Hasil pencarian
9825 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ha...Ha...Ha... Buat Sukarno
ADIAN Napitupulu, politisi nyentrik dari PDIP menolak jabatan menteri yang ditawarkan Presiden Joko Widodo. Adian merasa dirinya belum cukup mampu mengemban tanggung jawab tersebut. Presiden Jokowi menatap dengan sorot mata yang tajam kala mendengar Adian mengatakan tidak bersedia jadi menteri. Penolakan juga pernah dialami oleh Sukarno, Presiden RI yang pertama. Kali ini bukan soal tawaran jabatan menteri tapi soal tawaran konsepsi bernegara. Yang berperkara dengan Bung Karno ialah Ignatius Joseph Kasimo, Ketua Umum Partai Katolik. Pada 21 Februari 1957, Sukarno memanggil semua pimpinan partai politik ke Istana. Kepada mereka semua, Sukarno melontarkan gagasan yang kemudian dikenal sebagai Konsepsi Presiden. Melalui konsepsi itu, Sukarno menyarankan pembentukan kabinet “empat kaki” yang terdiri dari partai-partai pemenang pemilu: PNI, Masjumi, NU, dan PKI. Sepekan berselang, 28 Februari 1957, Sukarno memanggil kembali pimpinan partai politik. Agenda pertemuan meminta persetejuan masing-masing pimpinan partai terhadap Konsepsi Presiden. PKI, Murba, PNI, PRN, Baperki, Persatuan Pegawai-pegawai Kepolisian menyatakan menerima. NU, PSII, Parkindo, IPKI, dan PSI ragu-ragu dan menyatakan mempertimbangkan kembali. Sementara itu, Masjumi dan Partai Katolik dengan tegas menyatakan penolakan. Pimpinan Masjumi, Mohammad Natsir menguraikan penolakannya dengan berpidato panjang lebar. Lalu tibalah giliran Kasimo. Sebelum berbicara, Kasimo punya kebiasaan unik: suka tertawa sambil mengurai senyum lebar. Ciri khas inilah yang melekat pada diri Kasimo. Dia dikenal sebagai politisi senior gaek namun berhati periang. Ketika bersua Bung Karno, seperti biasa Kasimo memulai dengan senyuman khasnya. Sewaktu Bung Karno menanyakan bagaimana sikap Partai Katolik terhadap konsepsinya, Kasimo malah tertawa. Kasimo bukan berarti meremehkan pertanyaan Sukarno. Begitulah caranya mengumpulkan keberanian menyatakan pendapat yang bertentangan dengan kemauan presidennya. “Namun Bung Karno rupanya merasa diejek oleh Kasimo,” sebagaimana terkisah dalam biografi I.J. Kasimo: Hidup dan Perjuangannya yang disusun Threes Nio. Secara singkat dan padat, Kasimo menyatakan tidak setuju dengan konsep Sukarno. Penolakan Kasimo yang terutama sehubungan dengan dilibatkannya PKI dalam kabinet. Merujuk pengalaman sejarah di Eropa Timur, Kasimo beranggapan pengikutsertaan orang-orang komunis akan menyebabkan sebuah negara menjadi komunis. Ini terjadi pada negara Cekoslovakia. Bagi Kasimo, sikap terhadap PKI tidak dapat ditawar-tawar. Sebagai mantan murid Romo van Lith (pelopor missie Katolik di Jawa), Kasimo mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap golongan lain. Namun toleransi ini terkecuali terhadap golongan komunis yang dalam pandangan Kasimo anti-agama dan kebebasan beragama. Selesai pertemuan di Istana, para wartawan menanyakan pendapat Kasimo tentang Konsepsi Presiden. “Ha-ha-ha-ha…” itu saja yang keluar dari mulut Kasimo. Sejak saat itulah Sukarno menunjukkan rasa kurang senang terhadap Kasimo. Ketersinggungan Sukarno berbuntut panjang. Dua bulan kemudian, pada April 1957, beberapa petinggi partai dipanggil lagi ke Istana. Dari Partai Katolik yang dipanggil ialah Prof. Mr. A.A. Soehardi, A.B. de Rozari, dan Ir. Soewarto. Kasimo selaku ketua partai tidak diberi tahu. Sebagai akibat dari sikap Kasimo, Partai Katolik tidak diikutsertakan dalam Kabinet Karya yang dipimpin Perdana Menteri Djuanda. Demikian pula dalam kabinet-kabinet berikutnya. Partai Katolik baru masuk dalam kabinet ketika Kasimo tidak lagi menjabat ketua. “Karena berani melawan mainstream politik, ia harus mengundurkan diri dari kepemimpinan partai dan segala kemungkinannya yang melekat pada jabatan tersebut untuk masa itu. Ia menjadi persona non grata untuk sistem masa itu,” tulis J.B. Sudarmanto dalam Politik Bermartabat: Biografi I.J. Kasimo . Pada 1960, Kasimo mengundurkan diri sebagai Ketua Partai Katolik setelah memimpin partai itu selama kurang lebih 30 tahun. Tampuk kepemimpinan selanjutnya diserahkan kepada Ketua DPP Partai Katolik Frans Seda. Baru pada 1964, Frans Seda. menduduki kursi Menteri Perkebunan dalam Kabinet Dwikora.
- Didi Kempot, Makin Tua Makin Ambyar
Malam itu Istora Senayan, Jakarta, ramai. Anak-anak, remaja, dan orang tua bersemangat menuju salah satu panggung dalam acara Pekan Kebudayan Nasional (PKN) 2019 minggu lalu (7-13 Oktober 2019). Ada beragam sajian seni di panggung PKN. Salah satunya pergelaran musik campursari dari pria berambut gondrong kelahiran Surakarta. Dialah Didi Prasetyo atau Didi Kempot. Didi Kempot saat menunggu giliran naik pentas di Senayan. (Fernando Randy/Historia). Sebelum Didi naik ke atas panggung, Historia sempat berbincang pendek dengannya. Dari obrolan tersebut diketahui bahwa asal usul nama Kempot adalah Kelompok Penyanyi Trotoar. “Yah dulu saya itu penyanyi jalanan alias ngamen, akrab sama trotoar,” ujar adik dari almarhum pelawak Mamiek Prakoso, yang tenar dengan mengecat sebagian rambutnya dengan warna keemasan. Ekspresi ribuan fans Didi Kempot yang memadati Istora Senayan. (Fernando Randy/Historia). Didi Kempot saat membawakan berbagai hits dari album-albumnya. (Fernando Randy/Historia). Didi mulai aktif bermusik sejak 1989. Dia memilih musik campursari sebagai jalan hidup berkeseniannya. Campursari adalah musik yang muncul dari perpaduan instrumen gamelan Jawa dan Barat. Diperkenalkan kali pertama oleh R.M. Samsi dari kelompok musik RRI Semarang pada 1953. Campursari menggabungkan nada pentatonik dan diatonis. Sebuah percampuran antara tradisionalitas dan modernitas. Salah satu fans Didi Kempot menangis terharu di tengah keseruan konser tersebut. (Fernando Randy/Historia). Tua dan muda semua bergembira bersama saat Didi Kempot bernyanyi. (Fernando Randy/Historia). Panggung Didi Kempot yang selalu penuh oleh para fansnya di seluruh Jakarta. (Fernando Randy/Historia) Melalui campurasari, Didi membuat ratusan lagu. Kebanyakan lagunya bertema tentang cinta, patah hati, dan kehilangan orang tersayang. Karena tema-tema itulah fans Didi Kempot menamakan diri mereka sebagai Sad Bois dan Sad Girls. Ada juga yang menamakan diri mereka Sobat Ambyar (hancur). Fans juga menjuluki Didi Kempot, pria yang juga terkenal di Suriname itu, sebagai The Godfather of Broken Heart . “Ya, mungkin karena tema patah hati mengena di anak-anak masa kini. Itu buktinya tiap saya nyanyi mereka selalu berjoget,” kata Didi. Fenomena tersebut memang bukan isapan jempol belaka. Begitu Didi Kempot naik panggung, ribuan penggemarnya langsung histeris bahkan sampai menangis. Berbagai atribut kaos bergambar Didi Kempot pun tak luput digunakan oleh para Sobat Ambyar. (Fernando Randy/Historia). Semua Sad Bois dan Sad Girls larut dalam alunan lagu-lagu sang Godfather. (Fernando Randy/Historia) Di panggung PKN, Didi tampil sekira pukul 20.00 WIB. Dia menyapa penggemarnya. “Sobat Ambyar, sing penting aja jotos-jotosan yo (Sobat Ambyar, yang penting jangan berkelahi, ya).” Salam pembukanya disambut riuh oleh ribuan Sobat Ambyar. Kemudian pria berusia 52 tahun tersebut melantunkan lagu-lagu andalannya: Cidro, Stasiun Balapan, Banyu Langit, dan Pamer Bojo. Orang-orang turut bernyanyi. Ekspresi Didi Kempot di panggung dalam gelaran PKN Kebudayaan. (Fernando Randy/Historia). Ribuan fans Didi Kempot bernyanyi dan berjoget bersama tanpa henti bersama sang legenda campursari. (Fernando Randy/Historia). Di tengah jeda lagu, Didi berucap, “Wah ternyata di Jakarta pun kalian masih menghargai musik tradisional. Terima kasih!” Tanpa basa-basi lagi, Lord Didi, julukan lainnya, kembali menggempur panggung. Malam itu benar-benar milik Sobat Ambyar. Mereka merayakan patah hati daripada meratapinya. Ditemani langsung oleh sang Godfather . Salam Ambyar! Didi Kempot mengucapkan terima kasih kepada semua Sobat Ambyar yang telah hadir di Senayan. (Fernando Randy/Historia).
