top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • The Birth of Indonesia's Own Currency

    IN a meeting with Vice President Mohammad Hatta in September 1945, Sjafruddin Prawiranegara, a member of the Working Committee of the Central Indonesian National Committee or KNIP, proposed that the government of the Republic of Indonesia issue its own currency to replace the Japanese one. Indonesia’s own currency was important not only as legal tender but also as a symbol of an independent and sovereign state. At first, Bung Hatta was hesitant, but after a long discussion, he finally agreed. The realization, however, took quite some time due to the lack of funds and experts.

  • Saul, Raja Israel yang Berakhir di Tangan Bangsa Filistin

    Setelah berhasil mengalahkan Goliat, Daud terus berperang menghadapi bangsa Filistin di bawah pimpinan Raja Saul. Dalam setiap pertempuran, Daud selalu meraih kemenangan. Ketika pulang dari medan perang, segenap rakyat Israel dari penjuru kota keluar menyongsong rombongan Raja Saul. Para perempuan menari-nari sambil bernyanyi. Dengan bersuka ria, mereka menabuh rebana yang berbunyi gemerincing. “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa,” perempuan Israel bersenandung sahut-menyahut. Tempik sorak kemenangan itu justru mendatangkan mendung di dalam hati Saul. “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkan beribu-beribu,” demikian pikirnya seperti tercatat dalam 1 Samuel 18:7. Sejak itulah Saul mendengki kepada Daud. Baca juga:  Di Balik Kemenangan Daud atas Goliat Saul adalah raja pertama bangsa Israel kuno. Sebelumnya, bangsa Israel dipimpin seorang hakim yang bertindak sebagai pengatur atas 12 suku Israel sejak memasuki tanah Kanaan. Menjelang pengurapan Saul, bangsa Israel dalam keadaan terdesak oleh ancaman bangsa-bangsa lain, terutama bangsa Filistin. Sementara itu, hakim terakhir bangsa Israel Samuel sudah semakin sepuh untuk memimpin rakyat apalagi bertempur. Kedua anak Samuel juga dipandang sebagai hakim yang korup. Orang-orang Israel kemudian menuntut Samuel untuk menghadirkan seorang raja di antara mereka. Selain sebagai pemimpin, keberadaan seorang raja akan menyejajarkan Israel dengan bangsa-bangsa lain. Peringatan Samuel bahwa seorang raja akan menuntun Israel ke dalam peperangan dan penindasan tidak begitu digubris. Pilihan untuk sosok raja itu jatuh kepada Saul, putra Kish yang berasal dari Suku Benyamin.   Menurut sejarawan Susan Wise Bauer, di balik tuntutan untuk diperintah seorang raja, bangsa Israel agaknya terpikat pada bangsa Mesir, satu-satunya kerajaan yang dapat memukul telak orang Filistin. Mereka ingin menjadikan seorang keturunan Benyamin bernama Saul sebagai raja dan panglima. Agar dengan demikian, Saul dapat memimpin mereka menuju kemenangan militer. “Walaupun diberikan peringatan, Saul dielu-elukan sebagai raja dan panglima. Seketika itu juga ia mulai menyusun serangan melawan orang Filistin,” catat Susan dalam Sejarah Dunia Kuno: Dari Cerita-cerita Tertua sampai Jatuhnya Roma . Baca juga:  Goliat yang Gagah dari Filistin Saul digambarkan sebagai orang muda yang elok rupanya. Kitab 1 Samuel 9: 2 menekankan bahwa tiada seorangpun di antara orang Israel yang lebih elok daripada Saul. Dari bahu ke atas, Saul lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya. Kecakapan Saul dalam memimpin dibuktikannya ketika membebaskan penduduk kota Yabes-Gilead dari kepungan bangsa Amon. Saat itu, bangsa Amon berusaha merebut Yabes-Gilead yang terletak di sebelah timur Sungai Yordan. Saul bertindak cepat dengan memobilisasi suku-suku Israel dalam waktu singkat dan membebaskan kota tersebut. Peristiwa itu melambungkan nama Saul. Dalam suatu upacara di Gilgal, Saul dikukuhkan sebagai raja Israel pertama. Setelah penobatannya, Saul berperang menghadapi bangsa-bangsa musuh Israel. Kendati prajuritnya lebih banyak dihimpun dari sukarelawan, Saul mencatatkan kemenangan gemilang atas Moab, bani Amon, Edom, dan raja-raja negeri Zoba. Dari semuanya, peperangan menghadapi bangsa Filistinlah yang paling hebat dan meletihkan Saul. Bangsa Filistin menguasai teknologi pengolahan besi dan logam. Itulah sebabnya orang Israel kesulitan memperoleh senjata perang. Hanya Saul dan putra sulungnya, Yonatan, yang memiliki senjata lembing di antara orang Israel. Orang-orang Filistin juga menguasai sebagian tanah Israel. Gibea yang menjadi kota Saul bahkan sempat diduduki orang-orang Filistin. Situasi berubah sewaktu Yonatan mengalahkan dan mengusir orang-orang Filistin dari Gibea. Ibukota pemerintahan Saul di Gibea, menurut catatan para arkeolog, merupakan benteng pedesaan yang sederhana.  