top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Gedoran Corregidor

    PERASAAN Letjen Masaharu Homma membuncah. Malam itu, 6 Mei 1942, ia sudah ditunggu tamu “istimewa” di teras sebuah rumah bertembok putih di pesisir Bataan, Filipina. Namun Panglima Tentara Angkatan Darat (AD) ke-14 Jepang itu mesti menjaga sikapnya sebagai pihak pemenang. Homma sengaja membuat tamunya, Letjen Jonathan Mayhew Wainwright IV, komandan pasukan Amerika Serikat di Filipina (USFIP), menunggu dengan cemas sedari pukul 4 hingga pukul 6 petang. Walau Wainwright sudah menyiarkan menyerahnya pasukan gabungan Amerika dan Filipina pada siangnya, serdadu Jepang belum berhenti bermanuver. Sejak memulai invasi ke Corregidor, sebuah pulau benteng yang jadi kubu pertahanan terakhir Amerika di Filipina, pada dini hari 5 Mei 1942, sedikit demi sedikit tentara Jepang menerabas perimeter-perimeter pertahanan. Walau sudah mendengar siaran menyerahnya Wainwright pada pukul 11 siang 6 Mei 1942, Homma belum berniat menghentikan laju pasukannya yang nyaris mencapai markas bawah tanah Wainwright di Bukit Malinta, Pulau Corregidor atau dalam catatan resmi Amerika bernama Fort Mills. “Akhirnya setelah menunggu sejam lagi (pukul 7 malam) Homma tiba dengan sedan Cadillac-nya yang mengkilap. Tampak medali-medali memenuhi bagian dada di seragamnya, ditambah sebilah pedang dengan ukiran cantik, lantas diikuti tiga ajudannya,” ungkap Bill Sloan dalam Undefeated: America’s Heroic Fight for Bataan and Corregidor. Homma memilih tak memandang jenderal ceking berkacamata yang berdiri menyambutnya di teras rumah itu. Dengan langkah congkak, Homma lugas menuju kursi di ujung meja yang sudah disiapkan untuknya. Sorot mata tanpa ekspresinya sontak bikin lawannya di seberang meja kian merasa inferior. Ia baru melirik ke arah Wainwright ketika menerima “operan” berkas penyerahan dari Wainwright. “Jenderal Homma menjawab bahwa pihaknya tidak akan menerima kapitulasi ini jika tidak mencakup semua pasukan Amerika dan Filipina di seantero Kepulauan Filipina,” cetus sang penerjemah menyambungkan lidah Homma. Letjen Masaharu Homma (kiri) & Jenderal Wainwright kala menyiarkan kapitulasi Amerika di Filipina (Foto: Repro "Hijima haken-gun: Philippine Expeditionary Force") Sang lawan sempat balik berargumen, ia bersedia menyatakan penyerahan di empat pulau benteng semata (Fort Mills/Corregidor, Fort Hughes/Pulau Caballo, Fort Drum/El Fraile, dan Fort Frank/Carabao). Homma enggan kalah argumen. Dengan nada mengancam, Homma memberitahu Wainwright bahwa pasukannya sudah sampai di sisi timur akses markasnya di Bukit Malinta. “Tembak-menembak akan terus berlanjut kecuali syarat penyerahan Jepang diterima,” kata Homma tegas sambil meninggikan nada suaranya kepada Wainwright. Dengan berat hati, Wainwright membuat dokumen kapitulasi baru dan diteken sesuai permintaan Homma. Air mata Wainwright mengucur deras mengiringi kejatuhan resmi Filipina ke tangan Jepang sekaligus mengakhiri kampanye invasi Filipina-nya Jepang sejak 8 Desember 1941 dengan gilang-gemilang. Corregidor Benteng Terakhir Kejatuhan Corregidor sudah jadi keniscayaan mengingat pada 9 April pertahanan kuat Amerika dan Tentara Persemakmuran Filipina di Bataan ambruk. Bahkan panglima tertinggi pasukan Amerika di Filipina Jenderal Douglas MacArthur sudah lebih dulu kabur dari Corregidor pada Maret 1942. Bataan pun jatuh ke tangan Jepang berkat kegemilangan Homma. Kendati begitu, para atasannya di Tokyo masih mendesaknya untuk menghabisi sisa-sisa kekuatan Amerika di Corregidor sebelum bisa menguasai ibukota Manila secara penuh demi mendirikan negara boneka. Homma mulanya meyakini bahwa hanya dengan serangan-serangan udara dari Bataanlah pertahanan Amerika di Corregidor mau menyerah. Pasalnya, Homma juga mesti “mengistirahatkan” pasukannya yang menerima perlawanan sengit dalam Pertempuran Bataan (7 Januari-9 April 1942). Tetapi Tokyo tetap menghendaki Corregidor, yang dijuluki “Gibraltar dari Timur”, tetap harus digedor dan direbut dari darat. Pasukan artileri gabungan Amerika dan Filipina di salah satu baterai pertahanan Corregidor (Foto: Repro "The Fall of the Philippines") Menukil Louis Morton dalam The Fall of the Philippines , saat itu Corregidor diperkuat sekira 13 ribu prajurit gabungan Marinir, Angkatan Darat, dan Angkatan Laut Amerika, serta dua resimen artileri pantai pasukan Persemakmuran Filipina. Wainwright juga memanfaatkan jalur-jalur terowongan bawah tanah yang saling berhubungan dengan pusat di markasnya terowongan Bukit Malinta. Pertahanan utamanya digantungkan pada keandalan 56 meriam pantai, mulai dari meriam tiga inci hingga 12 inci yang disebar menjadi 23 baterai, ditambah 13 meriam anti-udara yang kesemuanya mengarah ke Bataan, mengingat kubu itu sudah direbut Jepang sejak 9 April 1942. Yang jadi kepusingan Wainwright adalah soal suplai makanan dan obat-obatan. Udara sudah dikuasai Jepang dengan ratusan pesawatnya dari Brigade Udara ke-22 yang setiap hari melayang-layang di atas Corregidor. Kadang mereka menjatuhkan bom, kadang menjatuhkan tumpukan selebaran bujukan penyerahan diri. Ransum air untuk minum sampai dibatasi sekali dalam dua hari per prajurit. Pasukan Jepang mendarat dalam dua gelombang ke pantai-pantai Corregidor (Foto: malacanang.gov.ph ) Sementara di pihak Jepang, Homma mulai mengonsolidasikan pasukannya lagi di Bataan. Selain mengerahkan pasukan kepercayaannya, AD ke-14, Homma juga mendapat tambahan pasukan segar: Divisi Infantri ke-4 dan Resimen Tank ke-7 dengan total 75 ribu personil. Sudah dari jauh-jauh hari Wainwright mengingatkan pada dua jenderal lapangannya, George F. Moore dan Samuel L. Howard, untuk menyiagakan pasukannya setiap waktu, utamanya di malam hari. Pasalnya Wainwright meyakini Jepang bakal berusaha mendarat memanfaatkan keadaan gelap gulita walau hari-H belum diketahui. Benar saja, pada kegelapan 5 Mei 1942 sekira pukul 11.30 malam, dari arah laut sejumlah kapal pendarat Jepang melipir dan menumpahkan ratusan serdadu gelombang pertama dari Divisi Infantri ke-4 ke pesisir North Point di timur Corregidor. Dimulailah gedoran yang diikuti pertempuran sengit berebut benteng terkuat terakhir Amerika di Filipina itu. “Gelombang pertama itu berkekuatan 800 serdadu dan mendapat perlawanan sengit dari pasukan Resimen ke-4 Marinir Amerika di North Point. Itu jadi serangan pertama ke arah timur, sementara pada paginya, bakal diterjunkan 2.300 prajurit lain mengarah ke sisi barat Corregidor di bawah komando Jenderal (Kuneo) Taniguchi,” sambung Sloan. Manuver pasukan Jepang yang menerobos perimeter-perimeter pertahanan Corregidor (Foto: malacanang.gov.ph ) Pasukan gabungan Amerika dan Filipina terpaksa mundur teratur, baik di kubu pertahanan North Point maupun Cavalry Point. Meski meriam-meriam dan mortir Amerika terus menyalak hingga menjatuhkan korban tak sedikit di pihak Jepang, laju pihak agresor tak terbendung. Pertempuran paling alot terjadi saat pasukan Amerika dan Filipina mundur dan mengonsolidasikan diri di Baterai Denver. Sekira dua ribu serdadu Jepang menerjang lawan yang hanya tinggal berkekuatan 500 serdadu Marinir, kelasi AL Amerika, dan sisa-sisa pasukan artileri Filipina pada pukul 4.30 pagi. Segala macam senjata dan pertarungan turut bermain. Bahkan, tak jarang terjadi pertarungan jarak dekat memanfaatkan popor senapan atau bayonet. Namun perlawanan Amerika-Filipina akhirnya runtuh juga setelah tank-tank Jepang berdatangan sekira pukul 9.30 pagi. Pasukan Amerika-Filipina yang tersisa harus mundur lagi tepat di perbatasan timur akses menuju Bukit Malinta yang jadi markas Wainwright. Pasukan Jepang menurunkan bendera Amerika untuk diganti bendera "Hinomaru" di Corregidor (Foto: malacanang.gov.ph ) Merasa sudah kalah, sang jenderal mengirim siaran radio kepada Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt, bahwa keadaan memaksanya untuk menyerah ketimbang menumpahkan lebih banyak darah prajuritnya. “Dengan hati yang hancur dan kepala tertunduk dalam kesedihan, saya melaporkan pada Anda, Yang Mulia, bahwa harus mengatur syarat penyerahan pulau benteng di Teluk Manila ini,” ungkap Wainwright dalam siarannya pada pukul 10.30, dikutip Sloan. Bendera-bendera Amerika yang tersisa terpaksa dibakar agar tak jatuh ke tangan serdadu Jepang yang bakal menjadikannya souvenir kebanggaan. Ia lantas memerintahkan beberapa prajuritnya membuat bendera putih dari sprei-sprei di barak prajurit untuk kemudian dibawa seiring menyerahkan pesan gencatan senjata sebelum kapitulasi resmi di hadapan Jenderal Homma. Pertempuran itu memakan korban masing-masing 800 jiwa di pihak Amerika-Filipina dan 900 di pihak Jepang.

