Hasil pencarian
9829 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pembangkangan Sipil Warga Kampung di Surabaya
PENGESAHAN Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) atau Omnibus Law pada 5 Oktober 2020 memancing protes keras di berbagai penjuru Indonesia. Bentuknya demonstrasi maraton di antero Indonesia. Tak jarang itu berujung pada kerusuhan, kekerasan, dan represi aparat. Bentuk protes lainnya ialah seruan pembangkangan sipil.
- Mengingat Lagi Muarajambi
Selama lima abad Kompleks Percandian Muarjambi ramai oleh pendatang. Para biksu dari berbagai tempat datang untuk belajar ajaran Buddha. Tiba-tiba ditinggalkan dan terlupakan. Tak berpenghuni selama ratusan tahun,situs Muarajambi di Muaro Jambi, Jambi itu baru ditemukan pada 1823 oleh S.C. Crooke. Ia adalah Perwira Angkatan Laut Inggris yang bertugas mengumpulkan data di wilayah Jambi. Ia kemudian melaporkan reruntuhan bangunan kuno dari bata dan arca-arca batu di Desa Muaro Jambi. Menurut Asyhadi Mufsi Sadzali, ketua Program Studi Arkeologi Universitas Jambi, baru pada 1970-an masyarakat kembali bermukim di sekitar percandian itu. "Perkampungan itu malah ada di seberangnya, di sisi lain Sungai Batang Hari. Artinya, wilayah ini yang punya sebaran candi begitu banyak itu sempat ditinggalkan ratusan tahun," kata Asyhadi dalam dialog sejarah "Jejak Sriwijaya di Bumi Jambi" live di kanal Youtube dan Facebook Historia.id , Selasa, 20 Oktober 2020. Makanya, kata Asyhadi, jurang pemisah antara masyarakat hari ini dengan apa yang mereka lihat di Muarajambi lebih karena wilayah itu sudah terlalu lama ditinggalkan. "Bukan persoalan agama, tapi ada missing link ," kata Asyhadi. Oleh karena itu, Asyhadi menyebut hanya 40 persen masyarakat di sekitar situs yang peduli dengan bangunan-bangunan kuno itu. Ini terlihat dari bagaimana mereka ikut menjaga kebersihan dan keikutsertaan dalam pengelolaan pariwisata dan pelestarian. "Ini bukan semata-mata kesalahan masyarakat,"kata Asyhadi. "Rasa memilikinya saja yang belum tumbuh." Muarajambi Ramai Dikunjungi Retno Purwanti, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, mengatakan berdasarkan analisis penanggalan karbon yang sampelnya diambil dari Candi Kedaton dan sebelah timur Kolam Telago Rajo, percandian ini digunakan sejak abad ke-9-10. Penanggalan ini sesuai dengan banyaknya temuan keramik Tiongkok dari masa Dinasti Tang dan Sung. Khusus di Candi Kedaton, ada juga tulisan pendek yang terbaca pada permukaan bata. Secara paleografi, gaya tulisan ini pun berasal dari abad ke-9-10. "Inskripsi yang ditemukan di Candi Gedong, Tinggi, Kembar Batu juga dari abad ke-9-10. Tapi memang ada inskripsi di atas lembaran emas yang ditemukan di sumuran Candi Gumpung, paleografinya abad 8-9," kata Retno. Kendati demikian, Muarajambi kerap dihubungkan dengan Mahavihara yang didatangi I-Tsing sewaktu singgah ke Mo-lo-yeu pada abad ke-7. Dalam catatannya, dia menyebut bahwa ribuan biksu tinggal dan belajar ajaran Buddha di Mahavihara . Di dalam candi-candi Muarajambi, khususnya Candi Kedaton, terdapat halaman yang dibagi ke dalam ruang-ruang. Terdapat pula sumur dan berbagai temuan penyerta, seperti kuali dan pecahan-pecahan keramik. "Saya simpulkan Kedaton ini sebagai sebuah vihara, bukan hanya tempat beribadah tapi juga belajar," kata Retno. Namun, menurut Retno, ada sebagian yang tak sepaham dengan mereka yang mengidentifikasi Mo-lo-yeu sebagai Melayu di Jambi. Mereka menghubungkannya dengan Semenanjung Melayu di Kedah. "Apakah Melayu di situ sama dengan di Jambi? Ini sama dengan perdebatan di mana letak pusat Sriwijaya, di Jambi atau di Palembang. Nah, ini harus beradu bukti," kata Retno. Sementara itu, I-Tsing pun tak spesifik menyebut nama tempatnya belajar ketika singgah di Mo-lo-yeu. Tapi yang jelas, pada kali kedua ke Melayu (685), biksu asal Tiongkok ini menyebut wilayah itu sudah menjadi bagian dari Sriwijaya. "Sriwijaya itu seperti negara, ibu kotanya misalnya di Jakarta, pusat pendidikan bisa di Yogyakarta," kata Retno. Selain tempat beribadah dan belajar, temuan keramik Tiongkok di Muarajambi menunjukkan keramaian di sana kemungkinan berhubungan dengan komunitas pedagang. " Mahavihara di India pun lebih banyak yang didirikan oleh para saudagar dibandingkan oleh raja. Kalau di Muarajambi katakanlah lebih ramai, mungkin para pedagang lebih menguntungkan di sana," kata Retno. Penemuan keramik Tiongkok juga menjadi petunjuk penurunan keramaian di Muarajambi. Keramik yang paling sedikit ditemukan berasal dari masa Dinasti Ming. Artinya, kemungkinan sekira abad ke-14, Muarajambi mulai ditinggalkan. "Muarjambi yang dulunya ramai tiba-tiba ditinggalkan oleh pendukung budayanya. Itu dilihat dari kepadatan temuan keramik dari Dinasti Sung, dari Dinasti Yuan mulai tipis, Ming jarang ditemukan," kata Asyhadi. Namun, menurut Asyhadi, Muarajambi ditinggalkankemungkinan besar karena ikut hancur akibat serangan Kerajaan Cola ke Sumatra. Raja Rajendracola dari India Selatan mengirim armada laut untuk menginvasi Semenanjung Malaka dan Sumatra. "Rajendracola pernah menyerang Sumatra," kata Asyhadi. "Mungkin salah satunya yang dihancurkan Muarajambi."
- Yang Tercecer dari Pertempuran Biak
UNTUK pertama kali sejak dua dekade, Prabowo Subianto bisa masuk kembali Amerika Serikat (AS). Sejak tahun 2000, Prabowo kena “cekal” masuk Amerika. Larangan itu sekonyong-konyong dicabut pemerintah AS selepas Prabowo dilantik jadi menhan pada Oktober 2019. Dalam kapasitasnya sebagai menteri pertahanan (menhan) inilah ia bersua koleganya, Menhan AS Mark Esper di Pentagon (markas Kemenhan Amerika), Arlington County, Virginia, 16 Oktober 2020 guna membahas tiga hal. Menukil laman resmi kemenhan AS pada 16 Oktober 2020, tiga hal yang dibicarakan Esper dengan Prabowo yakni: dukungan modernisasi alutsista Indonesia, niat kerjasama keamanan maritim, dan kesediaan Indonesia membuka akses untuk mencari para kombatan Amerika yang masih hilang dari masa Perang Dunia II. “Menhan Esper dan Menhan Prabowo menandatangani Memorandum of Intent (semacam kesepakatan menuju perjanjian penuh, red. ) mempercepat upaya Defense Prisoner of War/Missing in Action Accounting Agency (DPAA/Dinas Tawanan Perang dan Prajurit yang Hilang) memulai kembali tugasnya di Indonesia untuk mencari sisa-sisa personel Amerika yang hilang di Indonesia selama Perang Dunia II,” ungkap Kemenhan AS. Menhan Amerika (kiri) Mark Thomas Esper & Menhan RI Prabowo Subianto menandatangani Memorandum of Intent. ( embassyofindonesia.org ). Sejak 1942, wilayah Indonesia jadi salah satu panggung terpenting dalam Perang Dunia II di front Pasifik antara Sekutu dan Jepang. Baik di darat, laut, maupun udara, pasukan Amerika terlibat dalam sejumlah pertempuran, mulai dari Laut Jawa, Laut Makassar, hingga Papua. Satu contoh terpenting adalah para awak kapal penjelajah berat USS Houston (CA-30). Setelah kapal itu karam oleh torpedo Jepang dalam Pertempuran Selat Sunda (28 Februari-1 Maret 1942), sekira 696 krunya masih hilang di dasar laut. Upaya untuk mengenang mereka sempat dilakukan dua kali oleh Angkatan Laut (AL) Amerika lewat upacara larung bunga di Selat Sunda pada Juni 2014 dan Maret 2019. “Kami senang dan merasa terhormat bisa mengenang mereka. Sampai sekarang banyak pahlawan perang Amerika yang hilang di sana,” tutur komandan kapal penyapu ranjau Amerika USS Chief (MCM-14) Mayor Laut Frederick Crayton saat hadir dalam diskusi bertajuk Defense of Java and the Dutch East Indies: World War II di @America, Jakarta, 26 Februari 2019. Di wilayah Indonesia timur, sejak 1944 pasukan Amerika sudah berada dalam posisi ofensif. Mereka terus mendesak pertahanan-pertahanan Jepang di pulau-pulau sekitar Papua. Salah satunya di Pulau Biak. Dalam situs resmi DPAA, per 16 Oktober 2020, total kombatan Amerika yang masih dinyatakan hilang (Missing in Action/ MIA) dalam Perang Dunia II mencapai 72.559 orang. Lebih dari setengahnya, 47.163, hilang di beragam front Pasifik. Di Pertempuran Pulau Biak, 13 personil AS tercatat masih MIA. Pertempuran Pulau Biak (27 Mei-17 Agustus 1944) merupakan satu dari rangkaian pertempuran dalam kampanye Sekutu di Papua Barat yang dikomando Jenderal Douglas MacArthur. Kampanye ofensif itu dimulai dengan pendaratan di Aitape dan Hollandia (kini Jayapura) pada 22 April, lalu dilanjutkan dengan Pertempuran Bukit Pohon Tunggal (Wakde-Sarmi) pada 17 Mei, dan Pertempuran Pulau Wakde pada 18 Mei sebelum Sekutu loncat ke Pulau Biak. Neraka di Pulau Biak Nyaris tak ada hal yang diketahui Kolonel Harold Riegelman tentang Pulau Biak. Perwira unit kimia dari Corps I Angkatan Darat (AD) Amerika itu ditugaskan ke Pulau Biak pada pertengahan Juni 1944. Ia harus mengevaluasi mengapa manuver ofensif dua divisi AD Amerika yang diturunkan hampir sebulan lalu tak jua mencapai tujuan strategisnya: membangun lapangan terbang guna menyokong kampanye ofensif ke Kepulauan Mariana. “Yang saya tahu tentang Biak hanyalah ia sebuah pulau satu derajat ke