top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Serba-serbi Sepakbola Fiji

    MENJELANG Piala Asia U-20 di Uzbekistan (1-18 Maret 2023) dan Piala Dunia U-20 (20 Mei-11 Juni 2023) di rumah sendiri, tim nasional (timnas) Indonesia U-20 memantapkan persiapan di turnamen internasional mini “rasa” persahabatan, 18-21 Februari 2023. Fiji, Guatemala, dan Selandia Baru diundang dalam turnamen yang bersistem round-robin itu. Namun, upaya tim “Garuda Muda” untuk berproses matang diri itu dinodai perkelahian dengan pemain lawan di laga pembukanya pada Sabtu, 18 Februari, lalu di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) kontra Fiji U-20. Meski Indonesia menang telak 4-0, laga itu diwarnai keluarnya empat kartu merah dan dinodai baku-hantam antarpemain di menit ke-89. Perkelahian itu diawali dari perseteruan antara bek timnas Frengky Missa dan bek Fiji Pawan Pratap Singh. Frengky terkena dua kali bogem mentah dari Singh hingga memicu keributan dua kubu pemain. Pelatih timnas, Shin Tae-yong (STY), yang memprotes keras kelakuan pemain lawan bahkan mendapat dorongan. STY jelas kecewa dan tak menyangka perilaku pemain Fiji seperti sengaja dilatih kasar guna merobohkan pemain lawan. “Seharusnya kejadian di lapangan (keributan, red. ) tidak terjadi. Apalagi sampai ada kartu merah. Kejadian ini pastinya sangat mengecewakan bagi kami karena Indonesia dan Fiji sama-sama dalam persiapan menuju turnamen,” ujar STY pasca-laga. Baca juga: Mula Tim Garuda Pelatih Timnas U-20 Shin Tae-yong di laga Indonesia vs Fiji ( pssi.org ) Di sisi lain, Fiji Football Association (FFA) tak menutup mata. Mengutip laman resmi FFA, 18 Februari 2023, Presiden FFA Rajesh Patel meresponnya dengan memulangkan pemainnya yang memicu perkelahian itu dan akan memberi sanksi disiplin tegas. Federasi sepakbola Fiji juga meminta maaf kepada manajemen dan pemain timnas serta publik Indonesia. “Fiji FA tidak akan membiarkan perilaku seperti itu dari pemain nasional kami di dalam tim. Kami akan menindak tegas pemain yang mencederai sepakbola dan negara,” tutur Patel. Fiji U-20 sendiri, sebagai runner-up OFC U-19 Championship 2022, akan jadi satu dari 24 peserta Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia. Turnamen terbesar kedua dalam kalender FIFA tersebut juga akan jadi keikutsertaan kedua Fiji U-20 yang melakoni debut di Piala Dunia U-20 pada 2015 di Selandia Baru dengan hasil akhir babak grup semata. Baca juga: Piala AFF, Turnamen Para Jawara Asia Tenggara Laga perdana turnamen mini Indonesia U-20 vs Fiji U-20 ( pssi.org ) Dari Misionaris Eropa hingga Dominasi India Levuka, kota di tepi pantai Pulau Ovalau, Fiji di Pasifik Barat punya panorama alam yang elok. Di kawasan Nasova, pada 10 Oktober 1874 penguasa terakhir Kerajaan Fiji, Ratu Seru Epinesa Cakobau, menandatangani Deed of Cession atau penyerahan formal Kepulauan Fiji menjadi koloni Inggris. Maka kota itu masih kental dengan bangunan-bangunan bernuansa Eropa karena hingga 1877 pun Levuka dijadikan ibukota koloni. Bermacam kultur Eropa pun mulai terasa di berbagai aspek kehidupan yang dibawa para pendatang Eropa, salah satunya sepakbola. Mengutip suratkabar The Sun , 18 Maret 2021, Levuka selain menjadi pusat penyebaran agama juga jadi pusat dimulainya permainan “si kulit bundar” di tanah “Viti” atau sebutan Fiji bagi orang-orang Austronesia. Para misionaris Eropa sejak 1889 selalu mengikutsertakan permainan sepakbola sebagai salah satu program sekolah-sekolahnya. Baca juga: Singa Atlas Mengaum di Pentas Sepakbola Rewa, Levuka, dan Suva FC jadi tiga klub pertama yang lahir di Kepulauan Fiji, yakni pada medio 1905 –kini hanya Suva FC yang masih bertahan dan jadi klub tertua yang masih eksis. Tentu, klub-klub perintis itu masih eksklusif dan terbatas untuk orang-orang Eropa yang berbisnis di Fiji maupun para pegawan dan pejabat kolonial. Sebagaimana olahraga rugby, pada 1920-an sepakbola mulai dilirik kalangan “I-Taukei” (masyarakat bumiputera). Kendati begitu, sebagaimana di banyak koloni, sepakbola di Fiji masih tersegregasi. Tim-tim Eropa, pendatang India, maupun bumiputera punya turnamen amatir di distrik masing-masing. Tim Rewa pada 1970-an ( Fiji Times , 3 Desember 2019) Pada 1924, kalangan bumiputera menghadirkan Turnamen Ricarnie Cup untuk mempertemukan para juara di distrik masing-masing. Nasau Park di Levuka pula yang jadi venue utama ketika tim amatir Sawani dari Naitasiri memenangkan edisi perdananya, diikuti tim Bau di tahun berikutnya.  Di era 1920-an juga gelombang pendatang India makin masif. Selain punya tim-tim amatir dan turnamen internal, mereka dengan bantuan beberapa pebisnis Eropa bahkan jadi yang pertama mendirikan asosiasi sepakbola, Fiji Indian Football Association, pada 8 Oktober 1938. Baca juga: Masalah Sepatu Gagalkan Keikutsertaan India di Piala Dunia Mengutip Brij V. Lal dalam Historical Dictionary of Fiji , asosiasinya menaungi Inter-Districk Championship dan The Indian Reform League. Kompetisinya pun inklusif, artinya bisa diikuti tim-tim Eropa, India, maupun bumiputera yang makin menaruh minat terhadap sepakbola seiring suksesnya tim rugby Fiji di kawasan Pasifik. “Pendirian asosiasinya didukung Sir Arthur Stanley Farebrother dan Colonial Sugar Refining Company yang menyumbangkan lapangan dan menawarkan sokongan-sokongan lain, termasuk trofi-trofinya. The Indian Reform League dilahirkan tokoh-tokoh India yang punya pemikiran progresif dengan koneksi misionaris Kristiani, jadi perintis yang mempromosikan permainannya di Suva dan sekitarnya,” tulis Lal. Timnas Fiji di ajang South Pacific Games 1963 (Facebook Soccer With Chaudhary) Enam tahun pasca-Perang Pasifik (1951), asosiasi tersebut direformasi menjadi Fiji Football Assosiation (FFA). Tim nasional Fiji lalu dibentuk di tahun yang sama untuk melakoni debut internasional melawan Selandia Baru pada 7 Oktober 1951. Meski susunan tim yang lebih plural, Fiji tetap harus mengakui kekalahan 4-6 dari Selandia Baru. “FFA memiliki makna penting bagi identitas kultural walau berawal dari Fiji Indian Football Association. Meskipun kemudian FFA menanggalkan ‘India’ pada nama resminya, tetap saja organisasinya masih didominasi India Fiji,” ungkap Nick Schulenkorf, serta John dan Jack Sugden dalam artikel “Fiji: Trouble in Paradise” yang termaktub dalam buku Managing Sport Development: An International Approach. Baca juga: Ada Apa dengan Sepakbola India? Guna menorehkan nama di peta sepakbola dunia, FFA mengajukan diri jadi anggota FIFA pada 1958 dan resmi diterima pada 1964. Dua tahun kemudian, FFA diterima di “keluarga besar” sepakbola Oseania, OFC. Timnas senior Fiji pertamakali mentas di turnamen regional pada OFC Nations Cup 1973. Sementara, ajang multi-event pertamanya adalah South Pacific Games 1975. Di Piala Dunia, Fiji baru ikut serta kualifikasi Piala Dunia 1982 zona Oseania. Di antara negeri-negeri Melanesia, Fiji mulai diperhitungkan mulai 1990-an. Di level South Pacific Games, timnas Fiji dua kali meraih medali emas (1991 dan 2003). Sedangkan di pentas OFC Cup/Oseania Cup, dua kali pula Fiji mencapai status juara ketiga: pada 1998 dan 2008. Skuad Fiji di Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona OFC ( oceaniafootball.com )

