Hasil pencarian
Search this site
9978 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Hawk 200, Elang Mungil yang Dirundung Celaka
BELUM lepas duka dari bencana jatuhnya Helikopter Mil Mi-17 milik TNI AD di Kendal, Jawa Tengah pada Sabtu (6/6/2020), bencana terjadi lagi pada Senin (15/6/2020) kemarin di Kampar, Riau. Kali ini pesawat tempur multi-peran BAe Hawk 100/200 dari Skadron 12 TNI AU yang mengalami kecelakaan. TNI AU via akun Twitter resminya, @_TNIAU , mengungkapkan pada Senin (15/6/2020), pesawat dengan nomor ekor TT-0209 yang dipiloti Lettu Pnb. Apriyanto Ismail itu terbang dalam rangka latihan. Tidak ada korban, baik sang pilot maupun warga, lantaran pesawatnya jatuh di perumahan tak jauh dari Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Noerjadin, Pekanbaru, Riau. “Pilot Lettu Pnb Apriyanto berhasil selamat menggunakan ejection seat saat pesawat BAe Hawk 209 yang dipilotinya mengalami gangguan teknis menjelang mendarat di runway 36 Lanud Rsn Pekanbaru. Kasau (Kepala Staf Angkatan Udara, red. ) mengucapkan, ‘Alhamdulillah,’ karena tidak ada korban jiwa pada peristiwa ini,” demikian disampaikan Dinas Penerangan AU di akun Twitter -nya. Pesawat Hawk 100/200 TNI AU varian two-seat. ( tni-au.mil.id ). Kecelakaan pesawat tempur Hawk Indonesia itu bukan yang pertama terjadi. Setidaknya sudah dua kali kecelakaan yang melibatkan pesawat ini sebelumnya. Pertama, terjadi pada 19 Oktober 2000 di Pontianak, Kalimantan Barat. Mengutip Daftar Panjang Kecelakaan Alutsista Angkatan Udara , jet tempur asal Inggris yang diawaki Letkol Teddy Kustari dan Lettu Donny Kristian dari Skadron I Elang Khatulistiwa itu tengah melakukan latihan pendaratan darurat. Menjelang mendarat, pesawat dengan nomor ekor TT-104 itu limbung dan jatuh ke persawahan dekat Lanud Supadio dan meledak setelah terseret 40 meter. Untuk menginvestigasi jatuhnya pesawat itu, Kasau Marsekal TNI Hanafie Asnan menetapkan semua pesawat sejenis buatan Inggris itu untuk sementara di -grounded . Baca juga: Empat Burung Besi yang Di- grounded Selang setahun, kecelakaan jet tempur Hawk 209 terjadi lagi saat take-off di Lanud Roesmin Noerjadin. Pilot Mayor Pnb. Agung Sasongkojati berhasil menyelamatkan diri menggunakan kursi lontar. Hawk milik TNI lain juga kecelakaan kala tergelincir saat mendarat di landas-pacu Lanud Roesmin Noerjadin pada 21 November 2006. Pilotnya, Mayor Pnb. Dadang, juga selamat dengan ejection seat. Hal serupa terjadi lagi pada 30 Oktober 2007 malam karena problem teknis. Kecelakaan Hawk kembali terjadi di Kampar, Riau, 16 Oktober 2012. Saat pesawat yang dipiloti Letda Pnb. Reza Yori Prasetyo itu tengah bermanuver dalam rangka latihan, terjadi kerusakan mesin. Pesawat pun jatuh dekat pemukiman di Pandau Permai, Kampar. Sang pilot selamat berkat kursi pelontar. Imbasnya, 32 unit Hawk di- grounded sepanjang masa investigasi internal TNI AU. Elang Mungil Kelahiran Inggris Terlepas dari usia tua pesawat Hawk 200 milik TNI AU, sejarah lahirnya jet tempur bikinan British Aerospace (kini BAE Systems) itu juga diliputi “celaka”. Hawk 200 merupakan turunan kesekian dari “famili” Hawk yang bermula pada jet tempur latih single seat bermesin tunggal Hawk T1 (Trainer Mark 1) yang muncul pada 1974. Pada 1984, British Aerospace mengembangkan tipe Hawk 100/200 dengan orientasi tempur. Pengembangan Hawk diajukan untuk menggantikan unit-unit Hawker Hunter dan Follan Gnat milik RAF (AU Inggris) yang usang karena beroperasi sejak 1960-an. Varian 100/200 merujuk pada jumlah kru, di mana versi 100 berisi dua seat dan 200 hanya single seat. “Hawk 200 seri single seat dikembangkan sebagai alutsista mungil baru yang canggih tetapi dengan pengembangan avionik yang low-cost. Ia dirancang sebagai senjata penggempur di darat, patroli udara tempur, serta pengintaian. Mampu terbang siang-malam di segala cuaca dan sanggup berada dalam kondisi tempur dengan durasi empat jam,” ungkap Susan Willett, Michael Clarke, dan Philip Gummett dalam “The British Push for Eurofighter 2000” yang dimuat dalam The Arms Production Dilemma. Pesawat Hawk T1, "pendahulu" jet tempur Hawk 100/200. (Repro British Aerospace Hawk ). Sebagai turunan tercanggih Hawk, Hawk 200 berdimensi mungil: panjang 11,38 meter dan lebar sayap 9,39 meter. Untuk bisa melayang dengan kecepatan maksimal 1.037 per jam serta kecepatan menanjanjak 1,2 Mach, Hawk ditenagai mesin jet tunggal Rolls-Royce Turbomeca Adour Mk. 871. Guna mendukung misi tempurnya, Hawk 200 dipersenjatai sepucuk senapan mesin 1,181 inci Aden. Untuk misi serbu dan pengeboman, Hawk 200 bisa membawa masing-masing satu roket SNEB atau CRV7 di ujung kedua sayapnya, empat rudal AGM-65 Maverick, BAe Sea Eagle, AIM -120 AMRAAM, AIM-132 ASRAAM, AIM-9 Sidewinder, atau Skyflash di bawah sayap kanan dan kirinya. Perut Hawk 200 bisa membawa bom-bom jenis Mark 82, Mark 83, Paveway II, bom cluster BL755, atau torpedo Sting Ray dengan bobot maksimal 540 kilogram. “Uji coba dan demonstrasi Hawk 200 (ZG200) pertamakali dilakoni Jim Hawkins pada 19 Mei 1986 dengan sukses. Tetapi nahasnya sebulan kemudian pesawat yang sama mengalami kecelakaan. Diduga kuat Hawkins mengalami disorientasi akibat ‘g-LOC’ (kehilangan kesadaran) saat bermanuver dan menguji G-Force -nya,” tulis Dave Windle dalam British Aerospace Hawk: Armed Light Attack and Multi-Combat Fighter Trainer. Baca juga: Hawker Hunter, Pemburu dari Masa Lalu Kesultanan Oman jadi pelanggan pertama Hawk 200 setelah dipasarkan. Negeri di ujung tenggara Jazirah Arab itu memesan 12 unit yang dilengkapi radar APG-66 pada 31 Juli 1990. Malaysia mengikuti pada 10 Desember di tahun yang sama dengan memesan 18 unit. Indonesia baru membelinya pada Juni 1993. Berapa rupiah yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk membeli 32 pesawat itu masih samar. George Junus Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan mengungkap, impor pesawat Hawk 200 yang baru tiba di tanah air pada 1994 itu melalui agen tunggal, PT Surya Kepanjen, sebagaimana pembelian alutsista tank ringan FV101 Scorpion yang juga asal Inggris (Alvis Vickers). “Nyonya (Siti Hardiyanti) Rukmana memegang keagenan tunggal mengimpor lapis baja untuk angkatan darat Indonesia melalui PT Surya Kepanjen. Dia juga menjadi agen tunggal untuk mengimpor pesawat Inggris Hawk 200 untuk angkatan udara Indonesia, serta lapis baja VAB (Véhicule de l'avant blindé, asal Prancis) untuk angkatan darat Indonesia, melalui perusahaan lainnya, PT Bheering Diant Purnama,” tulis George. Jet Tempur Hawk 200 milik RAF dengan persenjataan penuh. (Repro British Aerospace Hawk ). Meski begitu, lobi-lobi untuk pembeliannya sudah berlangsung sejak terjadi kerjasama pembelian misil Rapier pada Desember 1984. Mark Phythian dalam The Politics of British Arms Sales Since 1964 menyingkap, pembelian misil Rapier dari BAe ke Indonesia itu bernilai hingga 100 juta poundsterling. “Satu aspek signifikan kesepakatan itu adalah, Indonesia diizinkan melakukan transfer teknologi secara berangsur demi membangun industri pertahanan elektronik Indonesia. Pemerintah Inggris melihat kesepakatan ini sebagai gebrakan yang signifikan dan BAe kemudian turut membuat Indonesia tertarik pada pengembangan seri-seri Hawk 200 yang harganya tiga kali lebih murah dari F-16 milik Amerika Serikat,” tilis Phythian. “Pada akhir 1984, John Lee, wakil Sekretaris Negara untuk Pertahanan (Inggris), mengunjungi Indonesia, disusul Kepala Staf RAF Marsekal