top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mula Riset Radioaktif

    Kontaminasi radiokatif yang ditemukan di tanah kosong Perumahan Batan Indah, Serpong diketahui berasal dari rumah Blok A22. Polisi tengah memeriksa pemilik zat radioaktif illegal yang merupakan pegawai Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan pembuang limbah radioaktif tersebut. Sementara, Cesium 137 yang berada di dalam rumah tersebut disita polisi. “BATAN mendukung kegiatan yang dilakukan Kepolisian dan Bapeten untuk menyelidiki adanya zat radioaktif yang tidak sah," kata Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama, BATAN Heru Umbara sebagaimana diberitakan Tempo. Sebelumnya, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menemukan paparan radiasi nuklir mencapai 1.818 kali lipat ambang batas kala melakukan uji fungsi alat pemantau radioaktivitas lingkungan bergerak (mobile RDMS-MONA) pada 30 dan 31 Januari 2020. Setelah ditelusuri, radiasi nuklir yang ditemukan berjenis radioaktif Cesium 137 yang merupakan zat tunggal. Jenis ini berbeda dengan zat radioaktif di fasilitas Reaktor riset GA Siwabessy. Lebih lanjut, sembilan detektor pemantau radiasi di Kompleks Puspiptek Serpong juga tidak menunjukkan adanya kebocoran nuklir dari Reaktor GA Siwabessy. Untuk menanggulangi paparan radiasi ini, proses pembersihan terus dilakukan dengan mengeruk tanah yang terpapar radiasi nuklir. Sembilan warga di sekitar titik penemuan zat radioaktif pun menjalani pemerisaan kesehatan. Bermula dari Ledakan Pulau Eniwetok Riset nuklir di Indonesia mulai dilakukan sejak 1950-an. Hal ini bermula dari ujicoba bom hidrogen di Pulau Eniwetok oleh Amerika Serikat sejak 1952.  Ujicoba itu menimbulkan efek tak sepele bagi kawasan sekitarnya. Percobaan yang dilakukan beberapa kali oleh Amerika Serikat itu menurut Dr. Gerrit Augustinus Siwabessy menyebabkan banyak efek pada lingkungan sekitar Samudra Pasifik. Di Jepang, misalnya, ikan-ikan mati di tepian pantai. Orang-orang yang memakan ikan tersebut juga menjadi sakit. Debu radioaktif dari bom nuklir tersebut diperkirakan terbawa angin dan air yang kemudian dikomsumsi ikan di laut. Dari sinilah sebab orang-orang Jepang menjadi sakit. Ilustrasi Prof. dr. G.A. Siwabessy (dok. Mursid D.) Kekhawatiran ini pun melanda Indonesia yang letaknya berdekatan dengan Samudra Pasifik. Presiden Soekarno lantas mencari ahli-ahli yang dapat mengukur tingkat paparan radioaktivitas di lautan, udara, dan daratan Indonesia yang bersinggungan dengan Samudra Pasifik. Tugas itu lantas diserahkan pada Lembaga Radiologi dari Departemen Kesehatan yang punya peralatan geiger. Namun lantaran tugas memeriksa paparan radioaktif dan riset nuklir merupakan bidang yang berbeda dengan penggunaan radio aktif untuk kebutuhan medis, dibentuklah Panitia Penyelidikan Radioaktifitas dan Tenaga Atom (PPRTA) berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 230 tahun 1954 tertanggal 23 November 1954. Dokter GA Siwabessy sebagai ketuanya. Siwabessy yang kala itu menjadi Menteri Kesehatan punya banyak pengalaman dalam bidang radiologi. Sebelum menjabat sebagai menteri, ia pernah bertugas sebagai kepala Bagian Radiologi RSCM dan Kepala Lembaga Radiologi Departemen Kesehatan. Siwabessy mendapat beasiswa dari British Council untuk belajar radiologi di Universitas London pada 1949. Kerja Siwabessy di PPRTA dibantu beberapa ahli dari Universitas Gadjah Mada, seperti Dr. Baiquni dan Prof. Ir. Herman Johannes yang namanya kini dijadikan nama jalan yang membentang di timur Galleria Mall ke utara hingga perempatan Sagan (MM UGM), Yogyakarta. Dalam tim ini, seperti dicatat “Sejarah BATAN Jogja 1961-2014”, Herman Johannes bertugas sebagai Ketua Seksi Fisika, Kimia, dan Teknologi. Ahli lain yakni dr. Rubiono dari Bagian Radiologi Rumah Sakit Gatot Subroto dan Prof. Ir. Gunarso dari ITB. Ada pula wakil-wakil dari instansi Angkatan Darat, udara, dan meterologi. Prof. Ir. Herman Johannes. Sumber: Sejarah Batan Jogja 1961-2014. Panitia ini kemudian dikirim ke area yang berdekatan dengan Samudra Pasifik, seperti Manado, Ambon, dan Timor. Papua tidak termasuk karena masih jadi bagian Belanda. Selain air laut, pohon-pohon di sekitar, rumput, dan tanah diteliti. “Rumput-rumput terutama menjadi perhatian karena bila rumput-rumput yang mengandung fall out (jatuhan) radioaktif dimakan, hewan-hewan itu akan mati,” kata Siwabessy dalam memoarnya, Upuleru. Namun, sambungnya, syukurlah di Indonesia tidak terdapat jatuhan radioaktif yang berbahaya. Sejak berkumpulnya para ahli nuklir dalam proyek ini, perhatian pada studi nuklir meningkat. Para ahli, seperti Erman Natawidjaja dan Sombu Pillay yang juga anggota tim PPRTA, dikirim ke luar negeri untuk mendalami nuklir. Siwabessy mengirim mereka ke London agar mereka memperdalam ilmu ini selama dua tahun. Tim PPRTA lain yang dikirim untuk mempelajari radiologi ialah Baiquni. Ia berangkat ke Amerika Serikat pada 1955 untuk mengikuti International School of Nuclear Science and Engineering di Argonne National Laboratory yang jadi bagian dari program Atom for Peace oleh Presiden Eisenhower sejak 1953. Ilustrasi Prof. Dr. A. Baiquini (dok. Mursid D.) Pengiriman para ahli nuklir ke luar negeri bertujuan untuk mempersiapkan personel bagi pembangunan tenaga atom untuk maksud damai, misalnya pengembangan teknik nuklir, fisika nuklir, dan perlindungan serta keamanan radiasi nuklir. “Berbagai ahli dalam bidang atom perlu dididik di luar negeri. Lulusan ITB dan Gadjah Mada dan lain-lain ditarik ke dalam kegiatan,” kata Siwabessy. Sekembalinya dari studi di luar negeri, para ahli ditempatkan di lembaga yang berkaitan dengan pemeliharaan dan pengembangan nuklir. Erman Natawidjaja dan Sombu Pillay, seperti dikisahkan Siwabessy, kemudian ditugaskan di Lembaga Radiologi Departemen Kesehatan. Sementara Baiquni, ikut menjadi anggota pendirian Pusat Penyelidikan Tenaga Atom Nasional bersama Herman Johannes dan Siwabessy. Setelah melalui serangkaian riset, dibentuklah Lembaga Tenaga Atom pada 5 Desember 1958 yang kemudian diperingati sebagai hari jadi BATAN.

