top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tiga Wajah Willy Wonka

    BANYAK orang percaya zat asam amino triptofan yang terkandung dalam cokelat yang dikonsumsi merangsang kadar serotonin dan hormon endorphin yang bisa jadi mood booster hingga memicu perasaan bahagia. Lantaran itulah senyum lebar nan eksentrik selalu terpancar dari wajah seorang Willy Wonka. Willy Wonka tentu bukan tokoh nyata. Ia sekadar satu dari sekian karakter dalam novel Charlie and the Chocolate Factory (1964) karangan novelis Inggris berdarah Norwegia, Roald Dahl. “Tepat sebelum kematian Olivia (putri sulung Dahl), ia merampungkan novel terakhirnya Charlie and the Chocolate Factory dengan karakter sentral baru, Willy Wonka –seorang manusia super yang jenius dengan kemampuan menciptakan permen dan cokelat paling menakjubkan di dunia,” tulis Donald Sturrock dalam Staoryteller: The Authorized Biography of Roald Dahl . Baca juga: Ironi Pendiri McDonald's dalam  The Founder Dua ilustrasi awal karakter Willy Wonka (Charlie and the Chocolate Factory, Colored Editions) Untuk sedikit menggambarkan figur-figur dalam karakter novelnya, Dahl dibantu ilustrator Joseph Schindeman dan Faith Jacques. Sosok Willy Wonka sendiri digambarkan sebagai pemilik pabrik cokelat yang eksentrik dengan top hat , jas buntut, serta tongkatnya. Kendati demikian, ilustrasi di edisi pertama masih hitam putih. Adapun edisi cerita bergambarnya pada 1985 yang berwarna tokoh-tokohnya digambarkan lebih jelas oleh ilustrator Quentin Blake. Karakter Willy Wonka diperlihatkan mengenakan topi tinggi khasnya berwarna hitam, jas buntut ungu, dasi kupu-kupu besar bermotif polkadot merah, dan setelan celana hijau. Karakter Willy Wonka makin populer dan tampak makin “nyentrik” setelah novel itu tiga kali dialihwahanakan ke layar perak. Mulai dari film Willy Wonka and the Chocolate Factory (1971), Charlie and the Chocolate Factory (2005), dan yang terbaru Wonka (2023). Ketiganya menampilkan aktor-aktor yang memerankan Willy Wonka dengan “warna” berbeda. Gene Wilder (1971) Para pemeran Willy Wonka and the Chocolate Factory (Paramount Pictures) Lewat garapan sineas Mel Stuart, film Willy Wonka and the Chocolate Factory yang rilis pada 30 Juni 1971 jadi realisasi novel Dahl untuk kali pertama. Dahl sendiri terlibat dalam penulisan naskahnya kendati ia mengaku kecewa pada hasil akhir film berdurasi 100 menit keluaran Paramount Pictures tersebut. Pertama adalah penggambaran tokoh bocah Charlie Bucket yang juga merupakan tokoh sentralnya. Dalam novelnya, Dahl menggambarkan Charlie sebagai bocah kulit hitam, sementara dalam film Charlie yang diperankan Peter Ostrum adalah bocah berkulit putih. Kedua , adalah judulnya yang kemudian mencerminkan pusat ceritanya. Dari judul filmnya yang mengedepankan nama “Willy Wonka” ketimbang “Charlie” sebagaimana di novelnya, membuat porsi Willy Wonka terlalu mendominasi cerita ketimbang Charlie yang sejatinya tokoh paling sentral di novel Dahl dan itu berkelindan dengan pemilihan pemeran Willy Wonka-nya. Tokoh Willy Wonkanya sendiri di film itu diperankan komedian Jerome Silberman alias Gene Wilder. Penampakan tokohnya sedikit berbeda dari versi ilustrasi novelnya, yakni mengenakan top hat coklat, jas buntut ungu, dasi kupu-kupu kelabu, dan celana krem. Baca juga: Para Pemeran di Balik Topeng Batman Nama Wilder juga bukan pilihan utama sang novelis. Dahl cenderung ingin aktor Spike Milligan yang memerankannya. Tetapi akhirnya ia menyerah ketika jajaran produser memilih nama Gene Wilder, yang pesonanya memengaruhi perubahan tokoh sentral dari Charlie ke Willy Wonka. “Filmnya memang berdasarkan novel Roald Dahl tapi tim produksi tahu apa yang mereka lakukan ketika mengubah judulnya. Penampilan Wilderlah yang mendorong fokus film itu berubah. Wilder yang menemukan humornya melalui katarsis bisa memiliki nuansa berbeda ketika tersenyum bak kucing Chesire,” tulis buku Gene Wilder yang dirilis majalah Life , 1933-2016: The Man Who Was Willy Wonka and So Much More. Faktor-faktor itulah yang membuat Dahl marah dan tidak simpatik pada filmnya. Ia menyesalkan tim produksi tak mempertimbangkan Milligan yang sampai mencukur habis jenggotnya untuk ikut audisi. “Pilihan Dahl ditolak hanya karena (produser) memilih Wilder. Tak peduli ia dibayar 300 ribu dolar sebagai penulis naskahnya, dia menjauhkan diri dari film itu dan bahkan mengampanyekan penentangan film itu dalam wawancara TV maupun majalah,” sambung Sturrock. Johnny Depp (2005) Karakter Willy Wonka dengan komedi yang sedikit dark dibawakan Johnny Depp (Warner Bros.) Butuh waktu lama bagi karakter Willy Wonka comeback ke layar lebar. Ia muncul lagi seiring remake –dengan judul serupa novel aslinya– racikan sutradara Tim Burton, Charlie and the Chocolate Factory yang rilis pada 15 Juli 2005. Meski filmnya meledak di pasaran ( box office 475 juta dolar), produksi film keluaran Warner Bros itu justru dinyinyiri Wilder si pemeran Willy Wonka versi 1971. Padahal, jalan ceritanya masih “11-12” dengan versi 1971 atau versi novel. Yakni petualangan lima anak berbeda persona yang bisa mengunjungi pabrik cokelatnya Willy Wonka karena mendapatkan tiket emas tersembunyi. “Segalanya karena uang. Ibaratnya seperti sekumpulan orang yang duduk-duduk dan berpikir: ‘bagaimana caranya kita bisa mendapatkan uang lebih banyak?’ Kalau bukan begitu, kenapa juga Anda me- remake Willy Wonka? Saya tak melihat hal penting untuk mengulangi ceritanya lagi,” ketus Wilder, dikutip The Telegraph , 1 Juni 2005. Baca juga: Wajah Joker dalam Lima Aktor Kendati begitu, Wilder cukup terkesan dengan pemilihan John Christopher Depp II alias Johnny Depp sebagai penerus tongkat estafet tokoh Willy Wonka. Secara sinematik, penampakan Willy Wonka sangat berbeda dari versi 1971 atau versi novelnya. Ia digambarkan sebagai sosok nyentrik dengan top hat hitam, jas merah marun tanpa dasi kupu-kupu, melainkan bersarung tangan lateks. “Saya suka Johnny Depp dan saya mengapresiasi pernyataannya bahwa peran yang saya tinggalkan akan sangat sulit dibawakan kembali,” lanjutnya. Nama Depp juga tak langsung muncul ketika film itu mulai masuk fase pra-produksi pada 2003. Banyak nama besar yang masuk bursa gosip potensial memerankannya, yakni Bill Murray, Christopher Walken, Steve Martin, Robin Williams, Brad Pitt, Will Smith, Ben Stiller, Nicolas Cage, hingga Jim Carrey. Tetapi sutradara Tim Burton pada akhirnya hanya mempertimbangkan Johnny Depp sebagai pilihan utama dan Dwayne “The Rock” Johnson sebagai opsi cadangan seandainya Depp menolak. Toh Depp juga masih terikat kontrak dengan Warner Bros. setelah memerankan karakter eksentrik dan kondang Captain Jack Sparrow di film yang meledak di pasaran, Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl (2003). Baca juga: Lima Aktor Berjubah Superman Syukurnya Depp sangat antusias ketika ditawari peran Willy Wonka. Lantaran merasa peran yang ditinggalkan Wilder akan sangat sulit ia perankan kembali, Depp cenderung ingin membawa arah persona Willy Wonka yang berbeda dari persona Wilder. “Yang jelas sangat penting untuk tidak menyamakan dengan dengan film lain (versi 1971). Bayangan akan Gene Wilder begitu lekat di otak Anda dan Anda tak bisa menyingkirkannya. Tapi saya menyadari jika ingin mulai masuk ke dalam perannya, saya mengatakan pada diri sendiri: ‘jauhilah (bayangan Wilder)’,” kata Depp, dilansir Entertainment Weekly , 15 Juli 2005. Sejumlah kritikus pun mengakui perubahan persona itu. Tokoh Willy Wonka yang diperankan Depp, meski tetap jenaka dan imajinatif, karakternya turut berpadu komedi gelap. “Jika Gene Wilder menyajikan persona komik yang konyol, Depp menyelami lebih dalam luka di dalam hati Wonka yang sempat dirahasiakan,” tulis kritikus Peter Travers di kolom Rolling Stone, 14 Juli 2015. Timothée Chalamet (2023) Film Wonka  membawa nuansa baru dengan aktor muda Timothée Chalamet (Warner Bros.) Meski tetap musikal, sineas Paul King menggarap Wonka justru sebagai prekuel dari versi 1971. Menilik trailer -nya , film keluaran Warner Bros yang baru akan rilis pada 15 Desember 2023 itu berpusat pada sosok Willy Wonka muda yang bertualang sebelum ia mendirikan pabrik cokelat. Wonka sama sekali tak mengadaptasi novel Dahl . Wonka hanya “meminjam” karakter-karakternya, di mana naskahnya dikembangkan King dibantu Simon Farnaby karena melihat ada celah yang bisa diperdalam lagi dari novel Dahl. “Tentu menjadi tantangan mengembangkan ceritanya karena dia (Willy Wonka) figur yang misterius dalam bukunya. Dia menutup pabriknya dan tiada yang melihat penampakannya selama bertahun-tahun, dan Kakek Joe punya banyak cerita tentang dia, tetapi tidak ada yang benar-benar yakin kebenarannya,” ujar King kepada Games Radar , 11 Juli 2023. Baca juga: Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah Wonka sendiri sudah mulai dipikirkan Warner Bros untuk diproduksi sejak 2016. Dua tahun berselang, proyek film musikal itu benar-benar dimulai dengan masuknya sejumlah nama ke bursa gosip calon pemeran mulai dari Donald Glover, Ryan Gosling, hingga Ezra Miller. Tetapi ketika King mendapat kepercayaan sebagai sutradaranya pada Januari 2021, tiga bulan berselang ia sudah langsung mengusulkan nama Timothée Hal Chalamet. Kendati masih sangat muda, toh Chalamet sudah mulai jadi aktor cilik sejak usia 10 tahun. Faktor lainnya adalah karena Chalamet terbiasa berada di panggung teater musikal dan punya kemampuan menari dan vokal yang memadai.  “Karena dia adalah Timothée Chalamet dan hidupnya begitu absurd . Penampilan musikal di masa SMA-nya tersebar di YouTube dan ratusan ribu viewers- nya. Jadi saya tahu dari situ Timmy Chalamet mampu bernyanyi dan menari dengan sangat baik,” tukas King. Baca juga: Enam Wajah di Balik Topeng Spider-Man

