top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Rachmat Kartolo Pahlawan Patah Hati

    KABAR berpulangnya Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot membuat segenap “sobat ambyar” makin ambyar. Pasalnya, belum lama ini penyanyi campursari kelahiran 1966 itu didapuk sebagai The Godfather of Broken Heart. Fenomena Didi Kempot mengingatkan kita pada pendahulunya, yang juga pernah dijuluki sebagai pahlawan patah hati, Rachmat Kartolo. Rachmat Kartolo lahir di Jakarta pada 13 Maret 1938 dari pasangan seniman Kartolo dan Rukiah. Kartolo dan Rukiah kala itu sudah terkenal sebagai bintang film. Rachmat sendiri ketika muda belum tertarik masuk ke dunia film dan justru menjajal kemampuan seni musiknya. Pada 1940-an, bersama saudaranya, Iman Kartolo dan Jusuf Kartolo, Rachmat sudah membentuk band kecil.

  • Gus Dur, Indonesia Banget.

    Anak santri cucu pendiri NU yang demokratis, doyan humor, dan peka soal kemanusian dan hak asasi manusia.

  • Kisah Panglima Pasukan Diponegoro dalam Perang Paderi

    TAHUN 1830-an, suasana persatuan di kalangan kaum Paderi dan kaum adat mulai terasa. Antara kaum ulama dengan kaum adat mulai saling berkompromi. Kedua kubu sebelumnya terlibat perang saudara akibat perbedaan pendapat dalam proses penerimaan Islam. Kaum ulama (kaum Paderi) menginginkan penerapan ajaran Islam yang sesuai Al-Qur’an dan Hadits, sementara kaum adat merasa perlu menjaga tradisi leluhur tetap hidup. Di tengah perpecahan itu Belanda ikut campur dan membuat keadaan semakin rumit. Perlahan masyarakat sadar bahwa Belanda hanya memanfaatkan mereka untuk kepentingan kolonialisasi di Sumatera. Peperangan pun akhirnya berubah menjadi upaya mengusir pemerintah Belanda dari Tanah Minang. Kedua kelompok sepakat menghentikan perang dan bersatu menghilangkan kolonialisme dari wilayahnya. Di lain pihak, kekhawatiran mulai menyelimuti pihak Belanda. Bersatunya dua kekuatan itu memunculkan trauma jika kerugian yang mereka alami dalam Perang Jawa akan terulang di Sumatera. Maka satu-satunya jalan agar kerugian itu tidak terjadi, pihak Belanda harus mendatangkan bala bantuan dari Batavia.

