top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mitos dan Tetenger Wabah Penyakit

    Dahulu orang percaya ada hantu pembawa maut berwujud bola arwah. Terkadang ia muncul sebagai rombongan prajurit ganas yang bisa membunuh manusia ketika mereka tertidur. Hantu bernama Lampor itu kerap menimbulkan suara gaduh. Suaranya berasal dari iringan kereta kuda dan derap kaki pasukan. Beberapa masyarakat Jawa mempercayai kalau mereka adalah pasukan Nyi Roro Kidul yang tengah bergerak dari Laut Selatan ke Gunung Merapi atau Keraton Yogyakarta. Sementara masyarakat di Jawa Timur percaya kalau Lampor muncul bersamaan dengan wabah penyakit. Lampor mencari korbannya seringkali di bulan Sapar pada malam hari. Korban dicekik lalu dibawa dengan keranda. Jika itu terjadi, mereka bakalan mati seketika. Namun, Lampor punya kelemahan. Konon, ia tak bisa duduk atau jongkok. Jadi orang-orang akan memilih tidur di bawah dipan atau di lantai agar Lampor tak mencekik mereka. Dwi Cahyono, arkeolog yang mengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, mengatakan kalau isu setan Lampor semacam itu marak di Jawa Tengah dan Timur sampai pada 1960-an. Lambat laun cerita itu menghilang. Desas-desus seputar Lampor kemungkinan muncul manakala banyak terjadi wabah penyakit pada masa lampau. Jika ia datang orang bisa mati dalam tidurnya. "Wabah penyakit dalam konsepsi lama direlasikan dengan peristiwa mistis, seperti pada hantu Lampor," kata Dwi kepada Historia . Terkadang dalam percakapan, kata lampor disandingkan dengan kata pagebluk , menjadi pagebluk lampor . Lampor secara harfiah berasal dari kata Jawa Kuna, lampur . Artinya mengembara atau bepergian. Sementara pagebluk adalah istilah Jawa untuk menyebut wabah penyakit. Istilah pagebluk lampor kemudian memberi penegasan kalau pada masa lalu mungkin pernah terjadi pagebluk yang dahsyat dampaknya. Soal dahsyatnya pagebluk ini, ada perkataan dalam bahasa Jawa Baru yang populer. " Isuk loro, sore mati , ini kan memberi gambaran betapa ganas penyakitnya, dalam durasi sesingkat itu orang mati," ujar Dwi. Kata-kata itu dijumpai dalam kisah  Babad Tanah Jawi. Jadi, setelah Amangkurat I wafat, Mataram tertimpa musibah. banyak orang sakit. Negara rusak. Udara tidak baik. Makanan mahal. Hujan tak turun, sehingga udara begitu panas. Negara Mataram seperti terbakar. Banyak orang meninggal. Pengemis tersebar di sepanjang jalan atau sungai. Banyak penderita sakit borok, kudis,  pathek,  bubul, dan sejenisnya. Orang yang sakit di waktu pagi, sorennya meninggal.  "Jadi dari situ kita melihat bahwa pada masa lalu ada gambaran tentang bencana penyakit," lanjut Dwi. Lewat Tetenger Alam Mungkin saking menakutkannya dampak pagebluk, orang Jawa pun mulai mencari pertanda atau tetenger sebelum wabah datang. Pada zaman Mataram Islam misalnya, pagebluk dihubungkan dengan kemunculan bintang berekor atau komet. Orang Jawa menyebutnya lintang kemukus . Menurut tradisi mereka, kemunculan komet pada arah tertentu memiliki arti, di antaranya sebagai pertanda kemunculan pagebluk. "Memang umumnya penampakkan komet dimaknai sebagai membawa ‘hal yang kurang baik’, kecuali apabila muncul di arah barat," jelas Dwi. Berdasarkan buku Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu yang ditulis R.M. Ng. Tiknopranoto dan R. Mardisuwignya, Dwi menjelaskan bila komet muncul di arah timur tandanya ada raja yang sedang berbela sungkawa. Lalu rakyatnya bingung. Desa pun banyak yang mengalami kerusakan dan kesusahan. Harga beras dan padi murah, tetapi emas mahal harganya. Bila bintang berekor muncul di tenggara menandakan ada raja yang mangkat. Orang desa banyak yang pindah. Hujan jarang. Buah banyak yang rusak. Ada wabah penyakit yang membuat banyak orang sakit dan meninggal. Beras dan padi mahal. Kerbau dan sapi banyak yang dijual. Apabila komet muncul di arah selatan tandanya ada raja mangkat. Para pembesar susah. Banyak hujan. Hasil kebun melimpah. Beras, padi, kerbau, dan sapi dihargai murah. Orang desa merana, karenanya mereka pun mengagungkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Suci. Kalau komet muncul di barat daya artinya ada raja mangkat. Orang desa melakukan kebajikan. Beras dan padi murah. Hasil kebun berlimpah. Tapi kerbau dan sapi banyak yang mati. Jika komet muncul di barat tandanya ada penobatan raja. Para pembesar dan orang desa senang. Beras dan padi pun murah. Apa yang ditanam berbuah subur dan cepat menghasilkan. Hujan akan turun deras dan lama. Apapun barang yang dijual-belikan murah harganya, karena memperoleh berkah Tuhan. Lalu kalau bintang kemukus muncul di barat laut, itu pertanda ada raja yang berebut kekuasaan. Para adipati juga berselisih, berebut kekuasaan. Sementara warga desa bersedih hati. Kerbau dan sapinya banyak yang mati. Hujan dan petir terjadi di musim yang salah. Kekurangan makin meluas dan berlangsung lama. Beras dan padi mahal, namun emas murah. Apabila ada komet muncul di utara, maknanya ada raja yang kalut pikiran lantaran kekeruhan di dalam pemerintahannya. Timbul perselisihan yang semakin berkembang menjadi peperangan. Beras dan padi mahal. Namun harga emas murah. Selain tanda adanya wabah penyakit pada manusia, lintang kemukus juga memberi pertanda ada wabah penyakit yang akan menyerang hewan. Ada pertanda kalau kerbau dan sapi banyak yang mati. Itu disebutnya aratan . Bila lintang muncul di arah barat daya dan di barat laut. "Ada pertanda alam yang di masa lalu dipersepsi sebagai tengara tentang adanya kematian," jelas Dwi. "Lampor itu juga merupakan keyakinan lokal sebenarnya tidak secara langsung bicara tentang penyakit tapi ada dampak yang berhubungan dengan penyakit." Cara Memotong Rantai Penularan Karenanya musibah yang terjadi akibat wabah penyakit bisa disebut sebagai malapetaka. Dwi menjelaskan, secara harfiah, dalam konteks Jawa Kuno dan Jawa Tengahan kata mala berarti kotor, cabul, najis secara fisik dan moral, noda, cedera, cacat, dan dosa. Kata itu bisa juga berarti penyakit. "Terlihat bahwa pada mulanya malapetaka bertalian dengan bencana penyakit, yang kemudian diperluas artinya ke bermacam bencana," ujar Dwi. Dengan pengertian itu, seringkali wabah penyakit, yang termasuk ke dalam malapetaka tadi, disembuhkan tidak lewat penanganan medis. "Ini kan suatu isu penyakit kemudian membias ke hal yang di luar penyakit," kata Dwi. Misalnya, ada masyarakat yang membuat tumpeng untuk mengatasi serangan pagebluk. Seperti dijumpai pada masyarakat Tengger, suku asli yang mendiami wilayah Gunung Bromo dan Semeru, Jawa Timur. Mereka punya Tumpeng Pras. Namanya berkenaan dengan cara tumpeng itu diperlakukan. Setelah diupacarai, puncak tumpeng akan dikepras. Diyakini, pemotong ini salah satunya untuk menghilangkan penyakit. "Jadi secara simbol tumpeng dan praktik social distancing ini sama prinsipnya. Memotong rantai penularan," jelas Dwi. Ketika wabah terjadi biasanya di wilayah masyarakat Tengger terjadi penyimpangan yang bersifat makrokosmos. Tandanya seperti ada harimau yang masuk kampung. Ini menyimpang karena perkampungan penduduk bukanlah habitat harimau. "Ini isyarat akan ada penyimpangan di dunia manusia. Misalnya banyak anak mati secara beruntun. Pagebluk itu tadi. Menghilangkannya dengan membuat tumpeng pras. Memang digunakan untuk kepentingan ini,” jelas Dwi. Secara umum, menurut Bani Sudardi, dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta, dalam "Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa", terbit di jurnal HumanioraVol. 14/2002 , orang Jawa percaya kemungkinan mereka sakit bergantung pada kualitas hubunganya dengan lingkungan. Mereka yakin bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari suatu tatanan kosmis. Itu mengapa, sebagaimana menurut sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa III: Warisan Kerajaan Konsentris, ritual-ritual pedesaan seperti oleh masyarakat Tengger tadi, banyak dilakuan demi menjaga keserasian semesta. Antara desa dan kosmos harus seimbang agar kehidupan tak bergoyang. Sementara wabah penyakit yang menimpa manusia ataupun binatang adalah pertanda tentang adanya kekacauan di mikrokosmos. Adapun kemunculan lintang kemukus merupakan pertanda adanya krisis pada makrokosmosnya. "Komet itu kan penyimpangan. Dalam kondisi normal komet akan tetap di garis orbitnya. Ini seringkali dipercayai akan diikuti dengan penyimpangan mikrokosmos, pagebluk,” jelas Dwi.

