Hasil pencarian
Cari di situs ini
10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pensiunan KNIL Menipu di Salatiga
SEBUAH pesta perayaan digelar di Salatiga pada 23 Juni 1931. Penyelenggaranya Victor Joannes Aghten, pria kelahiran Antwerpen, Belgia, 17 Desember 1876. Pesta besar-besaran itu terkait dengan perayaan dirinya yang telah 25 tahun menjadi Ridders Militaire Willemsorde (MWO) alias Ksatria Orde Militer William kelas empat. Bintang MWO kelas empat biasanya diberikan kepada orang yang bertindak luar biasa dalam pertempuran, semisal menerobos benteng pertahanan lawan atau melumpuhkan pemimpin pemberontak. Penerima bintang tersebut dianggap memberikan kesetian, keberanian, dan ketangguhannya untuk Kerajaan Belanda.
- The Black Dutch Village
TWO villages in Purworejo, Pangenjurutengah and Sindurejan, were equally busy that March 15, 2024 afternoon. Purworejo is a regency located in the southern part of Central Java, Indonesia. The closest point of distance between the two, which is marked by SMAN 7 Purworejo, is only less than 500 meters, which is not a long distance to be reached by walking. Children of the early 20th century must have been strong enough to explore the two villages on foot.
- Kisah Nama-nama Presiden RI
Ada makna dan kisah di balik sebuah nama. Apa saja makna dan kisah dari nama-nama Presiden RI?
- Kanvas Kehidupan Fathi Ghaben
GARIS-GARIS simetris horizontal, vertikal, dan diagonal itu tampak nyata membentuk sesosok pejuang bersurban putih. Warna-warnanya tegas memperlihatkan warna kebesaran Palestina: merah-hitam-putih-hijau. Juga terlihat dalam penampakan seekor kuda Arab dengan latar kerumunan rakyat. Lukisan bertajuk “Hawiyya” (terj. Identity ) karya seniman Fathi Ghaben itu terang-benderan menggambarkan pergulatan akan perjuangan kemerdekaan Palestina. Menurut Marion Slitine dalam artikel “The Metamorphoses of the Political in the Contemporary Art of Palestinian Post-Oslo Generation” yang termaktub di buku The Global Politic of Artistic Engagement: Beyond the Arab Uprisings , lukisan yang dibuat dari goresan akrilik di atas kanvas pada 1980 itu menyampaikan pesan kebangkitan perlawanan nasional menjelang Intifada Pertama (1987-1993). Ghaben sengaja tak menggambarkan wajah sang pejuang berdasarkan tokoh tertentu. “Figur itu diperlihatkan berada di depan kerumunan rakyat yang berunjuk rasa di depan gerbang Kota Tua Yerusalem, di mana ia siap mengantisipasi Intifada Pertama. Sang Pejuang berdiri gagah di depan Gerbang Damaskus di Yerusalem menyimbolkan penaklukan Arab terhadap kota itu oleh Salahuddin pada 1187. Tetapi Ghaben tidak menggambarkan wajah sang pejuang menurut tokoh manapun demi merangsang perasaan kolektif dan persamaan nasib bagi para penikmat karyanya,” tulis Slitine. Baca juga: Menyuarakan Nasib Nelayan Melalui Lukisan Karya itu hanya satu dari sekian karya-karya Ghaben yang bak peluru menghujam jantung zionis Israel. Di antara beberapa pelukis Palestina generasi tua, seperti Sliman Mansour, Nasr Abdel Aziz Eleyan, Malak Mattar, dan Ibrahim Ghannam, Ghaben salah satu yang paling sering menelurkan lukisan-lukisan yang dianggap menghasut dan berbahaya hingga sering diciduk tentara pendudukan Israel. “Pada 1982 sampai 1984, banyak seniman melukis dengan warna merah, hijau, hitam, dan putih dalam (lukisan) lanskap, potret, apapun. Dan pada 1984 seorang seniman dari Gaza melukis bendera Palestina lalu mereka (Israel) memenjarakannya selama enam bulan. Namanya Fathi Ghabin (Ghaben, red. ). Sekarang dia di Gaza terus-menerus menghindari pemboman,” ungkap Mansour kepada Al Jazeera , Minggu (25/2/2024). Lukisan "Identity" karya Fathi Ghaben (X @PalAcievements) Kini Ghaben sudah tiada. Kementerian Kebudayaan Palestina menyatakan Ghaben menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (25/2/2024) di usia 77 tahun. Ghaben yang sebelumnya mengalami masalah kesehatan pada jantung dan paru-parunya, ditolak Israel untuk mencari perawatan medis di luar Jalur Gaza seiring pemboman brutal dan blokadenya di Gaza sejak Oktober 2023. Blokade itu mengakibatkan nyawa Ghaben melayang karena kekurangan obat-obatan dan oksigen. “Palestina akan selalu mempresentasikan semua detail karya Ghaben. Ia mengabadikan kehidupan desa-desa Palestina yang ingin dihapuskan oleh (peristiwa) Nakba, termasuk mengingat Harbia, desa di mana ia lahir,” ungkap Menteri Kebudayaan Palestina Atef Abu Seif, dikutip Palestine Chronicle , Selasa (25/2/2024). Baca juga: Lukisan Kehidupan Soenarto Pr Dari Penjara ke Penjara Harbia atau Hiribya adalah sebuah desa di timur laut Jalur Gaza. Tak lama setelah lahir pada 1947 di desa itu, Ghaben dan keluarganya beserta segenap penduduk desanya terusir akibat Peristiwa Nakba seiring Perang Arab-Israel 1948. Hidupnya sudah pahit sedari kecil karena harus hidup dari tenda ke tenda di Kamp Pengungsian Jabaliya. “Saya Fathi, dari kamp (pengungsi) Jabaliya, lahir pada tahun 1947. Kerasnya kehidupan mengharuskan saya putus sekolah di kelas enam sekolah dasar. Mengharuskan saya ikut mencari pekerjaan. Anak-anak Palestina dipaksa dewasa lebih cepat menjadi seorang pria sejati dan memenuhi kebutuhan