  • Metamorfosis Hadrah Kuntulan

    DI sebuah panggung, dengan latar mirip gapura besar, sembilan lelaki berdiri berjajar sembari membawa rebana. Dalam hitungan detik, mereka menepuk rebana dengan tertib. Di sisi lainnya, ada pula iringan alat musik tambahan seperti tambur. Duduk di bagian ini pula penyanyi perempuan dan lelaki. Kurang dari setengah menit, muncul dari belakang panggung tujuh penari perempuan. Mereka mengenakan baju seragam dominan putih, omprok (mahkota) yang sudah dimodifikasi menjadi satu dengan jilbab, sarung tangan, dan kaos kaki. Para penari membawakan tari rodat sembari melantunkan bait-bait pujian Islami. Mereka unjuk gigi dalam acara Festival Kuntulan Caruk yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi di Taman Blambangan pada Oktober 2019. Festival ini diikuti puluhan grup kuntulan tingkat SLTA se-Banyuwangi. Gema syair-syair islami, rancak tabuh hadrah, dan aksi para penari menimbulkan decak kagum ratusan penonton yang hadir. “Semoga ini bisa menjadi panggung bagi anak-anak muda untuk ambil bagian dalam pelestarian budaya lokal. Kami berharap agar anak-anak Banyuwangi tetap mencintai budaya daerahnya di tengah gempuran budaya asing yang kian kuat,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas . Sejak tahun lalu Festival Kuntulan Caruk telah masuk dalam agenda resmi Banyuwangi Festival (B-Fest). Ini sebagai upaya Pemkab Banyuwangi untuk terus merawat dan melestarikan tradisi Banyuwangi. Tumbuh dari Pesantren Kemunculan kuntulan tak bisa dilepaskan dari perkembangan agama Islam di Blambangan, nama lama Banyuwangi. Ia merupakan perkembangan dari hadrah atau terbangan , aktivitas seni yang tumbuh di kalangan pesantren dalam rangka dakwah. Bentuknya berupa selawatan yang bersumber dari kitab al-Barzanjiy yang berisikan kisah perjalanan Rasulullah, pujian-pujian kepadanya, dan doa-doa. Kesenian hadrah sudah dikenal lama dalam masyarakat Islam di Indonesia. Belum jelas kapan hadrah dikenal di Banyuwangi. Namun John Scholte dalam “Gandroeng van Banjoewangi” (1927) sudah menyebut keberadaan sebuah kesenian bernama “ajrah”, yakni seni dakwah yang menyajikan nyanyian Islami. Menariknya, ajrah disebut mempengaruhi lagu-lagu dalam kesenian gandrung. Banyak pemerhati seni meyakini ajrah yang dimaksud Scholte adalah hadrah. Kristina Novi Susanti dalam “Kesenian Kuntulan Banyuwangi: Pengamatan Kelompok Musik Kuntulan Mangun Kerto”, skripsi pada Program Studi Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2008, menyebut saat itu sudah ada kesenian islami yang menyajkan nyanyian sekaligus tarian sederhana, dengan seorang penari laki-laki yang disebut rudat . Kesenian ajrah dengan penari rudat inilah yang diangap sebagai bentuk awal dari hadrah yang tumbuh di pondok pesantren. Dalam hadrah, instrumen musik yang mengiringinya adalah rebana dan kendang. Gerakan tari, yang dibawakan laki-laki, umumnya menirukan gerakan wudhu, adzan, sholat, dan sebagainya. Pakaiannya serba putih, baik baju, sarung atau celana panjang, maupun peci atau ikat. Sayangnya, hadrah kurang berkembang dan perlahan memudar. Ia kemudian bermetamorfosis jadi kesenian hadrah kuntul atau kuntulan yang lebih menarik. Hal ini tak lepas dari kreativitas seniman Sumitro Hadi untuk kepentingan festival seni di Surabaya tahun 1977. Sumitro Hadi menggunakan penari perempuan dengan kostum berwarna kuning dan warna lain, omprok (penutup kepala) ala penari gandrung, kaos kaki dan kaos tangan. Sumitro Hadi lalu melakukan pengembangan lagi dengan menggabungkan penari laki-laki dan perempuan dalam satu sajian. Kreasi ini sempat populer hingga akhir 1980-an. “Perbedaan wujud yang mendasar yaitu, jika dalam hadrah unsur teks adalah unsur utama sajian dengan musik sebagai iringan, tetapi dalam kuntulan musik dan tarian adalah unsur utama sajian. Bahkan dapat dikatakan sajian tarian lebih dominan,” tulis Ciptono Hadi dalam “Perubahan Hadrah ke Kuntulan: Kajian