Baca juga:  Tokoh Yosua dalam Alkitab Selain Yonatan, yang mengepalai sejumlah angkatan perang, Saul dibantu oleh sejumlah pemuka. Abner, saudara sepupunya, menjadi panglima perang. Sementara itu, Samuel yang mengurapi Saul berperan sebagai penasehat spiritual terpercaya. Adapun seorang gembala bernama Daud ditugaskan melayani Saul sebagai pemain kecapi dan pembawa senjata. Penulis sejarah Israel David F. Hinson mencatat seluruh masa pemerintahan Saul adalah masa yang penuh dengan peperangan. Bangsa Filistin terus-menerus menjadi ancaman bagi bangsa Israel. Di samping itu, musuh-musuh Israel yang lain pun semakin meningkatkan kegiatan mereka di Palestina. Kitab 1 Samuel 15 menggambarkan pecahnya perang antara Israel melawan bangsa Amalek, salah satu suku pengembara di padang gurun. Hal ini membuat Saul harus terus memimpin pasukannya dari peperangan yang satu ke peperangan yang lain. “Keadaan seperti ini jelas menguras tenaga dan pikirannya, membuat ia semakin lama semakin mengalami ketegangan jasmani dan kejiwaan yang amat dalam sehingga akhirnya ia menunjukkan gejala depresi yang kuat,” ungkap Hinson dalam History of Israel . Baca juga: Melacak Akar Bipolar Sementara itu, menurut teolog J. Blommendaal dalam Pengantar Kepada Perjanjian Lama , setelah bertahun-tahun menjadi raja, Saul menderita penyakit murung (melankoli). Penyakit tersebut hanya bisa diredakan jika dia mendengar musik kecapi. Saul menjadi lekas panas hati, terlebih setelah Daud muncul sebagai pahlawan dalam mengalahkan Goliat. Alkitab mencatat Saul beberapa kali berupaya membunuh Daud. Kendati demikian, Daud menghindari suatu perang terbuka dengan Saul. Daud tetap menghargai Saul sebagai raja yang diurapi untuk memimpin bangsa Israel. Kejatuhan Saul ditandai oleh sejumlah peristiwa perselisihannya dengan Samuel. Mulai dari kelancangan Saul mengambil alih peran Samuel untuk mempersembahkan korban bakaran. Kemudian, Saul juga merasa berhak memutuskan apa yang harus diperbuat terhadap para tawanan, binatang dan harta benda yang dirampas dalam peperangan dengan bangsa Amalek. Padahal, Samuel memerintahkannya untuk menumpas habis bangsa Amalek tanpa sisa. Samuel menyatakan bahwa Saul telah kehilangan perkenan Tuhan.  Dalam pertempuran terakhir dengan bangsa Filistin di Lembah Yizreel, pasukan Saul mengalami kekalahan. Ketiga putra Saul, yaitu Yonatan, Abinadab, dan Malkisua gugur dalam pertempuran. Saul yang luka berat akibat terkena panah pejuang Filistin kemudian memilih mati bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya ke atas pedang. Keesokan harinya, orang-orang Filistin menemukan jenazah Saul bersama ketiga anaknya di Pegunungan Gilboa. Mereka kemudian memancung kepala Saul dan merampas senjata-senjatanya. Orang-orang Yabes-Gilead susah payah berjuang mengambil mayat Saul dan ketiga anaknya untuk dimakamkan di Yabes. Baca juga:  Eleazar, Imam Besar Bangsa Israel Masa pemerintahan Saul berlangsung selama 40 tahun (1050–1010 SM). Diperkirakan, Saul menjadi raja selama 18 tahun semasa Samuel masih hidup, dan kemudian memerintah sendirian selama 22 tahun. Daud selanjutnya menggantikan Saul sebagai raja Israel yang kedua. Kendati riwayatnya berakhir tragis, Saul diakui sebagai pejuang yang gigih mempertahankan Israel dari ancaman bangsa-bangsa sekitarnya. Kidung ratapan yang dinyanyikan Daud dalam 2 Samuel 1: 23—24, mengenang kepahlawanan Saul juga Yonatan.  “Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa. Hai anak-anak perempuan Israel, menangislah karena Saul, yang mendandani kamu dengan pakaian mewah dari kain kirmizi, yang menyematkan perhiasan emas pada pakaianmu.”