  • Bukan Sembarang Maen Pukulan

    HALAMAN parkir Masjid Jami Nurul Falah di Ragunan, Jakarta Selatan, penuh orang berpakaian serba hitam. Sebagian berusia belia. Beberapa masih anak-anak. Sabuk hijau khas betawi melingkari pinggang mereka. Mereka lagi berlatih jurus silat. Dipandu seorang guru, gerakan mereka tampak lincah. Sesekali kaki dihentakkan, buuuk. Lalu pukulan dilayangkan. Kepalan tangan mereka dibalik dan lengan menghadap ke atas.

  • Wisata Pasca-Perang

    Sekelompok perwira tentara Belanda datang dari Semarang menuju Yogyakarta. Paling senior dalam rombongan itu berpangkat Letnan Kolonel. Ketika melewati pos penjagaan TNI di perbatasan Magelang-Sleman, mereka ditanyai tentara Indonesia. Para perwira Belanda itu mengatakan mereka ingin mengunjungi kota Yogyakarta. Kapten Abdul Latief, bekas komandan kompi di Komando Militer Kota (KMK) Yogyakarta yang kelak ditahan akibat keterlibatannya dalam Gerakan 30 September tahun 1965, mengetahui kehadiran para perwira Belanda itu. Kapten Latief pernah kehilangan banyak anak buah ketika bertempur melawan tentara Belanda dalam Serangan Umum 1 Maret 1949. Saat itu pasukan Kompi Latief  berpangkalan di sekitar Kulonprogo lantaran kurang disentuh oleh tentara Belanda. Ketika Latief mengetahui sekelompok perwira Belanda yang ingin berwisata itu, sudah tidak ada tembak-menembak antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan tentara Belanda. Di mata tentara Belanda, perang sudah selesai. Banyak wajib militer dalam tentara Belanda Koninklijk Landmacth (KL) lebih menyukai pulang daripada berperang dengan Republik Indonesia. Namun, mereka masih harus menunggu waktu untuk dipulangkan ke negeri Belanda. Mereka pun praktis hanya menunggu. Berwisata adalah kegiatan terbaik bagi mereka yang jauh dari rumah itu. Tak terkecuali para perwira yang ingin berwisata ke Yogyakarta itu. Di pihak Indonesia pun, rakyat juga baru kembali hidup normal. Pemerintah sedang melakukan konsolidasi. Banyak tentara baru saja keluar dari hutan atau turun gunung. Kapten Abdul Latief yang mengetahui kehadiran para perwira tentara Belanda itu pun tak tinggal diam. Maklum, saat itu masih status perang meski tembak-menembak sudah tak ada. Buku Republik Indonesia Daerah Istimewa Jogjakarta mencatat, pada 1950 pemerintah militer berkuasa hingga 15 Agustus 1950, ketika kekuasan kembali ke pemerintahan sipil. Seorang mayor dan kapten tentara Belanda di pos TNI perbatasan Magelang-Sleman pun mendatangi Kapten Latief. Mereka minta izin untuk berwisata ke Yogyakarta sebelum pulang ke Negeri Belanda. Latief tak memberi izin dengan alasan pemerintah sedang berkonsolidasi, rakyat baru saja memulai hidup baru pasca-perang, banyak tentara republik baru pulang dari medan perang. Bagi Latief, keadaan belum stabil meski sudah ada gencatan senjata. Namun penjelasan Latif tak bisa mengubah keinginan para perwira Belanda itu yang berkeras ingin berwisata ke Yogyakarta. Tentu saja mereka bicara dengan bahasa yang halus. Menurut mereka, sudah tidak ada lagi perang di antara RI dan Belanda. Mendapat jawaban itu, Kapten Latief bilang ke mereka agar mereka tidak saling merepotkan. Sebab, hal-hal liar macam balas dendam sangat mungkin masih terjangkit di kalangan orang-orang Indonesia yang banyak jadi korban tentara Belanda di masa perang kemerdekaan. “Saya takut kalau nanti akan terjadi balas dendam dari oknum-oknum atau rakyat yang tidak mengerti aturan militer. Lama kami berdebat dan akhirnya mereka menyadari dengan kecewa dan kembali lagi ke Semarang,” aku Abdul Latief dalam memoarnya yang tak diterbitkan, “Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta”.

