Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Hatta dan Pernikahan Adat Minang
PADA akhir Desember 1919, di Batavia, Jong Sumatranen Bond (JSB) mengadakan sidang tahunan untuk memilih pengurus besar yang baru. Kongres berlangsung di gedung Loge, dekat Waterlooplein (Lapangan Banteng sekarang) dan dihadiri oleh sebagian besar anggota JSB. Berdasarkan keputusan kongres tersebut, Amir Sjarifuddin ditetapkan sebagai ketua umum. Sementara jabatan sekretaris ditempati Bahder Djohan dan bendahara oleh Mohammad Hatta. Setelah terbentuk, PB JSB baru segera mengadakan rapat untuk memutuskan program kerja selama masa kepengurusannya. Dikisahkan Bung Hatta dalam otobiografinya Memoir, tidak banyak program yang dicanangkan Amir dan JSB baru. Mereka lebih fokus melanjutkan dan memperkuat program kerja pengurus sebelumnya. Satu yang mungkin mendapat perhatian lebih dari Amir adalah menerbitkan kembali majalah Jong Sumatra sebagai media memperkuat kedudukan JSB. Suatu waktu, Jong Sumatra tetiba mendapat sorotan dari masyarakat. Hal itu terjadi setelah majalah tersebut memuat tulisan seorang anggota JSB asal Sumatra Barat yang mengkritik adat istiadat Minangkabau. Di dalam tulisannya, Si Pemuda JSB menyoroti sebuah peristiwa tentang perkawinan seorang gadis Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, dengan seorang pemuda asal Jawa Tengah yang menghebohkan Tanah Minang.
- Ketika Islam Tersebar dari Giri Kedaton
Pada permulaan abad ke-15, seorang ahli agama berkebangsaan Arab tiba di Blambangan. Dia dikenal sebagai saudagar asal Jeddah, Arab Saudi, bernama Wali Lanang. Ketika tiba di Blambangan, sang saudagar mendapati negeri tersebut belum tersentuh agama Islam. Sambil menjalankan urusan dagang, Wali Lanang pun menyebarkan ajaran Islam. Menurut cerita tutur Jawa, sebagaimana disebutkan H.J. De Graaf dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram , upaya Islamisasi Wali Lanang di Blambangan dilakukan dengan menarik hati penguasa negeri tersebut. Dia berhasil menyembuhkan suatu penyakit yang diderita putri sang raja. Sebagai balasan, raja Blambangan mempersilahkan Wali Lanang memperistri putrinya. Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang anak laki-laki. Namun upaya Islamisasi tersebut mengalami jalan buntu. Wali Lanang gagal mengislamkan raja Blambangan. Dia pun memutuskan pergi meninggalkan negeri itu. Sementara itu, menurut De Graaf, anak laki-lakinya mengalami nasib malang. Dia dimasukkan ke dalam sebuah peti, kemudian dilarung ke laut. Beruntung, bayi malang itu diselamatkan oleh nakhoda kapal milik Nyai Gede Pinatih dari Gresik. Nyai Gede Pinatih lalu mengangkatnya sebagai anak. Setelah cukup besar, si anak disuruh berguru kepada Sunan Ngampel Denta (Sunan Ampel) dari Surabaya. Sang guru memberi nama anak tersebut Raden Paku. Setelah dewasa, bersama putra sang guru, Santri Bonang, Raden Paku pergi ke Malaka. Di sana keduanya berguru kepada Wali Lanang (Syekh Maulana Ishaq), ayah Raden Paku. “Wali Lanang memberi mereka tugas hidup untuk menyebarkan agama Islam di Jawa Timur,” tulis De Graaf. Meski tujuan utamanya menyebarkan ajaran Islam, masing-masing murid diberi tugas yang berbeda oleh Wali Lanang. Santri Bonang, misalnya, diberi tugas menyiarkan ajaran Islam secara langsung ke tengah masyarakat di seluruh penjuru Jawa Timur. Dia pun kemudian dikenal secara luas oleh masyarakat sebagai Sunan Bonang, dengan cara dakwahnya yang unik, yakni melalui kesenian gending gamelan. Tidak seperti Sunan Bonang yang menyambangi masyarakat secara langsung, Raden Paku diminta oleh gurunya menetap dan membangun pusat dakwah Islam di wilayah perbukitan (dalam bahasa Jawa disebut Giri ) di Jawa Timur. Dengan tidak bepergian jauh, Raden Paku lebih fokus membangun lingkungan dakwahnya. Itulah sebabnya, imbuh De Graaf, Giri berkembang sangat pesat. Keberadaannya menjadi begitu berarti sebagai pusat keagamaan umat Islam di timur Pulau Jawa. “Pesantrennya tak hanya digunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Maluku, Ternate, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara,” tulis Nyayu Soraya, dalam Islam dan Peradaban Melayu . Sekembalinya ke Jawa, menurut Soraya, Raden Paku mendirikan sebuah pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dia kemudian memilih nama Prabu Satmata. Akan tetapi karena kedudukan pesantrennya berada di Giri (bukit), maka masyarakat lebih mengenal Prabu Satmata sebagai Sunan Giri. Di Giri, Prabu Satmata mendirikan sebuah kedaton megah yang dilengkapi “taman sari” layaknya kompleks istana raja-raja Jawa kala itu. Pembangunan kedaton dilakukan pada 1485, sementara pembangunan “taman sari” dikerjakan pada 1488. Prabu Satmata memfungsikan bangunan utama kedaton sebagai tempat tinggal dan pusat pendidikan agama Islam. “Dibangunnya kedaton dan dipakainya nama gelar raja (Prabu Satmata) boleh dianggap sebagai gejala telah meningkatnya kesadaran harga diri pada wali dan pemimpin kelompok keagamaan Islam yang masih muda; lebih dari kelompok-kelompok yang lebih tua, merasa dirinya anggota masyarakat Islam internasional,” kata De Graaf. Pada perkembangan selanjutnya, keberadaan Giri Kedaton tidak hanya penting sebagai pusat pengajaran dan dakwah Islam saja, tetapi jalan bagi raja-raja Jawa melegitimasi kekuasaannya. Banyak penguasa yang datang ke Giri untuk memperkuat kedudukannya. Giri Kedaton pun dipandang penting karena memiliki pengaruh yang sangat besar di masyarakat. Menurut Dhurorudin Mashad dalam Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang , puncak kekuasaan Giri berada di bawah pimpinan Sunan Prapen. Pemimpin agama keempat di Giri itu membawa kekuatan politik ke Giri Kedaton. Dia terlibat dalam naik-turunnya tahta raja-raja Jawa. Seperti ketika Sunan Prapen melantik Sultan Hadiwijaya sebagai raja Pajang dan menjadikan kerajaan itu suksesor Kesultanan Demak. Sunan Prapen juga menjadi juru damai antara Mataram dengan Surabaya. “Sunan Prapen hampir selalu menjadi pelantik setiap ada raja Islam yang naik takhta di segenap penjuru Nusantara,” tulis Mashad. Seiring berjalannya waktu, ketika kekuasaan Mataram semakin kuat, juga setelah ditinggal Sunan Prapen, kedudukan Giri Kedaton di dalam kepentingan raja-raja Jawa mulai berkurang. Tidak adanya pemimpin agama berkharisma setelah Sunan Prapen membuat kekuasaan rohani Giri meredup di kalangan penguasa. Terlebih setelah Giri Kedaton terlibat dalam aksi pemberontakan Trunojoyo terhadap Mataram, hanya kehancuran yang menunggu pusat dakwah tersebut. Pada akhir abad ke-17, serangan besar-besaran dilancarkan Belanda ke wilayah Giri. Tanpa pertahanan yang kuat, Giri pun berhasil ditaklukan. Para pengikut, beserta anggota keluarga Giri Kedaton dihukum. Sejak saat itu riwayat Giri Kedaton pun berakhir.
- Pandemi di Batavia
Pandemi virus Covid-19 di Indonesia belum berakhir. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kasus harian di sejumlah daerah di Indonesia masih cukup tinggi. Pada awal Agustus 2021 saja terjadi kenaikan yang signifikan di beberapa daerah. Yang tertinggi berada di wilayah Jawa Tengah dengan 4331 kasus. Disusul Jawa Barat dan Jawa Timur, masing-masing mencatatkan angka 4301 dan 4113 kasus. Meski ketiga daerah tersebut mengalami lonjakan kasus harian yang signifikan, wilayah dengan jumlah keseluruhan kasus Covid terbesar hingga Agustus 2021 tetap dipegang oleh DKI Jakarta. Dilansir laman resmi Satgas Covid-19 , jumlah kasus terkonfirmasi di ibu kota mencapai 820,370 kasus. Tercatat ada lebih dari 12 ribu orang meninggal dunia dan 13 ribu orang dalam perawatan. Sementara sisanya telah dinyatakan sembuh. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, sebagaimana dikutip CNN Indonesia , menyebut jika tingginya angka kasus di Jakarta disebabkan oleh sejumlah faktor. Pertama, imbuh Riza, karena Jakarta itu ibu kota RI dan pusat interaksi warga. Selain itu Jakarta juga merupakan pusat pemerintahan dan ekonomi RI. Faktor kedua, Jakarta menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang tingkat kapasitas testingnya melebihi standar WHO. Sejak Maret 2020 Dinas Kesehatan Jakarta sudah melakukan tes kepada lebih dari 3 juta orang. Sementara faktor lain, menurut Riza, terjadi lantaran mobilitas masyarakat yang tinggi karena sudah merasa jenuh berada di rumah. “Semua orang yang melakukan interaksi banyak sekali di Jakarta, sehingga kalau potensi interaksi tinggi menyebabkan potensi penularan juga semakin tinggi,” tutur politisi Gerindra tersebut. Rupanya tidak hanya masa pandemi Covid-19 saja Jakarta menjadi pusat persebaran virus di Indonesia, pada masa pandemi Flu Spanyol tahun 1918-1919 kota itu juga memiliki tingkat penularan penyakit yang tinggi. Tercatat lebih dari seribu orang meninggal akibat virus asal benua Eropa tersebut. Lantas apakah kondisi Jakarta saat itu lebih mengkhawatirkan daripada sekarang? Kota Batavia, sebutan Jakarta masa kolonial, merupakan pusat pemerintahan dan salah satu pusat ekonomi di Hindia Belanda. Kota itu menjadi titik temu masyarakat dari berbagai daerah yang umumnya datang untuk berdagang dan urusan politik. Mobilisasi masyarakat di sana sangat tinggi. Setiap orang bebas berinteraksi dan keluar-masuk kota. Kondisi tersebut membuat Batavia rawan akan persebaran penyakit. Terlebih setelah virus Flu Spanyol merangsek masuk ke Hindia Belanda awal abad ke-20. “Bisa dibilang Batavia menjadi salah satu titik penyebaran utama dari Flu Spanyol selama gelombang kedua dari pandemi tersebut,” tulis Ravando dalam Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919 . Sayangnya bahaya virus Flu Spanyol di Batavia, begitu juga daerah lain di seluruh Hindia Belanda, telat mendapat perhatian masyarakat maupun pemerintah kolonial. Menurut Arie Rukmantara, dkk dalam Yang Terlupakan: Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda , mereka terlalu menganggap enteng keberadaan virus tersebut. Tidak sedikit juga yang menyamakan Flu Spanyol dengan influenza dengan gejala yang sedikit lebih berat dari biasanya. Semua pihak baru benar-benar memperhatikan wabah Flu Spanyol ini pada akhir Oktober 1918, ketika koran-koran di Batavia memberitakan situasi kesehatan di Hindia Belanda yang kian memburuk. Padahal serangan virus itu sudah memasuki gelombang yang kedua. Sin Po , misalnya, menyebut bahwa serangan virus dari hari ke hari semakin berbahaya dan gelombang kedua itu lebih menakutkan dari sebelumnya. Dalam sebuah laporan di Rumah Sakit Umum Batavia, pasien influenza bertambah secara signifikan dalam waktu singkat. Diketahui pada akhir 1918 rumah sakit tersebut telah merawat sebanyak 435 pasien yang umumnya menderita sakit paru-paru. Menurut Ravando, besar kemungkinan mereka itu adalah korban dari virus Flu Spanyol. Mengutip surat kabar Sin Po ,31 Oktober 1918, Ravando menyebut bahwa peningkatan jumlah korban virus itu membuat bangsal-bangsal rumah sakit di seluruh Batavia mendadak penuh. Bahkan rumah sakit militer yang cukup besar, dengan kapasitas 600 tempat tidur pun terpaksa harus menambah jumlahnya menjadi 700 agar bisa menampung lebih banyak pasien. “Merebaknya Flu Spanyol di Batavia ditengarai juga tidak lepas dari keadaan higienitas kota tersebut yang sangat buruk, lantaran kondisi udara dan sistem sanitasinya yang sangat mengkhawatirkan,” kata Ravando. Kondisi genting itu juga membuat kegiatan masyarakat Batavia selama akhir tahun 1918 amat terbatas. Masyarakat enggan keluar rumah karena takut terpapar virus. Hal itu membuat banyak saudagar menutup usahanya. Diceritakan Iswara N. Raditya dalam 1918: Kronik Kebangkitan Indonesia , kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Bahkan banyak perkantoran tutup lantaran kekurangan pegawai. Tercatat hingga November 1918, Flu Spanyol di Batavia telah menelan korban ratusan jiwa di kalangan bumiputera. Pemerintah setempat pun dengan cepat bergerak membagikan obat-obatan, khususnya obat paru-paru, ke seluruh pelosok Batavia. Pendistribusiannya diawasi oleh para mahasiswa STOVIA, calon dokter Jawa, dan dinas kesehatan pemerintah kolonial. Namun menariknya, imbuh Ravando, di dalam penjara-penjara Batavia kondisinya justru relatif aman dan terkendali. Amat berbeda dengan kondisi di luar yang dilanda kepanikan. Dosen Ilmu Sejarah di Universitas Gadjah Mada itu menduga para sipir dan direktur penjara telah mempelajari cara menangani pandemi di lingkunganya ketika gelombang pertama (Juli - September 1918) menyerang. Mereka amat membatasi kegiatan keluar-masuk orang luar ke penjara. “Bila selama gelombang pertama korban dari virus itu kebanyakan adalah pesakitan dari penjara, (setelahnya) Flu Spanyol menyerang siapapun tanpa pandang bulu,” tulis Ravando.
