Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kebijakan yang Mengabaikan Lingkungan
Kerusakan lingkungan berkorelasi erat dengan praktik berdemokrasi. Terlihat dari beberapa kebijakan yang kendati sudah dilawan banyak pihak tetapi tetap dilaksanakan. “Kebijakan yang ada sekarang lebih fokus pada pembangunan infrastruktur dan mengabaikan isu HAM serta kerusakan lingkungan. Jadi, ada korelasi yang clear di sana,” kata Wijayanto, Direktur Pusat Studi Media dan Demokrasi LP3ES, dalam Forum 100 Ilmuwan Sosial Politik dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sabtu (5/06/2021). Hal itu muncul dalam wawancara Presiden Joko Widodo dengan BBC pada 2020. “Periode pertama saya fokus ke infrastruktur, periode kedua saya ingin fokus pada pembangunan sumber daya manusia. Mungkin setelah itu nanti lingkungan, inovasi, kemudian HAM. Kenapa tidak, tapi tidak bisa semua dikerjakan. Bukan tidak mau, tetapi saya senang kerja fokus,”kata Jokowi. Menurut Wijayanto, jawaban itu mengingatkannya pada bagaimana struktur politik Orde Baru terbentuk, di mana fokusnya pada pembangunan. “Semakin Orde Baru kuat, semakin abai dengan kebebasan sipil, HAM, lingkungan, dan seterusnya,” ujarnya. Fenomena Sejak Orde Baru Yety Rochwulaningsih, sejarawan Universitas Diponegoro dalam “Dinamika Gerakan Lingkungan dan Global Environmental Governance”, Jurnal Sejarah Citra Lekha ,Vol. 2, No. 2, 2017,menyebutkan bahwa kerusakan lingkungan, terutama yang terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, disebabkan oleh ekspansi kapitalisme yang terwujud melalui proses penjajahan pada masa lalu. Eksploitasi sumber daya alam, sumber daya manusia melalui perbudakan, dan sumber sosial budaya di tanah jajahan dikerjakan demi keuntungan ekonomi sebesar-besarnya. Misalnya yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda sejak 1830 dengan program Cultuurstelsel atau Tanam Paksa. “Banyak kajian mengenai sejarah Tanam Paksa, namun suatu kajian mengenai dampak sistem eksploitasi ini terhadap perusakan lingkungan masih belum memadai,” catat Yety. Setelah merdeka terutama sejak Orde Baru, Indonesia masih cenderung melanjutkan sistem ekonomi kapitalis. Perubahan ekologi secara drastis yang terjadi pada masa itu merupakan dampak dari modernisasi dan industrialisasi. Yety menjelaskan, melalui berbagai produk hukum, pemerintah lebih berpihak pada pemilik modal, seperti tercermin dalam UU No.5/1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan dan UU No. 11/1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan. “Dengan berbagai kebijakan itu posisi masyarakat lokal semakin lemah dan semakin tidak berdaya dalam menghadapi kekuatan pemerintah dan pemodal asing maupun dalam negeri,” jelas Yety. Menurut Yety, kerusakan ekologi pun semakin parah. Program pembangunan masa Orde Barulebih merupakan wujud dari hubungan produksi kapitalisme. Di sini negara diposisikan sebagai pasar dan pemasok tenaga kerja murah dan bahan baku. Ditambah dengan privatisasi dan komersialisasi sumber kehidupan, seperti air dan hutan, yang ikut mengancam kelestarian lingkungan. Alam dieksploitasi seoptimal mungkin demi menaikkan laba. Perhitungan untung rugi secara ekonomi kerap mengabaikan dampak kerusakan di lingkungan. “ Padahal sumber daya lingkungan itu bukan merupakan warisan nenek moyang, tetapi merupakan pinjaman dari generasi mendatang, ” tegasnya. Yety pun memaknai, terjadinya berbagai peristiwa bencana alam di Indonesia, dari sudut pandang politik ekologi, sangat berkait erat dengan kebijakan politik nasional sebelum bencana itu terjadi. Ini berikatan pula dengan kekuatan ekonomi global. Masalahnya, pandangan para pembuat kebijakan terus menerus menekankan pada capaian target pertumbuhan ekonomi untuk masa sekarang. Sementara kebutuhan generasi mendatang tak masuk hitungan. “ Bencana alam yang terjadi antara lain disebabkan oleh ketidaksetimbangan bahkan kerusakan ekosistem dan itu merupakan akibat dari pelaksanaan pembangunan yang berideologi pertumbuhan ekonomi, ” catatnya. Tak Merasa di Tengah Krisis Gerry van Klinken, peneliti senior di KITLV, antropolog dan profesor sejarah Asia Tenggara di Universitas Amsterdam, yang juga penulis Manifesto: Menuju Peradaban Ekologis untuk Indonesia menjelaskan bahwa isu perubahan iklim dunia sebenarnya bukan baru saja disadari. Adalah John Tyndall, ilmuwan Inggris, yang pertama kali menyuarakan gejala efek rumah kaca dalam kuliahnya pada 10 Juni 1859. “ Jadi sudah 160 tahun ya, ” kata V an Klinken yang menjadi pembicara utama dalam diskusi itu. Namun , sejak 1859, soal gejala rumah kaca, perubahan iklim atau pemanasan global telah lama tak dibahas. Baru pada 1970-an pembahasan tentangnya muncul kembali dan makin meningkat pada 1980-an. Kendati begitu hingga kini tingkat emisi CO2 manusia ke dalam atmosfer belum juga menurun. Bahkan tetap memecahkan rekor baru setiap tahunnya. Mengapa kondisi saat ini tidak terasa seperti di tengah krisis? Menurut Van Klinken, bisa jadi karena masyarakat kini kurang imajinasi, atau bisa juga karena lembaga-lembaga universitas terlalu didominasi oleh para pemodal besar. Bisa jugakarena orang-orang di Indonesia merasa sebagai masyarakat negara berkembang, sehingga jika terjadi masalah di dunia yang dianggap akan menyelesaikannya adalah negara adikuasa. “ Indonesia hanya merasa sebagai korban, ” kata Van Klinken. “ Sepanjang sejarah I ndonesia memang tak banyak menyumbang CO2. Yang banyak adalah Inggris, Eropa .” Kenyataannya, lanjutVan Klinken, Indonesia masuk ke dalam empat besar dunia penyumbang pemanasan global. Penyebabnya alih fungsi lahan dan kebakaran hutan di Kalimantan. “Pada saat yang sama bersaing dengan Australia mengekspor batubara. Jadinya juga pelaku,” katanya. Sama dengan pemerintah Australia, pemerintah Indonesia memiliki hubungan bisnis yang intim dengan industri batubara. “Indonesia pada 2015 memberi subsidi yang besar pada pertambangan batubara. Subsidi batubara begitu besar, tapi aksi mengurangi emisi gas CO2 begitu tak memadai,” jelas Van Klinken. Menurutnya, menciptakan peradaban ekologis adalah hal yang harus dilakukan kini. Peradaban ekologis menuntut kolaborasi sosial dan dunia ekonomi. “Bukannya persaingan yang menjadi ciri dasar kapitalisme. Persaingan yang sangat boros karena harus menghasilkan barang sebanyak mungkin untuk mematikan lawannya menonjol,” kata Van Klinken. V an Klinken pun menambahkan, jika peradaban ekologis yang semacam itu masih terlalu jauh untuk dicapai, setidaknya orang-orang kini bisa menjadikannya sebagai teladan untuk bertindak. “ Bagaimana menciptakan demokrasi, di mana alam bermain peran di dalamnya, Bukan hanya adil kepada manusia, tetapi juga kepada alam, ” ujarnya.
- Senjakala "Raja Roma" dalam One Captain
LEGENDA hidup AS Roma Francesco Totti (diperankan Pietro Castellitto) terintimidasi oleh lampu-lampu mesin pemindai MRI (Magnetic Resonance Imaging). Di suatu hari pada Desember 2015 itu, Totti divonis dokter harus absen beberapa waktu gegara cedera betis. Pelatih fisiknya, Vito Scala (Massimo De Santis), mencoba menenangkannya. Sementara, Ilary Blasi (Greta Scarano), istri Totti yang sedang hamil anak ketiga, dan ibunya, Fiorella Totti (Monica Guerritori), begitu panik di rumahnya. Mereka tak sabaran menunggu update tentang kondisi Totti. Dalam lamunannya memikirkan cedera yang dialaminya untuk kesekian kali di pengujung kariernya hingga memunculkan pikiran untuk pensiun, Totti teringat akan masa kala pertamakali bersentuhan dengan si kulit bundar di usia 11 bulan. Dia juga ingat masa ketika mendapatkan anugerah berupa bakat sepakbola setelah kepalanya diberkati Paus Yohanes Paulus II di usia 10 tahun. Kilas balik dengan cuplikan footage lawas asli Totti di masa dini itu menghiasi episode pertama biopik berseri One Captain ( Speravo de Morì Prima ) yang diracik sineas Luca Ribuoli. Ribuoli menggarapnya bertolak dari otobiografi Totti, Un Capitano, dengan bumbu-bumbu drama dalam enam episode yang berfokus pada dua tahun terakhir pengabdian Totti sebagai one-club man di klub ibukota berjuluk Il Lupi (Serigala Roma) tersebut. Situasinya tambah pelik bagi Totti setelah Luciano Spalletti (Gianmarco Tognazzi) kembali melatih AS Roma pada 2016. Kendati saat periode pertama kepelatihannya (2006) ia bersahabat baik dengan Totti, satu dekade berselang keadaannya sama sekali berbeda. Perlahan justru muncul gejala api dalam sekam. Spalletti mulai menyingkirkan Totti dari sejumlah rencana permainannya. Spalletti (kedua dari kanan) yang bertengkar hebat dengan Totti (Sky Italia) Perseteruan Totti dan Spalletti mulai memanas di episode kedua. Totti menantang Spalletti untuk melihat para tifosi dan publik Roma akan berpihak ke dirinya atau Spalleti. Totti yang sedang naik temperamennya tetiba memutar kembali ingatannya ke musim 2000-2001, kala Totti sedang di masa jayanya sebagai kapten yang mengantarkan AS Roma merebut Scudetto (juara Serie A) ketiga sepanjang sejarah klub. Sejak saat itu pula Totti menuai banyak julukan dari publik: Er Bimbo de Oro (Bocah Emas), Er Pupone (Bayi Besar), Il Gladiatore (Sang Gladiator), Il Capitano (Sang Kapten), hingga L’Ottavo Re di Roma (Raja Roma Ke-8). Setelah bertengkar dengan Spalletti di markas latihan tim, Trigoria, Totti ngambek. Dia enggan hadir di pertandingan pada Februari 2016 dengan alasan sedang terkena flu. Namun Ilary Blasi menyadarkannya agar bersikap dewasa dengan tetap datang ke Stadio Olimpico walau sekadar duduk di tribun VIP. Totti kemudian meluapkan rasa haru lantaran fans di sekelilingnya menggemakan nyanyian “C’è un Solo Capitano…C’è Un Solo Capitano!” yang berarti “hanya ada satu kapten!” Totti perlahan juga sadar bahwa ia tak bisa melawan waktu, baik karena usianya yang menjelang kepala empat maupun kondisinya yang sering cedera. Di episode ketiga itu Vito Scala dan rekan setimnya, Daniele De Rossi (Marco Rossetti), punya peran besar pada Totti dengan memberi suntikan moril agar Totti mau berlatih lebih keras dan disiplin terhadap dietnya –tanpa kalori, gula berlebih, serta alkohol–demi menjaga kebugaran. Adegan Ilary Blasi (kanan) menyemangati suaminya di masa pelik (Sky Italia) Bak tokoh petinju fiktif Rocky Balboa di film Rocky III (1982), Totti pun mulai sering bangun lebih pagi. Saat fajar menjelang ia sudah lari pagi menyusuri jalan-jalan di Roma. Meniru adegan Rocky, Totti mengakhiri lari paginya dengan mengangkat kedua tangannya di Altare della Patria di halaman Monumento Nazionale a Vittorio Emanuele II. Itu hanya satu dari sekian bumbu komedi ringan di film ini. Sisipan komedi lain terdapat dalam adegan saat Totti harus disembunyikan di bagasi mobil Vito Scala demi menghindari publik untuk bisa ke sebuah restoran. Adegan-adegan