top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Duka Desa Tantura di Palestina

    Rencana Israel mendirikan 4000 rumah di Tepi Barat menuai protes. Melalui Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri Jalina Porter, pemerintah Amerika Serikat (AS) mengecam rencana yang akan dimulai pada 12 Mei mendatang itu. Pembangunan itu dikhawatirkan akan memperburuk ketegangan yang telah meningkat sejak sebulan terakhir antara Israel dan Palestina. “Program Israel untuk memperluas permukiman sangat merusak prospek dari solusi dua negara,” ujarnya kepada Alarabiya yang dikutip cnnindonesia , 8 Mei 2022. Meski begitu, pemerintah Israel bergeming. Komite Perencanaan Israel, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia , tetap akan bersidang pada pekan ini untuk menyetujui pembangunan 4000 rumah khusus untuk Yahudi di Tepi Barat itu. “Permukiman Israel merupakan kompleks perumahan khusus Yahudi yang dibangun di atas tanah Palestina yang melanggar hukum internasional. Setidaknya sekitar 600-750 ribu pemukim Israel tinggal di sana, dengan rincian sekitar 250 pemukiman ilegal yang tinggal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur,” demikian kata CNN Indonesia yang mengutip Aljazeera . Apa yang dilakukan Israel bukanlah hal baru. Menurut sejarawan Israel Ilan Pappe, pencaplokan tanah di Palestina memang menjadi tujuan utama Zionis sejak sebelum mendirikan Israel. “Zionisme muncul pada akhir 1880-an di Eropa tengah dan timur sebagai gerakan kebangkitan nasional, didorong oleh meningkatnya tekanan pada orang-orang Yahudi di wilayah tersebut baik untuk berasimilasi secara total atau berisiko melanjutkan penganiayaan (walaupun, seperti yang kita ketahui, bahkan asimilasi lengkap bukanlah perlindungan terhadap pemusnahan dalam kasus Nazi Jerman). Pada awal abad kedua puluh, mayoritas pemimpin gerakan Zionis mengaitkan kebangkitan nasional ini dengan penjajahan Palestina. Lainnya, terutama pendiri gerakan, Theodor Herzl, lebih ambivalen, tetapi setelah kematiannya, pada 1940, orientasi terhadap Palestina tetap dan konsensual,” ujar Ilan Pappe dalam bukunya, The Ethnic Cleansing of Palestine. Upaya para pemimpin Zionis awal itu berangkat dari penafsiaran mereka terhadap ajaran agama Yahudi tentang “tanah yang dijanjikan”. “Eretz Israel, nama Palestina dalam agama Yahudi, telah dihormati selama berabad-abad oleh generasi bergenerasi Yahudi sebagai tempat ziarah suci, tidak pernah sebagai negara sekuler masa depan. Tradisi dan agama Yahudi dengan jelas menginstruksikan orang Yahudi untuk menunggu kedatangan Mesias yang dijanjikan pada ‘akhir zaman’ sebelum mereka dapat kembali ke Eretz Israel sebagai bangsa berdaulat dalam teokrasi Yahudi, yaitu sebagai hamba-hamba Tuhan yang taat (ini mengapa kini beberapa aliran Yahudi Ultra-Ortodoks adalah non atau anti-Zionis). Dengan kata lain, Zionisme mensekularisasikan dan menasionalisasikan Yudaisme. Untuk mewujudkan proyek mereka, para pemikir Zionis mengklaim wilayah alkitabiah dan menciptakannya kembali, bahkan menemukannya kembali, sebagai tempat lahir gerakan nasionalis baru mereka. Seperti yang mereka lihat, Palestina diduduki ‘orang asing’ dan harus diambil alih. ‘Orang asing’ di sini berarti semua orang bukan Yahudi yang telah tinggal di Palestina sejak zaman Romawi. Faktanya, bagi banyak Zionis Palestina bahkan bukan tanah yang ‘diduduki’ ketika mereka pertama kali tiba di sana tahun 1882, melainkan tanah yang ‘kosong’: penduduk asli Palestina yang tinggal di sana mayoritas tidak terlihat oleh mereka atau, jika tidak, adalah bagian dari kesulitan alam dan dengan demikian harus ditaklukkan dan dihilangkan. Tidak ada, baik karang maupun orang Palestina, yang menghalangi ‘penebusan’ nasional tanah yang didambakan gerakan Zionis.” Akibat dari upaya mewujudkan keyakinan itu, konflik antara para Yahudi imigran (Zionis) dengan para penduduk Arab di Palestina, yang sejak 1917 berada di bawah “Perwalian” Inggris, kerap terjadi. Bahkan, masyarakat Arab sampai dua kali mengadakan pemberontakan terhadap otoritas Inggris yang mereka anggap “berat sebelah” dalam menangani masalah penduduk Arab dan Zionis. Para Zionis tidak pernah surut dalam obsesi mereka mendirikan “Rumah nasional” Yahudi. Terlebih setelah Konferensi Zionisme Internasional di Hotel Biltmore, New York, pada 9-11 Mei 1942, melahirkan Biltmore Program (BP). Dua hal terpenting dari BP yakni perlunya segera menerapkan tujuan awal Deklarasi Balfour –merupakan pernyataan resmi pemerintah Inggris yang dikeluarkan Menlu Arthur Balfour sebagai dukungan terhadap upaya pendirian “Rumah nasional” bagi Yahudi– dan peningkatan imigrasi Yahudi ke Palestina yang tidak terbatas. “Terlepas dari beberapa perbedaan pendapat internal, sering kali didasarkan pada dukungan untuk resolusi dua negara dengan orang-orang Arab Palestina, Program Biltmore dengan cepat diterima sebagai platform gerakan Zionis,” tulis Kylie Baxter dan Shahram Akbarzadeh dalam US Foreign Policy in the Middle East: The Roots of Anti-Americanism. Usai PD II, Zionis telah siap mewujudkan pendirian “Rumah nasional” mereka. Keputusan PBB yang –mengambilalih penangangan Palestina usai Inggris mundur dari wilayah itu pada Februari 1947– memilih opsi membagi Palestina menjadi dua –untuk Arab dan Zionis– sebagai langkah pemecahan bahkan tidak mereka indahkan hingga membuahkan penyerangan terhadap basis-basis Arab mulai akhir 1947. Kemanangan milisi-milisi Zionis dalam pertempuran pada awal 1948 makin meningkatkan kepercayaan diri mereka. Taktik baru yang semakin agresif kemudian dibuat dan diterima pada Maret 1948, dikenal sebagai Plan Dalet. “Plan Dalet, juga dikenal sebagai Rencana D, adalah operasi militer Zionis yang sangat disayembarakan pada periode pra-negara. Bagi Zionis, Rencana D adalah tindakan pertahanan agresif yang bertujuan untuk mengamankan wilayah yang dialokasikan untuk orang-orang Yahudi di bawah Resolusi 181. Orang-orang Arab mengidentifikasi Rencana D sebagai upaya Zionis untuk mengambil alih tanah mereka. Tujuan dari Rencana D termasuk penakukan desa-desa Arab, sebuah taktik yang sebelumnya tidak pernah dicoba oleh Haganah. Akar pengungsi Palestina dapat ditelusuri kembali ke periode ini, sebelum Perang Mei 1948,” sambung Kylie dan Shahram. Usai menyerang Desa Deir Yassin dan membantai penduduknya pada April 1948, milisi-milisi Zionis terus melanjutkan serangan-serangan ke berbagai pedesaan Arab di Palestina. Pada 15 Mei 1948, sehari setelah Israel dideklarasikan, beberapa Zionis intel Batalyon ke-33 Alexandroni dari Haganah –milisi terbesar Zionis yang kemudian dijadikan Tentara Nasional Israel– bertemu dengan beberapa tokoh Desa Tantura. Baca juga:  Nasib Tragis Desa Palestina yang Dibantai Zionis Tantura merupakan desa pesisir Palestina kuno yang cukup besar. Terletak di pantai Mediterania antara Tel Aviv-Haifa, Tantura saat itu punya sekitar 1500 penduduk. Penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, nalayan dan pekerja di bidang perikanan, serta pekerja kasar. Bagi Zionis, Tantura ibarat duri dalam daging lantaran masih dikuasai orang-orang Arab. Dalam rencana operasi untuk membebaskan wilayah-wilayah Zionis yang terisolasi, Tantura termasuk di dalam jalur yang akan dilewati. Alexandroni juga memiliki seorang kolaborator di Tantura sehingga memungkinkan mereka mendapatkan arsip desa. Dalam pertemuan dengan beberapa tokoh Tantura pada 15 Mei 1948 itulah beberapa intel Alexandroni menawarkan para tokoh itu agar menyerah. Namun tawaran itu ditolak. Akibatnya, Tantura dijadikan daftar desa yang harus direbut. Pada 22 Mei malam menjelang tanggal 23, milisi-milisi Alexandroni di bawah pimpinan Shimshon Mashvits menyerang Tantura dari empat penjuru desa untuk menciptakan pintu tertutup bagi penduduk yang akan melarikan diri. Namun, mereka mendapat perlawanan gigih dari para penduduk. “Selama pertempuran sepanjang malam, penduduk desa melakukan perlawanan keras, membunuh 13 tentara Alexandroni dan seorang pelaut sebelum menyerah. Lebih dari 70-an penduduk desa meninggal,” tulis sejarawan Benny Morris dalam 1948: A History of the First Arab-Israeli War . Adanya korban di pihaknya membuat Alexandroni mengamuk dan membalas dendam begitu mereka merebut Tantura. Pembunuhan langsung dilakukan di rumah-rumah penduduk kendati para penjaga desa telah mengibarkan bendera putih sebelumnya. Pembunuhan itu baru berhenti ketika Yaacov Epstein, kepala permukiman Zihron Yaacov, tiba dan menghentikan pembunuhan tersebut. Penduduk hidup kemudian ditangkapi dan digiring ke pantai. Tawanan pria dipisahkan dari tawanan perempuan dan anak-anak. Para tawanan di pantai diperintahkan duduk sambil menunggu kedatangan Mashvits. Begitu Mashvits tiba disertai seorang kolaborator lokal, pemilihan tawanan untuk dikelompokkan ke dalam kelompok-kelompok kecil langsung dilakukan berdasarkan daftar nama yang dimiliki Mashvits atau mereka yang terlibat dalam pemberontakan tahun 1936, memiliki kontak dengan mufti Palestina, atau siapa saja yang pernah menyerang orang Yahudi. Semua pria yang dipilih berusia antara 10 hingga 50 tahun. Mereka dibawa ke tempat lebih jauh di pantai. Satu per satu diinterogasi tentang keberadaan gudang senjata yang diyakini keberadaannya oleh Zionis. Begitu menjawab tidak tahu, orang yang diinterogasi langsung ditembak di tempat. Mengutip kesaksian seorang aparat yang terlibat, Ilan Pappe menggambarkan bahwa pembunuhan di pantai itu juga merupakan ajang balas dendam pribadi. Itu dibuktikan dari banyaknya prajurit Zionis yang mendatangi Mashvits dan memberitahunya bahwa sanak-saudaranya tewas dalam pertempuran sebelumnya. Respon sang komandan adalah perintah mengumpulkan pria tawanan ke dalam kelompok berisi lima-tujuh orang lalu mengeksekusi mereka. Prinsip Mashvits jelas, untuk satu nyawa saudara Zionis yang tewas, mesti diganti dengan lebih banyak nyawa orang Arab. Abu Masyekh, penduduk asal Qisarya yang tinggal di Tantura, menyaksikan bagaimana kekejaman itu terjadi. Dengan mata-kepalanya sendiri dia melihat eksekusi 85 pemuda Tantura di permakaman dan masjid-masjid. Dia ingat betul operasi itu diawasi seluruhnya oleh Mashvitz yang bersenjata stengun. “Mereka berdiri di samping tembok, semuanya menghadap tembok. Dia (Mashvitz, red .) datang dari belakang dan menembak mereka di kepala,” ujarnya, dikutip Ilan Pappe. Saksi lain, Mahmud Abu Salih, melihat tujuh pria dari keluarganya tewas dieksekusi. Pria yang saat kejadian berusia 17 tahun itu kemudian berrelasi dengan salah satu anak korban yang kemudian menjadi gila karena melihat ayahnya dieksekusi di depannya. Kengerian juga diingat betul oleh Mustafa Abu Masri. Karena usianya baru 10 tahun saat kejadian, Masri dikelompokkan ke dalam kelompok perempuan dan anak-anak sehingga dia selamat. Dia menyaksikan selusin saudaranya ditembak para milisi Zionis. Eksekusi terhadap saudara-saudaranya itu bermula dari ayahnya yang menitipkan keluarganya kepada seorang perwira Zionis yang dikenal baik dan dipercayai keluarga mereka. Begitu mereka pergi bareng perwira itu, mereka dieksekusi. Ayahnya dieksekusi juga kemudian. Usai eksekusi, Mashvitz memerintahkan beberapa orang Palestina, termasuk tetua desa Abu Fihmi, untuk mengidentifikasi mayat-mayat. Mashvitz juga memerintahkan dua orang Palestina menggali kuburan massal di bawah pengawasan Mordechai Sokoler, orang Yahudi asal Zikhron Yaacov yang traktornya ikut dipinjam untuk penggalian itu. Begitu selesai diidentifikasi, mayat-mayat itu diangkut gerobak ke kuburan massal itu dan dimakamkan. Kendati banyak yang menyebut jumlah korban pembantaian itu 110 orang, Sokoler mengatakan dalam testimoninya pada 1999 bahwa jumlah korban jiwa sebanyak 230 orang. “Saya meletakkannya satu per satu di kuburan,” ujarnya, dikutip Pappe. “Yang terjadi di Tantura adalah eksekusi sistematis terhadap para pemuda berbadan sehat oleh tentara Yahudi dan perwira intelijen,” ujar Pappe.