  • Leyden dalam Pelukan Raffles

    DIBANDING makam lainnya yang berjajar rapi di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat, makam John Casper Leyden terlihat biasa saja. Hanya bangunan berlapis batu granit, berbentuk persegi, dengan tinggi sekira lutut orang dewasa. Kalah megah dan anggun dibanding makam di sisi kirinya, tempat bersemayam Olivia Mariamne, istri pertama Sir Thomas Stamford Raffles, penguasa Jawa (1811–1816) dan pendiri Singapura.

  • Kebiasaan Tidur Siang di Masa Lalu

    Panduan bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Hindia Belanda, tak hanya berisi tentang kebiasaan dan tata cara mandi, tetapi juga membahas mengenai siesta  atau istirahat selama beberapa jam setelah makan siang. Menurut Achmad Sunjayadi dalam Pariwisata di Hindia Belanda (1891–1942)  kebiasaan siesta  menjadi bahasan menarik yang dicatat oleh para penulis catatan perjalanan, baik dari abad ke-19 maupun dari abad ke-20. Iklim di Hindia Belanda yang panas dan lembap berbeda dengan iklim di Belanda. Oleh karena itu, orang-orang Belanda yang tinggal di Hindia Belanda memilih beristirahat sejenak setelah menyantap makan siang untuk menghindari sengatan matahari. Baca juga:  Panduan Kebiasaan Mandi untuk Wisatawan Asing Kebiasaan siesta juga disarankan kepada para wisatawan asing yang mengunjungi Hindia Belanda. Tak hanya beristirahat sejenak, para tamu juga diimbau tak keluar hotel demi menghindari cuaca panas. Aktivitas baru dilanjutkan pada sore hari. Dalam sebuah buku panduan berbahasa Inggris, terjemahan dari buku panduan berbahasa Belanda karya Bemmelen (1896), pada bagian Mode of Living diperkenalkan tata cara dan kebiasaan di Hindia Belanda mulai dari pagi hari. “Bangunlah pukul 5.30 pagi, minum secangkir kopi, mandi, kenakan pakaian yang bahannya tipis, kemudian pergilah keluar dengan berjalan kaki atau naik kendaraan. Setelah melakukan berbagai kegiatan pada pagi hari, seperti berbelanja, berkunjung ke museum atau klub, maka pada siang hari pukul 13.00, saatnya rijsttafel , makan siang di hotel. Usai rijsttafel dilanjutkan dengan menikmati siesta dari pukul dua sampai pukul empat, atau setidaknya tetap berada di kamar, karena siapa pun, kecuali jika terpaksa, seharusnya tidak keluar berpanas-panasan di bawah matahari selama jam-jam terpanas siang hari,” tulis Bemmelen sebagaimana dikutip Achmad Sunjayadi. Baca juga:  Siapa Peluk Istri Belanda alias Guling Meski disarankan untuk menghindari matahari, tak sedikit pelancong yang justru berjalan-jalan keluar untuk mengamati orang-orang di Hindia Belanda.Salah satunya pelancong dari India, Jagat-Sit Singh, yang menulis dalam catatan perjalanannya bahwa suasana sepi terlihat setelah makan siang.“Setelah menikmati makan siang, hampir semua orang seperti lenyap, toko-toko dan kantor tutup,” tulisnya. Pengamatan tak jauh berbeda diceritakan Kapten Fernand Bernard, seorang perwira Prancis yang singgah di Batavia pada awal abad ke-20. Setelah menyantap makan siang, ia tak beristirahat di hotel tetapi berjalan ke luar sambil mengamati orang-orang yang tidur di bawah pohon atau di beranda. Pembahasan tentang siesta dalam catatan perjalanan para pelancong menjadi bukti bahwa tidur siang telah menjadi kebiasaan orang-orang di HindiaBelanda, khususnya orang-orang Eropa. Frances Gouda dalam Dutch Cultures Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda,1900–1942 menyebut bahwa iklim yang panas menjadikan kebiasaan tidur siang sangat diperlukan, tidak hanya untuk perempuan kulit putih yang tak bertenaga, tetapi juga untuk suami-suami, ayah, atau anak laki-laki mereka yang ambisius, yang secara rutin bekerja sejak pagi buta. Baca juga:  Jahatnya Malam dan Sulitnya Tidur Menurut Threes Susilastuti dalam Batavia: Kisah Jakarta Tempo Doeloe , siesta atau tidur siang memang suatu kebiasaan umum di daerah beriklim panas. Bahkan, Ensiklopedi Jakarta: Culture & HeritageVolume 1 menyebut siesta merupakan salah satu bagian dari gaya hidup indisch . “Mereka mengenal siesta atau tidur siang yang merupakan penyesuaian diri dengan keadaan iklim tropis.” Oleh karena itu, bukan hal yang aneh bila para pria Eropa yang bekerja di luar rumah akan kembali ke kediaman mereka di siang hari untuk makan siang dan beristirahat hingga sore, lalu kembali melanjutkan kegiatan di luar rumah. Bagi orang-orang Eropa yang memiliki banyak budak, biasanya ada budak yang khususmemiliki keahlian memijat.“Para tuan menyukai budak tukang pijat yang dapat memijat dengan ahli hingga mereka tertidur setelah makan siang ala Eropa,” tulis Susan Blackburn dalam Jakarta, Sejarah 400 Tahun . Hingga kini , kebiasaan istirahat setelah makan siang masih dilakukan oleh masyarakat Indonesia . Meski tak selalu tidur, beristirahat sejenak di kala siang membantu mengembalikan tenaga setelah beraktivitas sejak pagi . *

  • Budak Bukan Manusia?

    SUASANA nyaris gelap gulita. Dibutuhkan cahaya senter atau lampu kamera untuk menyesapi setiap kisah di balik relief maupun arca di dalam Candi Plaosan, Klaten, Jawa Tengah. Di aula sebelah kiri Candi Palosan Kidul, terdapat sepasang arca Bodhisattva serta empat relief yang mengelilingi setiap dinding batunya. Ancah Yosi Cahyono, tenaga pembantu pemugaran Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X dengan wilayah kerja Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, menunjuk relief di sebelah kanan sepasang arca Bodhisattva yang menggambarkan tujuh figur.

