi keluarganya. Rakyat biasa pun  bisa saja meminta belis yang tinggi bila calon pengantin perempuan berpendidikan tinggi. Sementara, belis untuk hamba akan dibayarkan oleh tuannya. Makin tinggi status sosialnya, baik kasta maupun tingkat pendidikan, makin besar jumlah belis . “ Belis masih kerap memberatkan, tak jarang jadi ada persinggungan. Saya ingin mengangkat ini. Perubahan tidak bisa dihindari dan berpengaruh ke tatanan kehidupan lainnya. Film ini membagi pengalaman para ibu di Sumba,” kata Lasya pada Historia. Tawar-menawar belis juga dilakukan antar-dua wakil pihak keluarga. Tak jarang tawar-menawar berjalan alot dan berujung ketidaksepakatan sehingga hubungan cinta batal dijalin. Ketika proses ini berlangsung, calon pengantin perempuan tidak boleh menampilkan diri. Dalam filmnya, Lasya menggambarkan ketika para bapak berkumpul di balai, para perempuan sibuk di dapur menyiapkan makanan. Namun, tradisi itu perlahan berubah. Seperti yang dialami Rambu Ana, salah satu narasumber yang diwawancara Lasya. Ana menikah dengan cara adat. Pilihan suaminya pun sesuai tradisi, dari desa Lewa, tempat ibu Ana berasal. Ketika hendak menikah, Ana ikut bicara tentang jumlah belis dan tanggal pernikahannya. Seorang pamannya sempat kaget lantaran Ana sudah menyiapkan undangan dan urusan perkawinan sendiri sejak jauh hari. “Biasanya tidak bisa ikut omong, tapi makin lama berubah. Kadang ada bapak-bapak bilang, ‘tega sekali kau punya suami kau suruh masak’. Tapi mereka tidak bisa hanya jadi tuan besar terus,” kata Ana pada Historia . Ana datang dari keluarga bangsawan. Ia anak raja Prailiu dan kini jadi Polisi Kehutanan di Taman Nasional Matalawa. Kakak lelaki Ana menjadi penerus tahta Kerajaan Prailiu, yang jadi setting film ini , menggantikan ayahnya yang sudah almarhum. Sepanjang film, keluarga Ana menjadi gambaran utama tentang serba-serbi kebudayaan Sumba dan bagaimana posisi perempuan dimaknai di sana. Olin Monteiro, periset dalam film ini, menyebutkan di Sumba masih ada dua kerajaan yang menganut kepercayaan Marapu, yakni Rende dan Prailiu. Kerajaan Rende masih menjalankan tradisi secara penuh, sementara Prailiu lebih longgar. Olin menyebut beberapa tradisi dan artefak sejarah hilang setelah perang tahun 1950-an. Nusa Tenggara Timur yang dulu terbagi dua antara jajahan Portugis dan Belanda, mengalami beberapa kerusakan. “Banyak artefak budaya yang rusak, termasuk rumah adat karena perampokan dan pembakaran, sehingga beberapa tradisi hilang. Sudah tidak banyak yang menjalankan tradisi di Sumba Timur, kecuali di Rende, karena tokoh adatnya masih banyak,” kata Olin. Dibanding wilayah Nusa Tenggara Timur lain seperti Flores dan Timor, tambah Olin, peran perempuan di Sumba amat kurang. Tidak ada keikutsertaan perempuan di tikar adat meski sebenarnya posisi mereka dalam masyarakat cukup penting. Gambaran inilah yang disajikan dalam film, di mana Lasya mengikuti para bapak dalam beberapa pertemuan adat. Para ibu tak pernah ikut pertemuan itu. Menenun, memasak, dan menyiapkan perhiasan untuk belis jadi kegiatan utama mereka. Beberapa ibu bahkan mengepalai bisnis tenun yang jadi sumber perekonomian dan daya tarik wisata Sumba. Meski demikian, mereka tak bisa ambil bagian dalam urusan keputusan adat. Film dokumenter sepanjang 30 menit ini mendapat dukungan dari Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mandy Marahimin yang bersama Nicholas Saputra mendirikan T anakhir Films pada 2013, duduk sebagai produser . Begitu mendengar Lasya hendak membuat film dokumenter tentang budaya, Mandy langsung menyetujuinya. Lewat film ini dia ingin membuka diskusi tentang posisi perempuan di Sumba. Selain dibantu Olin sebagai periset, Lasya dan Mandy juga menarik beberapa sineas lain, seperti Nur Hidayatsebagai sinematografer,Wawan I. Wibowo sebagai editor, Thoersi Argeswara sebagai penata musik, dan Satrio Budiono sebagai penata suara. Penataan musik dalam film ini amat apik. Menggunakan alat musik tradisional dan lagu daerah, alunan music scoring sukses mengiringi tiap pergeseran cerita. Pengambilan gambarnya pun cukup memanjakan mata dengan keindahan alam dan lingkungan tradisional. Perempuan Tana Humba rencananya diputar keliling di Yogyakarta, Surabaya, dan terkhusus Sumba. Lantaran tak masuk bioskop, film ini akan diputar di institusi pendidikan tingkat SMA dan perguruan tinggi mulai Juli 2019.