  • Dari Malaria Hingga Corona

    Saat istri ke apotek untuk mencari vitamin dan thermometer Sabtu (21/3/20) lalu, apotek yang didatanginya dipenuhi orang yang mencari obat dan alat yang dapat digunakan untuk mencegah virus corona atau Covid-19. “Orang pada nyari klorokuin ( chloroquine ). Bapak-bapak yang di samping, mana ngga pake masker, teriak, ‘klorokuin…klorokuin’,” katanya. Penggunaan klorokuin dianggap sejumlah pihak efektif membantu pengobatan pasien yang terinfeksi virus corona sementara obat untuk pandemi Covid-19 belum ditemukan. Aktor Korea-Amerika Daniel Dae Kim, yang sebelumnya dinyatakan positif Covid-19 dan menjalani isolasi hingga 23 Maret 2020, merupakan salah satu yang merasakan efektifnya obat tersebut. “Saya tidak ingin mengatakan (obat) ini penyembuh dan saya tidak mengatakan kalian harus pergi dan membelinya. Tetapi, apa yang ingin saya katakan adalah saya percaya itu berperan penting dalam penyembuhan saya,” ujarnya sebagaimana diberitakan kompas.com , 23 Maret 2020. Otoritas China dan Prancis mengonfirmasi baik klorokuin maupun hidroksiklorokuin ( hydroxychloroquine ) bisa digunakan untuk perawatan pasien corona. Kenyataan itu menarik perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia lalu memerintahkan Food and Drug Administration (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS) menggalakkan penggunaan klorokuin untuk penanganan Covid-19. “Komisaris FDA Stephen Hahn mengatakan penggunaan chloroquine memang diarahkan sang presiden,” ujarnya sebagaimana diberitakan cnbcindonesia . com  (20/3/20). Efektivitas obat yang awalnya sebagai anti-malaria itu pula yang membuat pemerintah Indonesia mendatangkannya bersama Avigan –obat anti-flu yang dikembangkan Fuji Film, Jepang– dalam jumlah besar pekan lalu. “Obat ini sudah dicoba oleh 1,2,3 negara dan memberikan kesembuhan yaitu Avigan, kita telah mendatangkan 5.000 dan dalam proses pemesanan 2 juta. Kedua, Chloroquine. Ini kita telah siap 3 juta,” kata Presiden Joko Widodo, dikutip cnbcindonesia.com . Klorokuin merupakan turunan dari kina, obat anti-malaria yang didapat dari kulit pohon cinchona yang digiling halus. Kina memainkan peran penting dalam sejarah pengobatan malaria dunia dan perekonomian Belanda maupun koloninya, Hindia Belanda (kini Indonesia). Pohon cinchona memiliki habitat asli di Pegunungan Andes, terutama di Peru. Penduduk setempat menggunakannya untuk mengobati malaria atau demam lain. Meski farmakop (buku resmi catatan kesehatan) Inca awal tidak mencatat penggunaannya, penyebaran penggunaan kina untuk obat demam terus meluas. Setelah pendudukan Spanyol, Don Juan Lopez de Canizares, walikota di salah satu kota Peru, mempelajari pengobatan demam menggunakan bubuk yang oleh orang Spanyol dinamakan “Bubuk Peru” itu kepada seorang tabib setempat. Canizares menerapkan pengobatan yang dipelajarinya itu saat mengobati Countess Chinchon, istri kedua raja muda Peru, yang mederita demam berselang-seling. Dia memberikan bubuk Peru. Sang countess sembuh dan menganjurkan penggunaan bubuk yang kemudian oleh orang Spanyol dinamakan Bubuk Cinchona sebagai penghormatan kepadanya itu. Saat kembali ke negerinya, countess membawa serta bubuk Peru. Meski perdebatan menyelimuti kisah masuknya kina ke Eropa, kepercayaan orang Spanyol akan khasiat kina meluas, lalu menyebar ke negeri-negeri lain. “Penggunaan pertamanya dicatat di Spanyol tahun 1639; dan dalam edisi ketiga Amsterdam Farmakope  tahun 1686 cinchona disebut. Diskusi ilmiah pertama yang memuaskan tentang kualitas cinchona sebagai obat adalah karya astronom Prancis De la Conamine, yang berasal dari tahun 1738,” tulis Samuel H. Cross dalam Quinine: Production and Marketing .  Adalah Calancha, biarawan Agustinian di Spanyol, yang pertamakali menuliskan penggunaan kina. “Sebuah pohon tumbuh yang mereka sebut 'pohon demam' ( arbol de calenturas ) di negara Loxa yang kulitnya, berwarna kayu manis, dibuat menjadi bubuk dengan berat dua koin perak kecil dan diberikan sebagai minuman untuk menyembuhkan demam dan tertiana; itu telah menghasilkan hasil ajaib di Lima," demikian Calancha menulis, dikutip Brian M. Greenwood, professor di Department of Infectious and Tropical Disease, London School of Hygiene and Tropical Medicine, dalam “Herbal Remedies for the Treatment of Malaria” yang dimuat di buku bertajuk Science-based Complementary Medicine . Khasiat kina mendorong Kardinal Juan de Hugo dan para imam Jesuit lain gigih menganjurkan penggunaannya. Namun asosiasi dengan Jesuit itu mendatangkan penolakan dari negeri-negeri Protestan yang lalu menamainya “Bubuk Jesuit”. Popularitas “bubuk Peru” melesat setelah digunakan Robert Talbor ketika menyembuhkan demam Raja Inggris Charles II, meski itu menyebabkan metode pengobatan Talbor dicap sebagai perdukunan oleh para dokter mapan. Popularitas kina dalam pengobatan Barat membuat pasokan berkurang. Hal itu mendorong para penjelajah Eropa berlomba-lomba beburu pohon cinchona di hutan Pegunungan Andes. “Eksploitasi pohon cinchona di abad ke-18 tanpa penanaman kembali, terutama di hutan Loxa di mana Cinchona officinalis , sumber terbaik kina, yang ditemukan menyebabkan berkurangnya kina secara mengkhawatirkan,” sambung Greenwood. Eksploitasi makin tak terkendali seiring meningkatnya persaingan di antara negara-negara kolonialis Eropa. Penemuan ekstraksi kina oleh ahli farmasi Prancis Pierre Joseph Pelletier dan Joseph Caventou pada 1820, yang membuat potensi kina bisa dimanfaatkan lebih, ditambah dengan pecahnya epidemi malaria di Groningan pada 1829 dan banyaknya kasus malaria di koloni tropis negeri-negeri Eropa, membuat permintaan kina melonjak. “Ketika permintaan kina dunia meningkat, pemerintah Peru dan Bolivia semakin mengendalikan pengumpulan dan penjualannya, menahan ekspansi Imperium Eropa yang amat menyandera,” tulis sejarawan Andrew Goss dalam The Floracrats: State-Sponsored Science and the Failure of the Enlightment in Indonesia . Kondisi itu membuat para naturalis dan botanis Eropa, yang dipelopori botanis Jerman Alexander von Humboldt pada 1820, menyarankan para penguasa dan pengusaha perkebunan Eropa agar mulai memperhatikan aklimatisasi (pengadaptasian) kina dengan menanamkannya di berbagai perkebunan di koloni-koloni tropis mereka seperti Hindia Belanda dan India. Namun, saran itu baru direspon setelah semua orang Eropa menyadari pentingnya aklimatisasi. “Setelah 1840-an, orang-orang Eropa mencari pasokan kulit cinchona yang stabil, andal, dan ekonomis, tumbuh di bawah kendali Eropa, yang akan membuang Amerika Selatan dari lingkaran (perniagaan). Tahun 1840-an adalah titik balik utama dalam sejarah pencegahan malaria. Alkaloid kina, dengan bantuan perkembangan kontemporer dalam dunia kimia farmasi, dapat dengan mudah diekstraksi dari kulit pohon cinchona. Dan itu adalah obat kina yang mengagumkan yang mencegah dan bahkan menyembuhkan malaria, penyakit tropis yang mematikan,” sambungnya. Meski pada 1930 konsul Belanda di Peru dan Valpraiso, Chile telah meminta dikirimkan seorang botanis ke Arica, Chile untuk mengamankan cinchona guna diangkut ke Jawa, respon pemerintah Belanda amat lamban. Itu baru dimulai ketika Menteri Koloni Charles F. Pahud, atas rekomendasi naturalis Franz Wilhelm Junghuhn yang menjadi inspektur riset ilmiah Hindia Belanda, mengontrak botanis Jerman Karl Hasskarl pada 1851 untuk mengumpulkan spesimen hidup dan benih pohon cinchona dan membawanya ke Jawa. Hasskarl berhasil mengumpulkan 75 batang pohon cinchona muda dan sejumlah benih yang lalu dibawanya ke Jawa menggunakan kapal AL Belanda Prins Frederik . Setibanya mantan asisten di Buitenzorg Botanical Garden (BBG, kini Kebun Raya Bogor) itu di Jawa pada 1854, mayoritas pohon kinanya itu mati karena iklim Pasifik. Atas saran dari Direktur BBG JE Teysmann, Hasskarl menanamkan sisa dua pohon cinchonanya dan sejumlah benih di Cibodas. “Perjalanan Hasskarl adalah pintu masuk Belanda pertama yang sungguh-sungguh dalam perlombaan untuk aklimatisasi cinchona,” tulis Goss. Hasskarl yang kemudian ditunjuk menjadi direktur produksi kina, mengundurkan diri pada 1856 karena sakit. Pada tahun itu pula Pahud memulai jabatannya sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda, yang berarti ia menjadi penanggung jawab tertinggi proyek aklimatisasi kina. Pahud yang merupakan gubernur jenderal transisi dari era kroni raja ke era liberal, sangat berambisi mereformasi birokrasi dengan fondasi sains –ia dikenal sebagai patron para ilmuwan. Proyek aklimatisasi kina yang telah dirintis Hasskarl dilanjutkannya dengan menunjuk naturalis kondang yang merupakan sahabatnya, FW Junghuhn, sebagai pengganti Hasskarl. Junghuhn langsung bekerja keras terus-menerus dengan menanam stek, menguji kulit pohon cinchona, dan menulis panduan pembudidayaannya. Dia menemukan banyak kesalahan dilakukan pendahulunya yang kemudian dia tuliskan dalam laporan resmi pertamanya pada 1857. Junghuhn lalu memindahkan lokasi perkebunan dari Cibodas ke Malabar di Pangalengan, Bandung Selatan dan Lembang. Menurut Junghuhn, Malabar memiliki lapisan atas tanah yang tebal dan punya kondisi alam lebih mirip dengan hutan Pegunungan Andes. “Junghuhn percaya bahwa pohon-pohon akan tumbuh lebih alami di hutan yang mirip dengan yang ada di Amerika Selatan. Dalam mempersiapkan situsnya, ia membersihkan semak-semak tetapi mempertahankan hutan tua yang masih utuh.” Lebih jauh, Junghuhn menghentikan penanaman spesies Cinchona calisaya  yang dirintis Hasskarl meski saat itu dianggap spesies cinchona terbaik ,  menggantikannya dengan spesies yang menurut Hasskarl Cinchona ovata  namun menurut Junghuhn Cinchona lucumaefolia . Dengan bantuan ahli kimia kina Inggris JE Howard, Junghuhn menamakan spesies terakhir itu dengan Cinchona pahudiana  sebagai penghormatannya terhadap Gubernur Jenderal Pahud.  