  • Para Raja Baru dan Juru Selamat

    Kurang dari dua bulan, empat kerajaan baru beserta rajanya bermunculan dengan membawa sejarah dan cita-cita masing-masing. Hal ini mengingatkan pada fenomena gerakan milenarisme atau penantian akan datangnya juru selamat kala Indonesia di bawah kolonialisme. Ciri gerakan milenaristis, kata Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, adalah adanya harapan masyarakat akan tokoh yang memberikan keadilan dan kesejahteraan. Ini yang disebut sebagai tokoh juru selamat atau ratu adil. Di bawah kepemimpinan tokoh penyelamat ini, diyakini nantinya akan lahir negara yang sempurna dan rukun. “Ini cirinya. Ingat tentang Sunda Empire? Mereka juga punya harapan itu. Tapi apakah ini juga gerakan milenaristis? Kita lihat nanti,” kata Agus dalam diskusi bertema “Raja-raja Nusantara dalam Pusaran Ketoprak dan Pemahaman Sejarah” di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PuslitArkenas), Jakarta, Selasa (25/2). Dalam gerakan milenarisme, semua anggota masyarakat dijanjikan akan mempunyai status sederajat. “Semua dijanjikan dikasih duit satu miliar atau lebih, tiga miliar?” ujar Agus. Adanya kepatuhan mutlak kepada pemimpin juga tampak dalam gerakan ini. Anggotanya siap sedia membela kepercayaan mereka. Milenaristis, kata Agus, biasanya terjadi beriringan dengan gerakan keagamaan, yang kurang lebih hampir sama dengan milenarisme. Mereka berorientasi kepada leluhur. Jadi, biasanya mereka menyebutkan ada ramalan dari para leluhur tentang suatu zaman yang adil dan sejahtera. “Bersifat magico-mysticim, adanya narasi kekuatan gaib dan kekuatan supernatural yang turut berperan,” kata Agus. Cirinya, akan muncul tokoh yang dianggap keramat, sakti atau telah mendapat wahyu setelah bertapa atau meditasi. Pada masa lalu, kehebatan tokoh ini biasanya diwujudkan dengan kisah-kisah kesaktiannya. “Kalau masa kini bentuknya simpanan dana yang tak ada habisnya di Swiss, lalu orang kagum,” ujar Agus. Contoh dalam sejarah misalnya, Trunojoyo yang melawan pemerintahan Amangkurat I. Lalu Diponegoro melawan kolonialis Belanda. Yang kedua ini kemudian bergelar Herucakra, seperti gelar Ratu Adil yang ada dalam Serat Jayabaya dari abad ke-19. Sebagaimana dijelaskan sejarawan Ong Hok Ham dalam Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang, dalam Serat Jayabaya, Ratu Adil bergelar Tanjung Putih atau Herucakra, pendiri zaman emas baru yang akan membebaskan masyarakat Jawa dari zaman kaliyuga atauzaman sulit. “ Serat Jayabaya merupakan sejarah ramalan Jawa yang membagi sejarah dalam empat yuga atau zaman. Dimulai dari pemerintahan Raja Jayabaya di Kediri abad ke-11 yang merupakan zaman keemasan, disusul oleh zaman yang makin memburuk, sampai pada zaman dekadensi. Yang terburuk adalah yang terakhir, kaliyuga ,” tulis Ong Hok Ham. Wahyu yang diterima tokoh semacam itu, seringkali mendasari legitimasi kekuasaan seorang raja Jawa. Konsep ini lebih dominan daripada konsep legitimasi berdasarkan syarat lainnya. Seperti misalnya keturunan. “Konsep wahyu, di satu pihak, menjelaskan kekuasaan mutlak raja dan menganggap perlawanan terhadap dia sebagai perlawanan terhadap Tuhan,” tulisOng Hok Ham. Sementara wahyu dapat berpindah setiap waktu dan datang pada siapapun juga. Kekuasaan raja menurut konsep ini adalah reinkarnatif. Teori-teori reinkarnatif wahyu kerajaan semacam inilah yang dipakai oleh berbagai gerakan milenarisme atau Ratu Adil. Muncul Akibat Tekanan Ketika Serat Jayabaya terbit pada abad ke-19, dari tahun 1830 hingga masa pergerakan nasional hampir tak ada tahun yang lewat tanpa gerakan Ratu Adil di Jawa. Banyak pemimpin gerakan menyebut diri sebagai penerima wakyu kerajaan. Menurut Ong Hok Ham, ini mungkin berhubungan dengan hilangnya kekuasaan politis raja-raja Jawa ke tangan Belanda. Penguasa kolonial pun membebani rakyat dengan pajak yang tinggi dan kerja paksa. Hingga timbul harapan-harapan agar ada pembebasan. Hal ini menjadikan harapan lahirnya dinasti baru oleh Ratu Adil di masyarakat. Gerakan ini , tak menutup kemungkinan, yang memimpin adalah tokoh-tokoh setempat. Bahkan ada yang dipimpin oleh seorang petani. Tidak pula mencapai skala luas sehingga mudah ditindak. Seperti yang terjadi di wilayah budaya Sunda, gerakan Raksapraja pada 1842, gerakan Bapa Kantang pada 1853, perkumpulan Mutayam pada 1863. Semua gerakan ini didasarkan atas harapan milenarisme. “Mereka percaya akan tampil lagi kerajaan Sunda yang membawa kemakmuran dan kesejahteraan untuk rakyat,” kata Agus. Gerakan paling fenomenal dan ditakuti Belanda, yaitu Gerakan Nyi Aciah (1870-1871). Ia dianggap sebagai perempuan suci dari Sumedang. Masyarakat percaya Nyi Aciah punya kesaktian, termasuk dapat menyembuhkan macam-macam penyakit.Bahkan berkembang ramalan akan datang zaman yang aman sejahtera. Disebut pula soal kemunculan keraton di Keling dan Banjar. “Nyi Aciah akan menjadi ratu di Keraton Tegalluwar. Dia dipercaya sebagai jelmaan Dewi Siti Johar Manikam, putri Syeh Jumadilkubro,” jelas Agus. “Ini tokoh yang dikeramatkan.” Pendukung Nyi Aciah makin banyak. Pada Mei 1871 gerakan ini makin meluas ke Malangbong, Garut. Mereka mengadakan arak-arakan dan ziarah ke tempat-tempat keramat. Pemerintah kolonial Belanda menangkap tokoh-tokohnya. Gerakan ini padam. “Sama dengan Keraton Agung Segajat, kan arak-arakan juga, ditangkap polisi, runtuh sudah,” kata Agus.   Di Jawa Tengah hampir sama. Ada gerakan Jumadilkubro di selatan Pekalongan dan di kawasan utara Banyumas. Pemimpinnya Ahmad Ngisa. Gerakan ini mulai bergerak dari 1870-1871. Konon, ada wangsit dari Syeh Jumadilkubro dari Wanabadra. Bunyinya, ketika orang-orang asing (Belanda) diusir keluar, akan muncul tiga penguasa dari Majapahit, Pajajaran, dan Kalisalak (Pekalongan). Gerakan ini sempat meluas di Pekalongan dan Batang. Pemerintah Belanda menangkapi pengikutnya. Gerakan ini juga bubar. “Di sini ramalan-ramalan selalu mengiringi dan cerita-cerita kehebatan selalu ada,” kata Agus. Di Jawa Timur,tercatat gerakan Jasmani dari Desa Sengkrong di Blitar. Jasmani berguru kepada Amat Mukiar orang yang dianggap sakti dan keramat. Pada 1887, Amat Mukiar meramalkan, bahwa akan muncul Kerajaan Sultan Adil di wilayah Birowo, Lodoyo, dan Blitar. Muridnya, Jasmani akan dinobatkan sebagai Ratu Adil Igama. “Amat Mukiar meminta agar rakyat memerangi orang Eropa dan Cina, seluruh pejabat pribumi dianjurkan membantu gerakan ini,” kata Agus. Jasmani menyebarluaskan gagasan itu di Blitar. Ia juga menyiapkan pemberontakan terhadap Belanda.“Namun belum juga melaksanakan pemberontakan, Belanda sudah tahu. Mereka ditangkap dan bubar. Sama kasusnya,” lanjut Agus. Saluran Ketidakpuasan Kasus-kasus pada abad ke-19 itu memperlihatkan akar dari gerakan milenaristis, yaitu tekanan, kesewenangan, di tengah era kolonialisme Belanda. Masyarakat banyak yang mengharapkan kelahiran kembali kerajaan-kerajaan besar di masa lalu untuk mengusir Belanda.   Lalu, apakah keraton dan raja baru masa kini, seperti Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire, King of the King, dan belakangan Kerajaan Mulawarman, adalah wujud gerakan milenarisme juga? Menurut Agus,bukan. Apa yang terjadi lebih kepada upaya revitalisasi tendensius. “Mereka mendaku punya keterkaitan dengan kemegahan masa silam. Mencari dan menghidupkan kegiatan seni budaya yang telah lama tak ditampilkan. Ini adalah upaya revitalistik,” kata Agus .   Tendensinya apa? Menurut Agus untuk menghadirkan kebanggaan karena menjadi terpandang di kalangan masyarakat. Bisa juga untuk mengumpulkan dana masyarakat yang kecenderungannya penipuan. “Positifnya untuk meneruskan tradisi keraton yang telah lama hilang dan menjadi acara dalam kalender kegiatan pariwisata,” lanjutnya. Sayangnya, kata Agus, dalam rangka menghidupkan tradisi keraton yang hilang, pencetus raja dan keraton baru ini membuat cerita karangan. Ini adalah upaya legitimasi untuk mencari simpati dan dukungan masyarakat. “Mencari simpati dan dukungan masyarakat dengan bilang masih punya darah biru dan layak untuk melanjutkan tradisi raja-raja. Mengaku mempunyai dana simpanan di luar negeri yang tak terhingga,” katanya. Agus pun menyimpulkan munculnya keraton dan raja baru adalah gejala masa kini. Kemunculan mereka bukan gerakan milenarisme karenamasyarakat tidak dalam tekanan. “Kalau dulu kan ditekan imperialisme,” kata Agus. “Munculnya raja-raja dan keraton baru ini adalah gejala zaman sekarang, zaman gabut dan galau. Dengan pakai simbol masa lalu berbau milenarime.” Dari sudut pandang Ong Hok Ham, gerakan milenarisme muncul tak spesifik karena di bawah tekanan imperialisme. Menurutnya jelas sekali dalam Serat Jayabaya itu adalah persoalan hilangnya kekayaan dari masyarakat. Zaman edan dilukiskan sebagai zaman di mana emas hilang dari desa-desa, bahkan dari negara, untuk dikirim ke luar negeri. Bagaimanapun, kata Ong Hok Ham , gerakan Ratu Adil dilatarbelakangi oleh keadaan sosial ekonomi masyarakat atau pribadi tertentu. Munculnya gerakan ini adalah saluran baru bagi masyarakat untuk menyatakan ketidakpuasan mereka kepada pemerintah.