- Sultan Syahrir dan Ragam Muasal Manusia Indonesia
SULTAN Syahrir punya keyakinan bahwa dia masih punya darah keturunan Nabi Muhammad SAW. Mayor TNI AD itu sejak kecil sudah dikisahkan silsilah keluarganya yang darahnya masih berkelindan dengan Sayid Jalaluddin. Pria asal Palu, Sulawesi Tengah itu keluarga besarnya berasal dari suku Kaili. Para pendahulunya sampai membuat pohon silsilah untuk mengaitkan darah keluarganya dengan Rasulullah SAW. “Menurut kepercayaan orangtua, kami berasal dari Arab. Jadi ada keturunan dari Sayid Jalaludin yang menikah di Cikoang. Intinya menurut beliau-beliau (para pendahulu Sultan), Sayid Jalaluddin ini keturunan Rasulullah yang berperjalanan sampai ke Palu, Sulawesi Tengah,” kata Sultan kepada Historia. Kedatangan Sayid Jalaludin ke Sulawesi, menurut Sultan, tak lepas dari upaya penyebaran Islam lewat pernikahan dengan putri bangsawan setempat. “Nah akhirnya mungkin gennya menang ke saya itu gen lokalnya, jadi enggak kelihatan sama sekali Arabnya (di wajah Sultan). Tetapi perkara sah atau tidaknya keturunan Rasulullah, itu di luar pengetahuan saya,” sambungnya. Beragam literatur, semisal Islam and Colinialism: Becoming Modern in Indonesia and Malaysia karya Profesor Muhamad Ali, pakar studi Islam di University of California, menyebutkan adanya ulama Islam bernama Sayid Jalaludin al-Aidit. Menurut Ali, Sayid Jalaluddin adalah ulama Syiah dari Jazirah Arab. “Sayid Jalaluddin al-Aidit datang dari Arabia melalui Aceh dan Banjar (Kalimantan) ke Cikoang pada abad ke-17. Al-Aidit dikatakan berlabuh di Cikoang karena di Makassar sudah terlalu dominan pedagang Sunni Syafii,” tulis Ali. Namun lantaran wajah Sultan tak menampakkan ciri Arab, ia tak pernah kena rundung ( bully ). “Yang menarik sebenarnya bully itu bukan kepada suku saya, tetapi budaya yang ada di keluarga saya. Di keluarga saya perkawinannya ke dalam. Tidak boleh seorang wanita menikah dengan di luar darah keluarganya. Jadi bapak saya sendiri dengan ibu saya, istilahnya sepupu satu kali,” terang Sultan. Perundungan itu baru dirasakan Sultan setelah ia masuk asrama di SMA-nya di Magelang, Jawa Tengah yang tentu didominasi orang Jawa. “Saya mengalami culture shock. Bayangkan, saya sebagai perantauan lulusan SMP masuk lingkungan asrama SMA yang baru dengan berbahasa yang bahasanya tidak saya pahami. Apalagi buat mereka yang orang Jawa, katanya juga tidak baik menikah satu sepupu. Katanya kalau dalam pelajaran biologi, nanti anaknya down syndrome . Saya merasa ter- bully di situ,” tambahnya. Namun, perlahan ia bisa berbaur dan kawan-kawannya pun saling mengerti budaya satu sama lain. Begitu pula ketika Sultan masuk akademi militer di kota yang sama. Bercampur dengan para taruna dari Aceh hingga Papua, ia merasa perbedaan adalah kekayaan dan bisa jadi kekuatan di antara mereka sendiri. Oleh karena itu, kondisi sosial-masyarkat belakangan yang mulai diwarnai pengkotak-kotakan antara pribumi dan non-pribumi membuat Sultan prihatin. Hal itu jadi salah satu faktor yang mendorongnya ikut tes DNA ( Deoxyribonucleic acid) yang diselenggrarakan Historia.id dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI lewat Proyek DNA Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) . “Apa sih pribumi dan non-pribumi? Saya miris melihat kita, terutama beberapa tahun belakangan ini, memfragmentasi diri kita sendiri,” ujar Sultan. Dominan DNA Asia Timur Apa yang diyakini tak selalu berbanding lurus dengan fakta. Hal itulah yang dialami Sultan ketika mengetahui hasil tes DNA-nya tak sama dengan yang dia yakini selama ini. Gen Asia Timur justru mendominanasi dirinya. “Saya terkejut. Kok saya 83 persen itu Asia Timur? Pengertian saya kan Asia Timur itu Tiongkok. Padahal saya enggak ada roman-roman (ciri wajah) Tiongkok,” cetus Sultan. Herawati Supolo-Sudoyo (kanan) pakar genetika Lembaga Biologi Molekuler Eijkman memaparkan hasil tes DNA Sultan Syahrir (Foto: Dok. Historia) Rincian hasil tes DNA-nya: Asia Timur 83,04 persen, Asian Disperse (Diaspora Asia) 13,11, dan Asia Selatan 3,78 persen. Sementara, gen Timur Tengah-nya hanya 0,07 persen. Menurut pakar genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Profesor Herawati Supolo-Sudoyo, nenek moyang Sultan bagian dari migrasi Austronesia sejak empat milenium (4.000 tahun) lampau. “Gelombang migrasi ini dari Yunan (Cina Selatan) turun ke bawah. Yang sebagian besar dari orang Indonesia, terutama mereka yang tinggal di Sulawesi, adalah yang pertamakali menerima latar belakang Austronesia. Jadi Pak Sultan sesuai sekali presentasenya, 83 persen Asia Timur yang asalnya dari migrasi Austronesia dari Yunan itu,” kata Herawati. Sementara, 13,11 persen gen Diaspora Asia merupakan orang-orang dari Asia Timur yang merantau sampai ke Amerika Utara. “Kan Pak Sultan asalnya (moyangnya) dari Asia daratan tadi, nah sebagian dari yang di situ menyeberang Selat Bering masuk ke Amerika,” sambung Herawati. Sedangkan 3,78 persen gen Asia Selatannya, kata Herawati, berasal dari keturunan Bengali. “Terus yang terakhir, Middle East -nya (0,07 persen) dari Oman. Dari keturunan Bedouin (Badui). Jadi memang Pak Sultan ini genetiknya Austronesia tapi rupanya ada percampuran sedikit dari Bengali dan Bedouin.” Bedouin adalah salah satu masyarakat di Jazirah Arab yang hidup nomaden mengikuti sumber ketersediaan sumber air. Bedouin terbagi dua, satu berdiam di utara dan tengah Jazirah Arab. Mereka lantas menyebar ke Afrika Utara. Adapun kelompok kedua mengembara di wilayah selatan Jazirah Arab (Yaman, Oman), hingga kemudian menyebar hingga Asia Selatan dan Asia Tengah. Meski terkejut, Sultan bisa menerima fakta yang ada. “Saya makin yakin kita semua justru bukan berasal dari Indonesia. Jadi buat apa menganggap diri kita lebih Indonesia dari yang lain. Kalau kita mau lihat mana yang lebih Indonesia, kita bisa lihat dari dua hal: Pertama , bagaimana dia mengisi kemerdekaan? Mungkin itu klise karena seragam saya. Kedua , bagaimana dia merawat keindonesiaan kita?” sambung Sultan. Baginya, mengisi dan merawat keindonesiaan tidaklah rumit. “Apakah kita sudah manusiakan mereka dengan adil dan beradab dalam bingkai persatuan?” tandasnya.
- Leluhur Kasta Tertinggi India pada Orang Indonesia
Aryatama Nurhasyim membuka amplop berisi hasil tes DNA-nya. Dalam diagram lingkaran, ia melihat komposisi genetika leluhur Asia Timur paling dominan. Ia punya 80,85 persen gen leluhur dari wilayah Tiongkok, Korea, Hongkong, Taiwan, dan Jepang. Sementara sebanyak 18,81 persen adalah DNA moyang orang-orang Asia Timur yang menjelajah ke Amerika utara. Lalu 0,02 persen DNA leluhur Timur Tengah. Sisanya, 0,32 persen menunjukkan jejak genetis leluhur dari India-Brahmana. “Lumayan mengejutkan. Menarik yang Brahmin ini,” kata Arya. Sebelum tes DNA, Arya sudah tahu asal-usul leluhurnya memang gado-gado. Ia lahir di Jakarta. Ayahnya berasal dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Ibunya orang Riau, Kabupaten Indragiri Hulu. “Terus terang saya ini krisis identitas,” kata Arya. Menurut Arya, kakek dari pihak ayahnya masih keturunan Tionghoa di Surabaya. Sementara keluarga neneknya keturunan Bugis yang menetap di Bima selama ratusan tahun. “Tapi waktu saya tanya, bilangnya kalau di kampung itu disebut orang Gowa. Ini nggak cocok karena orang Gowa itu Makassar, Bugis bukan orang Gowa. Jadi bingung orang Bugis atau orang Makassar,” kata Arya. “Beliau (ayahnya, red. ) waktu kecil nggak pernah ketemu kakek neneknya karena sudah wafat.” Arya lalu bercerita juga kalau ibunya adalah orang Melayu Riau. Sembari mengingat, dia mengatakan, kakeknya, ayah ibunya, tinggal di Kota Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Tepatnya, di Jalan Narasinga II. Menurut penuturan sang kakek, Narasinga