  • Pembantaian di Puri Cakranegara

    WARISAN benda bersejarah Indonesia asal Pulau Lombok untuk kesekian kalinya dipulangkan dari Belanda. Sebanyak 335 harta karun Lombok jadi bagian dari 472 benda bersejarah yang direpatriasi, di mana serah terimanya sudah diresmikan pada 10 Juli 2023 silam. Sebelumnya, Kakawin Nāgarakṛtâgama yang diangkut ahli sastra Dr. Jan Laurens Andries Brandes dari Lombok ke Belanda, juga sudah dipulangkan ke tanah air pada 1970-an berbarengan dengan mahkota Lombok. Ratusan harta karun Lombok itu juga turut ditampilkan dalam pameran di Museum Nasional Jakarta sepanjang 27 November-10 Desember 2023. “Ada persetujuan kebudayaan (RI-Belanda) 1968, lalu dibentuknya komite 1975 dan dari Belanda itu mulai dikembalikan naskah Nāgarakṛtâgama dari Mpu Prapanca. Dikembalikan 1978 (bersamaan) arca Pradnyaparamita, naskah-naskah Lombok, Mahkota Lombok, dan beberapa benda milik Pangeran Diponegoro,” ujar I Gusti Agung Wesaka Puja, ketua Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda dalam program “Dialog Sejarah: Ada yang Mau Pulang” di akun Youtube Historia.id , 28 Juli 2023. Ratusan harta karun dan kitab kuno itu merupakan benda bersejarah hasil rampokan Belanda kala melancarkan ekspedisinya pada akhir 1894. Ekspedisi tersebut mengakhiri kekuasaan para raja Bali di Pulau Lombok. Baca juga: Melongok Harta Karun Lombok Beberapa harta karun Lombok yang dipulangkan ke Indonesia (Riyono Rusli/Historia) Ekspedisi Diplomasi, Ekspedisi Pembalasan Pulau Lombok sejak paruh kedua abad ke-19 dikuasai para bangsawan Bali-Mataram atau kadang disebut Kerajaan Mataram Karangasem. Meski begitu, kekuasaannya tak lepas dari belenggu kolonialisme Belanda. “Pada 1843 pemerintah Hindia Belanda memiliki perjanjian dengan raja-raja Bali-Mataram yang menyebutkan pulau (Lombok) itu merupakan wilayah Hindia Belanda meski pemerintahan lokalnya diserahkan kepada para raja. Kendati begitu, Belanda selalu menaruh curiga dan khawatir mereka beraliansi dengan Inggris karena para raja Bali-Mataram memiliki kapal-kapal uap dan senjata api yang dibeli dari Singapura,” tulis Carsten Stahn dalam Confronting Colonial Objects: Histories, Legalities, and Access to Culture. Kesempatan untuk melakukan pasifikasi dan penaklukan total baru hadir pada 1891. Tepatnya ketika datang surat dari tujuh pelarian datu suku Sasak, penduduk muslim Lombok, kepada residen Bali Utara dan Lombok tertanggal 9 Desember 1891. Surat yang berisi keluhan akan penindasan para penguasa Bali-Mataram itu diteruskan ke pemerintah pusat Hindia Belanda di Batavia (kini Jakarta), hingga parlemen Belanda di Den Haag. “Para (penduduk) Muslim Sasak memberontak terhadap pajak yang tidak adil, eksploitasi, dan penindasan oleh penguasa Bali, Anak Agung Gde Ngurah Karangasem. Pemerintah kolonial lalu mendapat dukungan parlemen untuk intervensi, di mana langkah pertamanya Belanda memblokade jalur impor dan suplai senjata dari Singapura,” tambahnya. Baca juga: Pasang Surut Hubungan Islam-Hindu di Bali Konflik internal ini dianggap Belanda sebagai kesempatan untuk pasifikasi Lombok. Toh Belanda juga ingin menguasai secara total jalur perdagangan di perairan Bali dan Lombok sekaligus ekspansi kontrol politik. Maka Gubernur Jenderal Carel Herman Aart van der Wijck mengonsolidasi pasukan ekspedisi dari Batavia dan Surabaya untuk berangkat ke Lombok pada 30 Juni 1894. Sebagaimana diungkapkan ungkap Willard A. Hanna dalam Bali Chronicles: Fascinating People and Events in Balinese History, banyak dari anggota pasukaanya merupakan tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) veteran Perang Aceh. “Ekspedisinya dipercayakan di bawah komando Mayjen (Jacobus Augustinus) Vetter dengan Mayjen P.H. van Ham sebagai deputinya. Armada ekspedisinya berkekuatan empat kapal perang dan 11 kapal angkut. Pasukan daratnya terdiri dari 107 perwira Belanda, 1.320 prajurit (termasuk 175 kavaleri), 948 pasukan KNIL, 216 pelayan, 64 pengawas, dan 1.718 buruh paksa,” tulis Hanna. General-Major Jacobus Augustinus Vetter (tengah, duduk) bersama para para perwiranya di pasukan ekspedisi (Wikipedia) Kekuatan Belanda itu jelas tak sebanding dengan jumlah pasukan Raja Agung Ngurah Karangasem. Catatan Kapten W. Cool dalam De Lombok Expeditie , Kerajaan Mataram Karangasem setidaknya memiliki 6.000 prajurit ditambah pasukan bantuan dari Bali pimpinan Gusti Jelantik berkekuatan 2.000 prajurit dengan persenjataan modern. Armada ekspedisi Belanda tiba di pesisir Lombok pada 5 Juli 1894. Tak ingin terlibat konfrontasi langsung, Jenderal Vetter lebih dulu mengirim utusan yang membawa ultimatum buat Raja