Hasil pencarian
9744 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Aceh Dibantu Turki Menaklukkan Aru dan Johor
KESULTANAN Aceh dibantu pasukan Turki berhasil mengalahkan Kerajaan Batak pada 1539 dan Kerajaan Aru pada 1540. Pasukan Turki itu diduga tentara bayaran karena diberi imbalan empat kapal lada dan didatangkan oleh para pedagang Turki di Aceh.
- Nasib Mahasiswa Indonesia di Jepang Pasca Perang
Pada 19 Agustus 1945, kabar kemerdekaan Indonesia sampai juga di Jepang. Perasaan senang, sedih, bingung, bercampur di benak semua warga Indonesia di sana. Mereka cukup sulit merespon kabar tersebut. Salah-salah mereka akan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari warga Jepang. Sebagian kecil orang memilih diam. Seolah tidak pernah mendengar kabar tersebut. Kelompok itu umumnya hidup nyaman, dan telah membangun keluarga di Jepang. Seoarang alumni sekolah di Jepang, Sudibjo Tjokronolo, dimuat Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang , menyebut banyak mahasiswa yang terlanjur senang hidup di negeri para Samurai tersebut. Jepang yang berhasil memukul mundur Rusia dianggap sejajar dengan bangsa Eropa. Semangat nasionalisme mereka disebut menjadi contoh yang baik. Sementara bagi kelompok lain, Jepang tidak bisa begitu saja menggantikan Indonesia. Mereka tetap berhasrat untuk kembali ke keluarga di tanah air. Kelompok ini bersedia memakai segala cara untuk pulang. Meski harus dengan cara tercepat nan berbahaya: meminta bantuan pihak Sekutu. Sejarawan Aiko Kurasawa mencatat keberadaan mereka lebih besar dibanding kelompok yang ingin menetap. Dalam bukunya Sisi Gelap Perang Asia, Aiko menyebut repatriasi orang-orang Indonesia itu melalui proses yang tidak mudah. Mereka harus bisa meyakinkan pemerintah Belanda kalau Jepang tidak memengaruhi mereka untuk melawan pihak Sekutu.Pada 22 September 1945, Letjen Oyen dari KNIL mengirim sepucuk surat dari Manila, Filipina kepada General Head Quarter (Markas Besar) tentara Sekutu di Tokyo. “Banyak orang Indonesia pergi ke Jepang untuk belajar secara sukarela. Diharapkan bahwa pemerintah Hindia Belanda jangan memulangkan mereka bersama dengan tawanan perang dan orang sipil yang diinternir, tetapi menahan di Jepang sampai diadakan screening terhadap masing-masing orang,” demikian bunyi surat itu. Proses screening pada dasarnya dilakukan untuk melihat sejauh mana keterlibatan orang-orang Indonesia dengan pihak Jepang. Sekutu mencoba menjauhkan para mahasiswa itu dari propaganda Jepang. Di lain pihak, proses itu juga dilakukan untuk membatasi orang-orang yang pro-Indonesia, terutama bagi mereka yang sebelum ke Jepang telah terlibat di dalam gerakan politik tertentu. Berdasar hasil survei badan intelijen Sekutu di Jepang, diketahui ada dua orang Indonesia yang berbahaya karena anti-Belanda, yakni Majid Usman dan Mahjuddin Gaus. Menurut sejarawan Universitas Waseda Ken’ichi Goto dalam Jepang dan Pergerakan Kebangsaan Indonesia , keduanya berasal dari Sumatera Barat. Usman belajar ilmu hukum di Universitas Meiji, sedangkan Gaus belajar kedokteran di Universitas Jikei. Mereka sangat vokal menyuarakan pandangan tentang orang-orang Belanda. Aktivitasnya membuat golongan anti-Belanda semakin besar di Jepang. “Mereka pasti dipengaruhi oleh fasisme anti-Belanda selama tinggal di Jepang. Mungkin tidak masalah kalau memulangkan kaum intelektual ini ke Jawa dan Sumatera. Lagi pula, kalau kaum yang dimobilisasi oleh musuh bisa pulang tanpa kesulitan, hal ini akan menimbulkan kejutan bagi pihak yang ditindas oleh penjajah dan menderita,” tulis Menteri Dalam Negeri Hindia Belanda seperti dikutip Aiko. Menjadi Warga Jajahan Satu syarat penting yang harus dipenuhi para mahasiswa Indonesia jika ingin keluar dari Jepang adalah memiliki paspor untuk urusan imigrasi. Sayangnya mereka yang datang ke Jepang selama perang tidak mempunyai paspor atau surat semacam itu. Kebanyakan dari mereka datang bersamaan dengan urusan pemerintah Jepang, sehingga di masa lalu syarat itu tidak wajib dipenuhi. Pemerintah Indonesia juga tidak bisa berbuat banyak. Tidak adanya kantor perwakilan di Jepang membuat pemerintah tidak bisa turun tangan mengatasi persoalan tersebut. Sadar akan kekurangan negara barunya, kata Aiko, warga Indonesia di Jepang telah lama mencari informasi melalui Kedutaan Besar Swedia yang mewakili kepentingan Belanda sebelum adanya Kantor Misi Militer Belanda di Jepang. “Mereka hanya bisa mohon untuk memperoleh paspor Belanda. Untuk itulah, mereka harus datang ke Kantor Misi Militer Belanda dan mengakukan diri sendiri sebagai onderdaan (baca: warga di bawah kuasa Belanda). Namun, ada kelompok yang menganggap hal itu tidak pantas. Keraguan pun menyebar di antara mahasiswa Indonesia,” kata Aiko. Tentang menjadi onderdaan Belanda, perwakilan Serikat Indonesia di Jepang pernah mengirimi Perdana Menteri Sutan Sjahrir surat pada September 1946. Dia menanyakan apakah jika status onderdaan diterima mereka dianggap melawan kesetiaan negara dan dicap sebagai pengkhianat negara atau tidak. Mengingat tidak ada lagi cara untuk mereka pulang ke Indonesia. Ironisnya, surat itu tidak pernah berbalas. Aiko menduga surat dari Serikat Indonesia itu sampai terlebih dahulu di tangan perwakilan Belanda, sehingga tidak pernah tersampaikan ke pemerintah Indonesia. Menumpang Kapal Belanda Pada November 1946, melalui Perjanjian Linggarjati, Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia di Jawa dan Sumatera. Di sinilah kesempatan mahasiswa Indonesia untuk pulang. Belanda secara remsi memperbolehkan para mahasiswa di Jepang ke Tanah Airnya. Kesempatan ini menjadi yang terakhir dan satu-satunya. Jika terlewat, mereka harus tinggal di Jepang tanpa bantuan biaya apapun. Pemerintah Belanda menyiapkan kapal dari Java China Paketvaart Lijen, bernama Cibadak . Kapal itu direncanakan berangkat sebanyak empat kali dari wilayah Kobe sepanjang 1947 (Februari, Maret, Mei, dan Agustus). Kepulangan terbesar mahasiswa Indonesia, hampir 100 orang, terjadi di bulan Februari. Sementara sisanya tersebar di tiga kloter selanjutnya. “Di antara mahasiswa Indonesia, masih ada rasa keberatan untuk pulang dengan kapal Belanda, tetapi di lain pihak, juga ada yang berpendapat bahwa mereka wajib pulang secepat mungkin dengan paspor Belanda agar bisa menyumbang perjuangan kemerdekaan,” tulis Aiko. Berdasar hasil wawancara dengan mahasiswa yang menumpang kapal Cibadak, Aiko Kurasawa memperoleh informasi bahwa selama di kapal mahasiswa Indonesia ditempatkan di dek kapal. Nahkoda kapal mengira mereka adalah romusha . Setelah melakukan protes keras, akhirnya mereka dipindahkan ke kabin. Kapal Cibadak tiba di Tanjung Priok sekitar akhir 1947. Para penumpang asal Indonesia langsung diserahkan kepada Palang Merang Indonesia. Mereka dikembalikan ke daerahnya masing-masing. Ken’ichi Goto mencatat sejumlah mahasiswa segera menyumbangkan diri ke pemerintah RI. Diketahui empat orang di antaranya menjadi anggota TNI. Menurutnya, hal itu membuktikan semangat patriotisme mahasiswa Indonesia dari Jepang. Lantas bagaimana nasib mahasiswa yang tidak ikut pulang pada 1947? Menurut Aiko Kurasawa kebanyakan dari mereka berhasil menamatkan pendidikan di Jepang sambil bekerja di kantor-kantor Sekutu. Sewaktu pulang ke Indonesia tahun 1950-an, setelah penyerahan kedaulatan, mereka mendapat sambutan baik dari pemerintah Indonesia. Juga memperoleh posisi baik di pemerintahan, karena pemilik gelar sarjana masih cukup langka. “Mereka mengambil peranan penting dalam hubungan dengan Jepang pada tahun 1950-an,” kata Aiko.