II adalah salah satu moyang mereka. “Narasinga adalah salah satu raja Kerajaan Indragiri. Ada makamnya juga di sana (di Jalan Narasinga II, red. ),” jelas Arya. Berdasarkan penelusurannya, Kerajaan Indragiri adalah kelanjutan dari Kerajaan Keritang yang masih punya hubungan dengan Kesultanan Malaka. “Legendanya, Sultan Malaka itu raja pertamanya Parameswara. Parameswara asalnya dari Sriwijaya di Palembang,” kata Arya. “Jadi , mungkin dari situ (DNA leluhur Brahamana didapat, red . ).” Arya bisa sedikit yakin karena melihat keluarga ibunya mempunyai profil muka yang mirip orang dari Asia Selatan. “Cenderung tulang hidungnya tinggi,” kata Arya. Seingat Arya, di rumah sang kakek ada beberapa foto dan kitab tua. Dia menduga di dalam kitab-kitab itu mungkin ada keterangan silsilah keluarganya yang lebih jelas. Sayangnya, hanya sebatas perkiraan karena buku itu tak tersentuh sejak ratusan tahun silam. “Tulisannya juga pakai huruf Jawi. Itu pun sudah tak jelas. Jadi silsilah pastinya kami nggak tahu,” katanya. Asal-Usul Genetik Brahmana di India Herawati Supolo-Sudoyo, ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, yang meneliti DNA sejumlah orang Indonesia menjelaskan, sebagaimana umumnya masyarakat yang mendiami wilayah barat Indonesia, muasal gen moyang Asia Timur dalam hasil tes Arya bisa didapat dari dua kemungkinkan. Itu bisa dari para penutur Austronesia, yang bermigrasi dari Formosa. Bisa pula dari para penutur Austroasiatik yang bermigrasi dari Asia Daratan ke Nusantara. “Nah, tapi ini yang menarik banget. Ada genetik Asia Selatan, itu dari India. Tapi Brahmin, jadi Brahmana, kasta yang paling tinggi, ya,” ujar Hera. Mengenai asal usul Brahmana di India telah lama dibicarakan para ahli. Salah satunya yang menyebut adanya berbagai gelombang imigran yang mempengaruhi struktur genetika India. Michael Bamshad, peneliti dari Departement of Pediatrics, University of Utah, dalam “Genetic Evidence on the Origins of Indian Caste Populations” termuat di Jurnal Genome Research, menyebutkan bahwa yang terbaru diperkirakan kalau orang-orang berbahasa Indo-Eropa dari Eurasia Barat memasuki India dari Barat Laut dan menyebar ke seluruh anak benua. Para imigran itu konon bercampur dengan orang-orang Dravida. Kedatangan mereka diperkirakan juga menggusur populasi penduduk asli berbahasa Dravida dari India utara ke selatan. “Mereka mungkin telah mendirikan sistem kasta Hindu dan menempatkan diri mereka pada kasta yang tinggi,” tulis Bamshad. Untuk memastikan dugaan itu, Bamshad dan timnya membandingkan DNA orang-orang Eurasia dan DNA populasi kasta di India kontemporer. Hasilnya, mereka yang berkasta tinggi memiliki kecend e rungan yang lebih dekat secara genet i k dengan orang Eropa daripada dengan orang Asia. Orang-orang berkasta tinggi secara signifikan lebih mirip dengan orang Eropa daripada mereka yang kastanya lebih rendah. Pun dari sisi bahasa. Menurut Bamshad, bahasa Indo-Eropa yang digunakan bersama, yaitu bahasa Hindi dan sebagian besar bahasa Eropa menunjukkan orang India Hindu kontemporer adalah keturunan dari orang-orang Eurasia Barat yang bermigrasi dari Eropa, Timur Dekat, Anatolia, dan Kaukasus pada 3.000-8.000 tahun lalu. Para migran nomaden itu kemungkinan memperteguh kedudukan mereka, bergabung dengan penduduk asli proto-Asia yang berbahasa Dravida. Dari sana mereka lalu mengontrol akses regional ke tanah, tenaga kerja, dan sumber daya. Kemudian mereka mendirikan Hindu dan hierarki kasta untuk melegitimasi dan mempertahankan kekuatan ini. “Masuk akal kalau para imigran Eurasia Barat ini juga menunjuk diri mereka sendiri ke dalam kasta-kasta yang berpangkat lebih tinggi,” tulis Bamshad. Jejak Brahmana India di Nusantara Tak heran jika kemudian sejarah India kuno dipenuhi oleh contoh raja-raja Brahamana. Pun Brahmana sebagai pejabat administrasi dan militer, pejuang, penyair, peramal, filsuf, penyair, dramawan, dan pemilik tanah. Padahal, tradisi membuat mereka terkesan eksklusif dan tak tersentuh urusan duniawi. Upinder Singh, mantan kepala jurusan sejarah di University of Delhi, dalam “Brahmana Settlements in Ancient and Early Medieval India” termuat di A Social History of Early India, menjelaskan bahwa Brahmana adalah orang yang melafalkan doa, memformulasikan ritual atau mantra. Namun, Brahmana India kuno adalah sosok yang enigmatik. “Ini sampai batas tertentu karena sering ada kebingungan antara Brahama ideal, yaitu ketika ia disajikan dalam teks-teks tradisi Brahmanis, dan Brahamana ketika ia menjalani kehidupannya di dunia nyata,” tulis Bamshad. Dalam tradisi veda , Brahamana muncul sebagai seorang rsi, penggubah puji-pujian dan sebagai imam upacara. Brahmana dalam Kitab Dharmasastra berdiri di puncak tatanan kasta ( varna ). Kenyataannya, Brahmana di dunia nyata lebih fleksibel. Sebagaimana dalam cerita Jataka dari kepercayaan Buddhis. Di sana bisa ditemukan seorang Brahmana yang petani, penggembala hewan, penjaja, tukang kayu, penebang pohon, pengemudi kereta, dan pembuat roda. Karenanya, tak aneh kalau para Brahmana India bisa mudah berhubungan dengan masyarakat Nusantara. Seperti kata Hera, motif kedatangan mereka bisa jadi lebih beragam. Kendati utamanya tetap sebagai pemuka agama. “Mereka juga mengajarkan pertanian, perairan,” katanya. Sedangkan menurut Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, dalam Mitra Satata: Kajian Asia Tenggara Kuna , kedatangan Brahamana bisa jadi via jalur perdagangan. Hubungan ini diperkirakan sudah terbentuk sejak awal Masehi. “Sudah tentu kaum agamawan itu sampai ke Asia Tenggara dengan menaiki perahu para pedagang,” tulis Agus. Para niagawan India tentu singgah di pantai dan daerah tertentu. Mereka kemudian menetap sementara waktu demi mencari angin baik untuk melanjutkan pelayaran. Di tempat-tempat persinggahan sementara itulah mereka sempat mendirikan bangunan, terutama bangunan suci. “Berdasarkan asumsi itu maka dapat dipahami mengapa pada awal tarikh Masehi banyak ditemukan peninggalan arkeologi yang bercorak budaya India,” lanjut Agus. Bukti keberadaan brahmana pada masa-masa awal masuknya kebudayaan India contohnya ada di dalam beberapa prasasti yupa dari abad ke-5 di Kutai, Kalimantan Timur. Bahasanya Sanskerta, aksaranya Pallawa. Jelas, Sanskerta bukanlah bahasa rakyat sehari-hari melainkan bahasa resmi keagamaan. Dengan demikian tentu telah ada golongan masyarakat yang menguasai bahasa itu, yaitu para Brahmana. Menurut Suwardono, pengajar pendidikan sejarah di IKIP Budi Utomo Malang, dalam Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha, kaum Brahmana telah menjadi golongan tersendiri di dalam masyarakat Kutai Kuno. Golongan ini diberitakan dalam salah satu prasasti yupa bahwa Raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Dalam prasasti lain, golongan itu mengadakan kenduri emas yang sangat banyak. Hampir semua prasasti menjelaskan golongan Brahmana yang mendirikan yupa sebagai peringatan kebaikan budi sang raja. Entah mereka Brahmana yang didatangkan langsung dari India atas undangan para penguasa Nusantara atau Brahamana yang diangkat dari orang-orang lokal. Sebab, menurut sejarawan Belanda, FDK Bosh, dalam teori arus balik, kedatangan Brahamana India menarik agamawan lokal berangkat ke India. Dari sana mereka kembali ke negeri asalnya dengan membawa pengetahuan baru. Kisah berabad-abad itu menunjukkan bahwa bangsa ini telah begitu lama membuka diri terhadap pendatang dan pengaruh yang dibawanya. Bahkan berkarib pula dengan mereka yang berkasta tertinggi di India. “Bagus juga tahu (DNA leluhur, red . ). Ini untuk membangun kesadaran. Orang Indonesia banyak yang nggak sadar bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat yang lebih luas,” kata Arya.
