Hasil pencarian
9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Insentif untuk Para Petugas Medis
PEMERINTAH mengalokasikan Rp405,1 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menangani wabah covid-19. CNN Indonesia mengabarkan, dana tersebut akan diberikan untuk insentif kesehatan sebesar Rp75 triliun, insentif perlindungan sosial Rp110 triliun, insentif perpajakan dan Kredit Usaha Rakyat Rp70,1 triliun, dan insentif pembiayaan dan restrukturisasi Kredit Rp150 triliun. Adapun insentif untuk petugas kesehatan yang ikut menangani covid-19 diberikan sebanyak Rp15 juta untuk dokter spesialis, Rp10 juta untuk dokter umum, Rp7,5 juta untuk bidan dan perawat, dan Rp5 juta untuk tenaga medis lainnya. Pada masa kolonial, insentif juga diberikan kepada petugas medis yang dikerahkan untuk menangani wabah. Kala malaria melanda Jawa pada abad ke-19, Kepala Dinas Kesehatan Koloni dokter Willem Bosch mengusulkan agar seluruh petugas kesehatan yang ikut menangani wabah mendapat status pegawai negeri. Sejak 1824 para vaksinatur diangkat sebagai pegawai negeri. Residen Pasuruan dalam suratnya kepada Gubernur Jeneral Duymaer mengusulkan agar vaksinatur atau mantri cacar di daerahnya mendapat gaji f 40 per bulan. Mereka juga diizinkan untuk mengenakan payung kala berpergian. Hal serupa juga berlaku untuk dokter Jawa. Kala itu, payung jadi simbol status sosial bagi orang Jawa dan Madura juga di mata para pejabat Eropa. Bosch tidak menyukai rekomendasi itu. Pada Maret 1853 ia memberi tahu gubernur jenderal bahwa mantri cacar adalah jabatan medis paling rendah. Mereka tak tahu banyak tentang penanganan kesehatan selain instruksi vaksinasi paling sederhana, sehingga tidak seharusnya mereka mendapat penghargaan sebanyak itu. Menurut Liesbeth dalam bukunya Healers on the Colonial Market, Bosch khawatir penghargaan sosial yang tak beda jauh antara mantri dan dokter Jawa akan berdampak negatif pada perekrutan dokter Jawa baru dari keluarga Jawa terpandang. “Tidak jelas juga apakah lulusan sekolah dokter Jawa yang mendapat posisi sebagai pemberi vaksin menikmati gaji dan status yang sama seperti vaksinatur biasa,” kata Liesbeth. Pada 1854 di Priangan kala cacar mewabah, mantri cacar mendapat kenaikan gaji dari 3 gulden menjadi f21 per bulan. Dan usulan residen Pasuruan untuk menggaji mantri cacar sebanyak f40 gulden per bulan dikabulkan. Gaji tersebut dua kali lipat dari standar gaji mantri yang maksimum f25 per bulan. Apresiasi pada kerja para mantri rupanya tak berlanjut kala malaria melanda Jawa. Untuk memberantas malaria, Dokter Eropa JT Terburgh dan dokter Tjipto Mangoenkoesoemo dibantu 10 mantri ditugaskan di daerah terjangkit. Hans Pols dalam Nurturing Indonesia mengisahkan, para mantri dibayar amat rendah. Mereka pun beerkeluh-kesah pada Tjipto sebagai dokter pribumi sekaligus atasan mereka. Tjipto melaporkan hal tersebut ke pejabat Eropa setempat. Laporan Tjipto disanggah Terburgh dengan menyatakan para mantri Jawa hanya mau bekerja jika dibayar di atas standar upah. Lebih jauh Terburgh menuduh Tjipto dan para mantri Jawa tidak paham dengan kerja kemanusiaan. Tjipto jelas tidak terima dengan tuduhan Terburgh. Tjipto pun mengancam kalau permintaan kenaikan gaji tidak dikabulkan, dia akan mengundurkan diri. Pada akhirnya Terburgh menolak protes Tjipto dan dia mengundurkan diri. Sementara, kala pes pertama kali merebak, dokter Logem datang bersama 14 dokter Jawa ke daerah terjangkit. Martina Safitry, dosen IAIN Surakarta, menyebut dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, para mantri dan dokter Jawa jadi ujung tombak pemberantasan pes yang bermula di Malang pada 1910. Para dokter Eropa enggan masuk ke desa-desa untuk mengobati penduduk pribumi secara langsung. Selain karena sekat rasial dan kelas, akses yang jauh membuat mayoritas dari mereka enggan masuk ke desa-desa. Tjipto menjadi salah satu dokter yang terjun langsung menangani wabah itu bersama para mantri dan dokter Jawa lain. Namun sayang, para dokter Jawa ini mengalami diskriminasi berupa upah yang kecil. Padahal, mereka bertugas sejak jam 6.30 pagi hingga 5 sore. Setelah menangani pasien, mulai pukul 5.30 mereka harus membuat laporan kepada dokter Eropa yang mengawasi kerja mereka. “Bikin laporannya bisa sampai jam 9 malam. Jadi sudah tak ada jeda untuk diri mereka sendiri,” kata Martina pada Historia. Meski terjun ke lapangan kala wabah pes, nasib para dokter Jawa kian buruk pada masa kepemimpinan dokter O.L.E. de Raadt. Gaji mereka diturunkan dari f60 menjadi f40. Selain itu, menurut Tjahaja Timoer 14 Januari 1914, fasilitas rumah mereka dicabut. “Gaji perawat Eropa yang mengajar perempuan Jawa f250 per bulan. Jauh sekali gajinya, sangat diskriminatif,” kata Martina. Banyaknya beban kerja dus gaji kecil tersebut akhirnya memicu protes. Martina menyebut banyak konflik ketika kepemimpinan de Raadt yang dipicu pengurangan gaji. Perubahan struktur besar-besaran dalam penanganan pes pun mulai dilakukan pada 1914. Jumlah mantri dan dokter Jawa yang diterjunkan makin banyak. Tugas mantri tidak terbatas pada vaksinasi tetapi juga penerangan (sosialisasi) tentang penyakit pes. Petugas medis Eropa sekali-dua berkunjung ke pedalaman. Namun demikain, ada atau tidaknya perubahan insentif untuk tenaga medis tidak disebutkan. Faktanya, hingga generasi Bahder Djohan menjadi dokter tahun 1927, diskriminasi pada tenaga medis pribumi masih tercatat.*
- Upaya Belanda Mengalahkan Aceh
Rencana cepat Belanda mengamankan seluruh wilayah Sumatera terganjal di wilayah Aceh. Kerasnya perjuangan rakyat, serta medan yang asing membuat orang-orang dari Benua Biru ini harus rela mengalihkan seluruh fokusnya ke sana. Tentu bukan perkara mudah. Kurangnya informasi tentang daerah tersebut benar-benar membuat Belanda kewalahan. Terbukti ketika pasukan tempur Belanda melakukan serangan ke wilayah itu pada 1873 –dikenal sebagai Perang Aceh Pertama. Di bawah pimpinan Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah, rakyat Aceh berhasil memukul mundur J.H. Kohler dan ribuan pasukannya. Mereka yang selamat kocar-kacir meninggalkan Aceh, sementara Kohler sendiri tewas dalam upaya pendudukan tersebut. Kehilangan muka pada percobaan pertama membuat Belanda kembali merapatkan barisan di tahun berikutnya. Dalam penelitian Arndt Graf, dkk dalam Aceh: History, Politics, dan Culture, para pemimpin Belanda bersikeras menguasai wilayah Aceh yang strategis bagi kepentingan dagang mereka. Serangan besar pun disiapkan. Kekuatannya diperkirakan tiga kali lipat dari pendaratan yang pertama. “Kehilangan muka itulah hendak