Sir Keith Williamson. Kunjungan-kunjungan itu membuka jalan untuk kerjasama jual-beli senjata Anglo-Indonesia pada 10 April 1985 lewat pertemuan Nyonya (Perdana Menteri Margaret) Thatcher dan Presiden Soeharto di Jakarta, terlepas dari tekanan internasional terkait isu HAM di Timor Timur,” sambungnya. Baca juga: Pesawat Sukhoi Rasa Minyak Sawit PM Thatcher berbicara empat mata dengan Presiden Soeharto selama dua jam. Keduanya mencapai kata sepakat untuk memperkuat lagi kerjasama RI-Inggris dalam hal pengembangan industri dan teknologi di bidang perkeretaapian, transportasi udara, telekomunikasi, teknologi pangan, dan teknologi kedirgantaraan. “Timor Timur bukan jadi masalah bagi Inggris. Saya pikir Inggris harus punya perhatian lebih terhadap Indonesia di masa lalu dan saya berharap kunjungan saya ini akan diikuti pertemuan-pertemuan setingkat menteri agar kami bisa saling memahami satu sama lain,” cetus Thatcher dikutip Phythian. PM Inggris Margaret Hilda Thatcher (kiri) saat bertemu Presiden Soeharto pada April 1985 (Kepustakaan Presiden/ perpusnas.go.id ) Setelah kesuksesan ujicoba pertama Hawk 200 pada 1986, pemerintah Indonesia tertarik membelinya untuk menggantikan 36 pesawat A-4 Skyhawks dan Northrop F-5. Ketertarikan itu dijawab dengan kunjungan Wakil Sekretaris Pertahanan Tim Sainsbury ke Indonesia pada Oktober 1987. “Pada Juni 1991 kesepakatannya didahului kerjasama kolaboratif soal transfer teknologi dan produksi Hawk dengan lisensi resmi antara BAe dan IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara, kini PT Dirgantara Indonesia). Hasilnya pada 1992 Indonesia resmi membeli 10 Hawk 200 sebagai bagian dari rencana produksi 100 pesawat lainnya yang berkolaborasi dengan BAe selama 25 tahun dengan lisensi resmi,” sambungnya lagi. Tetapi seiring munculnya krisis Timor Timur pada awal 1999, tekanan internasional kian hebat hingga memunculkan embargo perdagangan senjata dari Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa Barat. Akibatnya pembelian tiga unit Hawk 100/200 terakhir yang dipesan untuk TNI AU pada 1999 tertahan kedatangannya. Baca juga: Diam-diam, Indonesia Beli Pesawat Tempur Israel “Tiga pesawat Hawk 100/200 yang telah dibeli dari Inggris harus ditinggalkan di Bangkok. Penerbang-penerbang Inggris yang harusnya mengantar sampai Indonesia, harus berhenti di tengah jalan karena Inggris tunduk pada Uni Eropa yang saat ini diketuai pemerintah Portugal,” tulis Abdul Muis dalam Perjalanan Skadron Udara 12: Dari Masa ke Masa. “KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan langsung memerintahkan penerbang kita untuk mengambilnya. Setelah itu, Menteri Pertahanan Inggris, John Spellar, pun buru-buru minta maaf kepada TNI AU: ‘Pesawat-pesawat Hawk buatan Inggris telah dijual legal kepada Indonesia, sehingga tidak ada alasan menahan pengirimannya,” tandasnya.
- Si Manis dan Letnan Tionghoa
Pada abad ke-19, terjadi perubahan besar di negeri jajahan Belanda. Kekuasaan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), yang sudah ada sejak abad ke-16 bubar, digantikan perannya oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Kongsi dagang itu terlalu banyak memberi kerugian kepada Kerajaan Belanda, hingga terpaksa ditiadakan. Peralihan kekuasaan itu memberi dampak yang cukup signifikan di berbagai bidang, termasuk pertanian dan perdagangan. Jika sebelumnya rempah-rempah (lada, cengkeh, pala, dsb) menjadi komoditas andalan Belanda di pasaran dunia, kini kebanggaan itu beralih ke komiditi lain: kopi, teh, karet, gula, dll. Hasil pertanian itu menjadi primadona baru Belanda di Eropa. “Sejak industri pertanian bertransformasi menjadi salah satu pilar perekonomian terpenting di Hindia Belanda, struktur ekonomi baru Hindia Belanda pun terbentuk. Cabang industri ini pun menjadi perhatian penuh pemerintah selama bertahun-tahun,” tulis J. Stroomberg dalam Hindia Belanda 1930 . Perubahan struktur perdagangan di Hindia Belanda dapat dirasakan oleh semua pihak, terutama golongan pedagang. Perlahan mereka menyesuaikan diri dengan penjualan komoditi tersebut. Di Semarang berdiri sebuah perusahaan dagang besar yang dijalankan oleh seorang Tionghoa bernama Oei Tiong Ham, yakni Oei Tiong Ham Concern (OTHC). Perusahaan gula itu mencatatkan namanya sebagai yang terbesar di Hindia Belanda selama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Bisnis Turun Temurun Sang pemilik, Oei Tiong Ham, dilahirkan di Semarang pada 19 November 1866. Dia putra seorang pedagang dari Hokkian bernama Oei Tjie Sien dan Tjan Bien Nio. Menurut James R. Rush dalam Opium to Java: Revenue Farming and Chienese Enterprise in Colonial Indonesia 1860-1910 , ayahnya tiba Semarang pada 1858. Keluarga ini memulai usaha dengan berjualan perkakas dan peralatan rumah tangga. Pada 1863, Oei Tjie Sien bersama kawannya Ang Tai Liong mendirikan sebuah kongsi dagang bernama Firma Kian Gwan. Perusahaan tersebut banyak menjual beras, gambir, dan kemenyan. Mereka menghasilkan pendapatan yang besar bagi pemerintah Hindia Belanda. Namanya pun begitu kesohor di seluruh Jawa, khususnya Semarang dan sekitarnya. Kongsi dagang inilah cikal bakal OTHC yang dikembangkan Oei Tjie Sien. “Dengan intuisi bisnisnya ia memilih Oei Tiong Ham sebagai pewaris usahanya. Pilihan dan keputusannya ini ternyata sangat tepat karena di bawah pimpinan Oei Tiong Ham, Kian Gwan berkembang berpuluh kali lebih besar dari sebelumnya,” tulis Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik . Pada 1900, Oei Tjie Sien meninggal dunia. Praktis seluruh bisnis dan perusahaan dijalankan oleh Oei Tiong Ham. Menurut Setiono, Tiong Ham tidak pernah mengenyam pendidikan Barat, baik Belanda maupun Inggris. Satu-satunya pendidikan formal yang dijalaninya hanya sekolah Tionghoa berbahasa Hokkian su-siok (gaya lama). Seluruh pengetahuan tentang berdagang didapat dari ayahnya. Sejak kecil dia sudah mengikuti sang ayah berbisnis, dan setelah dewasa pelatihan menjalankan perusahaan diterima secara lebih dalam. Sebelum melanjutkan perusahaan Kiam Gwan, Oei Tiong Ham telah merintis bisnisnya sendiri sejak 1880-an. Di usia yang masih cukup muda tersebut dia sudah dikenal sebagai pengusaha gula yang sukses di Semarang. Di samping menjalankan bisnis gula, Oei Tiong Ham juga menjadi pachter candu untuk daerah Semarang, Yogyakarta, Surakarta, dan Surabaya. Dia menjadi pedagang resmi yang diawasi pemerintah untuk penjualan candu. Usahanya ini dijalankan hingga 1904. Ketika usianya menginjak 20 tahun, Oei Tiong Ham diangkat menjadi Letnan Tionghoa (Lieutnant der Chinezen). Statusnya itu menjadikan dia bagian dari masyarkat elit Tionghoa Semarang yang dihormati. Dia kemudian dipromosikan menjadi Mayor Tionghoa (Majoor der Chinezen) pada akhir abad ke-19. Oei Tiong Ham, kata Soetiono, menjadi orang Tionghoa pertama yang mendapat izin memakai pakaian barat dan tinggal di daerah perumahan orang Eropa. “Ia selalu berpakaian rapi, pakaian jas barat, dan pantalon warna putih, demikian juga warna sepatunya,” ungkap Soetiono. “Lain dari orang-orang Tionghoa umumnya, ia berpandangan modern dan mempekerjakan orang Belanda dalam perusahaannya”. Kerajaan Bisnis Akhir abad ke-19, Oei Tiong Ham mengubah Kian Gwan menjadi perseroan terbatas NV Handel Maatschappij Kian Gwan. Dia kemudian menyelesaikan berbagai urusan pembagian waris atas perusahaan milik ayahnya tersebut, baik kepada saudaranya maupun orang-orang yang terlibat di dalam pendirian Kian