- DNA Yahudi pada Orang Indonesia
Farida Yuniar membaca empat lembar kertas hasil tes DNA. Salah satu kertas menggambarkan diagram lingkaran berisi komposisi DNA Farida. Masing-masing irisannya berbeda ukuran dan warna. Yang terbesar berwarna hijau, 67,12 persen. Irisan ini menunjukkan asal usul leluhurnya lebih dominan dari wilayah Asia Timur. Farida berusia 21 tahun, kelahiran Surabaya. Ayahnya lahir di Jakarta dari orangtua berdarah Jawa Tengah dan Sumatra. Melalui jalur ibu, darah Flores mengalir dalam dirinya. Silsilahnya menunjukkan keberagaman leluhur. Hasil tes DNA memperkuatnya. “Ibaratnya kalau benang, sudah kusut. Gak karu-karuan,” kata Farida. Komposisi DNA Farida secara berturut-turut adalah Diaspora Asia 30,41 persen, Asia Selatan (Bangladesh) 2,13 persen, dan Timur Tengah 0,34 persen. “Ini yang dari Timur Tengah itu orang Samaritan. Seperti orang Arab, orang-orang Assyria,” kata Herawati Supolo Sudoyo, ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, yang meneliti DNA sejumlah orang Indonesia. Dia memandu Farida memahami asal-usul gennya. Orang Samaritan lahir dari percampuran orang Yahudi dan Assyria pada abad ke-7 SM. Kala itu, orang Assyria menduduki wilayah orang Yahudi di Kerajaan Israel Utara. Sebagian besar orang Yahudi terusir, sisanya menetap dan kawin campur dengan orang Assyria. DNA Samaritan juga terdapat pada Budiman Sudjatmiko dan Hasto Kristiyanto, politisi PDI Perjuangan. Akhmad Sahal, kandidat doktor University of Penninsylvania, menanyakan bagaimana orang Samaritan menyusup ke DNA orang Indonesia. Dia curiga jangan-jangan yang dimaksud Samaritan dalam hasil tes DNA adalah orang Yahudi. “Tapi kalau disebut Yahudi kan kontroversial,” kata Sahal. Yahudi di Nusantara Kemungkinan DNA orang Yahudi masuk ke Indonesia sangat besar. Kehadiran orang Yahudi di kepulauan Nusantara bersanding dengan kemunculan jaringan perdagangan antara Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok. Abu Zayd Hasan al-Sirafi, seorang pelancong Muslim, menyebutkan peristiwa pembantaian oleh pemberontak Dinasti Tang, Huang Chao, pada abad ke-7 di Pelabuhan Guangzhou, Tiongkok. Sasarannya tak hanya pendukung Dinasti Tang, melainkan juga orang Muslim Arab, Persia, dan Yahudi. Pelabuhan Guangzhou menghubungkan perdagangan Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok. Jika ada rombongan dagang dari sini ingin menuju Timur Tengah, India, dan wilayah Asia Tenggara, mereka harus melewati Semenanjung Malaya. Di sini rombongan dagang akan tinggal sementara waktu untuk menunggu angin muson ke arah barat. Lamanya sekira enam bulan. Peluang penciptaan komunitas-komunitas berbasis etnik di Semenanjung Malaya pun mengada. “Jadi, kehadiran Yahudi bisa jadi sudah cukup lama di perairan ini sekalipun belum ada bukti-bukti sejarah yang konklusif,” ungkap Leonard C. Epafras dalam “Yahudi Nusantara Realitas Sejarah dan Dinamika Identitas” termuat di Jurnal Religio Volume 03 Nomor 02 Tahun 2013. Bukti kehadiran Yahudi di Kepulauan Nusantara secara terang termaktub dalam catatan Buzurg ibn Syahriyaar al-Ramhurmuzii, kapten kapal Persia pada abad ke-10. “Dalam jurnalnya yang berjudul Kitaab ‘Ajaaib al-Hind (Buku Keajaiban Hindia), menceritakan tentang aktivitas seorang pedagang Yahudi dari Oman yang bernama Ishaq ibn al-Yahuudii, ‘Ishaq si Yahudi’,” tambah Epafras. Ishaq sempat singgah di Sribuza atau Sriwijaya, sekarang wilayah Sumatra Selatan. Ishaq hendak menuju Tiongkok. Tapi dia bermasalah dengan penguasa tempatan. Buzurg tak menyebut secara jelas apa masalahnya. Dia hanya menceritakan bahwa Ishaq kena denda 20.000 dinar sebelum melanjutkan perjalanannya. Ishaq enggan membayar. Penguasa tempatan naik pitam dan membunuhnya. Catatan Buzurg tadi belum menggambarkan tentang percampuran orang Yahudi dengan penduduk tempatan. Tapi catatannya telah menegaskan tentang adanya interaksi orang Yahudi dengan penduduk Nusantara. Dan Sumatra adalah pintu gerbangnya. Ini ditegaskan lagi oleh Rusmin Tumanggor dalam Gerbang Agama-Agama Nusantara: Hindu, Yahudi, Ru-Konghucu, Islam, Nasrani: Kajian Antropologi Agama dan Kesehatan di Barus. “Dalam kurun waktu yang lama kota Barus telah banyak dikunjungi oleh berbagai suku bangsa dari berbagai negara. Mereka adalah pengembara dari Cina, Yahudi, India dan Arab,” catat Rusmin. Barus merupakan kota pelabuhan dagang di Sumatra Utara. Ekspornya bernama Kapur Barus yang berguna sebagai pengawet jenazah. Sohor hingga mancanegara sejak seribu tahun lalu. Percampuran Yahudi dengan penduduk Nusantara mulai terlihat pada abad ke-15. Thigor Anugrah Harahap, alumnus Program Studi Arab Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, menyatakan orang-orang Yahudi telah menetap di wilayah Sulawesi. “Di wilayah ini, dipercaya terdapat banyak menetap orang-orang Yahudi Marrano ,” kata Thigor yang pernah meneliti Komunitas Yahudi di Indonesia. Hasilnya dia tuangkan dalam Menelusuri Komunitas Yahudi di Indonesia . Thigor menambahkan, orang-orang Yahudi Marrano di Sulawesi bahkan masih ada keturunannya hingga sekarang. Yahudi Marrano adalah orang Yahudi beragama Katolik dari Spanyol atau Portugis. Mereka meninggalkan agama Yudaisme tersebab paksaan dari pengadilan Gereja Katolik Roma. Masa pemaksaan ini dikenal dengan sebutan Masa Inkuisisi. Meski telah memeluk Katolik, diskriminasi dan tekanan tetap menyasar ke Yahudi Marrano. Yahudi Marrano tidak betah tinggal di Spanyol atau Portugis. Mereka memilih ikut rombongan para penjelajah Samudra ke wilayah Asia Tenggara. Di sini mereka membangun kehidupan baru dan beranak-pinak. Sebagian kembali menganut Yudaisme, lainnya tetap memilih Katolik. Ada juga keturunan Yahudi pemeluk Islam. Diaspora Yahudi Keberagaman agama keturunan Yahudi menunjukkan bahwa identitas Yahudi bisa memadat, mencair, mengental, bercampur, menghilang, atau berganti identitas baru. “Identitas seseorang atau sekelompok orang juga tidak tunggal melainkan jamak dan berlapis. Pemaknaannya bergeser sesuai dengan konteks zaman, tempat, dan kondisi relasi antar-kelompok,” ungkap Epafras. Pergerakan identitas orang Yahudi bertaut erat dengan sejarah diaspora dan migrasi mereka. Diaspora beririsan dengan migrasi, tetapi tidak sepenuhnya sama. “Tidak semua orang yang bermigrasi dapat dikatakan berdiaspora. Ada tiga kriteria khusus yang membedakan diaspora dengan migrasi manusia,” kata Thigor. Kriteria pembeda diaspora dan migrasi adalah dispersion , homeland orientation , dan boundary maintenance . Dispersion berarti bertebaran di tempat berbeda. Homeland orientation bermakna adanya ingatan khusus tentang kampung halaman mereka sebagai sumber nilai, loyalitas, dan identitas. Boundary maintenance berhubungan dengan segala upaya merawat budaya atau tradisi kampung halaman di tempat baru. Diaspora dan migrasi orang Yahudi bermula dari serangan pasukan Nebuchanedzzar dari Babilonia ke Kerajaan Yehuda pada 587 SM. Kerajaan Yehuda merupakan bagian dari Kerajaan Israel Selatan. Pendirinya suku Yehuda, keturunan Solomon dan David. Serangan itu memaksa sebagian suku Yehuda bermigrasi. Ketika Cyrus Agung dari Persia menguasai Babilonia pada 539 SM, suku Yehuda beroleh izin pulang ke tanah kelahirannya. “Kerajaan anak-anak Israel lahir kembali dan mereka kali ini menyebut diri mereka sebagai orang-orang Yehuda atau Yahudi yang kita kenal saat ini,” terang Thigor. Masa itu orang-orang Yahudi masih memiliki ciri fisik spesifik. Menurut Carl C. Seltzer dalam The Jew-His Racial Status , perawakan orang Yahudi berbadan cenderung pendek, pigmen kulit berwarna coklat, rambut hitam atau kecoklatan, mata coklat, kulit beragam dari putih hingga coklat muda, rambut bergelombang dan keriting, kepala panjang dan melancip, hidung mancung agak menungging ( the jewish nose ), dan wajah berbentuk oval. Komposisi biologis orang Yahudi berubah seiring kedatangan orang-orang Yunani pada 400—104 SM. Serentang itu terjadi banyak pernikahan silang. Sementara suku Yehuda di perantauan pun juga menikah silang. Keturunannya jelas memiliki ciri fisik berbeda dari leluhurnya. Juga tradisi dan agama yang tidak lagi sama dengan suku Yehuda di Israel. Serangan terhadap kerajaan Israel berulang kembali pada 70 M. Kali ini orang-orang Romawi mengusir Yahudi dari kampung kelahirannya. Sejak itulah orang Yahudi bertebaran dari wilayah Asia Minor, utara Afrika, hingga Eropa. Orang Yahudi mendekam lama di wilayah tersebut, di bawah kuasa pelbagai dinasti dan kekaisaran. Dari Islam, Katolik Roma, Arab, Mameluk, sampai Spanyol. Hingga muncul masa pemikiran modern tentang negara dan bangsa. Mereka pun mengkreasi ulang ke-Yahudi-annya. Misalnya keturunan Yahudi di Utara Amerika mengakui dirinya sebagai warga negara Amerika Serikat setelah 13 negara bagian mendeklarasikan negara Amerika Serikat pada 1776. Begitu pula ketika meletus Revolusi Prancis pada 1789. Keturunan Yahudi memperoleh kewarganegaraan Prancis. Di Hindia Belanda pada abad ke-19, keturunan Yahudi termasuk golongan Eropa. Kebangsaannya beragam. “Mereka itu terdiri dari Yahudi Belanda, Yahudi Jerman, Yahudi Belgia, Yahudi Turki, Yahudi Portugis, Yahudi Polandia, Yahudi Austria, Yahudi Rusia, Yahudi Rumania, Yahudi Hungaria, dan Yahudi Armenia,” catat Romi Zarman dalam Di Bawah Kuasa Antisemitisme Orang Yahudi di Hindia Belanda (1861—1942 ). Semua kenyataan di atas menunjukkan kompleksitas orang Yahudi dan keturunannya. Tak pernah ada identitas tunggal pada orang Yahudi. Ketidaktahuan Sejarah Yahudi Sikap anti-Semitisme atau kebencian mendalam terhadap orang Yahudi lahir dari ketidaktahuan tentang sejarah mereka. Di Indonesia, anti-Semitisme juga mewabah. Bahkan orang Yahudi kerap salah diidentifikasi. Identitas mereka tumpang tindih dengan Zionisme, Yudaisme, Israel, dan tarekat Freemason . Padahal kelimanya berbeda. “Lahirnya gerakan Zionisme tidak ada sangkut pautnya dengan agama Yahudi. Faktor pendorong utama adalah keberadaan Yahudi hanya sebagai golongan etnis berstatus pariah,” tulis Martin van Bruinessen dalam “Yahudi Sebagai Simbol dalam Wacana Islam Indonesia Masa Kini”. Seseorang bisa mendukung atau menolak Zionisme tanpa harus dia punya hubungan sebagai Yahudi atau tidak. Yudaisme merupakan agama monoteis dan muncul pada masa Abraham, moyang orang Yahudi, 4000 tahun lalu. Yudaisme memang salahsatu pembentuk ke-Yahudi-an. Seseorang yang tidak berdarah Yahudi bisa memeluk agama ini. Setelah melalui serangkaian upacara, mereka akan ditahbiskan sebagai orang Yahudi. Israel adalah negara yang muncul di atas fondasi Zionisme, sedangkan Freemason merupakan organsasi rahasia dengan penekanan lebih pada nilai kemanusiaan universal ketimbang nilai religius tradisional. Anggota Freemason terdiri atas aneka rupa bangsa dan pemeluk agama. Organisasi ini berulangkali dituding memiliki serangkaian rencana untuk menguasai dunia. Dan tokoh dibaliknya sering disebut sebagai orang Yahudi. Kemunculan Zionisme dan Freemason mendorong sebilangan orang membuat Teori Konspirasi tentang kejelekan dan kejahatan orang Yahudi. Ketidakmampuan mengidentifikasi Yahudi sekaligus mencampuradukannya dengan hal-hal di luar Yahudi membuat sesuatu yang bersangkutan dengan Yahudi menjadi kontroversial di Indonesia. Entah itu orang Yahudi, keturunan Yahudi, atau seseorang yang punya DNA Yahudi. Sejarah menunjukkan bangsa ini telah berkarib lama dengan orang Yahudi. Orang Yahudi pun memiliki keberagaman identitas. Sama seperti penduduk Nusantara.