  • Metamorfosis Hadrah Kuntulan

    DI sebuah panggung, dengan latar mirip gapura besar, sembilan lelaki berdiri berjajar sembari membawa rebana. Dalam hitungan detik, mereka menepuk rebana dengan tertib. Di sisi lainnya, ada pula iringan alat musik tambahan seperti tambur. Duduk di bagian ini pula penyanyi perempuan dan lelaki. Kurang dari setengah menit, muncul dari belakang panggung tujuh penari perempuan. Mereka mengenakan baju seragam dominan putih, omprok (mahkota) yang sudah dimodifikasi menjadi satu dengan jilbab, sarung tangan, dan kaos kaki. Para penari membawakan tari rodat sembari melantunkan bait-bait pujian Islami. Mereka unjuk gigi dalam acara Festival Kuntulan Caruk yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi di Taman Blambangan pada Oktober 2019. Festival ini diikuti puluhan grup kuntulan tingkat SLTA se-Banyuwangi. Gema syair-syair islami, rancak tabuh hadrah, dan aksi para penari menimbulkan decak kagum ratusan penonton yang hadir. “Semoga ini bisa menjadi panggung bagi anak-anak muda untuk ambil bagian dalam pelestarian budaya lokal. Kami berharap agar anak-anak Banyuwangi tetap mencintai budaya daerahnya di tengah gempuran budaya asing yang kian kuat,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas . Sejak tahun lalu Festival Kuntulan Caruk telah masuk dalam agenda resmi Banyuwangi Festival (B-Fest). Ini sebagai upaya Pemkab Banyuwangi untuk terus merawat dan melestarikan tradisi Banyuwangi. Tumbuh dari Pesantren Kemunculan kuntulan tak bisa dilepaskan dari perkembangan agama Islam di Blambangan, nama lama Banyuwangi. Ia merupakan perkembangan dari hadrah atau terbangan , aktivitas seni yang tumbuh di kalangan pesantren dalam rangka dakwah. Bentuknya berupa selawatan yang bersumber dari kitab al-Barzanjiy yang berisikan kisah perjalanan Rasulullah, pujian-pujian kepadanya, dan doa-doa. Kesenian hadrah sudah dikenal lama dalam masyarakat Islam di Indonesia. Belum jelas kapan hadrah dikenal di Banyuwangi. Namun John Scholte dalam “Gandroeng van Banjoewangi” (1927) sudah menyebut keberadaan sebuah kesenian bernama “ajrah”, yakni seni dakwah yang menyajikan nyanyian Islami. Menariknya, ajrah disebut mempengaruhi lagu-lagu dalam kesenian gandrung. Banyak pemerhati seni meyakini ajrah yang dimaksud Scholte adalah hadrah. Kristina Novi Susanti dalam “Kesenian Kuntulan Banyuwangi: Pengamatan Kelompok Musik Kuntulan Mangun Kerto”, skripsi pada Program Studi Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2008, menyebut saat itu sudah ada kesenian islami yang menyajkan nyanyian sekaligus tarian sederhana, dengan seorang penari laki-laki yang disebut rudat . Kesenian ajrah dengan penari rudat inilah yang diangap sebagai bentuk awal dari hadrah yang tumbuh di pondok pesantren. Dalam hadrah, instrumen musik yang mengiringinya adalah rebana dan kendang. Gerakan tari, yang dibawakan laki-laki, umumnya menirukan gerakan wudhu, adzan, sholat, dan sebagainya. Pakaiannya serba putih, baik baju, sarung atau celana panjang, maupun peci atau ikat. Sayangnya, hadrah kurang berkembang dan perlahan memudar. Ia kemudian bermetamorfosis jadi kesenian hadrah kuntul atau kuntulan yang lebih menarik. Hal ini tak lepas dari kreativitas seniman Sumitro Hadi untuk kepentingan festival seni di Surabaya tahun 1977. Sumitro Hadi menggunakan penari perempuan dengan kostum berwarna kuning dan warna lain, omprok (penutup kepala) ala penari gandrung, kaos kaki dan kaos tangan. Sumitro Hadi lalu melakukan pengembangan lagi dengan menggabungkan penari laki-laki dan perempuan dalam satu sajian. Kreasi ini sempat populer hingga akhir 1980-an. “Perbedaan wujud yang mendasar yaitu, jika dalam hadrah unsur teks adalah unsur utama sajian dengan musik sebagai iringan, tetapi dalam kuntulan musik dan tarian adalah unsur utama sajian. Bahkan dapat dikatakan sajian tarian lebih dominan,” tulis Ciptono Hadi dalam “Perubahan Hadrah ke Kuntulan: Kajian Aspek Tekstual dan Kontekstual”, skripsi pada Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2013. Pengembangan lebih lanjut dilakukan seniman Sahuni. Dia mengambil unsur musik, tari, dan tembang dalam kesenian tradisi Banyuwangi lainnya, termasuk gandrung. Pengembangan ini diberi nama kundaran ; akronim dari “kun” yang merujuk pada kuntulan dan “daran” yang berarti pengembangan. Nama baru itu populer dan bersanding dengan nama lain seperti kuntulan, kuntari (kuntulan tari), atau hadrah kuntulan. Proses perubahan itu membuat hadrah kuntulan menjadi lebih hidup dan menarik. Sajian hadrah Banyuwangi pernah tampil di TVRI Surabaya pada 28 Januari 1985. Munsief KH dalam “Diperlukan Kreativitas dalam Seni Hadrah”, dimuat majalah Amalbhakti , mengapresiasi kesenian ini. Menurutnya, “jika kita tonton sepintas nampak adanya suatu upaya untuk mendinamisir pola seni hadrah sesuai dengan tuntutan zaman.” Selain itu, jika dibandingkan pola seni hadrah di Surabaya dan sekitarnya, “nampak hadrah dari Banyuwangi lebih dinamis dan beraneka gerak dan langgamnya.” Festival Kuntulan di Taman Blambangan tahun 2016. (Twitter @infobwi). Pesan Islam Selain penyajian secara sendiri, berkembang pula kuntulan caruk – caruk dalam bahasa Osing berarti pertemuan atau bertemu. Dua kelompok kuntulan dihadirkan dalam satu pementasan untuk berkompetisi. Penilaian ditentukan penonton. Akibatnya saling dukung kerap menimbulkan ketegangan. “Pada dekade 1980 hingga 1990-an, Kuntulan caruk merupakan pertunjukan yang selalu menghadirkan suasana ketegangan pertunjukan,” tulis Karsono dalam “Seni Kuntulan Banyuwangi: Keberlanjutan dan Perubahannya”, dimuat jurnal Ikadbudi , Oktober 2014 . Saat ini ketegangan suasana pertunjukan dalam Kuntulan Caruk sudah jarang ditemui. Hingga kini, kuntulan caruk menjadi pertunjukan yang menarik penonton. Setiap tahun digelar Festival Kuntulan Caruk yang mempertemukan berbagai kelompok musik Islami dari seluruh Banyuwangi. Islam yang Santun Di Banyuwangi, pertunjukan kuntulan biasanya tampil pada acara-acara perkawinan, bersih desa, hingga peringatan hari besar keagamaan. Dalam pementasan kuntulan, terdapat sembilan pemain terbang yang terbagi dalam tiga kelompok dan repertoarnya mencakup nyanyian bernapaskan Islam ( qasidah ), lagu-lagu dalam bahasa Osing, dan terkadang lagu pop yang tengah populer. Sejumlah upaya dilakukan Pemkab Banyuwangi untuk merawat kesenian ini. Pada 2011, misalnya, Pemkab Banyuwangi menggelar pagelaran terbangan yang berkolaborasi dengan hadrah kuntulan yang dilakukan 232 orang. Pagelaran ini meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai “Pementasan Terbangan dengan Peserta Terbanyak”. Hadrah kuntulan khas Banyuwangi pun tetap bertahan. Bahkan mengharumkan nama Banyuwangi. Di pentas nasional, kuntulan pernah juara lomba festival di Masjid Istiqlal Jakarta. Kuntulan juga kerap tampil di luar negeri. Awal tahun 2019, 20 seniman muda Banyuwangi tampil membawakan hadrah kuntulan di Festival Janadriyah di Riyadh, Arab Saudi, festival terbesar di kawasan Timur Tengah. Daya tarik kuntulan bisa dilihat pada Festival Hadrah Pelajar Nasional yang digelar di Banyuwangi, Mei 2019. Tampil 13 mahasiswa dari 12 negara peserta program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI). Salah satunya Irati Gutierrez Ugarte asal Bilbao, Spanyol. Dia mengatakan berlatih tari kuntulan merupakan kesempatan baginya untuk mengenal Islam di Indonesia. “Festival ini akan menjadi media untuk merajut silahturahmi dan konsolidasi antar pelajar dan santri dari seluruh nusantara. Sekaligus, lewat festival hadrah dan sholawat ini kami ingin mengirim pesan tentang budaya Islam di Indonesia yang santun, toleran, dan inklusif, dan yang tentunya cinta damai,” ujar Bupati Anas . Festival Hadrah dan Festival Kuntulan Caruk masuk dalam agenda Banyuwangi Festival. Untuk tahun ini semestinya masing-masing akan digelar 9 Mei dan 3 Oktober 2020