- Ketika Tas Sukarno Digondol Maling
Selepas dari pengasingan di Bengkulu pada awal Maret 1942, Belanda mencoba untuk membawa Sukarno dan Inggit Garnasih ke Australia. Hal itu terpaksa dilakukan karena pihak Belanda khawatir jika pemimpin rakyat Indonesia tersebut akan digunakan sebagai propagandis oleh bala tentara Dai Nippon. Namun dalam kenyataannya kekuatan militer KNIL di Sumatra tak berdaya saat harus berhadapan dengan Tentara Ke-25 Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Alih-alih menyelamatkan Sukarno dan membawanya ke Australia, mereka justru sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing. “Mereka seperti pengecut: lari terpontang-panting…Dan membiarkanku tinggal. Ini adalah kesalahan besar dari mereka,” ungkap Sukarno dalam otobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno Pejambung Lidah Rakjat Indonesia. Sukarno dan seluruh keluarganya lantas terdampar di Padang. Untuk sementara mereka tinggal di rumah salah seorang kenalan baik Sukarno bernama Woworuntu. Dan seperti yang ditakutkan oleh pihak Belanda, militer Jepang ternyata benar-benar mendatangi Sukarno dan mengundangnya untuk datang ke markas besar mereka di Bukittinggi. Pimpinan tentara Jepang Kolonel Fujiyama mengajak Sukarno untuk membantu mereka selama bercokol di Hindia Belanda. Sebaliknya, Sukarno sendiri memiliki pemikiran jika dia pun harus memanfaatkan Jepang demi kemerdekaan bangsanya. Maka terbentuklah kesepakatan antara Kolonel Fujiyama dengan Sukarno. Suatu hari Sukarno mendengar berita bahwa seorang kawan baiknya bernama Anwar Sutan Saidi telah ditangkap Kenpeitai (Polisi Militer Angkatan Darat Jepang) di Bukittinggi. Anwar dituduh telah bersekongkol akan melawan kekuasaan bala tentara Jepang. Demi menolong Anwar, Sukarno memutuskan untuk menghadap Kolonel Fujiyama. Begitu sampai di Bukittinggi, Sukarno lantas menuju rumah Munadji di Jalan Syekh Bantam. Di rumah salah seorang kawan Minang-nya itu, dia lantas menitipkan tas yang berisi kalung emas dan liontin berlian kepunyaan Inggit Garnasih. Sukarno sendiri lalu bergegas menemui para pembesar militer Jepang di markasnya dan berhasil membebaskan Anwar hari itu juga. Tetapi alangkah kagetnya Sukarno. Usai mengurus pembebasan Anwar, dia menemukan kenyataan tas miliknya raib digondol maling. Munadji dan Anwar yang merasa malu atas kejadian itu lantas meminta pertolongan kepada seorang ulama bernama Inyik Djambek, panggilan hormat orang Bukittinggi kepada Syekh Mohammad Djamil Djambek. Ajaib. Berkat bantuan sang ulama yang masih kerabat dekat dari Mohammad Hatta itu, tas milik Sukarno bisa kembali. Disebutkan, sang maling seorang laki-laki Tionghoa mengembalikan sendiri tas itu lewat cara menaruhnya di sudut suatu sawah. Tas itu kemudian diambil oleh Inyik Djambek dan diserahkan secara langsung olehnya kepada Sukarno. Benarkah pencuri tas itu adalah seorang Tionghoa? Hasjim Ning, salah satu keponakan Hatta meragukan cerita itu. Dalam otobiografinya yang disusun olehA.A. Navis , Pasang Surut Pengusaha Pejuang, Hasjim pernah mengonfirmasi cerita tersebut kepada orang-orang Bukittinggi yang tahu akan kejadian itu. Jawaban mereka sangat mengejutkan. “Ah yang mencurinya memang orang awak . Karena malu pada Bung Karno, dikatakanlah yang mencurinya orang Cina. Padahal mana berani Cina di sana menjadi pencuri. Apalagi mencuri milik Bung Karno, seorang pemimpin yang sangat dihormati rakyat…” ungkap salah seorang dari mereka. Menurut Hasjim, kejadian sebenarnya adalah begitu mendapat laporan tas milik Bung Karno digondol maling, Inyik Djambek berinsiatif memanggil pimpinan penjahat paling ditakuti di Bukittinggi. Dengan marah, Inyik Djambek menyuruh sang pemimpin dunia hitam itu untuk ikut bertanggungjawab. “Malu awak , tolonglah carikan!” katanya. Merasa segan kepada sang ulama dan Bung Karno, "sang bos" kemudian mencari “maling kelas teri” tersebut. Tidak perlu waktu berjam-jam, orang itu berhasil ditemukan. Persoalan baru datang: seluruh isi tas tersebut sudah terlanjur berpindah tangan kepada para penadah di pasar gelap. “(Baru) dua hari kemudian, kopor itu diserahkan kepada Inyik Djambek lengkap beserta isinya,” ungkap Hasjim. Rupanya keterlambatan itu terjadi karena sang maling harus ekstra keras mengambil kembali barang-barang hasil curiannya itu kepada para penadah.
- Dajal dalam Proklamasi Kemerdekaan
Melalui siaran Radio Domei oleh Jusuf Ronodipuro, proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 berhasil mengudara hingga ke luar negeri. Namun, sebelum proklamasi dibacakan jam 10.00 hari itu, usaha-usaha menyiarkannya telah dilakukan pemuda-pemuda di Jakarta. Salah satunya oleh regu Dajal dari kelompok Prapatan 10. Kala itu, pemuda-pemuda di Jakarta tergabung dalam beberapa kelompok, seperti Menteng 31, Cikini 71, hingga Prapatan 10. Nama-nama kelompok ini diambil dari lokasi markas mereka. Prapatan 10 menjadi julukan untuk kelompok mahasiswa yang tinggal di Asrama Prapatan no. 10, dekat Stasiun Senen. Pentolannya antara lain Eri Sudewo, Sudarpo Sastrosatomo, dan Sudjatmoko. Menurut Aboe Bakar Lubis dalam Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku dan Saksi, Asrama Prapatan 10 telah dibuka sejak Oktober 1943 untuk mahasiswa kedokteran Ika Daigaku, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba. Asrama ini dihuni oleh mayoritas mahasiswa asal luar Jakarta. Pada 17 Agustus pagi, di Prapatan 10 telah dibentuk regu-regu dengan pekerjaan masing-masing. Ada regu penggempur untuk mengamankan proklamasi, ada pula regu palang merah yang bersiap jika terjadi pertumpahan darah. “Tidaklah sukar mengatur mahasiswa-mahasiswa yang baru keluar dari latihan ketentaraan Peta. Tugas telah diberikan dan diterima. Sebagian yang masuk barisan penggempur sudah berangkat ke Pegangsaan Timur 56, tempat dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan,” tulis Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Selain regu penggempur dan palang merah, ada regu dengan nama yang menarik: Regu Dajal. Tak diketahui mengapa dinamai Regu Dajal, yang jelas tugasnya adalah melakukan propaganda dan menjaga asrama sebagai markas komando. Selain itu, ada tugas khusus untuk Regu Dajal, yakni merebut gedung radio Hosokyuku agar proklamasi dapat disiarkan secara langsung. Empat orang dari Regu Dajal yang diutus yakni Radja Tjut Rachman, Rahadi, Usman, dan Ridwan. Masing-masing dibekali sebuah pistol. “Kedatangan regu mahasiswa itu memang sudah diatur sebelumnya oleh buruh dan pegawai yang bekerja di tempat itu. Mereka masuk melalui jalan belakang dan seperempat jalan menjelang jam 10.00 sudah berada di gang depan kamar siaran,” tulis Sidik. Sayangnya, rencana penyerobotan radio ternyata telah bocor. Mereka diketahui petugas kemananan Jepang sehingga kemudian terjadi keributan. Mobil lapis baja dan sepasukan kempeitai datang tak lama kemudian. Usaha menyiarkan proklamasi secara langsung pun gagal. Menurut Soejono Martosewojo dalam Mahasiswa ’45 Prapatan-10: Pengabdian 1, kegagalan misi itu juga disebabkan oleh jatuhnya pistol Ridwan. Karena menimbulkan bunyi keras, mereka pun panik dan akhirnya mundur. “Kelompok mahasiswa ini lari meninggalkan studi radio, akhirnya pulang ke asrama dengan penuh rasa kecewa. Sesampainya di asrama para mahasiswa ini segera melaporkan kegagalan tugas yang dibebankan kepada mereka sehingga perlu diusahakan penyiarannya melalui cara lain,” tulis Soejono. Karena kegagalan itu, regu Dajal juga kehilangan satu mobil yang diparkirkan di dekat kantor radio. Beruntung mobil pengganti berhasil didapatkan dan kemudian dipakai untuk membawa Sukarno ke rapat besar di Lapangan Ikada. Tugas Regu Dajal selanjutnya adalah menyebarkan pamflet-pamflet propaganda kemerdekaan. Pamflet distensil di kantor Domei lalu disebarkan ke khalayak sambil berteriak, “Indonesia telah Medeka!” Malamnya, mereka juga mencorat-coret tembok dengan tulisan berbahasa Indonesia dan Inggris serta karikatur. Selain tembok, mereka menyasar trem kota, gerbong kereta api. “Merdeka atau mati!” Sekali merdeka tetap merdeka!”, “Indonesia never again the lifeblood of any nation,” begitu bunyi tulisan para pemuda itu.
- Kisah Pengungsian Sukarno ke Sukanagara
Sepakterjang Sukarno di era pemerintah militer Jepang di Indonesia (1942-1945) ternyata sempat direkam oleh pihak Sekutu. Sejarah mencatat, bersama Mohammad Hatta dan sejumlah tokoh nasional lainnya, Sukarno pernah memilih jalur kooperatif kala bala tentara Dai Nippon menguasai Indonesia. “Pada waktu itu tidak ada yang mengetahui, apakah pengadilan penjahat perang mungkin melibatkan pemimpin utama Indonesia. Dalam hal ini, Sukarno dan Hatta jelas dalam bahaya…” ungkap sejarawan Rudolf Mrazek dalam Sjahrir, Politik dan Pengasingan di Indonesia.
