top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Belanda dan Orang-orangnya

    MATAHARI masih jadi barang mahal di Belanda pada bulan April 2013. Suhu naik turun namun pada intinya tetap: dingin. Sesekali matahari datang mengintip dari celah awan dan seketika pula orang-orang berteriak girang. Pegawai kafe sigap menyeret kursi ke luar, memasang meja dan mempersilakan pengunjung duduk di luar kafe.

  • Kapten Schmidt dan Gerombolan Bulenya Lawan Pemerintah Indonesia

    Bagi Kapten KNIL Henricus Catharinus Johannes Georgius Schmidt, kesetiaan pada negeri asal merupakan yang utama. Itu tak bisa ditawar-tawar lagi. Maka ketika keadaan “mengharuskan” dia untuk bertaruh nyawa untuk negerinya yang hendak kembali menguasai bekas koloninya, tanpa pikir panjang dia langsung bergerak.    Kapten Schmidt orang Belanda totok. Arsip Studbook Stamboeken Officieren Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), 1815-1940 atas nama dirinya menyebut dia dilahirkan di Nederweert, Limburg, Negeri Belanda pada 12 Maret 1903. Dia anak dari pasangan Hermanus Catharinus Johannes Georgius Schmidt dan Johanna Maria Catharina Alexandrina Brandenburg. Setelah studinya selesai, Schmidt jadi tentara. Koran Nieuwe Haarlemsche Courant tanggal 24 Januari 1956 menyebut Schmidt pernah belajar di Akademi Militer Breda. Dia lalu bergabung dengan Resimen Infanteri ke-14, mulai dari pangkat prajurit (sejak 1 Oktober 1919), lalu naik ke kopral (1 Juli 1920, kemudian sersan (15 September 1921). Pangkat perwira baru didapatkan Schmidt pada 15 September 1925, saat dia menjadi letnan kelas dua infanteri. Dengan pangkat perwira itulah Schmidt menikahi Maria Clara Cecilia Grein di Weert pada 29 Desember 1925. Maria yang lebih tua dari Schmidt, lahir di Weert pada 13 Oktober 1901. Pasangan Schmidt-Maria dikaruniai momongan pada 1927, yang dinamai George. Dengan pangkat perwira itu pula Schmidt ditugaskan ke koloni Hindia Belanda. Dia berangkat pada 2 Februari 1926 naik kapal SS Prins Nederlander . Baca juga:  Kelana Opsir KNIL Mencari Manusia Purba Tiba di Betawi pada 8 Maret 1926, Schmidt lalu ditempatkan di Batalyon Infanteri KNIL ke-14. Sebagai letnan dua gajinya 375 gulden. Pada 8 September 1928 dia naik menjadi letnan satu infanteri dengan gaji 450 gulden. Kendati jabatan yang sering diembannya adalah pengawas infanteri, Schmidt dikirim ke Aceh pada 15 September 1928. Dia ditempatkan di Batalyon Garnisun Aceh dan sekitarnya dengan jabatan komandan militer sebuah wilayah di sana. Daerah ini adalah daerah berbahaya bagi orang Belanda. Pada 12 November 1937, pangkatnya sudah naik menjadi Kapten. Gajinya tentu naik pula. Ketika tentara Jepang akan mendarat di Hindia Belanda, Schmidt masih berdinas sebagai kapten KNIL. Sekitar Maret 1942, Kapten Schmidt adalah salah satu komandan kompi infanteri di Batalyon Infanteri ke-10 di Jakarta. Tangsi batalyon ini berada di sekitar Waterloo Plein (kini sekitar Hotel Borobudur). Satuan ini termasuk satuan yang dekat dengan istana gubernur jenderal. Baca juga:  Aksi Andjing NICA di Medan Laga Tidak jelas apakah kompi Schmidt ikut bertempur atau tidak selama proses masuk tentara pendudukan Jepang. Yang pasti, perlawanan “tidak sungguh-sungguh” KNIL kepada Jepang hanya berlangsung sebentar. “Pada malam tanggal 28 Februari dan 1 Maret 1942, terjadi serangan amfibi besar-besaran di empat lokasi di Jawa. Pendaratan tersebut melibatkan sekitar 25.000 tentara Jepang dari Angkatan Darat ke-16. Mereka dengan cepat membuat pasukan Sekutu kewalahan dan, dalam pertempuran yang hanya berlangsung selama seminggu. Ketika seluruh pertempuran usai, Jepang menawan 42.200 orang Eropa dan 38.000 personel KNIL pribumi. Orang-orang Eropa segera digiring ke kamp tawanan perang; mayoritas tentara KNIL yang ditangkap dibebaskan setelah beberapa saat disandera, namun banyak juga yang langsung dipaksa bertugas oleh Jepang dengan sebutan heiho ,” tulis Fred L. Borch dalam Military Trials of War Criminals in the Netherlands East Indies 1946-1949 . Baca juga:  Di Kalijati, Kekuasaan Belanda Diakhiri Kapten Schmidt termasuk yang menjadi tawanan perang. Ketika dirinya ditawan, menurut kartu tawanan atas nama dirinya, anaknya Georg Schmidt tinggal di Pensionaat St Louis Weert, Limburg. Meski ditawan dan menderita di bawah tentara pendudukan Jepang, Kapten Schmidt tetap tak tinggal diam. “Pada masa pendudukan Jepang saya bergerak secara bawah tanah,” akunya dalam pengadilan seperti diberitakan De Preangerbode tanggal 12 Oktober 1955. Sebagaimana umumnya tawanan Jepang, Schmidt baru bebas setelah tentara Jepang menyerah kalah kepada Sekutu pada September 1945. Schmidt kemudian berdinas kembali di KNIL masih dengan pangkat kaptennya. Kendati sempat diperiksa intelijen militer Hindia Belanda NEFIS sekitar 1946 untuk alasan yang masih buram, Kapten Schmidt bersama ribuan tentara Belanda lain kemudian ikut bertugas menyukseskan ambisi Belanda yang berusaha menduduki kembali bekas koloninya yang telah baru memerdekakan diri menjadi Indonesia. Baca juga:  Legenda dari Bawah Tanah “Pada tahun 1947 saya dihukum tiga bulan karena desersi. Hukumannya sangat ringan karena saya berkomitmen pada kesetiaan dan karena saya baru saja menceraikan istri saya,” aku Kapten Schmidt. Kesetiaan dan komitmen tinggi kepada Kerajaan Belanda membuat Kapten Schmidt tak rela Kerajaan Belanda kehilangan tanah koloninya. Karena itulah Schmidt rela untuk kedua kalinya melakukan gerakan bawah tanah di bekas Hindia Belanda. Gerakannya itu dilakukan melalui gerombolan bule bernama NIGO (Nederlansch Indie Guerilla Organisatie). Lawan dari NIGO adalah badan-badan perjuangan Republik Indonesia di Jakarta.   NIGO kemudian bergerilya di sekitar Jawa Barat. Mereka berrelasi dengan orang-orang dari Darul Islam (DI), yang sama-sama melawan RI. Sekira tanggal 12 Januari 1950, terjadi pertemuan rahasia di Hotel Preanger, Bandung antara Kapten Westerling sekali pemimpin Angkatan Perang Ratu Adil, Kartosuwirjo selaku pemimpin DI/TII, dan kepala Negara Pasundan. Mereka sepakat menyerang dan menguasai Bandung. Baca juga:  CIA Ungkap Peristiwa APRA Westerling “Selama pertemuan itu diputuskan bahwa, andaikan serangan terhadap Bandung sukses, wilayah Jawa Barat secara de facto menjadi teritori DI,” kata buku yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri tahun 1957, Subversive Activities in Indonesia: The Jungschlager and Schmidt Affair . Wilayah operasi NIGO kemudian di sekitar Bogor. Mereka menjadikan rumah-perkebunan ( landhuis ) bekas milik tuan tanah Pieter Reinier van Motman di Dramaga sebagai markas besarnya. Di sanalah organisasi dijalankan, rencana dibuat, dan persenjataan-logistik dikeluar-masukkan.   Gerakan NIGO, dan juga APRA sebagai induknya, akhirnya dicium dan dipatahkan aparat hankam RI. Bersama pejabat KPM yang pernah menjadi agen NEFIS bernama Leon Nicolaas Hubert Jungschläger, bekas Kapten KNIL Schmidt kemudian ditangkap oleh aparat hukum RI dan dimejahijaukan.