  • Empat Penyebar Islam Pra Wali Songo

    PADA abad ke-15, keberadaan agama Islam mulai kuat di Pulau Jawa. Kehadirannya sedikit demi sedikit menggerus eksistensi Hindu-Budha yang telah hadir berabad-abad lamanya. Dianggap lebih mudah diikuti ketimbang ajaran-ajaran sebelumnya, masyarakat pun berbondong-bondong mengikrarkan diri sebagai seorang muslim. Kemunculan Wali Songo (Sembilan Wali) juga turut menguatkan proses islamisasi kala itu. Para alim –seorang berilmu dalam agama Islam– itu menjadi ujung tombak dalam penyebaran ajaran Islam. Sunan Gersik, Sunan Bonang, hingga Sunan Gunung Jati, membangun daerah penyebarannya masing-masing. Mereka menjadi salah satu pembuka jalan era kerajaan Islam di Pulau Jawa. Namun sebelum masa Sembilan Wali, masyarakat di Pulau Jawa telah mengenal tokoh-tokoh penyebar Islam. Syekh Jumadil Qubro misalnya, menjadi leluhur sebagian besar Wali Songo. Di antara ulama-ulama tersebut, berikut empat tokoh yang berhasil dirangkum Historia . Syekh Datuk Kahfi Syekh Datuk Kahfi –nama lainnya Syekh Nurjati atau Syekh Idhofi– dikenal sebagai perintis penyebaran Islam di barat Pulau Jawa, khususnya wilayah Cirebon dan sekitarnya. Lahir di Semenanjung Malaka sekitar abad ke-14, Syekh Datuk Kahfi merupakan putra seorang ulama besar Malaka yakni Syekh Datuk Ahmad. Disebutkan di dalam beberapa naskah, salah satunya Naskah Purwaka Caruban Nagari , Syekh Datuk Kahfi adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Zaenal Abidin. Syekh Datuk Kahfi pernah menuntut ilmu di Makkah sekitar pertengahan abad ke-14. Dari Tanah Suci, dia pergi ke Baghdad, Irak. Di wilayah kekuasaan Persia itu, Syekh Datuk Kahfi memperdalam keilmuannya. Banyak pemikir-pemikir Muslim Persia yang turut mempengaruhi jalan dakwah Syekh Datuk Kahfi ketika berada di Jawa. Di Baghdad ini juga Syekh Datuk Kahfi menikah dengan Syarifah Halimah, adik penguasa Baghdad Syarif Sulaiman. Kedunya dikaruniai empat orang anak, yang kelak mengikuti jejak ayahnya di Cirebon. Syekh Datuk Kahfi lalu diutus oleh Raja Baghdad menyiarkan Islam ke wilayah Nusantara, yang ketika itu menjalin hubungan dagang dengan Persia. Setelah melalui perjalanan yang panjang, Syekh Datuk Kahfi akhirnya sampai di Nusantara, tepatnya Pulau Jawa. Menurut sejarawan Uka Tjandrasasmita dalam Arekologi Islam Nusantara , Syekh Datuk Kahfi dan rombongannya tiba di Pelabuhan Muara Jati, Cirebon pada 1420. Dia diketahui membawa serta 20 laki-laki, dan dua perempuan dalam perjalanan dakwahnya ini. Syekh Datuk Kahfi langsung diterima baik oleh Juru Labuhan Ki Gedeng Jumajanjati (sumber lain menyebut Ki Gedeng Tapa). Dia diberi tempat bermukim di Giri Amparan Jati. “Mereka diterima dengan baik, diberikan tempat, dan dimuliakan oleh Ki Gedeng Jumajanjati,” tulis Uka Tjandrasasmita. Di Amparan Jati, Syekh Datuk Kahfi giat berdakwah. Dia mengenalkan tentang agama Islam di sekitar masyarakat yang masih menganut ajaran Hindu-Budha. Banyak orang dari berbagai daerah yang kemudian berdatangan untuk belajar tentang Islam. Namun jalan dakwahnya ini tidak selalu mulus. Syekh Datuk Kahfi banyak mendapat tantangan, terutama dari Kerajaan Galuh sebagai penguasa Cirebon kala itu. Syekh Datuk Kahfi diketahui menjadi guru bagi putra-putri Raja Sunda Prabu Siliwangi, yakni Raden Walasungsang dan Nyai Rara Santang. Keduanya memilih memeluk Islam setelah memperdalam tentang ajaran tersebut di bawah asuhan Syekh Datuk Kahfi. Raden Walasungsang (bergelar Syekh Duliman) lalu mendirikan tempat dakwah lain di Caruban Larang, tempat berdirinya Kesultanan Cirebon. Walasungsang membantu Syekh Datuk Kahfi dalam penyebaran Islam di Jawa Barat, dan wilayah lainnya. Syekh Maulana Akbar Ulama lain yang menyebarkan ajaran Islam di barat pulau Jawa adalah Syekh Maulana Akbar –nama lainnya Syekh Bayanullah. Adik Syekh Datuk Kahfi ini banyak melakukan dakwah di wilayah Kuningan, Jawa Barat. Tercatat di dalam Naskah Pangeran Wangsakerta , Syekh Maulana Akbar adalah putra dari Syekh Datuk Ahmad, dan cucu Syekh Datuk Isa. Keduanya dikenal sebagai ulama besar Malaka. Syekh Maulana Akbar datang ke Jawa setelah Syekh Datuk Kahfi membangun pusat dakwah di Amparan Jati, Cirebon. Sama seperti kakaknya, Syekh Maulana Akbar juga lahir di Malaka sekitar abad ke-14. Menurut cerita di dalam Naskah Pangeran Wangsakerta , dia menimba ilmu di Makkah sejak usia remaja. Diketahui, Syekh Maulana Akbar lebih dahulu tinggal di Makkah ketimbang Syekh Datuk Kahfi. Di sana dia mendirikan pondok, dan dikenal masyarakat sebagai guru agama sekaligus saudagar. Menurut Bambang Irianto dan Siti Fatimah dalam Syekh Nurjati (Syekh Datul Kahfi): Perintis Dakwah dan Pendidikan, kedatangan Syekh Maulana Akbar di Kuningan bermula dari kunjungan murid Syekh Datuk Kahfi, Walasungsang dan Rara Santang ke Makkah. Dari interaksi itu, dan berbagai cerita yang disampaikan Walasungsang terkait situasi di Nusantara, Syekh Maulana Akbar mulai memiliki keinginan untuk berdakwah ke Jawa, mengikuti jejak kakaknya. Syekh Maulana Akbar juga sempat pergi ke Persia. Sehingga banyak orang yang mengira kalau Syekh Maulana Akbar berasal dari Persia. Syekh Maulana Akabr tiba di Kuningan sekitar tahun 1450. Dia sempat tinggal di Cirebon bersama Syekh Datuk Kahfi. Kemudian memutuskan membangun lingkungan dakwahnya sendiri di Kuningan. Syekh Maulana Akbar mendirikan pondok di Desa Sidapurna, Kuningan. Diceritakan sejarawan Edi S. Ekadjati dalam Sejarah Kuningan: Dari Masa Prasejarah hingga Terbentuknya Kabupaten , Syekh Maulana Akbar menikah dengan Nyi Wandasari, cucu Raja Sunda Prabu Dewa Niskala di Kawali. Dari pernikahan itu lahir seorang putra berama Maulana Arifin. Putranya inilah yang nantinya menggantikan peran Syekh Maulana Akbar dalam menyiarkan Islam di Kuningan setelah dirinya wafat. “… Penduduk setempat mulai banyak masuk Islam atas upaya Syekh Maulana Akbar,” kata Ekadjati. Syekh Jumadil Qubro Syekh Jumadil Qubro dikenal sebagai guru para Wali di Tanah Jawa. Keturunannya kelak banyak yang memangku gelar Wali Songo (sembilan wali), sebagai para pendakwah Islam di Pulau Jawa. Dalam Atlas Wali Songo disebutkan bahwa Syekh Jumadil Qubro merupakan ayah dari Sunan Gresik; kakek dari Sunan Ampel; dan kakek buyut dari Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Syekh Jumadil Qubro lahir di sebuah desa di Samarkhand, Uzbekistan pada pertengahan abad ke-14. Syekh Jumadil Qubro terlahir dengan nama Syekh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Sejak kecil, dia telah mendapat pendidikan agama Islam yang baik dari ayahnya Sayyid Zainul Khusen. Beranjak dewasa, Syekh Jumadil Qubro pergi ke India untuk belajar Tasawwuf dan ilmu agama lainnya. Kemudian Syekh Jumadil Qubro melanjutkan pencarian ilmunya ke Makkah. Berbagai ilmu keislaman diterimanya dari sejumlah ulama besar Makkah dan Madinah. Dalam buku Sejarah Islam Nusantara , Syekh Jumadil Qubro menikah dengan seorang putri dari Uzbekistan dan dikaruniai tiga putra: Maulana Malik Ibrahim, Ibrahim Asmaraqandi, dan Maulana Ishaq. Selain dikenal sebagai pendakwah, Syekh Jumadil Qubro juga seorang saudagar. Ketika sedang berada di Champa, dia berhasil mengislamkan penguasa di wilayah yang sangat kental dengan ajaran Hindu-Budha tersebut. Di sana, Syekh Jumadil Qubro menikahkan Ibrahim Asmaraqandi dengan putri Raja Champa Dewi Candrawulan. Perjalanan lalu berlanjut ke wilayah Samudera Pasai di Aceh. Syekh Jumadil Qubro didampingi oleh putra-putranya saat berdakwah dan berdagang di Nusantara. Syekh Jumadil Qubro tiba di Jawa pada 1399. Dia langsung dihadapi dengan situasi politik kerajaan Majapahit. Ajaran Hindu Budha saat itu pun masih sangat kuat di wilayah Jawa. Untuk beberapa waktu, Syekh Jumadil Qubro melakukan pengenalan ajaran Islam secara perlahan, dan sembunyi-sembunyi. Dia mengalami berbagai kesulitan dalam upaya Islamisasi tersebut, mengingat pengaruh Majapahit. “Kegiatan dakwah secara terang-terangan tidak memungkinkan beliau lakukan, karena hal tersebut tentu akan mengundang kemurkaan kerajaan,” tulis Cholil Nasiruddin dalam Punjer Wali Songo: Sejarah Sayyid Jumadil Kubro . Meski begitu, banyak orang, termasuk kalangan bangsawan, yang akhirnya memilih memeluk Islam dan menjadi murid Syekh Jumadil Qubro. Perlahan upaya Islamisasi di sekitar kekuasaan Majapahit semakin kuat. Banyak masyarakat yang meninggalkan ajaran Hindu-Budha, sehingga pengikut Syekh Jumadil Qubro semakin besar. Pada masa ini juga mulai bermunculan ulama-ulama lain yang melakukan dakwah ke seluruh penjuru Jawa. Syekh Quro Ulama lain yang memberi pengaruh besar kepada penyebaran Islam di Pulau Jawa adalah Syekh Quro –nama lainnya Syekh Mursyahadatillah, atau Syekh Hasanuddin. Syekh Quro berasal dari Champa, putra seorang ulama besar bernama Syekh Yusuf Siddik. Dia mendapat pengetahuan Islam dari ulama-ulama besar Makkah. Peneliti Atja dalam Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari , menyebut jika Syekh Quro pergi ke Nusantara dalam perjalanan dakwahnya. Dia ikut di dalam rombongan orang-orang Cina yang datang ke Champa. Syekh Quro sempat mengajar keislaman di Kesultanan Malaka pada permulaan abad ke-15. Dari sanalah dia melanjutkan dakwahnya ke Pulau Jawa. Menurut Uka Tjandrasasmita, daerah pertama yang disinggahi Syekh Quro adalah Pelabuhan Cirebon, di wilayah Kerajaan Galuh-Sunda. Kedatangannya pada 1418 itu disambut Syahbandar Muara Jati Ki Gedeng Tapa. Di sana, Syekh Quro melanjutkan syiar agamanya. Banyak masyarakat di sekitar pelabuhan yang akhirnya memeluk Islam setelah menerima ajaran Syekh Quro, termasuk Ki Gedeng Tapa sendiri. Syekh Quro tidak lama tinggal di Cirebon. Halangan dari para penguasa membuat dia terpaksa pergi dan melanjutkan dakwahnya di Karawang. Di tempat baru ini, Syekh Quro membangun sebuah pondok sebagai tempat dakwah dan penyiaran agama Islam. Diketahui, Syekh Quro memiliki suara yang merdu ketika membaca Al-Qur’an. Hal itu menjadi daya tarik yang membuat banyak orang tertarik mempelajari Islam. Melalui penelitian Ading Kusdiana dalam Sejarah Pesantren: Jejak Penyebaran, dan Jaringannya di Wilayah Priangan , diketahui bahwa Ki Gedeng Tapa menyuruh putrinya Nyai Subang Larang pergi ke Kerawang guna menuntut ilmu agama di bawah asuhan Syekh Kuro. Di sinilah Nyai Subang Larang memeluk Islam dan mulai mengajarkan pengetahuan Islam kepada anak-anaknya: Raden Walasungsang dan Nyai Lara Santang. Keduanya kemudian menjadi murid Syekh Datuk Kahfi. “Ada beberapa indikasi bahwa penyebaran Islam dan kegiatan pendidikan pesantren masuk ke wilayah Priangan dari Cirebon dan dari Karawang,” tulis Ading.*

