Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dari Peragaan Busana hingga Bersulang
Peragaan Busana Pertama Belum ada keterangan pasti kapan peragaan busana pertama kali digelar. Namun, Caroline Rennolds Milbank dalam New York Fashion: The Evolution of American Style menyebut peragaan busana sudah ada sejak abad ke-19 di Paris. “Ada sejumlah bukti peragaan itu –disebutparade busana– digelar di sejumlah tempat di Paris pertengahan 1800-an,” tulis Milbank. Tapi Milbank tak menyebut peragaan itu sebagai yang pertama. Baca juga: Fesyen dan Krisis Ekonomi Di Amerika Serikat, peragaan busana sudah digelar pada 1903. Sejumlah toko busana mengadopsi peragaan di Paris untuk mempromosikan produk mereka. Toko-toko itu menampilkan busana kreasi mereka. Pada 1920-an, peragaan busana mulai digelar di sejumlah restoran di Amerika Serikat saat jam makan siang. Celana jin merek Levi Strauss. ( levistrauss.com ). Awal Mula Celana Jin Celana jin bermula ketika Levi Strauss, kelahiran Bavaria, Jerman, pindah dari New York ke California, Amerika Serikat, untuk membuka toko tekstil pada 1849. Saat itu gold rush (demam emas) melanda California. Para pekerja tambang butuh pakaian khusus.Strauss pun merancang celana berbahan denim dengan paku tembaga. “Denim adalah bahan katun tebal yang aslinya ditenun di Nimes, Prancis,” tulis Hellen Reynold dalam Mode Dalam Sejarah . Nama “denim” berasal dari bahasa Prancis,“de Nimes” atau dari “Nimes”. Pekerja tambang menyukai celana buatan Strauss. Baca juga: Razia Celana Jengki Pakai Botol Bir Memasuki abad ke-20, sejumlah perancang Amerika Serikat, seperti Claire McCardell, mengadopsi jin untuk pakaian main yang sportif. Akhirnya, jin tak sebatas celana untuk pekerja tambang. Khalayak pun tertarik memakainya sehingga membuat celana itu populer. Museum Lilin Bermula Pendirian museum lilin di beberapa kota besar dunia tak lepas dari peran Marie Tussauds, anak seorang pembantu rumah tangga di Strasbourg, Prancis. Belajar seni patung lilin sejak remaja, Tussauds mengkreasi patung lilin pertamanya pada 1777 berupa sosok Voltaire, filsuf politik asal Prancis. Selepas itu, sosok sohor lain seperti Jean-Jacques Rousseau dan Benjamin Franklin menjadi modelnya. Khalayak, sebagian dari luar Prancis, tertarik dengan karya-karyanya. Sejak 1802,Tussauds pun berkeliling Inggris dan Irlandia menggelar pameran patung lilinnya. Tussauds mengakhiri petualangannya pada 1835 ketika menemukan tempat untuk menggelar pameran secara permanen di Baker Street, London. Dia lantas mendirikan museum yang kelak terkenal sebagai Maddame Tussauds Wax Museum. Baca juga: Lebih Dekat dengan Museum Nasional Museum Madame Tussauds di London, Inggris. (Wikimedia Commons). Museum Lilin di Indonesia Jakarta pernah menjadi salah satu kota yang disinggahi pertunjukan patung atau boneka lilin. Mas Soetama, guru sekolah di Pasuruan, menceritakan kunjungannya ke Batavia pada awal abad ke-20. Dalam Karangan Perdjalanan ke Betawi , terbitan Landsdrukkerij (sekarang Balai Pustaka) pada 1903, Soetama berkisah, “Maka hamba berhenti melihat pertunjukan panopticum serta boneka lilin; yang empunya pertunjukkan itu seorang perempuan Inggris, bernama nyonya A. Simons, tempatnya di kampung Pintu Besar. Maka yang dipertunjukkan di situ: beberapa boneka diperbuat daripada lilin, besarnya sebesar orang, elok dan bagus perbuatannya, sehingga sekaligus itu kelihatan betul sebagai orang.” Beberapa tokoh yang dijadikan model antara lain Kaisar Wilhelm I, raja Prusia (1861–1888), dan Maria Magdalena, murid perempuan Yesus Kristus. Baca juga: Jalan Panjang Menuju Museum HAM Bersulang. (Enis Yavuz/Unsplash). Kebiasaan Bersulang Kebiasaan bersulang jamak ditemukan pada banyak masyarakat masa lampau. Maknanya hampir mirip satu sama lain. Karenanya sulit memastikan muasal kebiasaan ini. Oddysey , karya sastra terbesar Yunani kuno abad ke-9 SM, memuat kisah Ulysses yang mengangkat cangkirnya untuk kesehatan Achilles. Gambaran itu sesuai dengan kebiasaan masyarakat Yunani kala itu. Mengangkat cangkir biasanya jugaditujukan sebagai penghormatan terhadap Dewa Zeus, Merkuri, dan Dewi Kharis. Baca juga: Alkohol dan Kejeniusan Masyarakat Nusantara Fabius Maximus, politisi dan jenderal Roma tersohor abad ke-2 SM, biasa mengangkat cangkir untuk tetamu dalam jamuan. Selain mendoakan kesehatan tetamunya, kebiasaan itu tanda menyantap hidangan. Dalam karyanya, The Decline and Fall of the Roman Empire , Edward Gibbon berkisah perayaan di kalangan bangsa Hun pada abad ke-5. Pemimpin tersohor mereka, Attila, memimpin perayaan dengan mengangkat dan mengedarkan cangkir kepada pasukannya sebanyak tiga putaran.
- Empat Hal Tentang Perang
Layang-layang untuk Perang Ditemukan di Tiongkok, layang-layang diterbangkan kali pertama dua ribu tahun silam untuk kepentingan militer. Kala itu, Jenderal Han Hsin dari Dinasti Han (abad ke-2 SM) menerbangkannya di atas tembok kota untuk mengukur seberapa jauh pasukannya harus berjalan menuju daerah lawan. Strategi ini berhasil. Pasukan Han Hsin mencapai jantung pertahanan lawan tanpa bisa diduga. Baca juga: Obsesi Manusia untuk Terbang Selepas itu, layang-layang tersebar ke Korea dan Jepang, dengan fungsi berbeda. Di Korea, Jenderal Gim Yu-Sin menggunakannya untuk menaikan moral pasukannya pada abad ke-7. Kala itu, pasukannya melihat bintang jatuh dan mempercayainya sebagai pertanda buruk. Gim Yu-Sin lantas menerbangkan layang-layang yang dipasangi bola-bola api sehingga tampak seperti bintang. Pasukannya yang melihat itu percaya bintang telah kembali ke langit: pertanda baik. Di Jepang, layang-layang diterbangkan untuk mengusir roh jahat dan menjamin panen sawah. Layang-layang pada masa kuno di Tiongkok. ( ancientchinalife.com ) Kentang Tanda Perang Tanda apa yang digunakan raja-raja Batak untuk menyatakan perang? Dengan menggantungkan kentang. Kentang yang agak panjang diukir hingga menyerupai manusia dan ditusuk dengan beberapa lembing kecil. Orang-orang Batak menyebutnya Pulas . Pulas disertai tiga surat bambu dengan kata-kata cercaan dan hasutan serta sebuah sumbu yang disulut. Kemudian Pulas itu digantungkan pada pintu kampung ( huta ) sebagai tanda maklumat perang. Pada akhir tahun 1877, ritual angkat Pulas dipraktikan Sisingamangaraja XII ketika menyatakan perang terhadap Belanda. Perang itu kemudian dikenal sebagai Toba Oorlog atau Perang Toba yang pertama. Baca juga: Perang Toba I: Kado Natal 1000 Gulden Lukisan Sisingamangaraja XII karya Augustin Sibarani. Makanan Kaleng untuk Perang Penggunaan makanan kaleng memang dimulai dari palagan. Pada 1795, militer Prancis membuka sayembara penyimpanan makanan. Hadiahnya sangat besar uang 12.000 franc. Militer perlu metode penyimpanan makanan karena Prancis tengah merencanakan serangan ke beberapa wilayah Eropa. Seorang ilmuwan, Nicolas Appert (1749–1841), tertarik dengan sayembara itu. Dia lantas melakukan serangkaian percobaan untuk menyimpan makanan agar tahan lama. Baca juga: Makanan Kaleng Merentang Zaman Beragam jenis makanan, dari sup, buah, hingga sayuran dimasukkan ke dalam stoples kaca. Stoples itu lalu ditutup dengan gabus atau kawat dan direndam ke air panas. Untuk beberapa jenis makanan, metode ini berhasil. Karena itu, Appert terus berusaha menyempurnakan temuannya. Sembilan tahun bergulat dengan percobaan, Appert akhirnya berhasil menemukan sebuah cara baru. Appert tak lagi menggunakan stoples, melainkan logam. Temuan ini lalu digunakan tentara Prancis dalam penyerbuan ke Belanda pada 1810. Setelah itu, makanan kaleng menjadi bawaan wajib tentara di palagan, selain senapan. Nicolas Appert. ( parisology.net ). Perang Lawan Burung Emu ( Dromaius novaehollandiae ), burung asli Australia yang berukuran besar, tergolong burung pengelana dan masih kerabat burung unta. Pada akhir 1932, veteran perang yang jadi petani di distrik Campion, Australia Barat, resah oleh 20.000 ekor burung Emu yang menginvasi ladang-ladang gandum mereka. Keluhan petani ini membuat Menteri Pertahanan Australia Sir George Pearce turun tangan. Baca juga: Surga Burung Langka Terancam Tambang Emas Pada 8 November 1932, dibantu belasan petani, sepasukan tentara bersenapan mesin jenis Lewis mulai menumpas Emu. Selama dua pekan, koran-koran Australia memberitakan operasi penumpasan Emu bagai perang besar ( great emu war ). “300 Terbunuh dalam Duel Pertama,” tulis Canberra Times , 12 November 1932, merujuk jumlah Emu yang menjadi korban. Operasi militer itu gagal. Sebanyak 9.600 butir amunisi digunakan untuk membunuh 960 ekor Emu. Dianggap pemborosan yang konyol dan kekejaman terhadap hewan, parlemen Australia menginstruksikan penarikan mundur tentara. Hingga hari ini, setiap tanggal 8 November, warga Australia merayakannya sebagai Hari Emu Nasional. Seorang pria memegang burung emu yang mati dibunuh tentara Australia. (Wikimedia Commons).