Aspek Tekstual dan Kontekstual”, skripsi pada Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2013. Pengembangan lebih lanjut dilakukan seniman Sahuni. Dia mengambil unsur musik, tari, dan tembang dalam kesenian tradisi Banyuwangi lainnya, termasuk gandrung. Pengembangan ini diberi nama kundaran ; akronim dari “kun” yang merujuk pada kuntulan dan “daran” yang berarti pengembangan. Nama baru itu populer dan bersanding dengan nama lain seperti kuntulan, kuntari (kuntulan tari), atau hadrah kuntulan. Proses perubahan itu membuat hadrah kuntulan menjadi lebih hidup dan menarik. Sajian hadrah Banyuwangi pernah tampil di TVRI Surabaya pada 28 Januari 1985. Munsief KH dalam “Diperlukan Kreativitas dalam Seni Hadrah”, dimuat majalah Amalbhakti , mengapresiasi kesenian ini. Menurutnya, “jika kita tonton sepintas nampak adanya suatu upaya untuk mendinamisir pola seni hadrah sesuai dengan tuntutan zaman.” Selain itu, jika dibandingkan pola seni hadrah di Surabaya dan sekitarnya, “nampak hadrah dari Banyuwangi lebih dinamis dan beraneka gerak dan langgamnya.” Festival Kuntulan di Taman Blambangan tahun 2016. (Twitter @infobwi). Pesan Islam Selain penyajian secara sendiri, berkembang pula kuntulan caruk – caruk dalam bahasa Osing berarti pertemuan atau bertemu. Dua kelompok kuntulan dihadirkan dalam satu pementasan untuk berkompetisi. Penilaian ditentukan penonton. Akibatnya saling dukung kerap menimbulkan ketegangan. “Pada dekade 1980 hingga 1990-an, Kuntulan caruk merupakan pertunjukan yang selalu menghadirkan suasana ketegangan pertunjukan,” tulis Karsono dalam “Seni Kuntulan Banyuwangi: Keberlanjutan dan Perubahannya”, dimuat jurnal Ikadbudi , Oktober 2014 . Saat ini ketegangan suasana pertunjukan dalam Kuntulan Caruk sudah jarang ditemui. Hingga kini, kuntulan caruk menjadi pertunjukan yang menarik penonton. Setiap tahun digelar Festival Kuntulan Caruk yang mempertemukan berbagai kelompok musik Islami dari seluruh Banyuwangi. Islam yang Santun Di Banyuwangi, pertunjukan kuntulan biasanya tampil pada acara-acara perkawinan, bersih desa, hingga peringatan hari besar keagamaan. Dalam pementasan kuntulan, terdapat sembilan pemain terbang yang terbagi dalam tiga kelompok dan repertoarnya mencakup nyanyian bernapaskan Islam ( qasidah ), lagu-lagu dalam bahasa Osing, dan terkadang lagu pop yang tengah populer. Sejumlah upaya dilakukan Pemkab Banyuwangi untuk merawat kesenian ini. Pada 2011, misalnya, Pemkab Banyuwangi menggelar pagelaran terbangan yang berkolaborasi dengan hadrah kuntulan yang dilakukan 232 orang. Pagelaran ini meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai “Pementasan Terbangan dengan Peserta Terbanyak”. Hadrah kuntulan khas Banyuwangi pun tetap bertahan. Bahkan mengharumkan nama Banyuwangi. Di pentas nasional, kuntulan pernah juara lomba festival di Masjid Istiqlal Jakarta. Kuntulan juga kerap tampil di luar negeri. Awal tahun 2019, 20 seniman muda Banyuwangi tampil membawakan hadrah kuntulan di Festival Janadriyah di Riyadh, Arab Saudi, festival terbesar di kawasan Timur Tengah. Daya tarik kuntulan bisa dilihat pada Festival Hadrah Pelajar Nasional yang digelar di Banyuwangi, Mei 2019. Tampil 13 mahasiswa dari 12 negara peserta program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI). Salah satunya Irati Gutierrez Ugarte asal Bilbao, Spanyol. Dia mengatakan berlatih tari kuntulan merupakan kesempatan baginya untuk mengenal Islam di Indonesia. “Festival ini akan menjadi media untuk merajut silahturahmi dan konsolidasi antar pelajar dan santri dari seluruh nusantara. Sekaligus, lewat festival hadrah dan sholawat ini kami ingin mengirim pesan tentang budaya Islam di Indonesia yang santun, toleran, dan inklusif, dan yang tentunya cinta damai,” ujar Bupati Anas . Festival Hadrah dan Festival Kuntulan Caruk masuk dalam agenda Banyuwangi Festival. Untuk tahun ini semestinya masing-masing akan digelar 9 Mei dan 3 Oktober 2020