  • HUT PKI dan Pengumuman Pilpres

    “Kami semuanya teman-teman, jangan tidak percaya tanggal 22 itu juga ada beberapa informasi dari teman-teman saya jenderal bahwa ternyata tanggal 22 adalah hari ulang tahun PKI. Ini ada surat dari pemimpin PKI. Dan insya Allah kita semangat, dan berjuang sebelum tanggal 22 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menjadi presiden dan wakil presiden…” Demikianlah perkataan Iwan Adi Sucipto Pattiwael dalam video yang viral di media sosial. Dalam video itu, dia juga melakukan provokasi yang membenturkan TNI dan Polri. Polisi telah menangkap dan menetapkannya sebagai tersangka. Iwan menyebut tanggal 22 Mei sebagai hari ulang tahun PKI. Dia hendak mengaitkannya dengan tanggal pengumuman hasil Pilpres. Namun, dia keliru karena hari ulang tahun PKI tanggal 23 Mei. PKI didirikan pada 23 Mei 1920 sebagai perubahan dari ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging). ISDV didirikan oleh Henk Sneevliet, pembawa komunisme ke Indonesia dari Belanda, bersama sekira 60 orang sosialis demokrat di Hindia Belanda. Perubahan ISDV menjadi PKI karena Sneevliet menganjurkan agar ISDV menjadi anggota Komintern (Komunis Internasional). “Untuk itu harus dipenuhi 21 syarat antara lain memakai nama terang partai komunis dan menyebut nama negaranya,” tulis Soe Hok Gie dalam Di Bawah Lentera Merah . Awalnya bernama Perserikatan Komunis Hindia . Ia menjadi partai komunis pertama di Asia dan organisasi komunis terbesar di luar blok Cina- Uni Soviet. Kongres II Juni 1924 memutuskan mengubah nama nya menjadi Partai Komunis Indonesia, sehingga menjadi partai pertama yang menggunakan nama "Indonesia". PKI berkembang pesat. Pada 1924 sudah memiliki seribu anggota. Namun, PKI memberontak terhadap pemerintah kolonial Belanda pada 1926-1927. Pemerintah kolonial pun melarang PKI dan mengasingkan ribuan orang komunis ke Boven Digul. Sejak itu, PKI bergerak di bawah tanah sehingga disebut PKI-ilegal, sampai masa pendudukan Jepang. Pada masa revolusi kemerdekaan, kaum komunis terpecah: PKI-ilegal, Partai Sosialis, Partai Buruh Indonesia (PBI), PKI Mohammad Joesoeph, dan Pesindo. Setelah Musso tiba pada 1948 dengan gagasan “jalan baru”, dilakukanlah fusi tiga partai bermazhab Marxsisme-Leninisme: PKI-ilegal, PBI, dan Partai Sosialis. Setelah Peristiwa Madiun 1948, PKI tiarap dan baru muncul lagi awal 1951 di tangan anak-anak muda seperti DN Aidit, Njoto, dan MH Lukman. Mereka berhasil membesarkan PKI. Sehingga pada Pemilu pertama tahun 1955, PKI menempati tempat keempat dengan meraih 16,4 persen suara. Riwayat PKI berakhir setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. PKI dituding melakukan kudeta dan dalang pembunuhan para jenderal. Pemimpin, anggota, simpatisan, bahkan orang-orang yang tak tahu-menahu soal PKI, menjadi korban pembantaian sepanjang 1965-1966. PKI telah diputuskan sebagai partai terlarang. Namun PKI terus ditakuti dan diyakini masih hidup. Buktinya Iwan Adi Sucipto Pattiwael, demi membela pilihan politiknya, menyebut ada surat dari pemimpin PKI yang akan merayakan hari ulang tahun PKI bertepatan dengan pengumuman hasil Pilpres.