  • Parade Kemenangan Perang di Lapangan Merah

    GEMA kemenangan perang diserukan lagi di Lapangan Merah, Moskow, Rusia. Dalam parade kemenangan Perang Patriotik atau Perang Dunia II, Senin (9/5/2022) waktu setempat, Presiden Rusia Vladimir Putin memanfaatkan momentum nostalgia 77 tahun lampau itu untuk menggelorakan operasi militernya ke Ukraina yang masih berlangsung sejak Februari 2022. “Hari ini, prajurit-prajurit kita, sebagaimana leluhur mereka, tengah bahu-membahu untuk membebaskan tanah airnya dari Nazi yang kotor dengan kepercayaan diri, sebagaimana di tahun 1945, kemenangan akan jadi milik kita,” ujar Putin, dikutip laman kepresidenan Rusia , Minggu (8/5/2022). Parade kemenangan kali ini akan terasa berbeda dengan masih berkecamuknya konflik Ukraina-Rusia. Terlebih, sejak awal Putin berdalih bahwa operasi militernya adalah untuk membebaskan Ukraina dari pengaruh neo-Nazi. “Hari ini, kewajiban bersama kita adalah mencegah kebangkitan Naziisme yang menciptakan penderitaan besar bagi manusia di negara-negara berbeda. Menjadi penting bagi kita untuk melestarikan dan menyampaikan kebenaran kepada anak cucu kita tentang peristiwa-peristiwa itu di masa perang, serta nilai-nilai spiritual dan tradisi bersama atas nama persahabatan,” sambungnya. Parade militer itu digelar sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain memamerkan alutsista-alutsista serupa yang dipakai di Ukraina, delapan jet tempur MiG-29 juga melesat di langit Kremlin dengan membentuk formasi “Z” sebagai simbol operasi militer khusus. Baca juga: Jejak Nazi di Ukraina Presiden Rusia Vladimir Vladimirovich Putin dalam Parade Hari Kemenangan ke-77 di Lapangan Merah ( kremlin.ru ) Pasukan Asing dan Panji-Panji Jerman Parad Pobedy v Moskve  atau Parade Hari Kemenangan di Moskow tahun ini mengingatkan kita pada parade perdananya 77 tahun lampau. Parade militer di Lapangan Merah perdana yang dihelat atas perintah pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin itu digelar perdana pada Juni, sebulan setelah kapitulasi Jerman di Perang Dunia II. Berbeda dari Sekutu yang menerima kapitulasi Jerman pada 7 Mei 1945 di Reims, Uni Soviet baru meresmikan kapitulasi serupa di Berlin pada 8 Mei 1945 pukul 11.01 malam (9 Mei 1945 dini hari waktu Moskow). Stalin tak mengakui kapitulasi 7 Mei. “Hari ini (7 Mei) di Reims, Jerman menandatangani penyerahan tanpa syarat. Padahal rakyat Sovietlah yang memainkan kontribusi utamanya, bukan Sekutu. Oleh karenanya kapitulasi haruslah diteken di hadapan panglima tertinggi semua negara koalisi anti-(Adolf) Hitler dan bukan hanya di hadapan panglima tertinggi Sekutu. Saya juga tidak setuju karena penyerahan itu tidak dilakukan di Berlin yang merupakan pusat dari agresi Nazi. Kami hanya menyetujui protokol Reims dengan Sekutu sekadar sebagai pendahuluan,” ungkap Stalin, dikutip sejarawan Universitas Moskow, Nikolai Sivachev dan Nikolai Yakovlev, dalam Russia and the United States: U.S.-Soviet Relations from the Soviet Point of View. Baca juga: Prahara Kharkiv Atas dasar itulah Soviet meminta Jerman untuk kembali membubuhkan tinta hitam di atas kertas putih sebagai penyerahan tanpa syarat di Berlin-Karlhorst, 8 Mei malam. Prosesinya dihadiri Panglima Oberkomando der Wehrmacht (OKW) Marsekal Wilhelm Keitel di pihak Jerman dan Panglima Tentara Merah Marsekal Georgy Zhukov yang mewakili pihak Sekutu serta disaksikan Jenderal Carl Spaatz dan Jenderal Jean de Lattre de Tassigny yang mewakili Pasukan Ekspedisi Sekutu. Selang sebulan, lewat Perintah Nomor 370 Stalin memerintahkan parade pasukan di Lapangan Merah pada 24 Juni 1945. Stalin memerintahkan parade diikuti semua perwakilan pasukan yang terlibat di Perang Dunia II. “Untuk menandai kemenangan atas Jerman dalam Perang Patriotik, saya memerintahkan sebuah parade pasukan Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Garnisun Moskow di Lapangan Merah Moskow. Pasukan yang berbaris harus berasal dari kombinasi resimen semua front, kombinasi resismen Komisariat Pertahanan Rakyat Nasional, AL Soviet, akademi dan sekolah militer, dan pasukan Garnisun Moskow dan Distrik Militer,” seru Stalin dalam perintah tertulisnya. Kapitulasi Jerman terhadap Sekutu di Berlin pada 8 Mei 1945 (Bundesarchiv) Stalin mempercayakan Marsekal Zhukov sebagai inspektur parade, dibantu Marsekal Konstantin Rokossovsky sebagai komandan paradenya. Keduanya diharapkan bisa bekerjasama dengan Kolonel Jenderal Pavel Artemyev yang akan mengatur dan mensupervisi setiap personil yang berpartisipasi. “Stalin mulanya berharap memimpin sendiri parade itu tetapi batal setelah ia terjatuh dari kudanya saat latihan berkuda secara rahasia. Ia cukup menyaksikan Zhukov dari mausoleum memimpin parade,” ungkap Caroline Brooke dalam Moscow: A Cultural History. Baca juga: Badai Tentara Merah Menyapu Pasukan Baja Jerman Untuk mengikuti parade tersebut, para partisipannya dilatih baris-berbaris setiap pukul 4 hingga 8 pagi selama 15 hari di berbagai institusi militer. Seragamnya, sebagaimana dikutip Marius Broekmeyer dalam Stalin, The Russians, and Their War, dibuatkan ribuan seragam baru oleh sejumlah penjahit di Lodz, Polandia. Para jenderal dan marsekal diberi seragam berbeda, yakni berwarna hijau laut sebagaimana di era Kekaisaran Rusia. Kendati hujan ringan mengguyur langit Moskow pada pagi, 24 Juni 1945, ratusan ribu penduduk tetap menyesaki sekitar Lapangan Merah yang sudah semarak dengan panji-panji berwarna merah dan spanduk yang menampilkan potret Stalin dan Vladimir Lenin. Kolase parade Hari Kemenangan 24 Juni 1945 yang dipimpin Marsekal Georgy Konstantinovich Zhukov ( mamm-mdf.ru ) Tepat pukul 10 pagi, Stalin dan rombongan tiba di balkon Mausoleum Lenin, menandakan parade dua jam itu dimulai. Lagu kebangsaan Uni Soviet hingga musik-musik patriotik yang dimainkan Garnisun Moskow dan unit-unit band NKVD serta sekolah-sekolah militer pimpinan Mayjen Semyon Tchernetsky mengiringi pembukaan parade. Sekitar 40 ribu serdadu Tentara Merah yang berbaris di unit masing-masing turut berpartisipasi. Dari kontingen angkatan darat turut dihadirkan resimen-resimen Tentara Merah front Karelia, Leningrad, Baltik, Belarusia, dan Ukraina. Sementara kontingen angkatan laut dan angkatan udara diwakili prajurit-prajurit Armada Utara, Armada Baltik, Armada Laut Hitam, dan batalyon kombinasi akademi teknis AL MV Frunze. Selain serdadu, sekitar 1.850 alutsista darat turut dikerahkan unit-unit kavaleri dan artileri. Baca juga: Saling Tuding Hitler-Stalin dalam Pembantaian Katyń Menariknya, parade kemenangan perdana itu turut mengundang satu unit pasukan asing, yakni Kompi Panji Pengawal Ke-1 AD Polandia. Pasukan asing itu dipimpin Kepala Staf Umum AD Polandia Jenderal Władisław Korczyc. “Tentara Rakyat Polandia adalah satu-satunya pasukan sekutu (Tentara Merah) yang ambil bagian dalam Pertempuran Berlin (16 April-2 Mei 1945), dan bendera Polandia turut dikibarkan berdampingan dengan bendera Soviet di atas reruntuhannya. Maka pasukan Polandia pun ikut serta dalam Parade Kemenangan di Lapangan Merah, berdasarkan Pakta Persahabatan, Bantuan Bersama, dan Kerjasama Pascaperang yang ditandatangani antara Uni Soviet dan Polandia pada 21 April 1945,” ungkap jurnal Social Sciences , Volume 39 terbitan USSR Academy of Sciences tahun 2008. Aneka bendera, panji, dan pataka Nazi yang dibawa serta dalam parade (Russian Military Historical Society/mamm.mdf.ru) Dalam parade kemenangan perdana itu juga dihelat prosesi “penistaan” panji-panji tempur dan kavaleri Jerman. Sebanyak 201 panji setingkat batalyon hingga divisi infantri maupun kavaleri reguler maupun SS (Schutzstaffel/Paramiliter) Jerman yang direbut dalam berbagai pertempuran, dibawa oleh barisan Separate Operational Purpose Division (ODON) NKVD. Selain itu, turut dibawa pula pataka milik Divisi Lapis Baja SS Ke-1 LSSAH (Leibstandarte SS Adolf Hitler), divisi sohor Jerman yang melibas musuh-musuhnya dalam invasi ke Polandia, Prancis, Balkan, dan Soviet. Divisi itu menemui ajalnya di Pertempuran Berlin. “Marsekal Zhukov dari atas kuda putihnya meniup peluit pertanda ratusan bendera, panji, dan pataka Jerman itu dilemparkan ke dasar tangga mausoleum, menandakan Jerman bertekuk lutut di bawah kaki Stalin,” imbuh Brooke. Baca juga: Swastika, Lambang Mulia yang Dicemari Nazi Akan tetapi setelah parade perdana itu, gelaran parade vakum selama dua dekade. Yang ada hanya sekadar parade bersama Uni Soviet, Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris di Berlin, Jerman Timur pada 9 Mei 1946. “Sesudah parade Juni 1945, tidak ada parade Hari Kemenangan lagi sampai 1965 dan sejak 1965 parade-parade ini juga hanya dihelat setiap lima tahun sekali. Pasca-kejatuhan Soviet, para pemimpin Rusia memperingatinya setiap tanggal 9 Mei dengan beraneka format. Semisal pada 1992 saat Rusia yang baru merayakan Hari Kemenangan, tidak ada upacara khusus. (Presiden Rusia, Boris) Yeltsin sekadar meletakkan karangan bunga di Pemakaman Prajurit Tak Dikenal dekat Kremlin sebelum bergabung dalam perayaan informal di Gorky Park bersama para veteran,” ungkap Olga Malinova dalam “Political Uses of the Great Patriotic War in Post-Soviet Russia from Yeltsin to Putin” yang termuat di buku War and Memory in Russia, Ukraine, and Belarus. Baru pada 1995 Presiden Yeltsin menetapkan Parade Hari Kemenangan dihelat rutin setiap tahun. Tidak hanya di Moskow tapi juga di Leningrad (kini St. Petersburg). “Presiden pertama Rusia itu tidak pernah menginterpretasikan momen itu berhubungan dengan sistem (politik) kenegaraan dan sosial seperti pendahulunya. Ia memilih mengagungkan momen itu sebagai penhormatan kepada rakyat yang memenangkan perang. Bahwa hari itu merupakan simbol dari keberanian, pengorbanan, dan patriotisme para prajurit, jenderal, pelaut, pilot, hingga para buruh dan partisan,” lanjut Malinova. Di masa Putin, ada yang berbeda. Yang paling kentara adalah dikumandangkan kembali lagu kebangsaan Soviet yang diubah lirik dan judulnya, “Gosudarstvennyy gimn SSR” menjadi “Gosudarstvennyy Gimn Rossiyskoy Federatsii”. Lagu kebangsaan ini sempat ditanggalkan sejak 1900-2000 dan digantikan “Patrioticheskaya pesnya”. “Narasi historis baru dalam retorika Putin dalam parade itu menonjolkan nilai-nilai ‘seribu tahun’ Rusia sebagai elemen sentral identitas nasional. Bendera triwarna (putih-biru-merah) dan lambang (elang berkepala dua) menyimbolkan warisan Kekaisaran Romanov. Tetapi di sisi lain seringkali pidatonya dikaitkan dengan ketangguhan sebuah bangsa yang bertahan dalam ujian Perang Dunia II, modernisasi, dan berbagai aspek kemajuannya dalam posisi di tataran dunia,” tandas pakar politik Universitas HSE Moskow tersebut. Baca juga: Di Balik Sepakbola di Lapangan Merah

