Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bandul Stigma yang Berbahaya
KELUARNYA Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (Perpres Ekstremisme) menimbulkan kasak-kusuk publik di media sosial. Pasalnya Perpres Ekstremis itu dikhawatirkan bisa mencederai kehidupan berdemokrasi di tanah air. “Iktikadnya mungkin baik untuk menangani tindak terorisme atau belakangan ini sering terjadi juga tindakan-tindakan intoleransi. Namun ada hal-hal yang mengkhawatirkan dalam praktik berdemokrasi, seperti kebebasan berpendapat atau berorganisasi. Karena di dalam perpres itu orang bisa saling mencurigai lalu saling lapor. Lantas menimbulkan stigmatisasi terhadap mereka yang dianggap punya ideologi berbahaya,” ujar sejarawan Bonnie Triyana dalam diskusi live bertajuk “Politik Stigma dalam Sejarah Indonesia” di Instagram, Facebook, dan Youtube Historia.ID, Jumat (29/1/2021) malam. Stigma, cap, label, atau stempel berulang-ulang terjadi seiring zaman. Bahkan acapkali masih bertahan sampai sekarang mesti kejadiannya sudah lewat jauh. Seperti stigmatisasi terhadap orang-orang kiri pasca-Peristiwa 1965. Selain para kader maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dibunuh atau dipenjara tanpa proses hukum, mereka yang dicap kiri mengalami pengucilan akibat stigma itu. Pola itu cenderung bisa berulang dewasa ini.
- Cinta dan Kebahagiaan Sejati dalam Kamasutra
KAMASUTRA karya penulis India, Vatsyayana, banyak dipahami sebagai teks yang berisi tentang seksual belaka. Lebih dari itu, karya ini memuat cara mencapai kesempurnaan kama, yakni salah satu dari empat tujuan hidup manusia (Catur Purusa) dalam Hinduisme. Riley Winters dalam “The Kama Sutra: Setting the Record Straight” terbit di Ancient Origins menjelaskan kama dalam arti kata yang paling umum dapat merujuk pada kasih sayang, cinta, rangsangan estetika, atau keinginan. “Tidak selalu berhubungan dengan seksualitas,” jelasnya. Kamasutra menjadi karya yang memiliki pengaruh luar biasa dalam kesusastraan umum dan kehidupan artistik India. Ia menjadi dasar bagi banyak tulisan India pada periode berikutnya mengenai cinta. Termasuk di antaranya puisi cinta sanskerta.
- Leluhur Langsung Bangsa Indonesia dari Taiwan
RIBUAN tahun lalu bangsa Indonesia pernah disatukan oleh akar tradisi yang sama: bahasa Austronesia. “Kita semua memang berbeda, tetapi kita memiliki kesamaan yang dirangkai melalui Austronesia sebagai benang merahnya,” ujar Harry Truman Simanjuntak, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Hingga kini, para ahli sepakat bahwa para penutur Austronesia yang datang dari Taiwan adalah leluhur langsung bangsa Indonesia. Dari segi fisik, penutur Austronesia tergolong ras Mongoloid Selatan. Dalam perkembangannya, penampilan fisik memang menjadi sangat beragam. Kemampuan beradaptasi penutur Austronesia terhadap lingkungan baru mendorong terciptanya keragaman etnis. Pengaruh lainnya datang dari interaksi bologis antarkelompok atau dengan pendatang lainnya yang menyebabkan terjadinya percampuran gen.
- Leluhur Kasta Tertinggi India pada Orang Indonesia
ARYATAMA Nurhasyim membuka amplop berisi hasil tes DNA-nya. Dalam diagram lingkaran, ia melihat komposisi genetika leluhur Asia Timur paling dominan. Ia punya 80,85 persen gen leluhur dari wilayah Tiongkok, Korea, Hongkong, Taiwan, dan Jepang. Sementara sebanyak 18,81 persen adalah DNA moyang orang-orang Asia Timur yang menjelajah ke Amerika utara. Lalu 0,02 persen DNA leluhur Timur Tengah. Sisanya, 0,32 persen menunjukkan jejak genetis leluhur dari India-Brahmana. “Lumayan mengejutkan. Menarik yang Brahmin ini,” kata Arya. Sebelum tes DNA, Arya sudah tahu asal-usul leluhurnya memang gado-gado. Ia lahir di Jakarta. Ayahnya berasal dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Ibunya orang Riau, Kabupaten Indragiri Hulu.
