Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Angkringan Punya Cerita
LANGIT mulai senja. Di sebuah gang yang diapit jajaran bangunan ruko kusam di Jakarta, Dedi (diperankan Dwi Sasono) mendorong gerobaknya sampai ke sebuah kedai tempatnya akan membuka angkringannya. Setelah menyiapkan bangku, meja, dan gerobak angkringan yang jadi “dapurnya” di dalam kedai, ia pun menyibak kain spanduk bertuliskan “Angkringan Arumdalu”. Ia siap menerima pelanggan. Tetapi kala malam tiba, angkringannya masih sepi pembeli. Baru kemudian seorang ibu yang celingukan di ambang pintu muncul. Dedi menyambutnya dan berkenalan. Ibu Ratih (Dayu Wijanto), begitu ia menyebut namanya, minta dibuatkan kopi hitam dengan gula. Ratih jadi teringat mendiang suaminya. Itu jadi kopi pertamanya setelah suaminya meninggal. Dari berkisah basa-basi, Ratih pun tak kuasa mengeluarkan unek-uneknya. Baca juga: Kopi Jawa Bikin Kecanduan Orang Eropa Ratih, pelanggan pertama di angkringan yang mengaku lelah berbohong bahwa hidupnya bahagia (Lifelike Pictures) Begitulah adegan pembuka episode pertama Angkringan the Series garapan sutradara Adriyanto Dewo. Rangkaian skrip yang disajikan lewat enam episode ini berpusar di warung angkringan milik Dedi dengan beraneka drama menyentuh dari pergelutan hidup masyarakat menengah ke bawah. Drama kehidupan yang dialami Ratih, misalnya. Ia berkisah bahwa ia selalu menyajikan kopi hitam manis kepada suaminya yang lalu dinikmati dengan bahagia. Tetapi pada satu titik ia trauma karena ternyata selama ini tak pernah bahagia. Selain sering mengalami KDRT, Ratih juga hidup terbelenggu dan selalu jadi perempuan yang siaga di rumah tanpa punya kebebasan sedikitpun. Baca juga: Potret Perempuan Penyintas 1965 dalam You and I Dedi jadi pendengar yang baik, baik pada Ratih maupun pada pelanggan bernama Tono (Teuku Rifnu Wikana). Tono seorang sopir truk yang diceraikan istri dan dilarang bertemu anaknya gegara kecanduan judi bola. Namun, Dedi tak melulu jadi penjamu yang lemah lembut. Ada kalanya ia emosi bahkan sampai menggebrak meja. Terutama ketika datang sejoli remaja SMA, Amanda (Arawinda Kirana) dan Kevin (Dito Darmawan), yang bertengkar dan bikin gaduh sampai membuat pelanggan-pelanggan lain pergi. Emosi Dedi baru mereda setelah “dicurhati” bahwa Amanda hamil dan berniat aborsi. Kolase para pelanggan angkringan dengan aneka pergulatan hidup (Lifelike Pictures) Dedi juga bisa terenyuh mendengar kepahitan hidup Budi (Morgan Oey) sebagai waria. Budi yang selalu mengalami perlakuan diskriminatif ingin melepas putrinya, Alya (Alleyra Fakhira), ke kampung halaman agar tak lagi jadi korban perundungan teman-temannya. Pun ketika kedatangan gadis misterius (Aurora Ribero) yang baru pulang dari sebuah kontes menyanyi. Dedi tersentuh dengan cerita gadis itu yang ingin bisa terkenal demi mengurangi beban ibunya sebagai orangtua tunggal. Unek-unek maupun curhatan para pelanggan Dedi bukan tanpa arti. Semua kisah itu berkelindan dengan apa yang dirasakan Dedi dan selama ini terpendam di lubuk hatinya. Cerita mereka semua membangkitkan kenangan pahit dan pelajaran kehidupan bagi Dedi yang ditinggal pergi istrinya, Mirna (Kenes Andari), dan putri kecilnya, Ratu (Ersya Nabila). Sudah 12 tahun Dedi kehilangan keduanya dan sejak saat itu setiap malam Dedi tak pernah absen “celingukan” ketika mendengar bus berhenti dan menurunkan penumpangnya di depan warung angkringannya. Ia merasa punya salah kepada anak dan istri sampai mereka meninggalkan Dedi. Bagaimana Dedi menebus dosanya? Saksikan sendiri kelanjutan Angkringan the Series yang ditayangkan secara eksklusif di platform daring Mola TV. Kenyang Drama tanpa Selera Tembok-tembok kusam berpadu furnitur dan peralatan-peralatan lawas membuat kedai angkringan milik tokoh Dedi begitu terasa atmosfer klasiknya. Radio kecil yang tergantung di gerobak angkringannya turut memanjakan telinga penonton dengan tembang-tembang dangdut dan keroncong lawas. Hanya saja, aspek estetisnya “dicederai” tone film yang terbilang monoton. Temaram dari pencahayaan di dalam ruangan kedai dan waktu yang nyaris selalu di malam hari mendominasi. Angkringan the Series juga terlalu berpegangan pada kekuatan drama masing-masing tokoh pelanggan. Pentonton melulu disuguhi pergulatan hidup tanpa disajikan sedikitpun insight atau wawasan tentang angkringan itu sendiri. Memang tema kuliner bukan jadi fokusnya, kendati meminjam tajuk “angkringan”. Namun hal itu justru membuat beragam makanan dan minuman yang disajikan sekadar pelengkap tiada arti. Cara meracik hidangan Dedi saat menghidangkan kopi joss, sekoteng, internet (mie instan dengan telur dan kornet), hingga nasi goreng pun seperti ditampilkan apa adanya. Padahal setiap sajian lazimnya punya arti, sejarah, atau falsafah tersendiri. Sebagaimana yang disuguhkan film drama bertema kuliner lain, Tabula Rasa (2014), misalnya, yang juga digarap rumah produksi dan sutradara yang sama. Selain sarat drama, Tabula Rasa mengguggah selera dan juga membuka cakrawala pengetahuan penonton bahwa setiap hidangan yang disajikan di sebuah rumah makan Padang selalu mengandung makna tersendiri. Baca juga: Tabula Rasa yang Menggugah Selera Set Angkringan the Series yang didominasi tone temaram (Lifelike Pictures) Angkringan dari Klaten, Kopi Joss dari Yogya Dalam film ini, angkringan yang ditampilkan tidak seperti angkringan pada umumnya yang kondang di Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, atau di Jabodetabek. Ia berupa warung di sebuah bangunan dengan gerobak di dalam ruangan sebagai satu-satunya penanda ia adalah angkringan. Sajian-sajiannya juga cenderung seperti warung kopi modern. Selain ada kopi joss, Dedi sang tokoh juga menjual sekoteng dan nasi goreng. Kedua menu itu tak umum didapati di angkringan. “Sego kucing” atau nasi kucing yang menjadi ciri khas angkringan justru sama sekali tak ditampilkan. Padahal, menilik sejarahnya, angkringan bermula dari pikulan, bukan gerobak. Diyakini dua inisiator “Desa Cikal Bakal Angkringan”, Suwarna dan Gunadi, di laman resmi pemprov Jawa Tengah 27 Februari 2020, angkringan dimulai dari penjual makanan asal Desa Ngerangan, Klaten yang menjajakan dagangannya menggunakan pikulan pada zaman pendudukan Jepang. Saat itu belum disebut “angkringan”, melainkan “hik” karena dijajakan dengan meneriakkan “hiyek”. Karena itulah pada Februari 2020 Desa Ngerangan ditetapkan sebagai desa cikal-bakal angkringan. “Sejarah angkringan memang bermula dari upaya menaklukkan kemiskinan usaha, konon dimulai di Klaten. Awalnya pedagang minuman dan makanan kecil menggunakan pikulan. Dahulu mereka disebut pedagang hik. Nama hik bermula pada tradisi malam selikuran di Keraton Surakarta,” tulis Noor Fajar Asa dalam Serpihan yang Menerangi. Baca juga: Bisnis Ikan Berkumis Angkringan yang masih mempertahankan pikulan ( visitingjogja.com ) Para pedagang hik menjajakan makanan khas “wong cilik”. Di antaranya terikan, jadah atau ketan bakar, singkong, kacang, getuk, dan aneka sate. Nasi kucing –disebut demikian karena porsi nasinya yang sedikit seperti untuk makan kucing–dengan lauk ikan asin atau oseng tempe baru mulai menggeser “kedudukan” terikan kala para pedagang itu mulai merambah Yogyakarta. Di Yogyakartalah sebutan angkringan muncul pada 1950-an dan alat menjajakan dagangan mengalami perubahan dari pikulan menjadi gerobak. Lazimnya, gerobak-gerobak angkringan berada di pinggir jalan ramai. Untuk mengundang lebih banyak pembeli, biasanya pedagang angkringan juga menggelar tikar atau terpal di trotoar agar pelanggannya bisa lebih santai dengan duduk lesehan. Baca juga: Satu Nusa Soto Bangsa Lama-kelamaan, hal-hal khas angkringan itu membuka ruang bagi para pembelinya untuk tidak sekadar mendapat makanan atau minuman murah sambil melepas penat, tapi juga tempat bercengkerama dan mengeluarkan unek-unek seperti halnya warung kopi (warkop). Bukan lagi hanya obrolan “ ngalor-ngidul ” tanpa juntrungan yang jadi bahan obrolan para pelanggan, olahraga sampai politik pun kemudian ikut diobrolkan. Terlebih di angkringan-angkringan yang berlokasi dekat kampus. “Karena istilah angkringan dari bahasa Jawa, ngangkring , artinya hinggap untuk sementara. Dahulu angkringan jadi tempat mengisi waktu, bukan untuk makan yang sebenarnya. Yang datang berkunjung adalah para pekerja yang bekerja malam pulang pagi atau pedagang pasar yang selesai berdagang di pagi hari. Angkringan juga menjadi tempat para seniman mencari ilham, juga karena suasananya yang romantis jadi pilihan bagi mereka yang berkencan,” ungkap Murdijati Gardjito, dkk dalam Kuliner Yogyakarta: Pantas Dikenang Sepanjang Masa. Angkringan mulai populer di Jogja ( pariwisata.jogjakota.go.id ) Baru pada era 1990-an ketika Yogya makin ramai sebagai destinasi wisata, angkringan merambah ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, bahkan Jakarta. Di angkr i ngan pula kopi joss bermula, yakni di Angkringan Lik Man yang terletak di sisi utara Stasiun Tugu. Berbeda dari angkringan lain, Angkringan Lik Man mempertahankan tradisi berjualan dengan pikulan walau letaknya ada di dalam tenda dan turut menggelar lapak. Ciri khas itu dipertahankan Lik Man sang pemilik yang memang berasal dari Klaten. “Mahasiswa, wartawan, seniman, sampai preman dan waria sudah sangat akrab dengan angkringan yang berdiri sejak 1968 itu. Awalnya berjualan di selatan Stasiun Tugu tapi kemudian pindah ke utara stasiun. Angkringannya menempel tembok pagar pembatas area Stasiun Tugu di Trotoar Jalan Wongsodirjan,” tulis Syafaruddin Murbawono dalam Monggo Mampir: Mengudap Rasa Secara Jogja. “Kopi Joss” merupakan istilah yang digunakan untuk menamakan minuman kopi hitam yang dicampur arang yang masih membara hingga menimbulkan suara “jossss”. Kopi “buatan” Lik Man itu kemudian ditiru angkringan-angkringan lain di luar Yogya. “Kopi joss berasal dari kopi curah yang masih kasar. Kopi yang sudah dibuat itu lalu dicemplungi potongan arang membara yang dipungut dari tungku. Ada juga teh ‘nasgithel’ (panas, legi , kenthel ). Dua gagrak minuman ini bisa membikin tubuh seger sumyah . Kesegaran dan kehangatan yang timbul berkat menyesap kopi (joss) dan thel (nasgithel),” tandas Syafaruddin. Baca juga: Menusuk Sejarah Sate Kopi Joss yang bermula dari Angkringan Lik Man ( visitingjogja.com/@briandsumito ) Deskripsi Film: Judul: Angkringan the Series | Sutradara: Adriyanto Dewo | Produser: Sheila Timothy | Pemain: Dwi Sasono, Dayu Wijanto, Teuku Rifnu Wikana, Arawinda Kirana, Dito Darmawan, Morgan Oey, Alleyra Fakhira, Aurora Ribero, Kenes Andari, Zack Lee, Ersya Nabila | Produksi: Lifelike Pictures | Genre: Drama | Durasi: 17-25 menit/6 episode | Rilis: 21 April 2021 (Mola TV)
- Pagi Mencekam di Kediaman D.I. Pandjaitan
