Hasil pencarian
9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Koleksi Lukisan Hilang, Pegawai Museum Tak Sadar
Lukisan berusia 500 tahun dicuri dari museum yang ada di bawah naungan Gereja San Domenico Maggiore di Napoli, Italia. Staf museum tak menyadari kalau lukisan bergambar potret Yesus Kristus itu sudah raib. Sebagaimana dilaporkan Reuters lukisan cat minyak itu adalah replika lukisan “Salvator Mundi” yang dikaitkan dengan Leonardo da Vinci. Lukisan replika yang hilang itu diyakini merupakan karya murid Leonardo da Vinci, Giacomo Alibrandi dari awal 1500-an. Salvator Mundi, penggambaran Kristus sebagai penyelamat dunia, memperlihatkan Yesus dalam pakaian Renaisans. Jari tangan kanannya membentuk tanda salib. Tangan kirinya memegang bola kristal transparan. Melansir The Art Newspaper , beberapa pers Italia mencatat berdasarkan pernyataan polisi, lukisan Salvator Mundi koleksi Museum San Domenico Maggiore telah dicuri dua tahun lalu. Namun, pihak museum menegaskan karya itu masih ada pada Januari 2020, ketika pameran di Roma ditutup. “Tidak ada laporan kehilangan. Kami yang menghubungi museum gereja untuk memberi tahu barang mereka telah dicuri,” kata Giovanni Melillo, jaksa Napoli, sebagaimana dikutip dari dw . Itu dinyatakannya usai lukisan replika Salvator Mundi akhirnya ditemukan kembali oleh petugas kepolisian di apartemen pinggiran kota di selatan Italia. Lukisan itu tersimpan di dalam sebuah lemari kamar tidur. Pemilik flat yang berusia 36 tahun pun ditangkap karena dicurigai menerima barang curian. Lukisannya pun lalu dikembalikan ke museum pekan lalu (18/1/2021). Katanya, pihak museum tak mengetahui koleksinya hilang karena ruangan tempat lukisan itu dipamerkan belum dibuka selama tiga bulan akibat pandemi virus corona. Adapun penemuan barang curian ini bermula dari informasi yang kepolisian dapatkan tentang adanya aksi penadah barang seni curian. Mereka kini masih menyelidiki bagaimana benda itu dicuri. Pasalnya tidak ada tanda-tanda pembobolan. “Siapa pun yang mengambil lukisan itu menginginkannya. Masuk akal bahwa itu adalah pencurian yang terhubung dengan organisasi yang bekerja di perdagangan seni internasional,” kata Melillo kepada The Guardian. The Art Newspaper menulis, ada sekira 20 replika Salvator Mundi yang masih ada. Karya-karya ini dikaitkan dengan murid dan pengikut Leonardo da Vinci. Versi Napoli yang dicuri dari museum, tadinya dibuat di Roma. Lalu Giovanni Antonio Muscettola, penasihat Charles V dan duta besar untuk istana kepausan, membelinya dan mebawa lukisan itu ke Napoli. Karya itu baru-baru ini kembali ke ibu kota Italia untuk dipamerkan dalam Leonardo in Rome 2019: Influences and Legacy. Lukisan Termahal Melansir Daily Mail , Salvator Mundi yang asli diperkirakan dilukis Leonardo da Vinci pada 1500-an untuk Louis XII. Ini tak lama setelah penguasa Prancis itu menaklukkan Milan dan mengambil alih Genoa. Karya asli Salvator Mundi adalah lukisan termahal yang pernah dijual dalam lelang. Pada 2017, karya ini dilepas dengan harga 450juta dolar AS atau setara dengan Rp6,335triliun (kurs Rp14.062,5). Diyakini pembelinya adalah Badr bin Abdullah bin Mohammed bin Farhan Al-Saud, seorang anggota keluarga Kerajaan Saudi. Penjualannya pun memecahkan semua rekor di balai lelang Christie, New York. Lukisan ini mestinya akan dipamerkan di Louvre Abu Dhabi pada September 2018. Namun, pameran itu ditunda tanpa batas waktu yang jelas. Sejak terjual, lukisan Salvator Mundi yang asli ini pun tak pernah muncul di hadapan publik. Beberapa ahli meragukan keasliannya. Sang maestro sendiri meninggal pada 1519. Sementara hingga kini hanya ada kurang dari 20 lukisan karyanya yang masih diketahui.
- Ketika Belanda Mendirikan Denpasar
UPAYA rakyat Bali mengusir kekuatan kolonial Belanda dari wilayahnya berakhir sudah. Pada 20 September 1906, rakyat memutuskan mengakhiri perlawanan. Kerusakan yang semakin meluas, serta gugurnya seluruh keluarga istana, membuat mereka terpaksa meletakkan senjata. Belanda pun keluar sebagai pemenang Puputan Badung. Pasca perang, pemerintah kolonial segera membangun kontrol atas wilayah barat dan selatan Bali, baik di lapangan politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Dalam menjalankan kontrol, pemerintah kolonial mendirikan pemerintahan sementara di bekas wilayah Kerajaan Badung. Mereka lalu memilih Puri Denpasar sebagai pusat pemerintahan sementara tersebut. Menurut Made Sutaba, dkk dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Bali , puri itu juga menjadi pertahanan terkuat Belanda di Bali. Asisten Residen Swartz yang membawahi wilayah Afdeeling Zuid Bali , ditugasi menjaga tempat itu. Nama Denpasar cepat dikenal kalangan Belanda, terutama tentara yang ikut dalam pertempuran. Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan kolonial, tetapi juga digunakan untuk menyebut wilayah bekas Kerajaan Badung. Lama kelamaan Denpasar dikenal luas sebagai nama sebuah kota, menggantikan Badung. Dijelaskan A.A. Gde Putra Agung, dkk dalam Sejarah Kota Denpasar 1945-1979 , berdasar laporan resmi seorang peneliti Belanda, Van Geuns, pada akhir 1906 diketahui bahwa Denpasar adalah sebuah kota yang terdiri dari rumah-rumah penduduk dengan keadaan jalan yang kurang menunjang. Laporan itu merupakan keterangan pertama Denpasar sebagai nama sebuah kota. “Dengan kenyataan ini nama Denpasar sebagai sebuah nama kota lahir pada tanggal 24 November 1906. Dan justru orang Belandalah yang memberikan julukan kepada tempat puputan ini dengan nama Denpasar,” kata Gde Putra Agung, dkk. Pemerintah Belanda membagi wilayah bekas kekuasaan Badung ke dalam lima kedistrikan, yakni Distrik Kota (Denpasar), Distrik Kesiman, Distrik Kuta, Distrik Abiansemal, dan Distrik Mengwi. Hal itu dilakukan demi mempermudah pengaturan di tempat tersebut. Distrik Kota menjadi pusat pemerintahan, dengan berbagai aktivitas sosial, politik, dan ekonomi. Pemerintahan Denpasar juga mengurusi wilayah yang cukup luas di selatan Bali, meliputi Badung, Tabanan, Gianyar, Klungkung, dan Karangasem. Mengingat peran penting tersebut, pemerintah Belanda melakukan banyak pembenahan di seluruh wilayah Denpasar. Pembangunan jalan, gedung-gedung pemerintahan, serta pusat perekonomian dikerjakan dalam kurun waktu yang singkat. Itu dilakukan agar kegiatan para kolonialis di Denpasar dapat cepat berjalan. Tidak hanya pembangunan di bidang formal, menurut Ni Made Yudantini, dkk dalam Sejarah dan Perkembangan Kota Denpasar sebagai Kota Budaya , pemerintah Belanda juga mendirikan permukiman, sekolah, pasar, dan museum. Infrastruksur jalan dan jembatan yang menghubungkan banyak tempat pun mulai dibangun. “Di samping jalan-jalan maka pemerintah kolonial telah pula mencoba menerapkan tata kota yang baru bagi Denpasar. Dalam tata kota ini antara lain menyangkut pembenahan, pelebaran, dan pembangunan baru sarana maupun prasarana Kota Denpasar seperti Pasar Badung yang merupakan pusat perbelanjaan bagi masyarakat,” ungkap Gde Agung Putra, dkk. Pemerintah kolonial merencanakan pula pembangunan kawasan industri, pemukiman, rekreasi, fasilitas kesehatan, dan perkantoran pelengkap administrasi seperti kantor urusan pajak di seluruh Denpasar. Di sektor industri, perkembangan pesat terjadi pada 1930-an dengan dibangunnya pabrik minyak kelapa dan penggilingan padi. Sementara di sektor rekreasi, kemajuan terjadi dengan sangat pesat. Seperti Pantai Kuta yang pada permulaan abad ke-19 ramai dilalui kepal-kapal dagang, mulai diperkenalkan sebagai tempat baru, yaitu sarana rekreasi. Di sana terdapat berbagai hiburan, tempat menginap, dan area bersantai. Pantai Kuta telah menjadi tempat orang-orang Eropa melepas penatnya. Mereka berencana menjadikan Denpasar sebagai sebuah kota besar, mendampingi Singaraja di utara Bali. Kehidupan di tempat itu pun menjadi semakin ramai di berbagai sektor. Penduduk dari desa-desa sekitar mulai memasuki kawasan Denpasar. Mereka membangun kehidupan baru di sana, baik sebagai buruh, pedagang, hingga pembantu orang-orang Eropa. Dampak urbanisasi memaksa pemerintah Belanda membangun tangsi militer di sekitar pusat kota. Tidak lupa didirikan juga gudang senjata, kantor kepolisian, kantor agrarian, dan rumah sakit umum. Pejabat tinggi pun mulai ditempatkan di sana, mengurusi berbagai keperluan administrasi dan pengawasan terhadap masyarakat bumiputera yang dari hari ke hari semakin ramai menempati wilayah Denpasar. “Namun demikian pemerintah telah menyadari akan masalah tersebut sehingga masalah-masalah seperti itu dapat ditangani dengan mudah. Pemerintah hanya bersikap memberikan petunjuk kawasan mana yang dapat dimukimi sesuai dengan rencana pemekaran Kota Denpasar. Perkembangan ini berlanjut sampai akhir pemerintahan kolonial Belanda di Bagi pada Maret 1942,” tulis Gde Agung Putra, dkk.*
