top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Koteka and the Story of Resistance

    A VISITOR to the National Museum, Central Jakarta, smiled amusedly when observing one of the Papuan ethnographic collections, a long, brown sheath made from dried gourd fruit with the Latin name Lagenaria siceraria. The description on the display case read: "penis sheath".

  • Kisah Cinta Amangkurat I

    Bagaimana kisah cinta Amangkurat I?

  • Kampung Tua di Sabang

    MINGGU (23/06/24) pagi, Walikota Sabang Reza Pahlevi menyambut peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) yang belum lama turun dari KRI Dewaruci yang berlayar dari Dumai pada 19 Juni 2024. Tarian dipersembahkan remaja putri Sabang yang menyuguhkan sirih isi kapur dan cengkih kepada orang-orang yang baru datang itu di akhir tarian. Setelah disambut walikota dan pejabat pemerintahan lainnya, semua yang hadir disuguhi pertunjukan teater bertema sejarah. Disutradarai Fauzan Santa, pertunjukan berupa reka ulang itu sangat apik menggambarkan suasana pasar yang memperdagangkan rempah dan juga budak. Digambarkan pula Banda Aceh, di seberang Sabang, sebagai daerah yang ramai dan didatangi bangsa-bangsa asing yang ingin berdagang. Temanya sesuai tema pelayaran yang diadakan Pokja Diplomasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain disuguhi teater reka ulang sejarah, peserta juga disuguhi hidangan Kuah Beulangong yang berbahan pisang kepok, nangka, daging kambing, dan pastinya rempah-rempah. Rempah yang dipakai antara lain kelapa dan kayu manis. Selain Kuah Beulangong, rendang, ayam goreng, telur berbumbu dan sambal (yang disebut sambal ganja) pun dihidangkan. Hidangan itu dimakan dengan nikmat. Di luaran, masakan Aceh –termasuk mie Aceh– terkenal sebagai makanan enak. Setelah perjamuan makan yang nikmat itu, peserta diajak naik mobil menuju Jaboi. Daerah Jaboi berada di sisi selatan Pulau Weh, sementara Pelabuhan Sabang terletak di sisi utara. Orang kerap menyebut keseluruhan Pulau Weh dengan Sabang semata. Dari pusat kota Sabang ke Jaboi membutuhkan waktu sekitar satu jam. Jalannya berkelok-kelok dan penuh tanjakan. Pulau Weh punya relief yang berbukit-bukit dengan Gunung Jaboi sebagai titik tertingginya. Sesampai di Jaboi, sebuah kawasan kawah terlihat. Belerang dihasilkan di sini, sejak dulu. “Belerang berlimpah-limpah di semua pulau itu dan dibawa ke Pedir dan Pasai,” catat Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636 . Belerang dijadikan bahan membuat mesiu. Tentu kerajaan-kerajaan kuat yang pernah ada di Aceh memanfaatkannya. Jaboi tak hanya punya belerangnya saja. Seperti tempat lain, Jaboi punya sejarah. “Jaboi salah satunya adalah kota yang pertama kali ada di Sabang,” ujar Hidayatullah, seorang pegiat wisata di Jaboi. Dalam bahasa Aceh, seperti tercatat dalam Kamus Basa Aceh: Kamus Bahasa Aceh: Acehnese-Indonesian-English Thesaurus yang disusun Bukhairi Daud dan Mark Durie, kata “ Weh” berarti “pergi meninggalkan suatu tempat.” Daerah ini dianggap titik awal kedatangan orang-orang dari Aceh daratan. Jaboi yang berada di selatan Pulau Weh tentu merupakan titik pendaratan terdekat bagi orang-orang Aceh yang datang naik kapal ke pulau itu. Pulau Weh dan Sabang sebagai pusat pemeritahannya barangkali tidak terkesan sebagai penghasil atau bahkan tempat perdagangan rempah-rempah. Hubungannya dengan rempah-rempah adalah hubungan tidak langsung, sebatas Pulau Weh terkait dengan Kerajaan Aceh yang kaya rempah-rempah. Hubungan dengan Aceh daratan lebih kentara pada dijadikannya Pulau Weh oleh raja Aceh sebagai tempat membuang orang dari Aceh daratan dan tempat mengambil belerang dari Jaboi demi kepentingan militernya. Begitulah peran Pulau Weh bagi Kerajaan Aceh di zaman perdagangan rempah. Kota Sabang di sisi utara Weh adalah kota baru yang modern di awal abad ke-20. Pada 1881, pemerintah kolonial Belanda membangun pangkalan batubara, yang dibawa dari Sawahlunto, Sumatra Barat, untuk kepentingan pelayaran. Sejak 1896 Sabang dijadikan pelabuhan bebas ( Vrij Haven ) untuk perdagangan umum. Pengelolanya adalah NV Zeehaven en Kolenstation Sabang te Batavia alias Sabang Maatschappij. Setelahnya, perkantoran dibangun di Sabang hingga muncul kawasan niaga di dekat Pelabuhan Sabang. Perumahan hingga sekolah dasar pun kemudian dibangun di Sabang. Sabang juga punya hunian pedagang Tionghoa yang biasanya menjadi daerah ekonomi. Sampai kini, bangunan-bangunan tua di Sabang masih tersisa. Antara lain rumah administratur dan kantor Sabang Maatschappij, dan juga bekas Europe Lager School (ELS) di sisi SDN 2 Sabang. Sementara itu, tugu titik nol kilometer terletak di Desa Iboih. Tak sampai satu jam mencapainya dari pusat kota Sabang. Dalam  perjalanan menuju tugu, Pulau Rubiah yang tempat karantina haji era kolonial akan terlihat. Wisata sejarah Sabang tergolong menarik. KRI Dewaruci sudah empat hari di Pelabuhan Sabang. Tiap hari, kapal legendaris ini tak pernah sepi kunjungan. Rabu (26/06/24) sore sekitar pukul 16.10 WIB, Dewaruci bertolak dari Sabang menuju tujuan berikut, dalam rangka memaknai riwayat perdagangan rempah di Indonesia.*