  • Ideologi Juche Korea Utara

    JIKA Sukarno menggagas Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, sahabatnya, Kim Il-sung juga merumuskan sendiri ideologi Korea Utara yang bernama Juche . Dan pada 1965, Juche  diumumkan secara internasional di Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, Jakarta. Juche  atau chuch’e (bisa diartikan sebagai berdikari) merupakan ideologi resmi Korea Utara. Menjadi pandangan hidup orang Korea Utara serta digunakan sebagai identitas politik negeri itu. Gagasan politik Juche  secara bertahap memasukan empat konsep yakni chuch’e , chaju , charip , dan chawi . Keempat konsep tersebut dikembangkan sejak 1950 hingga 1960-an. Konsep “ chuch’e  dalam pemikiran” muncul pertama kali pada Desember 1955 dalam pidato Kim Il-sung tentang “Menghilangkan dogmatisme dan formalisme dan membangun juche  [ chuch’e ] dalam kerja ideologis”. Ia menyebutkan istilah chuch’e  untuk pertama kalinya dan menunjukan perlawanannya pada kebijakan Soviet yang dipimpin Nikita Khrushchev. “Ia menggunakan chuch’e  sebagai konsep untuk melawan hegemoni Soviet. Dengan kata lain, benih ide chuch’e  ditanam selama perpecahan Soviet-Korea Utara,” sebut Jae-Cheon Lim dalam Kim Jong Il’s Leadership of North Korea. Konsep chuch’e  digunakan untuk menghilangkan budaya Soviet yang membanjiri Korea Utara sejak 1945. Juga diharapkan dapat membangkitkan kesadaran identitas nasional Korea Utara. Kim Il-sung juga memanfaatkan gagasan chuch’e  untuk membersihkan lawan-lawan politiknya yang ia cap dogmatis atau kutu busuk. Pada 1956, pemerintah Korea Utara mengangkat slogan “Mari wujudkan Chuch’e !”. Rakyat Korea Utara didorong untuk tidak bergantung pada pengalaman revolusi negara lain tetapi atas dasar sejarah revolusioner Korea Utara sendiri, prinsip-prinsip Marxisme-Leninisme, dan kebijakan partai yang dikembangkan secara kreatif. “Substansi utama ‘ chuch’e  dalam pemikiran’ pada saat itu adalah untuk merebut kembali Korea dan menerapkan prinsip-prinsip Marxisme-Leninisme ke realitas Korea dengan cara yang kreatif,” tulis Lim. Konsep chaju  (penentuan nasib sendiri) muncul berikutnya. Konsep ini terkait dengan urusan luar negeri Korea Utara. Kim mulai menggunakan chaju  dalam hubungan diplomatik setelah menghadiri peringatan 40 tahun revolusi Soviet pada Desember 1957. Prinsip-prinsipnya antara lain kesetaraan, penghormatan terhadap integritas wilayah, kemerdekaan nasional, dan non-intervensi. Kemudian dalam pidato peringatan ulang tahun ke-15 Tentara Rakyat Korea pada 1963, Kim Il-sung secara khusus berbicara tentang chaju . Ia mengatakan bahwa tanpa chaju , seorang politisi tidak dapat bekerja untuk rakyat, melainkan hanya menjilat orang lain dan menjadi tangan negara-negara besar serta menjadi konspirator dengan menjual negaranya. Elemen ketiga yakni charip  (kemandirian) dalam ekonomi. Konsep ini berkaitan dengan strategi yang memprioritaskan industri militer. Menurut Kim, intervensi Krushchev dalam perekonomian Korea Utara telah mendorong perlunya charip  ekonomi. Sebelumnya, pada Konferensi Partai Pertama 1958, Kim telah menyinggung bahwa charip  ekonomi bertujuan untuk membangun ekonomi mandiri, di mana Korea Utara dapat mencari nafkah sendiri dan mendukung diri sendiri. “Belakangan, Kim merinci hubungan antara chaju  politik dan charip  ekonomi. Tanpa charip  ekonomi, chaju  politik tidak dapat dipertahankan –hanya keduanya yang bisa menjamin kemerdekaan nasional,” jelas Lim. Konsep terakhir yang diperkenalkan namun tak kalah penting adalah chawi (pertahanan diri) dalam pertahanan nasional. Kim mengembangkan kebijakan baru pasca pengurangan bantuan militer Soviet di awal 1960-an. Pada Oktober 1963, chawi  dalam pertahanan nasional diumumkan melalui pidato upacara wisuda ketujuh Akademi Militer Kim Il-sung. Akhirnya, jelas Lim, gagasan chuch’e  yang berisi empat konsep yakni chuch’e , chaju , charip  dan chawi  diumumkan secara internasional di Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, Jakarta pada April 1965. Pada kesempatan itu, Kim Il-sung menjelaskan bahwa “mendirikan chuch’e ” adalah prinsip “pemecahan bagi semua masalah revolusi dan konstruksi sesuai dengan kondisi suatu negara dan terutama dengan upaya sendiri”. Kuliah Kim Il-sung yang disampaikan di akademi yang didirikan Partai Komunis Indonesia (PKI) itu berjudul On Socialist Construction and the South Korean Revolution in the Democratic People’s Republic of Korea.   Kim Il-sung menyebut bahwa chuch’e  telah ditetapkan sejak 1955 dan terus menerus diperjuangkan secara enerjik agar terwujud. Sejak itu pula, ia mengklaim telah memulai pertarungan melawan revisionisme modern yang muncul dalam kubu sosialis. “Kami telah dengan penuh semangat melakukan pekerjaan ideologis di antara para kader dan anggota partai sehingga mereka semua dapat berpikir sehubungan dengan niat partai, membuat studi mendalam tentang kebijakan partai, bekerja sesuai dengan kebijakan ini dan dengan penuh semangat berusaha untuk penerapannya,” jelas Kim Il-sung dalam kuliahnya seperti termuat dalam Juche! The Speeches and Writings of Kim Il Sung. Kim Il-sung juga berulang kali mempertegas ajakan persatuan di antara negara-negara sosialis, negara-negara yang baru merdeka serta negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk menyingkirkan imperialisme. “Perjuangan Komunis dan rakyat Indonesia yang anti-imperialis, anti-kolonialis konduktif bagi perjuangan bersama rakyat Asia. Rakyat Korea sangat menghargai ikatan dan persatuan mereka dengan Komunis Indonesia dan rakyat Indonesia, dan secara aktif mendukung perjuangan revolusioner mereka,” ujarnya. Dengan mengibarkan panji revolusi, kata Kim Il-sung, “kaum Komunis dan rakyat kedua negara kita akan setiap saat bertarung dalam persatuan yang teguh untuk kemerdekaan nasional, sosialisme, dan perdamaian, melawan kekuatan agresi imperialis yang dipimpin oleh imperialisme A.S.”*

  • Orang Dayak Menghadapi Wabah Penyakit

    PENYAKIT menular mulai muncul pada masyarakat prasejarah yang menetap, bertani, dan beternak. Sebagian besar hidup dalam permukiman permanen. Permukiman yang padat dan tak higienis menjadi sarang bagi munculnya wabah. “Sebagian besar penyakit menular, seperti campak, cacar, kolera, TBC, dan sebagainya, ditularkan dari hewan yang didomestikasi oleh umat manusia sendiri,” kata Muslimin A.R. Effendy, kepala BPCB Kalimantan dalam diskusi daring lewat aplikasi  zoom  tentang “Wabah Penyakit Menular dan Bencana Kemanusiaan Perspektif Sejarah dam Budaya” pada Kamis 30 April 2020. Di Indonesia, penyakit menular muncul sejak akhir masa neolitik 2.000 tahun lalu. Di Lambanapu dan Melolo, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, ditemukan rangka manusia dalam jumlah banyak dan betumpuk. “Kesimpulannya kematian dalam jumlah banyak ini diduga karena epidemi wabah penyakit yang menyerang wilayah itu,” kata Muslimin. “Dari hasil ekskavasi peneliti menemukan rangka dan temuan lain berada di lapisan yang sama, jadi diduga berasal dari periode sama.” Ekskavasi di Jembrana, Gilimanuk, tahun 1963 ditemukan wadah kubur yang sebagian besar berisi rangka anak-anak muda berusia 21–30 tahun. Diduga bukan sekadar penyakit tulang, tetapi juga disebabkan oleh pengaruh lingkungan berbatu gamping. Akibatnya, banyak penyakit epidemi menyerang masyarakat Jembrana. “Rangka di Jembrana ini kesimpulannya ada pelapukan pada tulang akibat mengkonsumsi bahan makanan dan sumber air yang tak higienis. Penyakit ini berlangsung cukup lama sehingga masih ditemukan pada orang-orang dari masa berikutnya,” kata Muslimin. Memasuki masa sejarah, pada Oktober 1880, berawal dari Kalimantan Barat, kolera dan cacar menyebar ke Banjarmasin, Martapura, Amungtai, Sampit, Samarinda, dan Kutai. Banyak korban jiwa berjatuhan. Namun, wabah itu tidak menyebar di pedalaman Dayak. Menurut Muslimin karena pemimpin adat mampu melakukan isolasi dan mendata orang-orang yang masuk ke lingkungannya. Namun, isolasi itu tak bertahan lama. Muncul pula pemikiran kalau penyakit itu datang dari Tuhan, bukan ditularkan antarmanusia. “Lambat laun wabah penyakit yang diproteksi oleh tokoh-tokoh adat itu kembali mewabah di daerah itu. Akibatnya jumlah korban makin banyak. Di Kutai pada 1882, korban makin banyak,” kata Muslimin. Kolera dan cacar muncul di Muara Teweh dan Martapura pada Juni 1884. Untuk menghadapinya, pemerintah kolonial memerintahkan sekolah untuk menyusun protokol kesehatan, di antaranya membersihkan lingkungan sekolah dan rumah, membiasakan siswa minum air matang, menghindari mandi di sungai yang tercemar bakteri kolera, tak mengkonsumsi ikan di sungai tercemar, dan mandi minimal sekali. “Menariknya dalam laporan kolonial ternyata masyarakat di sana jarang mandi, jadi wabah kudis, disentri, kolera mudah menyerang,” kata Muslimin. Protokol kesehatan lain yang diterapkan adalah rajin mencuci pakaian, alat makan, dan bahan makan yang akan diolah. Mereka juga harus menghindari kontak fisik dengan orang yang sudah tertular. “Kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, walaupun tak selalu sama karena waktunya cukup jauh, sebetulnya masyarakat kita dulu sudah melakukan protokol kesehatan,” kata Muslimin. Hingga tahun 1910, korban meninggal dunia karena kolera dan cacar di Kutai, Banjarmasin, Amungtai, Sampit, berjumlah 1.940 orang. Sedangkan korban meninggal dunia karena cacar di seluruh Kalimantan mencapai 2.000 orang. Jumlahnya meningkat sebagaimana tercatat dalam laporan kolonial ( Kolonial Verslag ) tahun 1919. Penderita kolera di Banjarmasin berjumlah 5.191 orang dan 316 orang meninggal; Hulu Sungai (penderita 11.907 orang dan 1.131 orang meninggal); Kuala Kapuas (penderita 1.184 orang dan 75 orang meninggal); Tanah Dusun (316 orang meninggal); serta Samarinda dan sekitarnya termasuk Kutai (penderita 2.900 orang dan 212 orang meninggal). “Jadi pada 1919 saja total yang meninggal karena penyakit kolera berjumlah 2.050 orang,” kata Muslimin. “Saya belum menemukan sumber lokal yang memadai, seperti manuskrip yang bisa mendokumentasikan wabah itu.” Kolera juga menyebar ke area pertambangan batu bara di wilayah Prapatan, Berau, dan area pengeboran minyak di Balikpapan. Wabah itu mengakibatkan 85 pekerja meninggal. Wabah yang tak kunjung teratasi menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Pada 1910, kepala suku Dayak yang tinggal di perbatasan Dusun Tengah dan Kutai berusaha menghimpun masyarakat untuk mengadakan upacara adat  berejo . Penduduk yang ikut membawa sesaji agar terbebas dari wabah. Upacara adat  berejo  ini diyakini dan diteruskan oleh pengikutnya. Menurut Muslimin, upacara adat itu semacam gerakan kebatinan yang mencoba mengumpulkan pengikut dan memberikan suatu mantra dan jimat agar mereka kebal penyakit.  “Sebetulnya gerakan keagamaan ini dalam tataran tertentu karena ketidakmampuan mereka menjelaskan secara logika dan mencegah tersebarnya wabah, mereka lalu melakukan kontemplasi dengan membuat gerakan spiritual keagamaan,” kata Muslimin. Kearifan Lokal Masyarakat Dayak sebenarnya telah memiliki kearifan lokal dalam menghadapi wabah. Menurut Nasrullah Mappatang, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, orang Dayak memiliki pandangan kosmologis bahwa wabah datang karena keseimbangan alam rusak. Mereka percaya penyakit bisa diobati dengan ritual dan pantangan makanan dan aktivitas fisik lain. Pada 1894, orang Kayan di Borneo Tengah dan Bahau di Kalimantan Timur selain melakukan ritual juga memiliki ramuan untuk mengobati penyakit. Mereka menerapkan pantangan terhadap setiap penyakit. Ritual-ritual yang dilakukan antara lain ritual mencari penyebab penyakit ( senteau );   ritual penyembuhan   ( balian bawo ) dilakukan masyarakat Dayak Benuaq dan Tunjung di Kalimantan Timur; ritual meminta perlindungan kepada para leluhur ( manggatang sahur lewu );   dan   ritual   bersih kampung dari pengaruh jahat akibat ulah manusia ( Amapas Lewu ). Orang Dayak Badamea, Sambas, Kalimantan Barat, melakukan ritual  basaman.  Doa dan ritual  Parauh/Paramak  dengan memasang tabit ayar dan berdoa kepada Jubata (Tuhan) agar dijauhkan dari wabah penyakit dan roh-roh jahat. Ketika wabah merebak, ada beberapa pantangan yang harus dijalani, seperti dilarang mangas  (membunuh binatang dan memotong hewan ternak),  ngingso  (menebang pohon),  bahanyi  (panen), dan keluar kampung selama dua hari ( lockdown  atau karantina wilayah). Selain ritual, ada perilaku pencegahan seperti  pungan bengan, yaitu mengisolasi diri dari orang lain untuk mencegah penularan penyakit. Tindakan ini seperti pembatasan jarak dan isolasi mandiri. Misalnya dalam pencegahan cacar, orang Dayak di Borneo percaya cacar dapat dihindari dengan melarang orang pergi ke dataran rendah dan berada di sekitar “orang asing”. Mereka melakukan transaksi dengan cara barter bisu, lewat jarak jauh, dan menghindari dataran rendah. “Cacar dikenal sejak abad ke-16 di Asia dan muncul kembali sekira abad ke-18,” kata Nasrullah. Menurut Nasrullah, masyarakat tradisional di Kalimantan melihat penyakit lebih kepada relasi mereka dengan lingkungan dan alam. Mereka melakukan ritual karena menganggap roh jahat adalah penyebab orang terkena penyakit atau merebaknya wabah.  “Makanya penyakit tidak dibunuh, tapi dikembalikan ke tempatnya. Salah satu cara pandang yang relevan sampai hari ini, yakni bagaimana relasi kerusakan habitat hidup menyebabkan lahirnya penyakit,” kata Nasrullah. Cara pandang itu, kata Nasrullah, secara simbolik menunjukkan betapa berjaraknya manusia dengan alam. Ketika alam dirusak, maka “roh” hutan atau lingkungan yang marah pun mengganggu manusia.  “Jadi manusia itu selalu reflektif, kita sakit, kita diserang penyakit itu karena ada kerusakan di sekitar kita. Karena sangat menyatu manusia dengan alam,” ujar Nasrullah. Kendati begitu, karena melihat kurangnya pengetahuan tentang penyakit menular di tengah masyarakat adat, Nasrullah menilai edukasi dan sosialisasi cara-cara pencegahan dan pengendalian wabah penyakit masih dibutuhkan. “Pendekatan dialogis antara paradigma kesehatan secara tradisional dan modern,” ujarnya. Muslimin pun mengatakan, mewabahnya penyakit diakibatkan karena ada pengabaian. Seperti dalam sejarah terjadinya wabah kolera pada masa kolonial. Pemerintah Hindia Belanda mengabaikan peringatan pada 1819 ketika penyakit ini sudah menyerang Penang dan Malaka. Peringatan ini tak diindahkan karena pemerintah Hindia Belanda percaya penyakit akan dengan sendirinya mati di tengah iklim tropis di Nusantara. “Nyatanya penyakit ini menyerang semua kalangan, yang paling terdampak adalah kaum pribumi miskin, gizi di bawah standar, dan mengkonsumsi makanan tak sehat, inilah yang membuat mereka rentan terserang penyakit,” ujarnya.*