  • Marsekal Jenius itu Bernama Erich von Manstein

    REICHSKANZLEI (kantor kanselir), Berlin, Jerman, 17 Februari 1940 lepas jam sarapan. Panglima Korps Angkatan Darat (AD) ke-38 General der Infanterie Erich von Manstein menghadap sang kanselir, Adolf Hitler. Audiensi itu jadi titik tolak penting tak hanya bagi Manstein yang belum lama didepak dari jabatan kepala staf Heeresgruppe A (Grup AD A) tapi juga bagi manuver Jerman jelang menginvasi Eropa Barat via Belgia dan Prancis. Dalam konferensi itu turut hadir kepala staf pribadi Hitler, Kolonel Rudolf Schmundt, Kepala Staf Operasi Oberkommando der Wehrmacht (OKW/Komando Tinggi Angkatan Bersenjata) Generaloberst Alfred Jodl dan Panglima Divisi Panzer ke-7 Jenderal Erwin Rommel. Kendati begitu, semua perhatian tertuju pada Manstein yang akan mempresentasikan usulan revisi Aufmarschanweisung No. 4 Fall Gelb, atau Instruksi Kampanye No. 4 Operasi Koper Kuning –di kemudian hari, Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill menyebut rancangan strategi Manstein itu “Operation Sichelschnitt” atau Operasi Sabit; pasca-perang, para sejarawan menjulukinya sebagai Manstein Plan. Invasi ke Eropa Barat sedianya sudah mulai dipikirkan para perwira Oberkommando der Heeres (OKH/Komando Tinggi AD) sejak memulai invasi ke Polandia pada Oktober 1939. Hasilnya adalah Operasi Koper Kuning, modifikasi dari Schlieffen-Plan yang dicetuskan Marsekal Alfred von Schlieffen pada Perang Dunia I. Namun hingga Manstein dimutasi dari jabatan kepala staf Grup AD A pada Januari 1940 gegara berfriksi dengan kepala staf OKH Generaloberst Franz Halder, operasi itu tak kunjung terlaksana, malahan sudah tiga kali rancangan operasinya direvisi gegara Hitler kurang berkenan. Baca juga: Erwin Rommel Si Rubah Gurun Manstein sendiri sudah mengulik banyak opsi dan memformulasikan usulan revisinya sejak masih jadi bawahan Panglima AD A Jenderal Gerd von Rundstedt,  medio November 1939. Rancangan Manstein membutuhkan manuver serangan kilat dengan konsentrasi pasukan baja yang kelak kondang disebut “ Blitzkrieg” . Oleh karenanya ia kerap mendiskusikan draf rancangannya dengan Panglima Korps Panzer ke-19 Generalleutnant Heinz Guderian. Rancangannya memang tetap menembus Ardennes tapi konsentrasi kekuatan, terutama Grup AD A, harus dipusatkan ke Sedan hingga ke arah Selat Inggris. “Manstein sempat khawatir jika membuka front lebih lebar ke selatan akan berbahaya tetapi Guderian akhirnya bisa meyakinkannya bahwa bahaya serangan balik Prancis di selatan akan bisa dicegah jika ada manuver ofensif kedua secara simultan yang menargetkan Reims,” tulis Karl-Heinz Frieser dalam The Blitzkrieg Legend. Manstein (kiri) saat audiensi dengan Hitler medio 1942 di Wolfsschanze (Paris Musée) Dalam audiensi pada 17 Februari pagi itu, Manstein mendapat kesempatan memaparkan detail revisinya dalam pertemuan berdurasi satu jam. Menjadi keanehan tersendiri karena saat Manstein menjelaskan, Hitler duduk dengan tenang. Tak seperti kebiasaan Hitler yang acap menginterupsi dan melancarkan monolog-monolognya ketika bertemu jenderal-jenderalnya. “Meski mulanya Hitler antipati terhadap Manstein yang dianggap arogan, ia mendengarkan dengan tenang dan terkesan dengan pemikiran Manstein. Lepas rapat tersebut Hitler mengungkapkan, ‘yang pasti dia (Manstein) sosok yang luar biasa pandai dengan bakat operasi militer yang hebat. Tetapi saya tidak percaya padanya,’” imbuh Freiser. Baca juga: Riwayat  Blitzkrieg , Serbuan Kilat ala Nazi Hitler tidak percaya bukan terhadap kejeniusan rancangan dan pemaparan Manstein, melainkan kepada belum akan dipercayanya Manstein memegang tanggungjawab langsung operasi itu. Pasalnya, ungkap Karsten Friedrich dalam The Cruel Slaughter of Adolf Hitler , sehari setelah pertemuan tersebut, Hitler langsung memerintahkan OKH mengubah rancangan mereka untuk disesuaikan dengan usulan Manstein. “Bagi Hitler rencana (Manstein) itu menawarkan harapan yang nyata akan kemenangan. Hitler sebelumnya menilai serangan ke Sedan penting hanya karena alasan taktis tapi Manstein melihatnya sebagai akhir bagi Sekutu. Ia membayangkan sebuah operasi yang mencapai Selat Inggris dan mengepung pasukan Sekutu di Belgia, di mana jika dilakoni dengan benar, akan membuahkan hasil yang sangat strategis,” tulis Friedrich. Halder yang mulanya sudah cukup tenang usai “menyingkirkan” Manstein, justru diperintah Hitler untuk merevisi serangan berikutnya menjadi Aufmarschanweisung No. 4 berdasarkan rencana Manstein. Rencana Instruksi Kampanye No. 4 itu pun resmi dikeluarkan OKH pada 24 Februari. Westfeldzug dengan manuver blitzkrieg itu pun bergulir di musim panas pada 10 Mei. Tak sampai tiga bulan, pada 25 Juni, Prancis pun jatuh. Namun Manstein sang aktor intelektual di balik serangan jenius itu sekadar jadi pelengkap. Korps AD ke-38 yang dipimpinnya dijadikan pasukan cadangan di bawah naungan AD ke-4 yang dikomando Jenderal Günther von Kluge. Darah Prusia Satu ciri khas perwira berdarah Prusia yang paling identik adalah kesetiaan menjaga nama baik dalam tugas dan Manstein bukan pengecualian. Lahir di Berlin pada 23 November 1887 dengan nama Fritz Erich Georg von Lewinski, ia mengubah identitas dan menyandang nama “von Manstein” ketika diadopsi pamannya, Letjen Georg von Manstein. Mengutip Mungo Melvin dalam Manstein: Hitler’s Greatest General , Manstein lahir sebagai anak ke-10 