Agung Ngurah Karangasem di Puri Cakranegara. “Ultimatumnya berisi beberapa syarat, termasuk di antaranya pengalihan kekuasan raja kepada putranya, Anak Agung Petut (Ketut, red. ) yang dianggap lebih kooperatif dengan kepentingan-kepentingan Belanda. Syarat lainnya adalah pengaturan untuk membuat perjanjian baru dengan pemerintah kolonial dan membayar ganti rugi ongkos ekspedisi,” sambung Stahn. Baca juga: Pasang-Surut Hubungan Bali dengan Bangsa Asing Jenderal Vetter menuntut pesan itu dijawab pada 6 Juli saat matahari terbenam. Raja Agung Ngurah Karangasem lantas mengirim utusannya untuk meminta penundaan selama tiga hari. Tapi karena Jenderal Vetter bersikukuh pada deadline ultimatum pertamanya, ia memerintahkan pasukannya mendarat di Ampenan pada 7 Juli. “Dalam perjalanan dari Ampenan menuju Puri Cakranegara, pasukan Jenderal Vetter bertemu pasukan Gusti Jelantik. Gusti Jelantik lalu terlibat pembicaraan yang hangat dengan para perwira Belanda dan berjanji akan menemui mereka lagi selepas Gusti Jelantik menemui raja dan (putra mahkota) Gusti Made,” sambung Hanna. Anak Agung Ketut (kiri) dan Gusti Jelantik (Wikipedia) Pasukan Belanda lagi-lagi memberi ultimatum kepada Gusti Jelantik dan raja dengan tenggat waktu 11 Juli. Menjelang jatuh tempo ultimatum, akhirnya datang utusan dari Puri Cakranegara. Raja akhirnya menerima tuntutan Belanda dan memerintahkan putranya, Anak Agung Gusti Made, yang menentang Belanda serta mengotaki penindasan rakyat Sasak, untuk melakukan bunuh diri. Sesuai tuntutan awal, Anak Agung Ketut pun dijadikan penguasa baru Lombok pada 12 Juli 1894. Baca juga: Fotografer Bersaudara dalam Perang Lombok dan Aceh Di luar dugaan, Anak Agung Ketut kemudian justru berbalik 180 derajat memandang benci Belanda. Gegaranya ia membaca seluruh isi tuntutan Belanda dengan dibantu penerjemah. Sebelumnya, lantaran hanya bisa berbahasa Bali Anak Agung Ketut nyaris tak tahu apa-apa tentang tuntutan Belanda yang dituliskan dalam bahasa Melayu-Jawa. Anak Agung Ketut yang marah pun melancarkan serangan mendadak terhadap kamp-kamp pasukan Belanda di sekitar Puri Cakranegara pada senja, 25 Agustus 1894. Jenderal Vetter masih bisa kabur menyelamatkan diri, sementara deputinya, Jenderal Van Ham tewas. “Hampir 100 prajurit Belanda tewas dan 250 lainnya terluka. Sisanya ditawan, ditelanjangi, disiksa, dan dibunuh dengan brutal. Serangan itu menandai salah satu kekalahan paling memalukan Belanda di abad ke-19. Oleh media massa Belanda, peristiwa itu dicap sebagai ‘Pengkhianatan Lombok’,” lanjut Stahn. Lukisan serangan Belanda ke Puri Cakranegara karya Jan Hoynck van Papendrecht (Tropenmuseum) Gubernur Jenderal Van der Wijck yang mendengar kabar itu langsung naik pitam. Pasukan ekspedisi kedua segera ia kirim. Bala bantuan yang lebih besar untuk menyokong Jenderal Vetter itu tiba pada 1 September 1894. “Bala bantuan yang datang di bawah pimpinan (Jenderal) M. Segov dan Kolonel J.J.K. De Moulin yang diperkuat tentara dari Bangkalan di bawah pimpinan Letkol Raden Mayangkoro,” tulis buku Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat keluaran Depdikbud 1978. Hingga 29 September, pasukan Belanda memberangus kubu-kubu pertahanan Bali-Mataram. Pada 19 Oktober, mereka berhasil menempatkan moncong meriam-meriamnya mengarah ke kota Mataram. Selama pengepungan, Belanda membombardir Puri Cakranegara selama berminggu-minggu hingga 17 November. “Kejatuhan kota Mataram menjatuhkan moril pasukan Bali dan menimbulkan panik di Cakranegara. Banyak penduduk di Cakra yang ingin menyerah, yang lain berusaha mengungsi ke gunung-gunung, sebagian mencari perlindungan pada rakyat Sasak dengan berjanji masuk Islam,” tambah buku Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat. Baca juga: Banjir Darah di Puri Smarapura Baru pada 18 November pasukan Belanda merangsek masuk ke Puri Cakranegara. Raja Anak Agung Ketut ikut tewas dengan gagah berani di muka istananya. Sementara beberapa keluarganya, termasuk Anak Agung Karangasem, mengungsi ke pedalaman. Di hari itu, kota Mataram, Puri Cakranegara, dan segenap Lombok jatuh ke tangan Belanda. Bayarannya lima perwira dan 44 prajurit Belanda tewas, serta 106 lainnya terluka. Adapun di pihak Bali-Mataram tercatat 800 jiwa tewas dibantai Belanda di Puri Cakranegara. Seiring operasi-operasi “pembersihan” hingga Desember 1894, Belanda merampok harta kerajaan dan sejumlah naskah kuno, termasuk Kakawin Nāgarakṛtâgama , dari Puri Cakranegara. Sebagian dijual untuk menyantuni keluarga pasukan KNIL yang tewas, sebagian lagi diangkut ke Belanda. Baca juga: Selamatkan Negarakertagama dari Aksi KNIL