  • Luka Lama Konflik Balkan di Gelanggang Sepakbola Eropa

    JERMAN sebagai tuan rumah Piala Eropa 2024 mengusung slogan “Bersatu di Jantung Eropa” ( Vereint im Herzen Europas ). Meski nawaitu- nya mulia, kenyataannya di lapangan sungguh berbeda. Noda-noda dari ulah hooligan Inggris hingga luka lama negara-negara pecahan Yugoslavia akibat konflik Balkan, mengotorinya. Terlepas dari hooliganisme fans fanatik Inggris yang mendendangkan nyanyian provokatif berbau “Perang Dunia II”, sejumlah dampak dari luka lama di antara negara-negara Balkan mengharuskan UEFA bertindak pasca-ulah provokatif pemain hingga fans Albania, Kroasia, dan Serbia. Ulah provokatif yang terjadi namun tak terbatas pada ketiga negara di atas, tapi kemudian melebar hingga mengaitkan negara lain yang gagal lolos ke Piala Eropa 2024: Kosovo dan Makedonia Utara.    Pada laga penyisihan Grup C antara Inggris kontra Serbia di Arena AufSchalke, Gelsenkirchen, 16 Juni 2024, turut hadir jurnalis Kosovo, Arlind Sadiku, meliput laga. Namun kepada fans Serbia, Ia kemudian melakukan gestur tangan membentuk elang berkepala dua yang merupakan simbol bendera Albania. Alhasil selain mendapat ancaman pembunuhan dari sejumlah warganet Serbia, ia juga dicabut izin peliputan resmi di Piala Eropa-nya oleh UEFA. “Gestur itu memang tidak mencerminkan profesionalisme jurnalis namun saya merasa itu tidak menyinggung siapapun. Orang-orang tidak tahu perasaan saya saat itu karena saya punya trauma akibat perang,” aku Sadiku kepada Reuters , 20 Juni 2024. Baca juga: Rasis Tak Kunjung Habis Perang yang dimaksud Sadikut adalah Perang Kosovo (1998-1999), yang juga bagian dari Perang Yugoslavia (1991-2001). Dalam perang itu, Kosovo yang berusaha memerdekakan diri dari Yugoslavia turut didukung persenjataan dari Albania. Pada 2008, Republik Kosovo mendeklarasikan kemerdekaannya dari Serbia yang jadi pewaris Yugoslavia. Sejak 2008, Kosovo setidaknya sudah mendapatkan pengakuan kedaulatan dari 104 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun hingga kini Serbia tetap mengakui Kosovo sebagai salah satu provinsi otonomi Kosovo dan Metohija. Maka, di laga Inggris kontra Serbia, beberapa fans Serbia membentangkan bendera negerinya dengan menambahkan wilayah Kosovo di dalamnya hingga dibalas gestur tangan provokatif Sadiku. UEFA juga menindak Serbia. Komisi Kontrol, Etika, dan Disiplin UEFA mengganjar denda 10 ribu euro (setara Rp175,5 juta) kepada federasi sepakbola Serbia, FSS, atas tindakan provokatif fansnya itu. Kejadian serupa terjadi di laga penyisihan Grup B antara Kroasia melawan Albania di Volksparkstadion, Hamburg, 19 Juni 2024. Hampir di sepanjang laga yang berakhir imbang 2-2 itu, para ultras Albania dan Kroasia satu suara saat melantangkan sorakan-sorakan anti-Makedonia Utara dan anti-Serbia: “Bunuh orang-orang Serbia!”, “Bunuh orang Makedonia!” Baca juga: Witan Sulaeman dan Mula Sepakbola Serbia Pun selepas laga itu, striker timnas Albania Mirlind Daku melebur bersama suporternya dan meneriakkan chant-chant provokatif lain via megaphone: “Persetan dengan Makedonia (Utara)!”, “Persetan dengan Serbia!” Alhasil Daku disanksi UEFA berupa larangan tampil di dua pertandingan dan federasi sepakbola Albania FSHF didenda 47,250 euro (setara Rp829 juta). Adapun tindakan UEFA terhadap federasi sepakbola Kroasia HNS masih akan menunggu investigasi lebih lanjut. Namun, denda dan sanksi apapun sepertinya takkan serta-merta membuat tim atau negara manapun kapok mencampuradukkan sepakbola dengan politik dan konflik. Betapapun FIFA, UEFA atau konfederasi manapun berusaha menggaungkan sebaliknya.  Sebab, kenyataannya sejak lama sepakbola tak pernah bisa lepas dari politik dan konflik. Jurnalis dan novelis Inggris George Orwell pun mengibaratkan sepakbola adalah kelanjutan konflik dan perang di lapangan. “(Sepakbola) olahraga serius yang tidak ada hubungannya dengan fair play. Sepakbola terikat dengan kebencian, kecemburuan, kesombongan, terlepas dari semua aturan dan kenikmatan sadis saat menyaksikan kekerasan: dalam kata lain sepakbola adalah perang tanpa tembakan,” tulis Orwell dalam esainya di majalah Tribune , 14 Desember 1945, “The Sporting Spirit”. Warisan Konflik Albania-Serbia di Lapangan Memasuki dekade terakhir abad ke-20, Perang Dingin memang sudah berakhir. Akan tetapi, situasi di Eropa tetap panas karena gejolak di Balkan.  Yugoslavia di ujung perpecahan seiring etnis-etnisnya (Kroasia, Slovenia, Bosnia, Makedonia, Montenego, hingga Kosovo) ingin memerdekakan diri. Praktis hanya Serbia yang masih ingin mempertahankan Republik Federal Sosialis Yugoslavia. Albania jadi pengecualian karena sudah merdeka pada 1926 dan berubah dari kerajaan menjadi republik sejak 1946. Perang Yugoslavia pun pecah dipicu kerusuhan di Stadion Maksimir, Zagreb, 13 Mei 1990, antara aparat dengan suporter Dinamo Zagreb yang beretnis Kroasia dan Red Star Belgrade yang beretnis Serbia. Konfliknya lantas bereskalasi menjadi Perang Yugoslavia yang mencakup Perang Kemerdekaan Kroasia (31 Maret 1991-12 November 1995), Perang Kemerdekaan Slovenia (27 Juni-1 Juli 1991), Perang Bosnia (1992-1995), serta Pemberontakan dan Perang Kosovo (1995-1999). Albania terlibat membantu persenjataan Kosovo lantaran di Kosovo terdapat banyak penduduk yang beretnis Albania. Baca juga: Perang Sepakbola dan Kemerdekaan Kroasia Alhasil orang-orang Albania pun punya luka yang masih menganga dari konfliknya dengan Serbia. Bila dalam politik Yugoslavia/Serbia memutus hubungan diplomatiknya dengan Albania sebagai dampaknya, konfliknya juga merambah sampai ke gelanggang sepakbola. “Tim Yugoslavia tak pernah lagi bertanding melawan Albania sejak terakhir kali bertemu di laga Balkan Cup pada 1977. Dua negara tetangga punya sejarah panjang terkait perang, pembantaian serta balasan pembantaiannya. Perang Kosovo 1999 membuat dua negara itu juga berada di ujung konflik yang membawa permusuhan sampai di era modern,” tulis James Montagues dalam artikel “Standard Bearer: How Ismail Morina and his drone shaped Albania’s Euro qualification” dalam buku The Blizzard: The Football Quarterly. Serbia dan Albania baru berhadapan di lapangan lagi pada babak penyisihan Grup I kualifikasi Piala Eropa 2016 di Partizan Stadium, Belgrade, 14 Oktober 2014. Laga yang mestinya jadi momen rekonsiliasi itu berakhir kacau. Sedari sebelum kick-off , fans Serbia meneriakkan “Ubij, ubij Šiptara” (Bunuh, bunuh orang Albania). Lantas, seorang pendukung Albania bernama Ismail Morina membalas dengan menerbangkan drone yang mengibarkan bendera Albania. Drone dan bendera itu dirampas pemain Serbia Stefan Mitrović, tetapi ia dilabrak para pemain Albania sehingga berujung perkelahian.   “Karena drone itu terbang ke lapangan, wasit (Martin Atkinson asal Inggris) menunda pertandingan. Insiden bereskalasi setelah para pemain Albania berusaha merebut balik bendera tersebut. Wasit akhirnya memutuskan laga itu dihentikan tanpa diteruskan karena situasi di stadion membuat para pemain Albania yang banyak dari mereka lahir di Kosovo merasa tak aman meneruskan pertandingan,” ungkap Matthew Guschwan dalam Football Fandom in Italy and Beyond: Community Through Media and Performance. Baca juga: Aroma Dendam Konflik Balkan Atas insiden itu, Pengadilan Arbitrase Olahraga, CAS, memberi hukuman pada Serbia dan menghadiahi Albania tiga poin. Morina sendiri berhasil kabur tapi ditangkap aparat Albania, kendati pemerintah Albania menolak ekstradisinya ke Serbia. Kerusuhan juga terjadi di laga penyisihan Grup I berikutnya pada 10 Juli 2015. Bus tim Serbia ditimpuki fans Albania. Setelah di akhir laga Serbia menang 2-0, kericuhan suporter pun terjadi dan itu jadi kali terakhir Serbia dan Albania berada dalam satu lapangan. Namun warisan konfliknya terus terjadi ketika Serbia berhadapan dengan tim-tim yang berisi beberapa pemain keturunan Kosovo dan Albania.  Di Piala Dunia 2018 saat Serbia menghadapi Swiss di laga Grup E, gelandang Swiss keturunan Albania, Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri, melakukan selebrasi gol dengan gestur mendekapkan tangan membentuk elang berkepala dua. Imbasnya, keduanya diganjar sanksi larangan main dua pertandingan. “Olahraga menyalurkan insting-insting primitif terkait peperangan: mengenakan warna (kebesaran) etnis/ras, memperjuangkan trofi. Di masa lalu perang memang tidak disertai pendukung. Tetapi di masa kini pendukung duduk di tribun untuk menyaksikan pertarungan yang seringkali disertai stress dan naiknya tensi,” tukas Ronald Giphart dan Mark van Vugt dalam Mismatch: How Our Stone Age Brain Deceives Us Every Day. Baca juga: Kroasia Menepuk Dada Menyapu Luka

