top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Nisan dan Tengkorak dalam Peringatan Reformasi

    MATAHARI mulai meninggi saat sejumlah kendaraan lalu lalang melintasi kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu, 22 Mei 2024. Aktivitas di kawasan ini terus berdenyut seakan tak pernah tidur. Kesibukannya sudah terlihat sejak zaman kolonial Belanda, di mana Cikini telah menjadi pusat bisnis dan hiburan bagi masyarakat Batavia. Di sebuah bangunan, tak jauh dari kompleks Bioskop Metropole yang berdiri tahun 1930-an, seorang petugas keamanan membukakan gerbang untuk orang-orang yang hendak berkunjung ke sana. “Silahkan masuk,” kata pria itu. “Mau melihat pameran di dalam ya,” lanjutnya. Baca juga:  Reformasi atau Mati Halaman Markas Front Penyelamat Reformasi Indonesia yang berlokasi di Jalan Diponegoro No. 72, Jakarta Pusat itu tengah menjadi area pameran foto dan intalasi untuk memperingati Reformasi 21 Mei 1998 yang terjadi 26 tahun lalu. Saat memasuki gerbang lokasi acara, pengunjung disambut ribuan instalasi nisan dan tengkorak. Pada nisan-nisan tersebut tertulis nama-nama korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di masa Orde Baru, beberapa di antaranya adalah Udin atau Fuad Muhammad Syafruddin, wartawan Bernas yang dibunuh karena kegiatan jurnalistiknya tahun 1996, dan Wiji Thukul, penyair dan aktivis dari Solo yang dihilangkan usai aktif mengkritik pemerintahan Soeharto melalui sajak-sajaknya. Nisan kayu yang tertulis nama korban dan peristiwa pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia menjadi bagian dari peringatan 26 tahun reformasi 21 Mei yang diselenggarakan di Markas Front Penyelamat Reformasi Indonesia, Jakarta, Rabu (22/5/2024). (Amanda Rachmadita/Historia.ID). Menurut Daniel Dhakidae dalam Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru , Wiji Thukul seakan menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan “tangan besi” Soeharto yang membelenggu kebebasan dan demokrasi di Indonesia. “Wiji Thukul –kurus perawakannya, miskin hidupnya, berbapakkan seorang yang mencari makan dengan mengayuh becak, dan lemah tubuh tak berdaya– menggubah banyak sajak yang tiap baitnya berisi semangat perlawanan yang membuat panas pemerintah. Salah satu baitnya ‘hanya ada satu kata: lawan’ begitu populer pada zaman Orde Baru dan menjadi penyatu para aktivis yang mau menjatuhkan Orde Baru, terutama Soeharto,” tulis Dhakidae. Selain Wiji Thukul, 13 orang juga menjadi korban penculikan dan penghilangan paksa tahun 1998 yang hingga kini tak diketahui. Baca juga:  Wiji Thukul di Mana Rimbanya? Selain nama-nama korban, pada sejumlah nisan juga tertulis kasus-kasus atau peristiwa yang diakui pemerintah sebagai pelanggaran HAM berat, seperti Peristiwa Talangsari Lampung 1989, Peristiwa Rumah Geudong dan Pos Sattis Aceh 1989, Peristiwa 1965–1966, Peristiwa Penghilangan Secara Paksa 1997–1998, Kerusuhan Mei 1998, hingga Peristiwa Pembunuhan Dukun Santet 1998–1999. Kasus-kasus lain di masa pemerintahan Soeharto yang menjadi sorotan publik juga tertulis di nisan kayu itu, salah satu yang terkenal adalah kasus Sum Kuning. Sumaridjem atau lebih dikenal dengan Sum Kuning, gadis penjual telur berusia 18 tahun, menjadi korban pemerkosaan di Yogyakarta pada 1970. Pelakunya diduga anak petinggi di wilayah itu. Kasus ini menyedot perhatian publik karena korbannya yang justru ditahan dengan tuduhan memberikan laporan palsu. Selain itu, persidangan kasus ini juga dilakukan secara tertutup, bahkan wartawan yang hendak melaporkan kasus ini harus berurusan dengan militer. “Kasus ini semakin melebar, sampai korban perkosaan ini dituduh sebagai anggota Gerwani, organisasi perempuan yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Kemudian dihadirkan pula seorang penjual bakso yang disangkakan sebagai pelaku pemerkosaan, yang tentu saja dibantahnya di pengadilan. Lantas, ada pula 10 pemuda yang disuruh mengaku sebagai pemerkosa, juga menyangkal melakukan pemerkosaan, bahkan bersumpah rela mati jika memerkosa,” tulis Yudi Latief dalam Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan . Baca juga:  Presiden Jokowi Akui 12 Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu Sejumlah foto dan kliping koran yang melaporkan aksi unjuk rasa mahasiswa pada bulan Mei 1998 dipamerkan dalam peringatan 26 tahun reformasi 21 Mei yang diselenggarakan di Markas Front Penyelamat Reformasi Indonesia, Jakarta, Rabu (22/5/2024). (Amanda Rachmadita/Historia.ID). Tak butuh waktu lama, kasus Sum Kuning sampai ke Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Hoegeng Imam Santoso. Pada Januari 1971, Hoegeng membentuk Tim Pemeriksa Sum Kuning dan menegaskan akan mengusut tuntas kasus Sum Kuning. “Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak. Geraklah, the sooner the better ,” kata Hoegeng sebagaimana dikutip Yudi Latief. Namun, belakangan Presiden Soeharto turun tangan menghentikan kasus Sum Kuning. Dalam pertemuan di Istana, Soeharto memerintahkan kasus ini ditangani oleh Tim Pemeriksa Pusat Kopkamtib. Baca juga:  Kesaksian Kerusuhan Mei 1998 Kuatnya kendali Soeharto dan pemerintahan Orde Baru dalam berbagai aspek kehidupan akhirnya memicu banyak kritik dari berbagai lapisan masyarakat. Aksi unjuk rasa semakin marak, khususnya dilakukan mahasiswa. Demonstrasi yang semula menuntut turunkan harga kebutuhan pokok imbas krisis moneter tahun 1997 berujung tuntutan Soeharto mengundurkan diri. Gelombang demonstrasi mahasiswa pada Mei 1998 akhirnya berhasil menumbangkan Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun. Momen bersejarah 26 tahun lalu itu kembali dikenang melalui pameran foto, instalasi nisan dan tengkorak, serta berbagai kliping koran yang melaporkan aksi unjuk rasa dan momen pengunduran diri Soeharto. Pameran digelar dari Selasa sampai Kamis, 21–23 Mei 2024. Pameran tidak hanya untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah pada Mei 1998, tetapi juga sebagai refleksi dari tujuan Reformasi, yakni demokrasi yang sehat dan berkualitas. Kehadiran ribuan nisan dan tengkorak diharapkan menjadi pengingat masih banyak kasus pelanggaran HAM berat yang belum diselesaikan.*