  • Jalan Panjang Tari Telanjang

    KAMERA menyorot satu sudut gelap di ruangan itu. Kemudian sorotan bergerak ke kanan. Di bawah kilau lampu warna-warni, belasan perempuan muda duduk santai dan berjejer. Mereka memakai kaos ketat warna putih dan rok super mini. Suara perempuan menyanyi terdengar mengalun lambat.

  • Mengenal Lebih Dekat Beladiri Kurash

    TIDAK ada SAMBO, apalagi pencak silat di perhelatan Asian Games 2022 yang sempat tertunda akibat pandemic Covid-19. Pesta olahraga se-Asia ke-19 yang digelar di Hangzhou, China mulai 23 September-8 Oktober 2023 itu mempertandingkan enam cabang olahraga (cabor) seni beladiri dari total 61 cabor. Sayangnya, cabor pencak silat tak dipertandingkan –cabor beladiri yang dipertandingkan yakni judo, ju-jitsu, karate, taekwondo, wushu, dan kurash. Kontingen Indonesia jelas tak bisa menargetkan perolehan medali sebanyak Asian Games 2018 di rumah sendiri. Cabor terakhir, kurash, jadi cabor resmi pertamakali di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. Menurut Ketum PP Persambi (Persatuan SAMBO Indonesia) Krisna Bayu, kurash merupakan seni beladiri combat atau pertarungan mirip judo, gulat, dan SAMBO. Teknik-tekniknya menggunakan kuncian dan bantingan. Kemenangan akan diraih jika sang atlet bisa membanting atau melempar lawan sampai punggung lawan menyentuh matras. Sementara jika sang atlet bisa membanting lawannya ke matras dengan posisi menyamping, hanya mendapatkan poin. Bedanya dengan beladiri lain, menjatuhkan lawan dengan melempar atau membanting bagian kaki dilarang dalam kurash. “Soal bantingan, judo, kurash, gulat, SAMBO, seratus persen sama. Di pertarungan ground -nya di kategori sport maupun combat juga seratur persen sama,” ungkap Krisna Bayu yang juga legenda judo Indonesia saat ditemui Historia medio Desember 2019. Di Asian Games ke-19 ini, cabor kurash digelar di Linpu Gymnasiun mulai 3-5 Oktober 2023, Namun dibandingkan dengan di Asian Games 2018, jumlah kategori dan pertandingannya dikurangi dari 14 menjadi hanya tujuh medali emas yang diperebutkan. Indonesia hanya mengirim satu atlet putrinya, Savira Diah Fitri Rizkianti. Baca juga: SAMBO, Seni Beladiri dari Negeri Tirai Besi Atlet putri Indonesia, Savira Diah Fitri Rizkianti (kiri) (Instagram @saviraa_dfr) Muasal Köräş alias Kurash Kurash bukanlah seni beladiri baru. Ia merupakan gulat tradisional yang sudah ada ribuan tahun lampau di Peradaban Tatar di Asia Tengah yang kemudian berkembang di tanah Uzbek dan negeri-negeri berbahasa Turki kuno lain. “Kurash merupakan satu dari banyak variasi gaya gulat yang dipraktikkan di seantero Asia Tengah dengan sejumlah bukti arkeologis yang merujuk waktu sejak empat ribu tahun sebelum Masehi (SM). Terdapat banyak rujukan historis lain pula tentang olahraga ini yang dipraktikkan di daerah yang sekarang menjadi Uzbekistan sejak abad ke-10,” ungkap John Nauright dan Charles Parrish dalam Sports around the World: History, Culture, and Practice. Meskipun nyaris mustahil mengetahui siapa yang pertamakali memperkenalkan kurash, menurut Nauright dalam buku lain yang ditulisnya bersama Sarah Zipp, Routledge Handbook of Global Sport , kurash jadi satu dari sekian variasi gulat yang diperkenalkan orang-orang Seljuk di Tanah Tatar. Kurash kemudian berevolusi menurut masing-masing kebiasaan orang-orang setempat. Alhasil, penyebutannya kemudian sedikit berbeda di beberapa wilayah meski sama-sama punya arti “gulat”. Bila orang Tatar Uzbek menyebutnya köräş , orang Tatar Volga menamakannya kөrəş ; orang Altai küreš ; orang Kyrgyz küröş , dan orang Turkestan Timur/Uyghur keriş . Baca juga: Melacak Jejak Pencak Silat Petroglif di Gua Tangri (kiri) dan ukiran pelana dari perunggu dari abad ke-5 SM yang menggambarkan gulat tradisional mirip kurash (kurash-ika org) Kurash kemudian acap dijadikan pertunjukan utama di berbagai Festival Sabantuy di Asia Tengah sejak abad ke-7. Sementara, kurash mulai dijadikan olahraga beladiri dengan aturan-aturan baku pada awal 1920-an, seiring negeri-negeri di Asia Tengah menjadi bagian dari Uni Soviet. Kurash terus dipraktikkan selama era Soviet. “Pesta Olahraga di Tashkent yang disebut-sebut sebagai Olimpiade Asia Tengah pertama digelar selama 10 hari mulai awal Oktober 1920. Sebanyak 3.000 atlet ikut ambil bagian, mayoritas masyarakat asli Turkestan. Cabor-cabornya meliputi aneka olahraga seperti berkuda hingga gulat traidisional, kurash,” tulis James Riordan dalam Sport in Soviet Society: Development of Sport and Physical Education in Russia and the USSR. Meski begitu, sebelum 1990-an kurash yang lantas diakui sebagai beladiri tradisional cum indentitas bangsa Uzbekistan masih asing di dunia internasional. Aturan baku dan kategori-kategorinya pun masih terus berkembang hingga 1980-an. Baca juga: Bokator dan Legenda Beladiri dari Peradaban Angkor Pertandingan kurash sebelum adanya aturan-aturan baku dan modernitas (Repro  Kurash: History, Theory and Methodics ) Terutama di Uzbekistan, kurash diajarkan turun-temurun sesuai dengan masing-masing adat dan budaya setempat. Merujuk penyair Uzbekistan Abdulla Aripov, Olimjon Khaitov dkk. menyatakan dalam Kurash: History, Theory and Methodics, filosofi kurash bukan sekadar adu kekuatan fisik, melainkan olahraga yang merepresentasikan kecerdasan dan kebudayaan di tanah Uzbek. “Kurash memainkan peran vital dalam membentuk bangsa-bangsa (Asia Tengah). Kurash tidak hanya menyoal skill bertarung secara fisik tapi juga membangun semangat pemuda-pemudanya dalam hal kemanusiaan dan kebudayaan. Kurash menjelma menjadi gagasan-gagasan yang mengajarkan tentang keberanian, kejujuran, integritas, menghormati lawan saat kalah maupun menang,” ungkap Khaitov dkk. Salah satu tokoh kurash modern yang kemudian berupaya mengglobalkannya adalah Komil Yusupov. Dibantu pemerintah Republik Uzbekistan yang baru merdeka pada 31 Agustus 1991, dia memperkenalkan konsep standar bobot sebagai aturan combat kurash. “Popularitas kurash modern kemudian dipicu kemerdekaan Uzbekistan pada 1991. Presiden Islam Karimov menjadikan kurash sebagai salah satu promosi identitas negara. Salah satunya dengan menggelar turnamen internasional pertamanya di Tashkent pada 1998 yang kemudian disusul dengan berdirinya Asosiasi Kurash Internasional (IKA, red ),” sambung Nauright dan Parrish. Baca juga: Arena Sejarah Kun Khmer "Kembaran" Muay Thai Master Komil Yusupov yang memperkenalkan kurash modern (KFU/olamsport.com) Selain memperkenalkan teknik-teknik dengan 14 terminologi berdasarkan bahasa Uzbek, Yusupov juga mengenalkan atribut resmi kurash, mulai untuk atlet hingga wasitnya. Seorang atlet diharuskan mengenakan pakaian bagian atas berwarna hijau, sementara lawannya biru. Adapun celananya berwarna putih. Kesemuanya merupakan warna-warna kebesaran seperti pada bendera Uzbekistan. “Dalam kurash, para atletnya mengenakan pakaian biru atau hijau yang dinamakan yaktag , sabuk merah, dan celana putih. Selama pertarungan, memegang bagian yaktag dan sabuk diperbolehkan. Sementara arena pertarungan khususnya dinamai gilam ,” tambah Khaitov dkk. Dengan digelarnya kejuaraan dunia dua tahunan oleh IKA sejak 1998 dan menjamurnya federasi-federasi kurash, termasuk Federasi Kurash Indonesia (Ferkushi), kurash mulai diajukan ke berbagai pesta olahraga internasional. Di antaranya Asian Indoor Games 2009 dan Asian Games 2018. Baca juga: Vovinam, Silat Kebanggaan Vietnam Kurash modern dengan kostum/seragam yang terinspirasi dari bendera Uzbekistan ( kurash-kcao.org )