- Asal-Usul Mesin Pendingin
Panas adalah ancaman, ketidaknyamanan. Terutama bagi orang-orang yang hidup di padang pasir yang kering. Maka, beragam cara dilakukan untuk mengatasinya. Orang Mesir Kuno mengusir udara panas dengan menggantung kain basah di pintu rumah mereka. Orang Romawi Kuno, terutama yang kaya, menyalurkan air ke rumah-rumah melalui pipa untuk menurunkan suhu ruangan. Lalu, para peneliti mulai bekerja untuk menghasilkan alat yang membuat kehidupan manusia lebih baik. Terciptalah alat penyejuk udara (AC), yang perkembangan teknologinya sejalan dengan kulkas. Kini, rasanya orang tak bisa hidup tanpa AC. Apalagi di tengah ancaman pemanasan global. Namun, alat ini juga memiliki dampak buruk: kerusakan lapisan ozon. Pada 1987, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan Protokol Montreal yang menetapkan kerja sama multinasional guna menghapus penggunaan zat-zat yang membahayakan ozon di stratosfer, seperti chlorofuorocarbons (CFC) yang digunakan sejumlah besar sistem pendingin udara. Sekarang, produsen AC beralih memakai Freon R32, R410A, dan R290 yang lebih ramah lingkungan. Nyamankan diri Anda untuk menelusuri jejak AC berikut ini. 1748 William Cullen (1710–1790) dari Universitas Glasglow, Skotlandia, mengembangkan metode refrigerasi atau pendinginan udara oleh penguapan cairan dalam ruang hampa. Namun, Cullen tidak menerapkan penemuannya untuk tujuan praktis. 1758 Benjamin Franklin (1706–1790), seorang ilmuwan-penemu tapi lebih dikenal sebagai “bapak pendiri” Amerika Serikat, bersama John Hadley (1731–1764), profesor kimia Universitas Cambridge, bereksperimen untuk menjelajahi prinsip penguapan sebagai cara mempercepat pendinginan suatubenda. Mereka menggunakan cairan yang mudah menguap seperti alkohol dan ether. Ujung termometer, yang berbentuk bola dan berisi cairan merkuri, diolesi ether dan ditiup dengan alat embusan udara. Saat ether menguap, merkuri di dalam termometer turun beberapa derajat. Usaha ini diulangi beberapa kali hingga berada di 25 derajat di bawah titik beku. Dengan eksperimen ini, ujar Franklin, seseorang dapat mati kedinginan dalam cuaca panas. Baca juga: Asal Usul Kondom 1805 Oliver Evans (1755–1819), penemu asal Amerika, menjelaskan konsep mesin pendingin yang bekerja dengan cara kompresi uap. Dia membayangkan sebuah mesin pendingin yang menurunkan suhu dalam ruangan tertutup dengan menghilangkan panas dari ruang itu dan memindahkannya ke tempat lain. Namun, tak ada unit yang diciptakan Evans. 1820 Michael Faraday (1791–1867), penemu Inggris, menemukan bahwa amonia yang dikompres dan dicairkan bisa membantu mendinginkan udara. 1834 Jacob Perkins (1766–1849), penemu-fisikawan Amerika, menyempurnakan temuan Oliver Evans dengan menggunakan amonia cair yang memiliki sifat mendinginkan atau refrigeran. Dia membangun sebuah mesin pendingin yang dianggap sebagai cikal-bakal kulkas modern. Dia mematenkan mesinnya yang disebutnya sebagai “alat untuk memproduksi es dan cairan pendingin”. Mesinnya bisa bekerja dengan baik, kendati tidak berhasil secara komersial. Baca juga: Segarnya Sejarah Es 1842 John Gorrie (1803–1855), seorang dokter dari Florida, mengemukakan bahwa udara panas mudah membawa penyakit terutama malaria. Dia mengusulkan kepada pemerintah kota untuk membuat alat pendingin buatan. Berdasarkan rancangan Oliver Evans, dia berhasil menciptakan alat yang mampu mendinginkan udara di rumah sakit tempat dia bekerja. 1856 James Harrison (1816–1893), seorang wartawan Inggris yang beremigrasi ke Australia, mendapatkan paten atas kompresi uap sistem pendingin menggunakan eter, alkohol, atau amonia. Dia kemudian membangun sebuah mesin mekanik pembuat es serta memperkenalkan pendingin kompresi uap komersial untuk pabrik dan pabrik pengepakan daging. 1859 Sistem pendingin menggunakan amonia gas yang larut dalam air (disebut aqua ammonia ) dikembangkan Ferdinand Carré (1824–1900) dari Prancis. Dia mematenkannya tahun 1860. Mesin temuan Carré menggunakan air sebagai absorber dan amonia sebagai refrigeran. Baca juga: Asal-Usul Pemakaman 1876 Carl von Linde (1842–1934), seorang profesor teknik di Universitas Teknologi Munich, Jerman, mematenkan metode gas cair yang ditingkatkan. Metode ini memungkinkan menggunakan gas seperti amonia, sulfur dioksida (SO2), dan metil klorida (CH3Cl) sebagai refrigeran dan digunakan luas untuk tujuan itu sampai akhir 1920-an ketika terjadi sejumlah kecelakaan akibat penggunaannya. 1902 Willis Havilland Carrier (1876–1950), lulusan teknik mesin Universitas Cornell, merancang alat pengatur kelembapan udara sekira tahun 1902 dalam sebuah pabrik percetakan Sackett-Wilhelms Lithography. Kunci dari alatnya adalah kontrol kelembapan. Ketika mesin ini diterapkan ternyata kelembapan udara dalam pabrik percetakan stabil dan berdampak pada kualitas cetakan. Carrier kemudian mendirikan perusahaan yang memproduksiunit-unit AC. Sejak itu, penyejuk ruangan buatan Willis menghiasi berbagai fasilitas publik seperti gedung opera dan perkantoran. Karyanya dianggap sebagai AC modern pertama dan Carrier dikenal sebagai “bapak penyejuk udara modern”. Baca juga: Asal-Usul Waktu 1906 Stuart W. Cramer (1868–1940) dari Charlotte, North Carolina, mencari cara untuk menambah kelembapan udara di pabrik tekstilnya. Cramer menciptakan istilah air conditioner (AC) dan menggunakannya dalam klaim paten yang dia ajukan tahun itu. 1928 Thomas Midgley Jr. (1889–1944), ahli kimia asal Amerika, menemukan freon , zat pendingin yang lebih stabil dan aman dibandingkan amonia, sulfur dioksida, dan metil klorida yang mudah terbakar. 1931 H.H. Schultz dan J.Q. Sherman menciptakan penyejuk ruangan yang dapat dipasang di dekat jendela rumah dan apartemen sekira tahun 1931. Hanya golongan orang kaya tertentu saja yang bisa memilikinya, sebab harganya sangat mahal. Resesi ekonomi tahun 1930 membuat produk ini tak berjalan ditambah distribusi listrik saat itu yang tersendat. Baca juga: Asal-Usul Topi 1939 Packard, salah satu pabrikan mobil dari Amerika Serikat, adalah pionir penerapan pendingin udara di dalam mobil. Alat tersebut, yang dikembangkan sekira tahun 1939, disediakan pabrik sebagai perangkat opsional bagi pembeli mobil Packard. Pembeli harus merogoh kocek dalam-dalam untuk dapat melengkapi mobilnya dengan piranti penyejuk udara. Saat Perang dunia II, penggunaan AC mobil dihentikan sejenak. Baru kemudian, Chrysler meluncurkan sistem Airtemp . Sistem ini memiliki multifungsi, seperti menyejukkan; mengurangi kelembapan dan debu; serta bau asap tembakau. 1945 R obert Sherman dari Lynn, Massachusetts, menciptakan unit AC portabel yang diletakkan di dekat jendela yang bisa mendinginkan, memanaskan, mele m bapkan, serta mengeringkan dan menyaring udara.