  • Stadion Metropolitano dan Warisan Masa Lalu

    TURNAMEN Eropa rasa Inggris. Laiknya final Europa League ketika mempertemukan Arsenal vs Chelsea di partai puncak, laga puncak Liga Champions musim ini pun bertajuk “All-England Final”. Liverpool akan berhadapan dengan Tottenham Hotspur. Kedua tim sama-sama “bangkit dari kubur”. Liverpool membalikkan keadaan usai mengalahkan Barcelona 4-0 di semifinal leg kedua. Di leg pertama, Liverpool keok 0-3. Spurs setali tiga uang. Setelah dibungkam Ajax Amsterdam 0-1 di kandang sendiri, tim besutan Mauricio Pochettino itu menang 3-2 di laga tandang. Meski agregatnya 3-3, keuntungan gol tandang cukup membuat Spurs menyingkirkan wakil Belanda itu. Namun, euforia hebat yang melanda Liverpudlian dan fans Spurs mesti dibendung dulu. Kedigdayaan sebagai jawara Eropa dan siapa yang paling berhak mewakili prestis sepakbola Inggris musim ini masih harus ditentukan di Estadio Metropolitano, Madrid, 1 Juni 2019 (2 Juni WIB) nanti. Semua mata akan tertuju ke venue tersebut untuk menyaksikan ke tangan siapa trofi “Si Kuping Besar” bakal jatuh. Momen ini juga akan jadi sejarah baru buat stadion “muda” di antara venue-venue berbintang empat kategori standar UEFA itu. Sejak 2017, stadion di ibukota Spanyol itu jadi kandang Atlético Madrid, sebagai ganti Estadio Vicente Calderón yang bakal disulap jadi taman kota. Menukil situs espanaestadios.com , 15 Desember 2018, stadion rancangan duet arsitek Antonio Cruz dan Antonio Ortiz dari firma arsitektur Cruz y Ortiz Arquitectos itu mulanya dibangun pemerintah kota pada 1990 dan rampung tiga tahun kemudian dengan memakan biaya 45 juta euro. Saat diresmikan pada 6 September 1994, stadion dinamai Estadio de la Comunidad de Madrid. Kapasitasnya kala itu hanya 20 ribu penonton. Tujuan dibangunnya stadion itu mulanya sebagai “senjata” Dewan Olahraga Kota Madrid dalam bidding tuan rumah Kejuaraan Dunia Atletik 1997. Upaya itu akhirnya gagal lantaran Federasi Asosiasi Atletik Internasional (IAAF) lebih memilih Olympic Stadium Athens, Yunani. Usaha Madrid untuk bidding Olimpiade 2016 dengan mengganti nama stadion jadi Estadio Olímpico de Madrid juga mentah karena Komite Olimpiade Internasional (IOC) menjatuhkan pilihan ke Rio de Janeiro (Brasil) ketimbang Madrid. Tiada gelaran megah di stadion ini sejak gagal jadi tuan rumah dua ajang itu. Pada 2016, kepemilikan stadion beralih ke tangan manajemen Atlético Madrid dari pemkot Madrid. Stadion lantas direnovasi dengan dana 240 juta euro. Kapasitasnya bertambah jadi 68 ribu penonton dan laga pertamanya, Atlético Madrid vs Málaga, digelar pada 16 September 2017 dengan disaksikan langsung Raja Felipe VI. Nama stadion lalu diubah lagi jadi Wanda Metropolitano. Penyematan “Wanda” merupakan kompensasi sponsorship kepada Wanda Group, perusahaan real estat asal China. Metropolitano diambil untuk menghidupkan warisan sejarah stadion tua Atlético sepanjang 1923-1946 dan 1943-1966 sebelum pindah ke Vicente Calderón yang kala itu masih bernama Estadio Manzanares. Namun, oleh masyarakat