top of page

Memori yang Membekas dalam 1917

Film drama fiksi tentang dua serdadu yang punya peran luar biasa. Terinspirasi dari kisah nyata Perang Dunia I.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 7 Des 2019
  • 4 menit membaca

MUSIM semi 1917 di utara Prancis. Pasukan Inggris tengah percaya diri setelah kubu Jerman mulai mundur. Para perwira tingginya memutuskan, Inggris bakal terus mendesak dan menghancurkan Jerman yang tengah mengonsolidasikan kekuatan di Hindenburg Line.


Namun, Inggris tak insyaf bakal masuk perangkap. Hanya sedikit perwira Inggris yang menyadari bahwa sekira 1.600 serdadunya yang dikirim dalam ofensif itu bakal jadi korban penyergapan dan pembantaian. Di sinilah dua serdadu muda, Kopral Blake (diperankan Dean-Charles Chapman) dan Schofield (George MacKay), memainkan perannya.


Oleh karena ketiadaan alat komunikasi yang canggih, Jenderal Erinmore (Colin Firth) meminta keduanya jadi kurir untuk menyampaikan pesan peringatan itu. Kebetulan, kakak Blake merupakan satu dari 1.600 serdadu yang rencananya akan dikirim dalam ofensif itu. Jadi peran keduanya tidak hanya menyelamatkan 1.600 rekan mereka, namun juga kakak sang pembawa pesan.


Begitu sinopsis film 1917 garapan sutradara Sam Mendes. Film bertema Perang Dunia I yang premier-nya sudah digelar pada 4 Desember 2019 di Royal Film Performance, London itu baru dijadwalkan naik layar di Amerika Serikat pada 25 Desember 2019, serta diputar di seluruh dunia mulai 10 Januari 2020.


Meski latar belakangnya Pertempuran Passchendaele atau kadang disebut Pertempuran Ypres III (31 Juli-10 November 1917) di Perang Dunia I, Sam Mendes menggarap cerita fiksi. Pun dengan karakter-karakternya yang dimainkan sejumlah aktor besar sebagai pemeran pendukung: Colin Firth (The English Patient, The King’s Speech), Mark Strong (Sherlock Holmes, Stardust, Robin Hood, Shazam!), dan Benedict Cumberbatch (The Imitation Game, Doctor Strange, Avengers: Infinity War, Avengers: Endgame).


Kiri ke kanan: Mark Strong, Colin Firth, dan Benedict Cumberbatch/Foto: universalpictures.com)
Kiri ke kanan: Mark Strong, Colin Firth, dan Benedict Cumberbatch/Foto: universalpictures.com)

Semua karakternya rekaan belaka karena 1917 bukan tentang seorang figur besar atau pertempuran itu sendiri. Film ini mengisahkan tentang dua serdadu rendahan dan perjalanan mereka yang pontang-panting menembus garis belakang musuh, menghindari bombardir mengerikan, hingga desingan-desingan peluru di atas kepala mereka.


Para pemerannya juga tak sembarangan memainkan karakter masing-masing. Setiap pemeran melakoni risetnya lewat banyak literatur. Salah satunya The Western Front Diaries yang merupakan kumpulan catatan para veteran Perang Dunia I. Tak dinyana, salah satu pemerannya, Chapman, menemukan satu bagian catatan kakek buyutnya sendiri.


“Dia mengisahkan tentang bagaimana dia berperang di Perang Dunia I –dia terlibat di salah satu unit kavaleri. Dia sempat tertembak dan terluka. Selama empat hari dia bertahan di no man’s land (medan di antara dua kubu, red.) namun dia tetap selamat dan hidup sampai Perang Dunia II berakhir. Membacanya membuat saya bisa masuk ke suasana saat itu,” tutur Chapman, dikutip Mirror, 5 Desember 2019.


Kisah Nyata Kakek Moyang


Lewat 1917, Sam Mendes ingin mengajak penonton menengok kembali kisah-kisah yang terpendam dari keluarga masing-masing. Memahami sejarah sebagai bangsa yang besar bisa dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil masyarakat dunia. Chapman hanya salah satu contoh.


Toh film 1917, sebagaimana disebutkan di atas, juga terinspirasi dari kisah nyata. Utamanya kisah nyata kakek sang sutradara yang juga veteran Perang Dunia I, Alfred Hubert Mendes. Dari kisah Alfred itulah Sam Mendes meracik inti cerita meski tak semuanya mendasarkan dari pengalaman kakeknya.


