Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Perayaan Natal Tiap Presiden
Perayaan Natal tingkat Nasional selalu diadakan dan dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia, sejak era Presiden Sukarno hingga Joko Widodo. Bagaimana tiap-tiap Presiden RI merayakan natal?
- Akhir Hayat Sang Teknokrat
IBU Pertiwi berduka. Salah satu putra terbaik, seorang teknokrat dan negarawan Bacharuddin Jusuf Habibie berpulang ke Rahmatullah. Sang “Bapak Pesawat” menutup hayatnya di usia 83 tahun pada Rabu (11/9/2019) sekira pukul 18.05 WIB di RPSAD Gatot Subroto, Jakarta. Sang Presiden RI ketiga itu bakal selalu dikenang kiprah dan baktinya sepanjang hidupnya. Habibie lahir di Parepare, 25 Juni 1936 dari pasutri blasteran Gorontalo-Jawa, Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA Tuti Marini Puspowardojo. Sejak kecil ia sudah tergolong kutu buku. Saking sukanya membaca, tulis A. Makmur Makka dalam True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan, Sri Sulaksmi, kakak pertama Habibie, mesti memaksanya untuk mau bermain dengan anak-anak sebayanya.
- Pidato Presiden B.J. Habibie yang Mengakui Kekerasan Seksual dalam Kerusuhan Mei 1998
TIDAK hanya sekali Presiden B.J. Habibie menyampaikan kecaman terhadap kekerasan seksual yang dialami sejumlah perempuan dalam kerusuhan Mei 1998. Habibie menyampaikan pernyataan resmi mengutuk kekerasan dalam kerusuhan Mei 1998, termasuk kekerasan terhadap perempuan, pertama kali dalam konferensi pers yang disiarkan langsung oleh saluran televisi pada 15 Juli 1998. Presiden Habibie kembali mengakui dan mengecam kekerasan dalam kerusuhan Mei 1998 ketika menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka HUT ke-53 Republik Indonesia di depan DPR/MPR RI pada 15 Agustus 1998. Dalam pidato pertamanya di hadapan DPR/MPR RI sejak menjabat sebagai presiden, Habibie berbicara panjang lebar mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dalam kerusuhan Mei 1998.
- Presiden B.J. Habibie Mengecam Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Kerusuhan Mei 1998
MENTERI Kebudayaan Fadli Zon menyebut kekerasan seksual terhadap perempuan dalam kerusuhan Mei 1998 sebagai rumor. Pernyataan politikus Partai Gerindra tersebut menuai kecaman dari masyarakat. “Betul enggak ada perkosaan massal? Kata siapa itu? Enggak ada buktinya. Itu adalah cerita. Kalau ada tunjukkan. Ada enggak di dalam buku sejarah itu? Kan tidak pernah ada. Rumor-rumor seperti itu, menurut saya, tidak akan menyelesaikan persoalan,” kata Fadli Zon saat membahas proyek penulisan ulang sejarah Indonesia bersama jurnalis senior sekaligus pemimpin redaksi IDN Times, Uni Zulfiani Lubis, di kanal youtube IDN Times pada Rabu, 10 Juni 2025. Sebelumnya, proyek penulisan ulang sejarah Indonesia oleh tim bentukan Kementerian Kebudayaan dikritik sejumlah aktivis dan sejarawan karena dikhawatirkan mengaburkan sejumlah peristiwa sensitif di masa lalu, khususnya sejarah perempuan dan kasus-kasus pelanggaran HAM berat, seperti kerusuhan Mei 1998.
- Empat Tokoh Idola Habibie
BANYAK orang di negeri ini mengagumi Presiden Republik Indonesia ke-3 itu, baik sebagai ahli teknologi maupun tokoh politik. Prestasinya begitu membanggakan, hingga sosoknya digandrungi. Namun di balik tokoh yang diidolakan banyak orang ini ternyata ada sosok-sosok lain yang menjadi panutannya. Dalam otobiografinya, Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia menuju Demokrasi, Habibie pernah mengungkapkan kekagumannya kepada sejumlah tokoh nasional. “Seperti setiap orang, saya juga memiliki idola, selain orang tua yang melahirkan dan membesarkan saya,” ungkap Habibie.
- Curhat Habibie ke Nasution
SEKALI waktu Profesor Bacharuddin Jusuf Habibie mendatangi Jenderal TNI (Purn.) Abdul Haris Nasution. Saat itu, Nasution belum lama pensiun dari TNI. Seingatnya pertemuan dengan Habibie terjadi pada awal 1970. Habibie sendiri kala itu tengah menjabat sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). “Habibie datang mengeluh kepada saya. Dengan idealismenya telah ia programkan pembuatan pesawat-pesawat keperluan pertanian (penyemprotan) yang diperlukan oleh program Bimas (Bimbangan Massal Penyuluhan Pertanian) kita, dan ia usahakan kredit dari Jerman untuk itu,” kenang Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 8: Masa Pemancangan Orde Pembangunan.
- Habibie dan Industri Strategis
Habibie meninggalkan banyak warisan di bidang industri strategis. Bahkan sejak sebelum ia jadi menteri.