- Ronald Koeman Pahlawan Katalan dari Zaandam
HATI Ronald Koeman berbunga-bunga. Pada Rabu, 19-8-2020, ia “pulang” ke Camp Nou, markas FC Barcelona. Matanya berbinar-binar kala menengok dua foto yang terpajang di sebuah lorong. Foto pertama foto skuad Barça 1991-1992 dengan trofi Liga Champions dan foto kedua, foto tim Barça 1992-1993 dengan trofi La Liga yang di dalamnya terdapat sosok Koeman. Koeman resmi kembali ke Barça sebagai pelatih dengan kontrak dua tahun. Koeman yang punya catatan historis di klub raksasa asal Katalan itu diharapkan bisa membawa perubahan dan membangkitkan Barça pasca-dipermak Bayern Munich, 2-8, di perempatfinal Liga Champions yang berbuntut pemecatan pelatih sebelumnya, Quique Setién. Menurut Irfan Sudrajat, pemimpin redaksi harian olahraga TopSkor , Koeman sudah semestinya berbenah di sektor pertahanan dengan menemukan bek-bek yang secara kualitas di atas rata-rata, macam Sergio Ramos (Real Madrid) atau Virgil van Dijk (Liverpool). Nama terakhir ini pada 2010 diorbitkan Martin Koeman, ayah Ronald, eks pemain dan kemudian jadi pemandu bakat FC Groningen. “Pertahanan salah satu persoalan dari kompleksitas masalah yang ada di Barça. Nah , sebagai pelatih yang latar belakangnya pemain bertahan, saya yakin Koeman sudah bisa melihat persoalan ini. Koeman juga punya kemampuan teknis sebagai pelatih karena begitu banyak pengalaman sebagai pemain, tidak seperti Setién,” kata Irfan kepada Historia. “Bayern contoh lain. Mereka butuhkan waktu yang tidak instan menjadikan duet Jérôme Boateng dan David Alaba. Tapi, untuk situasi Barça saat ini, mereka butuh perubahan cepat karena di atas kertas tak mungkin bintang seperti Lionel Messi terus-terusan melalui musim tanpa gelar,” sambungnya . Gila Bola Koeman yang lahir di Zaandam, 21 Maret 1963, tak asing dengan si kulit bundar sejak kecil. Ayahnya, Martinus Cornelis Koeman, merupakan pesepakbola profesional yang berposisi bek. Sang kakak, Erwin Koeman, yang penggila bola, juga mengikuti jejak ayahnya. Meski begitu, ungkap Jonathan Wilson dalam The Barcelona Inheritance: The Evolution of Winning Soccer Tactics from Cruyff to Guardiola , pengaruh sang ayah terbilang minim dalam mengasah skill Ronald maupun Erwin yang dua tahun lebih tua. Keduanya lebih sering mempertajam kemampuan di jalanan. “Dia (Roland) belajar sepakbola dengan bermain di jalanan dengan kakaknya, Erwin. Keduanya sangat menggilai sepakbola, sampai-sampai sering melewatkan waktu makan siang. Sang ibu, Marijke, kerap harus mengantarkan roti lapis selai kacang ke jalanan untuk mereka. ‘Anak-anak tak ingin melewatkan waktu bermain bola’,” tutur Marijke dikutip Wilson. Keluarga sepakbola Koeman, dari kiri ke kanan: Martinus Cornelis Koeman, Erwin Koeman & Ronald Koeman (Foto: nationaalarchief.nl ) Di usia lima tahun, Ronald bergabung dengan klub VV Helpman sebagai bek, sebagaimana sang kakak, dalam sepakbola amatir. “Ada banyak bocah dan teman-teman kami bermain untuk VV Helpman, makanya kami pun bermain di sana. Ibu yang pertamakali membelikan kostum VV Helpman. Saya masih ingat seperti apa kostumnya saat itu. Setengah biru, setengah lagi putih,” ujar Koeman. Dalam wawancaranya dengan KNVB , induk sepakbola Belanda, 23 Desember 2019 dalam rangka 50 tahun debutnya, Koeman mengenang ia jadi sosok paling reaktif jika kalah dari tim GRC Groningen. “Saya lebih fanatik ketimbang Erwin. Jika kami kalah, Erwin hanya angkat bahu dan mengatakan: ‘Lain waktu, kita akan tampil lebih baik.’ Tetapi saya selalu emosi setelah kalah. Saya akan merajuk dan menjadi sangat merah,” tuturnya. Tapi kemudian Ronald justru membelot dengan bergabung ke GRC Groningen. Pembelotan terjadi setelah dia “disogok” perlengkapan sepakbola baru, mulai dari sepatu sampai kostum. Menginjak usia 17 tahun, Ronald beralih ke level profesional bersama FC Groningen. “Theo Verlangen yang membawanya ke sepakbola profesional. Namun meski awalnya terkesan, Verlangen kemudian sering mencadangkannya karena menganggap Koeman terlalu banyak memegang bola. Koeman muda juga mulai dikenal sebagai sosok pemberontak, tak sabaran, keras kepala, dan percaya diri berlebihan,” sambung Wilson. Ronald Koeman saat berkostum Ajax, PSV, dan Timnas Belanda yang meraih trofi Euro 1988 (Foto: southamptonfc.com ) Koeman membela diri terhadap penilaian itu. Menurutnya, dia merasa bisa bermain dengan baik jika banyak memegang bola. “Rekan-rekan setim Anda juga akan segera maklum. Jika Anda selalu melakukan hal bagus dengan bola, maka bola akan datang kepada Anda secara alamiah,” cetus Koeman dikutip Wilson. Dari posisi awal sebagai gelandang di Groningen, lama-kelamaan posisinya mundur sebagai bek. Namun Koeman tergolong bek yang subur. Hingga tahun terakhirnya di Groningen pada 1983 sebelum pindah ke Ajax Amsterdam, Koeman menyumbang 34 gol dari total 90 laga. Kebanyakan dari bola mati. Skill itu yang membuatnya di kemudian hari dijuluki “Raja Tendangan Bebas” dan dipanggil masuk timnas Belanda pada 1983. Di level internasional, Koeman ikut mengantarkan tim “Oranye” yang merengkuh Euro 1988. Gelar pertama Koeman di profesional dicicipinya di Eredivisie bersama Ajax pada musim 1984/1985. Koeman menjalani musim itu dengan ekstra keras bersama pelatih Johan Cruyff. “Di sesi latihan maupun pertandingan, Anda merasa melihat matanya membara. Saya juga tak terbiasa diteriaki tiada henti. Dalam hati terkadang saya berkata: ‘Tutuplah mulutmu untuk sekali-sekali!’ Namun setelah Anda pulang dan merenunginya, Anda akan berlatih lebih keras lagi di hari berikutnya. Saya rasa setiap pesepakbola mesti menjalani hal itu agar bisa lebih kuat dan tak mudah jatuh mental,” sambung Koeman. Karier Koeman berlanjut bersama PSV Eindhoven pada 1986. Di bawah bimbingan Guus Hiddink, Koeman bersama PSV sukses berat. Dia berandil besar dalam tiga gelar Eredivisie, dua KNVB Cup, dan sekali juara European Cup (kini Liga Champions) pada 1987-1988, sebelum akhirnya reuni dengan Cruyff di FC Barcelona pada 1989. Ronald Koeman (no. punggung 4) cetak gol semata wayang di final Liga Champions 1991/1992 (Foto: fcbarcelona.com ) Jika di Ajax Koeman dijuluki “Tintin” lantaran penampakannya mirip dengan kartun populer ciptaan Georges Prosper Remi itu, di Barcelona Koeman mendapat julukan “Floquet de Neu” alias Gorilla Albino. Julukan itu berangkat dari tak kalah sangarnya Koeman dari barisan depan “Dream Team” Barcelona di gawang lawan. Hingga musim terakhirnya pada 1995, Koeman mencetak 67 gol dalam 192 kali penampilan. Ia dipuja para Culers (fans Barça) sebagai pahlawan lantaran gol tunggalnya ke gawang Sampdoria di final Champions di Stadion Wembley, 20 Mei 1992, mengantarkan Barça meraih piala Champions pertamanya. Sebelum pindah ke Feyenoord Rooterdam pada 1995, Koeman juga meninggalkan warisan empat gelar La Liga, satu Copa del Rey, tiga Supercopa de España , dan satu Piala Super Eropa. Walau tak mencicipi satupun titel bersama Feyenoord, Koeman tetap bek subur. Hingga gantung sepatu pada 1997, ia berhasil menorehkan 19 gol dari 61 pertandingan. Sepanjang kariernya, Koeman mencetak 193 gol dari 533 laga sehingga jadi bek tersubur di dunia setelah melewati rekor Daniel Passarella (182 gol, 556 laga). Ke Tepi Lapangan Tak bisa jauh dari sepakbola, Koeman memilih berkarier menjadi pelatih selepas pensiun. Ia memulainya dengan menjadi salah satu asisten Guus Hiddink di timnas Belanda pada Piala Dunia 1998 dan menjadi asisten pelatih Barça hingga tahun 2000 di bawah bimbingan Bobby Robson dan Louis van Gaal. Vitesse Arnhem pada 2000 menjadi klub pertama yang ditukangi Koeman sebagai pelatih kepala. Setahun kemudian, Koeman melatih Ajax Amsterdam. Di tangan Koeman, Ajax yang melempem “dilahirkan” kembali. Gelar Eredivisie 2001/2002 dan 2003/2004 jadi bukti tangan dingin Koeman mengomando Zlatan Ibrahimović cs. Ronald Koeman (kanan) saat menjadi asisten Louis van Gaal di Barcelona (Foto: fcbarcelona.com ) Namun Koeman mengarsiteki Ajax hanya sampai 2005. Dimasukkannya Van Gaal, eks mentor Koeman, sebagai direktur teknik per Januari 2004 menjadi penyebabnya. Meski awalnya akur, Van Gaal lantas sering campur tangan urusan Koeman sebagai pelatih kepala. Perkara bermula saat Ajax menjalani trainingcamp di Portugal pada jeda musim dingin musim kompetisi 2003/2004. “Saat latih tanding, Van Gaal mengambil kursi plastik dan menempatkannya di garis lapangan. Ia melihat sesi itu dengan sungguh-sungguh seperti pelatih kepala dan menilai setiap pergerakan. Van Gaal lalu bertanya apakah ia bisa ikut diskusi untuk meninjau performa pemain. Koeman mengizinkan asal ia tak ikut bicara,” sambung Wilson. Meski awalnya bisa mengunci mulutnya, Van Gaal gatal untuk membahas performa Zlatan. Koeman yang mencoba menahan diri hanya bisa menundukkan kepala. Di sesi latihan keesokannya, Van Gaal kembali datang dengan kursi plastiknya di pinggir