top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sumbangan Rakyat Bangka untuk Republik Indonesia

    Pada 6 Juli 1949, Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan para menteri yang diasingkan di Bangka kembali ke Yogyakarta. Sebelumnya, pada 4 Juli 1949 mereka mengadakan perpisahan dengan rakyat di Muntok yang dihadiri 300 orang. Pada hari berikutnya, para pemimpin bangsa itu mengadakan perpisahan dengan rakyat di Pangkalpinang yang dihadiri lebih dari tiga ribu orang. Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana dalam akun twitter -nya @margana_s  (5/7) mengungkap peristiwa penting yang terlupakan dalam sejarah, di mana pada kesempatan itu rakyat Bangka menyumbangkan uang sebesar f.90.170,18 atau nilai sekarang kurang lebih setara dengan Rp14 miliar. “Uang itu diserahkan langsung kepada Sukarno di sebuah gedung di Jl. Balai, sekarang Jl. KH Hasan Basri, kantor Koramil, disaksikan 3.000 orang rakyat Bangka,” tulis Margana. Baca juga:  Langkah Gila Belanda di Yogyakarta Sumbangan itu disebut dalam bijlage atau lampiran laporan residen Bangka tanggal 22 Juni 1949. Lampiran yang dibuat oleh Pusat Panitia Penjokong Pembangunan “Djogdjakarta” itu merinci distrik-distrik yang menyumbang, seperti Pangkalpinang, Petaling, Sungai Selan, Sungai Liat, Baturusa, Belinyu, Toboali, Koba, Muntok dan Djebus. “Dana itu didapat dari para dermawan, hasil pertunjukan amal, lelang barang, dan penjualan bunga oleh kaum perempuan muda serta ibu-ibu di Bangka,” tulis Margana. Menurut Margana, Sukarno sangat terkesan dengan apa yang dilakukan rakyat Bangka. Terlebih penggalangan dana ini dilakukan secara terang-terangan di hadapan pejabat dan tentara Belanda yang menduduki Bangka. Bukti sumbangan rakyat Bangka dalam lampiran ( bijlage ) laporan residen Bangka tanggal 22 Juni 1949. (Dok. Sri Margana). “Sukarno menyebut rakyat Bangka ‘Republiken Sejati’. Sayang peristiwa ini telah dilupakan sejarah,” tulis Margana. Dalam otobiografinya Memoir, Mohammad Hatta berkisah bahwa dia, Mr. Asaat, Mr. Gafar Pringgodigdo, dan Suryadi Suryadarma diasingkan ke sebuah pesanggrahan tambang timah di kaki gunung Menumbing, dekat Muntok pada akhir Desember 1948. Baca juga:  Bung Hatta Dikerangkeng Belanda Di sana, mereka sempat tak diizinkan keluar dan pesanggrahan mereka sempat dipasangi kerangkeng kawat meski hanya beberapa hari. Bung Hatta menyebut, setelah diperbolehkan keluar dari area pesanggrahan, banyak kampung ingin mereka datang. “Tatkala rakyat sekitar Muntok telah tahu bahwa kami telah boleh keluar dari tempat ‘pertapaan’ kami, banyak datang permintaan agar kami datang mengunjungi kampung mereka, misalnya dari Sungai Liat, Jebus, dan Belinyu,” kata Hatta. Sementara itu, Sukarno diasingkan ke Bangka sejak Januari 1949, setelah sebelumnya dia diasingkan ke Prapat, Sumatra Utara. Dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, ia tak banyak bercerita mengenai Bangka. Baca juga:  Pejuang Parapat Ingin Culik Bung Karno Secara Terhormat Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada, ketika berkunjung ke Bangka. (Dok. Pribadi). Menurut Daniel S. Lev dan Ruth T. McVey dalam Making Indonesia ,kedatangan para pemimpin Republik ke Bangka membangkitkan antusiasme dan simpati banyak kalangan termasuk anggota Bangka Raad. Antusiasme ditunjukkan ketika kabar kedatangan Sukarno tersiar. Rakyat berkumpul di sepanjang jalan bandara di Pangkalpinang, bahkan sebagian datang dengan bus. Ketika pesawat yang ditunggu-tunggu ternyata bukan pesawat Sukarno, sekira dua ribu orang berbondong-bondong pindah ke pelabuhan. Baca juga:  Duka Australia di Pulau Bangka Mobil yang dikirim untuk menjemput Sukarno tak bisa masuk ke pelabuhan. Sukarno sendiri memilih jalan kaki. Massa rakyat mengangkat Sukarno ke bahu mereka dan meneriakkan pekik “merdeka.” Sukarno kemudian duduk di kap mobil dan semakin membuat massa bersemangat. “Mereka mendorong kendaraan yang mogok, Sukarno dan semuanya, melewati jalanan,” tulis Lev dan McVey. Sukarno, Mohammad Hatta, dan Haji Agus Salim kembali ke Yogyakarta pada 6 Juli 1949. (Dok. Sri Margana). Baca juga:  Penaklukkan Sriwijaya di Pulau Bangka dan Jawa Rakyat Bangka juga tampak mendukung ide-ide Republik ketimbang konsep federal. Ketika Bung Hatta melakukan satu perjalanan dari Muntok ke Pangkalpinang pada Februari 1949, orang-orang berkumpul di pinggir jalan dan meneriakkan “merdeka” seolah-olah Bangka tidak sedang diduduki Belanda. Merujuk pada laporan kepolisian pada 1949, rakyat Bangka begitu bersimpati kepada para tawanan ketika mereka dibebaskan. Misalnya, ketika Bung Hatta dan Masjarif mengunjungi pasar di Pangkalpinang, lagi-lagi terdengar teriakan-teriakan “merdeka”. “Orang-orang berteriak untuk menemuinya. Panitia penyambutan dibentuk dan uang dikumpulkan untuk digunakan para tahanan,” tulis Lev dan McVey. Baca juga:  Peranakan Tionghoa di Bangka-Belitung Sukarno, Hatta, dan para menteri tiba di Yogyakarta pada 6 Juli 1949. Di sepanjang jalan dari Maguwo hingga kota Yogyakarta, rakyat mengelu-elukan kembalinya para pemimpin dari pengasingan di Bangka dengan berbagai spanduk yang penuh kegembiraan. “Peristiwa 6 Juli ini dikenal dengan Djogja Kembali. Pada masa Orde Baru monumen Jogja Kembali (Monjali) dibangun tetapi Soeharto memiliki interpretasi lain. Jogja kembali bukan kembalinya para pemimpin Republik dari Bangka, tetapi 19 Juli ketika Soeharto menjemput kembali Jenderal Soedirman kembali dari gerilya,” tulis Margana.

  • Bob Tutupoly Tutup Usia

    KETIKA baru mulai terkenal di tahun 1959, Bob Tutupoly menjadi bahan gosip bagi muda-mudi. Semua tahu Bob jago menyanyi dan punya banyak penggemar. Desas-desus itu diberitakan majalah Selecta , 1 Oktober 1959, sebagaimana termuat dalam buku Seabad Pers Kebangsaan . Selecta memberitakan hubungan segitiga antara Bob dengan Indriati Iskak dan Gaby Mambo. Kedua wanita itu juga sohor di zaman itu. Bob membantah gosip itu lewat surat yang dimuat Selecta , 15 November 1959.  “Saya cinta Indri dan Indri cinta saya,” kata Bob. Dalam suratnya itu, Bob juga menolak rumor bahwa cintanya ditolak Gaby. Dia merasa cintanya dulu kepada Gaby tak bertepuk sebelah tangan. “Jauh sebelum saya kenal Indri dari dekat, saya dan Gaby Mambo memang mempunyai hubungan,” kata Bob. Namun, hubungan Bob dan Gaby tak berlanjut karena adanya perbedaan di antara mereka. Waktu gosip cinta segitiga itu beredar, Bob berstatus mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya. Namun, dia memutuskan fokus bermusik dan meninggalkan Surabaya. Dia bersama kawan-kawannya hijrah ke Jakarta untuk mengikuti Festival Band se-Indonesia di Gedung Olahraga Ikada (kini, Monas) dan berhasil jadi juara pertama.   Setelah itu, Bob makin terkenal sebagai penyanyi. Bob terlahir sebagai Bobby Willem Tutupoly pada 13 November 1939 di Surabaya. Ayahnya, Adolf Laurens Tutupoly, anggota Angkatan Laut yang bisa bermain suling. Sedangkan ibunya, Elisabeth Wilhemmina Henket-Sahusilawane, seorang penyanyi gereja. Seperti kebanyakan orang Ambon yang beragama Kristen, Bob terbiasa dengan tarik suara. Menurut buku Apa dan Siapa   Sejumlah Orang Indonesia 1981–1982 , Bob sudah menyanyi sejak masa kanak-kanak di RRI  Yogyakarta. Dia kemudian mendirikan band sekolah di SMP Surabaya. Dia telah menjadi penyanyi profesional sejak kelas dua SMA di Surabaya. Dalam Encyclopedia Jakarta  disebutkan, pada 1957, Bob mengisi acara jazz di RRI Surabaya bersama Quartet Jazz Modern pimpinan Didi Pattirane. Bersama Yusmin, Lody Item (ayah Jopie Item dan kakek penyanyi Audy Item), Max Lee dan musisi-musisi terkemuka Surabaya, Bob mendirikan band Bhinneka Ria Surabaya yang dipimpin Didi Pattirane. Band inilah yang menjuarai   Festival Band se-Indonesia 1959 di Jakarta. Bob memasuki dunia rekaman tahun 1959. Pertama kali rekaman piringan hitam di Lokananta Solo, membawakan lagu-lagu daerah Maluku seperti Mande-Mande , Sarinande , Dayung Sampan , dan lain-lain. Di tahun yang sama, dia juga rekaman di Irama Jakarta, membawakan lagu Kopral Jono , Oto Bemo , dan lain-lain. Bob sempat hijrah ke Bandung. Dia bergabung dengan band Crescendo dan menyanyi di Bumi Sangkuriang.   Pada 1963, Bob kembali ke Jakarta dan bergabung dengan The Jazz Riders, band utama di Hotel Indonesia. Ia juga menjadi pembawa acara di hotel bintang lima itu. Bersama band Panca Nada, dia pernah mengadakan pertunjukan di negara-negara tetangga. Setelah berpindah-pindah band, Bob kemudian lebih dikenal sebagai penyanyi solo. Di era 1960-an, namanya terkenal lewat lagu Mengapa Tiada Maaf ,  Tinggi Gunung Seribu Janji ,   dan  Lidah Tak Bertulang . Pada 1969, Bob untuk pertama kali pergi ke Amerika Serikat disponsori oleh The Ventures, grup musik Internasional yang mengadakan pertunjukan di Jakarta. Selama dua tahun di sana, dia bernyanyi di kelab-kelab malam dan kampus-kampus universitas. “Saya pergi ketika nama saya sedang harum-harumnya,” kata Bob dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985–1986 . Bob tak takut gagal. Jika gagal di Amerika sebagai penyanyi, dia akan kembali ke Indonesia. Selama di Amerika, Bob pernah menikah dengan perempuan Amerika. Tetapi perkawinannya kandas dengan cepat. Setelah pulang sebentar ke Indonesia pada 1971, dia kembali lagi ke Amerika pada 1972. Kali ini, dia memimpin acara-acara pertunjukan di restoran Ramayana di New York. Sebagai manajer merangkap artis, Bob mendapat kesempatan bekerja sama dan mengenal artis-artis yang didatangkan dari Indonesia. Musisi Indonesia yang pernah tampil di restoran milik Pertamina itu adalah Christian Rahadi dan Nasution Bersaudara. Selama di Amerika (1972–1976), Bob sering diminta bergabung dengan grup-grup kesenian Indonesia yang sedang melawat ke Amerika dan negara-negara Eropa lainnya. Dia menyanyi sambil menjadi pembawa acara. Dan inilah kelebihannya. Setelah pulang ke Indonesia, Bob menyanyikan lagu yang melambungkan namanya, yaitu Widuri . Buku Apa dan Siapa   Sejumlah Orang Indonesia 1981–1982  menyebut   lagu Widuri  (1977) karangan Adriadi berhasil memulihkan tempat Bob di dunia musik pop Indonesia. Bob menikah dengan Rosmaya Suti Nasution yang biasa disapa Josi, penari yang pernah jadi None Jakarta 1972. Pernikahan beda agama ini panjang umur dan dikaruniai seorang anak, Sasha Karina Tutupoly. Pasangan ini bertahan hingga maut memisahkan. Bob Tutupoly, nama besar dalam musik Indonesia, meninggal dunia pada 5 Juli 2022.*