  • Perkasa Alam Kuat dan Paranoid

    KENDATI tidak menjadi titik persinggahan KRI Dewaruci dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024 ini, Kota Banda Aceh merupakan kota penting di Provinsi Aceh. Pusat kotanya masih menyisakan banyak titik bersejarah. Mulai dari Museum Tsunami, masjid raya, Taman Sari Gunongan, hingga makam raja-raja Aceh di dekat rumah dinas gubernur. Termasuk makam raja paling terkenalnya, Sultan Iskandar Muda. Lada merupakan komoditas dagang Kerajaan Aceh pada abad ke-17. Lada mengundang banyak pedagang asing datang ke Aceh. Tak hanya dari Asia, bahkan juga dari Eropa. Raja Aceh paham nilai ekonomis lada. Dia tak membiarkan pedagang asing membeli lada Aceh dengan harga murah secara langsung dari petani-petaninya. Raja Aceh tentu berkeras memonopoli lada-lada dari wilayahnya. Bernard Hubertus Maria Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia menyebut monopoli lada membuat sultan Aceh kaya raya. Begitu juga pejabat-pejabat Kerajaan Aceh yang mengurusi perdagangan lada. Raja sangat dominan dalam perdagangan. Dia bisa memainkan harga lada yang hendak dibeli para pedagang asing, tak terkecuali pedagang Eropa. Sultan Iskandar Muda, yang berkuasa di Aceh dari 1607 hingga 1636, juga terlibat dalam penjualan lada. Dia suka mempermainkan harga. Iskandar Muda adalah anak dari Raja Indra Bangsa. Ia cucu Sultan Mansyur Syah. Sedari kecil, selain bermain perang-perangan dan membaca Al Quran, Iskandar Muda biasa bermain dengan gajah bernama Indra Jaya dan berburu gajah liar. Menurut Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh: Jaman Iskandar Muda 1607-1636 , ketika muda dia punya beberapa nama: Pencagah, Johan Alam, dan Perkasa Alam. Diperkirakan, dirinya lahir pada 1583 dan naik takhta sebagai sultan Aceh pada 1607. Iskandar Muda tak sekadar sibuk berbisnis lada, tapi juga berusaha memperkuat diri dan kerajaannya. Dia melakukan apa saja untuk menjadi kuat. Aceh adalah kerajaan yang terbuka pada teknologi. Di zaman Iskandar Muda, orang Aceh sudah mengenal meriam dan sejenisnya sebagai senjata. “Sementara pihak mengatakan raja punya lima ribu pucuk meriam. Kalau dua ribu, mungkin saja, asalkan dihitung semua bedil berburu, pelempar batu, dan belek kaleng. Kalau meriam, saya merasa pasti, ada barang 1.200 pucuk, semua dari perunggu,” catat  Augustin de Beaulieu, perwira Perancis yang berkunjung ke Nusantara, dalam buku Orang Indonesia dan Orang Perancis yang disusun Bernard Dorleans. Selain meriam, bedil sundut juga banyak dimiliki Kerajaan Aceh. Yang terpenting, Aceh tidak tergantung pada pihak asing untuk amunisinya. Di zaman Iskandar Muda, orang Aceh sudah mampu membuat bubuk mesiu dari belerang. Belerang itu didapat dari daerah di Aceh yang menjadi penghasilnya, salah satunya Pulau Weh. Sudah barang tentu raja memiliki banyak tentara. Pun dengan hewan dan perangkat pendukungnya. “Raja dapat dengan mudah mengerahkan 40.000 orang,” catat Beaulieu. Selain kuda, gajah menjadi kendaraan militer bagi Kerajaan Aceh. Iskandar Muda punya lebih dari 100 gajah. Selain itu, raja memiliki banyak kapal. Setidakya 200 kapal perang yang dimiliki sultan. Di antaranya ada yang bisa memuat 400 orang. Di zaman Iskandar Muda, angkatan laut Aceh lebih baik daripada di zaman raja-raja sebelumnya. “Orang Aceh tidak lagi menyerahkan tugas polisi di samudera atas nama mereka,” tulis Denys Lombard. Bajak laut yang tak tunduk pada raja sulit hidup di Aceh. Menurut kesaksian Beaulieu, Aceh paling kuat di laut dibanding tetangga-tetangganya. Kekuatan Aceh di laut dan di darat itu tentu mendukung perdagangan rempah yang menjadi sumber kekayaan Iskandar Muda. Namun, Iskandar Muda amat berhati-hati dalam hal senjata api. Senjata api tak boleh dipakai orang di luar istana. “Raja membatasi pemakaian bedil di lingkungan istana saja,” catat Beaulieu. Iskandar Muda sadar bahwa dirinya punya banyak musuh. “Pada waktu Iskandar Muda naik tahta, musuh itu bermacam-macam bentuknya,” catat Denys Lombard. Tak semata sangat berhati-hati, Iskandar Muda sekaligus paranoid. Raja yang dijaga pengawal wanita itu suatu hari pernah merasa terganggu tidurnya karena suara berisik pengawalnya. Ia kemudian menuduhnya melakukan hal berbahaya dan memberi hukuman berat sebelum akhirnya dibunuh. Selain memiliki banyak pengawal perempuan, Iskandar Muda punya 1.500 budak yang dilarang keluar istananya. Jika ketahuan keluar, mereka akan dihukum berat. Selain itu, ada kewajiban bagi orang Aceh untuk tinggal di ibukota selama tiga hari untuk melakukan ronda. Sultan yakin bahwa ada pihak-pihak yang sembunyi-sembunyi ingin menggoyang kekuasaannya. Iskandar Muda melakukan berbagai cara agar rakyatnya tidak saling berhubungan, sebab sebuah hubungan bisa menciptakan sebuah komplotan berbahaya.