“Film ini saya dedikasikan untuknya. Kakek saya masih sangat muda saat berperang di Perang Dunia I. Meski tubuhnya kecil, larinya sangat cepat. Oleh karenanya dia diberikan tugas mengantar pesan sebagai kurir di front barat. Setelah perang dia dianugerahi medali untuk keberaniannya,” ungkap Mendes, disitat Deadline.com, 23 November 2019.


Kisah Kopral Blake dan Schofield yang terinspirasi dari kisah nyata (Foto: universalpictures.com)
Kisah Kopral Blake dan Schofield yang terinspirasi dari kisah nyata (Foto: universalpictures.com)

Seringnya Sam Mendes belia mendengar cerita dari sang kakek sebelum sang veteran itu wafat pada 199 membuatnya punya memori kuat dan ikatan yang emosional yang dalam akan Perang Dunia I. Hal itu mendorongnya menjadikan cerita itu karya layar lebar kedelapannya. Khusus untuk 1917, sang sineas membedah memoar sang kakek, The Autobiography of Alfred H. Mendes: 1897-1991, yang baru diterbitkan pada 2002.


Dari memoar itu pula diketahui Alfred Mendes lahir di Trinidad dan Tobago sebagai anak imigran Portugis-Kreol. Alfred Mendes Sr., ayah Alfred H. Mendes, berasal dari Kepulauan Madeira, Portugal. Mendes Sr. seorang pemeluk Presbiterian dan karena keyakinannya ini Mendes dan sejumlah penganut Presbiterian dipersekusi hingga terpaksa hijrah dari Madeira. Mendes Sr. pilih mengungsi ke Port of Spain di Trinidad dan Tobago.


“Di akhir tahun 1846 sekira 700 orang Madeira (penganut Presbiterian, red.) tiba di Port of Spain dengan kapal yang disewa seorang saudagar gula. Di antara mereka terdapat ayah saya dan Jardim, adik dari ibu saya,” tutur Alfred H. Mendes dalam memoarnya.


Namun pada Desember 1915, di usia 16 tahun Alfred Mendes merantau ke Inggris. Bukannya mendapat pekerjaan yang lebih baik, Alfred malah masuk daftar wajib lapor untuk dilatih di kemiliteran.


“Saya tergabung di pasukan King’s Royal Rifles tak lama setelah tahun baru 1916. Sebelum berangkat ke Prancis, saya dipindahkan ke Batalyon I, Brigade Senapan. Di awal Mei 1916, kami tiba di Abbeville di mulut Sungai Somme. Walau saat itu sudah gelap, saya bisa melihat kotanya sudah mengalami kehancuran akibat serangan artileri,” imbuhnya.


Kolase foto Alfred Hubert Mendes, kakek sang sutradara film "1917" (Foto: Repro "The Autobiography of Alfred H. Mendes: 1897-1991")
Kolase foto Alfred Hubert Mendes, kakek sang sutradara film "1917" (Foto: Repro "The Autobiography of Alfred H. Mendes: 1897-1991")

Mulanya, Alfred bertugas sebagai pemberi sinyal. Ia kemudian beralih tugas menjadi kurir. Medali atas keberanian yang disebutkan di atas, terjadi saat Alfred secara sukarela menerima misi berbahaya pasca-Pertempuran Poelcappelle. Saat itu komandannya, Kapten Alexander Craigmile, memerintahkannya misi penyelamatan para serdadu yang terluka dan masih hidup.


“Saya sudah jenuh menjadi pemberi sinyal dan saya merasa harus berkorban untuk batalyon saya. Jadi saya mengajukan diri,” lanjut Alfred yang melakoni tugas berbahayanya bersama beberapa sukarelawan lain.


Suatu malam pada medio Oktober 1917, Alfred dan beberapa sukarelawan keluar dari parit pertahanan untuk menjalankan misinya. Sialnya, malam itu hujan sudah berhenti dan membuat penembak-penembak runduk serta operator senapan mesin Jerman mudah melihat pergerakan mereka.


“Terlepas dari tembakan sniper, senapan mesin, dan peluru meriam, saya berhasil kembali ke lubang perlindungan Kompi C tanpa terluka,” sambungnya, dengan membawa beberapa rekan yang terluka.


Misinya sukses. Namun saat berada di Kanal La Bassée pada Mei 1918, Alfred terkena serangan gas Jerman. Ia ambruk dan dilarikan ke klinik markasnya untuk kemudian dikirim pulang. Ia baru tersadar saat sudah terbujur di kamar rumah sakit di Sheffield, Inggris.





Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
transparant.png
bottom of page