dari aristokrat Prusia dan seorang jenderal artileri, Eduard von Lewinski dan ibunya bernama Helene von Sperling. Ayahnya masih punya darah keluarga (klan, red) Brochwicz III. Sementara, kakek dari ayah tirinya, Albrecht Gustav von Manstein, memimpin sebuah korps di Perang Prancis-Prusia (1870-1871) dan kakek dari ibunya, Oskar von Sperling, merupakan kepala staf AD ke-1. Paul von Hindenburg yang kelak menjadi Presiden Jerman (1925-1934) masih terhitung paman dari garis ibunya, di mana Gertrud, istri Hindenburg, merupakan saudari kandung Helene. Baca juga: Albert Speer Arsitek Kebanggaan Nazi Lantaran lahir di tengah kalangan arisokrat, Manstein mendapat pendidikan terbaik sejak dini. Lepas masuk sekolah katolik Imperial Lyzeum di Strasbourg, Manstein melanjutkan pendidikan militernya ke Preußische Kriegsakademie pada 1913. Namun ia belum sempat menamatkan pendidikan dan pelatihan perwira staf umum karena keburu Perang Dunia I pecah dan dengan diberi pangkat letnan, Manstein ikut menginvasi Belgia di Resimen Kawal Infantri Cadangan ke-2. Lepas perang, Manstein ambil bagian sebagai salah satu staf perwira muda ketika militer kekaisaran mestrukturisasi Reichswehr sesuai Traktat Versailles –di mana keseluruhan 500 ribu personel Reichswehr mesti dikurangi menjadi hanya 100 ribu– untuk dimasukkan ke dalam struktur militer Republik Weimar. Manstein setelah berpangkat mayor dimutasi menjadi perwira staf di Wehrkreiskommando II dan IV untuk menjadi instruktur taktik dan sejarah militer. Manstein alias Erich von Lewinski di masa kecil dan usia belia ( histclo.com/panzerhadosztaly.hu ) Ketika rezim Nazi di tangan Hitler mulai berkuasa pada 1933, Manstein sudah  memegang komando sebuah batalyon infantri ringan di Resimen Infantri ke-4 dengan pangkat letnan kolonel. Ia sempat protes karena banyak prajurit maupun perwira Yahudi mesti disingkirkan dari semua kesatuan di Wehrmacht. Namun di kemudian hari, Manstein juga meyakini adanya keterkaitan konspirasi anti-Jerman pihak Yahudi-komunis dan oleh karenanya penyebaran konspirasi anti-Jermannya mesti dihentikan. Dalam Erich von Manstein: Hitler’s Master Strategist, Benoît Lemay mengisahkan, ketika berkarier di Generalstab des Heeres (atau kepala cabang operasi OKH), Manstein mulai banyak “musuh” lantaran kerap mengusulkan sejumlah perubahan drastis soal rencana operasi hingga kebutuhan akan kendaraan tempur yang lebih mobile. Antara lain terkait rencana operasi Fall Rot (Koper Merah) berupa rancangan pertahanan seandainya Jerman diserang Prancis, dan soal peran panzer sebagai kekuatan utama manuver ofensif. “Ketika itu Manstein sudah sering berdiskusi dengan Heinz Guderian dan Oswald Luz untuk mengubah cara perang secara drastis dan itu tidak disukai atasannya, kepala staf umum OKH Jenderal Ludwig Beck,” tulis Lemay. Baca juga: Jenderal Choltitz Penyelamat Paris Alhasil, Manstein yang saat itu menjabat deputi kepala staf I OKH dimutasi untuk memegang komando Divisi Infantri ke-18 di Silesia. Pangkatnya dipromosikan dari Generalmajor menjadi Generalleutnant. Adapun posisi yang ditinggalkan Manstein ditempati Halder. “Perpindahan itu membuat Manstein tak bisa menggantikan posisi Beck yang pensiun pada Agustus 1938. Posisi itu diberikan kepada Halder yang sebelumnya mengambil jabatan Manstein di deputi kepala staf I. Insiden itulah yang menciptakan kebencian di antara keduanya,” lanjut Lemay. Maestro Strategi yang Dihormati Terlepas dari friksi antara sejumlah jenderal di OKH, pada permulaan perang pra maupun pasca-merancang invasi ke Polandia dan kemudian Prancis, nama Manstein yang dianggap jago strategi begitu harum bagi Hitler. Hitler menarik Manstein dari “pengasingannya” yang hanya memegang pasukan cadangan menjadi panglima Korps Panzer ke-56, Grup AD Utara jelang invasi ke Uni Soviet (Operasi Barbarossa). Kecakapan Manstein kemudian juga dibutuhkan Grup AD Selatan. Menggantikan komandan sebelumnya, Generaloberst Eugen Ritter von Schobert, yang tewas usai pesawatnya salah mendarat di ladang ranjau, Manstein mengomando pasukan AD ke-11 Jerman dan AD ke-3 Rumania dalam Pengepungan Sevastopol (30 Oktober 1941-4 Juli 1942) dan Pertempuran Semenanjung Kerch (26 Desember 1941-19 Mei 1942). “Dalam memoarnya, Manstein mencatat ia menawan 170 ribu tawanan perang (Soviet), 1.133 meriam, dan 285 tank ketika Kerch direbut pada 16 Mei. Sementara pihak Jerman hanya kehilangan 8.000 prajuritnya,” sambung Melvin. Baca juga: Lyudmila Pavlichenko dan Kiprah Sniper Ulung di Sevastopol Usai Sevastopol dan Krimea direbut Jerman pada awal Juli 1942, Manstein dihadiahi Hitler promosi dengan pangkat Generalfeldmarschall (marsekal). Dari Sevastopol, Hitler langsung memerintahkan Manstein dan AD ke-11 pindah ke utara untuk Pengepungan Leningrad (8 September 1941-27 Januari 1944). Manstein merancang Operasi Nordlicht yang bertujuan memutus garis suplai Soviet di Danau Ladoga . Lantas dari Leningrad, Marsekal Manstein kembali dipercaya Hitler untuk mengkomando satu grup baru, Heeresgruppe Don (Grup AD Don). Grup itu dibentuk khusus Hitler pada November 1942 untuk menembus kubu pertahanan Soviet yang paling alot: Stalingrad (kini Volgograd) . Manstein berkeliling usai Pertempuran Semenanjung Kerch (Narodowe Archiwum Cyfrowe) Hitler berharap Manstein bisa memulihkan situasi lantaran sekira 300 ribu personel Grup AD A di dalam kota Stalingrad