  • Ideologi Juche Korea Utara

    JIKA Sukarno menggagas Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, sahabatnya, Kim Il-sung juga merumuskan sendiri ideologi Korea Utara yang bernama Juche. Dan pada 1965, Juche diumumkan secara internasional di Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, Jakarta. Juche atau chuch’e (bisa diartikan sebagai berdikari) merupakan ideologi resmi Korea Utara. Menjadi pandangan hidup orang Korea Utara serta digunakan sebagai identitas politik negeri itu. Gagasan politik Juche secara bertahap memasukan empat konsep yakni chuch’e, chaju, charip, dan chawi. Keempat konsep tersebut dikembangkan sejak 1950 hingga 1960-an. Konsep “chuch’e dalam pemikiran” muncul pertama kali pada Desember 1955 dalam pidato Kim Il-sung tentang “Menghilangkan dogmatisme dan formalisme dan membangun juche [chuch’e] dalam kerja ideologis”. Ia menyebutkan istilah chuch’e untuk pertama kalinya dan menunjukan perlawanannya pada kebijakan Soviet yang dipimpin Nikita Khrushchev.

  • Orang Dayak Menghadapi Wabah Penyakit

    PENYAKIT menular mulai muncul pada masyarakat prasejarah yang menetap, bertani, dan beternak. Sebagian besar hidup dalam permukiman permanen. Permukiman yang padat dan tak higienis menjadi sarang bagi munculnya wabah. “Sebagian besar penyakit menular, seperti campak, cacar, kolera, TBC, dan sebagainya, ditularkan dari hewan yang didomestikasi oleh umat manusia sendiri,” kata Muslimin A.R. Effendy, kepala BPCB Kalimantan dalam diskusi daring lewat aplikasi zoom tentang “Wabah Penyakit Menular dan Bencana Kemanusiaan Perspektif Sejarah dam Budaya” pada Kamis 30 April 2020. Di Indonesia, penyakit menular muncul sejak akhir masa neolitik 2.000 tahun lalu. Di Lambanapu dan Melolo, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, ditemukan rangka manusia dalam jumlah banyak dan betumpuk.

  • Kisah Dewa dari Korea Utara

    SENO Gumira Ajidarma mengisahkan suatu kejadian tak mengenakan saat dirinya berkunjung ke Korea Utara pada 2002. Sebagai tamu resmi pemerintah negera komunis itu, Seno yang seorang kritikus film sekaligus fotografer, suatu hari berkesempatan mengambil gambar patung Kim Il-sung, Bapak Pendiri Korea Utara. Saat tengah asyik memotret bagian-bagian patung itu secara rinci dari jarak dekat, tetiba seorang petugas mendekatinya. Dengan ketus dia melarang Seno untuk mengambil gambar patung tersebut secara tidak utuh. “Kalau memotret pemimpin kami, tolong jangan dipotong-potong!” katanya seperti dituturkan oleh Seno dalam bukunya Jejak Mata Pyongyang.