KEBAYORAN, 1 Oktober 1965. Deru suara panser memecah keheningan dini hari itu. Letkol Herman Sarens Sudiro bersama enam anak buahnya memacu kendaraan lapis baja jenis Saracen. Berdasarkan keterangan dari perwira kavaleri bernama Letkol Trihardjo, telah terjadi keributan di Jalan Hasanudin 53. Lokasi itu tidak lain merupakan kediaman Brigjen D.I. Pandjaitan, asisten IV/Logistik Menteri Panglima Angkatan Darat. “Trihardjo dari SUAD meminta panser dengan alasan untuk mengusir garong dari rumah D.I. Pandjaitan,” kata Herman dalam otobiografinya Ancemon Gula Pasir: Budak Angon Jadi Opsir . Ada dua panser Saracen yang memang diparkir di rumah Herman. Perintah agar panser itu berada di rumah Herman berasal dari Brigjen Muskita, wakil Asisten II Menpangad. Saat itu, Herman menjabat sebagai kepala Biro Hubungan Antar Angkatan dan Kesiapsiagaan SUAD II. Dia bertanggung jawab atas pengawasan dan patroli Markas Besar AD. Berangkat dari kediamannya di Jalan Daksa, Herman tiba di tujuan menjelang fajar menyingsing. Setibanya di rumah Pandjaitan, panser berhenti. Herman meloncat turun sambil mendekap senjata G-3 Getmi dalam kondisi siap menyalak. Pintu gerbang halaman masih terkunci, tetapi kaca-kaca jendela pecah berantakan. Suasana rumah terlihat ganjil dan mengundang rasa curiga. Dalam buku Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam disebutkan, Herman Sarens langsung masuk dan menemui istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan, di lantai atas. Namun, Marieke masih dalam kondisi terpukul dan trauma melihat tentara berseragam. Nyonya Panjaitan itupun mengusir Herman Sarens dari rumahnya. Menurut anak-anak Pandjaitan, suasana rumah mereka benar-benar sangat mencekam. Genangan darah, bercak-bercak, dan lubang peluru tampak di mana-mana. Perabot-perabot rumah berantakan dan serpihan lampu berserakan. Demikian pula lukisan, berlubang-lubang terkena tembakan. Ketika berada di pintu halaman, Herman berpapasan dengan Brigjen Junus Samosir, wakil Asisten I Menpangad. Samosir yang merupakan sahabat Pandjaitan itu tidak menyangka Herman Sarens yang datang. Mereka saling menyapa. Dari keterangan yang diperoleh dari keluarga Pandjaitan, Herman memperoleh informasi bahwa Pandjaitan diculik oleh pasukan pengawal presiden Tjakrabirawa. Persisnya, seperti disebut Aco Manafe dalam Teperpu: Mengungkap Pengkhianatan PKI pada Tahun 1965 dan Proses Hukum bagi Para Pelakunya , pasukan yang bertugas menculik Pandjaitan sebanyak satu peleton pimpinan Serda Soekardjo dari Batalion 454 Banteng Raiders Diponegoro. Pasukan ini terdiri dari 1 regu Batalion 454, 1 regu Brigade Infantri Jaya Sakti, dan sekelompok sukarelawan Pemuda Rakyat. Keadaan kacau yang ditimbulkan pasukan itu memaksa Katherin, putri sulung Pandjaitan, berupaya mencari pertolongan. Mulanya, dia menuju rumah Jenderal Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar 43. Setiba di sana, rumah Pak Nas tampak ramai. Orang-orang sekitar mengatakan Jenderal Nasution diculik. Katherin kemudian bergegas ke rumah bapak tuanya (abang dari D.I.Pandjaitan) Samuel Pandjaitan dan memberitahukan apa yang telah terjadi. Ketika hari sudah terang, banyak orang berdatangan ke rumah Pandjaitan. Beberapa di antara yang datang adalah pejabat dan perwira TNI. Anak-anak Pandjaitan masih menangis dan kebingungan. “Saya sudah siuman dan menangis ketika Katherin datang, tetapi pingsan lagi. Masa, adik Katherin, juga pingsan,” tutur Marieke dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Setelah mengamati keadaan di rumah Pandjaitan, Herman Sarens kembali ke pansernya. Herman sedianya hendak melapor kepada atasannya, Asisten II/Operasi Menpangad Mayjen Djamin Gintings. Namun, Gintings belum pulang dari Medan dalam rangka menyertai kunjungan Wakil Perdana Menteri I Soebandrio. Maka, satu-satunya tujuan Herman untuk melapor ialah wakil Gintings, Brigjen Muskita. Panser Saracen itu pun melaju ke kediaman Muskita di Jalan Mangunsarkoro. Kelak, kata Herman, “Pada waktu penumpasan Gerakan 30 September 1965, panser yang ada di rumah saya, saya gunakan untuk menggebuk orang-orang PKI.”*
- Hoegeng, Pensiunan Kapolri jadi Seniman
SESOSOK manusia silver terjaring razia oleh Satpol PP kota Semarang dalam operasi yustisia. Usut punya usut, ternyata yang ditangkap seorang mantan polisi bernama Aipda Agus Dartono. Dalam pengakuannya, Agus mengaku terpaksa menjalani pekerjaan seniman jalanan itu lantaran gaji pensiunannya tidak mencukupi kebutuhan keluarga. “Saya jalan nggak punya uang, nggak punya duit, kemudian dapat uang (jadi manusia silver) dua puluh ribu, dipegang Satpol PP. Saya bilang bekas anggota polisi, pensiunan polisi,” ujar Agus Dartono sebagaimana dilansir detik.com. Terakhir, Agus berdinas di satuan lalu lintas (satlantas). Agus Dartono akhirnya dilepas usai dibina Satpol PP. Kasus ini sempat viral di berbagai media daring dan membuat iba sejumlah pihak. Kapolrestabes Semarang kabarnya menawarkan pekerjaan agar Agus tidak lagi mengamen ke jalan.
- Balada Jenderal Tahi
Selesai berdinas di Moskow sebagai duta besar, Mayor Jenderal Mochamad Jasin dapat tugas baru. Ia diangkat Pejabat Presiden Jenderal Soeharto sebagai panglima Kodam VII Brawijaya yang membawahi wilayah operasi Jawa Timur. Pengangkatan itu menjadi cara yang diambil Soeharto untuk melenyapkan pengaruh Sukarno di Jawa Timur. “Akar-akar paham Orde Lama dan kultus individu masih kuat di masyarakat. Dan ini menjadi tantangan yang harus saya hadapi,” tutur Jasin dalam memoarnya M. Jasin: Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto. Jasin memang tipikal perwira tegas. Waktu jadi panglima Kodam di Aceh, dia berhasil memadamkam pemberontakan pimpinan Daud Beureuh. Pada 15 April 1967, Jasin mengadakan serah terima jabatan panglima Brawijaya dengan Mayor Jenderal Soemitro. Baca juga: Tamparan Jenderal Mitro Setelah menjabat panglima Brawijaya, Jasin menggebrak Jawa Timur dengan serangkaian kebijakan radikal. Orang-orang PKI ditangkapi, terutama di daerah Blitar Selatan. Sejumlah pejabat pemerintah yang dicurigai “Sukarnois” masuk target “pembersihan”. Selain itu, Jasin juga menindak mereka yang berafiliasi dengan PNI kubu Ali Sastroamidjojo-Surachman (PNI-ASU). Kebijakan Jasin menuai pro-kontra di mana-mana. Namun yang paling serius, ketegangan terjadi antara Angkatan Darat dengan Korps Komando (KKO) AL. Panglima KKO Letjen Hartono dikenal sebagai pendukung setia Sukarno. Bukti loyalitas Hartono ini kemudian melahirkan semboyan “ Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Putih kata Bung Karno, putih kata KKO.” KKO tentu geram dengan langkah-langkah yang ditempuh Jasin dalam “operasi desukarnoisasi” sekaligus meng-Orde Baru-kan Jawa Timur. Hingga suatu ketika pada pertengahan 1967, pasukan KKO nekat mengumpat Jasin sewaktu mengawal beberapa truk yang membawa mayat seorang anggota PNI-ASU. Ketika melewati rumah Jasin di Jalan Darmo No. 100 Surabaya, prajurit KKO itu melontarkan cemoohan kepada Jasin. Baca juga: Ketika PNI Terbelah “ Panglima Jenderal Jasin Tahi! Panglima Jenderal Jasin Tahi! ” begitu bunyi yel-yel umpatan para anggota KKO itu yang ditujukan kepada Jasin. Jasin langsung keluar dari rumahnya begitu mendengar teriakan itu. Meski menyulut emosi, Jasin mencegah pasukan pengawalnya yang ingin bertindak. Kabar penghinaan itu sampai kepada bawahan Jasin, yakni Komandan Korem Kolonel Acub Zainal. Mengetahui panglimanya dihina, Acub tidak terima. “Dasar saya sebagai bawahan, Pak Jasin sebagai Panglima saya. Jadi buat saya, kalau ada orang luar yang menghina atasan saya, jiwa saya berontak. Dan ini menyangkut soal Sumpah Prajurit,” kata Acub dalam biografi Acub Zainal: I Love The Army karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk. Baca juga: AURI Ingin Membom Markas Kostrad? Acub Zainal, dalam biografinya mengakui sudah menyiapkan pasukan untuk menyerang markas KKO. Namun, sebelum pasukan itu digerakkan, Jasin terlebih dahulu ingin menghadapi langsung para petinggi Angkatan Laut di Surabaya. “Jasin segera bisa menyelesaikan masalah ini lewat diplomasi,” kata Acub. Keesokan harinya, Jasin mengundang panglima AL, panglima Armada, komandan AL, dan KKO. Dalam pertemuan itu, Jasin memperkarakan peristiwa penghinaan oleh pasukan KKO yang ditujukan kepada dirinya selaku panglima Brawijaya. Jasin memperingatkan, apabila terjadi lagi, komandan Brigade dan komandan Koremnya akan mengambil tindakan. Menurut Jasin, perang dingin antara AD dan KKO mulai berakhir setelah terjadi saling pengertian dengan Panglima Daerah Maritim V Laksamana Laut Suyatno. Perwita tinggi dari dua matra yang berbeda ini sama-sama setuju untuk memenangkan Orde Baru di Jawa Timur. “Kami juga bersepakat untuk menghantam kelompok yang berusaha mengembalikan Sukarno ke posisi semula,” ungkap Jasin dalam memoarnya. Baca juga: Para Panglima Pendukung Orba Dengan adanya kesepahaman tersebut, keadaan di Surabaya relatif agak tenang. Perbedaan pendapat dapat diselesaikan tanpa harus memakan korban. Jasin pun diakui sebagai salah satu jenderal yang berjasa dalam memancangkan tonggak kekuasaan rezim Orde Baru. Namun, seiring waktu, Jasin bersimpang jalan dengan Soeharto. Bersama kelompok oposisi Petisi 50, Jasin mulai kritis menyoroti penyimpangan kekuasaan dan korupsi yang dilakukan pemerintahan Soeharto. Aktivitas Jasin dalam Petisi 50 menyebabkan hidupnya, termasuk keluarga, dipersulit. Pemerintah mencekal Jasin hingga rezim Orde Baru akhirnya tumbang pada Mei 1998. “Saya yang ikut mendirikan Orde Baru, tapi karena koreksi-koreksi yang saya lakukan terhadap Orde Baru, kemudian saya disebut sebagai ‘pengkhianat’ Orde Baru,” kenang Jasin. Baca juga: Jasin, Jenderal Penantang Soeharto
- Jimmy Greaves Sang Predator Gol