Gwan. Maka kerajaan bisnis Oei Tiong Ham, OTHC, pun memulai babak baru dengan hak penuh atas perusahaannya sendiri. Dia memulai dengan mengakusisi lima pabrik gula: Redjoagung, Krebet, Tanggulangin, Pakies, dan Ponen. Demi meningkatkan kualitas produksi semua mesin lama diganti dengan mesin modern yang didatangkan dari Jerman. Selain itu dia juga mempekerjakan sejumlah tenaga ahli dari kalangan Tionghoa maupun Eropa, yang dipilih dengan baik. Untuk masalah produksi, kebutuhan tebu sebagai bahan dasar pembuatan gula didapat dari beberapa perkebunan di Semarang dan sekitarnya yang telah menjalin kontrak dengan OTHC. Sementara untuk pengelolaan manajemen pabrik gula, OTHC mendirikan N.V. Algemeene Maatschappij tot Exploitatie der Oei Tiong Ham Suikerfabrieken. “Inilah cabang usaha yang terpenting dari seluruh bagian Oei Tiong Ham Concern,” tulis Soetiono. Meski bisnis utamanya adalah hasil bumi, Oei Tiong Ham juga melakukan perluasan bisnis di bidang keuangan, khususnya bisnis asuransi dan perbankan. OTHC menjadi agen bagi banyak perusahaan asuransi besar seperti Union Insurance Society of Canton, Ltd. Pada 1906 dia juga mendirikan N.V. Bank Vereeniging Oei Tiong Ham di Semarang dan Surabaya. Mulanya bank ini hanya menjalankan usaha kredit dagang, tetapi lambat laun meluas ke perbankan umum. Bahkan di bawah bank ini Oei Tiong Ham menjalankan usaha realestate, pembangunan gedung, dan jual-beli perumahan. Semakin besarnya OTHC membuat Oei Tiong Ham memutuskan membeli Heap Eng Moh Steamship Coy. Ltd. Singapore. Perusahaan ini dijalankan untuk kebutuhan pengangkutan dan distribusi penjualan berbagai komiditi miliknya. Armada dagang Singapura ini melayani rute Jawa dan Singapura, dengan lima buah kapal besar sebagai armada utamanya. Semakin besar perusahaan Oei Tiong Ham, semakin besar pula pajak yang dikenakan pemerintah Hindia Belanda. Liem Tjwan Ling dalam Oei Tiong Ham: Raja Gula dari Semarang , disebutkan bahwa pada 1921 OTHC telah membayar pajak sebesar 35 juta gulden. Sejumlah besar uang itu merupakan pajak perang yang digunakan pemerintah Belanda untuk menutupi kerugian Perang Dunia I. Namun pajak itu bukan satu-satunya kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan Oei Tiong Ham. Pemerintah Belanda masih memberi dubble inkomstenbelasting (pajak pendapatan rangkap) kepadanya. Oei Tiong Ham keberatan atas beban pajak tersebut. Dia pun memutuskan meninggalkan Semarang dan pergi menetap di Singapura hingga akhir hayatnya pada 1924. “Pada 1924, seperempat luas dari kepulauan Singapura adalah milik Oei Tiong Ham seorang. Kekayaannya berupa kepemilikan tanah-tanah dan rumah-rumah, maka tidak mengherankan jika sampai hari ini di kota Singa tersebut masih ada satu jalanan yang memakai namanya, yakni Oei Tiong Ham Park,” tulis Liem Tjwan Ling. Dicatat Marleen Dieleman, dkk dalam Chinese Indonesians and Regime Change , setelah Oei Tiong Ham meninggal, perusahaan OTHC dilanjutkan oleh sejumlah putra dari beberapa istri Oei Tiong Ham. Bisnis keluarga Oei Tiong Ham ini dapat bertahan selama tiga generasi kekuasaan: Hindia Belanda, Jepang, dan Republik Indonesia.
- Kampanye Gagal Sukarno di Forum Internasional
Kairo, 6 Oktober 1964. Presiden Sukarno tampil dalam Konferensi Tingkat Tinggi Non-Blok yang ke-2. Dia menyerukan perlawanan menentang kekuatan kolonialisme dan imperialisme. Seperti biasa, pidatonya selalu mengesankan dan bersemangat. Di hadapan pemimpin dari 47 negara peserta konfrensi, Sukarno menyampaikan buah pikirannya dengan berapi-api. “Kita perlu memupuk dan memperkuat solidaritas di antara kita. Perjuangan - ya, perjuangan, perjuangan! Perjuangan melawan imperialisme di masa pembangunan bangsa saat ini sama pentingnya bagi kita dengan perjuangan untuk pembebasan yang mengarah pada kemerdekaan nasional kita,” ujar Sukarno dalam pidatonya berjudul “The Era of Confrontation”. Pada kesempatan itulah Sukarno memperkenalkan ideologi non-blok yang baru. Menurutnya kekuatan dunia tidak lagi terbagi dalam kontestasi Blok Barat dengan Blok Timur. Namun Sukarno memetakan konstelasi global antara kelompok negara yang baru merdeka – dimana non-blok ada didalamnya– dengan negara mapan yang lekat dengan predikat imperialis. Konsep inilah yang diperkenalkan Sukarno dengan istilah NEFO (New Emerging Force) dan OLDEFO (Old Established Force). Bersilang dengan India Menurut Ide Anak Agung Gde Agung dalam Twenty Years Indonesia Foreign Policy 1945—1965, pidato Sukarno di Kairo sejatinya memperlihatkan semangat anti-Barat. Kubu Barat yang disebut Sukarno sebagai OLDEFO merupakan ancaman bagi negara-negara baru. Ancaman itu berupa intervensi yang mencampuri urusan kemerdekaan negara-negara lain. Campur tangan dan dominasi itulah yang dikecam oleh Sukarno. “Inilah kesempatan baginya (Sukarno) untuk menekankan dengan kata-kata yang kuat bahwa tujuan utama dari negara-negara non-blok adalah untuk menghilangkan tatanan dunia lama sebagaimana diwakili oleh kekuatan kolonial dan imperial,” tulis Ide Anak Agung Gde Agung. Di balik agitasinya, Sukarno ternyata menyisipkan agenda sehubungan dengan kampanye “Ganyang Malaysia”. Sebagaimana diketahui, Indonesia sedang bersengketa dengan Malaysia. Dalam upaya mengganyang Malaysia, Indonesia berhadapan dengan Inggris yang mendukung pembentukan negara federasi Malaysia. Selain itu, Sukarno juga secara terbuka menyerang doktrin hidup berdampingan sebagai ideologi non-blok yang menyimpang. Gagasan ini dikemukakan oleh Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru pada permulaan tahun 1960. Dalam konsep hidup berdampingan, Nehru menampilkan wajah moderat sebagai tekanan moral terhadap kekuatan besar. Dengan demikian, perdamaian dunia dapat diwujudukan bersama-sama meskipun dalam ketidaksetaraan. India berada di jalur akomodatif karena tergabung dalam The Commonwealth , negara-negara persemakmuran bekas jajahan Inggris yang terikat afiliasi dengan negeri koloninya. Kritik Sukarno terhadap jalan yang diambil India cukup frontal. Sukarno mengatakan bahwa hidup berdampingan tidak dapat diwujudkan dalam ketidaksetaraan. Hidup berdampingan itu harus seimbang, ekual, dan tidak abstrak. Menurutnya koeksistensi antara negara-negara berkembang dan negara imperialis terjadi apabila kedua kubu memiliki kekuatan yang sama. Bagi negara-negara berkembang, kekuatan yang setara itu hanya dapat diperoleh melalui solidaritas diantara mereka. Seruan Sukarno untuk bersatu melawan dominasi OLDEFO memang ada pendukungnya. Namun propaganda Sukarno menjadi kurang begitu menggigit karena prinsip hidup berdampingan juga diterima dalam komunike akhir konferensi. Sementara itu, upaya Sukarno menggalang solidaritas negara sahabat untuk mengganyang Malaysia terbilang gagal. “Karena hanya mendapatkan dukungan dari negara-negara Asia-Afrika yang kurang memiliki pengaruh,” kata sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti kepada Historia . Ekses lain dari kampanye politik luar negeri Sukarno adalah kian tajamnya perbedaan prinsip antara Indonesia dan India. Menurut Linda, konsep Sukarno yang membagi kekuatan dunia terkesan mendikte bagi India. Akibatnya, India sebagai salah satu negara sahabat yang berpengaruh bahkan mengambil jarak dari Indonesia. Menggandeng Tiongkok Selain Pakistan, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) adalah negara yang aktif menyokong perkara Indonesia soal Malaysia. Sukarno segera mengalihkan persekutuannya terhadap