selatan dari garis Khatulistiwa, salah satu pulau Gugusan Schouten (kini Kepulauan Biak) yang terletak di utara Teluk Geelvink (Teluk Cendrawasih) yang menghadap ke arah ujung barat Papua,” tulisnya dalam Caves of Biak: An American Officer’s Experiences in the Southwest Pacific. Rencana serangan Divisi Infantri ke-42 AD Amerika ke Pulau Biak. ( army.mil ). Dari serangkaian pertempuran dalam Kampanye Papua Barat, Biak jadi satu dari sedikit sasaran yang akan direbut sepenuhnya oleh serdadu Amerika. Penyerbuan Biak tak seperti pertempuran-pertempuran lain yang turut mengikutsertakan pasukan Australia dan Selandia Baru. Dalam Pertempuran Biak, Australia sekadar membantu sokongan bombardir lewat kapal-kapalnya, seperti kapal penjelajah HMAS Australia , HMAS Shropshire , atau kapal perusak HMAS Warramunga. Jenderal McArthur, panglima Sekutu di Pasifik, menyerahkan tanggungjawab ofensif ke Biak ke pundak Panglima AD ke-6 Amerika Letjen Walter Krueger. Krueger lantas mengandalkan Komandan Korps I Letjen Robert Lawrence Eichelberger, atasan Riegelman, untuk merancang skema ofensif di lapangan. Jenderal MacArthur berharap operasi di Biak bisa rampung dalam kurun satu minggu. Tingginya kepercayaan diri MacArthur tak lepas dari laporan intelijen Sekutu yang menguraikan Biak hanya dipertahankan oleh sekira dua ribu serdadu Jepang. Dari laporan intelijen di darat dan pengintaian udara, disebutkan dua ribu personil Jepang itu hanya dipimpin kolonel AD Kozume Naoyuki dan Laksamana AL Sadatoshi Senda. Namun, menurut sejarawan militer Laksamana Samuel Eliot Morison, ada yang tak diketahui MacArthur dan stafnya. Jepang, kata Morison dalam New Guinea and the Marianas: March 1944-August 1944 , ternyata masih bisa mengirim ribuan pasukan bantuan dari Mindanao, Filipina ke Biak lewat Operasi KON yang dipimpin Laksamana Naomasa Sakonju. “Yang terlupakan oleh Sekutu saat mendarat di Biak pada 27 Mei adalah, hari itu menjadi perayaan ke-39 Pertempuran Tsushima. Peristiwa yang sangat dipuja AL Jepang. Saat Sekutu sudah mendarat di Biak pada 27 Mei, AL Jepang bereaksi ikut mempertahankan dengan niat menyambung kejayaan di Tsushima,” tulis Morrison. Kolase pendaratan amfibi tentara Amerika pasca-pengeboman via laut di Biak. ( awm.gov.au /US Army). Sesuai skema yang dibuat, pasca-bombardir pembuka dari laut, pasukan Sekutu mendarat di Biak pada 27 Mei 1944 di empat titik pendaratan Pantai Bosnek. Pasukan itu berkekuatan 12 ribu prajurit Divisi Infantri ke-41 AD yang merupakan pasukan baru gabungan dari garda nasional negara bagian Oregon, Montana, Washington, dan Idaho. Pasukan pendarat itu diikuti 12 tank medium M4 Sherman. Mereka tak menemui perlawanan berarti saat mendarat. Beberapa hari setelah pendaratan, para perwira Amerika baru insyaf bahwa jumlah pasukan Jepang jauh lebih banyak dari informasi awal yang mereka terima. Perlawanan alot baru ditemui pasukan Amerika kala mencapai Lapangan Terbang Mokmer (kini Bandara Frans Kaisiepo), 10 hari setelah pendaratan. Selain kekuatan pasukan Jepang (11 ribu) ternyata lima kali lipat lebih besar dari laporan awal intelijen (dua ribu), para serdadu Jepang dengan pandai menyembunyikan posisi mereka di dalam gua-gua yang mengarah ke lapangan terbang. Belum lagi tambahan ribuan pasukan bantuan yang datang sejak 31 Mei. “Rencana Operasi KON adalah mengantar 2.500 pasukan tambahan dari Brigade Amfibi ke-2 dari Mindanao ke Biak dengan kapal-kapal pendaratan. Laksamana Naomasa Sakonju juga mengirim kapal penjelajah Kinu , Myoko , dan Haguro ; kapal perusak Shikinami , Uranami , dan Shigure ; serta kapal tempur Fuso yang berangkat dari Zamboanga pada 31 Mei dan tiba di Biak pada 3 Juni,” sambung Morrison. Para serdadu Divisi ke-42 yang mendarat di Biak merupakan gabungan empat garda nasional. (Oregon Military Department). Pasukan Jepang, terutama 1.200 serdadu Resimen Infantri ke-222 di bawah Kolonel Kuzume, amat pandai memanfaatkan bentang alam. Unit-unit mortir dan meriamnya dengan baik menyamarkan diri di jaringan-jaringan gua di barat dan timur Pulau Biak. Merekalah yang membuat pasukan lawan berdarah-darah sehingga pertempuran berjalan alot. “Kuzume paham bahwa selama dia bisa ulet mempertahankan lembah dan bukit di utara Mokmer, dia bisa mencegah Hurricane Task Force (semacam pasukan zeni Amerika) untuk memperbaiki dan menggunakan lapangan terbang Borokoe dan Sorido. Ia tempatkan pasukan gabungan resimennya dan tentara AL Jepang di Kantung Ibdi dan rangkaian gua di timur pulau,” singkap Robert Ross Smith dalam The War in the Pacific: The Approach to the Philippines. Setelah 10 hari pertempuran tetap berjalan alot alias lewat dari target awal seminggu yang diberikan, MacArthur pun tak puas. Ia memerintahkan Jenderal Krueger mengganti Fuller. Atas rekomendasi Eichelberger, Divisi ke-42 berganti pimpinan ke pundak Brigjen Jens Anderson Doe yang sebelumnya komandan Resimen Infantri ke-136 Divisi ke-42. Jenderal Doe segera merancang ofensif yang lebih agresif untuk menyisir setiap jaringan terowongan dan gua-gua di pedalaman Biak. Dia mengandalkan apa saja yang bisa digunakan, mulai dari pelontar api ( flame thrower ), granat, hingga bensin untuk menyulut api hingga ke perut gua. Efek ledakan granat yang dihimpun dalam sebuah tas bisa lebih mengerikan daripada bensin dan pelontar api. “Setelah sebuah gua meledak, seorang prajurit masuk untuk melihat dampaknya. Beberapa menit dia keluar dengan mengalami pusing dan muntah-muntah. ‘Ya Tuhan, pemandangan (di dalam) sudah seperti neraka. Potongan-potongan tubuh memenuhi dasar gua! Perut-perutnya menganga mengeluarkan isi-isi perutnya. Darah mengalir dari telinga, hidung, mulut, dan mata para jasad tentara Jepang. Sungguh menjijikkan!’” tulis Howard Oleck dalam Eye-Witness World War II Battles . Brigjen Jens Anderson Doe (tengah) yang jadi panglima pengganti pasukan pendaratan di Biak. ( awm.gov.au ). Pada 20 Juni, pasukan Amerika sudah bisa maju dan merebut landasan terbang Borokoe dan Sorido. Saat itu masih tersisa seribu pasukan Jepang yang bertahan di kubu terakhir dalam gua-gua di timur pulau. Beberapa dari mereka yang mulai putus asa lalu melancarkan serangan bunuh diri. “Suatu malam sekitar 200 tentara Jepang menyerang yang kemudian semuanya tumbang dengan senapan mesin. Seorang prajurit Amerika mengenang: ‘Itu seperti eksekusi massal. Bunuh diri massal dari pasukan yang memang ingin mati,’” tambah Oleck. Untuk mematahkan pertahanan Jepang yang keuletan, pasukan Amerika mempertimbangkan penggunaan senjata kimia, terutama senjata gas beracun yang dirampas dari gua-gua yang ditinggalkan pasukan Jepang. Riegelman mengisahkan soal itu dalam bukunya. “Bagaimana, perwira kimia, apa yang Anda dapatkan dari gua-gua itu?” tanya sang perwira senior. “Kami mendapat banyak gas yang tak digunakan oleh Jepang, Pak,” jawabnya. “Berapa banyak yang Anda dapatkan?” “Kami mengambil dengan jumlah banyak yang kebanyakan asap beracun.” “Apakah bisa gas itu dipakai untuk melawan Jepang, walau beberapa staf saya tak setuju?” “Pak, menurut saya staf Anda benar dan saya yakin Anda akan dibebastugaskan dalam 24 jam setelah Anda menggunakan gas. Walau pada akhirnya kita akan kehilangan lebih banyak waktu dan korban jika tak memakai gas,” jelas Riegelman. Salah satu rangkaian gua di timur Pulau Biak (kiri) & dua dari 200 serdadu Jepang yang menyerah pada Tentara Amerika. ( awm.gov.au /US Army). Pertimbangan memakai senjata kimia itu akhirnya tak lagi dijadikan isu. “Saya tak pernah menyangka akan mendapati suatu hari di mana saya harus menentang penggunaan gas terhadap Jepang, terutama senjata gas mereka sendiri. Tetapi saya pikir itu adalah tindakan yang benar,” kenang Riegelman. Lebih dari 700 personil Jepang yang tersisa tetap melakukan perlawanan sengit dengan mengandalkan alam. Sikap itu membuat banyak perwira Amerika kagum pada keteguhan hati dan keuletan strategi para personil pertahanan yang dipimpin Kolonel Kuzume. “Menyadari posisinya yang tanpa harapan, perwira yang berani ini (Kolonel Kuzume) mampu membangkitkan semangat resimennya (Resimen Infantri ke-222). Entah kemudian dia bunuh diri atau tewas dalam pertempuran, namun kematiannya menandakan berakhirnya pertahanan efektif dan ulet pasukannya,” tandas Morison. Seluruh Pulau Biak akhirnya bisa direbut pasukan Amerika pada 17 Agustus 1944. Namun, tujuan strategis MacArthur untuk bisa menggunakan Biak sebagai basis sokongan udara guna kampanye di Kepulauan Mariana tak tercapai. Lapangan-lapangan udara di Biak baru bisa digunakan pada September 1944 untuk menyokong ofensif via udara ke Kepulauan Palau dan Mindanao. Dalam 52 hari Pertempuran Pulau Biak, pihak Jepang kehilangan 4.700 prajuritnya dan 200 lainnya tertawan. Sisa pasukannya yang terluka sampai sekarang belum diketahui. Sementara, Amerika meski 438 prajuritnya tewas, namun lebih dari dua ribu serdadunya terluka. Sekira 14 personelnya hingga sekarang statusnya masih MIA alias hilang tanpa teridentifikasi.