lapangan. Saat Zlatan sedang berpenetrasi mendekati gawang, Van Gaal bertepuk tangan dan meneriakinya. “Sangat memalukan. Para pemain juga perlahan menjadi terganggu dengan kelakuannya,” kata Koeman. Ketegangan Koeman-Van Gaal kian menjadi seiring berlanjutnya musim sampai Van Gaal mengundurkan diri Oktober 2004. Koeman angkat koper dari Amsterdam Arena (kini Johan Cruyff Arena) empat bulan berselang. Koeman lantas menyambung kariernya berturut-turut di SL Benfica (2005), PSV Eindhoven (2006), Valencia (2007), AZ Alkmaar (2009), Feyenoord (2011), Southampton (2011), Everton (2016), dan timnas Belanda (2018 sampai undur diri untuk menerima pinangan Barcelona bulan ini). Ronald Koeman semasa melatih di Ajax periode 2001-2005 (Foto: ajax.nl ) Jalan Koeman di Barça pasti tak mudah. Dia harus lebih dulu membenahi sektor belakang Barça selain mesti meladeni Messi yang diisukan sudah tak betah di Camp Nou. Untuk yang terakhir, Koeman punya pengalaman dengan Zlatan saat di Ajax. “Untuk Messi, hanya sedikit yang bisa dilakukannya, tapi ini sangat penting dan juga tidak mudah. Yaitu mengembalikan kembali sikap Messi untuk menghormati pelatih. Ini yang menjadi sangat sulit. Messi dan pemain lain hanya harus mengikutinya. Selebihnya, dari segi teknis (jika Messi bertahan), Koeman akan memberikan kebebasan kepada Messi di lini depan,” ujar Irfan. Akankah kariernya sebagai pelatih di Barça akan sesukses sebagai pemain? Terlalu dini untuk menjawabnya. “Jika kita membayangkan perubahan itu adalah Barcelona seperti era Josep Guardiola, harapan itu akan sangat sulit. Tapi, Koeman hanya perlu meyakinkan para bintang dunianya seperti Messi bahwa musim ini mereka bisa bersaing meraih gelar dan salah satunya dengan membangun kembali pertahanan mereka,” sambungnya.
- Dilema Suku Tidung dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia
Suatu sore di pesisir Tawau, Malaysia, pada 1961. Rasid, pemuda dari Suku Tidung yang mendiami Pulau Sebatik, sedang menjual panennya. Dia sudah biasa ke Tawau dan hafal keadaan sekitarnya. Tapi sore itu berbeda. Banyak tentara Malaysia berjaga di beberapa sudut. Setahun berikutnya, Rasid menjual panen di Pulau Nunukan, Indonesia. Kali ini dia melihat banyak tentara Indonesia. Sebelumnya tak pernah seperti ini. Tentara di mana-mana. Setahun berselang, Rasid baru tahu mengapa tentara muncul di dua pulau itu. Dia mendengar Indonesia mengumumkan konfrontasi dengan Malaysia setelah Inggris berencana membentuk Federasi Malaysia pada 20 Januari 1963. Rasid tinggal di Pulau Sebatik, gugus pulau terdepan di Kalimantan Utara. Pulau kecil ini terbagi dua. Satu masuk wilayah Indonesia, satu lagi bagian Malaysia. Dia tinggal di Pulau Sebatik wilayah Indonesia. Tempat tinggalnya diapit dua wilayah: Nunukan di barat dan Tawau di timur. Itu dua tempat di mana Rasid menjual panen. Sebab di dua tempat itu penduduknya lebih banyak dan pembangunannya lebih maju ketimbang di Sebatik. Rasid, sebagaimana orang-orang Tidung di Pulau Sebatik, menjalin hubungan erat dengan orang-orang di Nunukan dan Tawau. Sebagian kerabat dan rekan dagang mereka ada di Nunukan, Tawau, dan wilayah Sebatik yang masuk dalam kepemilikan Malaysia. Ini membuat Rasid dan orang Tidung lainnya berada dalam dilema. “Sebagai masyarakat perbatasan, mereka tidak menginginkan adanya konfrontasi,” kata Sugih Biantoro, peneliti sejarah di Puslitbang Kebudayaan, Kemdikbud, kepada historia.id . Sugih meneliti kehidupan Suku Tidung selama masa Konfrontasi. Dia sempat menemui sejumlah penyintas Konfrontasi dari Suku Tidung, termasuk Rasid. Sugih menuturkan, orang-orang Tidung seperti Rasid harus memilih: menegaskan identitasnya sebagai warga negara Indonesia atau sebagai masyarakat perbatasan yang bersaudara. Mereka memilih yang pertama. Tapi mereka menekankan, keterlibatannya dalam berperang bukanlah melawan saudaranya sesama orang Tidung di Malaysia, melainkan terhadap Inggris. “Konfrontasi itu awalnya berkenaan dengan Inggris, orang Malaysia itu bertetangga, kita mengusir Inggris dari Malaysia, kami membantu negara, kalau perang kami siap…” kata Kahar, orang Tidung lainnya penyintas Konfrontasi kepada Sugih dalam tesisnya “ Masyarakat Perbatasan di Sebatik Masa Konfrontasi 1963–1966” di Universitas Indonesia. Sejumlah pemuda Tidung kemudian bergabung ke barisan sukarelawan dan pasukan pembantu. Keduanya sama-sama bersifat sukarela. Perbedaannya terletak pada tanggung jawab. Barisan sukarelawan bertanggung jawab ikut membantu militer Indonesia memasuki wilayah musuh, sedangkan barisan pembantu tak wajib ikut masuk. Pemuda Tidung dalam barisan sukarelawan dan pasukan pembantu memperoleh latihan dari pasukan KKO (kini Marinir) TNI AL selama tiga bulan di Nunukan. Materinya dari baris-berbaris, menggunakan senjata api dan granat, pengetahuan berperang, sampai cara menyerang musuh di palagan. Setelah menuntaskan latihan tiga bulan, para pemuda Tidung kembali ke Sebatik. Di sini mereka berlatih lagi. Tapi tak sesering seperti di Nunukan. Seraya kepulangan mereka ke Sebatik, ribuan pasukan KKO mendarat di pulau itu. Pemuda Tidung dalam barisan sukarelawan dan pasukan pembantu memperoleh tugas sebagai penunjuk jalan. Mereka menuntun militer Indonesia mempelajari kondisi lapangan dan kekuatan lawan. “Sukarelawan dianggap sebagai pasukan yang paling mengetahui lokasi di lapangan. Hal itu dikarenakan banyak sukarelawan merupakan penduduk lokal,” catat Sugih. Menurut Muhammad Yamin Sani dan Rismawati Isbon dalam “Orang Tidung di Pulau Sebatik” termuat di jurnal Al-Qalam No. 24 Tahun 2018, orang Tidung telah mendiami pulau ini sejak abad ke-17. Sebatik kala itu hampir sepenuhnya tertutup hutan lebat. Tak mudah bagi luar Sebatik masuk ke sini. Hanya orang setempat yang tahu seluk-beluk wilayah ini. Atas tugasnya itu, para sukarelawan dan pasukan pembantu mendapat upah Rp2 uang lama dan Rp25.000 uang baru. Selain itu, ada juga uang makan, beras, dan rokok untuk mereka. Sepanjang bertugas dengan militer Indonesia, Kahar mengaku dua kali berkontak senjata dengan militer Malaysia. “Kita dihantam sama Gurkha. Kita tidak punya senjata. Hanya granat saja. Kami pun lari. Ada yang kena di kaki kena darah,” kenang Kahar. Gurkha adalah kesatuan tentara yang berasal dari Nepal dan berada di bawah militer Inggris. Mereka ikut bertugas di Sebatik selama masa Konfrontasi menghadapi Indonesia. Rombongan Kahar pernah juga dihantam mortir di dalam hutan. Dia dan rombongannya langsung tiarap. Tiga kali mortir menghantam mereka. Mereka semua selamat. Tak ada korban. Tapi setelah kejadian itu, Kahar menangis sendirian di hutan. Betapa dekatnya dia dengan kematian. Dia juga mengingat orang tua dan keluarganya di rumah. Sementara itu, Ibrahim, pemuda Tidung lainnya dalam barisan sukarelawan, mengatakan pernah menyerang pos jaga Malaysia di wilayah Simpang Tiga, Malaysia, bersama 14 orang temannya. “Waktu itu kita menyerang pos Gurkha, ada teman saya sersan Trisno dari KKO tewas. Ada juga yang luka kena tembak di kakinya,” terang Ibrahim. Penduduk Tidung lainnya yang tak bergabung dalam sukarelawan dan pasukan pembantu juga ikut membantu militer Indonesia selama Konfrontasi. Macam-macam bentuk bantuannya. Mereka memberikan lauk pauk dari hasil bumi setempat kepada militer Indonesia untuk ditukar dengan makanan kaleng. “Sayur kangkung ditukar dengan makanan kaleng,” kata Maswari, orang Tidung yang tak ikut dalam sukarelawan dan pasukan pembantu. Hubungan antara orang Tidung dan militer Indonesia cukup baik. Beberapa anggota KKO mempelajari bahasa Tidung sehingga pergaulan lebih lancar. Pasukan KKO juga sempat mendirikan sekolah rakyat. Pengajarnya dua orang. Dua puluh anak Tidung bersekolah di tempat itu. Salah satunya Maswari. Maswari mengatakan, ada kalanya juga orang Tidung agak takut dengan militer Indonesia. Ini sebenarnya berkaitan cerita dari anggota sukarelawan dan pasukan pembantu. Seorang di antara mereka menceritakan ke orang Tidung lainnya tentang hukuman dari anggota KKO jika mereka lalai dalam tugas. Ketika Konfrontasi berakhir pada 1966, pemuda Tidung dalam barisan sukarelawan dan pasukan pembantu kembali menjadi nelayan atau petani. KKO pun berangsur-angsur meninggalkan tanah Tidung. Kegiatan di sekolah buatan KKO tak berlanjut. “Sedih ketika KKO pulang, karena ada yang baik sudah seperti saudara… Anggota KKO masih muda-muda semua,” kenang Maswari. Para pemuda Tidung seperti Rasid, Kahar, dan Ibrahim mengatakan, mereka senang bisa bergabung dan membantu militer Indonesia selama Konfrontasi. Tapi setelah Konfrontasi berakhir, mereka cukup kecewa dengan sikap abai pemerintah terhadap pembangunan Pulau Sebatik. “Dirinya yang dulu ikut bersama-sama berjuang mempertahankan wilayah Indonesia dilepas begitu saja tidak diperhatikan oleh pemerintah,” kata Sugih menirukan pengakuan eks sukarelawan dan pasukan pembantu.