ditebusnya dengan segala keangkaramurkaan dan cara-cara yang jauh dari peri kemanusiaan, bahkan juga melanggar hukum internasional sendiri,” tulis Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad Jilid Kedua . Namun Belanda harus menghadapi kenyataan bahwa persiapan perang rakyat Aceh begitu matang. Bagian pantai utara dan timur yang biasa menjadi tempat masuk kapal-kapal ke wilayah tersebut dijaga dengan sangat baik. Begitu pula jalur darat di selatan dan pantai barat yang tidak kalah ketat penjagaan dari pasukan kerajaan Aceh. Menyerang dari Dalam Demi bisa menghancurkan pertahanan rakyat di daerah-daerah tersebut, kata Said, Belanda menggunakan dua cara: Pertama, menghancurkan perkampungan dan pelabuhan dengan tembakan meriam dari kapal-kapal perang mereka. Kedua, mengangkat orang-orang yang mudah diperalat untuk menjalankan siasat pecah belah. Mengenai cara yang kedua, para penjajah ini telah menjalankannya selama bertahun-tahun sebelum dimulainya Perang Aceh Pertama. Salah satunya melalui Sultan Mahmud dari Kesultanan Deli. Ia yang bersedia menandatangani perjanjian politik dengan Belanda, pada 22 Agustus 1862, menjadi jalan bagi Belanda untuk melancarkan rencananya. Deli menjadi batu loncatan bagi mereka menguasai daerah-daerah di sekitar pusat Kerajaan Aceh. Dari wilayah milik Sultan Deli tersebut, Belanda berhasil melebarkan kekuasaannya ke daerah Asahan dan Pulau Kampai. Dijelaskan Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh: dari Perebutan Pantai Timur Sumatera Hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19 , bersedianya Deli membantu Belanda tidak lain karena wilayah mereka telah lama diusik oleh Aceh. Sehingga datangnya orang-orang Eropa ini menjadi harapan Deli menjauhkan Aceh dari wilayahnya. “Deli mencari perlindungan dari serangan Aceh, sedangkan Serdang tidak dapat menentukan mana yang tidak terlalu buruk dari kedua yang buruk itu,” ujar Reid. Selain Sultan Deli, seorang Minangkabau bernama Raja Burhanuddin diikutkan juga dalam pengumpulan infromasi tentang Aceh. Menurut Anthony Reid, Raja Burhanuddin tercatat sebagai pegawai tetap Belanda di Batavia. Mula-mula ia pergi ke Serdang, menyamar sebagai haji dan pedagang. Tugasnya menghentikan keterlibatan Tanah Batak ke dalam Perang Aceh. “Provokasi yang dilancarkan oleh Burhanuddin, bahwa Aceh hendak memaksa Batak masuk Islam, ternyata tidak mempan. Terus terang dijawab oleh raja-raja Batak, bahwa mereka tidak ingin memusuhi Aceh. Baru mereka bersedia melawan siapapun kalau mereka diserang, sebelum itu tidak percaya provokasi Belanda,” tulis Said. Gagal di Tanah Batak, Raja Burhanuddin melanjutkan perjalannya ke Barus, baru ke Aceh Besar. Hampir selama 25 hari pegawai tetap Belanda ini berada di Aceh, ia sudah mendapat begitu banyak informasi untuk dilaporkan. Raja Burhanuddin berkesimpulan bahwa kekuasaan yang disiapkan di banyak daerah hanya ditujukan bagi penjagaan lokal, tidak untuk bergabung dengan pasukan utama Aceh. Upaya memasuki wilayah Aceh rupanya datang juga dari penduduk asing. Menurut Said, beberapa tahun sebelum penyerangan Belanda, ada seorang Tionghoa yang datang dari Penang telah berhasil mendekati Sultan Mansur Sjah di ibukota. Tionghoa itu adalah Ang Pi Auw. Ia menyatakan diri masuk Islam dan diberi nama Chi’ Putih, serta diberi gelar kepercayaan (Panglima Setia Bakti) oleh Sultan Mansur. Namun belakangan diketahui Tionghoa ini berperan sebagai agen ganda, baik bagi Aceh maupun Belanda. “Sejauh mana keyakinan Sultan Aceh kepadanya tidaklah jelas, tapi sukar untuk mencari nama Ang Pi Auw yang sudah disebut panglima dalam usaha perlawanan rakyat ketika Belanda menyerang. Nama Ang Pi Auw muncul kembali sesudah dia mendapat angkatan sebagai “luitenant de Chineezen” dari Belanda. Rupanya dia memperoleh tanda jasa pula dari Belanda,” ujar Said. Demi mematangkan rencananya, Belanda mengirim mata-mata lain. Adalah G. Lavino, konsul Belanda di Penang. Sebagai sekutu, basis kekuatan Aceh di Penang cukup besar sehingga Lavino ditugasi mengacaukannya. Tugas pertama Lavino adalah mengusik Panitia Delapan –dewan penasihat Aceh di Penang yang juga bekerja membantu memasok persediaan logistik Aceh semasa perang. Lavino mencari informasi sebanyak-banyaknya dari orang-orang yang berada di antara Panitia Delapan tersebut. “Jaringan-jaringan spionase Belanda giat dan harus diakui cukup aktif. Lavino mempunyai banyak pembantu, mereka dapat saja lolos keluar masuk Aceh tanpa diketahui,” tulis Said.
- Ode untuk Legenda Renang Lukman Niode
GELANGGANG olahraga Indonesia berduka. Salah satu legenda terbaiknya, Lukman Niode, mengembuskan nafas terakhir di Rumahsakit Pelni Jakarta, Jumat (17/4/2020) siang. Atlet renang yang acap mengharumkan nama bangsa di era 1980-an itu meninggal di usia 56 tahun setelah dinyatakan positif virus corona. “Iya (positif virus corona ), informasi dari dokter teman Mas Luki (sapaan Lukman Niode) yang ikut mengawal beliau,” ujar Krisna Bayu, legenda judo yang juga rekan satu naungan di Indonesian Olympian Association (IOA), saat dihubungi Historia. Idrus Niode, kakak Lukman, memberitakan bahwa Lukman sudah masuk RS Pelni sejak Selasa (14/4/2020). Usai dilakukan swab test sehari kemudian, ia dinyatakan positif tertular virus coron a. Setelah dua hari perawatan, ia dinyatakan meninggal pada pukul 12.58 WIB, Jumat (17/4/2020). Perenang pertama Indonesia yang turun di pentas Olimpiade Los Angeles 1984 itu dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta. “Dia sebelumnya ikut tim relawan dari KSP (Kantor Staf Presiden),” sambung Bayu. Sejak beberapa waktu belakangan, Lukman ikut tim KSP yang menyalurkan barang-barang bantuan COVID-19 dari para penyumbang. Saat itulah dia terserang penyakit maag sejak Selasa (14/4/2020). Namun lantaran bolak-balik ke rumahsakit (RS Setia Mitra, RS Pondok Indah, RSPI Sulianti Saroso, RS Persahabatan, hingga RS Pelni), Lukman kemudian terkena COVID-19. Olympian Krisna Bayu mengenang sosok mentor Lukman Niode (Fernando Randy/Historia). Saat kondisinya kian parah, paru-parunya mengalami flek. Setelah dilakukan tes swab , barulah terang-benderang bahwa ia positif corona meski dari dua rapid test yang dijalani Lukman sebelumnya hasilnya negatif . “Jujur saya masih syok sampai sekarang. Istri saya (Dida) juga masih sedih banget. Karena belum lama juga diskusi sama Mas Luki untuk membuat program (olahraga berkuda). Dengan perginya Mas Luki, separuh hidupnya sudah didedikasikan untuk olahraga,” lanjut Bayu. “Saat ini olahraga Indonesia sangat berduka kehilangan pahlawan olahraga. Ilmu-ilmu yang sudah dia berikan