  • The Clandestine Mission of the Dutch Prince Consort

    IN the middle of the 1950s, Prince Bernhard von Lippe-Biesterfeld, husband of Queen Juliana of the Netherlands, was caught in the maelstrom of a heated affair that might potentially ignite a national and international scandal. Those close to Prime Minister Willem J. Drees suspected that the prince was involved in a plot devised by Captain Raymond Westerling to overthrow President Sukarno on January 23, 1950, barely a month after the Netherlands formally transferred sovereignty to the Republik Indonesia Serikat (Federal Republic of Indonesia). If the suspicion was proven true, the scandal could rock the world, even threaten the survival of the Orange Dynasty of the Kingdom of the Netherlands.

  • Abortion Controversy From Time to Time

    CARRYING a child is an exciting experience for Didi Nurida, a manager of a beauty center in Surabaya. Her eyes gleamed when talking about it. Didi was pregnant several times, but she only bore child once. "I gave birth to a child in 1985," she said. "After the birth, I went to a traditional birth attendant and asked for a walik dadah (abdominal massage). My stomach was massaged to prevent pregnancy."

  • Antara Toreh dan Isap

    SUATU sore yang mendung pada 13 Desember 1799, George Washington tiba di rumah dan mengeluh sakit tenggorokan. Seharian presiden pertama Amerika Serikat itu menunggang kuda mengunjungi ladang pertaniannya di tengah terpaan hujan deras. Menjelang dini hari, Washington terbangun dengan gejala flu yang semakin parah disertai sesak napas. Sempat meminum racikan obat buatan istrinya, Martha, kondisi Washington tidak membaik.