- Jam Malam Mencekam di Negeri Oranye
SUDAH tiga hari terakhir ini Amanda, seorang warga negara Indonesia (WNI) di Amsterdam, Belanda, tak bisa tenang. Kerusuhan saban malam pecah sejak pemerintah Belanda menarapkan lockdown dan jam malam pada 23 Januari 2021. “Iya, di sini (Belanda) sedang ada jam malam dan jadi kacau keadaannya. Sejak kemarin sudah 240 orang ditangkap. Malam ini semakin buruk. Kerusuhannya bahkan sudah mendekat, kira-kira 200 meter dari apartemen saya,” ungkap WNI yang kuliah dan bekerja di Amsterdam sejak tiga tahun lalu itu via pesan singkat Telegram pada Senin malam, 25 Januari waktu setempat (Selasa, 26 Januari dini hari WIB). Kerusuhan dahsyat pada Senin malam yang mencemaskan Amanda itu tak hanya terjadi di Amsterdam namun di hampir semua kota besar di Negeri Kincir Angin, seperti Rotterdam, Haarlem, Eindhoven, dan Den Bosch. Malam itu 70 perusuh akhirnya diamankan aparat kepolisian. Pihak KBRI Den Haag mengeluarkan imbauan resmi agar para WNI untuk menaati jam malam dan memantau situasi lewat laman resmi KBRI Den Haag, id.indonesia.nl , serta menghubungi mereka lewat tujuh hotline yang disediakan jika terjadi sesuatu. Himbauan dan fasilitas itu disediakan karena perusuh tak hanya menyasar aparat sebagai simbol pemerintah, melainkan juga sejumlah pertokoan dan pusat perbelanjaan yang turut dijarah sebelum dilempari kembang api dan bom molotov. “Ini tak ada hubungannya dengan protes, ini kekerasan yang sudah jadi tindak kriminal dan kami akan melakukan tindakan yang sepatutnya,” kata Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte mengecam, dikutip BBC , Senin 25 Januari 2021. Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, mengecam aksi kekerasan pengunjuk rasa. (Twitter @MinPres). Para pengunjuk rasa anti- lockdown berubah jadi beringas ketika berhadapan dengan aparat kepolisian kala sudah lewat jam malam. Rijksinstituut voor Volksgezondheid en Milieu (RIVM) atau Institut Kesehatan dan Lingkungan Umum, Kementerian Kesehatan Belanda, menerapkan jam malam antara pukul 9 malam hingga 4.30 pagi waktu Belanda. Bagi yang melanggar, bakal dikenakan sanksi denda 95 euro (Rp1,6 juta). Pemerintah Belanda juga menerapkan larangan penerbangan dari dan menuju Inggris dan Afrika Selatan sebagai langkah pencegahan lebih lanjut terhadap penyebaran varian baru COVID-19 atau virus corona Inggris yang dikabarkan 30 persen lebih mematikan. PM Rutte terpaksa menerapkannya karena peningkatan kembali kasus COVID-19 di “Negeri Oranye” hingga hari ini, Selasa, 26 Januari 2021 sudah mencapai lebih dari 950 ibu positif dan lebih dari 13 ribu di antaranya meninggal. Ini kali pertama masyarakat Belanda kembali mengalami pembatasan aktivitas lewat jam malam sejak 80 tahun silam di tengah pergolakan Perang Dunia II. Jam Malam Rezim Nazi Jauh sebelum Jerman mengobarkan Perang Dunia II dengan menginvasi Polandia pada 1 September 1939, Kerajaan Belanda sudah menyatakan diri sebagai negara netral. Namun, tak seperti Spanyol, Swiss, dan Swedia, nahas melanda Belanda karena tetap diserbu pasukan baja Jerman yang merangsek ke Benelux (Belgium, Netherlands, Luxembourg) di musim panas 1940. Tiga negara kecil itu pun kocar-kacir saat perbatasan mereka didobrak pasukan Jerman lewat Operasi “Fall Gelb”, dini hari 10 Mei 1940. Pasukan agresor berjumlah 750 ribu personil itu terbagi ke dalam 22 divisi dan diiringi lebih dari 700 panser serta dibantu 800 pesawat tempur dan pembom Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) sebagai bagian dari Heeresgruppe B (Grup Angkatan Darat Jerman B). Dari semua kota besar di Belanda, Rotterdam yang mengalami nasib paling nahas akibat tak dinyatakan sebagai kota terbuka. Ia dijadikan lautan api setelah dibombardir 25 pesawat pembom tukik Junkers Ju-87 “Stuka” dan 54 pembom Heinkel He-111. Total, Rotterdam dihujani 300 kilogram bom dari udara, ditambah pemboman dari darat oleh Divisi Panser AD ke-9 dan Divisi Panser SS (Schutzstaffel) ke-1 “Leibstandarte SS Adolf Hitler”. Kota Rotterdam yang luluh lantak setelah dibombardir Jerman. (NIOD). Hanya empat hari Belanda bertahan dan akhirnya bertekuk lutut. Namun sebelum negerinya dimasuki serdadu Jerman dan menyerah secara resmi pada 15 Mei, Ratu Wilhelmina telah kabur dengan membawa para pejabat pemerintahan darurat ke London, Inggris. Kekosongan pemerintahan akibat tak satu pun politikus Belanda mau jadi boneka Nazi-Jerman membuat Jerman membentuk pemerintahan sipil sendiri dan menunjuk Arthur Seyss-Inquart, petinggi Nazi Austria, sebagai pemimpin Reichskommissariat Niederlande. Sejak saat itulah kehidupan penuh tekanan terhadap warga Belanda dimulai. Dalam Altruistic Personality: Rescuers of Jews in Nazi Europe , Samuel P. Oliner menjelaskan bahwa Seyss-Inquart, sebagaimana pemerintahan boneka Nazi lain, mengimplementasikan garis besar kebijakan Gleichschaltung . Semua organisasi dan partai non-sayap kanan dilikuidasi dan masyarakat dikotak-kotakkan berdasarkan ras. Kaum Yahudi jadi sasaran represi. Namun, Seyss-Inquart paham bahwa masyarakat Yahudi dan Nasrani di Belanda punya ikatan kuat sejak berabad-abad. Oleh karena itu hingga Agustus 1940, pemisahan antara Yahudi dan non-Yahudi tak seberingas di Polandia dan Prancis yang ditempatkan khusus semacam ghetto . Tujuan penerapan kebijakan itu ialah untuk mengambil hati masyarakat Belanda lain, yang masih serumpun dengan orang Jerman. Reichskommissariat Niederlande, Arthur Seyss-Inquart. Untuk sementara, tak ada satu pun ghetto di Belanda. Para Yahudi baru sekadar diwajibkan mengenakan tanda lengan Yahudi dan dilarang datang ke rumah-rumah orang non-Yahudi. Aturan itu lalu diperketat dengan represi pencaplokan lahan-lahan tuan tanah Yahudi, pengusiran guru-guru Yahudi dari semua institusi pendidikan, dan pemecatan pegawai-pegawai Yahudi di pemerintahan lokal. “Meski Jerman bertindak hati-hati selama bulan-bulan pertama pendudukan, ketentraman (di Belanda) tak bertahan lama. Aturan anti-Yahudi diterapkan pada Agustus 1940. Orang-orang Yahudi diwajibkan mendaftarkan harta kekayaan dan yang menolak akan dijebloskan ke bui. Akhirnya terjadi protes yang berujung kerusuhan,” tulis Jack Fischel dalam The Holocaust. Untuk meredam protes massal orang Yahudi yang disokong sejumlah masyarakat Belanda lain, lanjut Fischel, Seyss-Inquart mencoba “merangkul” dengan membentuk Joodse Raad, dewan khusus Yahudi, pada Februari 1941. Namun tetap saja Joodse Raad belum bisa mencegah pelanggaran yang berbuah kekerasan tanpa ujung. “Pihak Nazi sampai memberi