- Tabula Rasa yang Menggugah Selera
SUATU pagi di jembatan keretaapi, Mak (diperankan Dewi Irawan) mendapati sesosok pemuda Papua dengan pakaian compang-camping tergolek tak sadarkan diri. Setelah diamati lebih dalam, orang itu ternyata masih hidup. Keduanya sama-sama kaget sampai Mak melayangkan tamparan spontan yang membuat pemuda Papua itu pingsan lagi. Adegan kocak itu hanya sebagian dari pembuka drama komedi bertajuk Tabula Rasa garapan sutradara Adriyanto Dewo. Tabula Rasa mengisahkan perantauan Hans (Jimmy Kobogau) dari Serui ke Jakarta demi jadi pesepakbola. Nasib getir menimpa Hans kemudian. Cedera patah kaki membunuh mimpinya hingga harus hidup menggelandang. Hans, pemuda Papua yang jadi gelandangan akibat karier sepakbolanya hancur (Lifelike Picture) Cerita kemudian beralih ke adegan ajakan Mak pada Hans untuk membantu di rumah makan masakan Padang Takana Juo milik Mak. Rumah makan itu pasalnya hanya beroperasi dengan dibantu Natsir (Ozzol Ramdan) sebagai pelayan dan Parmanto (Yayu Unru) sebagai juru masaknya. Hari di mana Mak menemukan Hans adalah hari spesial bagi penyintas gempa Padang 2009 itu. Mak meracik sendiri sajian istimewa untuk Hans, gulai kepala ikan kakap. Satu-dua suap, Hans menyesapi cita rasanya dan langsung jatuh hati pada kuliner Minang itu. Tetapi kehadiran Hans di RM Takana Juo tak disikapi hangat oleh Parmanto. Karena rumah makan mereka sedang sepi, tak semestinya mengambil karyawan baru. Alhasil Parmanto pilih angkat kaki. Yang membuat Mak sakit hati adalah Parmanto bekerja di restoran Padang lebih besar tepat di seberang rumah makan mereka yang sederhana. Harapan Mak kini hanya bergantung pada Hans dan Natsir. Kolase konflik dalam Tabula Rasa gegara kehadiran Hans (Lifelike Picture) Mak mengajari Hans memasak aneka masakan Padang dengan sabar. Proses memasaknya masih memakai banyak peralatan sederhana, seperti tungku kayu bakar atau alat pemeras santan tradisional sebagaimana leluhur. “Hans, ingat ini setiap masak randang ya. ‘ Kurang kacau cik kambiangan, talampau kacau bapalantiangan. ’ Kalau kurang diaduk, kuah santan akan menggumpal seperti tahi kambing. Aduknya pakai perasaan,” kata Mak berpesan dengan menyisipkan pantun. Namun, tetap saja rumah makan mereka sepi pengunjung. Mak, Hans, dan Natsir hanya menatap kosong saat melihat restoran lebih besar di seberang sedang ramai pembeli. Dalam hati Hans, kunci mereka bisa menang persaingan hanya dengan menu istimewa yang pernah ia cicipi: gulai kepala ikan. Menu tersebut tidak dijajakan di semua rumah makan atau restoran Padang, termasuk Restoran Caniago yang jadi saingannya itu. Namun Mak urung mengabulkan ide Hans lantaran punya pengalaman getir terhadap sajian spesial itu. Apakah Mak akan berubah pikiran? Apakah gulai kepala ikan itu akan menyelamatkan rumah makan mereka dari jurang kebangkrutan? Agar lebih seru, saksikan sendiri kelanjutannya di aplikasi daring Mola TV. Gulai yang Menyatukan Tabula Rasa memanjakan mata dengan aneka suguhan kuliner khas Minang dan telinga seperti kita sedang berada rumah makan Padang. Selain membumbui music scoring melankolis dan komikal di adegan-adengan jenaka, komposer Lie Indra Perkasa cukup banyak menyisipkan irama musik Melayu dan Minang. Alur ceritanya memang cenderung klasik dan sederhana. Namun ibarat kuliner Minang itu sendiri, di sinilah letak esensinya: sarata nilai dan pesan di balik kesederhanaannya. Kesederhanaan yang paling tampak namun punya makna mendalam adalah soal persatuan antarsesama orang Indonesia, antara Hans yang berasal dari timur dan Mak dari barat. Persatuan itu makin kuat lantaran adanya silang budaya, di mana Hans jatuh hati pada gulai kepala ikan khas Minang dan Mak menikmati masakan ikan kuah kuning dengan papeda Hans. Tak melulu kuliner Minang, Tabula Rasa juga menyisipkan satu kuliner timur, Ikan Kuah Kuning dengan Papeda (Lifelike Picture) Semua itu dikemas dalam drama cantik yang bertolak dari riset mendalam. Tim produksi membuatnya dibantu advisor pakar kuliner Reno Andam Suri dan kakaknya, chef Adzan Tri Budiman. Risetnya dilakukan langsung di Pariaman, Sumatera Barat. Hasilnya kemudian dipresentasikan dalam sebuah workshop agar para pemerannya bisa menguasai teknik-teknik memasak dan juga menggunakan banyak peralatan tradisional. “Karena enggak semua orang bisa masuk ke Sumatera Barat, ke dapur-dapur mereka karena dapur kan area tertutup. Enggak bisa berbagi cerita atau rahasia. Ya aku bantu karena sudah (mudah) lewat dari bukuku udah ketemu banyak ibu-ibu. Kita datang untuk bikin dokumentasi, untuk melihat dapur tradisionalnya juga, termasuk gimana bikin dapurnya Mak dalam film harus seperti apa,” kata Reno kepada Historia secara virtual. Selain soal keotentikan cara meracik randang, yang jadi highlight dalam Tabula Rasa, yang tak kalah penting adalah soal cara mengolah dan menyajikan gulai kepala ikan khas Minang. Tidak seperti gulai dari daerah lain, gulai kepala ikan lazimnya dibuat orang-orang Minang dengan tidak menyajikan secara utuh dan matanya menghadap ke atas. “Memang biasanya (gulai kepala ikan) disajikan terbalik, matanya di bawah. Dibelah dua dulu jadi kita enggak lihat (matanya). Ada yang bilang bahwa tega enggak tega lihat matanya. Ada yang bilang jadi lebih estetik,” imbuh penulis buku Rendang Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang dan Rendang: Minang Legacy to the World tersebut. Penggambaran dapur tradisional dengan beragam alat masak tradisional pula sesuai aslinya di tanah Minang (Lifelike Picture) Gulai kepala ikan, diungkapkan Yuyun Alamsyah dalam Bangkitnya Bisnis Kuliner Tradisional , sejak dulu jadi menu yang menggugah emosi dan menimbulkan pengalaman tersendiri bagi para penikmatnya. Cita rasa bumbu gulainya yang sensasional akan menggugah hati untuk berupaya keras mendapatkan daging yang sedikit di kepala ikannya. “Cara makan dengan mengerahkan banyak tenaga baik dengan cara memecah kepala ikan sampai menghisap tulangnya ternyata menjadi kegiatan yang menyenangkan. Orang akan kembali menikmati gulai kepala ikan tidak hanya rasa gulainya yang sedap tapi cara makan yang unik,” tulis Yuyun. Hidangan itu, menurut Tabula Rasa , adalah versi gulai ikan khas pesisir dan perantauan yang memang jamak ditemui di rumah-rumah makan di luar Sumatera Barat. Perbedaannya dengan gulai dari daerah pedalaman Minang adalah penggunaan rempah-rempah yang lebih banyak. “Jadi rata-rata orang (umum) mengenal gulai kepala ikan adalah (versi) orang-orang rantau: orang Bungus, orang Pariaman, Teluk Bayur; jadi orang pesisir. Orang rantau ini memasukkan rempah-rempah ke dalam gulainya. Bumbu dasarnya sama tapi kemudian yang rantau menambahkan rempah-rempah seiring perdagangan rempah-rempah,” sambung Reno. Gulai Kepala Ikan versi dibelah dua (kiri) dan versi disajikan utuh (Lifelike Picture/ Aneka Masakan Gulai & Kari ) Memang, berabad-abad lalu orang pedalaman Minangkabau banyak menanam rempah-rempah macam lada, damar, kayu manis, dan pala. Namun hasilnya diperdagangkan oleh para saudagar Aceh karena Minangkabau masuk dalam wilayah Kesultanan Aceh sejak awal abad ke-17. “Mereka hanya menanam. Hasilnya dibawa oleh Aceh dan diperdagangkan sampai ke India dan ke mana-mana. Jadi perdagangan rempahnya itu ramai di pesisir. Kemudian ketika Aceh mengalami kemunduran, masuklah Belanda sehingga lebih terbuka. Tadinya begitu dikuasai Aceh itu inklusif, tertutup. Ketika mulai terbuka, masuklah lebih banyak orang-orang India sampai ke pesisir,” imbuh perintis bisnis kuliner rendang kemasan bermerk “Rendang Uni Farah” itu. Maka, gulai kepala ikan dengan tambahan rempah-rempah, terutama gulai yang bumbunya sudah terkandung rempah-rempah asal India seperti kardamungu dan kapulaga, kemudian tak hanya dikenal masyarakat Minang tapi juga masyarakat Aceh dan Sumatera Utara. Satu yang tetap dilestarikan jadi ciri khas gulai kepala ikan Minang adalah pemakaian asam kandis dan daun ruku-ruku, sebagaimana yang digambarkan dalam salah satu adegan Tabula Rasa . “Jadi salah satu bahan utama yang ada di gulai kepala ikan adalah menambahkan asam kandis. Memang ada yang bilang asam kandis tanaman endemik Sumatera Barat, ada juga yang bilang itu dari India. Bedanya lagi, di Sumatera Barat pakai daun ruku-ruku. Kita (orang Minang) bangga banget dengan ruku-ruku itu untuk menghilangkan amis, menambah aroma dan buat menambah rasanya juga,” terang Reno. Pakar kuliner Reno Andam Suri (Tangkapan Layar Google Meet) Dari cara memasak dan komposisi bumbunya itu terkandung filosofi persatuan dari sekian yang berbeda, bhinneka tunggal ika . Jadi aneka kuliner kondang bersantan Minang, seperti gulai kepala ikan atau randang, bermula dari satu kumpulan bumbu dasar yang sama. Dari situ bisa lahir masakan yang berbeda-beda hanya karena berbeda proses memasaknya. “Karena gulai sesungguhnya adalah proses memasak. Jadi bisa gulai apapun. Gulai kepala ikan, gulai tunjang, gulai (sayur) nangka dan sebagainya. Bumbu-bumbu membuat gulai itu adalah sama dengan membuat rendang. Makanya kalau ditanya sejarah sejak kapan gulai kepala ikan ada, hampir sama dengan waktu kapan kita mengenal randang,” jelasnya. Menurut Reno, cara orang Minang memasak hidangan bersantan berjenjang dengan tiga tahap: menggulai, kalio, dan merandang. Dari ketiga tahapan itu bisa lahir beraneka santapan. Daging sapi atau daging kerbau, misalnya, juga bisa digulai dan kepala ikan pun bisa dirandang. “Kapan gulai kepala ikan itu dikenal? Ya seiring kita tahu ada randang. Karena menggulai adalah proses mematangkan bumbu-bumbu itu menjadi kuah santan yang sudah keluar sedikit minyaknya. Kalau sudah keluar lebih banyak minyaknya dan makin kental namanya kalio. Merandang jadi tahap akhir karena dia proses menihilkan air,” tandasnya. Masakan Gulai Kepala Ikan yang khas dengan daun ruku-ruku (Lifelike Picture) Deskripsi Film: Judul: Tabula Rasa | Sutradara: Adriyanto Dewo | Produser: Sheila Timothy | Pemain: Jimmy Kobogau, Dewi Irawan, Yayu Unru, Ozzol Ramdan | Produksi: Lifelike Pictures | Genre: Drama Komedi | Durasi: 107 menit | Rilis: 24 September 2014, Mola TV .