  • Sebelum Soepardjo Curhat pada Oei Tjoe Tat

    NAMA dan kiprah Soepardjo tak banyak diketahui kecuali dari keterlibatannya dalam kelompok yang menamakan dirinya Gerakan 30 September (G30S). Dia satu-satunya perwira tinggi Angkatan Darat yang terlibat langsung dalam G30S. Pada September 1965, dia belum lama menjadi Brigadir Jenderal. Tak banyak catatan tentang masa lalu pria bernama lengkap Moestofa Sjarief Soepardjo itu. Beberapa catatan terkait G30S menyebut pria kelahiran Gombong, Kebumen, Jawa Tengah pada 23 Maret 1923 itu berasal dari Divisi Siliwangi meskipun dia orang Jawa Tengah. Julius Pour dalam Konspirasi di Balik Tenggelamnya Matjan Tutul menyebut di zaman pendudukan Jepang, Soepardjo termasuk pemuda Indonesia yang mendapat pendidikan calon bintara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun) dan Sekolah Pelayaran di Cilacap. Di sana ia bareng dengan Sudomo –kelak menjadi salah satu menteri dalam beberapa kabinet Presiden Soeharto dan orang kepercayaannya– dan Ignatius Slamet Rijadi. Baca juga:  Dari Angkatan Laut ke Pulau Buru “Selesai pendidikan di Cilacap, Soepardjo dan Slamet Rijadi tidak jadi diberangkatkan ke Tokyo, untuk melanjutkan penugasan, karena Perang Dunia II sudah lebih dulu berakhir,” catat Aju dalam Soedjiman Tokoh Di Balik Penangkapan Brigjen Soepardjo . Dalam buku ini Soepardjo digambarkan sebagai perwira yang gemar berpolitik di kalangan tentara. Setelah Jepang menyerah dan Indonesia memerdekakan diri, Soepardjo bergabung dengan badan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan. Dalam Memenuhi Panggilan Tugas, Vol. 5 , Abdul Haris Nasution menceritakan Soepardjo pernah bergabung dengan Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI). Soepardjo kemudian masuk ke Divisi Siliwangi. Dia ikut serta ketika divisi itu hijrah ke Jawa Tengah. Soepardjo ikut pula dalam penumpasan PKI usai Peristiwa Madiun 1948 pecah. Di masa revolusi itu, Soepardjo bahkan pernah melakukan aksi heroik sewaktu perang melawan Belanda. Baca juga:  Lelucon Long March Siliwangi “Ia mencegat kereta api, diam-diam menaikkan tiga ratus prajurit ke gerbong-gerbongnya, dan selanjutnya mengejutkan pasukan Belanda yang jauh lebih besar ketika kereta api itu lewat dekat kubu pertahanan mereka,” tulis John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal . Setelah 1950, Soepardjo terus bertugas di Jawa Barat, yang merupakan daerah teritorial Divisi Siliwangi. Soepardjo ikut melawan DI/TII sewaktu Siliwangi berupaya menumpas pemberontakan itu di daerahnya. Nama Soepardjo tercatat dalam buku sejarah Divisi dan KODAM Siliwangi. Buku Siliwangi Dari Masa ke Masa mencatat bahwa pada 1954 Mayor MS Soepardjo menjabat sebagai komandan Batalyon Infanteri 315. Batalyon itu bagian dari Resimen Infanteri 8 yang dipimpin Mayor Ahmad Wiranatakusumah, ketika Kolonel Alex Evert Kawilarang masih menjadi panglima Siliwangi yang masih bernama Tentara dan Teritorium III. Batalyon tersebut kemudian ditempatkan di Bogor. Baca juga:  Alex Kawilarang, Kisah Patriot yang Dicopot Karier Soepardjo tergolong lancar. Ketika sudah berpangkat kolonel, pada 1963 Soepardjo mendapat tugas belajar ke Staff College ke Quetta, Pakistan. Setahun kemudian, dia ikut kursus reguler di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad). Perwira tinggi diraih Soepardjo pada 1965 ketika dia mendapat kenaikan pangkat menjadi brigadir jenderal. Pada masa itu pula dia dipercaya memimpin pasukan tempur di perbatasan Indonesia-Malaysia dalam Konfrontasi. “Ia berhasil mendapat tempat sebagai Panglima Komando Pertempuran di bawah Jenderal Suharto dan Laksamana Omar Dhani dalam Kolaga anti Malaysia,” kata Nasution.  Baca juga:  Galang Dana Dwikora ala Sukarno Ketika di Kolaga itu, Soepardjo mencium hal tak beres. Lantaran tak tahan memendamnya, ia lalu menemui salah seorang menteri kabinet yang bisa dia percayai untuk menrceritakannya. “Ia datang pukul 07.00 sore. Ia berpakaian preman dan memperkenalkan namanya. Kemudian ia menyampaikan adanya golongan yang serius tentang Konfrontasi dan ada golongan yang cuma pura-pura saja demi duit,” kenang Oei Tjoe Tat, menteri yang ditemui Soepardjo, dalam Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Sukarno . Baca juga:  Percikan Awal Sebuah Konfrontasi Oei Tjoe Tat merupakan orang yang loyal kepada Sukarno. Soepardjo mengambil risiko untuk bercerita kepada Oei dengan harapan Presiden Sukarno jadi tahu hal itu. Namun, Konfrontasi dengan Malaysia, kepresidenan Sukarno, kementerian Oei, maupun kepemimpinan Soepardjo dalam pasukan, semua “ game over ” usai G30S pecah. Dalam gerakan yang diklaim pelakunya sebagai upaya menyelamatkan presiden dari kudeta Dewan Jenderal itu, Soepardjo duduk sebagai salah satu wakil pemimpin meskipun bukan perwira asal Jawa Tengah seperti pucuk pimpinan G30S lainnya. “Ia merupakan salah satu dari sekian banyak keganjilan dalam G-30-S: mungkin untuk pertama kali dalam sejarah pemberontakan dan kup seorang jenderal menjadi bawahan seorang kolonel,” tulis John Roosa. Akibat gerakan ganjil yang memakan korban jiwa beberapa jenderal di pucuk pimpinan AD itu, simpati publik jadi tertuju pada AD. Soepardjo pun menjadi pesakitan setelah sekian lama berhasil buron. Baca juga:  Meringkus Soepardjo, Sang Jenderal Buronan Ketika Soepardjo ditahan di Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo, sebenarnya Oei juga ditahan ditempat yang sama. Namun Soepardjo tak bisa leluasa bicara dengan Oei lagi karena Soepardjo ditempatkan di sel khusus. “Selama hari-hari terakhirnya di RTM diakui sangat mengesankan: jantan, benar-benar bermutu jenderal, namun tetap sopan, ramah terhadap siapapun,” kata Oei tentang hari-hari terakhir Soepardjo di tahanan. Di dalam tahanan itu pula Soepardjo membuat tulisan analisa tentang kegagalan G30S. Tulisan itu, menurut John Roosa, merupakan tulisan terpenting untuk penggambaran G30S sebagai sebuah organisasi, dan paling dapat dipercaya otentisitasnya. Suatu hari, diadakan sebuah jamuan terakhir antara Soepardjo dengan keluarganya dan petugas. Soepardjo menyempatkan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan berpidato. Setelahnya, Soepardjo tak hanya mandi tapi juga membersihkan kamar mandi dan WC. Kisah Soepardjo berakhir tahun 1970, tahun di mana dirinya menghadapi regu tembak.  Baca juga:  Drama Penangkapan Brigjen Soepardjo