keluarga,” tutur Ghaben dalam sebuah wawancara dengan majalah Sawt al-Bilad edisi September 1987. Ghaben kecil bekerja serabutan jadi pekerja di perkebunan jeruk dan loper koran dan majalah untuk kantor Kamel Abed Rabu. Di sela pekerjaannya, Ghaben membunuh waktu dengan banyak membaca koran dan majalah yang ia jajakan, serta belajar menggambar secara otodidak. “Sejak saat itu saya sudah sering membuat cerita bergambar untuk anak-anak lain dengan gambar-gambar yang menarik. Memang hidup saya menyedihkan tapi setidaknya saat itu belum ada pendudukan (Israel),” ujarnya saat diwawancara Hiyam Noir untuk kolom Palestine Chronicle , “Fathi Ghaben, Great Palestinian Painter” yang dimuat 15 Juli 2008. Baca juga: Kala Penduduk Gaza Terusir, Peristiwa Nakba Terulang Lagi? Pasca-Perang Enam Hari (5-10 Juni 1967), kanvas kehidupan Ghaben makin suram. Sejak saat itu Israel menduduki seluruh wilayah Palestina, baik Tepi Barat maupun Jalur Gaza. Kondisi itu memaksa Ghaben menjadi tenaga kerja di bawah otoritas Israel. “Saat dimulainya pendudukan, terjadi pembantaian terhadap rakyat kami, tekanan psikis, serangan fisik, dan penahanan. Penduduk Jalur Gaza dipaksa bekerja di bawah otoritas Israel. Sebelum pendudukan kami miskin tapi kehidupan kami tenang. Lalu datang periode 1967 di mana tidak ada banyak kemungkinan buat kami untuk menafkahi keluarga walau setidaknya martabat dan kehormatan kami tetap utuh,” imbuhnya. Potret Fathi Ghaben pada 1987 ( palarchive.org ) Namun gairah Ghaben untuk mengembangkan dirinya lewat lukisan tidak pernah luntur. Di sela pekerjaannya, ia mulai menjajakan lukisannya demi nafkah tambahan. Mulanya ia acap melukis lanskap dan keindahan alam, meski lama-kelamaan karya-karyanya mulai beralih pada tragedi, kehidupan sosial, politik, hingga perjuangan. “Fathi Ghabin adalah seorang seniman yang lukisan-lukisannya membuatnya menjadi selebriti politik di dalam komunitasnya sendiri. Ghabin membuat karyanya berdasarkan keterlibatannya dalam aktivitas komunitasnya sehari-hari memprotes pendudukan,” tulis Philip Mattar dalam Encyclopedia of the Palestinians. Baca juga: Kurikulum Merdeka di Palestina Tak ayal Ghaben mulai diincar aparat Israel. Pada 1970 Ghaben dipenjara dengan tuduhan menanam bom dalam sebuah aksi unjuk rasa. Itu kali pertama Ghaben dipenjara. Hingga 1980-an, bak tokoh Indonesia Tan Malaka, Ghaben acap hidup dari penjara ke penjara. “Ada beberapa tuduhan kepada saya tapi mereka (otoritas Israel) tak menemukan satupun bukti bahwa saya bersalah. Saya baru dibebaskan dari penjara setelah tujuh bulan,” sambung Ghaben. Beberapa lukisan lain karya Fathi Ghaben (X @PalAcievements) Pun begitu, Ghaben tak pernah kapok. Sejak 1975 ia justru makin gencar membuat banyak karya yang membuat otoritas Israel resah. Salah satunya adalah lukisan potret keponakannya, Suhain. Suhain tewas ditembak tentara Israel di sebuah aksi unjuk rasa pada April 1982. Banyak lukisan Ghaben yang kemudian dicetak menjadi poster-poster dan spanduk propaganda kebebasan Palestina. Akibatnya, Ghaben lagi-lagi dipenjarakan Israel berturut-turut pada 1975 dan 1984. “Kali kedua mereka menangkap saya adalah pada 1975, di mana saya dipenjara selama 45 hari. Pada 1984 saya ditangkap lagi dengan motif (penghasutan) melalui lukisan-lukisan saya. Pengadilan Israel sampai menyita tujuh karya saya. Setelah dua hari ditahan, para aktivis perdamaian Israel memprotes dan menuntut pembebasan saya atas nama kebebasan berekspresi dalam seni,” kenangnya lagi. Baca juga: Menggoreskan Kisah Tragis Adinda dalam Lukisan Akan tetapi lewat lukisan saja takkan bisa memenuhi kebutuhan hidup Ghaben beserta anak-anak dan istrinya. Selebihnya selama 13 tahun, Ghaben menyambi pekerjaan sebagai guru seni privat di sekolah Islam Al-Naser. “Alasannya karena kemiskinan dan minimnya sumber penghidupan di bawah masa pendudukan. Belum lagi sulit untuk membeli alat-alat (lukis). Namun saya bertahan meski saya harus membeli alat-alat buat saya berkarya dengan harga selangit. Saya menderita setiap hari tapi itulah harga bagi kreativitas seni saya demi perjuangan Palestina,” tandasnya. Atas perjuangan dan pengabdiannya di bidang seni, ia menerima banyak penghargaan. Di antaranya Medali Pedang Kanaan dari Presiden Yasser Arafat dan Piagam Ilmu Pengetahuan, Kebudayaan, dan Seni dari Presiden Mahmoud Abbas pada 2015, serta Annual Media Freedom Awards Appreciation dari kantor berita Safa News Agency pada Juli 2023. Fathi Ghaben wafat di usia 77 tahun setelah tak bisa mendapat akses kesehatan akibat blokade Israel (X @PalAcievements)
- Penyandang Jenderal Kehormatan, dari Sri Sultan hingga Prabowo Subianto
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang sebentar lagi menjadi presiden RI ke-8 menerima pangkat jenderal TNI kehormatan. Semasa aktif di TNI, mantan panglima Kostrad periode 1998 itu hanya mencapai pangkat letnan jenderal. Penganugerahan pangkat jenderal kehormatan disematkan oleh Presiden Joko Widodo dalam Rapat Pimpinan TNI-Polri di Mabes TNI, Cilangkap, (28/2). Presiden menuturkan, penganugerahan tersebut seharusnya sudah diberikan dua tahun lalu atas jasa Prabowo Subianto di bidang pertahanan.