  • Aliarcham, Buangan Paling Dihormati

    PADA 1 Juli 1933, laki-laki itu dipapah kawan-kawannya menaiki perahu motor. Dari Tanah Tinggi, perahu itu menyusuri Sungai Digul hendak menuju Tanah Merah untuk berobat. Butuh waktu sekitar enam jam menuju Tanah Merah dengan aliran sungai yang berkelok-kelok. Sesekali lajunya terhalang batang-batang pohon yang hanyut di sungai. Aliarcham memang telah sakit-sakitan. Ia sering batuk-batuk dan mengidap penyakit paru-paru. Tapi meski kondisinya semakin buruk, ia enggan berobat. "Saya sangat merindukan kawan-kawan. Kalau saya mati biarlah kematian saya di hadapan kawan-kawan di sini yang sangat dibenci oleh Belanda ini," katanya sepeti dikutip Mangkudun Sati dalam Aliarcham, Sedikit Tentang Riwayat dan Perjuangannya. Keinginannya itu benar-benar tercapai. Belum sempat sampai ke Tanah Merah, di antara deru mesin perahu dan sunyinya hutan Papua, laki-laki 32 tahun itu menarik napas terakhirnya. Aliarcham, buangan Digul paling dihormati itu meninggal dunia dikelilingi sahabat-sahabatnya.

  • M. Jusuf Kerjai Solichin GP Saat Tertidur

    PERINTAH Presiden Sukarno agar Kahar Muzakkar ditangkap hidup atau mati sebelum 17 Agustus 1964 menjadi tugas berat yang harus dilaksanakan dengan sukses oleh Pangdam Hasanuddin Kolonel M. Jusuf. Untuk itu, Jusuf meminta tambahan pasukan dari Siliwangi. “Untuk menumpas Kahar Muzakkar, selain berhasil mendapat 2 brigade infantri dari Siliwangi plus Yon 330, Panglima Jusuf juga mendapat dukungan sejumlah perwira staf dari Siliwangi. Salah seorang yang kemudian berperan penting dalam operasi pemulihan keamanan di Sulawesi Selatan adalah Kolonel Infantri Solichin GP. Oleh Jusuf ia dijadikan Kepala Staf Operasi ‘Kilat’,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf Panglima Para Prajurit. Keputusan Jusuf memilih Solichin GP tepat. “Penghujung 1964 pasukan Siliwangi, di bawah komando Solichin, berhasil memburu Kahar Muzakkar dan sisa-sisa gerombolan DI/TII sampai memasuki wilayah Sulawesi Tenggara,” tulis Syafruddin Usman dalam Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar .  Operasi militer yang digelar mulai April 1964 itu berhasil diselesaikan pada 3 Februari 1965 dengan tertembaknya Kahar, mantan atasan Jusuf selama revolusi. Karena kinerja apik Solihin itulah Jusuf tak pernah melupakannya. Termasuk ketika Jusuf sudah diangkat Presiden Sukarno menjadi Menteri Perindustrian Ringan di Kabinet Dwikora I. Saat menjabat sebagai menteri itu Jusuf masih tetap menyandang jabatan Pangdam Hasanuddin karena Menpangad Letjen A. Yani sampai wafatnya belum sempat menunjuk pengganti Jusuf. Akibatnya, Jusuf mesti mondar-mandir Jakarta-Makassar. Menetapnya Jusuf di Jakarta baru terjadi setelah G30S. Menpangad Jenderal Soeharto yang membutuhkan tenaga Jusuf, akhirnya mencari orang yang pas untuk meminpin Kodam Hasanuddin. Setelah berkonsultasi dengan Jusuf, Soeharto menunjuk Solichin. Penunjukan itu tak diberitakan langsung kepada Solichin. Akibatnya ketika dia bertemu Jusuf dalam sebuah kesempatan di Makassar tak lama kemudian, dia menolak ajakan Jusuf untuk menghadiri acara syukurannya karena merasa lelah. Namun karena Jusuf memaksa, Solichin tak kuasa menolak. Sesampainya di Jakarta, Solichin tak dibawa Jusuf ke rumahnya atau penginapan, tapi langsung ke tempat acara. Tenda dan deretan kursi serta podium langsung menyambut pandangan matanya. Namun karena lelah dan kantuk yang tak tertahankan, Solichin akhirnya mulai tertidur saat Jusuf menyampaikan pidatonya. Meski masih mendengar secara samar ketika Jusuf mengatakan tugasnya di Makassar sudah berakhir mulai hari itu, Solichin akhirnya kalah oleh kantuknya dan pulas. Sementara, Jusuf terus melanjutkan pidatonya yang juga diisi dengan kejahilannya. “Selanjutnya saya akan melaksanakan tugas baru di Jakarta. Yang akan menggantikan tugas saya sebagai Panglima di Kodam XIV Hasanuddin ini adalah perwira yang sedang ngorok di sebelah saya ini,” kata Jusuf, dikutip Atmadji. Pidato Jusuf sontak disambut gelak-tawa para hadirin. Sebaliknya, pidato itu membuat panik Letnan Said, ajudan Solichin. Sang ajudan buru-buru membangunkan komandannya sambil memberitahu apa yang baru saja dikatakan Jusuf. Solichin yang kaget setelah bangun, langsung duduk dengan tegak. Sikap itu tak mendapat respon apapun dari Jusuf. Usai acara, kejahilan Jusuf pun diprotes Solichin. “Pak, kalau menunjuk saya menjadi panglima, kasih tahu dulu dong. Jangan di saat saya lagi tidur. Saya jadi malu, nanti bagaimana penilaian rakyat kepada saya?” “Ah, kau bereskan saja nanti!” jawab Jusuf santai.