- Perdana Menteri Wanita Pertama di Dunia dari Sri Lanka
Penembakan yang menewaskan Perdana Menteri Sri Lanka Solomon West Ridgeway Dias (S.W.R.D.) Bandaranaike pada 1959 menjadi awal perjalanan politik sang istri, Sirimavo Bandaranaike. Tak hanya melahirkan dinasti politik di Sri Lanka, Sirimavo yang tiga kali menjabat perdana menteri Sri Lanka, juga menjadi perdana menteri wanita pertama di dunia. Ralph Buultjens dalam “The Third World's Other First Lady An Interview With Former Prime Minister Sirimavo Bandaranaike”, Cambridge University Press , 6 September 2018, menulis bahwa Sirimavo lahir dari keluarga aristokrasi pedesaan yang semifeodal. Pada 1940, atas perintah keluarga, ia menikah dengan S.W.R.D Bandaranaike, politikus yang tengah naik daun dan terkenal akan kecerdasannya. Bandaranaike terpilih menjadi perdana menteri Sri Lanka pada 1956. Baca juga: Senjakala Monarki di Sri Lanka Sirimavo yang senang berkebun mulai tertarik pada isu-isu kesejahteraan sosial. Hal itu kian terlihat setelah wanita kelahiran 17 April 1916 itu menikah dengan Bandaranaike. Kematian sang suami mendorong Sirimavo bergabung dengan Partai Kebebasan Sri Lanka (SLFP). Pada 1960, Sirimavo yang dijuluki weeping widow atau janda menangis terpilih menjadi perdana menteri Sri Lanka. Sebutan tersebut disematkan karena Sirimavo kerap menangis saat melakukan kampanye untuk menjadi perdana menteri Sri Lanka. Baca juga: Mula Kristen di Sri Lanka Dalam Encyclopaedia Britannica disebutkan, Sirimavo melanjutkan program suaminya dalam kebijakan ekonomi sosialis, netralitas dalam hubungan internasional, nasionalisasi sejumlah perusahaan, dan memberlakukan undang-undang yang menjadikan bahasa Sinhala sebagai bahasa resmi. Namun, krisis ekonomi pada 1964 membuat SLFP dan koalisinya, Marxist Lanka Sama Samaja Party (Partai Sosialis Ceylon), yang mengusung Sirimavo, telah mengikis dukungan rakyat. Kekalahan dalam Pemilu 1965 membuat Sirimavo lengser dari kedudukannya sebagai perdana menteri Sri Lanka. Baca juga: Sri Lanka Tempat Pembuangan VOC Kegagalan itu tak mengakhiri perjalanan politik Sirimavo. Pada 1970, koalisi sosialisnya, Front Bersatu, mendapatkan kembali kekuasaannya dan Sirimavo kembali menjadi perdana menteri Sri Lanka. Di masa pemerintahannya yang kedua, Sirimavo menerapkan kebijakan yang lebih radikal, yaitu membatasi usaha bebas ( free enterprise ), menasionalisasi industri, dan melakukan reforma agraria. Selain itu, pemerintahannya juga mengubah nama Ceylon, yang berasal dari nama Portugis dan digunakan sejak masa kolonial Inggris, menjadi Sri Lanka yang lebih dekat dengan bahasa Sinhala dan Tamil, dua kelompok utama di negara tersebut. Chandrika Bandaranaike Kumaratunga (tengah) saat ikut demonstrasi di Colombo, Sri Lanka, pada 2015. (Vikalpa, Maatram and Groundviews/Wikimedia Commons). Kegagalan menangani persaingan etnis dan kesulitan ekonomi membuat SLFP hanya mampu mempertahankan 8 dari 168 kursi di Majelis Nasional dalam Pemilu 1977. Hal itu menyebabkan Sirimavo tak dapat melanjutkan kepemimpinannya sebagai perdana menteri Sri Lanka. Tak hanya lengser dari jabatan perdana menteri, hak politik Sirimavo juga dicabut oleh parlemen Sri Lanka pada 1980. Dia dilarang menduduki jabatan politik selama enam tahun. Pada 1986, Presiden Sri Lanka J.R. Jayawardene memberinya pengampunan dan mengembalikan hak politiknya. Baca juga: Pasukan Khusus Belanda dari Sri Lanka Pada 1988, Sirimavo mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dari SLFP, namun gagal. Setelah mendapatkan kembali kursi di parlemen pada 1989, dia menjadi pemimpin oposisi. Anak-anak Sirimavo mengikuti jejaknya. Anura P.S.D. Bandaranaike dan Chandrika Bandaranaike turut masuk dalam gelanggang politik Sri Lanka. Bahkan, Chandrika yang menikah dengan aktor Vijaya Kumaratunga pada 1978, terpilih menjadi perdana menteri Sri Lanka usai SLFP memenangkan pemilihan parlemen pada Agustus 1994. Baca juga: Kecelakaan Pesawat Jemaah Haji Indonesia di Srilanka Tahun 1974 Pada November di tahun yang sama, Chandrika memenangkan pemilihan presiden dan menjadi presiden wanita pertama di Sri Lanka. Chandrika menunjuk ibunya, Sirimavo, menjadi perdana menteri untuk ketiga kalinya. Sirimavo mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri pada Agustus 2000 karena kesehatannya memburuk. Sang perdana menteri wanita pertama di dunia itu tutup usia akibat serangan jantung pada 10 Oktober 2000 tak lama setelah memberikan suara dalam pemilihan parlemen. “Dalam kehidupan politiknya yang panjang, Sirimavo memainkan peran kunci d alam banyak kapasitas. Kualitas yang dikagumi dari Sirimavo adalah kemanusiaannya. Terlepas dari warna politiknya, banyak orang datang kepadanya untuk meminta nasihat dan pelipur lara , ” demikian gambaran sosok Sirimavo d alam sirimavobandaranaike.org .
- Asal-Usul Pistol
Senjata api genggam lahir setelah bubuk mesiu ditemukan di China berbentuk meriam-tangan ( hand cannon ). Ketika menyeberang ke Eropa, ia disebut pistolet dalam bahasa Prancis pada 1550. Ceko menyebut píšťala (diadopsi dari bahasa Jerman: pitschale , pitschole , petsole , dan variannya), yaitu meriam-tangan yang digunakan dalam Perang Hussit atau disebut juga Perang Bohemian pada 1420-an. Sementara itu, dalam bahasa Italia disebut pistolese , setelah Pistoia , sebuah kota yang terkenal pada era Renaisans di mana senjata api genggam (dirancang untuk ditembakkan dari punggung kuda) diproduksi pada 1540-an. Hand Cannon Meriam-tangan ( hand cannon atau hand gonne ) sebagai senjata api genggam dibuat pertama kali di China, di mana bubuk mesiu dikembangkan. Bukti paling awal dari meriam tangan adalah gambaran artistik dari tokoh yang menghunus senjata api, ditemukan di sebuah gua di Sichuan, China, dari abad ke-12. Meriam-tangan tertua terbuat dari perunggu tahun 1288 yang ditemukan di situs Distrik Acheng, Heilongjiang, China. Meriam-tangan dioperasikan minimal dua orang. Satu orang memegangnya di depan dada, yang lain menyulut api. Prinsip kerjanya mirip meriam. Baca juga: Membidik Sejarah Senapan Matchlocks Matchlock diperkenalkan oleh Portugal pada pertengahan abad ke-14, api sudah tak lagi disulut secara manual. Ia memperkenalkan sistem pemantik peluru. Sumbu api yang dijepit di kepala tangkai logam berbentuk huruf “S” akan digerakkan “mematuk” cawan kecil berisi mesiu. Gerakan mematuk akan terjadi setelah trigger ditarik. Matchlock jadi tak populer karena mesiunya kerap meletup tanpa diduga. Selain itu, sulit dipakai dalam cuaca basah. Senjata ini bahkan masih sering kalah cepat dari panah. Baca juga: Di Balik Sejarah Senapan AK-47 Wheellock Para perancang senjata menemukan sistem pemantik yang lebih aman, yaitu menggunakan batu api ( flint ). Mekanisme kerja wheellock mirip pemantik korek api gas sekarang. Tarikan trigger akan membuat striker arm (tangkai penjepit) batu api jatuh pada cawan mesiu. Roda bergerigi di bawah cawan kemudian berputar dan menggerus batu api. Percikan api akan membakar mesiu dan tersulutlah mesiu di dalam laras. Bentuk evolusi pertama diciptakan oleh Johann Kiefuss dari Nuenberg, Jerman, pada 1517, kendati sejumlah literatur menyebut Leonardo da Vinci sekitar abad ke-15. Pistol jenis ini bisa dioperasikan hanya dengan satu tangan. Karena biaya pembuatannya mahal, ia hanya diberikan pada perwira. Wheellock bertahan hingga abad ke-18. Baca juga: Isu Senjata untuk Kudeta di Indonesia Snaphaunce Masih menggunakan batu api tapi mengganti roda bergigi pada wheellock dengan tangkai bergigi yang digerakkan oleh per daun. Muncul kali pertama pada 1570, beberapa literatur menyebut pengguna pertamanya adalah orang Eropa utara. Namun, ada juga yang menyebut orang Belanda, didasarkan pada kata snaphaunce yang kemungkinan berasal dari kata schnapp hahn yang berarti patukan ayam jago (gerakan striker arm batu api memang mirip patukan ayam jago). VOC memperkenalkan senjata ini ke Jawa. Nama Belanda snaphaenan , di Jawa menjadi senapan. Baca juga: Bisnis Senjata Keluarga Cendana Flintlock Seorang Prancis Marin le Bourgeoys memperkenalkan ciptaannya pada 1612. Dia tak banyak mengubah mekanisme pada snaphaunce , hanya memadukan fungsi tangkai penggerus dengan tutup cawan mesiu. Dia menyerahkan ciptaannya ini pada Raja Henry IV, penguasa Prancis. Kepraktisannya membuat flintlock populer di kalangan militer Eropa dan menggeser wheellock dan snaphaunce . Model flintlock paling terkenal adalah Brown Bess Flintlock, dibuat pada 1700-an. Jenis yang satu ini bisa diisi mesiu dan proyektil lalu menembaknya dua sampai lima kali per menit. Keakuratannya lumayan meningkat, bisa membunuh orang dari jarak sekitar 10 meter. Flintlock adalah jenis terakhir yang menggunakan batu api. Baca juga: Empat Senjata Jerman yang Mengubah Dunia Percussion cap Alexander John Forsyth, pastor Skotlandia, memperkenalkan sistem pemantik api percussion cap (pemukul topi) pada 1805 yang kelak digunakan sebagai dasar rancang-bangun peluru atau cartridge . Percussion cap dianggap sebagai pembuka jalan menuju perancangan senjata genggam ( handgun ) dengan peluru dalam silinder putar atau revolver. Baca juga: Senjata dari Indonesia untuk Mujahiddin Afghanistan Revolver Elisha Haydon Collier dari Boston menciptakan flintlock revolver sekitar 1814. Antara 1819 sampai 1824 John Evans & Son di London memproduksi sekitar 10 ribu. Senjata ini digunakan oleh pasukan Inggris di India. Samuel Colt melihat senjata ini ketika menjadi awak kabin kapal penjara Corvo pada 1832. Dia pun terinspirasi membuat senjata sendiri: percussion cap revolver. Karena diproduksi di Paterson, New Jersey, revolvernya bernama Colt Paterson. Sejak itu, perkembangan rancang bangun dan mekanik pistol berkembang luar biasa. Selain memicu pembuatan revolver, peluru juga memicu pembuatan pistol bermagasin, yang variannya terus bermunculan dari masa ke masa. Revolver sendiri tergantikan oleh pistol semiotomatis dan pistol otomatis.