  • Islamisasi Minangkabau

    PROSES Islamisasi di Minangkabau –mencakup wilayah Sumatera Barat, sebagian Riau, Bengkulu, Jambi, sebagian Sumatera Utara, dan sebagian Aceh– terjadi pada kurun masa yang sangat panjang. Banyak bukti yang menjelaskan keberadaan ajaran tersebut. Namun mengenai kapan dan dari mana pertama kali ajaran tersebut masuk, banyak ahli yang kesulitan untuk merekonstruksinya. Keterbatasan informasi menjadi kendala utama. Menurut sejarawan Taufik Abdullah sumber-sumber tentang Islam di Minangkabau belum terekam secara baik. Di dalam tulisannya “Adat and Islam: An Examination of Conlict in Minangkabau” dimuat Readings on Islam in Southeast Asia  karya Yasmin Hussein, Taufik Abdullah menyebut jika pengetahuan pertama tentang Islam di wilayah itu datang dari Ulakan, Padang, Sumatera Barat. Tokoh utamanya adalah Syekh Burhanuddin. Syekh Burhanuddin dianggap sebagai ulama pertama yang menyebarkan Islam di antara masyarakat Minangkabau. Dia merupakan murid dari ulama terkenal Aceh, Syekh Abduurauf Singkel. Tetapi, kata Taufik Abdullah, banyak bukti yang mengindikasikan bahwa Syekh Burhanuddin bukan yang pertama memperkenalkan Islam di sana. “Meski begitu, ia tampaknya menjadi ulama penting pertama yang mendirikan pusat keagamaan di Minangkabau. Dia menjadi satu-satunya ulama yang memiliki wewenang dalam urusan agama,” kata Taufik Abdullah. Syekh Burhanuddin diketahui membangun sebuah surau di Ulakan. Surau itu menjadi tempat pertama ulama-ulama Minangkabau belajar soal agama Islam secara lebih dalam. Murid-murid Syekh Burhanuddin berasal dari berbagai daerah di Minangkabau. Setiap orang, baik muda ataupun tua, yang ingin memperdalam tentang Islam boleh belajar di sana. Menurut Mhd. Nur, dkk dalam Perjuangan Sultan Alam Bagagar Syah dalam Melawan Penjajah Belanda di Minangkabau pada Abad ke-19 ,   mereka yang telah belajar di Ulakan akan kembali ke daerahnya masing-masing dan membangun surau sendiri. Proses inilah yang mempercepat proses islamisasi. Bahkan pengaruh dari Ulakan itu sampai juga ke seluruh Nusantara, seperti yang dilakukan Datuk Ri Bandang dan Datuk Ri Patimang di Makassar, Sulawesi Selatan. “Para murid Syekh menyebarkan Islam di Minangkabau dengan jalan menanamkan budi dan memperlihatkan akhlak yang baik kepada masyarakat. Masyarakat Minangkabau cepat merespon Islam dan ikut menyebarkan Islam ke daerah-daerah lainnya di Nusantara,” tulis Mhd. Nur, dkk. Pada akhir abad ke-17, ulama-ulama besar bermunculan di Tanah Minang. Beberapa di antaranya: Tuanku Pamansiangan di Luhak Agam, Tuanku Koto Tuo, dan Tuanku Nan Tuo. Mereka adalah bekas murid-murid Syekh Burhanuddin. Di bawah pimpinan ulama-ulama ini, beberapa daerah menjadi pusat pengajaran fiqih Islam, serta Al-Qur’an dan Hadits. Permasalahan hukum, kepercayaan, dan seluruh aspek kehidupan sosial juga tidak lupa diajarkan. Perbedaan Pendapat Awal abad ke-19, setelah berjalan selama dua abad, proses Islamisasi di Minangkabau memasuki fase baru. Para ulama, dikenal sebagai “kaum Paderi”, mencoba melakukan pembaharuan Islam. Misi utamanya: pelaksanaan ajaran Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Dengan kata lain, pemurnian terhadap Islam di Minangkabau. Tokoh utama dalam gerakan reformasi ini adalah para ulama yang baru saja kembali dari Makkah, yakni: Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Setelah melihat dan belajar Islam di Tanah Suci umat Islam itu, mereka merasa ada kekeliruan dalam praktek agama di Minangkabau. Utamanya pelaksanaan adat yang berlebihan. Meski mayoritas masyarakat Minangkabau telah memeluk Islam, tetapi tiga haji itu masih menemukan praktek-praktek keagamaan yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadits. Seperti banyak guru agama masih berkhidmat kepada kuburan yang dianggap keramat, sabung ayam, berjudi, minum tuak, meninggalkan ibadah, dan pelanggaran agama lainnya. Kaum Putih (nama lain kaum Paderi) menentang seluruh sistem adat yang telah sejak lama menjadi bagian dari tradisi Minangkabau pra Islam. Mereka berusaha menghapusnya, dan menggantikan kebiasaan-kebiasaan di masyarakat tersebut dengan tradisi islami. Hal itu tentu mendapat pertentangan dari golongan adat yang ingin mempertahankan tradisi turun-temurun itu. “Kaum Paderi bukan saja mencela sistem adat, tetapi juga sekaligus menentang pelaksanaan tradisi adat yang bertentangan dengan Islam yang telah menjadi tradisi bagi kaum Adat di Minangkabau,” tulis Mhd. Nur, dkk. Pada 1803, suasana di Minangkabau semakin memanas. Berbagai perundingan dengan Kerajaan Pagaruyung, sebagai penggerak kaum adat, gagal mencapai kesepakatan. Puncaknya, kaum Paderi dan kaum adat terlibat pertikaian besar yang berujung kepada perang saudara. Di bawah komando Harimau Nan Salapan, kaum Paderi berhasil mendesak pasukan kaum adat pimpinan Sultan Arifin Muningsyah. Pagaruyung lalu meminta bantuan Belanda, yang kebetulan sedang mencari celah menguasai wilayah Sumatera. Kesempatan itu juga digunakan Belanda untuk melemahkan pengaruh kaum ulama Paderi. Merek sadar, setelah melihat kasus Aceh, bahwa kaum ulama militan bisa menjadi penghalang upaya kolonialisasi. Namun di tengah pertikaian besar itu, kaum adat mulai menyadari siasat Belanda yang hanya memanfaatkan mereka untuk kepentingan kolonial. Akhirnya kaum adat dan kaum Paderi setuju melakukan genjatan senjata demi mengusir Belanda dari Tanah Minang. “Dampak paling awal dari Islam tercermin di dalam formulasi baru sistem adat sebagai pola perilaku ideal. Hingga akhirnya elemen-elemen luar dapat diserap secara menyeluruh ke dalam tatanan yang ada sebagai bagian dari sistem yang koheren,” kata Taufik Abdullah.*