  • A Bankrupt Merchant Turned VOC's Governor-General

    ANTHONY van Diemen was considered to be having a good reputation during his time as a VOC (Dutch East India Company) employee and later as a governor-general in Batavia. He was even cited as one of the three most successful governors-general during the mid 17th century alongside Joan Maetsuycker (1653–1678) and Rijkloff van Goens (1678–1681).

  • Kota Medan dari Sarang Preman hingga Begal

    KOTA Medan darurat begal. Mereka beraksi di jalanan, merampok dan menganiaya korban mereka bahkan hingga meninggal dunia. Walikota Bobby Nasution mendesak aparat kepolisian untuk menindak tegas pelaku begal. Bila perlu, seru Bobby, tembak mati saja pembegal di tempat. “Begal dan pelaku kejahatan tidak punya tempat di Kota Medan karena sangat mengganggu ketenangan dan keamanan masyarakat,” tulis Bobby dalam akun Instagram -nya, @bobbynst, setelah polisi berhasil menembak mati seorang pelaku pembegalan pada 9 Juli 2023. Kendati menuai kontra dari kelompok aktivis HAM, Bobby tidak meralat ucapannya. Masyarakat Medan tampaknya mendukung kebijakan Bobby tersebut. Keberadaan begal di Medan memang sudah sangat meresahkan. Sedari dulu Medan tergolong kota dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Sebelum begal, Medan disebut-disebut sebagai kota preman. Jurnalis senior Rosihan Anwar membuktikannya kala berkunjung ke Medan dalam sebuah liputan kota pada 23 Maret 1984. Berita Antara edisi 22 Maret 1984 mewartakan, “Kodam II Bukit Barisan Hendak Memberantas Premanisme”. Baca juga:  Preman Medan dari Zaman ke Zaman “Siapa dapat bercerita tentang preman di Medan?” tanya Rosihan. “Nanti kita ke Jalan Sambu. Bapak lihat sendiri kaum preman itu,” kata pemandunya yang merupakan orang setempat. Sambu terletak di sebelah timur Kota Medan yang menjadi pusat pasar –orang Medan menyebutnya pajak– sekaligus terminal dengan kepadatan lalu-lintasnya. “Apa yang mereka lakukan?” tanya Rosihan lagi. “Mencopet, mencoleng, memeras, bahkan merampok di tempat-tempat pinggiran kota,” jawab si pemandu. “Kalau ada orang lewat yang dikira mudah jadi mangsa, mereka beraksi.” “Apa Saudara merasakan premanisme sebagai ancaman dalam kehidupan sehari-hari?” “Ah, tidak, sudah biasalah pula,” balas sang pemandu dalam nada santai. Baca juga:  Kisah Amat Boyan, Raja Bandit dari Medan Di Sambu, Rosihan menyaksikan jalanan yang semrawut. Disiplin orang dalam berlalu-lintas jangan dicari di sini. Belum lagi persoalan tumpukan sampah dan krisis air bersih. Mana orang preman dan mana yang bukan, tak jelas lagi. Semuanya sudah bercampur. Menurut Rosihan, buruknya sistem prasarana di Medan jadi lahan subur keberadaan preman. Catatan reportasenya di Medan terekam dalam Perkisahan Nusa: Masa 1973—1986 dengan judul “Premanisme dan Prasarana Medan”.   Sejak dekade 1960-an hingga 1980-an, kelompok preman di Medan banyak terserap dan terstruktur dalam organisasi kepemudaan. Tenaga mereka digunakan untuk berbagai tujuan. Mulai dari penjaga tempat hiburan dan perjudian, pengawal pengusaha kaya, termasuk menjadi tukang pukul. Lambat laun aktivitas preman merembet ke dalam kriminalitas. Antar-kelompok preman acapkali saling bertikai hingga bentrokan fisik. Itulah mengapa Medan terkenal dengan semboyan “Ini Medan Bung”, yang terpampang besar ketika kita keluar dari Bandara Polonia. Ia menjadi penanda betapa kerasnya kehidupan sosial di Kota Medan, tempat banyak orang beradu nyali.    Baca juga:  Duel Preman Medan Zaman Perang Kemerdekaan Bagi masyarakat, preman lebih dianggap sebagai pengganggu. Mereka suka memalak –dalam istilah Medan disebut " dikompas "– hingga mencuri, merampok, bahkan membunuh. Pada paruh kedua 1980, Kompas tanggal 30 November melansir premanisme menjadi satu dari 53 jenis kejahatan yang setiap 24 jam harus dilaporkan Polda Sumatra Utara ke Mabes Polri. Pada Februari 1996, prajurit TNI sampai turun tangan untuk menumpas aksi preman. Bermula dari pertikaian antara Praka Sukardi, prajurit kesatuan Kavaleri 6/Serbu, dengan seorang preman berinisial ASM yang dikenal sering bikin onar di depan rumah makan Rindu Minang di Padang Bulan, Kecamatan Medan Baru. Ketika itu Sukadi berusaha menghalangi ASM yang hendak mengutip uang keamanan di rumah makan tersebut. Duel pun terjadi. Tiba-tiba sebuah belati menghujam tubuh Praka Sukadi yang mengakibatkannya tewas. Berbalas teror berlangsung sejak peristiwa itu.       Setiap malam oknum TNI yang mengaku teman-teman Praka Suadi mencari-cari preman yang membunuh rekan mereka itu. Siapa saja yang dicurigai sebagai preman dihajar oleh mereka. Puncaknya terjadi pada 28 Februari 1996, warga Padang Bulan balik menyerang. Mereka melempari asrama Kavaleri sehingga meletuslah kerusuhan. Akibatnya sebanyak 40 kendaraan rusak, 12 orang luka-luka, dan 20-an rumah serta kedai hancur. Kerusuhan berangsur-angsur padam setelah Komandan Kodim 021/Medan Letkol Inf. Mulyono, Wakil Kapoltabes Medan Letkol Pol. Radjiman Tarigan, serta Komandan Provos Mayor S. Pinem ikut menenangkan massa. Baca juga:  Jaringan Preman Sisa Orde Baru Atas kerusuhan itu, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Raden Hartono buka suara. Kepada wartawan, Hartono menyatakan aksi perusakan asrama Kavaleri di Medan yang dilakukan oleh ratusan pemuda itu ditunggangi oleh kelompok preman. Karena itu, pihaknya akan melakukan operasi pemberantasan preman. Dia juga berjanji akan menindak anggotanya yang melanggar aturan. “Tetapi kita tidak akan berhenti di situ. Mengapa sampai anak-anak muda menjadi beringas seperti itu. Oleh karena itu, dari awal saya sudah bilang habisi preman. Mari berikan informasi. Kalau kalian tidak berani, beritakan kepada Angkatan Darat, akan kita habisi,” ucap Hartono dikutip Majalah Dharmasena edisi Maret 1996. Markas Besar ABRI menyerahkan kasus itu sepenuhnya kepada Pangdam I/Bukit Barisan. Pelaku penusukan Praka Sukadi pun akhirnya diringkus aparat kepolisian. Kendati demikian, premanisme tidak benar-benar hilang di Medan. Ia terus ada entah karena tekanan ekonomi atau ajang unjuk diri mewarnai kriminalitas di Kota Medan. Dan kini, setelah preman, Walikota Bobby Nasution pun masih berjuang menghabisi pelaku begal.*