  • Menggelar Gelar Pattimura

    Nama aslinya Thomas Matulessy, seorang Kristen. Tetapi, ada kalangan umat Islam yang meyakini bahwa namanya Ahmad Lessy, seorang muslim. Namun, dia lebih dikenal dengan nama Kapitan Pattimura. Lihat saja di uang kertas seribu rupiah, hanya ditulis Kapitan Pattimura. Padahal, Pattimura adalah gelar Thomas Matulessy. Kapan Thomas Matulessy mendapatkan gelar Pattimura? I.O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura menyebut Thomas Matulessy memakai gelar Pattimura dan diangkat sebagai panglima perang atas Honimoa, Nusalaut, Haruku, Ambon, Seram dan lain-lain, dalam Proklamasi Haria pada 29 Mei 1817. Proklamasi ini sebagai penyataan perang terhadap Belanda yang terjadi pada 15 Mei 1817. “Dan mulai sekarang dia menggunakan gelar Kapitan Pattimura mewarisi gelar dari moyangnya, yang dahulu berpindah dari Haturosi ke Titawaka,” tulis Nanulaitta. Baca juga:  Dari Matulessia Menjadi Matulessy Menurut Dieter Bartels, profesor antropologi di Yavapai College, Clarkdale, Arizona, Amerika Serikat, dalam Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku , sejarah lisan di Sahulau (Maluku Tengah) menyebut bahwa Pattimura adalah gelar dari leluhur Matulessy yang pindah ke Hulaliu, sehingga tidak tertutup kemungkinan nama itu juga digunakan oleh Thomas Matulessy. “[Namun] Tidak ada satu pun laporan dari zaman itu yang menyatakan Matulessy pernah memakai gelar tersebut,” tulis Bartels yang pernah melakukan penelitian lapangan di Maluku Tengah. Bartels menyebut Pattimura adalah gelar yang berarti “patih muda”. “Istilah ini berasal dari Jawa dan tampaknya juga telah dipakai di Maluku untuk orang yang ditunjuk akan menggantikan kedudukan patih,” tulis Bartels. Baca juga:  Cerita di Balik Gambar Pattimura M. Sapija dalam Sedjarah Perdjuangan Pattimura: Pahlawan Indonesia , membenarkan bahwa Pattimura adalah sebuah gelar. Ada bermacam tafsiran yang diberikan orang kepada gelar ini. Ada yang mengatakan bahwa gelar tersebut berarti “patih yang murah hati”. “Di Maluku, orang beranggapan kata ‘patih’ atau ‘latu’ sama artinya dengan perkataan ‘tuan’. Kami dapat menyetujui tafsiran ini,” tulis Sapija. Pemberontakan Thomas Matulessy berakhir pada 16 Desember 1817. Dia bersama Kapitan Anthone Rhebok, Letnan Philip Latumahina, dan Said Perintah (raja Siri Sori Islam), digantung di luar benteng Victoria, Ambon. Baca juga:  Pattimura Dihukum Mati Karena Dikhianati Menurut Des Alwi Abu Bakar dalam Sejarah Maluku, Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon,  kepahlawanan Thomas Matulessy yang dapat menduduki Benteng Duurstede di Saparua beredar dari mulut ke mulut di Maluku pada abad ke-19. Meskipun Pattimura telah dihukum mati, tetapi pemberontakan melawan Belanda berjalan terus. Setiap pemimpin pemberontakan selalu digelari Pattimura mengikuti jejak Kapitan Pattimura. Nama Pattimura juga dipakai sebagai nama keluarga atau nama bayi laki-laki yang baru dilahirkan terutama di Seram Barat atau tempat terjadinya pemberontakan kecil melawan pemusnahan kebun-kebun cengkeh dan pala yang disebut hongi . “Sejarah hanya cerita dari mulut ke mulut, sehingga ada yang berpendapat seperti dari kalangan keluarga Islam di Seram, bahwa sosok Kapitan Pattimura adalah beragama Islam. Kekeliruan ini mungkin terjadi karena pangkat Pattimura selalu digunakan kepada mereka yang memberontak terhadap penjajahan Belanda,” tulis Des Alwi. Baca juga:  Pattimura Pernah Jadi Tentara Inggris Menurut Bartels, Pattimura yang beragama Islam kemungkinan orang yang berbeda dengan Thomas Matulessy seperti diklaim oleh banyak orang muslim Ambon. Pattimura dimaksud mungkin seorang “patti muda” yang disinggung oleh J.B.J van Doren (1857) bernama Patti Muda Gaga Bavanu, utusan Sultan Ternate yang secara rahasia menyokong pemberontakan itu. Patti Muda Gaga Bavanu mungkin salah seorang pemimpin pendamping Matulessy atau wakil yang bertanggung jawab atas para pemberontak muslim yang mungkin tidak percaya sepenuhnya terhadap Matulessy, sang Kristen fanatik. Nama pahlawan misterius ini tidak tercantum dalam daftar orang-orang yang ditawan dan boleh jadi dia berhasil melarikan diri. “Hipotesis ini cocok dengan klaim yang terus dinyatakan kalangan muslim Ambon, bahwa Pattimura berasal dari kalangan mereka. Hal ini juga cocok terutama dengan apa yang dikatakan penduduk kampung muslim Kulur di Saparua bahwa Pattimura adalah orang Ternate,” tulis Bartels. Baca juga:  Patti Muda Islam Mengapa gelar Pattimura lebih terkenal ketimbang nama pemiliknya, Thomas Matulessy? Bartels menduga itu terkait dengan politik Pahlawan Nasional dari pemerintah pusat. Menurutnya, setelah Indonesia merdeka, sejak 1949 ada upaya untuk segera mencari pejuang antikolonial bukan Jawa yang dapat diangkat sebagai Pahlawan Nasional untuk mengikat negara multietnik ini dalam satu wadah negara kesatuan. Menemukan pahlawan anti-Belanda di Maluku sangat penting, sebab di Maluku masih ada perasaaan anti-pesatuan Indonesia, yang harus segera diatasi melalui indoktrinasi kepada generasi muda. Pilihan yang paling cocok ialah Thomas Matulessy dan sosok-sosok penting lainnya dalam pemberontakan 1817. “Namun, barangkali demi meng-Indonesia-kan pahlawan baru ini dan untuk mengecilkan asal-usul Ambon-Kristennya yang masih dianggap pro-Belanda, tiba-tiba Matulessy disebut Pattimura,” tulis Bartels. Thomas Matulessy bergelar Pattimura ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1973.

  • Patti Muda Islam

    Thomas Matulessy atau lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura kembali menjadi perhatian warganet setelah akun @yaniarsim  memposting   video ceramah Ustaz Adi Hidayat yang menyebut Kapitan Pattimura bernama asli Ahmad Lussy, seorang pejuang, kiai, dan pemimpin pesantren yang mengarahkan santrinya untuk berjuang menegakkan kebenaran di bumi pertiwi. Sementara itu, dalam buku biografi Kapitan Pattimura, Pahlawan Nasional  karangan I.O. Nanulaitta, Thomas Matulessy adalah seorang Kristen Protestan. Dia lahir pada 1783 di negeri Haria dari pasangan Frans Matulessia dan Fransina Silahoi. Leluhur keluarga Matulessia berasal dari Seram. Moyang Thomas berpindah ke Titawaka (sekarang negeri Itawaka). Di antara keturunannya ada yang menetap di Haria. Yang di Haria ini menurunkan ayah dari Johannis dan Thomas. Ibu mereka berasal dari Siri Sori Serani. “Keluarga Matulessia beragama Kristen Protestan. Nama Johannis dan Thomas diambil dari Alkitab,” tulis Nanulaitta. Baca juga:  Dari Matulessia Menjadi Matulessy Menurut Nanulaitta, pengangkatan Thomas Matulessy sebagai panglima perang ditetapkan dalam Proklamasi Haria pada 29 Mei 1817. Proklamasi ini berisi 14 keberatan atas kekejaman Belanda sehingga rakyat mengangkat senjata. Proklamasi yang ditandatangani oleh 21 raja ini juga menjadi dasar hukum bagi perang melawan Belanda yang pecah pada 15 Mei 1817. Tanggal itu diperingati sebagai Hari Pattimura. Kristen Saleh Jan Sihar Aritonang, profesor sejarah gereja Indonesia, dan Karel Steenbrink, profesor emeritus teologi komparatif Universitas Utrecht Belanda, dalam A History of Christianity in Indonesia ,   menyebut alasan pemberontakan Pattimura menunjukan ikatan emosional yang kuat dari orang-orang Kristen Maluku dengan agama mereka. “Thomas Matulesia alias Pattimura, seorang Kristen kelahiran sekitar tahun 1783, menjadi prajurit dalam tentara kolonial Inggris. Pada tahun 1817 ia tidak menerima pemulihan kekuasaan Belanda,” tulis Aritonang dan Steenbrink.  Di antara keluhan Pattimura adalah kekhawatiran bahwa pemerintah kolonial Belanda akan menghentikan lagi pembayaran guru-guru Kristen lokal, seperti yang terjadi pada 1810 ketika Daendels memerintahkan desa-desa mengumpulkan uang untuk membayar guru-guru. “Hal ini dilihat Pattimura sebagai upaya Belanda untuk ‘memecat guru-guru dan menghancurkan agama Kristen’,” tulis Aritonang dan Steenbrink. Baca juga:  Cerita di Balik Gambar Pattimura Pattimura juga mengeluh soal uang kertas baru yang menggantikan koin lama. Dia menganggap uang kertas tidak dapat digunakan untuk sedekah di gereja-gereja, karena tradisi (adat) hanya mengesahkan pemberian dalam bentuk uang logam. Menurutnya, ini berbahaya bagi upaya merawat kaum miskin. Ada juga desas-desus, bahwa di desa-desa yang penduduknya beragama Kristen dan Islam, maka muslim akan dipaksa untuk memeluk agama Kristen serta liturgi akan diubah. “Belanda benar-benar terkejut bahwa agama menjadi penyebab pemberontakan,” tulis Aritonang dan Steenbrink. Sementara itu, Dieter Bartels, profesor antropologi di Yavapai College, Clarkdale, Arizona, Amerika Serikat, dalam Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku menjelaskan bahwa Thomas Matulessy (dalam laporan Belanda disebut Matulesia) adalah laki-laki terpelajar yang pernah menjadi sersan mayor dalam milisi Ambon yang dibentuk Inggris. Dia juga seorang Kristen yang saleh, yang bukan saja memerintahkan para kepala kampung untuk tetap mempertahankan iman Kristen warganya (dengan ancaman hukuman mati atas mereka beserta keluarganya), melainkan juga menggunakan Alkitab (Mazmur 17) sebagai dasar pemberontakannya. “Ia yakin Tuhan sendirilah yang telah menunjuknya sebagai pemimpin pemberontakan,” tulis Bartels yang pernah melakukan penelitian lapangan di Maluku Tengah. Baca juga:  Pattimura Pernah Jadi Tentara Inggris Pemberontakan Pattimura berakhir pada 16 Desember 1817. Ia bersama Kapitan Anthony Rhebok, Letnan Philip Latumahina, dan Said Perintah (raja Siri Sori Islam), digantung di sekitar benteng Victoria, Ambon. Bartels mencatat, pada malam sebelum digantung, Matulessy menyanyikan lagu-lagu pujian ditemani oleh para kepala sekolah. Pria Kristen yang teguh iman itu tetap tenang sampai akhir hayat. Lalu dengan tegap dia menaiki tangga ke tempat dia akan digantung dan ketika tali gantungan melingkari lehernya, dengan suara lantang dia berseru kepada penguasa Belanda, “Selamat tinggal tuan-taun!” Sindiran tajamnya itu disalahartikan oleh Belanda yang mengira bahwa dia sedang menunjukkan rasa hormat. Patti Muda dari Ternate Nama Pattimura lebih popular dibandingkan nama Thomas Matulessy. Padahal, Pattimura adalah gelar yang artinya “patih muda”. Oleh karena itulah, menurut Bartels, banyak orang muslim Ambon mengklaim Pattimura berasal dari kalangan mereka atau Pattimura dan Thomas Matulessy merupakan dua orang berbeda.  Memang ada seorang “patti muda” yang disinggung oleh J.B.J van Doren dalam Thomas Matulesia, het hoofd der opstandelingen op het eiland Honimoa na de overname van het bestuur der Molukken door den Landvoogd J.A. van Middelkoop in 1817. (1857: 32) bernama Patti Muda Gaga Bavanu. Van Doren menyebut Gaga Bavanu bersama-sama dengan Matulessy dan Anthony Rhebok memimpin perang awal di Teluk Saparua. Nama pahlawan misterius ini tidak tercantum dalam daftar orang-orang yang ditawan dan boleh jadi dia berhasil melarikan diri. Baca juga:  Pattimura Dihukum Mati Karena Dikhianati Dilihat dari namanya, menurut Bartels, Gaga Bavanu berasal dari Ternate dan ada kemungkinan dia utusan Sultan Ternate, yang dicurigai secara rahasia turut menyokong pemberontakan itu. Dia mungkin salah seorang pemimpin pendamping Matulessy atau wakil yang bertanggung jawab atas para pemberontak muslim yang mungkin tidak percaya sepenuhnya terhadap Matulessy, sang Kristen fanatik. Menurut Bartels, hipotesis ini cocok dengan klaim yang terus dinyatakan kalangan muslim Ambon, bahwa Pattimura berasal dari kalangan mereka. Hal ini juga cocok terutama dengan apa yang dikatakan penduduk kampung muslim Kulur di Saparua bahwa Pattimura adalah orang Ternate. “Klaim ini barangkali tidak bisa diabaikan begitu saja atau dianggap hanya sekadar usaha mereka supaya dianggap lebih berjasa daripada kaum Kristen,” tulis Bartels.