lucu itu menambah warna biopik berseri itu sehingga tak melulu bersuasana haru dan emosional. Pasalnya penonton akan dibawa emosional saat adegan manajemen Roma memaksa Totti meneken kontrak setahun terakhir. Totti pun diterpa dilema, apakah akan gantung sepatu di AS Roma atau akan pergi ke klub di luar Italia demi bisa terus bermain. Untuk mengungkap lebih detail bagaimana Totti menghadapi dilema-dilema itu, Anda bisa menonton sendiri kelanjutan One Captain di aplikasi daring Mola TV . Pastikan untuk menyaksikannya sampai episode keenam karena selain juga menghadirkan kejutan mantan pemain Andrea Pirlo dan Alessandro Del Piero, sosok Totti asli juga akan muncul sebagai cameo di salah satu dari enam episodenya. Mendalami Emosi Totti Bahasa Italia yang jadi bahasa utama dalam One Captain ( Spravo de Morì Prima ) ditemani rangkaian music scoring komikal dan lagu-lagu pop khas Italia. Atmosfernya kian berwarna lantaran di beberapa adegan disisipi lagu-lagu country khas Amerika Serikat, negeri asal Presiden AS Roma Dan Friedkin. Lagu-lagu country itu begitu pas dengan beberapa humor ringan yang dibuat sangat khas Amerika. Selain peniruan adegan dalam Rocky III , sutradara Ribuoli menambah feel “Paman Sam” itu dengan adegan Totti menatap tajam Spalletti di halaman Trigoria, bak koboi akan berduel. Mobil mainan DeLorean khas film Back to the Future yang jadi kado ultah Spalletti untuk Totti (Sky Italia) Untuk menciptakan atmosfer yang membuat penonton bergidik, Ribuoli juga memanfaatkan sejumlah footage pertandingan dan memadukannya dengan gambar di Stadio Olimpico. Cuplikan-cuplikan berisi Totti di akhir kariernya itu banyak memuat kepahlawanan Totti meski lebih sering dimainkan di menit-menit akhir laga. Feel makin campur aduk dengan sejumlah adegan di luar lapangan terkait dilema pelik yang dihadapi Totti akibat rentan cedera dan usia yang sudah tak lagi muda. Premis-premisnya di setiap episode yang disisipi cuplikan masa lalu dengan alur maju-mundur juga menghanyutkan perasaan penonton karena Ribuoli menggali sisi lain dalam batin Totti yang begitu emosional kendati terbungkus senyum Totti di hadapan publik. “Saya sendiri banyak menghabiskan waktu dengannya untuk bisa lebih mengenal dia dengan cara yang lebih intim agar bisa menceritakan kisah dia lewat cara terbaik. Karena saya ingin menceritakan beberapa bagian dalam hidup Francesco Totti yang belum pernah terungkap. Penting untuk melihat film ini bukan sebagai film olahraga tapi film yang menceritakan sebuah akhir dari seseorang yang mencintai sepakbola tapi harus menerima kenyataan bahwa dia tak bisa terus melakukannya. Sebuah cerita yang bisa relate bagi siapapun,” tutur Ribuoli kepada Radio Gold , 18 Maret 2021. Sosok asli Francesco Totti (kiri) yang dalam serialnya diperankan Pietro Castellitto (Sky Italia) Namun, Ribuoli menggambarkan sosok Totti cenderung subyektif. Dari enam episode, Totti selalu ditampakkan sebagai anak manis penuh bakat sepakbola yang kemudian menjelma jadi bintang pujaan publik Roma dan Italia. Ribuoli seperti mengesampingkan sejumlah kontroversi Totti, kecuali perseteruannya yang kekanak-kanakan dengan Spalletti. Padahal di balik kharisma, jiwa pemimpin, dan teknik-teknik apiknya di lapangan, Totti juga punya pengalaman miring akibat sifat temperamentalnya dan kebiasaan buruknya mengejek pihak lawan. Pada Derby della Capitale (derbi ibukota) kontra SS Lazio, 11 April 1999, misalnya. Usai laga yang berkesudahan 3-1 untuk AS Roma itu, Totti menyingkap jersey -nya untuk memamerkan kaus putih bertuliskan “Vi Ho Purgato Ancora” (Saya menghabisi kalian lagi) ke hadapan Laziale (fans Lazio). “Hinaan itu adalah jawaban Totti kepada fans Lazio yang sebelumnya memenuhi laman fans dengan foto Totti duduk di toilet. Bek-bek di Italia juga paham bahwa Totti kurang bisa menjaga temperamennya dan sering memprovokasinya. Dia paling jengkel jika dikawal dengan taktik man-marking dan sering menerima hukuman sanksi. (Bek Arsenal) Martin Keown mencoba menirunya pada partai Liga Champions di Highbury pada 2003 dan Totti masuk ke dalam perangkap itu dengan menyikut Keown yang berujung pengusiran oleh wasit,” ungkap John Foot dalam Winning at All Costs: A Scandalous History of Italian Soccer. Ulah Totti meludahi Christian Poulsen di Euro 2004 (Ekstrabladet) Sayangnya Totti tak segera insyaf dirinya sangat mudah masuk jebakan provokasi lawan. Akibatnya antara lain, di laga partai Grup C Euro 2004 yang dimainkan di Estádio D. Afonso Henriques, 14 Juni 2004, Totti sampai tiga kali meludahi gelandang Denmark Christian Poulsen akibat terprovokasi oleh pengawalan ketatnya. “Si pemilik nomor 10 di Roma dan Azzurra yang dipuja bak kaisar Romawi, bikin dosa yang melanggar kepatutan dan juga sepakbola. Totti meminta maaf pada bangsanya, bukan pada Poulsen. Tetapi terlambat. Gara-gara ulahnya, Italia gagal mengungguli Denmark. Media-media se-Eropa menyerangnya: ‘Totti, unta Italia yang suka meludah!’” tulis Arief Natakusumah dalam Drama Itu Bernama Sepakbola . Perilaku emosional Totti bahkan pernah mengakibatkannya mendapat kartu merah. Itu terjadi dalam laga Serie A Roma kontra Livorno pada Januari 2007. Totti diganjar wasit dengan kartu merah karena bertikai dan hampir memukul bek Livorno, Fabio Galante, untuk membalas sikutan yang dialami Totti. Tetapi bukan insiden itu yang membuatnya dicerca dan dijatuhi sanksi 10 ribu euro oleh operator Serie A, melainkan sikap kasarnya pada pelatih fisik Vito Scala. Saat masih “ misuh-misuh ” kala keluar lapangan, Totti dihampiri Scala yang mencoba menenangkan. Tapi Totti yang masih emosi justru mendorong Scala sampai terjengkang. “Selain ibunya, Scala adalah orang yang diakui Totti sangat dekat dengannya. Perbuatan itu (mendorong Scala sampai jatuh) sungguh gila!” kata Spalletti, dikutip Angryanto Rachdyatmaka dalam It’s Injury Time. Loyalitas Vito Scala Scala bukanlah sekadar pelatih fisik tapi juga sahabat bagi Totti. Sosok Scala sedikit digambarkan dalam serial One Captain sebagai figur yang paling setia menemani Totti sedari muda. “Di samping saya adalah Vito Scala. Dia yang mengasuh saya sejak saya masih kecil dan tak pernah pergi dari sisi saya,” kata Totti yang diperankan Pietro Castellitto di adegan-adegan awal One Captain. Tidak banyak yang bisa diketahui tentang masa lalu Scala. Kendati sosok Scala (Massimo De Santis) tak pernah absen dari enam episode, sineas Ribuoli seolah tak mau menyediakan tempat untuk menjelaskan latarbelakang figur kelahiran Roma, 30 Desember 1963 itu. Adegan Vito Scala (kiri) yang menemani latihan fisik Totti (Sky Italia) Nama Vito Scala mulai dikenal di klub sebagai staf pelatih fisik tim Primavera AS Roma sejak 1 Juli 1989. Di tahun yang sama, Totti mulai meniti kariernya di tim yunior AS Roma setelah pindah dari SSB (sekolah sepakbola) Lodigiani. Pada musim 1996/1997, Scala dipromosikan ke staf pelatih tim senior AS Roma, menyusul Totti yang naik ke tim senior Roma empat tahun sebelumnya. Persahabatan di antara keduanya perlahan tumbuh hingga kemudian Scala bersedia jadi pelatih fisik pribadi Totti. “Scalalah yang diakui paling berjasa membangun karier si kapten Roma itu. Peran itu dimulai sejak Totti masih berumur 13 tahun saat Scala menjadi (staf) pelatih tim yunior Roma. Dalam perjalanannya, atas permintaan sang bintang, tiga tahun terakhir Scala diikat kontrak sebagai pelatih (fisik) pribadi,” sambung Angryanto. Sosok asli Vito Scala yang mengasuh Totti sejak dini (Twitter @OfficialASRoma) Scala tidak hanya bertanggungjawab atas kebugaran Totti lewat sejumlah program latihan fisik serta disiplin dalam diet Totti, namun juga sudah menjadi manajer sang pemain. Scala paham sifat Totti yang temperamental hingga Scala berinisiatif jadi “filter” bagi Totti jika sudah membuat pernyataan di media-media. Tidak hanya berjasa di balik kesuksesan Totti membantu AS Roma meraih scudetto , Scala juga berperan besar menyuntik moril Totti dalam pemulihan fisiknya akibat cedera jelang Piala Dunia 2006. Hasilnya, Totti mampu ikut membawa Italia meraih trofi Piala Dunia kendati persepakbolaan Italia belum lama dinodai Skandal Calciopoli. Kendati jadi korban pelampiasan amarah Totti di laga tandang kontra Livorno pada Januari 2007, Scala tetap setia berada di sisi Totti. Scala sangat paham Totti sehingga memaafkannya. “Apakah Totti sudah meminta maaf? Buat apa? Persahabatan kami tak terancam. Kami saling mendukung. Dalam situasi sulit, itu saatnya saya mendampinginya. Kami sudah melewati banyak masa suka dan duka bersama-sama,” papar Scala. Saat Totti pensiun di musim panas 2017, Scala jadi salah satu sosok yang paling kehilangan. Jalinan persahabatannya dengan Totti masih lestari hingga kini. “Dia (Scala) salah satu bagian besar dalam segala yang pernah saya raih. Dia menjaga setiap aspek kebugaran tubuh saya dan banyak hal lain. Penting bagi pesepakbola punya seseorang seperti dia di sisi Anda. Pengamatannya lebih tajam dari siapapun. Dia berperan besar dalam kehidupan sepakbola saya. Dia sudah seperti saudara,” aku Totti kepada Forza Roma , 3 Juni 2016. Deskripsi Film: Judul: One Captain (Speravo de Morì Prima) | Sutradara: Luca Ribuoli | Produser: Ludovica Damiani, Lorenzo Gangarossa, Mario Gianani, Virginia Valsechhi | Pemain: Pietro Castellito, Greta Scarano, Massimo De Santis, Gianmarco Tognazzi, Giorgio Colangeli, Monica Guerritore, Marco Rossetti, Gabriel Montesi, Francesco Totti | Produksi: Sky Studios, Wildside, S.r.l, Capri Entertainment, Freemantle | Genre: Drama Biopik | Durasi: 40 menit/6 episode | Rilis: 19 Maret 2021 (Sky Atlantic), Mola TV
- Minum Spirtus Bersama Perwira Rusia