- Kekejaman Barisan Macan Loreng
PERJUANGAN mempertahankan kemerdekaan sungguh berat. Di awal kemerdekaan, pejuang Indonesia harus menghadapi tentara Jepang yang ditugaskan menjaga status quo . Pejuang Indonesia kemudian berhadapan dengan Sekutu yang terdiri dari tentara Inggris, India, dan Gurkha. Setelah tugas Sekutu selesai, Indonesia melawan tentara Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Selama perang kemerdekaan, banyak serdadu Jepang dan Sekutu –terutama tentara India muslim– yang membelot ke pihak Indonesia. Ada juga tentara Belanda yang bergabung dengan tentara Indonesia, seperti Poncke Princen. Mereka menjadi sukarelawan asing yang membantu perjuangan Indonesia. Sebaliknya, di luar serdadu kolonial KNIL, Belanda juga merekrut orang-orang Indonesia. Di Jakarta misalnya, Letnan Dua Koert Bavinck, perwira intelijen Belanda, membentuk HMOT (Hare Majesteit’s Ongeregelde Troepen atau Pasukan Non-Organik Sang Ratu). Anggota pasukan pribumi ini direkrut dari bekas laskar dan jawara. Anak-anak muda bumiputra itu tidak hanya sebagai penunjuk jalan, tapi juga bertempur seperti serdadu. “Mereka memiliki andil besar dalam kejatuhan Karawang dan Cikampek ke tangan Belanda pada 23 Juli 1947,” kata Robert B. Cribb, sejarawan Australia, kepada Hendi Jo, penulis Historia.ID . Selain di Jakarta, tentara Belanda bisa jadi juga membentuk pasukan-pasukan pribumi di berbagai daerah, seperti di Jawa Barat. Di front Bandung, Panglima Divisi Siliwangi Kolonel A.H. Nasution menyaksikan kepanikan rakyat dan kegugupan pasukan karena musuh muncul dan memukul di mana-mana, sampai ke tempat-tempat yang selama ini dianggap aman. Nasution menyebut tentara Belanda membentuk pasukan garong untuk mengacau di kampung-kampung perbatasan. “Mereka disuruh pula oleh Belanda untuk menangkap pemuda-pemuda, membunuh secara kejam rakyat yang tak mau masuk NICA, dan ada pula yang dipakai mereka sebagai perisai dalam pertempuran,” kata Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 3 Diplomasi Sambil Bertempur. NICA (Nederlandsch Indische Civiel Administratie) adalah Pemerintahan Sipil Hindia Belanda. Pihak Indonesia juga memberdayakan orang-orang yang berkerja di dunia hitam. Barangkali daripada mereka dimanfaatkan oleh tentara Belanda, maka Mayor Jenderal TNI dr. Moestopo berinisiatif membentuk pasukan yang terdiri dari pencuri, pencopet, dan pelacur. Mereka dikirim ke daerah pendudukan Belanda untuk mengacaukan situasi dan menurunkan daya tempur pasukan Belanda. Selain pasukan garong, kata Nasution, Belanda juga mempergunakan penduduk yang lemah pendiriannya untuk menjadi kaki tangan dan provokator. “Seperti Barisan Macan Loreng Haji Yusuf di Tagogapu, Padalarang,” kata Nasution. Nasution mencatat, Barisan Macan Loreng melakukan aksinya pada 11 Juli 1946. Kepala pasukan Macan itu membunuh seorang pemuka agama Islam, H. Akhmad Rujadi, dan beberapa orang santrinya, karena menolak mentah-mentah desakan mereka untuk memihak kepada Belanda. Haji Yusuf dan pengikutnya membunuh dengan keji. “Kepala korban-korban itu sampai mereka kupas,” kata Nasution. Sayangnya, Nasution tidak menjelaskan bagaimana akhir dari Haji Yusuf dengan Barisan Macan Lorengnya.*
- Iptu Tembak Briptu
BRIGADIR J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat tewas ditembak oleh Bharada E di rumah Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Pol. Ferdy Sambo pada Jumat, 8 Juli 2022. Brigadir J adalah anggota Bareskrim yang bertugas sebagai sopir dinas istri Ferdy Sambo. Sedangkan Bharada E adalah anggota Brimob yang bertugas menjadi pengawal Ferdy Sambo. Menurut keterangan Polri, baku tembak terjadi karena Brigadir J masuk kamar sambil menodongkan senjata dan diduga melecehkan istri Ferdy Sambo. Publik menilai banyak kejanggalan dalam kasus ini. Sehingga Polri dan Komnas HAM membentuk tim khusus untuk menyelidikinya. Insiden polisi tembak polisi bukan kali ini saja terjadi. Peristiwa serupa terjadi 16 tahun lalu di Polsek Telaga, Gorontalo. Majalah Gatra , 9 Agustus 2006, melaporkan kejadian itu. Pada malam nahas sekitar pukul 01.45, Kapolsek Iptu Koko Aryanto Wardani bermaksud mengontrol anak buahnya yang sedang piket. Anggota polisi yang jadwal piket adalah Briptu Marto Lawani, Briptu S.K. Nongsi, dan Bripda Rauf Katili. Tiba di Polsek, Koko mendapati Nongsi dan Rauf sedang terlelap. Sementara Marto sedang ngobrol dengan Roy, warga yang tinggal dekat Polsek. Sambil marah-marah, Koko membangunkan Nongsi dan Rauf. Koko kemudian mendekati Marto sembari memutar-mutar pistol dengan telunjuk kanan. Melihat lagak sang Kapolsek, Marto yang duduk di sepeda motor bersama Roy mencandainya. “Komandan, pistol itu buat saya. Kan, komandan mau pindah ke Polres Bone Bolango,” kata Marto seperti dituturkan Roy. Koko menanggapi canda itu. Dia mengeluarkan peluru dari magasin pistol, lalu menodongkan senjata api itu ke arah Marto. “ Ini jongana punya (ini kamu punya),” kata Koko seraya menarik pelatuk. Tak dinyana, pistol menyalak. Koko tak mengira dalam pistol itu tersisa sebutir peluru. Marto pun terkapar. Koko yang panik bersama Nongsi dan Rauf segera membawa Marto ke rumah sakit. Namun nyawanya tidak tertolong. Hari itu juga Koko ditahan. Dia depresi berat karena Marto adalah anak buah sekaligus teman baiknya. Kasus Kapolsek tembak mati anak buahnya itu menjadi perhatian Mabes Polri. Dua petinggi Mabes Polri memberikan keterangan berbeda sebagaimana dilaporkan detik.com . Kabid Penum Mabes Polri Kombes Pol. Bambang Kuncoko mengatakan, penembakan terjadi karena anak buah (Marto) mematikan lampu dan dianggap telah melalaikan perintahnya (Koko). Akibatnya, terjadi tembakan tidak sengaja dan anak buahnya meninggal ketika dibawa ke rumah sakit. Sementara itu, Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol. Anton Bachrul Alam mengatakan, saat kejadian sebetulnya Koko sedang bercanda dengan mengeluarkan senjata. Koko mengira senjata tersebut sudah kosong, tapi ketika ditembakkan ternyata masih ada satu peluru. Koko diadili di Pengadilan Negeri Limboto, Gorontalo. Liputan6.com melaporkan hasil putusannya: pengadilan menjatuhkan vonis sembilan tahun penjara kepada Koko karena dinilai terbukti sengaja menembak bawahannya Briptu Marto Lawani.*
- Kolonel Gadungan Terlibat Kasus Tanah
KEPOLISIAN Daerah (Polda) Metro Jaya menetapkan 27 tersangka dalam empat kasus dugaan mafia tanah di wilayah Jakarta dan Bekasi pada 13 Juli 2022. Sepuluh tersangka yang ditahan merupakan pejabat dan pegawai tidak tetap di Badan Pertanahan Nasional (BPN) wilayah Jakarta dan Bekasi. Mafia tanah beroperasi dengan melibatkan banyak pihak. Bahkan, mungkin saja ada backing yang kuat dan tidak terjerat hukum. Seperti kasus tanah yang pernah ditangani oleh Letkol Suroyo Bimantoro, Kapolres Metro Jakarta Utara, pada 1985. Dalam otobiografinya, Bermula dari Dukuh Pendorekan , Suroyo Bimantoro menceritakan kasus tanah yang ditangani Polres Jakarta Utara. Tersangkanya yang mengaku-ngaku Kolonel TNI ditahan. Ternyata, dia kolonel gadungan. Pada suatu hari, pengacara tahanan itu menghadap Suroyo Bimantoro. Dia membawa surat dari seorang Mayor Jenderal TNI dengan kop surat di amplop dan di kertas berlambang salah satu angkatan dengan dua bintang. “Sang Pati TNI adalah sepupu Ibu Tien Soeharto dan menjabat Wantanas Mayor Jenderal I.H. Intinya minta tersangka dibebaskan dari tahanan. Tentu saya tolak,” kata Suroyo Bimantoro. Perwira tinggi TNI berinisial I.H. itu kemungkinan besar adalah Mayor Jenderal TNI Ibnu Hartomo, adik kandung Ibu Tien Soeharto, yang menjabat Deputi IV Wanhankamnas (Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional) Bidang Pengembangan. Sebelumnya dia menjabat Inspektur Jenderal Departemen Sosial. Ibnu Hartomo pernah terlibat kasus pemalsuan tanda tangan Sekretaris Jenderal Wanhankamnas Letnan Jenderal TNI Achmad Wiranatakusumah untuk promes (surat utang). Kasus besar yang menggegerkan ini terbongkar di Amerika Serikat pada 1990-an. Besok paginya, pengacara tersangka kolonel gadungan itu datang lagi membawa nota baru yang isinya meminta Suroyo Bimantoro menghadap Mayor Jenderal I.H. “Saya jawab bahwa saya memiliki atasan yaitu Kapolda dan Kapolri. Jadi, saya tidak akan menghadap kecuali diperintahkan Kapolda atau Kapolri, karena masalahnya adalah pelaksanaan tugas kepolisian,” kata Suroyo Bimantoro. Suroyo Bimantoro kemudian melaporkan kejadian itu kepada Kapolda Mayor Jenderal Polisi Sudarmadji dan Kapolri Letnan Jenderal Polisi Anton Sujarwo. Kapolda membenarkan sikap Kapolresnya itu. Bahkan, Kapolri melalui telepon memberi semangat, “ Yen ono opo-opo ben aku sing ngadepi .” (Kalau ada apa-apa biar saya yang hadapi). “Benar-benar komandan beliau-beliau itu,” kata Suroyo Bimantoro yang kemudian menjadi Kapolri pada 2000–2001.*