nyaris dikepung Tentara Merah. Manstein pun merancang Operasi Badai Musim Dingin dan pada 12 Desember. Tiga divisi pansernya nyaris menembus garis kepungan Soviet namun badai salju mematahkan rencananya saat pasukan tinggal 48 km lagi dari batas kota. “Pada 18 Desember, Manstein minta pada Hitler agar AD ke-6 yang masih tersisa diizinkan mundur dari kota. Hitler menolaknya. Kondisi pasukannya pun makin buruk karena kekurangan makanan dan amunisi. Reichsmarschall Hermann Göring yang sempat menjanjikan bantuan udara gagal menunaikan janjinya karena cuaca buruk,” tulis Richard J. Evans dalam The Third Reich at War . Baca juga: Hermann Goering, Sang Tiran Angkasa Nazi Jerman Di tengah situasi pelik, pada 31 Januari Manstein terpaksa menerima permintaan Marsekal Friedrich Paulus agar sisa 91 ribu pasukan AD ke-6 menyerahkan diri tanpa izin Hitler. Stalingrad jadi neraka tersendiri buat pasukan Jerman yang tersisa, termasuk pasukan Manstein. Sejak Februari 1943-Maret 1944, pasukan Grup AD Selatan yang dipegang Manstein terus terdesak ke Kharkov, Kursk, hingga Dnieper. Sepanjang waktu itu, sudah tak terhitung jumlah telegram Manstein yang meminta bantuan pasukan tambahan, atau setidaknya mundur ke posisi-posisi tertentu yang ditolak Hitler. Manstein akhirnya dipanggil Hitler ke vila peristirahatan sang diktator di Berghof pada 2 April 1944. Manstein di tengah reruntuhan kota Sevastopol (Narodowe Archiwum Cyfrowe) Hitler menitahkan Manstein menyerahkan tongkat komando Grup AD Selatan yang berubah nama menjadi Heeresgruppe Nordukraine (Grup AD Ukraina Utara) kepada Marsekal Walter Model. Hitler menginstruksikan pada Manstein, “saya tak bisa menggunakan Anda di selatan. Marsekal Model akan mengambil-alih.” Manstein mencoba membela diri tapi Hitler bergeming. Praktis sejak April 1944, Manstein tanpa jabatan dan tugas apapun lagi. Meski dibuang Hitler, bukan berarti Manstein sudi diajak berkhianat ketika didekati sejumlah tokoh kunci kelompok “Plot 20 Juli”: Generalmajor Henning von Tresckow, Generalmajor Rudolf-Christoph von Gersdorff, dan Oberst (kolonel) Claus von Stauffenberg. “Marsekal Prusia tidak memberontak,” tegas Manstein. Ia menolak ikut terlibat konspirasi untuk membunuh Hitler. Pun begitu, tetap saja kediaman pribadinya di Liegnitz (kini Legnica, Polandia) diawasi Gestapo. Baca juga: Stauffenberg, Opsir "Judas" Kepercayaan Hitler Seiring terus terdesaknya Jerman dalam perang, Manstein pun terpaksa mengungsi dari Pomerania Timur ke Berlin hingga berakhirnya perang. Saat sedang menjalani perawatan katarak mata kanannya di Rumahsakit Heiligenhafen pada 26 Agustus 1945, pasukan Inggris menahannya dan membawanya ke Lüneburg. Manstein lalu mendekam di Nürnberg pada Oktober 1945 jelang sidang kejahatan perang. Manstein dihadapkan pada 17 dakwaan, termasuk perlakuan buruk terhadap tawanan perang dan aktivitas pembersihan Yahudi di Krimea oleh kesatuan SS (Schutzstaffel/Paramiliter Nazi) Einsatzgruppe D. Kesatuan SS ini turut beroperasi di wilayah yang dikuasai AD ke-11 yang pernah dipimpin Manstein di Polandia Timur dan Krimea. “Manstein terbukti bersalah terhadap sembilan dakwaan dan divonis 18 tahun penjara. Tetapi banyak tokoh yang bersimpati pada Manstein di Inggris dan Jerman memprotesnya. Peneliti militer Kapten Liddell Hart bahkan menyebut vonis Manstein sangat politis. Pada 12 Februari 1950, vonisnya dikurangi menjadi 12 tahun penjara,” sambung Lemay. Terakhir kali Manstein memimpin pasukan di Dnieper pada September 1944 (Bundesarchiv) Setelah mendapat beberapa pemotongan masa tahanan, Manstein dibebaskan pada 7 Mei 1953. Selain karena masalah kesehatan, pembebasan Manstein tak lepas dari campur tangan PM Churchill dan Kanselir Jerman Barat Konrad Adenauer. Churchill berharap Jerman Barat bisa ambil bagian dalam pertahanan Eropa Barat dan Adenauer membutuhkan pemikiran Manstein untuk mengkonsep reorganisasi Bundeswehr. “Pada Juni 1953, ia dipanggil Kementerian Pertahanan Jerman untuk kemudian bicara di Bundestag (parlemen), memberi analisisnya terkait pertimbangan kekuatan strategis dan pertahanan negara. Terhadap opsi tentara profesional atau wajib militer, ia beropini, jikapun wajib militer setidaknya selama 18 bulan atau paling lama 24 bulan. Gagasannya soal pembentukan pasukan cadangan pun belakangan diwujudkan Kementerian Pertahanan,” tulis Guido Knopp dalam Hitler’s Warriors. Baca juga: Karl Doenitz, Panglima "Singa" Suksesor Hitler Maka ketika Manstein wafat karena serangan stroke pada 9 Juni 1973 di usia 85 tahun di Irschenhausen, pemerintah Jerman Barat memberinya pemakaman dengan upacara militer di pemakaman Dorfmark. Upacaranya dipimpin inspektur jenderal Bundeswehr, Laksamana Armin Zimmermann. Sedangkan euloginya dibacakan koleganya sesama veteran Perang Dunia II, Jenderal Theodor Busse. “Seorang prajurit dan komandan militer yang luar biasa ini memegang keteguhan dan kemuliaan dan pantas mendapat respek dari kita semua. Pribadinya berani, cekatan, gigih, dan ringan tangan, serta punya sifat sederhana bahkan di masa-masa jayanya, pantang gentar di hadapan musuh, hingga selalu punya perhatian kepada semua orang yang diberi kepercayaan olehnya. Begitulah makna akan sosoknya terhadap kita semua dan oleh karenanya ia akan terus hidup bagi kita semua,” tukas Busse dikutip Melvin. Manstein saat di tahanan jelang persidangan Nürnberg ( ushmm.org )