  • Lebih Nyaman Berpijak dengan Alas Kaki

    MENURUT para ilmuwan, homo sapiens di Eurasia yang hidup 30.000–40.000 tahun lalu sudah menggunakan alas kaki. Namun, pernyataan ini hanyalah asumsi karena tak ada bukti penggunaannnya. Bukti pertama pemakaian alas kaki tersua dalam gambar di sebuah gua di Spanyol yang berusia 15.000 tahun. Gambar itu memperlihatkan manusia menggunakan kulit binatang atau bulu yang terikat di kaki sebagai alas kaki.  Manusia kini menggunakan alas seperti sandal dan sepatu. Lebih dari sekadar melindungi kaki, alas kaki juga menjadi penanda identitas individu, afiliasi kelompok, dan posisi sosial. Sebelum Revolusi Industri, alas kaki, terutama sepatu, jadi barang mahal. Orang bisa bertahun-tahun memakai tanpa menggantinya, bahkan kerap mewariskan kepada keturunannya. Namun, kini selalu saja ada alasan untuk membeli alas kaki yang baru.  Sandal Mulanya adalah sandal. Sandal tertua ditemukan di Gua Fort Rock di negara bagian Oregon, Amerika Serikat, yang berasal dari sekira 7.000 atau 8.000 SM. Peradaban Mesir Kuno menggunakan sandal yang terbuat dari daun palem dan papirus sebagai alas kaki. Alas kaki ini kemudian berkembang tak hanya terbuat dari daun, tetapi juga dari kayu, kulit, jerami, dan lain-lain.  Pada abad ke-19, ketika teknologi pengolahan karet ditemukan, terciptalah sandal berbahan karet. Ia kemudian dikenal dengan nama flip-flop , karena ketika Anda berjalan dengan menggunakan sandal ini, muncul suara flip-flop-flip-flop . Di Indonesia, flip-flop lebih dikenal dengan nama sandal jepit.  Baca juga:  Melacak Sejarah Sandal High Heels Lukisan dinding di Mesir pada 3500 SM sudah menunjukkan bahwa warga kelas atas memakai sepatu serupa sepatu berhak tinggi ( high heels ) untuk tujuan seremonial. Sepatu ini meraih popularitas setelah bangsawan Catherine de Medici dari Italia mengenakannya dalam acara pernikahannya dengan Raja Henry II dari Prancis.   Sejak itu mode sepatu hak tinggi menyebar luas di kalangan bangsawan Prancis. Hak tinggi tak eksklusif milik perempuan. Raja Louis XIV juga kerap mengenakannya. Kini, kita mengenalnya dengan nama stiletto , dengan hak kurus dan super tinggi, yang dirancang desainer Roger Vivier untuk rumah mode Christian Dior pada 1950-an.  Baca juga:  Langkah Sejarah Stiletto Moccasin Moccasin kali pertama digunakan oleh orang-orang asli Amerika Utara ribuan tahun silam. Mulanya terbuat dari kulit rusa yang dijahit. Ketika musim dingin tiba, jerami atau lumut dimasukkan ke dalam sepatu sebagai penghangat. Model sepatu moccasin masih bertahan dengan jahitan khas di bagian muka sepatu. Penggunaan kulitnya lebih variatif, bahkan ada yang menggantinya dengan kanvas atau bahan lain.  Baca juga:  Perjalanan Sepatu dari Zaman Batu Clogs Para petani di pedesaan Eropa tak mampu membeli alas kaki yang harganya mahal dan hanya dikenakan para bangsawan. Maka, mereka membuat sandal maupun sepatu dari kayu. Di berbagai belahan dunia terdapat alas kaki kayu dengan nama masing-masing. Di Indonesia, kita mengenal bakiak. Asal sepatu kayu di Eropa tak diketahui pasti. Tet de Boer-Olij dalam European Wooden Shoes mengacu pada sepatu bersol tebal dan tinggi dari aktor drama Yunani dan sepatu yang dikenakan tentara Romawi.   Memasuki abad ke-19, sandal atau sepatu kayu mulai dibuat dengan mesin yang membuat produksi meningkat. Kini, clogs dari kayu lebih dikenal sebagai sandal tradisional. Ada pula clogs “modern” yang terbuat dari croslite khusus antiair dan mudah dibersihkan sehinga banyak diminati.  Baca juga: Tendangan dari Siong Vo Boots Semula merupakan bagian terpisah, sekitar tahun 1000 SM, sepatu dan legging (bagian yang menutup kaki hingga lutut) menjadi kesatuan yang disebut boot . Ia sudah dikenakan orang-orang nomaden di Asia Timur. Di daerah dengan iklim dingin seperti Alaska, penduduknya membuat boot tradisional dari kulit kerbau atau anjing laut. Karena punya daya pelidung ekstra, boot terus bertahan.   Pada abad ke-17, masuk pengaruh dunia militer yang dikenal dengan sol tebalnya. Para tentara, terutama tentara berkuda, menggunakan boot ketika bertempur –kerap disebut combat boot dan tanker boot . Di Amerika Serikat boot yang digunakan tentara semasa Perang Revolusi mempengaruhi perkembangan boot cowboy . Boot tak identik dengan pria karena kini dikenal pula boot yang dibuat khusus untuk perempuan.  Baca juga:  Bata Selain Pabrik Sepatu Ballet Flat Sejak abad ke-16 jenis sepatu flat layaknya sepatu balet digunakan pria maupun perempuan. Namun, pada abad-abad berikutnya ia kalah pamor dari sepatu yang memiliki heels . Penggunaan ballet flat kembali menjadi tren setelah aktris Audrey Hepburn mengenakannya, dipadu pakaian kasual pada 1950-an. Kini, sepatu balet kembali diminati dengan inovasi modelnya yang disertai tali ataupun pita.  Baca juga:  12 Sepatu Bola yang Hilang Sepatu Olahraga Pada abad ke-18, sepatu untuk berlari diperkenalkan di Inggris. Sepatu ini tak hanya ringan, tetapi juga memberi efek mencengkeram tanah. Sepatu lari kala itu masih belum beralas antiair hingga pada abad ke-19 mulai diproduksi sepatu bersol karet. Karena kemajuan teknologi, kini hampir seluruh cabang olahraga memiliki sepatu khusus, dari basket hingga sepakbola.   Sepatu olahraga atletik yang dirancang lebih kasual kerap digunakan untuk bepergian dengan dipadukan pakaian yang juga kasual. Pada akhir abad ke-19, sepatu atletik kasual ini sering disebut sneakers yang identik dengan bahan canvas serta sol karetnya lebih halus dan tak menimbulkan suara decitan.  Baca juga:  Docmart, Sepatu Dr. Martens Sepatu Formal Istilah court shoes dipakai untuk beragam sepatu formal. Pembuat sepatu formal pria telah berdiri sejak akhir abad ke-19. Sejak kemunculannya hingga kini, sepatu pria tak mengalami banyak perubahan. Terbuat dari kulit atau alternatif bahan lain dan bahan baku sol karet. Model-modelnya abadi dan dapat kita temui hingga kini, seperti jenis oxford , derby , dan monk-straps yang memiliki tali atau kancing serta slip-on atau sepatu tanpa tali dan kancing.   Pumps dikenal sebagai istilah sepatu formal bagi perempuan. Bahannya lebih bervariasi dibandingkan sepatu pria dengan model-model lebih beragam. Biasanya pumps adalah jenis sepatu slip-on tanpa tali dan kancing. Dapat ditemui dengan atau tanpa heels .*

  • Transgender Struggles in Indonesia: A Fight for Acceptance

    IT'S 10 o'clock in the morning. "Mami Yulie Salon" in Cilandak, South Jakarta, hasn't yet had guests. The beauty salon room looks cramped with equipment taking up most space of the room. Photos and award certificates hang neatly on each corner of the walls. Three photos are set in French cities, with the caption read "Douarnenez Film Festival France 2014".