  • Menyoal Papua dan Utang Warisan Belanda

    Batas-batas wilayah negara Indonesia kiwari telah terbentuk sejak dulu kala. Semua wilayah dari Sabang sampai Merauke; dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote menyatu dalam satu kesatuan yang disebut Nusantara. Aceh adalah pintu masuk ke kepulauan Nusantara di ujung barat, sedangkan Papua di ujung timur. Pada era kurun niaga, jauh sebelum masa kolonial, Nusantara terkoneksi dalam jaringan perdagagangan yang disatukan oleh bahasa Melayu. “Jadi, Indonesia bukan dibentuk oleh negara kolonial Belanda. Justru Belanda menyatukan Indonesia dengan batasan-batasan Nusantara,” kata sejarawan Universitas Indonesia Bondan Kanumoyoso dalam diskusi sejarah “Peran Sipil dalam Revolusi Indonesia 1945-1949” yang diselenggarakan IDLC bersama Museum Naskah Proklamasi, 27 Juni 2022 secara daring.   Namun, menurut Bondan, banyak dari saudara sebangsa di Papua menganggap bahwa mereka bukan bagian dari Indonesia. Padahal, banyak tokoh pergerakan nasional Indonesia yang dibuang ke Boven Digul di Merauke, Papua. Tidak pelak, Papua adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pergerakan nasional. Merunut lebih jauh ke belakang, Papua termasuk dalam kegiatan perdagangan maritim Nusantara, bahkan disebutkan dalam naskah kitab Jawa kuno Negarakretagama abad ke-15.   Baca juga:  Membuang Orang Pergerakan ke Papua “Tapi saudara-saudara Papua sampai hari merasa mereka bukan Indonesia. Saya kira kita harus mengkaji bersama. Benarkah klaim-klaim itu. Apakah kita ini hidup sebagai saudara atau berpisah hanya karena kepentingan-kepentingan lain yang diberikan argumentasi kesejarahan,” ujar Bondan. Mencacah Wilayah Pada masa awal Republik Indonesia, wilayah negara kesatuan itu tidak dapat diwujudkan dengan mudah. Sebagian besar wilayah Indonesia dikuasasi oleh Sekutu kemudian Belanda. Pemerintah Indonesia memperjuangakannya lewat serangkaian diplomasi.    “Diplomasi bukan sekadar menentang penjajahan. Diplomasi juga memperjuangkan kedaulatan. Dan menegakkan kedaulatan dengan pengakuan internasional itu tidak mudah,” kata Bondan. Baca juga:  Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat Perjanjian Linggardjati (1946) menetapkan wilayah Indonesia meliputi Sumatra dan Jawa. Pada Perjanjian Renville (1947), dipersempit lagi menjadi Sumatra, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Hingga pada Konferensi Meja Bundar (1949), tinggal menyisakan Papua yang belum diserahkan oleh Belanda.   Menurut Bondan, Belanda telah memetakan sumber mineral yang terkandung di bumi Papua. Identifikasi kekayaan alam itu tertuang dalam arsip laporan penelitian geologi di Papua maupun arsip film dokumenter. Seperti di Pegunungan Grasberg, disebutkan kaya sekali kandungan mineral yang terbukti benar. Selain emas, terkandung pula uranium yang bernilai lebih tinggi. “Ini yang menyebabkan negara-negara asing sangat berkeinginan untuk campur tangan di Papua dalam isu-isu masalah Papua,” jelas Bondan. Baca juga:  Papua dan Ambisi Presiden Pertama Masalah Irian Barat kemudian menjadi sengketa berkepanjangan. Belanda menunda penyerahannya selama bertahun-tahun. Selain Papua, urusan utang piutang dengan pemerintah Belanda menjadi persoalan yang diwariskan memasuki dekade 1950-an.   Jerat Utang Belanda   Hasil perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) adalah pengakuan kedaulatan dari Belanda. Berbilang tafsir dalam historiografi mengenai KMB, terutama dari para penulis asing yang kerap menyebutnya sebagai penyerahan kedaulatan. Namun, konsep penyerahan kedaulatan dibantah oleh Bondan. Menurutnya Belanda telah menyerahkan kedaulatan atas Hindia Belanda kepada Jepang dalam Perjanjian Kalijati, 8 Maret 1942. Sementara, Republik Indonesia sudah berdiri dengan diproklamasikannya kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Jepang adalah penguasa wilayah bekas jajahan Belanda sampai 15 Agustus 1945 ketika mereka menyatakan menyerah kepada Sekutu. Yang terjadi di Indonesia saat itu vacuum of power (kekosongan kekuasaan). Baca juga:  Harga untuk Kemerdekaan Indonesia “Bagaimana logikanya kok bisa yang dinyatakan adalah (Belanda) menyerahkan kedaulatan. Mereka sudah menyerahkan kepada Jepang tahun 1942. Enggak bisa orang menyerahkan kedaulatan dua kali,” kata Bondan tegas. Kesepakatan KMB yang cukup merugikan Indonesia terjadi pada bidang ekonomi. Dalam rancangan Statut Uni, Indonesia dan Belanda akan menjalankan hubungan bilateral dalam kerangka Uni Belanda-Indonesia. Relasi ini memberikan hak-hak khusus dalam menjamin kepentingan ekononomi dan modal Belanda di Indonesia. Inilah yang kemudian menjadi problem sepanjangan tahun 1950-an.    Bondan menyatakan, BUMN yang kita kenal saat ini sebagian besar bermuasal dari aset-aset dan perusahaan Belanda yang dinasionalisasi. Seperti perusahaan pelayaran, kereta api yang dulu milik perusahaan swasta Belanda. Bank-bank yang beredar hampir semuanya bank Belanda. Sedikit yang didirikan pada tahun-tahun setelah Indonesia merdeka. Begitupun dengan perusahaan air dan perusahaan listrik. Bondan Kanumoyoso, sejarawan dan dekan FIB UI dalam diskusi daring “Peran Sipil dalam Revolusi Indonesia 1945-1949”, 27 Juni 2022. “ Jadi, mohon izin ini, sebetulnya ekonomi kita belum merdeka sepenuhnya. Saya tidak mengatakan BUMN itu milik Belanda tetapi pola struktur dari perekonomian Indonesia yang merugikan masyarakat bawah itu masih bertahan sampai hari ini karena keberadaan tatanan ekonomi kolonial yang sudah berubah tapi struktur dasarnya masih ada,” ungkap Bondan. Kemudian, KMB mengatur utang-piutang negeri Hindia Belanda yang dibebankan kepada Indonesia. Pemerintah Indonesia diwajibkan membayar sebesar 4,3 milyar Gulden atas kerugian yang terjadi selama periode Perang Kemerdekaan (1945—1949). Begitulah cara Belanda melepaskan Indonesia namun dengan tidak menghapuskan pengaruhnya sama sekali. “Ini hal yang mungkin tidak bermoral ya. Bagaimana mungkin sebuah biaya dikeluarkan untuk membasmi satu negara yang mau merdeka kemudian dibebankan kepada negara itu untuk membayarnya sendiri. Satu ide yang gila. Sampai hari ini mereka tidak pernah meminta maaf."   Baca juga:  Setelah Minta Maaf, Akankah Belanda Akui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia? Perkara utang-piutang ini membuktikan asimetrisnya hubungan sebuah negara kolonial terhadap bekas jajahannya. Ketika dihapus pada 1956, utang tersebut sudah hampir lunas. Fakta-fakta sejarah ini belum terangkat dengan baik dan Belanda tidak pernah menyatakan permintaan maaf.   Permintaan maaf itu, lanjut Bondan, harus disertai dengan kompensasi yang luar biasa. Kecuali pemerintah Belanda menyatakan tidak sanggup dan memintaa maaf untuk hal itu, bukan hanya atas kejahatan perang yang telah mereka lakukan.

  • Tjahjo Kumolo Meninggal Dunia

    Tjahjo Kumolo meninggal dunia pada 1 Juli 2022. Politikus senior PDI Perjuangan ini mengawali karier politiknya dari Partai Golkar, mengikuti jejak ayahnya, Bambang Soebandiono. Bambang lahir di Jepara pada 30 Agustus 1925. Setelah lulus HIS (Holandsch Inlandsche School) tahun 1939, dia melanjutkan ke Taman Siswa bagian perekonomian di Semarang. Pada masa pendudukan Jepang, dia bergabung dalam organisasi Gabungan Sekolah Menengah Semarang (Gasemse). Anggota Gasemse berperan dalam menjaga keselamatan pegawai dan peralatan studio Semarang Hoso Kyoku setelah radio itu menyiarkan pengumuman Proklamasi kemerdekaan pada 19 Agustus 1945. Baca juga:  Golkar Sebagai Pengganti Partai “Sesudah itu datang serombongan pemuda anggota Gasemse membawa bambu runcing dan beberapa pucuk karabin,” sebut buku Propinsi Djawa Tengah terbitan Departemen Penerangan tahun 1953. Sudharmono, anggota Gasemse yang kelak menjadi wakil presiden, dalam otobiografinya, Pengalaman dalam Masa Pengabdian menyebut bahwa anggota Gasemse kemudian mengorganisasikan diri sebagai polisi pelajar bagian dari kekuatan BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang dibentuk oleh negara. Bambang Soebandiono, ayah Tjahjo Kumolo. (Repro  Riwajat Hidup Anggota-anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Hasil Pemilihan Umum 1971). “Kami, para pemuda di Semarang terlibat langsung dalam gerakan pengambilalihan kekuasaan dari tangan Jepang, dan turut menjaga keamanan dan ketertiban pada umumnya,” kata Sudharmono. Bambang sendiri, menurut  Riwajat Hidup Anggota-anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Hasil Pemilihan Umum 1971 , selama masa revolusi bergerilya di daerah Semarang, Yogyakarta, dan Solo. Dia pernah menjadi anggota Brigade V dan Brigade VI. Keduanya berada dalam Divisi 2. Namun, dia tidak meneruskan karier militernya. Baca juga:  Golkar Zaman Orba: Panas di Dalam, Adem di Luar Setelah terlibat dalam mengurus penampungan bekas pejuang yang dirasionalisasi (dikeluarkan dari TNI), Bambang menjadi orang partikelir. Di samping itu, dia aktif dalam organisasi sebagai wakil ketua Front Pembela Pancasila dan UUD 1945 Jawa Tengah dan, sebagai pejuang pada masa revolusi kemerdekaan, dia menjabat sekretaris Angkatan 45 Jawa Tengah/anggota Dewan Nasional Angkatan 45. Setelah Orde Baru lahir, pada 1968–1971 Bambang diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) dari utusan Golongan Karya (Golkar) non-ABRI. Dia menjabat wakil ketua Komisi X/Kesra. Dia tetap menjadi anggota DPR berdasarkan Keputusan Presiden No. 36/M. tahun 1972. Baca juga:  Ajian Rawarontek Golkar Bambang kemudian terpilih menjadi anggota DPR dari Golkar untuk daerah pemilihan Jawa Tengah dalam Pemilu 1977 dan 1982. Namun, dia tidak merampungkan masa tugasnya karena tutup usia pada 18 Juni 1986. Setahun kemudian, anak Bambang terpilih menjadi anggota DPR dari Partai Golkar dalam Pemilu 1987. Tjahjo Kumolo yang lahir di Solo, 1 Desember 1957, menjadi salah satu anggota DPR termuda. Sebagai anak dari politikus Golkar, Tjahjo sejak masa kuliah di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang aktif dalam organisasi yang bernaung di bawah partai berlambang pohon beringin, yaitu MKGR (Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong), AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia), dan KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia). Baca juga:  Ahli Waris Partai Marhaenis Sebelum menjadi anggota DPR, Tjahjo pernah bekerja di CV Tiga Mas Semarang dari 1984 hingga 1985. Dia menjadi anggota DPR dari Golkar selama tiga periode (1987–1999). Setelah Reformasi, Tjahjo memilih kendaran politik baru, yaitu PDI Perjuangan. Karier politiknya lebih melesat lagi. Dia terpilih menjadi anggota DPR dari PDIP selama dua periode (1999–2009). Sementara di PDIP, dia menjabat ketua DPP, ketua BP Pemilu, dan sekjen. Tjahjo kemudian menjadi ketua tim sukses pemenangan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla dalam Pilpres 2014. Dalam dua periode pemerintahan Presiden Joko Widodo, dia menjabat menteri dalam negeri dan menteri PAN-RB. Sepertinya ayahnya, dia tidak merampungkan masa tugasnya karena tutup usia.