- Murid Westerling Tewas di Parepare
SEBUAH jip yang dinaiki Pembantu Letnan (Peltu) Jan Baptist Vermeulen dan Sersan Mayor Albert Schultz tiba di punggung sebuah gunung. Vermeulen dan beberapa orang lalu turun dari jip dan berjalan kaki ke dua kampung bernama Segeri dan Talolo. Sampai di sana, bintara tinggi itu malah terpaksa menyaksikan pemandangan mengerikan. Tiga bawahannya terbunuh. Mereka adalah Sersan Theunis Okkerse, Prajurit Pieter van Ee, dan Prajurit Peter Antonius Peeters. Ketiga anggota pasukan khusus Depot Speciale Troepen (DST) didikan Kapten Westerling itu ditemukan dalam kondisi tercincang-cincang. “Mayat-mayat itu dirampas dan ditusuk berkali-kali. Juga kompas, pistol, dan arloji dari Sersan Okkerse hilang,” kenang Vermeulen seperti dicatat Maarten Hidskes dalam Di Belanda Tak Seorang pun Mempercayai Saya . Baca juga: Anak Buah Westerling Bikin Kudeta di Suriname Vermeulen dan anggota DST lain lalu menyita semua senjata tajam atau bahan peledak dari kampung itu. Vermeulen yakin bahwa orang-orang Segeri dan Talolo adalah orang yang bersalah atas kematian tiga anak buahnya itu dan mereka harus bertanggungjawab. Lalu dikumpulkannyalah orang-orang dari Talolo dan Segeri. “Tembak semua orang,” Vermeulen yang marah mengeluarkan perintah dalam bahasa Melayu pasar. Hari itu, seperti dicatat laporan Van Rij en Stam , ada 200-an orang kampung yang terbunuh. Peristiwa pada 1 Februari 1947 itu terjadi setelah 26 anggota Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) telah dieksekusi pada hari itu juga. Ini belum termasuk rakyat sipil yang menjadi korban daripada pasukan Kapten Westerling tersebut. Baca juga: Mayor Belanda Tewas di Parepare, Westerling Ngamuk Tak peduli berapa ratus orang yang telah dihabisi dalam perjalanannya, kematian tiga anggota Vermeulen oleh pihak lawan yang disebutnya “ extrimist” tak bisa diterima olehnya. Vermeulen begitu terpukul dengan kejadian itu. “Brengsek, kurang ajar, orang-orang saya mati seperti itu,” Vermeulen memaki ketika sampai kembali ke jip, seperti dicatat Maarten Hidskes. Tentang kematian tiga anggota DST tersebut, ada beberapa versi cerita. Maarten Hidskes mencatat: ada versi yang menyebut Sersan Okkerse dan dua prajurit itu digoda “gadis-gadis nakal” dengan “tawaran erotis” mereka. Ketiganya termakan perangkap “gadis-gadis nakal” itu. Versi lain, dari keluarga van Okkerse, menyebut bahwa ketiganya dijebak oleh orang-orang yang menyamar dengan memakai pakaian serdadu KNIL. Anggota DST itu tidak ambil pusing dengan pikiran orang-orang kampung yang membunuh ketiga kawan mereka itu merasa terancam hingga harus membunuh kawan mereka. Baca juga: Aksi Sadis Westerling di Medan Prajurit Peter Antonius Peeters, menurut arsip OGS, adalah kelahiran Belfeld, 15 November 1921. Sementara Prajurit Pieter van Ee lebih tua lagi usianya, ia kelahiran 2 September 1917. Sementara itu, Sersan Theunis Okkerse adalah yang termuda. Dia kelahiran 14 Agustus 1922 dan sebelum jadi pasukan khusus DST pernah berada di korps artileri. Kematian Sersan Theunis Okkerse tentu menggagalkan rencana perkawinannya dengan tunangannya. Ketika Theunis Okkerse terbunuh, pacarnya sedang dalam perjalanan ke Hindia Belanda untuk menikahi Okkerse. Kematian tiga serdadu DST itu menghalangi usaha pembantaian terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai ekstrimis oleh tentara Belanda. Sebab, ketika datang ke Sulawesi Selatan pada Desember 1946, Kapten Westerling memimpin lebih dari 120 anggota DST yang telah dilatihnya di Jakarta. DST yang dilatih dan dipimpin Kapten Westerling itu tak hanya berisikan bule Belanda saja, tapi juga orang-orang Indonesia dari berbagai etnis.*
- Dua Kaki Andreas Brehme
SUASANA hening selama satu menit dengan atmosfer haru tercipta di Allianz Arena. Sesaat jelang partai ke-23 Bundesliga antara tuan rumah Bayern Munich kontra RB Leipzig pada Minggu (25/2/2024), segenap pemain, official, dan lebih dari 47 ribu penonton menundukkan kepala. Mereka mengenang seorang legenda yang belum lama ini telah tiada, Andreas ‘Andi’ Brehme. Brehme menghembuskan nafas terakhir pada 20 Februari 2024 di usia 63 tahun karena serangan jantung. Ia tak hanya dihormati suporter Bayern namun juga segenap insan sepakbola Jerman lantaran ia adalah pahlawan di Piala Dunia 1990. “Sepakbola Jerman telah kehilangan salah satu legenda terhebatnya. Andi Brehme akan selalu menjadi juara dunia 1990 kita dan sosoknya lebih dari sekadar golnya di final Piala Dunia di Roma. Ia selalu ada untuk siapa saja dan ia teman yang setia,” seru announcer stadion Allianz Arena, Stephan Lehmann, jelang mengheningkan cipta, dikutip laman resmi klub , Minggu (25/2/2024). Malam itu juga menjadi malamnya Bayern. Setelah tiga pekan sebelumnya acap keok di liga domestik, klub besutan Thomas Tuchel itu akhirnya mampu mengemas tiga poin kemenangan, 2-1, atas tamunya. Kemenangan yang tak hanya jadi kado untuk klub yang merayakan hari jadinya yang ke-124 (27 Februari 1900) namun juga kado manis untuk mengenang mendiang Brehme. Meskipun tak lama berseragam Bayern (1986-1988), Brehme punya peran besar