  • Lima Tokoh Bangsa Bibliofil

    Seberapa cinta para tokoh bangsa dengan buku?

  • Om Genit Mata Keranjang

    Belum lama ini, seorang Youtuber asal Korea Selatan bernama Kim Jiah mendapat pelecehan verbal saat berlibur di Manado, Sulawesi Utara. Kejadian bermula saat Jiah sedang menyantap dan mereviu makanan di salah satu restoran sebelum menuju taman laut Bunaken. Tiba-tiba, datang dua orang pria ikutan nimbrung di meja Jiah. Satu orang mengaku bernama Alex dan satu lagi yang berkepala botak bernama Albert. Tanpa curiga Jiah mempersilakan keduanya ikut makan bersama. Sembari menanti pesanan makanan, Jiah dan kedua pria asing mengobrol. Albert dan Alex mengaku berasal dari Kendari dan datang ke Manado untuk tujuan bisnis. Mereka juga menanyakan kegiatan apa yang dilakukan Jiah di Manado. Suasana yang semula hangat itu mendadak jadi kaku setelah Albert mengajak Jiah untuk main ke hotel tempatnya menginap.   “Mampir ke hotel boleh,” ujar Albert, “Mampir ke hotel aku boleh,” ajaknya lagi. “Tapi jam 2 perahu ke Bunaken (berangkat),” Jiah menolak secara halus. Baca juga:  Pesta Seks Tukar Pasangan Tempo Dulu Meski tidak blak-blakan, ajakan itu mengandung niat terselubung menjurus ke arah asusila. Dari bidikan matanya yang genit, kuat indikasi Albert melakukan perbuatan yang tidak sopan. Bukan hanya itu, gerakan menggoda lagi dari Albert tampak seperti coba merangkul bahu hingga menyuapi Jiah dengan es brenebon tanpa persetujuan yang bersangkutan.  Kelakuan tak senonoh itu viral setelah Jiah mengunggah video ke laman Youtube -nya berjudul “Menjadi Teman dengan Para Om | ke Bunaken dari Manado” . Video itu terpantau sudah ditonton lebih dari sejuta kali. Tak kurang kecaman netizan dari kolom komentar yang merembet ke media sosial lain hingga menjadi berita skala nasional. Setelah viral, identitas Albert sebenarnya terkuak bernama asli Asri Damuna (AD), yang merupakan kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara Sangia Nibandera Kolaka. Atas kelakuannya itu, Asri kini dibebastugaskan dari jabatannya.  Kejadian tersebut agak mencoreng citra masyarakat Indonesia yang terkenal ramah dan santun.  Pengalaman tidak menyenangkan Kim Jiah juga tentu membuatnya lebih berhati-hati berurusan dengan pria mata keranjang seperti Albert alias AD selama kunjungannya ke Indonesia. Perilaku mata keranjang memang meresahkan kaum perempuan. Tapi, ia bukan barang baru dan ada di mana-mana. Baca juga:  Celana Superpendek yang Menggoda Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "mata keranjang" berarti sifat selalu merasa berahi apabila melihat lawan jenisnya; sangat suka pada perempuan. Asal-usul "mata keranjang" ditelusuri oleh budayawan yang juga ahli sejarah Betawi Alwi Shahab. Dalam bukunya Batavia Kota Banjir , Alwi Shahab menerangkan kemunculan lema ini berasal dari kebiasaan lelaki Jakarta yang doyan melihat nona-nona Indo-Belanda bercelana pendek saat main bola keranjang pada 1950-an. Permainannya mirip seperti bola basket.   “Meski hanya latihan, banyak penontonnya kalau mereka (noni-noni) main di Lapangan Banteng. Para penonton umumnya datang untuk ‘cuci mata’”, jelas Alwi.  Kelakuan “mata keranjang” sendiri sudah lebih dulu dilakoni laki-laki dewasa nakal jauh sebelum istilah itu mengkhalayak. Oey Tambahsia barangkali pria mata keranjang paling terkenal di Batavia pada zaman kolonial. Saking populernya Oey Tambahsia, beberapa karya sastra cerita rakyat Jakarta mengisahkan tentang kehidupan si playboy Betawi ini. Salah satu yang menjadi rujukan ialah Sedjarahnja: Souw Beng Kong, Phoa Beng Gan, Oey Tamba Sia. Biografi karya sejarawan peranakan Poa Kian Sioe ini terbit pada 1956. Baca juga:  Dari Mata Keranjang hingga Mata Ijo Oey Tambahsia lahir pada 1827 di Pekalongan, Jawa Tengah. Ia merupakan anak ketiga dari Oey Thoa, seorang pedagang Tionghoa asal Pekalongan yang memiliki toko tembakau terbesar di Batavia. Memasuki usia 50, Oey Thoa meninggal. Oey Tambahsia ketiban warisan dan kekayaan dalam jumlah besar. Ia pun jadi orang tajir di usia 15 tahun. “Ia terkenal sebagai pemuda yang royal, sombong, serta takabur. Kemanapun pergi, Tambah selalu diikuti para kaki tangannya,” catat Ahmad Sunjayadi dalam “Kisah Playboy di Batavia” termuat di kumpulan tulisan (Bukan) Tabu di Nusantara . Selain tampil necis, Oey Tambahsia punya kegemaran yang kerap bikin resah komunitas Tionghoa di Batavia. Meski masih muda, Oey Tambahsia sudah otak mesum. Dia suka mengganggu anak perempuan dan istri orang. Sebagai pemuda kaya, Oey Tambahsia memiliki rumah peristirahatan di Ancol bernama Bintang Mas. Bukan sekadar tempat pelesiran, Bintang Mas menjadi tempat hunian bagi perempuan simpanan Oey Tambahsia. Baca juga:  Tempat-Tempat Pacaran Tempo Dulu Oey Tambahsia pernah kepincut dengan istri pedagang kelontong di daerah Tongkangan. Lewat bantuan mak comblang, dia tak kesulitan memboyong perempuan cantik untuk berkencan di Bintang Mas. Perselingkuhan itu membuat istri pedagang kelontong bercerai dari suaminya. Sementara itu, ibunda Oey Tambahsia kian khawatir dengan kelakuan anaknya. Oey Tambahsia pun dinikahkan dengan seorang gadis dari keluarga Sim. Pesta pernikahan Oey Tambahsia disebut-sebut yang paling meriah di Betawi pada masa itu. Setelah menikah, Oey hanya betah sebulan tinggal bersama istrinya di rumah. Oey lebih suka menghabiskan waktunya bersama bekas pedagang kelontong di rumah pelesir di Ancol. Selain itu, dia masih saja memangsa perempuan lain. Para orang tua di Batavia makin getat memingit anak mereka di dalam rumah. Berharap jangan sampai anak mereka dilirik Oey Tambahsia. Sekali waktu, Oey Tambahsia menghadiri undangan pesta sunatan putra  bupati Pekalongan. Sang bupati tak lain adalah abang ipar Oey Tambahsia yang menikahi kakak kandung Oey. Oey pun datang membawakan bermacam hadiah untuk keponakannya. Pesta sunatan itu dimeriahkan oleh seorang pesinden ternama, Mas Ajeng Gunjing. Kemerduan suaranya konon tiada yang menandingi di seantero Pekalongan. Baca juga:  Kisah Cinta Sang Biduan di Cianjur “Si mata keranjang Oey segera tertarik dan jatuh hati kepada pesinden jelita itu. Pelbagai cara ditempuhnya untuk mendekati dan membujuknya. Ternyata ia tak bertepuk sebelah tangan.Gunjing bahkan menyambutnya dengan sepenuh hati,” tulis Siswadhi dalam “Oey Tambahsia, Playboy Betawi yang Tewas di Tiang Gantungan” termuat di Batavia: Kisah Jakarta Tempo Dulu . Sebelum pesta berakhir, Oey telah memboyong Gunjing berkencan ke Cirebon. Dari Cirebon, mereka ke Betawi. Gunjing sendiri sempat tinggal sebentar di Bintang Mas, Ancol. Entah karena banyak yang cemburu atau hawa di Ancol kurang sehat, Oey kemudian memindahkan Gunjing ke Tangerang, tanah Pasar Baru milik Oey. Petualangan esek-esek Oey Tambahsia berakhir tragis karena ulahnya sendiri. Oey didakwa bersalah atas kematian anak buahnya, Oey Cun Ki, untuk memfitnah rivalnya Lim Soe Keng Sia yang merupakan menantu dari Tan Eng Goan, seorang kapitan Cina di Batavia. Selain itu, Oey juga menjadi dalang pembunuhan Mas Sutedjo –saudara Mas Ajeng Gunjing– yang dicemburui oleh Oey. Pada 1856, Oey Tambahsia dihukum gantung di depan Stadhuis (Balai Kota Batavia, kini Museum Sejarah Jakarta) kurang lebih seabad sebelum istilah "mata keranjang" lahir.    Baca juga:  Rumah Merah Kapitan Lim