pasti akan dikenang semua atlet. Karena dia aktif ikut bantu organisasi, tidak hanya PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia) tapi juga di banyak cabang olahraga, termasuk soal sport science- nya. Bagi saya dia adalah pahlawan olahraga Indonesia sejati,” imbuh ketua umum Persatuan SAMBO Indonesia itu. Darah Renang Lukman yang berdarah Gorontalo itu lahir di Jakarta, 21 Oktober 1963 sebagai anak keempat dari lima bersaudara. Ayahnya, M. Niode, seorang pelatih renang di klub Tirta Kencana. Hasrat renang Lukman muncul sejak usia dini, berangkat dari rasa penasarannya untuk ikut-ikutan tiga kakaknya yang dilatih sang ayah: Idrus, Nana, dan Burhanudin Niode. “Saya belikan dia celana renang supaya bisa ikut-ikutan berenang dengan kakak-kakaknya,” ujar J. Niode, ibunda Lukman Niode, dikutip Kompas , 27 September 1981. Mulanya Lukman hanya sekadar main air di kolam renang. Obsesinya menseriusi olahraga renang muncul di usia sekolah dasar ketika acap melihat ketiga kakaknya mendulang prestasi di berbagai ajang perlombaan. Melihat gairah itu, ayahnya pun akhirnya ikut melatihnya. Menahan nafas sebagai teknik dasar olahraga renang menjadi pelajaran pertama yang diberikan sang ayah. Itu dilakukan di rumah dengan menggunakan wastafel yang dipenuhi air. “Muka saya masukkan ke dalamnya, lalu tiap tiga hitungan saya mengambil nafas,” tutur Lukman, dikutip dari Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia: 1983-1984 . Metode itu jadi dasar Lukman untuk mendalami renang gaya bebas. Seiring berkembangnya skill , Lukman justru menyenangi gaya punggung. Raja PON ke Arena Olimpiade Seiring beranjak usianya, pundi-pundi prestasinya makin penuh. Pada Kejurnas 1976 saja, Lukman menyabet sembilan emas. Pada Pekan Olahraga Nasional IX 1977, Lukman yang ikut Kontingen DKI menyapu bersih 10 emas dari 10 nomor cabang renang sekaligus menetak tiga rekor nasional. di PON berikutnya (1980), dia mendulang tujuh emas. Capaian itu kemudian membuat Lukman diikutsertakan ke timnas renang kala Indonesia pertamakali ikut SEA Games, di Kuala Lumpur, 19-26 November 1977. Dalam persiapannya, ia bersama timnas renang dibawa pelatih kepala MF Siregar ke Amerika Serikat untuk digembleng. “Pemusatan latihan nasional di San Diego, Amerika Serikat selama dua tahun. Semua biaya penyelenggaraan latihan ditanggung PT Pertamina dan KONI Pusat. Seluruhnya 15 perenang, antara lain Lukman Niode, Kristiono Sumono, Gerald HP Item, dan Johnny Item,” tulis Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti Handayani dalam biografi MF Siregar, Matahari Olahraga Indonesia . Lukman Niode (kiri) bersama pelatihnya Mangombar Ferdinand Siregar (Foto: Repro "Matahari Olahraga Indonesia") Persiapan tersebut tak sia-sia. Di SEA Games 1977, kontingen Indonesia yang menjalani debutnya langsung jadi juara umum. Dari total 62 emas, 19 di antaranya datang dari cabang renang. Lukman sendiri menyumbang tiga emas dari nomor 100 meter dan 200 meter gaya punggung serta 4x100 meter medley relay putra . Prestasi itu kemudian diulanginya di SEA Games 1979 Jakarta, SEA Games 1981 Manila, dan SEA Games 1983 Singapura. Adapun di Asian Games 1978, Lukman mendulang sekeping perunggu di nomor 4x100 meter medley relay putra. Sementara di Asian Games 1982, Lukman mengalungi enam perunggu dari nomor 100 meter gaya bebas, 100 meter gaya punggung, 200 meter gaya punggung, 4x100 meter gaya bebas relay , 4x200 meter gaya bebas relay , dan 4x100 meter medley relay. Capaian di Asian Games 1982 itulah yang mengantarkannya jadi satu-satunya wakil Indonesia di cabang renang untuk turun di Olimpiade Los Angeles 1984. Gemilangnya Lukman di Asian Games 1982 itu juga merupakan buah dari sokongan KONI Pusat yang mengirimnya belajar ke Cypress High School dan Golden West Collenge, keduanya di Los Angeles. Di Olimpiade Los Angeles, Lukman berlaga di McDonald’s Olympic Swim Stadium, 31 Juli 1984. Ia turun di tiga nomor. Sayangnya ia gagal melangkah ke ronde final. Di nomor 100 meter gaya bebas, ia finis di urutan enam, sementara di nomor 100 meter dan 200 meter gaya punggung Lukman masing-masing hanya finis di urutan kelima. Lukman gagal pulang membawa medali. Prestasi internasional terakhir yang ditorehkannya untuk Indonesia datang dari Asian Games 1986. Sekeping perunggu di nomor 4x100 meter medley relay dipersembahkannya. Dedikasi Olahraga hingga Akhir Hayat Setelah pensiun pada 1988, Lukman tetap berkecimpung di dunia renang. Kurun 1988-1990, ia jadi pelatih kepala tim renang putra Golden West Collenge. Ia lalu masuk di tim pelatih UCLA (University of California, Los Angeles) sepanjang 1989-1991, sembari menyelesaikan studi arsitektur S1-nya di UCLA, dan gelar masternya di UCI (University of California, Irvine). Meninggalkan renang sejak 1991 untuk jadi arsitek di firma Mackenzie McKay & Partner di Los Angeles, Lukman pulang ke tanah air pada 1996. Seiring kerinduannya pada olahraga, ia mengalihkan waktunya untuk mengenyam studi manajamen olahraga dan sport science di Australian Institute of Sports pada 1997. “Hidupnya banyak ikut mengurusi cabang-cabang olahraga, ikut membantu bagaimana sport science itu bisa masuk, mengingat dia sekolah (studi) itu di luar negeri. Tidak hanya PRSI. Dia orang yang lurus dalam membantu, tanpa tendensi atau kepentingan tertentu,” kata Bayu lagi. Selain berkiprah di olahraga, Lukman Niode juga punya gelar master di bidang arsitektur. (Fernando Randy/Historia). Sembari mendirikan firma desain dan arsitektur Principal pada 2000 dan Surya Institute pada 2008, ia mendedikasikan hidupnya di organisasi olahraga. Ia dipercaya menjadi kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Pusat pada 2003, ketua Komisi Atlet di Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pada 2007, dan Sekjen Indonesia Olympians Association sejak 2018. “Di KONI dia bikin konsep PAL (Program Atlet Andalan). Inisiasi Prima (Program Indonesia Emas) konsepnya dari dia juga. Dia bisa mikir jauh ke depan, bagaimana prestasi Indonesia 10-25 tahun ke depan. Dia bahkan punya master plan untuk bagaimana atlet-atlet Indonesia bisa terus ada yang juara di olimpiade. Tapi dia kalah terus, gagal, kepentok birokrasi,” tambahnya. “Di luar sistem (organisasi) dia juga banyak bantu, apalagi pada sesama olympian . Dia banyak bantu saya ketika lagi membangun organisasi SAMBO. Di mata saya, Mas Luki adalah mentor, kakak yang baik. Dia praktisi olahraga yang seumur hidup didedikasikan kepada olahraga. Penggebrak yang bicara real apa adanya tanpa tendensi politik. Dia patriot olahraga sejati,” tandas Bayu mengenang sosok Lukman.