PARA pemain Tottenham Hotspur dan Chelsea mengelilingi lingkaran tengah lapangan. Sekira 60 ribu penonton juga berdiri dari tempat duduk mereka. Setelah layar besar Stadion White Hart Lane, markas Spurs, menampilkan foto pemain legendaris Jimmy Greaves, gemuruh aplaus penonton mengikuti selama satu menit jelang kick off derby London di matchday kelima Premier League, Minggu petang (19/9/2021). Penghormatan itu diberikan kedua tim rival sekota itu untuk mengenang Greaves yang wafat pada Minggu paginya di usia 81 tahun. Greaves wafat dalam tidurnya di kediamannya di Essex, Inggris, karena kesehatannya yang terus menurun. Sejak 2015, mendiang Graves menderita stroke yang membuatnya lumpuh dan kesulitan bicara. Chelsea dan Spurs adalah dua klub yang punya sejarah bagi Graves semasa hidupnya. Di Chelsea, Greaves memulai debut profesionalnya dan di Spurs, ia menorehkan namanya sebagai salah satu juru gol tersubur di masanya dengan membukukan 220 gol dalam 321 penampilan. “Jimmy adalah pemain dan pencetak gol luar biasa dan seorang legenda untuk klub dan negara ini. Sungguh mengerikan untuk membayangkan betapa hebatnya dia sebagai pemain. Bagi seseorang seperti saya melihat jumlah golnya dan mungkin suatu hari saya bisa memecahkan rekornya akan sangat hebat,” kata Harry Kane, kapten Spurs yang kini baru mengumpulkan 166 gol, dilansir Sky Sports , Senin (20/9/2021). Baca juga: Obituari: Bomber Sangar Itu Bernama Gerd Müller Bukan hanya Chelsea, Spurs, dan segenap insan sepakbola Inggris yang merasa kehilangan. Tim AC Milan di Italia pun turut berduka. Walau hanya semusim, Greaves turut mengantar Rossoneri (julukan AC Milan) memenangi Serie A pada 1961-1962. “Kami turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya mantan pemain kami Jimmy Greaves. Hati dan simpati kami bersama teman, kerabat, dan keluarga tercinta yang tengah berduka. Walau kebersamaan kami tidak panjang, kami akan mengenangnya selamanya. Selamat jalan, Jimmy,” tulis manajemen klub di akun Twitter -nya, @acmilan , Minggu (19/9/2021). Tribute para pemain Tottenham Hotspur dan Chelsea untuk mendiang Jimmy Greaves ( chelseafc.com ) Tujuh Gol Dilahirkan di Manor Park, Essex, pada 20 Februari 1940, James Peter Greaves merupakan satu dari tiga bersaudara anak pasangan Jim dan Mary Greaves. Jim seorang pegawai kereta bawah tanah dan Mary ibu rumah tangga. Greaves kecil dan keluarganya harus beberapa kali pindah tempat tinggal karena serangan-serangan udara Jerman di masa Perang Dunia II. “Enam pekan setelah saya lahir pesawat-pesawat pembom (Adolf) Hitler mengunjungi jalan-jalan tempat tinggal kami. Lalu kami pindah ke Ivy House Road, Dagenham sampai saya berusia 10 tahun. Jendela rumah kami tetap harus ditutupi kertas menyilang demi menghindari pembom-pembom Jerman,” kenang Greaves dalam otobiografinya, Greavsie. Baca juga: Obituari: Gordon Banks Sang Penyelamat Bagi anak-anak miskin seusia Greaves saat itu, hiburan yang bisa diminati hanya sepakbola dan kriket. Greaves lebih tertarik pada sepakbola karena pamannya mantan pesepakbola walau gagal mencapai prestasi terbaik. “Paman saya pemain yang sangat berbakat dan pernah ditawari trial oleh West Ham United. Sayangnya kemudian ia mengalami cedera yang mengakhiri kariernya. Saya sendiri gila sepakbola. Saya bisa berjam-jam menendang bola tenis di halaman belakang. Bersama teman-teman di Ivy House Road, kami biasa bermain di jalanan dengan bola tenis itu sampai bolanya botak,” imbuhnya. Kolase Jimmy Greaves kecil (Twitter @Neiltruechels) Di usia 10 tahun, Greaves harus pindah ke Huntsman Road di Hainault, sebuah distrik di timur laut London, karena ayahnya dimutasi. Selama lima tahun berikutnya Greaves bermain di level sekolah. Jelang lulus, ayahnya dibantu seorang teman menyiapkan pekerjaan sebagai penyusun huruf mesin cetak di suratkabar The Times buat Greaves . Namun “semesta” punya rencana lain bagi Greaves. Di saat yang sama pada medio 1955 itu, seorang pemandu bakat Chelsea FC, Jimmy Thompson, mendatangi rumahnya. Thompson terkesan dengan bakat Greaves dan ingin menyalurkannya ke tim muda Chelsea. “Jimmy Thompson kemudian mengundang Jimmy (Greaves) dan ayahnya untuk minum teh di Strand Palace Hotel. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Jimmy menandatangani surat-surat kontrak dengan Chelsea walau ayahnya keberatan,” tulis Colin Shindler dalam Four Lions: The Lives and Times of Four Captains of England. Baca juga: Obituari: Jack Charlton yang Acap Bikin Kiper Berang Greaves yang digaji tiga poundsterling per pekan dan tunjangan akomodasi dua pounds tak langsung masuk tim utama asuhan Ted Drake. Drake baru mengetahui talenta Greaves setelah Greaves enam bulan tampil di tim yunior The Blues (julukan Chelsea). Itupun gara-gara Greaves mencetak tujuh gol di sebuah pertandingan di kompetisi South East Counties League. Dalam semusim itu, Greaves punya koleksi 122 gol. Greaves mengenang bagaimana percakapan mereka di sebuah lahan kecil latihan di belakang gawang Stadion Stamford Bridge pada suatu Senin pagi di tengah musim 1956-1957. “Saya dengar kamu mencetak tujuh gol Sabtu lalu, nak,” kata Drake. “Ya, Tuan Drake,” jawab Greaves. “Apa kamu tahu Aku pernah mencetak tujuh gol juga, nak?” “Ya, Tuan Drake. Semua orang tahu tentang tujuh gol Anda di Villa (Aston Villa 7-1 Arsenal, Desember 1953, red. ).” “Mencetak tujuh gol dalam satu laga adalah kejadian yang sangat, sangat langka. Kenanglah, nak. Kenanglah selamanya. Kamu akan selalu punya kenangan terhebat untuk diingat kembali di masa depan,” kata Drake sambil menepuk pundak Greaves. Chelsea jadi klub profesional pertama Jimmy Greaves ( chelseafc.com ) Predator Kotak Penalti Musim 1957-1958 jadi ajang pembuktian Greaves sebagai predator haus gol. Ia dipromosikan ke tim utama Chelsea. Debutnya di First Division (kini Premier League) dilakukan pada 24 Agustus 1957, saat Chelsea bertandang ke White Hart Lane. Dalam laga pembuka liga itu Greaves langsung dipasang jadi starter. Keputusan Drake tak keliru. Greaves meninggalkan kesan positif dengan menyelamatkan Chelsea dari kekalahan lewat golnya yang membuat kedudukan menjadi 1-1. Penyerang muda itu segera mencuri perhatian publik Inggris dan senantiasa dipercaya jadi pemain utama di starting eleven. Baca juga: Kerikil Bernama Nobby Stiles Kendati Chelsea hanya bertengger di posisi 11 klasemen akhir musim, Greaves mulai dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin di kotak penalti dengan torehan 22 gol dari 37 penampilan. Tak ayal di tahun yang sama ia sudah dipanggil ke timnas Inggris. Gol perdananya bersama timnas dicetak dalam debutnya kala Inggris menghadapi Peru dalam tur Amerikanya. Laga pada 17 Mei 1959 itu dimenangkan Peru 4-1. “Saya tak tahu kenapa tapi selalu mudah bagi saya, di mana mencetak gol jadi hal yang natural. Saya tak pernah merasakan tensi, ketegangan urat syaraf, atau tekanan apapun. Saya tak pernah kekurangan kepercayaan diri. Beberapa orang bilang saya sangat dingin di kotak penalti dan mereka mengira pembuluh darah saya dialiri es. Sebenarnya saya tak pernah emosional dan tak seperti pemain lain yang selalu cemas saat gagal mencetak gol. Karena saya yakin peluang akan datang lagi dengan lahirnya gol,” sambung Greaves. Jimmy Greaves (berdiri, ketiga dari kanan) di skuad AC Milan (EDI Milano Card 1961) Greaves bertahan di Chelsea sampai April 1961. Talentanya dilirik klub AC Milan. Torehan 125 gol dari 157 penampilannya di Chelsea membuat Milan memberi mahar 80 ribu pounds kepada Chelsea. Greaves juga diberi bonus penandatanganan kontrak senilai 15 ribu pounds dan gaji 140 pounds per pekan. Namun, Greaves tak kerasan di Italia. Bagi Greaves, Milan ibarat pelarian dari tragedi yang menimpa dirinya dan istrinya, Irene. “Di tahun 1961 putra pertamanya, Jimmy Jr., meninggal karena pneumonia di usia empat bulan. Kematiannya mengantui dirinya dan istrinya Irene sepanjang hidupnya. Jimmy awalnya tak yakin untuk pindah tapi Milan begitu gigih. Pindah ke Italia untuk Jimmy dan Irene seperti cara terbaik untuk keluar dari rasa sakit akibat kematian putra mereka,” ungkap Norm Parkin dalam Legends and Rebels of the Football World. Baca juga: Obituari: Addio Paolo Rossi! Greaves hanya bertahan enam bulan berseragam merah-hitam AC Milan. Banyak faktor yang membuatnya tak betah. Selain culture shock dan homesick , dia tak kuat dengan kedisiplinan ekstra ketat yang diterapkan pelatih Nereo Rocco. Rutinitas dan kedisiplinan latihannya sangat ketat dengan hanya sedikit kebebasan pribadi bagi para pemain. Waktu untuk keluarga hanya sedikit. Rocco juga melarang pemainnya merokok dan menenggak minuman keras. Suatu waktu, itu jadi masalah buat Greaves karena ketahuan minum bir. Dia langsung jadi sasaran kritik pedas media-media Italia. “ Calcio (sepakbola, red. ) juga masih asing bagi Greaves. Ia syok dengan cara Rocco selalu membentak pemainnya ibarat instruktur militer. Sistem permainan Rocco kemudian juga tak berhasil, di mana Greaves yang dipasangkan dengan (José) Altafini tak dimainkan jadi penyerang out-and-out sebagaimana mestinya. Greaves selalu diperintahkan bermain lebih ke belakang atau melebar ke kanan-kiri,” tulis John Foot dalam Winning at All Costs: A Scandalous History if Italian Soccer. Karier puncak Jimmy Greaves diraih semasa berseragam Spurs ( tottenhamhotspur.com ) Walau sampai akhir musim Greaves menorehkan sembilan gol dari 12 laga, manajemen Milan memutuskan akan menjual Greaves kembali. Chelsea bersedia memulangkannya dengan tawaran mahar 96 ribu pounds. Tetapi manajer Spurs, Bill Nicholson, tak ingin kalah dengan tawaran 99.999 pounds. “Milan awalnya membuka harga 100 ribu pounds. Bill keukeuh di angka 99.999 pounds dengan mengatakan: ‘Saya menolak membuatnya pesepakbola pertama yang bernilai 100 ribu pounds karena akan jadi beban baginya dan beberapa rival kami sudah mengkritik karena tawaran tinggi kami,’” singkap Brian Scovell dalam Bill Nicholson: Football’s Perfectionist . Baca juga: Cerita Lama Spurs Bersemi Kembali Milan pun berkenan melepasnya ke Nicholson. Dimulailah “romantika” Greaves dengan Spurs. Greaves tetap tajam saat pulang ke Inggris. Di laga debutnya bersama Spurs pada 16 Desember 1961, Greaves mencetak hattrick dalam kemenangan 5-2 atas Blackpool. Sepanjang membela Spurs (1961-1970), Greaves jadi pencetak gol tersubur klub dengan 220 gol dalam 321 laga. Gol-golnya sangat berperan besar dalam kesuksesan Spurs menjuarai FA Cup (1961-1962 dan 1966-1967) dan Piala Winners Eropa (1962-1963). Jimmy Greaves mengoleksi 44 gol dari 57 caps di Timnas Inggris ( englandfootball.com/fifa.com ) Greaves pun kembali jadi andalan pelatih Alf Ramsey di timnas Inggris pada Piala Dunia 1966. Di babak grup, Greaves selalu jadi starter. Namun di laga terakhir grup melawan Prancis, Greaves mengalami cedera tulang kering. Alhasil pada perempatfinal hingga final, posisinya digantikan Geoff Hurst. Padahal saat Inggris sudah memijak semifinal, Greaves mengaku sudah pulih. Namun Ramsey menolak mengganti lagi skuadnya, termasuk Hurst. Maka di balik euforia kemenangan di final, terdapat perasaan getir di dalam batin Greaves. “Saya ikut menari di lapangan bersama semua anggota tim tapi bahkan di momen kebahagiaan ini, jauh di lubuk hati saya merasakan kesedihan. Sepanjang karier saya sebagai pemain, saya selalu memimpikan tampil di final Piala Dunia. Saya melewatkan laga sekali seumur hidup itu dan sakit sekali rasanya,” aku Greaves. Baca juga: Kisah Alan Shearer di Arena Lebih menyakitkannya, Greaves tak kebagian medali pemenang Piala Dunia. Saat itu FIFA hanya mengalungi medali untuk 11 pemain yang tampil. FA (Induk sepakbola Inggris) baru berhasil mengajukan medali bagi semua pemain, cadangan maupun starter, pada 2009. Greaves yang menorehkan 44 gol selama 57 kali membela timnas akhirnya menerima medali yang sudah menjadi haknya. Greaves gantung sepatu pada 1980. Setelah dilepas Spurs pada 1970, ia wara-wiri ke klub-klub medioker macam West Ham United (1970-1971), Brentwood (1975-1976), Chelmsford City (1976-1977), Barnet (1977-1979), dan Woodford Town (1979-1980). Ia juga makin parah kecanduan alkohol. Saat mulai sembuh dari kecanduannya di pengujung kariernya, Greaves mulai menata hidup. Tak lama setelah gantung sepatu, Greaves belajar jadi kolumnis di suratkabar The Sun dan The Sunday People. Perlahan ia juga mulai merintis karier jadi sportscaster di ITV, dan bertahan sampai 2012. Di tahun itu ia mulai kena stroke ringan dan terserang stroke berat tiga tahun berselang yang membuatnya lumpuh dan kesulitan bicara. Setelah gantung sepatu, Greaves merambah dunia broadcasting ( whufc.com/thefa.com )