- Pasukan Turki dalam Serangan Aceh ke Kerajaan Batak dan Aru
SELAIN menghadapi Portugis, Kesultanan Aceh di bawah Sultan Ala’ad-din Ri’ayat Shah al-Kahar, juga berambisi untuk menguasai Pulau Sumatra. Penentang utamanya adalah Kerajaan Batak yang luas dan memiliki jalur ke utara dan ke pantai barat Aceh, dengan pusat terletak di wilayah sungai Singkil yang masih dalam wilayah Batak, yakni Tapanuli.
- Kisah Coca-Cola di Bawah Panji Nazi
DENGAN mendekap selimut dan mantel seadanya, sejumlah tawanan perang Jerman turun dengan hati-hati dari tangga kapal. Udara di Pelabuhan Hoboken, New Jersey, Amerika Serikat di awal Januari 1945 itu dingin dan bersalju. Roman muka muram para tawanan itu seketika berubah kala salah seorang di antara mereka melihat papan iklan di pelabuhan yang sangat familiar buat mereka. Dari kasak-kusuk satu tawanan yang kemudian menyebar, hampir semua takjub dan saling menunjuk ke reklame itu hingga membuat para penjaga keheranan. “Seorang penjaga berteriak memerintahkan para tawanan untuk tenang dan menuntut penjelasan. Seorang tawanan yang bisa berbahasa Inggris menguraikan, ‘kami terkejut. Bahwa kalian juga punya Coca-Cola di sini’,” tulis Mark Pendergrast dalam For God, Country and Coca-Cola: The Definitive History of the Great American Soft Drink and the Company That Makes It. Anekdot itu, lanjut Pendergrast, populer di antara para bos minuman soda termashyur itu pasca-Perang Dunia II. Para tawanan itu minim pengetahuan tentang Coca-Cola merupakan produk yang lahir di Amerika. “Tetapi cerita yang signifikan sesungguhnya hanya bisa dijelaskan melalui konteks Jermannya Hitler. Demi bisa berjaya di Jerman Nazi, waralaba-waralaba Cola mesti mendongkrak kampanye besar-besaran untuk memisahkan diri mereka dari akar yang berbau Amerika,” lanjutnya. “Sementara soft drink itu menjadi simbol kebebasan Amerika yang selalu jadi dambaan setiap serdadu Amerika yang pergi berperang, logo Coca-Cola yang sama dengan paten bertengger bersebelahan dengan swastika. Kisah Coca-Cola Jerman yang bertahan selama maupun pasca-Perang Dunia II berpusar pada satu sosok sentral –Max Keith, figur yang paling mewakili Coca-Cola sekaligus kolaborator Nazi,” tambah Pendergrast. Booming Berkat Olimpiade Siapa tak meneteskan air liur melihat botol Coca-Cola dingin dengan bulir-bulir air yang menyegarkan? Der Führer Adolf Hitler pun tak kuasa menahannya hingga acap meneguk minuman berkarbonasi itu sambil menonton film Gone with the Wind di bioskop pribadinya. Kisah itu takkan ada jika Coca-Cola tak survive di tengah persaingan keras di masa “gelap” itu. Lahir di Amerika pada 1886, Coca-Cola hadir di Jerman sejak 1929 atau empat tahun sebelum Hitler menjabat kanselir. Cabang Coca-Cola di Jerman, Coca-Cola GmbH, dibuka ekspatriat Amerika Ray Rivington Powers. Sepeninggal Powers yang wafat pada 1938, Keith meneruskan perjuangan Powers memimpin Coca-Cola Jerman. Coca-Cola sudah eksis di Jerman sejak 1929 dengan dibawa ekspatriat Amerika Ray Rivingston Powers. ( coca-cola-deutschland.de ). Keith dipercaya sebagai tangan kanan Powers sejak 1933. Sebagai manajer pelaksana, Keith tak menyia-nyiakan Olimpiade Berlin 1936 untuk membesarkan brand -nya. Sponsorship Coca-Cola sejak Olimpiade Amsterdam 1928 dilanjutkannya di Berlin dengan menjadi salah satu sponsor utama pesta olahraga terbesar sejagat itu. “Olahraga menyediakan sebuah kesempatan memperkenalkan Coca-Cola, sebuah cara untuk menyebarkan promosi,” ujar Walter Oppenhoff yang pernah bekerja di bagian legal Coca-Cola GmbH, dikutip Jeff Schutts dalam “Marketing Coca-Cola in Hitler’s Germany” yang dimuat di Selling Modernity: Advertising in Twentieth-Century Germany. Spanduk-spanduk dan papan reklame Coca-Cola pun bertebaran di Berlin. Topi-topi sun-visor para atlet yang dipakai jelang perlombaan pun disediakan Coca-Cola. Bahkan pita garis finis cabang atletik juga menampilkan logo Coca-Cola. Namun, komposisi kafein Coca-Cola dimanfaatkan para kompetitornya untuk menjatuhkan Coca-Cola dengan memanfaatkan aturan larangan mengemudi di bawah pengaruh alkohol dan kafein berlebihan yang tengah digalakkan Jerman. Akibatnya, Oppenhoff bolak-balik bernegosiasi dengan para birokrat di Kementerian Kesehatan Jerman Nazi. Sementara, Keith meluncurkan kampanye guna menjelaskan bahwa Coca-Cola tak berbahaya untuk kesehatan. Ide kampanye Keith namun justru dianggap kurang tepat oleh Presiden Coca-Cola Robert Woodruff. “Woodruff yang datang ke Olimpiade merespon: ‘Semestinya jangan pernah melakukan kampanye defensif. Itu sama saja memberi martabat pada saingan-saingan Anda dan memperpanjang isu itu sendiri’,” tulis Schutts. Max Keith & salah satu reklame Coca-Cola sebagai sponsor Olimpiade 1936. ( adbranch.com ). Nasihat Woodruff membuat Keith mengubah haluan kampanyenya. Ia menyebarkan brosur-brosur Coca-Cola dengan gaya baru, yang menyantumkan informasi tentang fakta-fakta event dan para atlet di Olimpiade. Sebulan pasca-Olimpiade, pergulatan Coca-Cola dimulai. Hal itu dipicu oleh kebijakan “Four Year Plan” (Rencana Pembangunan Empat Tahun) yang diambil Presiden Reichstag (parlemen Jerman Nazi) Hermann Goering pada September 1936. Kebijakan itu berisi antara lain penghentian ekspor-impor dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing. “Keith dan Oppenhoff dalam suratnya kepada Kantor Pendapatan Negara berusaha menjelaskan bahwa Coca-Cola GmbH adalah perusahaan bisnis Jerman, walau faktanya sebagian besar masih dimiliki The Coca-Cola Company (di Amerika) dan soal itu, Oppenhoff juga menguraikan bahwa modal dari asing itu sekadar berupa ‘pinjaman’,” sambung Pendergrast. Kebijakan Goering juga mengakibatkan sulitnya impor bahan baku konsentrat untuk Coca-Cola. Ini membuat Keith kalang kabut. Pasalnya Coca-Cola tengah booming , di mana pada permulaan 1936 mereka sudah bisa menjual satu juta peti Coca-Cola di seluruh pelosok Jerman. Kebijakan Goering membuat Coca-Cola GmbH takkan bisa menjawab permintaan pasar lagi. “Di sinilah Woodruff turun tangan. Melalui koneksi-koneksinya di perbankan New York, Woodruff bergerak di belakang layar untuk memengaruhi Goering. Ia meminta bantuan Henry Mann, perwakilan Jerman untuk sejumlah bank di Amerika, untuk meyakinkan Goering agar beredia mengizinkan impor konsentrat Coca-Cola,” lanjutnya. Walau tak sepenuhnya berhasil, Coca-Cola GmbH diizinkan mengimpor “Merchandise No. 5” dan “7X dari sekian bahan konsentrat dari Amerika. Dua bahan inilah yang lantas jadi bahan pokok untuk Keith memproduksi sendiri bahan konsentratnya. Disukai Hitler Tidak hanya soal negosiasi di bawah tangan dengan Goering yang mesti dilewati Coca-Cola Jerman. Banyak perusahaan soft drink imitasi yang mencoba menjatuhkannya. Salah satunya Afri-Cola, produk minuman serupa Coca-Cola milik Karl Flach. Flach yang juga anggota Deutsche Arbeitsfront (DAF) atau Serikat Buruh Jerman Nazi, menuduh Coca-Cola sebagai perusahaan Yahudi. Segala yang berbau Yahudi haram di Jerman selama di bawah kekuasaan Hitler. “Pada 1936 Flach bersama para perwakilan DAF bertamu ke Amerika dalam rangka tur ke sejumah perindustrian Amerika. Powers juga mengatur kunjungan mereka ke pabrik Coca-Cola di New York, di mana Flach memerhatikan tutup botolnya terdapat tulisan Ibrani mengindikasikan bahwa Coca-Cola adalah produk kosher (halal versi Yahudi, red. ),” ungkap Pendergrast. Cap kosher di tutup botol Coca-Cola itu dibutuhkan untuk memasarkan produk di antara populasi Yahudi yang besar di New York. Itu kemudian difoto