setempat stadion berkapasitas 68 ribu itu dijuluki “ La Peineta” alias sisir lantaran bentuk atapnya menyerupai sisir khas Spanyol. Saksi Bisu Perang Saudara Nama “Metropolitano” dalam stadion baru di atas berasal dari bekas stadion kedua milik Atlético yang dibangun pada 1923. Mengutip Wakil Presiden Atlético Antonio Alonso di tulisannya, “The Internationalization of Club Atlético de Madrid S.A.D”, yang dihimpun Simon Chadwick dan David Arthur dalam International Cases in the Business of Sport , stadion baru ini jadi pengganti markas pertama Atlético, Campo de O’Donnell. O’Donnell sempat jadi sengketa lantaran namanya serupa dengan kandang Real Madrid. “Stadion itu tetap terhitung jadi yang pertama setelah resmi berpisah dengan Athletic Bilbao pada 1921 dan stadion itu di masanya menjadi stadion berkapasitas terbesar di Spanyol,” sebut Alonso. Berkapasitas 25 ribu penonton dan jadi yang terbesar membuat stadion rancangan arsitek José María Castell itu jadi kebanggaan kota Madrid. Stadion yang berada di lingkungan Universitas Madrid itu pembangunannya rampung pada 13 Mei 1923. Laga perdananya, Atlético kontra Real Sociedad, berakhir 2-1 untuk tuan rumah. Dinamakan Estadio Metropolitano de Madrid lantaran stadion ini didirikan seiring pembangunan kompleks Colonia del Metropolitano. Maka selain Atlético sebagai penyewa, stadion ini juga jadi rumah bagi Racing Club de Madrid (bubar pada 1932) dan Real Sociedad Gímnastica. Kala itu Metropolitano belum sepenuhnya milik Atlético, statusnya kepemilikannya masih di bawah Konsorsium Colonia Metropolitano yang dipegang Otamendi Bersaudara: Joaquín, Miguel, José María dan Julián. Selain dipakai untuk laga-laga kandang Atlético, Metropolitano juga sempat dipakai timnas Spanyol. Dua kali laga persahabatan dihelat di stadion ini, yakni kala Spanyol menjamu Inggris pada 10 Oktober 1929 dan Austria pada 19 Januari 1936. Lima bulan setelah laga kontra Austria, Perang Saudara Spanyol pecah. Metropolitano jadi saksi bisu pertumpahan darah lantaran kompleks universitas jadi medan laga pertempuran antara Pasukan Republik dan Pasukan Nasionalis, 15-23 November 1936, yang populer dengan Pertempuran Ciudad Universitaria. “Perang Saudara pecah pada musim panas (Juli 1936) dan konflik itu menyeret Stadion Metropolitano hingga menjadikannya rusak menjadi puing-puing. Stadionnya baru kembali dibangun pada 1942,” tulis Charles Parrish dan John Nauright dalam Soccer Around the World: A Cultural Guide to the World’s Favorite Sport. Usai perang, Otamendi bersaudara tak mampu membangun kembali Metropolitano. Ia akhirnya dibeli Patronato de Huérfanos del Aire dan diperbaiki pada 1941. Atlético baru membeli stadion ini pada 15 April 1950. Empat tahun berselang Metropolitano direnovasi hingga bisa menampung 50 ribu penonton. Namun, berbarengan dengan pindahnya Atlético ke Stadion Manzanares (kemudian disebut Estadio Vicente Calderón) pada 1966, Metropolitano lantas ditinggalkan. Ia diratakan dengan tanah untuk kemudian disulap jadi gedung apartemen dan perkantoran.