  • Konflik Muslim-Hindu India dari Masa ke Masa

    DI balik melesatnya India sebagai salah satu kekuatan dunia di bidang militer dan gemerlapnya industri hiburan lewat Bollywood-nya, negeri itu dari masa ke masa senantiasa menyimpan konflik bersandarkan agama. Pekan ini minoritas muslim di negeri itu kembali terjebak dalam kerusuhan yang cenderung mendekati genosida dari mayoritas warga Hindu. Kerusuhan Muslim-Hindu kembali meletus di Delhi sepanjang Minggu hingga puncaknya Selasa (23-25 Februari 2020). Kerusuhan bermula dari unjuk rasa kaum muslim yang memprotes Amendemen Undang-Undang Kewarganegaraan yang kental nuansa anti-Islam. Amandemen itu berbunyi bahwa imigran Sikh, Buddha, Hindu, hingga Kristen dari tiga negara tetangga: Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan, dibolehkan menjadi warga negara India dengan syarat yang dipermudah. Bila sebelumnya regulasi naturalisasi jadi warga negara India mensyaratkan wajib tinggal di India selama 11 tahun, dengan amandemen kini syarat itu cukup enam tahun saja. Para politisi BJP (Bharatiya Janata Party) yang menopang kekuasaan Perdana Menteri India Narendra Modi, membela amandemen itu. Pengecualian terhadap Muslim, kata mereka, lantaran di tiga negara itu sudah mayoritas muslim dan tak semestinya jadi imigran ilegal di India. Sontak pernyataan itu menuai penentangan banyak pihak yang menyimpulkan amandemen itu justru akan mendelegitimasi warga Muslim. Protes pun menyeruak kemudian dan mendapat tentangan dari mayoritas kaum Hindu. Beberapa korban mengklaim barisan kepolisian turut membantu massa anti-Islam melakukan serangan terhadap warga Muslim di titik-titik konflik di timur laut India dan utamanya di Maujpur, Mustafabad, Jaffrabad, dan Shiv Vihar. Tak hanya rumah-rumah dan pertokoan, masjid-masjid pun turut jadi sasaran amuk massa anti-Islam. “Massa membakar rumah, toko dan mobil saya. Saat saya berusaha memadamkan api, massa melemparkan batu ke arah saya. Seseorang bahkan melempar gas air mata ke dalam rumah saya. Dari samping rumah, saya melihat polisi dan massa bersama-sama melakukan pembakaran. Saya dan keluarga saya harus melarikan diri melompat dari balkon atas,” kata Bhura Khan lirih kepada BBC , Rabu (26/2/2020). Pengamat politik Universitas Brown, Bhanu Joshi, menyatakan kepada BBC  juga bahwa kerusuhan massa anti-Islam itu memang “disokong” polisi atau polisi mendiamkan tindakan massa sehingga kejadian yang lebih parah terjadi. Itu cenderung genosida terhadap Muslim seperti pada kerusuhan 1984 dan 2002 yang bisa saja terulang. Dalam tiga hari kerusuhan di Delhi itu, sekira 20 warga Muslim tewas. Dendam Masa Silam Aksi-aksi kekerasan terhadap Muslim di India tentu  bukan perkara baru. Akarnya jauh membentang ke belakang di abad ke-8 (tahun 712-740) seiring kampanye penaklukan Asia Selatan (Afghanistan, Pakistan, dan India) oleh Kekhalifahan Umayyah. Hingga abad ke-16 tak terkira berapakali  konflik terjadi antara kekhalifahan dari Jazirah Arab dengan dinasti-dinasti Hindu di India. Dalam tulisannya yang dimuat di Violent Internal Conflicts in Asia Pacific , “Hindu-Muslim Conflict in India in a Historical Perspective”, Marc Gaborieau memaparkan penyebab konflik selain karena kampanye penyebaran Islam dari Jazirah Arab ke India di Abad Pertengahan itu, kekerasan sporadis Muslim-Hindu juga tak pernah punah gegara sejumlah kebijakan kolonial Inggris sejak abad ke-19. Salah satu akibatnya, pemisahan India-Pakistan pada 1947. Sementara konflik-konflik di abad ke-20 turut disuburkan oleh Islamofobia yang dipicu sejumlah aksi terorisme mengatasnamakan Islam. “Karena hegemoni politik kaum Muslim di Asia Selatan didirikan lewat penaklukan, bukan ekspansi damai seperti di Indonesia dan itu berjalan selama enam abad sejak berdirinya Kesultanan Delhi di awal abad ke-13 hingga kemunduran mereka di abad ke-18 yang disertai penaklukan Inggris dari 1765-1818,” ujar Gaborieau. Ilustrasi kampanye Pasukan Kekhalifahan Umayyah untuk menaklukkan Tanah India (Foto: Youtube MyNation) Pemicu konflik yang paling banyak mencetuskan kerusuhan di era kolonialisme Inggris adalah soal ritual agama. G.R. Thursby dalam Hindu-Muslim Relations in British India  menguraikan, di era itu kebanyakan warga Muslim dan Hindu tinggal berdampingan namun jarang harmonis. Banyak ritual warga Hindu menggunakan tabuhan gendang yang nyaring dan itu dianggap mengganggu ibadah salat umat Muslim. Sebaliknya, ritual kurban Idul Adha di mana banyak sapi disembelih bikin sakit hati umat Hindu yang mensakralkan sapi. “Setidaknya tercatat ada 31 kerusuhan besar sepanjang 1923-1928 dan kebanyakan terjadi di dekat masjid. Seperti kerusuhan Kalkuta pada April-Mei dan Juli 1926 yang menewaskan 140 orang. Penyebabnya gara-gara seorang penabuh gendang bersikeras memainkan musik dekat masjid di waktu salat untuk prosesi Arya Samaj,” ungkap Thursby. Kerusuhan Berujung Pembantaian Pasca-pemisahan India dan Pakistan, lanjut Thursbys, sejumlah kerusuhan yang terjadi justru ditunggangi isu-isu politik. Kaum Muslim dengan kendaraan politik All-India Muslim League masih mempertahankan hegemoni politik masa lalunya. Sementara mayoritas kaum sayap kanan nasionalis-Hindu berusaha mengikisnya. Kerusuhan Muslim-Hindu skala besar terjadi pertamakali di India merdeka pada 13 Januari 1964 di Kalkuta. Kronologinya bermula dari hilangnya sebuah benda keramat di sebuah masjid di Srinagar, ibukota Jammu dan Kashmir. Kaum Muslim menuduh pelakunya orang-orang Hindu. Sebagai pelampiasan, mereka menyerang pengungsi Hindu yang baru keluar dari Pakistan Timur (kini Bangladesh). Serangan itu menyebabkan 29 pengungsi Hindu tewas. Kejadian itu memicu pembalasan oleh kaum Hindu di Bengali Barat dan menjalar ke Kalkuta. Di kota itu tercatat setidaknya 100 warga Muslim tewas dan 438 luka-luka. Sementara, 70 ribu warga Muslim lainnya yang menjadi tunawisma sebagai imbas pengeroyokan, penusukan, pemerkosaan, hingga pembakaran oleh massa anti-Islam. Kerusuhan besar Muslim-Hindu berikutnya terjadi di Gujarat medio September-Oktober 1969. Mengutip laporan Depdagri Negara Bagian Gujarat yang disusun Pingle Jagamohan Reddy dkk. pada 1971, kerusuhan itu menewaskan 24 warga Hindu dan 430 muslim. Kerusuhan yang berupa pembunuhan, pembakaran, dan penjarahan itu dibidani perselisihan antaretnis dan agama terkait urusan perut. Warga Hindu merasa dirugikan dengan membanjirnya imigran Muslim yang dianggap merebut lapangan pekerjaan mereka di pabrik-pabrik. Kerusuhan pun pecah pada 18 September yang menyebar di kota-kota di Gujarat, seperti Ahmedabad, Vadodara, Mehsana, Nadiad, Anand, dan Gondal. Sempat reda pada 26 September, kerusuhan itu membara lagi sepanjang 18-28 Oktober. Kerusuhan tak kalah besar terjadi di Desa Nellie, Assam pada 18 Februari 1983, di dikenal sebagai “Pembantaian Nellie”. Pembantaian terhadap pengungsi Muslim dari Bangladesh itu terjadi akibat gerakan dari organisasi pemuda All Assam Students Union dan All-Assam Gana Sangram Parishad yang menentang imigran Muslim Bangladesh. Ahmedabad terbakar kala terjadi Kerusuhan Gujarat 2002 (Foto: Wikipedia) Kejadiannya bermula dari keputusan Perdana Menteri India Indira Gandhi yang memberi hak suara dalam pemilu kepada enam juta imigran Muslim Bangladesh yang mengungsi di Desa Nellie. Keputusan itu ditentang oleh organisasi pemuda Hindu All Assam Students Union dan All-Assam Gana Sangram Parishad. Kedua organisasi terus menyebarluaskan sentimen anti-imigran Muslim dan direspon orang-orang Suku Tiwa (Lalung). Mereka pun bersatu menyerang permukiman imigran di Desa Nellie. Pembantaian pada 18 Februari itu terjadi selama enam. Tak pandang bulu, mereka membunuhi perempuan maupun anak-anak imigran Bangladesh. Rumah-rumah dan tanah imigran juga dirusak. Militer baru berhasil mengkondusifkan situasi empat hari berselang. Akibat Pembantaian Nellie, menurut pemerintah India, 2.191 jiwa melayang. Beberapa sumber tak resmi menyebutkan jumlah korban lebih dari 10 ribu. Pembantaian Nellie jadi genosida terburuk di dunia sejak Perang Dunia II yang dialami jutaan Yahudi oleh Nazi-Jerman. Kerusuhan tak kalah memilukan terjadi di Bhalgapur pada Oktober-November 1989. Kerusuhan dipicu oleh munculnya sejumlah hoaks terkait isu politik. Akibatnya, warga Muslim bentrok dengan polisi yang dibantu warga Hindu yang melakukan pembakaran, penjarahan, hingga pembunuhan di Distrik Bhalgapur. Sepanjang dua bulan masa mencekam itu, lebih dari seribu jiwa melayang, 900 jiwa di antaranya warga Muslim. Belum lagi kerusuhan Bhalgapur hilang dari ingatan, kerusuhan kembali pecah di Mumbai 6 Desember 1992-26 Januari. Pemicu kerusuhan adalah peledakan Masjid Babri oleh para aktivis Hindu dari Partai Shiv Sena. Sekira 900 orang tewas akibat kerusuhan itu. Kerusuhan yang juga bikin pedih kembali terjadi pada Februari-Maret 2002, dikenal sebagai “Pembantaian Gujarat”. Menukil artikel Christophe Jaffrelot bertajuk “Communal Riots in Gujarat: The State at Risk?” yang dimuat dalam Heidelberg Papers in South Asian and Comparative Politics , korban tewasnya lebih dari seribu jiwa, 790 warga Muslim dan 254 Hindu. PM Modi yang pada kejadian itu masih menjabat Ketua Menteri di Gujarat, disebutkan Jaffrelot turut mengorkestrasikan pembantaian oleh Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), organisasi nasionalis Hindu di mana Modi merupakan mantan kadernya.

