top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mengingat Kembali Sanento Yuliman

    Dalam dunia seni, orang seringkali menyematkan kata maestro pada seorang seniman yang memang telah punya nama besar atau masyur karya-karyanya. Namun, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam program pameran maestro seni rupa, mengangkat sebuah nama dalam dunia seni rupa yang barang kali jarang dibicarakan: Sanento Yuliman. Sanento Yuliman sebenarnya juga seorang pelukis, kartunis, dan penyair. Tetapi, Sanento sebagai kritikus, memiliki tempat sendiri dalam sejarah seni rupa Indonesia. Sanento telah turut menghidupkan dunia seni rupa Indonesia, melalui esai-esai, skripsi, dan disertasinya. Kumpulan arsip dan karya Sanento tengah dipamerkan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pameran bertajuk "Mengingat-Ingat Sanento Yuliman" ini berlangsung hingga 15 Januari 2020. Sanento Muda Sanento Yuliman lahir di Jatilawang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada 14 Juli 1941. Dia masuk Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1960 dan lulus pada 1968 dengan skripsi berjudul Beberapa Masalah dalam Kritik Seni Lukis Indonesia. Skripsinya mendapat Anugerah Hamid Bouchoureb dari Seni Rupa ITB. Ketika masih mahasiswa, Sanento aktif sebagai kartunis. Pada 1966, dia mengikuti pameran dan mengurus rubrik kebudayaan pada mingguan Mahasiswa Indonesia. Lalu pada 1967, dia menjadi kartunis di Mimbar Demokrasi. Selain membuat kartun, dia juga menulis puisi. Puisinya, Laut meraih penghargaan majalah Horizon pada 1968. Majalah sastra itu juga memberi penghargaan pada esai Sanento berjudul Dalam Bayangan Sang Pahlawan. Esai tersebut menjadi salah satu tulisan Sanento yang terkenal. Merupakan satir atas narasi sejarah kepahlawan Indonesia yang disebutnya sangat teatral. Yang harus memenuhi syarat-syarat teater yang agung, dramatis, dan fiktif. "Kepahlawanan adalah konsep teatral. Menganjur-anjurkan, menghidup-hidupkan, dan membesar-besarkan kepahlawan di Indonesia berarti kita harus menyiapkan Indonesia menjadi suatu teater," tulis Sanento. Sanento mengaitkan masalah heroisme itu dengan gerakan massa, fanatisme, dan persoalan individualitas. Pada paragraf terakhir, dia mengatakan, "adalah bangsa yang besar bangsa yang dapat menghargai orang-orang biasa dan pekerjaan-pekerjaan biasa." Sumbangan Terhadap Seni Rupa Pada 1969, Sanento kembali ke almamaternya di Seni Rupa ITB untuk mengajar. Kemudian pada 1972 hingga 1974, dia menjadi anggota redaksi majalah Horizon. Pada 1975, dia aktif dalam Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GRSBI). Dan pada tahun yang sama, dia juga menjadi pengurus dan penulis Galeri Pop Art di majalah Aktuil. Sanento menulis buku Seni Lukis Indonesia Baru: Sebuah Pengantar. Sayangnya, menurut kurator pameran Hendro Wiyanto, gagasan-gagasan Sanento hingga sekarang hanya berhenti sebagai pengantar. "Lagi-lagi naskah itu tetap menjadi naskah dan tidak pernah menjadi apa-apa, tidak banyak