Tiongkok – negeri Asia yang mulai tampil sebagai kekuatan besar – setelah gagal menuai dukungan maksimal di Kairo. Kedatangan Menteri Luar Negeri Tiongkok Marsekal Chen Yi, ke Indonesia pada awal Desember 1964, semakin memantapkan poros Peking-Jakarta. Pada 3 Desember 1964, Indonesia dan Tiongkok mengeluarkan pernyataan bersama untuk saling memperkuat politik luar negeri masing-masing. Tiongkok kembali menegaskan dukungannya terhadap perjuangan Indonesia untuk mengganyang Malaysia. Keduanya sepakat bahwa proyek neo-kolonialis ini mengancam perdamaian negara-negara di kawasan Asia Tenggara, melumpuhkan pertumbuhan dan perkembangan mereka. Dengan demikian, politik luar negeri Indonesia semakin condong ke kiri atau Blok Sosialis. Menurut Linda Sunarti, Tiongkok pada awalnya ragu mendukung sikap konfrontatif Indoneisa terhadap Malaysia. Tiongkok sebenarnya dilematis karena hubungannya dengan Inggris lebih bersahabat ketimbang Amerika Serikat. Selain itu, Tiongkok juga punya kepentingan terhadap Hongkong, pusat perdagangan yang masih dikuasai Inggris sebagai jendela ke dunia internasional. “Namun, di sisi lain Tiongkok sangat bersemangat membantu PKI untuk mendapatkan kekuasaan politik di Indonesia. Sebagai partai komunis terbesar di luar Blok Sosialis, kedudukan PKI sangat penting bagi Tiongkok dalam persaingannya dengan Uni Soviet untuk merebut simpati dan dukungan dari partai komunis lain,” kata Linda Sunarti. Seturut dengan arsip-arsip luar negeri Tiongkok yang diteliti sejarawan asal Ceko Victor Miroslav Vic, Tiongkok bahkan menyokong ambisi radikal Sukarno. Beberapa diantaranya seperti dukungan terhadap Indonesia untuk keluar dari PBB; niatan Indonesia sebagai pemimpin negara non-blok dan Asia-Afrika; rencana mendirikan markas besar NEFO di Jakarta. Termasuk pula rencana pembentukan tentara rakyat untuk mengganyang Malaysia. "Cina bersedia untuk membantu Indonesia jika diserang oleh negara asing, dan dengan cepat akan memberikan senjata dan bantuan militer lainnya, dan bahwa kedua negara harus menambah kerjasama mereka dalam perjuangan the New Emerging Forces," tulis Vic dalam Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi Tentang Konspirasi . Pada Maret 1965, Konferensi Negara Islam Asia-Afrika menolak usulan Tiongkok untuk mendukung Indonesia dalam konfrontasi Malaysia. Sukarno tidak berhenti dalam usahanya menggalang kekuatan diantara negara sahabat. Pada 18 April 1965, Indonesia menghelat persiapan Konferensi Asia Afrika II di Jakarta. Dalam pembicaraan itu, Sukarno sempat pula bersitegang dengan dengan Presiden Mesir, Gammal Abdul Nasser. Silang pendapat terjadi lantaran Sukarno berkeinginan untuk memindahkan sekretariat organisasi Asia-Afrika dari Kairo ke Jakarta. Lagi pula, rencana persiapan konferensi yang akan diselenggarakan di Aljazair pada 25 Juni itu sepertinya tidak lagi menarik. Negara peserta yang datang ke Jakarta hanya 30 negara saja. Sayangnya, Konferensi Asia Afrika II batal digelar karena Presiden Aljazair Ahmad Ben Bella dikudeta pada 20 Juni 1965, lima hari sebelum penyelenggaraan konferensi. Di sisi lain, konflik Indonesia dengan Malaysia memasuki masa krisis. Sukarno kehilangan momentum untuk kampanye Ganyang Malaysia yang tentu saja sangat dia butuhkan. Meski demikian, direncanakan konfrensi itu hanya akan ditunda hingga 5 November 1965. Namun, sebelum Sukarno naik podium dalam hajatan itu, terjadilah petaka di Jakarta. Gerakan 30 September meletus di malam berdarah, dini hari 1 Oktober 1965. Harapan Sukarno untuk unjuk gigi lagi di forum dunia pada akhirnya benar-benar kandas tak berbekas.
- Sukarno dalam Pusaran Islam, Nasionalisme, dan Komunisme
BULAN Juni adalah bulannya Bung Karno, sapaan akrab Sukarno, pahlawan Proklamator kemerdekaan dan presiden pertama Republik Indonesia. Bulan Juni ini adalah bulan kelahiran sekaligus bulan wafatnya Bung Karno. Pada bulan ini pula ia mencetuskan gagasan ideologi negara, Pancasila.
- Soeharto, Astra, dan Sepeda Federal
Suatu hari di tahun 1971, William Soeryadjaya, pendiri Grup Astra, menceritakan kepada Teddy Thohir, general manager pertama Honda, bahwa dirinya baru dipanggil Presiden Soeharto. Soeharto meminta William untuk menjual sepeda secara kredit supaya rakyat tidak jalan kaki ke sawah dan ladang.
- Potret Keakraban Bung Karno dan Tokoh Dunia
Bung Karno piawai memainkan lidahnya untuk dua hal. Pertama untuk berpidato. Sebagai pemimpin bangsa, dia sering berpidato untuk membakar, menggugah, dan menginspirasi bangsa ini melakukan tindakan revolusioner. Kedua, dia ahli pula memainkan lidahnya untuk menjalin hubungan dengan para tokoh dari seluruh dunia. Bung Karno dan Jawaharlal Nehru. (Wikimedia Commons). Bung Karno dan Presiden Burma Sao Shwe Thaik. (Wikimedia Commons). Perkawanan Bung karno sangat luas. Dia tak hanya akrab dengan tokoh politik, tapi juga mampu bercengkrama seniman. Sekali waktu dia bisa berbincang sangat serius bersama negarawan Yugoslavia, Josip Broz Tito. Lain waktu, dia bergembira-ria dengan Walt Disney , di salah satu wahana Disneyland, Amerika Serikat. Waktu berikutnya lagi, dia bersenda gurau dengan salah satu legenda musik dunia, Elvis Presley. Tak jarang para tokoh dunia ini pun menaruh kagum pada sosok Bung Karno. Mereka terpikat pribadi, pola pikir, dan kata-kata Bung Karno. Semua berkat keluwesan dan pengetahuan luas Bung Karno. Bung Karno bertemu dengan musisi Elvis Presley. (Wikimedia Commons). Bung Karno bersama Walt Disney saat mengunjungi Disneyland. (Wikimedia Commons). Josip Broz Tito saat berbincang bersama Bung Karno. (Wikimedia Commons). Bung Karno bercengkerama dengan aktris Marliyn Monroe. (Wikimedia Commons). Bung Karno dan tokoh Vietnam Ho Chi Minh. (Wikimedia Commons). Bung Karno berjumpa tokoh Uni Soviet Kliment Yefremovich Voroshilov. (Wikimedia Commons). Bung Karno dan Bung Hatta serta Jawaharlal Nehru tampak akrab saat di bertemu. (Wikimedia Commons). Bung Karno dan Mao Zedong. (Wikimedia Commons). Bung Karno tampak serius bersama Eleanor Roosevelt. (Wikimedia Commons ) Bung Karno tampak antusias saat bertemu Antonin Novotny. (Wikimedia Commons). Pertemuan Bung Karno dan para tokoh itu memunculkan cerita unik. Seperti saat Bung Karno bertemu dengan para sahabatnya asal Kuba, Fidel Castro dan Che Guevara. Dituturkan oleh anaknya, Guntur Sukarno, dalam Bung Karno & Kesayangannya , ucapan Bung Karno tentang Fidel. “Kalau yang paling ‘brengsek’ cara berpakaiannya adalah Sang ‘Maximo Lider De La Revolution De Cuba’ atau ‘Pemimpin Besar Revolusi Kuba’ Fidel Castro.” Ini bukan ucapan serius, melainkan candaan bahwa Fidel Castro tidak begitu peduli dengan penampilannya. Bung Karno dan sahabatnya Fidel Castro. (Wikimedia Commons). Bung Karno bersama tokoh Kuba, Che Guevara. (Wikimedia Commons). Guntur melanjutkan ceritanya. Bung Karno pernah ingin sekali berbicara santai bersama Fidel dan Che soal cukur jenggot dan kumis. Bung Karno bertanya kepada mereka, mungkinkan mereka mencukurnya agar terlihat lebih tampan. Namun hal itu urung terjadi karena Bung Karno merasa bahwa jenggot dan kumis adalah identitas penting bagi mereka. Sukarno saat bertemu Josip Broz Tito. (Wikimedia Commons).
- Soeharto dan Sepeda Turangga
Bertepatan dengan Hari Koperasi ke-27 pada 12 Juli 1974, Presiden Soeharto meresmikan pabrik sepeda milik Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN) di Batu Ceper, Tangerang. Peresmian itu dihadiri Ketua Umum IKPN, R.P. Suroso.