pelajaran kepada Yahudi, di mana pada 22 Februari mereka memblokade area pemukiman Yahudi di kota Amsterdam dan menangkapi 389 lelaki Yahudi. Mereka kemudian dideportasi ke (kamp konsentrasi) Buchenwald dan kemudian Mauthausen. Hingga perang usai, hanya satu di antara mereka yang masih hidup,” imbuhnya. Seruan mogok buruh Amsterdam pada Februari 1941. (NIOD). Tiga hari pasca-peristiwa itu, kelompok-kelompok buruh non-Yahudi di Amsterdam turun ke jalan dan melancarkan pemogokan umum. Polisi dan tentara baru dapat meredam aksi buruh mencekam itu tiga hari kemudian. Pada 12 Maret, Reichssicherheitshauptamt (Dinas Keamanan Jerman) pimpinan Obergruppenführer Reinhard Heydrich mengeluarkan keputusan semua orang Yahudi di negara-negara pendudukan akan dideportasi massal, termasuk di Belanda. Untuk memindahkan Yahudi asal Belanda, RSHA menempatkan semua organisasi Yahudi di bawah otoritas Joodse Raad dan menetapkan dekrit lanjutan untuk memisahkan Yahudi dari populasi Belanda. Pada Mei, jam malam mulai diaplikasikan untuk semua warga Belanda dari pukul 8 malam sampai 6 pagi. Jam malam itu rutin disiarkan lewat radio dan mobil-mobil dengan pengeras suara yang berkeliling kota. Pada musim dingin kemudian, jam malam diperpanjang satu jam jadi jam 9 malam sampai jam 7 pagi. “Orang-orang Yahudi juga hanya diizinkan berbelanja di pasar dari jam 3-5 petang. Yahudi juga dilarang berperjalanan jauh, dan dilarang menggunakan transportasi umum tanpa izin khusus. Aturannya bertambah pada Agustus 1941, di mana anak-anak Yahudi dilarang masuk sekolah umum. Menjadi tanggung jawab Joodse Raad untuk mengisi kekosongan pendidikan itu dengan membuka sekolah mereka sendiri,” tambah Fischel. Kolase razia Yahudi di Belanda selama pendudukan Nazi 1940-1945. (NIOD). Hukuman bagi pelanggar yang tertangkap basah keluar rumah lewat jam malam bukan lagi denda sebagaimana yang ditegaskan PM Rutte pekan sebelumnya. Lewat aturan baru, para pelanggar mesti siap diberangkatkan pasukan SS ke kamp konsentrasi atau dihadapkan ke barisan eksekutor. “Pelanggaran jam malam, baik disengaja atau tidak, pasti berakibat fatal. Pada tahun kedua masa pendudukan, Herman Wallenga, seorang Yahudi dari Leeuwarden, membeli sekantung apel saat sudah lewat lima menit dari jam malam. Ia ditangkap dan langsung dikirim ke Auschwitz, di mana dia dieksekusi beberapa pekan kemudian,” tulis Peter Romijn dalam “The Experience of the Jews in the Netherlands ” yang dimuat dalam Dutch Jewry: Its History and Secular Culture (1500-2000). Situasi bertambah mencekam saat memasuki tahun 1942. Razia untuk mencari Yahudi yang bersembunyi di rumah-rumah non-Yahudi mulai dilancarkan. Banyak orang Yahudi yang lantas mencoba menyelamatkan diri dengan beralih keyakinan menjadi Katolik, demi berlindung di balik jubah Uskup Agung Johannes de Jong. Namun, 201 di antara mereka tetap dijemput paksa Pasukan SS dan dikirim ke Kamp Konsentrasi Auschwitz. Hingga awal 1945, kereta-kereta barang hilir-mudik mengantar puluhan ribu Yahudi dari provinsi-provinsi Belanda ke kamp transit Westerbork, lalu dilanjut ke kamp-kamp konsentrasi seperti Auschwitz, Sobibor, atau Bergen-Belsen. Di kamp-kamp itulah mereka menemui ajal masing-masing. Kolase deportasi Yahudi dari Belanda ke kamp-kamp konsentrasi. (NIOD). Kenyataan pahit itu antara lain dialami keluarga Anne Frank, yang kisahnya kondang berkat diterbitkannya catatan harian Anne dengan tajuk Het Achterhuis. “Keluarga Frank dikirim ke Westerbork, dan dideportasi dari sana ke Auschwitz, di mana ibu Anne, Edith, meninggal. Sedangkan Anne dan kakaknya, Margot, dikirim ke Bergen-Belsen pada akhir Oktober 1944, di mana mereka tewas setelah menderita sakit typhus . Hanya sang ayah, Otto Frank, yang selamat sampai akhir perang,” sambung Fischel. Kisah Anne Frank yang ditemukan Miep Gies, eks pekerja bawahan Otto Frank, jadi gambaran umum bagaimana orang-orang Yahudi mati-matian menghindari deportasi dengan bergantung pada belas kasih teman maupun kenalan non-Yahudi mereka. Tak peduli bantuan itu cuma-cuma atau yang dengan pamrih. Hingga berakhirnya Perang Dunia II, tak terkira korban holocaust di seantero Eropa, termasuk Belanda. Fischel menyebutkan, dari sekira 140 ribu penduduk Yahudi di Belanda sebelum pendudukan Jerman, hanya 15 ribu yang selamat ketika Jerman angkat kaki dari Belanda.
- Ruang Penyimpanan Koleksi Museum Sulawesi Tenggara Dibobol Maling
Sejumlah benda koleksi Museum Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) hilang dicuri. Hal itu terjadi usai maling membobol dua lapis pintu, pintu kayu jati dan besi, yang mengamankan ruang penyimpanan museum ( storage ). Peristiwa ini diketahui oleh staf museum pada Selasa subuh (26/1/2021). “Memang yang dibobol gudang, bukan gedung koleksi pameran. Karena kalau ruang pameran ada di gedung lain,” kata Asrun Lio, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra kepada Historia melalui sambungan telepon, Rabu (27/01/2021), sekaligus membenarkan peristiwa pencurian itu. Asrun mengaku belum mendapat laporan rinci benda apa saja yang hilang. Pasalnya, kurator museum masih melakukan pendataan. Namun, dia menjelaskan, barang yang dicuri merupakan perolehan dari tahun 1980-an dan sebagian lainnya dari 1990-an. “Asalnya lokal sini, yang diambil yang kecil-kecil, ringan, terbuat dari kuningan. Ada juga perak, samurai. Banyaknya koleksi asesoris pakaian adat. Jadi, mungkin ini dikira [perhiasan] emas,” ujarnya. Tak jauh dari ruang penyimpanan yang berada di bagian belakang kompleks museum, staf juga menemukan beberapa benda koleksi tercecer, gagal dimaling. “Jumlah yang hilang sementara ini sedang dihitung. Untuk nilai barangnya tak sebanding dengan nilai sejarahnya yang hilang,” ujar Asrun. Keamanan Tak Memadai Asrun mengakui, museum yang terletak di Jalan Abunawas, Kota Kendari itu memang tak dilengkapi perangkat keamanan yang memadai. Pencurian ini memaksa mereka memperketat keamanan. Para pekerja museum diberi tugas tambahan untuk jaga malam secara bergilir. Kamera pengawas atau CCTV dipasang di area penyimpanan. Sebelumnya, CCTV hanya memantau bagian gedung pamer museum. “Keamanan belum baik. Tidak ada satpam. CCTV baru pasang kemarin karena kejadian itu. Dengan ada kejadian ini kami perketat keamanan,” kata Asrun. Asrun mengungkapkan bahwa sebelumnya museum pernah hampir kemalingan. “Ruang kerja staf pernah dibobol,” katanya. Asrun mengimbau masyarakat agar tidak membeli, menerima, dan menyimpan barang-barang yang hilang dari museum ini. “Benda-benda itu masih ada labelnya. Ada nomor registrasinya,” katanya. Pihak museum telah melaporkan pencurian ini ke polisi. “Sejauh ini kami belum pernah mencatat adanya penjualan barang ilegal di wilayah Sultra,” kata Asrun. Gambaran Buruk Sebuah Museum Menurut Yasni dalam tugas akhir di jurusan arkeologi Universitas Haluoleo Kendari, Sultra tahun 2019, yang berjudul “Konservasi Wadah Kubur (Soronga) di Museum Provinsi Sultra”, museum ini memuat 5.339 benda koleksi. Ribuan koleksi itu terbagi ke dalam 10 golongan, yakni koleksi geologi, biologi (kerangka ikan paus sepajang 12 meter), etnografi, arkeologi, historis (foto mantan raja/sultan), numismatik (bentuk alat tukar yang pernah digunakan), filologi (naskah ajaran agama Islam dan Al-Qur’an tertua), keramik, seni rupa dan koleksi teknologi. “Gedung penyimpanan berfungsi sebagai bangunan penyimpanan benda koleksi yang tidak ditampilkan dalam gedung pameran Museum Provinsi Sultra,” tulis Yasni. Koleksi unggulannya berupa soronga atau peti jenazah berusia 400 tahun. Ada juga keramik Tiongkok, perabot logam, dan naskah-naskah Buton. Menurut buku Katalog Museum Indonesia yang terbit tahun 