- Mata-mata Jepang dalam Kekalahan Belanda
ORANG-orang Jepang telah tinggal di Surabaya sejak zaman kolonial Belanda. Di antara mereka banyak yang membuka toko, misalnya toko Chioda yang bersebelahan dengan toko besar milik orang Inggris, Whiteway. Namun, mereka tiba-tiba meninggalkan tokonya. Mencurigakan. Ternyata, pemerintah Jepang telah memberi tahu warganya bahwa perang dengan Belanda tidak terhindarkan. Mereka pun pulang secara bertahap dengan kapal-kapal Jepang yang rutin berlayar ke Hindia Belanda. “Toko Jepang terbengkalai atau dibeli pedagang Tionghoa. Ada sebagian diklaim pemerintah militer Jepang. Tetapi, banyak sumber menyebutkan terbengkalai,” kata Meta Sekar Puji Astuti, Ketua Departemen Sastra Jepang Universitas Hasanuddin Makassar, kepada Historia beberapa waktu lalu.
- Pelajar Indonesia di Jepang Bekerja di Markas Sekutu
SERANGKAIAN kereta listrik tiba di stasiun Tokyo. Hampir tiap keretanya penuh sesak oleh penumpang orang Jepang. Kecuali satu kereta. Sangat lowong. Tertulis di badan kereta tersebut “Kereta Khusus untuk Tentara Sekutu”. Bahrin Samad, seorang pelajar Indonesia di Jepang, langsung memasukinya. Bahrin percaya diri memasukinya karena mengenakan seragam GI (Government Issue atau Tentara Amerika Serikat). Pada stasiun berikutnya, beberapa anggota GI kulit putih masuk. Sebagian bernyanyi-nyanyi, lainnya kelihatan mabuk. Seorang GI mabuk mendekat ke Bahrin. Tanpa banyak cingcong, dia langsung menampar muka Bahrin.
- Pertarungan Dua Raksasa Komunis di Perbatasan
YURI Vasilievich Babansky (terakhir berpangkat letnan jenderal) kesal generasi muda Rusia banyak yang tak paham sejarah negerinya. Terlebih, pada Perang Perbatasan pada 1969 yang dirinya ikuti. Konflik singkat namun berdarah itu lama dipendam sehingga kini nyaris terlupakan. “Sayang sekali untuk disadari, tetapi orang-orang muda, yang sudah berusia lebih dari 20 tahun, tidak mengetahuinya, seperti yang Anda lihat, tidak ada apa-apa. Seringkali, Anda dapat mendengar yang berikut: ‘Kami melupakan Perang Patriotik Hebat, kami hampir tidak ingat perang dengan Prancis pada tahun 1812, kami tidak mengingat Perang Saudara sama sekali.’ Dua komponen mendidih dalam diriku sekarang. Dengan perasaan emosional saya untuk Damansky, saya lebih suka bahwa Rusia berdiri tegak dan tidak memberikan pulau ini, dan, saya pikir, tidak ada yang akan menjadi lebih buruk dari ini. Dan dari posisi sadar, saya menemukan Cina sebuah negara yang masih mampu merebut sebidang tanahnya sendiri,” ujarnya sebagaimana dikutip Ratibor Khmelev dalam artikelnya di en . topwar . ru edisi 9 April 2021, “Yuri Babansky Will Not Forget Damansky”. Perang Perbatasan antara Soviet dan Republik Rakyat China (RRC), yang tak dideklarasikan, terjadi pada Maret 1969. Perang tersebut memperebutkan pulau kecil Zhenbao atau Damansky dalam perspektif Russia di Sungai Ussuri, sungai yang menjadi batas wilayah RRC dan Soviet. Hingga tahun 1858, Sungai Ussuri merupakan jalur air internal Tiongkok. Kepemilikan itu diperkuat dengan perjanjian Nerchinsk yang ditandatangani ke-Tsar-an Russia dan Kekaisaran Dinasti Qing pada 1689, yang menyatakan perbatasan kedua negeri berada di Xing’an Luar/Stanovoy yang terletak di utara Amur (sungai yang tegak lurus dengan Ussuri). Setelah Perjanjian Aigun (1858) dan Perjanjian Peking (1860) ditandatangani barulah kepemilikan wilayah timur Ussuri beralih ke Russia. Namun, status kepemilikan itu terus bertahan bahkan hingga kedua negara telah menjadi republik komunis. Solidaritas sesama negeri komunis membuat pemimpin RRC Mao Zedong tak mempermasalahkannya. Upaya mempertanyakan perjanjian tersebut baru mengemuka setelah RRC dan Soviet mulai tidak akur pada akhir 1950-an. Pangkal ketidakakuran tersebut berada pada perbedaan doktrin sebagai hasil interpretasi –yang dilanjutkan dengan praksis– terhadap Marxisme-Leninisme. Kebijakan “Peaceful Coexistence” Soviet, yang mengupayakan perdamaian dengan Blok Barat, dikecam pemimpin RRC Mao Zedong sebagai revisionisme. Tensi hubungan dua raksasa komunis itu meningkat pesat dan akhirnya pecah pada awal 1960-an. Pada 1961 RRC menolak komunisme ala Soviet yang dianggapnya sebagai karya “pengkhianat revisionis.” Hubungan kedua negara pun diwarnai dengan saling lempar kritik. Setelah RRC mengkritik lemahnya respon Soviet terhadap blokade AS dalam Krisis Rudal Kuba (1962), pemimpin Soviet Nikita Khrushchev membalasnya dengan mengejek RRC karena menggertak India dalam sengketa perbatasan RRC-India di wilayah Himalaya (Oktober-November 1962). Pada Juli 1964, RRC membalas lagi dengan menyuarakan dukungannya terhadap Jepang dalam sengketa empat pulau di Kepulauan Kuril antara Soviet-Jepang. RRC kemudian meninjau ulang perbatasannya dengan Soviet, di mana Sungai Ussuri berikut ratusan pulau kecil di dalamnya, termasuk Zhenbao/Damansky, berada. Menurut RRC, Perjanjian Aigun (1858) dan Perjanjian Peking (1860) yang ditandatangani semasa tsar Russia adalah perjanjian tidak setara. Upaya dialog sempat diadakan pada 1964, namun tak menghasilkan apa-apa. Sementara, hubungan buruk kedua negara tetap berlanjut, terlebih ketika pada paruh kedua 1960-an Sekretaris Pertama Soviet Leonid Brezhnev mengambil kebijakan luar negeri lebih keras. Pada musim semi 1969, RRC menolak klaim Soviet sebagai pemimpin gerakan Komunis dunia. Konflik politik tersebut berlanjut dengan perhatian masing-masing terhadap perbatasan bersama. Sementara Soviet menambah kekuatan pasukan perbatasannya dari satu divisi pada 1961 menjadi 22 divisi pada 1969, RRC mengalihkan fokus utama militernya dari perbatasannya di pantai tenggara ke daratan di utara. Di lapangan, konflik politik itu mengubah para pasukan penjaga perbatasan kedua negara dari yang saling tukar hadiah menjadi saling curiga dan waspada. Bentrok antara nelayan kedua negara dengan pasukan penjaga perbatasan negeri tetangganya juga acap terjadi. Konflik fisik antara kedua pasukan penjaga perbatasan yang dimulai pada Januari 1967 kian hari kian bertambah kendati tidak satu pun peluru dimuntahkan militer masing-masing negara. Perintah yang mereka terima dari komando tertinggi masing-masing jelas: dilarang memulai tembakan pertama. “Saat itu, episode seperti itu biasa terjadi: penjaga perbatasan Soviet atau Cina akan berpatroli di salah satu dari banyak pulau yang disengketakan, dan penjaga dari negara lain akan menemui mereka di pulau itu, mengklaim bahwa mereka melanggar wilayah kedaulatan mereka, dan menuntut mereka pergi. Sampai saat ini, konfrontasi biasanya hanya melibatkan sedikit lebih dari teriakan, perkelahian, dan penggunaan pentungan, tongkat, dan sesekali selang kebakaran,” tulis Michael S. Gerson dalam The Sino-Soviet Border Conflict: Deterrence, Escalation, and the Threat of Nuclear War in 1969 . Namun, bentrokan antara nelayan-nelayan Tiongkok dengan pasukan penjaga perbatasan Soviet pada awal 1968 mengubah pola konflik yang ada. Empat warga sipil RRC yang merupakan nelayan di Ussuri tewas oleh peluru penjaga perbatasan Soviet yang panik. Beijing segera memerintahkan militer distrik setempat melakukan pembalasan setimpal. Perintah itu lalu dijabarkan komandan regional dengan membentuk unit komando dari personel elite unit-unit garnisun Shenyang guna menyergap patroli perbatasan Soviet. Pada 25 Januari 1969, proposal diajukan petinggi Distrik Militer Provinsi Heilongjiang dan disetujui Staf Umum Tentara Pembebasan Rakyat dan kemudian pemimpin politik tertinggi. “Pada 19 Februari 1969, sebuah rencana yang diprakarsai otoritas militer Heilongjiang untuk menempatkan tiga batalyon infanteri di Damansky/Zhenbao guna pertahanan melawan ‘revisionisme’ telah disetujui Staf Umum PLA, dan mungkin mengingat kemungkinan dampak internasional, Kementerian Luar Negeri RRT. Pada saat itu, perasaan permusuhan di antara elit dan massa di kedua negara terhadap satu sama lain telah dihasut sedemikian rupa sehingga peluang untuk menyelesaikan masalah perbatasan sama sekali tidak ada,” tulis Chien-peng Chung dalam Domestic Politics, International Bargaining and China’s Territorial Disputes. Konflik makin panas. Kewaspadaan RRC makin meningkat menyusul invasi Soviet terhadap sekutu Blok Timurnya, Cekoslowakia, pada Agustus 1968. “Orang Cina prihatin atas patroli militer Soviet yang semakin intensif di sepanjang perbatasan utara Cina, dan menjadi waspada setelah invasi Chezchoslovakia pada 21 Agustus 1968, dan proklamasi Doktrin Brezhnev berikutnya, yang menyatakan hak Uni Soviet untuk campur tangan dalam negara sosialis guna melestarikan ‘sistem sosial’ mereka. Setelah invasi, Beijing menyatakan dukungan untuk rakyat Cekoslowakia dan mendorong penarikan Albania dari Pakta Warsawa. Karena hubungan Tiongkok-Soviet pada 1969 mencapai titik tidak bisa kembali, Mao mengizinkan demonstrasi perbatasan berlanjut, untuk ‘memberi isyarat’ kepada Uni Soviet bahwa Cina bukanlah Cekoslowakia, dan bahwa Doktrin Brezhnev tidak dapat diterapkan pada ‘sistem sosial Mao.’ Dokumen yang tidak diklasifikasikan dari wilayah Khabarovsk Krai di Timur Jauh Rusia menuduh bahwa pada 1969 saja, sekitar 300 insiden serangan lintas batas harian oleh warga China terjadi,” sambung Chien-peng. Muara dari semua kisruh yang ada itu terjadi pada 2 Maret 1969. Saat itu, lewat dari pukul 10 pagi, Babansky bersama segelintir pasukan perbatasan Soviet yang tak ikut latihan dibuat kaget oleh pemandangan di seberang Sungai Ussuri, di titik perbatasan NIzhne-Mikhailovka. Sekira 30 personel militer RRC terlihat berpakaian kamuflase sedang berbaris melintasi sungai yang sedang membeku menuju Zhenbao. Babansky langsung melaporkannya pada Letnan Senior Ivan Strelnikov selaku komandan pos. Dipimpin langsung Strelnikov, pasukan Soviet segera menuju lokasi guna memperingatkan pasukan RRC menggunakan sebuah BTR-60 dan dua truk ringan. Strelnikov memerintahkan Babansky menghadapi pasukan RRC yang dipimpin Sun Yuguo (komandan pos perbatasan RRC setempat), sementara dia dan enam personelnya bermanuver menuju sungai guna mengapit. Sun Yuguo yang ditugaskan untuk memancing pasukan Soviet, tak khawatir sedikit pun didatangi pasukan Babansky. Di tempat yang tak terlihat lawan di dekatnya telah bersiaga kompi komando RRC yang siap menyergap. Wang Guoxiang, salah satu anggota pasukan komando RRC itu, telah berbaring di atas salju sejak malam sebelumnya di titik kurang dari 20 kaki dari Babansky berada. Dia dan kawan-kawannya tinggal menunggu tembakan aba-aba dari Sun. Begitu tembakan aba-aba berbunyi, pasukan komando RRC langsung memberondong lawannya. Ketika Babansky menoleh ke arah pasukan Strelnikov untuk mencari tahu apa yang terjadi, peluru dari senapan-senapan mesin pasukan RRC telah berhamburan di sekelilingnya. Babansky langsung tiarap sembari melihat pasukan Strelnikov dihabisi komando RRC. “Cina adalah yang pertama memulai ketika pengangkut personel lapis baja kami ditembak terbakar pada 2 Maret,” kata Babansky sebagaimana dikutip Ratibor Khmelev dalam artikelnya di en . topwar . ru edisi 9 April 2021, “Yuri Babansky Will Not Forget Damansky”. Babansky yang mengambil alih komando mencoba bertahan dengan pasukan yang tersisa. Permintaan bantuan segera dilayangkan, dan diterima langsung Komandan Detasemen Perbatasan ke-57 Kolonel Demokrat Leonov yang sebetulnya akan melaporkan keberhasilan unitnya menyelesaikan latihan militer. “Dalam waktu satu jam Kolonel Jenderal Oleg Losik, komandan Distrik Militer Timur Jauh, sedang berbicara di telepon dengan Alexei Kosygin, ketua Dewan Menteri Soviet yang kebingungan. Para pemimpin politik Rusia telah sepenuhnya lengah oleh serangan China. Brezhnev berada di luar negeri, sementara Kremlin disibukkan dengan dampak lanjutan invasi Cekoslowakia tahun sebelumnya serta pertempuan puncak yang akan datang dengan Amerika Serikat,” sejarawan militer Jesse Du dalam “Russia vs. China: How Conflict at the Sino-Soviet Border Nearly Started Nuclear War”, dimuat dalam historynet . com , Juli 2021. Dua jam bertempur hingga hampir kehabisan amunisi, Babansky akhirnya mendapat perintah mundur dari Kolonel Leonov. Gerak mundurnya dibantu oleh beberapa BTR-60 yang didatangkan dari pos 1 Kulebyakiny Sopki dan dipimpin langsung Letnan Senior Vitaly Bubenin. Bubenin justru harus bertempur lantaran BTR-60-nya dimaksa RPG pasukan RRC. Tapi dengan pertempuran itu, Bubenin justru berhasil menyeberang ke sisi RRC dan merebut pos komando RRC. Soviet kehilangan lebih dari 30 serdadunya, termasuk Strelnikov, dalam pertempuran tersebut. Sementara, jumlah korban di pihak RRC tidak diketahui pasti. Kendati hari itu juga pertempuran berdarah itu telah selesai, konflik justru kian tajam. Masing-masing pihak memperkuat pasukannya di perbatasan. Losik memperkuat pasukannya dengan menambahkan Divisi Senapan Motor ke-135 ke belakang Ussuri dan mengerahkan tank T-62 serta peluncur roket multi BM-21 Grad kendati masih menunggu persetujuan Moscow. Di Beijing, Chen Xilian, komandan Distrik Militer Shenyang, mengirim tambahan resimen infanteri dan artileri dari Divisi ke-67. “Cina tampaknya tidak hanya siap secara militer tetapi juga secara politik, dengan cepat meluncurkan gerakan massa pada hari berikutnya yang mencakup lebih dari 400.000 orang. Bahkan lebih banyak orang berpartisipasi dalam protes dan demonstrasi publik selama beberapa hari berikutnya, dan secara keseluruhan sekitar 260 juta orang, atau sepertiga dari populasi RRC, ambil bagian. Namun, demonstrasi dukungan publik ini sama sekali tidak sekeras serangan yang dilakukan terhadap kedutaan besar China di Moskow pada 7 dan 8 Maret oleh ‘gerombolan’ pelempar batu yang berjumlah masing-masing 50.000 dan 100.000, dengan tujuan untuk memecahkan jendela kedutaan dan meneror stafnya,” tulis Chien-peng.*
- Ragam Kuliner Favorit Stalin
HUBUNGAN Rusia dan Inggris memanas Juni hingga akhir Juli ini. Rusia bahkan mengancam akan membinasakan militer Inggris di Laut Hitam. Kemarahan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Inggris disebabkan oleh aksi provokatif kapal perang Inggris pada akhir Juni. Kala itu Putin langsung memberi peringatan yang dipertegasnya lagi kala menghadiri parade Hari Angkatan Laut di Saint Petersburg pada 25 Juli lalu. “Kami mampu mendeteksi musuh di dalam laut, di permukaan, dan di udara dan jika diperlukan, akan melancarkan serangan yang tak terhindarkan,” kata Putin, dikutip Reuters , Senin (26/7/2021). Pertikaian kedua negeri berkekuatan nuklir itu bukan hal baru. Di Perang Dunia II, pemimpin tertinggi Uni Soviet (pendahulu Rusia) Joseph Stalin pernah bertikai dengan Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill. Keduanya berselisih hebat tentang nasib para tawanan perang Jerman dan jalannya kelanjutan perang. Stalin mendesak Sekutu segera membuka front baru di barat, tepatnya di pantai Prancis, demi meringankan pertempuran pasukannya di front timur. Operation Torch, pendaratan pasukan Sekutu di Afrika Utara (8-16 November 1942), yang dilancarkan dianggap Stalin belum meringankan bebannya. Sementara, Churchill bersikeras menentang rencana Stalin mengeksekusi puluhan ribu perwira Jerman. Demi stabilitas Eropa di masa depan, Churchill juga menginginkan Eropa Timur tak begitu saja dikuasai Uni Soviet. Pertikaian itu mendorong Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt memediasi. “The Big Three” (ketiga pemimpin Sekutu) itu pun bertemu di meja makan dalam Konferensi Tehran, 28 November-1 Desember 1943. The Big Three: Joseph Vissarionovich Stalin, Franklin Delano Roosevelt & Sir Winston Leonard Spencer Churchill (US National Archives) Diungkapkan Robert Gellately dalam Stalin’s Curse: Battling for Communism in War and Cold War , perselisihan itu terjadi di permulaan makan malam pada hari ketiga konferensi di gedung Monumen Eynoddowleh, Tehran, dalam pembicaraan tentang tawanan Jerman. Stalin mengatakan ingin mengeksekusi 50 ribu perwira Jerman yang tertawan agar tak bisa melanjutkan perang. “Roosevelt menganggap Stalin hanya bergurau dan menambahi lelucon: ‘mungkin cukup 49 ribu saja.’ Tetapi Churcill yang marah mengatakan: ‘itu akan menjadi eksekusi berdarah dingin. Penjahat perang mestinya lebih dulu diadili menurut Deklarasi Moskow (30 Oktober 1943) yang juga Anda (Stalin) tandatangani.’ Stalin keluar dari ruang makan tapi Stalin membawanya kembali dengan mengatakan ia hanya bercanda. Rupanya Stalin sedang mengecek ombak,” tulis Gellately. Ketegangan mulai sedikit reda saat jamuan makan dimulai. Jika di sarapan atau makan siang ketiganya punya koki-koki pribadi yang menyiapkan sajian, dalam gala dinner menu-menunya disiapkan oleh tim koki asal Inggris. Sebagaimana dituliskan Struan Stevenson dan Tony Singh dalam The Course of History: Ten Meals That Changed the World , menu makan malam itu terdiri dari tiga bagian. Untuk entrée -nya berupa Ash-e-Jow (sup jelai Persia) dan salmon rebus dengan kaviar beluga dilengkapi opsi minuman sampanye, koktail “Bloody Mary”, dan wiski. “Lalu diikuti (hidangan utama) kalkun panggang dengan kentang dan sayuran rebus, serta minumannya anggur Persia Shiraz. Pencuci mulutnya sudah disiapkan chef senior Inggris, yakni soufflé keju, dan ‘Persian Lantern Ice’. Hidangan mewah ini berupa batu es yang berbentuk seperti menara dan di atasnya dihiasi gula halus dan es krim Persia,” ungkap Stevenson dan Singh. Stalin menolak membicarakan politik atau militer selagi bersantap. Seiring berjalannya makan malam, hubungan Stalin dan Churchill kembali mencair akrab. Walau pada awalnya Stalin sempat kebingungan menggunakan bermacam alat makan mewah itu, momen itu membuktikan Stalin mampu menyesuaikan diri dengan kuliner internasional. Selera Lokal Buatan Kakek Putin Meski bisa beradaptasi dengan selera internasional, Stalin sejatinya lebih menyukai hidangan-hidangan lokal. Di masa kecil dan mudanya, sosok bernama lahir Ioseb Besarionis dze Jugashvili itu sangat menggemari kuliner lokal tempat kelahirannya, Georgia, baik yang dimasak ibunya, Ekaterine Giorgis ‘Keke’ Geladze, maupun makanan di asrama atau seminari Gereja Ortodoks Gori. Makanan-makanan lokal Georgia yang disukai Stalin di antaranya da-chire (manisan buah kering), sulguni (acar keju), dan chanakhi (daging domba dewasa yang disemur dengan tomat, terong, kentang, dan bawang putih). Jika tak menemukan restoran yang sesuai seleranya, Stalin kadang memasak sendiri chanakhi versinya. “Stalin sosok yang inovatif (di dapur). Dia bisa mencampurkan dua sup dan remah-remah roti menjadi sebuah hidangan yang rustic . Dia juga menciptakan hidangan bernama ‘Aragvi’ yang diambil dari nama sungai di Georgia. Hidangan itu terdiri dari daging domba muda, terong, tomat, kentang, dan lada hitam yang dicampurkan dalam saus pedas,” ungkap Anastas Mikoyan, mantan menteri perdagangan Soviet, dalam The Book of Tasty and Healthy Food. Hidangan chanakhi khas Georgia (Twitter @BevriFood) Setelah chanakhi atau aragvi , makanan favorit Stalin adalah stroganina . Hidangan khas Siberia ini mirip carpaccio di Italia atau sashimi di Jepang, sama-sama menyajikan ikan mentah. Kuliner itu mulai jadi favorit Stalin semenjak ia diasingkan ke Siberia pada 1903. Ketika sudah jadi pemimpin tertinggi Uni Soviet, Stalin selalu meminta dikirimkan bahan baku ikannya dari Siberia. Stroganina adalah makanan yang lazim disantap masyarakat yang mendiami kawasan Arktik Siberia pada musim dingin, seperti Eskimo, Komi, dan Yakut. Hidangan sederhana itu hanya terdiri dari ikan nelma (sejenis bandeng) atau ikan muksun (sejenis salmon) yang berhabitat di perairan utara. Sebelum dijadikan hidangan, daging ikan nelma atau muksun dibekukan terlebih dulu lalu di- fillet dan ditaburi garam serta merica sebelum disuguhkan mentah-mentah. “Di meja makan Stalin biasanya terdapat ikan bandeng (sungai) Danube, dan favoritnya stroganina selalu juga disajikan di antara zakuski (aneka makanan pembuka). Tidak lupa sup tradisional ukha (kaldu ikan) dan shchi (sup kol),” ungkap Anya von Bremzen dalam Mastering the Art of Soviet Cooking. Stroganina yang mirip carpaccio khas Italia atau sashimi dari Jepang (Twitter @Russia) Menu-menu untuk makan siang dan santap malam itu mulai jadi tanggungjawab Spiridon Ivanovich Putin –yang merupakan kakek Presiden Putin dari garis ayah– setelah Stalin menggantikan Vladimir Lenin. Spiridon pernah bertugas sebagai kru kapal selam dan NKVD (Polisi Rahasia Soviet). “Spiridon sudah belajar memasak sejak usia 15 tahun dan kemudian mencuat jadi chef terkenal di Hotel Astoria di St. Petersburg. Pernah suatu ketika ia melayani Grigory Rasputin. Rasputin begitu terkesan dengan hasil masakannya dan karena punya kemiripan nama, Rasputin memberinya uang tip berupa sekeping rubel emas,” singkap Allen Lynch dalam Vladimir Putin and Russian Statecraft . Pasca-Revolusi 1917, Spiridon diminta Lenin jadi koki pribadi di dacha (rumah peristirahatan) milik Lenin. Meski kemudian rezim berganti, Spiridon tetap dipercaya jadi koki di markas besar Partai Komunis dan kemudian di dacha -nya Stalin. “ Skill kuliner Spiridon membuat elite komunis baru terkesan. Stalin yang juga mengaguminya akhirnya memintanya untuk pindah jadi koki di dacha -nya di Illichovsky yang lazimnya jadi rumah untuk menjamu para pejabat Partai Komunis. Sebagai koki kepala, ia diberikan flat dengan dua kamar dan istrinya, Olga, selalu membantu menyiapkan bahan-bahan sayur dan buahnya,” tulis Chris Hutchins dan Alexander Korobko dalam Putin . Spiridon Ivanovich Putin (kiri), kakek Presiden Rusia Vladimir Vladimirovich Putin dari garis ayah ( kremlin.ru ) Racun dalam Anggur? Sebagai pemimpin tertinggi, tentu Stalin punya banyak musuh baik di luar maupun di dalam negeri. Maka itu Stalin selalu berhati-hati soal potensi racun dalam makanannya. Oleh karenanya, ia membuat beberapa aturan protokoler untuk sebagai upaya preventif. Pertama , ketika sedang menjamu tamu, ia selalu memerintahkan staf pelayan menghidangkan entrée , makanan utama, dan pencuci mulut sekaligus di atas meja. Tujuannya agar mencegah adanya penyusup yang mencemari satu atau beberapa makanan dalam tiga tahap suguhan itu dari dapur. Kedua , jika sedang menjamu tamu, Stalin tak pernah mau makan duluan. Ia akan meminta tamu-tamunya untuk lebih dulu menyantapnya. Bila tiada satupun yang bermasalah, barulah Stalin ikut makan. Ketiga , jika sedang santap sendirian, dia akan memerintahkan pengawal kepercayaannya untuk mencicipi setiap makanannya terlebih dahulu. Untuk tugas ini selalu dipercayakan Stalin pada Jenderal Alexander Egnatashvili. Disebutkan Roman Brackman dalam The Secret File of Joseph Stalin: A Hidden Life , Alexander adalah putra dari Yakobi ‘Koba’ Egnatashvili, pendeta yang memberkati perkawinan ibu dan ayah Stalin. “Stalin yang mempromosikan Alexander Yakovlevich Egnatashvili ke Kepolisian Rahasia (NKVD) Georgia dan kemudian ditransfer ke Moskow, di mana ia menjadi jenderal di kesatuan pengawal pribadi Stalin. Dia juga dikenal dengan panggilan ‘ rabbit’ (si kelinci) karena tanggungjawab utamanya adalah mencicipi semua makanan yang akan disuguhkan untuk ‘saudaranya’, untuk memastikan tidak mengandung racun,” tulis Brackman. Tiga anggur kesukaan Stalin: khvanchkara , kindzmarauli & chkhaveri ( royalkhvanchkara.ge/allwine.ge/batumarani.ge ) Kendati begitu, potensi peracunan tetap lolos juga karena kuat dugaan kemudian Stalin meninggal pada 5 Maret 1953 karena diracun. Bukan melalui makanan, melainkan lewat anggur. Selain hobi menenggak bir dan vodka, Stalin dikenal menggemari minuman anggur. Selain anggur-anggur dari berbagai negara Eropa, Stalin doyan anggur lokal Georgia. Untuk anggur merah ia doyan khvanchkara dan kindzmarauli. Untuk anggur putih, favoritnya adalah chkhaveri . Namun, lewat minuman anggurlah Stalin kemungkinan terbunuh dengan diracun. Dua calon suksesor Stalin, yakni Nikita Khrushchev dan Lavrenty Beria, jadi terduganya lantaran keduanya paling sering ikut makan malam dengan Stalin di hari-hari terakhirnya. “Konspirasinya mengarah pada Khrushchev yang punya orang dalam untuk meracuni hidangan Stalin agar bisa menggantikan posisinya. Tokoh lain yang juga terduga dan sering ikut makan malam adalah Lavrentiy Beria, sang kepala NKVD. Ketika Stalin tewas, Beria berseteru dengannya (Khrushchev),” ungkap James Egan dalam 3000 Facts about Historic Figures. Kamerad Stalin yang mangkat pada 5 Maret 1953 (Library of Congress) Beberapa hari sebelum tewas, Stalin dilaporkan sering muntah darah akibat pendarahan pada organ pencernaannya. Anehnya, laporan resmi yang keluar kemudian menyatakan Stalin meninggal karena stroke dan pendarahan otak. Pendarahan organ pencernaan yang dideritanya sama sekali tidak disebut. Dua bulan setelah tewasnya Stalin, muncul pengakuan dari mulut Beria. Dengan bangga ia mengatakannya pada Khrushchev bahwa dialah pelakunya. Dalam memoarnya, Khrushchev Remembers , Beria mengatakan dialah yang meracuninya sehingga menyelamatkan Anda semua. “Diduga Beria menggunakan obat baru, warfarin , sebuah cairan yang tak berwarna dan rasanya hambar yang dicampurkan pada anggurnya (Stalin) di malam 28 Februari. Butuh waktu 5-10 hari untuk racunnya bisa membunuh. Menurut pemeriksaan catatan medis yang dilakukan pakar kesehatan Amerika pada 2003, gejala-gejalanya sangat cocok disebabkan oleh keracunan warfarin ,” ujar Paul Simpson dalam That’s What They Want You to Think: Conspiracies Real, Possible, and Paranoid.