dalam membungkus sejumlah prestasi klub dalam 80 penampilan kompetitifnya. Antara lain satu gelar Bundesliga musim 1986-1987 dan trofi DFL-Supercup 1987. Baca juga: Obituari: Bomber Sangar Itu Bernama Gerd Müller Momen mengheningkan cipta mengenang Andreas Brehme di Allianz Arena jelang laga Bayern vs Leipzig ( fcbayern.com ) Kekuatan Dua Kaki Stadio Olimpico, Roma pada 8 Juli 1990 malam. Laga sengit terjadi di partai final Piala Dunia yang mempertemukan Jerman Barat kontra Argentina. Partai tersebut jadi ajang balas dendam final Piala Dunia 1986, di mana Argentina memecundangi Jerman 3-2. Saat pertandingan tinggal menyisakan enam menit waktu normal, kapten Jerman Lothar Matthaeus melepaskan umpan terobosan kepada striker Rudi Völler di kotak penalti Argentina. Bek Argentina Néstor Sensini, yang menjaga Völler, langsung melakukan sliding tackle .Völler pun terjatuh. Wasit Edgardo Codesal asal Meksiko seketika menunjuk titik putih. Jerman diuntungkan hadiah tendangan penalti. Tetapi siapa yang akan jadi algojo? Lothar Matthäus menolak jadi eksekutor hanya gegara ia baru ganti sepatu. Ia merasa tak nyaman jadi penentu. “Tentu saja kami ingin menang. Kami favorit terbesar di final (1990) dan yang jelas suporter berperan besar. Dari 80 ribu penonton, 75 ribu di antaranya suporter Jerman. Belum lagi orang Italia juga mendukung kami,” kenang Brehme kepada Goal di akun Youtube-nya yang diunggah pada 21 Juni 2014. Baca juga: Obituari: Addio Paolo Rossi! Hanya Brehme yang punya sifat setenang air menghadapi Sergio Goychochea di bawah mistar Argentina. Itu ia buktikan dengan eksekusinya di menit ke-85. Di titik 12 pas, bek kiri itu mengambil tendangan dengan kaki kanan mengarah datar ke pojok kanan gawang. Meski Goycochea terbang ke arah yang sama, tembakan Brehme gagal dibendungnya. Skor 1-0 untuk Jerman lalu bertahan hingga peluit terakhir dibunyikan. Tim Panser sukses menjadi juara Piala Dunia untuk yang ketiga kalinya. Brehme pun jadi pahlawannya. “Penalti itu situasi yang sulit. Pertandingan hanya tersisa beberapa menit dan penalti itu bisa menentukan hasilnya. Saya tahu jika bisa mencetak gol, kami akan jadi juara dunia. Saya percaya diri karena bermain baik sepanjang turnamen. Kami tampil dua kali di final 1986 dan 1990 dan keduanya melawan Argentina, itu sangat spesial, bahkan jika Anda kalah di salah satu finalnya,” sambungnya. Eksekusi penalti Andreas Brehme ke gawang Argentina di Piala Dunia 1990 (FIFA) Trofi Piala Dunia jadi dambaan semua penggila sepakbola, tak terkecuali Brehme sejak usia dini. Dieter Matz, wartawan olahraga senior Abendblatt, mengaku sudah mengikuti Brehme sejak kecil. Matz mengungkapkan bahwa Brehme yang lahir di Hamburg, 9 November 1960 itu sudah dikenalkan sepakbola sejak dini oleh ayahnya, Bernd Brehme, eks-bek klub lokal SC Urania dan HSV Barmbek-Uhlenhorst (BU). “Saya menyaksikannya setiap hari dilatih ayahnya, Bernd Brehme, karena sejak dini Andreas punya bakat individu. Saking beratnya latihan setiap hari kadang saya melihat Andreas menangis saat tenaganya sudah habis dan tak mampu lagi berlatih,” kenang Matz dalam obituarinya untuk Brehme, “Warum Andreas Brehme nie beim grosen HSV landete” di kolom Hamburger Abendblatt , 21 Februari 2024. Baca juga: Paul Breitner si Pemain Kiri Bakat Brehme menarik perhatian HSV BU yang kemudian mengundang Brehme kecil ke sesi latihan tim mudanya. Brehme akhirnya mampu menembus tim senior usai mendapatkan kontrak profesional pertamanya pada 1978. Meski begitu, keinginannya mengembangkan karier di kasta teratas Bundesliga nyaris menemui jalan buntu. “Tidak banyak klub yang tertarik padanya. Arminia Bielefeld sempat kepincut tapi merasa tidak cukup baik untuk Bundesliga. Hingga akhirnya bakat Brehme terpantau seseorang: Felix Magath. Ia merekomendasikan mantan klubnya, 1. FC Saarbrücken merekrut bek bertalenta itu,” tambahnya. Andreas Brehme mulai bersinar bersama Kaiserslautern ( fck.de ) Saarbrücken setuju dan jadilah Brehme pindah meski hanya setahun (musim 1980-1981). Berkat penampilannya yang apik, pada musim berikutnya Brehme dibajak 1. FC Kaiserslautern. Di klub berjuluk Die Roten Teufel (Setan Merah) inilah karier Brehme mulai bersinar. “Bersama pelatih Otto Rehhagel, pertandingan pertama kami adalah laga tandang melawan Bayern, di mana kami sebagai tim yang baru kembali promosi menang 1-0. Ini jadi pesan buat segenap (kontestan) Bundesliga bahwa kami telah kembali,” ungkap Brehme dalam otobiografinya, Sure-Footed: The Story of a World Champion . Baca juga: Obituari: Sisi Lain Der Kaiser Franz Beckenbauer Di Kaiserslautern pula Brehme mengembangkan skill dan posisi full-back atau bek sayap modern. Peran di mana bek sayap tidak sekadar membendung serangan sayap musuh tetapi juga berperan membantu serangan. “Saya pikir bersama (bek klub lain) Paul Breitner dan Hans-Peter Briegel, kami merupakan bek sayap modern Jerman pertama pada 1980-an. Kami memiliki kemampuan dribble bola di garis lapangan dan menempatkan umpan silang atau umpan lambung ke area penalti dari posisi yang lebih dalam. Baik Paul dan saya punya kekuatan