Penghormatan itu merupakan balas budi Junghuhn atas dukungan besar, termasuk dana, dan otonomi luas yang diberikan Pahud. Besarnya otonomi Junghuhn dibuktikan ketika dia menolak KW van Gorkom, kimiawan yang dikirim Den Haag atas rekomendasi profesor kimia Universiteit Utrecht GJ Mulder, untuk membantu proyek aklimatisasi. Junghuhn memilih ahli kimia asal Rotterdam JE de Vrij sebagai pengganti Gorkom. Laporan-laporan resmi awal Junghuhn kepada gubernur jenderal selalu bernada optimis. Tiga tahun setelah pembukaan kebun Malabar, lebih dari 100 ribu pohon dari berbagai tahap perkembangan berhasil ditumbuhkannya. Namun, beberapa orang mempertanyakan langkahnya karena tak kunjung menghasilkan pohon yang kaya akan kina. Kritik pertama datang dari Kepala BBG JE Teysman pada 1861. Kepada Gubernur Jenderal Pahud, Teysman mengatakan bahwa Junghuhn sengaja menghancurkan semua yang bukan miliknya dengan mengabaikan semua pohon yang ditanam sebelum dia ditugaskan, dan Junghuhn tak pernah mengindahkan semua pengetahuan tentang kina dari para ahli seperti Hasskarl atau H.A. Weddell. Kritik pedas terhadap apa yang dilakukan Belanda lewat Junghuhn akhirnya datang pada 1862 dari Sir Clements Markham, ahli aklimatisasi cinchona paling kondang di abad ke-19 asal Inggris. Kritik mengalir deras kepada Junghuhn setelah Pahud pulang ke Belanda usai masa tugasnya habis pada September 1861. Meski ada desakan kuat Menteri Koloni GH Uhlenbeck agar Junghuhn diberhentikan dan dilarang menyebarluaskan penamaman Cinchona pahudiana , Gubernur Jenderal Jan Wilt Sloet van de Beele hanya menuruti yang kedua. Kepercayaannya akan keilmuan Junghuhn membuat Van de Beele mempertahankan Junghuhn pada tempatnya. Junghuhn baru diganti pada 1864 setelah mengalami masalah kesehatan. De Beele yang menjadi penanggung jawab tertinggi proyek aklimatisasi lalu menunjuk Gorkom, yang pernah ditolak Junghuhn, sebagai pemimpin proyek. Di bawah Gorkom, aklimatisasi kina dilakukan untuk menjembatani kepentingan investor di satu pihak dan kemauan administrator Liberalis di Belanda di lain pihak. Liberalis sejak lama menginginkan reformasi di Hindia Belanda yang tetap harus menguntungkan terutama bagi para investor di bidang perkebunan. Aklimatisasi kina di Jawa pada 1860-an menjadi obsesi Belanda untuk menciptakan perkebunan cinchona yang akan menguntungkan secara ekonomi, karena cinchona dapat dijual sebagai tanaman ekspor. Panduan itu membuat Gorkom mengarahkan aklimatisasinya sebagai salah satu bentuk pengembangan ekonomi ekspor komoditas berdasarkan sains untuk mendorong investasi swasta yang saat itu masih didominasi gula, kopi, dan teh. Dengan mewarisi 1.151.810 pohon cinchona, di mana 99 persennya spesies Cinchona   pahudiana , Gorkom tak ingin mengulangi kesalahan Junghuhn yang yakin bahwa alam dapat diarahkan sesuai sains. Gorkom menanam berbagai spesies cinchona yang kaya kandungan kina, yang paling sukses secara komersil kemudian adalah Cinchona ledgeriana  –diambil dari nama George Ledger, saudagar Inggris yang pertamakali menawarkan benih spesies ini kepada pemerintah Belanda, 1865. Selain itu, Gorkom aktif mengumpulkan benih dari Amerika Latin dan Inggris, meminta masukan dari para ahli sains, dan mengundang ahli untuk meninjau metode kultivasinya. Teysmann mengunjungi perkebunannya pada 1866. Gorkom juga rajin menulis buku panduan pembudidayaan kina. “Sistem Van Gorkom dicapai dengan berdirinya komunitas ilmiah independen di mana para anggotanya mengumpulkan sumberdaya, ide, dan keahlian dan bekerja menuju tujuan bersama,” tulis Goss. Upaya keras Gorkom akhirnya membuahkan hasil. “Panen pertama kulit pohon cinchona terjadi pada 1869, dari tahun itu hingga tahun 1874, di perkebunan Pemerintah saja, 79.170 kilogram kulit cinchona dipanen. Pada 1869 didistribusikan ke sekitar 600 pabrik di berbagai kabupaten untuk mendorong budidaya swasta,” tulis Samuel Cross. Dengan warisan penanaman cinchona secara komersil di Jawa, Gorkom membuka gerbang kejayaan kina Hindia Belanda. Setelah 1885, Jawa berhasil menggantikan Ceylon (kini Sri Lanka) sebagai pemasok utama kina di dunia. Rata-rata 11 ribu ton kulit cinchona dihasilkan perkebunan kina di Hindia Belanda tiap tahunnya. Untuk mengakomodasi tingginya produksi cinchona, pada 1896 didirikanlah pabrik di Bandung bernama Bandoengsche Kinine Fabriek, yang mengolah kulit cinchona menjadi bubuk kina. Hampir separuh dari kulit cinchona yang dihasilkan perkebunan cinchona di Hindia Belanda diolah pabrik Bandung. Meski sempat dihambat oleh sindikat produsen kina Eropa karena Pabrik Bandung mengubah ekspor kina Hindia dari berwujud kulit cinchona menjadi bubuk kina sehingga mengancam kemapanan mereka, Pabrik Bandung berhasil bangkit dan menegaskan dominasi Hindia dalam pasar kina dunia. Dominasi itu makin digdaya setelah Konvensi Kina 1 Januari 1913 bubar akibat negara-negara penandatangannya terlibat Perang Dunia I. Salah satu perusahaan perkebunan yang menangguk laba dari kina adalah Straits Sunda Syndicate, perusahaan patungan Jerman-Belanda yang bergerak dalam beragam perkebunan komoditas ekspor dengan konsesi di Jawa, Sumatra, dan Bali. “Pada 1924, Straits-Sunda Syndicate mencapai puncak kemakmurannya. Mereka menguasai 21.000 hektar di Sumatra, Jawa, dan Bali. Dua puluh sembilan perkebunannya menghasilkan teh, karet, kina, minyak kelapa sawit, gula, kopra, beras, dan kopi. Dalam satu tahun mereka memanen hampir empat juta pon teh dan satu juta pon kina, sebagian besar berasal dari perkebunan Cikopo. Nilai total tahunan produk tersebut adalah 9,5 juta gulden, senilai sekitar 40 juta dolar AS hari ini, dari mana Syndicate menuai keuntungan 10%,” tulis Geoffrey Bennett dalam   The Pepper Trader: True Tales of the German East Asia Squadron and the Man who Cast them in Stone . Dominasi Hindia Belanda akhirnya berujung pada monopoli. “Belanda telah secara spektakuler meningkatkan kandungan kina dari kulit pohon cinchona asal Peru dari 3 persen menjadi 18 persen. Hasilnya adalah bahwa Hindia Belanda sekarang memasok sekitar 95 persen dari kina dunia dan secara sewenang-wenang mengendalikan distribusi dan harga,” tulis Majalah Life  edisi 22 January 1940. Dominasi Hindia Belanda itu akhirnya rusak oleh pendudukan Jepang, Maret 1942. “Perang secara tegas mengganggu produksi kina. Ketika Jerman menduduki Belanda pada tahun 1940, Jerman dengan cepat merebut fasilitas produksi kina Belanda. Setelah Jepang mencaplok Nusantara, bahan kimia yang dibutuhkan untuk memproduksi kina dari cichona tidak bisa lagi diimpor dan tingkat produksi anjlok. Semua toko kina diambil alih militer Jepang. Prevalensi malaria di Indonesia meningkat tajam, dengan banyak pasien yang terjangkit meninggal,” tulis Hans Pols dalam  Nurturing Indonesia: Medicine and Decolonisation in the Dutch East Indies . Direbutnya sumber penghasil kina Sekutu mendorong Amerika mencari jalan keluar. “Pada 1944, kina sintetik (klorokuin, red .) dan berbagai obat anti-malaria diproduksi oleh berbagai perusahaan farmasi Amerika untuk mendukung upaya perang,” sambung Pols. Usai perang, meski kina masih banyak digunakan, klorokuin populer sebagai obat anti-malaria. Kina sintetis ini pertamakali ditemukan pada 1934 oleh ahli farmasi Jerman Hans Andersag. Seiring majunya dunia farmasi dan berkurangnya malaria di samping adanya resistensi plasmodium terhadap klorokuin, penggunaan klorokuin dan kina sebagai obat anti-malaria berkurang. Bersama turunan lain bernama hidroksiklorokuin, kina dan klorokuin kemudian digunakan untuk mengobati peradangan sendi dan lupus. Pada saat wabah SARS merebak tahun 2003, klorokuin digunakan sebagai salah satu obat. Kini ketika pandemi Covid-19 menghantam dunia, klorokuin dan hidroksiklorokuin kembali digunakan.