- Kisah Prabowo dan Gadis-gadis Inggris
Di masa kanaknya, Prabowo Subianto mesti hidup berpindah dari satu negara ke negara lain. Sang ayah, Soemitro Djojohadikusumo menjadi buronan pemerintah RI karena terlibat dalam gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Berturut-turut, Prabowo bermukim di Singapura selama dua tahun, di Hongkong setahun, di Malaysia dua tahun, di Swiss dua tahun, dan di Inggris dua tahun.
- Sepuluh Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian II – Habis)
LAZIMNYA, festival budaya Islam tahunan rutin digelar setiap Oktober di sebuah bangunan kuno di puncak sebuah bukit kota Almonaster La Real, Provinsi Huelva, Spanyol. Namun pandemi COVID-19 membuat hajatan Jornadas de Cultural Islamica itu sementara dibatalkan. Bangunan yang dimaksud adalah Mezquita de Almonaster la Real alias Masjid Kastil Almonaster. Dinamakan Masjid Kastil Almonaster lantaran masjidnya berada di dalam kastil yang strukturnya tersusun dari sisa-sisa bebatuan era Romawi Kuno. Masjid itu dibangun di era kekasaan Abd al-Rahman III dari Kekhalifahan Qurtuba (Córdoba). Kala itu kotanya bernama Al-Munastir, berada dalam wilayah Andalusia. Pasca- Reconquista atau perebutan kembali Semenanjung Iberia (kini Spanyol dan Portugal) dari tangan Islam ke Katolik (711-1492 Masehi), masjid itu dijadikan kapel di bawah pengelolaan Gereja Nuestra Señora de la Concepción. Seperti halnya Masjid Agung Córdoba, Masjid Al-Munastir juga didirikan di atas bekas bangunan gereja. Baca juga: Sepuluh Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian I) Diungkapkan Roger Collins dalam Spain: An Oxford Archaelogical Guide , kastilnya sendiri dibangun antara abad kesembilan dan ke-10 Masehi di atas bekas aula kemiliteran Romawi. Situs itu merupakan bekas biara yang dibangun orang-orang Visigoth (Jermanik Kuno) di abad keenam. “Nama Arab Al-Munastir menyiratkan eksistensi bangunan sebelumnya, yakni sebuah biara Kristen ( monasterio ) di zaman orang-orang Visigoth. Fragmen-fragmen bebatuan Romawi dan Visigoth di bangunannya jadi saksi tersendiri fase-fase situsnya,” tulis Collins. Sisi dalam Masjid Al-Munastir. ( mezquitadesevilla.com ). Masjid itu terletak dekat gerbang utama kastil, ditandai dengan adanya menara masjid yang tersusun dari batu-bata. Bentuk bangunannya sedikit berbeda, bukan kotak melainkan trapesium. Kemungkinan untuk mengatasi fondasi bangunan yang tanahnya berbukit. “Pertanda dibangunnya masjid adalah tembok batu-bata di bagian mihrab (tempat imam) dan pilar-pilar gaya Romawi yang menopang ruang shalat dengan lima saf . Terdapat penambahan struktur lengkung dari batu-bata di atasnya,” imbuhnya. Setelah dijadikan kapel pada abad ke-13, situs Almonaster La Real tak lagi difungsikan jadi rumah ibadah sejak 1931 lantaran dinyatakan sebagai monumen nasional. Sempat direnovasi dalam kurun 1970-1973, situs itu sejak 1999 rutin menggelar konferensi Islam dan festival Jornadas de Cultural Islamica setiap Oktober. Isu masjid yang dijadikan gereja sempat jadi pembenaran bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan kala memfungsikan kembali Hagia Sophia menjadi masjid. Erdoğan berdalih bahwa di Portugal dan Spanyol banyak masjid yang dijadikan gereja. Menyambung artikel sebelumnya, lima bangunan di Iberia berikut ini dibangun pertama kali sebagai masjid namun kemudian diubah menjadi gereja: Masjid Benteng Jerez de la Frontera Sisi luar dan interior masjid i kompleks Alcázar de la Frontera. ( andalucia.org ). Sebagaimana Masjid Al-Munastir, masjid ini dibangun di dalam Kompleks Benteng Alcázar di kota Jerez de la Frontera, Andalusia, Spanyol. Bentengnya dibangun pada abad ke-11, kala kota itu berada di bawah kekuasaan Taifa (kepangeranan) Arkasy, kepanjangan tangan dari Kekhalifahan Almohad. Nama Alcázar berakar dari bahasa Arab, al-Qasr , yang berarti benteng atau istana. Karakter masjid era Almohad, seperti dituturkan Collins, bercirikan bentuk kubahnya oktagonal (segi delapan). Luas masjid ini sekira 10 meter persegi. Baca juga: Masjid Sukarno di Rusia “Pintu masuk masjidnya ada di bagian barat laut benteng yang lorongnya terdapat tiga bangunan lengkung dari batu-bata yang mengarah ke halaman kecil yang terdapat sebuah kolam air mancur dengan dasar keramik, serta sebuah menara masjid di sudut utara. Di sisi selatan aula shalat terdapat mihrab berbentuk persegi panjang yang atapnya berbentuk kubah,” tulis Collins. Benteng Jerez de la Frontera ini direbut Panglima Kerajaan Castilla Nuño González I de Lara pada 1261. Oleh Raja Castilla Alfonso X, masjid di dalam bentengnya kemudian diubah menjadi Kapel Santa Maria del Alcázar. Masjid Tórtoles Masjid Tórtoles yang eksterior bangunannya masih terpelihara. ( patrimonioculturaldearagon.es ). Terletak di kawasan Tórtoles, kota Tarazona, Zaragoza, Spanyol, sebuah masjid berbentuk persegi dengan struktur batu-bata jadi saksi bisu kelahiran kembali masyarakat Islam di tengah kota yang dikuasai mayoritas Nasrani. Kisah masjid ini berkelindan dengan dinamika politik yang melingkupinya. Disebutkan dalam laman resmi Fundación Tarazona Monumental, masjid itu dibangun pada awal abad ke-15 dan diperluas dalam kurun 1447-1455 oleh Mahora Almorabid. Masyarakat muslim di Tarazona sudah berkembang sejak abad kedelapan. Mereka terusir pasca-dikuasainya daerah tersebut oleh Raja Alfonso I dari Aragon pada 1119. Kaum muslim Tarazona lantas mengungsi ke kawasan Tórtoles yang merupakan kota terbuka alias bebas dihuni siapapun. Tarazona lalu dijadikan kota militer. Baca juga: Hagia Sophia: Dari Gereja menjadi Masjid Masjid yang dibangun pada abad ke-15 itu terbilang kecil, hanya dapat menampung tiga saf shalat. Tanpa dilengkapi menara, masjid tersebut langit-langitnya berhias ukiran bergaya mudejar . Seiring meningkatnya jumlah populasi Nasrani di Tórtoles, masjid itu diambil paksa oleh kaum Nasranidan dikonversi menjadi Gereja de la Anunciación de la Virgen. Pada abad ke-17, gereja tersebut ditinggalkan sehingga bangunannya dijadikan gudang jerami hingga 1987. Bangunannya kemudian dijadikan situs cagar budaya. Pemerintah kota Tarazona dan Departemen Budaya dan Pariwisata Spanyol merestorasinya pada 1987, 1991-1995, dan 2016. “Bangunan ini penting karena hanya ada sedikit contoh yang tersisa dari masjid-masjid yang dibangun di masa Kristen,” tutur Kepala Perencanaan Strategis Pariwisata Tarazona Javier Bona, dikutip Heraldo , 7 April 2015. Masjid Al-Ta’ibin Kolase Alminar de San Juan de los Reyes, menara yang tersisa dari Masjid Al-Ta'ibin. ( albaicin-granada.com ). Menara San Juan de los Reyes yang menempel pada Gereja Nuestra Señora de la Encarnación di kota Árchez, Provinsi Málaga, Spanyol itu masih berdiri dengan tegap hingga kini. Tingginya 15 meter dengan bentuk persegi. Menara dengan beberapa ukiran khas bergaya Almohad dari periode Nasrid itu punya arsitektur berbeda dari gerejanya. Pasalnya ia awalnya adalah menara adzan dari sebuah masjid yang kemudian tak lagi eksis. Kisahnya mirip dengan Menara La Giralda yang jadi bagian Masjid Agung Sevilla. “Gerejanya dibangun pada 1520 namun tetap mempertahankan menara era abad ke-13 dari Masjid Al-Ta’ibin, di mana gereja itu menjadi gereja Kristen pertama di kawasan Granada,” ungkap Litellus Russel Muirhead dan John Hooper Harven dalam Southern Spain: With Gibraltar, Ceuta & Tangier. Baca juga: Teror di Masjid Al-Noor Kota Árchez sejak tahun 711 berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Umayyah yang setelah keruntuhannya (abad ke-11) diteruskan Taifa Granada, lalu Emirat