  • Supeni, Kim Il-sung, dan Ganefo

    PRESIDEN Sukarno mengangkat Supeni, politisi perempuan PNI, sebagai duta besar keliling. Ia ditugaskan meyakinkan pemimpin negara-negara Asia-Afrika untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok pertama di Beograd, Yugoslavia, pada 1–6 September 1961. Di luar tugas resmi itu, saat diundang ke Korea Utara, Supeni sempat menyinggung soal pesta olahraga yang sedang dipersiapkan oleh Sukarno untuk menandingi Olimpiade, yaitu Games of The New Emerging Forces (Ganefo). "Meskipun Bu Peni tidak punya urusan kegiatan apa-apa dengan Ganefo, tapi dalam pembicaraan dengan Kim Il-sung, sepintas lalu disinggung juga masalah ini," tulis Paul Tista dalam Supeni, Wanita Utusan Negara.

  • Martir Anarkis pada Peristiwa Mei 1886

    1 MEI 1886. Puluhan ribu buruh di Chicago turun ke jalan. Mereka menuntut delapan jam kerja dalam sehari. Aksi itu disambut oleh senjata api polisi sehingga menggerakan aksi lebih besar lagi yang kemudian menjadi cikal bakal May Day atau Hari Buruh Internasional. Kala itu, Chicago menjadi pusat gerakan anarkis terutama di kalangan imigran Jerman dan Ceko. Pada Kongres Internasional Kedua 1883 di Pittsburgh, mereka mengirim lebih banyak delegasi daripada kota-kota lain. Jumlahnya bahkan mencapai setengah dari total keanggotaan Amerika Serikat. Tiga makalah anarkis juga diterbitkan di Chicago dan dibaca banyak kelas pekerja. “Agitasi mencapai puncaknya di Chicago pada tahun 1886. Pada 3 Mei polisi menembaki kerumunan di luar pabrik McCormick Reaper Works yang telah mengunci orang-orangnya, membunuh beberapa orang,” tulis Peter Marshall dalam Demanding The Impossible, A History of Anarchism.

  • Wabah Penyakit Kala Puasa Ramadan

    WABAH penyakit beberapa kali menyerang umat muslim saat Ramadan. Tak jarang pada bulan puasa itu wabah mencapai pucaknya. Para ulama pun mencatat wabah itu dalam karya-karyanya. Karya-karya itu lahir saat Maut Hitam (Black Death) menyergap. Wabah ini dengan dahsyat menyebar melintasi padang rumput Asia Tengah ke pantai-pantai Laut Hitam, tak terkecuali kota-kota besar dan kecil Islam. "Persebaran wabah ini sangat terkait dengan aktivitas keagamaan," kata Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah dalam seminar daring lewat aplikasi zoom tentang "Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia" yang diselenggarakan Museum Nasional pada 21 April 2020.