  • Lika-liku Memamerkan Karya Seni

    PAMERAN seni kini menjadi alternatif hiburan bagi masyarakat. Para pengunjung mendatangi tempat-tempat pameran seni, seperti Galeri Nasional Indonesia di Jakarta, saat akhir pekan. Namun, di balik pameran karya seniada proses panjang dalam mempersiapkannya, mulai dari memilih karya, mengurus peminjaman koleksi, hingga menjamin keamanan karya seni rupa tersebut selama proses persiapan hingga pameran selesai. Kurator Jejaring, Rimpang, Enin Supriyanto mengatakan dalam diskusi di Galeri Nasional Indonesia, pada Minggu, 29 Oktober 2023 malam, bahwa proses mempersiapkan pameran karya seni membutuhkan waktu yang tidak sebentar, karena mengumpulkan karya-karya yang akan dipamerkan, menghimpun datatentang karya-karya tersebut, dan menyusun narasinya, terbilang cukup sulit.Prosedur peminjaman koleksi juga susah-susah gampang.Apalagi bila karya atau arsip seni rupa berada di tanah air, baik di museum atau koleksi privat maupun milik negara. Enin berpengalaman dalam membuat pameran. Ia terlibat dalam pameran “Beyond the Dutch” di UtrechtCentraal Museum, Belanda, pada 2009, dan pameran “Power and Other Things” bagian dari festival seni Europalia 2017. Enin membagikan pengalamannya saat mempersiapkan dua pameran tersebut. Enin Supriyanto (kiri) dan Grace Samboh. (Amanda Rachmadita/Historia.ID). Pada 2008, Enin sebagai co-curator pameran di Utrecht menyisir segi-segi kesejarahan yang menunjukkan keterhubungan maupun keterputusan perkembangan seni rupa Indonesia dan Belanda hingga awal abad ke-20. “Dengan cakupan seperti itu, dapat dibayangkan ada banyak sekali karya yang harus dipinjam, termasuk beberapa karya dari Indonesia maupun Belanda. Walau proses penelusuran data karya-karya itu cukup mudah, tetapi kesulitannya justru saat menelusuri keberadaan dan kondisi karya-karya seni tersebut,” kata Enin yang menjadi anggota dewan kurator Pekan Kebudayaan Nasional 2023. Baca juga:  Menyesapi Cerita-Cerita Tersembunyi di Pameran Revolusi! Kesulitan lain memastikan karya-karya seni itu dapat dipinjam dan mencari informasi mengenai prosedur peminjaman koleksi tersebut. Sayangnya, dari sejumlah karya yang sudah dipilih, karya-karya koleksi pemerintah tidak dapat dipinjam. “Karena lembaga-lembaga tersebut tidak tahu prosedur apa yang harus mereka lakukan untuk meminjamkan karya ini agar bisa dipamerkan di luar negeri,” jelas Enin. Enin mengisahkan pengalamannya dua kali mendatangi Istana Bogor. Ia memeriksa lukisan-lukisan di sanasecara manual dengan melihat buku legger atau buku catatan.Jika dilihat dari tulisan tangan maupun tinta yang digunakan, buku itu berusia puluhan tahun. Setelah data berhasil disusun, pengurus koleksi di Istana meminta waktu untuk mencari karya-karya tersebut dan memastikan kondisinya layakdipamerkan. Waktu pameran yang semakin dekat membuat Enin hanya meminjam koleksi milik privat atau lembaga swasta. Salah satu karya seni yang dipamerkan dalam pameran “Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. (Amanda Rachmadita/Historia.ID). Enin kembali mendapat tawaran sebagai kurator pameran di festival seni Europalia. Pameran itu juga ingin menunjukkan sejarah perkembangan seni rupa Indonesia dari pertengahan abad ke-19 hingga kontemporer. Pengalaman kurang mengenakan pada 2008 membuatnya lebih dulu mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan selama proses persiapan pameran.Salah satunya mengusulkan dibuat surat perjanjian kerjasamaantara pemilik koleksi dengan penyelenggara pameran. Dengan surat perjanjian tersebut diharapkan lembaga-lembaga negara tak hanya memiliki prosedur untuk memamerkan karya di luar negeri, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengelola dan merawat koleksi-koleksi itu. Terlebih, bila mengacu pada aspeksejarah, karya-karya seni koleksi lembaga negara termasuk benda berharga yang dapat menjadi bagian dari diplomasi budaya di luar negeri. “Oleh karena itu, meski kembali gagal meminjam koleksi Istana untuk dipamerkan di Europalia, tetapi belakangan upaya untuk memiliki prosedur peminjaman karya mulai menjadi perhatian sejumlah pihak,” ungkap Enin. Baca juga:  Menikmati Pameran “Para Sekutu Yang Tidak Bisa Berkata Tidak” Dibandingkan dengan lembaga negara, kurator dan peneliti yang turut mendirikan kelompok riset Hyphen, Grace Samboh menyebut lembaga swasta memiliki kesadaran lebih besar dalam mengelola maupun merawat koleksi karya-karya seni. “Karena walaupun karya-karya seni tersebut tidak dipandang sebagai suatu kekayaan intelektual, tetapi koleksi tersebut dianggap sebagai sebuah aset yang berharga secara nilai,” sebutnya. Enin menambahkan, terbatasnya informasi yang dimiliki lembaga-lembaga negara mengenai koleksi seninya membuat mereka tak sadar tengah mengelola kekayaan yang luar biasa. “Sebagai upaya untuk mengetahui nilai berbagai karya seni kita bisa membuat valuasi tentang koleksi-koleksi itu yang dibandingkan dengan nilai pasar sekarang. Saya kira nilai seluruh koleksi bisa mencapai triliunan, terlebih kita tahu bahwa suatu karya seni seiring berjalannya waktu dihargai semakin tinggi. Hal ini menjadi alasan mengapa lembaga swasta menggolontorkan dana yang tidak sedikit untuk merawat koleksi karya seninya,” ungkap Enin. Salah satu karya seni yang dipamerkan dalam pameran “Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. (Amanda Rachmadita/Historia.ID). Di sisi lain, proses riset dan kerja pengarsipan karya seni juga menjadi penting.Hasilnya dapat digunakan sebagai dasar informasi berkaitan dengan cerita di balik pembuatan suatu karya seni, terlebih bila karya seni yang dipamerkan hasil reproduksi. Hasil riset atau pengarsipan umumnya menjelaskan tentang aliran dan gaya sang seniman, bahan-bahan yang digunakan, dan tahun pembuatan.Itu dapat menjadi acuan bagi publik untuk mengetahui dan membedakan karya asli dengan reproduksi. Tak hanya sebagai penunjang informasi mengenai karya seni yang akan dipamerkan,bagi Enin, pengarsipan dan riset juga berperan penting dalam membuka pengetahuan baru tentang sejarah seni rupa Indonesia. Baca juga:  Menjelajahi Era Jepang di Nusantara dalam Pameran Sakura di Khatulistiwa Diskusi ini merupakan bagian dari peluncuran katalog pameran “Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak”. Pameran itu sendiri telah digelar di Galeri Nasional Indonesia pada Januari hingga Maret 2022. Judul pameran yang diambil dari karya seniman S. TeddyDarmawan, “Paduan Suara yang Tidak Bisa Berkata Tidak” tahun 1997 ini menampilkan 150 objek yang terdiri dari karya, dokumen, arsip, dan foto dari koleksi Galeri Nasional Indonesia, Hamburger Bahnhof–Museum für Gegenwart–Berlin, MAIIAM Contemporary Art Museum, Singapore Art Museum, dan berbagai institusi dan kolektor lainnya. Selain itu , pameran ini merupakan upaya untuk memantik keragaman pembacaan, kemungkinan penulisan, dan pemahaman atas sejarah seni rupa di Indonesia melalui karya-karya dalam koleksi, sekaligus memaparkan hasil kerja sama antara empat kurator dari Thailand, Singapura, Indonesia, dan Jerman, yang diprakarsai dan didukung oleh Goethe-Institut. *