orang yang membaca sungguh-sungguh tulisan Sanento," sebutnya. Sanento melanjutkan studi doktoral di Universitas Montpellier, Prancis. Dia menyelesaikan studinya pada 1981. Disertasinya berjudul Asal Mula Seni Lukis Kontemporer Indonesia: Peran S. Sudjojono (Genese De Lo Peinture Indonesienne Contemporaine: Le Role De S. Sudjojono) dibimbing oleh sejarawan Denys Lombard. Sanento kemudian pulang ke Indonesia dan menulis makalah Apresiasi Seni Lukis: Jika Cakrawala Diperluas. Pada 1982, dia menulis buku G. Sidharta di Tengah Seni Lukis Indonesia bersama Jim Supangkat. Dia juga menulis makalah Dua Seni Rupa pada 1984. Namun, sama seperti sebelumnya, tulisan-tulisan Sanento belum mendapat respons dari seniman maupun kritikus setelahnya. "Lagi-lagi juga kita tidak pernah sungguh-sungguh bertanya, Dua Seni Rupa yang dimaksud oleh Sanento Yuliman itu sebenarnya apa," terang Hendro. "Jadi saya setuju sepenuhnya dengan apa yang dikatakan oleh Sanento bahwa seni rupa Indonesia masuk ke dalam suasana 'segala sesuatu menjadi legenda' dan kita tidak pernah bertanya apa-apa," lanjutnya. Membaca Kembali Melalui pameran ini, Danuh Tyas Pradipta, anak Sanento yang juga menjadi kurator dalam pameran ini menyebut banyak hal yang bisa disampaikan lewat arsip ayahnya. "Lebih kepada jejak-jejak yang mungkin itu personal atau intelektual. Dan tentunya pemikiran Sanento dari mulai hal kecil sampai yang mungkin terasa besar dan berat seperti dalam skripsi atau disertasinya," kata Danuh. Dari karya-karya itu, Danuh berharap muncul respons yang menghidupkan kembali gagasan-gagasan Sanento maupun muncul perdebatan-perdebatan lain darinya. "Saya pikir, sebuah pameran lagi-lagi seperti Pak Hendro bilang bukan hanya masalah produksi karya seni tetapi juga yang lebih penting dari itu juga pembacaan dan pemaknaan terhadap karya-karya seni dan fenomena seni rupa itu sendiri. Itu kemudian yang tidak kalah penting dalam dunia seni rupa kita," ujarnya. Hendro menambahkan, "kami berharap bahwa 'Mengingat-ingat Sanento Yuliman' mendorong kita bukan hanya sekadar mengingat tetapi juga membaca kembali, mengkaji kembali, dengan pikiran Sanento." Bersamaan dengan pembukaan pameran ini, DKJ juga meluncurkan tiga buku Seri Wacana Seni Rupa, Dari Pembantu Seni Lukis Kita: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa Oei Sian Yok (1956-1961), Rumpun dan Gagasan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-2019) oleh Bambang Bujono, dan Estetika yang Merabunkan: Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992) oleh Sanento Yuliman. Sanento pernah mendapat Anugerah Adam Malik atas sumbangsihnya sebagai kritikus seni rupa pada 1984. Sejak tahun itu juga dia aktif menulis di majalah Tempo. Kemudian pada 1990, dia menulis tiga rangkaian esai Ke Mana Seni Lukis Kita? Sanento kemudian juga terlibat dalam pengembangan Yayasan Seni Rupa Indonesia (YASRI). Dua tahun setelahnya, pada 1992, Sanento meninggal dunia karena pendarahan otak, meninggalkan istri dan tiga orang anaknya.