di dua kaki sehingga kami bisa mudah bermain multiperan sebagai bek kiri, bek kanan, atau gelandang kanan-kiri,” tambahnya. Di era modern, sangat mudah menemukan pemain serba bisa seperti Brehme atau Breitner. Namun di generasi 1980-an, atribusi semacam itu masih sangat jarang. Maka tidaklah mengherankan Brehme sudah dipanggil timnas senior Jerman sejak 1984. Dianggap berkhianat ketika pindah ke Bayern ( fcbayern.com ) Di Timnas Jerman, pelatih Franz Beckenbauer acap mempercayakan posisi bek sayap kiri kepada Brehme. Namun Brehme juga acap bertukar peran sesuai kebutuhan permainan, mengingat Brehme punya kekuatan dua kakinya. Pada perempatfinal Piala Dunia 1986, Brehme dipercaya mengambil penalti dengan kaki kiri. Sementara, di final Piala Dunia 1990 Brehme mengambil penalti dengan kaki kanan. “Saya mengenal Andy (Brehme) selama 20 tahun dan saya masih belum mengerti apakah ia aslinya pemain berkaki kiri atau kanan,” kata Beckenbauer. Baca juga: Di Balik Derby della Madonnina Seiring kesuksesannya di Kaiserslautern, Brehme menerima pinangan dari Bayern pada 1986. Hal itu membuat marah fans Bayern. “Kepindahan saya ke (Bayern) Munich menjadi skandal tersendiri dan saya dilabeli pengkhianat. Namun klub dan fans tetap mendapat tempat yang besar di hati saya, di mana pada akhirnya saya kembali di pengujung karier. Saya pindah karena merasa harus jika ingin karier saya berkembang dan bermain untuk klub terbaik di seantero negeri,” kenang Brehme. Sempat berkarier di Inter Milan (kiri) & Real Zaragoza ( inter.it/realzaragoza.com ) Setelah membantu Bayern meraih gelar Bundesliga 1986-1987 dan trofi DFL-Super Cup 1987, Brehme kembali berganti seragam. Kali ini ke luar Jerman bersama dua kompatriotnya, Lothar Mätthaus dan Jürgen Klinsmann, ke Inter Milan pada 1988. Perekrutan trio Jerman itu untuk mengimbangi AC Milan dengan trio Belandanya: Marco van Baster-Ruud Gullit-Frank Rijkaard. “Mulanya Mätthaus bersama Brehme berperan memenangkan titel Liga Italia pada 1989. Lalu di musim berikutnya bertambah Klinsmann yang menebarkan teror bagi setiap bek di segenap semenanjung (Italia),” tulis Clement A. Lisi dalam A History of the World Cup. Baca juga: Obituari: Jimmy Greaves Sang Predator Gol Hingga 1992 membela Nerazzurri (julukan Inter), Brehme turut mempersembahkan gelar Serie A 1988-1989, Supercoppa Italiana 1989, dan Piala UEFA 1990-1991. Brehme kemudian menjajal Liga Spanyol dengan bergabung bersama Real Zaragoza (1992-1993) dengan torehan satu trofi Copa de Rey, sebelum akhirnya comeback ke Kaiserslautern pada 1993 hingga gantung sepatu pada 1998. Bak menebus dosa sebelumnya, sebelum pensiun Brehme turut andil merebut trofi DFB-Pokal 1995-1996 dan titel Bundesliga 1997-1998. Lantaran besarnya cinta Brehme kepada klub, ia tak pikir dua kali untuk menerima tawaran jadi pelatih sepanjang 2000-2002. Toh Brehme juga sudah mendapat lisensi melatih dari sejumlah “kursus” yang diinisiasi federasi sepakbola Jerman, DFB. “Pada 3 Januari 2000 sebuah sekolah sepakbola di Hennef memulai pelatihan khusus pelatih DFB di bawah instrktur Gero Bisanz. Kami yang mengikutinya adalah para mantan pemain seperti Matthias, Sammer, Guido Buchwald, Jürgen Klinsmann, Jurgen Kohler, Pierre Littbarski, Stefan Kuntz, Manni Kaltz, Andreas Köpke dan Joachim Löw. Ada banyak kritik publik yang mengatakan kami diberi lisensi hanya karena mantan pemain tapi itu tidak benar karena kami ikut pelatihan dengan serius selama enam bulan,” sambung Brehme. Mempersembahkan titel Bundesliga bagi Kaiserslautern sebelum gantung sepatu ( fck.de ) Pada musim panas 2000, Brehme menerima lisensi pelatih A UEFA. Salah satu bos Kaiserslautern, Atze Friedrich, lalu memberinya penawaran melatih. “Dia menawarkan, apakah Anda mau jadi pelatih di Kaiserslautern?’ Tanpa pikir panjang saya langsung menerimanya. Saya prihatin kepada pelatih lama saya, Otto Rehhagel yang saya gantikan tapi masalahnya klub sedang berada di posisi kedua dari bawah di tabel liga. Di akhir musim, saya mampu memulihkan klub dan finis posisi kedelapan dan bahkan mencapai semifinal Piala UEFA,” tambahnya. Namun karena masalah kesehatan, Brehme tak lama menjalani karier di tepi lapangan. Setelah sempat menukangi tim medioker SpVgg Untraching (2004-2005) dan menjadi asisten pelatih di VfB Stuttgart (2005-2006) mendampingi Giovanni Trappttoni, Brehme “pamit” dari pentas kompetitif hingga pada 20 Februari 2024 malam, ia wafat di usia 63 tahun. “Saya tidak mempercayainya. Sedih rasanya mendengar kabar wafatnya Andreas yang tiba-tiba. Andi pahlawan Piala Dunia kami tapi lebih dari itu, ia sahabat baik saya. Saya akan sangat merindukannya,” tukas Völler yang kini menjabat direktur olahraga timnas di laman resmi federasi , 20 Februari 2024. Baca juga: Obituari: Kerikil Bernama Nobby Stiles
- Indian Soldiers Defected to Indonesia
AFTER the Japanese left Medan, the Allied troops arrived. They came to free prisoners of war as well as to disarm the remaining Japanese. The first contingent of Allied troops came from the 4th Brigade of the Indian Division which entered Medan on October 9, 1945.