  • Stadion Terbesar Dunia Stadion Buruh

    PERANG Korea (1950-1953) jadi penanda pemisahan dua Korea. Gengsi berbau politis acap mewarnai persaingan Korea Selatan dan Korea Utara. Mulai dari budaya, senjata hingga olahraga. Khusus olahraga, Korea Utara (Korut) boleh bangga punya arena olahraga monumental yang diakui sebagai yang terbesar se-kolong langit. Meski rezim terus berganti dan karakter pemerintahannya tetap represif, prestis bidang olahraga tak pernah dilupakan sejak rezim Kim Il-sung hingga cucunya Kim Jong-un. Selain prestasi, yang bisa dibanggakan Korut dalam olahraga tak lain adalah stadion. Negeri itu punya Stadion Rungrado 1 Mei atau Stadion May Day. Ia terletak di ujung selatan Pulau Rungra yang berada di tengah-tengah Sungai Taedong, tak jauh dari ibukota Pyongyang. Mengutip sejarawan Amerika Serikat cum eks-Direktur Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih bidang Asia kelahiran Korea Selatan Victor Cha dalam The Impossible State: North Korea, Past and Future , Stadion Rungrado dibangun sebagai venue utama untuk perhelatan Festival Pelajar dan Pemuda Dunia ke-13. Hajatan itu jadi jawaban atas persaingannya dengan Korsel, mengingat “saudara” mereka di selatan memenangkan pemilihan tuan rumah Olimpiade Seoul 1988. Kim Il-sung di perhelatan pembukaan World  Festival of Youth and Students  ke-13 (Foto: daum.net ) Event itu ingin dibuat pemerintahan Kim Il-sung menjadi festival dengan edisi terbesar dan termegah. Korut jor-joran melimpahkan dana pembangunan mega-proyek demi ajang itu mengingat di tahun 1980-an ekonominya tengah booming berkat industri fiber dan nilonnya. Selain mendatangkan mobil-mobil Mercedes-Benz mewah, pemerintah juga membangun Hotel Ryugyong di dekatnya setinggi 105 lantai dengan beragam fasilitas hotel mewah kelas dunia. Persiapannya sudah dimulai sejak 1986, termasuk pembangunan stadionnya. Itu diperkirakan “membakar” duit hingga miliaran dolar. “Ajang itu jadi jawaban atas Olimpiade Seoul dan mereka berinvestasi dalam bangunan infrastruktur yang masif. Menghabiskan dana antara USD4-9 miliar. Mereka membangun 260 fasilitas megah, termasuk stadion tenis meja berkapasitas empat ribu kursi, stadion bulutangkis (3 ribu kursi), dan yang utama Stadion Rungrado May Day yang terbesar di dunia dengan 150 ribu kursi,” ungkap Cha. Sayangnya belum ada sumber yang menyingkap siapa atau pihak mana arsitek cum desainer Rungrado May Day. Hanya disebutkan bahwa Kim Il-sung menginginkan bangunan itu selain megah juga anggun dan ikonik. Maka jadilah stadion yang jika dilihat dari ketinggian bentuknya mirip kembang magnolia merekah. “Stadion setinggi delapan lantai itu didesain seperti sekuntum bunga yang mengapung di atas sungai. Stadionnya memiliki 16 kanopi lengkung berbentuk busur sebagai atapnya yang menyatu satu sama lain untuk menggambarkan kelopak bunga,” sebut Michael Hurley dalam The World’s Most Amazing Stadiums . Tampak dalam Stadion Rungrado 1 Mei/Stadion May Day dengan atap lengkung berbentuk kelopak bunga magnolia (Foto) Bagian dalam stadion yang berdiri di atas kompleks lahan seluas 20,7 hektar itupun, lanjut Hurley, dilengkapi beragam fasilitas top. Selain rumput lapangan sepakbola dan trek lari berstandar internasional, ia dilengkapi ruang sauna,kolam renang indoor. Sebagaimana keinginan sang pemimpin, stadion itu rampung dan diresmikan Kim Il-sung pada 1 Mei 1989 bertepatan dengan May Day atau Hari Buruh Internasional. Saat diresmikan, Rungrado semata stadion terbesar di Asia lantaran status stadion berkapasitas terbesar dunia masih dipegang Estádio do Maracaña di Rio de Janeiro, Brasil, tempat final Piala Dunia 1950 mencatatkan jumlah penonton mencapai 199 ribu. Tetapi setelah Maracaña direnovasi tiga kali sejak 2000, sekarang hanya berkapasitas 78.838. Maka status stadion terbesar dunia jadi milik Rungrado dengan 150 ribu kursi. Ajang Festival Pelajar dan Pemuda ke-13 yang dibuka pada 1 Juli 1989 di Stadion Rungrado pun bergulir sukses. Momen itu membuat Kim Il-sung bisa pamer terutama kepada para partisipan asal negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat yang mengizinkan perwakilannya menginjakkan kaki pertamakali ke sana sejak Perang Korea (1950-1953). Bagian dalam stadion yang tentunya memajang dua foto pemimpin besarnya: Kim Il-sung & Kim Jong-il (Foto: stadiumdb.com/frankjasperneite.de ) Usai hajatan itu, stadion tersebut menjadi markas timnas sepakbola putra dan putri Korut dan klub terbesarnya, 4.25 (April 25 Sports Club). Stadion ini lalu beberapakali dijadikan venue hajatan kolosal lain, di antaranya “Collision in Korea” pada April 1995. Ajang gulat pay-per-view yang menggandeng New Japan Pro-Wrestling dan World Championship Wrestling pada 28-29 April 1995 itu dihelat dalam rangka Pyongyang International Sports and Culture Festival for Peace. Ajang tersebut sukses besar mengingat stadion itu disesaki penonton melebihi kapasitasnya, 165 ribu orang. Hajatan lainnya adalah Festival Arirang yang rutin digelar tahunan sejak 2002. Festival seni, budaya, dan senam massal warisan Kim Jong-il, putra sekaligus suksesor Kim Il-sung, itu pada 2007 mencetak rekor dunia Guinness dengan 100.090 partisipan menyesaki Stadion Rungrado. “Festival Arirang biasanya digelar sebagai puncak Hari Kemerdekaan atau perayaan berdirinya Republik Demokratik Rakyat Korea pada 9 September. Nama Festival Arirang diambil dari cerita rakyat (Arirang) yang merepresentasikan pemisahan Korea, di mana kisahnya menceritakan sepasang muda-mudi yang dipisahkan oleh tuan tanah jahat,” tulis Paul Fischer dalam A Kim Jong-il Production: The Incredible True Story of North Korea and the Most Audacious Kidnapping in History Paperback . Arena indoor di dalam stadion dari sumbangan FIFA sebagai penambahan fasilitas kala renovasi (Foto: koryogroup.com ) Setelah Kim Il-sung sukses membangun Stadion Rungrado untuk festival pelajar dan pemuda sedunia di akhir 1980-an dan Kim Jong-il memprakarsai Festival Arirang di awal 2000-an, lantas di tangan Kim Jong-un Stadion Rungrado di- upgrade dengan fasilitas yang lebih modern mulai 2013. Jong-un juga memprakarsai proyek pembangunan beberapa venue olahraga baru di kompleks olahraga yang mengelilingi Stadion Rungrado. Selain venue sepatu roda, ada venue berkuda, ski air, dan arena selancar air dan selancar angin. “Sudah menjadi keinginan partai (Partai Pekerja Korea, penguasa pemerintah) untuk merenovasi Stadion May Day dengan sukses menjadi ikon fasilitas olahraga yang lebih modern dan menjadi stadion yang pantas bagi sebuah bangsa yang beradab,” cetus Kim Jong-un saat mengunjungi Stadion Rungrado pada 2013 sebagaimana dikutip The Guardian , 7 Oktober 2015. Sementara, di dalam stadionnya penambahan-penambahan fasilitas modern dilakukan dengan menyulap ruang ganti pemain menjadi lebih modern dan penambahan ruang-ruang fisioterapis, media centre , serta arena indoor sebagai wadah akademi sepakbola baru Korut. Khusus arena indoor, pembiayaannya juga disokong FIFA sebesar USD800 ribu. Meski begitu, kursi penonton yang juga direnovasi berdampak pada pengurangan kapasitas, menjadi 114 ribu. Tetapi hal itu belum menggeser statusnya sebagai stadion berkapasitas terbesar dunia. Presiden Korsel Moon Jae-in saat berpidato di hadapan 150 ribu rakyat Korut di Stadion May Day (Foto: president.go.kr ) Ada satu fakta kelam yang jarang diketahui publik internasional, yakni stadion itu pernah jadi tempat eksekusi puluhan perwira militer Korut pada 1992. Eksekusi dilakukan sebagai jawaban atas pengarahkan moncong-moncong tank ke arah Kim Il-sung dan Kim Jong-il pada perayaan HUT ke-60 Tentara Rakyat Korea oleh komplotan sekira 40 perwira lulusan Akademi Militer MV Frunze, Moskva, Rusia yang dipimpin Jenderal-kolonel An Chang Ho. Toh di stadion ini pula salah satu momen progres perdamaian antara Korsel dan Korut terjadi. Di hadapan 150 ribu warga Korut yang memadati Stadion Rungrado pada 20 September 2018, Presiden Korsel Moon Jae-in berpidato di podium kehormatan. “Ketua Kim Jong-un dan saya sebelumnya bertemu pada 27 April di Panmunjom dan kami saling berangkulan… Kepada warga Pyongyang, sesama bangsa Korea, kita telah hidup bersama selama lima ribu tahun namun terpisah hanya dalam 70 tahun. Di sini, di stadion ini hari ini, saya mengajukan langkah maju menuju gambaran besar perdamaian dengan harapan kita bisa bersatu lagi,” tandas Presiden Moon dalam pidatonya, dikutip situs resmi kepresidenan Korsel .