  • Aneka Maskot Copa América (Bagian II – Habis)

    PERHELATAN Copa América sudah bergulir sejak 1916. Akan tetapi eksistensi maskot yang melengkapi turnamen akbar itu baru hadir tujuh dekade kemudian, yakni dalam Copa América edisi ke-33. Tercatat sudah ada 15 maskot unik semenjak Copa América 1987 di Argentina hingga 2024 dengan tuan rumah Amerika Serikat –dengan pengecualian Copa América Centenario 2016 yang sekadar jadi turnamen formalitas peringatan 100 tahun. Mulai dari maskot elang bernama Capitán pada Copa América 2024 ini hingga alien bernama Amériko di Copa América 2001. Umumnya, negara-negara tuan rumah menghadirkan maskot sebagai momen untuk mengenalkan kekhasan tradisi, budaya, dan kekayaan alam masing-masing. Dari penggambaran fauna-fauna liar hingga yang terinspirasi dari tanaman pangan. Berikut lanjutan maskot-maskot itu: Baca juga: Aneka Maskot Copa América (Bagian I) Taguá (1999) Maskot babi sigung bernama Taguá ( asunciondeantano.com ) Kadang disebut javelina, tak jarang pula pakar fauna menyebut pekari atau babi sigung ( Catagonus wagneri ) untuk mengidentifikasi mamalia berkuku seperti babi berukuran sedang dari famili Tayassuidae . Fauna unik yang berhabitat di kawasan Gran Chaco itulah yang diangkat Paraguay sebagai maskotnya sebagai tuan rumah Copa América 1999. Menukil laman resmi Copa América, 7 April 2019, maskot itu dinamai Taguá, berasal dari bahasa lokal masyarakat kawasan Gran Chaco di perbatasan Paraguay, Bolivia, dan Argentina. Fauna liar itu dijadikan maskot oleh penyelenggara sebagai pengingat bahwa fauna itu pernah dinyatakan punah kendati pada 1970 pekari Chaco ditemukan lagi di wilayah Gran Chaco yang masuk dalam wilayah Paraguay. Maskot Taguá dihadirkan lewat ilustrasi kartun dengan wajah tersenyum. Pakaian yang dikenakannya bermotif bendera Paraguay sebagai identitas tuan rumah. Tangan kiri Taguá melambaikan salam, tangan kanannya menggenggam segelas tereré sebagai minuman khas penduduk Guaraní, dan kaki kirinya memainkan bola sebagai simbol kebahagiaan dalam turnamen akbar sepakbola se-Amerika Selatan itu. Baca juga: Hajatan Copa América yang Sarat Sejarah Tatú (1997) Tatú berupa maskot yang terinspirasi dari trenggiling ( copaamerica.com ) Walaupun trenggiling bergaris sembilan atau trenggiling hidung-panjang ( Dasypus novemcinctus ) juga ditemukan di Amerika Utara dan Amerika Tengah, mamalia nocturnal itu dijadikan salah satu fauna liar khas Bolivia. Oleh karenanya penggambaran fauna ini dengan ilustrasi kartun dihadirkan Bolivia saat jadi tuan rumah Copa América 1997.  Maskotnya dinamai Tatú, sesuai penyebutan masyarakat Isoseño-Guaraní di Bolivia. Sejak berabad-abad lampau, masyarakat tersebut mendomestikasi fauna liar itu untuk melestarikan sekaligus mengambil manfaat. “Misalnya untuk obat-obatan, di mana masyarakat Isoseño-Guaraní di Bolivia menggunakan lemak trenggiling (bergaris sembilan) ini untuk mengobati beberapa penyakit, termasuk asma, bronchitis , diare, iritasi mata, dan gigitan ular. Walaupun dalam beberapa waktu fauna ini juga diperjual-belikan, baik hidup atau mati yang utamanya untuk diambil dagingnya,” ungkap W. J. Loughry dan Colleen M. McDonough dalam The Nine-Banded Armadillo: A Natural History. Bolivia selaku tuan rumah menjadikan Tatú sebagai maskot Copa América 1997 dengan identitas Bolivia. Tatu digambarkan sebagai maskot ceria dengan wajah tersenyum, mengenakan jersey timnas Bolivia di balik cangkangnya, dan memainkan bola dengan kaki kirinya. Baca juga: Si Gundul dalam Memori Torito (1995) Torito (ujung kanan) turut berpose bersama Timnas Uruguay (X @UruguayFootENG) Tahun 1995 bukan hanya tahun perayaan buat Uruguay dalam hal sepakbola tapi juga ketahanan pangan. Oleh karenanya saat jadi tuan rumah Copa América 1995, Uruguay menghadirkan sosok banteng ternak ( Bos taurus ), salah satu ternak unggulannya, sebagai maskotnya. Torito, begitu maskotnya itu dinamakan, merujuk pada bahasa setempat yang artinya banteng kecil. Ia dihadirkan dengan mengenakan jersey biru timnas Uruguay sebagai awareness dan makna penting dari komoditas ternak di Uruguay sebagai salah satu penyumbang pasokan ternak Amerika Latin pada dunia baik saat produksinya anjlok maupun bangkit. “Produksi pertumbuhan ternak yang kuat dicapai oleh (negara-negara) Amerika Latin dan Karibia yang merepresentasikan pemulihan sejak situasi anjlok pada 1993. Ekspansi pada 1994 secara signifikan meningkatkan produksinya hingga mencapai pertumbuhan yang luar biasa pada 1995,” ungkap FAO (badan pangan PBB) dalam Agricultural Trade: Entering a New Era? The State of Food and Agriculture. Baca juga: Nasib Nelangsa Maskot Pertama Choclito (1993) Satu-satunya maskot yang diadaptasi dari tanaman pangan ( copaamerica.com ) Cochlito yang jadi maskot Copa América 1993 di Ekuador bukan sejenis cokelat. Namanya mengadopsi makanan lokal yang berasal dari tanaman pangan khas di negeri tuan rumah, choclo alias jagung manis ( Zea mays convar. saccharata var. rugosa ).  “Di Ekuador jagung manisnya berbeda dari negara lain karena bulir jagungnya lebih besar dan rasanya lebih manis. Di wilayah utara Ekuador populer disajikan dalam satu choclo (tongkol jagung) utuh atau dijadikan kamcha (jagung yang dikeringkan). Di selatan Ekuador lazimnya disajikan dengan bulir-bulirnya saja untuk diolah menjadi humitas (tamales jagung) atau tostadas de maiz (panekuk jagung),” tulis Tony Perrottet dan Andrew Eames dalam Insight Guide to Ecuador. Panitia penyelenggara Copa América 1993 ingin berbagi kekhasan budaya kuliner Ekuador dengan menampilkannya sebagai maskot. Mengutip laman resmi Copa América, 7 April 2019, Choclito digambarkan sebagai setongkol jagung utuh sedang mengontrol bola dengan bulir-bulir jagungnya bermotif bendera Ekuador. Baca juga: Macan Jawa di Final Piala Dunia Guaso (1991) Guaso visualisasi Chile sebagai negara yang kuat dan tangguh ( copaamerica.com ) Chile sebagai tuan rumah Copa América 1991 benar-benar ingin memanfaatkan momentumnya sebagai penyelenggara yang sukses di mata dunia, terutama FIFA. Pasalnya akibat insiden El Maracanazo, di mana pada 3 September 1989 kiper Roberto Rojas merekayasa cedera akibat lemparan flare dalam laga kualifikasi Piala Dunia 1994 kontra Brasil di Stadion Maracana, Chile disanksi larangan mengikuti  lanjutan kualifikasinya. Oleh karenanya, penyelenggara Copa América 1991 menghadirkan visualisasi karakter tangguh dan kuat koboi penggembala khas Chile sebagai maskotnya. Figurnya digambarkan sedang men- dribble bola dengan desain berteknik arsir dan warna khas bendera Chile. Maskot itu dinamai Guaso. Namanya merupakan penggabungan sebutan gaucho dalam bahasa Spanyol dan huaso dengan arti serupa dalam dialek masyarakat di Chile Tengah.  “Gaucho lazim dikenal di kawasan Argentina, Uruguay, serta Chile Tengah dan Chile Selatan. Bedanya huaso dengan gaucho adalah huaso biasanya juga terlibat dalam beternak dan bertani. Huaso jadi bagian dari kultur lokal Chile dan menjadi bagian vital dalam parade, pesta, hingga perayaan hari-hari besar,” ungkap Jedrel Mularski dalam Music, Politics, and Nationalism in Latin America: Chile During the Cold War Era. Baca juga: Skandal Memalukan Chile demi Piala Dunia Tico (1989) Maskot Tico dari fauna khas Maranhão ( copaamerica.com ) Khusus untuk merayakan momen keempat kalinya jadi tuan rumah pada Copa América 1989, Brasil ingin memperkenalkan salah satu fauna liar khasnya, burung zorzal sabiá ( Turdus leucomelas ), sebagai maskot ikoniknya. Maskot yang dinamai Tico itu –sederhananya berarti “Si Kecil”– merujuk pada ukuran kecil burung pengicau tersebut. Menurut Helmut Sick dkk. dalam Ornitologia Brasileira , baik jantan maupun betina rata-rata ukuran burung zorzal 25 centimeter panjangnya. Perbedaan fisiknya secara umum terdapat pada rata-rata bobotnya: jantan rata-rata 68 gram dan betina rata-rata 78 gram, serta kaki yang betina lebih pendek ketimbang. Walaupun burung omnivora itu juga ditemukan di Bolivia, Paraguay, Uruguay, dan wilayah tengah Argentina, habitat terbesarnya ada di hutan tropis bagian timur dan tenggara Maranhão, Brasil. Oleh karenanya ia dijadikan maskot yang digambarkan mengenakan jersey tandang Brasil berwarna biru sedang men- dribbling bola. Baca juga: Garrincha dari Pabrik Tekstil ke Pentas Dunia Gardelito (1987) Maskot (kiri) & sosok asli Carlos Gardel (Archivo General de la Nación/copaamerica.com) Tango bukan sekadar tarian atau musik khas asal Argentina. Tango sudah jadi kultur tersendiri yang memengaruhi banyak sendi kehidupan masyarakatnya, termasuk sepakbola. Kultur Tango ini pula yang dikemukakan Argentina sebagai maskotnya saat menjadi tuan rumah Copa América 1987. Maskotnya diberi nama Gardelito. Inspirasinya bukan dari fauna melainkan dari tradisi takbenda yang bersinggungan dengan Tango itu sendiri, Carlos Gardel. Lewat kariernya sebagai aktor dan penyanyi di awal abad ke-20 turut berjasa mengglobalkan Tango ke dunia internasional.   “Kaum pria dan wanita di semua usia mengagumi dan memujanya. Perjalanan hidupnya yang berangkat dari kemiskinan sebagai anak imigran (asal Prancis) dan bermula dari seniman jalanan hingga jadi bintang kaya raya jadi simbol mimpi hampir setiap orang Argentina. Kehidupannya menjadi mitos tersendiri,” tulis Harold Guy Bensusan dalam artikel “Carlos Gardel and the Tango” yang termaktub dalam buku The Human Tradition in Latin America: The Twentieth Century. Untuk mengenang legenda yang wafat pada 24 Juni 1935 itu, pihak penyelenggara Copa América 1987 mengabadikan figurnya lewat maskot Gardelito alias “Gardel Kecil” yang mengenakan jersey dan syal bermotif biru-putih khas bendera dan jersey timnas Argentina.   Baca juga: Menyingkap Makna Ndas Mangap