  • Dari Grand Tour ke Study Tour

    STUDY tour tengah menjadi sorotan setelah bus yang membawa siswa SMK dari Depok kecelakaan di Subang dan menelan banyak korban jiwa. Banyak orang pun mempertanyakan untuk apa study tour . Bahkan, ada pemerintah daerah yang melarang study tour ke luar daerah. Study tour sudah lama menjadi kegiatan sekolah-sekolah setiap menjelang perpisahan. Tujuannya biasanya tempat-tempat bersejarah. Bila dilacak muasalnya, study tour berakar pada grand tour di Eropa. Pada pertengahan abad ke-16, seorang bangsawan muda melakukan perjalanan dalam rangka memperbaiki perilaku dan meningkatkan tata kelola negaranya. Untuk tujuan tersebut, Italia dianggap sebagai model ideal. Kegiatan ini kemudian dikenal dengan sebutan grand tour . Menurut Margarita Díaz-Andreu dalam A History of Archaeological Tourism: Pursuing Leisure and Knowledge from the Eighteenth Century to World War II istilah grand tour pertama kali digunakan dalam buku The Voyage of Italy atau A Compleat Journey through Italy karya Richard Lassels, yang diterbitkan di London pada 1670, sebuah buku yang cukup populer sehingga edisi barunya diterbitkan pada 1686 dan 1689. Baca juga:  Awal Mula Pariwisata di Indonesia Díaz-Andreu menyebut grand tour umumnya dilakukan oleh anggota kelas atas Inggris dan kemudian oleh rekan-rekan mereka yang merupakan Eropa-Amerika, terutama mereka yang berasal dari Prancis, Jerman, dan Amerika Utara. “Bagi orang Inggris, rencana perjalanannya melibatkan Prancis, terutama Paris, diikuti oleh Italia melalui Jerman dan Swiss. Tujuannya agar tiba di negeri-negeri yang akan dikunjungi secepat mungkin, tanpa mempertimbangkan kunjungan ke peninggalan kuno di negara lain, yang dianggap kurang menarik,” tulis Díaz-Andreu. Tujuan utama grand tour adalah pendidikan; untuk memperbaiki kualitas diri anak-anak muda yang berkecukupan dalam berbagai bentuk seni, seperti musik, lukisan, patung, dan arsitektur. Perjalanan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran secara langsung mengenai peradaban kuno dari reruntuhan bangunan serta karya-karya seni yang ditinggalkan sebagai saksi masa lalu yang gemilang. Reruntuhan itu semakin dilengkapi dengan penemuan-penemuan baru hasil investigasi arkeologi yang ditugaskan oleh Paus, yang kemudian menjadi objek wisata turis mancanegara. Meski begitu tak semua kunjungan ke Italia dapat dikategorikan sebagai grand tour . Baca juga:  Wisata Sumatra Era Kolonial Menurut Bruce Redford dalam Venice and the Grand Tour ada beberapa hal yang menjadi penanda untuk dapat dikategorikan dalam perjalanan ini, di antaranya pertama, yang melakukan perjalanan adalah seorang pria bangsawan atau aristokrat muda Inggris; kedua, keberadaan seorang pendamping atau pemandu yang menemani sang bangsawan selama perjalanan –pendamping ini juga memikul tanggung jawab untuk memastikan pria muda yang ia damping merasa aman dan nyaman selama perjalanan; ketiga, rencana perjalanan yang tetap yang menjadikan Roma sebagai tujuan utama; keempat, durasi perjalanan memakan waktu yang lama, rata-rata dua atau tiga tahun. Meski Italia menjadi negara tujuan utama, tidak ada rencana perjalanan yang ditetapkan dalam grand tour , dan dengan demikian tujuan perjalanan lebih bervariasi selama berabad-abad. Namun, pada abad ke-18, sebuah rute standar terbentuk, dengan Paris sebagai perhentian penting dan Roma sebagai puncak tur. Para pemuda Inggris biasanya menyeberangi Selat Inggris dari Dover ke Le Havre, Prancis. Mereka kemudian berkumpul dengan para pemuda dari negara lain seperti Prancis, Jerman, Belanda, Swedia, dan Denmark di Paris untuk tinggal lebih lama. Di sana, para bangsawan muda itu mempelajari tata krama dan mode Prancis, serta mengambil pelajaran berkuda, anggar, dan menari. Baca juga:  Panduan Kebiasaan Mandi untuk Wisatawan Asing Para pelancong kelas atas itu kemudian melakukan perjalanan menuju selatan ke Lyon dan menyeberang ke Italia melalui Pegunungan Alpen dan Mount Cenis Pass (lewat jalur darat) atau melalui laut dari Marseille ke Livorni atau Genoa. Begitu tiba di Italia, para pelancong biasanya akan mengunjungi Florence, Venesia, Roma, dan Napoli. Florence terkenal dengan seni masa Renaisans. Para pelancong mencari akses masuk ke koleksi pribadi untuk mempelajari seni Leonardo da Vinci, Raphael, hingga Michelangelo. Sementara Venesia dikenal sebagai kota pesta dan banyak pengunjung yang ikut serta dalam karnaval tahunan. Kota ini juga menjadi tempat populer untuk memesan atau membeli karya seni, karena banyak turis mancanegara yang membawa pulang cenderamata. Setelah mengunjungi Venesia, para pelancong kelas atas itu memperpanjang masa tinggal di Roma yang menjadi tempat perhatian terakhir dari grand tour . Di sana, mereka mempelajari reruntuhan kuno kota serta seni dan arsitektur Barok kontemporer. Perjalanan pulang sering kali mengambil rute timur, yang melewati Eropa Timur, Jerman, dan negara-negara Eropa Bawah –umumnya mereka singgah di kota-kota seperti Wina, Praha, Dresden, dan Berlin. Baca juga:  Jaminan Keselamatan Rakyat saat Melakukan Perjalanan Seperti diungkapkan Bruce Redford, grand tour dilakukan oleh para bangsawan atau aristokrat muda karena membutuhkan biaya yang mahal. Di masa-masa kejayaannya, para pelancong yang mengikuti grand tour juga kerap menghabiskan uang untuk membeli cenderamata. Tak heran bila grand tour menyebabkan berkembangnya pasar barang antik yang berpusat di Roma, tetapi juga memicu masalah dengan kemunculan artefak-artefak palsu. “Dalam daftar yang harus dilakukan oleh para pelancong, prioritas diberikan untuk membawa pulang cenderamata dari perjalanan mereka dalam bentuk benda-benda kuno, serta karya seni yang terinspirasi oleh peradaban dan budaya kuno. Hal ini mendorong ekspor barang antik secara terus-menerus yang tidak dapat dicegah oleh peraturan-peraturan yang telah dikeluarkan namun tidak efisien yang bertujuan untuk menghentikan praktik ini selama abad ketujuh belas dan awal abad kedelapan belas,” tulis Díaz-Andreu. Grand tour mencapai puncak popularitasnya pada abad ke-18 dan terus menurun pada abad ke-19. Menurut Judith Kapferer dalam Being All Equal: Identity, Difference and Australian Cultural Practice , seiring berjalannya waktu tur ini berkembang menjadi berbagai bentuk lain, salah satunya study tour . Perkembangan teknologi dan transportasi yang semakin canggih membuat biaya perjalanan ini menjadi lebih murah dan mudah diakses, sehingga tak hanya para bangsawan atau aristokrat muda, perjalanan ini juga dapat dilakukan oleh masyarakat umum, tak terkecuali anak-anak sekolah.*