  • Dapat Cuti Malah Perang di Kampung

    Awal Mei 1958 menjadi masa menyenangkan buat sekira 70 anggota Batalyon R/758 di Palu. Mereka bisa bertemu sanak-saudara setelah mendapat cuti usai mempertaruhkan nyawa bertempur melawan pasukan Permesta. Pappang salah seorang di antara yang mendapat cuti itu. Namanya Samuel Tappang. Orang mengenalnya sebagai Pappang. Di tahun 1958 itu, dia sudah 10 tahun jadi tentara dan pangkatnya sudah Pembantu Letnan. Dia memimpin sebuah peleton di dalam Batalyon R/758. Setelah bertempur merebut bandara di Palu yang dikuasai Permesta, awal Mei 1958 Pappang termasuk yang dapat cuti mudik ke Tana Toraja. Bersama Hans Rombe, Sersan Kalimuddin, Yakobus Tandigala dan lain-lain, yang jumlahnya sekitar 70 orang, Pappang naik kapal dari Donggala ke Makassar. Dari Makassar, mereka naik truk ke Toraja. Sesampai di kampung halaman, ternyata mereka tak bisa lama-lama bersantai. Ada keadaan menyeramkan bagi kebanyakan orang Toraja kala itu. Kepala Staf Resimen Infanteri 23 di Pare-pare, Mayor Andi Sose, ingin masuk lagi ke Toraja dengan Batalyon 717. Alhasil pada 15 Mei 1958, di Tongkonan Pananian, Tana Toraja, dibentuk Barisan Komando Rakjat (BKR) dan Oenit Pertahanan Desa (OPD). Pappang masuk di dalamnya sebagai orang penting yang akan mengurus pertempuran. Pappang membagi pasukannya di banyak tempat. Para personel Batalyon R dijadikannya pemimpin kelompok tempur yang tersebar itu. Pappang sendiri memimpin pasukan induk yang bergerak ke mana saja yang ada pertempuran. Pappang, catat Sili Suli dalam Komandan Frans Karangan Dalam Gejolak Sejarah , pernah dilatih 8 bulan sebagai serdadu KNIL pada 1947 yang kemudian dikirim ke Jawa Timur. Pada 1950, dia naik kapal ke Sulawesi. Karena tak paham situasi politik, dia ikut Kompi Andi Azis dalam Andi Azis Affair 5 April 1950. Akhirnya, Papang ikut pasukan Frans Karangan masuk hutan ketika banyak veteran pejuang Sulawesi Selatan marah lantaran tak diterima masuk TNI. Sebelum menjadi komandan regu lalu peleton di bawah Frans Karangan, Pappang pernah bekerja di bawah Andi Azis dan Kahar Muzakkar. Para pemuda yang tergabung dalam OPD dan BKR sudah bersiap menyambut kedatangan Andi Sose dan Batalyon 717-nya. Mereka beruntung, satu kompi dari Batalyon R di Palu dikirim ke Toraja sebelum 20 Mei 1958 dan beberapa anggota satuan zeni dan artileri di sekitar Palopo siap membantu. Selain itu, menurut Barbara Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII , Batalyon 511 dari KODAM Brawijaya diam-diam juga memberikan bantuan senjata kepada pemuda-pemuda desa yang hendak bertempur melawan Andi Sose. “Pada tanggal 20 Mei, bertepatan denga hari Kebangkitan Nasional, rakyat mulai meninggalkan Kota Rantepao-Makale menuju ke daerah-daerah pedalaman. Besoknya dikirimkan ultimatum kepada pasukan RI-23 untuk meninggalkan Tana Toraja, namun tidak dihiraukan,” catat Diks Pasende dalam tulisannya di buku Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun 1950-an, “Politik Nasional dan Penguasa Lokal di Tana Toraja”. Tiga hari kemudian, orang-orang Toraja demonstrasi di Rantepao. Dari sana mereka berjalan ke Makale. Semua berjalan lancar tanpa pertumpahan darah. Pada 28 Mei 1958, keadaannya berbeda. Kontak senjata pecah antara anggota  717 dengan OPD. Kontak senjata itu dipicu oleh ketidakhadiran Pappang dan pemimpin Toraja lain dalam berunding dengan pihak KODAM Hasanuddin, Pangala, di Rantepao. Mereka diserang pasukan Andi Sose. Pertempuran terjadi berhari-hari. Setelah anak buah Pappang membunuh Pembantu Letnan NJ Narsan alias Nada di jembatan Sungai Maiting pada 5 Juni 1958, moril pasukan yang dipimpin Pappang jadi meningkat. Nada sendiri kawan Pappang. Dia bekas gerombolan di Mamasa yang masuk Batalyon 717. Maka Nada dimakamkan dengan baik. Setelah eberapa pertempuran sengit terjadi di sekitar Rantepao pada awal Juli 1958 dan pada 7 Juli 1958, barulah pengikut Andi Sose dipukul mundur dari Toraja. Setelah krisis di Toraja, Sersan Kalimuddin memimpin sebuah rombongan kembali ke Palu. Dalam perjalan pulang sempat dicegat pasukan DI. Sementara itu Pappang tidak kembali ke Palu. Dia menetap di Toraja hingga akhir hidupnya.

  • The End of Life of the Old Captain

    "FANTASTIC," exclaimed some high school students when they heard that Captain Westerling had arrived in the city of The Hague. Such euphoria and warm welcome was only natural for a patriotic soldier in those days. It was all still fresh in the memory of Peter Schumacher, one of the students in the city in the early 1960s whom Historia met at his home in Amsterdam. Schumacher is a former journalist and later became friends with Westerling.