  • A Miracle in Jakarta

    WITH a silver canopy shielding the top and glass panels installed on its left and right side, the building was noticeable even from afar. Situated right in the middle of the pedestrian way on Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, is the pristine underground station of Bundaran Hotel Indonesia (HI) Mass Rapid Transit (MRT).

  • Panduan Kebiasaan Mandi untuk Wisatawan Asing

    Buku panduan bagi para pelancong tertata rapi di rak toko buku di pusat perbelanjaan di Jakarta. Buku panduan tersebut biasanya berisi informasi tentang makanan khas, cara menggunakan transportasi umum, hingga beragam tempat wisata yang wajib dikunjungi. Pada zaman Belanda juga tersedia buku panduan wisata di Hindia Belanda. Buku panduan itu kebanyakan ditulis oleh orang-orang yang pernah tinggal atau berkunjung ke Hindia Belanda. Menariknya, para penulis catatan perjalanan itu tak hanya mengulas soal kuliner lokal maupun kondisi wilayah yang dikunjungi. Mereka juga membahas kebiasaan masyarakat Hindia Belanda. Salah satunya  siesta  dan kebiasaan mandi. Achmad Sunjayadi, dosen Program Studi Belanda FIB UI, dalam Pariwisata di Hindia Belanda (1891–1942)  menjelaskan, siesta  dapat diartikan sebagai beristirahat selama beberapa jam di kamar masing-masing atau duduk di kursi malas di serambi hotel. “Para pengunjung disarankan tidak keluar hotel dan menghindari sinar matahari. Pada pukul empat sore setelah beristirahat mereka menikmati teh yang telah disiapkan oleh para jongos. Setelah itu mereka diminta menyegarkan diri dengan mandi,” tulis Achmad. Baca juga:  Awal Mula Pariwisata di Indonesia Pelancong dari Amerika, Eliza Scidmore mencatat mengenai siesta  dan mandi setelah menikmati rijsttafel . “Setelah menyantap sajian riz tavel , semua orang kemudian tidur –sebagaimana yang lumrahnya pasti terjadi pada orang setelah memakan hidangan yang sangat ‘mengenyangkan’– sampai pukul empat sore, ketika mandi dan minum teh menyegarkan jiwa tropi,” kata Eliza. Bila siesta  usai menikmati rijsttafel , maka mandi setelah beristirahat beberapa jam. Kebiasaan mandi di negeri tropis Hindia Belanda merupakan keharusan. Namun, bagi mereka yang hidup di negara dengan empat musim seperti Eropa, kebiasaan mandi bukan hal yang umum. Tak sedikit dari mereka yang menganggap air sebagai bahaya dan memicu kecurigaan bahwa membasuh tubuh dengan air dapat membangkitkan gairah. Di Batavia pada abad ke-17 dan ke-18, orang-orang Belanda, khususnya mereka yang lahir di Belanda, menolak untuk mandi. “Mereka menurut De Haan dikenal sebagai hydrophobia ,” tulis Achmad. Bahkan, menurut buku Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage Volume 1 , ketidaksukaan orang Belanda pada kebiasaan mandi menyebabkan dikeluarkannya peraturan khusus bagi serdadu Kompeni untuk mandi setiap delapan atau sepuluh hari sekali. Baca juga:  Charlie Chaplin Berkunjung ke Garut Adolf Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta  menyebut pada masa VOC orang Belanda mandi paling tidak seminggu sekali karena menganggap mandi sebagai kegiatan yang tidak sehat. Mereka kemudian mempelajari kebiasaan mandi setiap hari dari istri mereka, yang biasanya keturunan Indo dan telah terbiasa mandi sekali sehari atau lebih. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan mandi mulai dilakukan orang-orang Belanda yang menetap di Hindia Belanda. Salah satu alasannya karena bau badan yang menyengat dapat menganggu orang-orang di sekitarnya. Kamar-kamar mandi pun bermunculan di Batavia. Tak hanya dilakukan orang-orang Belanda, kebiasaan mandi pun dikenalkan kepada para pelancong. Kebiasaan mandi serta gambaran kamar mandi dan cara mandi menjadi perhatian para penulis catatan perjalanan pada abad ke-19 dan ke-20. “Perkenalan dengan kebiasaan mandi dimulai di atas kapal dan berlanjut di hotel tempat mereka menginap,” tulis Achmad. Pelancong William Barrington D’Almeida menyebut cara mandi di Hindia Belanda berbeda dengan di Eropa. Di Hindia Belanda, cara mandi dengan mengguyurkan ember kecil berisi air di kepala, seperti kebiasaan masyarakat setempat. Baca juga:  Membilas Sejarah Sabun Pelancong lain, Anne Forbes diberitahu cara mandi di hotel oleh seorang wanita yang telah lama tinggal di Batavia. “…dengan mengguyurkan air dalam ember ke kepala; kalau tidak, saya pasti kebingungan ketika memasuki kamar mandi, tidak tahu apakah harus masuk ke bak besar yang berdiri di sana. Kamar mandi diatur sedemikian rupa agar tahan terkena guyuran air: jaring kayu, tempat berdiri orang yang mandi, menutupi lantai batu ubin, dan air mengalir deras dari pipa saluran lebar,” kata Anne dikutip Achmad. Para penulis catatan perjalanan juga menggambarkan bentuk bak mandi yang berbeda dengan bak berendam ( bathtub ). Mereka pun diminta tak memasukkan badan ke dalam bak mandi untuk mencegah air menjadi kotor. Namun, ketidaktahuan para pelancong asing kerap memicu kesalahpahaman. Mereka yang kebanyakan baru pertama kali menginjakkan kaki di Hindia Belanda kerap menceburkan diri ke dalam bak mandi. Untuk mengantisipasi kejadian tersebut, hotel-hotel memasang papan peringatan:  Het is verboden in den mandiebak te baden of het water met zeep te verontreinigen  artinya “Dilarang mandi di dalam bak mandi atau mengotori air dengan sabun”. Oleh karena itu, Hotel de l’Univers di Batavia, yang dibuka oleh pengusaha Victor Thornerieux pada 1861, menjadikan kebiasaan mandi sebagai salah satu daya tarik. Iklan hotel yang berlokasi di kawasan Molenvliet ini menyebut memiliki fasilitas kolam mandi berisi air sungai.*

  • Menjaring Tenaga Ahli Asing

    USAI menyelesaikan studi kedokteran, Bruno F.M. Menne bekerja di klinik almamaternya, Universitas Freiburg, tanpa bayaran. Istrinya, Gertrud Menne, terpaksa mencari nafkah. Jerman pascaperang menghadapi masalah kesulitan ekonomi. Maka, ketika mendengar bahwa Indonesia membutuhkan banyak tenaga dokter, mereka mengambil kesempatan ini.

  • Tendangan dari Siong Vo

    ALEX Sulaiman terkejut sekaligus antusias. Kawannya, Pariono, mengatakan masih menyimpan sepatu bola merek Siong Vo yang pernah dipakainya kala membela tim nasional (timnas) sebagai pemain sayap kanan (right winger) medio 1960-an.

  • Kamasutra Bukan Hanya Soal Seks Belaka

    Kamasutra merupakan karya penulis India, Vatsyayana. Ditulis atas kehendak Yang Maha Kuasa untuk kepentingan dunia.