  • Pesona Sejarah Carnevale Venezia

    KECERIAAN jutaan warga dan turis di Venezia, Italiaberganti cemas. Topeng-topeng pesta marak warna nan berganti masker-masker medis. Carnevale di Venezia atau Karnaval Venesia yang termasyhur itu harus dihentikan sebelum perayaan puncaknya, 25 Februari 2020 di Piazza San Marco. Gegaranya,merebaknya kasus COVID-19 alias virus corona . Karnaval yang “11-12” dengan Karnaval Rio itu mestinya berlangsung pada18-25 Februari atau jelang ibadah puasa pra-Paskah dalam agama Katolik. Namunper Minggu (23/2/2020), pemerintah negara bagian maupun pemerintah regioni (semacam negara bagian) sepakat menghentikan karnaval dan memberlakukan lockdown (karantina) di 12 kota di utara Italia. Pemberlakuan karantina sementara yang diputuskan sampai 1 Maret 2020 itu tidak hanya berlaku untuk karnaval, namun juga untuk sejumlah aktivitas, seperti pameran fesyen Giorgio Armani atau laga-laga sepakbola Serie A yang dimainkan di utara Italia. “Kami harus memberlakukan tindakan drastis. Mulai malam ini Karnaval Venezia, juga gelaran-gelaran lain, termasuk olahraga, sampai 1 Maret akan dihentikan. Termasuk juga semua acara perkumpulan pribadi maupun publik harus dihindari. Sekolah-sekolah ditutup sampai akhir bulan ini,” ujar Presiden regioni VenetoLuca Zaia, dikutip Deutsche Welle , Minggu (23/2/2020). Karnaval Venezia yang sempat berjalan sebelum akhirnya dihentikan per Minggu, 23 Februari 2020 (Foto: Twitter @Venice_Carnival) Keputusan itu diambil setelah tiga dari 155 pasien terdampak virus corona tewas. Korban tewas terakhiradalah seorang lansia berusia 78 tahun, Adriano Trevisan, yang meninggal di rumahsakit di Padova, kota tetangga Venezia . Pesta Khas Venezia Selama berabad-abad, Karnaval Venezia yang khas dengan pesta topeng itu masih menyisakan misteri soal asal-usulnya. Marianne Mehling dalam Venice and the Veneto menyebutkarnaval itu  dipengaruhi tradisi Saturnalia di era Romawi Kuno sekira (500 SM) . Jika “dikonversi” ke kalender Masehi, perayaan Saturnalia lazimnya digelar sepanjang 17-23 Desember.Dalam kurun itu para budak Romawi dibebaskan sementara untuk ikut berpesta sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Saturnus. Perayaannya berupa pesta minuman, makanan, hingga berjudi. Namun dalam masa itu para penikmat perayaan belum mengenal tradisi pesta topeng. Menurut Elizabeth Horodowich dalam A Brief History of Venice, cikal-bakal karnaval berkenaan dengan pesta makanan dan minuman sebelum puasa pra-Paskah Katolikbaru eksis pada 1094. Kala itu Venezia sudah berbentuk republik (Repubblica di Venezia).Pemimpin Venezia Doge (Adipati) Vitale Faliero yang mencetuskan karnaval itu. “Tertulis dalam dokumen Doge Vitale Falierebahwa catatan pertama tentang karnaval terjadi pada 1094 dan perayaannya digelar terbuka untuk publik jelang puasa pra-Paskah,” sebut Horodowich. Ilustrasi Karnaval Venezia di masa-masa awal Republik Venezia (Foto: venezia.it ) Pesta semacam karnaval yang lebih besar dan jadi cikal bakal Karnaval Venezia, menurut James H. Johnson dalam Venice Incogito: Masks in the Serene Republic, baru terjadi pada 1162, selepas Republik Venezia menang perang atas Ulrich II von Treven, Patriark Aquileia. Ulrich II ingin menguasai Venezia sehubungan dengan kampanye perluasan wilayah kekuasaan Kaisar Frederick Barbarossa (Frederick I),  dari Germania ke Italia. Upaya Ulrich memicu Doge Vitale II Michiel memberi perlawanan sengit dengan mengirim armadanya ke Grado, basis kekuatan Ulrich II. Ulrich lantas terkepung dan ditawan. Beruntung nasibnya diselamatkan Paus Aleksander III yang turun tangan memediasi perdamaian. Sri Paus meminta Doge Vitale membebaskan Ulrich dengan imbalan selusin babi ternak dan 300 potong roti yang akan dikirimkan rutin setiap tahun. “Kekalahan Ulrich pada 1162 kebetulan bertepatan dengan masa-masa jelang puasa pra-Paskah menjadi anugerah tersendiri bagi para pemimpin kota (Venezia). Persembahan (dari Sri Paus) itu kemudian dijadikan jamuan setiap kali digelarnya perayaan di Alun-Alun San Marco dengan disemarakkan pesta dansa,” tulis Johnson. Ilustrasi Carnevale di Venezia oleh pelukis Pietro Longhi yang dibuat tahun 1751 (Foto: Museo dell' Settecento Veneziano) Tetapi perayaan itu belum dilengkapi pesta topeng dan parade kostum mewah nan glamor. Topeng baru dikenakan para kaum aristokrat maupun golongan menengah pada 1296 ketika pemerintah republik mengesahkan Karnaval Venezia sebagai hari libur publik. “Sejak saat itu Karnaval Venezia dikenal luas karena pesta topengnya, parade kostum, pertunjukan musik dan seni, serta hiburan malam yang lantas jadi daya tarik orang asing datang ke Venezia,” imbuhnya. Topeng dan Larangan Karnaval Penggunaan topeng merupakan hal paling khas dari Karnaval Venesia. Dengan topeng, para peserta karnaval seolah mendapatkan kebebasan tak terbatasuntuk bersenang-senang, baik berjudi atau bercinta terlarang tanpa harus takut diketahui siapapun. Dari sini pula konon kelegendaan Giacomo Casanova bermula. Casanova merupakan petualang cinta ternama di abad ke-18 yang dengan kharismanya mampu bikin banyak kaum hawa ‘kelepek-kelepek’. Dia tak peduli sang mangsanya masih gadis atau istri orang. Penggunaan topeng juga menghilangkan batas-batas kelas antara kaum bangsawan maupun rakyat jelata sepanjang karnaval. Lebih jauh, penggunaan topeng juga menciptakan lapangan pekerjaan baru: mascherari alias pembuat topeng. Mereka membuat topeng bervariasi,mulai dari berbahan porselain, kayu, hingga plastik di zaman modern. Adegan Giacomo Casanova tengah merayu seorang wanita di Karnaval Venezia dalam film "Casanova" yang rilis 2005 (Foto: IMDb) Variasi bentuk topeng juga bermacam-macam.Yang paling khas antara lain bauta  atau topeng sederhana dan tak banyak corak namun menutupi 100 persen wajah. Selain itu ada colombina , semacam topeng setengah muka yang hanya menutupi mata, hidung, dan bagian atas pipi. Jenis yang juga jamak disenangi para penikmat karnaval adalah moretta (topeng gelap) atau servetta mutta (topeng pelayan bisu). Topeng ini lazimnya berwarna hitam yang nyaris menutupi seluruh wajah, kecuali sisi lingkar luarnya. T openg ini hanya dilengkapi sepasang lubang mata tanpa lubang untuk hidung dan mulut. Cara p em akai an nya pun bukan seperti topeng lain dengan karet atau tali, melainkan digigit sisi dalamnya bak topeng reog Ponorogo. Maka d ar i itu topeng ini dinamakan topeng pelayan bisu. Tak ketinggalan,adatopeng Medico Della Peste . Topeng ini berbentuk paruh burung, mengadopsi masker atau topeng ahli medis Prancisabad ke-17Charles de Lorme. De Lorme biasa menggunakan topeng berparuh saat menangani para korban wabah pes, kemudian diikuti para dokter di Jerman hingga Belanda. Karnaval Venesia akhirnya memancing perhatian para bangsawan dalam maupun luar negeri. Sejumlah aristokrat Eropa meluangkan waktu mereka untuk datang ke Venezia. Namun masa-masa indah itu berakhir pada akhir abad ke-18. Karnaval Venezia digelar terakhir kalinya pada Februari 1797 di era Republik Venezia, lantaran pada Mei di tahun yang sama republik itu dikuasai Jenderal (kemudian kaisar) Napoléon Bonaparte. Empat varian topeng paling populer: Bauta, Colombiana, Moretta, dan Medico Della Peste Seiring mundurnya Doge Ludivico Manin dan runtuhnya Republik Venezia, berakhir pula kejayaan karnaval. Kekuasaan Venezia lantas diserahkan Napoléon ke Kekaisaran Austria dalam rangka Perjanjian Campo Formio, 17 Oktober 1797. Di bawah kekuasaan Austria, karnaval apapun dilarang. “Perhelatan karnaval secara terbuka terus diberlakukan di masa kekuasaan Austria, hingga kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Italia pada 1866. Di masa itu karnaval sempat dibolehkan digelar meski tak secara terbuka dan khusus untuk event pribadi bangsawan tertentu, sampai kemudian diktator Benito Mussolini total melarangnya pada 1930-an,” ungkap Daniel Shafto dalam Carnival . Butuh waktu lama bagi sebagian warga Venezia untuk menghidupkan tradisi itu lagi pasca-Perang Dunia II, mengingat Italia turut luluh-lantak. Pada 1967, beberapa tokoh di Venezia coba menghidupkannya kembali dalam rangka pesta kostumserta pesta topeng pribadi. Pada 1979, pemerintah Italia akhirnya membuka mata akan tradisi ratusan tahun itu dan menyatakan Karnaval Venezia sebagai warisan Italia untuk dilestarikan. Karnaval itupun mulai digelar lagi dalam skala kolosal pada Februari 1980 dengan ditambah agenda yang dijadikan tradisi baru, yakni La Maschera Più Bella alias Kontes Topeng Terindah.