- Kisah Rektor UI yang Rangkap Jabatan
Ari Kuncoro, Rektor Universitas Indonesia, mengajukan surat pengunduran dari jabatan Wakil Komisaris Utama BRI pada 21 Juli 2021. Sebelumnya, dia sempat merangkap jabatan tersebut sehingga dikecam publik. Sebab statuta UI melarang rektor rangkap jabatan. Meski kemudian statuta tentang rangkap jabatan itu diubah, Ari tetap ingin mundur. Ari bukanlah rektor UI pertama yang merangkap jabatan. Sebelum Ari, ada Soemantri Brodjonegoro dan Nugroho Notosusanto. Soemantri menjadi rektor UI pada 1964–1973. Saat bersamaan dia juga sempat menjadi Menteri Pertambangan Oktober 1967–Maret 1973. Dia lalu menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Maret 1973–Desember 1973. Netral dan Egaliter Saat menjadi rektor, Soemantri menghadapi situasi kampus yang panas. Mahasiswa UI sedang gencar mengkritik pemerintahan Sukarno. Kampus juga terbelah menjadi dua kekuatan besar: anti-Sukarno dan pro-Sukarno. Pembelahan tak hanya terjadi di kalangan mahasiswa, tapi juga dosen-dosennya. Saat mahasiswa menggelar demonstrasi anti-Sukarno, dosen pun berbeda pendapat. “Di kalangan dosen juga terjadi gejolak. Sebagian dosen mengambil sikap tidak mau ikut terlibat. Sebagian dosen tetap setia pada Bung Karno,” tulis Nizam Yunus dalam Soemantri Brodjonegoro , Teguh di Jalan Lurus . Soemantri memilih bersikap netral. Tapi bukan berarti dia tak peduli pada situasi terkini dan gerakan mahasiswa. “Setiap hari mahasiswa berhubungan dengannya. Setiap permintaan mahasiswa selalu dipenuhi,” lanjut Nizam. Selama menjadi rektor, Soemantri enggan menggunakan pendekatan kekuasaan dan ancaman kepada bawahan atau mahasiswa. “Sikapnya terhadap para karyawan di kantor rektor tidaklah seperti bos.” Dia juga kurang suka dengan protokoler ketat. Soemantri berusaha tegas dalam urusan pekerjaan dengan pendekatan contoh. Misalnya soal berhemat, dia sering mengetik di balik kertas bekas. Dengan begitu, karyawan di kantor dan mahasiswa menghormatinya lebih dari hubungan formal dan menganggapnya sebagai pribadi yang menyenangkan. Ketika menjadi Menteri Pertambangan, Soemantri mencoba meningkatkan kemampuan staf pertambangan. Dia juga memperbaiki tata kelola perusahaan tambang negara. Selain itu, dia mengubah sistem kerja sama dengan pemodal asing. “Sistem konsesi mulai ditinggalkan, diganti dengan sistem kontrak karya,” urai Nizam. Soemantri sebenarnya dinilai berhasil selama enam tahun menjadi Menteri Pertambangan. Tapi Soeharto menghendakinya menjabat Menteri P dan K. Soemantri menerima tugas ini dan langsung mengupayakan perbaikan nasib guru. “Yang pertama kali akan dilakukannya adalah pergi ke daerah-daerah, ingin bertemu guru-guru,” lanjut Nizam. Tapi dia keburu sakit berkepanjangan hingga napasnya habis pada 18 Desember 1973, sebelum jabatannya finis. Kritik MaharMardjono Posisi Soemantri sebagai rektor UI diganti oleh Mahar Mardjono, menjabat 1973–1982. Mahar sempat berpendapat bahwa rektor UI sebaiknya tidak rangkap jabatan. “Tugas sebagai rektor itu merupakan suatu tugas full time , yang sulit untuk dirangkap dengan jabatan lain,” kata Mahar dalam Mahar Pejuang, Pendidik, dan Pendidik Pejuang . Mahar juga mengatakan sangat mungkin jika rektor rangkap jabatan sebagai menteri akan penuh konflik kepentingan. “Tidak bisa seorang menteri datang setiap hari ke kampus sebagai menteri. UI tidak akan bisa berkembang. Apalagi kalau Menteri P dan K dan sekaligus rektor dari salah satu universitas,” kata Mahar. Tapi pendapat ini tak berlaku bagi Nugroho Notosusanto. Dia naik jadi rektor menggantikan Mahar pada 1982 lalu menjadi Menteri P dan K menggantikan Daoed Joesoef. Saat dia naik, program Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) usulan Daoed Joesof telah menancap kuat di banyak universitas. NKK/BKK merupakan program untuk membatasi kegiatan politik praktis mahasiswa di dalam kampus dan mengurangi kemungkinan kegiatan di luar kuliah. Protes keras datang dari mahasiswa. Tapi program tersebut tetap berjalan di banyak kampus, termasuk kampus UI. Peluang Rangkap Jabatan Nugroho memandang posisi rangkap jabatannya sebagai rektor dan Menteri P dan K bukan sesuatu yang bermasalah. Dia malah mengungkapkan bahwa posisi rangkap itu sebagai peluang menjadikan UI sebagai pilot project untuk setiap masalah di jenjang pendidikan tinggi di Indonesia. Kebijakan Nugroho sebagai Menteri P dan K selalu berkaitan dengan kebijakannya di dalam kampus UI. Misalnya ketika dia membatasi kegiatan politik mahasiswa di kampus dan beraktivitas di organisasi ekstrauniversitas. Ini sangat sejalan dengan kebijakannya di lingkup nasional sebagai menteri yang juga melarang politik di dalam kampus dan organisasi ekstrauniversitas masuk ke kampus. Bagi Nugroho, universitas bukan suatu lembaga politik dan kampus bukan pula masyarakat politik. “Hakekat sesuatu universitas adalah sesuatu lembaga ilmiah, sedangkan hakekat kampus yang merupakan lingkungan tempat para sivitas akademika bergiat, adalah sesuatu masyarakat ilmiah,” kata Nugroho dalam “Identitas Universitas Indonesia”, pidato kepada orangtua mahasiswa baru UI pada 1982. Nugroho juga terlihat ingin menghubungkan kebijakannya di UI ke universitas lainnya. Di UI, dia berusaha menanamkan tiga program besarnya: institusionalisasi, profesionalisasi, dan transpolitisasi. Institusionalisasi menyangkut upaya memperteguh fungsi tridarma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian. “Termasuk di dalam bidang-bidang yang harus diinstitusionalisasi adalah tata nilai. Karena jika tata nilai yang kita anggap negatif belum berubah, maka pergantian personalia dalam pelbagai jabatan tidak menjamin timbulnya perbaikan,” kata Nugroho dalam pidato “Institusionalisasi dan Profesionalisasi melalui Transpolitisasi” pada 12 Februari 1982. Institusionalisasi nilai ke dalam kampus juga menyasar pula ke bidang profesi tiap lulusan universitas. Menurut Nugroho, profesionalisasi berkaitan dengan apa yang diharapkan perguruan tinggi dari para lulusannya. Setidaknya ada tiga hal yang diinginkan: keahlian, tanggung jawab, dan kesejawatan. Tiga hal ini perlu diisi oleh nilai-nilai khusus yang diberikan dari kampus. Terakhir adalah transpolitisasi. Nugroho menyebut dua praktik sebelumnya tak akan berguna tanpa adanya transpolitisasi atau pemindahan kegiatan politik praktis dari kampus ke luar kampus. Nugroho memandang sudah tak zamannya lagi kampus didikte kekuatan dari luar kampus. Nugroho ingin kampus bebas dari kekuatan di luar kampus. “Universitas bukan pasar loak bagi gagasan-gagasan usang dari luar dinding-dindingnya,” kata Nugroho. Dia juga menyebut praktik mahasiswa selama 1970-an adalah buah dari “kebebasan yang berayun terlalu jauh”. “Di beberapa kampus, libertarianisme ini sempat menimbulkan rezim anarkistik di kalangan suatu segmen mahasiswa yang relatif kecil tetapi vokal. Di kampus UI, gejala anarkisme ini pada awal 1980-an telah mencapai proporsi destruktif,” kata Nugroho dalam pidato “Senat Mahasiswa mengabdi Alma Mater”. Karena itulah, Nugroho meneruskan program NKK/BKK dan mengupayakan segala kebijakan pendidikan tinggi nasional seperti apa yang dia pikirkan dan terapkan di UI. Sebab dia percaya NKK/BKK sangat ampuh untuk menahan kekuatan dari luar kampus untuk masuk ke kampus. Tapi Nugroho belum mampu mewujudkan semua rencananya. Seperti Soemantri, napasnya lebih dulu habis sebelum masa jabatannya menyentuh garis finis. Dia wafat pada 3 Juni 1985. Soemantri dan Nugroho sama-sama wafat ketika merangkap jabatan.
- Rasisme Memuakkan Klub Israel dalam Forever Pure
KOMPLEKS Stadion Teddy di Yerusalem pada 29 Oktober 2012 malam didominasi warna kuning-hitam. Ribuan fans klub tuan rumah Beitar Yerushalayim FC menanti kedatangan tim pujaan mereka dekat gerbang stadion. Sorak-sorai seketika membahana saat bus rombongan tim tiba. Kedatangan rombongan tim amat dielu-elukan karena Beitar menang 3-2 saat menjamu Hapoel Tel Aviv. Tak ayal, para pemain yang menyapa suporter, terutama fans fanatik La Familia di tribun timur, turut dalam euforia yang dimeriahkan nyanyian “Ohev otach! Ah-Nee Neesh-Bah!” (artinya “aku mencintaimu dan aku bersumpah”). Ariel Harush (24), kiper utama sekaligus kapten tim, jadi salah satu yang paling dielu-elukan. Di pundaknya digantungkan harapan besar fans agar Beitar bisa jadi juara dengan tren positif selama dua bulan terakhir. Momen kapten tim, Ariel Harush (tengah) yang menyambut Dzhabrail Aslanbekovich Kadiyev (kiri) & Zaur Umarovich Sadayev (Yes Docu) Namun, semua itu berubah 180 derajat saat pemilik klub, Arcadi Gaydamak, mendatangkan dua pemain muslim asal Chechnya, Dzhabrail Kadiyev (19) dan Zaur Sadayev (23), pada bursa transfer Januari 2013. Kedatangan mereka jadi pemicu konflik utama dalam film dokumenter Forever Pure garapan sineas cantik Maya Zinshtein. Konflik itu kemudian merembet ke sejumlah peristiwa yang kacau dalam klub paling kontroversial dan rasis di Israel itu. Klub yang didirikan pada 1936 itu sejak lahirnya sudah rasis dan punya tradisi tidak tertulis larangan merekrut pemain berdarah Arab, apalagi muslim. Klub yang punya fans terbesar di Israel itu pada gilirannya membuat banyak politikus Israel menunggangi fansnya demi tujuan politik. Itu turut diperlihatkan Zinshtein lewat sejumlah footage tentang para politikus yang naik daun setelah turut dalam manajemen klub kala berjaya atau sekadar mengidolakan Beitar. Selain Presiden Reuvlin Rivlin, politikus oportunis itu antara lain Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Wakil Perdana Menteri Avigdor Lieberman. “Beitar selalu jadi bentengnya Partai Likud. Siapapun yang ingin meraih kekuasaan pasti akan melalui Beitar. Presiden Rivlin dulu jadi ketua klub,” tutur pelatih Eli Cohen dalam film itu. Ultras "La Familia" memboikot pertandingan (kiri) meski Sadayev produktif mencetak gol (Yes Docu) Maka suporter Beitar, terutama La Familia, yang punya pengaruh besar dalam kebijakan klub, mengamuk ketika manajemen klub membeli dua pemain muslim asal Chechen. Teror psikologis pun mereka dilancarkan kepada Kadiyev dan Sadayev, juga kepada Harush sang kapten klub, dan ketua klub Itzik Kornfein. Atmosfer stadion berganti jadi horor. Para pemain Beitar mesti tahan disoraki dan dicaci pendukung tim lawan sekaligus suporter sendiri. Mereka hanya mau mendukung Ofir Kriaf, gelandang tim yang berdiri di belakang prinsip La Familia. Sementara, Harush yang mencoba melindungi dua rekan barunya justru dihina habis-habisan. “Saya tak pernah dimaki oleh fans sendiri. Itu fans kami yang pekan lalu memuja nama saya. Saya hanya menuruti klub untuk ikut konferensi pers dan mengatakan kami akan menerima keduanya dan kemudian fans menentang saya. Saya mencintai fans seperti halnya Ofir. Saya juga tumbuh bersama fans,” kata Harush. Kadiyev (kiri) yang dicaci rasisme verbal & Ofir Kriaf yang dipuja "La Familia" (Yes Docu) Cercaan fans juga memilukan hati kedua rekrutan baru itu. Saking terpengaruhnya, Kadiyev ingin pulang. Sementara, Sadayev yang lebih dewasa berusaha menahan emosinya dalam setiap latihan dan pertandingan. “(Sorakan rasis) bisa terjadi di mana saja. Mereka berpikir kami orang Arab. Seseorang harus bisa menjelaskan bahwa kami bukan Arab. Kami orang Chechen,” ungkap Sadayev. Kemarahan La Familia perlahan turut memengaruhi basis fans lain. Spanduk “Murni (Yahudi) Selamanya” dibentangkan di mana-mana. Boikot pun terjadi. Lebih gawat ketika markas klub dan fasilitas latihan di Bait Vagan jadi sasaran pembakaran. Ancaman terhadap para pemain dan manajemen kian nyata. “Saya sampai harus masuk daftar prioritas perlindungan. Itu kategori yang biasanya khusus para menteri. Saya harus mengecek apakah ada bom di kolong mobil saya setiap pagi. Suatu ketika orang-orang yang berkerumun meneriakkan: ‘Kami akan datang dan memerkosa putri Anda.’ Mereka mencerminkan kekerasan yang ada dalam masyarakat,” ungkap Kornfein. Markas klub yang dibakar oknum "La Familia" (Yes Docu) Atmosfer tak sehat itu bahkan, kata legiun asing asal Argentina Darío Fernández, terasa sampai di ruang ganti. Menurutnya, atmosfer sangat dingin. Para pemain, terutama pemain Israel, seperti tutup mata pada aksi rasisme terhadap rekan muslim mereka. “Saya tak mengerti kenapa orang-orang ini begitu rasis. Dua pemain malang itu datang untuk bermain, membantu kami, dan mereka harus menelan omong kosong ini. Para pemain Israel tidak peduli pada mereka. Hanya saya dan Harush yang berusaha menentang (rasisme) fans itu sementara yang lain diam saja,” ujar Fernández menyesali. Bagaimana detail rasisme nan mengiris hati itu harus dilewati kedua pemain muslim itu? Biar lebih seru, Anda saksikan sendiri sajalah di aplikasi daring Mola TV . Mendelegitimasi Rasisme Forever Pure hanya menampilkan sedikit music scoring melankolis dan beat - beat yang menaikkan emosi. Pasalnya, suara nyanyian, gemuruh drum fans, dan peluit wasit sudah cukup membawa emosi penonton ke dalam rasa muak akan gambaran-gambaran rasisme fans Beitar. Atas izin ketua klub, Zinshtein mengambil banyak stok video dengan berbagai angle kendati fokusnya pada emosi Harush dan kedua rekrutan asal Chechnya yang jadi korban rasisme itu. Ia juga mewawancarai banyak pihak, seperti Ofir Kriaf, pelatih Eli Cohen, jurnalis Erel Segal, dan Presiden Rivlin. Sisanya seperti scene pernyataan PM Netanyahu soal pembakaran markas klub, ia pinjam dari video wawancara media lain. Saat dirilis pada 2016, Forever Pure memancing kehebohan tentang isu rasisme lagi. Alhasil Forever Pure tak dihargai di Israel. Ia justru lebih diapresiasi di luar. Raihan Emmy Awards 2018 kategori News & Documentary terbaik cukup bicara banyak. Dampaknya, sang sineas ikut jadi sasaran ancaman La Familia. Maya Zinshtein yang menggarap dokumenter Forever Pure sebagai debutnya sebagai sutradara (Israel Film Festival) Kendati tindakan-tindakan seperti itu sedari awal sudah diduga Zinshtein, ia punya alasan tersendiri mengapa Forever Pure cenderung berat sebelah sehingga dianggap film anti-Israel karena tak menampilkan pihak La Familia dalam debut filmnya. “Karena filmnya bukan tentang fans, maka saya harus berpihak pada satu sisi dan saya memihak klub. Ada suatu level luar biasa tentang kebencian, tentang emosi yang ditampilkan massa. Saya tak habis pikir anak-anak kecil bisa ikut meneriakkan cacian rasis. Itu alasannya saya membawa film ini untuk bisa didiskusikan di sekolah-sekolah, betapa rasisme bisa muncul dari dalam komunitas kita,” terang Zinshtein kepada Haaretz , 1 November 2018. Rasis Sejak Lahir Alasan kenapa Beitar begitu rasis dan sangat terafiliasi dengan sayap kanan tak lain karena ia lahir pada 1936 dari dua petinggi pergerakan yang jadi cikal-bakal Partai Likud, yakni organisasi pemuda zionis Betar oleh Shmuel Kirschtein dan David Horn. Berdirinya klub dijadikan wadah olahraga bagi para milisi Irgun dan Lehi yang sebelumnya selalu merongrong pemerintahan Inggris di Palestina. “Keduanya adalah nasionalis ekstrem, paramiliter bawah tanah Yahudi. Para pemain dan suporternya aktif terlibat dalam kelompok-kelompok sayap kanan bawah tanah Yahudi yang berkampanye dengan tindakan kekerasan kepada otoritas Inggris. Hasilnya banyak dari mereka yang ditangkap dan dibuang ke Eritrea pada 1940-an,” tulis James Michael Dorsey dalam Shifting Sands: Essays on Sports and Politics in the Middle East and North Africa . Searah jarum jam, skuad Beitar Yerushalayim pada musim 1977, 1985, 1992, dan 1996 (La Galeria de Futbol) Maka, dari masa ke masa manajemen klub dan suporter begitu bangga menjadi “rasis” dengan kebijakan tidak akan pernah merekrut pemain Arab. Berkepanjangan dengan Palestina sejak berdirinya negara Israel pada 1948 menjadi pangkal masalahnya. Kendati punya segudang prestasi sejak ditunggangi banyak politikus sayap kanan pada 1970-an, klub berjuluk “The Menorah” itu lebih kondang karena rasismenya. “Beitar adalah salah satu klub tertua dan begitu bangga tidak pernah mendatangkan pemain Arab. Spanduk-spanduk rasisnya mengingatkan akan masa lalu di mana Jerman Nazi menyisihkan orang Yahudi dari olahraga,” tulis Witt Raczka dalam Unholy Land: In Search of Hope in Israel/Palestine. Kadiyev dan Sadayev sejatinya bukan pemain muslim pertama yang pernah mengenakan jersey berlogo menorah atau kandil bercabang tujuh khas Yahudi itu. Adalah Goram Ajoyev yang berdarah Tajikistan yang jadi pemain muslim pertama Beitar, yakni pada musim 1989-1990. Namun karena latarbelakang agama Ajoyev tak diketahui fans Beitar, ia pun lebih beruntung. Ajoyev bahkan dielu-elukan karena di laga terakhir pada musim itu ia bermain apik dan menyelamatkan Beitar dari jurang degradasi. Kolase ultras "La Familia" yang dikenal paling rasis (Yes Docu) Setelah Ajoyev, ada Victor Paço, striker asal Albania yang didatangkan dari Maccabi Haifa pada 1999. Ia jadi pujaan fans karena jadi topskor klub selama dua musim. Sebagaimana Ajoyev, Paço juga mesti menyembunyikan agama Islamnya sebelum hengkang dari Beitar pada 2002. Ndala Ibrahim menjadi pemain muslim ketiga di Beitar. Bek muslim asal Nigeria yang dipinjam dari Maccabi Tel Aviv untuk musim 2004-2005 itu hanya bertahan empat pertandingan dan memilih pergi lantaran tak tahan jadi korban kekerasan verbal dan fisik dari fans. Kepergian Ibrahim pada 2005 hampir berbarengan dengan kedatangan Gaydamak yang membeli 55 persen saham Beitar. Selain untuk memperkuat jaringan bisnis, Gaydamak ingin meniru para politikus sayap kanan memanfaatkan massa Beitar untuk alat politiknya. “Pada level di bawah alam sadar, sepakbola adalah benturan di antara kelompok-kelompok berbeda. Sepakbola jadi semacam perang. Saya sendiri bukan penggemar sepakbola tapi Beitar punya fans terbanyak, bahkan jika semua fans klub se-Israel dikombinasikan. Ini alasannya mengapa sepakbola jadi alat propaganda yang menarik,” terang Gaydamak. Pemilik klub Arcadi Aleksandrovich Gaydamak (kiri) dan ketua klub Yitzhak "Itzik" Kornfein (Yes Docu) Gaydamak belajar memanfaatkan massa untuk kendaraan politiknya dari Rivlin dan Netanyahu. Faktor politis itu di sisi lain dianggap sebagai perusak sepakbola di era modern. Dampaknya begitu negatif. Para politikus yang kemudian punya kekuasaan tidak berani bicara apalagi menindak aksi-aksi rasis bahkan kriminal fans La Familia. Alhasil rasisme itu awet dari waktu ke waktu karena fans merasa “diperbolehkan” bertindak demikian. “Saya ingat saat duduk di tribun barat dengan para politikus yang kemudian menjadi walikota-walikota Yerusalem. Mereka semua fans Beitar. Saya terus-menerus mengatakan: ‘Rekan-rekan, apa yang terjadi di tribun timur (La Familia) tidaklah baik dan diamnya kita melegitimasi mereka. Sudah cukup, kawan! Anda semua adalah pemimpin masyarakat, perwakilan pemerintah!’ Tetapi seringkali mereka mengabaikannya agar tidak membuat marah fans,” aku Presiden Rivlin. Baca juga: Rasis Sepakbola Tak Kunjung Habis Waperdam Avigdor Lieberman (kiri) & Presiden Reuven Rivlin (Twitter @ROADSEntertainment/@PresidentRuvi) Sebagaimana Rivlin, Gaydamak juga jengah dengan aksi-aksi rasisme fans. Terlebih, pada pemilihan walikota Yerusalem 2008 ia kalah telak. Dugaan “membalas” fans, terutama La Familia, pun muncul saat Gaydamak mendatangkan Kadayev dan Sadayev. Kendati mulanya alasan sikapnya itu klise, yakni untuk memperluas jaringan bisnisnya dengan pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov, Gaydamak akhirnya mengakui bahwa mendatangkan dua pemain muslim itu juga bertujuan agar mata dunia lebih terbuka terhadap Beitar yang merupakan klub sekaligus bangga terhadap rasisme itu sendiri. “Transfer keduanya memang diatur dengan alasan menimbulkan reaksi dan gejolak. Bukan karena keduanya pesepakbola bagus. Saya tidak tahu persis apa mereka pemain bagus. Saya hanya berasumsi akan menimbulkan reaksi besar. Kenapa? Agar saya bisa menunjukkan bahwa inilah cerminan masyarakatnya, agar wajah aslinya (rasisme) terekspos,” Gaydamak mengakui. Baca juga: Sepakbola Palestina Merentang Masa Untuk sesaat, La Familia menang karena setelah akhir musim Sadayev dan Kadiyev memilih pergi. Mereka tepuk dada karena kemurnian Beitar kembali dipulihkan. Namun, toh Beitar kemudian menempuh arah baru sesudah klubnya dibeli pengusaha Moshe Hogeg. Dua tahun berselang, Hogeg menjual 50 persen saham klub kepada pebisnis Arab asal Abu Dhabi, Sheikh Hamad bin Khalifa al-Nahyan. Hogeg beralasan ia ingin mengubah citra klub yang rasis menjadi lebih egaliter. “Pesan kami adalah, kita semua adalah sama. Kami ingin menunjukkan pada generasi muda bahwa kita semua setara dan bisa bekerjasama dan melakukan hal-hal yang indah bersama-sama,” tandas Hogeg, dikutip The New York Times , 7 Desember 2020. Deskripsi Film: Judul: Forever Pure | Sutradara: Maya Zinshtein | Produser: Geoff Arbourne | Produksi: Inside Out Films, Maya Films | Distributor: Yes Docu | Genre: Dokumenter | Durasi: 85 menit | Rilis: 12 Juli 2016, Mola TV.