- Sukarno di Mata Pemuda-Pemudi
Sukarno pernah berkata bahwa bersama 1000 orang tua, ia bisa mencabut Semeru, tapi hanya dengan 10 pemuda, ia bisa mengguncang dunia. Kutipannya lalu menjadi salah satu yang paling terkenal dan diulang-ulang setiap tahun pada peringatan hari-hari bersejarah. Sukarno memandang peranan pemuda-pemudi penting bagi keberlangsungan hidup suatu bangsa. Dan barangkali kalimat itu hendak ia maksudkan menjadi cambuk untuk generasi penerus. Namun , sebelum bicara apakah cita-cita Bung Karno untuk mengguncang dunia itu telah terwujud atau belum, bagaimana pemuda-pemudi hari ini melihat sosok Bung Karno? Untuk menyambut Bulan Bung Karno, Historia melalui talkshow “Sukarno Menurut Sepuluh Pemuda-Pemudi” pada Rabu, 10 Juni 2020 , mengajak pemuda-pemudi dari berbagai daerah dan latar belakang untuk berbagi pandangan tentang Sukarno dan apa yang diwariskannya hari ini. Memori tentang Sukarno Berbeda dari generasi yang sempat mengalami masa di mana Sukarno masih hidup, pemuda-pemudi hari ini terpaut hampir setengah abad setelah kepergian Sang Proklamator. Namun, jejak-jejak sejarah Sukarno telah membentuk imajinasi tersendiri bagi mereka. Raisa Kamila, penulis dan periset asal Aceh, mengakui bahwa di tanah kelahirannya, Sukarno bukanlah tokoh yang diidolakan. Pengetahuan sejarah tentang Sukarno di Aceh hanya disampaikan dari satu perspektif yang cenderung bernada kurang simpati. Rasa ingin tahu mendorongnya untuk mempelajari sejarah dari berbagai sumber dan sudut pandang. “Saya sendiri waktu itu nggak tergoda untuk menjadi orang yang membenci atau orang yang gandrung. Jadi saya cuma penasaran kenapa ya seperti itu,” terangnya. Baca juga: Sukarno: Wartawan Pekerjaan Gawat Raisa kemudian menyadari bahwa Sukarno memang memiliki peran besar di era kemerdekaan, menyatukan bangsa-bangsa kulit berwarna melalui Konferensi Asia Afrika (KAA) dan mampu berdiri di tengah-tengah ragam ideologi di Indonesia. Raisa juga menyebut bahwa Sukarno, selain memiliki kecintaan pada akar budaya sendiri, juga memiliki visi yang modern. Sementara itu, Eda Tukan, penggiat literasi dari Flores, melihat Sukarno sebagai seorang literat yang toleran. Sukarno yang pernah dibuang ke Ende dan juga sempat berkunjung ke Larantuka ketika Indonesia telah merdeka menginspirasi pemuda di Flores karena ia bisa bergaul dengan semua kalangan, peduli terhadap minoritas serta memberi kesadaran terhadap realitas multikultural. “Pergaulan yang lintas batas menembus sekat-sekat primordial, Sukarno seorang nasionalis tapi beliau tidak menjadikan itu sebuah alasan untuk menutup diri terhadap sesama saudara dari kebangsaan yang berbeda,” sebut Eda. Baca juga: Sukarno: Pemersatu atau Pembelah? Darlene Litaay, koreografer dan performer asal Papua juga punya imajinasi sendiri tentang Bung Karno. Perjalanan Bung Karno ke berbagai daerah baik karena dibuang maupun sengaja singgah menjadi penting dalam pembentukan gagasan-gagasan Bung Karno yang masih relevan hingga hari ini. “Bagaimana dia berjalan dari satu tempat yang lain di Nusantara ataupun keluar Indonesia, itu seperti membawa benang dan jarum lalu kemudian setiap elemen-elemen penting tempat yang dia singgahi dia ambil satu gagasan. Semua kumpulan gagasan yang dia dapat di daerah itu dia rajut menjadi satu yang namanya Indonesia,” terangnya. Di ranah kebudayaan, sudah banyak diketahui bahwa Sukarno memiliki perhatian besar terhadap seni. Ia seorang kolektor lukisan, pecinta patung, dan melahirkan gagasan-gagasan kebudayaan baik dibidang musik, tari, hingga arsitektur. Niesya Harahap, penggiat seni dari Medan melihat bahwa Sukarno memang menaruh perhatian besar terhadap kebudayaan Indonesia. Di mana sebagai negara yang baru terbentuk kala itu, Indonesia hendak menunjukkan eksistensi salah satunya melalui jalan kebudayaan. “Dia concern terhadap budaya. Merasa bahwa identitas bangsa itu akan terwujud dalam kebudayaan dan keseniannya,” ujar Niesya. Baca juga: Distorsi Sejarah dan Kebencian pada Sukarno Bukan hanya pada kebudayaan yang telah ada sebelumnya, lanjut Niesya, Sukarno juga menggagas terciptanya identitas kesenian baru baik di bidang musik, tari, dan seni rupa. Selain itu yang tak kalah penting adalah misi kebudayaan untuk mengenalkan Indonesia kepada dunia. Julisa Pratiwi, pebisnis muda asal Pontianak, juga punya pandangan sendiri terhadap Sukarno. Julisa melihat Sukarno bisa menjadi inspirasi dalam hal bisnis. Baik dari strategi Sukarno dalam menghadapi Jepang maupun perannya yang membuat Indonesia pernah menjadi negara yang sejajar dengan negara lain karena hubungan internasional yang baik. Dalam hal ini, lanjut Julisa, salah satu semangat yang bisa diambil dari Sukarno adalah kolaborasi. “Pancasila aja, itu berkolaborasi lho ,” sebutnya. Reduksi Makna Sukarno banyak melahirkan ide dan gagasan yang banyak membentuk bangsa Indonesia. Banyak di antaranya masih bertahan dan relevan dalam konteks hari ini. Namun bukan berarti, apa yang digagas Sukarno tidak mengalami pergeseran-pergeseran nilai. Subarman Salim, pemerhati sejarah dan kebudayan dari Bone menyebut, telah terjadi reduksi makna gotong royong sebagai intisari Pancasila. Di mana gotong royong seringkali hanya dikampanyekan dan diartikan dalam kerja-kerja fisik. “Kita tahu, kita mendengar, kalimat gotong royong itu seringkali dikampanyekan sebagai sebuah upaya untuk membangun kerjasama. Dalam tataran praktis seringkali hanya diartikan sebatas kerja-kerja fisik, sementara itu hilang dalam tataran elite politik misalnya,” sebut Salim. Baca juga: Pidato Sukarno Menuju Memori Dunia Pergeseran nilai-nilai juga ditemui Sucia K. Imanuella, peneliti tradisi lisan dari Kendari. Seperti yang dikatakan Sukarno sendiri, bahwa Pancasila digali dari bumi Indonesia sendiri, dari tradisi dan kebudayaan yang sudah ada sebelumnya. Namun hari ini, sumber-sumber gagasan itu justru semakin terpinggirkan. “Apakah sama, kita melihat tradisi dan kebudayaan dengan rasa cinta, dengan rasa bangga dan terlebih lagi kita merasa memiliki kebudayaan itu? Atau sebaliknya justru kita memunculkan penindasan dalam tanda kutip yang kita ciptakan sendiri. Artinya kita merasa malu saat kita harus melestarikan tradisi kita sendiri,” ujarnya. Sucia melanjutkan, satu pernyataaan Bung Karno yang penting sebagai bahan refleksi yakni “alat kolonial tidak akan berhasil kecuali jika ia memupuk keunggulan kulit putih terhadap sawo matang.” Sementara itu, Imam A. Firdaus, penggiat lingkungan dari Depok melihat bahwa seringkali Sukarno dilihat dari hal-hal besarnya saja. Hal itu kemudian membuat gagasan Bung Karno kurang diimplementasikan generasi muda di ranah yang lebih sederhana. Baca juga: Sukarno Meninggal Dunia “Apakah kita pernah berpikir lebih jelas, lebih dalam tentang bagaimana menghadirkan Sukarno dalam konsep dan pikirannya itu di tengah-tengah kehidupan kita?” ujarnya. Senada dengan Imam, Abdullah Tontona, penulis asal Ternate juga melihat bahwa seringkali Bung Karno hanya diingat melalui perayaan dan ritual-ritual tahunan. Gagasan-gagasannya justru jarang ditransformasikan dalam karya dan kerja yang nyata. “Saat ini generasi kita, terutama generasi muda dan para politisi kita yang memegang kekuasaan tidak mentransformasikan secara praktis gagasan-gagasan Bung Karno yang sejak awal dia perjuangkan secara mati-matian,” sebutnya. Abdullah menambahkan bahwa seringkali Bung Karno bukan hanya dijadikan sebagai fosil tapi juga suvenir.