- Leluhur Orang Papua
ADA dua ras berbeda yang mendiami Kepulauan Nusantara. Ras Mongoloid menempati bagian barat dan utara. Sementara di timur dan selatan ditinggali ras Australomelanesid. Secara fisik, keduanya dengan mudah dapat dibedakan. Orang Papua mewakili ras Australomelanesid. Sementara orang Melayu mewakili ras Mongoloid. Namun, leluhur orang Papua yang tertua tiba di Nusantara. Keberadaannya bisa ditarik mundur sampai masa Homo sapiens atau manusia yang secara anatomis modern, bermigrasi keluar dari Afrika. Harry Widianto, kepala riset Balai Arkeologi Yogyakarta, menjelaskan berdasarkan bukti paleoantropologis, sampai kini benua Afrika masih dipercaya sebagai sumber asal dan tempat evolusi hominid. Homo sapiens diperkirakan mulai menyebar keluar dari benua itu sejak 100.000-300.000 tahun yang lalu. Dengan menyusuri garis pantai dari Afrika, mereka berjalan kaki hingga kawasan Asia Tenggara. Secara berkelompok mereka menyusuri garis pantai dari Afrika sampai Nusantara dengan memanfaatkan jembatan darat yang menggabungkan Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Mereka lalu bergerak ke Halmahera sampai ke wilayah Papua. Merekalahyang kemudian disebut ras Melanesia.
- Dua Rute Migrasi Leluhur Nusantara
PENUTUR Austronesia yang diyakini bermigrasi dari Taiwan bukan satu-satunya populasi ras Mongoloid yang pernah mendiami Nusantara. Ada kelompok lain yang diperkirakan lebih dulu bermigrasi ke Nusantara, bergerak dari Asia Daratan, melewati rute barat. Austronesia adalah istilah yang diberikan ahli linguistik untuk menyebut rumpun bahasa yang dituturkan oleh orang di Kepulauan Indo-Malaysia dan kawasan Oceania. Rumpun bahasa Austronesia terdiri dari 1.200 bahasa dan digunakan oleh sekira 270 juta penutur. Sebelum masa kolonialisme Eropa, persebaran bahasa Austronesia mencapai lebih dari separuh belahan dunia. Penuturnya meliputi Madagaskar di ujung barat hingga Kepulauan Paskah di ujung timur Pasifik, serta dari Taiwan-Mikronesia di batas utara hingga Selandia Baru di batas selatan.
- Bukti Leluhur Austronesia Tertua di Taiwan dan Cina Selatan
BAHASA merupakan warisan utama penutur Austronesia untuk populasi seluas setengah bola dunia, khususnya yang ada di Nusantara. Selain bahasa, jejak mereka juga terlacak lewat warisan biologis dan budaya lainnya. Rumpun bahasa Austronesia bisa jadi terbesar di dunia. Ada sekira 1.200 bahasa dan sekitar 270 juta penutur. Menurut Peter Bellwood dalam “The Austronesians in History: Common Origins and Diverse Transformations”, termuat di The Austronesians, Historical and Comparative Perspectives, itu berkisar dari bahasa dengan puluhan juta penutur, seperti Melayu, Jawa, Tagalog, hingga sejumlah besar bahasa dengan hanya sedikit penutur, yaitu ratusan. “Yang terakhir ini sangat lazim di Oceania,” catat dosen arkeologi di School of Archaeology and Anthropology Australian National University itu. Orang-orang yang skeptis mungkin mempertanyakan apakah 270 juta penutur itu berbagi leluhur budaya dan biologis yang sama? Lalu bagaimana orang-orang yang berbicara bahasa dalam rumpun Austronesia saat ini tidak identik secara fisik?
- Awal Kedatangan Manusia ke Nusantara
JEMBATAN darat yang pernah menyatukan Jawa, Sumatra, Kalimantan, dengan daratan Asia, memicu kemungkinan datangnya manusia paling awal ke Nusantara. Yang pertama datang adalah Homo erectus, lalu Homo sapiens. “Kita tak bisa lepas dari pengembaraan manusia di dunia, yang semua datangnya dari Afrika. Kita adalah bagian dari dunia,” kata Herawati Supolo Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Bagi yang tak percaya teori evolusi, sesungguhnya DNA manusia menyimpan kisahnya. “Apa yang ditulis tentang diri kita (di dalam DNA, red.) itu tak ada salahnya. Kebenaran itu bisa dibuktikan,” kata Hera lagi.
- Riwayat Baha’i di Indonesia
MENTERI Agama, Lukman Hakim Saifuddin melalui akun Twitter-nya, @lukmansaifuddin menyatakan bahwa Baha’i merupakan agama dari sekian banyak agama yang berkembang di lebih dari 20 negara. “Baha'i adalah suatu agama, bukan aliran dari suatu agama,” tulis Lukman. “Saya menyatakan bahwa Baha’i adalah termasuk agama yang dilindungi konstitusi sesuai Pasal 28E dan Pasal 29 UUD 1945.” Lukman juga menjelaskan bahwa berdasarkan UU 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama, agama Baha’i merupakan agama di luar Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu, yang mendapat jaminan dari negara dan dibiarkan adanya sepanjang tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan.