oleh Flach dan digunakan untuk membuat pamflet yang kemudian disebar ke berbagai tempat di Jerman. Seiring dengannya, Flach terus mengkampanyekan Coca-Cola adalah perusahaan Yahudi yang dipimpin Yahudi asal Atlanta, Harold Hirsch. “Imbasnya grafik penjualan (Coca-Cola) menukik tajam. Markas Partai Nazi buru-buru membatalkan pesanan rutin mereka. Situasi bisnisnya mulai kacau dan Keith memohon Woodruff untuk mencopot Hirsch dari dewan direksi atau setidaknya mengklarifikasi bahwa dia (Hirsch) bukan pemilik perusahaan. Walau kemudian Woodruff mengklarifikasi fakta terakhir itu, kampanye hitam Flach tetap tak terbendung,” tambahnya. Robert Winship Woodruff, Presiden The Coca-Cola Company periode 1923-1954. ( coca-cola-deutschland.de ). Baru pada 1937 Coca-Cola bisa perlahan bangkit dari keterpurukan. Keith seperti harus memulai dari awal, merelakan sedikit kerugian untuk memproduksi sampel secara massal guna dibagikan gratis di event-event pemuda dan olahraga seperti perlombaan balap sepeda dan parade-parade Hitlerjugend (Pemuda Hitler) . Saat perlombaan sepeda hingga para pemuda (Hitler) berparade dalam formasi militer, truk-truk Coca-Cola selalu mengiringi dengan harapan bisa memancing ketertarikan generasi muda. Ketika Reich Schaffendes Volk menggelar pameran di Düsseldorf pada 1937, Keith mempromosikan berbotol-botol Coca-Cola di spot-spot sentral pamerannya. “Dalam satu waktu ketika Goering berkunjung hingga rehat sejenak dengan meneguk Coca-Cola, fotografer perusahaan (Coca-Cola) yang awas segera menjepret momen itu. Sementara itu walau tak pernah terdokumentasi, Hitler diketahui juga menyukainya dan senantiasa meminumnya sambil menonton film Gone with the Wind di bioskop pribadinya,” tulis Pendergrast lagi. Hermann Goering di pembukaan pameran Reich Schaffendes Volk & spot display Coca-Cola (Foto: schaffendesvolk1937.de ) Sejak saat itu grafik penjualan Coca-Cola merangkak naik. Seiring Anschluß (pencaplokan Austria, 12 Maret 1938), Keith melebarkan sayapnya dengan membuka Coca-Cola GmbH cabang Wina. Namun kekhawatiran Keith muncul lagi ketika Jerman Nazi menginvasi Polandia pada 1 September 1939, membuat Prancis dan Inggris mendeklarasikan perang sekaligus menandai dimulainya Perang Dunia II. Selain khawatir akan ditutupnya tirai impor untuk konsentrat 7X, Keith cemas akan nasionalisasi perusahaan asing secara sepihak. Hal itu menjadi latar yang mendorongnya masuk birokrasi pemerintahan Nazi dengan bantuan Oppenhoff. Ia masuk Dinas Properti Musuh untuk mensupervisi semua pabrik minuman ringan, baik di Jerman maupun wilayah-wilayah yang diduduki. Seiring peperangan, sebagaimana para pebisnis lain, Keith turut berkontribusi dengan mensuplai Coca-Cola sebagai minuman ringan para serdadu Jerman. Minuman berkarbonasi itu jadi pelipur lara para prajurit Jerman di berbagai medan perang, termasuk mereka yang akhirnya ditangkap dan jadi tawanan yang dibawa ke Hoboken.
- Saat Pesawat Mata-mata AS Ditembak Jatuh Soviet
Moscow, 19 Agustus 1960. Pengadilan Divisi Militer Mahkamah Agung Uni Soviet menjatuhkan vonis penjara 10 tahun kepada Francis Gary Powers. Pilot AU Amerika Serikat (AS) yang direkrut CIA itu dinyatakan bersalah karena melakukan spionase di wilayah udara Soviet. Penerbangan itu merupakan bagian dari upaya saling mematai antara Blok Barat dan Timur dalam Perang Dingin. AS melakukannya setelah Presiden AS Dwight Eisenhower, dengan dukungan CIA sebagai operator, menyetujui dilancarkannya misi penerbangan mata-mata ( air spionage ) ke wilayah Uni Soviet dengan tujuan memfoto situs militer dan situs-situs penting lain Soviet pada 1954. Langkah itu diambil Ike, sapaan Eisenhower, untuk mendapatkan informasi pasti kekuatan rivalnya. Ike selalu khawatir terhadap ketertinggalan AS dari Soviet dalam pengembangan nuklir dan persenjataan. Kekhawatiran itu bersumber dari ketiadaan informasi tentang Soviet selain dari ucapan-ucapan para pemimpin Soviet sendiri. Untuk mewujudkan misi tersebut, CIA membuat U-2 Program untuk menghasilkan pesawat khusus spionase yang bisa terbang setinggi 65,000-70,000 kaki agar tak bisa dijangkau pesawat-pesawat dan rudal-rudal Soviet. U-2 Program sejalan dengan Skunk Works, program pengembangan pesawat Lockheed Martin yang dijalankan bekerjasama dengan CIA. “Ketika CIA mengambil alih keamanan Skunk Works, menyegel perimeter dengan orang-orang berpakaian preman berwajah serius yang membawa senjata otomatis, dan mengatur untuk mendanai kontrak Locheed senilai $ 35 juta melalui perusahaan tiruan, (Clarence L Johnson; desainder pesawat, red .) Kelly memilih tim khusus dan menyelesaikan cetak birunya untuk pesawat revolusioner,” tulis Francy Gary Powers Jr. dan Keith Dunnavant dalam Spy Pilot: Francis Gary Powers, the U-2 Incident, and a Controversial Cold War Legacy . Selain menyiapkan pesawatnya, dalam U-2 Program yang mulai berjalan pada 1956 itu CIA merekrut pilot-pilot AU AS (USAF) untuk dijadikan eksekutor. Mereka dikelempokkan ke dalam Detaseman 10-10 yang dikomandani Kolonel Ed Perry. Ketika semua persiapan selesai, pada 1958 Ike meminta izin pada perdana menteri Pakistan untuk mendapatkan tempat guna mendirikan fasilitas intelijen yang bakal digunakan sebagai titik berangkat pesawat-pesawat U-2 menuju sasaran, wilayah Soviet yang berada di Asia Tengah. AS akhirnya mendapatkan Badaber di pinggir Peshawar untuk menjalankan misi air spionage bersandi Operasi Overflight itu. Namun karena khawatir bila pilot AS tertangkap akan dianggap Soviet sebagai agresi, Ike memutuskan untuk menggunakan pilot-pilot AU Inggris (RAF) sebagai eksekutor itu. Dengan begitu AS bisa menyangkal keterlibatan bila pilot misi tersebut tertangkap. Misi pertama Operasi Overflight yang dijalankan dua pilot RAF menggunakan pesawat U-2 berhasil mendapatkan beberapa objek foto yang lalu menyadarkan Washington bahwa kekhawatirannya selama ini salah. Mereka terlalu percaya pada klaim Soviet. Foto-foto udara itu sebagian bahkan menunjukkan AS dalam beberapa hal masih lebih baik ketimbang Soviet. Soviet mengetahui penerbangan mata-mata itu. Namun, keterbatasan kemampuan persenjataannya membuatnya hanya bisa mendiamkan. Namun tidak demikian pada 1960, ketika misi U-2 kembali dijalankan Eisenhower setelah mandek beberapa tahun. Saat itu Soviet telah memiliki rudal permukaan ke udara ( surface to air ) S-75 Dvina yang kemampuan jelajahnya jauh lebih baik. Meski tak menembakkan rudal tersebut pada misi air spionage AS yang dipiloti Bob Ericson pada 9 April 1960, pasukan pertahanan udara Soviet melakukan intersep menggunakan pesawat Mig-19 dan Su-9. Namun upaya tersebut gagal dan Bob berhasil mendarat di Lanud Zahedan, Iran. Misi terakhir dari dua misi Operasi Overflight yang diizinkan Eisenhower sebelum KTT Big Four Power Summit di Paris, 17 Mei 1960 –tempat di mana Eisenhower akan bertemu pemimpin Soviet Nikita Khrushchev guna membahas lebih lanjut soal nuklir dalam kaitan koeksistensi damai– adalah misi yang dijalankan oleh Lettu Francis G. Powers. Dijadwalkan semula pada 28 April, misi tersebut ditunda dua hari karena masalah cuaca. Powers direkrut ke dalam misi oleh perwakilan CIA William Collins pada awal 1956 dengan bayaran 1500 dolar per bulan selama pelatihan dan 2500 dolar per bulan selama misi. “Setelah Anda menyelesaikan pelatihan, Anda akan dikirm ke luar negeri. Bagian dari tugas Anda adalah melakukan penerbangan pengintaian di sepanjang perbatasan di luar Rusia, di atas peralatan sangat sensitif radar pemantau pesawat