  • Modal Soeharto dari Muhammadiyah

    MUHAMMADIYAH, salah satu organisasi Islam terbesar di tanah air, sedang ramai diberitakan. Pemberitaan itu terkait dengan polemik yang dilakukan sejumlah pengurus organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu dengan seorang pendakwah salafi Ustadz Muflih Safitra. Polemik itu sendiri bermula dari video yang berisi kritik Ustadz Muflih terhadap dakwah pengurus PP Muhammadiyah Ustadz Adi Hidayat yang menyatakan dakwah musik diperbolehkan dalam Islam. Dalam video tersebut, Ustadz Muflih menyatakan Ustadz Adi telah lancang dan bahkan melecehkan agama. Menanggapi hal itu, sejumlah pengurus Muhammadiyah di berbagai daerah pun angkat suara. Terbaru, Sekretaris Umum (Sekum) PP Muhammadiyah Profesor Abdul Mu’ti mengirim pesan kepada jamaah Muhammadiyah di seluruh pelosok tanah air agar menjaga masjid-masjid mereka supaya tidak dikuasai kelompok lain.

  • Banjir Besar di Lembah Anai

    SUMATRA Barat dilanda bencana alam pada 11 Mei 2024. Banjir bandang di kaki Gunung Marapi menerjang Lembah Anai. Akibatnya, jalur yang menghubungkan Padang-Bukittinggi terputus karena badan jalan amblas di Lembah Anai. Jalur utama ini tidak bisa dilewati sama sekali.  Banjir juga menghanyutkan pondok-pondok wisata di lokasi pemandian, termasuk sebuah kafe yang berdiri di depan air terjun Lembah Anai. Sejauh ini korban jiwa 27 orang meninggal dan 18 luka-luka.  Dalam sejarah pada masa kolonial Belanda, bencana banjir besar pernah dua kali terjadi di Lembah Anai tahun 1892 dan 1904.  Hasjim Ning, pengusaha nasional masa Sukarno, menceritakan dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang , “Ketika aku dibawa kakekku ke Payakumbuh untuk disekolahkan, kami naik kereta api. Ketika kereta api melewati Lembah Anai dengan jalannya yang lamban karena menaiki pendakian yang berbelok-belok di lereng lembah itu, kakekku bercerita tentang Batang Anai yang pernah banjir.”   Baca juga:  Air Mengalir Sampai Banjir Waktu itu, lanjut Hasjim Ning, air sungai itu gemercik di sela-sela batu besar yang bertaburan di sepanjang dasarnya. Menurut cerita kakekku, air sungai yang gemercik itu pernah banjir dengan dahsyatnya. Sehingga, dinding bukit longsor menimbuni jalan kereta api dan jalan raya, serta menghanyutkan sebuah jembatan besi sampai 50 meter ke hilir.   “Kakekku tidak lupa peristiwa itu, karena pada tahun itu (1892) ayahku baru lahir. Dan kakekku tertahan oleh karena jalan putus. Untuk meneruskan perjalanan kakekku harus berjalan kaki ke Kayutanam. Dan dari sanalah kakekku bisa naik kereta api lagi ke Padang,” kata Hasjim Ning.  Banjir di Lembah Anai dilaporkan melalui telegram kepada pemerintah oleh W. De Jongh Dzn., Kepala Insinyur Kereta Api Negara Sumatra dan Tambang Ombilin. Isi laporan tersebut dimuat dalam surat kabar di antaranya Algemeen Handelsblad , 6 Februari 1904 yang mengutip Javasche Courant .  Baca juga:  Bagaimana Belanda Mengurus Banjir di Batavia? Kepala insinyur itu melaporkan, akibat derasnya banjir Sungai Anai, disertai hujan deras pada malam tanggal 5 hingga 6 Januari 1904, terjadi kerusakan parah. Banjir tersebut disebabkan oleh hujan lebat di ujung atas ngarai sehingga Sungai Anai dan Singgalang meluap. Selain banyak longsoran tanah dan batu, kerusakan besar terjadi pada jalur kereta api dan jalan utama.  Lintasan tersapu di dua tempat dan jembatan kereta api sebelum Kampung Tengah rusak, jembatan kereta api di Tambun Tulang di atas Sungai Anai dan jembatan pertama antara Kandang Ampat di Padang Panjang sepanjang lima puluh meter dengan penyangganya roboh dan hancur. Massa batuan dan tanah meninggalkan rel dan bantalan atau membengkokkan rel seperti batang korek api.   Rumah penjaga wesel kereta api tersapu banjir. Wesel, dari bahasa Belanda wissel , adalah konstruksi rel kereta api yang bercabang atau bersimpangan tempat memindahkan jurusan jalan kereta api. Komunikasi telegraf dengan Padang Panjang terputus. Namun, komunikasi pos dengan daerah dataran tinggi bisa segera dipulihkan. Angkutan barang ke dataran tinggi dilakukan dengan gerobak kerbau melalui Soebang Pass menuju Stasiun Solok. Sejauh diketahui tidak ada korban jiwa. Perbaikan akan memakan waktu dua hingga tiga bulan dengan biaya untuk sementara diperkirakan sekitar dua ratus ribu gulden.  Baca juga:  Banjir Jakarta 1960-an Selain itu, pengiriman batubara untuk BOW (Burgerlijke Openbare Werken atau Departemen Pekerjaan Umum) dan Angkatan Laut harus dihentikan sampai pemberitahuan lebih lanjut. Namun, kapal yang singgah di Emmahaven (Pelabuhan Teluk Bayur) akan dipasok dengan batu bara yang tersedia di bunker.  “Ini adalah bencana serius kedua yang terjadi di Ngarai Anai. Bencana pertama yang masih hidup dalam ingatanku terjadi pada Hari Natal 1892,” tulis kepala insinyur tersebut. “Dalam delapan jam pada tanggal 23 Desember, di ujung atas ngarai Padang Panjang, hujan turun dengan curah hujan 225 milimeter; terjadilah banjir yang dahsyat.”  Baca juga:  Banjir Jakarta 1960-an Seorang penulis di Het nieuws van den dag , 16 Februari 1893, menyebut bahwa menurut keterangan sebagian penduduk gunung yang berada di Ngarai Anai, air yang tanggal 24 Desember 1892 menyebabkan kehancuran begitu parah, tidak hanya berasal dari hujan deras yang turun pada hari-hari sebelumnya, tetapi juga karena tekanan air yang menumpuk di danau pegunungan mengakibatkan dindingnya runtuh.   Akibat gangguan lalu lintas yang terputus, sebut Het nieuws van den dag , beberapa barang kebutuhan rumah tangga yang diangkut ke dataran tinggi mengalami kenaikan harga yang tajam. Misalnya, sekotak minyak tanah dari sekitar ƒ4 menjadi ƒ12 di Padang Panjang dan ƒ15 di Port de Kock (Bukittinggi), sedangkan sayur-sayuran, kentang, daging dan sejenisnya, yang sebagian besar disuplai oleh dataran tinggi ke pasar, juga menjadi jauh lebih mahal. Kepala insinyur itu menyebut banjir mengakibatkan jalur kereta api rusak, termasuk tembok penahan, jembatan kereta api, jalan raya, rumah-rumah, dan sebagian jalan pos hancur. Jalur kereta api, yang baru dibuka sejak Juli 1891, rusak selama berbulan-bulan. Biaya perbaikan diperkirakan lebih dari setengah juta gulden.*