  • Menakar Sejarah Timbangan

    Menurut kepercayaan Mesir kuno, setelah mati, manusia akan ditimbang hatinya untuk menentukan masuk surga atau neraka. Dalam papirus Hunefer di era Mesir kuno, sekira 1275 SM, dilukiskan jantung seorang manusia ditimbang di hadapan dewi keadilan Maat yang membawa bulu kebenaran. Jika berat jantung lebih ringan atau sama berat dengan bulu Maat, pertanda almarhum menjalani kehidupan yang saleh dan berhak masuk surga. Papirus itu juga menggambarkan sebuah timbangan dengan dua lengan beban dan sebuah titik tumpu di tengahnya. Seiring perkembangan peradaban, sukatan atau timbangan menjadi bagian tak terpisahkan dalam aktivitas ekonomi. Setiap wilayah memiliki model timbangan masing-masing; begitu pula satuan ukurannya. Ia mengalami perubahan seiring waktu. Struktur Timbangan Ada dua model yang dominan dalam perkembangan timbangan: model timbangan gantung dan dacin. Keduanya mengandalkan prinsip tuas untuk mendapatkan keseimbangan antara beban dan penanda nilai bobot yang ditimbang. Kemunculan timbangan elektrik tak menggusur keduanya. +  5000 SM  Mesir kuno dan Babylonia sudah menggunakan timbangan sederhana terbuat dari kayu. Ia menjadi dasar dari semua timbangan model tuas. +  400 SM Kekaisaran Rusia sudah menggunakan timbangan Bismar. Di Rusia ia disebut Bezmen . Kendati kurang akurat, penggunaannya meluas ke Eropa. Baca juga:  Asal-Usul Waktu +  200 SM Romawi kuno menggunakan timbangan dacin yang disebut statera . Terbuat dari perunggu, ia lebih akurat. 322-185 SM  Dinasti Maurya di India memiliki timbangan yang disebut vyavaharika  dengan satuan berat palas . Mereka punya seorang pejabat tinggi yang disebut Pautavadhyaksa  untuk menangani ketelitian timbangan dan ukuran barang. 1669  Gilles Personne de Roberval, matematikawan Prancis, mengembangkan timbangan dengan dua lengan dan enam titik poros, yang berfungsi agar piring timbangan tetap mendatar. Baca juga:  Asal-Usul Setrika 1698 Christof Weigel dari Jerman membuat timbangan model pegas. 1763  Philipp Matthäus Hahn dari Jerman mengembangkan timbangan pendulum. 1770 Richard Salter dari Inggris mengembangkan timbangan model pegas.   +  1940  Timbangan elektrik mulai berkembang di Amerika Serikat. Satuan Berat Selain timbangan, setiap mengukur sesuatu perlu adanya satuan pengukurnya. Romawi kuno memperkenalkan libra pondo sebagai istilah pengukuran berat; libra merujuk pada timbangan dan pondo mengacu pada berat. Pondo di era modern menjadi pound (lb). Inggris dan Belanda termasuk negara yang menggunakan pound. Satuan Unit Internasional 1668 Royal Society , perkumpulan ilmuwan di Inggris, menerbitkan tulisan John Wilkins berjudul “An Essay Towards a Real Character and a Philosophical Language” yang menyinggung pentingnya ukuran universal. 1799 Satuan unit meter dan kilogram mulai diperkenalkan di Prancis –kelak jadi dasar decimal pada Sistem Metrik Internasional. Baca juga:  Asal-Usul Sunat 1875 Sebanyak 17 negara menandatangani Konvensi Meter ( la Convention du Metre ), sebuah perjanjian internasional yang bertujuan mencari dan menyeragamkan satuan ukuran dan timbangan. 1889 Konferensi Umum untuk Ukuran dan Timbangan ( la Conference Generale des Poids et Mesures ) yang dihelat di Prancis menetapkan ukuran meter, kilogram, dan detik –kemudian disebut dengan sistem CGS atau centi-gram-second system . Penerapan di Indonesia Sebagai koloni Belanda, Hindia Belanda mengikuti sistem satuan dalam ukuran, takaran, timbangan, dan perlengkapannya di negara induk. Satuan berat tradisional masih dipakai penduduk Hindia Belanda seperti tail (setara 38 gram), kati (750 gram), bantal (15 kilogram), dan pikul (75 kilogram). 1816 Belanda menggunakan Sistem Metrik Internasional dengan modifikasi seperti 1 pond = 1 kilogram, 1 ons = 100 gram, dan 1 mijl = 1 kilometer –disebut sistem metrik Belanda. Empat tahun sesudahnya, aturan ini mulai diajarkan di sekolah-sekolah Hindia Belanda. Baca juga:  Asal-Usul Alat Tulis 1937 Sistem Metrik di Belanda berubah melalui Ijk-wet 1937 di mana satuan imperial seperti ons , pond , dan mijl dilarang pengunaannya secara formal. Perubahan ini diperkenalkan di Hindia Belanda setahun kemudian beserta pelarangan satuan sistem tradisional. 1960 Indonesia menggabungkan diri dengan Konvensi Meter. 1981 Terbit UU No 2/1981 tentang Metrologi Legal, yang mengatur alat-alat ukur, takaran, timbangan, dan perlengkapannya sesuai sistem internasional, termasuk penggunaan kilogram untuk satuan dasar besaran massa. Sumber : A Chronological History of the Modern Metric System oleh Pat Naughtin, Basic Weighing and Measuring Principle oleh Gary Castro; Scales and Balances: A Guide to Collecting oleh John Thomas Graham.

  • Saltik Tiket

    Musni Umar, rektor Universitas Ibnu Chaldun, melakukan tipo atau saltik (salah ketik) saat membuat cuitan untuk mengkritisi mahalnya tiket pesawat Jakarta-Aceh yang mencapai Rp9,6 juta. Maksudnya kata tiket , malah salah ketik menjadi toket . Toket  pun trending topic . “Mahal sekali. Pantas diprotes. Ada warga Aceh yang siasati mahalnya toket Aceh-Jkt. Kalau mau ke Jakarta lewat KLAI Malaysia baru ke Jakarta. Katanya jauh lebih murah,” cuit @musniumar  (29/4). Kesalahan satu huruf membuat arti kata berubah jauh. Tiket adalah karcis kapal, pesawat terbang, dan sebagainya. Sedangkan toket adalah tetek, susu, dan payudara. Kata toket  tak ada dalam KBBI karena kata ini adalah bahasa prokem yang muncul pada 1980-an. Baca juga:  Asal-Usul Pengamen Menurut Prathama Rahardja dan Henri Chambert-Loir   dalam Kamus Bahasa Prokem , bahasa prokem sebagaimana dapat direkam di kalangan mahasiswa dan di kalangan preman di Jakarta terdiri atas sejumlah kata yang kebanyakan merupakan kata jadian berdasarkan kata-kata Indonesia/Jakarta biasa.  “Sebagian besar kata prokem (sekitar seperempatnya) dibentuk dengan imbuhan -ok- . Sistem -ok-  itu sebenarnya mudah. Bagian akhir kata asal dibuang ( apokope  namanya) dan suku kata sebelumnya disisipi imbuhan -ok- . Sebagai contoh, bapak  menjadi bap  [ ak  dihilangkan, bap  disisipi imbuhan -ok- ] menjadi bokap ,” tulis Prathama dan Henri. Baca juga:  Mengorek Ngondek Jeremy Wallach dalam Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia, 1997–2001 , menyebut bahwa bahasa prokem disebut juga bahasa okem .  Kata prokem  sebenarnya untuk preman (kata preman  menjadi  prem [ an  dihilangkan] disisipi imbuhan -ok- menjadi prokem ). Preman muda dianggap sebagai pencetus gaya bicara ini, meskipun lebih sering dikaitkan dengan siswa sekolah menengah dan mahasiswa. Radio berperan dalam mempopulerkan bahasa prokem. Seperti acara Warkop Prambors. “Abis siaran kita kemek dulu ya. Ada berkat dari menu kelebihan katering nyokap  tadi malam,” kata Indrojoyo Kusumonegoro, mahasiswa Universitas Pancasila, yang baru saja bergabung dengan Warkop. “Saat itu kami sudah siaran memakai bahasa prokem,” kata Indro dalam Warkop: Main-main Jadi bukan Main . “Makan menjadi kemek , duit menjadi dokat , pulang menjadi poskul , bini menjadi bokin , kawin menjadi weke , pacaran menjadi cepere , perawan menjadi perokaw , sekolah menjadi sekokul , tidur menjadi gintur , jalan-jalan menjadi lojing-lojing , berak menjadi boker , kerja menjadi joker , dia menjadi doi , gua menjadi ogut , tetek menjadi toket , dan sebagainya.” Baca juga:  Ini Baru Namanya Mainan Dari kata-kata prokem yang disebut Indro tidak semua bersisipan -ok- . Sebab, menurut Prathama dan Henri, sistem produksi kata prokem yang kedua, atau malah yang lebih produktif daripada sistem -ok- , ialah "bahasa balik" alias segala macam metatesis  (penukaran huruf atau suku kata). Yang paling sering digunakan ialah penukaran kedua konsonan awal dari satu kata bersuku kata dua (cabo menjadi baco , bikin menjadi kibin , balik menjadi labik , dan seterusnya). Terjadi juga vokal awal pindah ke belakang konsonan yang berikutnya (abang menjadi baang , utang menjadi tuang ). Baca juga:  Oom, Om, dan Om-om Lebih lanjut Prathama dan Henri menjelaskan, pada mulanya istilah prokem terbatas pada kata yang dibentuk dengan imbuhan -ok- . Namun, istilah prokem kemudian bergeser artinya mencakup sejumlah kode yang dipakai secara serentak oleh kaum remaja dan preman. Definisi bahasa prokem bukan lagi definisi linguistik (sebuah kata dianggap kata prokem menurut sesuai tidaknya dengan satu rumus tertentu), melainkan definisi sosial (prokem adalah bahasa sandi, termasuk macam-macam kode yang berlainan, yang dipakai oleh sebuah golongan masyarakat tertentu). “Tidak dapat dielakkan konsep prokem akan tetap berlainan artinya menurut paham masing-masing penutur atau peninjaunya,” tulis Prathama dan Henri. Baca juga:  Tentang Anjay dan Kata-kata Umpatan Menurut Wallach, bahasa prokem sekarang dianggap ketinggalan zaman oleh budaya mahasiswa yang pertama kali mempopulerkannya. Prokem masih digunakan oleh beberapa pemuda kelas pekerja di Jakarta, dan beberapa kata, seperti bokap  (ayah), nyokap  (ibu), pembokat  (pembantu –dianggap sangat menghina), bokin  (istri), dan toket  (payudara) telah umum digunakan di Jakarta. Bahasa prokem diciptakan untuk suatu tujuan. “Prokem tampaknya muncul untuk memenuhi kebutuhan akan bahasa alternatif informal dari bahasa Indonesia baku, yang dapat digunakan untuk mendorong solidaritas dan keakraban dalam kelompok orang yang tidak memiliki bahasa daerah (etnis) yang sama,” tulis Wallach.

  • Asal-Usul Pengamen

    Tri Suaka dan Zinidin Zidan dihujat warganet gara-gara membuat video parodi yang mengejek Andika Mahesa, vokalis Kangen Band. Andika sendiri mengaku tidak marah. Menurutnya, dengan membuat video seperti itu, mereka telah menghina dan merendahkan diri mereka sendiri ke publik. Warganet yang geram membela Babang Tamvan sebagai musisi yang telah menciptakan banyak lagu hit (populer), sedangkan kedua penyanyi cover  lagu itu hanyalah pengamen. Pengamen pun sempat trending . Baca juga:  Mengorek Asal-Usul Ngondek Pengamen, menurut KBBI daring , adalah orang yang mengamen, biasanya mengadakan pertunjukan di tempat-tempat umum. Kata pengamen  terbentuk dari imbuhan peng  dan kata amen . Kata amen  termasuk jenis prakategorial. Sehingga, ketika kita mencari arti kata amen , KBBI daring  menyarankan untuk mencari kata mengamen  yang artinya “berkeliling (menyanyi, main musik, dan sebagainya) untuk mencari uang”. Ternyata, kata ngamen ada asal-usulnya. Dalam Ensiklopedi Musik Jilid 2 M–Z terdapat entri kata ngamen, yaitu menyanyi dengan iringan salah satu instrumen sambil keluar masuk kampung, mengharapkan upah ala kadarnya. Dalam perilaku ini, seorang penyanyi tidak memerlukan kemahiran atau semacam pengetahuan yang benar mengenai menyanyi dan memainkan alat musiknya. Asal mula kata ngamen  terjadi di Jakarta. Seorang peminta-minta mengulurkan tangan untuk nyanyian yang dinyanyikannya. Sebelum nyanyian itu rampung, karena tidak diminati oleh yang mendengar, sementara nyanyian yang dinyanyikannya itu ternyata bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an, maka yang mendengarnya mengucapkan dua kata yang terkenal, yaitu “persaben” atau “amin”. Baca juga:  Lagu Odading Menurut Antonio d’Oliveira Pinto da Franca, mantan duta besar Portugal untuk Indonesia, dalam Pengaruh Portugis di Indonesia , kata persaben  berasal dari bahasa Portugis, passe bem ,   yang artinya selamat tinggal ( good bye ). “[Persaben] digunakan di Jakarta untuk menolak seorang pengemis,” tulis Pinto.       Sedangkan kata “amin” yang artinya “terimalah, kabulkanlah” diucapkan oleh pendengar itu karena menganggap ayat-ayat Al-Qur’an sebagai doa. “Dari kata yang terakhir inilah lahir kata ngamen , yaitu bentuk kata kerja untuk amin ,” tulis Ensiklopedi Musik.   Baca juga:  Iwan Fals Dituduh Menghina Ibu Negara Sementara itu, menurut Rony Lantip, pegiat aksara Jawa, kata amen  terdapat dalam bahasa Kawi yang artinya “pemain”. Dalam Kamus Bausastra Jawa , kata amen-amen  atau men-men  artinya “pergi kesana kemari mencari sesuatu/penghasilan”. Meskipun demikian, orang Jawa menyebut pengamen dengan padanan kata amen-amen  atau men-men , yaitu mbarang yang juga berasal dari bahasa Kawi. Mbarang dalam  Ensiklopedi Musik Jilid 1 A–L  dijelaskan pada entri kata barang . “ Barang  dibaca secara Jawa menjadi mbarang , mulanya dimaksudkan untuk orang-orang yang bergabung dalam suatu rombongan sandiwara keliling. Kemudian perkataan ini dipakai juga untuk orang yang menyandang alat musik tertentu, menyanyi di setiap halaman atau luar pagar rumah, dengan mengharap upah ala kadarnya. Terakhir mbarang  disebut sebagai pemusik kaki lima untuk menghapus kesan dan prasangka bahwa kebiasaan itu sama dengan mengemis." Baca juga:  Awal Mula Pedagang Kaki Lima Menurut Ensiklopedi Musik Jilid 2 M–Z , pengertian ngamen  yang berkesan mengemis kemudian mulai samar-samar kabur. Itu disebabkan para pengamen yang banyak mangkal di Jakarta Selatan ternyata anak-anak dari keluarga mampu, tetapi melakukan ngamen  sebagai hobi merangkap iseng mencari uang satu-dua perak. “Dari kalangan ngamen  seperti yang disebut terakhir, tampil nama seperti Ali Usman, Iwan Fals, Anto Baret, dll,” tulis Ensiklopedi Musik.  “Kini kata ngamen  berlaku juga bagi pemusik atau penyanyi yang melakukan kegiatan musiknya di hotel-hotel berbintang.” Pengamen pun bisa menjadi musisi besar, seperti Iwan Fals. Syaratnya berani berkarya menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu sendiri. Dan yang juga penting tetap rendah hati. Tulisan ini diperbarui pada 24 April 2022 .