dan sinyal radio. Tapi itu hanya sebagian. Misi utama Anda adalah terbang di atas Rusia,” kata Collins kepada Powers, dikutip Powers dan Curt Gentry dalam Operation Overflight: A Memoir of the U-2 Incident . Dari pangkalan Detasemen 10-10 di Incirlik, Turki, Powers diterbangkan ke Peshawar untuk memulai misinya. Pukul 6.26 pagi, pesawat U-2 nomor 360 yang dipiloti Powers mengudara. “Mendekati perbatasan, saya merasakan ketegangan meningkat,” kata Powers. Setelah sekitar satu setengah jam penerbangan, Powers telah berada di udara Laut Aral (kini perbatasan Kazakhstan dan Usbekistan). Di sanalah dia melihat di bawah ada jejak kondensasi dari sebuah pesawat jet bermesin tunggal yang bergerak dengan kecepatan supersonik sejajar dengan jalur pesawatnya namun dengan arah berlawanan. Powers yakin keberadaannya diketahui otoritas Soviet namun mereka tak bisa berbuat apa-apa karena U-2 terbang amat tinggi. Sekira 30 mil di timur Laut Aral, tempat situs peluncuran misil balistik antarbenua Tyuratam Cosmodrome berada, Powers melakukan pemotretan udara. Namun tak maksimal karena kendala cuaca. Pun di situs Chelyabinsk-65 yang terletak 50 mil di selatan. Menjelang Sverdlovsk (kini Ekaterinburg), pesawat Powers mengalami masalah. Namun dia memutuskan tetap melanjutkan penerbangan ketimbang kembali. Dia menyusuri pinggiran kota untuk mencari lapangan terbang yang tercantum di peta. Namun, matanya tak dapat menemukan situs yang dicari. Saat terus mengamati sasaran sambil memeriksa panel-panel pesawatnya, Powers tersentak oleh dentuman besar yang membuat pesawatnya tersentak ke depan menimbulkan kilatan cahaya yang memenuhi cockpit-nya. Ledakan itu ternyata merupakan hantaman rudal S-75 Dvina. Meski berusaha tenang dan terus berupaya mengendalikannya, pesawat Powers sudah tak bisa dikendalikan. Dengan susah payah karena ada masalah, dia akhirnya melontarkan diri di ketinggian 15 ribu kaki. Dalam proses penerjunan itulah dia memilih untuk tak menggunakan kapsul sianidanya karena berharap masih dapat melarikan diri. Tak lama setelah mendarat di sebuah ladang pinggir desa, Powers ditangkap. Dia lalu diinterogasi aparat KGB dan kemudian ditahan selama 70 hari sebelum dihadapkan ke pengadilan Divisi Militer Mahkamah Agung Soviet. “Di Uni Soviet semua kasus spionase berada di bawah yurisdiksi divisi militer pengadilan,” kata Mikhail I. Grinev yang menjadi pembela Powers. Sementara menunggu pengadilan, kasus Powers mendapat pemberitaan luas hingga membuat AS terpaksa mengelak dengan mengatakan bahwa pesawat itu merupakan pesawat cuaca yang mendapat masalah sehingga salah arah. Namun bantahan itu dipatahkan Khrushchev saat bertemu Eisenhower di Paris dengan menunjukkan foto-foto Powers berikut reruntuhan pesawatnya. Sebagai bentuk kemarahan, Khrushchev dan rombongan meninggalkan ruang konferensi di Paris dan enggan melanjutkan pembicaraan dengan Eisenhower. Pengadilan yang diketuai Letnan Jenderal Borisoglebsky akhirnya memvonis Powers 10 tahun penahanan (tiga tahun dipenjara, sisanya kerja paksa). Spionase Powers tergolong berat berdasarkan pasal 2 UU Soviet tentang Tanggung Jawab Kriminal untuk Kejahatan Negara. Powers akhirnya dibebaskan pada 1962 setelah Moscow dan Washington menyepakati pertukaran tawanan yang diusulkan advokat James B. Donovan. Powers dibebaskan sebagai tebusan untuk pembebasan Kolonel Rudolf Abel, agen Soviet yang ditangkap di New York pada 1957. “Nasib mereka dengan cepat berubah. Sekembalinya ke Uni Soviet, Abel dianugerahi Order of Lenin, penghargaan sipil tertinggi Soviet, dan negara menetapkan pensiun untuknya. Dia dianggap sebagai pahlawan rakyat Soviet. Sebaliknya, Powers kembali ke Amerika Serikat di bawah kecurigaan,” kata Sergei Khrushchev, putra Nikita Khrushchev, dalam pengantarnya di buku Spy Pilot: Francis Gary Powers, the U-2 Incident, and a Controversial Cold War.
- Asal-Usul Suku Tidung
Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia Rp75.000 sempat ramai diperbincangkan karena ada yang mengira salah seorang di gambar uang itu mengenakan baju adat China. Padahal, itu adalah baju adat milik Suku Tidung yang mendiami wilayah Kalimantan Utara (Kaltara). Tjilik Riwut, mantan gubernur Kalimantan Tengah, menjelaskan dalam Maneser Panatau Tatu Hiang: Menyelami Kekayaan Leluhur bahwa Suku Tidung merupakan subsuku dari Suku Dayak Murut, salah satu dari tujuh suku besar, yang mendiami bagian utara Kalimantan bagian timur. Enam suku besar Dayak lainnya adalah Ngaju, Apu Kayan, Iban, Klemantan, Punan, dan Ot Danum. Suku Tidung sendiri terbagi lagi menjadi sepuluh suku kecil. Hartatik, peneliti Balai Arkeologi Banjarmasin, menyebut Suku Tidung bermukim di wilayah pesisir dan menganut agama Islam. Kendati namanya diambil dari kata tiding atau tideng artinya gunung atau bukit. "Nama ini menggambarkan kalau Suku Tidung berasal dari daerah hulu atau daerah pegunungan di wilayah Kalimantan sisi utara-timur (timur-laut)," tulis Hartatik dalam "Perbandingan Bahasa dan Data Arkeologi pada Suku Tidung dan Dayak di Wilayah Nunukan: Data Bantu untuk Rekonstruksi Sejarah dan Perubahan Budaya" yang terbit dalam jurnal Naditira Widya ,Vol. 8 No. 1/2014. Suku Tidung mempunyai pergerakan yang dinamis. Mereka pindah dari pedalaman Kalimantan, Kabupaten Tanah Tidung hingga ke Malaysia, Malinau, mendekati pantai di Nunukan, Tarakan, dan Berau. Kedinamisan itu, menurut Hartatik, membuat Suku Tidung mendapat banyak pengaruh dari luar, terutama dari pelaut dan pedagang muslim. Sehingga, kini hampir semua orang Tidung beragama Islam. Masih Kerabat Dayak Arkeolog Balai Arkeologi Banjarmasin, Nugroho Nur Susanto dalam "Pengaruh Islam Terhadap Identitas Tidung Menurut Bukti Arkeologi" yang terbit dalam Naditira Widya , Vol. 7 No. 2/2013, menyebut bahwaSuku Tidung berpindah melalui Sungai Sesayap atau Sungai Malinau ke daerah hilir dan mendiami pesisir juga pulau-pulau kecil sisi timur Kalimantan lainnya. Perkiraannya mereka sudah meninggalkan tempat asalnya hampir 100 tahun yang lalu. Karenanya sudah banyak cerita tutur yang terputus. Salah satunya Suku Tidung tak mengenal legenda atau mitos kejadian asal-usul moyangnya sebagaimana masyarakat Dayak lainnya. Khususnya yang meninggali wilayah Nunukan, seperti Tahol, Tenggalan, dan Agabag. K epercayaannya pun berbeda dibanding suku Dayak di Kalimantan Utara lainnya. "Karena Suku Tidung identik dengan muslim, sedangkan suku Dayak lainnya beragama Kristen," tulis Hartatik. Kendati begitu, masih ada tradisi pra-Islam yang tersisa di antara masyarakat Tidung. Ini menjadi salah satu bukti hubungan kekerabatan mereka dengan suku Dayak. "Sebagian dari mereka masih melakukan ritual yang berkaitan dengan tradisi nenek moyang, terutama yang berkaitan dengan tempat-tempat keramat," tulis Hartatik. Walaupun sudah beragama Islam, kepercayaan adanya roh leluhur merupakan salah satu konsep megalitik yang dikenal oleh Suku Tidung hingga kini. Ada yang dikenal dengan ritual memanggil arwah di Batu Lumampu, membayar nazar di Batu Lumampu dan Batu Kelangkang, serta ritual pengobatan Badewa oleh tokoh adat. "Kepercayaan kepada roh leluhur yang masih berlanjut hingga kini menunjukkan bahwa Suku Tidung dahulu mempunyai kepercayaan yang sama dengan suku Dayak Agabag, Tahol, dan Tenggalan," tulis Hartatik. Nugroho menambahkan bahwa persahabatan Suku Tidung dengan alam yang masih dijaga secara umum mencerminkan spiritual Dayak. Akulturasi antara budaya pendatang dari luar, dalam hal ini Bugis, Melayu, dan Bajau