  • Campaigning for Condom Use in Indonesia

    AFTER earning a doctorate in anthropology from the Australian National University (ANU), Masri Singarimbun decided to settle in Australia. He worked as an assistant military attaché at the Indonesian Embassy in Canberra as well as a research fellow at ANU.

  • Potret Sejarah Indonesia

    31 Januari 1948: Hari Jadi Brigade V Berdiri dengan egrang (alat permainan tradisional terbuat dari dua batang bambu), dua anak bumiputra berusaha mengambil uang koin yang tertancap pada buah jeruk berbalur pelumas dengan mulut mereka. Permainan ini digelar di alun-alun Banyumas, Jawa Tengah oleh tentara Belanda dari Brigade V yang merayakan hari jadi ke-2.  Brigade V, populer dengan nama panggilan Victory , didirikan di Malaka pada 27 Januari 1946. Sekira tiga bulan kemudian, dipimpin Kolonel J.K. Meyer, mereka mendarat di Batavia lalu menuju Bandung. Selama agresi militer Belanda I, mereka bergerak ke Sumedang, Cirebon, Brebes, Purwokerto, Gombong, dan Cilacap.   Sesaat sebelum agresi militer Belanda II, mereka terkonsentrasi di Semarang. Ketika agresi dimulai mereka ditempatkan di Solo lalu secara bertahap ditarik kembali ke Semarang setelah kesepakatan gencatan senjata. Pada 23 Desember 1949, hampir empat tahun setelah terbentuk, Brigade V kembali ke Belanda. Baca juga:  Kisah Batalyon Sepatoe Roesak IPPHOS 11 Juni 1948: Sukarno Meninjau Sumatra Presiden Sukarno dan rombongan tiba di perbatasan Sumatra Barat-Tapanuli. Pagi 12 Juni, Sukarno berpidato dalam rapat raksasa di Padang Sidempuan yang dibanjiri rakyat. Bahkan, ada yang datang dari Labuhan Batu (Sumatra Timur-Selatan) dan Pasir Pengarayan (Riau Utara) dengan berjalan kaki menempuh jarak ratusan kilometer.   Sorenya, Sukarno memberikan kursus politik. Di kota ini, rakyat mempersembahkan ulos, kain khas Batak, berikut seekor kerbau sebagai penghormatan. Setelah rampung, Sukarno menuju Sibolga.  Malamnya, Sukarno menghadiri upacara persembahan ulos, diiringi gendang Batak dan tari tor-tor. Residen Tapanuli berpidato, wakil executief Tapanuli menyelimutkan ulos ke bahu presiden. Setelah itu, Sukarno menerima persembahan hasil bumi Tapanuli dan pakaian perang dari rakyat Pulau Nias.  Baca juga:  Sukarno, Gondang, dan Tor-tor IPPHOS 9–12 September 1948: PON I di Solo Pekan Olahraga Nasional (PON) I diselenggarakan di Solo sesuai keputusan Konferensi Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) yang disetujui Menteri Pembangunan dan Urusan Pemuda Soepeno. Presiden Sukarno menyerahkan bendera putih berlogo lima ring Olimpiade dengan obor di tengahnya kepada regu pembawa obor sebagai prosesi pembukaan.  Peserta PON I adalah kontingen dari Karesidenan Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Kediri, Madiun, Semarang, Pati, Kedu, Magelang, Banyumas, Bandung, dan Jakarta. Kontingen tersebut memperebutkan medali dari cabang olahraga atletik, bola keranjang (korfbal), bulutangkis, tenis, renang, panahan, sepakbola, basket, dan pencak silat.   Solo menjadi juara umum dengan memperoleh 16 medali emas, 10 perak, dan 10 perunggu. Pasca-PON I, kegiatan olahraga nasional mandek lantaran terjadi peristiwa Madiun dan agresi militer Belanda II.  Baca juga:  PON I Sebagai Simbol Kedaulatan Nationaal Archief 12 November 1949: Patroli TNI Pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) melakukan patroli di Pasar Besar, Solo. Tanggung jawab keamanan kota Solo dan Surakarta resmi dialihkan ke TNI dalam sebuah upacara di Stadion Sriwedari dengan Letkol Slamet Rijadi mewakili TNI dan Kolonel van Ohl mewakili Tentara Kerajaan Belanda. Hal ini dilakukan menyusul ditandatanganinya Konferensi Meja Bundar, yang antara lain berisi keputusan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.  Baca juga:  Jalan Terjal Negara Federal IPPHOS 25 Desember 1949: Kunjungan Menteri Pertahanan RIS Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku menteri pertahanan Republik Indonesia Serikat (RIS), mengunjungi Denpasar, Bali, yang merupakan bagian dari Negara Indonesia Timur.  Sultan mengunjungi semua negara bagian untuk mengkonsolidasi semua kekuatan pro-Republik. Dia juga bermaksud mengangkat penanggung jawab keamanan dari TNI, karena keamanan negara-negara bagian dalam RIS dikoordinasikan oleh Angkatan Perang RIS dengan TNI sebagai unsur utamanya.  Kedatangan sultan mendapat sambutan meriah kaum Republiken, yang kemudian memanggul dan mengaraknya. “Kedatangan rombongan Sri Sultan merupakan kesempatan bagi rakyat untuk menunjukkan sikap mereka yang pro-Republik,” tulis Mohamad Roem, dkk., dalam Takhta untuk Rakyat. Dari Bali, Sultan mengunjungi Madura dan mendapat sambutan yang sama.*