  • Kisah Dewa dari Korea Utara

    SENO Gumira Ajidarma mengisahkan suatu kejadian tak mengenakan saat dirinya berkunjung ke Korea Utara pada 2002. Sebagai tamu resmi pemerintah negera komunis itu, Seno yang seorang kritikus film sekaligus fotografer, suatu hari berkesempatan mengambil gambar patung Kim Il-sung, Bapak Pendiri Korea Utara. Saat tengah asyik memotret bagian-bagian patung itu secara rinci dari jarak dekat, tetiba seorang petugas mendekatinya. Dengan ketus dia melarang Seno untuk mengambil gambar patung tersebut secara tidak utuh. “Kalau memotret pemimpin kami, tolong jangan dipotong-potong!” katanya seperti dituturkan oleh Seno dalam bukunya Jejak Mata Pyongyang. Bagi orang Korea Utara, Kim Il-sung bukan hanya sekadar Bapak Pendiri Bangsa. Bisa jadi khalayak di sana sudah menabalkannya sebagai dewa. Semua yang diucapkannya adalah perintah yang harus diamalkan. Termasuk memaksa rakyat Korea Utara untuk  memeluk “agama baru” ciptannya bernama Juche . Bagi rakyat Korea Utara, menampik “agama” baru itu sama dengan mememanggil bahaya untuk datang dalam kehidupan mereka. “Para pemeluk Juche  tak perlu memikirkan 'kehidupan sesudah mati'. Mereka justru sedang berada di 'surga dunia yang disinari matahari gilang gemilang Pemimpin Besar Kebapakan, Kim Il-sung',” ungkap Lim Un dalam Secrets of the North Korea Dynasty: True Biography of Kim Il-sung. Lim Un adalah nama samaran seorang bekas pengikut fanatik Kim Il-sung. Karena suatu sebab, dia dituduh menjadi pengkhianat dan diburu oleh polisi rahasia Korea Utara hingga kemudian menyingkir ke Uni Soviet. Lim kemudian menulis biografi sang mantan pujaan-nya itu dan terbit kali pertama dalam bahasa Jepang di Tokyo pada 1980-an. Lim berkisah sejak berdirinya  Republik Demokrasi Rakyat Korea (RDRK) pada 9 September 1948 (hingga hari ini),  catatan mengenai kiprah kakek dari Kim Jong-un (pemimpin Korea Utara sekarang) itu 100 persen tanpa cela. Para remaja Korea Utara tiap waktu bahkan kerap memuji Kim dalam sebuah nyanyian sebagai “pahlawan legendaris yang menaklukan sejuta tentara Jepang” Padahal faktanya, itu semua hanyalah bualan semata. Dalam majalah Reader’s Digest  edisi Maret 1982, pakar tentang Korea Utara Anthony Paul menyebut bahwa di era perjuangan melawan penjajahan Jepang, sebagian besar waktu Kim Il-sung dihabiskan di kampus pendidikan politik yang terletak di Uni Soviet. "Dia sebenarnya tak pernah memimpin lebih dari 300 orang partisan,” ungkap Anthony Paul. Kultus individu itu bukanlah sesuatu yang berjalan kebetulan saja. Kim Il-sung memang sengaja membangunnya guna menjamin keberlanjutan kekuasaannya. Maka tak heran jika segala sesuatu mengenai Kim Il-sung haruslah sempurna. Termasuk penyebutan khas media massa Korea Utara terhadapnya: Jenderal Maha Tahu yang kuat bagai baja, yang merebut 100 kemenangan dari 100 pertempuran. Untuk hal-hal kecil saja, misalnya soal ukuran badan, Kim Il-sung harus diperlihatkan dalam media sebagai sosok pemimpin yang gagah dan tegap. Dalam beberapa kasus, foto resmi yang memperlihatkan Kim Il-sung bersama tamu asing berpostur jangkung haruslah direvisi dahulu sebelum dipublikasikan. Kendati aslinya Kim adalah sosok gemuk dan agak pendek namun dalam penampilan di media adalah haram hukumnya sang pemimpin besar berpenampilan cebol. Di tingkat internasional, pamor Kim Il-sung diangkat di berbagai surat kabar Barat dengan mengeluarkan dana sampai jutaan dolar. Itu meliputi bayaran untuk memuat iklan pidato-pidato Kim Il-sung di berbagai surat kabar luar negeri. Setelah dimuat, maka secara cepat koran-koran pemerintah memberitakannya: pelbagai penerbitan utama dunia menyediakan kolomnya untuk gagasan-gagasan Pemimpin Besar. Tidak puas dengan program-program propaganda yang sudah dilakukan, Kim Il-sung pun mendirikan Museum Revolusi Korea. Persis di muka gedung museum itu didirikanlah patung dirinya sendiri setinggi 79 kaki. Di dalam museum itu kurang lebih terdapat 90 ruangan yang melukiskan betapa bersatunya rakyat di sekitar Pemimpin Besar. Pengkultusan di luar akal sehat memunculkan “teror tersendiri” untuk rakyat Korea Utara. Alih-alih untuk melakukan kritik, memperlakukan gambarnya secara tak layak saja bisa berakhir di ujung senjata atau paling ringan masuk penjara. Kerani kantor pos misalnya. Dia harus sangat berhati-hati jika mencap perangko bergambar Kim Il-sung. Aturan di Korea Utara hanya sudut-sudut perangko tersebut yang boleh terkena tinta. Jika tinta itu mengenai bagian gambar wajahnya, itu alamat kiamat bagi hidup sang kerani. Begitu jug cara memperlakukan koran bekas yang ada foto Pemimpin Besar, tak boleh sembarangan. Ada aturannya jika seseorang akan menggunakan koran bekas tersebut untuk membungkus sesuatu atau penambal dinding. Gambar Kim harus lebih dulu digunting lalu disimpan secara baik-baik di tempat yang layak. Pendewaan terhadap Kim Il-sung tidak berakhir ketika dia meninggal pada 8 Juli 1994. Layaknya para diktator di negara-negara komunis, jasad Pemimpin Besar kemudian dibalsem dan disemayamkan di sebuah peti kaca. Tubuhnya dibaringkan di Mausoleum Istana Kumsusan, Pyongyang yang diresmikan pada saat memperingati setahun kematiannya.*