  • Tarian yang Mempesona

    JIKA memasuki Kabupaten Banyuwangi dari arah Jember, Anda mungkin akan terpesona pada patung penari gandrung berukuran besar di pelataran sebuah taman. Ia dibingkai pilar bujursangkar. Ya, Anda telah memasuki wilayah Kabupaten Banyuwangi yang dijuluki Kota Gandrung. Gandrung adalah tarian khas Bumi Blambangan, sebutan lain bagi Banyuwangi. Sebagai ikon Banyuwangi, ada di mana-mana. Patung gandrung terpajang di berbagai sudut kota dan desa. Tapi yang menakjubkan adalah Taman Gandrung Terakota di Kecamatan Licin. Ratusan patung penari gandrung membentuk formasi indah di tengah persawahan terasiring di kaki Gunung Ijen, tepatnya di kawasan Jiwa Jawa Resort. Selain hamparan sawah, perbukitan, dan kebun kopi, Taman Gandrung Terakota dikelilingi pemandangan indah Gunung Merapi, Raung, Suket, dan Meranti. Beragam acara musik dan budaya yang menarik pun digelar di sini, di sebuah amfiteater terbuka . Dari Jazz Gunung Ijen hingga sendratari Meras Gandrung. Gandrung juga selalu hadir dalam setiap perayaan atau pagelaran. Bahkan jadi salah satu kegiatan unggulan Banyuwangi dengan nama Festival Gandrung Sewu. Festival Gandrung Sewu merupakan salah satu agenda dalam kalender pariwisata tahunan Kabupaten Banyuwangi, yang dikemas dalam tajuk Banyuwangi Festival. Gandrung Sewu kali pertama digelar tahun 2012. Menampilkan tema berbeda setiap tahunnya. Festival Gandrung Sewu 2019, misalnya, mengambil tema “Panji-Panji Sunangkara” yang mengisahkan perlawanan rakyat bumi Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Rempeg Jagapti terhadap penjajah. Festival diikuti 1.350 siswi sekolah dasar, sekolah menengah atas, dan sekolah menengah kejuruan dari seluruh penjuru Banyuwangi. “Gempuran budaya global melalui media sosial, di mana anak-anak mulai teralienasi dari budaya lokalnya, Gandrung Banyuwangi menjadi bagian dari cara daerah agak anak-anak kembali senang dengan budayanya," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada acara Festival Gandrung Sewu 2019, Oktober silam. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Festival Gandrung Sewu 2019 digelar secara kolosal. Di tengah terik matahari, daratan pasir Pantai Boom di Kabupaten Banyuwangi memerah. Ribuan penari gandrung berkostum merah tumpah-ruah. Hentakan kaki, lambaian tangan, liukan badan, gelengan kepala hingga lirikan mata berpadu serasi. Selaras dengan iringan musik dan syair yang dinyayikan oleh kelompok pengiring. Dan penonton terpesona dibuatnya. Bukan Semata Hiburan Gandrung, yang artinya cinta  atau tergila-gila , merupakan kesenian asli dan tertua Banyuwangi. Ia tak berbeda jauh dari kesenian rakyat di daerah lain seperti tayub, ronggeng dan cokek , yang tampil dalam bentuk tari dan nyanyian dengan iringan musik tertentu. Menurut antropolog Belanda John Scholte dalam Gandroeng van Banjoewangi  (1927), kemunculan gandrung berkaitan dengan pengangkatan Mas Alit sebagai bupati dan pembabatan hutan untuk dijadikan ibukota baru Blambangan. Gandrung berfungsi sebagai hiburan sekaligus ritual mohon keselamatan dari marabahaya penunggu hutan. Namun ada juga pendapat bahwa kemunculan gandrung berkaitan erat dengan seblang, salah satu ritual suku Osing. Ritual ini digelar untuk keperluan bersih desa dan tolak bala. Para penarinya dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya keturunan penari seblang. Menurut Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi dalam Seblang  dan Gandrung , tari seblang mirip dengan tari sang hyang di Bali, yang di masa lalu ditemui juga di Banyuwangi dengan sebutan tari sanyang. Tarian sanyang dilakukan dua anak lelaki yang berpakaian perempuan dan dalam keadaan kesurupan. Menariknya, nyanyian-nyanyian dan tatabusana penari dalam sanyang masih terjejaki dalam pertunjukan seblang dan gandrung. “Lintasan gerak dan pose-pose dasar ketiga tarian tersebut pun masih menunjukkan banyak kesamaan,” tulis mereka. Gandrung berkaitan dengan mitos Dewi Sri. Masyarakat Using (suku asli Banyuwangi) yang agraris menghormati Dewi Sri dengan ritual tarian sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang melimpah. Namun dalam perkembangannya unsur hiburan lebih menonjol dalam pertunjukan ini. Tari gandrung merupakan kesenian asli dan tertua Banyuwangi. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Pada awalnya tarian gandrung dibawakan lelaki yang didandani menyerupai perempuan atau dikenal dengan istilah gandrung lanang . Mereka menari berkeliling dari rumah ke rumah atau pasar sambil menyanyikan lagu-lagu tradisional Banyuwangi. Seiring kuatnya pengaruh Islam, gandrung lanang perlahan menghilang. Apalagi Marsan, penari terakhir gandrung lanang , kemudian meninggal dunia. Gandrung kemudian identik dengan penari perempuan, hingga kini. Gandrung perempuan pertama yang terkenal adalah Semi –acap disebut Gandrung Semi . Menurut cerita, Semi berusia sepuluh tahun kala menderita penyakit kronis. Segala upaya untuk menyembuhkannya tak membuahkan hasil. Maka, Mak Midhah (Mak Milah), ibunya, bernazar bila sembuh, dia akan menjadikan Semi sebagai seblang. Ternyata Semi sembuh. Tapi, selain seblang, Semi mahir menarikan gandrung yang waktu itu mulai digemari masyarakat. Apa yang dilakukan Semi diikuti adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan “Gandrung” sebagai nama panggung. Maka, selain Gandrung Semi, dikenal pula Gandrung Misti, Gandrung Soyat, dan Gandrung Miati. Kesenian ini pun berkembang di seantero Banyuwangi. Kendati unsur hiburan lebih menonjol, aspek ritual dalam pertunjukan gandrung masih terasa. Gandrung kerap tampil dalam upacara petik laut (panen ikan), bersih desa, hingga tingkeban (kehamilan tujuh bulan). Karena kekhasan kesenian ini, pada 1990 gandrung resmi diangkat menjadi identitas bersama Banyuwangi. Lalu, sejak 2002 ditetapkan sebagai maskot pariwisata Banyuwangi. Puncaknya, gandrung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2013. Megah nan Indah Sejak lama kesenian gandrung mendapat perhatian dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) . Pada 1970-an, gandrung diberi s entuhan sedikit koreografi modern dan ditayangkan di TVRI . Tayangan itu mendapat sambutan yang luas. “Tari tersebut telah diangkat menjadi tari yang sekarang di luar negeri selalu memperoleh applause yang ramai dan lama,” kenang Astrid S. Susanto, yang bekerja di Bappenas, dalam buku Kesan Para Sahabattentang Widjojo Nitisastro . Perkembangan itu mendorong pemerintah daerah Banyuwangi untuk merawat dan mengembangkan gandrung, terutama di kalangan generasi muda. G andrung tak hanya ditarikan keturunan penari gandrung. Banyak gadis, siswi sekolah hingga mahasiswi mulai mempelajari tarian ini. Gandrung bukan hanya dipentaskan untuk memeriahkan pesta perkawinan, misalnya, tapi juga acara-acara resmi. Lalu, pada 1974, pemerintah daerah untuk kali pertama menggelar Festival Gandrung. Setelah lama mati suri, festival semacam itu dihidupkan kembali pada 2012 dengan nama Festival Gandrung Sewu. Seperti namanya, ada seribu bahkan lebih penari yang tampil membawakan tarian gandrung. Gagasan ini berasal dari Bupati Azwar Anas untuk mempromosikan Banyuwangi dan menumbuhkan kecintaan warga Banyuwangi akan seni dan budayanya. “Kami mencari cara bagaimana agar anak-anak penari diberi panggung yang istimewa. Karena selama ini mereka hanya tampil di desa saja. Tidak ada kebanggaan lebih, karena yang nonton hanya orang-orang di lingkungannya,” kata Anas . Gagasan itu ternyata berbuah sukses. Perhelatan ini mampu menarik animo dari wisatawan dalam maupun luar negeri. Mereka terhibur sekaligus berdecak kagum akan kemegahan dan keindahan tarian ini. Tak heran jika Gandrung Sewu masuk sebagai salah satu atraksi wisata terbaik Indonesia atau “10 Best Calender of Event Wonderful Indonesia” versi Kementerian Pariwisata. Tari Gandrung Banyuwangi sudah selayaknya dilestarikan. Kabupaten Banyuwangi sudah melakukannya dengan beragam cara, salah satunya lewat Festival Banyuwangi. Ah, Banyuwangi selalu bikin tergila-gila.

  • Konsep Sakit dan Sehat dalam Primbon

    Imun yang kuat jadi faktor penting melindungi tubuh di tengah penyebaran Coronavirus (Covid-19). Banyak cara menjaga daya tahan tubuh, selain rajin berolah raga, mengonsumsi buah dan sayur, menjaga pikiran tetap positif dan tenang. Konsep itu juga ditemukan dalam pandangan tradisional Jawa. Keseimbangan rohani dan jasmani menjadi penting bagi orang Jawa dalam melihat masalah sehat dan sakit. Jika keduanya selaras, seseorang akan merasa bahagia dan senang, sehingga jauh dari penyakit. Antropolog Universitas Gadjah Mada, Atik Triratnawati, menjelaskan pandangan tradisional itu digali dari akar budaya yang bersumber dari kosmologi Jawa. Seperti ajaran kejawen yaitu sangkan paraning dumadi dan manunggaling kawula Gusti. “Kosmologi Jawa adalah wawasan manusia Jawa terhadap alam semesta,” tulis Atik dalam “Masuk Angin dalam Konteks Kosmologi Jawa”, termuat di jurnal Humaniora Vol.23/2011. Konsep keseimbangan hidup orang Jawa sifatnya menyeluruh, mencakup makrokosmos dan mikrokosmos. Mistik kejawen menganggap jiwa, raga, dan suksma adalah satu. Karenanya, jika oleh kalangan medis modern semua penyakit dianggap disebabkan oleh virus, kuman, jasad renik, maupun bakteri; masyarakat tradisional Jawa punya penjelasan lain. Ini adalah kepercayaan dan pengetahuan yang sudah mereka warisi dari para leluhur. Analisis Primbon Dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta, Bani Sudardi,menjelaskan persoalan konsep sakit dan sehat banyak dijelaskan dalam kitab-kitab primbon. Secara garis besar primbon berisi masalah yang berhubungan dengan kelahiran, perkawinan, kematian, dan hubungan manusia dengan alam. Ada pula soal penyakit dan pengobatannya. Orang Jawa mengenal pengetahuan primbon paling tidak sejak abad ke-8. Kala itu mereka telah terbiasa mencatat waktu, dari mulai musim, hari, bulan, tanggal, perbintangan, sampai rasi. Tentang ini muncul dalam Prasasti Tulang Air di Candi Perot (850), Prasasti Haliwangbang (857), dan Prasasti Kudadu (1294). Primbon terlengkap dalam tradisi Jawa baru ditulis pada masa Kartasura berupa Serat Centhini. “Selain dapat dikatakan sebagai salah perwujudan primbon, serat ini juga dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk ensiklopedi khas Jawa,” tulis Bani dalam “Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa” , terbit di jurnal Humaniora Vol. 14/2002 . Serat Centhini ditulis atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III yang memerintah Surakarta (1820–1823). Ia adalah putra Pakubuwono IV (1788–1820). Penyusunannya dipimpin Ki Ngabehi Ranggasutrasna, didampingi Raden Ngabehi Yasadipura, Raden Ngabehi Sastradipura. Mereka dibantu Pangeran Jungut Mandurareja dari Klaten, Kiai Kasan Besari dari Panaraga, dan Kiai Mohammad Mindad dari Surakarta. Berbagai jenis resep obat dan pengobatan dapat ditemukan dalam Serat Centhini. Namun, menurut Bani, kitab primbon selain Serat Centhini yang memuat itu juga ada. Sebagian sudah diterbitkan. Sebagian lainnya masih tersimpan sebagai manuskrip di berbagai tempat penyimpanan. “Misalnya primbon yang tersimpan di keraton, masih bersifat rahasia, sulit dijangkau masyarakat luas,” ujar Bani. Primbon biasanya dipegang oleh tokoh cendekiawan pada masanya, seperti tetua adat, tokoh masyarakat, dukun, atau guru kebatinan. Di bidang kesehatan, mereka memakai primbon untuk menganalisis kondisi kesehatan seseorang. Untuk melakukannya, primbon memakai beragam perhitungan. Misalnya, jumlah neptu dina lan pasaran atau perhitungan hari pasaran Jawa saat datangnya penyakit. Ini bisa digunakan untuk menentukan asal penyakit, tingkat penyakit, dan bagian yang sakit. Antara primbon yang satu dan yang lain mungkin bisa berbeda. Namun yang jelas ada beberapa kemungkinan suatu penyakit itu berasal. Penyakit bisa datang dari Allah, bisa karena perkataannya sendiri yang tidak dipenuhi ( ujar ), bisa dari jin atau setan, dan dari perbuatan jahat orang lain ( teluh ). Contohnya, dilihat dari hari dimulainya penyakit, bisa ditentukan anggota badan mana yang memulai sakit atau sebab sakitnya. “Bila sakit dimulai hari Senin, asal penyakit dari telinga. Penyebabnya bisa karena mendengar berita buruk, menahan marah, dan sebagainya yang bersumber dari telinga,” jelas Bani. Bisa juga mengetahui muasal penyakit lewat perhitungan hari lahir si penderita. Pun bisa lewat mencari tahu perbuatannya yang mungkin telah melanggar pantangan. Seimbang Jiwa dan Raga Artinya, orang bisa sakit akibat kualitas hubunganya dengan lingkungan. Pasalnya orang Jawa yakin bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari suatu tatanan kosmis. Akibat konsep itu, tak heran kalau mereka percaya berbagai penyakit datang akibat guna-guna. Kalau sudah begini, mereka merasa tak akan mempan bila pergi ke dokter modern. Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa III: Warisan Kerajaan Konsentris menjelaskan ritual-ritual pedesaan banyak dilakuan demi menjaga keserasian kosmis antara kekuatan yang tak selaras. Antara desa dan semesta harus seimbang agar kehidupan tak bergoncang. Ini juga demi menaklukan roh-roh jahat penyebab goncangan itu. Seperti dengan menggelar pertunjukkan wayang. Alasannya bisa bervariasi misalnya peristiwa dalam keluarga, pindah kediaman, penggantian nama, mimpi buruk, dan sakit. Tujuannya adalah menjinakkan roh, seperti dedemit, lelembut, memedi, dan tuyul yang dianggap hadir. “Bila mereka betul-betul sudah dijinakkan, barulah manusia dapat ‘selamat’,” kata Lombard. Menurut Bani, banyak pula dalang yang bercerita kalau orang yang rajin bersemadi hidupnya akan sehat. Ia bakal jauh dari penyakit. Teorinya, saat bersemadi seluruh lubang tubuh yang berjumlah sembilan itu akan terkonsentrasi dalam kebaikan. Akibatnya unsur spiritual seseorang akan menjadi kuat. Daya tahan tubuh menjadi optimal. “Pada saat seseorang sedang labil jiwanya, kekebalan tubuh akan mengalami penurunan, inilah yang akan mengakibatkan orang mudah sakit,” jelas Bani . Pun halnya kalau pikiran tak bersih, kurang sabar, atau hanya memikirkan soal materi semata. Ini akan mendorong seseorang menjadi tergesa-gesa dalam bekerja. Fisik pun jadi melemah. Ia lalu akan mudah sakit. Atik Triratnawati mengatakan harmonisasi tubuh manusia terwujud apabila aspek fisik dan nonfisik berada dalam keadaan seimbang. Bagi orang Jawa sakit terjadi apabila ketidakseimbangan unsur fisik dan nonfisik. Makanya jika seseorang merasa masuk angin, misalnya, oleh orang Jawa kondisi ini dapat dianggap sebagai adanya ketidakseimbangan di dalam tubuh dengan lingkungan sekitarnya. Pemicunya adalah emosi yang tak terkontrol, baik berupa marah, jengkel, iri hati, angan-angan yang tinggi maupun pikiran berat yang menguras energi. Akibatnya, penderita menjadi sulit tidur, makan, dan minum, yang berpengaruh pada fungsi tubuh secara keseluruhan. Biasanya penderita akan merasakan gejala panas, dingin, perut kembung, atau pegal linu. “Ada fungsi tubuh yang terganggu, khususnya peredaran darah akibat angin yang kurang lancar,” jelas Atik . Orang juga akan mudah sakit apabila gagal mengendalikan nafsu, nafsu amarah, aluamah, supiyah , dan mutmainah ; atau nafsu makan, nafsu marah, nafsu seksual, dan nafsu otak atau berpikir terlalu keras.  “Orang itu akan mudah mengalami sakit, baik yang bersifat sakit fisik maupun mental,” jelas Atik. “Seseorang yang mampu mengendalikan empat perkara itu disebut orang hebat dan dirinya akan selalu sehat.” Karenanya, bagi masyarakat tradisional Jawa, primbon membantu mereka untuk memahami penyakit. Dengan pemahaman ini maka akan diketahui bagaimana pola pengobatannya. “Setidak-tidaknya, konsep pengobatan tradisional Jawa yang memiliki pandangan kosmologis tentang penyakit, memandang penyakit tidak saja pada apa yang sakit, melainkan juga bagaimana dan mengapa seseorang menjadi sakit,” jelas Bani.