  • Suatu Hari di Yerussalem

    YERUSSALEM, 637. Begitu mendengar derap kuda pasukan Arab Islam mulai mendekat, Putra Mahkota Costantine menjadi putus asa. Alih-alih melaksanakan perintah Kaisar Heraklius (yang tak lain ayah Costantine) untuk mempertahankan kota suci itu, dia justru kabur ke pelabuhan Caesarea: menyusul sang ayah menuju Costantinople lewat jalur laut. “Praktis di Yerussalem hanya menyisakan Panglima Artavon dan Patriach Sophorius sebagai wakil resmi dari bangsa Romawi,” demikian menurut The Historians of the World Vol. VII (Rome). Dalam sumber klasik yang diselia oleh Henry Smith Williams itu disebutkan, sepeninggal Costantine, terjadilah perbedaan pendapat yang tajam antara Artavon dengan Sophorius. Sebagai seorang jenderal, Artavon bersikeras akan mempertahankan Yerussalem sampai titik darah terakhir dengan mengerahkan seluruh penduduk untuk melakukan perlawanan. Sementara Uskup Agung Sophorius lebih memilih jalan damai mengingat musuh terlalu kuat dan kondisi rakyat yang sudah tidak memiliki nyali lagi untuk berperang. “Artavon dengan sisa pasukannya yang sedemikian kecil pada akhirnya kalah suara dan harus mengikuti pendapat Sophorius,” tulis Joesoef Sou’yb dalam Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin. Maka menjelang musim semi, dikirimlah seorang utusan untuk menemui pimpinan pasukan Arab Islam bernama Panglima Besar Abu Ubaidah. Dalam pertemuan itu pihak Sophorius menyatakan siap menghentikan perlawanan asalkan proses penyerahan Yerussalem harus melibatkan Khalifah Umar ibn Khattab sendiri. Syarat dari uskup agung Yerussalem itu lantas diteruskan kepada Khalifah Umar di Madinah. Usai melakukan rapat dengan para tokoh negara, atas masukan dari Ali ibn Abi Thalib, akhirnya Umar memutuskan untuk berangkat ke Yerussalem. Namun dia menyatakan keberangkatan ke kota suci itu harus hanya dengan seorang ajudan saja. Pasukan kecil yang dipersiapkan untuk mengawalnya justru malah ditolak oleh Umar. Khalifah Umar Murka Singkat cerita, setelah beberapa hari melakukan perjalanan, Khalifah Umar akhirnya sampai di gerbang Yerussalem. The Historians of the World Vol. VIII melukiskan kebersahajaan sang khalifah saat berjalan menuju pintu gerbang kota. “…Penakluk Persia dan Syiria itu datang ke Yerusalem hanya bersama seorang hamba sahaya, dengan menunggang seekor unta merah, membawa sekarung gandum,sekantung kurma, sebuah kantung terbuat dari kulit binatang, serta selembar tikar untuk shalat.” Pemandangan itu jelas membuat penduduk Yerussalem yang beragama Kristen dan Yahudi  terperangah dan lantas menaruh rasa hormat dan kagum. Mengapa? Karena sebelumnya, mereka tak pernah melihat seorang penguasa besar berpenampilan laiknya rakyat kebanyakan. Tak juga Kisra Persia dan Kaisar Romawi. Sophorius termasuk orang yang terkejut dengan kenyataan itu. Saat mendampingi tamu Arab-nya yang berpakaian lusuh itu, dia berteriak kepada khalayak dalam bahasa Yunani: “Sungguh, seperti inilah penampilan Daniel Sang Nabi saat dia mengabarkan kesederhanaan dan kegetiran hidup di kota suci ini!” demikian seperti dikutip oleh sejarawan Philip K. Hitti dalam History of the Arabs. Rasa takjub kian bertambah begitu upacara penyambutan dilaksanakan. Syahdan, kala menyaksikan para panglimanya berbaris rapi dengan menunggang kuda gagah lengkap dalam pakaian kebesaran mewah yang terbuat dari ragam sutera indah, wajah Umar memerah. Tetiba dia turun dari atas unta merahnya dan mengambil beberapa genggam pasir. Lantas dengan marah, dia melemparkannya ke arah para panglimanya. Dengan cara itu, Umar ingin mengeritik perubahan gaya hidup mereka yang dinilainya telah melupakan nilai-nilai kesederhanaan yang diajarkan Rasulullah. Tak ada satu pun panglima yang berani menghindar dari hantaman pasir yang dilontarkan Umar. Mereka tahu, Umar adalah salah seorang sahabat dekat Nabi Muhammad SAW yang berwatak keras dan lurus. Ini lah yang kemudian menjadikan Panglima Besar Abu Ubaidah secara berhati-hati memberitahu sang khalifah bahwa penampilan para panglimanya itu hanyalah sementara. Sekadar untuk menjaga harga diri para prajurit Arab Islam di depan orang-orang Yerussalem. Umar