- Melestarikan Keberkahan Masjid Angke
BANGUNAN temboknya tak lagi kusam. Atapnya pun sudah tak lagi mengalami kebocoran jika terjadi hujan. Sejumlah ukirannya kembali cantik dan jamaah mulai meramaikannya lagi di tiap waktu salat. Beginilah kondisi Masjid Jami Al-Anwar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Angke di perkampungan Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Pada Kamis, 16 September 2016, Masjid Angke rampung direvitalisasi. Masjid berusia lebih dari dua abad itu direvitalisasi besar-besaran sejak 2017 lewat dua tahap yang diprakarsai mendiang tokoh Lingkar Warisan Kota Tua (Lingwa) Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI). Sayangnya, sang pemrakarsa tak bisa melihat langsung peresmian revitalisasinya hari ini, Senin (20/9/2021), karena sudah lebih dulu mangkat pada 13 Juni 2021. “Masjid Angke sejak 2017 kondisinya makin memprihatinkan, perlu dipugar. Dan Masjid Angke termasuk salah satu masjid tertua di Jakarta, dibangun tahun 1761 dan masih berfungsi sampai saat ini. Keberadaan masjid ini dianggap ikon yang mencerminkan pluralitas, multikultural, hal inilah yang membangkitkan semangat Ibu Toeti melakukan pemugaran pertama pada Masjid Angke,” ujar Inda Citraninda Noerhadi, ketua Lingwa cum putri mendiang Prof. Toeti, dalam acara “Mengenang 100 Hari Prof. Dr. Toeti Heraty N-Roosseno dan Peresmian Pemugaran Masjid Angke” via platform Zoom dan YouTube , Senin (20/9/2021) sore. Baca juga: Al-Noor, Masjid Terjauh dari Kabah Ragam bentuk akulturasi dalam Masjid Angke ( encyclopedia.jakarta-tourism.go.id ) Senada dengan yang diungkapkan Inda, ketua IAAI Dr. Wiwin Djuwita Ramelan mengatakan Masjid Angke sejak 260 tahun lampau sudah jadi masjid yang menggambarkan keharmonisan multietnis di Batavia (kini Jakarta). Itu terlihat dari gaya bangunan serta beragam dekorasi eksterior maupun interiornya yang merupakan hasil akulturasi budaya Jawa, Bali, Arab, Tionghoa, dan Belanda. “Upaya mempertahankan nilai penting masjid ini sungguh membanggakan. Di tengah-tengah keprihatinan karena pandemi, Ibu Toeti dan kawan-kawan tidak melupakan pembangunan budaya. Kebhinekaan selalu menjadi ciri sikap dan pemikiran Ibu Toeti sebagai budayawan dan masjid ini menyimbolkan kebhinekaan karena jadi tempat berinteraksinya masyarakat Betawi, Melayu, Sunda, Bali, Pontianak, dan etnis lain,” kata Wiwin menimpali. Baca juga: 10 Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian I) Merunut asal-muasalnya, sebagaimana diungkapkan Doni Swadarma, Yunus Aryanto, dan Ita Puspitasari dalam Rumah Etnik Betawi , Masjid Angke berdiri pada 2 April 1761. Perancangnya, arsitek Tionghoa Syeikh Liong Tan. Pembangunan masjid berukuran 15 x 15 meter di atas lahan seluas 400 meter persegi itu diongkosi perempuan Tionghoa bernama Nyonya Tan Nio. Nyonya Tan masih kerabat Ong Tien Nio, istri Sultan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. “Arsitektur masjid memiliki perpaduan corak unsur Jawa dan Tionghoa karena pendirinya memang berlatarbelakang dua etnis tersebut. Terlihat dari pintu masuk dan ujung atap yang mirip kelenteng. Selain itu, desain atap tumpang susun Masjid Angke mirip Masjid Demak di Jawa Tengah,” ungkap Doni dkk. Masjid Angke di tahun 1921 (Tropenmuseum) Bentuk gapura di sisi utaranya, berbentuk gapura belah, dan gapura sisi selatan berbentuk huruf “D” terinspirasi dari bentuk bangunan-bangunan kuno di Banten dan Cirebon. Adapun nuansa Balinya sangat terasa pada bentuk ujung atap yang mirip punggel rumah Bali. “Di halaman belakang masjid terdapat pula makam Syekh Syarif Hamid al-Qadri dari Kesultanan Pontianak yang pada tahun 1800-an dibuang ke Batavia karena memberontak kepada Belanda. Setelah proklamasi kemerdekaan, di kompleks masjid ini para pemudanya sering melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dalam mengoordinasi kegiatan menentang Belanda. Melalui khotbah-khotbahnya, para ulama juga melakukan provokasi untuk menentang Belanda,” tulis Abdul Baqir Zein dalam Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia. Baca juga: 10 Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian II – Habis) Oleh karenanya, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Iwan Henry Wardhana amat mensyukuri masjid yang punya nilai sejarah itu selesai dipugar. Pemugaran itu menjadi nilai lebih bagi masyarakat ibukota untuk kemudian bisa melakukan wisata sejarah dan religi. “Melakukan revitalisasi cagar budaya menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya dalam mengangkat sebuah peradaban. Apa yang dikerjakan Ibu Toeti dan kawan-kawan Lingwa sebagai bukti bukan hanya membangun secara fisik tapi juga membangun peradaban, membangun kembali bangunan cagar budaya dan memuliakannya. Ini menambah kontribusi terhadap wawasan kebangsaan, keilmuan untuk masyarakat dan generasi yang akan datang,” tutur Iwan. Peresmian pemugaran Masjid Angke yang diikuti shalat berjamaah diimami KH Nasaruddin Umar (Tangkapan Layar Youtube Cemara 6 Galeri) Peresmian usai revitalasasi itu dilakukan imam besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar dengan memotong pita dan mendirikan shalat. KH Nasaruddin dipilih karena merupakan satu dari beberapa wasiat mendiang Prof. Toeti terkait pemugaran masjid. “Alhamdulillah sore ini kita jadi saksi kebaikan seseorang yang takkan bisa kita lupakan, ibunda, guru, dosen, senior kita, Prof. Toeti. Almarhumah memiliki segudang prestasi walau ia seorang perempuan. Ini satu bukti bahwa perempuan tidak boleh dipandang sebelah mata oleh siapapun. Tidak pernah terbayang seorang Profesor Toeti yang sehari-hari saya kenal, saya sangat kagum logika berpikirnya, filsafatnya, menggagas renovasi masjid yang sudah dibangun 200 tahun lebih,” ujar KH. Nasaruddin dalam sambutannya. Baca juga: Cerita Tercecer dari Masjid al-Makmur Tanah Abang Nasaruddin kembali teringat akan awal-mula sejarah masjidnya dibangun atas bantuan pembiayaan seorang Tionghoa yang juga perempuan, dan sekarang dipugar atas prakarsa mendiang Profesor Toeti. “Masjid tua itu tepat berkumpulnya para malaikat. Bukan di masjid megah, mahal, luas, besar. Tetapi semakin tua sebuah masjid, semakin berkah masjid itu. Semakin lama sebuah masjid ditempati sujud, maka lorong rahasia menuju langit semakin terang. Ada juga hadits nabi menyebutkan bahwa tempat yang paling sering digunakan memanggil nama Allah SWT akan kelihatan para penghuni langit. Para malaikat sangat bercahaya seperti bintang-bintang kejora,” tambah Nasaruddin. Almarhumah Hj. Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno ( kemendikbud.go.id ) Oleh karenanya, upaya Prof. Toeti sebagai pemrakarsa pemugaran masjid tua Angke tak hanya jadi pembuka jalan amal bagi mendiang tetapi juga sebagai amalan wakaf. Nasaruddin berharap, pengurus, pemerintah provinsi, serta masyarakat bisa menjaga masjid yang baru dipugar itu untuk melestarikan keberkahan bagi semua. “Beliau dengan kesibukannya masih sepat memikirkan gagasan pelestarian masjid bersejarah. Saya teringat dalam sebuah ayat, ‘Janganlah kalian mengira orang yang telah mewakafkan dirinya untuk jalan Allah itu adalah wafat. Sesungguhnya dia akan tetap hidup dan akan tetap mendapatkan pahala.’ Alhamdulillah masjid tua yang kita bangun atas prakarsa almarhumah jadi tiket almarhumah meraih istana yang sudah dijanjikan Allah SWT. Tantangan dan tugas kita kemudian bagaimana merawat, melestarikan masjid bersejarah ini,” tandasnya. Baca juga: Paman Rasulullah dan Masjidnya di China
- Selayang Pandang Sepakbola Afghanistan
AFGHANISTAN yang sejak sebulan lalu kembali dikuasai Taliban makin hari makin tak bersahabat terhadap atlet-atlet perempuan, khususnya sepakbola. Rombongan pengungsi pesepakbola putri Afghanistan terus mengalir ke sejumlah negara, salah satunya ke Pakistan. Di Afghanistan, masa depan para pesepakbola putri itu suram. Taliban melarang perempuan aktif dalam olahraga. Mengutip IB Times , Rabu (15/9/2021), pemerintah Pakistan menyambut rombongan 75 orang yang terdiri dari para pesepakbola putri junior Afghanistan kelompok usia U-14, U-16, dan U-18 beserta tim pelatih dan keluarga mereka. Mereka termasuk rombongan pengungsi yang tak bisa dievakuasi lewat jalur udara pasca-serangan bom di Bandara Kabul pada akhir Agustus 2021. Beruntung, permintaan tolong untuk dievakuasi dari negeri kelahiran mereka dijawab LSM Football for Peace yang berbasis di London, Inggris, kemudian diteruskan ke pemerintah Pakistan. “Saya menerima permintaan untuk menyelamatkan mereka dari LSM berbasis Inggris lainnya, lalu saya menulis surat kepada Perdana Menteri (Pakistan) Imran Khan yang lantas mengeluarkan izin bagi mereka datang ke Pakistan,” kata duta pembangunan global LSM Football for Peace, Naveed Haider, dikutip IB Times . Baca juga: Para Ibu di Lapangan Hijau Untuk bisa melintasi perbatasan Afghanistan-Pakistan, mereka terpaksa mengenakan burqa dan cadar dalam perjalanan pada Selasa (14/9/2021) malam. Perjalanan mereka berakhir di Lahore pada Rabu (15/9/2021) pagi. Mereka langsung berganti pakaian dan menerima kalungan bunga dari perwakilan pemerintah Pakistan. “Kami menyambut tim sepakbola putri Afghanistan setelah mereka tiba di Perbatasan Torkham dari Afghanistan. Para pemain memiliki paspor Afghanistan dan visa Pakistan yang sah dan kemudian diterima Nouman Nadeem dari PFF (induk sepakbola Pakistan),” ungkap Fawad Chaudhry, menteri informasi dan penyiaran Pakistan, di akun Twitter -nya, @fawadchaudhry , Rabu (15/9/2021) pagi. Ke-75 pengungsi itu jadi gelombang kedua pesepakbola putri yang memilih kabur dari rezim Taliban. Pada 24 Agustus 2021, 77 orang yang termasuk pemain timnas senior putri Afghanistan bersama keluarga mereka lebih beruntung karena bisa dievakuasi dengan pesawat ke Australia. Evakuasi mereka dibantu mantan kapten tim Khalida Popal dan dua eks-pelatih timnas putri Afghanistan asal Amerika Serikat, Haley Carter dan Kelly Lindsey. Sementara di sepakbola putra, para pesepakbola Afghanistan benasib tidak jelas setelah musim ini. Kompetisi resmi terakhir yang bergulir hanya Herat Premier League. Laga terakhirnya yakni laga penentu juara antara Attack Energy Club kontra Herat Money Changers, 19 Agustus 2021, atau empat hari setelah Taliban memasuki Kabul. Baca juga: Gema Kemerdekaan Palestina dari Seberang Lapangan Kolase gelombang pertama pesepakbola putri Afghanistan yang dievakuasi ke Australia (Twitter @khalida_popal) Kala Afghanistan Mengenal Sepakbola Sepakbola jadi olahraga impor paling popular di Afghanistan selain kriket. Keduanya mulai eksis di tanah “Khorasan” pada akhir abad ke-19 walau hanya terbatas dimainkan para serdadu garnisun British India di Kabul. Kriket dan sepakbola baru dikenalkan pada masyarakat Kabul dan sekitarnya tak lama