  • Islamisasi Minangkabau

    PROSES Islamisasi di Minangkabau –mencakup wilayah Sumatera Barat, sebagian Riau, Bengkulu, Jambi, sebagian Sumatera Utara, dan sebagian Aceh– terjadi pada kurun masa yang sangat panjang. Banyak bukti yang menjelaskan keberadaan ajaran tersebut. Namun mengenai kapan dan dari mana pertama kali ajaran tersebut masuk, banyak ahli yang kesulitan untuk merekonstruksinya. Keterbatasan informasi menjadi kendala utama. Menurut sejarawan Taufik Abdullah sumber-sumber tentang Islam di Minangkabau belum terekam secara baik. Di dalam tulisannya “Adat and Islam: An Examination of Conlict in Minangkabau” dimuat Readings on Islam in Southeast Asia  karya Yasmin Hussein, Taufik Abdullah menyebut jika pengetahuan pertama tentang Islam di wilayah itu datang dari Ulakan, Padang, Sumatera Barat. Tokoh utamanya adalah Syekh Burhanuddin. Syekh Burhanuddin dianggap sebagai ulama pertama yang menyebarkan Islam di antara masyarakat Minangkabau. Dia merupakan murid dari ulama terkenal Aceh, Syekh Abduurauf Singkel. Tetapi, kata Taufik Abdullah, banyak bukti yang mengindikasikan bahwa Syekh Burhanuddin bukan yang pertama memperkenalkan Islam di sana. “Meski begitu, ia tampaknya menjadi ulama penting pertama yang mendirikan pusat keagamaan di Minangkabau. Dia menjadi satu-satunya ulama yang memiliki wewenang dalam urusan agama,” kata Taufik Abdullah. Syekh Burhanuddin diketahui membangun sebuah surau di Ulakan. Surau itu menjadi tempat pertama ulama-ulama Minangkabau belajar soal agama Islam secara lebih dalam. Murid-murid Syekh Burhanuddin berasal dari berbagai daerah di Minangkabau. Setiap orang, baik muda ataupun tua, yang ingin memperdalam tentang Islam boleh belajar di sana. Menurut Mhd. Nur, dkk dalam Perjuangan Sultan Alam Bagagar Syah dalam Melawan Penjajah Belanda di Minangkabau pada Abad ke-19 ,   mereka yang telah belajar di Ulakan akan kembali ke daerahnya masing-masing dan membangun surau sendiri. Proses inilah yang mempercepat proses islamisasi. Bahkan pengaruh dari Ulakan itu sampai juga ke seluruh Nusantara, seperti yang dilakukan Datuk Ri Bandang dan Datuk Ri Patimang di Makassar, Sulawesi Selatan. “Para murid Syekh menyebarkan Islam di Minangkabau dengan jalan menanamkan budi dan memperlihatkan akhlak yang baik kepada masyarakat. Masyarakat Minangkabau cepat merespon Islam dan ikut menyebarkan Islam ke daerah-daerah lainnya di Nusantara,” tulis Mhd. Nur, dkk. Pada akhir abad ke-17, ulama-ulama besar bermunculan di Tanah Minang. Beberapa di antaranya: Tuanku Pamansiangan di Luhak Agam, Tuanku Koto Tuo, dan Tuanku Nan Tuo. Mereka adalah bekas murid-murid Syekh Burhanuddin. Di bawah pimpinan ulama-ulama ini, beberapa daerah menjadi pusat pengajaran fiqih Islam, serta Al-Qur’an dan Hadits. Permasalahan hukum, kepercayaan, dan seluruh aspek kehidupan sosial juga tidak lupa diajarkan. Perbedaan Pendapat Awal abad ke-19, setelah berjalan selama dua abad, proses Islamisasi di Minangkabau memasuki fase baru. Para ulama, dikenal sebagai “kaum Paderi”, mencoba melakukan pembaharuan Islam. Misi utamanya: pelaksanaan ajaran Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Dengan kata lain, pemurnian terhadap Islam di Minangkabau. Tokoh utama dalam gerakan reformasi ini adalah para ulama yang baru saja kembali dari Makkah, yakni: Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Setelah melihat dan belajar Islam di Tanah Suci umat Islam itu, mereka merasa ada kekeliruan dalam praktek agama di Minangkabau. Utamanya pelaksanaan adat yang berlebihan. Meski mayoritas masyarakat Minangkabau telah memeluk Islam, tetapi tiga haji itu masih menemukan praktek-praktek keagamaan yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadits. Seperti banyak guru agama masih berkhidmat kepada kuburan yang dianggap keramat, sabung ayam, berjudi, minum tuak, meninggalkan ibadah, dan pelanggaran agama lainnya. Kaum Putih (nama lain kaum Paderi) menentang seluruh sistem adat yang telah sejak lama menjadi bagian dari tradisi Minangkabau pra Islam. Mereka berusaha menghapusnya, dan menggantikan kebiasaan-kebiasaan di masyarakat tersebut dengan tradisi islami. Hal itu tentu mendapat pertentangan dari golongan adat yang ingin mempertahankan tradisi turun-temurun itu. “Kaum Paderi bukan saja mencela sistem adat, tetapi juga sekaligus menentang pelaksanaan tradisi adat yang bertentangan dengan Islam yang telah menjadi tradisi bagi kaum Adat di Minangkabau,” tulis Mhd. Nur, dkk. Pada 1803, suasana di Minangkabau semakin memanas. Berbagai perundingan dengan Kerajaan Pagaruyung, sebagai penggerak kaum adat, gagal mencapai kesepakatan. Puncaknya, kaum Paderi dan kaum adat terlibat pertikaian besar yang berujung kepada perang saudara. Di bawah komando Harimau Nan Salapan, kaum Paderi berhasil mendesak pasukan kaum adat pimpinan Sultan Arifin Muningsyah. Pagaruyung lalu meminta bantuan Belanda, yang kebetulan sedang mencari celah menguasai wilayah Sumatera. Kesempatan itu juga digunakan Belanda untuk melemahkan pengaruh kaum ulama Paderi. Merek sadar, setelah melihat kasus Aceh, bahwa kaum ulama militan bisa menjadi penghalang upaya kolonialisasi. Namun di tengah pertikaian besar itu, kaum adat mulai menyadari siasat Belanda yang hanya memanfaatkan mereka untuk kepentingan kolonial. Akhirnya kaum adat dan kaum Paderi setuju melakukan genjatan senjata demi mengusir Belanda dari Tanah Minang. “Dampak paling awal dari Islam tercermin di dalam formulasi baru sistem adat sebagai pola perilaku ideal. Hingga akhirnya elemen-elemen luar dapat diserap secara menyeluruh ke dalam tatanan yang ada sebagai bagian dari sistem yang koheren,” kata Taufik Abdullah.*

  • Baret Merah Bikin Inggris Berdarah-darah

    SETELAH pertempuran salah paham antara Yon 1/RPKAD melawan Yon 454/Diponegoro di luar PAU Halim Perdanakusuma pada pagi 2 Oktober 1965 mereda, Sersan mayor (Serma) Soediono mendapat perintah dari Kapten Oerip, atasannya di Kompi Ben Hur. Soediono diperintahkan sang komandan masuk ke Halim untuk menemui Komandan RPKAD (kini Kopassus) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo guna melaporkan perkembangan situasi dan minta arahan lebih lanjut. Ditemani Kopral Miptah, Serma Soediono lalu berjalan kaki masuk ke Halim. Sempat salah masuk ke markas Kolaga, Soediono dan Miptah berhasil menemui Sarwo Edhie di Makoops AURI. Sarwo Edhie berada di Makoops AURI ditemani sejumlah petinggi AURI seperti Laksda Udara Sri Mulyono Herlambang. Di sana, Sarwo Edhie mendapatkan penjelasan bahwa AURI tidak punya rencana membombardir titik-titik vital AD sebagaimana diyakini Pangkostrad Mayjen Soeharto dan pimpinan AD. Maka begitu berhasil menemui sang kolonel, Soediono langsung menjalankan tugasnya. Dia diterima dengan baik oleh Sarwo Edhie. “Kolonel Sarwo Edhie mengenalnya dengan baik, karena dialah yang memberikan kenaikan pangkat luar biasa, menjadi Sersan Mayor di perbatasan Kalimantan Barat, berkat keberhasilannya menghancurkan perkubuan Inggris di Mapu, Sarawak,” tulis Aristides Katoppo dan kawan-kawan dalam Menyingkap Kabut Halim 1965 . Soediono merupakan anggota Kompi B “Ben Hur”, kompi yang dipilih untuk menjalankan tugas menghancurkan pos terdepan Inggris di Desa Plaman Mapu, Sarawak, sekira satu kilometer dari perbatasan Kalimantan Barat, pada 27 April 1965. “Plaman Mapu adalah serangan utama terhadap pangkalan Inggris dan dilakukan oleh pasukan berpengalaman sebagai bagian dari strategi eksperimental Indonesia bahwa pasukan kecil dapat mengalahkan pasukan gerilya yang lebih besar,” tulis Nicholas van der Bijl dalam Confrontation the with Indonesia, 1962-1966 . Serangan itu merupakan penjabaran lapangan dari keinginan politik Presiden Sukarno dalam Konfrontasi dengan Malaysia. Perang tanpa deklarasi itu tak kunjung menampakkan hasil gemilang bagi Indonesia setelah lebih dua tahun dijalankan. Sebaliknya, Konfrontasi semakin mempersulit posisi politik Sukarno di dalam negeri karena perekonomian terkesampingkan dan adanya penentangan dari angkatan darat. “Konfrontasi membantu menyulut masalah ekonomi Indonesia, menjadi semakin vital bagi masa depan politik Presiden Sukarno untuk membuat pasukannya harus mengamankan kemenangan militer yang menentukan. Inilah latar belakang Pertempuran Plaman Mapu,” ujar sejarawan Charles Allen dalam  The Savage Wars of Peace: Soldiers’ Voices, 1945-1989 .    Adanya keinginan untuk membuat satu serangan fenomenal itu bertemu dengan keinginan Sarwo Edhie yang ingin menguji konsepsinya. Saat mengikuti kursus Staff Queenschliff di Australia, sekutu Inggris dalam Konfrontasi, Sarwo Edhie pernah mendiskusikan konsep itu dengan rekannya asal Inggris, lawan Indonesia dalam Konfrontasi, Mayor Jeremy Moore. Edhie yakin pengerahan sedikit pasukan khususnya jauh lebih efektif untuk melumpuhkan lawan ketimbang menggunakan pasukan besar gerilyawan. Konsepnya terinspirasi dari pasukan Belanda ketika melakukan agresi di Perang Kemerdekaan. Meski jumlahnya kecil, mereka dapat mengalahkan pasukan gerilya yang jumlahnya jauh lebih besar. “Wibowo yakin bahwa para komandannya dapat melakukan hal yang sama. Wibowo memilih kompi FDL di Plaman Mapu untuk menguji teorinya,” sambung van der Bijl. Pos Plaman Mapu, yang terletak di atas sebuah bukit, dipilih sebagai sasaran karena sering digunakan untuk mendrop pasukan elit Inggris SAS sebelum melakukan patroli di hutan-hutan perbatasan atau penyusupan ke wilayah Indonesia. Selain itu, pos tersebut juga dipilih jadi sasaran karena pada awal 1965 dijaga Kompi B Batalyon Ke-2 Resimen Parasut (2 Para) AD Inggris yang personilnya minim jam terbang. Lima belas dari personil Kompi B masih berusia 18-19 tahun dan baru saja menyelesaikan pendidikan singkat jungle warfare  di hutan Semenanjung Malaya pada Februari. Untuk mewujudkan rencana itu, RPKAD mengirim satu batalyon dari Grup 2 pada Februari. Setelah mendarat di Pontianak, mereka berjalan kaki menuju pos di Balai Karangan. Dari sana, mereka terus melakukan pengintaian ke pos terdepan Inggris dan mengonsep serangan. Mereka mendapati ada hari-hari di mana pos Inggris hanya dijaga oleh satu pleton karena dua pleton lain berkeliling patroli. Setelah sebulan mengadakan pengintaian dan persiapan, pada 25 April Komandan Batalyon Mayor Sri Tamigen memutuskan tiga kompi, termasuk Kompi Ben Hur, sebagai pelaksana misi, sementara satu kompi lain bersiaga di wilayah Indonesia. Selepas magrib tanggal 26 April yang diiringi hujan, sekira 200 personil RPKAD itu berjalan menuju Mapu dengan bersenjatakan masing-masing senapan otomatis AK-47. Kompi itu juga membawa bren, mortir, peluncur roket serta Bangalore torpedo untuk menyingkirkan rintangan kawat atau ranjau. Saat itu, pos Mapu dijaga oleh 36 personil. Pos itu terbagi ke dalam empat seksi, masing-masing seksi dilengkapi senapan mesin, dengan pusat komando di tengah. Selain dilengkapi bungker dan parit perlindungan, pos itu dipagari kawat berduri, ditanami ranjau, dan dilindungi dua mortir 3 inci. “Pos ini bila dihujani peluru dari luar perimeter tidak akan menghasilkan apa-apa karena lubang-lubang di pos-Ubang sangat kuat perlindungannya. Satu-satunya cara untuk merebut pos ini adalah mendorong ke perimeter dan bertarung dari jarak dekat,” kata Mayor Sri Tamigen dalam laporannya, dimuat di  paradata.org.uk . Namun, suara hujan membuat suara langkah-langkah manusia atau suara lain tak terdengar dari pos itu ketika peluru-peluru pasukan RPKAD menghujani pos pukul 5 pagi. “Dalam kegelapan total dan hujan lebat, pasukan parasut Indonesia menyerang Plaman Mapu dengan kekuatan penuh senjata superior mereka, menembakkan artileri, mortir, senapan mesin, dan roket langsung ke salah satu segmen (pos, red .) Inggris, segera memangsa posisi dan salah satu mortir,” tulis buku terbitan RW Press   Paratroopers, Ready for Anything: From WWII to Afghanistan . “Dalam rentetan tembakan pertama, salah satu dari dua posisi mortir kami dihancurkan, bersama dengan setengah dari orang-orang yang memegang mortir. Mereka telah membunuh dua tentara dan melukai beberapa lainnya yang membuat jumlah kami turun menjadi delapan belas yang berdiri dan mampu bertempur,” kata Serma John Williams, dikutip Allen. Mayor Jon Fleming, komandan Kompi B, baru tahu jika posnya diserang setelah seorang petugas sinyal memberitahunya. “Sambil meletakkan kainnya di atas sarung yang ia kenakan, ia (Fleming) keluar ke malam yang basah diterangi ledakan, tracer , dan suar. Kedua tangki air tertembak, seperti juga area di sekitar menara penjaga. Meski personil para-nya berdiri dengan cepat, sebuah mortir membunuh Prajurit Smith dan melukai dua lainnya ketika mereka bergegas ke mortir di dekat gudang,” sambung Allen. Seluruh personil di pos Inggris kaget oleh serangan kilat RPKAD itu dan secepat mungkin meraih senjata untuk mengadakan perlawanan. Serma Williams langsung berlari menuju sektor tempat pertempuran berlangsung. “Ia bertemu Prajurit Kelly, seorang penembak mesin dari bunker yang telah diserang, linglung karena kepalanya tertembak dua kali dan terus mengacungkan pistol Browning 9mm-nya ke hampir semua yang bergerak. Williams dengan tenang melucuti dirinya dan menginstruksikan seorang prajurit untuk membawa Kelly ke Pos Komando tempat para korban sedang berkumpul,” sambung Allen. Mayor Fleming langsung melaporkan serangan itu ke atasannya, Letkol Ted Eberhardie. Karena setiap kali Fleming akan kembali ke lokasi pertempuran dia dipanggil kembali ke radio, dia lalu menyerahkan kepada Serma Williams. “Dia (Williams) berkeliaran, meraih sebanyak mungkin prajurit yang bisa dikerahkannya, dan berusaha membawa mereka ke posisi yang menguntungkan, tetapi, ketika dia melakukannya, pasukan Indonesia meledakkan mortir, menyebar prajurit dan hanya menyisakan lima kaki. Williams melesat ke salah satu posisi senapan mesin, dijaga Kopral Malcolm Baughan dan beberapa lainnya sementara mereka memaksa musuh kembali ke parit,” sambung Paratroopers, Ready for Anything. Pertempuran yang melibatkan pertarungan jarak dekat itu akhirnya berubah begitu fajar menyingsing dan pasukan Inggris mulai mendapatkan jarak pandang yang baik. Ketika pasukan Gurkha tiba untuk membantu pasukan pos jaga Inggris sekira dua jam dari awal pertempuran, pasukan Indonesia telah mundur. Pertempuran Plaman Mapu pun berakhir.*