  • Sejarah Kolam Renang Pertama di Indonesia

    KOLAM renang telah ada di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Kolam renang pertama berada di Bandung, Jawa Barat, berawal dari kolam ikan sederhana yang dibangun pada 1904. Kolam renang Cihampelas itu terletak di sisi jalan kecil Tjihampelaslaan  (Jalan Taman Hewan), yang menghubungkan Lembangweg  (Jalan Cihampelas) dan Ghyselsweg  (Jalan Tamansari). "Kolam renang Tjihampelas adalah kolam renang tertua di Bandung. Kolam renang ini semula merupakan kolam ikan milik Ny. Homann, istri pemilik Hotel Savoy Homann, Tuan Homann," tulis Sudarsono Katam Kartodiwirio dan ‎Lulus Abadi dalam Album Bandoeng Tempo Doeloe . Kolam renang Cihampelas dibangun untuk melayani tamu-tamu hotel. Pada masanya termasuk lengkap dengan tiga buah kolam berstandar internasional. Kolam renang Cihampelas sempat menjadi tempat berlatih Perkumpulan Berenang Bandung (Bandoengse Zwem Bond) yang berdiri pada 1917. Kolam renang itu hanya diperuntukan bagi orang-orang Belanda dan Eropa. Plang larangan bagi pribumi sungguh menyakitkan. Mantan Jaksa Agung Letjen TNI (Purn.) Soegih Arto menjadi saksinya pada masa kecil. "Saya masih ingat waktu di Bandung guru olahraga setengah mati mencari kolam renang untuk pelajaran berenang," kata Soegih Arto dalam memoarnya, Sanul Daca . "Di kolam renang Centrum," lanjut Soegih Arto, "jelas tidak mungkin, karena tertulis dengan huruf besar VERBODEN VOOR HONDEN EN INLANDERS  atau terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah DILARANG UNTUK ANJING DAN ORANG PRIBUMI. Begitulah derajat bangsa kita sewaktu dijajah Belanda, padahal ini sudah tahun 1940." Akhirnya, berkat seorang anggota Volksraad  (Dewan Rakyat), para siswa diperbolehkan berenang di kolam renang Cihampelas. "Alangkah gembiranya kami, karena naik derajat setingkat di bawah bule, sedikit di atas anjing. Asyik juga berenang dengan bule-bule, apalagi wanitanya yang berbadan putih padat. Sayang pada waktu itu belum ada bikini," kata Soegih Arto. Jenderal TNI (Purn.) A.H. Nasution juga punya pengalaman berenang di kolam renang Cihampelas. Saat itu, dia sedang mengikuti pendidikan militer CORO (Corps Opleiding Reserve Officieren) di Bandung tahun 1940. "Tiap akhir minggu kami berenang di Cihampelas. Saya belum pernah sebelumnya berenang di dalam kolam renang, apalagi dengan cara gaya tertentu. Saya berenang di kali di masa kecil, karena itu harus mulai lagi belajar dari mula pangkal," kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Masa Muda . Kolam renang Tjihampelas di Bandung, 1930-1935. (Tropenmuseum). Menurut Sudarsono Katam dan ‎Lulus Abadi, selain kolam renang Cihampelas, kolam renang lain di Bandung adalah kolam renang Centrum (sekarang bernama kolam renang Tirta Merta), yang dibangun pada 1920 dengan gaya arsitektur modern tropis Indonesia, karya arsitek C.R. Wolff Schoemaker. Letak kolam ini di Bilitonstraat  (sekarang Jalan Belitung). Kolam renang lainnya berada di kompleks Dago Teehuise (Dago Tea House) dan di Cimindi cukup dikenal masyarakat Bandung, tetapi telah ditutup sejak akhir tahun 1950-an. Pada 1950-an, kolam renang Cihampelas dan Centrum menjadi tempat berlatih atlet-atlet renang daerah dan nasional. Bahkan, renang menjadi olahraga pertama yang melakukan pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Bandung untuk menghadapi Olimpiade Roma 1960 dan Asian Games 1962 di Jakarta. "Sistem pelatnas ini kemudian diikuti oleh cabang-cabang lain sebelum akhirnya Sukarno menyetujui pelatnas Asian Games dipusatkan di kota kembang tersebut," tulis Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti dalam biografi M.F. Siregar, Matahari Olahraga Indonesia . Saat itu, M.F. Siregar ditunjuk sebagai pelatih kepala cabang olahraga air yang terdiri dari renang, polo air, dan loncat indah. "Sejak tahun 1950-an, Siregar punya kebiasaan meninggalkan rumah pukul 04.30 pagi untuk melatih renang dan polo air di klub Tirta Merta maupun di pelatnas renang yang saat itu dilaksanakan di Bandung, dan di perkumpulan renang Tirta Taruna dan pelatnas di Jakarta," tulis Brigitta dan Primastuti. Sayangnya, kolam renang Cihampelas barakhir nahas. Setelah sempat terbengkalai, akhirnya kolam renang pertama di Indonesia itu dibongkar untuk dijadikan hotel. Penghancuran itu disayangkan sejumlah pihak di antaranya Irsan Sutedja, mantan atlet renang dan anggota Komisi Teknik Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) KONI Jawa Barat. "Sejak tahun 1959," kata Irsan dikutip detik.com , "saya berlatih mengawali karier saya sebagai atlet renang di kolam Centrum dan Cihampelas itu."*

  • Deregulasi, Cara Orde Baru Mengerek Pertumbuhan Ekonomi

    PEMERINTAH telah menyerahkan draft Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja ke DPR pada pertengahan Februari 2020. RUU itu memuat revisi sejumlah pasal dalam hampir 80-an undang-undang di bidang ekonomi, pajak, lingkungan, ketenagakerjaan, dan banyak lagi. Bersama penyerahan itu, salinan RUU mulai tersebar dan dibaca oleh masyarakat.