  • Dewi dari Pekalongan

    DI Pekalongan, sebuah kota pelabuhan di pantai utara Jawa, berkembang cerita mengenai sosok yang mirip Nyai Blorong. Namanya Dewi Lanjar. Sosoknya digambarkan sebagai perempuan muda, dengan rambut panjang tergerai, memakai busana Jawa, dengan bawahan kain batik motif Jlamprang .  “Dia diceritakan sesekali berbelanja ke pasar Pekalongan. Kemudian ketika pulang, ia selalu naik becak menuju pelabuhan. Kedatangannya tidak periodik, namun sporadis saja, seenak dia,” ujar Sutejo Kuwat Widodo, dosen jurusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Kisah itu didapatkannya ketika melakukan penelitian di Pekalongan sekira tahun 1997.  Baca juga:  Jenis-jenis Makhluk Halus Muasal Dewi Lanjar sukar ditelusuri. Ada kisah bahwa ia adalah putri dari kalangan lelembut di pantai utara Jawa, yang bernama lengkap Raden Nganten Dewi Lanjar.   Menurut Chusnul Hayati, sejawat Sutejo di Undip, dalam “Pengaruh Kemaritiman dalam Dunia Batik Pekalongan” yang termuat di majalah Jantra Vol. 7, Juni 2012, Dewi Lanjar mengutus prajurit silumannya untuk mengganggu tapa ngalong (bertapa dengan cara menggantung) Raden Bahurekso. Tak terima tapanya diganggu, Bahurekso mengamuk, mengalahkan Dewi Lanjar, dan kemudian mengambilnya sebagai istri.  Bahurekso sendiri dikisahkan berkarib dengan Tan Kwie Djan, yang kemudian menjadi bupati Pekalongan dan beralih nama jadi Raden Tumenggung Adipati Arya Janingrat. Namanya dipakai sebagai nama kampung, Kwijan, di sebelah timur alun-alun kota Pekalongan.  Baca juga:  Menghitung Lelembut di Jawa Menurut Sutejo, kisah Dewi Lanjar beredar di masyarakat Pekalongan pada dekade 1970–1980-an. Kini, namanya nyaris tak terdengar lagi. Bahkan, ketika sedekah laut digelar di pelabuhan Pekalongan, nama Dewi Lanjar tak disebut. Namun, dia tak menampik masih ada segelintir orang yang melakukan ritual memberi sesajen untuk Dewi Lanjar demi mendapatkan pesugihan.  “Mungkin yang dimaksud membuat sugih (kaya) adalah pembatik-pembatik yang hampir semuanya perempuan. Batik kan laku keras, dan membuat pemilik rumah batik kaya juga,” ujarnya.*  Baca laporan khusus tentang makhluk halus berikut ini:  Hak Hidup Makhluk Halus Menyelami Penguasa Laut Selatan Mencari Nyai Blorong Menangkap Masa Lalu Tuyul