- Tarumanagara Menurut Naskah Wangsakerta dan Berita China
AWAL mula kemunculan Tarumanagara sebagai sebuah kerajaan pertama di Pulau Jawa masih jadi perdebatan para ahli dan sejarawan. Konsensus hanya meyakini Tarumanagara berumur tak lebih dari tiga abad. Namun bagaimana keruntuhannya, masih terdapat perbedaan kisah. Aneka sumber sejarah menyebutkan Tarumanagara eksis dari abad ke-4 hingga abad ke-7 Masehi (M). Dari temuan-temuan arkeologis berupa tujuh prasasti pun hanya tersebut satu nama penguasanya yang bisa dibuktikan secara pasti: Raja Purnawarman. Satu naskah yang populer mengisahkan tentang muasal hingga keruntuhan Tarumanagara adalah Wangsakerta. Naskah Wangsakerta adalah kumpulan naskah yang dihimpun oleh sebuah panitia yang dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta atas amanat Panembahan Girilaya, Kesultanan Cirebon.
- Warisan Habibie untuk Indonesia
INDONESIA baru saja beduka. Bangsa ini kembali harus kehilangan salah satu putra terbaiknya . Rabu (11/9), pukul 18.05 WIB di Rumah Sakit Gatot Subroto, Bacharuddin Jusuf Habibie tutup usia. Menurut keterangan Thareq Kemal Habibie, putra kedua Habibie, penurunan fungsi jantung menjadi sebab Habibie meninggal. Ucapan duka cita untuk Presiden RI ke-3 itu terus berdatangan dari seluruh lapisan masyarakat. Di lini masa Twitter doa terus mengalir dari warganet. Melalui akun pribadinya @jokowi, Presiden Joko Widodo pun ikut mengirim . “Bangsa ini kehilangan seorang putra terbaik, yang hidupnya didedikasikan bagi kemajuan Indonesia. Semoga kita dapat melanjutkan cita-cita Pak Habibie membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju,” tulisnya.
- Habibie Disayang Lalu Tidak Diacuhkan
B.J. HABIBIE terkenal karena kejeniusannya. Hal itu pula yang membuat Soeharto tertarik padanya. Ketika pulang dari Jerman tahun 1974, Habibie diminta membantu pembangunan industri. Dia diserahi tanggung jawab membangun industri pesawat di Industri Pesawat Terbang Nusantara/IPTN (kini PT Dirgantara Indonesia/PT DI). Selain itu, Habibie juga dipercaya mengelola industri-industri strategis: Galangan kapal, senjata ringan, pemetaan dari udara oleh Angkatan Udara, baja, pusat reaktor energi nuklir, dan pembentukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). “Tahun 1974, ketika Habibie kembali ke Indonesia dari Jerman, Presiden Soeharto menganggapnya sebagai seorang genius yang harus dilindungi demi masa depan Indonesia. Soeharto menugaskan Benny untuk menjaga Habibie,” kata Jusuf Wanandi dalam bukunya Menyibak Tabir Orde Baru.
- Cinta Mati Ainun-Habibie
BAGI BJ Habibie, Hasri Ainun Besari bukanlah orang asing. Keduanya saling kenal sejak kecil. Rumah mereka di Bandung berdekatan. Kakak Ainun bahkan teman main kelereng Habibie. Menghabiskan masa kecil di Bandung, Habibie dan Ainun masuk ke SMA yang sama (SLTA). Habibie yang merupakan kakak kelas Ainun, selalu jadi siswa paling kecil dan muda di kelasnya. Guru dan teman-teman sering meledek dan menjodoh-jodohkan mereka berdua. Ainun primadona di sekolah waktu itu. Banyak murid lelaki mengagumi Ainun. Habibie ternyata juga tertarik padanya sejak duduk di bangku SMA. Pada teman sekelasnya, Wiratman Wangsadinata, Habibie berkata, “Wah cakep itu anak, si item gula Jawa,” kata Habibie seperti dikisahkan A Makmur Makka dalam The True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan.
- Pejuang Tanah Karo Hendak Bebaskan Bung Karno
BERASTAGI merupakan kota kecil berhawa sejuk di dataran tinggi Tanah Karo, Sumatra Utara. Orang-orang Belanda dulu banyak membangun vila atau pesanggrahan di sana sebagai tempat berlibur. Biasanya pejabat pemerintah kolonial atau tuan perkebunan di Medan memboyong serta keluarga mereka ke Berastagi untuk berakhir pekan. Pada akhir tahun 1948, Presiden Sukarno juga pernah tinggal beberapa hari di Berastagi. Tapi, kunjungan Bung Karno ke Berastagi bukan untuk bervakansi sebagaimana penggede Belanda tempo dulu. Sukarno bersama Haji Agus Salim dan Sutan Sjarir dipindahkan dari Yogyakarta ke Berastagi sebagai tawanan setelah Belanda melancarkan agresi militernya yang kedua.





