- Senjakala Monarki di Sri Lanka
SRI Lanka berada di titik nadir. Negeri-pulau itu menyatakan bangkrut akibat jeratan utang. Krisis ekonomi di negeri itu menjalar ke sendi-sendi politik dan sosial sejak Mei 2022 kala pemerintahannya menyatakan default alias ketidakmampuan membayar pokok utang luar negeri plus bunganya. Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa dan Perdana Menteri (PM) Ranil Wickremisinghe sudah pasrah untuk mundur dari jabatannya. Namun bukan berarti rakyat Sri Lanka bisa begitu saja memaafkan. Ribuan massa menggeruduk Istana Kepresidenan di Kolombo. Akibatnya Presiden Rajapaksa gagal “kabur” ke Dubai, Uni Emirat Arab karena dihadang staf imigrasi di bandara pada Selasa (12/7/2022). Ia dan istrinya hanya bisa berlindung di Pangkalan Udara (Lanud) Katunayake yang bersebelahan dengan Bandara Internasional Bandaranaike. Sri Lanka sudah mulai dijerat krisis sejak 2019. Situasinya makin pelik dengan utang luar negeri mencapai 51 miliar dolar Amerika (sekira Rp764 triliun). Sedikitnya ada enam faktor yang mendorong Sri Lanka ke jurang kebangkrutan. Pertama , kurs asing yang menukik tajam sebagai akibat defisit perdagangan beberapa dekade lalu. Kedua , serangkaian aksi pemboman oleh teroris yang mengganggu industri pariwisata. Sepuluh persen GDP Sri Lanka berasal dari pariwisata dan upaya pemulihannya diperburuk situasi pandemi Covid 19. Ketiga , krisis sektor pertanian sebagai imbas kebijakan larangan penggunaan pupuk kimiawi demi pertanian organik yang dikeluarkan Presiden Rajapaksa pada 2021. Akibatnya terjadi kelangkaan pupuk yang bikin petani padi dan gula menjerit. Keempat , kebijakan revitalisasi ekonomi dengan pemotongan pajak yang justru menimbulkan efek backfire terhadap pendapatan negara. Kelima , blunder pengelolaan keuangan negara. Pinjaman luar negeri yang mestinya bisa menyokong ekonomi lokal untuk meningkatkan ekspor, justru dialihkan untuk impor. Keenam , konflik Ukraina-Rusia yang berperan bagi krisis energi dan pangan, khususnya minyak mentah dan gandum, menghasilkan inflasi harga BBM dan pangan di Sri Lanka. Baca juga: Bobolnya Gedung Capitol Kekacauan sosial dan politik juga berdampak pada upaya pencairan dana talangan IMF (International Monetary Fund). Padahal negosiasi antara Sri Lanka dan IMF sudah mulai berjalan sejak April silam. “Ketidakstabilan politik mungkin akan menunda progres yang sudah kami jalani. Semakin cepat politik bisa stabil, akan lebih baik progres kami bernegosiasi dengan IMF. Kami juga sudah mengajukan permintaan tambahan kredit 1 miliar dolar dari India sejak kesepakatan kredit 400 juta dolar Januari lalu,” kata Gubernur Bank Sentral Sri Lanka P. Nandalal Weerasinghe, dikutip Reuters , Senin (11/7/2022). Kediaman Presiden Sri Lanka yang diduduki massa (Twitter @AJEnglish) Matahari Tenggelam di Era Monarki Krisis tahun ini jadi yang terburuk sejak negeri yang dahulu bernama Ceylon itu jadi negeri merdeka dengan bentuk pemerintahan republik pada 4 Februari 1948. Walau eranya sudah berbeda, konflik dan krisis utang seolah tak pernah berubah seiring zaman, termasuk di era kolonialisme maupun monarki terakhirnya. Sri Lanka adalah negeri yang kaya sutera, teh, gula, kayu manis, merica, dan biji pinang yang dibidik para kolonialis Eropa di awal abad ke-16. Adalah penjelajah Portugis bernama Lourenço de Almeida yang mengawali eksplorasinya ke Sri Lanka pada 1505. Mereka menyebut negeri itu dengan nama “Seylan”. Monarki di Seylan saat itu terbagi menjadi empat: Kerajaan Kotte, Kerajaan Sitawaka, Kerajaan Jaffna, dan Kerajaan Raigama. Konflik kekuasaan di antara kerajaan-kerajaan itu dimanfaatkan penjelajah Portugis dengan menancapkan eksistensinya di wilayah-wilayah pesisir barat hingga mendirikan koloni Ceilão Português atau Seylan-Portugis pada 1597. Baca juga: Konflik Kashmir Tiada Akhir Di bawah ketiak Portugis, Kerajaan Kandy muncul dan beraliansi untuk merebut banyak wilayah Kerajaan Kotte dan Sitawaka. Pada 1594, Kerajaan Kandy jadi satu-satunya monarki yang bertahan di antara reruntuhan kerajaan lainnya. Namun, Kerajaan Kandy yang menguasai pedalaman pulau lama-kelamaan makin gerah dengan monopoli Portugis di wilayah pesisir. Ia kemudian mencoba menggandeng kolonialis Belanda untuk mendepak Portugis. Kebetulan saat itu Republik Belanda melalui Kongsi Dagang Hindia Timur VOC sudah punya kantor di Coromandel, pesisir Teluk Benggala. Aliansi dengan VOC (Belanda) itulah yang digalang Rajasinghe II dari Kerajaan Kandy lewat Traktat Kandy (23 Mei 1638). Benteng Batticaloa, saksi bisu kolonialisme Portugis dan Belanda di Sri Lanka ( wmf.org ) Mengutip Richard Gerald Anthonisz dalam The Dutch in Ceylon , Rajasinghe II yang bertemu Komandan VOC Adam Westerwold dan wakilnya, Willem Jacobszoon Coster di Batticaloa, menyepakati 20 prinsip aliansi. Empat di antaranya Belanda setuju berdiri di barisan Kandy mengusir Portugis; segala utang militer Kandy kepada Belanda selama peperangan dengan Portugis akan dibayar dengan komoditas kayu manis, lada, dan lilin lebah; Belanda diberikan monopoli segala komoditas perdagangan kecuali gajah; serdadu VOC berhak menempati benteng-benteng yang ditinggalkan Portugis. “Setahun kemudian, Belanda mulai merebut dua provinsi dari Portugis dan diserahkan kepada Kandy. Sementara di Eropa pada pertengahan abad ke-17, pemerintah Portugal dan Belanda sepakat untuk menyerahkan semua perkebunan kepada Belanda, walau beberapa kolonialis Portugis di Sri Lanka menolak. Hasilnya perang pada 1652 menghancurkan sisa-sisa wilayah Portugis dan pada Mei 1655, Belanda merebut Kolombo, serta mengamankan segenap wilayah eks-Portugis di pesisir Sri Lanka pada 1658,” tulis Trudy Ring, Noelle Watson, dan Paul Schellinger dalam Asia and Oceania: International Dictionary of Historic Places. Tapi kolonial tetaplah kolonial. VOC yang mulai menancapkan kuku-kukunya setahun pascatraktat (1640) dengan basisnya di Galle dan kemudian Kolombo, acap memberikan tekanan perihal monopoli perdagangan. Di sisi lain, Kerajaan Kandy mulai menumpuk utang dari kebutuhan militer VOC. Baca juga: Sri Lanka Tempat Pembuangan VOC Akibatnya, VOC dan Kandy terlibat konflik. Pada 1645-1649, Rajasinghe II mengobarkan perang untuk merebut kembali beberapa wilayah pesisir. Meski gagal, taktik bumihangus Rajasinghe II memaksa VOC duduk ke meja perundingan. Traktat Kandy 1638 disepakati dua pihak untuk direvisi. Salah satu poinnya adalah VOC setuju menyerahkan beberapa wilayah. Poin itu kemudian gagal ditunaikan lantaran syarat Rajasinghe II untuk membayar utang belum terpenuhi. “Menurut (revisi) traktat itu, pihak Kandy menuntut pemulihan wilayah di semua eks-kekuasaan Portugis tetapi diacuhkan Belanda. Pihak Belanda mendasarkan keengganan mereka dengan klaim kegagalan