  • Akhir Hubungan Soeharto dan M. Jusuf

    DULU, waktu Jenderal M. Jusuf mejabat Menteri Pertahanan dan Keamanan merangkap Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), figurnya amat populer. Ke mana dia pergi, banyak orang suka melihatnya. Tentu saja kepopulerannya masih di bawah daripada Soeharto. Meski begitu, ada yang menduga kepopuleran Jusuf agak mengkhawatirkan.

  • Kenapa Yogyakarta Mudah Direbut Belanda?

    PAGI 19 Desember 1948, pesawat terbang meraung-raung di atas kota Ibukota RI Yogyakarta. Banyak yang mengira itu pesawat republik sedang latihan. Baru setelah ada tembakan, orang-orang di Yogyakarta mulai sadar bahwa itu Belanda menyerang. Di Lapangan Udara Maguwo (kini Lanud Adisucipto), pasukan payung Belanda mendarat untuk merebut bandara sementara pasukan komando baret hijau mendarat dan langsung bergerak memasuki kota. Setelahnya, tentara Belanda mengepung Yogyakarta. Tak ada perlawanan besar dari tentara Indonesia. Akibatnya, sebelum gelap ibukota sudah diduduki Belanda, bahkan para petinggi republik ditangkapi dan ditawan. Tentara Indonesia memilih bergerilya ke Jawa Barat maupun luar kota Yogyakarta. Komandan Komando Militer Kota (KMK) Yogyakarta kala itu adalah Letnan Kolonel (Letkol) Latief Hendraningrat, yang pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur mengibarkan bendera merah-putih dalam upacara Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat , sebelumnya Latief menjadi kepala Pendidikan di Markas Besar Umum TKR. Dia menjadi komandan KMK pada 1948. Baca juga: Detik-detik Latief Hendraningrat Saat Agresi Militer Belanda itu, komandan KMK Yogyakarta dalam kondisi tidak akan bisa mempertahankan Yogyakarta. Suatu hari, Letkol Latief Hendraningrat ditanyai seorang anak buahnya mengapa kota Yogyakarta mudah direbut Belanda. Si anak buah ini adalah komandan kompi yang berada di bawah KMK Yogyakarta dan satu-satunya pasukan yang dimiliki KMK Yogyakarta. Si anak buah ini juga bernama Latief dan asal Jawa Timur juga tapi jauh lebih muda daripada Latief Hendraningrat. Dia adalah Kapten Abdul Latief. “Negara kita pada waktu itu sedang menghadapi gejolak situasi politik pertentangan antara kita dengan kita sejak awal revolusi, begitu banyak organisasi-organisasi pada saat pecah revolusi yang memiliki pasukan bersenjata sendiri-sendiri. Mereka umumnya kurang mementingkan persatuan nasional untuk menghadapi musuh, tetapi banyak digunakan untuk kepentingan politik atau ideologi masing-masing,” terang Latief Hendraningrat kepada Abdul Latief, seperti dicatat Latief dalam manuskrip yang tak diterbitkan dengan judul “Serangan Umum 1 Maret 1949” di Yogyakarta. Baca juga:  Soeharto Pernah Ditangkap di Madiun Kondisi tersebut membuat tentara Belanda tak perlu bersusah payah untuk mengalahkan pejuang Indonesia. Toh pihak Indonesia sudah terpecah-pecah dari awal. Seingat Abdul Latief, sebelum tentara Belanda menyerang, sangat banyak kombatan bersenjata berkeliaran di sekitar Malioboro. Banyak yang berlaga seperti jagoan. Pada 1948, di Jawa Tengah ada kelompok tentara dari Jawa Barat dan Jawa Tengah yang saling berseteru di Solo, dan akhirnya melebar menjadi masalah di Madiun. Atas dasar menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, tenaga pasukan dari Jawa Barat diforsir oleh pemerintah. Sebelum penyerangan, segala isu bisa menjadi bahan perpecahan. Termasuk terkait perundingan-perundingan, mulai Linggarjati, Renville, hingga Roem-Royen. Ada kelompok yang mendukung ada pula yang melawan. Baca juga:  Dialog dengan Kolonel Latief Belum lagi adanya Rasionalisasi dan Rekonstruksi (RERA) di kalangan tentara pada 1948. Tak hanya banyak anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang turun pangkat, beberapa divisi dikurangi hingga tinggal menyisakan satu divisi saja. Itu menjadi sesuatu yang melemahkan perjuangan. “Sampai-sampai kita melupakan pertahanan untuk memperkuat kekuatan di Ibukota sendiri. Ternyata pasukan di ibukota kosong,” kata Latief Hendraningrat. Di sekitar Yogyakarta, hanya ada sebuah resimen yang dipimpin Letkol Soeharto. Ketika di dalam pihak RI saling-sikut, maka dengan mudah tentara Belanda menyerbu. Sebelum serangan 19 Desember 1948 (Agresi Militer II), ada serangan 21 Juli 1947 (Agresi Militer Belanda I). Latief Hendraningrat bilang ke Abdul Latief bahwa Abdul Latief juga tahu perpecahan-perpecahan itu. “Harus kita akui secara jujur, bahwa waktu itu menjadi komadan KMK di Ibukota adalah sangat rumit, karena belum teraturnya susuana komando yang pasti dan masih terdapat dualisme,” kata Latief Hendraningrat kepada Abdul Latief.*