  • Nasib Tragis Desa Palestina yang Dibantai Zionis

    Pemerintah Republik Indonesia mengecam keras tindakan kekerasan yang diambil aparat keamanan Israel terhadap warga Palestina di Kompleks Masjid Al-Aqsa pada 15 April 2022 lalu. Melalui akun Twitter -nya, Kemenlu mendesak dihentikannya tindak kekerasan terhadap warga yang menimbulkan korban lebih dari 150 orang luka-luka itu. “Tindakan kekerasan terhadap warga sipil tersebut tidak dapat dibenarkan dan harus segera dihentikan, apalagi dilakukan di tempat ibadah Masjid Al-Aqsa di bulan suci Ramadan,” demikian bunyi pernyataan Kemlu RI dalam cuitannya di @Kemlu_RI, sebagaimana diberitakan detik.com, 17 April 2022. Kekerasan terhadap warga sipil Palestina oleh aparat Israel telah mewarnai sejarah Israel bahkan sejak negeri itu belum berdiri. Penduduk desa Beir Yassin mengalaminya lebih dari 70 tahun silam. ** Pada 10 April 1948, Hind Al Husseini, koordinator Arab Women’s Union, keluar dari apartemennya di Suq al-Haman, Yerusalem Timur begitu keadaan dianggapnya aman. Dia  ingin mengetahui keadaan lantaran pada 9 April mengurung diri seharian di apartemennya sambil diliputi kebingungan akibat pemberitaan radio Arab yang didengarnya terus memberitakan pembantaian di sebuah desa berpenduduk Arab di pinggiran Yerusalem oleh Zionis (Yahudi pendatang dari Eropa tengah dan timur). Namun, belum jauh kakinya melangkah, di sebuah pojok dekat apartemennya dia dikagetkan oleh pemandangan mengerikan. Beberapa bocah berlumuran darah sedang meringkuk kedinginan di dinding bangunan-bangunan. Penasaran, Hind langsung mendekati bocah-bocah itu dan bertanya apa yang terjadi pada mereka. Tiada jawaban, Hind hanya mendapat pemandangan bocah-bocah dengan mata terbelalak ketakutan dan penuh kecurigaan. Hind lalu mendekati dua bocah termuda yang amat ingin ditolongnya. Ke telinga dua bocah itu dia membisikkan agar mengikutinya ke apartemen. Upayanya berhasil. Dua bocah lusuh yang kedinginan itu pun mengikuti Hind –yang juga berbicara dengan bahasa Arab– berjalan ke apartemennya. Sambutan hangat mereka terima dari Hind di apartemen. Mereka digendong dan ditidurkan di ranjang, diselimuti, kemudian dimandikan dengan air hangat. Perlakuan hangat Hind membuat rasa takut kedua bocah perlahan hilang berganti perasaan nyaman. Suasana hati itu membuat Mohammed, bocah yang lebih tua di antara kedua bocah, berani buka mulut. Mohammed menerangkan bahwa dirinya dan bocah satunya –juga bocah-bocah lain yang ditemukan Hind di jalan dekat apartemen– merupakan penyintas dari pembantaian yang dilakukan milisi-milisi Zionis kepada penduduk desanya, Deir Yassin. “Apa yang terjadi di Deir Yassin, bukanlah pertempuran; itu benar-benar pembantaian,” tulis Daniel McGowan, profesor emeritus di Hobart and William Smith Colleges cum direktur eksekutif organisasi Deir Yassin Remembered, dalam “Deir Yassin Remembered”, dimuat di dalam buku yang diedit McGowan dan March H. Ellis, Remembering Deir Yassin: The Future of Israel and Palestine . Sejak awal 1920-an, bentrokan kerap terjadi antara penduduk Arab melawan penduduk Zionis di Palestina yang masih wilayah mandatori Inggris. Perebutan tanah menjadi pangkal permasalahannya.  Zionis merupakan orang Yahudi yang menganut Zionisme, gerakan kebangkitan nasional Yahudi yang muncul pada akhir 1880-an di Eropa tengah dan timur. Zionisme muncul didorong oleh meningkatnya tekanan pada orang-orang Yahudi di kedua wilayah tersebut. Pada awal abad ke-20, mayoritas pemimpin gerakan Zionis mengaitkan kebangkitan nasonal ini dengan penjajahan Palestina. Baca juga:  Theodor Herzl, Orang di Balik Negeri Zionis “Eretz Israel, nama Palestina dalam agama Yahudi, telah dihormati selama berabad-abad oleh generasi-bergenerasi Yahudi sebagai tempat ziarah suci, tidak pernah sebagai negara sekuler masa depan. Tradisi dan agama Yahudi dengan jelas menginstruksikan orang Yahudi untuk menunggu kedatangan Mesias yang dijanjikan pada ‘akhir zaman’ sebelum mereka dapat kembali ke Eretz Israel sebagai bangsa yang berdaulat dalam teokrasi Yahudi, yaitu sebagai hamba-hamba Tuhan yang taat (ini mengapa saat ini beberapa aliran Yahudi Ultra-Ortodoks adalah non atau anti-Zionis). Dengan kata lain, Zionisme mensekularisasikan dan menasionalisasikan Yudaisme. Untuk mewujudkan proyek mereka, para pemikir Zionis mengklaim wilayah alkitabiah dan menciptakannya kembali, bahkan menemukannya kembali, sebagai tempat lahir gerakan nasionalis baru mereka. Seperti yang mereka lihat, Palestina diduduki oleh ‘orang asing’ dan harus diambil alih. ‘Orang asing’ di sini berarti semua orang non-Yahudi yang telah tinggal di Palestina sejak zaman Romawi. Faktanya, bagi banyak Zionis, Palestina bahkan bukan tanah yang ‘diduduki’ ketika mereka pertama kali tiba di sana tahun 1882, melainkan tanah yang ‘kosong’. Tidak ada, baik karang maupun orang Palestina, yang menghalangi ‘penebusan’ nasional tanah yang didambakan gerakan Zionis,” ujar sejarawan Israel Ilan Pappe dalam The Ethnic Cleansing of Palestine .   Kondisi Palestina makin "panas" setelah Inggris mendukung Zionisme yang secara resmi dikeluarkan lewat Deklarasi Balfour yang –dikeluarkan Menlu Inggris Arthur Balfour pada 2 November 1917– gamblang mendukung upaya pendirian “rumah nasional” bagi orang-orang Yahudi di Palestina yang kala itu merupakan bagian dari Turki Usmani. Ketika Inggris berkuasa atas Palestina, dukungan itu diwujudkan dalam bentuk kebijakan pintu terbuka, yang memungkinkan masuknya imigran Yahudi dari manapun, dan izin pembelian tanah untuk “rumah nasional” Yahudi. Alhasil Yahudi imigran yang ekspansif terus bertumbuh dan perlahan menggerus tanah-tanah penduduk Arab. “Saat Menteri Luar Negeri Inggris Lord Balfour pada tahun 1917 memberi gerakan Zionis janji untuk mendirikan rumah nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina, dia membuka pintu bagi konflik tak berujung yang akan segera melanda negara dan rakyatnya. Hingga pendudukan Palestina oleh Inggris pada 1918, Zionisme merupakan perpaduan antara ideologi nasionalis dan praktik kolonialis. Bukti sejarah menunjukkan bahwa pada suatu waktu antara tahun 1905 dan 1910, beberapa pemimpin Palestina membahas Zionisme sebagai gerakan politik yang bertujuan untuk membeli tanah, aset dan kekuasaan di Palestina, meskipun potensi destruktif tidak sepenuhnya dipahami pada periode itu,” sambung Pappe. Begitu Zionis membesar di Palestina-Inggris, orang-orang Arab sebagai mayoritas mulai terancam. Konflik pun mengikuti. Keadaan makin parah karena Inggris tidak memenuhi janjinya untuk menerapkan kesetaraan –yang diterima komunitas Arab sebagai ganti kerelaannya meninggalkan demokrasi mayoritas– pada warga Arab dan Zionis. Akibatnya, pada 1929 warga Arab melancarkan pemberontakan. Kendati pemberontakan lebih besar pecah tujuh tahun kemudian (Revolusi Arab 1936), otoritas Inggris tetap dengan kecenderungannya mendukung Zionis. Baca juga:  Israel Akui Kedaulatan Indonesia Pecahnya Perang Dunia II menjadi masa “damai” Arab dan Zionis di Palestina lantaran masing-masing masuk ke dalam dinas militer Inggris melawan negara-negara Axis. Sementara Arab-Palestina sudah kehilangan milisi yang dibubarkan dan pimpinan yang diasingkan usai Revolusi 1936, Zionis memanfaatkan masa “damai” untuk mempersiapkan diri. Pada 1942, lebih dari 500 delegasi Yahudi dari berbagai penjuru dunia duduk bareng di Biltmore Hotel, New York, menghadiri Konferensi Zionisme. “Konferensi tersebut mengadopsi delapan resolusi kunci yang kemudian diratifikasi oleh Dewan Umum Zionis di Palestina. Ini termasuk seruan untuk segera menerapkan 'tujuan awal' Deklarasi Balfour, penolakan penuh terhadap Buku Putih Inggris tahun 1939, dan meningkatkan imigrasi tidak terbatas Yahudi ke Palestina. Terlepas dari beberapa perbedaan pendapat internal, sering kali didasarkan pada dukungan untuk resolusi dua negara dengan orang-orang Arab Palestina, Program Biltmore dengan cepat diterima sebagai platform gerakan Zionis,” tulis Kylie Baxter dan Shahram Akbarzadeh dalam US Foreign Policy in the Middle East: The Roots of Anti-Americanism . Usai perang, hubungan Arab dan Zionis di Palestina kembali memanas. Zionis kian semangat mewujudkan ambisinya setelah Inggris melepaskan Mandatory Palestina dan menyerahkannya kepada PBB pada Februari 1947. Akibat perbedaan penerimaan terhadap keputusan PBB yang menerapkan pembagian Palestina, Arab dan Zionis kembali perang pada November 1947. Kemenangan pada pertempuran Januari 1948 mendorong Zionis mengubah taktik menjadi semakin agresif. Hasilnya, Plan Dalet (Plan D) yang dibuat Haganah –milisi utama Zionis yang kemudian dinasionalisasi menjadi Angkatan Bersenjata Israel– diadopsi pada Maret 1948. “Plan Dalet, juga dikenal sebagai Rencana D, adalah operasi militer Zionis yang sangat diperebutkan pada periode pra-negara. Bagi Zionis, Rencana D adalah tindakan pertahanan agresif yang bertujuan untuk mengamankan wilayah yang dialokasikan untuk orang-orang Yahudi di bawah Resolusi 181. Orang-orang Arab mengidentifikasi Rencana D sebagai upaya Zionis untuk mengambil alih tanah mereka. Tujuan dari Rencana D termasuk penaklukan desa-desa Arab, sebuah taktik yang sebelumnya tidak pernah dicoba oleh Haganah. Akar krisis pengungsi Palestina dapat ditelusuri kembali ke periode ini, sebelum