  • Supeni, Kim Il-sung, dan Ganefo

    PRESIDEN Sukarno mengangkat Supeni, politisi perempuan PNI, sebagai duta besar keliling. Ia ditugaskan meyakinkan pemimpin negara-negara Asia-Afrika untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok pertama di Beograd, Yugoslavia, pada 1–6 September 1961. Di luar tugas resmi itu, saat diundang ke Korea Utara, Supeni sempat menyinggung soal pesta olahraga yang sedang dipersiapkan oleh Sukarno untuk menandingi Olimpiade, yaitu Games of The New Emerging Forces (Ganefo). "Meskipun Bu Peni tidak punya urusan kegiatan apa-apa dengan Ganefo, tapi dalam pembicaraan dengan Kim Il-sung, sepintas lalu disinggung juga masalah ini," tulis Paul Tista dalam Supeni, Wanita Utusan Negara . Supeni sekadar bertanya kepada Kim Il-sung, apakah Korea Utara akan mengirimkan atlet-atletnya ke Ganefo. Ternyata, Kim Il-sung belum tahu tentang Ganefo dan minta dijelaskan. Setelah mendengar penjelasan dari Supeni, Kim Il-sung bertanya apakah negaranya perlu mengirim kontingen ke Ganefo? "Perlu sekali," kata Supeni "Kalau tidak kirim, bagaimana?" tanya Kim Il-sung. "Rugi, karena dengan demikian maka Korea Utara akan terisolasi," jawab Supeni. "Apakah Soviet Uni dan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) akan kirim juga?" tanya Kim Il-sung. "Ya, mereka akan kirim kontingen yang besar," kata Supeni. "Kalau begitu, sebaiknya saya kirim juga," kata Kim Il-sung. Korea Utara pun mengirimkan kontingennya ke Ganefo. Menurut Paul Tista, percakapan dengan Kim Il-sung itu tidak pernah dilaporkan kepada Sukarno maupun Menteri Luar Negeri, dr. Subandrio atau Menteri Olahraga, Maladi. "Jadi, di Indonesia pun tidak ada orang yang mengerti bahwa Bu Peni pernah memengaruhi Kim Il-sung supaya mengirimkan atlet-atletnya ke Ganefo," tulisnya. Ganefo diselenggarakan pada 10–22 November 1963 di Jakarta. Sekitar 2.700 atlet dari 51 negara bertanding dalam 20 cabang olahraga. Hasilnya, Tiongkok keluar sebagai juara, diikuti Uni Soviet, Indonesia, Republik Persatuan Arab, dan Korea Utara. Pada April 1965, Kim Il-sung mengunjungi Indonesia sebagai balasan atas kunjungan Sukarno ke Korea Utara pada 1–4 November 1964. Supeni termasuk yang turut menyambut Kim Il-sung di Istana Merdeka. "Ketika Kim Il-sung melihatnya, tiba-tiba saja tamu negara ini keluar dari jalur protokol dan menyalami Bu Peni. Presiden Sukarno tersentak melihat tamunya keluar dari jalur, tapi setelah melihat Kim Il-sung menyalami Supeni, dia tersenyum," tulis Paul Tista. Frank Galbraight, duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia, tak suka dengan keakraban Supeni dan Kim Il-sung. Ia mendekati Supeni dan berkata dengan nada mengancam, " Oh, you, you bring about this, you'll see later, I know now " (Oh, Anda, Anda membawa ini, Anda akan lihat nanti, saya tahu sekarang). Supeni menjawab, " What do you mean, is that the way you meddle in other country’s business ?" (Apa maksud tuan? Apa ini caranya tuan mencampuri persoalan negara orang lain?). Sukarno tidak mengira kalau Kim Il-sung sudah mengenal Supeni. "Kim Il-sung sendiri kemudian menceritakan kepada Bung Karno, kalau tidak ketemu Supeni, mungkin Korea Utara tidak mengirimkan atlet-atletnya ke Ganefo," tulis Paul Tista.*

  • Lapo, Restorannya Orang Batak

    PUKUL tiga sore. Meski jam makan siang telah lewat, Lapo Siagian/br. Tobing yang berlokasi di Jalan Darat No. 17 Medan masih ramai pengunjung. Sebagian menyantap makanan, sebagian lainnya menanti pesanan. Di etalase, menu makanan seperti saksang babi, daging panggang babi, dan ikan mas arsik, daun ubi tumbuk, dan kue ombus-ombus tersaji rapi di tiap baskom. Meski terlihat sederhana, mereka sungguh menggugah selera.

  • Martir Anarkis pada Peristiwa Mei 1886

    1 MEI 1886. Puluhan ribu buruh di Chicago turun ke jalan. Mereka menuntut delapan jam kerja dalam sehari. Aksi itu disambut oleh senjata api polisi sehingga menggerakan aksi lebih besar lagi yang kemudian menjadi cikal bakal May Day atau Hari Buruh Internasional. Kala itu, Chicago menjadi pusat gerakan anarkis terutama di kalangan imigran Jerman dan Ceko. Pada Kongres Internasional Kedua 1883 di Pittsburgh, mereka mengirim lebih banyak delegasi daripada kota-kota lain. Jumlahnya bahkan mencapai setengah dari total keanggotaan Amerika Serikat. Tiga makalah anarkis juga diterbitkan di Chicago dan dibaca banyak kelas pekerja. “Agitasi mencapai puncaknya di Chicago pada tahun 1886. Pada 3 Mei polisi menembaki kerumunan di luar pabrik McCormick Reaper Works yang telah mengunci orang-orangnya, membunuh beberapa orang,” tulis Peter Marshall dalam Demanding The Impossible, A History of Anarchism. Kejadian itu menyulut lagi protes besar yang digelar di lapangan Haymarket. Protes hari itu hampir berakhir damai. Hujan turun dan kerumunan tersebar. 200 polisi berbaris di alun-alun. Namun, ketika mereka mulai membubarkan massa, sebuah bom dilemparkan dari sebuah gang. Kekacauan terjadi. Polisi kemudian mulai menembak ke arah kerumunan. Dalam baku tembak itu tujuh polisi tewas dan kemungkinan tiga kali lebih banyak yang tewas dari pihak demonstran, serta enam puluh lainnya terluka. Jumlahnya tidak pernah dipublikasikan. Peristiwa itu membuat delapan orang anarkis dituduh bertanggung jawab. Mereka adalah Albert Parson, August Spies, Michael Schwab, Samuel Fielden, George Engel, Adolph Fischer, Oscar Neebe dan, Louis Lingg. Albert Parsons adalah editor suart kabar Alarm  dan August Spies editor Chicagoer Arbeiter-Zeitung . Pengadilan memvonis tujuh orang dihukum mati sementara satu orang mendapat lima belas tahun penjara. Namun kemudian, vonis dua orang dari mereka yang dihukum mati diubah menjadi penjara seumur hidup. “Dari lima orang yang dihukum mati, satu melakukan bunuh diri pada malam sebelum eksekusi,” sebut Marshall. Empat orang yang akhirnya dieksekusi adalah Parsons, Spies, Engel, dan Fischer. Mereka digantung pada November 1887. Sementara itu, para penyintas dibebaskan beberapa tahun kemudian ketika Gubernur Illinois John Peter Altgeld memerintahkan penyelidikan atas kasus tersebut dan tidak menemukan bukti yang menunjukkan bahwa mereka terlibat dalam pemboman itu. George Woodcok dalam Anarchism: A History of Libertarian Ideas and Movements  menyebut pengakuan ketidakadilan yang dialami para anarkis itu membuat mereka menjadi martir klasik gerakan buruh. Namun, ada satu hal yang masih kabur. “Tidak seorang pun, seperti yang saya katakan, pernah tahu siapa yang melempar bom Haymarket. Itu mungkin agen provokator,” sebut Woodcock. Insiden Chicago menjadi awal dari prasangka orang Amerika terhadap anarkisme dalam bentuk apa pun. Pada tahun-tahun berikutnya, kaum anarkis di Amerika Serikat terlibat dalam sedikit kekerasan. Namun sayangnya, dua dari sedikit insiden yang melibatkan mereka begitu terkenal, yakni percobaan pembunuhan terhadap pemodal Henry Clay Frick oleh Alexander Berkman pada 1892 dan pembunuhan Presiden McKinley oleh Leon Czolgosz pada 1901. Meski demikian, Kongres Sosialis Internasional II di Paris pada Juli 1889 menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional. Sementara itu, Amerika Serikat memilih hari Senin pertama di bulan September sebagai Hari Buruh.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page