  • Soeharto dan Balikpapan

    PULAU Kalimantan dulu pernah punya empat Komando Daerah Militer (Kodam). Semua provinsi di Kalimantan kala itu, yang berjumlah empat, masing-masing ditempati Kodam berbeda-beda. Sebelum pertengahan 1985, Kodam Tambun Bungai di Kalimantan Tengah dihilangkan. Kalimantan Tengah lalu disatukan bersama Kalimantan Selatan dengan Kodam-nya Lambung Mangkurat, yang sebelumnya hanya membawahi Kalimantan Selatan.

  • Resmi! Belanda Serahkan 472 Benda Bersejarah ke Indonesia

    AKHIRNYA ratusan benda bersejarah asal Indonesia yang dijarah Belanda di masa kolonial resmi diserahkan kembali oleh pemerintah Belanda kepada perwakilan pemerintah Indonesia. Penyerahan 472 artefak itu ditandai dengan penandatanganan peresmian serah terima di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda pada Senin (10/7/2023) pagi waktu setempat. Agenda penyerahan itu dihadiri Menteri Muda urusan Kebudayaan dan Media Belanda, Gunay Uslu dan ketua Comissie Koloniale Collecties Lilian Gonçalves-Ho Kang You dari pihak Belanda. Sementara delegasi pemerintah Indonesia diwakili Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid yang didampingi Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda yang diketuai I Gusti Agung Wesaka Puja. Mengutip rilis pers Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda, sebanyak 472 benda bersejarah itu terbagi menjadi empat koleksi. Masing-masing terdiri dari sebuah Keris Klungkung, empat arca era Kerajaan Singhasari, 132 benda seni koleksi Pita Maha, dan 335 harta karun jarahan Ekspedisi Lombok 1894. “Repatriasi benda bersejarah ini bukan sekadar memindahkan barang dari Belanda ke Indonesia, melainkan pula mengungkap pengetahuan sejarah dan asal-usul benda-benda seni bersejarah yang selama ini belum diketahui masyarakat. Jauh sebelum benda-benda tersebut kembali ke Indonesia, kedua komite repatriasi dari Indonesia dan Belanda bekerjasama melakukan serangkaian pertemuan dan diskusi untuk membahas makna dari benda-benda tersebut bagi kedua bangsa baik di masa lalu maupun di masa kini,” demikian bunyi rilisan tersebut. Baca juga: Belanda Siap Kembalikan 472 Jarahan Kolonial ke Indonesia Beberapa arca Singhasari yang akan dipulangkan dari Belanda (Nationaal Museum van Wereldculturen) Repatriasi ini merupakan realisasi dari Memorandum of Understanding (MoU) tentang proses teknis penyerahan benda-benda bersejarah yang diteken kedua belah pihak pada 13 Februari 2017. MoU itu diperkuat dengan pengajuan dari pihak pemerintah Indonesia via surat resminya pada 1 Juli 2022. “(Pemerintah) Indonesia dan Belanda menyepakati bahwa penyerahan ini diatur dengan niat baik dan kerjasama yang erat, dibantu oleh Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda dan Komite Pengembalian Benda-Benda Kolonial. Pengembalian benda-benda ini berbasis pada provenance research (penelitian asal-usul) oleh para ahli,” kata dokumen kesepakatan tersebut. Sebelumnya ke-472 artefak itu tersimpan di Nationaal Museum van Wereldculturen (Museum Nasional Kebudayaan Dunia), Amsterdam, Belanda. Lepas peresmian penyerahannya, ratusan benda itu ke depannya akan jadi tanggungjawab pihak Indonesia. Sementara proses pemulangannya ke tanah air akan ditentukan dalam waktu dekat dengan diongkosi pemerintah Belanda. Terlepas dari empat koleksi yang meliputi 472 benda itu, masih ada empat artefak lain yang belum belum akan dipulangkan kendati sudah turut diajukan pada 1 Juli 2022. Empat benda yang dimaksud adalah tali kekang milik Pangeran Diponegoro, Al-Quran milik Teuku Umar, koleksi fosil manusia purba Pithecanthropus erectus / Homo erectus (Manusia Jawa) temuan Eugène Dubois, dan regalia Kerajaan Luwu. Baca juga: Menanti Fosil Manusia Jawa Kembali dari Belanda