  • SAMBO, Seni Beladiri dari Negeri Tirai Besi

    SEA Games 2019 Filipina meninggalkan banyak kesan negatif. Khusus buat Indonesia, ia meninggalkan banyak catatan yang perlu ditangani segera. Selain target berada di peringkat dua klasemen akhir tak terpenuhi, prestasi atlet-atlet kita buruk di kategori olahraga atletik dan akuatik. Cabang sepakbola putra yang awalnya digadang-gadang bakal membuahkan prestasi, berakhir jeblok. Beruntung, cabang olahraga SAMBO memberi kita prestasi. “Kita awalnya target satu medali emas. Tapi kita bisa bawa pulang empat emas. Terlepas dari anggaran persiapan kita salah satu yang terkecil dan pelatnas lima bulan di Puncak, Bogor,” ujar Ketum PP Persambi Krisna Bayu kepada Historia. Empat emas itu diraih Ridha Wahdaniyaty Ridwan dari kategori sport 80kg putri, Fajar di combat 57kg putra, Seni Kristian di combat 90kg putra, serta Desiana Syafitri, Emma Ramadinah, Erik Gustam, dan Rio Akbar Bahari di kategori mixedteam (beregu campuran). Ditambah sekeping perak dari Jasono Fitono Sim (perak, combat 82kg putra) serta dua perunggu dari Rio Bahari (sport 82kg putra) dan Deni Arif Fadhillah (combat 74kg putra, Indonesia jadi juara umum di cabang SAMBO. Para atlet SAMBO Indonesia yang membawa pulang 4 emas, 1 perak & 2 perunggu di SEA Games 2019 (Foto: Dok/Facebook Krisna Bayu) Capaian itu tentu layak dibanggakan mengingat baru di SEA Games kali ini SAMBO menyumbang medali kepada kita. Di Asian Games 2018, SAMBO juga sudah dimainkan sebagai cabang resmi, namun tak satupun dari delapan atlet kita yang mendapatkan medali. Juara umumnya kala itu Kazakhstan, salah satu negara pecahan Uni Soviet, dengan dua emas dan tiga perunggu. Mongolia, Uzbekistan, Tajikistan, dan Jepang berturut-turut mengikuti di belakangnya. Tak heran bila tiga dari lima besar itu ditempati negara-negara pecahan Soviet. Seni beladiri SAMBO memang berasal dari negeri “Tirai Besi”. Dari Judo Lahirlah SAMBO Melihat pertandingan SAMBO kategori Sport, Combat, dan Mixed Team, terlihat nyaris tak ada bedanya dengan beladiri-beladiri berintikan gerakan bantingan seperti judo, gulat, jiu-jitsu, atau kurash. Menurut Krisna, bisa dikatakan teknik bantingan dan kuncian SAMBO memang serupa dengan yang digunakan di beladiri-beladiri itu. “Soal bantingan, judo, kurash, gulat, SAMBO seratus persen sama. Di pertarungan ground-nya di kategori sport maupun combat juga seratus persen sama. Di combat, semua olahraga yang menggunakan pukulan dan tendangan adalah sama. Di kategori ini juga ada gerakan cekikan. Jadi SAMBO benar-benar olahraga mix atau campuran,” ujar maestro judo Indonesia era 1990-2000-an itu. Ketum PP Persambi Krisna Bayu saat ditemui di kantornya berbincang mengenai SAMBO Indonesia (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Persamaan itu wajar karena SAMBO memang diciptakan dari modifikasi judo. Adalah Vasili Sergeyevich Oshchepkov, mata-mata Uni Soviet pada 1920-an, yang menciptakannya. Bersama praktisi beladiri Viktor Spiridonov, Oshchepkov mengembangkannya secara terpisah di kalangan Tentara Merah dengan tambahan modifikasi dari gulat dan jiu-jitsu. Lantaran dikembangkan secara terpisah itulah SAMBO kini bercabang menjadi dua kategori: sport dan combat. Kiprah Oshchepkov bermula dari penugasannya ke Tokyo