- Sabri dan Jejak Leluhur Asia Timur pada Orang Jawa
Siapa pun yang mendengar Swastika Noorsabri bicara pasti akan menebak ia berasal dari Jawa. Gaya bicaranya medhok. Apalagi dia lahir dan besar di Kota Yogyakarta. Begitu pula ayah, ibu, kakek, dan neneknya, berasal dari suku Jawa. “Eyang buyut yang saya ketahui dari ibu itu (asalnya, red. ) Semarang. Itu cerita yang saya dengar. Kalau ayah dari Purworejo,” kata Sabri. Sabri bercerita, kakek dari pihak ayah adalah kepala Desa Wingkoharjo di Purworejo. Namanya Kartowiryo atau biasa disebut Lurah Kartowiryo.Kakeknya menikahi neneknya yang berbeda desa, tetapi masih di wilayah Purworejo. Simbah putrinya itu, dipanggil Sulaibah, berprofesi sebagai pedagang.Sementara kakek dari pihak ibu berasal dari Semarang. Nama kecilnya Basirun. Ayahnya Basirun, atau kakek buyut Sabri, bernama Mbah Delan. Baik Kakek buyut maupun sang kakek, keduanya pegawai Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada zaman Belanda. “Memang ada sertifikat semacam itu yang besar ditempel di dinding,” kata Sabri. Kalau nenek Sabri dari pihak ibu berasal dari Solo. “Leluhurnya dari Solo tapi begitu pecah Perang Diponegoro, leluhur saya ini kemudian mengungsi ke Semarang,” ujar Sabri. Kendati seluruh keluarganya hidup di Jawa sejak lama, Sabri cukup heran dengan bentuk hidung dan mata kakeknya. “Ada yang hidungnya mancung. Ini mungkin ada keturunan Arab atau sekitar-sekitar situ,” kata Sabri. “Lalu kalau melihat bentuk mata adik saya dan saya sendiri yang tidak terlalu belo' , saya juga punya pikiran pasti ada campuran dari daerah Asia Timur.” Untuk menyudahi rasa penasarannya, Sabri pun mendaftar tes DNA lewat Proyek DNA Asal Usul Orang Indonesia garapan historia.id . Siapa yang menduga, kalau lebih dari separuh DNA Sabri membawa jejak leluhur dari Asia Timur, yaitu sebesar 78,45 persen. Sisanya sebagian dari DNA orang-orang Asia yang menyebar, dari Timur Tengah, tepatnya Irak-Kurdi, dan sebagian lagi dari Asia Selatan. Migrasi Austronesia Herawati Supolo-Sudoyo, ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, yang meneliti DNA sejumlah orang Indonesia, menjelaskan bahwa gen Asia Timur dalam hasil tes DNA Sabri bisa berasal dari Tiongkok, Taiwan, Vietnam, Filipina, Korea, Malaysia, atau Macau di Hongkong. “Jika melihat dari perjalanan DNA-nya, kan dari utara. Saya mengira Asia Timur yang dimaksud di sini adalah mereka yang berbahasa Austronesia,” kata Hera. Austronesia merupakan rumpun bahasa yang mencakup sekira 1.200 bahasa . Dituturkan oleh populasi yang mendiami kawasan lebih dari setengah bola dunia. Sebarannya meliputi Madagaskar di ujung barat hingga Kepulauan Paskah di ujung timur Pasifik, serta dari Taiwan-Mikronesia di batas utara hingga Selandia Baru di batas selatan. Sebaran Bahasa Austronesia di dunia. Menurut Peter Bellwood, dosen arkeologi di School of Archaeology and Anthropology Australian National University, dalam Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia, para penutur Austronesia muncul 7.000-6.000 tahun yang lalu di Taiwan. Pada 5.000 tahun yang lalu mereka kemudian menyebar ke berbagai bagian dunia. Itu sambil membawa budaya khas neolitik, yang cirinya hidup menetap, bertani, dan beternak. Di Indonesia, penutur Austronesia hadir sejak 4.000 tahun yang lalu. Secara genetis, menurut Hera, datangnya penutur Austronesia ini adalah gelombang ketiga dari empat gelombang migrasi yang masuk ke Nusantara. Mereka adalah sekelompok orang yang berkelana dari Cina Selatan (Yunan) menyebar ke Taiwan, Filipina, sampai ke Sulawesi dan Kalimantan. “Ini yang teori Out of Taiwan, termasuk dari Tiongkok daratan masuk Formosa lewat Filipina turun ke Kalimantan, yang ke barat menyebar sampai ke Madagaskar, yang ke timur menyebar ke Papua sampai ke Polinesia,” jelas Hera. Menurut Peter Bellwood, dosen arkeologi di School of Archaeology and Anthropology Australian National University, dalam Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia, para penutur Austronesia muncul 7.000-6.000 tahun yang lalu di Taiwan. Pada 5.000 tahun yang lalu mereka kemudian menyebar ke berbagai bagian dunia. Mereka membawa budaya khas neolitik, yang cirinya hidup menetap, bertani, dan beternak. Di Indonesia, penutur Austronesia hadir sejak 4.000 tahun yang lalu. Secara genetik, menurut Hera, penutur Austronesia datang pada gelombang ketiga dari empat gelombang migrasi yang masuk ke Nusantara. Mereka adalah sekelompok orang yang berkelana dari Cina Selatan (Yunan) menyebar ke Taiwan, Filipina, sampai Sulawesi dan Kalimantan. “Ini yang teori Out of Taiwan, termasuk dari Cina Daratan masuk Formosa lewat Filipina turun ke Kalimantan, yang ke barat menyebar sampai ke Madagaskar, yang ke timur menyebar ke Papua sampai ke Polinesia,” kata Hera. Migrasi Austroasiatik Namun, ada jejak lain jika melihat hasil tes yang menyebut Vietnam sebagai asal usul gen Asia Timur Sabri. “Vietnam itu biasanya masuknya lewat Asia Tenggara daratan ketika Paparan Sunda masih jadi satu. Itu dari migrasi gelombang kedua,” kata Hera. Migrasi ini, kata Hera, terjadi lebih dulu dibanding migrasi Austronesia. Dari asalnya di Yunan, mereka tak pergi ke Taiwan tapi langsung ke selatan menuju Asia Tenggara Daratan, seperti Vetnam dan Kamboja, menyusuri Semenanjung Malaya hingga ke Sumatra, Jawa, dan Kalimantan . “Jadi ini (leluhur Asia Timur Sabri, red . ) kalau bukan mereka yang berbahasa Austronesia, juga bisa Austroasiatik,” kata Hera. Jalur migrasi penutur Austroasiatik dan Austronesia ke Nusantara. Austroasiatik adalah rumpun bahasa yang berbeda. Namun diduga bahasa itu berasal dari satu rumpun yang sama dengan Austronesia. Truman Simanjuntak, arkeolog senior di Pus at Pene lit ian Arke ologi Nas ional dalam “The Western Route Migration: a Second Probable Neolithic Diffusion to Indonesia” termuat di New Perspectives in Southeast Asian and Pacific Prehistory , menjelaskan baik bahasa Austronesia maupun Austroasiatik, keduanya berasal dari bahasa Austrik yang dipakai di Yunan. Bahasa itu kemudian terpecah dan berkembang masing-masing. Bahasa Austroasiatik digunakan di sekitar Asia Tenggara Daratan. Sedangkan Bahasa Austronesia digunakan di sekitar wilayah kepulauan, seperti Taiwan, Filipina, Pasifik, Madagaskar, hingga Pulau Paskah, sesuai persebarannya. Kedua bahasa itu disebarkan oleh ras Mongoloid. Secara arkeologis, kelompok penutur Austroasiatik, yang kemungkinan menjadi leluhur Sabri itu, berpindah lebih dulu ke Nusantara. Mereka mulai migrasi ke Nusantara sekira 4.300–4.100 tahun lalu. Mereka diperkirakan sebagai pembawa budaya Neolitik ke Nusantara.Salah satu hasil budayanyaadalah tembikar berhias tali. “Sementara Austronesia bisa ditandai dengan hasil budaya gerabah berslip merah,” catat Truman. Rupanya, penutur Austronesia lebih bisa mempengaruhi penutur Austroasiatik yang sudah lebih dulu di Nusantara. Seluruh masyarakat pun akhirnya berbahasa Austronesia. Kemampuan mengadaptasikan diri terhadap lingkungan kepulauan memungkinkannya terus berkembang hingga menurunkan keragaman etnis bangsa Indonesia sekarang. “Kita adalah mereka yang berbahasa Austronesia,” kata Hera. DNA Menjawab Bagi Hera, hasil tes yang diterima Sabri tak mengherankan. Sebelumnya, ia pernah pula membuktikannya melalui studi genetika. Dia melakukan rekonstruksi dari 50.000 tahun pergerakan populasi manusia Nusantara dengan melibatkan 70 populasi etnik dari 12 pulau menggunakan penanda DNA. “ P ada orang Jawa dominan Autroasiatiknya, Khmer, orang-orang itu yang duluan masuk ke Jawa. Baru yang tadi (Austronesia, red . ) dari Formosa atau Taiwan turun . Dua gen itu yang berpengaruh,” kata Hera. Dugaan Sabri pun tak sepenuhnya salah. Asal usul hidung mancung kakeknya termaklumi dengan adanya jejak genetis leluhur dari Asia Selatan dan Kurdi. "Asia Selatannya dari Bangladesh, khususnya Suku Bengali,” kata Hera. “Sepengetahuan saya Suku Bengali memang ada yang pergi ke Indonesia untuk berdagang. Jadi wajar apalagi ibunya Semarangan. Itu pelabuhan besar sekali.” Pun terjawab sudah alasan bentuk matanya, yang bagi Sabri, tak belo’. Rupanya punya leluhur Jawa, lahir dan besar di Yogyakarta, berbicara dengan aksen medhok pun tak melepasnya dari jejak leluhur pendatang pada ribuan tahun silam. Akhirnya memang tak ada yang namanya DNA 100 persen murni Indonesia.