  • Pedir Kaya Jual Merica

    SORE 21 Juni 2024 ini, KRI Dewaruci sedang berada di sekitar Sigli dan terus berpacu menuju utara. Gelombang laut terus menerus membuat kapal berayun-ayun. Ayunan itu berpotensi menggoncang isi perut manusia yang berada di atasnya. Bagi anggota Angkatan Laut, mabuk laut adalah hal menusiawi. Muntahan yang terbuang ke laut kerap disebut “kasih makan ikan” di sini.     Sigli adalah sebuah kecamatan sekaligus pusat dari Kabupaten Pidie. Selain sejarah perdagangannya, di daerah inilah konon harta karun Portugis Flor de la Mar hilang. Daerah Pidie tentu punya sejarah. Pidie terkait dengan Kerajaan Pedir di masa lalu. Dulunya, Pidie disebut sebagai Pedir. Orang Tiongkok menyebutnya Poli. Pedir dikenal karena kerajaannya yang aktif dalam perdagangan. Perairan yang dilewati Dewaruci dalam rangka pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) ini dulunya adalah jalur perdagangan antar-wilayah, juga mencakup perdagangan rempah. “Pedir, yang berada di tanah Sumatra, sempat menjadi lokasi yang makmur dan penting bagi perdagangan. Kerajaan ini juga dulunya berkuasa atas semua kerajaan yang disebutkan di atas, Negeri Ayer Labu, Kerajaan Lide, dan Kerajaan Pirada,” catat Tome Pires dalam Suma Oriental . Berdasarkan catatan Odoardus Barbosa dari Lisabon, William Marsden menulis dalam History of Sumatra , awal abad XVI Pedir memiliki pelabuhan persinggahan yang ramai. Di masa itu daerah Pedir didiami banyak pedagang asing. Dalam setahun, setidaknya lebih dari dua kapal asal Cambay dan Benggala datang berdagang ke Pedir. Selain itu, bisa 20 kapal dari Benua Quelim dan Pedu yang datang mengangkut beras. “Daerah Pedir terkenal dengan kesuburan tanahnya. Di sana banyak ditanami Padi, sehingga Pedir pada waktu itu terkenal sebagai lumbung beras bagi kerajaan Aceh,” catat Muhamad Ibrahim dkk. dalam Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh . Pedir merupakan penghasil merica/lada. Lada di sana sudah dibudidayakan sejak abad XV. Di masa kejayaan Kerajaan Pedir, menurut Pires, merica diperdagangkan rata-rata 2.000 hingga 3.000 bahar tiap tahunnya. Bahkan, pernah mencapai 15.000 bahar dalam satu tahun. Charles Ralph Boxer dalam F rancisco Vieira de Figueiredo A Portuguese Merchant-Adventurer in South East Asia, 1624-1667 menulis, Portugis di Asia menerapkan satu bahar sama dengan 400  pon atau tiga pikul. Satuan bahar berasal dari Kalkuta, India. Namun, ada masa perdagangan merica di Pedir menukik, hanya sekitar dua hingga tiga bahar merica saja tiap tahunnya. Kemungkinan besar, karena perang. Menurut catatan Pires, Pedir pernah mengalami perang yang menggangu perdagangannya. Alhasil banyak pedagang luar tak datang ke Pedir. Kendati begitu, Pedir tak jatuh miskin karena berperang dengan negara tetangganya. Pedir tetap terlihat besar kekayaannya. Pedir dikenal sebagai musuh Kerajaan Pasai. Keduanya sama-sama kerajaan dagang, dengan lada/merica sebagai salah satu komoditas utama. Kesamaan itu agaknya yang menimbulkan persaingan. Merica adalah rempah-bumbu yang masih utuh. Jika sudah dihaluskan, maka rempah atau bumbu ini sudah disebut lada. Sebagaimana di berbagai daerah lain di Nusantara, lada menjadi sumber kekayaan kerajaan-kerajaan di Aceh. “(Lada, red .) Bagaimana pun merupakan lambang perdagangan Aceh sejak beberapa abad yang lampau hingga tahun 1920,” catat Muhamad Ibrahim dkk. Selain lada, menurut Pires, barang dagangan di Pedir yang –juga penghasil sutra– lain adalah emas, sutra putih, dan kemenyan. Untuk emas, Pedir mendapatkannya dari daerah pedalaman Aceh. Sementara, kemenyan didapatkannya dari negeri tetangga. Jadi, ekonomi Pedir tergantung pula pada negara tetangganya. Pedir menggunakan koin timah sebagai uang atau alat tukar perdagangannya. Seperti kerajaan-kerajaan di Aceh yang lain, Pedir akhirnya menjadi kerajaan Islam. Sultan Pedir perama adalah Muzafar Syah, yang meninggal pada 1429. Sultan keduanya, Ma’ruf Syah, meninggal pada 1511. Intrik dalam istana tentu juga terjadi di Pedir. Pires mencatat, seorang pemimpin kelompok yang dulu diangkat raja, kemudian menggulingkan anak raja tersebut. Setelah penggulingan itu, anak raja itu mengungsi ke Pasai. Dari catatan Ludovico Barthema (Vartoma) dari Bologna, Marsden menulis bahwa daerah pelabuhan Pedir banyak penduduk Mahometan atau Islam, sementara kaum Pagan ada di pedalamannya. “Pedir itu Pidie yang sekarang. Sudah pecah menjadi dua kabupaten, Pidie dan Pidie Jaya,” kata Miftah Roma Uli Tua Nasution dari Balai Pelestarian Kebudayaan I Aceh, yang ikut dalam pelayaran MBJR.

  • Aneka Maskot Copa América (Bagian I)