pasca-kekalahan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang tahun 1905. Selain ditugaskan untuk mempelajari judo, Oshchepkov juga ditugasi menjadi mata-mata. Di sanalah Oshchepkov mempelajari judo dan jiu-jitsu dengan masuk klub judo Azabu yang bernaung di bawah Resimen Infantri I Tentara Kekaisaran. Oshchepkov lalu membawa judo dan jiu-jitsu ke kalangan militer Soviet pada 1927. “Dia memuat sebuah artikel: ‘Jiu-jitsu Jepang masuk Tentara Merah’ di suratkabar militer Krasnoarmeyskaya Zvezda (30 September 1927), di mana ia menuangkan pemikiran akan relevansi pertarungan jarak dekat dalam perang modern,” sambung Thomas A. Green dan Joseph R. Svinth dalam Martial Arts of the World: An Encyclopedia of History and Innovation, Volume I. Sementara di sisi lain, Spiridonov juga mengembangkan jiu-jitsu di klub olahraga Dynamo, milik NKVD (Polisi Istimewa Soviet), yang dipimpinnya. Bedanya, Spiridonov mempelajari jiu-jitsu via literatur, bukan dari instruktur Jepang langsung, lantaran memang kala itu masih berlaku aturan ketat pelarangan olahraga asing diterapkan di Soviet. Vasili Sergeyevich Oshchepkov (kiri) & Viktor Spiridonov, dua tokoh pelopor SAMBO di Uni Soviet (Foto: sport.sambo/samoz.ru) Keduanya lantas berkolaborasi pada 1923 hingga menciptakan beladiri baru bernama SAMBO. Nama SAMBO merupakan singkatan dari Samozashchita Bez Oruzhiya (beladiri tanpa senjata/tangan kosong). Namun, tak lama kemudian keduanya berseberangan jalan. Masing-masing pun memperkenalkan SAMBO secara terpisah. Oshchepkov di CDKA atau Mabes Tentara Merah, Spiridonov tetap di NKVD. Pada 1950, Soviet menggelar eksebisi internasional SAMBO pertama. Enam tahun kemudian, SAMBO diterima jadi bagian Fédération Internationale des Luttes Associées (FILA) atau federasi gulat internasional sebagai salah satu turunan gulat bebas. Namun baru tahun 1972 FILA merestui kejuaraan terbuka resmi pertama, di Riga, Latvia dan Kejuaraan Dunia SAMBO pertama di Tehran, Iran setahun berselang. Pada 13 Juni 1984 SAMBO memisahkan diri dari FILA untuk kemudian mendirikan federasinya sendiri, Fédération Internationale Amateur de SAMBO (FIAS), di Madrid, Spanyol. Sayangnya hingga kini SAMBO belum diterima sebagai cabang resmi olimpiade. Pembelokan Sejarah SAMBO Sebelum masuk ke pentas olahraga bertaraf internasional pada 1950-an, sejarah SAMBO sempat dibelokkan. Kisah tentang Oshchepkov dimarjinalkan dan Soviet membuat sejarah baru lewat SAMBO yang dibawakan praktisi Anatoly Arkadyevich Kharlampiyev. “Pendekatan risetnya sendiri harus menyerah pada tekanan pertimbangan ideologis, kepentingan pribadi dan kelompok tertentu, serta simpati personal. Hasilnya adalah manipulasi fakta-fakta dan versi-versi berbeda tentang penciptaan SAMBO. Kini (setelah Soviet bubar, red.) dokumen-dokumen pemerintah sudah bisa diakses publik dan banyak wawancara dengan saksi mata yang dikumpulkan. Hal itu memungkinkan rekonstruksi penciptaan SAMBO secara mendetail,” ungkap Thomas A. Green dan Joseph R. Svinth. Terlepas dari pengakuan dunia terhadap Oshchepkov dan Spiridonov sebagai pencipta SAMBO pasca-runtuhnya Soviet, faktanya Kharlempiyev berperan banyak dalam mengembangkan SAMBO. Sepeninggal Oshchepkov pada 1937 setelah ditangkap atas tuduhan mata-mata dan tewas di penjara, Kharlempiyev “memonopoli” pengembangan