- Kisah Dua Presiden RI yang Terlupa
Sejak resmi berdiri sebagai sebuah negara, Republik Indonesia (RI) telah dipimpin oleh tujuh orang tokoh. Dalam kurun 75 tahun terakhir, rakyat telah merasakan pergantian penguasa dari berbagai latar belakang berbeda. Dimulai pada 1945 oleh Presiden Sukarno, hingga Presiden Joko Widodo pada 2014 lalu. Masing-masing tentunya membawa kebijakan yang berbeda. Selain ketujuh tokoh tersebut rupanya Indonesia masih memiliki dua tokoh lain yang pernah menduduki kursi tertinggi pemerintahan di republik. Mereka adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat, dua tokoh politik terkemuka semasa pergerakan. Sebagai catatan keduanya menduduki posisi tersebut saat situasi di dalam negeri sedang dalam kondisi darurat. Sjafruddin mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera sebagai upaya mempertahankan kedaulatan setelah Presiden Sukarno dan jajarannya di Yogyakarta berhasil dilumpuhkan pihak Belanda. Sementara Mr. Assaat menduduki kursi pimpinan sebagai pejabat ( acting ) presiden Republik Indonesia (27 Desember 1949 - 15 Agustus 1950) ketika Sukarno menjadi presiden Republik Indonesia Serikat (RIS). Baca juga: Ketika Tan Malaka Ingin Jadi Presiden Banyak kalangan kemudian menganggap keduanya pantas masuk ke dalam daftar presiden Indonesia, bersanding dengan nama-nama presiden lain. Meski sejarah tidak mencatat Sjafruddin dan Mr. Assaat sebagai presiden resmi republik ini, perjuangan mereka nyata adanya. Dalam suatu kesempatan sejarawan Taufik Abdullah, seperti dikutip Mumuh Muhsin Z dalam MR. Sjafrruddin Prawiranegara (1911-1989): Sang Penyelamat Eksistensi Negara Proklamasi Republik Indonesia , pernah mengatakan: “… apa yang disebut pahlawan sebenarnya tidak ada dalam sejarah, karena pahlawan tidak muncul dalam peristiwa sejarah atau pun dalam tindakan seseorang dalam suatu peristiwa sejarah. Pahlawan merupakan soal penilaian atau pun pengakuan pada waktu kemudian dari orang lain terhadap tindakan yang dilakukan seseorang. Selanjutnya penilaian atau pun pengakuan itu dikukuhkan oleh negara”. Berikut riwayat dua presiden yang terlupa tersebut. Sjafruddin Prawiranegara Sjafruddin duduk paling kanan (John Domino's/gettyimages) Kurun 1945-1949 merupakan masa peralihan terpenting bagi RI sebagai sebuah negara. Kemerdekaan yang telah lama dicita-citakan akhirnya berhasil diraih. Perjuangan menghilangkan kolonialisme dari bumi pertiwi berbuah manis. Sorak-sorai bergema di seluruh negeri, simbol kelahiran negara baru yang merdeka. Suka cita rakyat itu rupanya tidak berlangsung lama. Pada periode tersebut kedaulatan republik yang baru merdeka ini diuji. Keinginan Belanda menancapkan kembali kolonialisme mengusik ketenangan. Rakyat tidak tinggal diam. Mereka berbondong-bondong menghimpun kekuatan untuk menghalau sang penjajah. Genderang perang kembali ditabuh, menandai perjuangan baru sebagai rakyat merdeka. Baca juga: Sjafruddin Prawiranegara: Sebenarnya Saya Seorang Presiden Belanda melancarkan dua kali agresi dalam kurun 1946-1949. Seluruh daerah bergejolak. Tidak ada yang mampu menghindari peperangan. Pemerintahan di Jakarta pun terpaksa dipindah sementara ke Yogyakarta agar roda politik dapat terus berjalan. Tetapi pada agresi militer Belanda ke-2, pemerintahan RI di Yogyakarta berhasil dilumpuhkan. Sukarno-Hatta dan sejumlah menteri tertahan, tidak bisa menjalankan pemerintahan. Itulah keinginan Belanda. Meyakinkan dunia bahwa negara bernama Indonesia sudah tidak ada. Tetapi mereka keliru. Demi menjaga eksistensi Indonesia di mata dunia, didirikanlah PDRI di Bukit Tinggi, Sumatera Barat pada 1948. Adalah Sjafruddin Prawiranegara, tokoh republik yang ditunjuk untuk menduduki kursi pimpinan dalam menjalankan pemerintahan darurat tersebut. “PDRI bukan saja membantu menopang modal semangat juang, tetapi juga membuat Belanda lebih sulit lagi menghindari tanggapan-tanggapan terhadap tindakan-tindakan yang hendak diajukan oleh PBB,” ungkap Mumuh. Sjafruddin Prawiranegara dilahirkan di Banten pada 28 Februari 1911 dari pasangan Raden Arsjad Prawiraatmadja dan Noer’aini. Diceritakan George Kahin dalam In Memoriam: Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989) , ayah Sjafruddin bekerja sebagai asisten Wedana di Anyar Kidul, Karesidenan Banten. Dia sempat bersekolah di Europeeche Lagere School (ELS). Kemudian menempuh pendidikan lanjutan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan Algemeene Middlebare School (AMS), serta pendidikan tinggi di Rechts Hoge School (RHS). Baca juga: Penyesalan Sjafruddin Prawiranegara Sejak masih bersekolah di RHS Sjafruddin sudah aktif di dalam organisasi mahasiswa bernama Unitas Studosorum Indonesiensis (USI). Menurut Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony , USI lebih banyak melakukan kegiatan yang menunjang studi dan rekreasi. Hal itu semata dilakukan untuk menekan kecenderungan radikalisme di antara mahasiswa RHS. Tetapi meski kegiatan USI hampir tidak menyentuh ranah politik, Sjafruddin tetap menaruh perhatian pada pergerakan. Melalui berbagai bacaan di buku dan surat kabar, dia memahami makna nasionalisme. “Sjafruddin adalah seorang Muslim dan seorang patriot, dan dia benar-benar menolak pemerintahan Belanda seperti yang berkembang di Hindia. Dia coba memastikan posisi orang Indonesia di dunia modern, dan menolak gagasan Belanda,” tulis Mrazek. Selama masa gawat tahun 1948, Wakil Presiden yang juga merangkap Perdana Menteri Mohammad Hatta mengadakan rapat kabinet. Sukarno dan sejumlah menteri yang hadir sepakat untuk mengabari (melalui siaran telegram) Sjafruddin di Bukit Tinggi dan memintanya mendirikan pemerintahan darurat, membentuk kabinet, serta mengambil alih pemerintah pusat. Akan tetapi telegram itu tidak pernah sampai di tangan Sjafruddin. Jaringan radio yang dirusak Belanda menghalangi mandat tersebut. Dalam kebuntuan koordinasi dan komunikasi itu suasana bisa menjadi lebih buruk. Banyak pihak, kata Mumuh, secara spontan bisa mendirikan pemerintahan darurat dengan mengatasnamakan keselamatan Republik Indonesia. Tidak terbayangkan bagaimana perpecahan yang akan muncul di antara rakyat andai hal itu terjadi. Baca juga: Nasib Keluarga Ketika Sjafruddin Prawiranegara Dipenjara “Akan tetapi dalam kenyataannya tidak terjadi demikian. Mr. Sjafruddin Prawiranegaralah yang mengambil inisiatif, dan pihak-pihak lain mengakui serta menaatinya. Ini adalah firasat tajam Mr. Sjafruddin Prawiranegara,” kata Mumuh. Ketika mendirikan PDRI pada Rabu pukul 04.30 pagi tanggal 22 Desember 1948, Sjafruddin tidak menamakan dirinya “presiden” melainkan “ketua”. Alasan itu diungkapkannya di dalam harian Pelita , 6 Desember 1978: “Mengapa saya tidak menamakan diri Presiden Republik Indonesia tetapi Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia? Yang demikian itu disebabkan karena saya belum mengetahui mandat Presiden Sukarno, dan karena didorong rasa keprihatinan dan kerendahan hati… Tapi andai kata saya tahu tentang adanya mandat tersebut niscaya saya akan menggunakan istilah ‘Presiden Republik Indonesia’ untuk menunjukkan pangkat dan jabatan saya.” Sjafruddin pernah menduduki beberapa jabatan structural penting selama kurun 1946-1951: Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran, Gubernur Bank Indonesia, Wakil Perdana Menter, dan sebagainya. Sjafruddin jugalah yang diketahui mengusulkan agar Indonesia memiliki uang sendiri, ORI (Oeang Republik Indonesia) menggantikan uang Javasche Bank , uang pemerintah Hindia Belanda, dan uang Jepang. Sjafruddin Prawiranegara wafat pada 15 Februari 1989 di usia 77 tahun. Mr. Assaat Mr. Assaat ketika menjadi ketua BPKNIP (Wikimedia Commons) Mr. Assaat gelar Datuk Mudo lahir di Jorong Pincuran Landai, Kenagarian Kubang Putih, Kecamatan Banuhampu, Agam, Sumatera Barat, pada 18 September 1904. Diceritakan Marthias Dusky Pandoe dalam Jernih Melihat Cermat Mencatat: Antologi Karya Jurnalistik Wartawan Senior Kompas , sewaktu kecil Assaat menempuh pendidikan di sekolah agama Adabiah Padang dan MULO Padang. Baca juga: Tuntutan Merdeka 100% Selesai dengan sekolah dasar dan menengahnya, Assaat kemudian merantau ke Batavia. Di sana dia melanjutkan sekolah tingginya di School tot Opleiding van Indlandsche Artsen (STOVIA). Tetapi dia tidak menaruh minat kepada dunia kedokteran sehingga memutuskan pindah ke sekolah tinggi hukum RHS. Di Negeri Belanda Assaat berhasil memperoleh gelar meester in de rechten (Mr). Setelah kembali ke Tanah Air pada 1939, Assaat banyak terlibat di dalam kegiatan oragnisasi pergerakan, yakni Jong Sumatranen Bond dan Perhimpoenan Indonesia Moeda. Di sinilah dia mulai terlibat dalam berbagai kegiatan politik kebangsaan bersama tokoh pergerakan lain. Assaat terkenal aktif dan vokal dalam bersuara sehingga namanya cepat dikenal orang. “Fakta sejarah menyatakan lagi, Assaat adalah patriot demokrat yang tidak kecil sahamnya dalam menegakkan dan mempertahankan RI. Dia setia memikul tanggung jawab sejak awal kemerdekaan sampai tahap akhir penyelesaian revolusi,” ungkap Pandoe. Sejak 1945, Assaat telah aktif sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Salah satu tugasnya adalah membantu mengontrol jalannya pemerintahan, serta mendampingi presiden. Kemudian pada 1947, Assaat dicalonkan sebagai ketua KNIP dan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) yang sebelumnya memang sudah dijabatnya. Roda perpolitikan di dalam negeri yang terus bergejolak mengantarkan Mr. Assaat pada jabatan yang tidak terduga, yakni acting Presiden RI. Tugasnya adalah memimpin pemerintahan RI ketika negara ini resmi mengadopsi bentuk serikat. Penyerahan mandat kursi kepresidenan RI dari Sukarno ke Mr. Assaat terjadi lantaran Sukarno telah memegang jabatan presiden di pemerintahan Republik Indonesia Serikat, didampingi Mohammad Hatta sebagai Perdana Menteri. Baca juga: Aksi Dunia Untuk Indonesia Merdeka Diberitakan surat kabar Merdeka, 30 Desember 1949 pelantikan Mr. Assaat sebagai acting Presiden RI dilakukan di Istana Kepresidenan Yogyakarta pada 27 Desember 1949. Sukarno memimpin langsung upacara pelantikan tersebut. Selain penyerahan mandat, dalam sidang tahun 1949 itu juga BPKNIP secara resmi mengumumkan pemberhentian Sukarno dan Hatta sebagai Presdien dan Wakil Presiden RI. Juga penyerahan kedaulatan RI kepada RIS. Setelah penyerahan mandat, Mr. Assaat membentuk pemerintahan yang berkedudukan di Yogyakarta. Dia dibantu oleh beberapa tokoh republik dalam menjalankan tugasnya. Menurut Pandoe, selama memimpin pemerintahan RI di Yogyakarta Mr. Assaat berjasa dalam menandatangani pendirian Universitas Gadjah Mada (UGM). “Mr. Assaat tidak mau dipanggil Paduka Yang Mulia, tapi kalau mau, panggil Bung Presiden saja,” tulis Pandoe. Di dalam catatan Departemen Penerangan termuat Daerah Istimewa Jogjakarta , pengembalian jabatan presiden RI ke tangan Sukarno terjadi pada 15 Agustus 1950. Peristiwa itu ditandai dengan pembacaan Piagam Pernyataan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh Sukarno saat rapat gabungan DPR, Pemerintahan RIS, dan Senat. Piagam itu diputuskan berdasar persetujuan anggota RIS, DPR, dan BP-KNIP. Siang harinya, Sukarno tiba di Yogyakarta untuk menerima kembali mandat yang sebelumnya diberikan kepada Mr. Assaat. Hari itu juga mandat acting presiden resmi dikembalikan dari Assaat ke tangan Sukarno. Mr. Assaat sempat diasingkan ke Bangka akibat kegiatannya selama masa pergerakan. Dia juga pernah duduk di beberapa jabatan penting –selain ketua KNIP-BPKNIP dan acting Presiden RI– seperti Anggota Parlemen, serta Menteri Dalam Negeri di Kabinet Natsir. Mr. Assaat meninggal dunia pada 16 Juni 1976 di usia 72 tahun.