2018, cikal bakal Museum Provinsi Sultra mulai berdiri sejak 1978/1979. Pada 1991, Museum Sultra resmi menjadi Museum Provinsi Sultra sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Kebudayaan. Namun, seiring berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah, museum ini pun dilimpahkan ke pemerintah daerah.Ia menjadi UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra. “Menurut saya memang pengamanan dari museum sangat kurang,” ujar Sandy Suseno, arkeolog Universitas Haluoleo, ketika dimintai pendapat soal hilangnya sejumlah koleksi museum melalui pesan singkat. “Dalam konteks kejadian di Museum Sultra, standar keamanan mungkin sudah memenuhi untuk lingkup gedung dengan pintu dua lapis, tetapi untuk lingkup ruang sangat tidak memenuhi,” lanjut Sandy. Itu seperti ketiadaan kamera pengawas dalam ruang penyimpanan museum. Pun dari foto-foto yang beredar, kata Sandy, koleksi di dalam ruangan itu hanya ditata dalam rak-rak tanpa ada perlindungan. “Koleksi hanya dibungkus koran untuk melindungi dari debu,” kata Sandy “Artinya secara umum, apabila dikatakan keamanan museum sudah sesuai, menurut saya sangat tidak sesuai.” Sandy menambahkan, dalam penanganan museum, koleksi yang ada di ruang pamer koleksi dan yang ada di ruang penyimpanan seharusnya diperlakukan sama. Bukan cuma keamanan, seperti keberadaan CCTV, tetapi juga cara mengatur koleksi. “Begitu banyak variasi koleksi, semua harusnya dibagi-bagi. Koleksi yang memiliki tingkat kerapuhan yang lebih besar, perawatannya harus lebih intensif,” kata Sandy. Untuk koleksi berbahan logam misalnya, perlu juga menilai bahan logam itu. Kata Sandy, di beberapa museum besar biasanya benda dengan nilai tinggi disimpan dalam brankas besi. “Topeng emas di Museum Sonobudoyo misalnya tersimpan di brankas besi, tetapi tetap hilang juga. Apalagi ini yang hanya disimpan di ruangan dengan gembok yang bisa dipotong,” katanya. Sandy berpendapat, sulit untuk menyalahkan pihak museum. Tak banyak staf museum yang memang secara khusus memiliki kapabilitas di bidang museum. Menurutnya peristiwa semacam ini terjadi salah satunya juga akibat perhatian pemerintah daerah yang minim terhadap museum. “Salah satu bukti adalah penggabungan manajemen museum dengan taman budaya. Ini yang membuat museum tidak dapat berkembang,” jelas Sandy. Museum sebagai institusi dinamis seharusnya berkembang bersama zaman. Untuk itu, mereka butuh kewenangan. Membutuhkan pula sumber daya, baik materi maupun tenaga manusia. “Potret Museum Sultra benar-benar mirip gambaran buruk museum yang pamerannya tidak berubah, kotor, tidak perhatian dengan koleksi, konservasi seadanya, tidak ada tenaga ahli yang benar-benar siap bekerja di museum,” ujar Sandy. Sandy menyoroti perlunya dibentuk tim khusus dari pemerintah Provinsi Sultra untuk melakukan inventarisasi koleksi museum. Ini termasuk pengelolaan museum dan pengawasannya. “Ini terdiri dari orang-orang independen. Komunitas bisa masuk berkontribusi di sana, seperti contoh kasus yang dilakukan Museum Snobudoyo dulu,” lanjut Sandy. Sinergi dengan lembaga-lembaga adat pun dibutuhkan. Pun kampanye lewat media untuk bisa memberi perhatian lebih terhadap warisan budaya di museum. Sandy juga menyayangkan berbagai peristiwa terkait warisan budaya di wilayah Sultra yang terus terjadi. Di kanal Youtube misalnya, marak video pencurian barang antik di Sultra. “Misalnya pengrusakan situs pekuburan gua di Kolaka dengan menggunakan detektor logam. Artinya kejadian-kejadian ini sebenarnya tamparan untuk pemimpin daerah karena di saat kebijakannya terlalu sibuk memoles tatanan kota, justru pembangunan kebudayaan dilupakan,” tegasnya.
- Melawan Kolera dengan Vaksinasi Massal
PEMERINTAH Indonesia mulai memberikan vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat luas sejak pertengahan Januari 2021. Vaksinasi bertujuan untuk menekan tingkat penularan, mengurangi gejala berat, dan mencegah ambruknya layanan kesehatan. Setelah beberapa hari, dampak vaksin akan terlihat. Vaksin pernah terbukti ampuh mengurangi wabah penyakit di Hindia Belanda. Ini terjadi ketika kolera menyerang Batavia pada dekade 1910-an. Kasus kolera kali pertama tercatat pada 1821. Penderita kolera mengalami gejala muntah, lebih sering buang air besar berbentuk cairan seperti air beras. Penyakit ini tersebar lewat feses penderita yang mengkontaminasi air tanah dan lalat pembawa bakteri kolera yang hinggap di makanan. Kolera meluas tersebab sanitasi buruk, pengetahuan tentang penyakit ini sangat minim, dan orang masih sering minum air tanpa memasaknya lebih dulu.
- Kegamangan Sukarno Mengganyang Malaysia
Sekali waktu, Presiden Sukarno mengundang Brigjen Soegih Arto ke Istana Merdeka. Sang tamu istana merupakan duta besar Indonesia untuk Birma yang dikenal baik oleh presiden. Dengan nada kesal Bung Karno menyatakan betapa konfontasi dengan Malaysia telah membawa akibat yang kurang menguntungkan bagi Indonesia. “Beliau terlihat sangat serius. Jarang saya melihat Bung Karno seperti ini,” kenang Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto . Kepada Soegih Arto, Sukarno mengeluarkan unek-uneknya. Presiden berkata bahwa konfrontasi dengan Malaysia sangat menguras tenaga pemerintah Indonesia. Sudah saatnya segala usaha harus dilakukan untuk menghentikan konfrontasi secara terhormat. Untuk itu, Sukarno menunjuk Soegih Arto melakukan penjajakan damai lewat "pintu belakang". Misi terhadap Soegih Arto kian menantang lantaran dirinya bukan ditugaskan ke Malaysia, melainkan ke Inggris. Seperti diketahui, Inggris merupakan negara yang mensponsori pembentukan negara Federasi Malaya. Dalam penugasan ke Inggris, Sukarno mengintruksikan dua hal kepada Soegih Arto. Pertama , supaya pemerintah Inggris memberikan indikasi seolah-olah mereka kewalahan dengan konfrontasi itu. Kedua , mengusulkan agar terjalin perundingan antara Inggris dan Indonesia mengenai penghentian konfrontasi. Sukarno menekankan indikasi penyelesaian sengketa harus datang dari Inggris. Soegih Arto menyebut misi penugasannya ke Inggris sebagai formula Sukarno untuk menyelamatkan citra Indonesia yang terbelit konfrontasi. Sebelum berangkat, Soegih Arto diberikan blangko mandat untuk menjanjikan apa saja kepada pihak Inggris. Andai kata Inggris meminta semua asetnya yang dinasionalisasi, melalui perantaraan Soegih Arto maka pemerintah Indonesia akan menyanggupi. Setelah mafhum dengan tugasnya, Soegih Arto pun permisi dan undur diri. Tidak lupa Bung Karno memberinya sangu untuk ongkos jalan. Soegih Arto berangkat ke London melalui Paris, Prancis. Ketika singgah di kediaman Atase Militer Indonesia untuk Prancis Kolonel Sumpono Banyuaji, Soegih Arto bertemu dengan Mayjen S. Parman. Soegih Arto agak terkejut mengapa Parman berada di Paris namun segan bertanya lebih lanjut. Soegih Arto kemudian mengetahui bahwa Parman sedang melakukan operasi intelijen untuk tujuan yang sama. Hanya saja, koneksi mereka yang berbeda. Bila Soegih Arto diutus ke Departemen Luar Negeri Inggris, maka Parman punya saluran ke Markas Besar Angkatan Perang. Penunjukan Parman tidak lepas dari kapasitasnya sebagai Asisten 1/Intelijen Menpangad. Selain itu, Parman juga pernah menjadi atase militer Indonesia di Inggris sehingga kenal baik dengan beberapa pejabat tinggi di kemiliteran Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto menyaksikan Atase Militer Indonesia untuk Inggris Kolonel Sastraprawira menjemput Parman. “Rupanya Bung Karno mengutus beberapa orang untuk menjajaki kemungkinan menghentikan konfrontasi, tanpa harus menderita malu,” tutur Soegih Arto. Dalam otobiografinya yang terbit tahun 1989, Soegih Arto mengakui kalau tidak banyak