Hasil pencarian
9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Kuli yang Terbuai di Perkebunan Deli
AWAL bulan menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu kuli kontrak perkebunan tembakau Deli. Masa gajian berarti akan segera tiba. Pihak perkebunan biasanya menyuguhi para kuli dengan serangkaian hiburan semisal pertunjukan wayang atau teater Tionghoa. Rombongan khusus dari Malaka atas biaya perusahaan perkebunan sengaja didatangkan. Itu adalah pesta besar ala masyarakat perkebunan Deli. “Yang jauh lebih penting untuk mengurangi kebosanan dibandingkan dengan pesta-pesta khusus itu adalah permainan judi,” ungkap Jan Breman dalam Menjinakkan Sang Kuli. “Hiburan inipun secara resmi dibatasi hanya untuk masa lumbung (masa panen), dan untuk itu disediakan bangsal khusus.” Menurut Breman, para majikan mempersukar kebebasan para kuli bergerak di luar perkebunan. Permintaan cuti tak pernah dikabulkan untuk mencegah kuli melarikan diri. Dengan demikian, hiburan pun hanya dapat dilangsungkan di perkebunan. Judi dadu merupakan salah satu hiburan yang begitu digemari kaum kuli Deli.
- Dari Tiongkok ke Deli
KEBIJAKAN Presiden Joko Widodo lewat Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) menjadi sorotan belakangan ini. Bagi pemerintah, perizinan TKA perlu dipermudah guna memperlancar dan meningkatkan investasi. Sebaliknya, kubu oposisi menganggap kebijakan ini kontraproduktif. Pemerintah dinilai terlalu longgar membuka ruang bagi pihak asing sehingga mempersempit daya saing tenaga kerja dalam negeri. Tenaga kerja asing dari Tiongkok disebut-sebut sebagai ancaman terbesar. Sebabnya, mayoritas pekerja asing di Indonesia berasal dari negeri tirai bambu tersebut. Namun jika menilik sejarah, ekspansi orang-orang Tionghoa ke Nusantara sudah berlangsung sedari lama. Setidaknya, kedatangan mereka untuk mencari kerja secara masif terjejaki pada zaman kolonial di Perkebunan Tembakau Deli, Sumatera Timur. “Pujian yang sering diberikan orang, terutama mengenai kerajinan kuli Tiongkok, sebetulnya berlaku untuk para penanam tembakau ini. Mereka bekerja dengan sistem kontrak (borongan),” ujar Jan Breman dalam Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial pada Awal Abad ke-20.
- Pelopor Modeling Indonesia
BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa itu tak berlaku bagi Rahadian Yamin. Alih-alih mengikuti jejak ayahnya sebagai politisi, ia justru berkecimpung di dunia mode. Dang Rahadian Sinayangish Yamin atau lebih dikenal dengan nama Rahadian Yamin adalah anak tunggal dari Mohammad Yamin, salah satu “bapak bangsa” yang juga seorang pahlawan nasional asal Minangkabau. Oleh ayahnya, dia sebenarnya diproyeksikan jadi politisi. Dia dikuliahkan ke Universitas Filipina, bidang Ilmu Politik. Di Filipina inilah Rahadian bersentuhan dengan dunia mode. Kendati demikian, dia berhasil menggondol gelar bachelor of art lalu melanjutkan pendidikan master di University of California, Berkeley.
- Tentara Filipina Tewas di Yogyakarta
MENTERI dalam negeri Filipina Eduardo Ao mengusik pemerintah Indonesia lewat komentarnya terhadap teror bom bunuh diri di gereja Katolik di Pulau Jolo, Filipina yang mamakan korban 22 orang tewas dan 100 lainnya luka-luka. Dia menyatakan pelaku teror adalah orang Indonesia. “Yang bertanggung jawab (dalam serangan ini) adalah pembom bunuh diri Indonesia. Namun kelompok Abu Sayyaf yang membimbing mereka, dengan mempelajari sasaran, melakukan pemantauan rahasia dan membawa pasangan ini ke gereja. Tujuan dari pasangan Indonesia ini adalah untuk memberi contoh dan mempengaruhi teroris Filipina untuk melakukan pemboman bunuh diri,” kata Eduardo, dikutip detik.com, 1 Februari 2019. Komentar Eduardo langsung direspon pemerintah Indonesia. Menko Polhukam Wiranto mengatakan pernyataan Eduardo terburu-buru. “Saat ini kan ada cukup ramai tuduhan dari pihak Filipina, terutama Menteri Dalam Negeri bahwa ada keterlibatan WNI dalam aksi teror di Filipina. Di sini saya menyampaikan bahwa itu berita sepihak," ujar Wiranto sebagaimana dikutip BBC Indonesia, 5 Februari 2019.