raja Kandy membayar utang kampanye militer. Poin soal ini terus-menerus jadi alasan konflik antara Kandy dan Belanda sampai 1766. Membuat posisi Kandy terkunci di pedalaman dan status quo itu bertahan sampai kedatangan Inggris pada 1796,” ungkap Roland Wenzlhuemer dalam From Coffee to Tea Cultivation in Ceylon, 1880-1900: An Economic and Social History. Kekuasaan Rajasinghe II yang sebatas pedalaman (biru muda) sementara pesisir (biru tua) dikuasai Belanda ( An Historical Relation of the Island Ceylon ) Kedatangan Inggris juga setali tiga uang. Nasib bumiputera Sri Lanka tak lebih baik dari saat dijajah Belanda. Belum selesai urusan dengan Belanda, Inggris keburu melancarkan invasi pada musim panas 1795 yang didorong perubahan politik di Eropa. “Pada 1795, (Republik) Belanda yang selama ini jadi sekutu Inggris, ditumbangkan pasukan Republik Prancis. Ceylon di timur sudah ditargetkan pula untuk dikuasai Inggris. Di sisi lain Kandy yang bergulat dengan kedaulatannya, sempat berharap Inggris mau membantu mengusir Belanda yang 150 tahun sebelumnya membantu mengusir Portugis dari negeri itu,” tulis penjelajah cum Gubernur Jenderal British Ceylon (1846-1847) James Tennent dalam Ceylon: An Account of the Island, Physical, Historical, and Topographical With Notices of Its Natural History, Antiquities and Productions. Inggris tak ingin wilayah-wilayah strategis di Hindia Timur, khususnya Ceylon, jatuh ke tangan Prancis dengan negara bonekanya Republik Batavia. Maka, lanjut Tennent, armada ekspedisi Inggris pimpinan Laksamana Peter Ranier dan Kolonel James Stuart berangkat dari Madras pada 1 Agustus 1795 menuju Trincomalee guna melancarkan pengepungan terhadap garnisun Belanda selama tiga pekan. “Sebulan kemudian Jaffna menyerah dan Calpentyn diduduki pada 5 November. Saat Adigâr (setara perdana menteri) Kandy dikirim Rajadhi Rajasinha untuk menegosiasikan traktat dengan Inggris pada awal 1796, Kolonel Stuart sudah menguasai Kolombo. (Gubernur VOC di Ceylon, Johan) Van Angelbeek meneken kapitulasi dan pada malamnya, bendera Inggris berkibar di tembok kota Kolombo,” tambah Tennent. Baca juga: Mula Kristen di Sri Lanka Koloni Belanda pun tamat ceritanya pada 15 Februari. Lennox A. Mills dalam Ceylon Under British Rule, 1795-1932 mencatat, terhadap kekuatan militer Belanda, Kandy masih bisa mengimbangi. Namun tidak dengan Inggris. Terlebih Inggris menuntut Kandy menjadi bagian dari koloni berstatus protektorat. Tuntutan itu ditolak Rajadhi Rajasinha. Sementara, di internal kerajaannya mulai terasa benih-benih pemberontakan. “Pada 1798, Kandy adalah kerajaan yang lemah dan jauh tertinggal dari provinsi-provinsi di pesisir dalam hal kekayaan dan peradaban. Pasukannya tak terlatih dan mayoritas milisi dari kalangan petani. Sang raja juga dikenal raja yang zalim terhadap rakyatnya, hingga menimbulkan ambisi-ambisi untuk menumbangkannya dari kalangan beberapa bangsawan. Salah satunya Adigâr Pilimatalavuva Maha Adikaram III,” tulis Mills. Dokumen Konvensi Kandy (kiri) & raja terakhir Sri Lanka, Sri Vikrama Rajasinha ( archive.gov.lk ) Di tahun itu pula Kerajaan Kandy berganti penguasa. Rajadhi Rajasinha yang tak punya putra mahkota digantikan keponakannya, Pangeran Kannasamy. Ia naik takhta dan menyandang nama Sri Vikrama Rajasinha akibat permainan politik “sang sengkuni” Pilimatalavuva Maha Adikaram. “Pilimatalavuva yang meyakinkan para menteri lain memilih raja baru yang masih muda dan belum berpengalaman di antara para persaingan bangsawan lain. Dia yang membawa (pangeran) Kannasamy menjadi raja dengan niat di saat yang tepat, Pilimatalavuva akan menyingkirkannya untuk menggantikannya jadi raja,” sambung Mills. Diam-diam Pilimatalavuva menawarkan persekutuan dengan Gubernur British Ceylon Frederick North untuk menjatuhkan Raja Vikrama. Harapannya agar Inggris membantunya naik takhta. Namun, itu gagal lantaran Gubernur North bersikeras Kandy bakal tetap jadi protektorat, bukan kerajaan berdaulat. Baca juga: Konflik Muslim-Hindu India dari Masa ke Masa Tetapi ambisi sang perdana menteri belum padam. Ia memanipulasi sang raja untuk memulai konflik dengan Inggris hingga mereka mendeklarasikan perang terhadap Inggris pada 22 Maret 1803. “Saat pasukan Jenderal McDowall menginvasi Kandy, Raja Vikrama mengungsi ke pedalaman hutan. Tak lupa ia juga melancarkan taktik bumi hangus. Garnisun Inggris sempat menduduki Kandy untuk beberapa bulan sampai akhirnya pasukan Kandy menyerang balik dan membantai pasukan Inggris. Kandy sempat bangkit walau pada 1815 terjadi perpecahan karena kezaliman sang raja terhadap para biksu Budha. Akibatnya Kandy kembali melemah dan Inggris dengan mudah menguasai Kandy pada Februari 1815,” sambung Trudy Ring dkk. Raja Vikrama dipaksa menerima Konvensi Kandy yang berisi 12 klausul pada 2 Maret 1815. Salah satu poinnya adalah Raja Vikrama diharuskan turun takhta dan keturunannya tak lagi berhak meneruskan dinasti. Poin itu mengakhiri era monarki di Sri Lanka setelah 2358 tahun. Vikrama sebagai raja terakhir diasingkan ke daratan India. Pada 24 Januari 1816, Raja Vikrama beserta empat istri dan 60 kerabatnya dikawal dari Kolombo menuju pembuangannya di Madras dengan kapal HMS Cornwallis. Ia ditahan di Vellore Fort sampai tutup usia pada 30 Januari 1832. Penangkapan Raja Vikrama pada 1815 ( tuppahis.com )
- Pasukan Khusus Belanda dari Sri Lanka
Waktu tentara Jepang menyerang Hindia Belanda, Mayor Fritz Mollinger sudah dua dekade menjadi perwira KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Dia berdinas sejak 1922. Mayor Mollinger dan Kapten Willem Jan Scheepens, anak Letnan Kolonel Scheepens yang mati di Aceh pada 1917, berhasil kabur ketika Jepang datang. Mereka mengungsi ke Sri Lanka. Baca juga: V dan Organisasi Tanpa Nama Melawan Jepang Dalam menghadapi Jepang, Mayor Mollinger dan Kapten Scheepens bersama perwira Belanda lain menjalankan Netherlands Special Operation (NSO) atas perintah Laksamana Helfrich, petinggi militer Belanda. Pada 1 Agustus 1942, mereka membentuk pasukan khusus untuk melakukan operasi penyusupan ke wilayah yang dikuasai Jepang. Mayor Pel mengusulkan nama samaran untuk pasukan khusus itu: Korps Insulinde. Baca juga: Geraf Bergerak Melawan Jepang Sebelum Korps Insulinde dibentuk, misi penyusupan pada Mei 1942 yang dipimpin Letnan Wijnmalen gagal total. Biasanya para penyusup dihabisi militer Jepang. Kegagalan menjadi bahan pelajaran bagi perwira Belanda untuk lebih berhati-hati dan terus melatih diri. NRC Handelsblad , 25 Oktober 1986, menyebut Korps Insulinde berbasis di Kamp D,pinggiran Desa Laksapitiya, 20 km ke selatan kota Colombo, Sri Lanka. Ada 38 orang tentara Belanda yang dipilih mengikuti pelatihan gerilya. Mereka terdiri dari 8 perwira, 12 sersan, dan 18 kopral. Mulanya Korps Insulinde berada dalam komando Inggris, sebelum Laksamana Helfrich membawahkannya. Pelatihan Korps Insulinde, pasukan khusus Belanda, yang dibentuk di Sri Lanka. ( svendijkstra.mid-college.nl ). Setelah pelatihan, Korps Insulide siap untuk diterjunkan. Pasukan gerilya itu melakukan 8 operasi rahasia dan 13 operasi pendaratan di wilayah pendudukan Jepang. Ke-21 misi itu dijalankan selama kurun waktu Desember 1942 hingga Agustus 1945. Dalam misi pertama pada Desember 1942,pasukan Korps Insulide mendarat di Trumun, sisi barat Pulau Sumatra menggunakan kapal selam O-24 milik Belanda.Mayor Pel dan Kapten Scheepens kemudian mengantar pasukan penyusup itu ke pantai dengan perahu karet. Orang Indonesia dalam pasukan khusus itu merupakan tenaga potensial operasi penyusupan ke Sumatra. Mereka bertugas mencari data atau informasi terkait militer Jepang dan mencari tahu perekonomian rakyat di daerah pendudukan Jepang. Kapten Scheepens termasuk yang terjun ke daratan Sumatra. Dia pernah