setelah pengakuan kedaulatan Afghanistan pada 8 Agustus 1919(Traktat Anglo-Afghan). Menurut sejarawan cum peneliti budaya Afghanistan Profesor Louis Dupree dalam bukunya, Afghanistan, hal itu dimulai oleh Emir Afghanistan Habibullah Khan yang menggalakkan olahraga tenar di kalangan elite Eropa seperti golf, kriket, dan tenis ke negerinya. Sarana-sarananya turut dibangun sebagai fasilitas para ekspatriat Eropa yang datang untuk melakukan pembangunan pabrik, jembatan, hingga sekolah-sekolah modern di awal rezimnya. “Baru kemudian beberapa olahraga kontak fisik turut diperkenalkan. Olahraga semacam ini bisa lebih diterima masyararakat karena jadi wadah kompetisi yang sengit untuk mempertaruhkan kebanggaan individu maupun kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Di antaranya basket, sepakbola, voli, dan hoki,” tulis Dupree. Baca juga: Captains of Zaatari dan Mula Sepakbola Suriah Emir Habibullah Khan I (kiri) dan perkembangan awal sepakbola Afghanistan (Repro: Under the Absolute Amir /aff.org.af) Rezim Habibullah memulainya dari lingkungan sekolah. Sejumlah instruktur sepakbola didatangkan dari Britania Raya untuk melatih tim sepakbola yang dibentuk di empat sekolah setingkat SMA: Maktab Habibiyeh, Maktab Esteghlal, Tafrih Team, dan Mohajer Team. Menukil data RSSSF , turnamen pertama yang mengikusertakan keempat tim sekolah itu pertamakali digelar pada 1923. Belum diketahui siapa yang memenangkannya. Di tahun yang sama, induk sepakbola Afghanistan Football Federation (AFF) dibentuk beserta tim nasionalnya. Lalu, Ghazi Stadium sebagai stadion pertama di Afghanistan merdeka dibangun di timur Kabul. Nama “ Ghazi ” yang berarti “pahlawan” diambil untuk mengenang kejayaan Emirat Afghanistan dalam Perang Inggris-Afghan Ketiga (6 Mei-8 Agustus 1919). Meski begitu, timnas Afghanistan baru eksis di atas kertas. Penyebabnya, perkembangan sepakbolanya masih sangat lamban dan masih terpusat di ibukota Kabul. Klub sepakbola pertama baru hadir pada 1934 di Kabul, yakni Mahmoudiyeh FC. Karena belum ada klub lain, pada 1937 Mahmoudiyeh FC terpaksa mencari lawan untuk melakoni 18 laga persahabatan ke negara tetangga, India. Mahmoudiyeh FC jadi tulang punggung Timnas Afghanistan kala melakukan laga internasional pertamanya kontra Iran pada 25 Agustus 1941. Laga di Ghazi Stadium itu berkesudahan imbang tanpa gol. Baca juga: Qatar di Gelanggang Sepakbola Ghazi Stadium usai direnovasi pada 2011 (US Embassy Kabul Afghanistan) Seiring waktu, klub-klub lain bermunculan hingga bisa dibentuk sebuah kompetisi berformat liga, Kabul City League, pada 1946. Pasca-Perang Dunia II, sepakbola di Afghanistan berkembang pesat. Alasannya karena sepakbola bisa lebih menerima keragaman etnis. Sementara, kriket kala itu masih didominasi etnis Pashtun. Olimpiade Inggris 1948 menjadi debut internasional timnas Afghanistan. Di tahun yang sama, Afghanistan diterima jadi anggota FIFA. “Afghanistan lebih dulu jadi anggota FIFA pada 1948 dan baru kemudian jadi anggota AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) pada 1954. Mereka tampil di Olimpiade 1948 meski hanya sekali bertanding karena kalah 6-0 dari Luksemburg di babak penyisihan,” ungkap Tom Dunmore dalam Historical Dictionary of Soccer. Di tingkat regional, tim “Singa Khorasan” (julukan timnas Afghanistan) sejatinya punya kans untuk unjuk gigi di Piala Asia 1956 dan 1964. Namun alasan politis membuat Afghanistan memilih mundur ketimbang berhadapan dengan Israel. Baca juga: Mimpi Indonesia di Piala Dunia Terganjal Israel Kolase Timnas Afghanistan di Olimpiade 1948 ( bfootball.com.au ) Di Bawah Rezim Taliban Pada awal 1970-an, kompetisi sepakbola mulai menjalar ke Herat, Kandahar, dan Mazar-e-Sharif. Masing-masing kota mendirikan liganya sendiri. Alhasil Kabul City League tak lagi jadi satu-satunya kompetisi di Afghanistan. “Kurang suksesnya Afghanistan di pentas internasional juga tak lain karena kekacauan organisasi domestik sepakbolanya, terlebih setelah invasi Rusia pada 1979. Di bawah rezim Taliban sejak 1996-2001 pun para pemain Afghanistan dilarang mengenakan baju lengan pendek dan celana pendek. Hasilnya Afghanistan tak tampil di pentas internasional antara 1984-2002,” sambung Dunmore. Baca juga: Sepakbola Palestina Merentang Masa Di bawah rezim Taliban pada 1990-an itu pula banyak pesepakbola Afghanistan, terutama yang bermain di klub-klub yang berbasis di Kabul dan sekitarnya, mengalami trauma. Sebab, Taliban acap menggunakan Ghazi Stadium sebagai arena menghukum para tahanan politik maupun tahanan kasus hukum umum. Kadang eksekusi itu berlangsung sebelum, saat turun minum, atau setelah pertandingan. “Pernah ada seorang pencuri yang dipotong tangannya. Sepasang lelaki dan perempuan yang melakukan seks di luar nikah, diberi 100 kali cambukan dan dipaksa menikah. Saya juga menyaksikan sendiri banyak tahanan yang dipenggal dan ditembak mati. Orang-orang Afghanistan takkan bisa melupakan kenangan buruk ini,” kenang Presiden Komite Olimpiade Afghanistan Letjen Mohammad Zaher Aghbar dikutip The Hindu , 14 Januari 2012. Timnas Afghanistan yang memenangkan Kejuaraan SAFF 2013 ( aff.org.af ) Pascarezim Taliban runtuh pada 2001, sepakbola Afghanistan dibangun lagi dari puing-puing kehancurannya. Timnasnya bisa dibentuk dan berlaga di pentas internasional walau harus mengungsi ke negara-negara lain gegara Perang Afghanistan (2001-2021). Tim Singa Khorasan mulai mentas di Asian Games pada 2002, Piala Emas SAFF (Federasi Sepakbola Asia Selatan), sejak 2003,Piala Asia mulai 2004, hingga Kualifikasi Piala Dunia sejak 2006. Baca juga: Masalah Sepatu Gagalkan Keikutsertaan India di Piala Dunia Sedangkan sepakbola putri kembali bergulir pada 2007 dengan diadakannya seleksi untuk pembentukan timnas putri oleh Komite Olimpiade Afghanistan. Seleksi diikuti oleh para pemain dari sekolah-sekolah di Kabul. Pesat pertumbuhan persepakbolaan Afghanistan itu mencapai titik terang pada 2012. Saat itu pemerintah Republik Islam Afghanistan turun tangan mendanai pembentukan Afghan Premier League (APL). Klub-klub yang lahir di luar kota Kabul pun bermunculan untuk melakoni liga lintas kota dan provinsi. Stadion-stadion baru bermunculan di Kandahar, Khost, hingga Jalalabad. Kolase Timnas Putri Afghanistan (Twitter @khalida_popal/the-afc.com) Baru setahun berjalan, APL sudah mampu meracik timnas yang lebih berkualitas. Setelah jadi runner-up pada 2011, Sandjar Ahmadi dkk. sukses menjuarai Kejuaraan SAFF 2013. Dua tahun berikutnya, “Singa Khorasan” kembali jadi finalis. Namun, perkembangan dan prestasi sepakbola Afghanistan terancam jalan di tempat atau bahkan melangkah mundur setelah Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021. Sementara sepakbola putra masih belum jelas nasibnya, sepakbola putri Afghanistan terpaksa mati suri karena larangan perempuan beraktivitas dalam olahraga. Hampir semua pemainnya di segala kelompok umur sudah mengungsi ke luar Afghanistan. Padahal, perkembangan mereka cukup menjanjikan. Mereka mampu mencapai semi-final Kejuaraan SAFF 2012. “Sangat menyakitkan bagi saya untuk mengatakan bahwa jersey sebagai identitas nasional yang sudah mereka dapatkan susah payah, harus ditinggalkan. Saya ingat pertamakali mengenakannya. Saya tak bisa menjelaskan dengan kata-kata karena itu jadi perasaan terbesar. Kami merasa bahagia, bangga, dan merasa sebagai pemenang dan sekarang saya harus bilang pada para pemain untuk membakar jersey mereka?” tandas Khalida Popal, kapten timnas putri Afghanistan periode 2008-2011, kepada The Guardian , 20 Agustus 2021. Baca juga: Sepakbola Kaum Hawa Merentang Masa Khalida Popal, eks kapten Timnas Putri Afghanistan. ( fifa.com ).
- Potret Apresiasi Terhadap Pahlawan Olahraga Dulu dan Kini
PRESTASI dan prestasi. Itulah target yang diharapkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada para atlet Indonesia ke depan. Hal itu diungkapan di Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-38 yang jatuh hari ini, Kamis (9/9/2021). Ironisnya, perhatian khusus yang rutin kepada para pahlawan olahraga masih amat minim. Terakhir, Kemenpora sekadar menggelar Anugerah Legenda Olahraga pada 2017 yang sayangnya tak berkelanjutan. “Dulu mah enggak ada bonus apa-apa. Makanya perbedaannya jauh. Dulu cuma nama bangsa dan merah putih saja yang kita bawa di dada. Soal penghargaan pemerintah, baru (2017) kemarin saja dari Kemenpora,” kata Robby Darwis, mantan bek timnas Indonesia, kepada Historia . Baca juga: Robby Darwis yang Legendaris Eks-bek legendaris Timnas Indonesia dan Persib Bandung, Robby Darwis (Randy Wirayudha/Historia) Padahal, banyak olahragawan kita yang dulu menorehkan prestasi yang mengharumkan nama Indonesia namun kehidupan mereka memilukan di masa senja. Mereka nihil apresiasi dari pemerintahan, bahkan sampai sekarang. Ibarat langit dan bumi jika membandingkan mereka dengan para atlet sekarang. Para atlet sekarang yang juara atau meraih emas di berbagai pentas diganjar bonus miliaran rupiah. Mereka juga mendapat perhatian besar masyarakat di media sosial. Ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu, contohnya. Mereka pulang dari Olimpiade Tokyo 2020 pada Agustus lalu disambut meriah karena dianggap mencetak sejarah meski medali emas dari cabang bulutangkis bukan hal aneh buat kontingen Indonesia. Pasangan itu diberi bonus Rp.5,5 miliar oleh Kemenpora. Jumlah itu di luar bonus rumah, paket umrah, paket liburan dari Kementerian Pariwisata dan ratusan juta rupiah lain yang diberikan berbagai pihak. Bahkan, mereka dihadiahi perawatan kecantikan sampai dua franchise bakso dari seorang Youtuber. Baca juga: Uber Cup Demi Ibu Pertiwi Bonus tersebut agaknya sejalan dengan program Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang diluncurkan Kemenpora pada Haornas tahun ini. “Dengan desain besar olahraga nasional ini kita mempunyai kepastian, mempunyai jaminan bahwa itu terstruktur dan terencana dengan baik dan jangka panjang. Jadi misalnya ditingkat (atlet) elite nasional itu pasti kita siapkan lapisannya kedua, ketiga dan berikutnya. Itu namanya terdesain,” kata Menpora Zainudin Amali, dikutip laman Kemenpora , Rabu (8/9/2021). Atlet peraih emas di Paralimpiade Tokyo 2020 menerima besaran bonus yang sama dari pemerintah ( npcindonesia.id ) Pahlawan Olahraga Luput Perhatian Desain tentang pembinaan demi memastikan kontinuitas prestasi ke depan tentu penting. Namun, alangkah baiknya jika pemerintah juga mau menoleh ke belakang, memperhatikan banyak olahragawan legendaris kita yang tak kalah dalam soal mencetak prestasi tapi hidup mereka merana di masa senja. Gurnam Singh, salah satunya. Di era 1960-an, Gurnam merupakan pelari andalan Indonesia di nomor-nomor jarak jauh. Ia bahkan pernah dinobatkan sebagai manusia tercepat di Asia. “Ayah 4 anak ini di masa jayanya, pemegang rekor lari 5 ribu meter dengan kecepatan 14 menit 24 detik dan 10 ribu meter dengan kecepatan 30 menit 47,2 detik. Sedangkan jarak maraton 42 km ditempuhnya