    KEHADIRAN maskot dalam setiap turnamen sepakbola semata jadi ornamen yang sekadar melengkapi. Selain erat kaitannya dengan urusan bisnis, seringkali maskot dihadirkan untuk jadi simbol akan semangat tertentu. Pun di Copa América 2024 yang digelar di Amerika Serikat (AS) kurun 20 Juni-14 Juli 2024 ini. Pesta sepakbola kawasan Amerika Selatan jilid ke-48 itu sendiri resmi dibuka pada Kamis (20/6/2024) atau Jumat (21/6/2024) WIB di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Georgia. Laga pembukaan yang hanya berselang enam hari pasca-pembukaan Piala Eropa 2024 tersebut menghadirkan partai penyisihan Grup A antara juara bertahan Argentina melawan Kanada. Selain performance para artis dengan theme song di upacara pembukaan dan laga pembuka di mana megabintang Argentina Lionel Messi memecahkan rekor pemain dengan penampilan terbanyak di Copa América (35 laga), hal yang ditunggu para fans adalah kehadiran maskotnya: Capitán. Maskot berwujud elang itu dipilih AS sebagai penyelenggara karena simbol kemuliaan dan keanekaragaman budaya di Amerika Utara hingga Amerika Selatan sekaligus mengilustrasikan kekuatan, keberanian, dan keunggulan. “Capitán merepresentasikan fusi yang unik antara gairah sepakbola Amerika Selatan dan getaran atmosfer Amerika (Serikat). Lahir dari seorang ibu Latin dan ayah Amerika, Capitán mengundang kita untuk merayakan perbedaan budaya Amerika Selatan dan AS selalu menghormati perbedaan itu. CONMEBOL (konfederasi sepakbola Amerika Selatan, red. ) juga menganggap hubungan simbolis itu dengan kepemimpinan dan kemuliaan yang diwakili oleh (simbol) elang,” ungkap CONMEBOL di laman resminya , 7 Desember 2023. Faktanya, Capitán terhitung sebagai maskot ke-15 meski Copa América sudah menginjak edisi ke-48. Pasalnya, tradisi maskot baru terjadi sejak 1987 atau pada hajatan Copa América ke-33 di Argentina. Berikut hitung mundur ke-14 maskot itu: Baca juga: Hajatan Copa América yang Sarat Sejarah Pibe (2021) Anjing jalanan Pibe yang jadi maskot Copa América 2021 ( copaamerica.com ) Berbeda dari gelaran 2024, pada Copa América 2021 di Brasil maskotnya bukan berwujud fauna liar. Maskotnya berupa anjing peliharaan berbulu coklat dan diberi nama Pibe.   Mengutip Diario AS , 3 Desember 2019, penggambaran spot warna putih di bagian kiri mata, telinga yang besar, dan lidah yang terjulur merepresentasikan maskotnya merupakan anjing yang ceria dan lincah. Maskotnya resmi diumumkan seiring drawing penyisihan grup di Cartagena, Kolombia pada 3 Desember 2019. Mestinya, Copa América edisi ke-47 itu digelar pada 2020 dengan Kolombia dan Argentina sebagai tuan rumah bersama. Namun mengingat situasi genting Pandemi Covid-19, gelarannya diundur. Dampaknya, Argentina memilih mundur dan kondisinuya kian runyam lantaran pergolakan politik memaksa Kolombia juga batal sehingga harus digantikan Brasil. Kendati Argentina dan Kolombia urung jadi tuan rumah, maskotnya tetap Pibe. Maskot yang sudah dipilih Kolombia dan Argentina itu mengambil inspirasi anjing jalanan yang tersebar di Amerika Selatan.  Penamaan Pibe yang dalam bahasa Spanyol berarti “Bocah” juga berasal dari hasil voting fans via Twitter (kini X). Namanya juga merujuk pada julukan legenda hidup sepakbola Kolombia, Carlos Valderrama, El Pibe , semasa muda yang diberikan ayahnya ketika Valderrama meniti karier di klub Argentina, Union Magdalena (1980-1984). Baca juga: Petaka Pasadena Zizito (2019) Kapibara yang dinamai mengambil inspirasi legenda Brasil untuk Copa América 2019 ( copaamerica.com ) Kendati juga berhabitat di sebagian wilayah Kolombia, Venezuela, Uruguay, dan Argentina, kapibara ( Hydrochoerus hydrochaeris ) yang merupakan mamalia pengerat terbesar di dunia merupakan salah satu fauna khas Brasil. Fauna inilah yang jadi inspirasi maskot resmi Copa América 2019 di Tanah Samba. Sebagai upaya melibatkan fans, pihak penyelenggara juga menggelar voting daring via Facebook dan Twitter (kini X) guna menentukan namanya. Dari beberapa opsi, nama “Zizito” yang paling favorit. Nama Zizito terinspirasi dari panggilan akrab Zizinho alias Thomaz Soares da Silva, pemain legendaris Brasil era 1950-an yang juga sahabat dekat Pelé. “Saya menganggap nama yang dipilih fans mengombinasikan gairah sepakbola, sejarah turnamen, serta kebahagiaan dan kemuliaan maskot kami. Zizito tidak hanya akan jadi imej Copa América CONMEBOL tapi juga membawa kelembutan dan keceriaan kepada fans yang akan jadi saksi keunikan turnamen bersejarah ini,” kata direktur kompetisi panitia penyelenggara, Hugo Figueredo, di laman resmi Copa América, 12 April 2019. Baca juga: Seputar Maskot-Maskot Asian Games (Bagian I) Zincha (2015) Maskot Zincha menghiasi Copa América 2015 ( ca2015.com ) Rubah culpeo ( Lycalopex culpaeus ) dikenal sebagai predator yang tak pernah pilih-pilih mangsa. Meski secara spesies cenderung lebih dekat dengan serigala atau anjing hutan, masyarakat setempat yang hidup berdampingan dengan habitat fauna tersebut di Tierre del Fuego, kepulauan di ujung selatan Pegunungan Andes (Chile dan Argentina), tetap menyebutnya zorro yang artinya rubah. Fauna unik inilah yang dijadikan maskot resmi oleh penyelenggara Copa América 2015 di Chile. Maskotnya berupa anthropomorphic dari penggambaran rubah culpeo berbulu jingga dengan variasi warna putih di leher, biru di tangan kiri dan merah di kaki kanan sebagai simbol warna kebesaran bendera Chile. Mengutip laman resmi pihak penyelenggara, 28 November 2014, nama maskotnya, Zincha, dipilih oleh fans Chile secara daring yang menyingkirkan dua opsi nama lain: Andi dan Kul. Nama Zincha merupakan kombinasi nama “Zorro” dan “Hincha” yang artinya fans atau penggemar, sebagai penegasan pentingnya jutaan suporter yang mengilai sepakbola Amerika Selatan.  Baca juga: Seputar Maskot-Maskot Asian Games (Bagian II – Habis) Tangolero (2011) Maskot berupa burung rhea lucu di Copa América 2011 ( elmundo.es ) Seekor burung rhea ( Rhea americana ) lucu berseragam putih-biru langit khas jersey Argentina itu digambarkan sedang berlari sambil men- dribble bola. Tangolero, begitu nama yang disandang maskot tersebut. Tangolero jadi maskot resmi untuk gelaran Copa América 2011 di Negeri Tango. Fauna yang menurut lidah orang Argentina disebut ñandú itu dipilih sebagai pengingat akan statusnya yang hampir punah menurut Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Mengutip laman resmi penyelenggara, 30 Juni 2011, penamaan “Tangolero” memang berdasarkan hasil suara terbanyak, namun bukan berasal dari voting khalayak umum. Votingnya dilakukan sendiri oleh Santander Bank selaku sponsor utama Copa América 2011 terhadap lebih dari 6.000 pegawainya, elemen jurnalis, pelajar, dan klien-kliennya di Argentina, Brasil, Chile, Meksiko, Kolombia, Uruguay, dan Peru. Dari beberapa opsi nama, Tangolero meraih suara terbanyak. Nama itu merupakan kombinasi dari julukan kultur khas Argentina, “Tango”, dan lema “gol”. Sayangnya pengilustrasian Tangolero yang mengenakan jersey Argentina tak memberi tuah tersendiri lantaran Lionel Messi cs. tersingkir di perempatfinal oleh tetangga merangkap rival, Uruguay, yang kemudian juga keluar sebagai juaranya untuk meraih trofi ke-15 kalinya. Baca juga: Lionel Messi, Alien Sepakbola yang Membumi Guaky (2007) Venezuela mengambil inspirasi dari burung makaw untuk maskotnya (X @estendenciavzl) Jersey burgundy dengan warna khas bendera Venezuela terlihat mencolok pada sesosok burung makaw merah ( Ara macao ). Guaky, nama burung unik itu, menjadi nama maskot resmi Copa América 2007 di Venezuela. Guaky merupakan salah satu fauna khas Venezuela yang terancam punah karena kehancuran habitat dan perdagangan burung ilegal. Guaky yang desainnya dibuat remaja berusia 15 tahun, Jhoyling Stephanie Zabaleta, menjadi maskot setelah memenangkan sayembara dan voting yang digelar pihak penyelenggara. Mengutip El Mundo , 29 Juli 2012, sketsa awal hasil kreativitas Jhoyling berupa burung makaw merah tengah bertengger di atas sebatang dahan dengan sayap kanannya mengapit bola dan sayap kirinya terbuka memperlihatkan bulu sayap bagian dalamnya bermotif bendera Venezuela. Setelah desain itu memenangkan sayembara, disempurnakan lagi oleh firma desain grafis Fractal Studio sebelum diperkenalkan secara resmi pada momen drawing penyisihan grup pada 14 Februari 2007. Baca juga: Serba-serbi Maskot Piala Eropa Chasqui (2004) Penggambaran kurir era peradaban Inca yang jadi maskot Copa América (X @JeanFutve) Momen Copa América seringkali jadikan “sepaket” dengan penegasan warisan kebudayaan bagi tuan rumah. Peru yang jadi host Copa América 2004 membuktikannya dengan maskot yang kental menggambarkan warisan peradaban Inca (1400-1533).   Pihak penyelenggara memilih maskot resmi yang menggambarkan sesosok lelaki Inca mengenakan ikat kepala warna-warni, jersey putih-merah timnas Peru, tengah memainkan si kulit bundar dengan bertelanjang kaki. Maskotnya dinamai Chasqui, yang mengabadikan sebutan khusus untuk kurir yang lazim ada di era peradaban Inca sebagai penyampai pesan-pesan penting dari dan menuju pusat Kekaisaran Inca di Kerajaan Cusco. “Menjadi penting untuk diketahui bahwa ini upaya untuk memadukan modernitas dan tradisi di kawasan pesisir Pegunungan Andes. Logo (maskot) yang dipilih untuk Copa América 2004 yang menggambarkan figur chasqui bermain bola dengan kostum timnas dan ikat yang mengingatkan warna pelangi khas Kekaisaran Inca,” tulis David Wood dalam artikel “Reading the Game: The Role of Football in Peruvian Literature” yang terdapat dalam buku Sporting Cultures: Hispanic Perspectives on Sport, Text and the Body. Baca juga: Menyorot Tradisi Maskot Amériko (2001) Kolombia mengadopsi konsep alien bermain bola untuk maskot Copa América 2001 ( copaamerica.com ) Bukan sosok ikon budaya, bukan pula fauna langka. Kolombia sebagai tuan rumah penyelenggaraan Copa América 2001 menampilkan maskot berupa alien.  Sebagaimana dilansir dari laman Copa América, 7 April 2019, maskotnya berupa alien berwarna biru yang mengenakan jersey dan celana khas timnas Kolombia yang dinamai Amériko. Menariknya nama tersebut bukan diambil dari bahasa Spanyol atau dialek-dialek turunannya, melainkan dari bahasa Esperanto yang berarti benua Amerika.  Aliennya digambarkan punya kekuatan super. Ia akan bertransformasi menjadi Amériko-Bot yang ikonik kapanpun saat Kolombia diserang dan untuk mempertahankan Kolombia dari pasukan-pasukan asing yang jahat. (Bersambung)