  • Lisan Para Panglima, dari Piting, Gebuk, hingga Pateni

    Panglima TNI Laksamana Yudo Margono angkat bicara menyoal kerusuhan warga Pulau Rempang yang menolak direlokasi. Yudo menginstruksikan prajuritnya agar tidak menggunakan senjata, melainkan memiting saja para pelaku kerusuhan. Sontak saja ucapannya soal main “piting” ini mencuat ke publik usai tersiar dalam dalam akun Youtube Puspen TNI.  “Umpanya masyarakatnya seribu, ya kita keluarkan seribu. Kalau satu (masyarakat- red ) dipiting satu (prajurit- red ) kan selesai. Ndak usah pakai alat, dipitingi aja satu-satu,” kata Yudo sembari tangannya memperagakan gerakan membekap. Klarifikasi atas ucapan Panglima TNI datang dari Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Laksda Julius Widjojono. Menurutnya kata “piting” harus dimaknai dalam konteks yang berbeda. Dalam bahasa prajurit, imbuhnya, “piting” berarti “merangkul”. Jadi, setiap prajurit merangkul satu masyarakat sehingga terhindar dari bentrokan. Namun, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , kata “piting” tidak berasosiasi dengan kata “rangkul”. Kata piting lebih bersifat intimidatif.   Apakah “piting” yang dimaksud Panglima Yudo bermakna sebenarnya atau kiasan, hanya dia sendiri yang mafhum. Namun, Yudo sendiri belakangan mengaku salah dan meminta maaf atas ucapannya tersebut. Ini berarti, kata piting yang dimaksudnya bermakna sebenarnya. “Itu saya ngga tahu karena bahasa saya itu ndeso , yang biasa mungkin melaksanakan dulu waktu kecil kan sering piting-pitingan dengan teman saya tuh. Saya pikir dipiting lebih aman, karena memang kita tak punya alat,” kata Yudo seperti dikutip detik.com . Baca juga:  Jenderal Yani Memiting Anaknya Lisan seorang panglima memang harus lugas. Bukan kiasan atau bersayap ke mana-mana sehingga sulit diterjemahkan oleh prajurit. Apalagi menyangkut misi atau operasi yang penting. Jenderal Soemitro, misalnya, terang-terangan menyebut kata "gebuk" ketika menindak orang-orang PKI di Kalimantan Timur. Pada Februari 1965, Soemitro baru bertugas sebagai panglima Kodam Mulawarman menggantikan Brigjen Soehario Padmowirio alias Hario Kecik. Waktu itu massa PKI sedang berkembang pesat. Anggota PKI Kalimantan Timur didominasi oleh kaum buruh yang bekerja di kilang-kilang minyak. Baru beberapa bulan bertugas, Mitro menggelar operasi penangkapan terhadap tokoh-tokoh PKI berikut ormas-ormasnya seperti Perbum, Sobsi, Gerwani dan Pemuda Rakyat. Wilayah Balikpapan ditutup, termasuk lapangan terbang dan pelabuhan udara. Para perwira militer Kodam Mulawarman yang disinyalir sebagai kader PKI bahkan dikenai tahanan rumah. “Mengenai PKI bagi saya adalah chicken feed , karena telah pernah saya ‘gebuk’ atau tangkapi pada peristiwa sebelumnya, yaitu pada tanggal 1 Mei 1965 Hari Buruh itu,” kata Soemitro dalam Soemitro: Dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib yang ditulis Ramadhan KH. Baca juga:  Tamparan Jenderal Mitro Kali lain, Soemitro hendak “memegang” petinggi PKI Njoto. Kejadiannya tidak lama setelah Peristiwa G30S 1965. Mitro telah bertugas di Jakarta sebagai Asisten II/Operasi Menpangad. Sementara itu, Njoto menjabat wakil ketua CC PKI merangkap menteri negara. Pada suatu sidang kabinet di Bogor, Mitro dibuat jengkel oleh ulah Njoto. Mitro melihat Njoto seperti berlagak angkuh. Dan laku itu ditujukan Njoto kepada Letjen Hidayat Martaatmadja yang menjabat Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Pariwisata. Soemitro saat itu duduk bersebelahan dengan Deputi I Menpangad Mayjen Moersjid. Sambil menyikut lengan Moersjid, Mitro berujar dalam bahasa Belanda.  “ Sjid, ik krig hem wel ,” (aku akan dapatkan dia),” kata Soemitro dengan nada geram, “Benar, saya sakit hati melihatnya.” Tak butuh waktu lama bagi Mitro untuk mendapatkan Njoto. Baca juga:  Kala Dubes Amerika Nyaris Digebuk Jenderal Moersjid “Saya perintahkan khusus untuk mengejarnya supaya ia terpegang. Selang beberapa waktu ia dikabarkan mati sudah,” aku Mitro. Begitulah Soemitro dengan ciri khas Jawa Timur-annya yang keras dan saklek. Tidak hanya Mitro, Presiden Soeharto, orang Jawa Tengah yang dikenal halus sekalipun pernah juga berlisan keras. Padahal, di depan publik, Soeharto hampir selalu tampil sebagai pemimpin ceria, penuh senyum, dan santun. Kesan itulah yang kemudian melekatkan predikat The Smiling General (jenderal yang tersenyum) pada diri Soeharto. Namun, senyum Soeharto berubah jadi murung penuh amarah ketika peristiwa Malari pecah tahun 1974. Soeharto dikabarkan begitu murka. Menteri Penerangan Mashuri Saleh merekam wajah Soeharto yang tegang dan “jelek”  ketika membaca pemberitaan pers. Dia perintahkan Mashuri mencabut izin terbit bagi koran yang vokal memberitakan kerusuhan tersebut. Ketika Mashuri bertanya untuk berapa lama, Soeharto hanya menjawab tegas, “Tutup!” “Tetapi, karyawannya banyak, Pak?” ujar Mashuri. “Tutup!!” timpal Soeharto dengan nada keras. Baca juga:  Jurnalisme Kepiting Jakob Oetama “Mashuri pun menyadari bahwa ruang dialog sudah tidak ada lagi. Itu berarti ia harus segera melaksanakan perintah Kepala Negara tanpa reserve ,” ulas pakar komunikasi politik Tjipta Lesmana yang mewawancara Mashuri pada 1996, dalam Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa. Salah satu koran yang turut jadi korban adalah harian Pedoman milik Rosihan Anwar. Menurut keterangan Mashuri kepada Rosihan di kemudian hari, setelah lewat 14 hari pencabutan izin terbit, dia bertanya lagi kepada Soeharto. Apakah surat kabar Pedoman boleh terbit kembali. Soeharto ketika itu menjawab dengan ketus dalam bahasa Jawa. “ Pateni wae (matikan saja),” kata Soeharto kepada Mashuri seperti dikisahkan Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 5: Sang Pelopor. Baca juga:  Rosihan Anwar Jatuh Bangun Koran Kiblik Meski Soeharto bukan lagi panglima tentara, dia adalah presiden yang tak lain panglima tertinggi dalam pemerintahan. Perintah lisan itu pun jadi suatu titah yang mesti terlaksana. Terlebih lagi, Soeharto adalah seorang mantan militer. Sementara itu, Rosihan hanya bisa meratap.   “Maka tamatnya riwayat Pedoman , sebuah surat kabar yang mulai terbit di zaman revolusi,” kenangnya.

  • Menimbang Gunung Padang

    LANGIT pagi itu cerah. Tiga orang penduduk, Endi, Soma, dan Abidin, berniat membuka lahan pertanian di sekitar Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat pada 1979. Ketika bekerja, mereka kaget lantaran menemukan tumpukan batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak.