ORANG-orang Rusia dikenal sebagai peminum sejati. Salah satu minuman yang menjadi favorit mereka adalah vodka. Itu sejenis minuman keras khas Rusia yang dibuat dari hasil fermentasi kentang dan biji-bijian dengan kadar alkohol sebanyak 40 persen. Tentara Rusia yang ditempatkan pemerintah Uni Sovyet di Pangkalan Angkatan Laut Dermaga Ujung Surbabaya pada era Operasi Trikora (1961-1962) tak lepas dari kebiasaan tersebut. Laiknya orang-orang Rusia, mereka pun mengkonsumsi vodka dalam keseharian-nya. “Vodka yang mereka minum, khusus dikirim langsung dari negeri mereka setiap bulannya,” ungkap Kolonel (Purn) F.X. Soeyatno yang pernah bergaul akrab dengan orang-orang Rusia itu. Namun ada kalanya, kiriman vodka terlambat datang ke Surabaya. Jika itu terjadi, para sukarelawan Uni Sovyet pun akan blingsatan. Mereka akan mencari apapun yang rasa dan sensasinya sama seperti vodka. Salah satu yang kerap dianggap cocok sebagai pengganti vodka adalah cairan spirtus. Cairan kimia itu memang tersedia cukup banyak di kapal-kapal perang sebagai pencuci komponen-komponen senjata. Tak aneh jika vodka terlambat datang, persedian spirtus di kapal-kapal perang cepat habis. Itu terjadi juga di kapal-kapal selam yang dirawat oleh para anggota Korps Hiu Kencana Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Menurut Laksamana Muda (Purn) I Nyoman Suharta, biasanya diam-diam para sukarelawan Rusia itu akan menuangkan persedian spirtus itu ke sebuah botol tipis. “Biasanya mereka akan meminum sebagian saat bekerja di kapal. Sisanya mereka sembunyikan di balik baju untuk dinikmati di asrama,” ungkap eks anggota Korps Hiu Kencana itu. Kalau cairan spirtus sudah banyak berkurang, para anggota Korps Hiu Kencana biasanya akan langsung melaporkan soal tersebut kepada komandan kapal selam. Selanjutnya komandan kapal selam akan meneruskan kepada komandan orang-orang Rusia itu. “Barulah setelah dilaporkan, pemborosan spirtus tak terjadi lagi,” ungkap Suharta. Perihal minum spirtus ini, Suharta pernah terpaksa melakukannya. Ceritanya, pada suatu hari dia diundang para perwira Rusia untuk makan malam di asrama mereka. Untuk penghormatan, Suharta pun mengiyakan ajakan tersebut dan mengajak seorang kawan untuk menyertainya. Sebelum acara makan malam berlangsung, mereka ngobrol-ngobrol di ruang tamu yang terletak di lantai dua asrama. Tetiba tanpa dinyana, seorang perwira Rusia menyodorkan segelas spirtus ke hadapan Suharta dan kawannya. “ Tavarish (artinya “teman”, panggilan akrab yang agak formil) Suharta coba tunjukan seberapa jantan perwira Indonesia. Kami ingin tahu, kalian berani minum ini atau tidak,” katanya. Menurut Suharta, tadinya dia tak ingin melayani ajakan itu. Namun ketika orang-orang Rusia itu terus menantang dengan menyinggung rasa kebangsaannya, darah mudanya tak tahan juga. Tanpa banyak bicara, Suharta lantas mengambil salah satu gelas kecil yang sudah terisi penuh spirtus. Dengan tenang, ditenggaknya cairan kimia itu hingga tandas. “ Ya predlagayu tost zanasyu druzhbu!” seru Suharta. Artinya: Mari kita minum untuk persahabatan kita. Aksi Suharta diikuti oleh semua, termasuk kawan yang dia ajak. Apakah spirtus yang dia minum itu tidak ada efeknya? Tentu saja ada. Suharta merasakan hawa panas langsung membakar kerongkongannya, meluncur turun ke lambung. Sensasi terbakar itu menjalar dengan cepat melalui sumsum tulang belakang ke ruas tulang leher, lalu ke otak. Beberapa saat, Suharta merasakan tubuhnya seperti diperas. Butiran keringat keluar, seluruh tubuh memanas. “Namun saya menahan semua itu dan berupaya tetap tenang di depan mereka,” kenang Suharta. Semua mata para perwira Rusia mengarah kepada Suharta dan kawannya. Setelah ikut minum spirtus juga, mereka lantas bertepuk tangan dan mengajak para perwira itu bersalaman. “ Za mir wa wisyem mire! (demi perdamaian dunia)” teriak salah seorang dari mereka sambil mengangkat gelas berisi spirtus. Kondisi panas yang menghantam tubuh terus dirasakan oleh Suharta selama mereka bercengkrama. Mata serasa berkunang-kunang. Namun setelah dia makan roti campur sup panas penuh daging yang kaya lemak, rasa panas dan pusing itu langsung lenyap. Alih-alih menjadi lesu, justru dia merasakan tubuhnya menjadi lebih segar. “Ketika saya pulang ke asrama, saya langsung tertidur pulas,” kenang alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-9 itu.*
- Pertaruhan Sukarno untuk Papua
Dengan bergabungnya Papua, maka paripurnalah Republik Indonesia. Begitu kira-kira keyakinan Bung Karno terhadap kepulauan di ujung timur Nusantara itu. Sayangnya, harapan itu mesti diperjuangkan lantaran Belanda masih bercokol di Papua kendati Indonesia sudah merdeka. “Sejak Konferensi Meja Bundar ditandatangani akhir Desember 1949, Bung Karno merasa bahwa kemerdekaan RI itu belum utuh secara teritorial. Itulah yang diperjuangkannya sampai tahun 1963,” kata sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam kepada Historia . Perjuangan memasukan Papua itu telah dimulai sejak 1950, setahun setelah pengakuan kedaulatan. Belanda terus-terusan mangkir untuk membicarakan persoalan Papua. Alasan mempertahankan Papua dalam kuasa panji tri warna meliputi berbagai dalih. Mulai dari identitas Papua yang berbeda etnis dengan Indonesia hingga upaya dekolonisasi untuk menjadikan Papua sebagai negara sendiri. Tahun demi tahun masalah Papua berlalu tanpa penyelesaian. Selama satu dekade, tujuh kabinet silih berganti memerintah. Mulai dari Kabinet Natsir hingga Kabinet Juanda, persoalan Irian Barat selalu masuk agenda program kerja kabinet. Namun, semuanya berujung kandas. Sukarno sendiri tidak dapat berbuat banyak. Sistem pemerintahan parlementer saat itu menutup celah bagi kepala negara menentukan jalannya pemerintahan. Sukarno Bertindak Selama warsa 1950-an, menurut Bernard Dahm dalam Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan, kedudukan Sukarno sebagai presiden tidak lebih dari simbol belaka. Segala tindakannya harus atas persetujuan perdana menteri yang bertanggung jawab terhadap parlemen. Keputusan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas angkatan perang pun harus ditandatangani oleh menteri pertahanan. Satu-satunya hak prerogatif politik yang dimiliki Sukarno adalah menunjuk seseorang atau beberapa orang untuk menjadi formatur kabinet. Menghadapi Belanda dalam kondisi demikian terbukti menyulitkan penyelesaian persoalan Papua yang saat itu masih disebut Irian Barat. Untuk menyatukan semua unsur dalam negeri, Sukarno kemudian menggagas sistem Demokrasi Terpimpin. Sukarno menyatakannya dalam Konsepsi Presiden pada 21 Februari 1957. Karena belum mendapat dukungan mutlak, untuk sementara Demokrasi Terpimpin belum dapat direalisasikan. Namun seiring waktu, keadaan politik dalam negeri semakin bergejolak menyusul kegagalan Konstituante merumuskan dasar negara yang baru. Pada 5 Juli 1959, Sukarno bertindak. Dia mengeluarkan Dekrit Presiden yang membawa negara kembali kepada UUD 1945. Momentum itu sekaligus menjadi kesempatan bagi Sukarno memberlakukan Demokrasi Tepimpin. Dengan begitu, Sukarno punya otoritas merestorasi politik dalam negeri menjadi terpusat di bawah kendalinya. “Dengan perlengkapan berupa slogan-slogan, Sukarno mendorong rakyatnya ke arah tugas nation building , membangun suatu bangsa yang bersatu,” kata John David Legge dalam Sukarno: Sebuah Biografi Politik . Presiden Sukarno kemudian membentuk kabinet baru bernama “Kabinet Kerja” yang tanpa lagi melibatkan persetujuan dari partai-partai politik. Kabinet ini memprioritaskan program kerjanya terhadap tiga hal mendesak: sandang pangan bagi rakyat, pemulihan keamanan, dan perjuangan Irian Barat. Sejak itu, politik luar negeri Indonesia dapat difokuskan sepenuhnya untuk membebaskan Irian Barat dengan Sukarno sebagai pemuka utamanya. Sukarno menggalang kekuatan dengan menyalakan kembali semangat revolusi seperti di masa kemerdekaan. Menurutnya seperti dinyatakan dalam pidato kenegaraan “Penemuan Kembali Revolusi Kita” pada 17 Agustus 1959, revolusi masih belum selesai dan baru akan pungkas setelah terwujud kekuasaan Indonesia seutuhnya dari Sabang sampai Merauke. “Kita akan memperbesar wilayah kekuasaan kita itu dengan memasukan kembali Irian Barat! Malahan kita akan mempersatukan kembali Bangsa Indonesia itu, dengan membebaskan Irian Barat. Dunia luar harus tahu, bahwa mengenai pembebasan Irian Barat itu kita tidak main-main dan tidak mengenal kompromis!” seru Sukarno. Berdiri di Atas Adikuasa Di bawah Sukarno, kebijakan Indonesia dalam masalah Irian Barat lebih konfrontatif untuk menekan Belanda. Hal ini dibuktikan ketika Indonesia memutuskan hubungan diplomatiknya terhadap Belanda pada 17 Agustus 1960. Saat itu, Sukarno berang karena Belanda mengirimkan kapal induk satu-satunya “ Karel Doorman ” ke Papua untuk pawai kekuatan. Untuk mengimbangi Belanda yang didukung para sekutunya, Sukarno menjalin pergaulan internasional seluas-luasnya. Dari sini Indonesia berhasil menggalang dukungan diplomatik dari negara-negara Asia-Afrika dan Blok Timur yang sehaluan menetang kolonialisme. Selain itu, Sukarno juga mencurahkan perhatiannya untuk memperkuat Angkatan Perang Indonesia. Dana ratusan juta dollar AS digelontorkan guna memborong senjata mutakhir dari Uni Soviet. Urusan belanja senjata ini dipercayakan Sukarno kepada Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution. Dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama , Nasution tercatat beberapa kali bolak-balik Jakarta-Moskow menyelesaikan kontrak pembelian senjata. Kecuali Indonesia dan Mesir, tidak semua negara diperkenankan membeli senjata berat dari Uni Soviet. Tidak ayal, jasa Uni Soviet dalam memodernisasi peralatan tempur Indonesia menjadikan Angkatan Perang RI sebagai kekuatan militer terkuat dibelahan bumi bagian selatan. Menurut Johannes Soedjati Djiwandono dalam Konfrontasi Revisited: Indonesia’s Foreign Policy Under Soekarno, Sukarno menempatkan Uni Soviet sebagai kekuatan penyeimbang menghadapi Belanda yang berlindung di belakang Amerika Serikat (AS) beserta sekutu Blok Barat. Sementara itu, pemerintah AS di bawah rezim John. F. Kennedy memantau penuh was-was. Para penasihat Kennedy untuk Urusan Keamanan Nasional (NSA) menyaksikan Sukarno seperti tidak terbendung lagi. Mereka menyarankan Kennedy untuk bertindak cepat dan sesegera mungkin. “Cepat atau lambat, orang Indonesia akan mendapatkan Irian Barat,” demikian disampaikan Walt Whitman Rostow, Deputi Asisten Khusus Kepresidenan untuk Urusan Luar Negeri, kepada Presiden Kennedy seperti termuat dalam arsip departemen luar negeri Amerika, Foreign Relations of the United States, 1961–1963 , Volume XXIII, Southeast Asia, Document 205. Memasuki tahun 1962, perjuangan Indonesia dalam sengketa Irian Barat menemui puncaknya. Sukarno bertekad untuk membebaskan wilayah itu dari Belanda dengan jalan apapun. Mau jalan damai lewat perundingan atau kekerasan yang berarti perang, Belanda tinggal pilih. “Tidak perduli Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan meskipun meminjam tangannya setan, aku tidak perduli. Ya, meskipun tangannya setan. I do not care. I do not mind , asal Irian Barat pada tahun ‘62 ini juga kembali kepada kita, kepada Indonesia,” kata Sukarno di Palembang, 10 April 1962. Seruan itu termaktub dalam pidato Sukarno berjudul “Seluruh Rakyat dari Sabang sampai Merauke Bertekad Membebaskan Irian Barat dalam Tahun ini juga”. Dan benar saja, tahun itu juga Irian Barat dikembalikan kepada Indonesia. Setelah mendapat desakan dari AS, Belanda bersedia mengakhiri kekuasaannya atas Irian Barat. Penyerahan Irian Barat kepada Indonesia disepakati dalam Perjanjian New York 15 Agustus 1962. Sukarno, pada perayaan hari kemerdekaan dua hari hari kemudian menyebutnya sebagai “Tahun Kemenangan” ( A Year of Triumph ) sebagaimana judul pidato kenegaraannya. Dengan demikian, terwujudlah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