- Suka Duka Terbang ke Filipina
BEGITU pesawat RI-002 mendarat di Bandara Makati, Manila, para awak Misi Kina –misi udara menembus blokade ekonomi Belanda untuk menjual kina ke Filipina semasa Perang Kemerdekaan– merasa lega. Penerbangan “ilegal” yang dipiloti Kapten Bob Freeberg, veteran pilot AL AS yang menjadi pilot sipil di Maskapai Commercial Air Lines Incorporated (CALI), itu berhasil menembus blokade ekonomi Belanda. Misi Kina yang dibuat KSAU Suryadarma untuk mencari tambahan dana guna membiayai perjuangan itu dipimpin Opsir Udara III Petit Muharto. “Dalam kondisi dikepung daerah Federal yang telah dikuasai Belanda, pada hakikatnya Djokjakarta sudah diblokade dengan rapat sehingga tidak mungkin lagi bisa mendatangkan obat-obatan, begitu juga upaya mencukupi kebutuhan sandang serta beragam keperluan hidup lainnya. Blokade tersebut hanya bisa ditembus lewat udara, dengan memanfaatkan sejumlah penerbang pemberani, yang berani nekad menerobos blokade,” tulis Julius Pour dalam Doorstoot naar Djokja. Di Bandara Makati, para anggota Misi Kina bisa menarik nafas dalam-dalam. Terlebih, kedatangan mendadak mereka menarik perhatian orang-orang setempat. “Kapten Freeberg dan ‘para awak Jawa’-nya menjadi selebriti. Bukan hanya pers, tetapi para mahasiswa, dan asosiasi profesional termasuk bahkan Asosiasi Pengacara Wanita ingin mendengar apa sebenarnya revolusi Indonesia dari tangan pertama,” ujar Muharto sebagaimana dikutip Paul F. Gardner dalam Shared Hopes, Separate Fears: Fifty Years of US-Indonesian Relations.
- Pangkalan Militer Amerika di Filipina
PEMERINTAH Filipina dan Amerika Serikat menandatangani kesepakatan peningkatan kerja sama militer, 28 April 2014. Kerja sama ini muncul menyusul sengketa antara Filipina dan China terkait kepemilikan pulau karang di Laut Cina Selatan. Kesepakatan ini memungkinkan militer Amerika memiliki akses ke sejumlah pangkalan militer, pelabuhan, dan lapangan udara hingga sepuluh tahun ke depan. Namun, Amerika tak diperkenankan membangun pangkalan militer secara permanen. Kesepakatan ini menuai protes dari sebagian rakyat Filipina yang berdemonstrasi di kedutaan besar Amerika di Manila. Kehadiran militer Amerika di Filipina sudah lebih dari seabad. Pada 1898, setelah mengalahkan Spanyol, Amerika menguasai Filipina sesuai Perjanjian Paris. Rakyat Filipina di bawah Emilio Aguinaldo, yang memimpin perjuangan kemerdekaan FIlipina dari tangan Spanyol, melancarkan perlawanan hingga 1902. Tapi militer Amerika terlalu besar untuk dikalahkan.
- Titi Papan dan Awal Tembakau Deli
DI USIA 21 tahun, Ali Adjer menjadi saksi tuannya yang bertakhta di Kesultanan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa, didatangi tiga orang Eropa. Said Abdullah, orang kepercayaan sultan, yang membuat mereka datang ke Deli. Pembicaraan pun terjadi antara Sultan Mahmud dan ketiga orang Eropa tadi. Setelah pembicaraan itu, dua dari orang Eropa itu meninggalkan Deli. Satu yang tetap tinggal bernama Jacobus Nienhuys (1836-1927). Nienhuys baru saja gagal menanam tembakau yang baik di Tempeh, Lumajang, Jawa Timur. A. Hoynck van Papendrecht dalam Tabak Maatschappij Arendsburg 1877-1927 menyebut, uang dari firma Pieter van den Arend sebesar 36.000 gulden lenyap karena kegagalan itu. Namun Nienhuys tak patah arang dan berupaya kembali di tempat lain. Pieter van den Arend mendukung usaha Nienhuys.
- Jatuh Bangun Juragan Tembakau
TEMBAKAU adalah hidupnya. Terlahir di Rheneen pada 15 Juli 1836 sebagai anak seorang pedagang tembakau di Amsterdam, Jacobus Nienhuys setelah remaja juga tertarik dengan tembakau. Maka setelah tak puas dengan toko ayahnya, dia lalu bekerja untuk perkebunan tembakau di Rheneen. Tujuannya belajar lebih banyak soal tembakau selain untuk mengumpulkan tabungan. “Saya menabung setiap sen, dan ketika saya punya cukup uang untuk membiayai perjalanan ke Hindia,” kata Jacob Nienhuys dalam koran Het Nieuws van den dag van dinsdag tanggal 17 Agustus 1926. Berbekal tabungannya itu, Jacob naik kapal dengan tiang tiga menuju Hindia Belanda. Delapan puluh dua hari dalam pelayaran, dia tiba di Jawa pada 1859. Seperti kebanyakan perantau lain, mencari kerja adalah hal pertama yang dilakukannya ketika baru tiba di Batavia. Ke sana-kemari Jacob mencari pekerjaan hingga orang Eropa yang melihatnya menjadi bosan.
