Hasil pencarian
Cari di situs ini
10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Paradoks Serat Centhini
DALAM sejarah Nusantara pra-kolonial, seksualitas bukan sesuatu yang tabu. Pun keragaman seksualitas. Banyak dokumen sejarah dan tradisi masa lampau menggambarkan keragaman ini dengan gamblang. Salah satunya dalam salah satu karya sastra Jawa terkemuka Serat Centhini.
- Rekonsiliasi Kecil di Hutan Plumbon
TANGIS Sri Murtini pecah di hutan jati Plumbon, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Tangis yang tersebab perasaan campur aduk antara sedih, gembira, dan lega. Setelah hampir 50 tahun mencari, itulah kali pertama Sri menemukan keberadaan ayahnya, Joesoef Setijo Widagdo. Pertemuan yang pilu, karena Joesoef telah mati, dan jasadnya terpendam di tanah.
- Peran Bung Karno Temukan Makam Imam Bukhari
SALAH satu kebiasaan unik Presiden Sukarno saat berkunjung ke luar negeri yaitu melakukan ziarah di pusara tokoh-tokoh dunia, termasuk para tokoh dan ulama besar Islam. Selain pernah berziarah di makam Nabi Muhammad tahun 1955, Bung Karno pernah berziarah di makam Salahudin Ayubi, Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, dan beberapa tokoh Islam lainnya.
- Penulis Buku Perjalanan Wartawan Pertama
DI kalangan wartawan Indonesia, nama Adinegoro dikenal sebagai nama sebuah penghargaan jurnalistik yang diberikan kepada para wartawan Indonesia sejak pertengahan tahun 1970-an. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Adinegoro –dianugerahi gelar Perintis Pers Indonesia pada 1974– adalah orang Indonesia pertama yang menempuh kuliah jurnalistik di Jerman pada 1926. Karya tulisnya yang berjudul Melawat ke Barat mungkin bisa dikatakan sebagai buku pertama yang menulis kisah perjalanan wartawan Indonesia ke luar negeri. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka dalam tiga jilid pada tahun 1936.
- Pembantaian Tambun Angke 1947
PEREMPUAN sepuh itu bertutur dalam nada duka. Sambil bersuara lirih dan gemetar, dia mengisahkan sebuah pembantaian yang pernah terjadi di kampungnya: Tambun Sungai Angke. Ya, sekitar 70 tahun lalu, di kawasan yang sekarang terkenal sebagai desa Pahlawan Setia (masuk dalam wilayah Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi), sang maut merengut nyawa puluhan warganya. “Termasuk Kopang, mamang (paman) saya yang merupakan tokoh masyarakat di sini,” ujar Gerot (93).
- Menimbang Tafsir Bung Karno
DALAM pidatonya bertajuk To Build the World Anew itu, Bung Karno antara lain mengungkapkan kelemahan-kelemahan PBB, seperti tampak pada keanggotaan Dewan Kemanan yang tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara di Asia dan Afrika.
- Inilah Penjahat Sepakbola
BOLA melambung, mendekat mulut gawang. Kiper Inggris Peter Shilton mencoba menghalau. Tapi pada saat bersamaan Maradona melompat dan … gol! Wasit meniupkan peluit, mengesahkan gol itu. “Tangan Tuhan” telah membantunya. Empat menit kemudian, Maradona menggiring bola dan melewati lima pemain Inggris sejauh hampir tiga perempat lapangan.
- Menggugat Citra Kolonial
RATU Kencono Wulan memang hanyalah permaisuri ketiga Sultan Hamengkubuwono II. Namun, berkat kecantikan dan kepintarannya, dia begitu berkuasa di kesultanan Yogyakarta pada awal abad ke-19.
- Perjanjian Diplomatik Indonesia-Rusia yang Dilupakan
KISAH hubungan dua negeri ini diwarnai pasang surut. Masa-masa bulan madu hubungan Indonesia-Uni Soviet terjadi pada era pemerintahan Sukarno. Hubungan itu kian merenggang saat Soeharto memimpin negeri ini.
- Ki Bagus Hadikusumo Penggerak Generasi Pertama Muhammadiyah
KI Bagus Hadikusumo tak bisa dilepaskan dari Muhammadiyah. Bahkan, dengan keberanian dan kesungguhan hati, dia pernah memimpin organisasi Islam yang besar ini melewati masa-masa sulit. Dia begitu mencintai Muhammadiyah, hingga akhir hayatnya.
- Jungkir Balik Nico Thomas di Arena Tinju (Bagian I)
“BETA mau jadi kayak Muhammad Ali,” ucap Ellyas Pical muda di potongan film seri biopik Ellyas Pical. Nama Muhammad Ali memang acap jadi junjungan petinju sekolong langit. Namun, sejatinya Ellyas Pical juga kerap jadi idola banyak petinju tanah air sejak 1980-an hingga kini, tak terkecuali Nico Thomas.
- Jalan Tentara India di Medan Membelot ke Indonesia
SETELAH Jepang angkat kaki dari Kota Medan, masuklah tentara Sekutu. Kedatangan Sekutu untuk membebaskan tawanan perang sekaligus melucuti senjata orang Jepang yang masih tersisa. Kontingen pertama pasukan Sekutu berasal dari Brigade ke-4 Divisi India yang memasuki Medan pada 9 Oktober 1945.





