  • Temu Legenda Banyuwangi

    IKON kesenian gandrung Banyuwangi, Jawa Timur, unjuk kebolehan. Meski usianya menua, gerakan tangan, pinggul, kaki, dan kepalanya masih lincah dan luwes. Mengikuti irama gamelan yang rancak. Sesekali, dengan cekatan, tangannya melempar sampur. Begitulah Temu menari kala mengisi acara Sarasehan Budaya “Masa Depan Kesenian Gandrung di Banyuwangi” yang merupakan bagian dari Festival Lembah Ijen, medio Februari lalu. Temu dikenal sebagai maestro gandrung Banyuwangi. Sebagai penari gandrung senior, Temu memiliki kemampuan dalam bernyanyi, menari, dan wangsalan . “Penari gandrung sekarang, ada yang bisa menyanyi tapi tak bisa menari, atau ada yang bisa menari tapi tak bisa menyanyi –sehingga yang menyanyi adalah orang lain,” ujar Temu dalam wawancara yang dimuat buku Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan  suntingan Philip Yampolsky. Sang Primadona Nama kecil Temu adalah Misti. Dia lahir 20 April 1953 di Dusun Kedaleman, Desa Kemiren, sekira tujuh kilometer dari Kota Banyuwangi. Misti adalah anak kedua dari pasangan Mustari dan Supiah. “Darah seni Temu mengalir dari sang ayah yang merupakan pemain ludruk dan biasa membawakan lagu jula-juli yang disebut kidungan ludruk . Darah seni juga dimiliki sang kakek, yakni Samin. Beliau ahli dalam seni tradisi mocoan lontar ,” tulis Dwi Ratna Nurhajarini dalam artikelnya “Temu: Maestro Gandrung dari Kemiren Banyuwangi”, dimuat Patrawidya , Desember 2015. Misti kecil sering sakit. Karena khawatir, ibunya bernazar kalau sudah besar Misti menjadi gandrung. Mirip dengan kisah Semi yang dikenal sebagai penari gandrung pertama. Namun jalan Temu menjadi penari gandrung lebih berliku. Karena orangtuanya bercerai, Misti kecil tinggal bersama keluarga bude dan pakdenya. Karena sejak kecil sakit-sakitan, Misti dibawa dan diobati ke seorang dukun. Misti juga dibawa ke juragan gandrung bernama Mbah Ti'ah. Oleh Mbah Ti’ah, dia diharapkan menjadi gandung. “Kesembuhan Misti dari sakit menurut istilah dari juragan Ti'ah adalah nemu nyawa  (mendapatkan kehidupan lagi setelah sakit parah). Dari istilah nemu  kemudian berubah menjadi Temu,” tulis Dwi. Temu mulai intens belajar gandrung. Menginjak usia 15 tahun, dia manggung untuk pertama kali di Dusun Gadok, tak jauh dari tempat tinggalnya. Pementasan ini merupakan fase wisuda sebagai penari gandrung atau biasa disebut meras . Nama Gandrung Temu kemudian melekat padanya, kendati o rang Using sering menyebutnya dengan nama Gandrung Temuk atau Mak Muk. Dengan suara dan gerak khas yang tak dimiliki gandrung lain, Temu perlahan dikenal orang. Dia kerap ditanggap. Jadwal pentasnya padat; bisa sampai 20 kali dalam sebulan. Temu jadi primadona. Penari gandrung Banyuwangi, Jawa Timur. (@banyuwangi_kab) Album Rekaman Selain teknik menari yang bagus, Temu piawai melantunkan gending atau lagu gandrung. Dengan cengkok khas Osing, suara melengking tinggi dan jelas, keindahan suara Temu disebut-sebut sebagai eksotisme dari timur. “Memang sulit untuk mempelajari lagu-lagu gandrung, saya tak tahu kenapa,” ujar Temu dalam buku Yampolsky. Karena keindahan suaranya, Temu dilirik perusahaan rekaman. Sejumlah album lagu gandrung direkam dan dijual dalam bentuk kaset atau CD. Penjualannya lumayan laris di pasaran. Farida Indiriastuti