- Merawat Kisah Nabi Yusuf
BERALASKAN tikar, sejumlah orang duduk bersila, berjajajar, saling berhadapan. Sebuah kitab diletakkan di atas bantal. Lalu, secara bergiliran, dengan takzim mereka mendendangkan larik-larik puisi Yusuf dalam ragam tembang cara Osing. Ya ta rawuh Jabra'il, angucaping rasul ika, mawa surat Yusuf age, serawuhireng ayunan, tumulya tur peranata, punika jeng surat Yusuf. (Maka tibalah Jibril, berucap kepada Sang Rasul Muhammad, membawa surat Yusuf, setiba di hadapannya, lalu berhatur sembah, inilah surat Yusuf). Demikianlah petikan Lontar Yusuf, yang tertulis dengan aksara pegon dan berisi tentang kisah Nabi Yusuf. Di Banyuwangi, Jawa Timur, Lontar Yusuf bukan hanya disimpan tapi juga dibacakan atau ditembangkan ( mocoan ). Tradisi mocoan Lontar Yusuf masih bertahan di desa-desa Osing, suku asli Banyuwangi, seperti Olehsari, Bakungan, Kemiren, Rejosari, dan Cungking. Biasanya dilakukan dalam prosesi selamatan yang berkaitan dengan daur hidup manusia seperti kelahiran, khitan, perkawinan atau ritual bersih desa dan tolak bala. Gunawan Suroto dalam “Dolan Menyang Blambangan”, dimuat majalah Kunthi , Juni 1973, menyebut mocoan di Banyuwangi mirip dengan macapat di Jawa Tengah dan mamaca di Madura. Bahannya dari dongeng atau cerita-cerita yang tertulis dalam lontar, buku-buku babad Jawa, ataupun kisah para nabi. Membacanya bergiliran. “Tembangnya tembang Banyuwangi. Jika ditemukan ada tembang-tembang Jawa Tengahan, seperti Asmarandana , Durma , Pangkur , dan lain-lain, caranya juga menggunakan tembang atau cengkok Banyuwangi,” tulis Suroto. Kisah Nabi Yusuf Kisah Nabi Yusuf dalam bentuk tembang ditemukan di berbagai tempat di Jawa, Madura, Lombok, dan daerah lainnya. Jumlahnya mencapai tak kurang dari 1.000 naskah. Sebagian besar bersumber dari surat Yusuf dalam Al-Qur'an. Pigeaud, javanolog asal Belanda kelahiran Jerman, dalam Literature of Java menduga kisah Nabi Yusuf merupakan hasil transformasi dari naskah Melayu yang dikreasi ulang berdasarkan teks asli Arab oleh para pujangga di Nusantara (Jawa). Siapa penulisnya tak diketahui. Mungkin seorang sarjana di komunitas keagamaan Muslim di Giri atau Gresik atau Surabaya pada abad ke-17. Namun Bernard Arps, ahli sastra Jawa dari Leiden, Belanda, menyebut asal-usul dan perkembangan yang tepat masih perlu diteliti. Ada beberapa versi kisah Nabi Yusuf yang terbit dan mirip dengan “teks Jawa Timuran lama”. Salah satunya ditransliterasi dan diterjemahkan Titik Pudjiastuti dan Hardjana HP dengan judul Kitab Yusuf (1981). Titik dan Hardjana sendiri menyebut Lontar Yusuf Banyuwangi kemungkinan besar merupakan salinan tak langsung dari sebuah manuskrip dari Cirebon, yang disusun pada tahun Jawa 1555 (1633-1634 M). Tapi, di antara kedua naskah tersebut, terdapat perbedaan yang menonjol, terutama dalam hal pemilihan kosakata dan detil pengisahannya. Transliterasi dari manuskrip Cirebon itu juga mencantumkan toponim Karangpura. Dalam “Yusup, Sri Tanjung, and Fragrant Water: The Adoption of A Popular Islamic Poem in Banyuwangi, East Java”, dimuat Looking in Odd Mirrors suntingan V.J.H Houben dkk, Bernard Arps menduga Karangpura sebagai Karang kedhaton di Giri, salah satu tempat yang disebut Pigeaud. Yang berkuasa saat Kitab Yusuf ditulis adalah Panembahan Kawis Tuwa atau Kawis Guwa. Namun, Lontar Yusuf mungkin dikenal di Blambangan –nama lama Banyuwangi– pada tahap awal. Mungkin pula sudah ada komunitas Muslim di Blambangan ketika Lontar Yusuf ditulis atau disalin di Karangpura. “Kemungkinan besar itu digunakan, sesuai dengan isinya, antara lain untuk mendukung pengenalan Islam,” tulis Bernard Arps. Di sisi lain, di Blambangan berkembang tradisi seni mocoan kitab-kitab keagamaan. Maka, tradisi mocoan Lontar Yusuf berkembang seiring menguatnya pengaruh Islam. Dipakai sebagai sarana menarik hati masyarakat yang umumnya beragama Hindu. Ini mirip dengan pengislaman ala Sunan Kalijaga; memadukan kebudayaan Islam dan lokal (Hindu). Tak heran jika mocoan juga dilakukan dalam ritual adat di desa-desa Osing, suku asli Banyuwangi. “Di Banyuwangi, Lontar Yusuf merupakan satu-satunya naskah kuno yang hingga kini masih dirawat dan ‘hidup’ dalam masyarakat lokal, terutama di wilayah pedesaan, Banyuwangi,” tulis Wiwin Indiarti, yang mentransliterasi dan menerjemahkan naskah berangka tahun Jawa 1829 (1890-an M) dengan judul Lontar Yusup Banyuwangi (2018). “Naskah-naskah kuno Banyuwangi lainnya, seperti Kidung Sritanjung dan berbagai varian Babad Blambangan , hampir tidak pernah dibacakan lagi saat ini.” Merawat Tradisi Kegiatan mocoan mirip sebuah pengajian. Para pembaca setianya rutin membaca seminggu sekali dari rumah ke rumah secara bergiliran. Pembacaannya tidak lengkap hingga 12 pupuh melainkan hanya 2-3 pupuh awal. Namun jika mau dibaca lengkap semua pupuh, mocoan dimulai selepas Isya dan baru berakhir menjelang Subuh. Di sejumlah desa Osing, mocoan Lontar Yusuf biasa digelar dalam prosesi selamatan terkait kelahiran, khitan, perkawinan. Mereka berharap limpahan berkah Nabi Yusuf menular dalam kehidupan mereka. Para orangtua berharap anak yang akan lahir memiliki wajah dan tabiat seperti Nabi Yusuf atau anak yang dikhitan tak merasakan sakit. Pasangan pengantin berharap rukun dan bahagia hingga akhir hayat. Mocoan Lontar Yusuf juga mengiringi prosesi adat bersih desa dan tolak bala, sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa agar terhindar dari segala bencana dan penyakit. Misalnya, ritual Ider Bumi , Tumpeng Sewu , dan Seblang Bakungan . Ritual-ritual adat tersebut masuk dalam agenda Banyuwangi Festival 2020; yang masing-masing digelar pada 25 Mei, 23 Juli, dan 9 Agustus. Namun, setua apapun sebuah tradisi atau budaya, ia akan punah jika tanpa regenerasi. Perlu sebuah gerakan kultural agar warisan leluhur tersebut tak tergerus arus zaman. Awal 2017, kaum muda Osing membentuk sebuah lembaga bernama Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Osing. Salah satu programnya adalah merintis sekolah adat Osing. Mocoan Lontar Yusuf merupakan salah satu materi pembelajaran di sekolah adat Osing tersebut. Mereka juga melakukan beragam bentuk kerja, dari pendokumentasian hingga pelatihan, untuk menjaga keberlangsungan mocoan Lontar Yusuf. Dan semua usaha itu berbuah manis. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Mocoan Lontar Yusuf sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) 2019. “Alhamdulillah, tahun ini budaya dan tradisi Banyuwangi kembali ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), melengkapi tradisi lain yang telah ditetapkan sebelumnya. Selain apresiasi dari pusat, ini akan menambah semangat untuk terus lebih giat menjaga dan melestasikan tradisi luhur Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas , Agustus 2019. Hal ini menambah daftar budaya tradisi Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda seperti Janger, Seblang Olehsari dan Bakungan, hingga Keboan Aliyan.*
- Mitos dan Fakta Kolera di Aceh