menyusup ke Lhokseumawe, Aceh. Baca juga: Djojobojo Menentang Jepang Leeuwarder Courant , 21 Oktober 1986, melaporkan, Kapten Scheepens dan Letnan Sisselaar telah menyusup ke Sumatra dengan bantuan orang-orang Indonesia sekitar tahun 1944. Bersama militer Inggris, mereka mencari tahu lokasi yang tepat untuk pendaratan pesawat tentara Sekutu di Aceh. Mau tak mau mereka harus terus mengirim penyusup lewat pantai atau terjun payung. Pada pertengahan 1945, Letnan Sisselaar dan timnya mendarat di Padang Lawas, Sumatra Utara, untuk mempersiapkan pendaratan pasukan Sekutu dalam jumlah besar ke Sumatra. Pasukan itu susah payah bertahan di hutan Sumatra untuk menjaga komunikasi radio dengan Sri Lanka. Mereka memakai sepatu yang buruk hingga harus berjalan di hutan dengan telanjang kaki. Mula-mula, Mayor Mollinger yang memimpin Korps Insulinde. Mayor Pel menggantikannya setelah Mollinger dipindahkan ke Suriname. Baca juga: Belanda Mengawasi Indonesia dari Australia Jaap de Moor dalam biografi Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia , menyebut Mollinger lalu ditempatkan di NEFIS (Netherlands Forces Intelligence Service)di Australia. Dia memimpin NEFIS III yang mengurusi pelatihan. Korps Insulinde di bubarkan setelah tentara Jepang menyerah pada 14 Agustus 1945. Banyak anggotanya yang pulang ke Belanda. Anggota yang tersisa masuk pasukan khusus Depot Speciale Troepen (DST) yang dipimpin Kapten Scheepens. Unit itu kemudian dipimpin Kapten Raymond Paul Pierre Westerling setelah Scheepens terluka. Mollinger belakangan pernah menjadi komandan brigade t entara Belanda di Palembang .
- Piala AFF Perdana yang Ternoda
Piala AFF yang bernama Piala Tiger pertama kali digelar tahun 1996. Timnas Indonesia belum sekali pun juara. Dari 13 edisi, Indonesia lima kali gigit jari karena hanya menjadi runner-up (2000, 2002, 2004, 2010, 2016). Padahal, PSSI adalah satu dari enam pendiri Federasi Sepakbola Asia Tenggara (AFF). Bahkan, Marsekal Madya (Purn.) Kardono, Ketua Umum PSSI periode 1983–1991, dipercaya menjadi presiden AFF pertama pada 1984. AFF yang jadi bagian dari AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) menaungi semua induk sepakbola se-ASEAN. AFF berdiri pada 1984 dengan markasnya di Kuala Lumpur, Malaysia. Mengutip laman resmi AFF, gagasan pendirian AFF diprakarsai oleh lima perwakilan induk sepakbola anggota ASEAN yang menggelar pertemuan di Bangkok, Thailand pada 1982. Mereka adalah Dato’ Seri Haji Samah (Malaysia), Hans Pandelaki (Indonesia), Fernando G. Alvarez (Filipina), Pisit Ngampanich (Thailand), serta Teo Chong Tee dan Yap Boon Chuan (Singapura). Pertemuan itu didukung Sekjen AFC Peter Velappan. Baca juga: Kenapa Sepakbola Indonesia Kalah Melulu? Rapat itu dilanjutkan pertemuan susulan enam delegasi induk sepakbola ASEAN: Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Brunei Darussalam pada 31 Januari–1 Februari 1984. Keenamnya bersepakat mendirikan AFF dengan tujuan kerja sama demi pengembangan sepakbola. Kardono terpilih sebagai presiden pertama AFF dan wakilnya Pengiran Ibrahim Pengiran Damit dari Brunei. Namun, turnamen antarnegara ASEAN belum jadi agenda utama. AFF pada tahun itu justru menggelar turnamen antarklub, ASEAN Club Championship. Turnamen itu dijuarai Bangkok Bank of Thailand yang di final menang 1-0 atas Yanita Utama di Stadion Utama Senayan. Baca juga: Awal Mula Timnas Garuda Turnamen tersebut berjalan sampai 1989. Setelah itu, AFF tidak punya agenda lain. Menurut Ben Weinberg dalam Asia and the Future of Football: The Role of the Asian Football Confederation , AFF baru menggeliat lagi di pertengahan 1990-an dengan tujuan menggalakkan aktivitas administratif dan edukasi di antara para anggotanya. “Dibantu sekjen-sekjen FAM (induk organisasi sepakbola Malaysia) dan FAT (Thailand), Paul Mony Samuel dan Worawi Makudi, bekerja sama dengan AML (AFC Marketing Limited), AFF meluncurkan turnamen utama mereka yang baru untuk tim nasional, Tiger Cup pada 1996,” tulis Weinberg. Baca juga: Roman Sepakbola Negeri Jiran Turnamen antarnegara Asia Tenggara itu disepakati digelar dua tahun sekali. Nama “Tiger Cup” diambil dari sponsor utama, Tiger Beer, merek bir dari Singapura produksi Heineken. Selain enam anggota pendiri AFF, empat negara yang belum menjadi anggota AFF kala itu turut diundang: Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam. Tujuannya untuk membuktikan siapa yang terbaik di kawasan Asia Tenggara. Piala Tiger perdana dihelat di Singapura pada 1-15 September 1996. Skuad Indonesia tampil menjanjikan di penyisihan Grup A yang dihuni Vietnam, Myanmar, Laos, dan Kamboja. Namun, Kurniawan Dwi Yulianto dkk. ditumbangkan Malaysia 3-1 di semifinal. Thailand lantas keluar sebagai juara setelah mengalahkan Malaysia 1-0 di final. Kolase pemberitaan soal upaya suap kepada pemain timnas Filipina. ( People's Journal , November 1996). Akan tetapi bukan euforia Thailand atau penampilan ciamik bintangnya, Kiatisuk Senamuang, yang jadi buah bibir usai turnamen AFF perdana itu. Kehebohan justru datang dari skandal pengaturan skor yang berkelindan dengan judi sepakbola. Skandal itu terungkap setelah bek Filipina, Judy Saluria menjadi whistleblower . Mengutip laporan AP News , 20 September 1996, Saluria ditawari uang 50 ribu dolar (senilai 1,3 juta peso Filipina) oleh tiga penyuap asal Singapura dan Malaysia. Baca juga: Menendang Sejarah Sepakbola Vietnam Kasus itu kemudian jadi perhatian Biro Investigasi Praktik Korupsi Singapura ( CPIB). Jaksa penuntut CPIB menguak tiga tersangka, yaitu Kandasamy Karuppan dan Yam Phuang Fei dari Malaysia, serta Chong Dhin Hoong dari Singapura. Percobaan suap kepada Saluria itu dilakukan untuk mengatur skor matchday ketiga penyisihan Grup B antara Singapura kontra Filipina pada 6 September 1996. Ketiga penyuap meminta Saluria untuk membiarkan Singapura mencetak banyak gol. Harapan mereka agar Singapura bisa menang hinga 7-0. Pasalnya, di dua laga sebelumnya Singapura hanya bisa bermain imbang 1-1 kontra Malaysia dan menang 3-0 atas Brunei. Baca juga: Sigap Menangkal Babi-Babi Suap Saluria mengaku tidak menerima suap tersebut. Singapura sendiri akhirnya hanya bisa menang 3-0 atas Filipina. Hasil itu membuat Singapura gagal melaju ke semifinal karena hanya bertengger di posisi tiga klasemen di bawah Malaysia dan Thailand. Saluria ditemani asisten pelatih Hans Smit sudah berusaha melaporkan upaya penyuapan itu kepada otoritas Singapura sebelum 6 September 1996. Tetapi Saluria diminta untuk tutup mulut, setidaknya sampai turnamen usai. Baca juga: Sepakbola Gajah dalam Piala AFF Ceritanya bermula dari Smit yang sudah lama mengendus adanya mafia pengaturan skor. Smit memutus semua sambungan telepon di kamar pemain. Karena itulah kemudian Saluria ditemui langsung ketiga tersangka usai konferensi pers jelang matchday kedua Grup B Filipina vs Malaysia pada 4 September 1996. “Saya tahu hal semacam ini (suap) sangat mungkin terjadi karena perjudian dalam laga-laga sepakbola sangat merajalela di Asia,” kata Smit kepada suratkabar Manila Standard , 22 September 1996. Baca juga: Utak-Atik Skor Bola di Belakang Layar Saluria ditemani Smit kemudian diminta otoritas Singapura untuk menjebak ketiga tersangka itu. Saluria diperintah untuk berpura-pura mau menerima suap jelang laga Singapura kontra Filipina. Ia setuju. Maka, saat ketiga penyuap datang dan menyerahkan sebuah tas berisi uang kepada Saluria di halaman parkir hotel, mereka langsung diciduk. Ketiganya diajukan ke meja hijau pada 15 November 1996 dan diancam hukuman lima tahun penjara serta denda 71.430 dolar. Akan tetapi, ketiganya kemudian dibebaskan dengan uang jaminan, namun paspor terdakwa asal Singapura dicabut dan dua terdakwa asal Malaysia dilarang masuk Singapura lagi.