- Kritik Soe Hok Gie kepada Rektor UI
Rektor Universitas Indonesia (UI) menjadi sorotan pemberitaan di berbagai media. Isu tak sedap dari kampus kuning tercium ketika sang rektor Ari Kuncoro diketahui merangkap jabatan sebagai wakil komisaris utama BRI. Sebagai akademisi, Ari Kuncoro dianggap melanggar statuta UI perihal rangkap jabatan. Belakangan dia mengundurkan diri dari jajaran tersebut lantaran derasnya kecaman publik. Persoalan serupa juga pernah terjadi pada waktu lampau. Pada 1967, Rektor UI Soemantri Brodjonegoro diangkat menjadi menteri pertambangan dalam Kabinet Ampera II. Kedua jabatan itu dijalankan secara bersamaan oleh Soemantri. Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa UI Angkatan 66 menyorot rangkap jabatan yang diemban oleh Soemantri. Gie dalam artikelnya “Pelacuran Intelektual” yang termuat dalam Sinar Harapan 21 April 1969, mempertanyakan keputusan Soemantri yang merapat dengan kekuasaan. “Saya datang padanya. Saya tanyakan padanya mengapa ia mau diangkat menjadi menteri dan bekerja dengan bajingan-bajingan minyak, calo-calo modal asing dan pejabat-pejabat yang korup dan sloganistis,” tulis Gie. Soemantri menjawab bahwa kegundahan Gie itupun disadari olehnya. Kepada Gie, Soemantri mengatakan dirinya hanya punya dua pilihan. Terjun ke dalam pemerintahan dan berusaha memperbaiki keadaan meskipun belum tentu berhasil. Pilihan lain, tinggal di luar dan tidak berbuat apa-apa. Soemantri memilih yang pertama dengan segala konsekuensinya. Sebelum menjadi menteri pertambangan, Soemantri telah menjabat rektor UI sejak 1964. Gie menggolongkan Soemantri ke dalam kaum intelektual yang turut bekerja sama dengan rezim Sukarno. Bersama Soemantri, Gie menyebut lagi tokoh-tokoh cendekiawan seperti Johanes Leimena, Nugroho Notosutanto, dan Widjojonitisastro dalam kelompok ini. Menurut Gie, sebagian dari mereka gagal dan kemudian dicap sebagai pengkhianat intelektual. Sebagian dari mereka berhasil. “Prof. Dr. Soemantri dan Nugroho (pembantu rektor) dalam keadaan yang paling sulit berhasil sampai batas-batas maksimal menyelamatkan UI. Walaupun mereka terpaksa berbicara dengan istilah-istilah Nasakom, Manipol, dan lain-lainnya. Apakah kepada mereka akan kita berikan gelar ‘pelacur intelektual’?” kata Gie dalam Sinar Harapan . Sebagai seorang yang berlatar pendidikan teknik, penunjukan Soemantri sebagai menteri pertambangan terbilang tepat. Pertambangan yang di masa Orde Lama tidak optimal itu ditata kembali di bawah kepemimpinan Soemantri. Dalam rencana pembangunan lima tahun (repelita) I yang digagas Presiden Soeharto, sektor pertambangan menjadi amat penting untuk mendulang devisa bagi negara. Dari hasil tambang akan diperoleh dana yang diperlukan untuk memulai pembangunan, khususnya dari minyak bumi. Kendati demikian, kebijakan Soemantri tidak luput dari kritik. Mochtar Lubis dalam tajuk rencana harian Indonesia Raya 8 Juli 1970 menyoroti kunjungan Soemantri ke Amerika Serikat atas undangan perusahaan tambang swasta Freeport Sulphur. Saat itu, Freeport Sulphur baru saja memenangkan konsesi untuk mengeksploitasi tambang tembaga di Papua. Menurut Mochtar Lubis, tak patut seorang menteri diundang dan diongkosi oleh perusahaan swasta. Soemantri menjabat sebagai menteri penerangan dua periode berturut-turut. Periode keduanya berlangsung pada 1968—1973 dalam Kabinet Pembangunan I. Di saat yang sama, Soemantri tetap menjabat sebagai rektor UI. Hal ini menjadikannya sebagai rektor UI dengan masa jabatan terlama (1964—1973). Rangkap jabatan ini membuat Soemantri lagi-lagi menjadi sorotan. Namun, rangkap jabatan tersebut bukan atas kemauan Soemantri sendiri. Mochtar Lubis dalam tajuk rencana Indonesia Raya 4 April 1973 mencatat dewan guru-guru besar UI menghadapi kesulitan mencari pengganti Soemantri. Karena itu, jabatan rektor UI dibiarkan saja dirangkap oleh Soemantri selain jabatannya sebagai menteri pertambangan. Apalagi pada Kabinet Pembangunan II, Presiden Soeharto kembali menyertakan Soemantri untuk menempati posisi menteri pendidikan dan kebudayaan. “Akan sulit sekali bagi seorang menteri pendidikan dan kebudayaan meneruskan jabatan rektor UI tanpa nanti dicurigai mendahulukan UI dari universitas-universitas lainnya. Juga ini akan merupakan preseden yang kurang baik mengenai kebebasan universitas,” tulis Mochtar Lubis. Soemantri tidak lama menjabat menteri pendidikan dan kebudayaan. Soemantri wafat pada 18 Desember 1973. Di Papua, namanya diabadikan untuk puncak gunung di pegunungan Sudirman yakni, Puncak Soemantri Brodjonegoro. Sementara itu di UI, namanya diabadikan sebagai nama jalan dan stadion.
- Pembatasan Kegiatan Masyarakat Masa Kompeni
Pemerintah memperpanjang waktu Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa-Bali hingga 25 Juli 2021. Perpanjangan ini menyebabkan penyekatan jalan di berbagai daerah masih berlaku. Hanya orang yang membawa Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) yang diperkenankan melintasi penyekatan yang dijaga panser dan tentara. Penyekatan membuat masyarakat tak leluasa bergerak di dalam wilayahnya sendiri. Sebagian mengeluh harus mengurus administrasi STRP. Ketidakleluasaan bergerak ini sebenarnya juga pernah terjadi pada masa lampau. Tapi kasusnya bukan karena pandemi, melainkan untuk menjaga keamanan kota pelabuhan milik VOC seperti di Batavia sejak 1620-an. “Menurut sejarawan Mona Lohanda peraturan ini dimulai sejak 1628,” sebut Yerry Wirawan dalam Keberagaman Masyarakat Indonesia. Peraturan ini berlaku bagi setiap orang lokal tanpa memandang asal sukunya. Setiap orang harus membawa surat pas atau surat jalan agar bisa keluar-masuk kota VOC ( passenstelsel ). “Di masa kekuasaan VOC, warga pribumi yang akan memasuki kota Batavia (wilayah Intramuros ) harus memiliki surat pas ( Plakaat 6 Agustus 1640) yang dikeluarkan oleh licentiemeester ,” catat Mona Lohanda dalam Para Pembesar Mengatur Batavia. Kala itu, Batavia terbagi menjadi dua wilayah besar: dalam tembok kota dan luar tembok. Orang-orang Eropa beserta budaknya (asisten rumah tangganya) menghuni tembok kota, sedangkan orang-orang lokal tinggal di luar tembok. Pembangunan tembok kota juga tak lepas dari pertimbangan keamanan. Diurus Kepala Kampung Adolf Heuken dalam Sejarah Jakarta dari Masa Prasejarah Sampai Akhir Abad ke-20 menyebut kebijakan passenstelsel berpangkal dari ketakutan orang-orang VOC terhadap kemungkinan serangan orang-orang Jawa Mataram. Untuk memperkuat passenstelsel , VOC menempatkan orang-orang lokal di luar tembok kota dan membaginya berdasarkan latar belakang suku atau daerahnya. Kebijakan itu disebut wijkenstelsel (sistem kampung). VOC menunjuk kepala kampung atau bek di setiap wilayah wijk. Bek bertanggung jawab terhadap keamanan kampungnya masing-masing. Dia juga harus mengurus warga yang mengajukan surat jalan. Dengan begitu, bek menjadi perpanjangan tangan VOC untuk mengetahui pergerakan warga di luar tembok kota. Urusan membuat surat pas ini sangat merepotkan. Warga mesti menemui kepala kampungnya untuk meminta formulir isiannya. Warga harus mengisi “alamat yang dituju, angkutan yang digunakan, lama perjalanan, berapa orang yang pergi bersamanya, dan maksud dari perjalanan tersebut,” sebut Mona. Tak selesai di situ, warga juga wajib membayar biaya pembuatan surat pas itu. Bila surat pas sudah dibuat, warga harus membawanya selama keluar dari kampungnya. Kemudian warga mesti melapor setibanya di tempat tujuan kepada petugas berwenang. “Kalau orang Cina, ia harus melapor kepada bek Cina atau Opsir Cina setempat untuk mendapatkan tanda tangan dan cap stempel,” lanjut Mona. Dari sini, warga bisa mengeluarkan biaya lagi. Meski aturan ini tampak ketat dan merepotkan, interaksi warga antarkampung di luar tembok kota tetap berjalan normal. Bahkan kawin-mawin antarkelompok menjadi hal yang kaprah. Untuk Warga Tionghoa Perubahan terjadi setelah 1740. Saat itu, orang-orang VOC membantai ribuan warga Tionghoa karena dianggap ingin memberontak. Sejak itu, orang-orang VOC mulai mencurigai warga Tionghoa. Mereka memberlakukan aturan surat pas secara lebih ketat khusus untuk mereka. Pemberlakuan ini terus berlangsung bahkan ketika aturan surat pas tak lagi diberlakukan untuk warga lainnya pada 1835. “Tahun 1862 ketika Kultuurstelsel (Sistem Tanam Paksa) dihapus, passenstelsel malah diberlakukan lebih ketat bagi etnis Tionghoa dengan maksud menghambat aktivitas mereka,” tulis Mona Lohanda dalam “The Passen en Wijkenstelsel: Dutch Practice of Restriction Policy on the Chinese” Jurnal Sejarah , Vol. 12 No. 12, Juni 2005. Tapi Ong Hok Ham menyebut penegakan dan ketaatan pada aturan surat pas ini sangat bergantung pada orang Tionghoa dan pegawai atau pejabat setempat. “Banyak yang memang mengabaikan pembatasan-pembatasan bepergian ini, khususnya untuk jarak pendek dan yang berwenang kadang-kadang membiarkannya,” tulis Ong dalam “Refleksi Seorang Peranakan Mengenai Sejarah Cina-Jawa” yang termuat dalam Rakyat dan Negara . Menurut Ong, pemerintah kolonial mempunyai kepentingan atas orang Tionghoa terkait penjualan candu, rumah gadai, pembuatan garam, perahu tambang, dan pajak pasar. “Karena mereka membawa keuntungan bagi usaha pemerintah, mereka harus dapat bergerak secara leluasa,” lanjut Ong. Bayar Denda Tapi buat sejumlah pedagang Tionghoa, aturan surat pas itu tetap berlaku. Seperti yang dialami oleh Tio Tek Hong pada 1905. Dia harus tetap membuat surat pas untuk pergi dari Batavia ke sejumlah kota di Jawa. “Saya minta surat jalan untuk ke Yogya dan Solo kepada Asisten Residen Ketjen di Jakarta. Saya cuma diberi surat jalan ke Surabaya. Katanya dengan surat itu saya boleh singgah dimana saja,” kenang Tio dalam “Cina Pasar Baru tentang Betawi Tempo Doeloe” yang termuat dalam Batavia Kisah Jakarta Tempo Doeloe . Tio dan seorang temannya sempat khawatir ketika menginap di sebuah hotel yang dikelola orang Belanda di Yogyakarta. Kepada pemilik hotel, dia katakan hanya punya surat jalan ke Surabaya. Tak ada surat jalan secara khusus untuk kota yang dia singgahi. “Kami terus terang memberi tahu tak berbekal surat jalan khusus,” kata Tio. Tio lalu menghubungi Kapten Yap Ping Liem, kepala orang Tionghoa di Yogyakarta. Dia meminta kepadanya agar mau membuatkan surat jalan untuk keliling Yogyakarta dan Solo. Kapten Yap menyanggupinya dan meminta Tio beserta kawannya tak usah khawatir. Sepulang dari rumah Kapten Yap, polisi telah menunggu Tio dan kawannya di hotel. “Kami masing-masing tak luput dari denda f.5,00. Kami terpaksa membayarnya karena tak mau masuk penjara,” terang Tio. Tio dan temannya menunggu surat pas selama empat hari. Tapi surat itu tak jadi-jadi juga. Mereka akhirnya nekat berangkat ke Solo. “Tanpa surat kami berangkat ke Solo. Syukur kami tak mendapat kesulitan,” cerita Tio. Pemerintah kolonial mencabut aturan surat pas di seluruh wilayah koloni pada 1916. Penghapusan ini hasil dari tuntutan organisasi orang Tionghoa terhadap pemerintah kolonial. Mereka mengatakan dunia sudah berubah dan bergerak ke arah liberalisasi. Pemerintah kolonial pun menilai kebijakan itu sudah usang dan mempersulit pertumbuhan ekonomi.





