  • Santo Iker di Bawah Mistar

    MASIH ingat Iker Casillas? Penjaga gawang Real Madrid sepanjang era Galácticos (2000-2014) itu selalu menjadi pembeda dari rekan-rekannya yang garang kala menghadapi lawan. Casillas selalu tampil menawan dengan kharisma dan perilakunya yang jauh dari kata arogan. Bak santo, ia enggan mengekspresikan rasa sakitnya ke publik kala dibuang dari klub yang dibelanya selama 25 tahun pada 2015. Padahal Casillas punya saham dalam mendatangkan lima gelar La Liga, dua Copa del Rey, empat Supercopa de España, dan tiga gelar Liga Champions dalam titimangsa 2000-2014. Namun itulah Madrid dengan presidennya Florentino Pérez. Yang menguntungkan, bakal dibintangkan. Tapi sebanyak apapun prestasi yang disumbangkan seorang bintang, klub tak menganggapnya dan bakal membuang kalau tak lagi menguntungkan.  Casillas masih untung karena klub Portugal FC Porto mau menampungnya. Di Portugal, Casillas membuktikan belum habis. Ia membantu Porto mendulang gelar Primeira Liga musim 2017-2018. Sejak Mei 2019 Casillas mengidap penyakit jantung dan kini ia tutup buku untuk karier bermainnya (Foto: Twitter @IkerCasillas) Sayangnya sejak Mei 2019 Casillas mulai jarang tampil gegara didiagnosa punya penyakit jantung. Tahun ini jadi tahun terakhir Casillas mentas di lapangan hijau, di usia 39 tahun. “Sebelum mengumumkan pencalonannya (Presiden RFEF), Casillas menemui saya untuk memberitahu keputusannya mengakhiri karier,” ujar Presiden FC Porto Jorge Nuno Pinto da Costa, dikutip Sportstar , 18 Februari 2020. Ramalan Sejak Masa Kehamilan Sebagai penerus estafet kiper hebat Spanyol, Casillas punya prestasi paling mentereng dibanding empat pendahulunya. Ricardo Zamora, Antoni Ramallets, Luis Arconada, sampai Andoni Zubizarreta belum pernah merasakan gelar yang didapat Casillas. Lahir di Madrid pada 20 Mei 1981 dengan nama Iker Casillas Fernandéz, Casillas merupakan putra dari pasangan José Luis Casillas dan María del Carmen Fernández González. Jose merupakan pegawai di Kementerian Pendidikan Spanyol dan Maria seorang penata rambut. Iker Casillas di masa jadul kala meniti karier di akademi Real Madrid "La Fábrica" (Foto: Twitter @IkerCasillas) Sebagaimana dikisahkan Enrique Ortego dalam biografi Iker Casillas: La Humildad del Campeón , Casillas memiliki darah Basque. Kakeknya dari pihak ayah merupakan seorang perwira guardia civil , semacam polisi militer asal Bilbao. Ada kisah menarik tentang prediksi masa depan Casillas meski ia belum lahir ke dunia. “Suatu hari, seorang tukang sepatu dekat apartemen mereka meramalkan bahwa putra mereka akan jadi pemain hebat dan dia akan bermain untuk menaklukkan semua tantangan yang ada sekaligus mensejajarkan diri dengan para kiper hebat Basque,” tulis Jonathan Wilson dalam The Outsider: A History of the Goalkeeper. Prediksi tukang sepatu itu terbukti. Casillas bahkan sukses di tingkat internasional. Selain mengantarkan Spanyol merebut Piala Eropa 2008 dan 2012, Spanyol di masa Casillas akhirnya mampu mencicipi juara Piala Dunia pada 2010. “Casillas sebagai kapten di tiga sukses besar itu,” sambung Wilson. Momen paten Casillas di Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012 (Foto: uefa.com/fifa.com ) Fans Madrid dan timnas Spanyol menjulukinya San Iker alias Santo Iker atau Iker si Orang Suci. “Persahabatannya dengan Xavi (kapten Barcelona) sejak di timnas muda Spanyol menjadi faktor besar dalam meredakan perseteruan Madrid-Barcelona yang bisa merusak spirit skuad timnas, mengingat rivalitas kedua tim saat itu di bawah asuhan José Mourinho dan Pep Guardiola,” ungkap entrenador Spanyol di Piala Dunia 2010, Vicente del Bosque, dikutip Wilson. Ikon Abadi Madrid Namun sebelum sampai ke kegemilangan itu, Casillas merintisnya dengan susah-payah. Sebagai anak introvert , ia lebih sering bermain sepakbola dengan ayahnya ketimbang anak-anak sebayanya. Itu disebabkan karena ayahnya sering dimutasi sehingga Casillas tak pernah punya teman dekat yang bertahan lama. Dari bersepakbola dengan ayahnya itulah Casillas mulai menyukai posisi kiper gegara setiap bermain di taman dia yang selalu jadi penangkap bola yang ditendang ayahnya. Sang ayah yang melihat bakat Casillas lalu coba memasukkan Casillas ke program ujicoba Real Madrid saat mereka pindah ke Madrid. Setiap tahun Real Madrid menggelar serangkaian ujicoba terbuka untuk anak-anak. Casillas mengikutinya saat berusia 10 tahun dan dia lulus di tes pertama. Namun pada tes kedua yang merupakan tes sparring, Casillas kebobolan tujuh gol. “Meski timnya kalah 7-1, Kepala Seksi Pemain Muda Madrid Antonio Mezquito melihat potensi dalam diri Casillas dan memutuskan untuk mengajaknya masuk akademi muda Real Madrid, La Fábrica,” sambung Ortego dalam biografi Casillas. Di tahun 1990 itulah karier Casillas dirintis. Meski posturnya enggak tinggi-tinggi amat, tapi Kak Casillas punya refleks yang cekatan untuk menjaga kesucian gawangnya (Foto: realmadrid.com ) Tuhan seolah sudah menata hidup Casillas untuk cemerlang di bawah mistar. Enam tahun setelah masuk La Fábrica dan bahkan belum menembus Real Madrid C, Casillas sudah terpilih masuk skuad Timnas Spanyol U-15 dan pada 1997 sudah turut memenangi Euro (Piala Eropa) U-16 di Jerman. “Hal terhebat tentang Iker adalah cara natural yang dia punya untuk selalu menghadapi banyak tantangan. Kedewasaan memberi dia ketenangan saat sedang bermain. Ketenangan yang berbuah manis,” ujar eks kiper Madrid dan timnas Spanyol yang