- A Sip of the Story of Toraja Coffee
JABIER Amin is always happy and excited whenever his eyes feast on the lush plantation while inspecting the trees, examining the fruits, and supervising the pickers and the process of sorting the coffee beans. In his old age, he begins to ask himself about the charm of coffee which always makes time go unnoticed.
- Murid Westerling Tumbang di Jogja
NATAL tahun 1948 agaknya hampir pasti dilewatkan oleh Prajurit Akuluhiluh dan rekannya Alfred Lapian. Tugas penting ke Yogyakarta telah menanti kedua prajurit berbaret hijau tersebut beberapa hari sebelum Natal. Akuluhiluh maupun Alfred merupakan serdadu pasukan elite Korps Speciale Troepen (KST). Pelatih KST terkenal adalah Kapten Raymond Paul Pierre Westerling, yang –sempat juga memimpin KST– terkenal sebagai “Jagal” Sulawesi Selatan dan pemimpin Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung. “Sebagai bagian dari KNIL ada ‘pasukan-pasukan khusus’, komando-komando yang jumlahnya tidak pernah lebih dari seribu, tetapi mempunyai arti yang sangat penting, yaitu pasukan Depot yang kemudian menjadi Depot Speciale Troepen/Korps Speciale Troepen (DST/KST). Berbeda dengan angkatan bersenjata bagian Belanda, pasukan KNIL termasuk DST/KST di segi etnis beragam, setidaknya mereka yang berpangkat rendah,” tulis Gert Oostindie dkk. dalam Serdadu Belanda di Indonesia, 1945-1950: Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah . Baca juga: Murid Westerling Tumbang di Jogja Akuluhiluh tinggal di tangsi KST yang terletak di Purabaya, Batujajar, Cimahi, Jawa Barat. Dia satu dari ratusan anggota KST di sekitar Bandung. Arsip OGS menyebut, dia berasal dari Ambon, Maluku. Nomor stamboeknya sebagai anggota KNIL adalah 24714127. Pangkatnya adalah prajurit kelas satu. Keluarganya juga tinggal di tangsi Purabaya. Di tangsi itulah Akuluhiluh punya teman bernama Alfred Lapian, yang berasal dari Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Keduanya sama-sama prajurit rendahan. Alfred yang kelahiran 11 Maret 1927 lebih muda dari Akuluhiluh. Sudah tentu Akuluhiluh juga punya kawan yang berasal dari Belanda. Namun, “kehangatan” kehidupan sosial di tangsi terpaksa mereka tinggalkan dulu. Sebelum Natal 1948, Alfred dan Akuluhiluh diikutkan dalam sebuah misi besar. Mereka diberangkatkan ke Semarang. Sekitar 15 Desember 1948, ketika mereka tiba di Semarang, keadaan cukup tenang bagi militer Belanda. Baca juga: Murid Westerling Tewas di Parepare Jelang pagi 19 Desember 1948, kompi-kompi KST disiapkan untuk naik pesawat Dakota. Setelah terbang sebentar dari Semarang, pesawat yang membawa KST itu mendarat di Maguwo, pinggiran kota Yogyakarta. Pesawat itu bisa mendarat tanpa gangguan setelah pasukan para baret merah yang sebelumnya terjun payung berhasil merebut bandara tersebut. Setelah keluar pesawat, Akuluhiluh dan Alfred naik jip militer –yang juga keluar dari pesawat– ke dalam kota Yogyakarta. Misi mereka yakni menduduki Yogyakarta yang merupakan ibukota Republik Indonesia. Dalam hitungan jam, pasukan tersebut sudah mencapai istana Presiden Sukarno, Istana Gedung Agung, di selatan Malioboro. Mereka berhasil menduduki ibukota RI dan mengasingkan para pejabat, termasuk Presiden Sukarno, ke dua tempat di Sumatra. Setelah misi berhasil, pasukan para Belanda itu keluar Yogyakarta, sedangkan pasukan baret hijau sebagian ada yang bertahan. Baca juga: Mayor Belanda Tewas di Parepare, Westerling Ngamuk Esoknya, 20 Desember 1948, sepasukan KST bergerak ke sebuah daerah yang disebut Kampung Salem. Pergerakan KST ke situ untuk operasi pembersihan terhadap sisa-sisa tentara RI yang jumlahnya masih banyak dan ingin bergerilya meski ibukota sudah diduduki dan para pejabatnya ditangkapi. Dalam operasi di Kampung Selam itu, Kopral Johannes Josephus Petrus van der Made, yang berusia 32 tahun, terbunuh. Pada hari yang sama dengan kematian Kopral Johannes, Akuluhiluh sedang berjuang antara hidup-mati. Dia tertembak dalam operasi pendudukan Yogyakarta sehari sebelumnya. Akuluhiluh langsung dibawa ke Semarang dan mendapat perawatan medis di RS Juliana (kini RS Bhakti Wira Tamtama). Hari penyerbuan Yogyakarta, yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II, ternyata menjadi hari terakhir Akuluhiluh sadar. Pada 20 Desember 1948, ajal menjemputnya. Selang sehari kemudian, 21 Desember 1948, satu korban jatuh lagi dari KST di Kampung Salem. Kali ini, Prajurit Alfred Lapian, kawan Akuluhiluh. Dia tertembak, namun bukan oleh lawan melainkan oleh kawannya ( friendly fire ). Alfred dengan segera dibawa ke rumahsakit Petronella (RS Bathesda) Yogyakarta. Alfred juga tak tertolong. Dia meninggal dunia ketika usianya masih 22 tahun. Seperti Akuluhiluh, Alfred juga kemudian dimakamkan di Ereveld Candi, Semarang.*
- Ketika Komedian Mencalonkan Diri Jadi Presiden