SAMBO. International SAMBO Tournament yang digelar secara terbatas di Moskva pada 1969 (Foto: sambo.sport/FIAS) Saat jadi petinggi Komite Olahraga Soviet pada 1938, ia memasukkan SAMBO menjadi salah satu olahraga resmi dan menetapkan hari lahir SAMBO pada 16 November 1938. Saat berkiprah di Departemen Pendidikan Fisik Soviet pada 1953, Kharlempiyev meracik sistem dan regulasi baku SAMBO hingga dijuluki “Bapak SAMBO”. Julukan ini baru diralat setelah kisah tentang Oshchepkov dan Spiridonov dalam arsip Soviet dibuka pada 2000-an. Kharlempiyev kini digelari sebagai “Bapak SAMBO Modern”. Perbedaan SAMBO yang dikembangkan Kharlempiyev terletak pada banyaknya teknik gulat-greco dan gulat bebas –bukan judo– yang diadopsi. Maka ketika SAMBO mulai diperkenalkan ke luar secara terbatas pada 1950-an, para praktisi SAMBO enggan menyatakan SAMBO berakar dari judo. “Beberapa pejudo Jepang yang melihat aksi-aksi petarung SAMBO mengklaim bahwa seni beladiri itu meniru judo, bahwa 75 persen teknik SAMBO sama persis dengan judo. Namun para praktisi Rusia tak mengakui. Mereka bersikeras bahwa sama sekali tak ada pengaruh beladiri Jepang dalam SAMBO,” tulis majalah bulanan Black Belt edisi Februari 1967. Di era itupun SAMBO baru diperkenalkan terbatas di negara-negara Blok Timur seperti Hungaria, Bulgaria, Rumania, dan Jerman Timur. Sedari awal 1950-an, para atlet SAMBO Soviet pun lebih banyak berkiprah di ajang-ajang judo dan gulat. Belum sepenuhnya ajang resmi SAMBO. “Karena saat itu sebenarnya SAMBO belum benar-benar dikembangkan secara komplit. Para praktisi Rusia masih terus bereksperimen dengan teknik-tekniknya secara utuh untuk membuat sistem keseluruhan yang rasional dan lebih dekat dengan gulat ketimbang judo,” lanjut majalah itu. Oleh karena itu perkembangan SAMBO terbilang lambat dan masih terbatas di Eropa Timur. SAMBO baru benar-benar go-internasional setelah berdirinya FIAS yang diikuti berdirinya federasi serupa di Eropa, Asia, Amerika, Australia dan Oseania, dan Afrika. Meski belum masuk olimpiade, SAMBO sudah dipertandingkan secara resmi di Asian Games 2018 (Foto: sambo.sport/FIAS) SAMBO Merambah Indonesia Di Indonesia, SAMBO baru populer pada 2006. Ir. Aji Kusmantri, wakil sekjen Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) periode 1997-2014, jadi pionirnya. Aji jua yang lantas mendirikan Pengurus Besar Persatuan SAMBO Indonesia (PB Persambi). “Sebenarnya di awal 2000-an sudah ada orang Indonesia yang berlatih SAMBO, tapi memang tidak mengembangkan. Sekadar hobi saja. Mereka ini para mahasiswa Indonesia yang sebelumnya studi di Belanda. Dibawa ke Indonesia hanya dalam bentuk komunitas saja,” kata Aji kepada Historia saat dihubungi via telepon. “Resminya”, SAMBO datang ke Indonesia lewat Mr. Pulatov, pejabat polisi Rusia yang mengembangkan SAMBO di Uzbekistan sekaligus salah satu petinggi SAMBO Union of Asia. Misi yang dibawanya adalah untuk belajar dari padepokan judo Indonesia di Ciloto untuk kemudian diadopsi untuk mendirikan perguruan SAMBO di Uzbekistan sekaligus untuk lebih mengglobalkan SAMBO agar bisa masuk cabang resmi olimpiade. “Mulanya Mr. Pulatov itu bersurat ke Kemenpora tapi enggak direspon. Lalu dia kontak pengurus judo Singapura yang juga teman saya, Gerard Lim. Dari teman saya itu yang memberikan