Granada sebagai kepanjangan tangan Dinasti Nasrid. Namun, tiada catatan kapan Masjid Al-Ta’ibin dibangun. Hanya menaranya saja yang diketahui dibangun pada masa Dinasti Nasrid (abad ke-13). Masjid Al-Ta’ibin kemudian dihancurkan pasca- Reconquista . Di situsnya kemudian dibangun gereja. Masjid San Juan Córdoba Menara yang bertahan dari sisa sebuah masjid di San Juan, Córdoba. ( tuttocordoba.com ). Di kawasan Córdoba yang jadi jantung Kekhalifahan Qurtuba semasa diperintah Khalifah Abd ar-Rahman III (pertengahan abad ke-10) tentu terhampar banyak masjid baru. Namun pasca- Reconquista , masjid-masjid itu berubah jadi reruntuhan. Sedikit peninggalannya yang tersisa adalah Alminar de San Juan atau Menara Masjid San Juan. Antonio Jesús García Ortega dalam Transformations of Mosques into Churches: Formalizing and Tracing in the Restructuring Processes of Toledo and Córdoba menyebut, menara itu bagian dari sebuah masjid yang juga dibangun dalam abad ke-10, sekira tahun 930 Masehi. Pada 1236 ketika Reconquista , masjidnya diratakan dengan tanah hingga tak menyisakan catatan tentang bentuk asli masjidnya. Baca juga: Doa Silaban Ketika Merancang Masjid Istiqlal Gereja yang berdiri di sebelah menara itu sedikit-banyak menyerupai bentuk masjidnya. “Letak menaranya sendiri berada di sudut timur laut dan diperkirakan letak masjidnya berada di sisi selatan. Keberadaan gereja yang sekarang merupakan hasil dari rekonstruksi (masjid) yang tak bisa ditentukan tahun pendiriannya,” tulis Ortega. Meski tak dapat dipastikan, struktur masjid sedikit-banyak bisa dilihat dari struktur menaranya yang masih berdiri. Dibangun dari bebatuan persegi dengan berhias jendela berbentuk tapal kuda dari bahan batu-bata. Sejak 1236, sisa reruntuhan masjidnya dibangun Gereja San Juan de los Caballeros. Masjid Al-Ulya Minarete de Loulé, sisa peninggalan Masjid Al-Ulya. ( museumwnf.org ). Tidak seperti di Spanyol, menara bekas masjid yang dikonversi jadi menara lonceng gereja di Portugal merupakan hal langka. Salah satu yang masih bertahan adalah Minarete de Loulé di Provinsi Algarve. Menara setinggi 22,7 meter itu dipercaya sebagai bagian dari rumah ibadah umat muslim yang kini sudah lenyap, Masjid Al-Ulya, merujuk penamaan kota Loulé dalam bahasa Arab, al-Ulya . Diungkapkan Cláudio Torres dkk. dalam In the Lands of the Enchanted Moorish Maiden: Islamic Art in Portugal , Al-Ulya atau Loulé mulai dijamah masyarakat muslim sejak abad kedelapan. Pada abad ke-11, Al-Ulya dijadikan kota benteng oleh Kerajaan Niebla, salah satu kerajaan pecahan Kekhalifahan Córdoba (akhir abad ke-11 hingga awal abad ke-12). Baca juga: Kala Khalifah Umar jadi Korban Penusukan “Kota bentengnya dibangun seluas lima hektar dan menunjukkan bahwa pusat kota Al-Ulya merupakan kota penting selama periode Niebla dan masjidnya dibangun dekat tembok kota sisi selatan,” ungkap Torres dkk. Diyakini, masjid itu dibangun di masa yang sama dengan dibangunnya kota benteng Al-Ulya. Pada 1249, kota benteng itu direbut Raja Portugal Afonso III. Masjid Al-Ulya pun diratakan dengan tanah yang lantas dibangun Igreja Matriz de São Clemente.
- Yang Lucu dari Haji Agus Salim
Saat menjadi anggota Volksraad (1921-1924) dan tinggal di Bogor, Haji Agus Salim (HAS) kerap bepergian. Itu dilakukan selain untuk mengikuti rapat juga kadang dia harus bertemu dengan rakyat untuk sekadar menyerap aspirasi. Kepergiannya itu bisa ke tempat yang jauh atau bisa saja hanya ke Batavia. “Tergantung kepentingan Patje (panggilan sayang keluarga HAS kepada HAS) sebagai anggota Dewan Rakyat,” ungkap almarhum Bibsy Soenharjo alias Siti Asia. Alkisah, suatu hari HAS harus pergi ke Jakarta. Sambil sekalian jalan-jalan, Zainatun Nahar alias Matje (istri dari HAS) mengajak anak-anak untuk mengantarkan ayahnya hingga Stasiun Bogor. Singkat cerita, berangkatlah HAS ke Batavia lalu mereka pun pulang ke rumah. Karena merasa agak lelah, pulang dari stasiun Matje langsung ke kamar tidur. Namun saat memasuki kamar, dia langsung berteriak kaget karena didapatinya seseorang sudah terbaring dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Setelah dibuka, “seseorang yang berselimut” itu ternyata adalah HAS. Rupanya dia tidak jadi mengambil jadwal kereta api hari itu dan untuk sekadar mengisengi Matje, HAS pulang mendahalui Matje dan anak-anak lalu secara diam-diam masuk rumah lewat jendela kemudian langsung berbaring di tempat tidur. Di lain kesempatan HAS bercengkarama dengan adik perempuanya dari luar kamar, persis di belakang jendela. HAS berdiri sambil bertopang dagu. Asyik benar dia menyimak dan ngobrol dengan lawan bicaranya hingga akhirnya sang adik merasa tidak enak dan mengajaknya masuk rumah. “Terimakasih,” jawab HAS. “Saya tadi duduk di kursi yang basah, dan sebetulnya tadi sedang berusaha mengeringkan celana. Nah, sekarang celana saya sudah mulai mengering…” Diceritakan dalam buku 100 Tahun Haji Agus Salim , George Mc. T. Kahin, Guru Besar di Yale University memiliki pengalaman yang agak lucu mengenai HAS. Kisahnya: saat diundang sebagai dosen tamu di universitas terkemuda Amerika Serikat tersebut, para mahasiswa Yale sangat terpukau dengan HAS. Bukan saja karena luasnya pandangan cakrawala pemikirannya namun juga dengan roko kretek-nya yang berbau khas. Begitu khasnya, hingga mahasiswa-mahasiswa Yale tidak terlalu sulit untuk mencari tempat HAS menyampaikan kuliahnya, kendati lingkungan Yale tentunya sangat luas. Bagaimana bisa? Rupanya bau kretek yang dihisap HAS menjadi “petunjuk” tempat berlangsungnya perkuliahan tersebut. Karena kecerdikannya, HAS kerap dipanggil oleh dunia pers sebagai The Old Fox (Srigala Tua). Sebutan itu sangat populis hingga di kalangan para pejabat pemerintahan republik. Namun tak ada orang yang menyangka, julukan tersebut akan memicu terjadinya suatu kejadian lucu di tahun 1946. Ceritanya, sebelum meninggalkan Indonesia, tentara Inggris mengadakan pesta perpisahan. Dalam situasi yang sangat sentimental itu, ada beberapa perwira Inggris yang berinisiatif mengadakan toast tradisional Inggris yakni to the old folks at home. Karena tidak paham dengan tradisi tersebut dan adanya kesalahpahaman terhadap istilah itu (old folks bunyinya hampir sama dengan old fox), maka begitu disebut kata-kata itu: orang-orang Indonesia ramai-ramai bangkit sambil menjawabnya: Haji Agus Salim. HAS sendiri cuma senyum mesem saja menyaksikan peristiwa itu. Tahun 1927, Buya Hamka yang tengah menimba ilmu di Mekah pernah dinasihati oleh HAS saat mereka bertemu di kota suci tersebut. HAS menyarankan Hamka supaya jangan terlalu lama tinggal di tanah Arab. Menurut HAS, Hamka harus mengikuti jejak sang ayah: Syaikh Abdul Karim Amrullah yang jadi ulama besar timbul dari alam tanah air sendiri. Ada soal-soal agama yang timbul di Indonesia dan yang harus memecahkan masalahnya adalah orang Indonesia sendiri. “Kalau engkau terbenam bertahun-tahun di Mekah, pulangnya kau hanya akan menjadi tukang baca doa di pesta kendurian…” ujar HAS. Kendati dikenal memiliki kepahaman yang dalam mengenai pengetahuan agama Islam, namun tidak menjadikan HAS sebagai pribadi yang kaku. Saat kali pertama mengunjungi Amerika Serikat pada 1947, beberapa jurnalis muda setempat secara iseng menanyakan pendapat Haji Agus Salim mengenai new look , busana yang menjadi trend para gadis Amerika kala itu. Lantas bagaimana komentar HAS? “Rok-roknya memang bagus sekali, tetapi menurut pendapat saya, betis-betis di bawah rok-rok itu malahan yang lebih bagus…” ujarnya disambut tawa orang-orang yang mendengarnya.