  • Boengkoes, Tjakra Terakhir di Cipinang

    Gelombang reformasi yang melanda Indonesia sejak 1998 begitu dahsyat. “Tembok” tiran Orde Baru (Orba) pun sampai dihempasnya. Soeharto selaku pemimpin rezim Orba pun berhasil dijatuhkan. Kebebasan berpendapat yang sudah dibungkam selama sekira 3 dekade kembali muncul dan menjadi  salah satu hal terpenting yang dihasilkan Reformasi. Orang-orang yang sebelumnya dibungkam, seketika lantang bersuara entah lewat buku, media massa, atau forum-forum diskusi yang bermunculan di berbagai tempat. Di antara yang buka mulut itu, tersebutlah nama Boengkoes. Waktu pecah revolusi kemerdekaan Indonesia, usia Boengkoes masih 18 tahun. Dia tak ketinggalan ikut serta dalam revolusi itu. Sebagai prajurit rendahan, dia pernah berada di Batalyon Semut Merah dan Andjing Laut. Setelah revolusi melawan tentara Belanda selesai, dirinya terus bergabung ke dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat. Baca juga:  Kode Bahaya Masa Perang Kemerdekaan Di era 1950-an, dia ditugaskan di Ambon untuk menumpas gerakan Republik Maluku Selatan (RMS). Setelahnya, Boengkoes ditempatkan di Jawa Tengah. Dia kemudian terserap di pasukan elite Banteng Raider dan akhirnya Resimen Tjakrabirawa. Pangkatnya terus naik antara 1945 hingga 1965, dari prajurit dua sampai sersan mayor. Sersan Mayor (Serma) Boengkoes lalu dipercaya menjadi komandan peleton 1 dalam kompi C pada Batalyon Kawal Kehormatan I (KK-I) Tjakrabirawa. Komandan kompi C adalah Letnan Satu (Lettu) Dul Arief dan komandan batalyon mereka adalah Letnan Kolonel Untung. Pada 30 September 1965, Untung dan Dul Arief mengerahkan satu kompi pasukan dari batalyon yang dipimpin Untung. Boengkoes ada dalam kompi itu. Merekalah yang menjadi ujung tombak penculikan para jenderal, dinamakan pasukan Pasopati. Pasukan yang dipimpin Lettu Dul Arief itu menjadi bagian dari Gerakan 30 September (G30S) yang dikomandani Untung. Serma Boengkoes kebagian memimpin penculikan terhadap Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, yang sejak 1 Juli 1964 menjabat Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat. Bungkus memimpin 18 orang penculik. Mereka bergerak pada dini hari 1 Oktober 1965. “Sekitar pukul 04.30 dini hari kami sampai di Jalan Prambanan, rumah Jenderal Harjono. Saya langsung mengetuk pintu,” kata Boengkoes, dikutip Julius Pour dalam Gerakan 30 September . Alih-alih mendapat “pintu”, Boengkoes justru mendapat jawaban dari orang di dalam rumah bahwa dirinya supaya datang ke kantor sang jenderal pagi jam 08.00 bila ingin bertemu. Boengkoes tak terima. Baca juga:  Profil Pahlawan Revolusi: MT Haryono, Calon Dokter yang Memilih Jadi Tentara “Pintu langsung saya dobrak, kamar gelap, karena semua lampu telah dimatikan,” sambung Boengkoes. Upaya mematikan lampu dilakukan Harjono sebagai langkah pertahanan diri. Kendati tak mempercayainya, Harjono telah mendapat informasi tentang penculikan jenderal pada 28 September dari mantan Atase Militer Indonesia di Peking Jenderal Sudono. “Dalam satu dua hari ini hati-hati, akan ada penculikan terhadap sejumlah jenderal, kamu ikut dijadikan sasaran,” kata Sudono. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Harjono merespon Sudono. Dia hanya tertawa. Informasi itu dianggapnya hanya angin lalu sehingga dia tak melaporkan ke atasan ataupun mendiskusikannya dengan staf, apalagi menempatkan pasukan penjaga di kediamannya.   Toh, informasi yang diterima Harjono dari Sudono ternyata menjadi kenyataan. Dia yang sebetulnya tak siap,  mau tak mau mengupayakan perlawanan. Ketika para penculik datang, sang jenderal mematikan lampu dan mengungsikan anggota keluarganya ke belakang. “Haryono meloncat hendak merebut senjata dari tangan salah seorang prajurit tetapi gagal. Ia kemudian berusaha ke luar ke belakang melalui pintu di sudut kamarnya,” catat Raden Mas Subantardjo dalam Letnan Jenderal M.T. Haryono . Namun akhirnya Haryono tertusuk sangkur dan ditembak penculik dengan senapan mesin ringan stengun. “Tiba-tiba, sekelebatan terasa ada bayangan bergerak. Dengan gerak refleks pemicu senapan saya tarik, rentetan peluru segera meluncur. Jenderal Harjono kena, beliau gugur di tempat,” sambung Boengkoes, dikutip Julius Pour. Pasukan Boengkoes berhasil mengambil Mayjen Haryono dalam keadaan tak bergerak lagi. Mereka membawanya ke Lubang Buaya, Jakarta Timur, dekat Lanud Halim Perdanakusuma. “Setelah kami selesai dengan persiapan kami, kami berangkat, dan perintah kami singkat dan sederhana. Kami hanya lima belas menit di jalan. Dan lima belas lainnya di lokasi. Tapi misinya berhasil lah,” aku Bungkus kepada Ben Anderson dkk. dalam “The World of Sergeant-Major Bungkus” di Jurnal Indonesia nomor 78, Oktober 2004. Haryono diseret ke dalam truk dan dibawa ke Lubang Buaya,. Di Lubang Buaya, Harjono untuk disatukan dengan korban penculikan lain. Saat itu ada korban penculikan yang sudah terbunuh dan ada pula yang masih hidup. “Sejauh yang saya ingat, saya tahu. Wong , dua orang sudah meninggal, Pak Yani dan Pak Pandjaitan. Sisanya masih hidup. Bahkan M.T. Harjono ternyata masih hidup,” aku Boengkoes. Baca juga:  Gijadi Menembak Yani Setelah kematian para jenderal, semua pasukan penculik ditangkapi. Termasuk Boengkoes. Semuanya diadili, ada yang divonis belasan tahun, seumur hidup, atauun hukuman mati. Semua komandan kelompok penculik dihukum mati, termasuk Boengkoes, yang dijatuhi hukuman mati pada 1971. Namun, semua terpidana mati tidak langsung dieksekusi tapi ditahan hingga lebih dari 20 tahun di Cipinang. Boengkoes juga begitu. Eksekusi mati baru terjadi pada Februari 1990. Itu terjadi terhadap eks Sersan Satar, eks Sersan Surono, eks Sersan Suleiman, dan eks Prajurit Nurchayan. Hukuman mati itu membuat pemerintahan Orba dikecam dunia internasional. Alhasil Boengkoes menjadi satu-satunya bekas Tjakrabirawa yang tersisa di Penjara Cipinang. Seingat Wilson, bekas tahanan politik kasus Kudatuli, Boengkoes menjadi tukang jahit di dalam penjara. Sementara itu, Fauzi Isman, tahanan politik kasus Talangsari, melihat Boengkoes sebagai sosok yang pendiam. Hingga lengsernya Presiden Soeharto, yang naik jabatan setelah kematian para jenderal yang diculik Boengkoes dkk., hukuman mati terhadap Boengkoes tak pernah terjadi. Di era pemerintahan Presiden BJ Habibie, Boengkoes yang mendekam di bui selama lebih dari 30 tahun akhirnya dibebaskan pada 1999. Dia lalu pulang kampung ke Situbondo.

  • A Traveler Linguist in the Dutch East Indies

    IN 1853, from the colonial government base in Barus, van der Tuuk embarked on a journey to the Batak interior. His goal was only one: to observe the life and culture of the indigenous Batak tribe. He realized the danger awaiting him if he dared to enter an area not yet controlled by the Dutch. Slanted news among the Europeans also reported about the Batak people's penchant for eating people. His life was at stake.