orang yang mengetahui kisah penugasannya ini. “Cerita ini mungkin sukar dipecayai, karena kejadian-kejadian kemudian, tidak mendukungnya,” kata Soegih Arto. Namun, Sukarno sendiri dalam otobiografinya agaknya menyiratkan memang adanya misi rahasia tersebut. “Aku tidak ingin membiarkan konfrontasi ini berlarut-larut. Aku menyadari, bahwa kita sekarang tersangkut dalam rentetan reaksi yang tak ada ujungnya dan disatu saat ia harus dihentikan,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. Kebenaran cerita misi rahasia Soegih Arto dikaji oleh peneliti politik Hidayat Mukmin dalam disertasinya di Universitas Gadjah Mada. Menurut Hidayat, lobi Soegih Arto ke London merupakan upaya tersembunyi dari Bung Karno untuk mengakhiri konfontasi. “Operasi khusus” Sukarno itu berlangsung pada pertengahan tahun 1964 bersamaan dengan Menpangad Letjen Ahmad Yani menugaskan Mayjen Soeharto menjajaki kemungkinan rujuk dengan Malaysia. Hidayat juga mencatat, pemerintah Indonesia bersedia memberikan kompensasi yang mahal, antara lain pengembalian tanah partikelir milik Inggris di sekitar Ciasem dan Pamanukan yang telah diambil oleh Indonesia. “Apa yang telah dilakukan Soegih Arto tentunya bukan rekaannya sendiri, karena kenyataannya ia telah melakukan misi itu dan ini merupakan kenyataan sejarah,” kata Hidayat Mukmin dalam disertasinya yang dibukukan TNI Dalam Politik Luar Negeri: Studi Kasus Penyelesaian Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Operasi intelijen yang dijalankan Mayjen S. Parman pun bukan isapan jempol semata. Sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti membenarkan adanya usaha-usaha rahasia dari pihak Indonesia untuk menghubungi pihak Inggris (dan juga Malaysia). Sepanjang bulan Oktober 1964, terdapat sekurang-kurangnya sembilan penjajak perdamaian ( peace feelers ) dari pihak Indonesia yang menjalankan misi penyelesaian konfrontasi. “Tujuan para peace feelers ini adalah berusaha untuk mengakhiri konfrontasi melalui 'jalan belakang', karena perundingan-perundingan formal yang dilakukan tidak berhasil meredakan konflik, bahkan konflik kedua negara mulai mengarah pada konflik terbuka,” tulis Linda dalam disertasi di Universitas Indonesia berjudul “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963--1966”. Bukti-bukti adanya usaha dari militer Indonesia menemui Inggris, kata Linda, tercantum dalam dokumen-dokumen milik Foreign Office (Departemen Hubungan Luar Negeri) di London. Diperkirakan, pengiriman misi-misi rahasia tersebut dipengaruhi oleh kekhawatiran pihak militer Indonesia mengenai kemungkinan Inggris akan melakukan serangan besar-besaran setelah pemilihan umum di Inggris tanggal 15 Oktober 1964. Bagaimana kelanjutannya misi Soegih Arto maupun penjajak rujuk lainnya? Nantikan di artikel berikutnya. (Bersambung)
- Pejuang Belakang Layar
Berjuang tak harus angkat senjata dan maju ke medan pertempuran. Adalah Bu Ruswo, orang yang berperan penting pada masa revolusi fisik di Yogyakarta. Ia berjuang di belakang layar, menyediakan pengisi perut serta kebutuhan logistik para prajurit.
- Pudarnya Pesona Hostel Pertama di Jakarta
Di Jakarta ada satu nama jalan yang unik. Biasanya nama jalan berasal dari nama pahlawan, tokoh setempat, atau tetumbuhan. Tapi jalan yang satu ini diberi nama dari profesi : Jalan Jaksa. Nama ini mengacu pada orang-orang yang pernah tinggal di jalan ini. Sebagian besar mahasiswa Rechts Hogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum Batavia. Mahasiswa itu hampir tiap hari mengikuti kuliah di Koningsplein atau sekarang wilayah Monumen Nasional. Banyak diantaranya berasal dari luar Batavia. Mereka mencari penginapan murah yang tak terlalu jauh dari kampusnya. Pilihannya jatuh pada wilayah Gondangdia. Seni mural yang bertuliskan Welcome To Jalan Jaksa terpampang di salah satu tembok jalan legendaris tersebut. (Fernando Randy/Historia.id). Para turis berpose di depan Wisma Delima sekitar tahun 1970. (Fernando Randy/Historia.id). Citra murah ini berlanjut sampai Indonesia merdeka. Penginap di Jalan Jaksa bukan lagi mahasiswa, tapi para pelancong dalam dan luar negeri. Selain penginapan murah, Jalan Jaksa juga sohor karena kafe dan tempat hiburan murahnya sehingga sangat ideal bagi para pelancong berkantong cekak dengan tas ransel ( backpacker ). Salah satu penginapan murah yang tertua di Jalan Jaksa bernama Wisma Delima. Penginapan dengan fasilitas sederhana ini didirkan oleh Nathanael Lawalata, lelaki asal Maluku. “Nama itu berasal dari jumlah keluarga kami saat itu : Papa, Mama, dan tiga anaknya termasuk saya. Ada lima dan pas juga nomor rumah kami nomor lima,” ujar Boy Lawalata (66) putra ketiga Nathanael yang kini mengelola Wisma Delima kepada Historia . Pendiri Wisma Delima Nathanael Lawalata dan istri. (Fernando Randy/Historia.id) Boy ingat awal mula mereka merintis hostel yang didominasi warna coklat ini. Awalnya masih sepi peminat. Terus seperti itu sampai 1971. Padahal tarifnya sangat murah hanya 200 rupiah atau setara dengan 1 dolar saat itu. Berbagai cara pun ditempuh oleh semua keluarga agar Wisma Delima bisa diketahui oleh turis. “Dulu kami itu setiap hari nongkrong di Bandara Kemayoran untuk cari turis. Kami naik becak kesana. Pulang-pergi,” kata Boy. Tiap turis yang bersedia menginap di Wisma Delima akan diantar menggunakan becak. Jaraknya sekira 6.8 kilometer dengan jarak tempuh becak sejam. Boy Lawalata dan foto salah satu kamar di Wisma Delima. (Fernando Randy/Historia.id). Ibu Ning istri Boy Lawalata yang juga bertugas menyediakan sarapan bagi para tamu. (Fernando Randy/Historia.id). Tapi tamu masih sedikit. Keadaan berubah ketika Nathanael mendaftarkan Wisma Delima pada International Youth Hostel Federation (IYHF) pada 1972. Sejak itu tamu berdatangan. Wisma Delima juga tercantum dalam buku panduan wisata sekelas Lonely Planet. Masa kejayaan Wisma Delima merentang dari 1979 hingga 1990. Pemasukan dari tamu diputar untuk menambah kamar, dari 12 menjadi 14. Juga ada tambahan 2 kamar bertipe khusus untuk rombongan enam orang atau dikenal kamar tipe dormitory. “Setiap musim liburan di Eropa, kamar penuh terus. Bahkan sampai ke lantai. Mereka tidur hanya dengan kantong tidur. Dan kita juga akhirnya mengontrak rumah tetangga kanan-kiri sini buat turis. Karena disini sudah tidak muat lagi,” lanjut Boy. Pak Yanu karyawan yang sudah bekerja sejak 1985 di Wisma Delima. (Fernando Randy/Historia.id). Berbagai sudut di Wisma Delima saat ini. (Fernando Randy/Historia.id). (kiri) Salah satu hiasan ayam di sudut Wisma. (kanan) Moses Lawalata yang bertekad menjadi penerus untuk Wisma Delima. (Fernando Randy/Historia.id). Seiring perkembangan zaman, tantangan Wisma Delima pun berubah. Wisma Delima mulai sepi dari tahun 2014. Saat itu ada kebijakan dari pemerintah kota Jakarta tidak boleh parkir di trotoar. Orang jadi malas kemari karena tidak ada gedung parkir. Selepas itu, pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Di tengah berbagai polemik, Boy berupaya menjaga Wisma Delima dengan sekuat tenaga. Apalagi penginapan yang kini bertarif 200 ratus ribu semalam tersebut sudah menjadi bagian dari sejarah pariwisata di Indonesia. “Saya akan menjaga Wisma Delima agar terus berdiri di Jakarta,” tutupnya. Foto sang pendiri Wisma Delima Natanael Lawalata. (Fernando Randy/Historia.id).
- Intelijen Indonesia Kebobolan Agen CIA
PRESIDEN Sukarno mengunjungi Mesir sebanyak enam kali. Roeslan Abdulgani, mantan menteri penerangan, ikut dalam kunjungan terakhir pada 1965. Di ruang besar hotel tempat rombongan menginap, Roeslan didekati seorang perempuan Amerika Serikat yang menanyakan apakah dia dapat berkenalan dengan Sukarno.