  • Bercermin dari Bantuan Pokok Pemerintah Kolonial di Tengah Wabah

    Jakarta lengang pasca-imbauan Work From Home (WFH, Kerja dari Rumah) dikeluarkan Minggu, 15 Maret 2020. Orang-orang melakukan karantina diri untuk mengcegah penularan Covid-19 makin meluas. Mereka hanya keluar rumah seperlunya. Meski demikian, sebagian warga masih harus berjibaku dan berdesakan di kereta rel lisrik demi menyambung hidup. Layanan transportasi online pun sepi peminat. Kondisi itulah yang dikhawatirkan pengemudi ojek online, bajaj, taksi, pedagang, dan orang yang bekerja harian sejak imbauan WFH keluar. Indonesia sebenarnya memiliki undang-undang (UU) yang mengatur tentang bantuan kebutuhan pokok kala karantina kesehatan ( lockdown ) ditetapkan pemerintah. UU ini keluar pada 2018 kala Nila Moeloek menjabat sebagai menteri kesehatan. Dalam pasal 52 dan 55 UU Karantina Kesehatan 2018 disebutkan bahwa, selama penyelenggaraan Karantina Rumah (pasal 52) dan karantina wilayah (pasal 55), kebutuhan hidup dasar warga dijamin oleh pemerintah pusat. Lebih jauh, pemerintah juga diamanatkan untuk menanggung urusan pangan ternak warga yang dikarantika wilayah atau rumah. Ayat 2 pasal 52 dan 55 berbunyi, tanggung jawab Pemerintah Pusat dalam penyelenggaraan karantina rumah atau wilayah dilakukan dengan melibatkan Pemerintah Daerah. Hingga kini, di Jakarta sebagai kota dengan sebaran virus korona terbanyak, belum ada perintah karantina wilayah ( lockdown ) dari pemerintah. Yang ada hanya imbauan untuk tidak keluar rumah. Bantuan bahan pokok sebagai bagian dari UU Karantina Kesehatan pun belum ada. Masyarakat pun bergerak sendiri bahu-membahu menggalang dana dan keperluan untuk para tenaga medis atau kelompok masyarakat rentan. Mereka mentraktir kurir makanan atau membagikan makanan ke orang yang bekerja harian. Dalam masa kritis seperti ini, rasa kemanusiaan tak terkikis begitu saja. Apabila menilik sejarah, pemberian bantuan kala pageblug melanda Hindia Belanda pernah dilakukan pemerintah kolonial. Pada awal 1846, epidemi misterius muncul di Jawa Tengah. Liesbeth Hesselink dalam bukunya Healers on the Colonial Market menduganya sebagai wabah tifus, mengingat gejalanya serupa. Para penderita dikarantina, sementara yang sehat diminta membatasi aktivitas. Biaya karantina bagi orang yang membutuhkan ditanggung oleh pemerintah. Sementara, orang-orang yang melanggar aturan karantina didenda f . 2000 untuk orang Eropa atau maksimal dua tahun penjara. “Untuk orang pribumi, maksimal dua tahun kerja paksa atau f .2000. Jumlah yang sangat besar bagi pribumi,” kata Liesbeth pada Historia . Dua tahun sebelum wabah pecah, pada 1844 terjadi gagal panen padi di Indramayu. Akibatnya, kata Peter Bloomgaard dalam “Rice Sugar and Livestock in Java”, antara 1815-1836 terdapat penurunan hasil panen. Jumlah produksi beras pada 1815 mencapai 1,650 kg/hektar. Jumlah itu turun menjadi 1,360kg/hektar pada 1836. Ia menilai, penurunan itu diakibatkan oleh pengenalan Sistem Tanam Paksa pada 1830. Pemerintah kolonial mengharuskan petani menanam tanaman yang laris di pasar Eropa seperti gula, nila, dan tembakau. Tanaman wajib itu mengambil proporsi tanah subur yang ada. Akibatnya, panen padi berkurang. Ditambah pajak yang dibebankan pada rakyat, kelaparan pun terjadi pada 1840-an. Gagal panen padi itu berpengaruh signifikan pada kelaparan dan kemunculan wabah. Pendapat ini disampaikan oleh dokter Willem Bosch, kepala Dinas Kesehatan Koloni. Menurut Bosch, penyakit ini menyebar dengan cepat karena kondisi hidup yang buruk, terutama kelangkaan beras. Tanpa penanganan yang tepat, epidemi dapat berlangsung untuk waktu yang lama. Bosch menambahkan, obat terbaik adalah panen beras berlimpah. “Komentarnya tentang kelangkaan beras ini secara tidak langsung mengkritik kebijakan kolonial yakni Sistem Tanam Paksa,” kata Liesbeth. Bosch bukan dokter kemarin sore. Jam terbangnya dalam menangani masalah kesehatan di negeri jajahan tinggi. Kariernya sebagai petugas kesehatan di Hindia Belanda dimulai sejak 1818-1839. Sebelum diangkat sebagai kepala Dinas Kesehatan Koloni 1845, Bosch sempat kembali ke Belanda. Dia tiba di Jakarta pada pertengahan 1845 untuk mengambil jabatannya. Pada 1847, Gubernur Jenderal J.J. Rochussen meminta nasihat Bosch perihal wabah di Jawa Tengah. Atas permintaan inilah Bosch melakukan riset kesehatan tentang penyebab wabah. Pada 13 April 1847 giliran Sekretaris Jenderal C. Visscher meminta Bosch memberi usulan langkah kesehatan yang bisa diambil pemerintah kolonial untuk menangani wabah. Keesokan harinya, Bosch langsung menjawab pertanyaan kedua pejabat itu melalui surat. Menurutya, wabah terjadi karena musim yang tidak menguntungkan, akomodasi buruk, pakaian tidak memadai, dan makanan tidak mencukupi. Ia juga menekankan penduduk membutuhkan bantuan segera agar tak makin banyak korban. Mengingat produksi beras sedang turun sementara penduduk yang tak tertular harus menjaga kesehatan agar tak menambah daftar pasien, Bosch usul agar pemerintah memberikan bentuan dana f . 10 per hari pada setiap pasien untuk membeli makan dan keperluan lain. Militer ditugaskan untuk membagikan bedcover atau selimut pada warga terdampak wabah yang tinggal di daerah berbukit dan suhu rendah. Pasien dalam radius 6 hingga 9 km harus dibawa ke tempat perawatan untuk dikarantina. Ia juga meminta agar pemerintah Belanda mengirim kina, yang manjur untuk mengatasi demam, sebanyak 5 kg per bulan ke negeri jajahan sampai epidemi berakhir. Bosch tak lupa memperhatikan kesejahteraan petugas medis yang jadi garda depan dalam pemberantasan wabah. Diusulkannya agar seluruh petugas kesehatan yang ikut menangani wabah mendapat status pegawai negeri sipil Eropa. Peimpin pribumi juga dikerahkan untuk mengawasi administrasi regular dan distribusi obat-obatan pada penduduk. Pada 25 April 1847, Gubernur Jenderal Rochussen meneruskan usulan Bosch pada Menteri Koloni JC Baud. Namun dalam memonya, Rochussen berkomentar sinis pada usulan Bosch. Rochussen menilai usulan Bosch sebagai sebuah pemborosan. “Ketika wabah merebak, Dinas Kesehatan mengusulkan agar dokter-dokter Eropa merawat penduduk Jawa dan mengelola obat-obatan Eropa. Betapa wabah ini jadi masa penuh kemakmuran bagi Layanan Medis!” kata Rochussen. Bagi Rochussen, pembangunan klinik kesehatan dan barak karantina di tiap daerah, distribusi selimut, beras untuk orang sakit, beras untuk mencegah orang sehat jatuh sakit adalah pemborosan besar-besaran. “Dia (Bosch) ingin memaksa orang Jawa untuk berpakaian lebih baik, tidak tinggal di gubuk bambu di bawah pohon pisang,” kata Rochussen dalam suratnya. Meski respons sinis Rochussen menjadi pertanda tidak baik bagi proposal Bosch, pada 20 Mei 1847, Sekretaris Jenderal C. Visscher langsung menghubungi Bosch. Dia setuju untuk membagikan selimut. Tapi Visscher ragu apakah kina dari Belanda akan tiba sebelum epidemi berakhir. Kala itu, butuh waktu dua bulan untuk mengirim surat dari Batavia ke Den Haag. Jika ia cepat bergerak, Visscher memperkirakan epidemi akan berakhir dalam waktu empat bulan. “Pemerintah Hindia Belanda berusaha mencegah wabah makin memburuk dengan cara yang seringan mungkin,” kata Liesbeth dalam bukunya. Namun Rochussen tetap menganggap enteng masalah wabah in dan meyakini Bosch hanya melebih-lebihkan soal wabah. “Saya ingin percaya bahwa epidemi parah memang terjadi dengan banyak nyawa hilang, tetapi saya tidak percaya bahwa wabah ini seburuk yang dikatakan orang,” kata Rochussen. Menurutnya, usulah Bosch punya ruang untuk dimanfaatkan orang pribumi menghindari kerja paksa dan jadi alasan bila terjadi gagal panen. Bosch menjawab sinisme Rochussen dengan tajam. Kalau mau wabah segera berakhir, paket tindakan yang diusulkannya harus dilaksanakan tanpa batasan. Setelah berunding dengan Dewan Hindia, diputuskan untuk terus mengirim petugas kesehatan sementara ke daerah-daerah yang paling parah terkena dampak. Para petugas diberi stok obat-obatan yang cukup, terutama kina. Otoritas lokal didesak untuk memberi mereka setiap bantuan yang diperlukan. Selimut bekas tentara Hindia disediakan bagi penduduk. Proposal Bosch lainnya ditolak, seperti pemberian f. 10 pada penderita yang dikarantina. “Meski terdapat komentar negatif, catatan bahwa 'sebagian besar bupati' mendukung rekomendasi, itu menarik,” tulis Liesbeth.