- Aksi Aneh Tjipto Mangoenkoesoemo
PADA 1899, kegembiraan datang menghampiri keluarga Mangunkusumo. Putra mereka, Tjipto Mangoenkoesoemo, dinyatakan lolos masuk ke Stovia (Sekolah Dokter Jawa) di Batavia. Sebagai anak dari kalangan rakyat biasa, terdaftar di sekolah bangsawan merupakan sebuah kebanggan. Keluarga Mangunkusumo pun menutup abad itu dengan kebahagian. Di Stovia, Tjipto termasuk golongan siswa terbaik. Dia memiliki ketajaman berpikir, keterampilan, serta pembawaan diri yang baik. Berkat kecintaannya kepada buku, Tjipto memiliki wawasan yang luas dan senang berdebat. Para guru pun mengakuinya. Namun dia juga dikenal sebagai seorang yang suka kebebasan dan benci dikekang. Berkat sifatnya itu Tjipto pernah meringkuk di ruang tahanan siswa –para siswa menyebutnya “kamar tikus”.
- Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, Murid Gatot Soebroto yang Toleran terhadap Anak Buah
PAHLAWAN Revolusi Mayor Jenderal (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 28 Agustus 1922. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, Sutoyo menjalani pendidikan di HIS dan AMS di Semarang. Pada masa pendudukan Jepang, Sutoyo mengikuti pendidikan di Kenkoku Gakuin atau Balai Pendidikan Pegawai Negeri di Jakarta. Ia kemudian menjadi Pegawai Menengah/III di Kabupaten Purworejo. Namun, Sutoyo mengundurkan diri pada 31 Maret 1944. Karier kemiliteran Sutoyo diawali pada masa perjuangan kemerdekaan dengan bergabung ke Badan Keamanan Rakyat. Setelah BKR bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945, Letda Sutoyo di dalam TKR memilih bergabung dengan Polisi Tentara. Pada Januari 1946, Sutoyo mendapatkan kenaikan pangkat menjadi letnan satu dan diangkat menjadi ajudan Komandan Divisi V Gatot Soebroto. Dari Gatot Soebroto, Sutoyo mempelajari karakter kepemimpinan militer. “Ayah sangat percaya, tidak ada satu pun prajurit yang jelek. Kesimpulan yang dipetiknya ketika mendampingi Jenderal Gatot Soebroto sebagai ajudan. Keyakinan Jenderal Gatot Soebroto inilah yang kemudian juga diyakininya dengan teguh,” ujar Nani Nurrachman Sutoyo, putri Sutoyo, dalam Saya, Ayah, dan Tragedi 1965. “Ayah diingat anak buahnya sebagai pemimpin yang tak alpa berada di tengah mereka. Ia senantiasa memberi instruksi dengan kebijaksanaan dan rasa toleransi yang tinggi. Ia memberi contoh dengan selalu hidup sederhana, namun selalu memerhatikan kesejahteraan anak buah. Ia paling tahu, sampai di mana batas kemampuan mereka, sehingga segala tugas yang dibebankan dapat terlaksana dengan baik dan sampai pada tujuannya,” lanjut Nani. Tak sampai setahun menjadi ajudan Gatot Soebroto, Sutoyo diangkat menjadi Kepala Bagian Organisasi Polisi Tentara Resimen II Purworejo dengan pangkat kapten. Jabatan ini diemban Sutoyo hingga Mei 1948. Sutoyo lalu ditugaskan menjadi Kepala Staf Corps Polisi Militer di Yogyakarta dan sebulan setelahnya ditugaskan menjadi komandan CPM Detasemen III Surakarta. Saat itulah Sutoyo terlibat mengatasi pemberontakan PKI di Madiun pada September 1948. Sesaat kemudian, Desember 1948, Sutoyo kembali turun ke medan pertempuran menghadapi Agresi Militer II Belanda yang dimulai dengan pendudukan ibukota Yogyakarta. Sutoyo juga meninggalkan Solo untuk bergerilya. Sutoyo diangkat menjadi Kepala Staf Batalyon CPM Yogyakarta usai Perjanjian Roem-Royen (April 1949). Setelah ibukota pindah kembali ke ke Jakarta pada 17 Agustus 1950, Sutoyo ditarik ke Jakarta untuk menjabat Komandan Batalyon I CPM dengan pangkat mayor. Pada 1955-1956, Sutoyo diperbantukan di Staf Umum Angkatan Darat I dengan pangkat letnan kolonel. Ia kemudian dipercaya sebagai asisten Atase Militer di Kedutaan Besar Indonesia di London. Setelah kembali ke Tanah Air, Sutoyo mengikuti pendidikan Kursus C di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Bandung pada 1959-1960. Pada 1961, Sutoyo mendapatkan kenaikan pangkat menjadi kolonel dan diserahi jabatan Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat (Irkeh/Ojen AD). Pada waktu yang sama, Sutoyo juga menjabat Direktur Akademi Militer/Perguruan Tinggi Hukum Militer (AHM/PTHM). Di masa itulah Sutoyo dipercaya Menko Hankam/KSAB Jenderal AH Nasution untuk membantunya dalam menjalankan Operasi Budhi. Operasi Budhi mulanya merupakan program yang dilancarkan Kolonel AE Kawilarang untuk mendisiplinkan Divisi Siliwangi. Saat itu mulai banyak politisi yang mengkritik tentara karena banyak kedapatan korupsi. Selain untuk membersihkan divisnya, menurut Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI, Operasi Budhi dijalankan Kawilarang untuk menangkis serangan-serangan PKI. Kesuksesan Operasi Budhi di Jawa Barat mengesankan Nasution. “Pada tahun 1963 setelah melihat Siliwangi melancarkan ‘Operasi Budhi’ guna konsolidasi hasil-hasil pemulihan keamanan, maka saya tarik usaha itu ke tingkat nasional dengan skope yang lebih luas,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Julid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru. Untuk menjalankannya, Nasution menunjuk Sutoyo. Untuk itu Sutoyo kerap mengadakan rapat di rumahnya. Hal itu diingat oleh putri Sutoyo, Nani. “Sejauh pengamatannya pertemuan demi pertemuan memang sering terjadi di rumah, tetapi itu terjadi di sekitar tahun 1963 bukan di sekitar tahun 1965. Seingatnya peserta-pesertanya adalah Bapaknya sendiri dan sejumlah perwira dan dan staf. Pembicarannya pun hanya berkisar sekitar Operasi Budhi, bukan tingkat ‘Dewan Djenderal’,” ujar putra-putri Sutoyo dalam “Ilham Bagi Pembelajaran Manusia Berkarakter”, termuat di Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam. Kerja keras para awak Operasi Budhi berhasil menyelematkan uang negara 11 milyar rupiah. Nas amat terkesan pada kinerja Sutoyo. “Kolonel Sutoyo, Inspektur Kehakiman banyak jasanya untuk menyusun program operasi ini,” sambung Nasution. Sutoyo mendapatkan kenaikan pangkat menjadi brigadir jenderal pada 1964. Jabatan Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat adalah jabatan terakhir Sutoyo di dunia kemiliteran Indonesia. Pada sekitar pukul 04:00 WIB 1 Oktober 1965, pasukan berseragam Cakrabirawa menculik dan membawa Brigjen Sutoyo ke Lubang Buaya. Di sana, sekitar pukul 07:00 WIB, Sutoyo ditembak mati pasukan G30S. Jenazahnya bersama jenazah lima jenderal SUAD lain serta satu perwira AD dimasukkan ke sumur tua yang ditutup dengan batang pohon pisang, sampah, dan daun-daun. “Semua berlangsung amat cepat. Ayah telah dibawa pergi oleh sepasukan tentara yang mengaku bagian dari pasukan pengawal Presiden Sukarno: Cakrabirawa. Ayah masih mengenakan pakaian tidur bermotif batik saat pergi dari rumah. Saat itu, belum tebersit sedikit pun, kami tidak akan pernah bertemu lagi dengannya,” tulis Nani. Jenazah Sutoyo, lima jenderal lain, dan satu perwira pertama AD ditemukan pada tanggal 3 Oktober 1965 dan baru berhasil diangkat keesokan harinya. Pada 5 Oktober 1965, tujuh jenazah itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.*
- Cristiano Ronaldo, Lebah Kecil dari Madeira