  • Gugurnya Arung Rajang

    RASIMAN belum lama masuk kompeni ketika dikirim ke Sulawesi Selatan. Dia mulai bertugas pada 1902 di Willem I, Ambarawa, sebagai fuselier atau prajurit infanteri rendahan, seperti kebanyakan orang Jawa minim pendidikan di dalam tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Setelah setahun di Ambarawa, Rasiman dikirim ke Ambon dan Ternate. Setelah raja-raja Sulawesi Selatan berseberangan politik dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1905, pemerintah mengirim KNIL untuk mengatasinya. Rasiman termasuk serdadu yang dikirim ke sisi utara Sulawesi Selatan. Di daerah tersebut, raja-raja Sulawesi Selatan berkumpul dalam melawan Belanda. Mereka pun menjadi buruan serdadu KNIL. Dahulu kala di daerah kabupaten Pinrang, daerah tugas Rasiman, terdapat kerajaan bernama Rajang. Kerajaan kecil itu berbatasan dengan dengan Kerajaan Latte. Kedua wilayah kerajaan kecil itu berada di dalam Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. Daerah tersebut menjadi pelarian musuh Belanda dari daerah Kalosi, Enrekang, setelah benteng Alla direbut tentara Belanda. Koran Het Nieuws Van Den Dag tanggal 16 Maret 1906 menyebut Masenrempulu, kampung yang menjadi benteng di Pabesaran dan Rajang, direbut tentara Belanda pada 5 Maret 1906. Setelah merebutnya, esoknya Kapten Hirschmann dan Ten Seldam mengejar Pangeran Gowa. Sang pangeran berada di sekitar Letta dan Batulappa. Baca juga:  Meninjau Kembali Peran Arung Palakka Benteng Alla yang terletak di pegunungan kapur di sisi utara Kabupaten Enrekang itu, menurut koran Algemeen Handelsblad edisi 21 Mei 1907, dipertahankan oleh Pabitjara dari Tobangan dan Nene Lintik dan pengikutnya. Benteng itu diserang satu peleton KNIL pimpinan Letnan Pimentel. Pasukan Pimentel bergerak dari Kalosi ke benteng tersebut pada pukul 07.30 malam 30 Januari 1907. Mereka menunggu fajar 31 Januari 1907 untuk menyerang. Serangan keras mereka lancarkan begitu Jam-J tiba. Nene Lintik yang berkuasa pun menyerah setelah terjepit. Setelah Benteng Alla, pada minggu-minggu berikutnya daerah Rajang yang jadi sasaran KNIL. Rasiman termasuk yang ikut ke Rajang yang daerahnya berada di ketinggian lebih dari 100 meter dari permukaan laut. Semakin ke utara, daerah itu semakin meninggi. Orang-orang Rajang, yang ikut melawan Belanda, berada di punggung bukit. Kapten Van Hulstijn memimpin gerak maju pasukan KNIL itu. Sisi barat daerah Rajang, sesuai taktiknya, ditutup dengan rapat sehingga orang Rajang yang melawan tak bisa kabur ke barat. Sementara, daerah timur sudah ada jurang, membuat orang Rajang susah pergi. Alhasil orang Rajang hanya memanfaatkan tumpukan batu sebagai dinding pertahanan. Baca juga:  Guru Arung Palakka Pada malam 18 Februari 1907, pasukan Kapten Van Hulstijn bergerak mendekati posisi pertahanan orang-orang Rajang. Kapten membagi pasukannya menjadi empat pasukan yang lebih kecil untuk pengepungan dan penyergapan. Tak langsung menyerang, Kapten Van Hulstijn dan pasukannya menunggu pagi sembari mengumpulkan tenaga. Pada pukul 6 pagi tanggal 19 Februari 1907, mereka baru memulai serangan. Kapten Van Hulstijn memberi tanda kepada pasukan Pembantu Letnan Kaniess untuk menyerang di daerah yang tinggi. Serdadu terdepan langsung berusaha membuka jalan. Sekitar 20 menit pertama Fusilier Rasiman yang berada di dalam benteng dan berkelahi melawan orang-orang Rajang berusaha membuat celah pada rintangan yang dibuat orang Rajang. Rasiman maju lebih depan daripada Kaniess dan Fuselier Breodenbeek serta serdadu lain. Butuh waktu tiga jam bagi KNIL untuk melumpuhkan lawan-lawan yang terjebak itu. Pada pukul 09.00 barulah Benteng Rajang itu berhasil direbut. Baca juga:  Jalan Tarung Karaeng Karunrung Namun, sebagian kombatan Rajang berhasil lolos dari sergapan kompeni melalui lorong bawah tanah. Di antaranya Arung Rajang dan kepala pasukan-pasukannya. Mereka menuju bawah jurang yang dipenuhi semak-semak. Namun, mereka tak bisa bertahan hidup di sana karena menuju jurang dalam keadaan terluka. Di sana pulalah Arung Rajang bersama 20 orang pengikutnya ditemukan dalam keadaan sudah menjadi mayat pada malamnya oleh pasukan kompeni –yang juga kehilangan beberapa prajurit dalam pertempuran tersebut. Fuselier Rasimen, serdadu dengan nomor stamboek 61702, menjadi bintang dalam pertempuran tersebut. Pada tahun berikutnya, berdasar Koninklijk Besluit tanggal 20 Juli 1908 nomor 68, dia dianugerahi bintang Militaire Willemsorde kelas empat. Selanjutnya, sebagaimana diberitakan koran De Locomotief tanggal 21 Juni 1938, pada 1910 Rasiman ditugaskan ke Manado selama tiga tahun. Rasiman kemudian pada 1914 bertugas di bagian kesehatan hingga berpangkat Hospitaalsoldaat (prajurit kesehatan) kelas satu. Rasiman pensiun pada 1922 dan tinggal di Ambarawa, tempatnya memulai karier sebagai serdadu KNIL.*