  • Turnamen Penentu Klub Terbaik Sekolong Langit

    BANYAK tolok ukur untuk menyebut klub mana yang paling top dan terbaik sejagat. Antara lain filosofi permainan, pemain-pemain yang dicetak di akademi tiap klub, kuantitas basis fans setia, kekuatan finansial, hingga prestasi. Tapi bagaimana jika langsung diadu di lapangan? Suka-tidak suka, penggila bola sekolong langit harus mengakui Real Madrid yang terbaik. El Real  mencatatkan raihan trofi Piala Dunia Antarklub FIFA untuk kelima kalinya pada Minggu (12/2/2023) di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, Maroko. Di laga final, Karim Benzema cs. sukses menekuk jawara Liga Champions Asia (AFC) asal Arab Saudi, Al-Hilal FC, dengan skor 5-3. Dengan perolehan lima trofi itu, Real Madrid tercatat sebagai klub terbaik di antara klub-klub terbaik Eropa, Asia, dan Amerika. Gelar yang sama juga direngkuh Real Madrid pada 2014, 2016, 2017, dan 2018. Rivalnya sesama klub Spanyol, Barcelona, mengikuti dengan raihan tiga titel, lalu klub Brasil SC Corinthians Paulista dengan dua trofi. Baca juga: Piala AFF, Turnamen Para Jawara Asia Tenggara Seiring berakhirnya turnamen edisi ke-19 itu juga diumumkan tuan rumah Piala Dunia Antarklub edisi ke-20 yang akan balik ke tanah Asia. Arab Saudi terpilih jadi tuan rumah turnamen yang terjadwal pada 12-22 Desember 2023 tersebut. “Kami merasa sangat terhormat dan antusias diberikan kesempatan menyambut klub-klub top dunia beserta para fansnya ke Arab Saudi. Kami menggelar event olahraga internasional dengan alasan yang sederhana, yakni kami sangat percaya kekuatan olahraga untuk menginspirasi generasi muda, untuk menciptakan dan membangun hubungan-hubungan baru,” kata Menteri Olahraga Saudi Pangeran Abdulaziz bin Turki al-Saud dikutip Eurosport , Rabu (15/2/2023). Semenjak inagurasinya pada tahun 2000, Piala Dunia Antarklub paling sering digelar di Asia. Jepang terhitung delapan kali jadi host , Uni Emirat Arab (UEA) lima kali, lalu Qatar dua kali. Amerika Selatan dengan diwakili Brasil hanya sekali jadi tuan rumah ketika debut turnamen pada 2000. Justru Maroko yang mewakili Afrika sudah tiga kali jadi tuan rumah (2013,2014, dan 2022). Menariknya, kendati klub-klub Eropa paling sering menjuarainya, turnamen yang mempertemukan para jawara masing-masing benua itu tak pernah sekalipun dihelat di “Benua Biru”. Spanyol pernah terpilih jadi host pada 2001, namun turnamennya kemudian dibatalkan gegara problem finansial yang tengah mendera FIFA. Baca juga: Si Kulit Bundar di Saudi Emblem Arab Saudi usai terpilih sebagai host  Piala Dunia Antarklub 2023 ( saff.com.sa ) Turnamen-Turnamen Pendahulu Jauh sebelum FIFA secara resmi menaungi turnamen penentu klub terbaik pertamakali pada permulaan abad ke-21, setidaknya ada delapan turnamen antarklub serupa tapi tak sama. Kedelapan turnamen sama-sama mengklaim mempertandingkan jawara masing-masing wilayah dengan menggunakan label “dunia”. Inggris jadi pelopornya, bahkan sudah sejak 1876 dengan menggelar Football World Championship. Turnamen yang diprakarsai FA dan Scottish FA ini kadang juga disebut International Club Championship atau United Kingdom Championship lantaran yang dipertandingkan adalah kampiun Inggris dan Skotlandia semata. Mengutip suratkabar The Glasgow Herald , 6 November 1876, event perdana yang mempertemukan Wanderers FC asal London selaku jawara FA Cup kontra Queen’s Park FC asal Glasgow sang kampiun Scottish Cup itu dihelat di stadion kriket yang disulap jadi lapangan sepakbola, Kennington Oval, London. Meski kemudian wakil Skotlandia menang telak 6-0, belum ada trofi yang diraih. Hanya prestis serta nama harum yang dibawa pulang. Trofinya baru dihadirkan untuk diperebutkan pada 19 Mei 1888 ketika Renton FC menang 4-1 atas West Bromwich Albion. Di Tontine Park yang jadi kandang Renton FC pun sampai dipajang spanduk bertuliskan “Champions of the World”. Baca juga: Arena Sejarah Piala Eropa Tim Queen's Park FC asal Glasgow, Skotlandia pada 1870-an ( theglasgowstory.com ) Ajang itu digulirkan rutin setiap lepas guliran FA Cup dan Scottish Cup hingga musim 1903-1904. Bury FC jadi pemenang terakhirnya usai mengalahkan Glasgow Rangers di laga home-away dengan skor serupa, 2-1. Lima tahun pasca-dibubarkannya turnamen tersebut, tokoh Inggris Sir Thomas Lipton memprakarsai ajang lintas-Eropa pada 1909. Meski tanpa restu FA, Lipton melakukan pendekatan dengan sejumlah petinggi sepakbola Italia agar event -nya digelar di Italia dengan keikutsertaan tim-tim Inggris. Pasalnya setahun sebelumnya, Torneo Internazionale Stampa Sportiva tak mengundang satupun klub Inggris. “Miliuner Thomas Lipton pendiri Lipton Tea Company, selalu menginginkan adanya perwakilan Inggris di turnamennya tapi FA menolak memilihkan satu tim pun untuknya. Ia pun memerintahkan salah satu pegawainya yang dahulu pernah menjadi wasit di Northern League untuk mencarikan wakil Inggris sampai ditemukanlah tim West Auckland,” ungkap Russell Ash dan Ian Morrison dalam Top 10 Football: 250 Lists on the Beautiful Game. Lantaran trofinya pun disumbang Lipton, maka turnamennya dinamai Sir Thomas Lipton Trophy. Pertamakali digelar di Torino, Italia selama dua hari (11-12 April 1909), turnamen diikuti empat tim: Torino XI (Italia), Stuttgarger Sportfreunde (Jerman), FC Winterthur (Swiss), dan West Auckland Town FC (Inggris). Oleh karenanya, Sir Thomas mengklaim event itu sebagai Piala Dunia Antarklub pertama. Baca juga: Rupa-Rupa Perjalanan Rombongan Piala Dunia Pertama Skuad West Auckland Town FC dengan piala Sir Thomas Lipton Trophy 1909 (Wikipedia) Namun, turnamen tersebut hanya dua kali dihelat, pada 1909 dan 1911. Keduanya dimenangi West Auckland. Turnamen berlabel antarbenua pertama yang diakui FIFA adalah Copa Rio yang hanya dihelat dua kali, pada 1951 dan 1952. Turnamen ini merupakan ide jurnalis senior harian Jornal dos Sports , Mário Filho. Sejak 1950, dia mengangankan  membuat Piala Dunia versi klub di mana turnamennya mempertemukan klub-klub terbaik dunia. ide Filho lantas didukung dan direalisasikan federasi sepakbola Brasil, Confederação Brasileira de Desportos (CBD, kini CBF). Akan tetapi, menurut suratkabar El Mundo Deportivo edisi 5 April 1951, Presiden FIFA Jules Rimet mengatakan, Copa Rio tetap bukan turnamen resmi dan tidak di bawah yurisdiksi FIFA lantaran ajangnya dilaksanakan dan disponsori CBD. Dua tokoh sepakbola FIFA, Stanley Rous dan Ottorino Barassi, memang ikut berpartisipasi dalam ajang itu, namun bukan membawa nama FIFA. Rous bertugas menegosiasikan keikutsertaan klub-klub di bawah naungan UEFA (otoritas sepakbola Eropa) dan Barassi membantu mengatur kerangka dan sistem kompetisi yang merujuk sistem dan regulasi Piala Dunia. Edisi perdana Copa Rio digelar 30 Juni-22 Juli di dua venue , yakni Estádio do Maracaña (kini Estádio Jornalista Mário Filho) di Rio de Janeiro; dan Estádio do Pacaembu (kini Estádio Municipal Paulo Machado de Carvalho) di São Paulo. Di antara delapan pesertanya, CBD turut mengundang Juventus (juara Serie A 1949-1950), Austria Wien (juara Admiral Bundesliga Austria 1949-1950), OGC Nice (juara Divisi 1 Prancis 1950-1951), Sporting Lisbon (juara Primeira Divisão Portugal 1950-1951), Club Nacional (juara Primera División Uruguay 1950), dan Red Star Belgrade (juara First League Yugoslavia 1951). Sedangkan tuan rumah Brasil diwakili dua klub terbaiknya, Vasco da Gama (juara Campeonato Carioca 1950) dan Palmeiras (juara Campeonato Paulista 1950). Baca juga: Argentina dan Trofi yang Dirindukan Skuad