dalam 2 jam 27 menit 21 detik,” ungkap buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982. Baca juga: Lintasan Kehidupan Gurnam Singh Menpora Zainudin Amali yang meluncurkan DBON pada Haornas ke-38 dan diresmikan dengan Perpres No. 86 Tahun 2021 ( kemenpora.go.id ) Mirisnya, setelah dia pensiun dan bisnis toko olahraganya bangkrut, rumahnya digusur Pemkot Medan tanpa ganti-rugi. Gurnam sampai hidup menggelandang. Barulah setelah kabar Gurnam hidup menggelandang tersiar, beberapa pihak tergerak hati. Bantuan untuk Gurnam berdatangan, termasuk dari pemerintah. “Mensesneg (Moerdiono, red .) menyinggung pekerjaan Gurnam yang kini jadi penjual air, ketika menjelaskan rencana pemberian penghargaan kepada atlet peraih emas, perak, dan perunggu di Olimpiade Barcelona,” tulis Kompas , 19 Agustus 1992. Baca juga: Muda Melegenda, Tua di Panti Wreda Tapi, bantuan pemerintah pusat itu tak pernah terwujud. Bantuan berupa rumah sederhana di Deli Serdang yang diterima Gurnam pada 1996 bukan dari pemerintah pusat, melainkan dari Kodam I/Bukit Barisan. Selain Gurnam, atlet berprestasi lain yang merana di masa senja adalah Hendrik Brocks. Di masa mudanya, Hendrik memborong tiga emas balap sepeda Asian Games 1962. Mengutip biografi MF Siregar: Matahari Olahraga Indonesia , Hendrik bersama Aming Priatna, Wahju Wahdini, dan Hasjim Roesli mendapat emas di nomor Team Trial 100 km. Ketiganya, ditambah Frans Tupang dan Henry Hargini, memetik emas di nomor Open Road Race 180 km. Emas ketiga Hendrik didapat dari nomor serupa kategori individu. “Kita memang diundang ke Istana Negara tapi ya presiden dulu hanya bilang terima kasih, disuruh semangat lagi latihannya. Habis itu dia balik kanan. Kita hanya lihat punggungnya saja,” aku Hendrik. Hendrik Brocks yang di masa tuanya menderita glukoma dan kehilangan penglihatan (Randy Wirayudha/Historia) Setelah itu, Hendrik kembali menyumbang masing-masing sekeping emas dan perak di Ganefo 1963, serta satu emas, satu perak, dan dua perunggu di Ganefo Asia 1966. Prestasi Hendrik itu berbanding terbalik dengan kehidupan di masa tuanya. Saat Historia menyambanginya tahun 2019, ia hidup di rumah sederhana di Sukabumi. Rumah itu dibeli dari hasil menjual rumah warisan orangtuanya ditambah bantuan tetangga. Hendrik sendiri penglihatannya mulai terenggut akibat glukoma yang dideritanya sejak 2007. Baca juga: Roda Kehidupan Legenda Balap Sepeda Kondisi kehidupan Hendrik yang memprihatinkan membuat teman-temannya dan KONI Kabupaten Sukabumi memberikan bantuan perawatan kesehatan pada Hendrik. Pada 2007, Menpora Adhyaksa Dault menjanjikan dana pensiun pada Hendrik, namun tak kunjung ditepati. Pun surat Hendrik kepada (mantan) Ketua KOI Erick Thohir tahun 2019 juga tak kunjung mendapat jawaban. “Enggak pernah ada bonus! Enggak kayak sekarang, bonus…bonus…bonus. Enggak pernah saya merasakan bonus. Waktu pemusatan latihan saja dulu enggak dapat uang saku. Uang saku hanya dapat jika tanding kejuaraan di luar negeri. Untuk beli oleh-oleh saja tidak cukup. (Tunjangan) pensiun juga tidak ada. Kalau sekarang jangankan PON, Porda saja pegawai negeri sudah pasti di tangan kalau berprestasi,” ujarnya. Tim Bulutangkis Putri Indonesia yang merebut Uber Cup 1975 (Dok. Regina Masli) Para atlet bulutangkis sebelum era 1990-an juga mengalami keadaan serupa. Regina Masli, spesialis ganda putri era 1970-an, berkisah pemerintah pusat sama sekali tak pernah memberi bonus melimpah. Regina tergabung dalam tim putri Indonesia kala pertamakali memenangkan Uber Cup (1975). Usai meraih prestasi itu, tim putri diberi penghargaan alakadar dengan diundang ke Bina Graha bertemu Presiden Soeharto. “Ibu Tien memberi sambutan, antara lain bahwa kita sebagai wanita Indonesia harus hidup sederhana. Setelah itu kita semua diberikan bahan kain brokat buatan dalam negeri. Pak Sudirman (Ketum PBSI, red .) berkata pada kita, jangan minta apa-apa ke Presiden Soeharto. Padahal waktu itu kita semua tidak ada seorangpun yang punya rumah. Begitulah bedanya pemain dulu dan sekarang,” aku Regina dalam percakapannya dengan Historia lewat media sosial. Baca juga: Raihan Uber Cup Seharga Kain Brokat Bonus Tim Uber Cup 1975 justru datang dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, berupa deposito Rp.300 ribu. Kendati Regina tidak merana di masa senjanya karena bekerja di Loma Linda University Behavioral Medicine Center, rekan-rekannya tidak seberuntung dirinya. Tati Sumirah, misalnya, sampai wafat pada 20 Februari 2020 hidup merana sebatang kara. “Dia sakit darah tinggi dan gula. Memang kehidupannya memprihatinkan. Sepertinya habis tidak main lagi, tidak ada yang peduli. Dia juga tidak berkeluarga. Hidupnya selalu untuk merawat dan memperhatikan ibu dan adik-adiknya,” kata Regina yang bersama Tati sempat dibina PB Tangkas. Kosasih Kartadiredja, wasit pertama Indonesia dengan lisensi FIFA (Randy Wirayudha/Historia) Tak hanya dialami atlet, kondisi memilukan juga dialami para mantan perangkat pertandingan. Seperti yang dialami Kosasih Kartadiredja, wasit Indonesia pertama yang berlisensi FIFA. Wasit yang dikenal paling tegas dan anti-suap di pentas internasional maupun domestik itu mengatakan, perhatian yang diberikan pemerintah hanya sekali didapatnya pada 2007, yakni berupa santunan sebesar 10 juta rupiah. Itupun didapatnya setelah tetangganya mengirim surat kepada Menpora Adhyaksa Dault. Kehidupan Kosasih semakin berat sejak 2012 karena ia terserang stroke . Lantaran tak bisa segera dioperasi akibat terkendala biaya, Kosasih pun mengalami kelumpuhan sementara. Ia berjuang sendiri tanpa perhatian dari penguasa. “Ini kaki saya yang kiri sudah ngaplek begini. Tidak bisa operasi karena mahal. Tidak ada bantuan dari mana-mana. Lupa begitu saja. Ya PSSI, ya pemda,” katanya pada Historia dua tahun lalu. Baca juga: Wasit Berlisensi FIFA Pertama yang Terlupa
- Meretas Mimpi dari Kamp Pengungsi lewat Captains of Zaatari
PONDOK kecil berdinding seng di Kamp Pengungsi Zaatari, Yordania itu sama sekali tak meredam hawa dingin. Kekurangan penerangan di dalamnya menambah kesulitan. Pada suatu malam di Januari 2017 itu, Fawzi Qatleesh membantu adik perempuannya, Rose, mengerjakan PR bahasa Inggris hanya berbekal sebatang lilin. Seraya membantu Rose, Fawzi menguraikan mimpinya jadi pesepakbola profesional laiknya Cristiano Ronaldo. Dia hanya ingin membantu ibu, ayah, dan kedua adiknya keluar dari status pengungsi ke kehidupan yang lebih laik. Fawzi jadi tulang punggung keluarga lantaran ayahnya terpisah di kamp pengungsian Suriah lain di Azraq. Demi mengejar mimpinya, Fawzi memilih putus sekolah. Kesempatan itu kemudian tiba pada suatu pagi. Di lapangan berpasir di dalam kamp, Fawzi dan kawannya, Mahmoud Dagher, yang tergabung di Kamp Zaatari menampilkan aksinya mengolah si kulit bundar dengan ciamik walau beralaskan sandal jepit. Baca juga: Cristiano Ronaldo, Lebah Kecil dari Madeira Dua sahabat pengungsi Suriah: Mahmoud Dagher (kiri) & Fawzi Qatleesh ((Dogwoof) Tim itu sedang dipantau para pemandu bakat dari Aspire Academy Qatar. Sialnya, walau bermain apik, Fawzi sang kapten tim mesti menahan kepedihan dan mengikhlaskan ban kaptennya kepada Mahmoud. Dirinya tak bisa dibawa tim pengungsi karena perkara administrasi. Fawzi yang lahir tahun 1998 dianggap terlalu tua. Hanya Mahmoud, kelahiran 1999, bersama pemain lain yang dibawa ke Doha, Qatar. Tetapi itu bukan akhir dari segalanya. Adegan haru itu sekadar permulaan dokumenter Captains of Zaatari garapan sutradara asal Mesir Ali El Arabi. Film ini kisahnya berpusar antara dua sahabat pengungsi Suriah, Fawzi dan Mahmoud, dengan beragam kepahitan kehidupan mereka di kamp pengungsian. Tanpa dinyana, “mukizat” tiba pada hari-hari berikutnya. Delegasi dari Aspire Academy yang kembali ke kamp, mengizinkan Fawzi menyusul Mahmoud dan rekan-rekannya dalam tim Syrian Dream ke Qatar demi mengikuti program eksebisi di Turnamen Al-Kass International Cup U-17 2017. Baca juga: Kamp Pengungsi Suriah dan Nestapa Sabaya Anak-anak pengungsi Suriah di Kamp Zaatari, Yordania (Sundance Institute) Dari pemandangan tandus dan memprihatinkan di kamp, mata Fawzi dimanjakan beragam kemajuan pesat dan fasilitas latihan Aspire Academy nan canggih setibanya di Doha. Dari mata Fawzi dan Mahmoud terpancar kebahagiaan yang mengharukan kala mereka ditemui petinggi sepakbola Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa bin Ahmed al-Thani; menyaksikan latihan klub raksasa Bayern Munich; hingga bertemu legenda hidup sepakbola David Trezeguet dan Xavi Hernández. “Momen di mana kami meninggalkan Zaatari dan datang ke Qatar, tak peduli apakah nantinya kami jadi pemain profesional, momen itu jadi yang pertama saya mendapatkan kesempatan dalam hidup saya. Suatu hari ketika saya punya anak dan dia bertanya apa saja yang pernah saya lakukan, saya akan bilang bahwa saya bermain di Turnamen Al-Kass. Turnamen yang biasanya hanya bisa saya tonton di Suriah dan bermimpi berpartisipasi,” kata Fawzi. “Ada banyak orang yang pantas mendapatkan kesempatan ini, begitu juga di kamp-kamp lain. Karena yang dibutuhkan para pengungsi adalah kesempatan mendapatkan kesehatan, pendidikan, dan mimpi olahraga, bukan belas kasihan,” timpal Mahmoud. Namun ketika menjelang pertandingan penting kemudian, Fawzi mendapat cobaan fisik dan mental. Selain dibelit cedera lutut, ia juga mendengar kabar ayahnya menderita kanker. Bagaimana Fawzi bersama Mahmoud bisa meretas mimpinya kala banyak persoalan menerpa? Saksikan kelanjutannya di aplikasi daring Mola TV. Baca juga: Qatar di Gelanggang Sepakbola Momen pertemuan dengan Sheikh Hamad bin Khalifa bin Ahmed al-Thani, David Sergio Trezeguet, Xavier 'Xavi' Hernández i Creus & Latihan Tim Bayern Munich (Mola TV) Kontradiksi Dua Dunia Melodi-melodi melankolis nan mengharukan mengiringi beberapa adegan pahit Fawzi dan para pengungsi Suriah dalam Captains of Zaatari . Untuk lebih memperkuat nuansa Timur Tengah, komposer Gil Talmi juga menyisipkan alunan nada khas Arab dari alat musik petik qanun. Music scoring itu begitu klop saat mengiringi adegan-adegan cerita yang diracik El Arabi yang cenderung seperti film drama ketimbang plot dokumenter klasik. Maka dalam karya pertamanya ini ia tak banyak menyajikan potret kamp yang mendetail kecuali aneka kepahitan yang dialami keluarga dua protagonisnya. “Saya ingin penonton bisa terbawa ke kehidupan kedua kapten dan berbagi segala hal tentang mereka: perjalanan, perkembangan, rasa sakit, dan kebahagiaan. Saya ingin menunjukkan bahwa para pengungsi ini punya kehidupan. Dan mereka punya hak untuk berinteraksi dengan dunia dan merasa bahwa mereka bagian dari dunia ini,” kata El Arabi kepada Variety , 28 Januari 2021. Baca juga: Senjakala "Raja Roma" dalam One Captain Anak-anak pengungsi yang tergabung di tim Syria Dream (Tangkapan Layar Mola TV) Oleh karenanya meski El Arabi mengikuti Fawzi dan Mahmoud selama enam tahun di kamp yang menampung 80 ribu pengungsi itu dan menghasilkan