  • Bata Selain Pabrik Sepatu

    KABAR penutupan pabrik sepatu milik PT Sepatu Bata Tbk. (BATA) mencuri perhatian masyarakat. Penyetopan produksi sepatu di pabrik yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat itu telah diumumkan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis, 2 Mei 2024. Director and Corporate Secretary BATA, Hatta Tutuko, menyampaikan dalam keterangannya kepada BEI pada 2 Mei 2024, bahwa alasan penutupan pabrik di Purwakarta karena perusahaan tak lagi mampu melanjutkan produksi di pabrik sepatu tersebut. “Permintaan pelanggan terhadap jenis produk yang dibuat di pabrik itu terus menurun dan kapasitas produksi pabrik jauh melebihi kebutuhan yang bisa diperoleh secara berkelanjutan dari pemasok lokal di Indonesia, sehingga pabrik pun terpaksa ditutup,” jelasnya. Baca juga:  Perjalanan Sepatu dari Zaman Batu Penutupan pabrik sepatu Bata di Purwarkarta sontak membuat banyak orang bernostalgia. Pasalnya, sepatu ini sudah begitu populer di berbagai lapisan masyarakat bahkan sejak Indonesia belum merdeka. Sejarah kehadiran sepatu Bata di tanah air memang menarik untuk ditelusuri. Sebagian orang mengira merek sepatu ini berasal dari kawasan pabrik sepatu tersebut pertama kali berdiri, yakni Kalibata, Jakarta Selatan. Namun, Bata sesungguhnya tak berasal dari Indonesia. Sepatu ini merupakan buah cipta seorang pengusaha asal Cekoslovakia bernama Tomas Bata. “Pada tahun 1884, Tomas Bata meletakkan dasar bagi Bata sebagai perusahaan multinasional di Zlin, Cekoslovakia. Ketika ia menemui ajalnya dalam sebuah kecelakaan pesawat pada tahun 1932, Tomas Bata telah menjadi salah satu industrialis terkemuka di negaranya dan Bata telah menyebarkan operasinya ke seluruh dunia,” tulis Luis Ma. R. Calingo dalam Strategic Management in the Asian Context . Baca juga:  Docmart, Sepatu Dr. Martens Sepatu Bata sendiri sudah wara-wiri di Indonesia sejak zaman kolonial Belanda lewat jalur impor. Kala itu sepatu tersebut didatangkan dari Singapura oleh perusahaan penyalur sepatu NV Nederlandsch-Indische di kawasan pergudangan Tanjung Priok. Di pengujung tahun 1930-an, Bata sudah memiliki pabrik di Batavia. Pemasaran yang gencar melalui surat kabar membuat sepatu ini semakin populer di kalangan masyarakat. Namun, kejayaan sepatu Bata bukan tanpa tantangan. Meski di awal masuknya Jepang ke Hindia Belanda, pabrik sepatu ini masih dapat berproduksi dan memasarkan produk-produknya. Namun, seiring berjalannya waktu pabrik tersebut turut terdampak pendudukan Jepang. Thomas John Bata, putra pendiri sepatu Bata, menulis dalam Bata: Shoemaker to the World bahwa pabrik sepatu Bata di Hindia Belanda telah ditutup oleh Jepang dan para manajer pabrik ditahan sebagai interniran oleh pihak Jepang. Sementara itu, menurut Calingo, setelah Indonesia merdeka Bata menjadi salah satu perusahaan asing yang dinasionalisasi pada awal tahun 1960-an. “Setelah Presiden Sukarno jatuh dari kekuasaannya pada pertengahan tahun 1960-an, Bata dikembalikan kepada pemilik sebelumnya oleh pemerintahan Presiden Soeharto,” tulisnya. Setelah bertahun-tahun pabrik di Kalibata beroperasi dengan kapasitas penuh, PT Sepatu Bata kemudian membuka pabrik baru di Purwakarta, Jawa Barat pada 1994. Baca juga:  12 Sepatu Bola yang Hilang Klub Sepakbola PS Bata Di samping memproduksi sepatu, Bata juga memiliki klub sepakbola, yakni Persatoean Sepakraga Bata (PS Bata) yang berbasis di Jakarta. Para pemainnya sebagian besar merupakan pegawai. Tak hanya bertanding di sekitar Jakarta, PS Bata juga melakukan lawatan ke luar daerah. Mengutip surat kabar Asia Raya , 10 Juni 2602 (tahun Jepang) atau 1942, PS Bata pernah bertanding melawan PS Myralaja dan Bond Soekaboemi di Sukabumi, Jawa Barat. Pertandingan yang digelar sebagai bagian dari Pergerakan “Tiga A” itu dimenangkan oleh PS Bata dengan skor 9-1 dan 4-2. Gerakan Tiga A merupakan propaganda Jepang bahwa Nippon adalah Cahaya, Pelindung, dan Pemimpin Asia. Baca juga:  Sepakbola Seniman Panggung Dijuluki sebagai tim jawara, pertandingan PS Bata melawan PS Myralaja yang digelar di lapangan sekolah polisi ramai dihadiri penonton, meski hujan lebat lebih dulu mengguyur wilayah tersebut. “Pertandingan berjalan seru meski lapangan licin dan becek. Keunggulan ada di pihak Bata, hingga bagian belakang dari Myralaja selalu keteteran menahan serangan-serangan musuhnya. Hingga babak pertama berakhir, Bata berhasil unggul 4-1. Setelah turun minum, Myralaja mencoba untuk mengejar ketertinggalan tapi apa daya itu sulit dilakukan... Hingga peluit akhir dibunyikan Bata berhasil mempertahankan keunggulan dengan skor 9-1,” tulis surat kabar yang terbit pada masa pendudukan Jepang itu. Baca juga: Tendangan dari Sepatu Siong Vo Di hari kedua pertandingan penonton yang menyaksikan laga PS Bata kontra Bond Soekaboemi semakin ramai. Tak hanya masyarakat umum, sejumlah pembesar Sukabumi turut hadir menyaksikan pertandingan tersebut. Menariknya, lagu Indonesia Raya diperdengarkan sebelum pertandingan dimulai dan penonton sontak berdiri tegak. Selain itu, saat jeda istirahat setelah babak pertama dihelat penonton dihibur oleh pertandingan kehormatan dari Kaoem Kolot. “Sementara waktu mengaso, dipertunjukan pertandingan dari Kaoem Kolot, ini permainan yang sangat lucu karena ada yang perutnya berlari lebih dulu karena saking gendutnya, dan ada juga yang tidak bisa membawa lari sepatu bola, seakan-akan seperti anak-anak yang sedang bermain dengan pengasuhnya. Tenaga untuk berlari pun tak ada yang lebih dari lima menit,” tulis Asia Raya . Baca juga:  Olahraga Simbol Kedaulatan Dalam pertandingan melawan Bond Soekaboemi, PS Bata mendapatkan perlawanan yang cukup sengit. Meski berhasil mencetak gol lebih dulu melalui pemain sayap kiri yakni Arifin, Bond Soekaboemi berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Arifin kembali merobek gawang lawan dan membawa Bata unggul 2-1 hingga babak pertama usai. Di babak kedua permainan menjadi lebih seru dan menegangkan karena para pemain saling beradu untuk menjebol gawang lawan. Bond Soekaboemi berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 melalui penalti usai pemain PS Bata melakukan handball . Skor imbang membuat PS Bata semakin bernafsu untuk menyerang. Serangan demi serangan diarahkan ke gawang Bond Soekaboemi. Dari sejumlah percobaan mencetak gol, PS Bata berhasil menyarangkan dua gol yang membawa tim menjadi juara dengan skor akhir 4-2. PS Bata tak hanya meraih piala, tetapi juga sebelas medali untuk masing-masing pemain. Kepiawaian para pemain PS Bata dalam mengolah si kulit bundar membuat beberapa pemain terpilih mewakili Jakarta untuk bertanding dalam cabang sepakbola di Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Surakarta pada 1948.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page