KONON penyakit kolera ( ta’eun ) yang membuat masyarakat Aceh kalang kabut adalah akibat ulah perang jen (jin). Jin kafir menyerang jin muslim dengan panah. Mereka berlindung di antara manusia tanpa membedakan muslim atau bukan. Akibatnya, banyak manusia terkena panah itu yang menyebabkan penyakit kolera. Mitos muasal kolera itu disebut dalam buku De Atjehers karya Snouck Hurgronje. Ia tinggal di Aceh dari 1857 hingga 1936. "Sebagaimana di Jawa," kata Snouck, "kekuatan-kekuatan gaib memainkan peran penting berkaitan dengan cacar dan kolera, meskipun konsepsi orang Aceh sangat berbeda rinciannya dengan konsepsi Jawa." Di balik mitos itu, ternyata epidemi kolera di Aceh berawal dari serangan Belanda yang bagi orang Aceh adalah perang sabil melawan kafir. "Terhadap Belanda, rakyat Aceh sudah bertekad sabil, menang atau syahid," tulis Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad Jilid 2. Perang Sabil Perang Aceh pecah pada April 1873, tak lama setelah Traktat Sumatra ditandatangani Belanda dan Inggris pada 1 November 1871. Tujuannya mengganti Traktat London 1824 yang menghormati kedaulatan Kerajaan Aceh. Kesepakatan baru itu memberi peluang kepada Belanda untuk menguasai Aceh. Serangan pertama Belanda berhasil dipatahkan pasukan Aceh. Belanda menderita banyak kerugian, bahkan panglima perangnya, Jenderal J.H.R. Kohler tewas. Serangan kedua dilancarkan pada 9 Desember 1873 di bawah komando Letjen Jan van Swieten yang sudah pensiun. Belanda menduduki keraton pada 31 Januari 1874. Sultan Mahmud Syah mengungsi ke Pagar Ayer, di mana ia meninggal dunia karena kolera. "Pada agresi yang kedua pihak Aceh tak akan keluar dari dalam (istana raja) jika bukan karena kolera. Lihat saja agresi Belanda yang pertama," tulis Said. Van Swieten segera memproklamasikan kemenangannya. Ia mengira seluruh wilayah Aceh akan menyerah. Ternyata, perlawanan malah semakin meningkat. Kolera yang Menyusup Belanda mengerahkan 8.500 serdadu, 4.300 pelayan dan kuli ke Aceh. Tak lama kemudian, 1.500 pasukan cadangan didatangkan dari Padang. Hampir separuh dari pasukan ini adalah serdadu bayaran, terutama yang dihimpun di Belanda. Mereka berasal dari kalangan sampah masyarakat dari berbagai negera di Eropa. "Kolera menjadi bagian yang menyusup di dalam ekspedisi pasukan terbesar yang pernah dikerahkan Belanda di timur," tulis sejarawan Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh, dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19 . Kolera telah merajalela di Batavia pada November 1873. Kolera menyerang pasukan Belanda sehari setelah meninggalkan pelabuhan Batavia. Sedikitnya 80 orang tewas sebelum mendarat di Aceh pada 9 Desember 1873. Kolera yang dibawa serdadu Belanda menulari orang-orang Aceh. Kolera juga menyerbu masuk istana. Panglima Tibang, pembesar Aceh yang menyeberang ke pihak Belanda, menceritakan kala Belanda menyerang di saat itu pula pihak Aceh menghadapi serangan kolera di dalam istana. Setiap hari lebih dari 150 orang dimakamkan di pekarangan istana. Van Swieten mengepung istana pada 24 Januari 1874. Pasukan Aceh secara diam-diam meninggalkan benteng yang telah terjangkit penyakit. Mereka mundur ke bukit-bukit. "Menurut Tibang, dia dan sultan yang terakhir kali menyingkir. Ketika itu kolera sudah menyerang tubuh sultan. Tibang sendiri pun merasa diserang oleh kolera, selama delapan hari dia menderita dan mengatasinya," tulis Said mengutip Biografie van den Toekoe Panglima Maharadja Tibang karya J.A. Vink. Sementara itu, pihak Belanda yang merasa sudah menang, terkepung di Kutaraja. "Orang Belanda tak mempercayai orang Aceh. Mereka tak berani keluar jauh-jauh dari kubu pertahanan. Akhirnya, mereka terpaksa mendatangkan semua bahan makanan dan perbekalan dari Penang," jelas Reid. Belanda kehilangan 1.400 serdadu terutama karena kolera. Korban terus bertambah sekira 150 orang setiap bulan sepanjang tahun. Korban orang Aceh jauh lebih besar. Berdasarkan surat dari Aceh ke Penang, diperkirakan 37.000 orang Aceh mati karena kolera dan pertempuran pada akhir 1874. Termasuk Sultan Mahmud Syah. "Kesulitan yang dihadapi Van Swieten bertambah besar lagi dengan meninggalnya Sultan Mahmud karena penyakit kolera pada 26 Januari 1874 tanpa meninggalkan pengganti yang jelas," tulis Reid. Sengaja Ditularkan Mohammad Said mencurigai Belanda sengaja menularkan kolera ke penduduk Aceh. Alasannya karena orang Belanda sudah tahu penyakit itu ada di kapal sejak di pelabuhan Priok, Batavia. Kapal itu lekas diberangkatkan untuk menjaga agar yang di darat tak sampai kena. "Kenapa mendadak saja orang di kapal kena jika bukan karena 'barang' ini disimpan di situ?" tulis Said. Alasan lain, kapal itu sengaja tak dikarantina dan terus berlayar menuju perairan Aceh tanpa singgah di pulau atau tempat manapun yang tak ada manusianya. Said menyebut bahwa menurut laporan di perairan Aceh, seluruh armada Belanda menaikkan bendera kuning. Ini tanda internasional untuk menunjukkan kapal perang sedang dihinggapi penyakit menular. "Tidak berani masuk pantai Aceh, berhubung sudah disiarkan di kapal dan di pantai-pantai Aceh penyakit itu sudah menjalar," tulis Said. Keanehan lainnya berkaitan dengan pensiunan tentara Italia di Mincio bernama Nino Bixio. Awalnya, ia ditawari menjadi nakhoda kapal pengangkut Maddaloni . Ia menjual kapal itu kepada Belanda setelah mendapat tawaran tinggi. Ternyata, ia menjadi korban penipuan Belanda. "Sungguh menjadi tanda tanya serius bagi orang luar ketika mendengar Nino turut menjadi salah seorang korban (kolera, red. ). Padahal di kapal Maddaloni itu tak diketahui ada orang lain yang menjadi korban," tulis Said. Said menduga, Nino sengaja dikorbankan menjadi sasaran kolera. Mayatnya dibuang ke darat di salah satu pantai Aceh. Orang Aceh segera menyingkirkan mayat itu. Namun, mayat itu sudah terlanjur berada di sana beberapa waktu. "Wabah kolera sudah sempat menjalari badannya. Itu pulalah yang menyebabkan wabah turut mendarat bersama dengan mendaratnya tentara agresi Belanda waktu itu," tulis Said. Tak akan ada yang mengetahui rahasia itu selain Van Swieten dan orang-orang kepercayaannya. "Rahasia seperti ini jika terbongkar akan menjatuhkan prestise Belanda," tulis Said. "Walau masih abad ke-19, tapi sudah dikenal juga hukum internasional yang melarang suatu bangsa menyerang bangsa lain dengan alat bengis seperti bibit kolera." Memang tak bisa dipastikan penyebab wabah kolera menyebar di Aceh. Namun dari kejadiannya, menurut Said, sudah cukup alasan untuk menuduh Belanda sebagai pihak yang sengaja menyebarkan kolera ke tengah masyarakat Aceh.*
- Peter Carey: Tak Ada Bantuan Turki untuk Diponegoro