dalam “Dari Kemiren ke Hollywood” di Kompas , 3 November 2007, mengambil sampel album kompilasi Temu Disco Etnik Banyuwangi yang direkam Sandi Record. Album ini mampu menembus angka penjualan fantastis: 50.000 VCD dan 10.000 kaset dengan distribusi meliputi Jawa, Madura, dan Bali. “Lagu bahasa Osing itu disenangi. Lagunya sendiri gak dimengerti. Tapi orang senang. Enak didengar,” ujar Hasnan Singodimayan, budayawan Banyuwangi, dalam tayangan berjudul “Bahasa Using (Osing) Banyuwangi” produksi Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I. Yogyakarta yang beredar di YouTube .  Suara emas Temu bahkan melanglang hingga ke mancanegara. Pada 1980-an, Smithsonian Institution dari Amerika Serikat melakukan proyek pendokumentasian dan penerbitan musik rakyat bekerjasama dengan Masyarakat Musikologi Indonesia –kini, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Mereka membuat 20 volume atau album yang dilabeli Music of Indonesia . Volume pertama adalah Gandrung Banyuwangi dengan judul Songs Before Dawn yang rilis tahun 1991. Gandrung Banyuwangi dibawakan oleh Temu dan direkam di sebuah kebun pada malam hari di Desa Kemiren. Rekaman dalam bentuk CD itu berisi 11 lagu gandrung. Di Indonesia, album ini rilis enam tahun kemudian dengan judul Nyanyian Menjelang Fajar . Seperti judul albumnya, 11 lagu itu biasa dibawakan kala seblang subuh atau bagian terakhir dari pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari gandrung menari sendiri sambil melantunkan lagu-lagu gending untuk mengakhiri pertunjukan. Tujuannya mengingatkan penonton atau para tamu untuk kembali ke rumah, bertemu dengan keluarga, dan memenuhi kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Dewasa ini seblang subuh jarang dipentaskan. Songs Before Dawn rupanya diperjualbelukan secara luas dan laku. Pada medio Juli 1992 saja, catat Farida, amazon.com (AS) mencatat angka penjualan sebanyak 284.999 keping CD dalam tempo 24 jam. Belum lagi kalau dihitung angka penjualan di negara-negara lain dalam format CD, kaset, dan unduhan via internet. Popularitas Temu tak berbanding lurus dengan penghasilan yang didapatkannya. Temu tetap hidup sederhana. Dengan kesederhanaan pula dia menjalani hidup sebagai seniman. Berkat Temu, gandrung Banyuwangi kian dikenal di dunia. Berkat dedikasi Temu pula, gandrung Banyuwangi tetap lestari dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Temu menjadi salah satu inspirasi bagi Banyuwangi untuk menggelar Festival Gandrung Sewu. “Kami bangga memiliki Bu Temu yang tak pernah lelah dan bosan menguri-uri kesenian Gandrung. Festival Gandrung Sewu juga terinspirasi dari semangat Bu Temu,” ujar Anas dalam laman Pemkab Banyuwangi . Kini, di rumahnya yang sederhana, Temu masih berupaya melestarikan gandrung. Temu memiliki grup gandrung sekaligus sanggar di rumahnya yang diberi nama Sopo Ngiro. Salah satu yang nyantrik atau belajar kepadanya adalah Mudaiyah, yang kini dikenal sebagai penari gandrung muda Desa Kemiren. “Saya akan terus menari sampai saya tak laku lagi. Saya ingin terus menari sampai saya punya murid yang menekuni tradisi ini, sampai murid itu bisa menari semua tarian dan bisa menyanyi semua lagu. Baru saya bisa pensiun!,” ujar Temu dalam buku Philip Yampolsky.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page