  • Lika-liku Pembalap Perempuan di Gelanggang F1

    PARAS jelita, rambut pirang terurai indah, tatapan mata hijaunya meneduhkan, dan senyum manisnya memabukkan. Itulah gambaran sosok Jessica Hawkins. Tak dinyana, perempuan cantik asal Inggris itu memperoleh ketenarannya bukan lewat catwalk yang lebih pas buatnya. Hawkins tenar justru oleh keberaniannya bergelut di gelanggang yang acap disebut olahraga maskulin: Formula One (F1). Sebelumnya, si cantik kelahiran Headley, Inggris, 16 Februari 1995 itu malah merupakan stunt driver (pemeran pengganti pembalap) di film franchise James Bond, No Time to Die (2021). Setelah lama meniti karier di ajang-ajang balap level bawah seperti British Touring Car Championship dan W Series, Hawkins boleh berharap jadi pembalap perempuan keenam yang mengaspal di ajang F1. Baca juga: Sembilan Ayah dan Anak di Arena F1 (Bagian I) Mengutip The Race , 25 Juni 2022, Hawkins mendapat promosi dan perpanjangan kontrak dua tahun di program balap salah satu tim F1, Aston Martin Cognizant. Sebelumnya, ia sekadar jadi duta tim Aston Martin sejak 2019. “Memang (prospek F1) takkan terjadi dalam semalam. Akan tetapi saya juga tidak berpikir kami (pembalap perempuan) masih jauh untuk mewujudkannya. Kesempatan untuk itu akan sangat luar biasa dan sangat jarang terdengar selama ini,” kata Hawkins. Searah jarum jam: Emma Gilmour, Maya Martin Els Weug, Jamie Laura Chadwick, Tatiana Calderón Noguera ( mclaren.com/ferrari.com/formula1.com ) Hawkins tentu bukan satu-satunya yang bisa menembus F1 sebagai development driver . Sebelumnya ada Emma Gilmour yang tahun ini di tim McLaren, Maya Weug di tim Ferrari sejak 2021, Jamie Chadwick (Williams sejak 2019), Tatiana Calderón (Sauber, 2018), dan Carmen Jordá (Lotus <2015> dan Renault <2016>). Namun, mampukah mereka menembus F1 sebagai “ the real driver” ? Sudah tiga dekade para pembalap perempuan sekadar jadi “penghias” di F1, entah sebagai development driver atau paling banter test driver ­– karier balap mereka mentok di ajang balap kasta medioker macam W Series, Formula 3, atau Formula E . Susie Wolff, yang digadang-gadang bakal jadi penerus Giovanna Amati, saja mentok hanya jadi test driver tim Williams (2012-2015). Padahal, selain skill Susie juga istri Torger “Toto” Wolff, eks pembalap dan teamprincipal tim Mercedes. Baca juga: Sembilan Anak dan Ayah di Arena F1 (Bagian II – Habis) Selain minim animo perempuan muda meretas karier di ajang-ajang go-kart yang lazim jadi “jenjang” awal jadi pembalap F1, para pemandu bakat dari tim-tim F1 masih acap memandang sebelah mata para dara. “Sepanjang sejarah F1 hambatan yang dihadapi perempuan nyaris tak pernah berubah. Para pembalap perempuan dianggap tak punya masa depan di level top. Para pemandu bakat selalu berasumsi pembalap perempuan takkan pernah berhasil menembus F1. Kesimpulannya mereka dianggap takkan pernah bisa berkembang hanya karena mereka perempuan” kata jurnalis dan pemerhati dunia balap Hazel Southwell di kolomnya di Motorsport , 5 April 2022. Searah jarum jam: Carmen Jordá Buades, Suzanne 'Susie' Wolff, Katherine Anne Legge, Sarah Marie Fisher ( formula1.com/fia.com ) Para Perempuan Pionir Sudah tiga dasawarsa ajang F1 kering pembalap perempuan. Giovanna Amati tercatat sebagai perempuan yang terakhir mentas di arena F1, musim 1992. Perempuan kelahiran Roma, Italia pada 20 Juli 1959 itu bisa terjun ke dunia balap yang tergolong olahraga mahal karena latarbelakang keluarganya. Ibunya aktris ternama, Anna Maria Pancani, dan ayahnya konglomerat dunia film, Giovanni Amati. Saking kayanya, Amati bahkan pernah jadi korban penculikan selama 75 hari pada 1978. Dia selamat setelah ditebus keluarganya 800 juta lira. Setelah merintis karier di dunia balap lewat ajang Formula 3000 pada 1981-1991, Amati direkrut tim F1 Brabham pada 1992. Alasan perekrutannya, pertama, karena Brabham butuh suntikan dana; kedua, Amati merupakan opsi alternatif lantaran niat Brabham mendatangkan jawara Japanese F3000, Akihiko Nakaya, gagal terealisasi. Untuk alasan pertama, Amati disebutkan menjanjikan 3 juta dolar untuk mendapat kursi di mobil Brabham. “Terdengarnya mudah tapi sebenarnya sebaliknya. Saya ditelepon pada Januari dan musim itu dimulai pada Maret dan saya awalnya tak tahu bagaimana mendapatkan uangnya. Saat itu saya sedang bersiap balapan Indy Formula di Amerika Serikat dan hanya punya dua pekan mencari budget -nya. Ayah sudah tiada tapi saat itu salah satu sahabatnya menjadi perdana menteri Italia (Giulio Andreotti). Di saat-saat akhir, saya bisa dibantu mendapat budget -nya,” kenang Amati kepada BBC , 13 November 2015. Baca juga: Apa Kabar Michael Schumacher? Manajemen Brabham pun mencapai kata sepakat dengan Amati pada 5 Februari 1992. Amati berhak mengaspal di musim 1992. Prestasi Amati namun jauh dari kata gemilang. Di tiga seri awal (grand prix Afrika Selatan, Meksiko, dan Brasil), Amati gagal lolos sesi kualifikasi. Brabham lantas mendepak Amati dan menggantikannya dengan test driver Damon Hill. “Eric van de Poele yang masih memegang uang sponsor tetap bertahan di Brabham. Sementara uang yang dijanjikan Amati juga tidak terpenuhi. Brabham lantas menawarkan kursi kosong itu kepada saya,” tulis Hill dalam otobiografinya, Watching the Wheels. Giovanna Amati (kanan) ( formula1.com ) Kegagalan Amati jadi pukulan tersendiri bagi kaum Hawa. Terlebih sudah 12 tahun F1 tak diikuti pembalap perempuan. Amati juga gagal tampil lebih baik dari Desiré Wilson yang menempati kokpit tim Williams pada musim 1979. Wilson yang lahir di Brakpan, Afrika Selatan, pada 26 November 1953 sudah membuka jalan di dunia balap sejak usia 12 tahun lewat ajang mobil midget. Pada 1972, ia sudah memegang superlisensi FIA untuk ta m pil di Formula Vee Championship. Lima tahun berselang, ia naik level hingga Formula Ford 2000. Di musim 1979, ia bergabung dengan tim F1 Melchester Racing. “Desiré sukses di Aurora British Formula 1 (1978) dengan dukungan (mentor) John Webb dan Nick Challis. Webb pula yang membantu negosiasi dengan tim Melchester untuk Desiré bisa bergabung. Mereka mencapai kesepatan beberapa hari sebelum liburan Natal (1978),” tulis Alan Wilson dan Andrew Marriott dalam Driven by Desire: The Desiré Wilson Story. Baca juga: Kontroversi Schumi Memiloti kokpit mobil Tyrell 008, Wilson mengaspal di seri non-championship Brands Hatch. Setelah lolos sesi kualifikasi di urutan kesembilan, Wilson tampil penuh 38 lap dan finis di urutan yang sama saat start. Kesempatannya mentas di seri resmi terjadi pada 1981 saat sudah pindah ke tim Tyrell Racing. “Musim 1981 sempat kacau karena perseteruan otoritas balap FISA (Fédération Internationale du Sport Automobile) dan FOCA (Formula 1 Constructors Association). Beberapa pekan sebelum balapan, (bos FISA) Bernie Ecclestone mengontak Desiré dan berencana menempatkannya di tim Brabham walau deal -nya tak terwujud. Namun kemudian Ken Tyrell meneleponnya: ‘Anda akan balapan buat saya. Ikutlah ke Afrika Selatan dan kita bertemu di sana’,” imbuh Wilson dan Marriott. Desiré Randall Wilson  ( wilsonmotorsport.com/formula1.com ) Namun, dalam satu-satunya kesempatan di seri pertama grand prix Afrika Selatan, Wilson gagal finis gegara terlibat kecelakaan. Mobil Tyrell 010-nya tergelincir di lap ke-52. Desiré lalu beralih ke ajang FIA World Endurance Championship dan Indy Car World Series sebelum pensiun pada 1999. Catatan Wilson pun tak ubahnya dengan seniornya, Divina Galica, di musim 1976 dan 1978. Keunikan Galica yakni tak memulai kariernya langsung di dunia balap. Figur kelahiran Bushey Heath, Inggris pada 13 Agustus 1944 itu mulanya atlet ski. “Galica turut dalam tim ski putri Inggris di Olimpiade (musim dingin) 1964, 1968, dan 1972 di mana ia jadi kapten timnya. Di tiga Olimpiade Musim Dingin itu ia turun di nomor downhill, slalom, dan giant slalom. Di Olimpiade keempatnya ia turun di nomor speed skiing yang baru menjadi cabang demonstrasi,” catat James Holder dalam Sport’s Great All-Rounders. Baca juga: Jagoan di Dua Lintasan Balapan Tak lama setelah Olimpiade 1972, lanjut Holder, Galica menumbuhkan minat di dunia balap usai menerima undangan untuk berpartisipasi di sebuah ajang balap selebritis. Mengetahui dirinya punya bakat balap, Galica pensiun dari olahraga ski dan mulai membuka karier balapnya dari ajang-ajang go-kart. Ia lantas masuk Formula 2 dengan dimentori John Webb dan Nick Whiting. “Musim 1976 dia masuk British Grand Prix (F1) dengan mobil Surtees, membuatnya jadi perempuan ketiga yang mengaspal di ajang grand prix, tetapi di mobil bernomor 13, untuk pertamakalinya dalam 13 tahun terakhir sebuah mobil menggunakan nomor ini, keberuntungannya lenyap dan dia gagal finis. Dua tahun berikutnya dia ditawarkan balapan lagi di Formula 1 di mobil Hesketh walau kemudian juga gagal menyelesaikan balapan di dua seri awal, Argentina dan Brasil,” lanjut Holder. Divina Mary Galica merupakan atlet ski sebelum beralih ke balapan ( teamgb.com/formula1.com ) Meski gagal di F1, dunia balap tetap diteruskan Galica hingga 1980 usai “turun kasta” ke European Formula 2. Namanya memang tetap masuk di daftar sejarah F1 sebagai pembalap perempuan ketiga, tetapi prestasinya masih jauh di bawah koleganya yang tiga tahun lebih tua, Lella Lombardi. Lombardi tercatat sebagai perempuan kedua di kokpit mobil F1 dan hingga kini masih jadi satu-satunya yang mampu mencetak poin. Sosok kelahiran Frugarolo, Italia, 26 Maret 1941 itu punya latar belakang unik. Lombardi tak datang dari keluarga kaya. Ayahnya sekadar tukang daging dan perkenalannya dengan otomotif hanya lewat profesinya sebagai supir mobil angkut daging di toko ayahnya. Baca juga: Stirling Moss, Raja Balap tanpa Mahkota Obsesi Lombardi pada dunia balap mobil amat besar. Sedikit demi sedikit ia tabung uangnya yang tak seberapa untuk meretas karier di ajang go-kart. Ia kemudian bisa membeli mobil untuk ikut Formula Monza lewat jejaring pertemanannya di sebuah klub mobil. “Dia selalu bercerita bagaimana ia berkorban. Dia bukan orang kaya. Ayahnya hanya tukang daging dan dia memulai kariernya tanpa sponsor. Dia bahkan harus tidur di mobilnya untuk berhemat,” kenang Giusy Remondi, teman dekat Lombardi yang juga terlibat di tim Lella Lombardi Autosport, kepada majalah Motorsport edisi April 2015. Dalam kurun 10 tahun sejak 1964, Lombardi melewati banyak cibiran dan diskriminasi. Namun itu tak berhasil menghentikannya berprestasi di arena Formula Monza, Formula 3, dan Formula Ford. Mimpi Lombardi sebagai pembalap perempuan kedua di F1 menemui wujudnya di musim 1974 kala ia berhasil mengamankan satu kokpit di tim Brabham dengan bantuan Angela Webb, istri eks pembalap dan pemilik sirkuit Brands Hatch. “Kami menggelontorkan lima ribu poundsterling untuk menyewa sebuah mobil dari Bernie Ecclestone sebagai satu-satunya investasi kami bagi Lella. Dia kesulitan mendapatkan sponsor tetapi tak pernah meminta ongkos ketika harus terbang menuju tempat balapan. Itu hal yang tak lazim di antara para pembalap,” ungkap Webb. Maria Grazia 'Lella' Lombardi tetap jadi satu-satunya driver  perempuan yang mencetak poin ( formula1.com ) Sayangnya kiprah Lombardi di musim 1974 sebatas tampil di Grand Prix Inggris. Itupun ia gagal lolos kualifikasi. Saking kecewanya, Lombardi merasa seperti disabotase. “Soal Formula 1, Lella hanya komplain terkait ketidaksetaraan karena tiada seorang pun yang mau mendengarnya soal perbaikan mobil,” sambung Remondi. Tetapi tak semua pihak di F1 ingin segera menyingkirkan Lombardi. Tim March justru bersimpati kepadanya dengan menawarkannya tampil di mobil ketiga selama semusim penuh pada 1975 bersama Vittorio Brambilla dan Hans-Joachim Stuck. Baca juga: Angkernya Sirkuit Nürburgring Lombardi mengaspal di 12 seri. Prestasi terbaiknya, finis di urutan keenam di GP Spanyol. Capaian itu mengukir sejarah di mana Lombardi hingga kini jadi satu-satunya pembalap perempuan yang mengoleksi poin (0,5). Di musim terakhirnya, 1976, Lombardi hanya mampu finis terbaik di posisi 12 dari empat seri yang diikuti. “Yang saya ingat penampilan terbaiknya ada di Nürbürgring (GP Jerman, finis ketujuh). Itu yang paling saya ingat. Ia tampil sangat impresif dan lebih baik dari performanya di Montjuïc (GP Spanyol),” kenang Robin Heard, salah satu pendiri tim March. Capaian Lombardi cukup membanggakan. Ia sekaligus menyambung tongkat estafet prestasi pembalap perempuan dari sang perintis 15 tahun sebelumnya, Maria Teresa de Filippis. Maria Teresa de Filippis, pembalap perempuan pertama di ajang F1 ( formula1.com ) De Filippis bisa terjun ke dunia balap karena lahir dari keluarga bangsawan. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, masa kecil perempuan kelahiran Napoli, 11 November 1926 itu umumnya kaum ningrat yang hobi berkuda dan bermain tenis. Ia jatuh cinta pada balap mobil ketika sudah beranjak kepala dua. Itupun gegara diledek kedua kakaknya, Antonio dan Giuseppe, bahwa dia takkan mampu menyetir mobil apalagi jadi juara balapan. Baca juga: Sirkuit Jalanan Lintas Zaman De Filippis membuktikan sebaliknya saat menjajal ajang balapan cross country sejauh 10 kilometer antara kota Salerno dan Cava de’Tirreni pada 1948. Mengendarai mobil Fiat 500 “Topolino”, De Filippis membungkam cibiran kedua kakaknya dengan merengkuh juara. “Setelah berkuda, kecintaan saya adalah mobil. Saya senang dengan kecepatan dan ketegangannya. Kakak-kakak saya bertaruh bahwa saya takkan bisa jadi pengemudi yang cepat. Lalu ayah memberikan saya mobil Fiat 200. Saat itu usia saya 22 tahun dan saya menang balapan pertama saya. Di situlah semuanya bermula,” ujar De Filippis, dikutip majalah Motorsport edisi Februari 2012. De Filippis terjun ke sebuah kejuaraan mobil sport nasional pada 1954 dengan dukungan penuh ayahnya. Dia berhasil jadi runner up -nya. Hasil serupa ia rengkuh lagi ketika mengaspal di Grand Prix Napoli 1956 dengan mobil Maserati 200s-nya. Di ajang ini pula ia bertemu kekasihnya yang juga pembalap saingannya, Luigi Musso. Mussolah yang lantas mementori De Filippis untuk menyempurnakan teknik-teknik balap. Itu lalu dijadikan De Filippis sebagai modal untuk memberanikan diri menembus F1 pada 1958 tanpa sponsor. De Filippis tampil sebagai pembalap pribadi tanpa mau dinaungi sponsor atau tim manapun. Baca juga: Melintasi Sirkuit Politik Max Mosley Ia hanya butuh mobil yang tepat, yakni Maserati 250F, mobil yang membawa mentor De Filippis lain, Juan Manuel Fangio, memenangi gelar dunia F1 musim 1957. Meski pada debutnya di GP Monza gagal kualifikasi, De Filippis tampil impresif di GP Belgia dengan finis di urutan ke-10. Ia bahkan finis kelima di GP Syracuse. Sejumlah tawaran pun mendatanginya, termasuk dari tim Ferrari. Tapi De Filippis menolaknya. Di paruh musim, ia lebih memilih bernaung di tim Centro Sud Maserati milik Guglielmo ‘Mimmo’ Dei. “Apakah karena saya orang Italia jadinya harus di Ferrari? Saat itu saya tak ingin diperintah-perintah Tuan (Enzo) Ferrari. Saya bicara padanya dan menolak tawaran ke timnya. Di masa itu semua orang menuruti perintahnya. Tapi tidak dengan saya. Di Maserati saya merasa lebih seperti keluarga dan lebih mudah untuk saling bicara,” tambahnya. Baca juga: Seteru Sengit di Sirkuit Namun, setahun berselang prestasi De Filippis menukik tajam. Hanya dua kali De Filippis mentas di musim 1959 dan tak sekalipun mencapai garis finis. Pada 1960 ia pensiun. Setelah menikah dengan ilmuwan kimia Theodor Huschek dan menjauhkan diri dari dunia balap, De Filippis kembali ke circle balap dengan menjadi anggota International Club of Former F1 Grand Prix Drivers. Ia kemudian jadi wakil presidennya, hingga wafatnya pada 8 Januari 2016. “Kami (dunia balap) kehilangan salah satu sosok pionir, Maria Teresa de Filippis, perempuan pertama yang balapan di F1. Beristirahatlah dengan tenang,” cetus eks-pembalap Alexander Wurz, dikutip The Guardian dalam obituarinya, 9 Januari 2016. Baca juga: Garis Start Valentino Rossi