- Saat Sintong Khawatir Diterjunkan di Pedalaman Irian
Tak lama setelah mengikuti ekspedisi Peabody Museum of Archeology and Ethnology untuk mempelajari suku Dani di pedalaman Papua, Michael Rockfeller, putra Gubernur New York Nelson Rockefeller, kembali mengunjungi pulau itu untuk mempelajari suku Asmat. Namun, ekspedisi kali ini membawa celaka pada Michael. Pada 17 November 1961, kano yang dinaiki Michael dan antropolog Belanda Rene Wassing serta dua guide setempat terbalik dan tenggelam. Mereka pun terapung di lautan. “Rene Wassing menatapnya, dan Michael memperhatikan Rene terbakar matahari dan perlu bercukur. Perjumpaan mereka berlangsung singkat. Mereka telah terapung di lautan lepas di lepas pantai barat daya New Guinea selama dua puluh empat jam sekarang, dan tidak banyak yang dikatakan,” tulis Carl Hoffman dalam Savage Harvest: A Tale of Cannibals, Colonialism, and Michael Rockefeller’s Tragic Quest . Setelah mengatakan “saya akan mampu melakukannya,” Michael kemudian berenang menuju pantai meninggalkan Rene. Ketika Rene berhasil diselamatkan keesokan harinya, Michael tak pernah lagi ditemukan meski pencarian intensif terhadapnya dilakukan juga dari udara dan laut oleh AL Belanda dan Australia. Hilangnya Michael menimbulkan beragam dugaan. Salah satu yang populer, dia dikanibal suku setempat. Ketakutan akan dikanibal itulah yang menghantui Lettu Sintong Panjaitan, perwira RPKAD yang di-BP-kan ke Kodam XVII/Tjendrawasih menjelang Penentuan Pendapat Rakyat, ketika hendak terjun dari pesawatnya dalam operasi kemanusiaan Tim Lembah X pada 2 Oktober 1969. “Jangan-jangan nanti setelah mendarat, saya dikroyok oleh suku Lembah X, kemudian dimakan rame-rame ,” kata Sintong membatin sebelum melakukan penerjunan, dikutip Hendro Subroto dalam biografi berjudul Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando . Tim Lembah X dibentuk Pangdam XVII/Tjendrawasih Brigjen Sarwo Edhie Wibowo setelah pada Mei 1969 memberi izin Pierre Dominique Gaisseau, sineas Prancis yang filmnya tentang suku di Lembah X di utara Pegunungan Jaya Papua –berjudul Sky Above and Mud Beneath – menjadi film dokumenter pertama peraih Oscar, untuk membuat film antropologi budaya lanjutan tentang suku di Lembah X. Sarwo menganggap aktivitas sinematografi Gaisseau perlu disertai operasi kemanusiaan. Oleh karena itu, Sarwo membuat operasi kemanusiaan di tempat yang sama sebagai Operasi Bhakti Kodam XVII/Tjendrawasih. “Sehubungan dengan keputusan itu Brigjen TNI Sarwo Edhie mengeluarkan perintah operasi No. 009 untuk menerjunkan dari udara satu Tim ABRI bersama kerabat kerja NBC Lembah X untuk melaksanakan operasi kemanusiaan,” tulis Hendro. Sarwo lalu membentuk Tim Lembah X dan menunjuk Kapten Feisal Tanjung (di kemudian hari menjadi Panglima ABRI) menjadi komandannya. Sintong didapuk sebagai perwira operasi tim dan diplot menjadi orang pertama yang diterjunkan. Selain berisi tujuh personil RPKAD (kini Kopassus) dan dua personil Kodam Tjendrawasih, Tim Lembah X juga berisi tim Gaisseau (empat orang). Anggota yang bergabung di luar skenario awal adalah Peter Jennings, mantan penerjemah Utusan Khusus Sekjen PBB untuk masalah Pepera Fernando Ortiz Sanz, dan wartawan Hendro Subroto. Setelah tim terbentuk, persiapan dilakukan selama berbulan-bulan. Di dalamnya temasuk mencari carteran pesawat yang akan digunakan untuk menerjunkan tim. Sintong bersama Gaisseau empat kali melakukan orientasi medan dari udara dalam persiapan itu. Pada 2 Oktober 1969 pukul 07.30, tim diberangkatkan menggunakan DC-3 Dakota milik Garuda yang -dioperasikan Merpati Nusantara Airlines -dimodifikasi untuk penerjunan karena pesawat carteran gagal didapat. Penerbangan menuju lembah yang “belum terjamah” itu memakan waktu sekitar sejam. “Bahkan dalam penerbangan pesawat kami sempat menerobos hujan. Kami khawatir jika di Lembah X turun hujan, maka penerjunan akan ditunda. Pandangan dari udara menunjukkan bahwa daerah pegunungan di bawah kami, diselimuti oleh hutan belantara yang membentang luas,” kata Hendro Subroto dalam memoarnya, Perjalanan Seorang Wartawan Perang . Para anggota tim dan Brigjen Sarwo sebagai jump master mesti bersabar menjalani penerbangan yang tak mengenakkan itu. Mereka harus bersusah payah untuk bisa duduk sambil memanggul tas parasut dan membawa perlengkapan karena kursi pesawat merupakan kursi penumpang yang sempit, bukan tempat duduk panjang sebagaimana umumnya dalam pesawat untuk penerjunan. Menit demi menit berlalu hingga akhirnya di pintu pesawat terlihat dispatcher Capa Atang Ismail menjatuhkan streamer untuk mendapatkan gambaran keadaan di sekitar dropping zone . Sintong sebagai penerjun pertama pun bersiap di dekat pintu pesawat. Betapapun pandainya Sintong menyembunyikan perasaannya, kecemasan bakal dikanibal tetap menghinggapi batinnya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Maka begitu Atang menepuk payung utama di punggungnya sambil berteriak “Go!”, Sintong pun segera berjalan agak membungkuk untuk keluar dari pintu pesawat yang kecil lalu terjun. Selang beberapa saat, anggota berikutnya mengikuti. Kendati selama penerjunan mereka disuguhi pemandangan asri belantara Papua yang masih murni, mayoritas mendarat tak sesuai dengan yang direncanakan. Berbeda-beda pengalaman yang mereka rasakan. Sebelum bisa mendarat, Capa Marwoto parasutnya tersangkut di pohon. Sementara dia mencari cara untuk bisa turun, puluhan penduduk dari suku di Lembah X telah mengepungnya di bawah. Upayanya untuk memindahkan posisi senapan AK-47-nya dari punggungnya ke posisi di depan gagal karena tanpa sepengetahuannya senapan itu diikat mati oleh orang yang membantu persiapannya saat di bandara. Ia pun panik. Lain Marwoto, lain pula Sintong. Dia mendarat tepat di tengah kampung, bukan beberapa kilometer dari kampung yang ditetapkan sebagai titik pendaratannya. Akibatnya, dia langsung dikepung puluhan penduduk yang membawa tombak, panah, kapak, dan pentungan sembari berteriak “ Snai e , snai e .” Meski tak mengerti arti kalimat itu, Sintong dibuat takut mendengarnya. Akankah dia akan mengalami kanibalisme sebagaimana yang dikwahatirkannya ketika akan terjun? Dalam kekalutan itu, Sintong segera memindahkan posisi senapan AK-47-nya dari disandang menjadi di depan. Nahas, magasinnya terjatuh entah di mana. Sintong terus berupaya melawan ketakutannya sambil terus mencari cara menghadapi penduduk. Saat itulah dia melihat magasinnya berada di tengah kerumunan penduduk. Namun, tetap saja dia bingung bagaimana mengambilnya. Lagi-lagi, Tuhan menolongnya. Seorang pemuda di antara kerumunan penduduk mengambil magasin itu dan melemparkannya ke Sintong. “Terima kasih Tuhan,” kata Sintong membantin. Setelah memasang magasin dan mengokang senapannya, ketenangan mulai menguasai diri Sintong. Dia lalu teringat saran Gaisseau agar mengangkat kedua tangan ke atas sambil menampakkan senyum dalam menghadapi penduduk. Saran itupun dilakukan Sintong hingga akhirnya seorang tua mendatanginya sambil membawakan sepotong daging babi sebagai jamuan persahabatan. “Ia langsung memakan daging babi itu mentah-mentah. Suku Lembah X yang mengepungnya, mulai tampak lega. Mereka bersorak-sorak sebagai luapan kegembiraan,” tulis Hendro.