  • Antek-Antek Presiden Amerika Mengintip Jeroan Lawan Politik

    MARKAS FBI (badan investigasi Amerika Serikat), suatu hari di akhir Juni 1972, Wakil Direktur FBI Mark Felt (diperankan Liam Neeson) bergegas mendatangi ruangan Plt. Direktur FBI Patrick Gray (Marton Csokas) yang baru saja disambangi John Dean, penasihat Presiden Richard Nixon. Felt ingin mencari tahu lantaran heran atas kedatangan Dean. Sayangnya keheranan Felt tak mendapat jawaban lantaran Gray seolah enggan memberi informasi soal kedatangan Dean. Gray justru membahas laporan-laporan investigasi dari para agen FBI soal Skandal Watergate. Skandal itu merupakan pembobolan markas komite nasional Partai Demokrat, DNC, di Gedung Perkantoran Watergate, Washington DC, pada 17 Juni 1972 dini hari. “Ini jumlah informasi yang luar biasa tentang pembobolan (Watergate),” terang Gray. “Kami masih mengumpulkan laporan penyelidikan. Laporan (di tangan Gray) itu baru permulaannya saja,” timpal Felt. Baca juga: Vice yang Menyibak Tabir Kebohongan Amerika Felt bertanggungjawab atas penyelidikan FBI di luar penangkapan lima pelaku yang sebelumnya diciduk pihak kepolisian. Kelimanya merupakan eks-agen CIA (badan intelijen Amerika) yang membobol, mencuri sejumlah dokumen, dan menanamkan alat-alat penyadap. Penyelidikan lanjutan FBI lantas menemukan dalangnya punya koneksi dengan Presiden Nixon sebagai petahana jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2 November 1972. Melalui penyelidikan sementara para agen lapangan FBI, setidaknya Felt menemukan fakta korang-orang di lingkaran CRP (komite pemenangan Nixon) yang notabene eks-FBI dan CIA sebagai dalang-dalangnya. Di antaranya Alfred Baldwin dan Howard Hunt yang mengorganisir lima pelaku pembobolannya. “Oke. Pertama-tama, jangan ada lagi wawancara (penyelidikan) dengan pihak Gedung Putih atau CIA tanpa izin,” tegas Gray pada Felt. “Tanpa izin siapa? FBI badan independen. Harusnya Anda paham bahwa itu artinya kita tidak perlu izin untuk melakukan apapun dari siapapun. Sekalinya Anda menyerahkan (independensi) itu, Anda takkan mendapatkannya kembali. Anda tidak bekerja untuk mereka. Anda direktur FBI,” sambung Felt. Adegan direktur FBI Pat Gray (kiri) berargumen dengan Mark Felt (kanan) soal Skandal Watergate (Sony Pictures) Namun Gray seolah tak peduli. Ia juga menyatakan bahwa dalam 48 jam ke depan, FBI harus mempetieskan kasus itu. Demikianlah salah satu adegan di biopik bertajuk Mark Felt: The Man Who Brought Down the White House (2017) garapan sineas Peter Landesman. Adegan krusial itu menunjukkan FBI seolah ikut jadi alat politik Presiden Nixon dalam upaya sang petahana memata-matai dan mengungkap “jeroan” partai pesaingnya. Memang kemudian Presiden Nixon, yang mewakili Partai Republik, digdaya di Pilpres 1972. Ia unggul dengan perolehan suara sangat besar, baik dalam electoral vote yang mencapai 49 berbanding 17 atau dari pemungutan suara keseluruhan, 60,7 persen berbanding 37,5 persen dari calon presiden (capres) asal Partai Demokrat, George McGovern. Namun karena kasus Watergate yang berlarut-larut itu pula Nixon kena getahnya. Usai kasusnya terkuak, ia dimakzulkan parlemen dan kemudian memilih mengundurkan diri pada 1974. Baca juga: Merampok Duit Haram Presiden Nixon Jawatan Intelijen untuk Kepentingan Politik Penguasa Bernard Barker, Virgilio González, Eugenio Martínez, James McCord Jr., dan Frank Sturgis ditangkap polisi secara bersamaan di kantor DNC pada 17 Juni 1972 atas laporan Frank Wills, petugas keamanan Gedung Perkantoran Watergate. Selain sarung tangan, alat komunikasi walky-talky , dan kamera, polisi juga menyita uang senilai 6.500 dolar dari saku para pelaku pelaku dan kamar motel di seberang Watergate sebagai barang bukti. Di sisi lain, penyelidikan FBI melacak benang merah kasus pembobolan itu yang mengaitkannya dengan komite pemenangan Nixon. Ada nama eks-agen FBI Alfred Carleton Baldwin III dan George Gordon Battle Liddy, serta eks-agen CIA Everette Howard Hunt Jr. yang merupakan orang-orang lingkaran dalam di komite timses CRP sebagai terduga dalangnya. “Walaupun masih jadi misteri apa sebenarnya tujuan pembobolan itu. Per 17 Juni 1972, DNC belum punya strategi kampanye karena kandidatnya belum (resmi) dinominasikan. Calon kandidatnya baru Senator Negara Bagian South Dakota, George McGovern, yang dianggap lemah bagi Nixon. Kalaupun (tim) kampanye Nixon ingin mengintip strategi kampanye McGovern, logisnya kan yang harusnya dibobol adalah markas kampanye McGovern, bukan DNC,” tulis John O’Connor dalam The Mysteries of Watergate: What Really Happened. Baca juga: Minggu Berdarah di Kota Selma Menggali sumbernya, keterlibatan kelima pelaku itu berawal dari pertemuan antara ketua Komite CRP, Jeb Stuart Magruder; penasihat keuangan Komite CRP, G. Gordon Liddy; penasihat domestik Gedung Putih, John Ehrlichman; Jaksa Agung John Mitchell; dan penasihat kepresidenan, John Wesley Dean III pada 27 Januari 1972. Dalam pertemuan itu, Liddy dan Ehrlichman membuka wacana kampanye intelijen kepada Magruder, Mitchell, dan Dean. “Itu jadi skema pembuka dari skandal politik terburuk di abad ke-20 dan permulaan dari jatuhnya kepresidenan Nixon,” aku Dean yang ia tuangkan dalam bukunya, The Nixon Defense: What He Knew and When He Knew It. Para pelaku pembobolan markas DNC di Gedung Watergate ( nixonlibrary.org/NARA ) Rencana kampanye intelijen itu, lanjut Dean dalam buku yang ia luncurkan pada 2014, berupa pembobolan markas DNC, mendokumentasikan berkas-berkas penting Partai Demokrat, serta memasang alat-alat penyadap di pesawat telefon petinggi-petinggi DNC. Mitchell menyetujui rencananya, sementara Liddy mendanainya. Dean sendiri bertindak sebagai pengorganisir, di mana ia mendelegasikannya kepada dua bawahannya, Howard Hunt dan James McCord. Kedua eks-agen CIA itu merupakan orang penting di seksi keamanan