kontak saya kepada Mr. Pulatov,” tambahnya. Setelah kontak tersambung, Pulatov menemui Aji untuk kemudian diantarkan ke Kemenpora. “Saya bawa ke Almarhum Pak Latif, orang Kemenpora. Tapi karena dari Kemenpora melihatnya ini barang (baca: olahraga) baru, mereka enggak begitu komentar banyak. Indonesia ini negara ke sekian yang didatangi Pulatov. Cita-citanya agar SAMBO masuk olimpiade,” lanjut Aji yang lantas mendirikan PB Persambi pada 2006. “Pak Aji melihat olahraga SAMBO ini bakal berkembang. Makanya dia ikut mempelopori-lah. Tapi 13 tahun mati suri. Karena belum adanya kesamaan visi-misi dengan Pak Aji, terus saya ambil alih. Saya ingin Persambi ini ada legalitasnya karena waktu itu belum ada,” sambung Krisna. Krisna Bayu memimpin PP Persambi sejak 2017 yang berharap SAMBO sudah akan dipertandingkan secara resmi di PON 2024 (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Krisna mengubah sedikit nama menjadi PP (Pengurus Pusat) Persambi. Pada musyawarah nasional tahun 2017, Krisna terpilih menjadi ketua umumnya. “Memang sempat clash dengan Pak Aji, namun kita berdua membuat kesepakatan. Karena sebuah organisasi kan harus ada landasan hukumnya, harus punya legalitas,” tambahnya. Meski sudah diikutkan dalam Asian Games 2019, PP Persambi baru resmi menjadi anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pada Juni 2019. Itupun, aku Krisna, setelah sempat tiga kali ditolak menjadi anggota. “Banyak alasanlah waktu itu. Tapi akhirnya kita dilantik jadi anggota KONI dan KOI itu Juni 2019. Kini kita sudah punya 27 pengurus provinsi. Dengan hasil SEA Games ini (4 emas, 1 perak, 2 perunggu), saya akan berusaha untuk masuk eksebisi PON (Pekan Olahraga Nasional) 2020. Harapannya di PON 2024 sudah include di dalam PON sebagai cabang resmi,” tandas Krisna.

  • Menelaah Bocoran Dokumen Rahasia "Penahanan" Uighur

    SEHABIS membaca keseluruhan dokumen rahasia soal "kamp konsentrasi" Uighur di Xinjiang yang pada 23 November 2019 dibocorkan Konsorsium Jurnalis Investigatif Internasional (ICIJ) yang bekerja sama dengan 17 media dari 14 negara, barangkali bisa dimaklumi jika juru bicara pemerintah Xinjiang, dalam wawancara eksklusifnya dengan surat kabar Tempo Global (Huanqiu Shibao, 3/12/2019), dongkol menyebut pemberitaan tentang itu tidak hanya "memutarbalikkan hitam dan putih" (dian dao hei bai) tetapi juga "ngawur tidak memedulikan fakta yang ada" (xin kou ci huang).

  • Dendam Pilot Vietnam yang Bikin Hengkang Paman Sam

    ENTAH terpengaruh video penembakan massal yang ditontonnya beberapa hari sebelumnya atau bukan, Letnan dua udara Mohammed al-Shamrani, pilot Arab Saudi yang sedang menempuh pendidikan di Pangkalan AL Amerika Serikat (AS) Pensacola, melakukan aksi gila pada Jumat, 6 Desember 2019. Dia menembaki orang-orang di pangkalan itu. “Mohammed al-Shamrani membunuh tiga orang dan melukai delapan lainnya ketika menyerang menggunakan pistol Glock 9mm Jumat (6/12/2019),” tulis kompas.com. Sebelum melakukan aksi gilanya, Shamrani sempat menulis cuitan di akun Twitter-nya. “Saya melawan kejahatan, dan AS sudah sepenuhnya menjadi negara iblis. Saya membenci kalian karena setiap hari, kalian mendukung, mendanai, dan menyokong kejahatan tak hanya terhadap Muslim, tapi juga kemanusiaan,” ujarnya, dikutip kompas.com.