- Sejarah di Balik Dongeng Pasukan Rubah
HANYA enam menit papan skor di King Power Stadium, markas Leicester City FC, bertahan dengan angka 0-0. Di menit enam itulah bola liar hasil tendangan sudut dikonversi menjadi gol oleh Wilfred Ndidi lewat tembakan first time keras dan sedikit mengenai tiang sebelum menyentuh jala gawang Chelsea yang dijaga Edouard Mendy. Skor 1-0 untuk tuan rumah. Tetapi itu tak jadi momen bersorak kegirangan kali terakhir buat pelatih Leicester, Brendan Rodgers. Empat menit jelang turun minum, tercipta lagi peluang emas dari through pass Marc Albrighton. James Maddison yang posisinya tak terkawal langsung menyambutnya dengan mendorong bola ke sudut kiri gawang Mendy. Skor 2-0 itu bertahan hingga laga matchday ke-19 Liga Inggris, Selasa (19/1/2021) malam itu usai. “Anda telah melihat spirit tim yang sebenarnya malam ini. Penampilan dan kedewasaan tim diperlihatkan sangat memuaskan. Saya mengerti kami bermain melawan tim penuh talenta (Chelsea) dan kami tak boleh melakukan kesalahan,” ungkap Rodgers pascalaga, dikutip Daily Mail , Rabu (20/1/2021). Tiga poin yang diraih “TheFoxes”, julukan Leicester, itu meroketkan posisinya ke puncak klasemen Liga Inggris musim 2020-2021. Dengan 38 poin, mereka untuk sementara unggul satu angka dari Manchester United di posisi kedua. Para pendukung “The Foxes” pun mulai berharap sejarah “dongeng Cinderella” terulang sebagaimana musim 2015-2016. Di musim itu, publik Inggris terhenyak dan terheran-heran melihat tim medioker itu keluar sebagai juara di bawah asuhan Claudio Ranieri. Pelatih Leicester City, Brendan Rodgers menyemangati para pemainnya daam laga kontra Chelsea ( lcfc.com ) Kendati demikian, Rodgers belum ingin berpikir ke arah situ. Musim ini masih panjang dengan 19 partai tersisa. Terlebih beberapa tim lain macam Tottenham Hotspur dan Chelsea juga sempat dininabobokkan asa serupa saat memuncaki klasemen sementara beberapa pekan sebelumnya. “Jangan lupakan kualitas Manchester City, Liverpool sang juara bertahan, dan Manchester United yang penampilannya juga hebat. Bagi Leicester berada di atas tim-tim dengan level luar biasa seperti itu saja sudah membuat saya senang. Tentu akan jadi tantangan besar memuncaki klasemen namun kami dengan senang hati menghadapi tantangan itu,” sambung eks pelatih Liverpool dan Glasgow Celtic itu. Sebagaimana tim-tim medioker lain di Liga Inggris, Leicester kerap dipandang sebelah mata. Reputasinya tak pernah setara dengan klub mapan macam Arsenal, Chelsea, Liverpool, serta dua tim sekota: Manchester City dan Manchester United. Akan tetapi pandangan itu berbalik 180 derajat kala tim-tim adidaya itu terpuruk dan tanpa dinyana Jamie Vardy dkk. mengangkangi mereka dengan merebut titel lima musim lalu. Padahal sejak berdirinya 137 tahun lampau, Leicester acap kesulitan bertahan di kompetisi teratas Inggris. Jatuh-Bangun Leicester Fosse Football Club, begitu sebutan awal klub ini kala didirikan sekumpulan pemuda Wyggeston School di kota Leicester pada 1884. Sebutan “Fosse” diambil dari nama areal tempat lapangan mereka biasa bermain, Fosse Road. Adalah Joseph Johnson dan Frank Gardner, dua dari lima pendiri klub, yang membentuk satu komite untuk mengembangkan manajemen klub yang bermula dari swadaya para pemainnya. “Para pemain menyumbangkan sedikit uang dan seorang tukang kayu lokal dipercayakan untuk membuat dua set gawang menjelang pertandingan pertama klub di lapangan dekat Fosse Road. Pertandingan pertama mereka adalah melawan Syston Fosse yang berkesudahan 5-0 untuk Leicester. Para pencetak gol pertamanya adalah Hilton Johnson (dua gol), Arthur West (2), dan Sam Dingley,” sebut David Clayton dalam Leicester City FC Miscellany: Everything You Ever Needed to Know about The Foxes. Pertandingan pertama yang dihelat pada 1 November 1884 itu namun belum tercatat sebagai laga kompetitif resmi karena Leicester Fosse baru mengajukan diri dan diterima sebagai anggota The Football Association (FA, induk sepakbola Inggris) pada 1890. Leicester baru memainkan laga kompetisi pertamanya pada musim 1891-1892 di Midland League, kompetisi semi pro di bawah Division Two. Menukil laman resmi klub , Leicester mulanya bermain dengan seragam atas hitam bercorak garis horizontal biru dan celana putih. Saat pertamakali tampil di Midland League pada 1891, warna itu diubah menjadi atasan cokelat dan celana biru. Baru setelah naik ke Division Two pada 1903 Leicester mengubah warna kostumnya jadi biru-putih yang bertahan hingga kini. Stadion Filbert Street & King Power Stadium (atas) serta emblem klub dulu dan kini (bawah) ( lcfc.com ) Markas tim juga sempat beberapa kali pindah. Dari Fosse Road ke Victoria Park, lalu Balgrave Road, County Cricket Ground, hingga Filbert Street yang bertahan sejak 1891. Bersamaan dengan rampungnya pembangunan King Power Stadium berkapasitas 32 ribu penonton pada 2002, Filbert Street pun ditinggalkan klub. Pun dengan logo klub. Sejak 1884 hingga lebih setengah abad, Leicester belum punya logo resmi alias hanya sekadar menyematkan logo kota Leicester berupa perisai “Gules” dengan seekor naga di atasnya. Baru pada 1948 Leicester memiliki logo berupa kepala rubah di tengah perisai putih di seragamnya. Rubah sebagai hewan cerdik dan lincah dijadikan sebagai logo, maskot, dan julukan karena wilayah Leicestershire kondang dengan perburuan rubah. Sayangnya, dari masa ke masa Leicester Fosse acap jatuh-bangun di Divisi Two. Capaian terbaik mereka hanya sekali bertengger sebagai runner-up musim 1907-1908. Sisanya berakhir di papan tengah maupun papan bawah, hingga sempat bangkrut pada 1919 saat Football League hendak dihidupkan lagi setelah absen sepanjang Perang Dunia I (1914-1918). Sempat mati suri, klub lantas diambil alih pemerintah kota pada 1919. Perubahan nama klub dilakukan, menjadi Leicester City Football Club dan bertahan hingga kini kendati sejak 2010 klub sudah dibeli konsorsium Asia Football Investments. Di Balik Dongeng Cinderella Jatuh-bangun mengiringi datang dan perginya pemain dan pelatih Leicester. Pernah menjejakkan kaki di liga teratas, namun sebentar. Itu terjadi pada tahun 1954, setelah juara Division Two Leicester berhak promosi ke Division One. Namun semusim kemudian Leicester terdegradasi lagi. Catatan terlama “Pasukan Rubah” bertahan di Division One terjadi pada musim 1957-1969 saat diasuh Dave Halliday. Sisanya Leicester kembali “wara-wiri” antara kasta kedua dan kasta teratas. Maka ketika Leicester melesat bak meteor pada 2016, semua mata penikmat Liga Inggris terbelalak. “Dongeng Cinderella” itu dimulai kala manajemen klub merekrut Ranieri. Pelatih kelahiran Italia berjuluk “Tinkerman” itu pernah melatih Napoli, Atlético Madrid, Chelsea, Juventus, AS Roma, dan Inter Milan. Dalam “Leicester City’s Title Triumph: The Inside Story of an Extraordinary Season” yang dimuat The Guardian , 3 Mei 2016, kolumnis senior Stuart James menguraikan kunci sukses Ranieri menggoreskan sejarah baru bagi Leicester. Menurutnya, semua berawal dari presentasi Ranieri pada awal Juli 2015 sebelum direkrut sebagai calon pengganti Nigel Pearson yang dipecat. “Ranieri adalah Ranieri: berkharisma, sangat bergairah, dan berwawasan luas. Ada sebuah perasaan yang “nge-klik” antara dia dan (wakil ketua klub, Aiyawatt) Srivaddhanaprabha, saat Ranieri mengungkit nama Francesco Totti dan Gabriel Batistuta yang pernah dilatihnya. Seketika, antusiasme pelatih asal Italia itu meninggalkan kesan mendalam bagi para anggota dewan direksi klub,” ungkap James. Searah jarum jam, Skuad Leicester tahun 1889, 1891, 1898, dan 1913 ( lcfc.com ) Hasilnya, pada 13 Juli 2015 Ranieri resmi diumumkan sebagai arsitek anyar Leicester. Ia dikontrak selama tiga tahun. Keputusan Leicester itu menuai banyak kritik. Banyak pihak meragukan kapasitas Ranieri karena ia pecatan Timnas Yunani setelah kalah memalukan dari tim gurem Kepulauan Faroe. Salah satunya dari Pearson, pelatih Leicester yang digantikan Ranieri. “Jika Leicester menginginkan seseorang yang ramah, mereka sudah mendapatkannya. Tetapi jika mereka menginginkan pelatih yang bisa membuat mereka bertahan di Premier League, maka mereka memilih orang yang salah,” kata Pearson menyindir, dikutip The Guardian , 14 Juli 2015. “Anjing menggonggong, kafilah berlalu,” begitu kata pepatah. Sembilan bulan kemudian, Ranieri membungkam para pengkritik dengan persembahan gelar juara Premier League 2015-2016. Di musim