  • Adiós Lorenzo Sanz!

    SELAIN Italia, Spanyol jadi negara Eropa terparah dalam pandemi COVID-19 . Per Senin (23/3/2020), negeri matador itu sudah mencatatkan lebih dari 33 ribu warganya positif terjangkit virus corona . Sebagaimana Jakarta, ibukota Madrid pun merupakan epicenter pandemi yang sudah merenggut lebih dari 2.100 jiwa di seluruh dunia itu.   Salah satunya, eks bos klub raksasa Real Madrid   Lorenzo Sanz Mancebo. Lorenzo Sanz wafat pada Sabtu (21/3/2020) malam waktu setempat atau Minggu 22 Maret 2020 WIB setelah delapan hari dirawat di Hospital Universitario Fundación Jiménez Díaz, Madrid, di usia 76 tahun. Ia positif terpapar virus corona  dan mengalami demam tinggi hingga kemudian menderita gagal ginjal. Bagi segenap stakeholder  klub terbesar ibukota itu, Sanz dikenal sebagai sosok yang mengembalikan kejayaan Madrid di persepakbolaan Eropa setelah melempem di lebih dari tiga dekade. Dua gelar Liga Champions (1998 dan 2000) merupakan warisannya sepanjang 15 tahun mengabdi di klub. Lorenzo Sanz (kanan) dan suksesornya sejak 2000 Florentino Pérez Rodríguez (Foto: realmadrid.com ) “Hari ini kita mengenang Lorenzo Sanz, yang ikut menjadi korban dalam tragedi (pandemi COVID-19) ini. Beliau presiden yang memberi kita gelar Eropa setelah penantian 32 tahun. La Séptima (gelar Liga Champions ketujuh), kemudian diikuti La Octava (gelar kedelapan) dua tahun berikutnya kala Real Madrid kembali ke tempatnya yang layak dalam buku sejarah, adalah berkat dia,” ujar Presiden Real Madrid Florentino Pérez di laman resmi klub , 22 Maret 2020. “Kita kehilangan seorang madridista hebat yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya dan keluarganya untuk Real Madrid. Gairahnya terhadap Real Madrid akan selalu hidup. Kini kita menghormati kenangan dan warisannya. Lorenzo layak mendapat pengakuan dan penghormatan tertinggi,” lanjutnya. Madridista Sejak Kanak-Kanak Tidak banyak yang bisa diketahui tentang latarbelakang keluarga Lorenzo Sanz. Obituari yang dituliskan Sid Lowe bertajuk “Lorenzo Sanz: The Man Who Recovered the European Cup for Real Madrid” di The Guardian , Minggu (22/3/2020), hanya menyebutkan sosok kelahiran Distrik Chamberí, Madrid, 9 Agustus 1943 itu merupakan anak bungsu dari 10 bersaudara. Sanz tumbuh di Distrik Carabanchel.Di sanalah ia kenal dan berkawan dengan Ramón Mendoza yang kelak ia gantikan sebagai presiden Real Madrid. Ayah Sanz mantan jawara tinju amatir yang turut jadi fans die hard Real Madrid. Karena itulah sejak kanak-kanak Sanz sudah jadi madridista. Lorenzo Sanz Mancebo meninggal di usia 76 tahun setelah terjangkit virus corona (Foto: realmadrid.com ) Sejak usia 10 tahun Sanz loyal menyaksikan El Real berlaga di stadion Santiago Bernabéu bersama neneknya, sekaligus menjajakan air minum kepada para penonton lain. Bersama ayahnya ia turut jadi saksi kala Madrid merebut gelar kedua European Cup (kini Liga Champions) di kandang sendiri pada 30 Mei 1957. Saat itu Madrid menjungkalkan Fiorentina 2-0 di final berkat penalti Alfredo Di Stéfano dan gol Paco Gento. Sejak usia 10 tahun Sanz loyal menyaksikan El Real  berlaga di stadion Santiago Bernabéu bersama neneknya, sekaligus menjajakan air minum kepada para penonton lain. Bersama ayahnya ia turut jadi saksi kala Madrid merebut gelar kedua European Cup (kini Liga Champions) di kandang sendiri pada 30 Mei 1957. Saat itu Madrid menjungkalkan Fiorentina 2-0 di final berkat penalti Alfredo Di Stéfano dan gol Paco Gento. Beranjak dewasa, menurut Steven G. Mandis dalam  The Real Madrid Way: How Values Created the Most Successful Sports Team on the Plane t, Sanz sempat berkiprah di lapangan hijau sebelum beralih jadi pebisnis. Hingga usia sekolah menengah atas, Sanz pernah membela beberapa klub level Tercera División regional Comunidad de Madrid alias kasta keempat Liga Spanyol, seperti   RCD Carabanchel dan CD Puerta Bonita.   Posisinya   adalah kiper. Mulai 1970-an, ia terjun ke bisnis properti dan mulai naik daun sebagai konglomerat baru satu dekade berikutnya. Kala Mendoza, kawan kecilnya dari Distrik Carabanchel, menjadi presiden Real Madrid pada 24 Mei 1985, Sanz diajak menjadi salah satu anggota dewan direksi klub. Bersama Mendoza, Sanz turut menggodok strategi baru buat klub yang di awal 1980-an miskin gelar di kancah domestik. “Strategi baru klub adalah mengembangkan dan mempromosikan pemain-pemain dari akademi muda La Fábrica. Pemain-pemain muda lokal itu kemudian membawa kesuksesan hingga memunculkan julukan ‘La Quinta del Buitre’ yang mengambil sebutan dari julukan pemain andalan mereka, Emilio Butragueño (‘El Buitre’). Empat andalan lokal lainnya kala itu adalah Manuel Sanchís, Martín Vásquez, Míchel del Campo, dan Miguel Pardeza,” tulis Mandis. Kolase momen Lorenzo Sanz kala Real Madrid mendulang La Séptima (gelar keenam Liga Champions) pada 1998 (Foto: realmadrid.com ) Menyusul sukses Madrid menjuarai La Liga lima musim berturut-turut (1985-1990), jabatan Sanz naik hingga menjadi wakil presiden klub. Sanz akhirnya menggantikan kawan lamanya itu sebagai suprema klub, usai Mendoza dipaksa mundur oleh keputusan mayoritas dewan direksi. “Sanz dipilih sebagai presiden Real Madrid pada 26 November 1995 menggantikan Mendoza yang dipaksa turun jabatan setelah klub menumpuk utang besar hingga 1,2 miliar peseta. Mendoza juga sangat kentara memanfaatkan popularitas klub untuk kepentingan politiknya,” ungkap Gabriele Marcotti dalam biografi Fabio Capello, Portrait of a Winner . Sebagai presiden Sanzjustru enggan mengulangi strategi pendahulunya. Ia merasa klub harus punya imej baru yang diharapkan berbanding lurus pada keuntungan di kemudian hari. Sanz menargetkan Madrid harus bisa kembali mengglobal dengan menjadi raja Eropa. Toh Madrid sudah terlalu lama puasa gelar Eropa sejak terakhir kali juara Piala Champions pada 1966. Maka itu di awal kepemimpinannya Sanz tak segan merogoh koceknya sendiri untuk mendatangkan sejumlah pemain bintang macam Davor Šuker, Predrag Mijatović, Clarence Seedorf, dan Roberto Carlos. Untuk posisi entrenador (pelatih), Sanz merekrut Capello, pelatih asal Italia yang sebelumnya sukses membanjiri AC Milan dengan empat gelar Serie A dan masing-masing satu Piala Champions dan Piala Super Eropa pada 1994. Mati dengan Tenang Mendatangkan sejumlah bintang ke Madrid tak serta-merta mendatangkan gelar ke klub yang dulunya bernama Royal Madrid itu. Sambil menantinya, Sanz terusaktif di bursa transfer untuk berturut-turut mendatangkan beberapa pemain bintang lain yang tentunya tak murah. Hingga tahun 2000, tak terhingga peseta yang berasal dari pinjaman bank dikeluarkan Sanz untuk mendatangkan para bintang. Selain Míchel Salgado yang kelak menjadi menantunya, Sanz juga mendatangkan Christian Karembeu yang diincar klub Barcelona, hingga Nicholas Anelka yang pada 1999 menjadi pemain termahal dengan nilai transfer 5,54 miliar peseta (USD38 juta) dari Arsenal. “Ditambah Geremi Njitap, Elvir Baljić, Júlio César, Rodrigo, Edwin Congo, dan Iván Helguera. Ada juga yang didapat dengan free transfer seperti Christian Panucci dan Steve McManaman. Namun yang tak disadari fans dan publik adalah, utang Madrid kian menggunung hingga mencapai 9 miliar peseta dari pinjaman bank. Sukses di lapangan ternyata tak berbanding lurus dengan kesuksesan finansial,” singkap Sid Lowe dalam Fear and Loathing in La Liga: Barcelona, Real Madrid and the World’s Greatest Rivalry. Kolase momen Lorenzo Sanz kala Real Madrid menyabet La Octava (gelar ketujuh Liga Champions) pada 2000 (Foto: realmadrid.com ) Tidak hanya pemain, Sanz juga “hobi” gonta-ganti pelatih. Ia dikenal tak harmonis dengan sejumlah pelatih yang ia rekrut. Sepanjang kepresidenannya, Sanz pernah menggunakan jasa Jorge Valdano, Vicente Del Bosque, Arsenio Iglesias, Capello, Jupp Heynckes, José Antonio Camacho, Guus Hidding, dan John Toshack sebagai pelatih Madrid. Biaya tinggi yang dikeluarkan Sanz memang akhirnya membuat Madrid sukses merajai Eropa dua kali. Utamanya, kala klub menuntaskan dahaga gelarnya selama 32 tahun pada musim 1997-1998. Di final Champions kontra Juventus di Amsterdam Arena, 20 Mei 1998, Mijatovic menjadi pahlawan dengan gol tunggalnya di menit ke-66. Momen itu kemudian jadi bab baru bagi citra Madrid sebagai langganan juara Eropa hingga kini. “Ketika kami pulang, kami tak pernah melihat begitu banyak warga Madrid tumpah ruah menyambut selebrasi. Momen itu yang mengubah mentalitas Real Madrid. Momen yang sekaligus mengangkat beban sejarah dari pundak kami yang sudah dinanti begitu lama,” kata Fernando Sanz, putra Lorenzo Sanz, yang kala itu juga bermain sebagai bek Real Madrid, dikutip Lowe. Madrid di bawah Sanz kembali jadi kampiun Champions di musim 1999-2000 . D i final yang digelar di Stade de France, Saint-Denis, Prancis , 24 Mei 2000 , Madrid menang telak 3-0 dari sesama klub Spanyol, Valencia. Sayangnya, beberapa bulan setelah itu Sanz gagal mempertahankan jabatannya.Dalam pemilihan tahun itu, kursinya direbut Florentino Pérez yang memenangkan pemilihan suara. Meski Sanz sebagai peletak fondasi “Galácticos” yang kelak disempurnakan Pérez, ia kalah gegara persoalan utang Madrid yang terus membengkak. Selain itu, Pérez menggunakan “senjata” bahwa dia bakal membajak Luis Figo dari tim rival Barcelona. Setelah kehilangan jabatan presiden, Sanz sempat dua kali lagi menjajal pemilihan yang berujung kandas. Ia kemudian membeli klub medioker, Málaga CF. Pada 2006, Sanz membeli 97 persen saham klub asal Andalusia itu, namun menyerahkan kursi kepresidenan klub untuk dipegang putranya, Fernando Sanz. Lorenzo Sanz (kanan) dan putranya Fernando Sanz Durán (Foto: realmadrid.com ) Terlepas dari “dosanya” menumpuk utang buat Madrid, kepemimpinan Sanz membuka bab anyar bagi citra Madrid yang tidak hanya disegani di pentas domestiknamun juga Eropa, bahkan dunia. Capaian itu merupakan warisan yang takkan dilupakan para madridista , utamanya kala Madrid mengakhiri dahaga gelar Eropa selama 32 tahun pada 1998. Momen itu pula yang paling dikenang Sanz hingga akhir hayatnya. Ia menyimpan kliping suratkabar AS yang memunculkan headline tentang momen itu di kamar mandinya. “Bagaimana saya bisa melupakan momen itu? Setiap bangun pagi dan pergi ke kamar mandi, saya selalu melihatnya. Sejarah akan menempatkan saya di tempat yang sepantasnya. Seperti janji saya sebelumnya, saya membawa trofi (Liga Champions) itu kepada raja (Spanyol). Kini saya bisa mati dengan tenang,” tandasnya dikutip Lowe.