ratusan jam footage , ia sudah berpatokan hanya menampilkan 75 menit di antaranya. El Arabi memfokuskan kisahnya pada kontradiksi dua dunia dan kehidupan yang mereka alami secara lebih intim dan humanis. Kontradiksi itu yakni lingkungan terkungkung dan memilukan di kamp dengan suasana gedung-gedung megah serta fasilitas mutakhir di Qatar. Antara kemiskinan di keluarga mereka dengan para pemain kaya Bayern yang mereka saksikan sesi latihannya. Antara harapan yang suram di kamp dengan asa meroket di fasilitas Aspire Academy. Dengan alur cerita yang lebih intim dan humanis, penonton juga diajak merasakan lebih jauh kecemasan mereka sebagai pengungsi berusia muda. Jika tidak ada program sepakbola, bisa saja mereka diculik militan teroris ISIS atau diambil paksa untuk jadi tentara pemerintah Suriah. Masa depan mereka sekadar bisa digantungkan lewat sepakbola dan pendidikan, dua dari beberapa kebutuhan dasar untuk para pengungsi. “Fawzi bilang pada saya bahwa sepakbola adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa bukan sebagai pengungsi. Olahraga adalah salah satu cara terpenting dalam perdamaian. Melalui kampanye yang empatik, saya percaya para bintang sepakbola yang anak-anak itu temui bisa membantu kehidupan para pengungsi lebih baik,” tandasnya. Sayangnya dokumenter ini tak menjelaskan sejak kapan Fawzi mengenal sepakbola. Fawzi Qatleesh yang karier sepakbolanya terusik Perang Saudara Suriah (Dogwoof) Sejarah Sepakbola Suriah Sebagaimana yang dikisahkan dalam Captains of Zaatari , sosok Fawzi tak pernah mau jauh dari sepakbola. Selain seragam tim Syria Dream, Fawzi selalu membanggakan jersey kuning-biru klub Inggris Arsenal yang disablon namanya, “F. Qatleesh”, saat masih mengolah bola di balik pagar besi kamp. Fawzi sudah bercita-cita menjadi pesepakbola profesional sejak sebelum pecah Perang Saudara Suriah pasca-Arab Spring melanda negerinya pada 2011. “Saya dulu mulai bermain di tim Al-Shul’a pada 2009. Saya meninggalkan Daraa karena perang. Saya sudah bermain sejak kecil dan oleh karenanya sepakbola adalah hidup saya. Saya tak bisa membayangkan hidup saya tanpa sepakbola,” kata Fawzi kepada Goal Click. Baca juga: Kontroversi Iringi Sejarah Arsenal Timnas Suriah di Kualifikasi Piala Dunia 1950 (Majalah Türkspor 20 November 1949) Setelah mengasah kemampuan di tim Al-Shul’a pada usia 11 tahun itu, Fawzi pindah ke klub Al-Sarih Sport Club lalu Al-Hussein FC di Irbid. Tetapi sejak 2012 Fawzi dan keluarganya terpaksa mengungsi ke Yordania. Ia sempat terpisah dari ayahnya dan di usia 17 tahun mesti jadi kepala keluarga bagi ibu dan kedua adiknya di Kamp Zaatari, kamp pengungsi Suriah terbesar di Yordania. Dengan mengenyam pengalaman di Aspire Academy pada 2017, asa Zaatari jadi pesepakbola profesional dan membela tim nasional negaranya kian besar. Terlebih, sejak Desember 2011 timnas Suriah tak pernah lagi memainkan laga-laga internasionalnya di kandang sendiri. Tim berjuluk “Elang Qasioun” itu acap mengungsi ke negara-negara Arab lain saat menghadapi tim lain di berbagai pentas internasional. Padahal, sebelum perang, Suriah jadi salah satu tim asal Timur Tengah yang cukup diperhitungkan selain Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, dan Iran. Baca juga: Sepakbola Palestina Merentang Masa Perkembangan sepakbola Suriah sendiri awalnya tidak pesat. Sebagaimana banyak negara Asia lain, masyarakat Suriah mengenal sepakbola dari Prancis. Kolonialis Eropa itu menguasai Suriah sejak 1916 dan membentuk Negara Mandat Lebanon dan Suriah pada 1920. Di dalamnya turut didirikan enam negara bagian: Damaskus, Aleppo, Alawite, Jabal Druze, Hatay, dan Lebanon Raya. “Pasca-1916, saat masih di bawah mandat Prancis dan Inggris, klub-klub mulai eksis sebagai aktivitas rekreasi untuk militer. Klub pertamanya adalah Hamzasp Club yang berdiri pada 1923, walau sebuah tim non-resmi sudah pernah eksis di Sekolah Shibani di Aleppo. Lalu pada 1928 Barada Club dan Qasiyoun Club lahir di Damaskus,” tulis Nour El-Houda Karfoul dalam “Women and Sport in Syria” yang termaktub dalam buku Muslim Women and Sport. Aleppo Municipal Stadium (kiri) & Klub Suriah berlaga di Syrian Cup (Majalah Arevelk tahun 1959) Klub-klub itu masih dikhususkan buat kaum pria, baik sipil maupun militer Prancis, dan kalangan pelajar Suriah. Mayoritas klub berkembang sendiri-sendiri karena Suriah masih sangat kekurangan praktisi olahraga, terutama sepakbola, walaupun olahraga dijadikan kurikulum di sekolah-sekolah. Pada 1930-an, sepakbola dijadikan alat politik untuk menentang kolonialisme Prancis. Menjelang Olimpiade Berlin 1936, beberapa aktivis Lebanon dan Suriah, seperti kakak-beradik Gabriel dan Pierre Gemayel, Arif al-Habbal, dan Husayn Sija’an “berguru” ke Jerman untuk mempelajari manifestasi semangat kepemudaan melalui olahraga. “Menarik melihat catatan Arif al-Habbal yang mengunjungi kamp-kamp Pemuda Hitler di Jerman dan Olimpiade 1936. Husayn Sija’an ambil bagian dalam delegasi menghadiri konferensi sepakbola di Berlin pada 1936,” ungkap Götz Nordbruch dalam Nazism in Syria and Lebanon: The Ambivalence of the German Option, 1935-1945. Baca juga: Gema Kemerdekaan Palestina dari Seberang Lapangan Di tahun itu juga La Fédération de Syrie de Football didirikan dan pada 1937 diterima jadi anggota FIFA walau secara administratif masih dianggap negeri bawahan Prancis. Perang Dunia II membuat Suriah baru bisa membuat kompetisi di masing-masing provinsinya dan timnasnya perlahan pada 1946 seiring Republik Suriah merdeka dari Prancis. Setelah bertahun-tahun sepakbola sekadar dimainkan di lapangan sederhana, pemerintah republik akhirnya membangun stadion pertamanya, Aleppo Municipal Stadium, pada 1948 (kini Stadion 7 April) di kota Aleppo. Kota Aleppo paling maju persepakbolaannya. Induk olahraganya pun diubah menjadi Syrian Arab Football Association (SFA). Timnas Suriah di Kualifikasi Piala Dunia 2022 ( the-afc.com ) SFA kemudian menggulirkan kompetisi-kompetisi resmi pertamanya. Di masa pra-kemerdekaan, klub-klub yang eksis sekadar bermain di liga atau turnamen internal di masing-masing provinsi. Mulai 1959, diciptakan turnamen lintas provinsi, Syrian Cup, yang sejak 1966 diikuti kelahiran Liga Primer Suriah. Di pentas internasional, Suriah tampil pertamakali sebagai tim negara merdeka pada Kualifikasi Piala Dunia 1950. Walau hingga kini masuk Piala Dunia masih sulit digapai, seiring waktu Suriah jadi tim yang disegani di dunia Arab, bahkan di Asia. Suriah dua kali menjadi runner-up Pan Arab Games (1953, 1997) dan juara pada 1957. Ia juga tiga kali runner-up Arab Cup (1963, 1966, 1988). Terakhir, Suriah juara Mediterranean Games (1987) dan Piala Asia Barat (2012). Deskripsi Film: Judul: Captains of Zaatari | Sutradara: Ali El Arabi | Produser: Ali El Arabi, Amjad Abu Alala, Aya Dowara, Michael Henrichs | Produksi: Ambient Light | Distributor: Dogwoof |Genre: Dokumenter | Durasi: 75 menit | Rilis: 31 Januari 2021, Mola TV
- Peris Pardede, Pedagang Arloji Jadi Petinggi PKI
SETELAH pemerintah menganjurkan pendirian partai-partai politik, Partai Komunis Indonesia (PKI) kembali bangkit. Mr. Mohammad Jusuf menggunakan kesempatan itu untuk menghidupkan PKI secara legal. Sebelumnya, PKI ilegal atau bergerak di bawah tanah setelah dilarang pemerintah kolonial karena memberontak pada 1926. Pada 21 Oktober 1945, PKI secara resmi berdiri dengan pengurus: Mr. Mohammad Jusuf sebagai ketua, Mr. Soeprapto sebagai sekretaris, Likasi Ali Kasim sebagai bendahara, dan Mohammad Sain sebagai salah satu anggota komisaris.
- Nestapa Sabaya
MAHMUD Resho berusaha tenang. Sambil mengawasi putranya yang bermain di halaman depan rumahnya di sebuah desa di timur laut Suriah pada suatu hari di tahun 2019, Mahmud terus-menerus berupaya mencari sinyal telepon selulernya. Karena tak jua berhasil mendapatkan sinyal, ia menyiapkan sepucuk pistol M1911 yang diambil dari lemari pakaiannya. Bersama kawannya yang merupakan kepala LSM Mala Êzîdîyan (Yazidi Home Center), Shejk Ziyad, ia kemudian berkendara ke Kamp Al-Hol. Selain pistol di balik pakaiannya, Mahmud juga membawa sepucuk senapan otomatis AK-47 di mobilnya. Kamp Al-Hol adalah pusat pengungsian 73 ribu sipil eks-Daesh yang paling kacau dan berbahaya. Dulunya Al-Hol dikuasai Daesh atau ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Pada 2015, kamp itu direbut Syrian Democratic Forces (SDF), pasukan militer Kurdi yang merupakan musuh ISIS, rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, dan militer Turki sekaligus. Baca juga: A Private War , Perang Batin si Wartawati Perang Kamp itulah yang jadi fokus dokumenter bertajuk Sabaya karya sineas merangkap kameramen dan editor Hogir Hirori . “ Sabaya ” adalah sebutan untuk ribuan gadis Yazidi, sub-etnis Kurdi, yang dijadikan budak seks setelah diculik saat wilayah asal mereka di Sinjar, Irak Utara, diserang dan dikuasai Daesh. Lazimnya setelah para ayah dan saudara laki-laki mereka dibantai, para perempuan Yazidi itu diperbudak, dijual, dan dinikahkan paksa oleh pasukan Daesh. Mereka dipindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti Mosul, Raqqa. Banyak dari mereka akhirnya disembunyikan oleh para pelaku human trafficking di Kamp Al-Hol. Mahmud Resho di Kamp Al-Hol (Dogwoof) Adegan beringsut ke saat Mahmud melapor ke pos keamanan Kamp Al-Hol yang dijaga pasukan SDF. Mahmud menyampaikan maksudnya yakni menjalankan misi menyusupkan seorang gadis Yazidi yang menyamar jadi Daesh. Gadis yang menyamar jadi informan itu dibekali telepon seluler untuk melaporkan perkembangan pencarian para sabaya . Setelah mendapatkan info lebih banyak, beberapa hari kemudian Mahmud dan Ziyad membawa lebih banyak anggota bersenjata ke dalam kamp pada dini hari. Mereka men- sweeping sejumlah tenda pengungsi dengan dibantu Eylol, komandan pasukan perempuan SDF. Mereka tetap harus bersiaga. Meskipun kamp itu sudah dijaga dan dikuasai pasukan SDF, senjata masih mudah keluar-masuk kamp itu lewat sejumlah kelompok penyelundup senjata. “Al-Hol adalah kamp paling kacau. Ia seperti bom waktu karena masih banyak sel-sel tidur Daesh. Militer mereka memang sudah kalah, tapi mentalitas (Daesh) mereka masih tinggi,” kata Mahmud. Baca juga: The Whistleblower yang Membuka Borok PBB Pencarian gadis-gadis Yazidi yang dibantu pasukan wanita SDF (Dogwoof) Dalam pencarian dini hari itu, Mahmud dan kawan-kawannya menemukan satu korban bernama Leila. Perjalanan mereka membawa Leila keluar dari kamp pun diliputi teror. Mobil mereka dikuntit dan ditembaki mobil yang diduga kelompok Daesh atau penyelundup senjata. Beruntung, mereka bisa meloloskan diri dan membawa Leila keluar dari kamp. Leila lalu ditampung di kediaman Mahmud. Ia dirawat secara fisik dan psikis oleh Siham, istri Mahmud, dan Zahra, ibunda Mahmud. “Kami mencoba menyelamatkan mereka. Mengembalikan mereka ke asalnya, ke agamanya, dan ke budayanya,” kata Mahmud. Baca juga: Harriet "Musa" Pembebas Budak Keluarga Mahmud yang menampung para