  • Razia Rambut The Beatles dan Sasak

    Dalam pidatonya pada 17 Agustus 1959, Presiden Sukarno menyinggung mengenai imperialisme kebudayaan. Ia menyebut pemuda-pemudi Indonesia yang katanya anti-imperialisme ekonomi dan imperialisme politik, justru membiarkan imperialisme terhadap kebudayaan. Sukarno menyebut musik ngak-ngik-ngok , rock ‘n roll , dan dansa-dansi ala cha-cha-cha  sebagai produk-produk imperialisme di lapangan kebudayaan. Sebagai gantinya, ia mendorong tari dan irama yang disebut lenso. Baca juga:  Senandung Lenso ala Bung Karno Sukarno tak menganggap remeh invasi kebudayaan imperialis. Selain mendorong pemuda untuk turut membasminya, ia juga mengerahkan aparat untuk menindak mereka yang masih ngeyel  menggemarinya. “Saya telah memberi instruksi kepada menteri muda Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan untuk mengambil tindakan-tindakan di bidang kebudayaan ini, untuk melindungi kebudayaan nasional dan menjamin berkembangnya kebudayaan nasional,” kata Sukarno dalam pidato berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita” itu. Rambut ala The Beatles dan sasak di Makassar dirazia pada pertengahan 1965. ( Suara Merdeka , 23 Juni 1965). Belakangan diketahui grup musik Koes Plus dipenjara pada 1965 karena membawakan lagu The Beatles , grup musik asal Inggris. Selain itu, bukan hanya musiknya, pada tahun yang sama gaya rambut The Beatles dan gaya rambut sasak juga kena larangan. Di Makassar misalnya, Team Komando Gerakan Penertiban Kotapradja Makassar menggelar razia terhadap gaya rambut The Beatles, sasak,dan rok ketat . Mula-mula mereka memberikan peringatan kepada muda-mudi Makassar hingga melakukan pencegatan. Tak hanya ditegur, mereka juga kena pengguntingan di tempat. Baca juga:  Selamat Tinggal Penyanyi Tua Pencegatan juga dilakukan di depan bioskop -bioskop di mana muda-mudi mudah ditemui. Mengetahui di pintu bioskop telah siap petugas yang akan menggunting rambut, mereka buru-buru mengubah penampilan. “Ialah serentak setelah para penonton yang masih berada dalam gedung bioskop mengetahui adanya pencegatan di pintu, maka para wanita yang berambut sasak lari terbirit-birit masuk WC, bukan untuk membuang air tetapi untuk membongkar rambut yang disasak pada kepalanya masing-masing,” tulis Suara Merdeka ,23 Juni 1965. WC yang biasanya digunakan untuk buang air, berubah jadi kamar rias yang menyelamatkan rambut mereka. Keluar dari bioskop, mereka pun lolos dari gunting aparat. Baca juga:  Kutu Subversif dalam Rambut Gondrong “Sementara itu, dari pimpinan Komando Gerakan Penertiban Kotapradja Makassar diperoleh keterangan, bahwa tindakan-tindakan terhadap rambut The Beatles, rambut sasak, dan rok ketat ini pada waktu-waktu yang akan datang akan dilakukan lebih keras lagi,” tulis Suara Merdeka . Menurut Suara Merdeka , Komando Gerakan Penertiban dibentuk dari Angkatan Bersenjata dalam kota, hansip , pemerintah kotapraja, serta jawatan-jawatan yang dianggap berkaitan dengan pembangunan mental masyarakat. Baca juga:  Razia Celana Jengki Pakai Botol Bir Jika di Makassar rambut-rambut kena screening , di Jakarta ratusan piringan hitam dan tape recorder yang berisi lagu-lagu The Beatles juga kena razia. Aset yang diperkirakan senilai puluhan juta rupiah itu terjaring Operasi Hapus oleh Angkatan Kepolisian VII/Jaya. Koran Pedoman , 10 Juli 1965 seperti dimuat Rosihan Anwar dalam Sukarno, Tentara, PKI , me laporkan peringatan kepada para pedagang piringan hitam agar menyerahkan semua piringan hitam yang bernadakan ngak-ngik-ngok dan The Beatles mulai saat ini sampai batas waktu 22 Juli 1965. Tindakan ini diambil sesuai dengan instruksi presiden untuk kembali kepada kepribadian dan kebudayaan sendiri sesuai dengan Trisakti Tavip (tahun vivere pericoloso atau tahun menyerempet-nyerempet bahaya) di bidang kebudayaan .*