  • Di Balik Kemenangan Daud atas Goliat

    Dari kediamannya di Betlehem, Daud meninggalkan kambing domba gembalaannya pergi menuju Lembah Tarbantin. Di sana kaum sebangsanya, orang-orang Israel, sedang berperang menghadapi bangsa Filistin. Semula, Daud hanya ingin membawakan makanan kepada ketiga abangnya di medan perang titipan dari Isai, ayah mereka. Tapi, dia melihat Goliat, prajurit terkuat Filistin, menantang prajurit Israel untuk bertarung satu lawan satu. Daud si pemuda gembala itu maju untuk melawan Goliat.  “Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang,” kata Goliat kepada Daud seperti tercatat di Alkitab pada buku 1 Samuel 17:44. Dari delapan anak laki-laki Isai, Daud adalah si bungsu. Eliab, Abinadab, dan Syama adalah tiga kakak tertua Daud yang ikut bertempur sebagai prajurit Israel di bawah pimpinan Raja Saul. Eliab memandang penuh jengkel ketika Daud memasuki medan pertempuran. Setelah meminta perkenan Raja Saul, Daud diizinkan bertarung melawan Goliat. Saul sempat mengenakan zirah dan pedangnya kepada Daud. Lantaran terlalu berat, Daud berjalan terhuyung-huyung, lantas melepaskan zirah dan pedang raja. Dia bertarung hanya dengan perlengkapan seorang gembala: tongkat dan ali-ali. Daud mengambil lima buah batu yang licin dari dasar sungai sebagai amunisinya.  Goliat merasa terhina karena Daud dilihatnya bersenjatakan tongkat. “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” Daud memang tidak terlihat seperti prajurit tempur berpengalaman. Dia digambarkan seperti pemuda belia, wajahnya kemerah-merahan, dan elok paras matanya. Sementara itu, Goliat tampak seperti prajurit gagah perkasa. Bagai raksasa, tinggi badannya disebut-sebut menjulang sampai 3,5 meter. Tubuhnya dibaluti perlengkapan perang memadai. Ketopong kepala, baju zirah, penutup kaki, dan lembing semuanya terbuat dari tembaga serta mata tombak berlapis besi. Baca juga:  Goliat yang Gagah dari Filistin Ketika Goliat maju memburunya, Daud mengambil sebuah batu ke dalam ali-alinya. Batu itu dilontarkan ke kepala Goliat sampai membuatnya terkapar. Daud kemudian memancung kepada Goliat. Cerita selanjutnya adalah sejarah tentang kepahlawanan Daud.   Kisah Daud dan Goliat selalu menjadi rujukan bahwa yang lemah tak selalu kalah dan orang kuat bukan melulu jadi pemenang. Hampir semua penulis dan teolog Kristen menyimpulkan kemenangan Daud atas Goliat berasal dari kekuatan ilahi, yakni Tuhan yang disembah bangsa Israel sejak zaman nenek moyang Abraham, Isak, dan Yakub. Konteks keyakinan ini bersumber atas ucapan Daud kepada Goliat dalam 1 Samuel  17: 45 yang berbunyi: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu.”  Baca juga:  Simbol Yahudi Tertua Ditemukan Menurut sejarawan Simon Sebag Montefiore, kain pelontar yang digunakan Daud bukanlah mainan katapel anak-anak zaman sekarang. Ia adalah sebuah senjata yang ampuh. Para pelontar digambarkan dalam prasasti-prasasti di pekuburan kuno Beni Hasan di Mesir, berdiri di samping para pemanah dalam pertempuran. Prasasti-prasasti kerajaan di Mesir dan Assyria menunjukkan kontingen-kontingen pelontar yang merupakan bagian dari angkatan perang besar dunia kuno. “Diyakini bahwa para pelontar ulung bisa melontarkan khususnya batu-bata halus seukuran bola tenis pada kecepatan 100--150 mil per jam,” catat Simon dalam Jerusalem: The Biography . Sementara itu, Malcolm Gladwell menyebut Daud sebagai seorang pelontar yang ahli. Dalam perang kolosal, pelontar sama seperti pasukan artileri, yaitu prajurit proyektil atau pasukan tentara yang menggunakan senjata berat. Pelontar batu butuh keahlian tinggi dan banyak latihan. Di tangan pelontar berpengalaman, katapel bisa menjadi senjata mematikan. Pelontar berpengalaman dapat membunuh atau mencederai sasaran yang berjarak sampai 180 meter. Bangsa romawi kuno bahkan punya catut khusus untuk mencabut batu yang tertanam di tubuh prajurit yang terkena lontaran. Sementara itu, Goliat adalah prajurit infanteri. Daud tak berniat meladeni Goliat dengan tata cara pertarungan satu lawan satu dari jarak dekat. “Daud seorang pelontar, dan pelontar selalu mengalahkan infanteri,” tulis Gladwell dalam David and Goliath: Underdogs, Misfits, and the Art of Battling Giants . Baca juga:  Netanyahu Bersaudara dalam Pasukan Khusus Israel Gladwell juga menambahkan tubuh raksasa Goliat yang jadi kelemahan tersendiri. Goliat disebut pengidap sindrom akromegali sehingga menyebabkan gigantisme pada fisiknya. Efek sampingnya adalah kebutaan ringan pada mata. Dalam penglihatan Goliat yang samar, Daud melontarkan batu dengan kecepatan tinggi dari ali-alinya.   Alkitab memberi petunjuk bahwa Daud memang seorang pelontar yang terlatih. Sebagai seorang gembala, Daud harus melindungi domba-dombanya dari serangan binatang buas. Dengan cara yang sama seperti mengalahkan Goliat, 1 Samuel 17: 34—36, menjelaskan bahwa Daud menghajar singa maupun beruang yang coba menerkam kambing dombanya.     Pada perang-perang selanjutnya, Daud selalu memenangi pertempuran lawan orang Filistin. Meski popularitasnya menimbulkan dengki di hati Saul, Daud akhirnya menggantikan Saul sebagai raja kedua bangsa Israel. Ketika Daud wafat pada 970 SM, ia meninggalkan sebuah kerajaan yang bagi bangsa Israel tampak seperti sebuah imperium yang membentang dari Sungai Efrat hingga Teluk Akaba. Luasnya lima kali wilayah Israel saat ini.  Baca juga:  Para Pembangun Yerusalem Imperium itu, menurut sejarawan Max Isaac Dimont, dikelilingi oleh banyak musuh. Max mencatat dalam Jews, God, and History , bangsa Jebusite, salah satu suku Kanaan, yang namanya dijadikan nama kota Yerusalem, diusir, tetapi tidak ditundukkan; bangsa Filistin, yang namanya dijadikan nama Palestina, ditundukkan tetapi tidak dihancurkan. “Tidak lama setelah Daud dikuburkan,” ulas Max, “bangsa Jebusite dan Filistin bergabung dengan bangsa-bangsa lain yang telah ditaklukkan oleh bangsa Yahudi dan memberontak melawan Palestina untuk mendapatkan kembali negeri-negeri mereka yang hilang. Bangsa Jebusite maupun Filistin tidak berhasil menaklukkan kembali Yerusalem atau Palestina.”

  • Dukungan Indonesia Untuk Palestina

    Indonesia termasuk negara pertama yang mengakui kemerdekaan Palestina setelah dideklarasikannya Negara Palestina di Aljazair, 15 November 1988. Sejak awal merdeka, Indonesia telah menunjukan keberpihakan kepada Palestina.

  • Lika-liku Hamas di Jalur Gaza

    Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau Hamas berdiri di Mesir. Hamas awalnya merupakan organisasi onderbouw Ikhwanul Muslimin (IM).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page