pada akhirnya bisa diyakinkan. Namun dia sendiri tetap menolak mengganti kendaraan dan menampik pakaian mewah yang khusus dipersiapkan untuk dirinya. “Dia tetap memilih untuk menaiki unta tunggangannya itu hingga sampai ke depan gerbang Stepanus, pintu utama untuk memasuki kota suci Yerussalem,” tulis Joesoef Syou’ib. Damai yang Hilang Proses upacara penyerahan Yerussalem berjalan lancar. Dengan diantar oleh para petinggi Kristen di Yerussalem, usai upacara penyerahan, Khalifah Umar mengunjungi beberapa tempat suci. Salah satunya adalah Bukit Zion, reruntuhan Bait Allah yang dibangun Nabi Sulaiman AS dan dikenal oleh umat Muslim sebagai Masjid Al-Aqsha. Saat berkeliling di Bukit Zion inilah, waktu shalat zhuhur tiba. Uskup Sophorius lantas menawarkan Khalifah Umar untuk shalat di gerejanya. Umar menolak tawaran itu. “Kalau saya shalat di situ, saya khawatir suatu hari orang-orang akan merampas gereja Tuan dan menjadikannya sebuah masjid,” kata Umar. Umar lantas memilih tempat di sisi gereja. Di sanalah kemudian sang khalifah mengimami para panglima dan prajuritnya shalat zhuhur. Kelak puluhan tahun kemudian, Khalifah Abdulmalik (685-705) dari Dinasti Umayah mendirikan sebuah masjid yang sangat megah. Hari ini gedung tersebut dikenal sebagai Masjid Umar ibn Khattab. Tiga belas abad kemudian, Yerussalem  berkutat dalam konflik berkepanjangan. Sejak jatuh ke tangan Israel pada 1967, damai di kota suci itu seolah hilang, berganti dengan darah dan pertikaian. Tak jarang bom bunuh diri pejuang Palestina dan bombardemen tentara Israel meluluhlantakan sebagian situs sejarah yang ada di sana. Belum lagi puluhan ribu orang yang menjadi korban. Soal korban manusia ini, bagi Yerussalem itu seolah menjadi kutukan sejarah. Pada awal pendiriannya, kota itu sudah mengorbankan ribuan nyawa Yahudi yang dibantai oleh balatentara Raja Nebucadnezar dari Babylonia. Bahkan pada masa Perang Salib 1096, seorang Ksatria Salib bernama Raymond dari Aguiles melukiskan genangan darah dari sekitar 75.000 orang Arab Muslim dan Yahudi, membanjiri sudut-sudut kota. “Di dalam kuil dan pelataran Sulaiman saja, genangan darah mencapai lutut dan tali kekang kuda-kuda yang kami kendarai,”ujar Raymond dalam Fall of Jerusalem karya penulis Dr. E.L. Skip Knox. Karena tiap zaman selalu mengalami pergantian kekuasaan, tak aneh jika Yerussalem memiliki ciri khas sisi keanekaragaman budaya dan agama. Itu membuat Karen Armstrong  menyebut tempat tersebut sebagai milik bersama 3 agama besar: Islam, Kristen dan Yahudi. “Saya menemukan kenyataan bahwa mustahil untuk mengabaikan ketiga keluarga Abrahamik itu di Yerussalem.Terlebih mereka adalah penyembah Tuhan yang sama,” tulisnya dalam Menerobos Kegelapan, Sebuah Autobiografi Spiritual. Kalimat yang agak mirip juga pernah dilontarkan oleh Sultan Saladin (di dunia Islam lebih dikenal dengan nama Shalahuddin al Ayubi) ratusan tahun yang lalu. Kala melakukan perundingan diplomatik dengan Richard Si Hati Singa, Saladin menolak klaim raja Inggris legendaris itu, bahwa Yerussalem semata-mata milik orang Kristen. “Yerussalem adalah milik kami seperti juga milik kalian,” katanya seperti dikutip Karen Armstromg dalam The Holy War.

  • Tatkala Uighur Mendirikan Republik Islam Turkestan Timur

    SYAHDAN, sehabis Yang Zengxin pada 7 Juli 1928 tewas ditembak dalam kudeta yang, seperti Gerakan 30 September (G30S) di Indonesia, hingga kini masih menjadi perdebatan siapa dalang sebenarnya. Jin Shuren yang –laiknya Soeharto– dicurigai berada di balik coup d’État  tersebut, segera mengambil alih posisi Yang Zengxin sebagai gubernur Xinjiang.

  • Soeharto Datang, Genjer-Genjer Berkumandang

    SENIN pagi, 1 April 1968. Pesawat Garuda mendarat di Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Tamu penting dari Indonesia datang berkunjung: Presiden Soeharto dan istrinya Ibu Tien Soeharto. Bunga melati putih disebarkan di hamparan karpet merah. Ini adalah lawatan pertama Soeharto ke luar negeri setelah resmi menjabat presiden. Pangeran Norodom Sihanouk, pemimpin Kamboja berdebar-debar menanti rombongan presiden Indonesia yang baru saja dilantik itu.

bottom of page