perang Mei 1948,” sambung Kylie & Shahram. Berbekal Plan D, Zionis bertindak agresif mewujudkan pendirian “Rumah nasional Yahudi”-nya. “Secara militer dan politik, Zionis jauh lebih siap daripada orang Arab. Para pejuang Yahudi melebihi jumlah milisi Arab. Mereka telah dilatih Inggris, dan banyak yang memiliki pengalaman militer melawan Nazi. Orang-orang Yahudi dipersenjatai dengan lebih baik, disiplin, bermotivasi tinggi, dan berjuang untuk negara yang hampir siap untuk dilahirkan. Haganah memiliki sekitar 35.000 anggota, termasuk lebih dari 3.000 tentara dalam pasukan penyerang elitnya, Palmach; Irgun sekitar 3.000, dan Lehi beberapa ratus. Perpecahan antara kebijakan penahanan Haganah, dan penggunaan serangan pendahuluan oleh Irgun dan Lehi telah berakhir. Serangan sekarang menjadi bentuk pertahanan terbaik. Auschwitz telah dibebaskan tiga tahun sebelumnya; Orang Yahudi tidak akan pernah lagi mengikuti perintah untuk berjalan menuju kematian mereka,” tulis jurnalis asal Inggris Adam LeBor dalam City of Oranges: Arabs and Jews in Jaffa . Baca juga:  Sikap KAA pada Konflik Israel-Palestina Pada dini hari Jumat, 9 April 1948, sebanyak 130 personel komando Irgun –sempalan dari Haganah– dan Lehi –yang dikenal sebagai Gang Stern, milisi yang menolak bertugas di Batalyon Yahudi Inggris semasa Perang Dunia II melawan Axis– menyerang Desa Deir Yassin. Kendati desa tersebut memiliki reputasi damai dengan desa-desa tetangganya yang berpenduduk Yahudi dan terletak di luar batas wilayah yang ditetapkan PBB untuk negara Yahudi kelak, letak strategis desa itu antara Tel Aviv dan Yerusalem membuat Zionis menargetkannya untuk direbut.   Kendati menang jumlah dan persenjataan serta organisasi rapi, pasukan Zionis mendapat perlawanan gigih dari para penjaga desa Arab yang hanya bersenjatakan senapan tua. Bahkan, pasukan Zionis yang kebingungan sampai menghentikan serangan sesaat ketika pagi. Mereka baru bisa merebut Deir Yassin pada tengah hari setelah meminta bantuan Palmach –pasukan elit Haganah– yang kemudian menghujani desa dengan mortir. Berbeda dari para personel Palmach yang langsung pergi usai merebut Deir Yassin, para personel Irgun dan Lehi langsung memasuki desa dan memberondong serta melempar granat untuk membalaskan dendam empat rekan mereka yang tewas dan 36 luka-luka dalam kontak senjata sebelumnya. Dari rumah-rumah penduduk mereka menggelandang keluar orang-orang di dalamnya tak peduli lelaki, perempuan, ataupun anak-anak, dan membariskan mereka ke sebuah dinding; beberapa yang lain dinaikkan ke truk-truk yang telah disiapkan. Ibu-ibu yang terbangun langsung mengenakan pakaian seadanya dan langsung mengajak anak-anak atau orang tua mereka untuk mengungsi. Yang tidak, terpaksa tinggal di rumah menghadapi kemungkinan terburuk yang akan tiba. Mohammed, bocah yang diadopsi Hind Husseini, bersembunyi ke kolong dipan orangtuanya ketika para teroris memasuki rumahnya. Dari kolong dipan itulah dia melihat saudara dan saudari kandungnya terjatuh tak bernyawa dibunuh para agresor. Muhammed yang beruntung tidak diketahui keberadaannya oleh para penyerang terus bersembunyi di kolong dipan. “Sepanjang sisa hari dan malam, anak laki-laki kecil itu telah mendengar erangan dan tangisan, tembakan senjata, derit ban, dan teriakan serak aneh dari para penyusup. Saat fajar, mayat-mayat yang tergeletak di rumahnya ditarik keluar. Ketika dia melihat tubuh ibunya yang tak bernyawa diseret tumitnya seperti sekarung gandum, isak tangis keluar dari tenggorokannya. Seorang teroris menuju bawah tempat tidur, menyentuhnya, menariknya dari tempat persembunyiannya, dan dengan kasar mengantarnya ke sebuah truk di mana beberapa anak lain saling berpegangan,” tulis Pat McDonnell Twair dalam “The Surviving Children of Deir Yassin” yang dimuat di buku Remembering Deir Yassin: The Future of Israel and Palestine .  Di truk yang membawanya menuju kota, Mohammed bertemu dengan Thoraya, gadis delapan tahun yang berdarah. Thoraya bisa selamat dari pembantaian di rumahnya lantaran tubuhnya selalu terlindungi tubuh bibi-bibinya yang berupaya keras menyembunyikannya. Thoraya melihat tak lama setelah bibi-bibinya roboh tak bernyawa di tangan para Zionis, gelang dan anting-anting mereka langsung dilucuti oleh para agresor. Pasukan Zionis tidak hanya membunuh, tapi juga menjarah isi rumah. Bukan hanya Thoraya yang mengalaminya, Mohammed pun sama. Para Zionis yang masuk ke rumah Mohammed menguras isi rumah, bahkan mengambil pakaian dan sepatu dari kolong dipan tempatnya bersembunyi. Penjarahan merupakan pemandangan umum dalam penyerangan ke Deir Yassin. “Para perempuan juga mengalami gelang mereka lepas dari lengan dan cincin dari jari-jari mereka dan bagian dari telinga beberapa perempuan dipotong untuk melepaskan anting-antingnya,” kata Richard Catling, wakil ketua Criminal Investigation Department (CID), dalam testimoninya usai menginterogasi para penyintas, dimuat . Thoraya pun sebelum diangkut truk tempatnya berkenalan dengan Mohammed, ditemukan oleh salah seorang teroris yang kembali ke rumahnya untuk memastikan semua perhiasan telah diambil. Mohammed Jaber, bocah lain di desa itu, juga mengalami kengerian serupa. Dari kolong tempat tidur tempatnya bersembunyi dia menyaksikan keberingasan pasukan Irgun-Lehi. “Orang-orang Yahudi mendobrak masuk, mengusir semua orang keluar, menempelkan mereka ke dinding dan menembak mereka. Salah seorang perempuan itu menggendong bayi berusia tiga bulan,” ujarnya, dikutip Sheila Cassidy dalam artikelnya buku yang sama, “Assault dan Massacre”. Pemberondongan itu juga disaksikan pemuda desa bernama Jamil Ahmed lantaran lokasinya dekat rumahnya. Jamil yang ikut angkat senjata mempertahankan desa melihat dua saudara dan beberapa temannya tewas mengenaskan dalam pemberondongan itu. “Mereka (para Zionis, red .) membawa mereka sebagai tawanan, mengangkat tangan, dan membawa mereka ke tepi desa dekat rumah saya dan menyemprot mereka dengan tembakan. Seorang pria tunanetra juga ditembak seperti itu. Seorang anak, tujuh tahun, juga dibunuh dengan cara itu. Lainnya perempuan ditawan dan dimasukkan ke dalam truk. Saya berada di rumah, mengambil senjata, mempertahankan desa. Itu adalah senapan tua dari Perang Dunia I, Inggris,” ujarnya. Kengerian yang dialami penduduk desa belum berakhir. Sahliya, perempuan yang sedang hamil tua, menjadi salah satu korbannya. “Haleem Eid melihat saudarinya Sahliya tertembak di leher. Sahliya sedang hamil sembilan bulan. Pembunuhnya memotong perut perempuan mati itu dengan pisau daging. Perempuan lain, Aiecha Radwas, ditembak saat dia mencoba menyelamatkan bayinya.” Baca juga:  Ketika Sekolah Dasar di Mesir Hancur oleh Bombardir AU Israel Perempuan merupakan pihak paling banyak dirugikan. Selain diincar perhiasannya, tubuh perempuan juga dijadikan sasaran tersendiri para agresor. “Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak kekejaman seksual dilakukan orang-orang Yahudi penyerang. Banyak gadis usia sekolah diperkosa lalu disembelih. Perempuan tua juga dianiaya. Banyak bayi juga dibantai dan dibunuh. Saya juga melihat seorang perempuan tua...yang telah disiksa dengan kejam, dipukuli kepalanya dengan popor senapan,” ujar Richard Catling dari CID yang ikut mengonterogasi dan merekam pernyataan para penyintas. Pembantaian Deir Yassin membuat komunitas Arab meminta perwakilan Palang Merah Internasional Jecques de Reynier agar mengamati langsung keadaan Deir Yassin. Saat Jacques tiba, operasi pembersihan masih dilakukan para personel Irgun. Setelah keluar-masuk beberapa rumah, Jacques menemukan satu-satunya penduduk yang tersisa, yakni seorang gadis enam tahun dan seorang nenek serta seorang pria sekarat. Jacques segera mengatur kedatangan ambulan dan beberapa saat kemudian berhasil membawa mereka ke rumah sakit. Kebiadaban itu disiarkan radio Arab selama beberapa waktu, yang justru menakutkan penduduk sehingga memicu eksodus 700 ribu Arab-Palestina. Kendati siaran itu juga memicu kritikan dan kutukan terhadap para pemimpin Zionis, proyek “Rumah nasional” Yahudi tetap berjalan di Palestina. Pada September tahun itu juga Deir Yassin telah menjadi rumah bagi imigran Yahudi asal Polandia, Rumania, dan Slowakia. “Dan peristiwa tunggal ini (Pembantaian Deir Yassin, red .) adalah salah satu yang paling penting dalam sejarah Palestina dan Israel abad kedua puluh, bukan karena ukuran atau kebrutalannya, tetapi karena itu menandai dimulainya depopulasi lebih dari 400 desa dan kota Arab dan pengusiran lebih dari 700.000 penduduk Palestina guna memberi ruang bagi para korban Holocaust dan orang-orang Yahudi lain dari seluruh dunia. Kisah Deir Yassin adalah kisah perjuangan dua bangsa untuk tanah yang sama. Meskipun mayoritas sarjana tidak lagi percaya Israel adalah ‘tanah tanpa orang untuk orang tanpa tanah’, banyak orang mempercayai mitos itu hingga kini. Menghidupkan kembali ingatan Deir Yassin berfungsi untuk menghilangkan propaganda ini. Orang-orang Palestina dirampas pada 1948 dan terus dirampas sampai hari ini atas nama pembangunan negara Yahudi yang terus berkembang. Jika hak Yahudi atas properti yang disita selama Holocaust di Eropa adalah sah, mengapa klaim restitusi properti Palestina di Deir Yassin dan semua kota dan desa lain tidak sah?” tulis Daniel McGowan.