- Cerita Kari Kepala Ikan Buatan Gus Dur
Selesai dengan urusan pendidikan di Kairo, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memutuskan pergi ke Baghdad. Dia merasa kecewa dengan sistem pendidikan di Mesir yang jauh dari bayangannya. Tak ada kebebasan studi seperti yang dicita-citakannya. Kiprah Gus Dur pun berakhir dengan kegagalan. Sampai akhirnya sebuah beasiswa studi di Universitas Baghdad menyelamatkannya. Pada pertengahan 1966 Gus Dur tiba di Baghdad. Kota tersebut, kata Gus Dur sebagaimana diceritakan Greg Barton dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of KH. Abdurrahman Wahid , merupakan kota kosmopolitas yang penuh vitalitas, baik dalam bidang ilmu pengatahuan, seni, maupun sastra. Para pelajar Indonesia di sana merasa kebebasan untuk bertukar pikiran terbuka lebar tanpa batasan dan halangan. Selama tiga tahun pertama kehidupannya sebagai mahasiswa Universitas Baghdad, Gus Dur tinggal seatap dengan sesama mahasiswa yang datang dari Indonesia. Bersama 19 orang kawannya itu, Gus Dur menyewa sebuah vila untuk kediamannya selama bermukim di ibu kota Irak tersebut. Tempat tinggal Gus Dur itu, kata Barton, cukup besar dan menyengkan untuk ukuran mahasiswa. Mereka mengumpulkan iuran untuk membiayai segala kebutuhan rumah tangga dan sewa vila. Kebanyak mahasiswa, termasuk Gus Dur, tercatat sebagai penerima beasiswa. Namun mereka juga bekerja paro waktu untuk memenuhi kebutuhan tinggal di sana. “Sebagai tempat tinggal mahasiswa, vila ini ditandai dengan suasana kebersamaan yang menyenangkan serta percakapan-percakapan yang hidup dan kebanyakan menarik,” tulis Barton. Segala pekerjaan rumah di vila itu dikerjakan bersama-sama. Mulai dari bersih-bersih, memasak, hingga merapikan barang tidak mengandalkan asisten rumah tangga. Untuk tugas memasak setiap mahasiswa akan mendapat giliran setiap 20 hari sekali. Ketika tiba waktu Gus Dur, dia sudah pasti akan menyiapkan menu andalannya: kari kepala ikan. Merupakan sebuah kebetulan hidangan itu bisa menjadi resep andalan Gus Dur. Suatu hari, ketika masih baru tinggal di Baghdad, Gus Dur melewati sebuah toko penjual ikan di dekat tempat tinggalnya. Dia memperhatikan bahwa orang Irak tidak memakan kepala ikan. Bagian tersebut dibuang begitu saja, atau diberikan untuk hewan. Dia pun lalu mendatangi penjual ikan tersebut dan meminta 20 kepala ikan ukuran besar. Pemilik toko heran dengan permintaan yang baginya tidak masuk akal tersebut. “Untuk apa kepala ikan sebanyak itu?” tanyanya. “Hmm, saya memlihara banyak anjing,” kata Gus Dur. “Berapa banyak?” si penjual mulai mengerti situasi orang asing ini. “Dua puluh ekor,” jawab Gus Dur sambil menahan tawa. Sejak itu setiap 20 hari sekali Gus Dur akan mendatangi toko tersebut dan membawa pulang 20 kepala ikan berukuran besar. Dia tidak menerimanya secara gratis. Gus Dur selalu meninggalkan beberapa keping uang logam sebagai tanda membeli, walau nilainya sangat jauh ketimbang harga normal ikan yang dijual di sana. Setiba di rumah Gus Dur langsung mengolah kepala ikan tersebut. Diakui oleh teman-temannya bahwa kari kepala ikan buatan kawan dari Jombang ini sangat lezat. Menurut Barton walau Gus Dur senang bisa mengubah barang yang tidak terpakai dari sebuah toko menjadi hidangan yang digemari kawan-kawannya, bukan berarti itu didorong oleh keinginan untuk menghemat uang. Dia mempunyai cukup uang dari beasiswa dan upah bekerja, serta honorarium untuk setiap esai yang dibuatnya. Gus Dur melakukannya karena semata-mata gemar membuat kari kepala ikan. Suatu ketika mahasiswa-mahasiswa ini menerima tamu resmi dari Indonesia. Pihak kedutaan kemudian mengusulkan agar kediaman Gus Dur dipakai untuk kegiatan jamuan makan. Mereka setuju dan segera membentuk kepanitian persiapan acara. Salah seorang teman Gus Dur mendapat tugas memasak. Dia ingin menghidangkan kari kepala ikan buatan Gus Dur, di samping menu olahan daging sapi dan kambing. Temannya ini lalu pergi ke toko ikan yang biasa dikunjungi Gus Dur. Si penjual mengenali orang ini sebagai teman Gus Dur. Sambil tertawa dia memberi komentar: “Temanmu sangat aneh.” “Kenapa?” tanya kawan Gus Dur itu keheranan. “Ia memelihara banyak sekali anjing. Bayangkan, 20 anjing!” kata si penjual yang kembali terkekeh. Tanpa berkomentar apapun mahasiswa ini kembali pulang. Sampai di rumah, dia langsung mencari Gus Dur. “Sampai hati kau samakan kami dengan anjing?” katanya menumpahkan kemarahannya kepada sang pemilik resep kari kepala ikan itu.