  • Jejak Sains Bung Karno untuk Hadapi Tantangan Zaman

    INDONESIA tak pernah kehabisan orang pintar (bukan paranormal), termasuk yang punya visi jauh ke depan. Hanya saja, dalam hal kemajuan sains dan teknologi mesti diakui kita masih mengejar ketertinggalan hingga detik ini. Padahal “Bung Besar” Presiden Sukarno sudah mewariskan gagasannya untuk bisa dilanjutkan tongkat estafetnya. Gagasan Bung Karno untuk memanfaatkan sains dan teknologi tentu bertujuan menyejahterakan seluruh bangsa Indonesia. Namun, sejak merdeka golongan “akar rumput” hanya jadi penonton segelintir elite yang menikmati kesejahteraan. Untuk menguasai sains dan teknologi, dasarnya adalah pendidikan dan literasi atau minat membaca. Sayangnya, sampai saat ini rata-rata persentasi literasi di negeri ini sangat memprihatinkan. Survei Program for International Student Assesment (PISA) pada 2019 menunjukkan Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara. “Literasi menjadi salah satu fondasi kemajuan bangsa. Rata-rata negara maju itu literasinya tinggi semua. Contoh, Jepang sebelum Perang Dunia I dan II, mereka literasinya sudah mendekati 100 persen,” kata Dr. Petit Wiringgalih, inspektur keselamatan nuklir Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), dalam dialog sejarah Historia  bertajuk “Bung Karno dan Supremasi Sains”, Jumat (24/6/2022). Baca juga: BPPT, Riwayatmu Kini Padahal, minat baca akan membuka berbagai kemungkinan fakta dan data. Muaranya, pemikiran dengan nalar yang lebih baik. Utamanya ketika kaum intelektual yang menggali literasi memberi masukan pada pemerintah agar menelurkan kebijakan yang masuk akal. “Contohnya Singapura, 40 tahun lalu mereka bukan negara yang bisa produksi apapun, tapi sekarang menjadi economic hub di Asia Tengara. Korea Selatan pada 1960-an lebih miskin daripada Indonesia karena mereka perang saudara. Tapi habis perang Korsel berinvestasi besar di sektor pendidikan hingga membuat keajaiban ekonomi Asia seperti sekarang. Jadi saya pikir literasi adalah fondasi buat kita membangun bangsa yang lebih maju,” imbuh pakar fisika nuklir jebolan University of Manchester tersebut. Dr. Petit Wiringgalih (kanan) dalam dialog sejarah “Bung Karno dan Supremasi Sains” (Historia) Di sisi lain, penguasaan sains dan teknologi melalui literasi juga tak bisa dilepaskan dari ekosistemnya. Dalam hal ini pemikiran-pemikiran maju kaum intelektual hasil literasi yang baik dan produktif bisa muncul untuk kemaslahatan publik. Akan percuma jika negara mengkongkosi pemuda-pemuda Indonesia belajar ke luar negeri dengan label ikatan dinas namun ekosistemnya tak dibuat sebagaimana mestinya. “Kalau di negara-negara maju seperti di Barat, ada patron-patron orang kaya yang sengaja membiayai pusat-pusat pendidikan untuk membangun intelektual-intelektual yang bisa bekerja. Prinsipnya sama, ilmuwan tidak gila harta tapi butuh hidup. Jika kebutuhan basic- nya dipenuhi lingkungan, maka akan mendorong kemajuan dan perubahan. Itu yang terjadi di Cina, di Jepang, di mana mereka sudah merangkul meritokrasi sehingga orang-orangnya bisa sukses,” tambah Petit. Baca juga: Habibie Kecil dan Soeharto Muda Butuh waktu memang. Terlebih untuk bisa mengubah kultur yang ada di Indonesia, utamanya birokrasi, bergerak lamban menjawab kebutuhan akan ekosistem yang kondusif. “Pak (Bacharuddin Jusuf) Habibie menjadi Habibie saat ini lebih dulu melampaui lompatan luar biasa dalam ekosistem yang sangat kondusif (di Jerman). Kalau Pak Habibie langsung pulang setelah lulus S2 atau S3 dari Jerman, mungkin dia sibuk fotokopi, bikin kwitansi. Ini fakta yang bahkan terjadi sampai hari ini. Betapa kita capek, energi kita habis untuk hal-hal yang enggak substantif dan enggak ada manfaatnya sama sekali,” sambungnya berkeluh kesah. BJ Habibie sewaktu menjabat Menristek ( kemendikbud.go.id ) Belakangan, muncul fenomena “Brain Drain”. Yakni fenomena di mana banyak orang Indonesia yang mengenyam mendidikan di luar negeri enggan pulang. Selain karena faktor fulus yang lebih menjanjikan, ekosistem di tanah-air yang belum kondusif juga memainkan faktor penting. “Saya lulus S1 tahun 2000 saja dari Australia mengalami counter culture shock . Syok saya lebih berat saat kembali ketimbang saat berangkat ke Australia. Di luar negeri kita dituntut profesional, di sini beda. Di sini taat aturan, taat atasan, jadi energi kita habis enggak produktif, walau sekarang pemerintah mulai berbenah. Sekarang indikator kinerja untuk pegawai negeri, terutama fungsional, sudah mulai berbasis output ketimbang proses (administratif),” tambah Petit. Walau sudah berbenah namun belum holistik, sistematis, dan masih ada kemungkinan berubah-ubah lantaran di republik ini lazimnya ganti pemerintahan ganti kebijakan. Itu juga yang berkelindan dengan tersendatnya kemajuan teknologi dan sains sejak fondasinya dibangun Bung Karno: tidak kontinyu. “Sebenarnya kita mampu, bahkan menjadi negara mandiri. Yang penting kita harus punya kebijakan jangka panjang yang kontinyu. Bukan semacam Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun), tapi visi dengan peta jalan lewat pengembangan sains. Kestabilan politik jadi salah satu pengaruh agar kita bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju,” paparnya lagi. Jejak Tapak Nuklir Bung Karno Bukti visionernya Bung Karno lewat gagasan penguasaan sains dan teknologi untuk menyawab tantangan zaman adalah nuklir sebagai energi bersih untuk tujuan damai. Tantangan zaman yang dimaksud adalah krisis energi dan pemanasan global yang memicu perubahan iklim. Setelah ratusan tahun umat manusia menikmati energi fosil, anak cucunya sekarang mendapat “getahnya”. Pemanasan global memicu kenaikan permukaan air laut dan cuaca ekstrem. Melonjaknya pencemaran karbon dioksida, terutama sejak 1940, kini justru menyulitkan banyak negara maju. Di sini pula Petit berharap pemerintah Indonesia juga bisa belajar dari “kesalahan” negara-negara Barat, terlebih Eropa yang mulai menjerit krisis energi gegara konflik Ukraina-Rusia. Petit mencontohkan Jerman, yang sebelumnya begitu percaya diri menutup banyak PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) dan malah menggantungkan sumber energinya pada pasokan gas alam dan batubara dari Rusia yang lantas diembargo NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) dkk. “Rusia seperti jantung buat Eropa untuk ketahanan energi. Lucunya, contoh Jerman, tidak berpikir reliability . Mereka cari yang murah dari Rusia. Nuklirnya pun ditutup dan kini membuat Jerman makin sulit karena ngotot menutup sisa PLTN yang masih ada. Padahal PLTN mereka sudah beroperasi dengan baik dan jelas-jelas tidak menghasilkan emisi karbon. Mereka malah melukai diri sendiri,” tutur Petit. Baca juga: Serba-serbi Chernobyl Bicara nuklir atau tenaga atom untuk kesejahteraan, sejak 1950-an Bung Karno tak ingin ketinggalan dari negara-negara maju. Pandangan Bung Karno soal nuklir pertamakali ia sampaikan ke hadapan publik dalam pidatonya di Istana Negara pada 12 Juni 1958. Menukil “Inventaris Pribadi Roeslan Abdulgani No.80” yang tersimpan di Arsip Nasional RI (ANRI), Bung Karno dengan tegas menolak pengembangan nuklir untuk senjata pemusnah massal. “Namun bukan berarti Sukarno memalingkan muka dari teknologi nuklir. Ia melihat nuklir sebagai teknologi penting yang harus dikuasai dan dikembangkan Indonesia demi tujuan-tujuan damai. Pandangan Sukarno direalisasikan dengan membentuk lembaga khusus di bidang nuklir,” tulis peneliti sejarah University of London Teuku Reza Fadeli dalam Nuklir Sukarno: Kajian Awal atas Politik Tenaga Atom Indonesia, 1958-1967. Rusia jadi pemasok gas utama di Eropa Barat, utamanya di Jerman (Historia) Fadeli mengacu pada pembentukan Panitia Penjelidikan Radioaktivitet dan Tenaga Atom (PPRTA) pada 23 November 1954 yang diketuai Menteri Kesehatan Dr. Gerrit Augustinus Siwabessy. PPRTA kemudian direorganisasi menjadi Dewan Tenaga Atom (DTA) dan Lembaga Tenaga Atom (LTA) lewat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 65 Tahun 1958. LTA sendiri merupakan cikal-bakal Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN, kini Organisasi Riset Tenaga Nuklir Badan Riset dan Inovasi Nasional/ORTN BRIN). Reaktor nuklir jadi suatu keharusan untuk penelitian dan pengembangan. Lewat kerjasamanya dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) serta perjanjian bilateral dengan Amerika, Indonesia membangun Reaktor TRIGA-Mark II di Bandung yang rampung pada 1965. Bung Karno amat berharap reaktor itu jadi titik nol kemajuan teknologi nuklir Indonesia untuk perdamaian dunia dan kesejahteraan rakyat. Baca juga: Kisah Bom Atom Buatan Indonesia TRIGA-Mark II dibangun dengan dana hibah dari Amerika sebesar USD350 ribu. Namanya dicomot dari makna “Training, Research, and Isotope production by General Atomic”. General Atomic merupakan kongsi pembuat reaktor Mark II. Guna mewujudkan harapan itu, sumber daya manusia (SDM) Indonesia disiapkan sejalan dengan pembangunan TRIGA-Mark II. Negara menyekolahkan 16 lulusan Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung ke beberapa negara maju seperti antaranya Amerika, Uni Soviet, Yugoslavia, dan Jepang. “Kita harusnya berterimakasih pada Bung Karno karena ia pemimpin dengan visi besar supaya kita tidak tertinggal secara teknologi. Walau beliau sudah tiada, faktanya jejak itu sudah ada bahwa beliau berniat membangun Indonesia sebagai negara adidaya di bidang sains, termasuk teknologi nuklir untuk tujuan damai,” sambung Petit. Reaktor Triga Mark II di Bandung ( batan.go.id ) TRIGA-Mark II sendiri merupakan salah satu reaktor Generasi I tipe SPR ( Swimming Pool Reactor ) yang memanfaatkan air di kolam terbuka sebagai moderator neutronnya. Reaktornya punya kapasitas 250 kilowatt (KW) dan sampai detik ini masih dioperasikan ORTN BRIN. Selain itu, Indonesia mendapat bantuan kredit dari Uni Soviet untuk membangun fasilitas pendukung Reaktor IRT-1000 di Serpong. Diikuti bantuan pembangunan proyek subcritical assembly di Yogyakarta pada awal 1964. Energi nuklir kembali jadi perhatian pemerintah sejak akhir 1970-an dengan dibangunnya Reaktor Nuklir Kartini di Sleman, Yogyakarta yang jenisnya juga Reaktor TRIGA-Mark II. Itu ditambah dengan pembangun Reaktor Serbaguna (kini RSG G. A. Siwabessy) dan laboratorium pendukungnya di kawasan Puspiptek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) atas dorongan Menristek BJ Habibie pada 1983 yang rampung pada 1987. Baca juga: Indonesia Bikin Bom Atom, Amerika Kelabakan RSG Serpong, yang merupakan reaktor buatan Interatom Internationale, Jerman, juga didukung sejumlah peralatan dan instalasi fabrikasi bahan bakar, uji bahan bakar, uji limbah, uji sistem reaktor, hingga uji simulasi kecelakaan. Jadi meskipun RSG Serpong masih reaktor non-PLTN, ia tetap bisa digunakan untuk serangkaian pengujian penting menuju PLTN, selain untuk memproduksi radioisotop. “Dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara, kita memiliki tiga reaktor nuklir yang sudah beroperasi, walau tidak menghasilkan daya tapi untuk penelitian. Beroperasi dengan baik dan aman karena selalu kita inspeksi. Obat-obat untuk terapi kanker sekarang produksi radioisotopnya ada di (RSG) Serpong,” lanjut Petit. Emisi karbon monoksida melonjak tinggi sejak 1940 (Historia) Isu PLTN untuk pasokan energi kembali mengemuka untuk menjawab krisis pemanasan global. Hingga saat ini Indonesia masih menggantungkan sebagian besar pasokan listriknya dari PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) dengan bahan bakar batubara. Menurut data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM pada Januari 2022, hingga kurun setahun pada 2021 total pasokan listrik mencapai 73.736 Megawatt (MW). PLTU masih mendominasi 50 persennya dengan 36.976 MW, diikuti Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) sebagai runner-up dengan 12.412 MW (17 persen). Baca juga: Awal Mula Tambang Batubara Pembangkit listrik dari energi baru terbarukan (EBT), entah tenaga surya, biomassa, maupun geothermal (panas bumi), masih termarjinalkan dengan 2.223 MW (3,2 persen). Tenaga nuklir yang hanya jadi salah satu opsi kerap dipandang sebelah mata dan nyaris tak pernah jadi perhatian serius para pengambil kebijakan sebelumnya. Menukil siaran pers Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) tanggal 17 Februari 2022 di laman resminya, Menteri Arifin Tasrif dalam rapat kerjanya dengan Komisi VII DPR RI memaparkan program prioritas transisi energi dalam rangka menuju NZE ( net-zero emission ) 2060 sebagai ketaatan pemerintah akan komitmen COP 26 (26th Conference of the Parties) pada Climate Change Conference di Glasgow yang diteken 13 November 2021. Salah satu programnya adalah perencanaan strategi pengelolaan energi jangka panjang guna meminimalisir emisi karbon dan beralih ke energi bersih serta ramah lingkungan, di mana penggunaan nuklir sebagai salah satu EBT untuk energi listrik diniatkan akan dibangun dan beroperasi mulai 2049. “Faktanya nuklir itu kunci masa depan karena energi density -nya sangat besar. Saat kebijakan basa-basi ketemu dengan hukum fisika, maka hukum fisika yang menang karena hukum fisika mengatakan energi density terbesar sampai saat ini adalah nuklir. Dengan energi density yang besar maka dampak ekologinya makin kecil karena limbahnya makin kecil,” tambah Petit. Reaktor tipe PWR buatan Interatom Jerman di RSG GA Siwabessy ( batan.go.id ) Di Asia Tenggara, atau bahkan dibanding Australia, kata Petit, Indonesia boleh saja berbangga punya tiga reaktor nuklir yang produktif menghasilkan radioisotop yang lebih maju. Namun mesti diakui, soal keberanian mengambil kebijakan terkait PLTN, Indonesia sudah tertinggal dari negara seperti Bangladesh. Bangladesh sudah punya rencana konkret tentang PLTN sejak 2001 dan sembilan tahun berselang mencapai kesepakatan kerjasama dengan Rusia untuk membangun dua unit PLTN Rooppur di tepi Sungai Padma dengan reaktor PWR jenis VVER. PLTN unit pertama bakal rampung 2023 dan yang kedua setahun kemudian. “Sebenarnya nuklir kita nomor satu dari besarnya fasilitas dan kelengkapan. Kita sudah bisa buat bahan bakar sendiri kok. Dibanding Malaysia, Filipina, bahkan Australia, kita nomor satu. Jadi ironis sekali sekian tahun investasi tapi kita tidak pernah move forward untuk menjadi negara yang diidam-idamkan Bung Karno,” tandas Petit. Baca juga: Arus Sejarah Baterai Penopang Mobil Listrik