  • Keringat dan Air Mata King Richard

    SUATU sore pada Desember 1986 di kota kecil Compton, California, Amerika Serikat. Pikiran Richard Williams (diperankan Will Smith) kalut dan batinnya berkecamuk. Konsentrasinya melatih dua putrinya, Venus (Saniyya Sidney) dan Serena (Demi Singleton), di lapangan tenis umum buyar. Pria berkulit hitam berjaket merah itu tak tahan mendengar pelecehan secara verbal dari sekelompok geng terhadap salah satu putrinya. Richard langsung menyuruh Venus, Serena, dan tiga putri lain yang ikut membantu latihan segera masuk mobil VW “Kombi” usangnya. Richard lalu membulatkan tekad untuk menegur berandalan itu. Dari jendela mobil, kelima putrinya melihat ayahnya dikelilingi berandalan tersebut. Richard bahkan dihina balik sampai diludahi oleh salah satunya. Meski begitu, Richard masih menahan diri. Baca juga: Konflik Kehidupan Roberto Durán dalam Hands of Stone Adegan sebuah rintangan yang dihadapi Richard kala membentuk dan melatih sendiri dua putri kesayangannya, Venus dan Serena, untuk jadi bintang tenis itu hanyalah pembuka film biopik bertajuk King Richard garapan sutradara Reinaldo Marcus Green. Selama hidupnya Richard selalu mencontohkan keteladanan baik tentang kesabaran, kerendahan hati, maupun pantang menyerah, terutama kepada keluarganya. Dalam King Richard , gambaran itu begitu jelas ketika Richard wara-wiri menemui sejumlah sponsor maupun pelatih yang saban waktu meremehkan dan menolak untuk menyokong Venus dan Serena untuk jadi petenis profesional hanya karena perbedaan warna kulit. Richard Williams (kanan) saat melatih sendiri kedua putrinya di lapangan publik dengan peralatan seadanya (Warner Bros. Pictures) Richard tak pernah memamerkan ekspersi marah atau murka. Banyaknya penolakan justru membuat Richard lebih semangat untuk membuat catatan rencana sebanyak 78 halaman, rekaman video, maupun brosur tentang kedua putrinya yang selama ini hanya dilatih Richard dan istrinya, Oracene ‘Brandy’ Price (Aunjanue Ellis). Semua itu dilakukan Richard dengan perjuangan ekstra lantaran perekonomiannya dari bekerja sebagai satpam pasar pas-pasan untuk menafkahi lima anak perempuannya. Brandy sampai harus membantunya dengan bekerja dua shift sebagai perawat. Richard biasanya bekerja pada malam setelah menemani Venus dan Serena latihan pagi hingga sore. Perjuangan Richard tak sia-sia. Paul Cohen (Tony Goldwin), pelatih petenis Pete Sampras dan John McEnroe, terkesan pada permainan Venus dan Serena. Namun Cohen hanya bersedia melatih Venus lantaran Richard hanya mampu membayar pelatih untuk satu putrinya. Baca juga: Race , Kisah Dramatis Atlet Kulit Hitam di Olimpiade Nazi Richard (tengah) dan keluarga besar Williams (Warner Bros. Pictures) Venus lantas dibawa Cohen mencetak prestasi. Ia berhasil 63 kali menang tanpa kalah di sejumlah turnamen junior. Prestasi Venus membuat Serena mulai merasa berada di bawah bayang-bayang kakaknya. Serena hanya dilatih ibunya atau berlatih sendiri dengan melihat rekaman latihan Venus bersama Cohen. Termasuk rekaman ketika Venus kemudian dilatih Rick Macci (Jon Bernthal) di Rick Macci International Academy, Florida. Macci melihat bakat besar pada Venus. Oleh karena itu dia bersedia memindahkannya ke Florida dan melatihnya plus memberi fasilitas rumah dan pendidikan asalkan Venus bersedia mengikutsertakan seluruh keluarganya. Kesempatan itu tak disia-siakan kakak-beradik Williams. Di tangan Macci, Venus dan Serena berkembang pesat. Baca juga: Konsekuensi Persahabatan Atlet Kulit Hitam dan “Nazi” Paul Cohen (kanan) pelatih pertama Venus Williams (Warner Bros. Pictures) Namun, Richard terus menolak keikutsertaan Venus, yang mulai jadi sensasi media massa, ke berbagai turnamen junior. Hingga tiga tahun berselang, Venus dan Serena pun sekadar sekolah, latihan, dan bermain karena Richard tak ingin putri-putrinya tertekan dan jadi “rusak” seperti kasus narkoba yang dialami Jennifer Capriati, salah satu mantan anak asuh Macci. Richard dan Brandy akhirnya bertengkar dengan Macci saat Richard menolak tawaran Venus untuk melakoni debut karier profesionalnya pada usia 14 tahun di Turnamen Bank of the West Classic 1994 di Oakland. Event yang diikuti bintang asal Spanyol Arantxa Sánchez Vicario itu padahal bisa jadi momen terbaik untuk Venus unjuk gigi. Bagaimana kelanjutan kisahnya yang menyentuh dan dibumbui drama-drama faktual? Baiknya Anda simak sendiri biopik King Richard yang –sudah ditayangkan di bioskop sejak 19 November 2021–masih bisa ditonton di platform daring HBO Max. Baca juga: Captains of Zaatari Meretas Mimpi dari Kamp Pengungsi Rick Macci (kiri) yang membawa Venus dan Serena membuka jalan ke level pro (Warner Bros. Pictures) Faktual Meluruskan Kekeliruan Publik Set latar tempat di California dan Florida agaknya membuat King Richard “dibungkus” dengan tone warna yang terang. Dominasi warna putih untuk sejumlah properti dan wardrobe -nya juga kian menegaskan bahwa keluarga Williams yang berkulit hitam jadi pembeda spesial di tengah masyarakat olahraga milik orang kulit putih kala itu. Dalam hal music scoring, King Richard lebih “berwarna”. Selain warna musik Motown, ada soul 1980-an Whitney Houston, punk-rock 1990-an, country Kenny Rogers, hingga orkestra lembut nan mengharukan. Semuanya cukup apik kala dipadukan komposer Kris Bowers di adegan-adegan penting film. Perpaduannya nyaris menyempurnakan kisah mengharukan King Richard yang diracik apa adanya oleh Green. Terlebih dua petenis dunia yang difilmkan, Venus dan Serena Williams, turut mensupervisi penggarapannya sebagai produser eksekutif agar film tak didominasi drama-drama fiktif. “Banyak orang mendengar cerita yang keliru, atau media yang telah menggambarkan ayah saya dengan sorotan tidak benar. Kami ingin cerita ini dibuat dengan benar. Dan banyak orang berpikir bahwa ayah kami sosok dengan karakter berbeda. Dia selalu menginginkan kami bersenang-senang di atas segalanya. Itu hal yang paling saya cintai dari dirinya,” tutur Serena kepada Forbes , 3 Desember 2021. Baca juga: Layar Lebar Chadwick Boseman Sutradara Reinaldo Marcus Green (kanan) saat memberi instruksi pada para pemerannya (Warner Bros. Pictures) Smith sebelumnya melayangkan hal senada. Di balik perjuangan keras Richard dan istrinya, ujarnya, tak pernah terkandung paksaan. Kekerashatian Venus dan Serena berlatih tenis memang karena keinginan sendiri. “Dia (Richard Williams) bukan seorang ayah yang mendorong dan memaksa mereka untuk sukses dalam tenis. Justru kebalikannya. Dia selalu mendorong mereka untuk beribadah ke gereja dan mendapatkan nilai bagus (di sekolah) dan menjadi pribadi yang baik. Tenis hanya urutan keempat atau kelima dalam daftar prioritas. Sesungguhnya dia menggunakan tenis untuk mengajari mereka agar bisa survive di dunia ini,” papar Smith, dilansir USA Today , 17 November 2021. Baca juga: Durán dan Leonard, dari Lawan jadi Kawan Penggambaran kisah Brandy juga digarap cukup seimbang dalam peran sebagai sosok ibu kedua putri sekaligus istri kedua Richard. Brandy punya jasa besar dalam membentuk kepribadian para putrinya yang masih belia di dalam maupun luar lapangan. “Dia (Brandy) adalah tulang punggung (keluarga) kami dan dialah yang benar-benar memberikan kami nilai-nilai yang baik. Tentu saja ayah kami juga tapi Ellis (pemeran Brandy) sungguh mengerti kekuatan yang tak tergoyahkan dalam sikap diamnya ibu saya,” kata Venus. Alhasil, King Richard jamak mendapat respons positif. Tak hanya dari apresiasi positif para kritikus tapi juga dalam bentuk beragam penghargaan. Di ajang Golden Globe ke-79 maupun Academy Awards (Piala Oscars) ke-94, King Richard sama-sama mendapat enam nominasi dan berbuah kemenangan Smith di kategori pemeran pria terbaik. Sosok asli Venus Ebony Starr Williams & Serena Jameka Williams (kanan) yang diperankan Demi Singleton & Saniyya Sidney (Warner Bros. Pictures/briansmith.com) Richard Williams Mengenal Tenis Dalam prolog King Richard , Smith menarasikan bahwa salah satu alasan Richard membuat buklet dan brosur serta menyemangati Venus dan Serena dalam tenis karena alasan ekonomi. Bahkan sebelum kedua putrinya lahir pun Richard sudah membuat buklet rencana 78 halaman itu dan kemudian merangkumnya ke dalam brosur yang kemudian dibagikannya ke banyak calon sponsor. “Saat itu tahun 1977 aku menonton tenis dan melihat ada perempuan itu, Virginia Ruzici, menghasilkan USD40 ribu selama empat hari. Karena aku tahu cuma bisa menghasilkan USD52 ribu sepanjang tahun, aku sadar berada dalam pekerjaan yang salah. Aku pulang dan memberitahu istriku: ‘kita harus membuat dua anak lagi.’ Jadi aku menulis rencana itu, satu untuk Venus, satunya untuk Serena,” ujar Richard. Namun, ada yang kurang dari pengisahan di King Richard . Masa lalu Richard, terutama perkenalannya dengan tenis, tak digambarkan dengan porsi yang laik. Penggambarannya hanya sekadar melalui narasi, bahwa di Cedar Grove, Louisiana yang jadi kota tempat Richard kecil tumbuh, tenis bukan olahraga yang lazim dimainkan, terutama bagi kaum kulit hitam. Kala itu prioritas orang kulit hitam hanyalah menghindari ancaman kelompok ekstremis-rasis Ku Klux Klan. Baca juga: Minggu Berdarah di Kota Selma Sosok asli Richard Dove Williams Jr. (kiri) yang diperankan Willard Carroll 'Will' Smith II (Warner Bros. Pictures/wtatennis.com) Richard Dove Williams Jr. sendiri lahir di Shreveport, Louisiana pada 14 Februari 1942 sebagai anak sulung dari lima bersaudara pasangan Julia Mae Metcalf dan Richard Dove Williams Sr. Kehidupan masa kecil Richard tak lebih baik dibanding saat ia mulai melatih Venus dan Serena. Terinspirasi dari akvitis Dr. Martin Luther King Jr., Richard muda memberanikan diri pindah ke California. “Pertengahan 1960-an perubahan terjadi di beberapa level kehidupan kulit hitam Amerika. Pesan Dr. King bahwa seseorang tanpa mimpi adalah seseorang tanpa masa depan. Saya juga percaya jika kita berhenti bermimpi, kita akan menutup pikiran pada kemungkinan hari esok. Dengan menggenggam mimpi-mimpi, saya berangkat dengan kereta api menuju Los Angeles. Saya punya rencana. Pertama, saya ingin menaikkan tingkat edukasi. Kedua, saya ingin memulai bisnis sendiri,” tulis Richard dalam otobiografinya, Black and White: The Way I See It. Sebagaimana bisnis yang dibukanya, kehidupan pribadi Richard pun menemui kegagalan setelah pernikahannya dengan Betty Johnson bubar pada 1973. Dari pernikahan itu, Richard mendapat lima anak. Richard kemudian menikahi janda tiga anak, Oracene ‘Brandy’ Price, pada 1980. Baca juga: Ronde Terakhir Roger Mayweather Tokoh Oracene 'Brandy' Price (kiri) yang diperankan Aunjune Ellis (Warner Bros. Pictures/wtatennis.com) Tiga tahun berselang, Richard pindah ke Compton di California selatan membawa serta Brandy dan ketiga putri tirinya: Yotunde Price, Lyndrea Price, dan Isha Price. Richard memberanikan diri membuka bisnis jasa keamanan karena melihat peluang kebutuhan keamanan yang besar di Compton yang rawan kejahatan kelompok geng. Richard tertarik pada prospek tenis sebagai jalan keluar dari perekonomian keluarganya yang pas-pasan. Namun saat itu Richard sama sekali belum mengenal tenis. “Saya masih harus banyak belajar. Saya tak pernah bermain tenis. Saya bahkan tak tahu bagaimana mencetak angka. Setelah mengulik sendiri soal berapa harga raket dan bola, saya menemui Bill dan Ted Hodges, pemilik Paramount Sports di Hollywood yang sudah saya kenal sejak lama,” kenang Richard. Baca juga: Persahabatan Petinju Jerman dan Afro Amerika Kolase Venus dan Serena Williams saat dilatih ayahnya sendiri (Smithsonian) Bill dan Ted Hodges tentu menertawakan rencana Richard tentang tenis untuk kedua putrinya yang bahkan belum lahir. Namun itu tak melunturkan mimpi Richard, hingga pada suatu ketika ia bersua seorang tua berkulit hitam bernama Tuan Oliver di Compton Avenue. Richard minta dilatih dengan bayaran yang lain daripada yang lain. “Nama saya Richard Williams. Saya akan merasa terhormat jika bisa mendapat pelatihan dari Anda, Tuan Oliver. Berapa bayarannya?” tanya Richard. “Hmmm. Bayaran saya sangat ekonomis, sangat terjangkau. Bawakan saja sebotol wiski setiap kali kau datang berlatih dan kita akan mencapai kesepakatan,” jawab Oliver. “Saya selalu ada setiap jam delapan pagi sampai jam makan siang dan kemudian saya kembali lagi ke sini sampai jam setengah tujuh (malam). Tergantung berapa banyak wiski yang kau bawa. Semakin banyak wiski, semakin lama saya di sini. Itu kebijakan saya.” “Baiklah. Sampai bertemu di sini jam lima (pagi) besok,” kata Richard. Baca juga: Turnamen Tertua Itu Bernama Wimbledon Kolase kesuksesan Venus dan Serena Williams yang mendominasi tenis putri dunia ( wtatennis.com/worldtennisusa.org ) Richard pun saban waktu berlatih dengan Oliver “Old Whiskey” yang selalu menenggak minuman keras itu sebagai pendamping sarapan, makan siang, dan makan malam. Di kemudian hari, Richard baru tahu bahwa Oliver pernah melatih bintang tenis legendaris macam Jimmy Connors dan Artur Ashe. Tak hanya berlatih, Richard juga memperhatikan dengan seksama cara melatih dan beragam teknik Oliver. Itu jadi modal pentingnya ketika melatih Venus Ebony Starr Williams yang lahir pada 17 Juni 1980 dan Serena Jameka Williams (26 September 1981). Selebihnya, kisah Richard sama akuratnya dengan apa yang ditampilkan KingRichard . Nyaris semua tulisannya dalam 78 halaman rencananya untuk Venus dan Serena jadi kenyataan. Venus mengentaskan mimpinya jadi petenis nomor satu dunia pada Februari 2002, sekaligus menjuarai 10 turnamen grand slam (lima di antaranya adalah nomor tunggal putri Wimbledon). Sementara, Serena mengikuti Venus menjadi petenis nomor satu dunia baru pada Juli 2002. Tak kurang dari 23 gelar grand slam diraihnya, menjadikannya petenis dengan rekor grand slam terbanyak. Sebagaimana yang diprediksi Richard, hingga saat ini Serena dianggap sebagai salah satu pemain terhebat sepanjang masa. Baca juga: Serba-serbi Tradisi Wimbledon Deskripsi Film: Judul: King Richard | Sutradara: Reinaldo Marcus Green | Produser: Tim White, Trevor White, Will Smith | Pemain: Will Smith, Aunjanue Ellis, Saniyya Sidney, Demi Singleton, Jon Bernthal, Tony Goldwin | Produksi: Westbrook Studios, Star Thrower Entertainment, Keepin’ It Real | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: Biopik Olahraga | Durasi: 145 Menit | Rilis: 19 November 2021 (Bioskop & HBO Max).