- Eksploitasi Anak di Kebun Tembakau Deli
DI DELI, para pekerja kebun punya tugas masing-masing. Kuli laki-laki membuka lahan untuk ditanami tembakau. Kuli perempuan memetik dan menyortir tembakau di bangsal. Sementara anak-anak kuli diajarkan mengeruk kerikil di sungai dan mengosongkan tong-tong tinja di rumah tuan-tuan kebun. “Para tuan kebun senang sebab anak-anak membantu pekerjaan cepat selesai dan mereka tidak perlu di bayar,” tulis Emile Aulia dalam romannya Berjuta-juta dari Deli: Satu Hikajat Koeli Kontrak. Cerita tentang eksploitasi anak di perkebunan tembakau Deli bukan hanya tersua dalam roman belaka. Sejarah mencatatnya sebagai noda kelam di balik gemerlapnya Deli yang berjuluk “Tanah Dolar” pada akhir abad 19. Anak-anak di Deli sudah harus menanggung derita bahkan sejak mereka dilahirkan.
- Terpukau Tanaman Suci Tembakau
EKSOTIS dan berkhasiat. “Dunia Baru” Columbus bukan hanya membawa gelombang demam emas dan mutiara, namun juga hasrat keingintahuan bangsa Eropa terhadap sejumlah hewan dan tanaman lokal untuk dapat memanfaatkannya, secara komersial maupun medis. Tak semua sampel tanaman komunitas Indian Amerika yang dibawa mampu beradaptasi dengan iklim Spanyol. Koka adalah salah satunya. Namun, tembakau bisa tumbuh dan melesat menjadi pusat perhatian. Adalah Nicolas Bautista Monardes, seorang figur medis Spanyol yang menanam sampel tembakau di kebunnya di Seville dan mengujicoba, khususnya daun tembakau, untuk merawat pasiennya. “Daun tembakau memiliki kemampuan menghangatkan dan mencairkan, menutup dan menyembuhkan luka baru, sementara luka lama perlahan menjadi bersih dan kembali dalam kondisi sehat… segala kebaikan tanaman obat ini akan kita bahas lebih lanjut, termasuk manfaatnya bagi semua orang,” tulis Monardes membanggakan tembakau dalam publikasinya yang terbit sekitar 1565-1574. Publikasinya dalam edisi bahasa Inggris terbit pada 1577 dengan judul Joyful News out of the New Found World.
- Katakan Cinta dengan Sirih
SEBELUM akad nikah Edhie Baskoro Yudhoyono dengan Siti Rubi Aliya Rajasa dimulai, dilakukanlah prosesi Buka Kandang Adat. Setelah berbalas pantun, masing-masing utusan mempelai saling bertukar dan mencicipi sirih, tanda saling menerima. Prosesi ini disebut Cicip Sirih dan Tukar Tepak Sirih. Bagaimana sirih bisa menjadi tanda cinta dan mempersatuan dua insan manusia? Tanaman sirih asli Indonesia. Orang Portugis menyebutnya betel. Orang Melayu ada yang menyebutnya sirih atau sireh. Ia bisa hidup dan tumbuh menjalar di tiap wilayah Indonesia. Bahkan melingkupi hingga wilayah Asia Tenggara. Meski penelitian kesehatan belakangan ini menyatakan ada bahaya setelah mengunyahnya, sirih telah lama dikonsumsi masyarakat Nusantara. Tidak hanya untuk dikunyah, tapi juga jadi pelengkap ritual dan mahar pernikahan. Pertengahan abad ke-15, ketika jung-jung besar dari “negeri atas angin” (India, Persia, China, dan Eropa) hilir-mudik di lautan Nusantara, kota-kota pelabuhan dagang di Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Maluku segera menjadi kosmopolit. Orang-orang dari belahan dunia yang berbeda bertemu di pesisir.
- Apakah Aidit Seorang Perokok?
APAKAH Ketua CC Partai Komunis Indonesia D.N. Aidit merokok? Pertanyaan ini menjadi sangat problematis ketika ia disangkutpautkan dengan film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noor yang sempat jadi tontonan wajib di era Orde Baru dan tetap jadi kontroversi hingga hari ini. Mengapa problematis? Karena jawaban atas pertanyaan itu selalu pula dihubungkan dengan kecenderungan rujukan politik seseorang serta cara pandangnya terhadap peristiwa G30S 1965. Film produksi tahun 1984 yang diputar sejak 1985 sampai 1997 itu selalu disiarkan di tengah keluarga setiap 30 September malam. Bagi anak-anak sekolah ada kewajiban menulis resensinya. Sehingga film dengan narasi tunggal peristiwa pembunuhan perwira tinggi Angkatan Darat itu lebih berfungsi sebagai indoktrinasi ketimbang film yang menghibur. Setelah Soeharto lengser, sebagai simbol kejatuhan Orde Baru, tak serta merta film Pengkhianatan G30S/PKI lengser juga dari layar televisi. Gagasan untuk memutarnya kembali di TV atau nonton bareng tetap selalu ada. Apalagi dalam hajat kontestasi politik isu komunisme menjadi isu yang selalu dipergunakan untuk membangkitkan sentimen ketakutan warga dan juga kebencian terhadap lawan politik.





