Timses CRP. Kemudia McCord dan Baldwin yang mengatur rencana operasi intelijen itu dengan memakai jasa lima pelaku di atas dengan imbalan cek senilai 25 ribu dolar (setara 175 ribu dolar dalam kurs 2022). Baca juga: CIA Bikin Film Porno Mirip Sukarno Sialnya operasi pada 17 Juni dini hari itu gagal dan Barker Cs. diciduk kepolisian Washington pagi itu juga. Presiden Nixon sendiri disebutkan tak tahu-menahu rencana para anteknya itu. Hal itu, ungkap Stanley Kutler dalam Abuse of Power , terkonfirmasi dari rekaman percakapan antara Nixon dan Kepala Staf Presiden (KSP) Harry Haldeman via sambungan telefon di Oval Office atau kantor presiden di Gedung Putih pada 23 Juni 1972. “Siapa bajingan yang melakukan itu? Apakah Liddy? Dia pasti sedikit gila,” cetus Presiden Nixon. “Dia memang sedikit gila,” jawab Haldeman. John Wesley Dean III (kiri) dan Everette Howard Hunt Jr. ( nixonlibrary.org ) Memang awalnya Nixon terlibat secara langsung soal blunder yang dilakoni antek-anteknya. Namun saat pelacakan penyelidikan FBI sudah mulai menjurus padanya, di situlah Nixon mulai abuse of power atau menyalahgunakan kekuasaannya. Pertama , dengan mencoba mengontrol media massa. Presiden Nixon menggembar-gemborkan pada media soal kunjungan kenegaraannya ke China pada Februari dan Rusia pada Mei sebelumnya sebagai gebrakan hubungan diplomatik di tengah-tengah Perang Dingin. “Harapannya agar penangkapan (pelaku pembobolan) Watergate pada Juni 1972 tak menjadi berita besar setidaknya sampai Pilpres pada November,” tulis Lamar Waldron dalam Watergate: The Hidden Story. Baca juga: Arsip Pembunuhan JFK Dirilis, Kasus Tetap Masih Samar Kedua , dengan memanfaatkan CIA untuk menghalang-halangi FBI yang masih melacak sumber pendanaan operasi pembobolan itu. Melalui Haldeman, Ehrlichman, dan Dean, Presiden Nixon meminta direktur CIA, Richard Helms, untuk ‘cawe-cawe’ untuk menekan FBI menghentikan investigasinya, apalagi sampai mengungkapkannya ke publik via media massa. “ Well , kita sudah melindungi Helms dari banyak hal,” imbuh Nixon dalam lanjutan percakapannya dengan Haldeman. Lagipula para pelaku pembobolan itu merupakan eks-CIA yang juga pernah terlibat dalam Invasi Teluk Babi tahun 1961 yang merupakan operasi CIA yang gagal dan memalukan. Saat itu Helms menjabat wakil direktur perencanaannya. John Daniel Ehrlichman (kiri) dan Harry Robbins "Bob" Haldeman (NARA) Tetapi Felt tak tinggal diam. Kurun Juni 1972-Januari 1973, ia membocorkan banyak laporan penyelidikan FBI yang akhirnya “di-peti es-kan” setelah mendapat tekanan dari Gedung Putih dan CIA. Menggunakan nama samaran “Deep Throat” sebagaimana tajuk salah satu film porno populer pada 1972. Nama samaran yang baru terungkap 33 tahun kemudian. Baca juga: Oliver Stone, Perang Vietnam, dan Pembunuhan JFK Felt dibantu dua wartawan harian The Washington Post , Bob Woodward dan Carl Bernstein untuk membongkarnya ke publik. Berangsur-angsur, sejumlah media lain pun turut meng- cover- nya, di antaranya The New York Times. “Jika saya ingin bertemu, biasanya akan ada sinyal dengan memindahkan pot bunga dengan bendera merah yang terletak di balkon apartemennya. Tetapi jika ‘Deep Throat’ yang meminta untuk bertemu, dia akan membuat tanda khusus di halaman 20 dari copy -an tulisan Woodward di The New York Times . Pertemuan-pertemuan rahasia biasa dilakukan di garasi bawah tanah dekat Jembatan Francis Scott Key pada dini hari,” ungkap Woodward dalam bukunya, All the President’s Men. Ki-ka: Carl Milton Bernstein, Robert Upshur "Bob" Woodward dan William Mark Felt Sr. ( bobwoodward.com/hoover.org ) Implikasinya publik tetap penasaran dengan kebenaran Skandal Watergate-nya, terlepas kemudian Presiden Nixon, sebagaimana yang disebutkan di atas, kembali memenangi Pilpres 1972. Sampai-sampai akhirnya Senat Amerika membentuk komite investigasi Skandal Watergate pada 7 Februari 1973 dan disusul pembahasan skandalnya di komite yudisial parlemen, di mana jaksa khusus Archibald Cox bersikeras ingin memanggil Presiden Nixon. Presiden Nixon yang menolak, malah memperunyam keadaan. Pada 20 Oktober 1973, dia melakukan sejumlah blunder dalam memanfaatkan kekuasaannya. Mengutip ulasan The New York Times , 2 Juli 1987, Presiden Nixon disebutkan meminta Jaksa Agung Elliot Richardson untuk memecat jaksa khusus Archibald Cox. Richardson menolak dan memilih mengundurkan diri. Setali tiga uang dengan Wakil Jaksa Agung William Ruckelshaus yang memilih resign ketimbang memecat Cox. Baru kemudian Presiden Nixon berhasil mendesak jaksa pengacara negara Robert Bork yang bersedia memecat Cox walau dengan berat hati. Baca juga: Dagelan Hukum The Trial of the Chicago 7 Imbasnya, parlemen mengusulkan impeachment atau pemakzulan terhadap Presiden Nixon pada 30 Oktober 1973 yang proses dan investigasinya mengantarkan Presiden Nixon dimejahijaukan di Mahkamah Agung (MA). Sejumlah bukti, termasuk rekaman percakapan Nixon dan Haldeman di atas diajukan ke persidangan dan menghasilkan tiga dakwaan: penghalangan keadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan penghinaan terhadap parlemen karena menolak pemanggilan. Nixon akhirnya “menyerah”. Ia memilih opsi pahit: pengunduran diri dari jabatan presiden pada 9 Agustus 1974. Jabatan yang kemudian diisi Gerald Ford yang sebelumnya menjabat wakil presiden. “Saya memutuskan bahwa karena perkara Watergate saya mungkin tidak mendapat dukungan dari Kongres yang saya perlukan untuk mendukung keputusan-keputusan sulit untuk menjalankan tugas yang berkenaan dengan kepentingan-kepentingan negara. Saya menyesalkan hal-hal buruk yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa-peristiwa yang mengantarkan pada keputusan ini,” tukas Presiden Nixon dalam pidato terakhirnya. Wapres Gerald Rudolph Ford Jr. (kiri) mendampingi Presiden Nixon (kanan) jelang pengunduran dirinya ( nixonlibrary.org )