  • Protes Anti-NATO di Masa Lalu

    Hubungan Rusia dan Ukraina yang tengah berperang, maju selangkah lagi. Kedua negara duduk bareng di Turki Selasa, 29 Maret 2022, kemarin untuk membicarakan perundingan damai.  “Pembicaraan tatap muka yang dijadwalkan mulai pukul 10.30 (waktu setempat, sekitar pukul 13.00 IST). Perundingan damai Rusia dan Ukraina tersebut akan dipandu langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Kantor Kerja Kepresidenan Dolmabahce, Distrik Besiktas, Istanbul,” demikian kabar24.bisnis.com  memberitakan di lamannya pada 29 Maret 2022. Pembicaraan damai ini menjadi yang kelima dilakukan kedua belah pihak. Tiga pembicaraan sebelumnya berlangsung di Belarus dan satu pembicaraan berikutnya berlangsung lewat konferensi video. Dalam pembicaraan lewat konferensi video itu, pihak Rusia menuntut Ukraina menangguhkan niatnya untuk bergabung dengan NATO. Tuntutan itu disambut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang bersedia mengkompromikannya.  Kendati berbeda, tuntutan untuk tidak masuk NATO juga pernah disuarakan tepat 73 tahun silam (30 Maret 1949). Tuntutan itu bahkan sampai menimbulkan kerusuhan. Tuntutan itu dilakukan sebagian warga Islandia di ibukota Reykjavik. Baca juga:  Apa dan Siapa Islandia? Kendati NATO belum resmi didirikan, Islandia menjadi salah satu negara yang aktif membidani kelahiran pakta pertahanan Atlantik Utara tersebut. Islandia yang tidak memiliki militer dan terus mempertahankan sikapnya itu, melihat perlunya membuat sebuah kerjasama regional di tengah ancaman baru pascaperang yang datang dari agresivitas Uni Soviet. Kekhawatiran yang sama juga dialami negara-negara Benelux (Belgia, Belanda, Luxemburg) sehingga ketiganya bersama Inggris dan Prancis membentuk kerjasama yang ditandatangani di Brussel (Treaty of Brussels), Belgia pada 17 Maret 1948. “Perjanjian Brussel adalah perjanjian pertahanan bersama melawan ancaman Soviet pada awal Perang Dingin. Itu adalah pendahulu NATO. Ancaman Soviet menjadi langsung dengan Blokade Berlin pada 1948, yang mengarah pada pembentukan Organisasi Pertahanan Uni Eropa Barat pada September 1948,” tulis pakar geopolitik Neari Rivers dalam International   Security   Studies . Lantaran dianggap terlalu lemah untuk menghadapi kedigdayaan militer Soviet yang pada akhir tahun 1948 juga berperan dalam kudeta di Cekoslowakia, para penandatangan Perjanjian Brussel pun berupaya menggandeng Amerika Serikat (AS). Audiensi dengan Pentagon dilakukan para pemimpin negara penandatanganan Perjanjian Brussel. “Menteri Luar Negeri Inggris Ernest Bevin menegaskan bahwa cara terbaik untuk mencegah Cekoslowakia lain adalah dengan mengembangkan strategi militer bersama,” sambung Neari. Baca juga:  Membentuk Sekutu Politik Islandia, yang baru resmi merdeka sekira tiga tahun, ikut serta dalam pertemuan di Pentagon itu. Adalah Menlu Bjarni Benediktsson yang menjadi motornya. “Rakyat saya tidak bersenjata dan tidak bersenjata sejak zaman nenek moyang Viking kami. Kami tidak memiliki atau tidak dapat memiliki tentara. Tapi negara kami, dalam keadaan tertentu, sangat penting untuk keselamatan wilayah Atlantik utara,” kata Menlu Islandia Bjarni, pendorong utama keterlibatan Islandia dalam NATO, saat pidato di acara penandatanganan pendirian NATO. Apa yang dilakukan Menlu Bjarni mengkhawatirkan beberapa kalangan di dalam negeri Islandia. Ikut NATO berarti terlibat dalam Perang Dingin dan konfrontasi langsung dengan Uni Soviet. Itu bukan hanya bertentangan dengan tradisi damai bangsa Islandia yang telah turun-temurun, tapi juga akan mengancam nilai-nilai tradisi lain yang telah berkembang di Islandia. “Para kritikus umumnya dibagi menjadi dua kelompok: nasionalis Islandia, yang khawatir kehadiran pasukan asing akan melemahkan bahasa Islandia, budaya dan kemurnian etnis, dan Sosialis Islandia yang ingin Islandia mengembangkan hubungan lebih dekat dengan Uni Soviet daripada dengan Sekutu Barat. Kekhawatiran terbesar bagi nasionalis Islandia adalah bahwa negara mereka yang baru merdeka akan ditarik oleh para pemain lebih besar di pentas internasional dan diserbu oleh serdadu asing di dalam negeri. Akibatnya, Amerika Serikat setuju untuk secara ketat membatasi interaksi pasukan Amerika dengan warga Islandia, termasuk dengan menetapkan jam malam untuk para petugasnya,” tulis NATO dalam artikel di lamannya, nato.int , “Iceland and NATO”. Kekhawatiran itu menggerakkan ratusan aktivis kiri dan nasionalis untuk mengadakan protes ke gedung parlemen pada 30 Maret 1949. Pada hari itu, parlemen Islandia (Althingi) bersidang untuk menentukan apakah Islandia akan bergabung dengan NATO atau tidak. Rencana tersebut sampai ke “telinga” pemerintah. Selain perintah kepada aparat keamanan, seruan untuk menjaga gedung parlemen juga dikeluarkan pemerintah kepada warga ibukota. Pada hari-H, massa penentang NATO pun bergerak. Setelah berkumpul di belakang sebuah sekolah, mereka bergerak ke taman Austurvöllur yang terletak di depan gedung parlemen. Mereka pun bertemu dengan massa pro NATO dan aparat keamanan yang berjaga di sekitar gedung. Susana damai berubah kacau setelah pengumuman dikeluarkan seorang anggota terkemuka Partai Sosialis yang mengatakan bahwa pemimpin partainya disandera di dalam gedung parlemen. Massa penentang NATO pun berubah menjadi beringas. Batu-batu dan telur dilempari massa penentang NATO hingga memecahkan kaca jendela dan hampir mengenai presiden parlemen. Polisi terpaksa menggunakan tongkat plastik dan gas air mata –yang baru pertama kali digunakan di Islandia dan baru digunakan lagi pada pengamanan demonstrasi Januari 2009– untuk mengatasi keadaan. Baca juga:  Ikan Pemicu Perang Kondisi tersebut tak menghentikan sidang di dalam gedung. Parlemen akhirnya memutuskan Islandia bergabung dengan NATO kendati kericuhan di luar gedung masih terjadi hingga beberapa jam kemudian. Kendati demonstrasi itu gagal, ia menjadi “bahan bakar” bagi bergeloranya gerakan anti-NATO di Islandia. “Kehadiran tentara AS yang sangat militeristik, karena posisi geostrategis utama Islandia, membuat ketegangan tetap tinggi dalam beberapa dekade berikutnya –kadang-kadang memicu mobilisasi yang signifikan,” ungkap buku yang ditulis Donatella Della Porta dan kawan-kawan, Late Neoliberalism and Its Discontents in the Economic Crisis: Comparing Social Movements in teh European Periphery . Bahkan, jauh setelah Perang Dingin usai, para pendukung anti-NATO tetap eksis di Islandia. Dalam demonstrasi Januari 2009 sehubungan dengan ambruknya ekonomi Islandia, beberapa aktivis tua anti-NATO melibatkan diri. "Gerakan anti-NATO belum dilupakan, tetapi semakin kuat selama mobilisasi. Anda akan melihat orang-orang muda bergabung dalam demonstrasi, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah tindakan terkuat yang pernah Anda lihat selama bertahun-tahun. Karena mereka melibatkan lebih banyak orang, orang-orang yang lebih muda. Anda akan melihat nenek-nenek ini, para perempuan tua ini, memprotes –begitu saya melihat sekelompok dari mereka mengenakan topeng di wajah mereka– seperti topeng para anarkis, tiba-tiba bahkan yang lebih tua pun mengenakan syal dan topeng,” kata salah seorang demonstran, dikutip Donatella dan kawan-kawan.

  • Tio Ditampar Wim

    Terjadi kejutan dalam penganugerahan Oscar tahun 2022. Mungkin pertama dalam sejarah Oscar. Will Smith berjalan ke atas panggung lalu menampar Chris Rock karena istrinya, Jada Pinkett Smith, disebut sebagai pemeran G.I. Jane 2 . Film G.I. Jane  (1997) diperankan oleh Demi Moore yang berpenampilan kepalanya botak. Will Smith marah karena istrinya botak disebabkan oleh penyakit autoimun alopecia. Aktor Denzel Washington dan Bradley Cooper berusaha menenangkan Will Smith. Usai kejadian penamparan tersebut, Will Smith kemudian disebut sebagai pemenang kategori Aktor Terbaik untuk pertama kalinya dalam perannya di film King Richard . Dalam pidatonya, Will Smith mengatakan Denzel Washington memberitahunya bahwa “Pada saat Anda berada di momen tertinggi, berhati-hatilah. Saat itulah iblis datang kepada Anda.” Baca juga:  Karpet Merah Piala Oscar dalam Sejarah Will Smith menampar Chris Rock di ajang Oscar 2022. ( @twitter ). Dalam sejarah perfilman Indonesia, ada juga aktor yang ditampar meski dalam kesempatan berbeda. Aktor itu adalah Tio Pakusadewo. Aktor kelahiran Jakarta, 2 September 1963 itu memulai kariernya bermain film layar lebar pada 1987. Dia mulai dikenal sebagai aktor menjanjikan setelah berperan dalam film Cinta Dalam Sepotong Roti  arahan sutradara Garin Nugroho pada 1990. Pada tahun itu juga, Tio bermain dalam film Pengantin garapan Wim Umboh, sutradara senior yang telah berkarya sejak tahun 1955. Dalam film itu, mengutip filmindonesia.or.id , Tio berperan sebagai Agus yang berteman dengan pemuda playboy , Ryan (Ari Wibowo).   Mereka bertaruh   untuk menaklukkan Santi (Sophia Latjuba) yang baru dikenal di sebuah diskotek. Ayah Ryan tak suka dan berusaha memisahkan termasuk memberi imbalan uang pada Santi. Ayah Santi marah. Ternyata kedua ayah itu musuh bebuyutan. Akhirnya, Ryan dan Santi lari ke sebuah desa. Kedua ayahnya saling tuduh untuk akhirnya berdamai. Mereka kemudian menyusul ke tempat tinggal Ryan dan Santi. Namun, keduanya terkapar berdarah karena ulah kelompok bergajulan. Baca juga:  Enam Aktor Asia Pemilik Piala Oscar Tio merasa berkesan dengan film itu, terutama dengan sutradaranya. “Tio paling ingat satu hal dalam perjalanan kariernya di bidang film: ditampar sampai sebelas kali oleh Wim Umboh, sutradara besar era 70-80-an,” tulis sutradara Nia Dinata dalam  Berbagi Suami: Fenomena Poligami di Indonesia . Buku ini tentang skenario dan cerita di balik layar film yang rilis tahun 2006 itu. “Namun, berangkat dari hal itulah Tio menjadi lebih disiplin dalam bekerja,” lanjut Nia. Wim Umboh (kanan) menerima Piala Citra kategori Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia. (Perpusnas RI).   Baca juga:  Sang Aktor Laga Telah Tiada Tio membuktikannya dalam film Lagu Untuk Seruni (1991) garapan sutradara Labbes Widar. Dia meraih Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 1991. Dia kembali meraih Piala Citra kategori Pemeran Utama Pria Terbaik dalam FFI 2009 lewat film Identitas arahan sutradara Aria Kusumadewa. Tio dinominasikan delapan kali untuk Piala Citra FFI, menjadikannya salah satu aktor yang paling banyak dinominasikan dalam sejarah ajang tersebut. Baca juga:  Romansa dari Masa Prahara Selain FFI, Tio juga dinominasikan dalam ajang-ajang penghargaan film lain baik nasional maupun Asia Tenggara. Dia meraih penghargaan sebagai Pemeran Pendukung Film Terfavorit dalam MTV Indonesia Movie Awards 2006 lewat film Berbagi Suami ; Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Indonesian Movie Actors Awards 2009 lewat film Identitas ; Pemeran Utama Pria Terfavorit dalam Indonesian Movie Actors Awards 2012 lewat film Dilema ; dan Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Usmar Ismail Awards 2016 lewat film Surat dari Praha . Tio merupakan aktor yang produktif. Saat ini, dia tengah bermain dalam film Mencuri Raden Saleh dan film horor, Lantai 4 . Namun, dalam perjalanan kariernya, dia dua kali (2017 dan 2020) ditangkap polisi karena kasus narkoba. Menurut Nia, Tio yang menghabiskan waktu menunggu syuting dengan membaca kartun merasa tidak punya idola tetapi pesaing, yakni Marlon Brando. “ Orang yang berpegang pada diri sendiri, karena baginya segala sebab-akibat berasal dari diri sendiri,” tulis Nia.