CRISTIANO Ronaldo, megabintang Juventus berpaspor Portugal, dilaporkan positif terjangkit Covid-19 (virus corona). Tak hanya mengagetkan publik sepakbola internasional, kasus tersebut seolah membenarkan pendirian politikus Italia Vincenzo De Luca. Sebelumnya, De Luca membela keputusan Napoli yang tak hadir di jadwal Serie A kontra Juventus, 5 Oktober 2020, dengan harapan mencegah lebih banyak pemain tertular Covid-19. “Tidak ada yang berterimakasih kepada kami karena mencegah Cristiano Ronaldo dari tertular virusnya. Coba bayangkan jika Napoli datang dengan beberapa kasus positif di skuad mereka seperti Genoa. Jika Ronaldo tertular sepekan kemudian, kami akan mendapat kecaman dari semua halaman depan surat kabar,” ujar De Luca, di laman resmi Juventus, Minggu (11/10/2020). FPF, induk sepakbola Portugal, mengabarkan dalam situs resminya , Selasa (13/10/2020), megabintang berusia 35 tahun itu mendapati hasil positif pada tes Covid-19 pascalaga penyisihan Grup 3 UEFA Nations League kontra Prancis (0-0) di Stade de France. “Cristiano Ronaldo dibebastugaskan dari tim nasional setelah mendapatkan hasil positif pada tes Covid-19, jadi dia takkan tampil menghadapi Swedia. Kondisi dia dalam keadaan baik, tanpa gejala, dan berada dalam isolasi,” demikian pernyataan FPF. Banyak yang mengharapkan pesepakbola berjuluk “CR7” itu bisa pulih sesegera mungkin sebagaimana sejumlah bintang lain, semisal Zlatan Ibrahimović (Swedia/AC Milan), yang sempat positif Covid-19 namun kini dinyatakan sembuh. Optimisme para penikmat bola bertolak dari gaya hidup sehat Ronaldo dan kondisi fisiknya yang di atas rata-rata pemain seusianya. Menukil Sport Bible , 5 Februari 2020, saat Ronaldo dibeli Juventus pada 2018, hasil pemeriksaan medisnya menyatakan di dalam tubuh Ronaldo terdapat tujuh persen lemak tubuh, 50 persen massa otot, dan overall kondisi fisik seperti pemain yang baru berusia 20 tahun. Ia bahkan bisa melompat lebih tinggi dari rata-rata para pemain NBA (kompetisi basket Amerika). Terbukti pada Desember 2019 lampau ia mampu menantang gravitasi. Ia mencetak gol fenomenal lewat sundulannya ke gawang Sampdoria. Gol itu ia ceploskan setelah melompat setinggi 2,56 meter di atas permukaan tanah. Bermodal fisik bugar laiknya pemain usia 20 tahun, diharapkan CR7 bisa lekas sembuh dari Covid-19. (Twitter @Cristiano). Bintang ber-DNA Afrika yang Sempat Tak Diinginkan Kebintangan Ronaldo bukanlah hasil dari usaha semalam. Ia merupakan hasil dari tempaan keras bertahun-tahun. Semua bermula dari kepindahan Maria Dolores dos Santos Viveiros (ibunya) dan José Dinis Aveiro (ayahnya) dari daratan Portugal ke Funchal di Pulau Madeiro pasca-Revolusi Anyelir, kup militer untuk menjatuhkan rezim totalitarian Estado Novo pada 1974. Di Funchal, mereka menempati sebuah rumah kecil di Jalan Quinta do Falcão nomor 27A, Desa Santo António. Ekonomi keluarga hanya ditopang Dinis. Dari berdagang ikan, Dinis kemudian menjadi pemecah batu, tukang kebun, lalu staf peralatan di sebuah klub divisi semenjana CF Andorinha de Santo António. Pada pertengahan 1984, Dolores mengandung anak keempatnya. Dengan ekonomi pas-pasan, kehamilan itu menjadi masalah buatnya sehingga dia memutuskan mengambil tindakan nekat. “Usia Dolores saat itu 30 tahun dan kehamilannya sama sekali tak direncanakan. Tidak ada cukup makanan untuk semua orang di rumah itu. Faktanya dia pernah mencoba untuk aborsi. Seorang tetangga menyarankan dia minum bir hitam yang direbus dan berlari sampai dia pingsan,” tulis jurnalis sepakbola Guillem Balague dalam Cristiano Ronaldo: The Biography . CR7 bersama sang ibu, Maria Dolores dos Santos Viveiros. (Twitter @Cristiano). Upaya tersebut gagal. Dolores pun mendatangi dokter. Namun, Tidak satupun dokter yang ia datangi mau membantunya aborsi. Akhirnya dia melihat tidak adanya alasan untuk menggugurkan kandungannya. “Kehamilan ini akan jadi kebahagiaan di rumah kami,” kenang Dolores, dikutip Balague. Dolores pun melahirkan bayi bungsunya pada 5 Februari 1985. Dolores menamainya Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro. Nama “Ronaldo” diambil dari Ronald Reagan, presiden ke-40 Amerika Serikat (1981-1989), yang merupakan figur pujaan Dolores dan Dinis sejak Reagan masih seorang aktor. Menurut Balague, di dalam tubuh Ronaldo mengalir DNA nenek moyang asal Afrika. Darah itu mengalir dari garis ayahnya. “Nenek buyut Cristiano dari garis ayah adalah Isabel Rosa Piedade yang lahir di Praia, ibukota Cape Verde (negara kepulauan di barat Afrika) tahun 1864. Saat 16 tahun dia bermigrasi ke Funchal, di mana dia menikahi José Aveiro. Isabel dan Jose punya putra bernama Humberto (Cirílo Aveiro) yang tak lain ayah dari José Dinis dan kakek Cristiano,” sebut Balague. “Silsilah Afrika itu yang mungkin jadi penjelasan tentang bawaan lahir kemampuannya sebagai pesepakbola. Singkatnya, serat-serat otot yang lazim dimiliki para sprinter kulit hitam (serat putih, tipe II, untuk kontraksi cepat yang memproduksi ledakan energi tanpa memerlukan oksigen) juga dimiliki Ronaldo sejak lahir,” imbuhnya. José Dinis Aveiro, ayah Cristiano Ronaldo yang mengalirkan DNA Afrika dari neneknya. (Instagram @cristiano/@katiaaveiroofficial). Metamorfosis Lebah Kecil Kehadiran Ronaldo perlahan menghadirkan kebahagiaan di keluarga Dinis-Dolores. Dua kakak Ronaldo yang masih sekolah diterima bekerja sebagai pelayan restoran. Dolores sendiri diterima bekerja di sebuah hotel di kota (Funchal). Tiada satupun dari mereka kekurangan makan sejak itu. Ronaldo menggemari sepakbola, terutama setelah beranjak usia lima tahun dia bisa menontong tayangan sepakbola di televisi. Ayah dan ibunya masing-masing punya tim idola sama-sama dari Pulau Madeira. “Tim favorit Dinis adalah Maritimo. Tim Primiera Liga lain di Madeira adalah (CD) Nacional yang jadi favorit ibunya. Sang ibu juga fan Sporting Lisbon, salah satu klub terbaik Portugal. Suasana di rumah jadi penuh tensi setiapkali terjadi Derby Madeira,” tulis Michael Part dalam Cristiano Ronaldo: The Rise of a Winner . Karena masih terlalu muda dibanding beberapa anak di lingkungannya, Ronaldo jarang diajak main bareng. Dia hanya menendang-nendang bola dari kaus kaki yang ia bentuk seperti bola kecil. Melihat itu, sang ayah membawakan bola bekas dari CF Andorinha untuknya. Sejak saat itu Ronaldo diajak main bareng oleh anak-anak di lingkungannya. “Saya biasa bermain di jalanan karena saat saya kecil tidak ada lapangan bola dekat rumah. Ketika saya berusia lima atau enam tahun dengan teman-teman biasa bermain di tengah jalan menggunakan dua pasang batu sebagai gawangnya. Kami pun harus berhati-hati dengan lalulintas jalannya. Kami juga harus mengambil batunya jika ada bus yang mau lewat dan meletakkannya lagi setelah itu. Begitu seterusnya,” kenang sang bintang dalam Cristiano Ronaldo karya Gail B. Stewart. Di sekolah ia termasuk anak yang mudah menyerap pelajaran. Mata pelajaran kesukaannya kala duduk di bangku kelas lima sekolah dasar adalah Ilmu Alam. “Pulau saya, Madeira, adalah pulau volkanik yang punya banyak varietas tumbuhan yang bisa berubah menjadi taman mempesona. Kelas-kelas Ilmu Alam begitu membuat saya tertarik dan semua perhatian saya terfokus pada pelajaran-pelajaran itu.” kata Ronaldo, dikutip Stewart. Namun, kecintaan Ronaldo pada sepakbola lebih besar. Ia pun sering bolos sekolah. “Saya menyesal tak belajar lebih rajin, namun saya harus membuat pilihan dalam hidup saya,” sambung Ronaldo yang akhirnya memilih putus sekolah. Ibunya memaklumi. Melihat bakat putra bungsunya, Dolores tak ambil pusing dengan protes guru-gurunya soal seringnya Ronaldo bolos sekolah. Dolores paham bahwa sepakbolalah yang akan jadi jalan hidup putranya di masa depan. CR7 "si Lebah Kecil" saat masih mengasah sepakbolanya di CF Andorinha (Repro Cristiano Ronaldo oleh Gail B. Stewart/ museucr7.com ). Di usia tujuh tahun, Ronaldo mulai diasah di CF Andorinha, klub amatir tempat ayahnya bekerja. Di sini, Ronaldo mulai punya julukan “Abelhinha” alias si Lebah Kecil. “Julukannya karena dia bisa men- dribble bola secara cepat dengan langkah-langkah zig-zag dan karena dia punya tubuh yang kurus dan kecil. Hal ini yang membuatnya sempat gusar karena rekan-rekan setimnya mulai tumbuh besar, sementara badannya tetap kurus dan kecil. Hal ini juga yang menurut para pelatihnya jadi kelemahannya saat menghadapi pemain lawan yang lebih besar dan kuat,” sambung Stewart. Selain mampu membawa bola dengan cepat, kelebihan lain Ronaldo adalah intuisi dan refleksnya. Kelebihan ini sudah ia latih secara mandiri sejak sering bolos sekolah. “Ketika teman-temannya menolak bolos sekolah untuk main bola, dia selalu menemukan cara melatih skill -nya sendiri. Dekat rumahnya ada sebuah sumur dengan tembok besar, sekitar 20 meter persegi. Itu sempurna untuk berlatih menendang bola ke tembok. Karena bola dengan cepat kembali mengarah padanya, dengan sendirinya refleksnya terlatih untuk mengontrol bola, seperti yang kemudian dia praktikkan terhadap lawan dalam pertandingan,” lanjutnya. Soal fisik, Ronaldo mengakalinya dengan meminta porsi makanan dua kali lipat dari sang ibu. Tapi bukannya tambah besar, tubuhnya malah meninggi. Buah dari semua kedisiplinan itu membuat karier Ronaldo terus menanjak. Pada 1995, dia pindah ke CD Nacional, klub profesional idola ibunya, untuk lebih mengembangkan sayapnya. Tiga tahun ia berkostum CD Nacional. Dari sinilah titik balik karier sepakbolanya terjadi. Tiga hari trial yang dilakoni Ronaldo membuat dua pelatih akademinya, Paulo Cardoso dan Osvaldo Silva, terkesan. “Saya menoleh ke Osvaldo dan bilang, ‘Yang ini berbeda. Dia punya sesuatu yang istimewa.’ Dan kami bukan satu-satunya yang berpikiran sama. Di akhir sesi, semua peserta trial mengerubunginya. Mereka sudah tahu dia yang terbaik,” kenang Cardoso, dikutip Luca Caioli dalam Ronaldo: The Obsession for Perfection . “Dia bisa bermain dengan kedua kakinya, luar biasa sangat cepat dan saat di lapangan, bola ibarat menyatu dengan tubuhnya. Tapi yang membuat saya sangat terkesan adalah determinasinya. Kekuatan karakternya sangat kentara. Dia berani, tak kenal takut oleh pemain yang lebih tua. Bahkan dia sudah punya kualitas kepemimpinan dan hanya para pemain hebat yang memilikinya,” timpal Direktur Akademi Sporting CP Aurélio Pereira. Setelah itu, Ronaldo yang berusia 12 tahun direkrut Sporting Clube de Portugal (Sporting Lisbon). Mulai 17 April 1997 itulah Ronaldo memulai petualangan sepakbola profesionalnya. Ronaldo terpaksa meninggalkan keluarganya. CD Nacional jadi klub kedua CR7 kala meniti kariernya. ( maisfutebol.iol.pt / cdnacional.pt ). Di Balik Imej Arogan Tekad kuat plus kerja keras membuat Ronaldo akhirnya menjadi megabintang. Selain dipinang berbagai klub besar dan jadi andalan timnas Portugal, berbagai gelar individu telah direngkuhnya. Namun, tiada gading yang tak retak. Imej arogan jadi isu yang acap diusung para haters -nya. Predikat yang lekat pada dirinya hingga kini itu mulai eksis sejak ia berseragam Manchester United (MU). Sejatinya, Ronaldo seorang “family man”. Baginya keluarga nomor satu. Terhadap ayahnya yang pecandu minuman keras pun dia memberi perhatian. Sejak berkarier di MU, berulang kali ia membawa ayahnya ke rumahsakit untuk mengatasi kecanduannya. “Tapi pada akhirnya tak ada yang bisa ia lakukan. Kondisi ginjal ayahnya terus memburuk. Saat kualifikasi Piala Dunia medio September 2006, ia mendapat kabar ayahnya wafat. Pelatih menyarankannya untuk pulang. Ronaldo menolak. ‘Ayah saya pasti ingin saya tetap bermain. Dia sudah melakukan segalanya dalam hidupnya agar saya bisa bermain sepakbola,” kata Ronaldo, dikutip David Fischer dalam Cristiano Ronaldo: International Soccer Star. Trauma akibat meninggalnya sang ayah membuat Ronaldo disiplin dalam gaya hidup sehat. Dia menjauhkan diri dari minuman keras. Kebajikan yang diajarkan sang ayah juga ikut membentuk karakter Ronaldo. Kecintaannya pada kemanusiaan merupakan salah satu kebajikan itu. Salah satu bukti tingginya rasa kemanusiaan Ronaldo adalah ketika dia mendengar kisah bocah Martunis yang jadi korban tsunami Aceh pada 2004. Ronaldo terharu mendengarnya dan setahun berselang datang ke Aceh lalu mengangkat Martunis sebagai anak. “Ayah saya mengajarkan bahwa saat Anda menolong orang lain, Tuhan akan membalasnya dua kali lipat. Dan itu yang terjadi pada saya,” cetus Ronaldo soal jamaknya kegiatan amal yang ia lakoni, dikutip Brian Doyle dalam Cristiano Ronaldo: World-Beater. Demi kemanusiaan itu pula Ronaldo rela menjual trofi Ballon d’Or yang diperolehnya tahun 2012. Hasil 1,5juta euro yang didapatnya lalu didermakannya. “Dia menggunakan uangnya untuk membantu membiayai sebuah sekolah di Jalur Gaza, Palestina. Sikap Ronaldo dalam donasinya bukan untuk membuat pernyataan politik terkait pihak mana yang ia dukung; dia hanya ingin membuat hidup anak-anak di Gaza lebih baik,” tandas Doyle.
- Ketika Jenderal Nasution Minta Petunjuk Kancing Baju
Karena dianggap telah melakukan pemberontakan, Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution memerintahkan menangkap Mayor Boyke Nainggolan. Di Medan, Mayor Boyke telah menguasai kota dengan melancarkan Operasi Sabang Merauke. Aksi pembangkangan Mayor Boyke itu merupakan operasi militer pertama yang mendukung Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Nasution sampai harus mendatangkan pasukan khusus dari kesatuan RPKAD (kini Kopassus). Pada 16 Maret 1958, segala persiapan untuk serangan balik sudah rampung. Pagi hari, tanggal 17 Maret, prajurit-prajurit RPKAD menjalankan operasi lintas udara di atas Belawan. Sebagian dari mereka bahkan ada yang tercebur ke laut. Sembari memantau pergerakan pasukan RPKAD menuju Medan, Nasution terhubung dengan Angkatan Udara (AURI) yang mengawasi dari udara. Komandan AURI setempat sempat melaporkan bahwa ada satu konvoi besar menuju Tanjung Morawa keluar kota. Ia minta perintah dari Nasution, ditembak atau tidak. Baca juga: Aksi Pembangkangan Boyke Nainggolan “Saya hanya bisa mengadakan tembakan dengan menghitung-hitung kancing baju saya,” kenang Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua . Nasution menjawab, “Mana saya tahu itu lawan atau kawan. Karena itu jangan tembak. Yang perlu dibungkem adalah stasiun RRI (cabang Medan), supaya tidak ada lagi mengudara pengumuman-pengumuman dari pemberontak!” Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. (Repro Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4 ). Rupanya Nasution salah perhitungan. Keesokan harinya, Gubernur Sumatra Utara Kumala Pontas melayangkan protes dari Medan. “RRI yang telah ada di tangan kita kok di bom!” gerutu sang gubernur. Sebaliknya, konvoi besar itu adalah Mayor Boyke Nainggolan dengan batalyon pendukungnya tengah menuju Pematang Siantar untuk bergabung dengan pasukan lain yang datang dari Tapanuli. Baca juga: Perburuan Mayor Boyke Nainggolan Pada 18 Maret 1958, Nasution baru tiba di Medan dengan pesawat Catalina. Di lapangan udara yang sama, satu pesawat tempur jenis Mustang ikut mendarat setelah membantu pengintaian terhadap pasukan Boyke Nainggolan. Nasution menyadari ada pesawat tempur serupa yang tidak ikut mendarat. Kru AURI mengatakan pesawat itu jatuh antara Kabanjahe-Pematang Siantar. “Melihat pilotnya jalan dengan amat loyo, saya telah merasakan adanya musibah. Saya segera menyambutnya, dan langsung mendengar berita duka,” tutur Nasution. Menurut Maraden Panggabean dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi , pesawat itu jatuh akibat pertempuran singkat dengan pasukan Boyke Nainggolan di daerah Bangun Purba. “Akan tetapi banyak dari antara pemberontak yang menyerahkan diri,” ujar Maraden. Baca juga: Boyke Nainggolan, Tragedi Opsir Terbaik Pada akhirnya, iring-iringan pasukan Boyke Nainggolan dapat melarikan diri sampai Tapanuli. Mereka selamat karena Nasution keliru sehingga terpaksa menerka lewat hitungan kancing baju. Menurut perhitungan Nasution, tidak sedikit korban yang jatuh andai pesawat bomber B-25 AURI langsung diperintahkan menggempur konvoi pasukan Boyke Nainggolan. Namun apa lacur. Petunjuk dari kancing baju tidak dapat memenangkan pertempuran. Dalam hal ini, sang mayor lebih beruntung dari si jenderal yang salah perhitungan.