  • Kisah Sukarno dan Planetarium

    Bila berbicara tentang Sukarno, kita tentu tak bisa mengabaikan gagasan-gagasannya yang tertuang nyata. Monumen Nasional, Hotel Indonesia, Stadion Utama Gelora Bung Karno hingga Masjid Istiqlal adalah deretan bangunan hasil pemikiran Sang Proklamator, yang lahir di Surabaya ini. Mempertimbangkan perjalanan bangsa ini, bangunan-bangunan itu merepresentasikan pemikiran-pemikiran Sukarno yang melampaui zamannya. Planetarium, misalnya, muncul dari keyakinan bahwa ada pemikiran masyarakat umum tentang luar angkasa pada masa itu yang perlu diluruskan. Baca juga:  Menggali Budaya Astronomi Nusantara Suasana di Planetarium sekitar tahun 1970. (Repro Arsip DKJ). Salah satu mesin yang sudah tidak terpakai di Planetarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Bung Karno menggagas pembangunan planetarium pada 1963. Pada tahun berikutnya, gagasan ini mulai diwujudkan. Bung Karno hadir langsung pada pemancangan tiang pertama pembangunan planetarium di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta.  “Kita kadang masih kerdil, masih kecil. Misalnya kita ini masih banyak yang ber-gugon tuhon, bertakhayul. Mengira bahwa gerhana terjadi karena bulan digerogoti oleh Batara Kala. Mengira bahwa jikalau ada Bahasa jawanya lintang kemukus nanti akan datang pagebluk, (bencana),” kata Sukarno yang termuat dalam arsip pidato Sukarno periode 1958-1968 milik ANRI. Baca juga:  Planetarium Ambisi Sukarno Menguak Rahasia Angkasa Bung Karno saat melihat maket pembangunan Planetarium. (Dok. Planetarium). Seorang pekerja saat beristirahat disela-sela merevitalisasi komplek TIM. (Fernando Randy/ Historia.id ). Selain ingin membuktikan bahwa berbagai peristiwa ruang angkasa bukanlah hal mistis, Bung Karno membangun planetarium untuk menumbuhkan minat masyarakat, terutama generasi muda saat itu, terhadap dunia ilmu pengetahuan astronomi.  “Selain untuk menghilangkan takhayul, gagasan tentang pembuatan planetarium ini adalah hal yang sangat positif dari seorang Bung Karno sebagai upaya membina bangsa atau nation building . Juga supaya kita tidak tertinggal dari negara lain dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi,” ulas Widya Sawitar (64), mantan astronom di Planetarium dan Observatorium Jakarta sejak 1992 hingga pensiun pada April 2020. Baca juga:  Perjalanan Dinas Menyedihkan Demi Planetarium Widya Sawitar, astronom yang telah bekerja di Planetarium sejak tahun 1992. (Fernando Randy/ Historia.id ). Penampakan Planetarium yang hingga kini masih tahap revitalisai. (Fernando Randy/ Historia.id ). Ruang simolator yang masih tahap revitaliasi di Planetarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Planetarium dan Observatorium Jakarta akhirnya diresmikan pada 10 November 1968 dan diresmikan langsung oleh Ali Sadikin yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Setahun kemudian, Planetarium dan Observatorium Jakarta dibuka untuk umum.  Saat ini, Planetarium dan Observatorium Jakarta sedang direvitalisasi. Bila kita berkunjung kesana sekarang, kita akan melihat banyak pekerja dan berbagai alat berat beroperasi supaya planetarium tetap menarik dan relevan dengan masa. Baca juga:  Seniman Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki Sejumlah pekerja saat sedang merevitalisasi Planetarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Bahan baku yang akan digunakan untuk merenovasi komplek TIM. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suharto salah satu petugas yang kini masih bekerja di Planetarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Saat ini, dinding-dinding yang sebelumnya menampilkan gambar-gambar berbagai hal tentang luar angkasa sudah dibersihkan untuk didekorasi ulang. Teater yang dulu menjadi tempat orang duduk untuk mengalami suasana ruang angkasa hanya menyisakan satu kursi. Kursi lainnya sudah dibongkar untuk kemudian diganti dengan yang baru. Teropong bintang masih pada tempatnya. Namun, bangunan observasi benda angkasa ini juga masih dalam proses pembangunan dan belum dibuka untuk umum. “Semoga planetarium ini akan tetap berdiri dan diperbarui sesuai masanya karena planetarium dapat menjadi oase dan penyampai informasi astronomi berbasis sains dan budaya serta dapat menjadi sumber inspirasi dalam perkembangan iptek Indonesia itu sendiri,” tutup Widya. Baca juga:  Setengah Abad Planetarium dan Observatorium Jakarta Teropong juga masih tahap revitalisasi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana revitalisasi di Planetarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Baca juga:  Cerita Awal Taman Ismail Marzuki Salah satu sepatu milik pekerja di Taman Ismail Marzuki. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu lampu di mesin milik Planetarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Baca juga:  Status Cagar Budaya untuk Planetarium dan Observatorium Jakarta Salah satu helm milik pekerja di Planetarium. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Yōkai, Amabie, dan Pandemi