  • The Poignant Tales of Ianfu

    Tukiyem, 82 years old, from Karanganyar, Central Java

  • Ianfu, The Dark and Forgotten History of Japanese Sex Slaves

    SUKARNO was in Padang when the Japanese arrived. He had just been moved by the Dutch from exile in Ende to Bengkulu, then by road to Padang. The Dutch were going to evacuate Sukarno to Australia but the Japanese had already taken control of Sumatra. In Padang, he frequently met Japanese army commanders who asked him to cooperate.

  • Rampasan Belanda yang Dikembalikan ke Sri Lanka

    BERANGSUR-ANGSUR Belanda mengembalikan benda-benda bersejarah hasil rampasan era kolonial ke negeri asalnya. Tidak hanya dari Indonesia, sejumlah artefak asal Sri Lanka juga direpatriasi setelah melalui provenance research atau penelitan akan sumber dan asal-usulnya. Total ada 478 benda sejarah yang akan direpatriasi pemerintah Belanda lewat Menteri Muda urusan Kebudayaan dan Media Gunay Uslu di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda pada Senin (10/7/2023). Enam di antaranya akan diserahkan kepada perwakilan Sri Lanka. “Kami tidak hanya akan mengembalikan benda-benda bersejarah itu, (tetapi) kami sedianya memulai sebuah periode di mana kami akan bekerja lebih intens dengan Indonesia dan Sri Lanka. Sebagai contoh, dalam hal riset koleksi, presentasi, dan pertukaran para pakar museum profesional,” ungkap Menteri Uslu di laman pemerintah Belanda , Kamis (6/7/2023). Baca juga: Belanda Siap Kembalikan 472 Jarahan Kolonial ke Indonesia Enam koleksi asal Sri Lanka yang dimaksud adalah sebuah meriam berlapis emas Lewke, dua senapan benteng maha thuwakku , dua pedang kasthāné yang masing-masing satu berlapis emas dan satu berlapis perak, serta sebuah pihiya atau belati berlapis emas. Untuk sementara, keenam koleksi itu masih bersemayam di Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda. Sejarawan Sri Lanka Ganga Rajinee Dissanayaka mengungkapkan dalam rangkuman artikelnya yang termaktub di The Rijksmuseum Bulletin , Vol. 70, No. 4 tahun 2022, “Lewke’s Cannon: A Visual and Political Dialogue Captured in Gold and Silver”,  pemerintah Sri Lanka sedianya sudah mulai mengajukan repatriasinya sejak 1990-an. Tetapi baru pada 2021 dibentuk sebuah tim untuk melakukan provenance research -nya terlebih dulu. Meriam Lewke asal Sri Lanka yang tersimpan di Rijksmuseum Belanda ( rijksmuseum.nl ) Tim yang dimaksud adalah tim Pilot Project Provenance Research on Objects of the Colonial Era (PPROCE). Tim itu berisikan sejumlah ahli Belanda dan Sri Lanka yang berkolaborasi, antara lain Dr. Alicia Schrikker, Doreen van den Boogart, Prof. Asoka de Zoysa, Dr. Ganga Dissanayaka, Ruth Brown, Kay Smith, dan Arie Pappot. Pada medio Juni 2023, Kepala Staf Kepresidenan Sri Lanka Sagala Gajendra Ratnayaka mewakili pemerintah Sri Lanka mengirim pengajuan resmi ke pemerintah Belanda untuk pengembaliannya. Pengajuan itu lantas disambut hangat Menteri Uslu. Baca juga: Repatriasi Artefak Indonesia dan Virus Dekolonisasi Sambutan hangat itu tentu bukan tanpa “syarat”. Setidaknya kedua belah pihak sudah saling menyepakati perihal pemeliharaan pasca-penyerahannya. Meski penyerahannya akan dilakoni medio Juli nanti, proses pemulangannya diperkirakan baru akan dilakukan pada awal Oktober 2023, menunggu ruangan khusus yang akan dibuat di Sri Lanka. Keenam koleksi di atas direncanakan bakal disimpan di Museum Nasional Kolombo, tepatnya di sebuah ruangan yang suhunya bisa disesuaikan demi melindungi dan memelihara koleksi-koleksi dimaksud. Ruangan yang juga akan disupervisi pemerintah Belanda itu saat ini masih dalam tahap pembangunan dan baru bakal rampung pada September 2023. Koleksi senapan maha thuwakku, dua pedang kasthāné, dan belatih pihiya ( rijksmuseum.nl ) Jarahan Perang Kandy-Belanda Repatriasi bukan sekadar memulangkan artefak ke negeri asal sebagai pemiliknya. Namun, benda yang dipulangkan itu juga mesti memproduksi pengetahuan. Di situlah provenance research untuk menggali dan membuktikan informasi akan asal-usul yang orisinil menjadi penting. Satu dari enam koleksi Sri Lanka di atas yang paling disorot dalam riset asal-usulnya adalah Meriam Lewke. Pasalnya, menurut Dissanayaka, dari segi bentuk dasar, meriam itu sangat mirip –baik dimensi, panjang 94 cm dan diameter 43 cm; maupun segala atribut penyokongnya– dengan sebuah meriam kuno lain bermaterial perunggu di Istana Windsor, Inggris. Bedanya, Meriam Lewke berhias ukiran khas Kerajaan Kandy berlapis emas, perak, serta taburan batu rubi. “Dari temuan akan kesamaan meriam dengan yang ada di Istana Windsor, kita bisa menyimpulkan bahwa Meriam Lewke sejatinya tidak dibuat dan didekorasi dalam satu tahap melainkan dua kali,” tulis Dissanayaka. Baca juga: Tantangan Mengembalikan Prasasti dari Inggris Analisis komparatifnya, lanjut Dissanayaka, menghasilkan asumsi kuat bahwa mulanya meriam itu dibuat VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur) di Republik Belanda pada pertengahan abad ke-17. Diyakini pula bahwa meriam itu jadi persembahan VOC kepada penguasa Kerajaan Kandy, sebab Kandy dan VOC sempat bersekutu untuk menyingkirkan Portugis dari Seylon (sebutan lama Sri Lanka) via Traktat Kandy (23 Mei 1638). Oleh karenanya di beberapa bagian Meriam Lewke juga terdapat beberapa motif ukiran khas Eropa. Asumsi kuat lainnya dari penelitian itu adalah meriam tersebut kemudian dipergunakan salah satu pejabat tinggi Kerajaan Kandy, Lewke Disawe alias Lewke Wijesundera Rajakarunanayake Seneviratne Herath Mudiyannahe Lewke Bandara. Ia merupakan Maha Dissavas (semacam bupati) di wilayah Sathara Korale dan paling berpengaruh di masa Raja Vijaya Rajasinha yang berkuasa di periode 1739-1747. Kemiripan Meriam Lewke (atas) dan meriam perunggu di Istana Windsor ( rijksmuseum.nl ) Lewke kemudian membuatkan ukiran-ukiran khas Sinhala serta simbol-simbol Kerajaan Kandy berlapis emas dan bertabur batu rubi. Meriam yang sudah berubah “wajah” itu lalu dijadikan persembahan buat Raja Vijaya Rajasinha. Bukti sahihnya tertulis di sebuah inkripsi berbahasa Sinhala di meriamnya yang berbunyi: “Meriam ini dibuat Lewke yang memegang jabatan Disawe di Satara Korale selama masa akhir Vinsanthiya dan masa Krodha, masa di mana datangnya tahun shakawarsha (tahun saka) seribu enam ratus enam puluh tujuh.” Dissanayaka menguraikan, “istilah Vinsanthiya dan Krodha merujuk pada momen-momen spesifik dalam 60 tahun perputaran Planet Jupiter dan tahun saka 1667 merujuk pada periode 14 April 1745-14 April 1746 (masehi). Ini menandakan tahun yang sama ketika meriam itu dipersembahkan kepada Raja Sri Vijaya Rajasinha.” Baca juga: Senjakala Monarki di Sri Lanka Sejak saat itu Meriam Lewke selalu dipajang di istana raja dan didentumkan setiap kali menyambut tamu kehormatan sang raja. Namun ketika hubungan Kerajaan Kandy dan VOC memburuk, meriam itu turut dirampas seiring penjarahan dan penghancuran Istana Kerajaan Kandy dalam Perang Kandy-Belanda (VOC) pada 1762-1765. Dua tahun berselang, meriam itu dibawa ke Belanda oleh gubernur koloni Lubbert Jan van Eck. “Benda ini (Meriam Lewke) kemudian dibawa ke Belanda sebagai satu dari sekian koleksi rampasan yang dipersembahkan kepada stadhouder Willem V pada 1767, usai penyerangan besar ke Kandy pada 1765. Benda itu disimpan di lemari sang stadhouder sebagai trofi perang,” tukasnya. Ukiran berlapis emas khas Kerajaan Kandy dan inkripsi berbahasa Sinhala di Meriam Lewke ( rijksmuseum.nl )

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page