sebelumnya (2014-2015), “The Foxes” di bawah Pearson hanya bisa bertengger di urutan 14 klasemen akhir setelah mati-matian bertahan agar tak terdegradasi. “Kesuksesan Leicester di bawah Ranieri tercatat sebagai salah satu pencapaian paling menakjubkan dalam olahraga manapun. Jangankan pihak luar, di internal klub pun mulanya tak percaya dan seolah masih dalam alam mimpi ketika melihat momen Wes Morgan mengusung trofi Premier League seberat 25 kilogram tinggi-tinggi ke udara,” lanjut James. Claudio Ranieri membungkam para pengkritiknya dengan "keajaiban" ( lcfc.com ) Musim 2015-2016 memang jadi musim yang berat bagi tim-tim top macam Manchester United dan Liverpool. Di akhir musim, Liverpool hanya mampu menempati urutan delapan dan Manchester United di spot kelima meski tetap gagal lolos ke Liga Champions. Di tengah keterpurukan tim-tim mapan itulah Ranieri membawa Leicester melesat ke posisi puncak. Dari total 38 laga, Leicester hanya tiga kali menderita kekalahan. Apa kuncinya? Salah satunya, imbuh James, terletak pada jasa Steve Walsh, asisten pelatih dan kepala perekrutan klub. Walsh turut andil dalam proses mempermanenkan Robert Huth, Shinji Okazaki, dan Christian Fuchs. Ketiganya sebelumnya berstatus pinjaman dari Stoke City, Schalke 04 dan Mainz 05. Lalu untuk menopang serangan yang mengandalkan Jamie Vardy, Walsh mendesak Ranieri untuk mendatangkan gelandang berprospek cerah dari klub Caen (Prancis), N’Golo Kanté. “Kanté adalah pemain kuncinya dan Ranieri, sebagaimana yang ia akui, awalnya tak begitu mengenal pemain ini. Ranieri seperti para pelatih top Premier League lain, tak pernah mendeteksi eksistensi Kanté dalam radarnya. Tetapi setelah melihat sendiri, Ranieri setuju membawanya ke Leicester dengan mahar 5,6 juta poundsterling. Selebihnya bisa dilihat sendiri hasilnya,” sambung James. Figur-figur lain yang tak kalah besar andilnya adalah barisan tim pelatih: Craig Shakespeare, Paolo Benetti, Andrea Azzalin, Matt Reeves, dan Mike Stowell. Mereka menggarap data statistik mentah yang kemudian dijadikan bahan evaluasi setiap pemain oleh Ranieri. Termasuk beberapa pemain yang di musim sebelumnya sering dicadangkan Pearson, seperti Danny Drinkwater, Gökhan İnler, Jeffrey Schlupp dan Marc Albrighton. Mereka inilah yang justru dijadikan pilar kunci oleh Ranieri. Momen Leicester City dalam perayaan gelar juara Liga Inggris 2015-2016 ( lcfc.com ) Kunci sukses lain Ranieri yakni pendekatan berbeda kepada para pemainnya di ruang ganti. Ranieri tak seperti Pearson yang dingin dan melulu serius. “Ranieri sosok yang hangat dan sering menyelipkan humor saat berbicara. Saat Boxing Day , Ranieri memberi bel yang terpahat namanya ke semua pemain sebagai kado Natal. Di sisi lain, ketika di tengah musim sudah mencatatkan 40 poin dan asa juara disuarakan media, Ranieri mengutip slogan Presiden Amerika: ‘Saya ingin bilang: Ya kita bisa! Tetapi saya bukan (Barack) Obama’,” tandas James. Sayang kesuksesan Ranieri hanya seumur jagung. Semusim setelah membawa Leicester juara, ia dipecat. Meski membawa Leicester mencapai babak 16 besar Liga Champions, Ranieri membuat Leicester terpuruk di liga. Saat masih tersisa 13 laga, Leicester terjerembab di papan bawah dengan bertengger satu posisi di atas zona degradasi. Maka ketika ia dipecat pada 23 Februari 2017, banyak pihak menyesalkan. Termasuk para suporter yang membentangkan sebuah spanduk di pertandingan pertama tanpa Ranieri bertuliskan: “ Grazie Claudio” (“terima kasih, Claudio”).
- Siapakah Sarinah?
RABU, 13 Agustus 1948. Musso tiba di Yogyakarta. Tokoh penting kaum komunis Indonesia itu lantas berkunjung ke Gedung Agung dan disambut hangat oleh Presiden Sukarno. Selain bernostalgia mengingat masa-masa kos di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, mereka berdua juga terlibat pembicaraan serius mengenai jalannya revolusi Indonesia. Setelah hampir dua jam berbicara, Musso pamit. Sukarno menahannya sejenak. Dia lantas memberikan sebuah buku yang ditulisnya sendiri. Judulnya: Sarinah . Menurut Fatmawati Sukarno, Si Bung sengaja memberikan buku tersebut agar Musso paham bahwa Sukarno tidak setuju terhadap garis politik PKI saat itu. “Dalam buku Sarinah ada bab yang mengupas tugas rakyat dalam tahap-tahap revolusi yang berjudul: Kepada Bangsaku. Itu merupakan kritik terhadap politik PKI,” ungkap Fatmawati dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I. Sejatinya Sarinah bukanlah roman. Buku tersebut justru berisi berbagai teori dan pendapat bagaimana seharusnya seorang perempuan Indonesia berpikir dan bersikap. Sejenis penuntun bagi perjuangan kaum perempuan. Lantas siapakah Sarinah yang namanya ditabalkan pada kitab penting itu? Dalam otobigrafinya, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh Cindy Adams), Sukarno mengungkapkan bahwa Sarinah adalah gadis pembantu keluarga orangtua-nya yang memiliki jasa besar ikut membesarkannya. “Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami, dia adalah seorang anggota keluarga kami. Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami dan memakan apa yang kami makan, akan tetapi dia tidak mendapat gaji sepeser pun,” ujar Sukarno. Menurut Bung Karno, dari Sarinah-lah dia mengenal dan belajar tentang arti cinta kasih. Terutama yang terkait dengan kecintaan kepada rakyat jelata. Sukarno ingat saat memasak di gubuk kecil dekat rumah orangtuanya, Sarinah kerap berbicara kepada Sukarno kecil yang duduk di sebelahnya mengenai cinta kasih. “Karno, yang utama kamu harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mencintai rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia pada umumnya,” kata Sarinah. Begitu dekatnya Sukarno dengan Sarinah hingga saat tidur pun, Sukarno kecil tak pernah bisa lepas dari perempuan sederhana tersebut. Ke mana pun Sarinah pergi, anak lelaki itu selalu menguntitnya. “Bagiku dia adalah satu kekuasaan yang paling besar dalam hidupku,” ujar Sukarno. Wajar saja jika saat dewasa, Sukarno tak pernah bisa melupakan sosok perempuan bersahaja itu. Bahkan sebagai bentuk rasa terimakasihnya, Sukarno menabalkan namanya untuk buku yang ditulisnya dan obyek penting yang menjadi inspirasinya: Departement Store Sarinah yang merupakan pusat perbelanjaan termodern pertama yang ada di Asia Tenggara. “Dari Mbok Sarinah, saya mendapat pelajaran untuk mencintai rakyat kecil. Dia sendiri memang “orang kecil” tapi memiliki jiwa yang besar,” tulis Sukarno dalam Sarinah: Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia . Namun ada satu versi menarik mengenai figur Sarinah yang dituliskan oleh Lambert Giebels dalam Soekarno , Biografi 1901—1950 . Menurut penulis sejarah asal Belanda tersebut, salah satu versi tentang asal-usul Sukarno menyebutkan bahwa Sarinah sejatinya adalah ibu kandung Sukarno sendiri. Dalam versi itu, Sarinah mengandung Sukarno karena hubungan dekatnya dengan seorang karyawan perkebunan berbangsa Belanda. Versi lain malah menyebut orang Belanda itu adalah salah seorang pejabat tinggi atau seorang yang berdarah Indo. “Sesudah Sarinah melahirkan anak majikannya, sepasang suami-isteri mengangkat bayi itu sebagai anak mereka sedangkan Sarinah sendiri menjadi pengasuh putranya sendiri,” tulis Giebels. Sukarno sendiri bukannya tidak tahu soal beredarnya kisah itu di kalangan khalayak. Namun alih-alih menjadi tersinggung atau marah, kata Giebels, dia malah merasa geli, terutama terkait cerita darah Indo-nya yang dia anggap sebagai khayalan semata. “Dia menjelaskan bahwa orang-orang Indo tidak bisa percaya bahwa presiden Indonesia yang penuh semangat, dinamis dan cepat berpikir adalah seorang (keturunan) pribumi sederhana,” ungkap Giebels. Mengenai asal-usul Sarinah, Bung Karno sendiri tak pernah mengisahkan secara detil mengenai riwayat inang pengasuhnya di masa kecil itu. Yang jelas, hari ini di Pekuburan Rakyat Kelurahan Kepatihan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur terdapat sebuah makam tua yang di nisan-nya bertuliskan nama Sarinah. Disebutkan waktu meninggalnya: 28 Desember 1959. Dalam sejarah Indonesia sendiri, dokumen orsinil mengenai Sarinah hanya terwakili oleh selembar foto milik Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Di foto tersebut terlihat Sarinah yang berusia saparuh baya lebih tengah dirangkul oleh Presiden Sukarno. Jika itu benar, maka bisa dipastikan gambar itu sepertinya diambil beberapa tahun sebelum Sarinah wafat.*





