- Terpaksa Ganti Uang Negara yang Dipakai Foya-Foya
BAGI petualang seperti Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang kemudian menjadi pengusaha berjuluk “Raja Mobil Indonesia” dan sahabat Bung Karno, menjadi ajudan presiden atau birokrat di sekretariat wakil presiden sama-sama menyiksanya. Keduanya amat monoton dan membunuh dinamika kehidupannya. Itulah yang dirasakan Hasjim di ibukota Yogyakarta pada awal 1946. “Aku sudah jemu di kota itu. Aktivitasku mandek. Dengan Ford Cabriolette-ku aku hanya mondar-mandir tanpa arti, selain mengantarkan pejabat negara sampai menteri yang mau bepergian ke luar kota,” kata Hasjim dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Maka begitu KSAL Laksamana M. Nazir mengajaknya ikut menginspeksi pangkalan AL di Tegal dan Cirebon, Hasjim langsung mengiyakannya. “Setidak-tidaknya aku akan meninggalkan Kota Yogya yang menjemukan itu untuk beberapa hari,” sambungnya. Menggunakan mobil pribadi Hasjim, mereka mengunjungi Tegal selama dua hari dan Cirebon juga dua hari. Darwis Djamin, panglima AL Tegal, ikut menemani ke Cirebon. Pada malam terakhir, Hasjim diajak Nazir berunding dengan Darwis. Hasjim diminta menyelundupan persenjataan, obat-obatan, spare part kendaraan, dan kain untuk kebutuhan AL di Tegal. Sejak Jakarta dinyatakan sebagai kota tertutup, AL Tegal kesulitan mendapatkan barang-barang itu. Kedua perwira AL itu sepakat melakukan penyelundupan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sebagaimana dilakukan pejuang lain di berbagai tempat untuk menyiasati blokade yang diterapkan Belanda. Di AL, Laksamana John Lie merupakan nama penyelundup paling populer. Aksi John Lie bahkan sampai masuk Majalah Life . “John Lie disebut sebagai The Great Smuggler with the Bible ,” tulis Julius Por dalam Laksamana Sudomo, Mengatasi Gelombang Kehidupan . Kendati sempat ragu, Hasjim akhirnya menerima tugas itu. Banyaknya kenalan yang dimilikinya, besarnya akses ke petinggi republik, dan keinginannya meninggalkan Jogja menjadi alasan penerimaan tugas itu. Berbekal surat Muhammad Said, kepala bagian logistik markas AL Tegal, kepada seorang Cina di Perusahaan Lip Seng & Co di Glodok yang biasa memasok kebutuhan AL Tegal, Hasjim memulai petualangannya ke Jakarta dengan menumpang keretaapi isitmewa yang membawa rombongan PM Sjahrir. Segera setelah tiba di Jakarta, Hasjim ke Glodok. Dari orang Cina itu Hasjim menerima setumpuk uang Jepang yang kemudian ditolak Hasjim karena AL Tegal lebih memerlukan uang NICA yang kala itu disebut Uang Merah. Uang itu berlaku di semua tempat yang diduduki Belanda. Namun karena tidak mudah menyediakan Uang Merah, Hasjim baru memperolehnya seminggu kemudian sejumlah f 10 ribu alias jauh dari yang dibutuhkan pangkalan AL Tegal. Namun, petualangan paling menantang Hasjim sesungguhnya adalah ketika menyelundupkan senjata ke Tegal. “Mendapat barang-barang kebutuhan angkatan laut sebagaimana ia dipesankan tidak begitu sulit di Jakarta. Membawanya keluar dari Jakarta cukup sulit. Karena setiap jalan ke luar kota dijaga dengan berlapis-lapis. Penjagaan militer Inggris tidaklah masalah. Akan tetapi cegatan-cegatan serdadu NICA yang suka berpatroli sangat berbahaya,” kata Hasjim. Hasjim pantang menyerah menghadapi rintangan. Dengan putar otak dan bantuan kenalan-kenalannya di berbagai tempat, Hasjim akhirnya sukses melakoni perannya. Mulai peluru, revolver, hingga granat menjadi suplai rutinnya ke Tegal. Terlebih ketika dia sudah diberi jalan oleh sahabatnya, pengusaha Agus Dasaad. Namun, tetap saja Hasjim pernah gagal. Mayoritas disebabkan oleh ulah “orang-orang sendiri” yang tak amanah atau tak kuat godaan. Salah satu kegagalan itu terjadi saat Hasjim menitipkan beberapa ribu Uang Merah kepada seorang kawannya untuk diserahkan kepada Mayor Tumbelaka, petinggi AL di Jakarta. Uang itu ternyata tak sampai tujuan. Lantaran tak ingin nama baiknya tercoreng, Hasjim langsung mencari kawan itu. Di Karawang, Hasjim hanya mendapat informasi kawan itu sudah dua hari berangkat ke Jogja. Lewat bantuan Syamsudin rekannya, Hasjim akhirnya menemui kawan itu di sebuah tempat di Jogja. Sambil marah-marah, Hasjim menanyakan kenapa uang itu tidak disampaikannya kepada Mayor Tumbelaka. “Telah habis, Sjim. Ketika kami bersama-sama ke Solo dan Malang,” jawab kawan itu sambil ketakutan. Hasjim pun makin naik pitam. “Bukan peluru dan granat yang aku suruh bawa padamu. Tapi uang. Kau hambur-hamburkan uang negara itu pada cabo-cabo. Dengan apa akan kau ganti? Atau aku yang harus mengganti uang yang kau foya-foyakan itu?” Semua orang di ruangan pun terdiam ketakutan. Namun, kemarahan itu tak membuat Hasjim terlepas dari nahas. Kendati tak sedikit pun merasakan nikmat uang itu, dia tetap mesti bertanggung jawab mengganti uang negara yang ludes itu. “Untuk mengganti uang itu, aku terpaksa melepaskan sedan Vauxhall-ku pada Mayor Tumbelaka.”
- Imajinasi Yamin Tentang Papua
MOHAMMAD Yamin adalah sosok di balik konsep teritorial Indonesia Raya yang kita anut sampai hari ini. Dari Sabang yang terletak di ujung utara Aceh sampai Merauke di Papua bagian selatan. Meliputi lima pulau besar: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Dari kawasan itulah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentang. Gagasan ini setidaknya terjejaki ketika Yamin berpidato dalam sidang perdana BPUPKI pada 31 Mei 1945. “Kelima daerah itu kita namai daerah yang delapan: Sumatra, Malaya, Borneo, Jawa, Sulawesi, Sunda Kecil, Maluku dan Papua," kata Yamin sebagaimana termaktub dalam Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 29 Mei 1945—19 Agustus 1945 . Soal Papua, Yamin yakin betul wilayah di ujung timur ini bagian dari Indonesia. Yamin mendasarkan pendapatnya atas telaah di masa silam. Menilik sejarah 1000 tahun kebelakang, Yamin mengatakan Papua telah bersatu dengan tanah Maluku maka dengan sendirinya Papua bersatu-padu dengan Indonesia. Argumentasi Yamin diuji dalam debat sidang kedua BPUPKI 10—11 Juni 1945. “Papua Barat adalah wilayah Indonesia. Menurut paham Indonesia sebahagian besar daripada pulau Papua adalah masuk lingkungan tanah dan adat Kerajaan Tidore, sehingga dengan sendirinya daerah itu benar-benar daerah Indonesia,” kata Yamin. Yamin memulai pertarungan gagasannya dengan dasar historis. Pada abad 18, Papua pernah menjadi vassal Kesultanan Tidore di Maluku. Selain itu, Yamin menempatkan Papua ke dalam memori kolektif perjuangan; tempat penyemaian kemerdekaan. Salah satu wilayah Papua yaitu Boven Digul di Merauke pernah dijadikan penjara pengasingan bagi aktivis pergerakan Indonesia yang menentang kolonialisme. Bagi Yamin, melepas Digul keluar dari Indonesia berarti melanggar perasaan keadilan dan mengingkari perjuangan. Yamin juga mendasarkan klaimnya atas pehitungan geopolitik. Menurutnya letak geografis Papua sangat strategis. Kepulauan Papua adalah gerbang utama menuju lautan Pasifik. “Jadi dengan paham geopolitik kita tidak dapat memberikan lompatan ini kepada kekuasaan lain sehingga untuk menyempurnakan daerah yang berarti kuat dan abadi, perlulah pulau Papua seluruhnya dimasukkan kedalam Republik Indonesia,” terang Yamin. Demikianlah Yamin menguraikan imajinasinya tentang Papua secara historis, politik, dan geopolitik. Di kalangan anggota BPUPKI, figur Yamin cukup diperhitungkan. Sederet pengakuan intelektual memang melekat dalam dirinya. Yamin seorang ahli hukum tata negara terkemuka, sejarawan yang pakar soal Kerajaan Majapahit, dan juga budayawan yang terpikat kultur Jawa. Tidak pelak, ide Yamin tentang teritorial negara Indonesia mendapat banyak dukungan, termasuk dari Sukarno. “Masalah teritorial telah ditekankan dengan keras oleh Mohammad Yamin, yang kemudian menjadi salah seorang tokoh ideologi yang lebih cemerlang dibanding Sukarno,” tulis John David Legge dalam Sukarno Biografi Politik . Meski demikian adu pendapat terjadi pula. Yamin berbantah dengan Mohammad Hatta mengenai Papua. Hatta melihat kecenderungan ultra-nasionalis dalam pandangan Yamin merujuk penyatuan bangsa Jerman yang terkenal dengan prinsip “ Kultur und Boden ”. Jadi, Hatta menolak integrasi Papua sebelum ada bukti yang benar-benar sahih menyatakan Papua sebangsa dengan Indonesia. Dalam tinjauan keilmuannya, Hatta hanya bersedia mengakui Papua sebagai bagian dari bangsa Melanesia. Pada akhirnya perdebatan yang menyoal batas wilayah negara - khususnya Papua - ditentukan lewat pemungutan suara. Opsi Indonesia Raya ala Yamin menang dengan perolehan 39 suara. Opsi Hatta yang merumuskan wilayah Indonesia terdiri dari Hindia Belanda plus Malaya kalah telak setelah cuma meraup 6 suara. Menurut sejarawan Restu Gunawan penulis buku Mohammad Yamin dan Cita-cita Persatuan , Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 diterjemahkan oleh Yamin sebagai lanjutan dari Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Untuk itu, dalam masalah wilayah harus mengacu pada kitab-kitab lama. Rujukan utama Yamin adalah Negarakretagama karya Mpu Prapanca yang menyebut kekuasaan imperium Majapahit membentang sampai Papua. “Jadi Indonesia merdeka harus meliputi wilayah tersebut. Hal itu juga didukung oleh Sukarno sedangkan Hatta tidak setuju dan menyarankan supaya urusan Papua diserahkan kepada masyarakatnya untuk memilih sendiri bergabung atau tidak. Tetapi hasil sidang BPUPKI menyatakan wilayah Indonesia dari Sabang sampai Papua,” kata Restu kepada Historia . Selepas pengakuan kedaulatan, Papua jadi tanah sengketa antara Indonesia dengan Belanda. Yamin tetap konsisten pada gagasannya semula: memperjuangkan kedaulatan Republik sampai Papua. Pada 1956, Yamin menerbitkan buku yang berjudul Perdjuangan Irian Barat atas Dasar Proklamasi untuk meng- counter propaganda Belanda sekaligus bahan doktrin kepada rakyat Indonesia. Dalam karyanya itu, Yamin menguraikan tuntutan rakyat Indonesia atas wilayah Papua berdasarkan 7 dasar: Proklamasi Kemerdekaan, Mukadimah Konstitusi 1945, Piagam Pengakuan Kedaulatan 1949, pengertian kekuasaan de facto atas Irian Barat, Resolusi Indonesia dan Argentina-India di PBB 1954, Putusan Konferensi Panca Negara di Bogor 1954, dan Putusuan Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955. Presiden Sukarno mengangkat Yamin sebagai Kepala Penerangan Pembebasan Irian Barat pada 1962. Betapa besar hasrat Yamin mewujudkan Indonesia Raya yang didambakannya. Sayangnya, Yamin tidak sempat menyaksikan Sang Merah Putih berkibar di Papua. Yamin keburu wafat pada 17 Oktober 1962. Sementara Papua baru masuk ke dalam negara Indonesia pada 1 Mei 1963.
