Hasil pencarian
Cari di situs ini
10073 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kala Semangka Menyulut Kerusuhan di Panama
MALAM itu, 15 April 1856, sebuah kapal yang bersandar di Pelabuhan Panama dijadwalkan berlayar menuju Amerika Serikat (AS). Namun, ombak besar membuat jadwal pelayaran kapal tersebut dibatalkan. Para penumpang yang telah berkumpul untuk naik ke atas kapal mulai meninggalkan pelabuhan. Beberapa di antaranya memanfaatkan penundaan pelayaran itu untuk membeli minuman di bar yang ada di kota. Tak ada yang berbeda di pusat kota Panama pada malam itu. Hotel dan restoran terisi penuh, sementara sejumlah bar tampak sibuk melayani tamu-tamu yang terus berdatangan. Para penjual buah-buahan, minuman ringan, dan lain-lain juga sibuk memenuhi permintaan yang ada. Hiruk-pikuk di kota tersebut berubah menjadi mencekam ketika seorang pelancong asal AS bernama Jack Oliver mengambil sepotong semangka dari kios pedagang lokal bernama José Manuel Luna. Setelah mencicipi semangka yang diambilnya, Oliver yang tengah dalam keadaan mabuk segera melemparkannya ke tanah dan menolak untuk membayar harga yang diminta oleh Luna. Sikap Oliver membuat sang pedagang buah tak terima hingga memicu perkelahian di antara keduanya. Tak butuh waktu lama hingga perkelahian itu menarik perhatian sejumlah pasang mata yang berkumpul di dekat kios milik Luna. Keadaan semakin memburuk ketika suara tembakan terdengar.
- Memori Manis Johan Neeskens
SATU per satu generasi skuad total football timnas Belanda era keemasan (1970-an) berpulang. Setelah Dick Nanninga pada 2015, Johan Cruyff pada 2016, Rob Rensenbrink pada 2020, dan doelman (kiper) Jan Jongbloed pada 2023, kabut duka kini menaungi kepergian Johan Neeskens.
- Saat Bajak Laut Prancis Menguasai Padang
PERNAH sekali Padang “ditawan” selama dua minggu lebih oleh Prancis. Bukan oleh tentaranya, tetapi segerombolan bajak laut. Dipicu perang Revolusi Prancis, wilayah pantai barat Sumatra menjelma menjadi teater pertempuran. Corsairs, bajak laut yang diberi izin oleh Prancis untuk merampok musuh-musuh Prancis, bermunculan dan menebar teror.
- Liangan Bukan Permukiman Gersang
SITUS Liangan seakan menyeruak di tengah lahan pertanian yang hijau di Dusun Liangan, Purbosari, Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah. Tanah bekas galian terlihat di mana-mana. Situs itu tak ubahnya tanah lapang yang kosong, kecuali struktur batu-batu kuno yang menyembul di sana-sini. Padahal, penelitian arkeologi menunjukkan permukiman Liangan kuno itu dulunya indah, rimbun, dan dihiasi bermacam tanaman. Pada 2015, tim Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta menemukan kembali jejak-jejak pepohonan dan sisa-sisa lahan pertanian Liangan masa lalu. Berdasarkan sampel sisa serbuk sari (pollen) yang dikumpulkan dari beberapa tempat, tampaknya masyarakat kala itu telah menata permukimannya sedemikian rupa. Di pinggiran jalan batu yang kini membelah permukiman, terdapat jejak pohon pinus. Di sekitaran bangunan candi dan batur ditemukan jejak bunga kantil dan pohon jambu.
- Pekerjaan Aneh yang Diimpikan Bangsawan Kerajaan Inggris
ADA beragam pekerjaan unik dan tak umum yang pernah ada di dunia. Salah satu yang terbilang aneh namun memiliki banyak peminat –bahkan peminatnya merupakan bangsawan kerajaan– adalah groom of the stool. Pernahkah anda mendengar pekerjaan yang populer di Inggris pada periode Tudor ini? Groom of the stool merupakan salah satu jabatan yang ada di istana kerajaan. Menurut Margo DeMello dalam On the Job: An Encyclopedia of Unique Occupations around the World, mereka yang ditugaskan untuk melakukan pekerjaan ini memiliki posisi yang penting di istana karena memiliki keintiman dengan sang penguasa.
- Menteri Nadiem: Masih Banyak Benda Bersejarah Indonesia yang Belum Dikembalikan
SEPERTI telah digaungkan kepada publik sebelumnya, sebanyak 288 benda cagar budaya Indonesia akhirnya pulang ke tanah air pada tahun ini. Namun, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim mengatakan benda-benda warisan sejarah Indonesia masih banyak yang berada di luar negeri. Pernyataan itu disampaikan Nadiem dalam peresmian pembukaan kembali Museum Nasional Indonesia kemarin (10/1).
- Sultan Aman Setelah Pertempuran Tempel 1883
TAK nyaman tinggal istana sepeninggal Sultan Hamengkubuwono (HB) V suaminya, sang permaisuri GKR Sekar Kedaton memilih keluar. Tapi bukan kenyamanan semata yang ingin dikejarnya. Ada hal lebih penting yang ingin ia kejar dengan keluar.
- Sastra Melayu Tionghoa, Pelopor Sastra yang Merana
CIKAL bakal novel modern Indonesia bukanlah Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1920. Namun, Tjhit Liap Seng karya Lie Kim Hok yang diterbitkan Bintang Tujuh tahun 1886. Bukan hanya yang pertama. Sastrawan Tionghoa juga produktif.
- Salib Lombok dari Belanda Pun Dirampas Juga
SALIB pattee (pola silang) –seperti Iron Cross yang umum di Eropa– berbahan perunggu itu memiliki relief seorang perempuan di tengahnya. Pada masing-masing lengannya terdapat huruf. Jika dirangkai, huruf-huruf itu akan berbunyi “Hulde Aan Leger En Vloot”, yang artinya penghormatan kepada tentara dan armada.
- Soemitro dan Ali Moertopo, Kisah Duel Dua Jenderal
DUA jenderal penting bertarung di awal Orde Baru: Jenderal Soemitro versus Mayjen Ali Moertopo. Soemitro adalah panglima Kopkamtib merangkap wakil panglima ABRI. Sementara Ali, perwira intelijen merangkap Asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto.
- Baku Hantam Soemitro dengan Kenpeitai Jepang
SEJAK usia belasan, Soemitro telah keluar dari rumah. Dia tidak tinggal lagi bersama orang tuanya. Soemitro berkelana berjalan kaki. Seperti pendekar di cerita silat, dia berguru ke mana-mana mempelajari ilmu kanuragan. Dihadang di tengah jalan, bergelut dengan orang, hingga dikeroyok sudah biasa dilakoninya.
- Sejarah Gambang Kromong dan Wayang Potehi
UNTUK menyambut pembebasan Nie Hoe Kong, seorang Kapitan Cina di Batavia, dari pembuangan di Makassar pada 1743, sebuah pesta khusus digelar. Pertunjukan orkes gambang ikut memeriahkan suasana.





