  • Transportasi Publik Buat Angkut Mayat

    ORANG yang meninggal di rumahsakit lazimnya diantar dengan mobil jenazah atau ambulans ke rumah duka untuk disemayamkan. Namun, pemandangan memilukan hati berseliweran di media sosial sepekan lalu. Seorang kakek di Makassar membawa jenazah cucunya yang baru lahir dengan jasa ojek online. Cucunya meninggal lantaran mengalami gangguan pernapasan setelah proses persalinan. Sang kakek yang diketahui bernama Arsyad itu membawa jenazah cucunya dari RS Tajuddin Chalid Makassar ke tempat keluarga yang berada di Kabupaten Pangkep. Lantaran tak punya cukup uang untuk sewa mobil jenazah sebesar Rp800.000, kakek Arsyad bersama jenazah cucunya diantar pakai ojek online. Perjalanan itu memamakan jarak sejauh 53 km dan harus menyeberang pulau. “Pihak keluarga tidak mampu tapi pihak keluarga mau cepat karena mereka tinggal di pulau. Menurut petugas dia berinisiatif bertindak cepat untuk menawarkan bagaimana memesankan ojek online motor,” ujar Humas RSUP Tadjuddin Chalid, Yanti kepada detikSulsel , Sabtu (15/6). Baca juga:  Mengorek Sejarah Ojek Di atas boncengan motor ojek, kakek Arsyad menggendong jasad cucunya. Dalam video yang viral di media sosial itu, kakek Arsyad tampak tegar meski jelas terlihat raut sedih di wajahnya. Sementara itu, tukang ojek memacu motornya menuju tempat tujuan sambil merekam penumpangnya yang dilanda kedukaan itu. Wawan, si tukang ojek itu, dibayar dengan tarif Rp150.000. Tak banyak pembicaraan selama perjalanan. Peluh dan keluh kesah mereka larut dalam terpaan angin jalanan. Meski miris, peristiwa yang dialami kakek Arsyad seolah jadi pola sejarah yang berulang bagi orang-orang kecil di Indonesia. Dalam beberapa tahun belakangan, kasus orang tak sanggup bayar ambulans  agen sbobet atau mobil jenazah telah terjadi beberapa kali. Pada 2017, seorang ibu di Lampung membawa jenazah bayinya pakai angkot lantaran tak mampu bayar sewa ambulans. Kasus paling banyak terjadi pada 2021, bertepatan dengan mewabahnya virus Corona. Banyak jenazah yang tak bisa diangkut pakai mobil jenazah. Kendaraan yang tidak difungsikan buat mengangkut jenazah terpaksa dipakai untuk melanjutkan proses pemakaman jenazah. Mulai dari mobil pikap, motor keranjang, motor roda tiga, hingga motor roda dua. Persoalannya lagi-lagi karena ketiadaan biaya. Baca juga:  Naluri Mengubur Mayat Kasus paling awal setidaknya terjejaki pada tahun 1967. Kasusnya mirip seperti kakek Arsyad. Bedanya, ini orang tua yang kehilangan anak bayi mereka yang meninggal dunia, bukan kakek kehilangan cucu. Pada hari Minggu, 30 Juli 1967, bus kota jurusan Lapangan Banteng-Kebayoran Baru berhenti di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Naiklah dua orang penumpang. Satu di antaranya menggendong semacam bungkusan. Mereka hendak menuju ke Ciputat sehingga di Kebayoran nanti harus menyambung bus lagi. Bangku-bangku dalam bus tampak terisi penuh penumpang. Karena membawa sesuatu dalam gendongan, kedua penumpang baru tadi permisi ingin minta tempat duduk. Orang-orang mulanya acuh tak acuh, sebagaimana biasanya kondisi dalam bus kota. Namun, hati beberapa penumpang kemudian tersentuh setelah mendapat penjelasan dari dua penumpang tersebut. Menurut Harian Kami , para penumpang bus melowongkan kursi ketika mereka diberitahu isi gendongan tersebut adalah mayat. Di sela-sela perjalanan terjadi pembicaraan dengan kedua penumpang yang baru saja kehilangan bayinya itu. Baca juga:  Bung Karno Marah Pada Ancaman Tak Salatkan Jenazah “Kenapa ibu tidak bawa pakai ambulance?” tanya seorang penumpang. “Mereka minta seribu limaratus sampai di Ciputat,” jawabnya dengan nada memelas. Peristiwa itu cukup menjadi buah bibir. Setidaknya bagi para penumpang dalam bus kota. Mereka menyesalkan pihak RSCM yang dianggap kelewat kejam. Seorang anggota ABRI dari Batalion Kavaleri 7 bahkan tergugah hati untuk membuka dompetnya dan memberikan uang Rp 100 kepada dua orang penumpang yang kemalangan itu. Salah satu suratkabar ibukota memuat beritanya di sampul depan.  “Mayat Bayi dalam bis kota. Ongkos ambulance mahal?” demikian diwartakan Harian Kami , 1 Agustus 1967. Baca juga:  Bus Dodge Penguasa Jalanan Jakarta

  • The Queen of the Southern Sea

    SENAPATI entered the ocean. He concentrated his mind, held a moment of silence, and meditated to ask for guidance from the Omniscient. A storm came. The wind raged. Lightning flashed. The sea went turbulent. Nyai Roro Kidul rose from her resting place. In her palace courtyard, a man stood by the sea. She then descended to the edge of the sea and approached Senapati.

  • Finding Fortune from Nyai Blorong

    ONE afternoon, around the 1960s. Magelang residents gathered on the edge of the main road connecting Magelang and Yogyakarta while sounding kentongan (a slit drum made from bamboo) and anything else that made noise. Prapto Yuwono, still very young back then, also joined the crowd. However, the street was surprisingly quiet; no one passed by. After some time, the wind blew from the south.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page