- Arena Sejarah Piala Eropa
PIALA Eropa atau UEFA European Championship (Euro) 2020 (11 Juni-11 Juli 2021) akan berbeda dari 15 gelaran sebelumnya. Pesta sepakbola terpopuler kedua setelah Piala Dunia itu tak lagi dihelat hanya di satu atau dua negara tuan rumah, melainkan 11 kota di 11 negara Eropa. Inggris dengan Stadion Wembley-nya diberi kehormatan jadi host partai semifinal dan finalnya. Format baru itu digagas eks Presiden UEFA Michel Platini pada 2012 silam. Format ini mirip dengan edisi Piala Eropa perdana pada 1960 di Prancis. Partai kualifikasi hingga perempatfinalnya tak dimainkan di satu negara, melainkan di negeri masing-masing tim peserta dengan sistem home-away . Saat itu Prancis baru menjamu empat tamunya ketika sudah masuk babak semifinal dan kemudian final. Hanya saja, di edisi perdana itu Piala Eropa masih minim tim mentereng macam Inggris, Belanda, Italia, dan Jerman Barat. Tim-tim asal Eropa Timur yang merajai saat itu. Trofi Henri Delaunay bersama maskot Euro 2020 bernama "Skillzy" ( euro2020.affa.az ) Mimpi Henri Delaunay Piala Eropa berangkat dari ide Henri Delaunay yang diupayakannya sejak 1920-an. Deputi Presiden FIFA (1924-1928) cum sekretaris jenderal FFF atau induk sepakbola Prancis (1919-1955) itu menggagas kompetisi pan-Eropa bahkan sebelum UEFA sebagai otoritas sepakbola Eropa lahir. Gagasan Delaunay berangkat dari banyaknya kompetisi regional antarnegara Eropa pasca-Perang Dunia I. Namun, kompetisi-kompetisi itu lazimnya dikhususkan untuk negara-negara serumpun saja, semisal kompetisi Inggris Raya dan Skandinavia. Oleh karena itu Delaunay mencoba mendobrak sekat teritorial itu. Tetapi bukan hal mudah bagi Delaunay untuk mendapat dukungan. Pasalnya, di era 1920-an profesionalisasi sepakbola di level klub Eropa juga sedang digencarkan hingga melahirkan Mitropa Cup pada 1927 yang disebut-sebut sebagai pendahulu Liga Champions. “British Championship yang digelar perdana pada 1883 menjadi turnamen transnasional pertama dengan diikuti Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia. Praktik kejuaraan regional itu diikuti negara-negara Skandinavia selama 1924-1977. Satu langkah lebih jauh tentang didirikannya kerangka sepakbola pan-Eropa lalu dimulai dengan Mitropa Cup yang digagas Hugo Meisl asal Austria,” tulis Jürgen Mittag dan Benjamin Legrand dalam “Towards a Europeanization of Football? Historical Phases in the Evolution of the UEFA European Football Championship” yang termuat dalam Governance, Citizenship, and the New European Football Championships. Ketika Mitropa Cup diratifikasi FIFA pada kongres Juli 1927, Delaunay mengajukan proposal kompetisi antarnegara Eropa. Namun upayanya belum mendapat lampu hijau FIFA karena alasan teknis dan ekonomis. Selain karena FIFA masih sibuk dengan agenda Piala Dunia, letak geografis semua negara Eropa memerlukan teknis waktu perjalanan dan biaya yang tidak sedikit. Alhasil kompetisi antarnegara Eropa sekadar digelar dalam lingkup regional yang lebih kecil. Selain kejuaraan antarnegara Inggris Raya dan Skandinavia, pada 1927 Meisl memunculkan Švehla Cup yang diikuti negara-negara Eropa Tengah. Pada 1948, kompetisi ini berganti nama menjadi Dr. Gerö Cup. Henri Delaunay teknokrat sepakbola Prancis ( fff.fr ) Tak ingin menyerah, Delaunay mengajak Presiden FIGC (Induk Sepakbola Italia) Ottorino Barassi dan Sekjen RBFA (Induk Sepakbola Belgia) José Crahay merancang cetak-biru konfederasi sepakbola Eropa pada 13 Mei 1952. Setelah diajukan sebagai proposal ke FIFA, proposal mereka disetujui dalam sebuah konvensi luar biasa FIFA di Paris pada November 1953. Sebagai kelanjutannya, pada 15 Juni 1954 didirikanlah Union des Associations Européennes de Football (UEFA). UEFA lalu menyebar undangan permintaan agar federasi-federasi sepakbola di Eropa jadi anggotanya. Pada kongres pertama UEFA di Basel, 22 Juni 1954, total anggotanya berjumlah 30 federasi. Birokrat sepakbola Denmark, Ebbe Schwartz, terpilih jadi presiden pertamanya, sementara Delaunay dan dua pemrakarsa lain duduk sebagai sekjen. Sayangnya, Schwartz yang ingin mewujudkan gagasan Delaunay terhalang penolakan mayoritas anggotanya. Dari 30 negara anggota, hanya 10 yang –kebanyakan berasal dari Eropa Timur– berkenan mendukung gagasan menggelar kejuaraan Eropa. Ironisnya, sampai Delaunay wafat pada 9 November 1955 pun, mimpinya tak jua terwujud. “Setelah meninggalnya Delaunay pada 1955, putranya, Pierre yang menggantikannya untuk meneruskan cita-cita European Nations’ Cup. Proposalnya masih saja ditolak mayoritas anggota pada Kongres UEFA Juli 1956 dengan alasan kalender internasional sudah penuh dan beberapa negara Eropa masih berjuang untuk pulih pasca-Perang dunia II,” sambung Mittag dan Legrand. Pierre Delaunay (kiri) melanjutkan cita-cita ayahnya melahirkan Piala Eropa ( uefa.com ) Sebagaimana ayahnya, Pierre juga menolak lempar handuk. Ia lalu mengajukan proposal dengan format baru, di mana turnamen dimainkan sepanjang dua tahun, termasuk satu fase final di satu negara. Perjuangan Pierre berbuah manis kala ia menang suara di Kongres UEFA di Copenhagen, Denmark pada Juni 1957. “Hasil voting -nya menyatakan 14 anggota bersedia dan tujuh menolak, sementara lima lainnya abstain. Demi mencapai kuota 16 peserta, deadline pendaftarannya diperpanjang sampai empat bulan kemudian. Pada Kongres UEFA 1958 di Stockholm (Swedia), 17 dari 33 negara anggota menyatakan bersedia ikut European Nations’s Cup. Tim mapan sepakbola dunia seperti Inggris, Italia, dan Jerman Barat, serta Belgia, Belanda, dan Swiss, memutuskan melewatkan kesempatan untuk berpartisipasi,” imbuhnya. Lima dari enam negara yang menolak itu mengusung alasan diplomatis dan ekonomis. Selain karena ingin lebih banyak memenuhi kalender dengan partai persahabatan yang secara ekonomis menguntungkan bagi federasi, mereka ingin lebih dulu jadi pemantau kompetisi anyar itu. Mereka ragu kompetisi bakal populer, sebagaimana Piala Dunia pertama pada 1930. Sementara, Inggris punya alasan politis di samping alasan ekonomi. Sebagai pelopor sepakbola modern, Inggris punya dunia sepakbola sendiri dan sudah cukup bangga dengan British Home International Championship-nya sebagai kompetisi transnasional pertama dunia. Selain itu yang tak kalah penting, orang-orang Inggris merasa organisasi sepakbola macam FIFA dan UEFA terlalu didominasi orang Prancis. “Sepakbola Inggris Raya seperti mengisolasi diri sendiri. Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara menolak ikut inagurasi Europan Nations Cup. Empat induk sepakbolanya menghindari turnamen baru itu dan percaya diri bahwa turnamen Home International lebih penting. Memang European Nations Cup saat itu statusnya belum sekondang sekarang tapi fakta bahwa kami pernah menolak bermain melawan tim-tim kompetitif justru membuat kami melangkah mundur ketimbang maju sepakbolanya,” aku Gordon Banks, kiper timnas Inggris periode 1963-1972, dalam Banksy: The Autobiography of an English Football Hero. Dominasi Partisipan Kiri dan Trofi Kehormatan Sesuai proposal awal Pierre Delaunay, inagurasi European Nations’ Cup atau Euro didahului fase kualifikasi yang diikuti 18 partisipan dalam titimangsa 28 September 1958-29 Mei 1960. Sistem kualifikasinya dimainkan secara home-away di negara masing-masing peserta. Mengingat penolakan negara-negara Eropa Barat langganan Piala Dunia, peserta kualifikasi Euro 1960 itu pun didominasi negara-negara kiri (Komunis-Sosialis). Delapan dari total 18 peserta berasal dari Eropa Timur dan Eropa Tengah: Uni Soviet, Cekoslovakia, Hungaria, Rumania, Yugoslavia, Bulgaria, Jerman Timur, dan Polandia. Ketika turnamen sudah bergulir hingga babak perempatfinal, Spanyol memutuskan mundur karena bertemu Uni Soviet yang berseberangan haluan politik. Diktator fasis Spanyol, Francisco Franco, memerintahkan La Furia Roja (julukan Timnas Spanyol) mundur ketimbang harus main di tanah negeri komunis di partai away. Lucunya, kritik terhadap Spanyol justru jamak datang dari pers Inggris yang negaranya menolak ikutan turnamen. “Tindakan sewenang-wenang secara paksa terhadap para pemain Spanyol yang ingin bermain melawan Uni Soviet menunjukkan bahwa diktator fasis Spanyol melanggar prinsip Olimpiade internasional dan federasi internasional,” tulis suratkabar Inggris The Times edisi 26 Mei 1960. Partai semifinal Euro 1960 antara tuan rumah Prancis vs Yugoslavia ( uefa.com ) Mundurnya Spanyol menjadi berkah buat Lev Yashin dkk. Mereka siap menyongsong semifinal dengan kondisi lebih bugar. Di semifinal, selain Uni Soviet ada pula Cekoslovakia dan Yugoslavia di samping tuan rumah Prancis. Langkah Prancis harus terhenti di babak semifinal itu juga setelah kalah 4-5 dari Yugoslavia di Parc des Princes, 6 Juli 1960. Sementara Uni Soviet mencapai partai puncak untuk bertemu Yugoslavia setelah menumbangkan Cekoslovakia, 3-0, di Stade Vélodrome, Marseille. Di final, panji merah berhias bintang emas dan palu-arit berkibar di pucuk tertinggi setelah Uni Soviet menang 2-1 atas Yugoslavia melalui perpanjangan waktu. Selain mendapat hadiah uang 200 dolar per pemain, tim Uni Soviet berhak mengusung trofi The Henri Delaunay Cup. Trofi itu disediakan langsung oleh Pierre Delaunay. “Sejak aspirasi (Piala Eropa) terwujud pada 1958, hanya ada satu kemungkinan nama untuk dilekatkan pada trofinya. Seperti Piala Dunia yang trofinya dinamai Jules Rimet. Trofi itu sempat jadi hak milik Brasil setelah kemenangan ketiga pada 1970 dan hilang pada 1983. Bedanya Henri Delaunay Cup tetap lestari sampai sekarang,” tulis Huw Richards dalam “The Game-Changers: Henri Delaunay” yang termuat dalam buku The Cambridge Companion to Football . Timnas Uni Soviet jadi pemilik pertama Trofi Henri Delaunay ( fff.fr ) Trofi Henri Delaunay didesain dan diproduksi perusahaan emas Chobillion –kemudian lisensi dan hak ciptanya dibeli perusahaan perhiasan dan medali Arthus-Bertrand– dengan bentuk mirip guci dengan sepasang “telinga” di kedua sisinya. Berbahan dasar perak dengan dimensi tinggi 42 centimeter dan bobot enam kilogram, tiga sisi trofi itu dipahat tulisan berbunyi: Coupe Henri Delaunay, Coupe d’Europe, dan Championnat d’Europe. Sejak 1960-2004, trofi itu diperebutkan setiap empat tahun sekali sampai akhirnya dibuat trofi baru yang hampir sepenuhnya meniru trofi lama untuk Euro 2008 hingga sekarang. Desainnya tetap sama, perubahannya hanya pada dimensinya. Trofi baru lebih tinggi 18 centimeter dan lebih berat dua kilogram (60cm/8kg). Untuk Euro 2020, trofi itu sejak 30 April sudah dibawa keliling ke 11 kota di 11 negara Eropa yang dimulai di Budapest (Hungaria) dan akan berakhir di London (Inggris) pada 5 Juni 2021.