  • Perang Senjata Biologis

    Sebelum abad ke-20, senjata biologis berupa racun biologis atau bakteri dari hewan dan tanaman busuk.

  • Melawan Wabah El Tor

    El Tor. Anda pernah mendengarnya? Mungkin sekarang tak pernah. Tapi pada dekade 1930-an dan 1960-an, El Tor sempat menjadi nama paling ditakuti di Sulawesi Selatan, Semarang, dan Jakarta. El Tor adalah penyakit menular. Gejalanya mirip kolera. Bahkan penyebabnya serupa dengan penyakit kolera. Masih satu keluarga dengan bakteri kolera. El Tor kali pertama ditemukan oleh Felix Gotschlich, dokter dari Jerman, di pusat karantina El Tor, tak jauh dari Terusan Suez, Mesir, pada 1905. Karena itu, bakteri termaksud disebut El Tor. Gotshlich menyatakan El Tor terdapat di feses sejumlah jamaah calon haji. Meski menyerupai vibrio cholerae (bakteri penyebab kolera), El Tor justru bersifat apatogen atau tidak merugikan inangnya. Jamaah calon haji tetap sehat dan tak muncul gejala sakit apapun pada mereka. Kesimpulan Gotschlich bertahan selama 32 tahun. Kesimpulan Gotschlich berubah pada September 1937. El Tor mulai jadi patogen (merugikan inangnya). Kasus pertama muncul di Pangkajene, sekira 60 kilometer dari utara Makassar. Orang terinfeksi El Tor akan menampakkan gejala sakit menyerupai pasien kolera. “Mula-mula penderita muntah, diikuti dengan berak-berak yang berupa air beras (cair, keruh putih disertai sedikit lendir) dengan frekuensi lebih dari 10 kali,” catat Djaja dalam “Usaha Memberantal El Tor”, 7 Maret 1964. Dalam waktu hampir tiga bulan, infeksi El Tor menyebar ke beberapa wilayah Sulawesi lainnya. Dari 26 September hingga 11 Desember 1937 terdapat 37 kasus dengan 11 orang meninggal . Persebaran El Tor menjangkau 14 desa sehingga menjadikannya epidemi. Media penyebarannya melalui liur atau feses penderita, air yang terkontaminasi, dan lalat yang membawa bakteri itu lalu hinggap di makanan. Epidemi ini cepat menyebar, lekas pula mereda. Tidak seperti dalam kolera, penanganan terhadap penderita tak perlu ada isolasi khusus. Sekian tahun menghilang, El Tor muncul lagi pada 1958 di Jakarta. “Pertama kali muncul empat kasus parakolera El Tor di Jakarta Raya,” ungkap Soe Khie Tjia dalam Penjelidikan Vibrio El Tor Jang Diasingkan di Djakarta dan Tjara Baru Untuk Membedakan Antara Vibrio El Tor dan Vibrio Cholerae , tesis pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1967. Lantaran kasusnya sedikit, kebanyakan orang menganggap biasa kabar ini. Tetapi dunia kedokteran justru bingung, bagaimana El Tor ini muncul di Jakarta setelah sekian tahun hilang dari Makassar. Penelitian digelar selama tiga tahun. Tapi para dokter tak berhasil menemukan jawabannya. Tiga tahun setelah kasus di Jakarta, El Tor tiba-tiba merebak di Semarang. Tercatat ada 250 penderita terinfeksi El Tor. Dalam waktu bersamaan pula, El Tor menyerang Hongkong, Bangkok, Manila, Makau, dan Serawak. Orang-orang mulai khawatir. “Sejak 1961 kolera El Tor telah menjangkiti sepanjang wilayah Timur Jauh (Asia Timur) dan menarik perhatian WHO (Badan Kesehatan Dunia),” catat Jeni Iswandari dan Shinta Njotosiswojo dalam “Cholera El Tor Enteritis in Jakarta”, termuat di jurnal Paediatrica Indonesiana , Februari 1973. Para dokter berkesimpulan El Tor tak bisa lagi dibedakan secara epidemologis, klinis, dan patologis dari kolera. “Perbedaannya hanya terletak pada dua hal: karekteristik fisik dan biokimia (reaksi kimia yang terjadi dalam sel atau organisme hidup) bakterinya,” lanjut Jeni. Seiring pendefinisian El Tor, dokter C.E. De Moor menyarankan penanganan terhadap penderitanya ikut berubah. Mereka harus menjalani isolasi sebagaimana penderita kolera. “Pandangan mengenai vibrioEl Tor kini adalah sebagai kuman yang dapat menyebabkan wabah dengan mengakibatkan kematian sehingga oleh karenanya De Moor memasukkannya dalam daftar kuman-kuman yang dapat menimbulkan penyakit-penyakit karantina,” ungkap Djaja dalam “El Tor dan Cholera”, 26 Oktober 1963. Menyikapi penyebaran El Tor, pemerintah Indonesia menggunakan data penelitian tenaga kesehatan ketika El Tor berjangkit di Jakarta pada 1958 untuk mengambil tindakan. “Tidak banyak orang tahu bahwa semenjak kurang lebih dua tahun berselang, tenaga-tenaga kesehatan kita dan bagian public health Fakultas Kedokteran bertindak dalam bidang epidemiologis,” catat Djaja . Data penelitian tadi meliputi anggota keluarga penderita El Tor, pekerjaan penderita, makanan dan minuman, keadaan rumah, dan kondisi lingkungan. Melalui data itu, pemerintah mengambil langkah pencegahan penyebaran El Tor. Antara lain dengan mengeluarkan maklumat tentang El Tor. Isinya berkisar informasi El Tor, rumah sakit rujukan, dan tindakan orang jika menemukan penderita El Tor. Setelah maklumat keluar, Undang-Undang No. 6 Tahun 1962 tentang Wabah terbit pada 5 Maret 1962. UU termaksud menyuguhkan senarai delapan penyakit menular dan dapat menimbulkan wabah. El Tor termasuk satu di antaranya. Ini berarti “penyakit tersebut harus diberantas dengan segera bila terjadi wabah,” catat Almanak Pembangunan Kesehatan . UU juga memaklumatkan wewenang kepada Menteri Kesehatan untuk menetapkan suatu daerah sebagai daerah wabah setelah pemeriksaan yang teliti. Jika Menkes sudah menetapkan satu daerah sebagai daerah wabah, penguasa tempatan dapat menutup daerah tersebut untuk mencegah wabah meluas. Selain memaklumatkan tindakan bagi pemerintah, UU juga membuka pelibatan masyarakat untuk melaporkan adanya wabah di daerahnya. Para penderita penyakit dikenakan ketentuan isolasi dari orang lain di sekitarnya. “Peraturan ini dijalankan dengan keras karena terjadinya beberapa wabah di Makassar… Dan El Tor yang sudah endemis,” tulis Pedoman dan Berita , 1968. Setelah mengeluarkan maklumat tentang El Tor dan UU tentang wabah, langkah selanjutnya adalah pembuatan vaksin. Hingga 1970-an, vaksin El Tor belum juga ditemukan. Sebagai gantinya, pemerintah menggunakan vaksin kolera. Penderita El Tor mengeluarkan reaksi beragam setelah mendapat vaksin kolera. Ada yang sembuh, ada juga yang tak tertolong. Tapi ketiadaan vaksin khusus itu tertolong oleh perubahan perilaku menuju hidup bersih, pembangunan sanitasi di permukiman, dan kesadaran masyarakat memasak air lebih dulu. Dengan cara demikian, penderita El Tor di Indonesia menurun secara bertahap.