PANGERAN Diponegoro memiliki beberapa nama dalam hidupnya. Lahir di Keraton Yogyakarta pada 11 November 1785, ia diberi nama Raden Mas Mustahar. Menginjak dewasa, berusia dua puluh tahun, ia menyandang nama Raden Ontowiryo. Ketika berziarah ke Pantai Selatan, Diponegoro menyandang nama Syekh Ngabdurahim. Berasal dari bahasa Arab, Syekh 'Abd al-Rahim, nama ini mungkin disarankan oleh penasihatnya di bidang agama, barangkali oleh Syekh al-Ansari di Tegalrejo. Diponegoro kemudian mengubah nama Ngabdurahim menjadi Ngabdulkamit. Menurut sejarawan Peter Carey, penulis biografi Diponegoro, Kuasa Ramalan , perubahan nama dari Ngabdurahim ke Ngabdulkamit mempunyai makna penting. Ngabdulkamit adalah nama yang disandang oleh Diponegoro selama Perang Jawa dan yang disenyawakan dalam gelarnya sebagai raja, yakni Sultan Erucokro. Diponegoro juga menggunakan nama Ngabdulkamit di Manado. Setelah tiba di pengasingan itu, ia meminta dipanggil hanya dengan nama Pangeran Ngabdulkamit bukan Pangeran Diponegoro, gelar yang diteruskannya kepada putranya yang sulung. Di Makassar, ia juga menggunakan nama Abdulkamit dalam karya-karya tulis keagamaannya. Nama Ngabdulkamit begitu penting bagi Diponegoro karena nama itu merujuk kepada nama sultan Turki, bangsa yang dikaguminya. 'Abd al-Hamid I, sultan Turki Usmani (bertakhta 1773–1787). (Wikimedia Commons). Menurut sejarawan M.C. Ricklefs, pilihan nama itu mungkin berkaitan dengan 'Abd al-Hamid I, sultan Turki Usmani akhir abad ke-18 (bertakhta 1773–1787), raja Turki pertama yang mengaku memiliki kewenangan sebagai khalifah, pelindung kaum muslim di seluruh dunia. Diponegoro mengetahui tentang aneka upaya Sultan 'Abd al-Hamid I dalam memperbarui tentara Turki Usmani dan pendakuannya sebagai khalifah dari mereka yang pulang dari naik haji. "Lagi pula banyak orang Jawa kagum dengan Kemaharajaan Turki Usmani waktu itu sebagai benteng kekuasaan Islam di Timur Tengah dan sebagai pelindung terhadap meluasnya kekuatan Eropa yang Kristen," tulis Peter Carey. Kekaguman Diponegoro ditunjukkan dengan menyalin sejumlah pangkat dan nama-nama resimen yang digunakan dalam kemiliteran Turki Usmani. Pasukan kawal elitenya yang mengenakan sorban aneka warna dan panji-panji resimen berlambang ular, bulan sabit, dan ayat-ayat Alquran, ditata dalam kompi-kompi dengan nama seperti Bulkio, Turkio, dan Arkio. Nama resimen itu meniru nama-nama Bölüki (dari bölüki , satu regu), Oturaki, dan resimen kawal para sultan Turki Usmani, Janissar Ardia. Dalam waktu yang sama, panglima tentaranya yang terkemuka, Sentot yang baru berusia 17 tahun, menerima gelar Ali Basah, yang mungkin diambil dari istilah Turki 'Ali Pasha ('al-Basha al-'Ali/Pasha Yang Mulia) atau dari nama Muhammad Ali Pasha, penguasa Mesir, gubernur atau wakil (pasha) terkemuka Kesultanan Turki Usmani awal abad ke-19. Para pangeran dan pejabat tinggi Yogyakarta yang berjuang di pihak Diponegoro juga menggunakan nama dan gelar Turki Usmani, seperti Basah dan Dullah. "Diponegoro juga menyebut dalam babad karyanya teladan sultan Turki Usmani sebagai penguasa tertinggi di Mekah," tulis Peter Carey. "Panji perang pribadi Diponegoro sendiri pola layar segitiga hijau dengan bulatan matahari di tengah dan panah bersilang mungkin juga diilhami oleh tradisi militer Turki Usmani." Meskipun mengagumi Turki Usmani, menurut Peter Carey, Diponegoro tidak mendapatkan balabantuan langsung dari Turki Usmani dalam Perang Jawa. "Ketika mengajukan Babad Diponegoro sebagai warisan dunia, kami ditanya apakah pentingnya naskah ini bagi dunia," kata Peter Carey dalam live instagram@historiadotid tentang "Sisi Lain Kehidupan Pangeran Diponegoro" pada Kamis, 16 April 2020, pukul 12.00 WIB. Untuk menjawab pertanyaan itu, Peter Carey menanyakan kepada koleganya Ismail Hakki Kadi , sejarawan muda Turki dan penulis buku Ottoman–Southeast Asian Relations: Sources from the Ottoman Archives , apakah ada hubungan atau dukungan Turki Usmani kepada Diponegoro dalam Perang Jawa. "Sayangnya, tidak ada. Jika ada akan menguatkan pengusulan Babad Diponegoro sebagai warisan dunia," kata Peter Carey. Meskipun demikian, pada 21 Juni 2013, UNESCO (organisasi PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya), tetap menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia ( Memory of the World ). “Meski menetapkan busana dan memberikan pangkat Turki Usmani seperti Ali Basah (Pasha Tinggi) buat para panglima tertingginya, Diponegoro bukanlah pembaru Islam," tulis Peter Carey. "Sebaliknya, ia seorang muslim Jawa tradisional yang tidak mengenal pertentangan antara dunia kerohanian Jawa dan keanggotaannya dalam umat internasional yang pusat kerohanian serta budaya politiknya adalah Hejaz (Arab Saudi sekarang ini) dan Turki Usmani."*
- Kehidupan di Tangsi KNIL yang Kumuh
Setelah lulus sekolah pendidikan perwira cadangan, resmilah Abdul Haris Nasution menjadi tentara Hindia Belanda (KNIL). Nasution tergolong perwira rendahan. Pangkatnya masih pembantu letnan satu. Bersama Kartakusumah, rekannya sesama bumiputra, Nasution ditempatkan dalam Batalion X, Kompi Jawa di bilangan Senen, Batavia. “Kehidupan dalam tangsi ‘kompeni’ adalah merupakan pengalaman baru, terutama di mana terasa diskriminasi antara suku, Kompi I adalah Belanda, Manado, dan Kompi III adalah Jawa. Skala gaji dan menu makanan juga tidaklah sama,” kenang Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 1: Kenangan Masa Muda . Nasution menuturkan kegiatan sehari-hari para serdadu adalah baris-berbaris di Lapangan Banteng, di depan kediaman Panglima Divisi I KNIL. Ada kalanya latihan luar lapangan atau latihan menembak di Sunter. Sesekali Nasution ikut komandan kompi meninjau persiapan perbentengan di Cilincing. Dalam tugas lapangan, disiplin dijunjung tinggi sebagaimana lumrahnya dunia militer yang keras. Namun ketika kembali ke tangsi, Nas mengalami kehidupan sosial yang sangat berbeda. Menjaga ketertiban bukan perkara gampang. Pada siang hari, kamar-kamar mesti dikosongkan dan diinspeksi oleh petugas piket. “Di Batalion X inilah saya mengalami kehidupan ‘kompeni’, yang melahirkan sebutan ‘anak kolong’,” ujar Nasution. “Kiranya sulit memelihara privasi dalam asrama demikian. Dan anak-anak pun sudah banyak yang tahu.” Nasution tidak mengungkapkan secara gamblang seperti apa anak kolong yang dimaksud. Namun menurut Misbach Yusa Biran, seniman yang sering nongkrong di kawasan Senen, anak dari serdadu berpangkat prajurit disebut sebagai “anak kolong”. Istilah ini muncul karena tentara berpangkat prajurit diharuskan tinggal dalam tangsi. Mereka hanya diberi satu kamar sempit untuk satu keluarga sehingga anak-anak terpaksa tidur di kolong ranjang. Misbach juga menyebut, kawasan sekitar Batalion X tempat Nasution bernanung ini menjadi wilayah yang sangat “angker”. Pribumi yang lewat dekat sana sering dicap pro-Indonesia dan akan disiksa, termasuk oleh anak kolong. Maka tidak heran kalau kelompok anak kolong dikenal karena kenakalannya. “Mereka sering berkelahi dengan anak kampung, orang kelas bawah. Anak serdadu menghina anak kampung dan sebaliknya mereka dikatai sebagai anak kolong,” tulis Misbach Yusa Biran dalam Kenang-kenangan Orang Bandel . Menurut Tineke Hellwig dalam Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda, dalam lingkungan tentara kolonial, pergundikan dan pelacuran merupakan bagian dari realitas sehari-hari. Serdadu pribumi dan Eropa hidup bersama dalam tangsi-tangsi prajurit. Para istri dan anak-anak prajurit pribumi mempunyai tempat tersendiri dalam tangsi. Sementara itu, serdadu-serdadu Eropa hidup bersama nyai (gundik) mereka. Sepertinya kenyataan miris itulah yang disebut Nasution dengan “sulitnya memelihara privasi.” Menurut Nasution, pagi hari menjadi waktu yang paling merepotkan dalam kehidupan tangsi. Keluarga serdadu (anak dan istri) harus lekas membersihkan tempat dan pergi. Suara menangis anak-anak selalu ramai. Bocah-bocah ini pun kadang tidak sempat buang hajat ke kakus. Kartakusumah sewaktu bertugas jadi komandan piket pernah diuji kesabarannya karena menyakiskan seorang anak yang berak sembarangan di pekarangan. “Namun demikian kehadiran keluarga-keluarga ini ada pula segi enaknya. Kami selalu dapat memesan nasi pecel dari dapur bersama,” ujar Nasution berkelakar. Demikianlah pengalaman Nasution di tangsi Belanda dalam masa awal bertugas sebagai tentara jauh sebelum menjadi jenderal dalam ketentaraan Republik Indonesia.