- Asal-Usul Saus Tomat
Ketchup adalah sebutan dalam bahasa Inggris untuk saus tomat, diucapkannya seperti kecap dalam bahasa Indonesia. Di Asia , kecap merujuk pada hasil fermentasi kedelai dan protein ikan. Tapi di Inggris, ketchup lebih merujuk pada saus tomat. Bagaimana sejarahnya? Fermentasi Ikan dan Kedelai Menurut Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, dalam Bumbu , Penyedap , dan Penyerta Masakan Indonesia , kecap adalah sejenis saus yang sudah dikenal lama di Asia. Cina merupakan tempat pertama bagi terciptanya apa yang kemudian disebut sebagai ketchup di Inggris. Menurut History , pendahulunya adalah saus hasil fermentasi ikan dari Cina selatan. Sejak 300 SM, teks-teks Cina mulai mendokumentasikan penggunaan pasta yang terbuat dari fermentasi ikan dan kedelai. Pasta itu kemudian dalam dialek Amoy di Tiongkok disebut koe-chiap atau ke-tsiap . Para penutur dialek Ming Selatan menyebutnya dengan ge-thcup atau koe-cheup . Adapun dalam bahasa Melayu saus itu disebut kechap ( ketjap ). Kecap ala orang Cina itu kemudian menyebar di sepanjang rute perdagangan mereka, termasuk ke Indonesia, Semenanjung Malaya, Singapura, dan Filipina. “Tempat penjajah Inggris pertama kali menemukan apa yang oleh penduduk setempat disebut ‘kecap’ pada abad ke-18. Seperti juga kecap ( soy souce ), saus ikan itu dianggap eksotis dan menggebrak masakan Inggris yang relatif hambar, seperti makanan panggang dan gorengan,” catat Smithsonian Magazine . Masuk Buku Resep Inggris Menurut Murdijati, orang Inggris dan Belanda kemudian memperkenalkan kecap berbahan dasar ikan dari Asia itu dan disebutnya dengan catchup ( ketchup ). Mereka lalu menambahkan bahan lain atau mengganti bahan utama di dalam resep asli kecap supaya sesuai dengan selera orang Eropa. Seperti yang tampak dalam buku-buku masakan di Inggris abad ke-18. Kelihatan dari sana bahwa saus ikan yang dianggap eksotis itu telah dikembangkan sedemikian rupa. Bukan hanya ikan, ada pula yang menggunakan jamur atau acar kenari sebagai bahan membuat saus. Misalnya dalam buku memasak karangan Eliza Smith berjudul The Compleat Housewife yang diterbitkan pada 1727. Di sana dijelaskan cara membuat saus yang berbahan dasar ikan teri, anggur, dan rempah-rempah. “Lebih mirip dengan saus Worcestershire daripada yang kita anggap sebagai saus tomat,” lanjut Smithsonian. Ketchup sebagai saus tomat yang berbahan dasar tomat agaknya baru ditemukan di Inggris pada 1812. Kendati, seperti disebutkan History , tanaman tomat sudah dibawa dari Amerika Selatan ke Inggris pada 1500-an. Buah itu memang tak dikonsumsi di Inggris selama berabad-abad karena dianggap beracun. “Ketika orang Inggris yang kaya makan dari piring timah, asam dari tomat mengeluarkan timah ke dalam makanan, menyebabkan keracunan timbal,” catat laman itu. Murdijati menduga penambahan tomat ke dalam “kecap” juga merupakan bagian dari inovasi orang Inggris terhadap resep asli kecap Asia. “Walaupun pendapat lain mengatakan saus tomat adalah ciptaan orang Amerika,” tulisnya. Saus Tomat dari Tomat Pendapat yang meyakini Amerika sebagai tempat kelahiran saus tomat, menunjuk James Mease, ilmuwan ahli holtikiltura dari Philadelphia, sebagai pengembang resep kecap berbahan dasar tomat atau saus tomat. Transformasi “kecap” ini terjadi pada 1812 di AS. Saat itulah akhirnya saus tomat dibuat dengan tomat. Dalam bukunya Archives of Useful Knowledge , vol . 2 ,Mease menulis bahwa saus tomat yang paling disukai berasal dari “apel cinta”, sebutan untuk tomat saat itu. “Beberapa percaya tomat memiliki kekuatan afrodisiak,” jelas Smithsonian . Caranya pasta tomat dimaniskan, diasamkan dengan cuka dan dibumbui cengkeh, pala dan jahe. “Hampir sama dengan resep zaman modern,” catat Smithsonian . Saus Tomat dengan Cuka Sayangnya, pengawetan saus berbahan dasar tomat bermasalah karena buah-buahan cepat membusuk. Tapi itu sebelum cuka menjadi bahan standar pembuatan saus tomat. Perusahaan yang relatif baru bernama Heinz dari Amerika memperkenalkan formulasi terkenalnya pada 1876. Itu tujuh tahun setelah Henry John Heinz mendirikan perusahaan untuk menjual lobak menggunakan resep ibunya. Setelah perusahaan lobak Heinz bangkrut, d ia pun meluncurkan yang baru dan mulai membotolkan “Ketchup” dalam kemasan. Mer e knya sengaja dieja seperti itu untuk membedakan miliknya dari merek saus lainnya. Sausnya mengandung tomat, cuka suling, gula merah, garam dan berbagai rempah-rempah. Heinz juga menjadi pelopor saus dengan botol kaca. Dengan begitu pelanggan bisa melihat dengan jelas apa yang mereka beli. Diproduksi Massal Kecap berbahan dasar tomat perlahan menjadi bumbu pelengkap makanan yang ada di manapun, di AS dan Eropa. Di AS, terutama sejak diproduksi Heinz, saus tomat tak lagi sekadar bumbu universal. Saus tomat bergerak menjadi barang dagang bermerek yang diproduksi secara massal. Maraknya saus tomat komersial membuat resep saus bikinan rumah terancam punah. Saus-saus produksi masal dapat bertahan tanpa batas waktu di rak yang membuatnya bisa dikirim ke seluruh dunia. Saus tomat pun menjadi bahan praktis yang bisa membuat hidangan apa pun langsung terasa nikmat, mulai dari masakan cepat saji hingga masakan rumahan. “Seperti banyak produk lainnya, saus ini menjadi simbol budaya Amerika: cepat, mudah, nyaman,” tulis Smithsonian . Setidaknya bagi orang Amerika, tak mungkin lagi membayangkan “kecap” sebagai sesuatu selain berwarna merah dan berbahan dasar tomat.
- Kuil Sepakbola "Kota Abadi" Roma
PESTA sepakbola Eropa, Euro 2020, yang sempat tertunda akhirnya akan dibuka tirainya pada 11 Juni 2021. Laga Turki kontra Italia yang tergabung di Grup A akan jadi partai perdana. Stadion Olimpico di kota Roma, Italia sudah dikonfirmasi jadi host upacara pembukaannya. Euro 2020 akan berbeda dari 15 gelaran sebelumnya lantaran yang jadi tuan rumahnya tak hanya satu atau dua negara, melainkan 11 negara di 11 kota. Ide ini digagas Presiden UEFA periode 2007-2015 Michel Platini pada 2012. Sesuai keputusan UEFA pada 2017 silam, Stadio Olimpico akan jadi tuan rumah laga pembuka dan Stadion Wembley, London jadi tuan rumah finalnya pada 11 Juli 2021. Kendati digelar di masa pandemi masih mengganggu banyak aktivitas masyarakat dunia, UEFA sebagai otoritas sepakbola Eropa memastikan Euro 2020 dihelat dengan gegap-gempita penonton meski terbatas. UEFA sudah menguji coba di laga final Europa League pada 26 Mei 2021 di Stadion Miejski (Polandia) dan final Champions League tiga hari berselang di Estádio do Dragão (Portugal). “Hari ini UEFA menerima kabar dari induk sepakbola Italia dan konfirmasi dari pemerintah Italia bahwa pertandingan Euro 2020 yang dijadwalkan di Stadio Olimpico di Roma akan digelar dengan kehadiran penonton. Pemerintah setempat menjamin setidaknya 25 persen kapasitas stadion akan diisi,” demikian pernyataan UEFA di laman resminya , 14 April 2021.1. Selain tiga partai di Grup A, Stadion Olimpico juga kebagian jatah satu laga perempatfinal pada 3 Juli 2021. Oleh karenanya kini kandang dua klub sekota, SS Lazio dan AS Roma, serta Timnas Italiaitu mulai bersolek jelang pesta pembuka dengan tema “Light at the End of Tunnel” yang merupakan harapan agar pandemi segera berlalu. Stadion Olimpico sendiri sudah dua kali menjamu temnas-timnasdari Eropa. Pertama, saat Italia menjadi tuan rumah Euro 1968; kedua,ketika Italia tuan rumah Euro 1980. Proyek Kompleks Olahraga Il Duce Kisah pembangunan kuil sepakbola megah yang beralamat di Viale dei Gladiatori, 00135, Roma itu sejatinya sudah direncanakan sejak lama. Pemerintah kota setempat bahkan sudah membuka lahannya sejak 1901. Namun, pembangunannya baru dimulai pada 1920-an bersamaan dengan megaproyek kompleks olahraga Foro Mussolini yang pasca-Perang Dunia II dinamai Foro Italico. Foro Mussolini yang berarti “Forumnya Mussolini" merupakan upaya Mussolini untuk membangkitkan kejayaan Italia sebagaimana di era Romawi. Foro di era Romawi lazimnya tersebar di banyak kota besar sebagai pusat kegiatan masyarakat. Mussolini berupaya menirunya sebagai nostalgia masa lalu lewat olahraga demi melahirkan pribadi-pribadi Italia di bawah naungan fasisme. “Ketertarikan kembali terhadap masa Romawi Kuno juga akibat sejumlah ekskavasi situs-situs Romawi di Roma dan segenap Italia di masa itu, di mana kemudian gaya arsitektur Romawi kembali dikembangkan menjadi arsitektur fasis modern. Arsitektur yang meniru Romawi adalah Foro Mussolini, sebuah kompleks olahraga yang dibangun di utara Roma,” ungkap Han Lamers dan Bettina Reitz-Joosse dalam The Codex Fori Mussolini: A Latin Text of Italian Facism. Obelisk "MVUSSOLINI DVX" (kiri) dan Stadio dei Marmi ( walksinrome.com/Nationaal Archief) Untuk membangun kompleks olahraganya itu,Mussolini mempercayakan Enrico Del Debbio, arsitek langganan para petinggi fasis.Di antara desain karya Debbio adalah Palazzo Fiat a Via Calabria (gedung pusat pabrikotomotif Fiat) di Via Calabria yang dibangun pada 1923.Debbio juga merupakan konsultan pembangunan Palazzo delle Esposizioni, yang dibangun pada 1931 dalam rangka perayaan satu dasawarsa Revolusi Fasisme. Sesuai pesananMussolini, Debbio merancang Foro Mussolini dengan sejumlah bangunan olahraga yang kental nuansa Romawinya. Pengerjaannya dimulai pada 1927. Academia Fascista della Farnesina (Akademi Pendidikan Olahraga) berikut sebuah obelisk berbahan marmer setinggi 17,5 meter dan bertuliskan kalimat Latin“MVSSOLINI DVX” (berarti: “Pemimpin Mussolini”)menjadi bangunan pertama yang rampung. LantaranForo Mussolini jadi megaproyek menjelang pengajuan Italia jadi tuan rumah Olimpiade 1940, beragam arena olahraga pun dibangun di dalamnya.Salah satunya Stadio dei Marmi, arena atletik yang dikelilingi 60 patung manusia bertubuh atletis era Romawi karya 24 pemahat. Tak lupa,Mussolini memesansatu stadion megah khusus olahraga paling populer. “Stadionnya dibangun untuk memberikan ibukota dengan citra kota olahraga, menyimbolkan keunggulan yang