melatih Casillas di La Fábrica, Paco Buyo, dikutip Wilson. Alhasil, pada akhir November 1997 Casillas sudah dipanggil ke tim senior Real Madrid. Usianya masih 16 tahun dan bahkan belum resmi masuk Real Madrid C lantaran ia masih menyelingi titian kariernya dengan pendidikan SMA di Instituto Cañaveral de Móstoles. Casillas, sebagaimana dimuat laman UEFA , 9 Februari 2019, mengenang momen itu. Jelang pemanggilan itu, Casillas dan teman-temannya tengah larut dalam obrolan tentang Madrid. Tiba-tiba kepala sekolah (kepsek) masuk ke ruangan kelasnya dan meminta Casillas segera menyusul ibunya ke Bandara Madrid-Barajas. “Itu sebuah anekdot yang bagus. Pak kepsek bilang, ‘Iker, kamu sebaiknya cepat panggil taksi dan bergegas ke (bandara) Barajas karena Real Madrid baru saja menelepon ibumu dan ibumu menelepon kami. Segeralah kamu pergi karena kamu akan ke Norwegia’,” ungkap Casillas mengingat momen dadakan jelang laga Liga Champions kontra Rosenborg itu. Pemanggilan Casillas itu atas permintaan entrenador Jupp Heynckes. Pasalnya kala itu kiper utama Bodo Illgner dan kiper kedua Santiago Cañizares tengah cedera. Casillas dibutuhkan sebagai kiper cadangan untuk melapisi kiper Madrid lainnya, Pedro Contreras. Meski akhirnya tak dimainkan, Casillas sudah cukup girang jadi penonton di bangku cadangan. “Saya bisa berada di tempat yang sama dengan Fernando Morientes, Clarence Seedorf, Fernando Sanz, Predrag Mijatović, Davor Šuker, dan Raúl González. Suatu hal yang magis dan akan selalu saya ingat,” tambahnya. Penampilannya yang top markotop di final Liga Champions 2002 memastikan posisinya sebagai portero permanen Madrid seterusnya (Foto: Twitter @IkerCasillas) Usai lulus SMA, Casillas full menseriusi kariernya di Real Madrid C pada 1998, kemudian Real Madrid B sebagai kiper utama, hingga menembus tim utama Madrid. Debutnya di tim utama berlangsung pada 12 September 1999, kala Madrid bertandang ke Stadion San Mamés untuk menghadapi Athletic Bilbao di pentas La Liga. Tiga hari berselang, Casillas mencatatkan rekor sebagai pemain termuda di Liga Champions (18 tahun, 177 hari) kala dibawa pelatih Toshack meladeni Olympiakos Piraeus. Namun yang menjadi titik penting kariernya di Los Blancos adalah final Liga Champions musim 2001-2002 kontra Bayer Leverkusen di Stadion Hampden Park, Glasgow, Skotlandia, 15 Mei 2002. Kala itu Casillas masuk di menit ke-68 menggantikan César Sánchez yang cedera. “Ia dengan reflek-reflek cepat dan penyelamatan-penyelamatannya yang tangkas, serta kecerdasannya untuk membaca antisipasi pemain lawan, membantu Madrid mempertahankan keunggulan 2-1 sampai akhir laga. Sejak saat itu posisinya di bawah mistar tim utama Madrid menjadi permanen,” singkap Charles Parrish dan John Nauright dalam Soccer Around the World: A Cultural Guide to the World’s Favorit Sport. Habis karier manis Casillas, sepah dibuang Real Madrid yang rasanya sakit tapi tak berdarah (Foto: realmadrid.com ) Sejak itulah nama Casillas senantiasa terpampang di starting eleven tiap laga Madrid, hingga mencetak 700 penampilan. Tak terhingga pula penghargaan pribadi yang ia sabet. Kegemilangan Casillas sempat bikin celamitan klub-klub kaya di Inggris dengan niat meminangnya. Beruntung, Casillas yang rupawan pilih setia pada Madrid. Sialnya, loyalitas Casillas justru dibalas Madrid dengan pembuangan. Pembuangan itu memang bukan tanpa alasan. Sejak 2013, penampilan Casillas mulai tak stabil setelah cedera parah. Akibatnya entrenador José Mourinho dan penggantinya, Carlo Ancelotti, memilih kiper lain ketimbang Casillas selepas ia pulih. Perlakuan Madrid melego Casillas ke FC Porto pada 11 Juli 2015 itu mendatangkan banjir kecaman. Sebaliknya, Casillas kebanjiran simpati. Salah satunya dari kiper legendaris Italia Gianluigi Buffon. “Anda akan selalu menjadi ikon Real Madrid. Tapi di atas itu semua, Anda adalah salah satu representasi terbaik seorang kiper. Semoga beruntung dalam petualangan baru, akan sangat aneh melihat Anda dengan seragam lain. Semangat Iker!” kata Buffon dinukil Marca , 13 Juli 2015.

  • Hukum Islam (Tertua?) di Asia Tenggara

    Batu Bersurat Terengganu menjadi penemuan terpenting di Asia Tenggara soal penerapan hukum Islam.

  • Ketika Soebandrio Diancam John F. Kennedy

    Suasana “panas” meliputi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington, Amerika Serikat. Perang urat syaraf berlaku antara Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio dengan Duta Besar Belanda untuk PBB Herman van Rooijen. Keduanya merupakan ketua delegasi negara masing-masing dalam merundingkan sengketa Irian Barat (kini Papua). Pertemuan tersebut adalah lanjutan dari perundingan yang telah dihelat beberapa hari sebelumnya di kota Middleburg. “Tanggal 25 Juli 1962, van Rooijen datang ke Kedutaan Besar Indonesia di Washington, guna melaksanakan perundingan kedua,” kenang Soebandrio dalam Meluruskan Sejarah Irian Barat. “Syukur bahwa van Rooijen bersedia datang ke Kedutaan Besar Indonesia.” Saat itu Soebandrio berhalangan datang ke tempat perundingan netral yang sedianya dilangsungkan di Middleburg. Soalnya, Soebandrio sedang dalam pemulihan pasca operasi infeksi kaki sehingga megalami kesulitan saat berjalan.

  • 5 Mahasiswa yang meninggal di Belanda

    Karena tak mampu menyesuaikan diri dengan iklim di Belanda, mereka tak mampu lagi menghindari maut. Sebagian besar karena penyakit paru-paru.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page