- Nasution dan Lubis Akur, Gatot Subroto Senang
DEMI bisa melihat upacara pelantikan suaminya, Kolonel AH Nasution, menjadi KSAD untuk kali kedua, di Lapangan Banteng pada 1 November 1955, Johana Sunarti terpaksa menumpang pada seorang kenalan suaminya, Kadir. Dari rumah Kadir yang berada di pinggir Lapangan Banteng itulah Johana bisa leluasa melihat upacara pelantikan itu. “Beda dengan protokol masa Orde Baru (Orba), maka di masa liberal itu sang isteri pejabat tidak masuk protokol, jadi tidak diundang, kebiasaan dari masa perjuangan 1945-50 masih dihayati,” kata Nasution dalam otobiografinya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 3 . Upacara pelantikan itu juga berbeda dari pelantikannya sebagai KSAD saat pertamakali (1949) dan pelantikan-pelantikan para petinggi militer lain sebelumnya. “Sejak 1945 baru kali inilah pelantikan pejabat tinggi TNI dilakukan di depan pasukan. Sejak dulu pelantikan dilakukan di Istana Presiden. Prakarsa ini datang dari Kolonel Z. Lubis, yang menganggap lebih tepat di depan pasukan daripada di Istana. Saya sependapat dengan beliau,” sambung Nasution. Kolonel Lubis yang dimaksud Nas, sapaan akrab Nasution, merupakan Zulkifli Lubis “bapak intelijen Indonesia” yang saat itu menjadi Pejabat KSAD. Dalam status keluarga, Lubis dan Nas merupakan sepupu. Sama dengan Nas, Lubis juga Muslim taat yang hidup sederhana, anti-korupsi, dan anti-Komunis. Namun, hubungan keduanya tak akrab dan bahkan justru lebih banyak bertentangan. “Kebetulan kalau dengan saya, tidak pernah cocok. Saya termasuk yang diinteli terus,” kata Nas. Penyebab utama pertentangan itu yakni latar belakang pendidikan, di mana Nas mantan KNIL dan Lubis mantan Peta.“Memang sejak masa Yogyakarta sementara orang mengetahui bahwa kami seringkali bertentangan dalam pembawaan diri. Rupanya ia melihat saya sebagai militer profesional ala dunia Barat. Memang pula saya merasakan pembawaannya sebagai seseorang yang punya latar belakang pendidikan intel Jepang,” kata Nas. Pertentangan keduanya bahkan ikut mewarnai perpolitikan nasional era 1950-an. Setelah Peristiwa Oktober 1952, di mana Nas menjadi pemimpin gerakan dan Lubis berada di kubu kontra-gerakan, Nas kehilangan jabatan KSAD-nya dan Lubis diangkat menjadi wakil KSAD. Puncak konflik keduanya terjadi justru ketika keduanya berpasangan memimpin AD sejak akhir 1955. Penolakan KSAD Nas terhadap usul Wa-KSAD Lubis (Wa-KSAD) agar KSAD lebih memfokuskan urusan luar sementara Wa-KSAD mengurus internal AD, membuka puncak konflik itu. Eskalasi Konflik meningkat saat Lubis akan digeser menjadi panglima Teritorium I Sumatra Utara dalam rencana mutasi yang dibuat Nas untuk memperbaiki organisasi AD. Berkelindan dengan gejolak politik nasional di mana sejumlah daerah menuntut keadilan kepada pemerintah pusat dan beberapa panglima daerah menuntut Nas dicopot, sebuah upaya kudeta rancangan Lubis –dinamakan Nas sebagai “Peristiwa Lubis”– yang gagal akhirnya menabuh gong perang antara Nas dan Lubis. Nas, tulis Peter Kasenda dalam Kolonel Misterius di Balik Pergolakan TNI AD , “memberhentikan Lubis dari TNI AD dan membatalkan pengangkatannya menjadi Panglima Divisi Bukit Barisan.” Lubis akhirnya buron dan kemudian bergabung bersama para panglima daerah bergejolak dan politisi anti-Komunis mendirikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Lubis lalu dipenjara begitu PRRI dihancurkan pemerintah pusat. Keduanya baru akur ketika sudah sama-sama “menganggur” setelah Orde Baru berdiri. Nas hanya menjadi penulis dan pengisi ceramah di kampus-kampus usai MPRS yang dipimpinnya dibubarkan Presiden Soeharto. Sementara, Lubis berwiraswasta setelah dibebaskan dari tahanan pada 1966. Keakuran keduanya di masa aktif dalam militer jadi hanya terjadi sesaat, yang dimulai saat Nas diangkat kembali menjadi KSAD. Usai dilantik di Lapangan Banteng, Nas melakukan serah terima dengan Lubis di aula Mabes AD. “Setelah kami berdua menandatangani piagam serah-terima itu, maka saya bacakanlah order harian saya,” kata Nas. Prosesi serah-terima itu berjalan lancar dalam suasana akrab. KSAD Nas dan Wa-KSAD Lubis pun bisa tertawa bersama. Keakuran itulah yang mengundang kelakar dari Kolonel Gatot Subroto, yang di kemudian hari dipilih Nas untuk menggantikan Lubis sebagai wakilnya. “Kita aman kalau kedua saudara dari Mandailing ini tidak berkelahi,” kata Gatot, dikutip Nas.
- Dalam Keadaan Sakit, Aliarcham Tetap Melawan
Ketika akhirnya dipindahkan ke Kamp Tanah Tinggi, Aliarcham mulai mengalami batuk-batuk. Kondisinya menjadi semakin parah dan diketahui ia mengidap penyakit Tuberkulosis (TBC). Kian hari badannya semakin kurus. Mukanya pucat dan matanya juga cekung. Sukimah adalah istri Aliarcham yang pada 1926 ikut dalam pembuangan ke Okaba. Ia turut pula ketika Aliarcham dipindahkan ke Tanah Merah dan kemudian ke Tanah Tinggi. Anak laki-laki mereka yang bernama Aneksimander juga ikut dalam pengasingan ini. Di Tanah Tinggi ketika Aliarcham mulai sakit, istrinya diminta kembali Jawa. Sukimah yang saat itu tengah mengandung diminta pulang agar melahirkan di Jawa. Lagi pula akan sangat berbahaya jika penyakit Aliarcham menular ke keluarganya. “Bulan Juli 1929, dengan hati yang pilu, bertentangan dengan perasaannya dan atas desakan yang kuat dari suaminya, akhirnya Sukimah terpaksa berangkat dan meninggalkan suaminya di pembuangan,” tulis penyusun buku Aliarcham, Sedikit tentang Riwayat dan Perjuangannya . Sementara itu, keadaan Aliarcham makin buruk. Kawan-kawannya menganjurkan supaya ia berobat ke Tanah Merah. Namun Aliarcham menolak karena ia yakin bahwa pemerintah kolonial tidak akan mengobatinya karena sangat membencinya. Setelah terus didesak oleh kawan-kawan, akhirnya Aliarcham akhirnya sempat berobat di Tanah Merah dan kemudian kembali lagi ke Tanah Tinggi. Aliarcham ternyata memilih mati dikelilingi kawan-kawan daripada harus berobat hingga sembuh kepada pemerintah kolonial. Aliarcham memang keras pendirian. Padahal di Tanah Tinggi, mengidap penyakit seperti penyakit paru-paru atau malaria tanpa pengobatan berarti kematian. Seorang sersan penjaga di Tanah Tinggi bercerita kepada Chalid Salim bahwa selama berminggu-minggu Aliarcham terus batuk pada malam hari. Kemudian setiap pagi jam enam ia terlihat berjalan-berjalan di depan rumahnya untuk berjemur dengan berkalung handuk. “Tak pernah ia minta tolong. Sungguh orang luar biasa!” katanya, seperti dikutip Chalid Salim dalam Lima Belas Tahun Digul. Dokter Schoonheyt yang sempat mengobati Aliarcham di Tanah Merah memberitahu Sukimah melalui sepucuk surat. Ia menganjurkan Sukimah agar kembali ke Digul karena penyakit suaminya sudah parah. “ Saya melihat sesuatu yang luar biasa kuatnya pada diri suami nyonya, yaitu pendirian politiknya yang tak pernah kendor melawan pemerintah. Dan sebagai manusia, saya sangat menghormati akan keteguhan hati ini,” tulis Schoonheyt. Sukimah segera mengirim surat untuk Aliarcham. Ia mengatakan akan kembali ke Tanah Tinggi untuk merawatnya. Namun, keinginan sang istri ditolak Aliarcham. “Sakit saya hanya sedikit dan kalau kau datang penyakit ini takkan sembuh. Dan kau pasti tinggal saja terus di Jawa mendidik anak-anak. Dan saya pasti sembuh,” kata Aliarcham dalam surat balasannya. Sukimah tentu saja khawatir. Namun sebelum ia sempat mengabarkan terkait kepastian keberangkatannya ke Tanah Tinggi, kabar kematian suaminya justru datang lebih dulu. Pada 1 Juli 1933, Aliarcham meninggal dunia di atas perahu menuju Tanah Merah.