yang mempengaruhi konsep religi mereka. Prosesnya panjang. Unsur budaya dari luar secara perlahan diterima oleh Suku Tidung kemudian diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menghilangkan kepribadian mereka. Kedatangan Islam Menurut Nugroho, selain sebagai sebuah suku, nama Tidung juga menunjuk kepada sebuah kerajaan yang kental dengan nuansa keislaman. Makam Maharaja Dinda I di Desa Sesayap, Kecamatan Sesatap Hilir, Kabupaten Tana Tidung;dan makam tokoh yang dihormati seperti Datu Bendahara dan Datu Mandul di Kecamatan Tana Lia, Pulau Mandul, Kabupaten Tana Tidung, menandakan kawasan ini sebagai daerah perpindahan awal orang Tidung. Mereka kemudian berdomisili di sana dan membentuk "suatu institusi" tradisional. "Kerajaan ini terbentuk dari aktualisasi hegemoni yang berasal dari komunitas masyarakat berlatar belakang Suku Tidung," tulis Nugroho. "Ada kemungkinan mereka terpisahkan dari keluarga suku induknya, yaitu Suku Dayak Murut." Institusi yang terbentuk ini dipercaya berupa kerajaan kecil. Secara tradisi , komunitas ini berdiri sendiri kemudian dikuasai oleh Kesultanan Bulungan yang mendapat pengakuan dari pemerintah kolonial Belanda. Secara formal, Islam hadir ketika Kesultanan Bulungan menguasai Tidung, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad 'Alimuddin (1817–1861). Hal ini ditandai dengan datangnya seorang ulama dari Arab yang singgah dahulu di Demak. Ulama yang melakukan Islamisasi ini dikenal sebagai Said Abdurrahman Bil Faqih. Selain Bil Faqih, beberapa ulama lain ikut mendekatkan Suku Tidung dengan Islam. Buktinya adalah makam penyiar agama, Said Ahmad Maghribi di Desa Salim Batu, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan. Letaknya di lereng tebing, di sebelah barat aliran Sungai Pimping yang bermuara di Teluk Sekatak. Berdasarkan angka tahun di nisan, ulama ini wafat pada 1832. Orang Tidung memang lebih mudah menerima budaya luar karena umumnya mereka bermukim di pesisir, bagian hilir sungai dan pantai yang strategis. Jalurnya bisa lewat perdagangan, maupun budaya. " Hubungan Islam dengan Tidung memperkaya identitas mereka," tulis Nugroho . Interaksi antara Suku Tidung dan Islam pun merata di daerah pesisir, muara sungai hingga pulau-pulau kecilnya. Ini ditunjukan dengan letak makam tokoh yang dihormati, seperti Datu Bendahara dan Datu Mandul di Pulau Mandul dan makam Maharaja Dinda I, tak jauh dari Sungai Selor yang berhubungan dengan Sungai Sesayap. "Mobilitas Tidung di pesisir dan pulau-pulau kecil lainnya dibuktikan dengan peninggalan arkeologi terutama makam, antara lain di tepi Sungai Pemusian di Pulau Tarakan, Nunukan, dan Pulau Sebatik," tulis Nugroho. Sayangnya, persaingan hegemoni politis dengan Kesultanan Bulungan menyebabkan Tidung terabaikan. Itu diperparah dengan kehadiran kolonialis Belanda. Politik adu domba dan campur tangan Belanda atas eksplorasi kekayaan alam minyak bumi dan perkebunan karet membuat Tidung semakin terpuruk. "Dari bukti-bukti arkeologi kekuasaan politis Kerajaan Tidung sangat lemah. Meski begitu, keberadaannya tetap perlu diakui," tegas Nugroho.
- Tugas Berat Ahmad Subardjo
Pasca menyatakan diri merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia perlu segera memilih orang-orang untuk menjalankan tugas pemerintahan. Maka dua hari kemudian, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengadakan rapat di Pejambon, Jakarta. Hasilnya, Sukarno ditunjuk sebagai presiden pertama RI, dengan Mohammad Hatta mendampingi sebagai wakil. Undang-undang dasar juga disahkan. “Pada hari-hari pertama setelah proklamasi kemerdekaan, kesibukan ditujukan untuk melengkapi perangkat kenegaraan yang bersifat pokok, seperti memilih presiden dan disusul dengan membentuk kabinet pertama pertama Republik Indonesia,” tulis Iin Nur Insaniwati dalam Mohammad Roem: Karir Politik dan Perjuangannya 1924-1968 . Untuk menjalankan republik, Kabinet Sukarno-Hatta dilengkapi sepuluh departemen dan enam menteri negara. Tugas mereka adalah memastikan seluruh elemen negara berjalan baik. Dicatat Mohammad Hatta dalam Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi , semua posisi menteri diisi oleh tokoh-tokoh yang ahli dibidangnya. Seperti Ahamd Subardjo yang menduduki kursi departemen luar negeri. Namun bukan perkara mudah menjalankan tugas menteri di negara yang baru terbentuk. Di dalam otobiografinya Ahmad Subardjo menceritakan bagaimana dia menghadapi kesukaran memenuhi kewajiban di departemen yang dipimpinnya. Terutama ketika harus menghadapi kenyataan bahwa dia belum memiliki kantor beserta alat-alat penunjang tugas. Bahkan pegawai pun tidak ada. Ahmad Subardjo benar-benar memulainya dari nol. “Teman-teman saya beruntung sudah dapat mulai kerja secara normal, mempunyai segala sesuatu untuk memimpin departemen pemerintahan, namun belum banyak hal yang diurusnya. Mereka hanya berkewajiban agar pegawai-pegawainya bersumpah untuk setia kepada pemerintah republik,” tulis Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. Ahmad Subardjo memulai tugasnya dengan memasang iklan di Asia Raya untuk mencari pegawai. Dia memasang iklan: “Siapakah yang ingin menjadi pegawai Departemen Luar Negeri?”. Rupanya hanya dalam beberapa hari iklan dipasang, Ahmad Subardjo sudah bisa memulai pekerjaannya. Dia mendapat 10 orang pelamar. Seluruhnya diterima bekerja. Lima orang ditempatkan sebagai sekretaris, lima lainnya diberi tugas mengatur administrasi. Selesai dengan soal kepegawaian, Ahmad Subardjo segera mencari tempat untuk dijadikan kantor. Dia memakai sebuah rumah di Cikini Raya No. 82. Rumah itu hanya sementara digunakan. Departemennya perlu mendapat gedung yang lebih layak, mengingat tugas dan fungsi departemen luar negeri yang begitu penting untuk mempertahkan kedaulatan Indonesia. “Saya yakin bahwa dalam waktu mendatang Departemen Luar Negeri akan menarik banyak peminat untuk mengabdikan diri kepada negara di suatu bidang yang baru dan buat kebanyakan orang Indonesia belum dikenal,” ungkap Ahamd Subardjo. Meski belum mendapat perangkat kerja yang lengkap, Ahmad Subardjo tetap menjalankan semua tugasnya dengan baik. Baginya, keberadaan departemen luar negeri sangat penting dan merupakan sebuah hal mendesak. Kekalahan Jepang bisa menjadi gerbang masuknya kembali Belanda ke Indonesia. Menurut hukum internasional mengenai perang, negara-negara yang menang perang harus melucuti mereka yang kalah dan mengembalikan ke tanah airnya. Penting untuk tidak lengah dalam situasi tersebut karena Belanda bisa kembali masuk ke Indonesia yang masih lemah. Melalui departemen luar negeri, kata Ahmad Subardjo, bangsa ini harus bergerak cepat masuk ke lingkaran politik internasional. Penting untuk mencari sebanyak-banyaknya negara yang bersedia membantu memberi kemerdekaan sesungguhnya bagi Indonesia. Menjalin hubungan baik dengan warga dunia pada masa awal kemerdekaan sebagian sebagian dilakukan secara personal. Indonesia yang belum memiliki perwakilan di luar negeri harus memanfaatkan koneksi tokoh-tokoh mereka dengan tokoh penting di negara lain. Untuk tugas administrasi, departemen luar negerilah yang mempersiapkannya. “Segera setelah Departemen Luar Negeri mulai menunaikan kewajibannya, kami menghadapi soal-soal yang memerlukan penyelesaian dengan cepat dan tepat. Hal demikian membawa kami ke dalam keadaan di mana kami memecahkan soal demi soal asal saja dapat diselesaikan. Tapi kita tidak melupakan dasar dan tujuan revolusi kita,” ungkap Ahmad Subardjo.






