- Seperti Grace, Solihin Punya Gen Afghanistan
Solihin, seorang pedagang gorengan di Tanah Abang, Jakarta Pusat, tak menyangka punya gen yang sama dengan Grace Natalie, Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Indonesia. Solihin memiliki 0,05% DNA Afghanistani, sedangkan Grace mempunyai 0,01% DNA Afghanistani. Solihin adalah salah satu responden Proyek DNA Historia. Laki-laki berusia 52 tahun ini merantau ke Jakarta sejak tahun 1989. Kampungnya berada di Randu Dongkal, Pemalang, Jawa Tengah. Setahu Solihin, jejak leluhurnya yang bisa ia ketahui berasal dari kampung yang sama. “Kalau kakek dan nenek dari Pemalang, Randu Dongkal. Waktu saya kecil nenek buyut sudah meninggal, jadi (kalau buyut) kurang tahu,” sebutnya. Meski demikian, sebelum tes DNA, Solihin sendiri sempat menebak bahwa ia memiliki darah orang Timur Tengah. “Kalau suku di Indonesia, tergantung wilayahnya. Kalau dari Pulau Jawa kelihatannya ada yang dari Timur Tengah, ada yang dari Afrika. Kelihatannya (saya) dari Timur Tengah. Dari item sama hidung mancung gitu aja,” kata Solihin sambil tertawa. Setelah dites DNA, hasilnya memperlihatkan bahwa Solihin memiliki gen nenek moyang dari Afghanistani. Afghanistani merupakan sebutan untuk etnis yang sebagian besar berada dalam wilayah negara Afghanistan sekarang, sebuah negeri dengan sejarah panjang pendudukan aneka bangsa. Dari pasukan Iskandar Zulkarnain dari Makedonia (sekarang wilayah utara Yunani) pada 330 SM, gerombolan Jenghis Khan asal Mongol pada abad ke-13, tentara Inggris pada abad ke-19, serdadu Uni Soviet pada 1979, hingga prajurit Koalisi pimpinan Amerika Serikat pada 2001. Orang-orang dari luar Afghanistan biasanya tak lama menduduki wilayah itu. Namun, pernikahan silang tetap terjadi terutama pada masa penyebaran agama Islam. Generasi-generasi baru pasca itu ke m udian memiliki darah campuran. Keturunan-keturunan mereka di kemudian hari juga sampai ke Nusantara untuk menyebarkan Islam. Di kepulauan tropis ini, terjadi lagi kawin silang. Selain sedikit DNA Afghanistani, Solihin memiliki DNA Asia Tmur yang dominan, yakni 86,78% serta DNA Dispersed Asia atau DNA orang dari wilayah Asia Timur dan Asia Selatan yang bermigrasi ke Amerika Utara sebesar 12,68 %. Ia juga ternyata memiliki DNA Asia Selatan yakni India-Bhutia sebesar 0,48%. Menurut Barbara A. West dalam Encyclopedia of the Peoples of Asia and Oceania , Bhutia merupakan kelompok etnis dominan di negara Bhutan. Sebagian orang Bhutia juga tinggal di Nepal dan wilayah Sikkim dan Benggala Barat, India. Bhutia sendiri awalnya berasal dari Tibet. Dari Tibet, mereka bergerak menjauh dari wilayah itu sekitar awal abad kesembilan. Namun, mitologi Bhutan menyatakan bahwa bhikkhu pertama yang melarikan diri dari tanah kelahirannya di Tibet, mendirikan biara pertama pada tahun 747 di wilayah yang kemudian menjadi Bhutan. Sejak abad ke-17 sebagian besar orang Buthia telah membuat rumah di wilayah pegunungan Bhutan, Nepal, Sikkim, dan Benggala Barat. Kemungkinan masuknya DNA orang Bhutia dalam tubuh Solihin berasal dari masa perdagangan, yang masuk dalam gelombang migrasi keempat. Di mana orang-orang dari India yang datang ke Nusantara, sudah lebih dulu memiliki gen yang beragam dari tempat asalnya, termasuk dari orang Buthia. Herawati Supolo Sudoyo, Deputi Penelitian Fundamental Eijkman Institute menyebut era penyebaran agama dan era perdagangan terjadi sekitar tahun 700-1300. Orang-orang dari Eropa, India, hingga Timur Tengah masuk melalui pelabuhan-pelabuhan di Nusantara. “Jadi kalau diperiksa itu, teman-teman yang lahir dan besar di Jepara, Rembang, Semarang, Tuban dan sebagainya, campur seperti gado-gado,” ujar Herawati. Proyek DNA yang dikerjakan Historia memang menunjukan keberagaman gen. Hal ini dapat menjadi pengetahuan yang yang memberikan perspektif baru tentang leluhur orang Indonesia, mengingat sentimen suku, ras, dan agama belakangan masih muncul. Selain melakukan tes DNA kepada public figure seperti Najwa Shihab, Hasto Kristiyanto, Grace Natalie, Budiman Sudjatmiko, Mira Lesmana, Ayu Utami, Riri Riza, dan Ariel Noah, Historia juga memilih peserta dari masyarakat umum yang mendaftar online di microsite . Yang beruntung terpilih berasal dari berbagai kalangan antara lain Sultan Syahrir, Esthi Swastika, Irfan Nugraha, Farida Yuniar, Aryatama Nurhasyim, Solikhin, dan Zaenin Natib. Dalam proyek ini, Historia juga mengadakan Pameran Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) bekerja sama dengan Direktorat Sejarah Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Museum Nasional, 15 Oktober 2019 hingga 10 November 2019. Pameran ASOI ini, juga menampilkan peta penyebaran manusia di dunia dan Indonesia, serta sejarah manusia dari sudut pandang arkeologis dan antropologis.