  • The Batman dan Sisi Kelam Kehidupan Nyata

    KOTA Gotham di malam Halloween. Gelapnya langit makin pekat, dinginnya cuaca sampai menusuk tulang. Vandalisme dan tingkat kejahatan di sudut-sudut kota yang tak terjamah penegak hukum melonjak hingga meresahkan warganya. Jangankan Kepolisian Gotham, Batman (diperankan Robert Pattinson) pun tak bisa menyelamatkan setiap jiwa dari bahaya. Kepolisian Gotham hanya bisa menakuti para kriminal kelas teri itu lewat rekayasa dengan memanfaatkan sosok Batman. Yakni dengan menembakkan lampu sorot dari helikopter ke setiap kriminal yang terdeteksi, lantas mengarahkannya ke sebuah lampu sinyal bersiluet lambang kelelawar. “Rasa takut adalah alat. Lampu sorot itu menembakkan sinarnya ke langit, itu bukan hanya panggilan. Itu sebuah peringatan,” tutur Batman lewat narasinya di preambul film superhero garapan sutradara Matt Reeves bertajuk The Batman. Baca juga: Aquaman Sang Penguasa Tujuh Lautan Walikota dan jaksa distrik kota Gotham yang jadi korban pembunuhan psikopat the Riddler (Warner Bros. Pictures) Batman dihadapkan pada kriminalitas lain yang lingkupnya lebih besar dan mendalam. Pasalnya di malam itu juga terjadi pembunuhan keji terhadap Walikota Gotham Don Mitchell Jr. (Rupert Penry-Jones). Atas izin Letnan (polisi) James Gordon (Jeffrey Wright), Batman mendatangi langsung ruang kerja korban sebagai tempat kejadian perkara. Di sanalah pintu masuk Batman dengan alter ego “sultan” kota Gotham Bruce Wayne terlibat secara intens menginvestigasinya ala detektif. Batman bersedia karena diminta Gordon yang dipercayai Batman sebagai satu-satunya polisi yang belum terjamah korupsi dan jaringan mafia. Satu misteri di balik pembunuhan itu muncul dengan ditemukannya surat dari si dalang pembunuhannya, Edward Nashton alias Riddler (Paul Dano), yang berisi teka-teki. Teka-teki kembali muncul ketika kemudian terjadi pembunuhan sadis jaksa distrik Gil Colson (Peter Saarsgard), di mana Riddler kembali menyisipkan surat berisi teka-teki khusus untuk Batman seorang. Baca juga: Lika-liku Harley Quinn dalam Birds of Prey Alfred Pennyworth, Letnan Polisi James Gordon, dan Catwoman yang menyokong Batman memecahkan kasus Riddler (Warner Bros. Pictures) Sehebat-hebatnya dan setajir-tajirnya Bruce Wayne “Batman”, ia tetap tak bisa memecahkannya sendirian. Maka ia memerlukan bantuan kepala rumah tangga yang eks-intelijen militer, Alfred Pennyworth (Andy Serkis), dan si seksi Selina Kyle alias Catwoman (Zoë Kravitz). Alfred bertugas memecahkan sandi-sandi tersembunyi dari teka-teki Riddler, sedangkan Catwoman mengulik informasi dengan memanfaatkan pekerjaan sambilannya sebagai pelayan klub malam Iceberg Lounge yang dimiliki mafia Oswald Cobblepot alias Penguin (Colin Farrell). Hasil temuannya bikin syok. Dua aksi Riddler dan antek-antek bawah tanahnya berkelindan dengan situasi kusut kota Gotham yang terjerat korupsi dan bisnis dunia hitam bos mafia Carmine Falcone (John Turturro). Investigasi Batman juga menyibak topeng di balik bisnis dunia hitam itu yang bercumbu mesra dengan aparat penegak hukum dan tokoh politik, seperti mendiang walikota Gotham. Batman tambah dibuat depresi lantaran jika benang merahnya direntangkan lebih jauh, antara pembunuhan dan perselingkuhan mafia-pejabat politik itu berhubungan dengan mendiang kedua orangtuanya, Thomas dan Martha Wayne. Seperti apa kekusutan teka-teki si psikopat Riddler dan bagaimana Batman memecahkannya? Ungkaplah sendiri tabirnya di film yang tayang di bioskop-bioskop tanah air sejak 2 Maret 2022 ini. Baca juga: Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran Gembong mafia Penguin (kiri) & Carmine Falcone (Warner Bros. Pictures) Versi Detektif Perdana The Batman digarap Matt Reeves sebagai film reboot , bukan sekuel atau bagian franchise film-film Batman dari rumah produksi lain, apalagi DC Extended Universe (DCEU). Dari aspek artistik, efek visual The Batman tak kalah memukau dari garapan DCEU atau Marvel Cinematic Universe (MCU). Khusus visualnya, tone temaram sangat dominan. Hampir tiada tone terang kala Reeves menyuguhkan gambaran mencekam sudut-sudut kota kota Gotham, klub malam mafia, hingga mansion mewah Bruce Wayne beserta Batcave-nya. Hal itu justru menambah greget sisi kelam serta super-noir (drama kriminal sadis), baik Batman sendiri maupun plot cerita yang disajikan Reeves. Maka itulah Reeves menyertakan rating PG-13 alias film hanya boleh dinikmati penonton 13 tahun ke atas. Baca juga: Para Pemeran di Balik Topeng Batman Sutradara Matt Reeves saat mengarahkan para pemeran "The Batman" (Warner Bros. Pictures) Sisi artistik visual itu makin terasa kelamnya dengan music scoring garapan komposer Michael Giacchino. Kendati racikannya cukup variatif, mulai dari orkestra-orkestra macam “Piano Concerto No.5” hingga tembang rock “Something in the Way” karya band grunge legendaris Nirvana, semua tetap menghasilkan impresi muram dan mencekam. Plot cerita yang disajikan Reeves menyempurnakannya. Kendati disematkan genre superhero, plot cerita sejatinya perpaduan antara kisah detektif, super-noir , horor, dan psychological thriller . Hasilnya, sebuah live-action yang ramai apresiasi, termasuk di tanah air, karena sama sekali berbeda dari film-film Batman sebelumnya atau film-film superhero pada umumnya. “Kalo dari kita, teman-teman (fans) rata-rata bilangnya puas dan pendekatannya memang beda. Pada dasarnya kita senang karena film ini berhasil mengangkat sisi Batman yang belum pernah dieksplor secara masif di layar lebar, yaitu (versi) detektifnya, jadi dia solving case ,” tutur Galih Aristo, founder komunitas Gotham Citizen Club (GCC), kepada Historia. Baca juga: Wajah Joker dalam Lima Aktor Galih Aristo (ketiga dari kanan) bersama rekan-rekan fans Gotham Citizen Club (Instagram @gothamcitizenclub) Batman sebagai detektif memang belum populer. Hanya segelintir fans berat seperti Galih atau rekan-rekan sekomunitasnya yang mengetahuinya karena sejak lama mengoleksi komik-komik DC Comics. “Film ini memang mengambil banyak elemen dari komik juga. Kalau di komik malah sudah tidak aneh. Karena salah satu nickname -nya Batman kan ‘The World’s Greatest Detective’, selain (julukan) ‘The Dark Knight’, atau ‘The Caped Crusader’.Juga tokoh Alfred yang memang di beberapa versi komik disebutkan background -nya ex-military. Dia bisa melawan balik si penjahat yang masuk ke Batcave. Kita sih suka-suka saja asal chemistry -nya tetap ada,” lanjutnya. Kolektor action figure DC Comics itu merujuk pada antologi Detective Comics edisi ke-27 terbitan 30 Maret 1939. Di sana, karakter pahlawan ciptaan duet penulis-ilustrator Bob Kane dan Bill Finger itu mulai diperkenalkan sebagai karakter berinsting investigatif tajam kala terlibat dalam penyelidikan sindikat senjata kimia. “Karakter (detektif) ini terbukti menjadi hit dan kemudian diperluas dengan judul solonya sendiri pada 1940, seiring tetap eksis di terbitan-terbitan Detective Comics berikutnya. Saat itu DC Comics jadi top-seller dan penerbit paling berpengaruh di industri komik,” ungkap Bradford W. Wright dalam Comic Book Nation. Makin Kelam dan Mendekati Realita Sebagaimana di komik, karakter Batman dan plot cerita di circle -nya berkembang dari yang cenderung berwarna, komikal, hingga konyol. Belakangan, semakin kelam (dark) . Pun saat dialihwahanakan ke layar lebar juga lebih luwes menyesuaikan zaman. “Ya, sekarang lebih gelap,” tutur Galih. Film seri hitam-putih The Batman yang bergulir 15 episode pada 1939 yang jadi versi live-action perdana , misalnya. Jalan ceritanya tak luput dari isu-isu Perang Dunia II lantaran sesuai masanya. Batman saat itu dimainkan aktor Lewis Wilson, ditemani Douglas Croft yang memerankan Robin. “Wilson memainkan peran Batman secara lugas dengan sikap seorang pahlawan. Wilson juga luar biasa dalam menangkap karakter ganda Bruce Wayne di film berbau propaganda perang untuk menaikkan moril, walau akhirnya mengabaikan plot klasik dalam komiknya,” tulis Mark S. Reinhart dalam The Batman Filmography. Baca juga: Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah Searah jarum jam, enam versi live-action Batman dari 1966-2017 (IMDb) Versi klasik seperti dalam komik baru kembali dimunculkan dalam film seri Batman (1966), sekaligus jadi versi live-action berwarna pertama. Versi itu lalu digantikan film-film yang lebih ringan jalan cerita dan penggambaran karakternya sehingga bisa dinikmati penonton usia dini sebagaimana versi kartun, seperti Batman (1989), Batman Returns (1992), Batman Forever (1995), dan Batman & Robin (1997). “Sebenarnya Batman kan pernah mengalami era-era yang berwarna-warni. Misal di Batman (1966) yang diperankan Adam West, yang kalau ditonjok ada ( after effects ) ‘Kapow!’, ‘Pow!’ begitu yang zamannya klasik. Jadi saya melihat memang ini pengembangan sih, termasuk karakteristik Batman yang terus berkembang,” sambung Galih. Perubahan drastis versi live action dengan nuansa gelap muncul seiring trilogi Dark Knight garapan Christopher Nolan: Batman Begins (2005), The Dark Knight (2008), dan The Dark Knight Rises (2012). Sedikit-banyak trilogi itu mengadaptasi versi tetralogi komik Batman: The Dark Knight Returns terbitan Februari-Juni 1986. “Sejarahnya itu awalnya (Batman) tidak se- dark itu tapi along the way dikemas di komiknya juga berkembang lebih gelap karena juga punya trauma di plot origin -nya, di mana orangtuanya ditembak. Gotham-nya juga jadi kota yang penuh dengan kejahatan,” tambahnya. Baca juga: Menertawakan Kepedihan Hidup Bersama Joker Sosok the Riddler yang diperankan Paul Dano (kiri) & sketsa wajah "Zodiac Killer" (Warner Bros. Pictures/San Francisco Police Department) Dalam The Batman (2022), Reeves mengarang ceritanya dari nol dengan bertolak dari banyak referensi. Ia tak hanya menggunakan komik-komik bernuansa cerita gelap tapi juga beberapa film thriller dan tokoh nyata. Sosok Bruce Wayne, misalnya, penokohannya terinspirasi dari vokalis Nirvana, Kurt Cobain. Lalu penggambaran tokoh Riddler, secara visual dan metode kejahatannya “11-12” dengan pembunuh berantai misterius di era 1960-an berjuluk “Zodiac Killer”. Alhasil, apa yang disajikan film-film Batman belakangan, terutama The Batman (2022), menyerupai situasi di dunia nyata. “Batman takkan pernah lagi menyenangkan atau bersenang-senang. Dia menjadi superhero pemurung, dihantui masa lalu traumatik, gelisah di sekitar Gotham yang sarat kejahatan. The Batman garapan Matt Reeves menjadi metafora nyata akan Amerika di era 2020-an. Kondisi di mana orang-orang bersenjata bisa menembak calon walikota perempuan berkulit hitam hanya karena mereka tak suka arah kebijakan negara. Film berdasarkan komik ini akan mengajak kita menghadapi sisi gelap kita sendiri,” tulis kritikus Stephanie Zacharek di kolom TIME , 28 Februari 2022. The Batman, menurut Galih, cerminan kondisi dunia saat ini. Meski digambarkan lewat karakter maupun latarbelakang ruang dan waktu yang fiktif, pesan yang disuguhkan Batman begitu erat dengan keadaan di dunia nyata yang marak dengan ketimpangan sosial hingga membuat yang miskin semakin edan , yang berharta makin kaya, yang berbisnis gelap makin leluasa, dan pejabat-aparat makin korup. “Batman sendiri salah satu superhero yang paling enak diolah dengan pendekatan realistis karena dia enggak punya superpower . Dia hanya orang kaya yang punya teknologi macam-macam. Musuh-musuhya pun bukan supervillains tapi ya psikopat, sosiopat. Dan kita semua menyukai Batman karena sebenarnya itu refleksi dan sangat dekat dengan kehidupan nyata,” tandas Galih. Deskripsi Film: Judul: The Batman | Sutradara: Matt Reeves | Produser: Matt Reeves, Dylan Clark | Pemain: Robert Pattinson, Andy Serkis, Zoë Kravitz, Paul Dano, Jeffrey Wright, Colin Farrell, John Turturro, Peter Sarsgaard | Produksi: DC Films, 6th Idaho, Dylan Clark Productions | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: Superhero | Durasi: 176 Menit | Rilis: 1 Maret 2022 (Bioskop), 19 April 2022 (HBO Max).

  • Aceh, Turki, dan Rusia

    SERBUAN Rusia ke Ukraina belum berakhir. Berbagai pengamat menyebutkan ini bisa jadi cikal bakal Perang Dunia III. Rakyat Indonesia mempertanyakan di mana posisi Indonesia dalam perang tersebut, mendukung Rusia atau Ukraina?

  • Peran Soeharto dan Keppres Hari Penegakan Kedaulatan Negara

    MULAI tahun ini, peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 ditetapkan sebagai hari besar nasional. Penetapan itu dikeluarkan Presiden RI Joko Widodo melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara tertanggal 24 Februari 2022.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page