PADA 17 Mei 1928, publik Amerika Serikat dibuat penasaran oleh pengumuman di majalah Life . Pasalnya, sebulan sebelum Partai Republik dan Partai Demokrat mengadakan konvensi pemilihan presiden, majalah mingguan bertema humor yang populer tahun 1920-an itu lebih dulu mengumumkan bahwa Partai Anti-Bunk akan mengusung seorang tokoh menjadi calon presiden. Seminggu setelahnya, Will Rogers, seorang komedian terkenal, diumumkan sebagai kandidat presiden dari Partai Anti-Bunk. Satu minggu kemudian, dia menyampaikan sambutan yang menandai dimulainya kampanye. Pencalonan Rogers sesungguhnya hanya lelucon, namun Life mengemas proses pencalonan dan kampanyenya dengan serius tetapi penuh canda. Seperti kampanye calon presiden pada umumnya, majalah itu menampilkan berbagai berita baru terkait kampanye Rogers, ilustrasi, surat kepada editor, konten editorial, iklan, hingga jajak pendapat, serta dukungan kepada calon presiden. Baca juga: Iklan Kampanye dan Kemenangan Eisenhower dalam Pilpres AS Life juga memasang foto Rogers pada pin-pin kampanye lengkap dengan slogan “ He Chews to Run ,” plesetan dari pernyataan Presiden AS ke-30 John Calvin Coolidge ketika mendapat pertanyaan dalam pilpres periode sebelumnya, dia menjawab, “Saya tidak berencana untuk mencalonkan diri”; serta kegemaran Rogers mengunyah ( chews ) permen karet. Kemunculan Rogers dalam kampanye pilpres di majalah Life menghebohkan publik. Alasannya, selain dikenal sebagai komedian tersohor, pria yang piawai melontarkan kritik sosial berbalut humor itu beberapa kali ditawari mencalonkan diri sebagai pejabat publik, tetapi dia tidak tertarik. Pada konvensi Partai Demokrat tahun 1924 misalnya, dua delegasi Arizona mendukung Rogers untuk mencalonkan diri. Selain itu, pada Februari 1928 dia menulis pernyataan “saya tidak berniat untuk terlibat dalam pertempuran politik dalam bentuk apapun selama musim gugur 1928.” Menurut Steven K. Gragerts dalam “He Chews to Run”: Will Rogers’ Life Magazine Articles, 1928, maksud pernyataan Rogers itu untuk meredam gerakan yang sedang berkembang di negara bagian asalnya, Oklahoma, yang berniat mencalonkan dirinya sebagai kandidat presiden. “Pernyataan itu mungkin memang yang diinginkannya –setidaknya untuk saat ini. Namun, lima bulan kemudian, Rogers benar-benar menjadi calon presiden, meskipun hanya sebagai kandidat yang bercanda dan tidak berasal dari kelompok politik biasa, tetapi dari jenis yang paling tidak biasa –Partai Anti-Bunk– yang didedikasikan untuk tujuan tunggal memerangi ‘ bunk (omong kosong, red .) dalam segala bentuk’,” tulis Gragerts. Baca juga: Empat Pilpres Kontroversial Amerika Ide membuat lelucon itu berasal dari editor majalah Life , Robert E. Sherwood dan direktur seninya, Fred P. Cooper, sementara Rogers mengusulkan nama partai yang mengusungnya.Ketika Sherwoodmenawarkan ide ini kepada Rogers, komedian tersebut setuju untuk menulis serangkaian artikel mingguan yang akan memuat pidato kampanye dan program-programnya. Sebagai imbalannya, Life akan membayar Rogers sebesar US$500 per edisi, yang disebut oleh Sherwood sebagai “uang yang sangat banyak untuk Life .” Setelah mencapai kesepakatan, Rogers mulai menulis gagasan-gagasannya yang ditampilkan oleh Life di bawah berita utama, yang mengumumkan serangkaian kebijakan anti-kebohongan. Di bawah tajuk “Kandidat Kami Menghina Para Pemilih” misalnya, Rogers mengomentari pernyataan Franklin Roosevelt, tokoh yang sedang naik daun dari Partai Demokrat. Roosevelt muda menyatakan bahwa klaim Partai Republik bahwa mereka adalah partai kemakmuran adalah salah dan orang Amerika terlalu pintar untuk disesatkan lagi oleh omong kosong seperti itu. Menanggapi pernyataan Roosevelt, Rogers berkata, “dari semua omong kosong yang diberikan selama kampanye, yang terbesar dari semuanya adalah mencoba memuji pengetahuan pemilih dan mengatakan bahwa dia tidak bisa dibodohi seperti dulu.” Selama melakukan kampanye, Rogers hanya membuat satu janji kepada para pembacanya, yakni “Jika saya terpilih, saya akan mengundurkan diri.” Elizabeth Rider Montgomery dalam Will Rogers: Cowboy Philosopher menyebut kampanye Rogers itu disambut positif oleh publik Amerika. Baca juga: Lembaga Survei Terkenal Salah Memprediksi Pilpres AS “Orang-orang mulai mengatakan bahwa Will Rogers akan menjadi presiden yang baik. Rogers sendiri menertawakan ide tersebut. Dia juga menertawakan permintaan untuk mencalonkan diri sebagai gubernur Oklahoma, senator Amerika Serikat, dan duta besar untuk Meksiko,” sebut Montgomery. Besarnya perhatian publik terhadap kampanye Rogers membuat majalah Life dibanjiri surat dukungan serius pencalonan Rogers sebagai kandidat presiden AS. Salah satu surat bahkan berasal dari Henry Ford, seorang industrialis, yang mengatakan bahwa kampanye Anti-Bunk adalah “upaya serius untuk mengembalikan akal sehat Amerika ke dalam politik Amerika.” Walaupun pilpres AS 1928 dimenangkan oleh Herbert C. Hoover dari Partai Republik, dalam edisi setelah pemilu pada November 1928, Life mengumumkan bawa Will Rogers terpilih sebagai presiden AS oleh “ silent majority ”, yaitu para pemilih yang tidak puas dengan hasil pilpres. Sesuai janjinya, Rogers pun segera mengundurkan diri. Baca juga: Saling Serang Lewat Iklan Mark Stein dalam The Presidential Fringe: Questing and Jesting for the Oval Office menyoroti kemunculan Will Rogers sebagai kandidat presiden palsu yang melakukan kampanye lelucon. Stein mengutip pendapat Bridgeport Post di Connecticut, “Tak seorang pun yang dapat melihat dengan jelas para politisi di Washington selain Rogers. <…> Sebagai presiden, dia tentu tidak akan takut pada Senat; Senatlah yang