    KENDATI dikenal sebagai negara maju dengan banyak produk high tech yang dihasilkannya, Jepang ternyata juga punya hantu. Sebutannya yōkai. Ratusan yōkai itu tengah “mampir” ke Indonesia. Tentu bukan dalam wujud asli mereka, melainkan dalam bentuk puluhan benda seni yang dipamerkan dalam pameran bertajuk “ Yōkai Parade: Supernatural Monsters from Japan”. Pameran keliling itu dihelat di Bentara Budaya, Jakarta, sepanjang 17-27 Juni 2022 dan diprakarsai Bentara Budaya bekerjasama dengan The Japan Foundation Jakarta. Sebelumnya, pameran serupa mampir ke Ljubljana, Slovenia (22 April-13 Juni 2021); Roma, Italia (9 Juli-22 Oktober 2021); St. Petersburg, Rusia (12 November-5 Desember); dan Ankara, Turki (16 Februari-14 Maret 2022). Usai Jakarta, giliran Korea Selatan dan Selandia Baru yang bakal disatroni ratusan yōkai itu, namun waktunya belum ditentukan. Baca juga: Menyesapi Cerita-Cerita Tersembunyi di Pameran Revolusi! Para pengunjung di pameran “Yōkai Parade" di Bentara Budaya Jakarta (Randy Wirayudha/ Historia.id ). Ratusan yōkai itu dipamerkan dalam 84 benda seni lintas zaman, dari era Kamakura (1185-1333), Zaman Edo (1603-1867), Era Meiji (1868-1912), hingga zaman Shōwa (1926-1989), yang direproduksi tahun 2020 oleh para seniman Jepang. Beberapa benda itu dipinjam dari kolektor, mayoritas dipinjam dari Yumoto Koichi Memorial. Benda-benda seni itu meliputi picture scroll (gambar-gambar lukisan gulung), buku-buku bergambar, dan nishiki-e (lukisan cetak di atas balok kayu). Saking sudah populernya di benak masyarkat Jepang, sosok yōkai juga eksis lewat beragam mainan tradisional bergambar , semisal sugoroku (ular tangga), permainan kartu karuta , ataupun mainan papan omocha-e. “Lucu-lucu setan Jepang ya. Mungkin bagi mereka ( yōkai ) itu seram tapi bagi orang lain (non-Jepang) lucu. Mungkin sama kali kalau orang Jepang ngeliat pocong, lucu, jadi kayak permen,” kata Ragina Oksavinata, salah satu pengunjung pameran. Baca juga: Serba-serbi Superhero Pertama Asia Patung yōkai  yang terkesan seram di sudut ruang pamer. (Randy Wirayudha/ Historia.id ). Namun, kesan itu jelas amat subjektif. Seram-tidaknya yōkai pasti berbeda-beda di benak tiap orang. Patung yōkai setinggi sekira satu meter di salah satu sudut ruang pameran, misalnya, wujudnya berbadan manusia yang hanya mengenakan fundoshi (celana dalam khas Jepang) tapi berkepala seperti kucing bertanduk satu, dan dilengkapi taring-taring tajam. Sepasang matanya pun menonjol keluar. Sosoknya malah mirip (karakter) Doraemon mengidap proptosis. “Tidak semuanya seram. Ada banyak yōkai yang unik walau selama ini saya belum pernah melihat atau bertemu yōkai asli di dunia nyata. Saya sendiri sangat suka Sunekosuri karena yōkai ini sangat imut,” ungkap Tomomi Nishikawa, mahasiswi Kamakura Women’s University tersebut dengan bahasa Inggris via pesan singkat. Baca juga: Khazanah Hantu Indonesia Sunekosuri, kata Tomomi, jauh lebih gemas dan lucu ketimbang patung yōkai di atas. Yōkai yang kisahnya meluas via mulut ke mulut dari Prefektur Okayama itu bukan jenis yōkai jahat. Menurut sejarawan Satou Seimeidalam Current Dictionary of Yōkai Worldwide , wujudnya kadang menyerupai anjing tapi lebih sering menyerupai kucing manis. Ia gemar menggosok-gosokkan tubuhnya ke antara dua kaki setiap manusia yang ditemuinya di manapun, terutama di Kuil Iryō-dōdi Nankaichi yang konon jadi tempat Sunekosuri berasal. “Wujudnya seperti kucing atau anjing. Kata cerita-cerita orangtua, Sunekosuri suka muncul di malam hari pas hujan. Dia memang tidak jahat. Cuma iseng saja mengelus-elus di antara dua kaki. Jadinya kita akan susah untuk jalan,” imbuh Tomomi. Sunekosuri, yōkai  yang dikenal sedikit jahil pada manusia. ( yokai.com /Twitter @ToeiAnimation). Amabie Memperingatkan Pandemi Yōkai juga punya beragam kelakuan. Banyak yang jahil, bahkan jahat, mengingat punya kemampuan supranatural. Namun, ada pula yang ramah. Ada pula yōkai yang muncul sebagai wangsit atau ramalan peringatan karena dikenal akan spiritualitasnya. Salah satu sosoknya bahkan dipercaya masyarakat Jepang hingga saat ini di tengah pandemi. Yōkai ini dipamerkan lewat dua lukisan yang diletakkan dalam sebuah etalase transparan yang terletak di satu seksi tersendiri di ruang pamer Bentara Budaya. Satu berupa gambar ilustrasi dan satu lagi nishiki-e (papan cetakan bergambar) dari zaman Edo dan Meiji. Wujud yōkai itu seperti ikan duyung bersisik dan berkaki tiga dengan kepala mirip burung lengkap dengan paruh dan berhelai-helai rambut panjang terurai. Yōkai ini dikenal dengan Amabie dan kadang disebut Amabiko atau Amahiko, tergantung pengucapan lidah orang-orang di berbagai wilayah Jepang. Baca juga: Menikmati Pameran “Para Sekutu Yang Tidak Bisa Berkata Tidak Ragam benda seni yang dipamerkan di pameran “Yōkai Parade". (Randy Wirayudha/ Historia.id ). Peneliti Arsip Prefektur Fukui, Eishun Nagano, dalam Yogenjū Amabiko kō: Amabiko wo Tegakari ni (terj. Consideration on Prophetic Beast Amabiko: Using Umibiko as Hint ), mengungkapkan asal-usulnya. Menurutnya, penampakan Amabiko pertamakali muncul di Provinsi Higo (kini Prefektur Kumamoto) pada zaman Edo, tepatnya di bulan keempat tahun Kōka ke-3 atau pertengahan Mei 1846 Masehi. Menurut legenda tersebut, Amabie terlihat di laut pada malam. Kemunculannya yang menggegerkan warga diinvestigasi para pegawai kota ke pesisir pantai. Sketsa dari hasil investigasinya menggambarkan rupa Amabie seperti yang disebutkan di atas. “Kemunculannya juga disebutkan membawa ramalan: ‘Panen yang melimpah akan berlanjut selama enam tahun dari sekarang, jika penyakit mewabah, buatlah gambar penampakanku dan tunjukkan gambarku kepada mereka yang jatuh sakit.’ Setelahnya Amabiko itu hilang lagi ditelan air laut,” ungkap Nagano. Baca juga: Kengerian Pandemi Global dalam Lukisan Benda-benda seni yang menggambarkan sosok Amabie. (Randy Wirayudha/ Historia.id ). Wangsit Amabie itu dengan cepat merasuk ke benak masyarakat di Jepang. Terlebih, kemunculannya di tahun 1846 itu bak memperingatkan masyarakat Jepang akan wabah flu 1847-1848. Tak ayal gambar-gambar Amabie bertebaran di berbagai media seni rupa maupun di leaflet, dan suratkabar kala itu. Tetapi sejak era Meiji, sosok Amabie dilupakan. Ia baru mulai diperkenalkan kembali oleh seniman manga (komik/novel bergambar) Mizuki Shigeru ketika menyelipkan sosok Amabie ke dalam serial komik GeGeGe no Kitarō pada 1960-an. Meski begitu, sosok Amabie tak sepopuler sebelumnya. Baca juga: Pesona Carnevale Venezia di Tengah Pandemi Enam dekade berselang, pagebluk Covid-19 menghajar Jepang. Trio seniman manga Chica Umino, Mari Okazaki, dan Toshinao Aoki memanfaatkannya dengan menggambar ulang sosok Amabie. Di bawah naungan Mizuki Production, mereka mengunggahnya ke Twitter pada 17 Maret. Seketika Amabie viral ke seantero Jepang. “Seperti kata penyair Ogden Nash: ‘Di mana ada monster, di situ ada keajaiban.’ Di masa krisis kadang monster bisa menginspirasi. Dari anak-anak sampai orang dewasa di Jepang menggambarnya. Sesuai legendanya, barangsiapa yang melihat gambarnya di tengah pandemi akan pulih dari sakitnya. Saat kota-kota di- lockdown, banyak orang yang percaya dan menggambar sosoknya,” tulis Natasha L. Mikles dan Joseph P. Laycock dalam “Five Further Theses on Monster Theory and Religious Studies” yang tertuang dalam buku Religion, Culture, and Monstrous of Gods and Monsters. Pemerintah Jepang ikut “percaya”. Tren gambar Amibiko dimanfaatkannya untuk menyebarkan pamflet-pamflet atau papan-papan berisi pesan kesehatan yang bertebaran di tempat-tempat publik. Umumnya untuk memperingati warga agar tak keluyuran ke luar rumah jika tak ada urusan mendesak. “Ya, belakangan ini Amabie populer lagi. Saya juga berharap pandemi segera berakhir. Amabie akan mengusir wabahnya,” tandas Tomomi. Picture scroll hingga woodblock printing yang jadi media penggambaran yōkai.  (Randy Wirayudha/ Historia.id ).

  • Dahsyatnya Humor Gus Dur (Bagian 2)

    Meski memerintah dalam waktu singkat (1999-2001), Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, termasuk paling banyak melakukan perjalanan. Entah itu ke dalam maupun luar negeri. Dari keseringannya berkunjung itulah Gus Dur menciptakan lelucon tentang dirinya. “Kalau Bung Karno itu negarawan. Pak Harto itu hartawan. Pak Habibie ilmuwan.” “Kalau Gus Dur, apa Gus,?” “Kalau saya wisatawan,” kata Gus Dur suatu ketika. Lelucon itu dikisahkan Priyo Sambadha Wirowijoyo, mantan asisten pribadi Gus Dur di Sekretariat Negara Biro Pers dan Media, dalam webinar “Merawat Arsip Kepresidenan: Alih Media dari Lensa dan Suara K.H. Abdurahman Wahid 1999-2001” pada 17 Juni 2022. Acara yang diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) itu banyak menampilkan potret Gusdur bersama tokoh-tokoh dunia.    Baca juga:  Dahsyatnya Humor Gus Dur Menurut Priyo, di masa kepresidenan Gus Dur potensi disintegrasi bangsa kuat sekali. Ancaman itu imbas dari kejatuhan Presiden Soeharto. Di sisi lain, faktor negara-negara asing yang punya kepentingan terhadap Indonesia turut diwaspadai. Itulah sebabnya mengapa Gus Dur banyak sekali mengadakan safari mancanegara.   “Itu strategi beliau dalam menjaga integrasi bangsa. Sederhananya, ini negara-negara didekati supaya jangan ganggu Indonesia,” kata Priyo.     Sambut Castro dengan Kulit Kacang Pada tahun 2000, Gus Dur berkunjung ke Kuba dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok. Di sela-sela istirahat, Gus Dur tinggal di Hotel Melia Havana. Di sana Gus Dur tidak meninggalkan kebiasaannya, makan kacang kulit. Usai makan kacang, kulitnya dibuang saja di lantai. Tiba-tiba, datanglah pasukan pengawal presiden. Tidak disangka-sangka, tanpa pemberitahuan, Presiden Fidel Castro menyambangi kamar hotel Gus Dur. “Castro kan badannya tinggi besar. Jadi waktu masuk ke ruang tamu kamar Gus Dur, Castro itu injekin kulit kacang. Castro bingung kok ada kulit kacang,” ujar Priyo. Baca juga:  Sukarno dan Jenggot Fidel Castro Ternyata Fidel Castro sengaja “mengejar” Gus Dur hanya untuk mendengarkan banyolannya. Setelah bertemu, keduanya pun saling guyon. Hampir sejam mereka bercengkrama dalam bahasa Inggris. Pada saat itu, Gus Dur membuat Castro tertawa terbahak-bahak ketika mendengar lelucon tentang presiden-presiden Indonesia.   “Presiden Indonesia itu gila semua,” kata Gus Dur “Kenapa,” tanya Castro “Yang pertama gila wanita, yang kedua gila harta, yang ketiga gila sama teknologi.” “Kalau yang keempat?” ujar Castro “Saya. Yang milih saya ini yang gila,” kata Gusdur sambil nyengir, yang diikuti dengan Fidel Castro ngakak. “Itu guyonan tingkat tinggi level presiden,” kata Priyo. Raja Fahd Kelihatannya Giginya Dalam lawatannya ke Arab Saudi, Gus Dur lagi-lagi bikin heboh. Sebabnya, Gus Dur berhasil membuat orang nomor satu Arab Saudi, Raja Fahd bin Abdul Aziz Al-Saud, tertawa lepas. Bahkan, rakyat Arab Saudi jarang sekali melihat raja mereka mengumbar senyum.     “Raja Fahd itu kan orang serius sekali. Terkesan pemurung. Bukan tipe orang yang mudah senyum,” kata Priyo. Sekali waktu Gus Dur dan Raja Fahd mengadakan pertemuan bersama menteri masing-masing. Pada satu kesempatan, Gus Dur dan sang raja saling melempar guyon dalam bahasa Arab. Waktu Gus Dur sedang bercanda, Raja Fahd dan menteri-menterinya dibuat tertawa. Balik giliran Raja Fahd menyampaikan sesuatu yang lucu dengan panjang lebar. Namun, yang menyambut dengan gelak hanya Presiden Gus Dur dengan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab. Baca juga:  Gus Dur yang Poliglot Kebanyakan menteri-menteri Gus Dur tidak memahami bahasa Arab. Secara singkat, Gus Dur kemudian menerjemahkan lelucon Raja Fahd kepada menteri-menterinya. Mereka semua pun tertawa terbahak-bahak sampai membuat Raja Fahd terheran-heran.     “Loh, itu cerita saya panjang, tapi yang mulia ceritakan ke menteri-menteri cuma pendek begitu. Yang mulia cerita apa ke menteri-menterinya?” ujar Raja Fahd. Kepada Raja Fahd, Gus Dur mengatakan terjemahan yang disampaikannya kepada para menterinya. “Yang Mulia Raja Fahd sedang melucu, silahkan tertawa,” kata Gusdur. Mendengar itu, raja Fahd terpingkal-pingkal sampai giginya kelihatan. Baca juga:  Hubungan Gus Dur dan Yahudi Setelah kejadian itu, hubungan diplomasi Indonesia dengan Arab Saudi makin dekat. Duta besar Indonesia untuk Arab Saudi bahkan melaporkan pemberitaan media yang mengucapkan terimakasih kepada Presiden KH. Abdurrahman Wahid. “Rakyat Saudi Arabia bisa melihat giginya Raja Fahd,” demikian pemberitaan media. Selalu Ditunggu Media Gus Dur punya kebiasaan berpidato tanpa teks tapi ingatannya sangat tajam. Jadi, kata Priyo, apa yang hendak disampaikan Gus Dur ke publik, hanya dirinya dan Tuhan saja yang tau. Namun, hal ini pula yang selalu membuatnya tegang, apabila Gus Dur berbicara dengan wartawan, terlebih wartawan asing.   “Selalu ada kejutan-kejutan dari Beliau. Dan itu sangat ditunggu oleh media. Entah itu ucapan atau pidato Gus Dur,” ujar Priyo. Baca juga:  Sinta Nuriyah Berkisah tentang Gus Dur Menurut Achmad Dedi Faozi, arsiparis ANRI, ada ribuan foto Gus Dur yang tersebar di luar negeri. Sebanyak 1032 nomor di Amerika Serikat, 256 nomor di Prancis, 267 nomor di Mesir, 825 nomor di India, 203 nomor di Australia. Foto-foto tersebut kini masuk khazanah arsip “Abdurrahman Wahid” koleksi ANRI, yang meliputi  7018 arsip foto, 296 kaset rekaman suara 6 kaset video yang dapat diakses masyarakat.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page