  • Wabah di Jawa Abad ke 17

    Wabah penyakit menular yang membunuh sepertiga penduduk Banten dan dua pertiga penduduk Jawa Tengah.

  • Kekejaman Pasukan Baret Hijau

    Bagaimana aksi-aksi Korps Speciale Troepen (KST) selalu berujung kepada praktek pelanggaran HAM dan pembantaian rakyat sipil.

  • Delapan Gua Tetirah Diponegoro

    Mejelang pecah Perang Jawa (1825-1830), Diponegoro melakukan perjalanan ziarah ke beberapa gua di sekitar sisi selatan Yogyakarta. Berolah batin dan "berkomunikasi" dengan leluhur.

  • Riwayat Kedatangan Islam di Gowa

    Wabah Covid-19 semakin meresahkan masyarakat Indonesia. Pemerintah pun akhirnya mengeluarkan imbauan agar masyarakat sebisa mungkin menghindari keramaian. Masyarakat diminta tidak berkumpul dalam jumlah besar di tempat tertentu. Hal itu dilakukan untuk memutus rantai persebaran virus yang semakin meluas. Di tengah upaya tersebut, masyarakat Indonesia malah dihebohkan dengan pemberitaan tentang kegiatan Tabligh Ijtima Dunia 2020 Zona Asia yang rencananya akan diselenggarakan di Gowa, Sulawesi Selatan pada 19-22 Maret. Diberitakan CNNIndonesia , Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo membenarkan keberadaan 8.000 anggota Jemaah tabligh di Gowa tersebut. Namun setelah pemerintah daerah Sulawesi Selatan bersama TNI dan kepolisian melakukan koordinasi dengan pihak panitia penyelenggara, acara tabligh itu resmi ditunda. Pangdam Hasanuddin Mayjen TNI Andi Simangaruka menyebut pihaknya berhasil meyakinkan panitia menunda acara di tengah pencegahan virus corona yang dilakukan pemerintah Indonesia. “Jadi rencana mereka akan membatalkan kegiatan itu. Ini kesepakatan dengan panitia karena kan progam pemerintah dalam rangka pencegahan penularan virus corona. Mereka mengerti itu,” ucap Andi Simangaruka. Banyak masyarakat yang bingung dengan pemilihan wilayah Gowa sebagai tempat penyelenggaraan acara tersebut. Dari sekian banyak wilayah di Indonesia mengapa Gowa yang dipilih untuk acara yang baru pertama kali terselenggara di Indonesia ini. Hal itu tentu tidak terlepas dari perkembangan ajaran Islam di Gowa yang telah terjadi  sejakratusan tahun lalu. Lantas bagaimana Islam pertama kali masuk ke Gowa? Kedatangan Pertama Penyebaran Islam di Nusantara berlangsung tidak merata. Ajaran agama dari Jazirah Arab ini tidaklah masuk secara bersamaan ke seluruh penjuru Nusantara. Masuknya Islam ke Sulawesi Selatan, termasuk Kerajaan Gowa contohnya, bisa dikatakan terlambat dibandingkan dengan wilayah Sumatera dan Jawa. Jika di kedua wilayah tersebut Islam telah berkembang pesat sejak abad ke-10, pengaruh Islam di Sulawesi baru muncul sekitar abad ke-16. Penyebabnya adalah kegiatan dagang di sana baru ramai akhir abad ke-16 hingga permulaan abad ke-17. Dijelaskan Ahmad M. Sewang dalam Islamisasi Kerajaan Gowa: Abad XVI sampai Abad XVII , para pedagang Muslim dari berbagai daerah di Nusantara, serta pedagang Eropa baru ramai mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di Sulawesi Selatan pada periode abad tersebut. Aktifitas dagang inilah yang mempengaruhi tumbuhnya Islam di Jawa dan Sumatera. Sehingga ketika Sulawesi mulai ramai dikunjungi, persebaran Islam di Gowa pun mulai meningkat. Menurut Mattulada dalam “Islam di Sulawesi Selatan” dimuat dalam  Agama dan Perubahan Sosial karya Taufik Abdullah, keberadaan pemukiman Muslim pertama di Makassar diketahui pada masa pemerintahan Raja Gowa X Tonipalangga (1546-1565). Penduduk Muslim pertama di Sulawesi Selatan itu mayoritas berasal dari Campa, Patani, Johor, dan Minangkabau. Mereka adalah para pedagang yang melakukan aktifitas dagang di pelabuhan Makassar, yang ketika itu dikenal sebagai tempat singgah para pelaut yang ingin ke Maluku ataupun ke Sumatera. Pada masa kekuasaan Tonijallo (1565-1590) di tempat bermukim para pedagang Muslim di Mangallekanna itu telah berdiri sebuah masjid. Memasuki abad ke-17 Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo mulai menerima keberadaan Islam di negerinya. Peristiwa besar penerimaan Islam tersebut ditandai dengan kedatangan tiga orang datuk ( datuk tallua ) dari Minangkabau ke wilayah kekuasaan raja Gowa. “Peristiwa masuknya Islam Raja Gowa merupakan tonggak sejarah dimulainya penyebaran Islam di Sulawesi Selatan, karena setelah itu terjadi konversi ke dalam Islam secara besar-besaran,” tulis Sewang. Berdasar peneltian etnolog Prancis Christian Pelras dalam “Religion, Tradition and the Dynamics of Islamization in South Sulawesi” dimuat Archipel , diketahui bahwa orang pertama di Gowa yang menerima Islam adalah mangkubumi Kerajaan Gowa, yang juga memegang kekuasaan tertinggi di Tallo, yaitu I Malingkang Daeng Manyonri. Ia kemudian memperoleh nama Islam Sultan Abdullah Awwalul-Islam. Pada waktu yang bersamaan, Raja Gowa XIV I Mangarangi Daeng Manrabia, juga mengikrarkan dirinya menjadi seorang Muslim. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Sultan Alauddin. Keduanya tercatat menjadi Muslim pada 1605. Perubahan seluruh keyakinan di Gowa ke dalam Islam ditasbihkan dengan dikeluarkannya sebuah dekrit Sultan Alauddin pada 9 November 1607. Dalam dekrit itu, kata Sewang, Sultan menjadikan Islam agama resmi kerajaan dan agama yang perlu diyakini seluruh rakyat di wilayah kerajaan Gowa. Tidak ada pertentangan atas keputusan tersebut. Tetapi kemudian mulai timbul pertentangan manakala Gowa mulai menyerukan Islam ke kerajaan-kerajaan taklukannya yang mayoritas masih menganut kepercayaan di luar Islam. Pada perkembangan selanjutnya, ajaran-ajaran Islam yang disyiarkan oleh para ulama di Gowa mulai diterima secara luas oleh masyarakat. “Sejak semula, penyebaran Islam dilakukan atas prakarsa raja, serta atas kemampuan adaptasi yang diperlihatkan oleh para penyiar Islam. Akan tetapi bagaimana proses itu terjadi serta peranan yang dimainkan oleh raja di dalamnya, belumlah ada penelitian yang membahas secara khusus tentang itu,” ungkap Sewang. Datuk Tallua Tersebarnya Islam di kalangan penguasa Gowa tidak terlepas dari peran datuk tallua . Tiga datuk tersebut di antaranya: Abdul Makmur (Khatib Tunggal), dikenal juga dengan nama Datuk ri Bandang; Sulaiman (Khatib Sulung), dikenal juga dengan nama Datuk Patimang; Abdul Jawad (Khatib Bungsu), dikenal juga dengan nama Datuk ri Tiro. Begitu tiba di Makassar, ketiganya tidak langsung menjalankan misi agamanya. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang Melayu dan pedagang Muslim yang sudah lebih dahulu tinggal di Sulawesi Selatan. Para mubalig ini berusaha mendekati para penguasa yang paling dihormati agar penyebaran ajaran Islam lebih mudah dilakukan. Dikisahkan dalam Lontara Pattorioloang dan Lontara Bilang, ketiga datuk kemudian pergi menuju Luwu untuk mendekati penguasa di sana. Berdasar informasi yang didapat, penguasa Luwu lebih terbuka terhadap keberadaan Islam. Akhirnya pada 1605, penguasa Luwu Daeng Parabung berhasil diislamkan. Ia mengganti namanya menjadi Sultan Muhammad. Sebagai raja Luwu, Sultan Muhammad cukup dihormati di kalangan raja-raja Sulawesi Selatan. Ia memiliki pengaruh yang besar. Sultan Muhammad lalu menyarankan agar datuk tallua pergi menemui Raja Gowa. Wilayah Gowa, menurut Sultan Muhammad, memiliki kekuatan militer dan politik yang kuat di kawasan Sulawesi Selatan. Jika Islam berhasil berkembang di sana, persebarannya diyakini akan semakin besar dan cepat. Usaha para mubalig itu pun membuahkan hasil. Beberapa bulan setelah melakukan pendekatan, Gowa dan Tallo bersedia memeluk agama Islam. “Kerajaan Gowa dikenal sebagai salah satu kerajaan pertama yang menerima Islam sebagai agama resmi sekaligus menjadi pusat Islamisasi di Sulawesi Sulatan,” tulis Sewang.

bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Setelah menghancurkan Gerwani pasca peristiwa G30S 1965, rezim Orde Baru menggunakan istilah kuntilanak untuk membatasi gerakan perempuan progresif.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Semasa menjadi panglima di Kalimantan Barat, Musannif Ryacudu membuktikan loyalitasnya kepada Presiden Sukarno dengan membiayai sendiri operasi Ganyang Malaysia. Kariernya redup setelah peristiwa G30S 1965.
bottom of page