diberikan sang pemimpin Italia yang sedang mengejar identitas nasional fasis. Konstruksi stadionnya dimulai pada 1928 di bawah arahan arsitek Luigi Walter Moretti. Stadionnya dinamai Stadio dei Cipressi (Stadion Pohon Cemara),” tulis Gary Armstrong dalam Football, Fascism, and Fandom: The UltraS of Italian Football. Stadio dei Cipressi saat baru rampung pada 1932 (kiri) dan setelah renovasi pada 1937 (l'Ultimo Uomo) Pembangunan Stadio dei Cipressi rampung dan dibuka pada 1932. Namun, kala itu bentuknya masih sekadar lapangan sepakbola yang dikelilingi tribun satu tingkat melingkar (Tribuna Monte Mario) berkapasitas 35 ribu orang sehinggamirip arena pacuan kuda. Stadio dei Cipressi kemudian direnovasi pada 1937. Duet arsitek Del Debbio dan Moretti menambahkannyasejumlah pilar batu bata dantribunnya ditambahsetingkat sehingga menjadi berkapasitas 65 ribu orang. Kapasitas itu menyelamatkan muka Mussolini kala menghelat parade di stadion dalam menjamuAdolf Hitler saat berkunjungke Roma pada Mei 1938. Sarang Elang dan Serigala Kota Abadi Sebagaimana banyak stadion di Eropa, Stadio dei Cipressi sempat jadi lahan parkir kendaraan militer.Saat Perang II masih berkecamuk, ia jadiparkiran ranpur militer Italia.Pasca-pembebasan Roma, 5 Juni 1944, ia jadi parkiran ranpur militer Inggris dan Amerika Serikat. Lima tahun pasca-Perang Dunia II, Stadio dei Cipressi diperbaiki dan diperbesar lagi dalam rangka pengajuan diri Italia menjadi tuan rumah Olimpiade 1960. “Pada Desember 1940 arsitek Carlo Roccatelli dan Annibale Vitellozzi dari Dewan Tinggi Pekerjaan Umum memperbesar stadion dengan struktur yang lebih kompleks. Setelah rampung 1953 stadionnya berubah nama jadi Stadio dei Centomila (Stadion 100 Ribu) merujuk pada peningkatan kapasitasnya,” sambung Armstrong. Stadio dei Centomila penuh sesak dengan 100 ribu penonton kala dibuka pada 17 Mei 1953 dangan perhelatan laga persahabatan Italia kontraHungaria. Tetapi menjelang Olimpiade 1960, stadion tersebut dirombak lagi.Tribun paling dasar dihilangkan sehinggakapasitasnya kembali berkurang, menjadi 65 ribu orang. Nama stadion pun diubah jadi Stadio Olimpico. Di tahun yang sama, dua klub seteru yang berdiam kota berjuluk “La Citta Eterna” (kota abadi), SS Lazio dan AS Roma SS “kompak” pindah dari markas sebelumnya masing-masing ke Stadio Olimpico sejak musim 1953/1954 sampai sekarang. Selain jadi sarang klub berjuluk “Serigala Roma” dan “Elang Roma”, seringkali Timnas Italia pun menjamu tamu-tamunya di Olimpico. Stadio Olimpico setelah renovasi 1953 (atas) dan jadi venue tuan rumah Olimpiade 1960 (bawah) ( storiadellaroma.it/olympics.com ) Kuil sepakbola itu kembali berbenah menjelang Piala Dunia 1990. Vitellozzi kembali dipercaya mengarsiteki perombakan dari 1987 hingga 1990 itu. Tidak hanya direnovasi, Stadio Olimpico diratakan dengan tanah lalu dibangun kembali dengan struktur berbeda. Sementara Olimpico dibenahi, AS Roma dan Lazio terpaksa mengungsi ke Stadio Flaminio. “Untuk melestarikan keterkaitan arsitektur dengan fasilitas olahraga lainnya di Foro Italico, teras terluar Travertine-nya yang menghadap Sungai Tiber harus diubah dengan desain baru. Setelah melalui perdebatan panjang, proyeknya diajukan pada April 1987. Gagasannya untuk meningkatkan tribun dengan kapasitas minimal 80 ribu kursi. Tribunnya juga akan dipasangi atap transparan dengan rangka baja,” ungkap Ulrich Fürst dalam The Architecture of Rome: An Architectural History in 400 Individual Presentations. Setelah revisi desain pada Mei 1988, tribun bawah, aula-aula pengunjung, perkantoran di dalam stadion, serta sejumlah lounge stadionditambahi pagar plexiglas agar stadion bisa digunakan untuk fungsi lain selain aktivitas olahraga. Penggunaan atap transparan sendiri batal diwujudkan karena diganti atap baja melingkar berwarna putih menyerupai atap Colosseum. “Sudut-sudut tribunnya juga diubah menjadi lebih dekat dengan lapangan, berjarak sembilan meter; kursi-kursi kayu panjang diganti kursi-kursi berbahan plastik tanpa sandaran dan dua layar besar dipasang untuk keperluan penyiaran televisi. Kapasitas stadionnya berubah lagi menjadi 82 ribu hingga menjadikannya stadion terbesar ke-14 dunia dan jadi stadion terbesar kedua di Italia setelah Stadio Giuseppe Meazza di Milan,” kata Armstrong. Sejak 1953 Stadio Olimpico jadi kandang Lazio dan AS Roma ( sslazio.it/asroma.com ) Di Piala Dunia 1990, Stadio Olimpico menggelar tiga laga penyisihan grupserta satu partai perdelapan final, perempatfinal, dan partai final yang mempertemukanArgentina kontra Jerman Barat. Terakhir, pada 2008, Stadio Olimpico mengalami modernisasi menjelang terpilih sebagai tuan rumah final Champions League, 27 Mei 2009. Proyeknya menyesuaikan permintaan UEFA agar Stadio Olimpico dioperasikan Sport e Salute, sebuah institusi olahraga dan kesehatan di bawah Kementerian Keuangan Italia, untuk meningkatkan standar keamanannya.Hasilnya, kapasitas Stadion Olimpico berkurangmenjadi 70 ribu penonton.Sementara, kursi plastiknya diperbarui, pagar plexiglas-nya dihilangkan, toiletnya diperbanyak, dan ruang ganti sertaruang medianya direnovasi menjadi lebih layak. Dua layar besar di ujung utara dan selatannya diganti dari layar analog menjadi layar LED demi menjadikan Olimpico masuk jajaran stadion kategori elit UEFA.
- Bung Karno Meminta Sukarelawan Berenang hingga Irian
Publik tanah air geger kala berita tenggelamnya KRI Matjan Tutul di Laut Arafuru tersiar. Seruan untuk membalas aksi militer Belanda pun meluas. Tidak terkecuali suara dari kalangan politisi sipil. Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution mesti bersabar mendengar ocehan mereka. “Pernah Menteri Luar Negeri Soebandrio mendesak untuk mentorpedo satu destroyer Belanda,” kenang Nasution dalam memoari Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama. Kata Soebandrio, “Itu cukup untuk menggerakan aksi diplomat yang berhasil.” Menurut Nasution, Angkatan Perang Indonesia saat itu belum waktunya melancarkan pukulan-pukulan militer. Jenderal asal Mandailing ini memperhitungkan Belanda akan memukul balik terhadap pangkalan militer Indonesia di Maluku dan Sulawesi. Tindakan gegabah demikian malah dapat mengacaukan persiapan invasi yang sedang dirancang pimpinan Operasi Mandala. Kendati demikian, desakan kalangan sipil untuk melancarkan ofensif rupanya makin kuat. Suasana itu sepertinya ikut memantik Presiden Sukarno untuk segera menghajar Belanda. Hingga sekali waktu, Bung Karno mengumpulkan sejumlah jenderal senior dan para menteri. Atmadji Sumarkidjo dalam Mission Accomplished: Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam RI Tjandrasa mencatat pertemuan tersebut berlangsung pada 21 Februari 1962. Selain Bung Karno, turut hadir juga Menteri Pertama Ir. Djuanda Kartawidjaja, Menteri Luar Negeri Soebandrio, Menteri Penerangan Muhammad Yamin, Jenderal Nasution, Kepala Staf KOTI Mayjen Achmad Yani, dan Panglima Komando Mandala Mayjen Soeharto. Bung Karno langsung memberondong Soeharto dengan serangkaian pertanyaan. “Mulai kapan inflitrasi besar-besaran itu bisa dilanjutkan? Kita penuhi Irian dengan dengan gerilyawan kita!” seru Bung Karno. Soeharto mengatakan secepatnya misi itu akan dilakukan. Sambil menujuk ke peta, Soeharto menjelaskan agar pasukan harus dikonsentrasikan terlebih dahulu di pulau-pulau kecil di sekitar kepala burung. “Kalau begitu angkut segera sebanyak-banyaknya,” kata Sukarno. “Angkutannya, Pak,” jawab Soeharto sambil melirik ke arah Nasution. “Kita akan gunakan juga kapal-kapal pengangkut umum. Tidak usah tunggu yang masih didatangkan dari Rusia,” Djuanda memberi masukan. “Betul, Pak Djuanda, tapi pengorganisasian armada ini masih sedang berjalan,” Nasution menyanggah. Bung Karno menyetujui gagasan Djuanda agar selekas mungkin pasukan didaratkan ke Irian. “Kalau perlu, semua ramai-ramai akan aku perintahkan untuk berenang saja ke Irian,” ujar Bung Karno dengan penuh semangat. Nasution dalam memoarnya mengonfirmasi perkataan Sukarno, “Kalau perlu suruh sukarelawan ramai-ramai berenang ke Irian Barat.” Instruksi lisan itu menggambarkan betapa luasnya desakan pihak sipil untuk segera membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Nasution juga mencatat desakan Soebandrio agar paling lambat April 1962, Angkatan Perang Indonesia sudah menyerbu kedudukan Belanda di Papua. “Saya dan teman-teman, termasuk Panglima Soeharto tempo-tempo dikiritik sebagai terlalu berhati-hati berhadapan dengan kehendak sipil yang mendesak,” tutur Nasution. Soeharto sendiri dalam otobiografinya menyitir usulan Yamin dalam sidang kabinet supaya TNI menenggalamkan kapal Belanda. Itulah ihwal Soeharto dipanggil ke Istana dan mendapat order untuk menenggelamkan kapal Belanda. Semua itu semata-mata demi tujuan politik memperkuat posisi tawar Indonesia dalam medan diplomasi. Soeharto hanya bisa geleng-geleng kepala karena gagal paham menyelami isi pikiran kaum politisi sipil itu. “Aneh-aneh saja,” kenang Soeharto dalam otobiografinya Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya yang disusun Ramadhan K.H. Menanggapi tantangan menenggelamkan kapal Belanda, Soeharto minta jaminan apakah langkah tersebut akan berhasil memenangkan sengketa Irian Barat. Tapi Yamin bersikukuh menyatakan langkah itu untuk kepentingan politik. Soeharto menampiknya dengan menyinggung peran politisi yang sudah 11 tahun berunding namun selalu kandas. “Lalu mau merusak rencana yang dipercayakan kepada saya untuk melakukan operasi militer?” kata Soeharto. Untuk melancarkan serangan secepatnya, Soeharto mengatakan masih membutuhkan penambahan senjata, pesawat udara, dan perlengkapan perang yang memadai. Presiden Sukarno akhirnya bersedia memberikan waktu bagi Komando Mandala untuk persiapan operasi militer. Itulah sebabnya, Jenderal Nasution, seperti dicatat Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid 6 melakukan kontrak pembelian senjata ke Moskow, Uni Soviet untuk ketiga kalinya.