- Awal Kedatangan Manusia ke Nusantara
Jembatan darat yang pernah menyatukan Jawa, Sumatra, Kalimantan, dengan daratan Asia, memicu kemungkinan datangnya manusia paling awal ke Nusantara. Yang pertama datang adalah Homo erectus, lalu Homo sapiens . “Kita tak bisa lepas dari pengembaraan manusia di dunia, yang semua datangnya dari Afrika. Kita adalah bagian dari dunia,” kata Herawati Supolo Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Bagi yang tak percaya teori evolusi, sesungguhnya DNA manusia menyimpan kisahnya. “Apa yang ditulis tentang diri kita (di dalam DNA, red. ) itu tak ada salahnya. Kebenaran itu bisa dibuktikan,” kata Hera lagi. Menurut Hera, ada tiga cara mengetahui asal usul:dari bahasa ibu, budaya, dan tes DNA. “Informasi dari genom adalah gambaran migrasi dan asal-usul moyang kita,” lanjutnya. Diawali Homo erectus Ruly Fauzi, arkeolog Balai Arkeologi Palembang, dan Truman Simanjuntak, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam “Sumatra dan Problematikanya dalam Sejarah Migrasi Manusia ke Nusantara” termuat di Gua Harimau dan Perjalanan Panjang Perdaban Oku, menjelaskan migrasi manusia paling awal, Homo erectus , ke wilayah Nusantara diperkirakan terjadi antara 1,8 dan 1,0 juta tahun silam. Namun, masih banyak yang berbeda pendapat soal itu. Dari sisi arkeologis, keberadaan Homo erectus di kehidupan awal Nusantara, dibuktikan dengan adanya temuan fosil. Yang tertua, bertipe arkaik, ditemukan di Situs Sangiran, Sragen, Jawa Tengah , dari 1,5 juta–0,9 juta tahun yang lalu. Lalu muncul Homo erectusyang ciri fisiknya lebih evolutif, dari 0,9–0,25 juta tahun lalu. Fosilnya juga ditemukan di Sangiran. Selanjutnya tipe Homo erectusyang lebih progresif. Ia hidup sekira 150.000 tahun lalu. Fosilnya ditemukan di Situs Ngandong (Blora, Jawa Tengah), Sambungmacan (Sragen), dan Ngawi (Jawa Timur). Menurut Ruly, melihat temuan yang beda tipe dan masanya itu, ada indikasi evolusi regional. Namun, sulit menentukan apakah migrasi berpengaruh dalam pembentukan tipe-tipe yang berbeda itu. Pun apakah perubahan lingkungan mendorong adaptasi dalam bentuk budaya dan evolusi fisiologis, masih belum bisa dibuktikan. Pertanyaan besarnya lagi, apakah Homo erectus kemudian punah tanpa pewarisan genetik kepada populasi yang lebih modern? Dua Ras Manusia Modern Teori multiregional membantah pertanyaan itu. Pendukungnya meyakini kalau manusia yang secara anatomis modern berevolusi dari para pendahulunya, yaitu Homo erectus , di masing-masing wilayah. Peter Bellwood, dosen arkeologi di School of Archaeology and Anthropology Australian National University, dalam Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia menjelaskan di antara yang sepakat adalah sebagian besar pakar paleoantropologi Tiongkok. “Hipotesis evolusi kesinambungan multiregional menganggap sisa-sisa peninggalan di Tiongkok secara morfologis berada pada garis evolusi yang menurunkan orang Mongoloid modern tanpa interupsi yang berarti,” jelasnya. Sementara teori tandingannya, Out of Africa, meyakini kalau penjelajahan yang dilakukan Homo erectus ke seluruh dunia itu adalah pertama kalinya bagi spesies hominini pergi keluar benua Afrika. Ini terjadi sebelum kemudian leluhur manusia modern masa kini, Homo sapiens , meniru penjelajahan besar mereka hingga sampai ke Nusantara dan menggantikan pendahulunya itu. Bukti yang jelas tentang gelombang pengelanaan Homo sapiens, menurut Ruly, berasal dari 40.000-10.000 tahun dan 10.000-3.000 tahun yang lalu. Bukti-bukti tentang ini banyak ditemukan di situs tertutup, seperti ceruk alami dan gua yang tersebar di perbukitan karst. “Hunian gua dan ceruk agaknya merupakan suatu tren baru,” jelas Ruly. Contohnya adalah temuan kubur manusia berusia 9.300 tahun dari Song Terus, gua karst di wilayah Pacitan, Jawa Timur. Bukti kubur manusia lainnya juga ada di Gua Lawa (Ponorogo), Braholo (Gunung Kidul), dan Song Keplek (Pacitan). “Menariknya semua gua itu indikasinya ada populasi ras yang sama, Australomelanesid dengan ciri kubur terlipat dan konteks budayanya preneolitik,” jelas Ruly. Bellwood menjelaskan, Australomelanesid atau Australoid adalah satu dari dua ras utama Homo sapiens yang meninggali kepulauan Nusantara. Selain Australomelanesid, ada pula ras Mongoloid, atau lebih khusus Mongoloid Selatan. Cecep Eka Permana, arkeolog Universitas Indonesia dalam “Tinggalan Budaya Proto-Melayu dan Deutero-Melayu di Indonesia dan Malaysia dan Dampaknya pada Penguatan Kebudayaan Melayu Kini” yang disampaikan di Seminar Antarabangsa Perantauan Sumatera-Semanjung Malaysia, Sabah dan Sarawak di Universiti Sains Malaysia, Penang, Malaysia pada 2012 menjelaskan perbedaan kedua ras itu. Menurut Cecep, ras Australomelanesid antara lain memiliki ciri-ciri berbadan tinggi. Tengkoraknya relatif kecil, berbentuk lonjong dengan dahi yang agak miring dan pelipis agak membulat. Lebar mukanya sedang. Sementara Mongoloid badannya lebih kecil. Tengkoraknya besar, berbentuk bundar dengan dahi lebih membulat dan pelipis tinggi dan persegi. Mukanya lebih lebar. Australomelanesid diduga telah ada lebih dulu di Nusantara sebelum kedatangan ras Mongoloid. Ruly menjelaskan, dalam perspektif biologi, keberadaan Mongoloid yang menggantikan Australomelanesid di Nusantara selalu dikaitkan dengan tradisi Neolitik dan diaspora penutur bahasa Austronesia. Ciri khas tradisi Neolitik misalnya, gerabah dan beliung persegi. Sementara diaspora Austronesia diperkirakan terjadi sekira 4.000 tahun yang lalu. Menggantikan atau Membaur? Herawati menjelaskan sejak awal yang membuat manusia Indonesia beragam adalah karena kawasannya menjadi persilangan migrasi. Hal ini tergambar dalam DNA manusia Indonesia masa kini. Melalui data genetik terjelaskan, gelombang pertama migrasi Homo sapiens keluar dari Afrika masuk ke Indonesia terjadi pada 50.000 tahun lalu yang secara arkeologis ditandai dengan ras Australomelanesid. Mereka masuk melalui dua jalur ke arah timur. Pertama, dari Asia daratan turun ke Sumatra, Jawa, menyeb e rangi Nusa Tenggara. Kedua, melewati Kalimantan, masuk ke Halmahera, Raja Ampat, dan Fak Fak. Gelombang kedua datang dari 30.000 tahun lalu. Mereka berpindah ke selatan masuk ke Nusantara dari Asia daratan melewati Semenanjung Malaya. Ketika itu Sumatra, Kalimantan, dan Jawa masih menjadi satu. “Nah jadi pertanyaan kan? Turun itu membaur atau menggantikan (Australomelanesid, red. ) nanti kita bisa tahu,” kata Hera. Gelombang ketiga terjadi sekira 4.000 tahun lalu. Mereka adalah sekelompok orang yang berkelana dari Tiongkok Selatan menyebar ke Taiwan, Filipina, sampai ke Sulawesi dan Kalimantan. “Ini yang teori Out of Taiwan, termasuk dari Tiongkok daratan masuk Formosa lewat Filipina turun ke Kalimantan, yang ke barat menyebar sampai ke Madagaskar, yang ke timur menyebar ke Papua sampai ke Polinesia,” jelas Hera. Dalam diasporanya mereka membawa Bahasa A u stronesia. Bahasa inilah yang kemudian berkembang, khususnya di Nusantara. “Kita adalah mereka yang berbahasa Austronesia,” jelasnya. Gelombang keempat terjadi ketika Nusantara sudah masuk periode sejarah. DNA-nya membekas khususnya pada orang-orang yang tinggal di pesisir. “Dulu banyak sekali pedagangan dari Eropa, Tiongkok, India, Arab yang datang membaur,” kata Hera. “Keempat gelombang migrasi ini akan mempengaruhi DNA.” Dari penelitiannya, Hera melihat pada populasi etnik yang mendiami Indonesia bagian barat dan timur terdapat gradasi pembauran genetik. “Dari data genomik menunjukkan adanya migrasi Austronesia ke jalur barat yang bercampur dengan penutur Austroasiatik dan kemudian menetap di Indonesia barat,” ujar Hera. Misalnya, gen manusia Jawa asli ternyata membawa gen Austroasiatik dan Austronesia. Begitu pula manusia etnis Dayak dan manusia di Pulau Sumatra yang tampak pada etnis Batak Toba dan Batak Karo. Austroasiatik dan Austronesia adalah dua rumpun bahasa yang berbeda. Namun keduanya sama-sama disebarkan oleh ras Mongoloid. Secara arkeologis, kelompok penutur Austroasiatik bermigrasi lebih dulu ke Nusantara. Sekira 4.300-4.100 tahun lalu, mereka mulai bermigrasi dari Yunan ke Vietnam dan Kamboja, menyusuri Malaysia hingga ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Salah satu hasil budaya yang dibawa adalah tembikar berhias tali. Sementara penduduk asli Pulau Alor membawa genetika Papua (Austromelanesid). Manusia asli Lembata dan Suku Lamaholot, Flores Timur, membawa genetika Papua dengan persentase paling tinggi dan sedikit genetika bangsa penutur Austronesia. Ini dibuktikan dari penggunaan bahasanya. Di Indonesia timur hingga kini memakai bahasa non-Austronesia atau Bahasa Papua. Berbeda dengan Indonesia bagian barat yang memang bertutur Bahasa Austronesia. “Latar belakang genetis itu bergradasi. Dari barat Austronesia yang dominan, lalu gen Papua dimulai dari NTT, Alor, dan seterusnya,” jelas Herawati. Kesimpulannya didukung sebaran geografis beberapa temuan arkeologi. Pada zaman Neolitik, ras Australomelanesid lebih dominan di Indonesia bagian barat. Seperti di situs Anyer Lor (Banten), Buni (Jawa Barat), Sangiran, Plawangan, Gunung Wingko di JawaTengah, serta Muncar, Pacitan, Jember, Puger (Jawa Timur). Di Indonesia bagian tengah dan timur, seperti temuan rangka manusia di Melolo (NTB), Ulu Leang, Bada, Napu, Besoa, Paso, Sangihe (Sulawesi), serta Gua Alo, Liang Bua di NTT memperlihatkan percampuran antara ras Mongoloid dan ras Australomelanesid. Percampuran ras Mongoloid dan ras Australomelanesid juga terjadi di Malaysia seperti yang ditemukan di gua Kepah. Sementara pada masa yang lebih muda, zaman logam, ras Mongoloid lebih dominan di Indonesia barat. Sementara di timur, dominasi Australomelanesid lebih terlihat. Hal yang sama juga terjadi di Malaysia, populasi Mongoloid lebih dominan. Kendati populasi ini mempunyai banyak warisan genetik Australomelanesid. Jika disederhanakan, menurut Bellwood, bisa disebut populasi Mongoloid mendominasi wilayah barat dan utara. Di Indonesia timur, populasi yang paling dominan jelas merupakan bagian dari dunia Melanesia, baik secara fisik maupun budaya. “Ekspansi Mongoloid yang memasuki lingkungan Australo-Melanesia menimbulkan variasi yang cukup besar dalam setiap kelompok mestinya cukup menjelaskan keadaan yang ada,” jelas Bellwood. Itu belum ditambah variasi dari gelombang migrasi keempat pada masa sejarah. Tak heran jika kini manusia Indonesia merupakan hasil campuran dari beragam genetika. Akhirnya, seperti kata Herawati, tak ada pemilik gen murni di Nusantara, karena moyang manusia Indonesia pun adalah pengembara yang secara bertahap pergi keluar dari Afrika.





