  • Penulis Belanda Berkisah Tentang Nyi Blorong

    “…Pah-Sidin adalah pria miskin yang tidak beruntung dalam segala hal yang dia lakukan, dan sangat bodoh karena tidak mengetahui satu pun ‘ilmu’ yang dapat digunakan untuk memikat keberuntungan. Sehingga meskipun istrinya bekerja dari pagi hingga malam, menenun dan membatik sarung, merawat kebun dan ladang, serta menjual buah dan bunga, keadaan tetap saja buruk baginya.” Demikian Augusta de Wit memulai kisah mengenai seorang pria, yang karena kondisi perekonomian yang buruk, memilih berdoa kepada roh jahat demi menjadi kaya dan menjalani kehidupan yang penuh keberuntungan.Penulis yang lahir di Sumatra pada 1864 itu mengetahui kisah Pah-Sidin dari seorang nelayan tua, yang ia temui saat melakukan perjalanan ke Pulau Jawa pada akhir abad ke-19. Dalam catatan perjalanan yang dibukukan dengan judul Java Facts and Fancies , de Witmenulis bahwa Pah-Sidin yang lelah dengan ratapan istrinya atas kehidupan mereka yang sulit, serta lelah menahan lapar dan kehabisan uang untuk bermain sabung ayam, kemudian pergi dan berjalan di sepanjang pantai selama berhari-hari, sampai ia tiba di sebuah tempat di mana terdapat batu-batu besar dan gua-gua yang airnya mengeluarkan suara seperti guntur. Di sinilah tinggal dewi yang ditakuti serta dihormati, Nyi Loro Kidul, Ratu Laut Selatan. Di tempat ini pula tinggal Nyi Blorong yang jahat dan dikenal sebagai dewi uang. Nyi Blorong digambarkan memiliki kepala manusia, namun badannya berbentuk seperti ikan dengan lengan dan kaki sebanyak kelabang. “Namun ada pula yang menggambarkannya sebagai seorang wanita cantik tetapi tanpa kaki dan sebagai gantinya ia memiliki ekor ular yang sepenuhnya ditutupi dengan sisik emas,” tulis Dr. G.A. Wilken dalam “Het Animisme bij de Volken van den Indsichen Archipel”, yang termuat di De Indische Gids Volume 7 . Baca juga:  Makhluk Halus dalam Catatan Perjalanan Orang Belanda Masyarakat percaya Nyi Blorong dapat memberikan kekayaan, tetapi dengan syarat seseorang harus memberikan jiwanya kepada roh jahat itu. Meski mengerikan, Pah-Sidin tetap melakukanritual untuk mewujudkan keinginan bergelimang harta. Ia menaburkan berbagai bunga serta kemenyan di pintu masuk gua.Ketika muncul asap membubung tinggi, Pah-Sidin menangis dan memohon kepada Nyi Blorong agar menjadikannya kaya raya. “Nyi Blorong! Aku memohon kepadamu! Saya miskin dan benar-benar malang! Berilah aku uang, dan aku akan memberikan jiwaku kepadamu, wahai Nyi Blorong!” Nyi Blorong menjawab permohonan Pah-Sidin dengan seketika mengubah gua menjadi rumah besar dan megah yang penuh harta karun. Namun, ketika Pah-Sidin melihat lebih dekat, rumah itu ternyata dibangun dari tubuh manusia; lantai, dinding, dan atap terbuat dari manusia yang masih hidup, yang menangis dan mengerang karena tak sanggup menghadapi penderitaan. Pah-Sidin awalnya mau pingsan karena ketakutan. Tetapi ia segera mengingat dirinya masih muda dan kuat. Oleh karena itu,ia menganggap waktu kematiannya masih jauh. Tak ingin bernasib sama seperti orang-orang yang meminta bantuan Nyi Blorong, Pah-Sidinmemutar otak untuk menyusun rencana agar dapat menipu roh jahat itu demi menikmatikekayaan yang luar biasa. Dengan demikian, ia menjawab, “Nyi Blorong, saya memiliki keberaniaan untuk meminta bantuan kepadamu.” Setelah mendengar jawaban Pah-Sidin, Nyi Blorong meminta lelaki itu kembali ke rumahnya untuk menunggu kedatangan makhluk halus tersebut. Pah-Sidin menuruti perintah itu dan menunggu dengan sabar di rumah. Demi memuluskan rencananya, ia tak mengatakan apapun kepada istrinya. Baca juga:  Mengungkap Sejarah Babi Ngepet Saat malam tiba, Nyi Blorong datang menemui Pah-Sidin. Terpesona dengan kecantikan makhluk halus itu, Pah-Sidin tergerak untuk memeluknya.Namun, niat itu dibatalkannya karenaketakutan hingga bersiap melarikan diri saat melihat bagian bawah tubuh Nyi Blorong memiliki ekor bersisik yang panjang. Nyi Blorong mendekap Pah-Sidin dengan kuat agar tak melarikan diri. “Jika engkau mencoba melarikan diri, aku akan membunuhmu,” kata roh jahat tersebut. Selepas pertemuan dengan Nyi Blorong, kehidupan Pah-Sidin berubah menjadipaling kaya di wilayahnya. Tak hanya memiliki rumah megah dengan lumbung dan kandang kuda yang bagus, lelaki itu juga memiliki perkebunan luas dengan berbagai jenis pohon dan buah-buahan. Pah-Sidin yang sebelumnya hidup miskin hingga harus menahan lapar karena tidak mampu mendapatkan makanan, kini memiliki sawah yang luas membentang sejauh mata memandang. “Pah-Sidin kemudian menceraikan istrinya yang sudah tidak muda lagi dan sudah letih karena bekerja keras. Tak lama setelah menceraikan istrinya, lelaki itu menikahi seorang putri raja yang kaya raya serta tiga gadis lain yang cantik seperti bidadari,” tulis de Wit. Kekayaan yang dimilikinya tak membuat Pah-Sidin puas. Setiap kali ia menginginkan lebih banyak uang, Nyi Blorong akan mendatanginya di malam hari, dan memeluknya lalu memberinya lebih banyak dari yang ia minta. Demikianlah tahun demi tahun berlalu dengan penuh kebahagiaan bagi Pah-Sidin hingga rambutnya mulai memutih, matanya mulai sulitmelihat, dan giginya mulai rontok. Baca juga:  Selain Jadi Babi Ngepet Di suatu malam, Nyi Blorong datang menemui Pah-Sidin tanpa dipanggil. Ia berkata, “Pah-Sidin! Waktunya telah tiba. Ikutlah denganku, dan aku akan menjadikanmu ambang pintu istanaku.” Tetapi Pah-Sidin menjawab, “Aduh! Nyi Blorong, lihatlah aku, betapa kurusnya aku, tulang rusukku hampir menembus kulit pinggangku. Tentu saja, engkau akan melukai ekormu saat melewatiku, jika engkau menjadikanku sebagai ambang pintu rumahmu. Lebih baik bawalah anak buahku yang masih muda, gemuk, dan mulus ini bersamamu!” Nyi Blorong kemudian membawa anak buah Pah-Sidin.Setelah berhasil lolos dari ajakan Nyi Blorong, Pah-Sidin justru menikahi istri baru dan hidup lebih bahagia dari sebelumnya. Tahun demi tahun berlalu dengan penuh kebahagiaan bagi Pah-Sidin hingga di malam terakhirtahun kesepuluh, Nyi Blorong kembali datang menemui lelaki itu tanpa dipanggil, dan berkata “Pah-Sidin! Waktunya telah tiba. Ikutlah denganku, dan aku akan menjadikanmu pilar istanaku.” Pah-Sidin kembali mencoba menipu Nyi Blorongdengan berkata: “Aduh, Nyi Blorong! Lihatlah aku, betapa lemahnya aku. Bahuku sangat bengkok sehingga aku hampir tidak bisa menahan jaket baju agar tidak meluncur ke bawah. Sesungguhnya atap rumahmu akan runtuh dan menimpamu jika engkau menjadikan aku sebagai tiang rumahmu. Lebih baik, bawalah adik bungsuku yang kuat, tinggi dan berbahu lebar.” Baca juga:  Babi Ngepet, Mitos, dan Krisis Nyi Blorong kemudian membawa adik bungsu Pah-Sidin, dan sekali lagi ia berhasil lolos dari ajakan makhlus halus tersebut. Tak berselang lama, Pah-Sidin kembali menikah dengan istri baru dan hidup lebih bahagia dari sebelumnya. “Demikianlah sepuluh tahun berlalu dengan penuh kemuliaan dan kebahagiaan. Namun, pada malam terakhir di tahun kesepuluh, Nyi Blorong untuk ketiga kalinya datang menemui Pah-Sidin tanpa dipanggil,” tulis de Wit, “roh jahat itu kembali mengajak Pah-Sidin ke rumahnya untuk dijadikan batu perapian di istana makhluk halus tersebut.” Pah-Sidin menganggap akan kembali berhasil mengelabui Nyi Blorong.Ia mengatakan bahwa suhu tubuhnya terlalu dingin serta basah oleh keringat, dan oleh karena itu akan sulit bagi Nyi Blorong untuk menyalakan api perapian di istananya. Lelaki serakah itu meminta Nyi Blorongmembawa anak sulungnya yang sehat, hangat, dan kering untuk dijadikan batu perapian. Akan tetapi, dengan suara yang membuat jantung Pah-Sidin berdegup kencang, Nyi Blorongberteriak, “aku tidak akan mengambil siapa pun kecuali engkau, orang tua! Dan, karena engkau begitu dingin dan basah, aku akan memberikan api yang tidak dapat binasa untuk menghangatkan dan mengeringkanmu!” Nyi Blorong kemudian mencengkeram leher Pah-Sidin, dan membawanya ke tempat tinggalnya yang mengerikan untuk dijadikan batu perapian selama-lamanya. “Inilah akhir kisah yang panjang ini, dan begitulah nasib mereka yang membiarkan diri mereka ditaklukkan oleh keserakahan dan tipu muslihat Nyi Blorong yang jahat,” tulis de Wit. *

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page