- M. Sapija dan Pattimura
Sekali lagi, agama Kapitan Pattimura yang memimpin penyerangan ke Benteng Duurstede di Saparua pada 14 Mei 1817 diperdebatkan di media sosial setelah viral video ceramah Ustaz Adi Hidayat. Ini bukan kehebohan baru. Setidaknya ini sudah diributkan dua dekade. Setelah Orde Baru bubar, muncul klaim bahwa Kapitan Pattimura bukanlah Thomas Matulessy, melainkan Ahmad Lussy. Kali ini penceramah Adi Hidayat, yang punya banyak jamaah, menyebut: “kami berusaha mencari dan melihat pakar sejarah dikumpulkan, ternyata nama aslinya Pattimura itu bukan Thomas Matulessy, tapi Ahmad Lussy”. Teori Adi Hidayat itu disebut-sebut berasal dari sebuah buku sejarah. Baca juga: Dari Matulessia Menjadi Matulessy Teori yang dimaksud adalah pendapat Ahmad Mansur Suryanegara yang hanya sepintas lalu menyinggung Pattimura dalam bukunya, Api Islam (2018). Buku inilah yang menjadi rujukan kehebohan itu. Ahmad Mansur Suryanegara dianggap orang penting dalam Islamisasi penulisan sejarah di Indonesia dan karyanya banyak disantap pembaca awam. “Akibat penindasan dan kekejaman penjajah Protestan Belanda, bangkitlah perlawanan bersenjata dipimpin oleh Kapten Pattimura. Di Ambon penyandang nama Pattimura adalah muslim. Oleh karena itu, salahlah jika dalam penulisan sejarah, Kapten Pattimura disebut seorang Kristen,” tulis Ahmad Mansur Suryanegara, yang pernah mengoreksi buku Sejarah Nasional Indonesia yang dirilis Orde Baru. Sebelum dan sesudah paragraf itu tidak ada penjelasan lain tentang Pattimura. Baca juga: Cerita di Balik Gambar Pattimura Sementara itu, menurut Dieter Bartels, profesor antropologi di Yavapai College, Clarkdale, Arizona, Amerika Serikat, dalam Di Bawah Gugusan Gunung Nunusaku: Muslim Kristen Hidup Berdampingan di Maluku Tengah Jilid II Sejarah (2017),tak ada satu laporan pun dari zaman itu yang menyatakan Matulessy memakai gelar Pattimura. Namun, tidak menutup kemungkinan gelar Kapiten Pattimura dipakai Thomas Matulessy atau Thomas Matulesia yang memimpin perlawanan melawan Belanda di Saparua. Berita koran-koran Belanda tahun 1890-an tentang perlawanan 1817, seperti Soerabaijasch Handelsblad (31-07-1890), De locomotief (05-07-1890), dan Bataviaasch Handelsblad (08-07-1890), menyebut nama tokoh perlawanannya adalah Thomas Matulesia. Bukan Mat Lussy apalagi Ahmad Lussy. Nama Pattimura sendiri tidak disebut dalam koran-koran itu. “Pemimpin pemberontakan ini seseorang bernama Thomas Matulessy (dalam laporan Belanda disebut Matulesia), laki-laki terpelajar yang lahir di Kampung Haria. Dia pernah menjadi sersan mayor dalam milisi Ambon yang dibentuk Inggris. Dia juga seorang Kristen yang saleh,” tulis Bartels. Baca juga: Menggelar Gelar Pattimura Nama Matulesia tentu dekat perubahannya dengan Matulessy. Mengapa nama Thomas Matulessy agak kurang diyakini? Bartels memperkirakan adanya usaha mengecilkan asal-usul Ambon Kristen yang dicap pro-Belanda hingga akhirnya nama Thomas Matulessy lebih sering disebut Pattimura sebagai Pahlawan Nasaional dari Maluku. “Pattimura adalah gelar dari Jawa yang berarti patih muda dan tampaknya juga telah dipakai di Maluku untuk orang yang ditunjuk akan menggantikan kedudukan patih,” tulis Bartels yang pernah melakukan penelitian lapangan di Maluku Tengah. Mengenai gelar Kapiten sendiri umumnya diberikan kepada orang yang berpengaruh dalam masyarakat atau pemimpin kaumnya, dan tidak selalu terkait dengan kemiliteran. M. Sapija, penulis buku sejarah perlawanan Pattimura. ( konstituante.net ). Di masa-masa penulisan sejarah yang Indonesiasentris digalakkan, nama Thomas Matulessy atau Thomas Matulesia malah menghilang. Bartels mencatat nama Thomas Matulessy bahkan dihapus dari buku propaganda tentang Pattimura yang ditulis F. Hitipeuw, Keunikan Perdjuangan Pahlawan Nasional Pattimura dalam Menentang Pendjadjahan di Maluku (1974) dan buku Matthijs Sapija, Sedjarah Perdjuangan Pattimura (1957). Sehingga identitas Ambon Kristen dan nama Thomas Matulessy pun menjadi kabur. Baik Sapija maupun Hitipeuw adalah seorang Ambon. Matthijs Sapija dianggap berjasa dalam penulisan sejarah perlawanan rakyat Saparua yang dipimpin Thomas Matulesia pada 1817. Dalam Kisah Perjuangan Pattimura (1984) yang tidak diterbitkan pemerintah, Sapija beberapa kali menyebut Thomas Matulessy sebagai Thomas Matulesia alias Pattimura. Baca juga: Pattimura Pernah Jadi Tentara Inggris Sapija sudah dari tahun 1950-an meneliti pemimpin perlawanan rakyat Saparua 1817 yang dalam laporan belanda disebut Thomas Matulesia itu. Di tahun 1953, Sapija merilis buku berjudul Sejarah Perjuanagan Pattimura Pahlawan Indonesia . Ahli lepra Indonesia, dr. Jacub Bernadus Sitanala (1889–1958), yang memberikan kata pengantarnya. Sitanala, salah satu pendiri Palang Merah Indonesia (PMI), dalam kata pengantarnya mencantumkan beberapa judul bacaan tentang Pattimura. Di antaranya bacaan dari Jan Baptist Jozef van Doren yang berjudul Thomas Matulesia, het hoofd der opstandelingen op het eiland Honimoa, na de overname van het bestuur der Molukken door den Landvoogd Jacobus Albertus van Middelkoop in 1817 (1857) . Teori sepintas lalu yang diambil dari buku Ahmad Mansur Suryanegara itu diamini banyak orang yang seidentitas dengannya. Teori sepintas lalu itu seolah hendak menyangkal apa yang sudah direkonstruksi oleh Sapija bahwa Thomas Matulessy adalah Pattimura. Di antara mereka yang sepaham dengan Ustaz Adi Hidayat dan mengamini teori sepintas lalu dari buku Ahmad Mansur Suryanegara, ada yang menyebut bahwa Pattimura adalah Thomas Mattulessy dalam buku sejarah nasional sebagai rekayasa Sapija. Baca juga: Pattimura Dihukum Mati karena Dikhianati Matthijs Sapija yang malang itu belakangan juga terlupakan. Pria kelahiran Maluku Tengah, 6 Juli 1911, itu pernah jadi kapten TNI (1946–1955) dan anggota Konstituante dari Partai Republik Proklamasi (1956–1959). Sapija sendiri bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. De Muiterij op de Zeven Provincien , Solidariteit No. 66, April 1995, menyebut Sapija adalah juru meriam di Koninklijk Marine (KM) alias Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Dia ikut menentang pemerintah kolonial Belanda di daratan di Surabaya. Terkait pemberontakan para pelaut Indonesia di kapal Zeven Provincien pada awal tahun 1933, dia menulis buku Sedjarah Pemberontakan Kapal Tujuh (1960). Setelah Pemberontakan Kapal Tujuh, Sapija lalu dipecat. Selain dirinya, Sungkono yang kemudian jadi panglima TNI AD di Jawa Timur, juga bekas Angkatan Laut yang keluar setelah 1933 seperti Sapija. Pada masa pendudukan Jepang, Sapija menjadi guru di Sekolah Nasional dan guru bahasa Jepang. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Sapija ikut berjuang melawan Belanda. Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya (1985) menyebut Sapija menjadi guru di sekolah swasta Pedoman Timur dan ikut berjuang di Surabaya. Dia bagian dari laskar Angkatan Pemuda Indonesia (API) Ambon dan Pemuda Republik Indonesia (PRI).





