Sociedade Esportiva Palmeiras di final Copa Rio 1961 ( arquivonacional.gov.br ) Setelah melewati fase grup yang terdiri dari dua grup, lalu melewati dua leg laga semifinal dan final, Palmeiras keluar sebagai pemenangnya. Klub berjuluk “Periquito Verde” itu mengungguli Juventus di dua laga final, 1-0 dan 2-2 (agregat 3-2) untuk mengklaim piala berbahan perak yang punya label trofi Campeão Mundial atau juara dunia. Di edisi Copa Rio 1952 yang juga diikuti delapan peserta, wakil tuan rumah, Fluminense FC, kembali menang. Di dua leg final bertajuk “ all-Brazillian final ” itu Fluminense mengungguli Corinthians dengan skor 2-0 dan 2-2 (agregat 4-2). Melanjutkan “estafet” Copa Rio, sejumlah pebisnis Venezuela didukung perusahaan Venezuela Deportiva dan FVF (federasi sepakbola Venezuela) menginisiasi turnamen tahunan yang juga menghadirkan klub-klub Amerika dan Eropa mulai 1952. Dinamai Pequeña Copa del Mundo atau Piala Dunia Kecil, turnamen ini memperebutkan trofi Copa Coronel Marcos Pérez Jiménez –dinamakan sesuai pendonor trofinya. Edisi perdananya digelar 12-29 Juli 1952 dengan mengundang empat klub peserta. Selain La Salle FC sebagai wakil tuan rumah yang juga jawara Primera División 1952, ajang itu turut menghadirkan klub Kolombia, Millonarios FC (juara Campeonato Profesional 1951); klub Brasil, Botafogo (juara Campeonato Carioca 1951); dan Real Madrid. Kendati saat itu Real Madrid bukan jawara La Liga dan hanya finis urutan ketiga musim 1951-1952, Alfredo di Stéfano dkk. tetap lebih superior sehingga merengkuh trofi perdananya usai dua kali menang dan empat kali imbang di ajang bersistem round-robin tersebut. Baca juga: Piala Super Spanyol Sarat Drama Skuad Real Madrid yang memenangkan trofi Pequeña Copa del Mundo ( pmlagranfamilia.com/lagalerna.com ) Pequeña Copa del Mundo rutin digelar sampai 13 edisi. Namun setelah kemunculan European Champions Club’s Cup (kini Liga Champions) pada 1955, ajang ini mulai jarang lagi dilirik klub mentereng Eropa. Akibatnya, beberapa edisi terakhirnya justru mengundang tim nasional Jerman Timur yang tercatat jadi pemenang terakhir ajang itu pada 1975. Sementara, ketika Venezuela masih menggelar ajang antar-benuanya, Prancis mulai 1957 juga menggelar turnamen yang nyaris serupa, Tournoi de Paris. Turnamen ini diprakarsai klub Racing Paris yang didukung UEFA dan CONMEBOL (otoritas sepakbola Amerika Selatan). Turnamennya digagas para pendiri PSG peringatan 25 tahun berdirinya klub. Karena digelar di Paris, trofinya pun dibuat PSG dengan mengambil bentuk landmark ikonik Menara Eiffel. Pada edisi perdananya (1957), Tournoi de Paris dihadiri PSG dan tiga tim undangan: Real Madrid (juara European Cup 1956), Vasco da Gama (juara Campeonato Carioca 1956), dan Rot-Weiss Essen (juara Oberliga West 1955). Meski hanya sendirian mewakili Amerika Selatan, Vasco da Gama menunjukkan tajinya dengan memenangkan trofi perdana turnamen yang juga bersistem round-robin tersebut. Seiring waktu, Tournoi de Paris hanya sekadar dijadikan turnamen pemanasan pramusim yang berlangsung hingga 2012. Dari 31 edisi yang digelar, Paris Saint-Germain (PSG) tercatat jadi klub dengan raihan titel terbanyak, 7 trofi. Baca juga: Mula Turnamen Para Juara Tim utama Real Madrid dengan trofi Intercontinental Cup ( realmadrid.com ) Sedangkan sejak 1960, sebuah turnamen yang diprakarsai bersama oleh UEFA dan CONMEBOL tercipta dengan label Intercontinental Cup. Belakangan, sejak 1980 hingga edisi terakhirnya pada 2004, turnamennya lebih kondang disebut Toyota Cup lantaran disponsori raksasa otomotif Jepang Toyota. Harian Tribuna de Imprensa edisi 23 Oktober 1958 mengungkapkan, gagasan Intercontinental Cup sedianya sudah diusung sejak medio Oktober 1958 dalam pembicaraan antara presiden federasi Brasil, João Havelange, dengan jurnalis Prancis Jacques Goddet. Havelange pula yang menyuarakan ide itu setiap kali hadir sebagai undangan di beberapa rapat UEFA. “Ajangnya dilahirkan pada 1960 lewat inisiatif UEFA dan dukungan CONMEBOL dan dikenal sebagai Intercontinental Cup. Pertandingannya mempertemukan juara European Champions dan pemenang Copa Libertadores yang baru eksis pula. FIFA menolak mendukung kecuali pertandingannya diberi status ‘laga persahabatan’,” tulis El Mundo Deportivo , 3 Juni 1961. Baca juga: Europa League Tempo Doeloe Oleh karenanya, berbeda dari turnamen-turnamen lain pendahulunya, Intercontinental Cup pun hanya dihadiri dua peserta, yakni pemenang Liga Champions dan Copa Libertadores. Real Madrid memenangi edisi pertamanya pada 3 Juli 1960 di Estadio Centenario, Montevideo, Uruguay, usai unggul di dua leg, 0-0 dan 5-1 (agregat 5-1). Hingga edisi terakhirnya pada 2004, turnamen yang diakui FIFA sebagai pendahulu Piala Dunia Antarklub itu cukup seimbang jika menilik siapa yang paling hebat antara jawara Eropa dan Amerika Selatan. Setidaknya ada lima klub yang menorehkan catatan meraih tiga trofi: AC Milan, Real Madrid, Peñarol, Boca Juniors, dan Club Nacional. Last but not least , FIFA pun mulai memikirkan gagasan turnamen antarklub yang lebih global serta dinaungi sendiri olehnya. Menukil laman FIFA , 6 Desember 1999, Presiden FIFA Sepp Blatter menguraikan bahwa ide awal turnamen berlabel Kejuaraan Dunia Antarklub sudah dibicarakan di internal komite eksekutif FIFA sejak Desember 1993. “Setiap Desember ada Toyota Cup di Tokyo, duel antara dua tim top dari Eropa dan Amerika Selatan. Tetapi sekarang ada lebih banyak tim kuat di setiap benua dan oleh karena itu dibutuhkan sebuah kejuaraan dunia, dan dasar keputusan untuk mengorganisasi kompetisi semacam itu baru diambil komite eksekutif FIFA pada 1996,” kata Blatter. Perayaan tim Sport Club Corinthians Paulista yang memenangkan Piala Dunia Antarklub edisi perdana ( corinthians.com.br ) Itu pula alasan di balik keputusan FIFA menetapkan pesertanya bukan hanya diikuti dua tim, tapi dari semua perwakilan konfederasi. Eropa, Amerika Selatan, Amerika Utara, Afrika, Asia, hingga Oseania semua punya wakil. “Dengan begitu kita akan melihat pertandingan sepakbola yang atraktif. Sepakbola level klub juga menjadi wilayah baru bagi FIFA dan saya percaya bisa berhubungan lebih dekat dengan banyak klub memberikan kami pengalaman yang akan berguna di masa mendatang,” imbuhnya. Meski keputusannya sudah diambil FIFA pada 1996, turnamen yang diberi label FIFA Club World Cup itu baru digulirkan perdana pada 2000 dan setelah melakoni proses bidding yang diikuti Turki, Amerika Serikat, Arab Saudi, Uruguay, dan Brasil, diputuskan negara terakhir inilah yang terpilih jadi host pertamanya. Piala bergilir yang diperebutkan juga dinamai FIFA Club World Championship Cup yang didesain perusahaan Italia, Sawaya & Moroni. Trofinya dibuat dari bahan perak berdimensi tinggi 37,5 centimeter dan berbobot 4 kilogram. Di perhelatan debutnya, trofi itu akan jadi hadiah untuk dimenangkan delapan partisipan dari enam konfederasi. Brasil sebagai tuan rumah diberi keistimewaan diwakili dua klub, yakni Vasco da Gama (juara Copa Libertadores 1998) dan Corinthians (juara Campeonato Brasileiro 1998). Sedangkan enam peserta lainnya adalah SA Necaxa (juara CONCACAF Champions Cup 1999), Raja Casablanca (juara Liga Champions CAF 1999), South Melbourne FC (juara Oceania Club Championship 1999), Al-Nassr FC (juara Asian Super Cup), Manchester United (juara Liga Champions 1998-1999), dan Real Madrid (juara Intercontinental Cup 1998). Baca juga: Jalan Panjang Piala Dunia Kaum Hawa

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page