- Ketika Kapal Selam RI Diintai Armada VII AS
Pangkalan Laut Vladivostok, 8 Agustus 1959. Hari baru saja memasuki malam. Jarum jam menunjuk ke angka tujuh, kala dua kapal selam jenis Whiskey (W) bergerak perlahan meninggalkan perairan Uni Sovyet menuju sebuah negara kepulauan di Timur Jauh. Dua kapal selam yang masih mempergunakan nomor lambung milik Angkatan Laut Uni Sovyet itu (S-79 dan S-91) sejatinya sudah dimiliki oleh Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). “Pengiriman S-79 dan S-91 merupakan salah satu bentuk realisasi dari janji Perdana Menteri Nikita Khrushchev kepada Presiden Sukarno setahun sebelumnya,” ungkap sejarawan militer Uni Sovyet Alexander Okorokov dalam Тайные войны СССР (Perang Rahasia Uni Sovyet). Misi ke Indonesia itu melibatkan sejumlah awak kapal selam berkebangsaan Rusia pimpinan dua perwira menengah: Kapten Tingkat II S.M. Susoev untuk S-79 dan Kapten Tingkat III F.S. Volovik untuk S-91. Ikut bersama mereka sejumlah calon awak kapal selam ALRI yang dipimpin oleh dua perwira menengah ALRI. “Mereka adalah Mayor J.Koesno dan Mayor R.P. Poernomo. Kelak mereka menjadi komandan di Kapal Selam RI Tjakra dan Kalal Selam RI Nanggala,” ungkap Laksamana Muda (Purn) I Nyoman Suharta. Proses pengalihan semua kapal-kapal perang (termasuk kapal selam) milik Uni Sovyet kepada ALRI sesungguhnya sudah berlangsung sejak awal Mei 1959. Menurut Okorokov, rencana operasi itu dipersiapkan dengan cermat dan ketat di bawah supervisi seorang perwira menengah bernama Kapten Tingkat I P.Vosmak. Semua kapal perang dilengkapi dengan persenjataan artileri paling canggih saat itu. “Beberapa saat sebelum kapal-kapal perang itu diberangkatkan ke Indonesia, Angkatan Laut Uni Sovyet melakukan perbaikan besar-besaran di Dalzavod,” ungkap dosen sejarah di Akademi Ilmu Militer Rusia itu. Pada 25 Agustus 1959, dua kapal selam itu mulai memasuki Laut Jawa. Beberapa jam sebelum memasuki Pangkalan Laut Surabaya, terlihat sebuah pesawat Neptune milik Angkatan Laut Amerika Serikat mengintai pergerakan mereka dari ketinggian sedang. “Pengawalan” itu berlangsung hingga kapal-kapal selam tersebut memasuki Pangkalan Laut Dermaga Ujung, Surabaya. Pengintaian intens kembali dilancarkan oleh Armada ke-7 Angkatan Laut Amerika Serikat saat Uni Sovyet mengirimkan lagi 4 kapal selam jenis W ke Indonesia pada 30 Oktober 1961. Dikisahkan oleh Okorokov, bagaimana rombongan kapal selam itu terus diawasi sejak Kepulauan Okinawa (Jepang) oleh pesawat-pesawat patroli laut AL Amerika Serikat. “Mereka melakukan pengawasan sampai rombongan kapal selam Whiskey memasuki Selat Makassar,”ungkap Okorokov. Namun situasi paling menegangkan justru terjadi di detik-detik terakhir konflik Indonesia-Belanda. Ketika itu Operasi Djajawidjaja (rencana menginvasi Irian Barat secara besar-besaran) akan segera diluncurkan. Enam kapal selam pun diberangkatkan ke Bitung (Sulawesi Utara) sebagai persiapan menerobos perairan Irian Barat. Persoalan muncul ketika ALRI tidak memiliki kru lagi untuk mengisi 6 kapal selam itu. Maka untuk mengantisipasi situasi tersebut, pemerintah RI memakai jasa ratusan kru kapal selam Angkatan Laut Uni Soviet. Mereka ada bukan saja sebagai instruktur, namun juga sebagai tenaga tempur aktif . “Saya berangkat (ke Irian) bersama ratusan kru Uni Sovyet untuk bertempur di Irian Barat,” Kolonel (Purn) F.X. Soeyatno, salah satu eks anggota Korps Hiu Kencana ALRI. Salah satu kapal selam, kata Okorokov, mendapat misi untuk menerobos Teluk Doreri. Menurut salah seorang sukarelawan Rusia bernama G.M. Melkov, penerobosan itu memiliki tujuan akhir menghancurkan dermaga di kota Manokwari (yang merupakan tempat mengisi bahan bakar kapal-kapal perang Belanda) dengan torpedo. “Persoalannya dermaga di teluk itu dijaga oleh sejumlah kapal anti kapal selam,” ungkap Melkov. Satu-satunya cara untuk mengantisipasi masalah tersebut, kru kapal selam ALRI harus mendapat pasokan informasi dari darat yang betul-betul akurat. Menurut Okorokov, soal itu juga menjadi masalah mengingat betapa buruknya kinerja intelijen Indonesia kala itu. Mereka bukan saja memberikan informasi yang minim namun juga data-data yang mereka kirimkan masih sangat mentah. Kondisi itu memaksa kapal-kapal selam ALRI ada dalam pantauan langsung Armada ke-7 Angkatan Laut Amerika Serikat. Bisa jadi, secara koordinat, mereka ada dalam posisi saling berhadapan. Andaikan perundingan di darat mengalami jalan buntu, sudah dipastikan untuk kali pertama akan terjadi duel secara langsung antara orang-orang Rusia dengan orang-orang Amerika Serikat di perairan Irian. Ancaman konfrontasi secara langsung itu berlangsung selama dua minggu. Menurut Okorokov, orang-orang Rusia di kapal-kapal selam ALRI malah sudah mempersiapkan diri untuk terlibat dalam pertempuran terbuka dan perang tanpa batas. Untunglah perang pun batal meletus. Pada pertengahan Agustus 1962, Belanda bersedia untuk menyelesaikan persoalan Irian Barat di meja perundingan. Semua kekuatan bersenjata kedua negara pun ditarik ke pangkalan masing-masing hingga perang benar-benar tak terjadi.
- Sukarelawan Rusia, Vodka dan Spirtus
SELAMA berlangsung-nya Operasi Trikora pada 1962, Angkatan Bersenjata Uni Sovyet telah mengirimkan 1.740 sukarelawan ke Indonesia. Mereka meliputi instruktur dan para teknisi (kadang merangkap juga sebagai tenaga tempur lapangan). Pengiriman itu merupakan bentuk komitmen konkret Perdana Menteri Nikita Khrushchev untuk mendukung Indonesia yang tengah berkonflik dengan Belanda. “Pada 9 Februari 1962, pemerintah Uni Sovyet kembali menegaskan dukungannya terhadap posisi Indonesia…” ungkap sejarawan militer Uni Sovyet Alexander Okorokov dalam Тайные войны СССР (Perang Rahasia Uni Sovyet). Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) merupakan matra yang paling banyak mendapat pasokan alat-alat perang dan sukarelawan. Selain kapal perang permukaan, Uni Sovyet pun memasok 12 kapal selam jenis Whiskey (W). Itulah yang menyebabkan kemudian Angkatan Laut Uni Sovyet menempatkan hampir seribu anggotanya di Pangkalan Dermaga Ujung, Surabaya. “Tugas mereka yang utama adalah mengajari kami untuk memakai alat-alat perang yang mereka hibahkan buat ALRI. Tetapi dalam kesempatan tertentu, mereka pun kadang diterjunkan juga dalam operasi tempur sesungguhnya di perairan Irian,” papar Laksamana Muda (Purn) I Nyoman Suharta. Menurut Suharta yang saat itu berpangkat letnan satu, selama di Surabaya, orang-orang Rusia itu ditempatkan di sebuah gedung besar berlantai dua yang berada di kawasan Ksatrian Pendidikan Angkatan Laut Ujung (KPALU). Penempatan itu sempat membuat para sukarelawan Rusia mengeluh. Selain tempatnya tidak sesuai untuk sebuah asrama sekaligus markas dalam standar Angkatan Laut Uni Sovyet, situasi lingkungan juga tidak memadai untuk menjalankan pekerjan-pekerjaan khusus. “Rumah dua lantai yang terpisah itu juga ternyata dibangun dari dana yang dialokasikan oleh Moskow,” ungkap Okorokov. Tetapi hubungan antara para prajurit ALRI dengan para sukarelawan Uni Sovyet itu relatif berjalan baik. Tak jarang dalam kesempatan tertentu, mereka kerap melakukan pertandingan olahraga bersama, seperti bermain sepakbola, bola voli dan catur. Hanya ada satu kebiasaan orang-orang Rusia itu yang tidak sejalan dengan orang-orang Indonesia yakni meminum vodka (minuman keras khas Rusia). Menurut Kolonel (Purn) F.X. Soeyatno, kegilaan para pelaut Rusia itu terhadap minuman beralkohol memang tiada taranya. Sehingga jika pasokan vodka terlambat dikirim ke Surabaya, mereka yang sudah kecanduan itu terpaksa menenggak spirtus (cairan kimia berwarna biru yang berfungsi untuk membersihkan komponen-komponen kapal perang). “Sebagai bentuk penghormatan, saya pernah coba ikut meminum spirtus. Rasanya? Ya ampunnnn, panas sampai ke ubun-ubun…” tutur Suharta. Karena kebiasaan mabuk-mabukan itu pula kadang menjadikan para sukarelawan Rusia itu terlibat dalam keonaran di pusat kota Surabaya. Pernah pada suatu malam, tiga pelaut Rusia terpaksa “dilemparkan” keluar karena tertidur di sebuah restoran. Pada kesempatan lain, seorang pelaut Rusia tewas dalam sutau keributan di bar. “Laporan yang diterima: orang Rusia itu tewas akibat kecelakaan mobil. Namun kami menduga dia mati akibat berkelahi dalam kondisi mabuk,” ungkap Okorokov. Secara finansial, bisa dikatakan para sukarelawan Rusia sangat mampu. Pemerintah Republik Indonesia (RI), sesungguhnya menggaji mereka sangat banyak tiap bulannya: berkisar 8.000 untuk prajurit biasa dan 10.000 rupiah untuk para perwira. Jumlah itu jelas sangat jauh dengan gaji para prajurit ALRI saat itu. “Bayangkan saja, saya yang saat itu berpangkat letnan satu memiliki gaji hanya 700 rupiah. Sebagai patokan, harga 1 kg beras saat itu adalah 50 rupiah,” ujar Suharta. Dengan gaji yang sangat besar itu, wajar jika pola hidup sehari-hari para sukarelawan Rusia sangat royal. Terlebih pada akhir bulan mereka kerap mendapat jatah pesiar ke Singapura dan mendapat kesempatan untuk memesan barang-barang yang mereka ingikan dari India dan Jepang. Pernah suatu hari seorang prajurit Rusia membeli kamera merek Leica di Singapura. Ketika sampai di Surabaya, kamera tersebut tetiba raib. Setelah diselidiki oleh pihak Polisi Militer, ternyata kamera itu telah dicuri oleh seorang prajurit Indonesia. “Itu memang kejadian yang memalukan. Tapi sebagai gentleman , kami mengakui kesalahan itu dan menyerahkan kembali kamera tersebut dalam suatu upacara resmi di geladak kapal,” kenang Suharta. Uniknya dalam kesempatan itu, pihak korban pencurian juga justru meminta maaf karena “tidak peka” terhadap situasi sosial yang ada di lingkungan pangkalan laut itu. Alih-alih marah, saat itu juga dia melemparkan kamera itu ke laut. “Jika kamera ini membuat seseorang berbuat jahat, lebih baik saya membuangnya saja ke laut,” ujar sang pelaut Rusia. Pertengahan Agustus 1962, konflik antara Indonesia dengan Belanda mulai mereda. Kedua negara memutuskan untuk membawa masalah mereka ke meja perundingan. Perang pun batal terjadi di Irian. Seiring situasi semakin aman, para sukarelawan Rusia itu pun perlahan ditarik kembali ke negara-nya dan ditempatkan lagi di kesatuannya masing-masing.