penyintas sabaya sebelum dipulangkan ke kampung halamannya (Dogwoof) Leila hanyalah satu dari sekian banyak perempuan yang berhasil diselamatkan kelompok Mahmud. Perempuan korban penculikan itu tak melulu gadis dewasa, tapi ada juga ibu satu anak dan gadis tujuh tahun. Mereka semua ditampung sementara di rumah Mahmud setelah diselamatkan. Tetapi seiring makin intensnya aktivitas mereka, bahaya makin mengancam. Ancaman itu datang dari kelompok human trafficking yang resah ataupun militan Daesh yang kabur dari kamp. Semua berpotensi menimbulkan invasi militer Turki terhadap Suriah Utara yang didiami pasukan SDF. Bagaimana kelompok Mahmud terus melakoni aktivitasnya meski banyak ancaman yang membahayakan nyawa? Saksikan sendiri kelanjutannya di aplikasi daring Mola TV. Menjaga Kerahasiaan Satu setengah tahun lamanya Hogir Hirori mengikuti Mahmud dan keluarganya dalam beragam aktivitas yang diabadikan lewat kameranya. Keseriusan Hirori juga dibuktikan dengan penghadiran twist yang yahud. Setelah menampilkan keseharian Mahmud dan beberapa gambar wawancara, Hirori membawa penonton masuk ke suasana ramai dan mencekam di dalam kamp. Suasana itu dikontraskan lagi dengan adegan berikutnya berupa ketenangan suasana pedesaan dengan hamparan perkebunan yang menjadi keseharian Shadi, Siham, dan Zahra. “Saya memang ingin menampilkan pemandangan yang sangat kontras antara kamp Al-Hol yang berbahaya dan kacau dengan atmosfer yang tenang dan aman dalam keseharian keluarga Mahmud, sekaligus memperlihatkan peran penting keluarga mereka terhadap para gadis Yazidi,” kata Hirori kepada Filmmaker Magazine , 30 Januari 2021. Baca juga: Wind River , Potret Kehidupan Pribumi Amerika Suasana Kamp Al-Hol yang menampung 70 ribu simpatisan Daesh/ISIS (Dogwoof) Hirori tak banyak menyisipkan music scoring lantaran ingin membiarkan penonton merasakan suara-suara alami di timur laut Suriah, keriuhan suasana pasar di dalam kamp, hingga letusan-letusan senjata dalam baku tembak buronan Daesh dengan pasukan SDF. Hanya sedikit musik bernuansa sendu khas Timur Tengah yang dimasukkan Hirori ke dalam scene wawancara beberapa korban. Satu dari 206 perempuan Yazidi yang berhasil diselamatkan LSM Mala Êzîdîyan adalah Leila. Masih ada lebih dari dua ribu lainnya yang nasibnya tak diketahui.. Sambil menenggelamkan wajah ke lutut dan berderai air mata, ia menceritakan pengalamannya hampir memutuskan bunuh diri karena mentalnya nyaris mencapai titik nadir. Ia diculik saat masih belia, dipaksa masuk Islam, dan dijadikan budak seks selama lima tahun sebelum akhirnya diselamatkan LSM Yazidi Home Center. Seorang sabaya lain bahkan sampai melahirkan seorang anak. Nestapanya bertambah saat ia hendak dibawa ke perbatasan Suriah-Irak untuk dipulangkan bersama beberapa penyintas lain ke Sinjar. Perempuan itu harus menahan pedih karena tak bisa membawa putranya yang berusia satu tahun. Pasalnya, anaknya adalah hasil hubungannya dengan militan Daesh dan takkan diterima keluarga maupun masyarakat Yazidi di Sinjar. Baca juga: Konflik Kashmir Tiada Akhir Upaya pencarian informasi korban sabaya ke tahanan Daesh (Dogwoof) Saat itulah sang sineas dituntut bisa mengendalikan emosinya. Tantangan lain Hirori yakni harus menyunting 90 jam durasi film menjadi 91 menit. Ia juga mesti memotong sejumlah adegan penting tentang ruang dan waktu demi kerahasiaan. Alasan kerahasiaan itulah yang membuat beberapa mantan “sabaya” yang disusupkan sebagai informan ke kamp mesti di- blur gambarnya . Alhasil transisi beberapa adegan dalam Sabaya kurang halus. “Ada banyak gambar yang tak saya masukkan karena alasan pribadi dan terutama alasan keamanan. Menjadi penting gambar-gambar tentang lokasi tidak disajikan, agar militan Daesh tak bisa mengidentifikasi mereka dan menggunakan gambar saya untuk merencanakan serangan mereka,” tandas Hirori. Genosida Kaum Yazidi Sebagaimana diceritakan dalam Sabaya , etnis Yazidi jadi sasaran genosida Daesh sejak 2014. Ketika Daesh menginvasi kampung halaman mereka di Sinjar, sekitar lima ribu nyawa orang Yazidi melayang dan lebih dari dua ribu kaum perempuannya diculik. Mereka dipaksa meninggalkan keyakinan mereka dan dipaksa masuk Islam. Mereka kemudian diperbudak. Bukan hanya Daesh atau ISIS pihak yang berupaya melakoni pembersihan etnis terhadap orang Yazidi. Jauh sebelum invasi Irak oleh Amerika Serikat pada 2003 dan serangan Daesh, kaum sub-etnis Kurdi itu dalam sejarah sudah berulang-kali jadi target genosida bangsa Turki sejak abad ke-17. Baca juga: Konflik Muslim-Hindu India dari Masa ke Masa Pada abad ke-10, kaum Yazidi menolak masuk Islam atau Kristen. Ketika mayoritas etnis Kurdi menganut Islam, orang-orang Yazidi tetap memegang teguh keyakinan monoteis Yazidisme atau Sharfadin. Menurut Profesor Sebastian Maisel, peneliti dunia Arab di Universitas Leipzig, dalam Yezidis in Syria: Identity Building among a Double Minority , Yazidisme adalah keyakinan yang percaya pada satu Tuhan yang dibantu tiga makhluk suci dalam menjaga kehidupan di dunia. “Tuhan menjadi satu pencipta spiritual dan setelah menciptakan dunia serta umat manusia, Tuhan tersebut memanifestasikan kehidupan di dunia melalui tiga makhluk: Tawsi Melek, Sheikh Adi, dan Sultan Ezid. Yang terpenting dari ketiganya adalah Tawsi Melek atau malaikat Merak yang jadi pemimpin di antara ketiganya,” tulis Maisel. Ilustrasi kuil Yazidisme (British Library) Keteguhan sikap itu membuat kaum Yazidis acap jadi korban persekusi, bahkan pembantaian. Namun, keteguhan sikap bukan satu-satunya penyebab. Pada 1640, ketika wilayah Yazidi sudah masuk ke dalam kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah, mereka dibantai. Pembantaian itu sebagai respons atas ulah orang-orang Yazidi yang acap menyerang jalur perdagangan Baghdad-Mosul dan Aleppo-Diyarbakır-Mardin. “Tetapi karavan-karavan (kafilah) di jalur itu sering dirampok suku Yazidi. Penjelajah Utsmaniyah, Evliya Çelebi, dalam ekspedisinya menyebut Yazidi kaum barbar pemuja anjing. Maka kemudian penguasa Diyarbakır melancarkan ekspedisi yang menghasilkan pembantaian dan perbudakan ribuan Yazidi,” tulis Günes Murat Tezcür dalam Kurds and Yezidis in the Middle East. Baca juga: Nestapa Yahudi Afrika demi Tanah yang Dijanjikan Sekitar 300 desa kaum Yazidi di Pegunungan Sinjar pun jadi sasaran amuk 40 ribu pasukan Utsmaniyah. Lebih dari tiga ribu orang Yazidi tewas. Ribuan lainnya diperbudak. Hanya sekitar dua ribu penyintas yang bisa melarikan diri ke gua-gua di pegunungan. Sejak saat itu persekusi atau pembantaian terhadap Yazidi terus terjadi dari masa ke masa. Dalam In Search of Safety: Voices of Refugees, Susan Kuklin mencatat ada lima peristiwa pembantaian di abad ke-18 oleh Utsmaniyah, suku Kurdi, dan orang-orang Arab. Dua kali di abad ke-19 dan empat kali di abad ke-20. Ilustrasi pembantaian kaum Yazidi oleh pasukan Utsmaniyah ( ezidipress.com ) Deskripsi Film: Judul: Sabaya | Sutradara: Hogir Hirori | Produser: Hogir Hirori, Antonio Russio Merenda | Produksi: Dogwoof, Lolav Media, Ginestra Film, Swedish Film Institute, YLE | Distributor: Folkets Bio |Genre: Dokumenter | Durasi: 91 menit | Rilis: 30 Januari 2021, Mola TV
- Seni Jalanan Masa Revolusi
Pada masa revolusi kemerdekaan, ruang-ruang publik di berbagai kota menjadi medan pertarungan visual Republik melawan Belanda. Dari mural, grafiti, poster, hingga baliho dalam bentuk yang masih sederhana. Sebagian besar dipakai sebagai propaganda membakar semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sejarawan seni rupa Mikke Susanto dalam webinar “Jakarta Art Movement: Vandalisme, Ruang Publik, dan Street Art”, Selasa, 31 Agustus 2021, mengatakan seni jalanan sesungguhnya sudah berkembang sejak 1930-an. Namun, kala itu sebagian besar karya masih jauh dari pesan-pesan revolusioner. Pasca Proklamasi, seni jalanan sontak ramai berpartisipasi dalam revolusi. Baca juga: Grafiti Setelah Proklamasi Mikke menyebut bahwa bentuk awal seni jalanan ( street art ) saat itu berupa stensil. Bentuk ini dipakai karena pembuatannya lebih mudah dan murah. Stensil yang dibuat juga masih sederhana dengan menggunakan negatif film dari kertas dan semprotan manual. Dari stensil, seni jalanan berkembang ke grafiti dan mural yang dibuat ditembok-tembok kota. Di Yogyakarta misalnya, sebuah tugu yang dulu berada di depan Hotel Garuda Malioboro menjadi titik strategis propaganda revolusi. Selain itu, poster-poster juga ditempel pada tembok dan kaca gedung, papan-papan, hingga pohon di pinggir jalan. “Nah, ini adalah bentuk pertarungan opini ya. Jadi bagaimana kemudian antara orang-orang Belanda dan pejuang-pejuang Indonesia itu berebut ruang,” jelas Mikke. Poster stensil digunakan pada masa revolusi karena mudah dan murah. (Dok. Mikke Susanto). Selain grafiti, mural, dan poster, ada pula seni jalanan berbentuk baliho. Dalam penelusurannya, Mikke menemukan baliho yang memuat visual laiknya komik. Konsep ini dipakai untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai situasi yang tengah terjadi. Konsep ini menjadi penting karena dapat menengahi minimnya publikasi-publikasi berbentuk buku. “Jadi kita bisa membaca dari panel ke panel yang kemudian di sana muncul narasi baru yang bisa dipersepsikan oleh para penyimak karya tersebut,” kata Mikke. Baca juga: Antara Estetika dan Propaganda Penempatan seni jalanan juga diperhatikan. Sama seperti konsep memasang patung di ruang publik, menurut Mikke, seni jalanan seperti baliho misalnya dibuat dengan mempertimbangkan jarak terbaik untuk dipandang atau dibaca. “Sehingga di sini kita perlu melihat bahwa kehadiran baliho itu memberikan satu dimensi ruang yang luar biasa sebagai bagian dari bentuk perjuangan kala itu,” terang Mikke. Grafiti yang dibuat pada gerbong kereta. (Dok. Mikke Susanto). Menurut amatan Mikke, seni jalanan masa revolusi juga tidak sembarang bikin. Para seniman ternyata juga memperhatikan komposisi, garis, hingga bidang ruang. Seni jalanan yang terlihat seperti goresan-goresan belaka ternyata buah pemikiran yang bersifat estetik. Selain dibuat di dinding atau papan, seni jalanan seperti grafiti juga ditorehkan pada gerbong kereta api. Ini dilakukan untuk menyebarluaskan berita Proklamasi dan semangat revolusi hingga ke kota-kota kecil yang dilalui kereta api. “Dengan demikian kita bisa membayangkan betapa grafiti itu punya pengaruh yang sangat besar di masa revolusi,” tegas Mikke. Baca juga: Bung, Saudara Serevolusi Mikke juga menambahkan, poster-poster kemudian dibuat dengan teknik yang lebih rumit dan dicetak. Adapula poster Sukarno yang dilukis oleh pelukis kenamaan Basuki Abdullah. Lukisan itu digandakan dengan ukuran A4 dan disebarkan ke seluruh Jawa. Tak hanya Basuki Abdullah, ada pula Affandi yang melukis poster revolusi “Boeng, Ajo Boeng!” D ia juga melukis poster kemerdekaan lain yang kemudian dikoleksi oleh Sukarno. Lukisan berjudul Laskar Rakjat M engatur Siasat (1946) itu kini tersimpan di Gedung Agung, Yogyakarta.





