akan takut padanya. Setiap kali salah satu anggota Senat mulai berulah, Rogers akan mengeluarkan komentar tajam yang mungkin terdiri dari sepuluh kata dan mengempiskannya.” slot pulsa Sementara itu, menurut Bryan B. Sterling dan Frances N. Sterling dalam Will Rogers’ World: America’s Foremost Political Humorist Comments on the ‘20s and ‘30s– And ‘80s and ‘90s , terlepas dari nama Rogers yang masuk nominasi pada konvensi nasional Partai Demokrat tahun 1928 dan 1932, “karier Will Rogers dalam politik” telah mencapai puncaknya. Dia menolak setiap dan semua upaya untuk menariknya ke dalam partisipasi aktif. Seperti yang dia katakan kepada orang-orang Oklahoma yang mencoba mengusungnya, “ketika itu dilakukan sebagai lelucon tidak masalah, tetapi ketika dilakukan dengan serius, itu menyedihkan. Kita sudah terbiasa dengan semua orang yang disebut sebagai kandidat presiden, namun negara ini belum sampai pada tahap seorang komedian yang serius. Tidak ada bujukan yang akan membuat saya cukup bodoh untuk mencalonkan diri sebagai pejabat politik. Saya ingin berada di luar, di mana saya bisa berteman dengan melawak dengan mereka semua, bahkan presiden sekalipun.”*
- Gambar Partai Dilumuri Tahi
Pesta demokrasi Pemilihan Umum 2024 baru saja usai. Rakyat sudah mencoblos dan memilih presiden serta anggota legislatif untuk lima tahun ke depan. Meski KPU masih menghitung perolehan suara resmi, pasangan calon nomor 2 Prabowo-Gibran diperkirakan memenangkan kontestasi. Banyak serba-serbi cerita yang terjadi di bilik suara maupun selama proses perhitungan suara di TPS. Di Jawa Timur, kertas suara untuk calon legislatif di coret-coret oleh seorang pemilih. “KORUP SEMUA CAPE ASLI,” begitu isi coretannya yang memenuhi kolom pencoblosan. Tulisan “KORUPTOR :)” juga terdapat di kertas suara TPS wilayah Bedahan, Kecamatan Sawangan, Depok. Sementara itu, di tingkat DPD, nama komedian Alfiansyah Bustami alias Komeng merajai perolehan suara di daerah pemilihan Jawa Barat. Saban kali nama Komeng dicoblos dalam perhitungan suara, serentak orang-orang sekitar TPS berteriak “UHUUUII,” yang menjadi ciri khas Komeng ketika membawakan acara komedi Spontan. Itulah sekelumit kejadian unik pada pemilu tahun ini. Pada Pemilu 1955, insiden yang menggelitik bahkan sudah terjadi sebelum pemilu dihelat. Namun, peristiwa ini berbau tidak sedap. Bukan coretan, tapi kotoran berupa tinja dijadikan alat perang urat syaraf. Seperti itulah yang terjadi di Kampung Tanah Sereal, Kelurahan Krukut, Jakarta Barat. Di kawasan itu, alat-alat peraga kampanye berseliweran menghiasi jalanan. Kebanyakan adalah gambar lambang partai yang ditempel di sana-sini. Baca juga: Jakarta Kota Tinja Sekali waktu, kedapatanlah bahwa salah satu tanda gambar partai dilumuri tahi oleh orang-orang nakal bin culas. Perbuatan itu dilakukan pada malam hari dan baru ketahuan waktu pagi kemudian. Tentu saja para pengikut dari partai yang tanda gambarnya dilempari kotoran menjadi marah. Tapi, mereka hanya bisa mengelus dada. Tidak diketahui siapa orang yang berbuat kurang ajar demikian. Jengkel sudah kepalang. Namun, orang yang diburu tak kunjung tampak batang hidungnya. Kemarahan lantas ditimpakan kepada partai lain yang tanda lambangnya ditempel berdekatan dengan gambar partai yang dilumuri tahi. Jadilah tanda gambar partai kompetitor itu penuh kotoran juga. Para pengikutnya pun ikut meradang. Masyarakat sekitar jadi penasaran. Dalam waktu berdekatan dua tanda gambar partai yang menjadi alat peraga kampanye sama-sama berlumuran tahi. Karena dilakukan pada malam buta, sulit mengungkap siapa orang di balik aksi ugal-ugalan itu. Teknologi untuk memantau seperti CCTV pada saat itu belum ada. Baca juga: Tafsiran dan Ejekan Lambang Partai Seperti bersiap-siap mau perang, para pengikut partai yang bersangkutan lantas melakukan ronda. Pada malam hari, mereka mondar-mandir di tempat tempelan gambar partai yang belum kelumuran najis. Ronda malam ini dimaksudkan supaya alat peraga kampanye mereka tidak dilumuri kotoran lagi. Begitu pula dengan pengikut partai yang satunya lagi. Mereka juga merasa berkewajiban membela tanda gambar partai mereka dari ulah orang-orang usil. Maka terjadilah ronda kontra ronda. Antar-pengikut partai saling mengintai saru sama lain. Namun, karena masing-masing menjaga dan dijaga, lantas tiada lagi yang berani main lempar-lemparan tahi. Maka selamatlah alat peraga kampanye mereka yang ditempel di tembok-tembok, tiang-tiang jalan, dan sudut-sudut gang. Semua itu berkat kesungguhan para pengikut partai yang saban malam melakukan ronda istimewa. Peristiwa ini pun jadi ada hikmahnya. “Dan karena perondaan terus-menerus itu, kampung tersebut menjadi aman, tidak ada maling yang berani masuk ke sana! Gara-gara tanda gambar partai,” demikian diberitakan Majalah Minggu Pagi , No.47, 20 Februari 1955. Baca juga: Insiden Menghebohkan di Stasiun Kroya Pemilu 1955 berlangsung di bulan September. PNI, Masyumi, NU, dan PKI jadi partai pemenang pemilu dengan raupan suara terbanyak. Secara umum, pemilu pertama di Indonesia ini berjalan aman, lancar, dan damai. Kendati terselip pula sekelumit insiden saling sikut seperti kasus di Tanah Sereal tadi, turut mewarnai jalannya pemilu.





