- Petualangan Intelektual Gus Dur di Luar Negeri
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak remaja dikenal haus akan ilmu pengetahuan. Buku bacaannya begitu banyak, tidak hanya soal teologi tetapi juga filsafat, politik, hingga tema ideologi. Berhasil menamatkan sekolahnya, Gus Dur merasa masih banyak hal yang tidak ia ketahui. Dia pun segera merencanakan studi lanjutan, tidak di dalam negeri melainkan di luar negeri. Memulai Petualangan Petualangan Gus Dur di luar negeri dimulai pada 1962. Tertulis di dalam buku Leadership Secrets of Gus Dur and Gus Miek karya M.N. Ibad, dirinya berhasil memperoleh beasiswa dari Kementerian Agama RI untuk studi di Kairo, Mesir. Gus Dur memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar sebanyak mungkin nilai-nilai keislaman modern dari para tokoh cendekiawan Muslim Mesir. Seperti diketahui pada tahun-tahun tersebut Mesir sedang mengalami perkembangan yang pesat di bawah pimpinan Gamal Abdul Nasser, utamanya di bidang pendidikan Islam modern. Salah satu alasan Gus Dur mengambil kesempatan bersekolah di Mesir adalah dia berusaha mencari jawaban atas kondisi keislaman di Republik yang kian mengkhawatirkan. Greg Barton dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of KH. Abdurrahman Wahid menyebut Gus Dur begitu gelisah ketika melihat ada banyak persoalan yang dihadapi umat Islam di Indonesia. Kemiskinan, penindasan, dan ketidakadlian selalu menghiasi kehidupan kaum muslimin di sini. Saat berlabuh di Kairo, dia berharap menemukan jawaban yang tepat atas kegetirannya. Baca juga: Gus Dur dan Buku “Meskipun pada awalnya Gus Dur sangat bersemangat dengan studinya di Al-Azhar, namun ia kemudian merasa sangat kecewa oleh karena masa keemasan Al-Azhar telah mencapai puncaknya beberapa dasawarsa sebelumnya,” tulis Barton. Kekecewaan lain dirasakan Gus Dur ketika pihak universitas menyuruhnya mengikuti kelas bahasa Arab untuk mereka yang benar-benar pemula. Dia dianggap tidak cukup mengetahui pengetahuan tentang bahasa tersebut. Gus Dur, kata Barton, sebenarnya mahir berbahasa Arab. Semasa bersekolah di Jombang, Jawa Timur, dia telah lulus studi yurisprudensi Islam, teologi, dan pelajaran lain yang memerlukan pengetahuan bahasa Arab sangat baik. Sayangnya tidak ada ijazah yang menunjukkan bahwa dia telah lulus kelas bahasa Arab ketika di Jombang. Sebagai raksi penolakan, Gus Dur memilih tidak mengikuti kelas tersebut. Itu berarti sepanjang tahun 1964 dia tidak mengikuti studi formal apapun. Gus Dur kemudian menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan-perpustakaan besar, menonton film-film Prancis, mengikuti diskusi-diskusi, serta menonton banyak pertandingan sepakbola di Kairo. “Walaupun kecewa dengan sistem pendidikan di Al-Azhar sebagai institusi, tetapi Abdurrahman Wahid sangat senang dengan kehidupan kosmopolitan di kota Kairo,” tulis Syamsul Bakri dan Mudhofir Abdullah dalam Jombang-Kairo, Jombang Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam di Indonesia . Akhir 1964, Gus Dur lulus ujian bahasa Arab dengan mudah. Kepercayaan dirinya seketika muncul bahwa ia bisa melompati kelas-kelas di dalam studinya di universitas. Ketika melihat bahan pelajaran yang akan diikutinya selama program sarjana tidak beda membosankannya dengan kelas bahasa Arab, Gus Dur kembali mengulangi kegiatannya: menghindari pelajaran formal. Baca juga: Dahsyatnya Humor Gus Dur Dia merasa telah memperoleh pengetahuan yang cukup untuk studi di tahun peratama. Gus Dur yakin walau mengikuti pelajaran secara asal-asalan, di akhir tahun akademik tetap akan membuatnya lulus ujian. Namun keputusannya itu malah berujung petaka. Pihak universitas yang memberinya beasiswa tidak menyukai catatan kehadirannya. Dia juga dianggap terlalu meremehkan sistem pendidikan di Al-Azhar. Kondisi politik di Indonesia yang memburuk setelah peristiwa 30 September 1965 ikut menambah beban kehidupan studi Gus Dur di Kairo. “Seorang mahasiswa yang lebih disiplin barangkali akan bisa menciptakan suasana belajar lagi, akan tetapi Gus Dur terlambat melakukan usaha itu dan juga karena usahanya memang asal-asalan. Oleh karena itu, ia gagal lulus salah satu dari dua objek inti dan diberitahu bahwa ia harus mengulang tahun itu, dan sangat mungkin sekali tanpa menerima beasiswa,” tulis Barton. Gus Dur menghabiskan sebagian besar waktunya di Kairo untuk membaca. Setiap harinya dia akan mengunjungi perpustakaan Universitas Amerika, perpustakaan Prancis, atau perpustakaan Universitas Kairo. Berbeda dengan di Jombang, di Kairo dia bisa membaca apa saja dan di mana saja, bahkan bisa di sekeliling rumah atau di tempat menunggu bus. Meski tidak berhasil menamatkan studinya, Gus Dur merasa di kota inilah pemikiran-pemikirannya diasah. Dia mampu mengembangkan pengetahuan pada tingkatan lebih tinggi. Berkat kebebasan yang secara relatif dimilikinya, juga penolakan atas pelajaran bahasa Arab untuk pemula, Gus Dur bisa menyerap pengetahuan sebanyak yang diinginkannya. “Oleh karena Gus Dur bisa memperoleh bermacam-macam buku baru, demikian kenangnya, ia merasa bahwa cita rasanya dalam membaca cepat meluas dengan adanya penemuan-penemuan baru,” ungkap Barton. Kehidupan Baru Menerima kegagalan di Kairo, Gus Dur tidak langsung putus asa. Dia segera mengusahakan kembali keberlangsungan studinya. Pada 1966 kabar baik itupun datang, Gus Dur mendapatkan tawaran beasiswa studi di Fakultas Seni, Universitas Baghdad, Irak. Tawaran ini menjadi kesempatan kedua Gus Dur untuk memulai segalanya dari awal. “Abdurrahman Wahid mengakui bahwa sistem pembelajaran di Universitas Baghdad dirasakan lebih dinamis dan dalam banyak hal lebih mirip dengan sistem pendidikan di universitas-universitas Eropa dibandingkan dengan Al-Azhar,” tulis Bakri dan Abdullah. Kala itu, Universitas Baghdad memiliki banyak dosen lulusan Eropa. Itulah mengapa penerapan standar Eropa mulai dirasakan Gus Dur saat pertama kali tiba di sana. Sebagai mahasiswa dia dituntut untuk berpikir kritis dan banyak membaca. Sebuah hal yang agaknya tidak terlalu sulit bagi Gus Dur. Namun di sini dia tidak bisa main-main seperti sebelumnya. Kehadiran di kelas menjadi syarat wajib mengikuti studi. Mahasiswa di sini dipantau secara ketat. Baca juga: Sinta Nuriyah Berkisah tentang Gus Dur Demi menunjang studinya, setiap sore Gus Dur akan mampir ke perpustakaan universitas. Dia merasa tidak boleh lalai seperti di Kairo agar beasiswanya tetap dipertahankan. Hampir setiap hari juga akan ada tugas makalah yang dibawa pulang. Gus Dur tidak pernah menyelesaikannya di rumah, perpustakaan selalu menjadi pilihan terbaik baginya untuk belajar. Di Baghdad, Gus Dur memiliki jawal yang lebih padat daripada ketika masih di Kairo. Dia tidak bisa bebas berjalan-jelan di kota karena waktunya habis dipakai untuk studi. Meski demikian, kata Barton, Gus Dur masih menyisihkan sebagian waktunya guna menonton film-film Prancis dan membaca buku kegemarannya. Bahkan pada malam-malam tertentu, Gus Dur menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi di tepi Sungai Tigris, sambil terlibat di dalam diskusi-diskusi. “… Baghdad merupakan kota magis bagi Gus Dur dan ia pun menghabiskan waktu senggangnya guna mencari tempat-tempat baru untuk dikunjunginya,” kata Barton. Gus Dur berhasil menyelesaikan pendidikan di Universitas Baghdad pada pertengahan 1970-an. Memakan waktu kurang lebih empat tahun untuk dia meraih gelar sarjananya. Studi yang Tertunda Keinginan Gus Dur mengenyam studi di Eropa sebenarnya ada sebelum ia memutuskan memilih Kairo. Berbagai buku karya sastrawan-sastrawan Eropa, serta tema-tema pemikiran tokoh Eropa yang dibacanya sejak masih belajar di Yogyakarta membuat keinginan terbang ke Benua Biru itu begitu meluap-luap. Selesai dengan Baghdad, Gus Dur pun kemudian pindah ke Eropa. Mula-mula dia tinggal di Belanda. Pamor Negeri Kincir Angin tersebut sebagai destinasi pendidikan menjadi pilihan utama Gus Dur. Dia melabuhkan dirinya di sana dengan harapan dapat memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi pascasarjana di bidang perbandingan agama. Baca juga: Gus Dur dan Keberagaman Pada bulan-bulan pertama Gus Dur lebih banyak mengumpulkan informasi terkait universitas mana yang cocok bagi studinya. Jika harus memilih, dia lebih senang melanjutkan di Universitas Leiden. Namun rasa kecewa mesti dihadapi Gus Dur. Ketika tengah mencari informasi, dia memperoleh kenyataan bahwa di Leiden dan di seluruh Eropa, studinya di Universitas Baghdad tidak memperoleh pengakuan. Jika Gus Dur tetap ingin melanjutkan studi di Eropa, beberapa universitas akan menerimanya. Tetapi mereka menetapkan prasyarat yang mengharuskannya mengulang studi tingkat sarjana. Gus Dur tidak menerima hal itu. Dia pun tidak memaksakan keinginannya dan memilih menghabiskan waktu untuk berkeliling Eropa, mempelajari banyak hal secara informal. Setelah berkelana hampir setahun, Gus Dur memutuskan kembali ke Indonesia pada pertengahan 1971. “Walaupun Gus Dur tidak memperoleh kualifikasi formal dari studinya di Eropa, namun pengelamannya di Eropa itu adalah cita-cita yang ia inginkan bertahun-tahun sebelumnya,” tulis Barton.





