- S. Parman, Adik Petinggi PKI yang Jadi Penentang Kuat PKI
PAHLAWAN Revolusi Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918. Ia anak keenam dari sebelas bersaudara. Ayahnya merupakan pedagang bernama Kromodihardjo. Parman menjalani pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Wonosobo. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebried Lager Onderwijs (MULO setara SMP) Yogyakarta. Pada 1937, Kromodihardjo meninggal dunia. Parman pun batal melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middelbare School (AMS setara SMA). Parman lalu membantu ibunya berdagang di Pasar Wonosobo. Setelah dua tahun membantu ibunya, Parman melanjutkan pendidikan di AMS dan setelahnya masuk Sekolah Tinggi Kedokteran (STOVIA) di Jakarta. Pendidikan kedokteran Parman terhenti karena invasi Jepang pada 1942. Pada suatu hari pada masa pendudukan Jepang, Parman bertemu polisi militer Jepang di Wonosobo. Dari polisi militer itu Parman mendapatkan informasi bahwa pemerintah pendudukan Jepang membutuhkan penerjemah bahasa Inggris. Kesempatan itu langsung diambil Parman yang punya keterampilan berbahasa Inggris. Meski bekerja di Kenpeitai, Parman memiliki cita-cita Indonesia merdeka. Ia pun membantu teman-temannya yang berjuang melawan Jepang secara sembunyi-sembunyi. Aktivitas itu membuat Jepang mencurigai Parman dan menangkapnya. Namun, tidak lama kemudian, Parman dibebaskan. Parman bahkan dikirim ke Jepang untuk mengikuti pendidikan Kenpei Kasya Butai. Sekembalinya dari Jepang, Parman kembali bekerja di Kenpeitai. Setelah Indonesia merdeka, Parman memilih masuk militer dengan bergabung ke Tentara Keamanan Rakyat. Pada Desember 1945, Parman diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara Yogyakarta. Awal 1949, Parman turut bergerilya menghadapi Agresi Militer II Belanda. Setelahnya, Parman ditugaskan menjadi Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya. Saat itulah Parman berhasil mengungkap dan mengaggalkan rencana Angkatan Perang Ratu Adil pimpinan Raymond Westerling masuk ke Jakarta. Diangkat menjadi Kepala Staf G pada Maret 1950, Parman dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Militer pada 1951. Sekembalinya dari AS, Parman bertugas di Kementerian Pertahanan. Pada masa inilah Parman terlibat dalam sekelompok perwira yang mendesak Presiden Sukarno agar membubarkan parlemen, 17 Oktober 1952. Peristiwa tersebut membuat posisi politik AD merosot di mata sipil dan di internal, hampir membuat perpecahan. Di Tentara Teritorium (TT) V/Brawijawa, Jawa Timur, Panglima Kolonel Bambang Sugeng menjadi korban perpecahan itu. Keputusannya menunjuk Letkol Suwondo sebagai penggantinya untuk melaksanakan tugas harian karena kesehatan Bambang memburuk, justru berbuntut ricuh. Bambang tak mengetahui Suwondo terlibat Peristiwa 17 Oktober. Maka ketika dia mengetahuinya dan langsung mengambil alih kembali pimpinan serta memanggil Suwondo untuk meminta penjelasan, dia justru dilawan. Bahkan, dalam siaran radio Suwondo yang dikutip Edi Hartoto dalam Panglima Bambang Sugeng , Bambang termasuk yang kalau perlu ditangkap. Upaya kup di Brawijaya itu akhirnya dapat digagalkan KSAD. “Nasution segera mengutus dua orang pengikutnya, Letkol S. Parman dan Letkol Suprapto ke Jawa Timur dengan perintah untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu buat menyelesaikan krisis itu, tetapi mereka mendapati Divisi Brawijaya sudah begitu bersatu di bawah pengaruh B. Supeno sehingga mereka terpaksa kembali ke Jakarta tanpa dapat mempengaruhi situasi di Jawa Timur. Pada waktu yang bersamaan, markas divisi mengumumkan bahwa Suwondho telah dipecat oleh Markas Besar Angkatan Darat, dan bahwa komandan resimen yang paling senior, Letkol R. Sudirman, menggantikan Suwondho sebagai penjabat Panglima Divisi Brawijaya,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI . Namun, kedekatan Parman dengan Nasution membuatnya tidak disukai Presiden Sukarno. Setelah Nasution meletakkan jabatannya dan digantikan Kolonel Bambang Sugeng, nasib Parman mengikuti Nasution. Setelah PRRI, Parman yang dekat dengan Nasution kembali berhubungan baik dengan presiden. Parman akhirnya diangkat menjadi Atase Militer RI di London pada 1959. Tugas ini dijalaninya selama tiga tahun. Pada periode tersebut, sebagaimana dicatat Nasution dalam memoar berjudul Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Masa Orde Lama , Parman menjadi salah satu Atmil yang ikut menjalankan kampanye Irian Barat di Eropa Barat. Parman tergabung bersama Kolonel Pandjaitan di Bonn dan Kolonel Rachmat Kartakusumah di Paris dalam Operasi C, diplomasi senyap untuk mempengaruhi sikap tokoh-tokoh penting di Belanda. Pada 1962, Parman dipanggil pulang ke Indonesia seiring beralihnya pimpinan AD dari Nasution ke Ahmad Yani. Parman ditunjuk sebagai Asisten I Menpangad yang mengurusi bidang intelijen. Pada 1964, Parman mendapat kenaikan pangkat sebagai mayor jenderal. Sebagaimana Yani, Parman menjadi perwira kepercayaan Sukarno. “Pak Parman sering ke Istana, sarapan dengan Bung Karno,” ujar Kolonel (purn.) Maulwi Saelan, wakil komandan Tjakrabirawa, kepada Historia . Kedekatan itu membuat Parman menjadi andalan presiden selain Yani dalam hal informasi di tubuh AD. Temasuk dalam kaitannya dengan persaingan Sukarno-Nasution, presiden juga pernah memanggil Parman dan menginterogasinya berjam-jam. Sebagaimana presiden, Yani juga mengandalkan Parman untuk urusan tersebut. “Panglima AD (Pangad) Yani menugaskan Jenderal S. Parman dan Panjaitan untuk mengikhtiarkan agar pulih hubungan saya dengan Bung Karno karena diperlukan oleh AD,” kata Nasution. Kemesraan hubungan dengan presiden diperlukan AD untuk menghadapi PKI dalam segitiga perpolitikan nasional saat itu yang bertumpu pada presiden di tengah. Parman merupakan salah satu perwira yang menolak tegas wacana Angkatan Kelima gagasan PKI yang akan mempersenjatai buruh dan tani dipersenjatai untuk mengimbangi tentara. Di Seminar AD yang dihelat Menpangad Yani di Bandung (3-9 April 1965) untuk mereorientasi posisi politik AD, Parman menjadi peserta yang vokal. “Mayjen Soeprapto dan Mayjen Parman, serta Brigjen Suwarto beberapa kali berusaha untuk mengajukan soal posisi Angkatan Darat berhadapan dengan PKI dan pemerintah, tetapi Brigjen U. Rukman, dengan disokong Kolonel A. Sjukur, berhasil mencegah pembahasan mengenai soal itu,” tulis Sundhaussen. Parman, adik petinggi Politbiro CC PKI Ir. Sakirman, terus menjadi andalan Yani untuk mendapatkan informasi tak hanya soal kekuatan PKI namun juga soal isu Dewan Jenderal yang berhembus sejak awal 1965. Parman ikut Yani menghadap presiden untuk menjelaskan soal tersebut. Sehubungan dengan itu, Parman juga ditugaskan untuk menjalin kontak intensif dengan berbagai kedutaan. “Jabatan S. Parman sebagai pejabat intelijen menyebabkan ia banyak mengetahui kegiatan rahasia PKI. Karena itulah ia menjadi salah seorang pejabat teras Angkatan Darat yang termasuk daftar yang akan dilenyapkan PKI,” tulis tim peneliti Departemen Sosial RI dalam Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Seri IV . Jabatan Asisten I Menteri Panglima Angkatan Darat itu menjadi posisi terakhir Parman karena pada dini hari 1 Oktober 1965 dia menjadi korban penculikan kelompok Gerakan 30 September 1965. Parman diculik pasukan Pasopati di rumahnya dan dibawa ke Lubang Buaya, Jakarta Timur, masih dalam keadaan hidup. Pada 4 Oktober 1965, Parman ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di Lubang Buaya. Keesokan harinya, 5 Oktober, ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata bersama dengan korban G30S lain, termasuk Menpangad Yani.*
- Perburuan Mayor Boyke Nainggolan
AKSI Mayor Boyke Nainggolan di Medan menggegerkan sampai ke Jakarta. Lewat sandi “Sabang-Merauke, dia melancarkan operasi militer menguasai kota dan menggasak uang di Bank Indonesia cabang Medan. Kolonel G.P.H. Djatikusumo, Deputi KSAD untuk Sumatra Utara sampai melarikan diri ke Belawan mencari perlindungan di markas Angkatan Laut (ALRI). Setelah itu, Boyke dan pasukannya dari Batalyon Infantri 131 meninggalkan kota Medan. Rencananya, Boyke akan bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) bersama atasannya Kolonel Maludin Simbolon yang telah lebih dahulu membangkang. Boyke menggerakkan pasukannya sebagai perlawanan atas sikap pemerintah pusat yang dirasa semena-mena terhadap aspirasi daerah luar Jawa. Namun, Mayjen Abdul Haris Nasution yang menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) terang-terangan menyebut Operasi Sabang Merauke (OSM) sebuah kudeta dan mencap Boyke Nainggolan sebagai pemberontak.





