- Hukuman Bagi Pelanggar Karantina di Hindia Belanda
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akhirnya diberlakukan di Jakarta mulai Jumat, 10 April 2020. Aturan tentang PSBB ini tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 33 Tahun 2020 sebagai upaya memutus penyebaran virus korona. Kegiatan perkantoran dan sekolah diliburkan. Hanya beberapa sektor yang diizinkan beroprasi, seperti sektor kesehatan, pangan, energi, komunikasi, keuangan, logistik, dan penyediaan kebutuhan sehari-hari. Transportasi umum tetap beroperasi namun hanya dari pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB dan kapasitasnya dibatasi menjadi 50 persen. Pembatasan kapasitas angkut ini juga berlaku untuk mobil pribadi. “Dalam satu kendaraan, jumlah penumpang yang bisa naik bersamaan dibatasi. Bila jumlah kursinya untuk enam orang maka maksimal hanya tiga orang, dan semua di dalam mobil wajib pakai masker," kata Gubernur Anies Baswedan seperti dikabarkan Kompas.com. Kebijakan tersebut diberlakukan hingga 23 April 2020 namun bisa pula diperpanjang. Masyarakat yang terbukti melanggar aturan PSBB bisa dihukum 1 penjara atau denda hingga Rp100 juta. Pemberlakuan hukuman bagi para pelanggar karantina kesehatan juga pernah terjadi di era kolonial. De Sumatra Post 20 Juli 1910 memberitakan, karantina kesehatan diberlakukan di Deli. Seluruh biaya karantina untuk orang yang membutuhkan dibayar oleh pemerintah. Namun, bagi mereka yang melanggar aturan pada kesempatan pertama akan langsung mendapat hukuman berupa denda f 2000 atau dua tahun penjara bagi orang Eropa dan dua tahun kerja paksa bagi pribumi. “ f 2000 akan menjadi jumlah yang sangat besar bagi orang pribumi,” kata Liesbeth Hesselink, penulis buku Healers on the Colonial Market, kala dihubungi Historia. Pada tahap akhir penjinakan pes, seperti dikisahkan Martina Safitry dalam tesisnya, “Dukun dan Mantri Pes”, hukuman dan denda juga diberlakukan bagi para pelanggar aturan. Besluit No. 4064/52 tanggal 25 April menerangkan bahwa setiap orang harus menjaga kebersihan pekarangan, rumah, dan lingkungannya agar terhindar dari sarang tikus. Bambu utuh dan kotor dilarang digunakan untuk perkakas rumah. Barang-barang harus ditata dengan rapi dan beraturan. Barang siapa yang melanggar peraturan tersebut, akan dihukum berdasar artikel II dalam Staatsblad no. 484 tahun 1916 yakni denda sebanyak f 100 atau hukuman penjara 1-6 hari bagi pribumi maupun Eropa. Kala wabah influenza menyerang Hindia Belanda, aturan karantina beserta hukumannya juga diberlakukan. Dalam Staatsblad tahun 1920 nomor 723 disebutkan wewenang untuk karantina diberikan kepada pejabat kesehatan setempat. Orang dari daerah terjangkit dilarang keluar atau memasuki daerah yang dinyatakan masih sehat. Bila aturan tersebut dilanggar, hukuman pidana sudah menanti. Setiap orang yang menolak pengawasan dan tindakan karantina diancam kurungan maksimal enam hari atau denda uang maksimal f 50. Kepala sekolah atau pengelolanya yang tidak meliburkan sekolah juga akan dijatuhi hukuman serupa. Kontrol rutin terhadap kondisi kesehatan masyarakat juga digalakkan, khususnya terhadap korban-korban penyakit influenza. Lantaran penyakit ini berasal dari luar negeri, aturan ketat pada kapal-kapal di pelabuhan pun diterapkan. Orang-orang dari kapal dilarang turun dari kapal karena dikhawatirkan menulari penduduk di pelabuhan dan menyebarkan penyakit di darat. Setiap penumpang kapal yang turun harus menunjukkan bukti bahwa mereka bebas dari influenza. Bila tidak, mereka diperintahkan untuk tetap berada di kapal (bila transit) atau dikarantina terlebih dahulu sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan. Mengingat kapal berada di bawah tanggungjawab nahkoda (kapten kapal), maka pengawasan menjadi tugasnya. Apabila ada penumpang yang melanggar, nahkoda wajib menghukum pelanggar; bila tidak, nahkoda itu sendiri yang akan dihukum pemerintah karena dianggap melalaikan tugas. Kepala Dinas Kesehatan Rakyat dokter de Vogel, yang tercatat dalam karya Priyanto Wibowo berjudul Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918, merupakan orang yang mengusulkan aturan hukuman bagi pelanggar aturan karantina pada Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum. Seorang nahkoda kapal yang didapati melalaikan tanggung jawab terkait karantina kesehatan akan dihukum kurungan maksimal setahun atau denda uang maksimal f 2000. Pandangan de Vogel itu segera menuai protes dari direksi Perusahaan Pelayaran Kerajaan (Koninklijk Paketvaart Maatschappij, KPM). Mereka keberatan bila nahkoda dimintai tanggung jawab untuk mengawasi penumpang atau awak kapal yang turun tanpa izinnya. Terlebih, aturan karantina yang disebutkan de Vogel bukan bagian dari tugas seorang nahkoda, melainkan tugas petugas kesehatan atau bahkan pemerintah setempat. Pihak KPM kemudian mengusulkan agar tanggung jawab dalam peraturan karantina seharusnya diberikan oleh kepala pelabuhan. Mereka juga menyebut kebijakan tersebut bukan hanya menyulitkan nahkoda dan penumpang tetapi juga akan mematikan aktivitas perekonomian di sekitar pelabuhan. De Voogel tetap pada pendiriannya. Dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal, dia mengatakan bahwa alasan direksi KPM tentang hambatan aktivitas ekonomi terlalu dibesar-besarkan. Namun dari aturan karantina kala pandemi influenza tersebut, hanya kalangan pendidikan, perkapalan, dan masyarakat umum yang diancam hukuman apabila tidak mematuhi aturan. “Ancaman seperti itu tidak berlaku bagi dinas kesehatan atau kepala pemerintah daerah yang lalai dalam melaksanakan tugasnya,” tulis Priyanto dalam bukunya.
- Menggali Akar Anarkisme di Indonesia
NARASI tentang anarkisme sebenarnya sudah eksis bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Hanya saja ketika membicarakannya pada hari-hari ini, seolah-olah ia menjadi sebentuk barang baru dari dunia Barat. Anarkisme adalah ideologi yang tak memiliki tanah air. Ia hanya tampak sebagai paham impor dari Eropa hanya karena dari sana bermula ideologi ini diartikulasikan, elemen-elemen dasarnya diformulasikan, diperbincangkan hingga paham ini terus mengada di antara paham-paham besar lainnya yang juga dilantangkan dari sana.





