- Derita Ahmadi di Pakistan
PARA ulama dari 124 negara, yang tergabung dalam lembaga Rabithah al-Alam al-Islami atau Liga Muslim Sedunia, berkumpul di Kota Makkah, Arab Saudi, pada April 1974. Mereka membahas nasib kelompok yang menamakan diri Ahmadiyah: apakah mereka termasuk dalam golongan Islam atau bukan? Setelah lima hari bermuktamar, para ulama memutuskan Ahmadiyah bukan termasuk dalam golongan Islam. “Qadianiyah atau Ahmadiyah adalah sebuah gerakan bawah tanah yang melawan Islam dan muslim dunia, dengan penuh kepalsuan dan kebohongan mengaku sebagai sebuah aliran Islam,” cetus para ulama kala itu. Fatwa itu berdasar pada keyakinan bahwa Ahmadiyah tak sesuai dengan keyakinan Islam. Para Ahmadi –sebutan bagi para pemeluk Ahmadiyah– dinilai melenceng karena meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, meyakini kitab suci selain Al-Qur'an, tak meyakini jihad dengan “pedang”, dan berbagai pelanggaran lain yang tak sesuai dengan akidah Islam.
- Ahmadiyah di Indonesia
SEORANG lelaki telungkup bersimbah darah. Sekarat tak berdaya. Seperti belum puas, beberapa orang beringas yang berdiri mengelilinginya memukulkan lagi sebilah bambu. Plak!! Sebuah pukulan mengenai bagian belakang kepala lelaki malang itu sekaligus mengakhiri riwayat hidupnya. Pekik takbir terus menggema, merayakan kematiannya. Adegan itu tampak dari sebuah tayangan video insiden berdarah di Cikeusik, Pandeglang, Banten (6/2) lalu dan sekaligus terparah semenjak tiga tahun terakhir. Kehadiran Ahmadiyah di Indonesia tak terlepas dari peran tiga pemuda dari Sumatera Thawalib, sekolah Islam modern pertama di Indonesia, yang merantau ke India. Seperti dikutip dari laman resmi Ahmadiyah, alislam.org, ketiga pemuda itu adalah Abubakar Ayyub, Ahmad Nuruddin dan Zaini Dahlan. Kedatangan mereka kemudian disusul oleh 20 pemuda Thawalib lainnya untuk bergabung dengan jamaah Ahmadiyah. Pada 1925 Ahmadiyah mengirim Rahmat Ali ke Hindia Belanda. Ahmadiyah resmi menjadi organisasi keagamaan di Padang pada 1926. Sejak saat itulah Ahmadiyah mulai menyebarkan pengaruhnya di Indonesia. Ahmadiyah berhasil meraih pengikut dari kalangan terdidik yang bisa dengan cepat menerima ajarah Mirza Ghulam Ahmad. Namun demikian masuknya Ahmadiyah ke Indonesia menuai respons dari beberapa kalangan. Perdebatan pun terjadi di mana-mana. Sebagian kelompok muslim lain menganggap pengikut Ahmadiyah sesat karena mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad yang sama artinya menafikan bahwa Muhammad SAW sebagai nabi terakhir.
- Ahmadiyah dan Sukarno
ENDEH, 25 November 1935, rasa gundah datang menyelimuti Sukarno. Sudah beberapa hari pikirannya begitu terbebani oleh sebuah surat dari kawannya, A. Hassan, di Bandung. Pasalnya, ia dituduh telah mendirikan cabang Ahmadiyah di Sulawesi. Bahkan menjadi propagandis untuk penyebaran Ahmadiyah di wilayah itu. Menurut sang kawan, berita tentang hubungan dirinya dan Ahmadiyah pertama kali tersebar di surat kabar Pemandangan, pada sebuah kolom berita singkat. Mengingat surat kabar yang dimaksud baru sampai di Endeh tiga sampai empat hari, Sukarno belum sempat membacanya. Namun ia sangat yakin dengan kabar dari kawan yang dipercayainya itu. Kerisauan Bung Karno kemudian dituangkan di dalam sebuah surat berjudul “Tidak Percaya Bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi”, yang dimuat dalam Di Bawah Bendera Revolusi Jilid Pertama. Sukarno tidak habis pikir bagaimana bisa tuduhan sebagai propagandis Ahmadiyah di Sulawesi ini dialamatkan kepadanya, sedangkan di dalam pengasingan ia tidak bisa begerak secara bebas. Sukarno lalu meminta kepada A.Hasan untuk membantunya membantah segala berita tentang dirinya di surat kabar Pemandangan.





