- Melintasi Sirkuit Politik Max Mosley
KENDATI tidak sedikit yang punya dendam padanya, toh kepergian Max Rufus Mosley, presiden Fédération Internationale de I’Automobile (FIA)periode 1993-2009, menimbulkan duka bagi segenap orang di dunia balap.Mosley menghembuskan nafas terakhirnya Minggu (23/5/2021) lalu di usia 81 tahun setelah lama bertarung dengan kanker. “Dia sudah seperti keluarga bagi saya. Kami ibarat saudara. Di sisi lain saya merasa lega karena dia sudah menderita begitu lama. Dia banyak melakukan hal hebat tidak hanya untuk olahraga balap tapi juga industri mobil. Dia melakukan cara hebat untuk memastikan banyak orang agar membuat mobil-mobil yang aman,” ungkap mantan chief executive F1, Bernie Ecclestone, dilansir BBC , Selasa (25/5/2021). Ucapan belasungkawa juga datang dari Presiden FIAJean Todt.Melalui akun Twitter -nya, @JeanTodt , Senin (24/5/2021) lalu dia mencuit: “Duka mendalam atas meninggalnya Max Mosley. Dia figur besar dalam @F1 & olahraga balap. Sebagai @FIA Presiden selama 16 tahun, dia sangat berkontribusi untuk memastikan keselamatan di sirkuit dan di jalan. Segenap komunitas FIA turut berbelasungkawa. Pikiran dan doa-doa kami untuk keluarganya.” Mosley dikenal sebagai sosok berwatak keras dan tak kenal kompromi terhadap aneka skandal selama memegang kendali badan olahraga balapan dunia itu.Namun, Mosley sendiri sejak lahir sudah dinaungi kabut kontroversi. Baca juga: Kontroversi Michael Schumacher Bernard Charles Ecclestone (kanan) merasa paling kehilangan sosok Mosley ( formula.com ) Keluarga Fasis Lahir di London pada 13 April 1940, Mosley merupakan bungsu dari dua bersaudara pasangan Sir Oswald Ernald Mosley dan Diana Mitford. Oswald merupakan pemimpin Partai British Union Fascists (BUF) dan Diana seorang simpatisan Nazi. Adik Diana, Unity Mitford, pernah digosipkan jadi salah satu pacar Adolf Hitler. Pernikahan Oswald dengan Diana pada 1936 dilangsungkan di kediaman Menteri Propaganda Jerman Joseph Goebbels. Hitler h adir sebagai tamu VIP yang menghadiahkan mereka sebuah foto dirinya dengan hiasan bingkai perak. Ketika Mosley baru berusia 11 minggu, ia dan kakaknya, Alexander, harus berpisah dengan kedua orangtua mereka. Ayah dan ibunda mereka dijebloskan ke penjara terpisah tanpa pengadilan. Pemerintah Inggris memenjarakan mereka bertolak pada Defence Regulation 18B yang menyatakan, para politisi fasis dan simpatisan Nazi diinternir demi mencegah sabotase selama Perang Dunia II berlangsung. “Peraturan masa perang itu membolehkan pemerintah memenjarakan siapapun tanpa pengadilan. Setelah menjadi menteri buruh pada 1929 dalam karier politik konvensionalnya, ayah saya memimpin BUF dan berkampanye menentang Perang Dunia II. Saya yakin karena itulah pemerintah ingin menyingkirkannya. Ibu selalu mendukungnya dan adiknya, Unity, berteman baik dengan Adolf Hitler,” tulis Mosley dalam otobiografinya, Formula One and Beyond . Baca juga: Perempuan-Perempuan dalam Pelukan Hitler Sir Oswald Ernald Mosley, 6th Baronet (kiri) & Diana Freeman-Mitford, Lady Mosley ( britannica.com/npg.org.uk ) Selama setahun Mosley dan kakaknya dirawat pengasuh sampai akhirnya Perdana Menteri (PM) Winston Churchill turun tangan. Sir Oswald dan Diana bersatu kembali saat dipindahkan ke kamp interniran Holloway.Mereka diperbolehkan dikunjungi kedua putra mereka setiap hari dan bahkan Mosley dan kakaknya diizinkan menginap jika mau. “Winston Churchill teman dekat dari keluarga ibu saya dan dia bersama istrinya sudah akrab dengan ibu saya sejak kecil. Dia juga kenal ayah saya dari panggung politik mainstream dan tetap menghormati walau bertentangan dengan kepentingan negara. Churchill melakukan segala yang dia bisa untuk membuat kehidupan orangtua saya sedikit lebih nyaman,” imbuhnya. Mosley baru bisa bersatu lagi dengan keluarganya secara utuh pada November 1943. Kala itu ayahnya tak lagi aktif dalam politik. Pada 1950, Oswald membawa keluarganya berpindah-pindah dari Hampshire, Wiltshire, Orsay, hingga Paris. Mosley baru kembali ke Inggris untuk kuliah di Jurusan Fisika Universitas Oxford dan kuliah hukum di Gray’s Inn. Di Balik Kemudi Mobil Balap Selama kuliah pada 1950-an,Mosley danAlexandersempat mengikuti jejak ayahnya di arena politik dengan aktif di partai sayap kananThe Union Movement (UM). Dari aktivitasnya dalam partai itu Mosley juga bertemu kekasih yang kemudian jadi istriyang dinikahinya pada 1960, Jean Taylor. Dari Jean-lah minat Mosley pada dunia balap timbul. Meski Mosley masih terus berpolitik sampai 1980-an, ia mengiringinya dengan turut berkarier di lintasan balap pada medio 1960-an. Perkenalan Mosley dengan dunia balap terjadi setelah dia dibelikan tiket nonton ajang balapdi Sirkuit Silverstone, dekat kampus Oxford. Dari “pandangan pertama” itu, benih cinta pada balap bersemi di hati Mosley. Maka demi bisa membeli mobil balap,Mosley harus bekerja keras dengan menjadi pengacara dari pagi sampai sore dan dilanjut mengajar hukum pada malamnya. “Baru di awal 1966 saya punya cukup uang dari hasil mengajar untuk membeli mobil balap. Dari iklan di Autosport , saya membeli mobil Lotus 7 dengan mesin 1.0 liter dari seseorang yang tinggal dekat Birmingham. Saya memutuskan untuk balapan di Clubmans Sports Cars kelas 1.5 liter, di mana mesin mobil saya harus dirombak lagi dengan bantuan sepupu, Len Street, yang pernah jadi mekanik di Tim Lotus,” sambung Mosley. Baca juga: Stirling Moss, Raja Balap tanpa Mahkota Max Mosley (kanan) bersama rekannya, Robert John 'Robin' Herd yang mendirikan March Engineering ( formula1.com ) Prestasi Mosley di ajang balap nasional itu cukup lumayan. Ia menang 12 dari 40 race sepanjang 1966-1967. Mosley pun makin ketagihan.Setelah bertemu rekan sepemikiran, Chris Lambert, Mosley membentuk London Racing Team untuk terjun ke European Formula Two (F2). Karena Len Street sudah dikontrak tim lain, Mosley lalu mengontrak Sir Frank Williams, legenda hidup F1 dan pendiri Frank Williams Racing Cars,menjadi salah satu mekanik andalannya. “Pertamakali saya bertemu Max di 1960-an saat dia masuk balapan. Saya yang menyiapkan mobilnya di F2 dan terlepas dia tak pernah menjadi pembalap tercepat di lintasan tetapi dia selalu balapan dengan cara yang cerdas di balik kemudi,” kenang Sir Williams , disitat Grand Prix 247 , Senin (25/5/2021). Baca juga: Angkernya Sirkuit Nürburgring Aktivitas Mosely tersebut sempat dikhawatirkan ayahnya karena investasi itu dianggapnya takkan menguntungkan. Namun, adafaktor penting lain yang membuat Mosleygetol berkecimpung di balapan, yakni politis.Balap dijadikannya ajang menghapus jejak kelam masa lalu keluarganya. “Saat saya meninggalkan karier menjanjikan sebagai pengacara dan terjun ke balapan, ayah bilang mungkin saya akan bangkrut tapi hikmahnya akan bagus buat latihan saya untuk sesuatu hal yang lebih serius lagi di masa depan. Di dunia balap tidak ada yang mengenali Sir Oswald. Justru pembalap atau kru menyangka saya adalah kerabat Alf Mos(e)ley si pembuat mobil. Saya menemukan dunia yang tak mengenal Oswald Mosley dan dalam dunia balap tiada yang peduli siapa dia (Sir Oswald),” lanjutnya. Sayangnya karier Mosley di F2 acap menghasilkan rapor merah. Ia pun hanya bertahan dua musim (1968-1969). Pada musim terakhirnya, 1969, Mosley mengalami dua kecelakaan hingga memutuskan pensiun sebagai pembalap. Ia pun kapok. “Dua kecelakaan itu sudah jadi bukti bahwa saya takkan bisa jadi juara dunia,” ujarnya. Perang Politik Penguasa Sirkuit Mosley tak bisa jauh dari dunia balap setelah tak lagi membalap. Bersama Robin Herd, Alan Rees, dan Graham Coaker, Mosley membentuk tim balap March Engineering untuk tampil di pentas F3, F2, dan F1. Para pembalap potensial pun mereka rekrut.Di antaranya Chris Amon, Jo Siffert, Niki Lauda, danVittorio Brambilla. Kemampuan nya dalam bidang hukum juga membuatnya akrab dengan para petinggi Formula One Constructors’ Association (FOCA) . Ecclestone , salah satunya. Mulai 1977, Mosley dipercaya Ecclestone jadi penasihat hukum FOCA . T iga tahun berselang , Mosley jadi ujung tombak FOCA kala “berperang” dengan Fédération Internationale du Sport Automobile (FISA) yang jadi kepanjangan tangan FIA sebagai operator F1. Konflik FOCA-FISA berawal dari ketimpangan subsidi dan revenue komersial antara tim-tim yang berbasis di Inggris dengan tim-tim mapan Eropa asal Italia, Prancis, dan Jerman. Tim-tim Inggris yang bernaung di FOCA merasakan adanya keputusan bias terhadap beberapa aturan yang dikenakan pada mereka ketimbang tiga tim lain yang tak terafiliasi dengan FISA: Alfa-Romeo, Renault, dan Ferrari. Baca juga: Gas Pol F1 di Tengah Pandemi Presiden FISA, Jean Marie-Balestre (kanan) yang jadi lawan Mosley ( formula1.com ) Saling boikot pun terjadi sepanjang 1980.Bentuk lain dari perlawanan FOCA adalah dengan melahirkan World Federation of Motor Sport dengan menggelar balapan-balapan yang dianggap ilegal oleh FISA. Salah satunya Grand Prix Afrika Selatan, 7 Februari 1981. Walau dengan bujet pas-pasan, balapan ini sukses mendatangkan income besar. Selain itu, ajang tersebut juga populerkarena disiarkan banyak stasiun televis berkat manuver-manuver bisnis dan politik Mosley dan Ecclestone. Pada akhirnya, Presiden FISAJean-Marie Balestre mau duduk bersama untuk berdamai. “Sebelumnya kami semua (tim) tidak punya cukup uang. Jika Balestre mau menyokong tim-tim lebih lama lagi, mereka tidak akan berontak. Hasilnya akan sangat berbeda dari saat ini,” ungkap Mosley , dikutip Terry Lovell dalam Bernie’s Game: Inside the Formula One World of Bernie Ecclestone. Baca juga: Sembilan Ayah dan Anak di Arena F1 (Bagian I) Tidak hanya di meja perundingan, Mosley pun sukses “menundukkan” Balestre dalam persaingan pemilihan presiden FISA pada 1991. Balestre jadi lawan kuat Mosley di pemilihan presiden FIA tahun 1993, tahun di mana FISA dibubarkan dan operator F1 langsung dipegang FIA. Kemenangan Mosley didapat dari manuvernya dengan mengkampanyekan standar keselamatan. Ia berkaca pada banyaknya kematian pembalap di masa lalu. “Di awal-awal saya balapan F2, saat itu ada 21 mobil di lintasan pada April. Tapi memasuki Juli ada tiga pembalap yang tewas. Pembalap sudah seperti resimen garis depan di (perang) Vietnam. Saya berpikiran bahwa jika punya kesempatan memegang kekuasaan di balapan, saya akan melakukan sesuatu tentang hal ini. Saya benci dengan attitude : ‘ Well , jika Anda tidak menyukainya, jangan ambil risiko’,” tutur Mosley lagi. Mosley merebut kepemimpinan FISA dan FIA sejak 1993 ( formula1.com ) Mosley memenangkan pemilihan presiden FIA pada 1993 dan bertahan sampai 2009. Walau tak kenal kompromi terhadap berbagai skandal tim-tim balap, Mosley pernah diterpa skandal pesta seks sadomasokisme dengan para PSK pada 2008 yang diekspos suratkabar News of the World. Mosley “menyengat balik” dengan menuntut suratkabar milik Rupert Murdoch itu ke Pengadilan HAM Eropa karena dianggap telah mencemarkan nama baik dan melanggar privasi. Mosley menang dan mendapat ganti rugi lebih dari 500 ribu poundsterling . Suratkabar itu pun akhirnya ditutup Murdoch. “Terlepas dari kontroversi itu, Mosley akan selalu dikenang sebagai figur brilian walau tak sempurna. Bersama Ecclestone, dia jadi sosok penting yang mengubah F1 menjadi hiburan global. Sebagai Presiden FIA, dia membuktikan diri sebagai pemikir inovatif yang mendorong standar keselamatan dan kemajuan teknologi dalam balap dan otomotif. Kendati begitu tetap terasa bahwa segala yang ia lakukan seolah menjadi alternatif bagi karier politik mainstream -nya yang gagal,” tukas penulis cum kritikus Adam Sweeting dalam kolom obituari The Guardian , Senin (24/5/2021). Baca juga: Sembilan Anak dan Ayah di Arena F1 (Bagian II – Habis)
- Perang Dingin Soeharto-Ali Sadikin
PADA akhir kepemimpinan sebagai gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin mencapai puncak popularitasnya. Keberhasilan Bang Ali (panggilan akrab Ali Sadikin) membangun Jakarta membuatnya dielu-elukan publik, terutama di kalangan generasi muda. Namanya pun disebut-sebut sebagai pesaing kuat Presiden Soeharto dalam Pemilihan Umum 1977. Rumor pencalonan Bang Ali bertiup kencang menjelang pemilu. Sekelompok mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) menjagokan Ali Sadikin maju sebagai presiden. Kabar itu makin santer terdengar pada hari-hari terakhir Bang Ali menjabat gubernur Jakarta. “Deklarasi Bang Ali kalau tidak salah diramaikan di TIM Cikini. Kami masih ingat, beberapa aktivis UI membuat kaus oblong dengan sketsa wajah Ali Sadikin, plus tulisan artistik ‘Bang Ali is the Best’,” kata Rudy Badil dalam Main-main Jadi Bukan Main.





