  • Gerilyawan Kota Bernama Karna

    SEORANG lelaki tua berjalan tertatih-tatih di depan Masjid Agung Cianjur. Langkahnya terhenti jika ada bekas botol air mineral terserak di jalanan. Dipungutnya botol plastik tersebut lalu dimasukannya ke dalam kantong kresek besar yang selalu dibawanya ke mana-mana. “Daripada menjadi sampah, lebih baik saya jual. Lumayan hasilnya sekedar untuk jajan dan ngasih ke cucu,”ujarnya. Ahmad Sukarna (dipanggil Karna), nama lelaki tua itu. Usianya sekarang sudah melewati angka 100. Kendati sudah uzur namun terlihat masih kuat. Puasa Senin-Kamis dan meminum air putih merupakan rahasianya. Kendati demikian, penyakit pikun tetap menyerang dirinya. Tapi kalau ditanya soal era revolusi, mulutnya akan lancar bercerita. Bahkan akan terlihat sangat emosional.Ya, Karna adalah pejuang di era itu. Ketika proklamasi dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, dia bersama kawan-kawan seangkatannya di Bogor lantas bergabung dengan sebuah kelompok perjuangan bernama Lasykar Ciwaringin 33, pimpinan Harun Kabir. Itu nama seorang tokoh pejuang ternama di Jawa Barat saat itu. “Pak Harun itu sohibnya Bung Karno. Kalau ke Bogor Bung Karno pasti ke rumahnya Pak Harun di Jalan Ciwaringin No. 33,” ungkap Karna. Nama Harun Kabir sebagai kolega Bung Karno memang dibenarkan oleh Fatmawati Sukarno. Dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I, Fatmawati mengakui bahwa sebagai sahabat, Harun Kabir banyak berjasa bagi kehidupan keluarganya. Termasuk saat dia dan suaminya harus menitipkan Guntur Sukarnoputra (putra pertama mereka) kepada keluarga Harun Kabir, saat situasi Jakarta tak menentu pada akhir 1945.   Begitu juga Lasykar Ciwaringin 33. Nama itu terkonfirmasi dalam Bogor Masa Revolusi (1945-1950) karya sejarawan Edy Sudrajat. Disebutkan di buku itu bahwa Lasykar Ciwaringin 33 merupakan kelompok milisi rakyat yang eksis di Bogor pasca proklamasi. “Pada 1946, Lasykar Ciwaringin 33 dilebur dalam Divisi Siliwangi,” ungkap Hetty Kabir, putri ke-2 dari Harun Kabir. Karna masih ingat wajah Bung Karno, ketika kali pertama melihatnya di Jalan Ciwaringin No.33 yang menjadi markas pasukannya. Dia juga masih terkenang wajah Mayor Harun Kabir dan Letnan Soeroso, dua komandannya yang gugur ditembak serdadu Belanda. Bicara tentang orang-orang itu matanya akan bersinar penuh semangat, walau kadang terisak diiringi panjatan doa buat mereka. “Orang-orang itu adalah pejuang besar, saya selalu hormat kepada mereka,” ujarnya. Tapi tak ada orang yang lebih sering dikenang Karna selain Toeti. Tanyalah nama Toeti kepada Karna, orang tua itu akan pasti terdiam lama. Air matanya meleleh dan terlihat wajahnya sangat berduka. Siapakah Toeti yang membuat hati Karna begitu terluka? Toeti sejatinya adalah sahabat karib Karna di Lasykar Ciwaringin 33. Kedua pejuang itu dikenal sebagai para pencari senjata yang sangat piawai. Seminggu mereka bisa mendapatkan 4-5 senjata api. Bahkan mereka berdua pernah mendapatkan 10 senjata api dari beberapa tempat di Bogor. Bagaimana caranya? Untuk mendapatkan senjata-senjata itu, terlebih dahulu Karna dan Toeti mempelajari watak para serdadu Belanda nyaris setiap hari. Setelah lama melakukan pengamatan lapangan, mereka berkesimpulan para serdadu yang jauh dari rumah itu sangat lemah jika dihadapkan kepada perempuan. "Makanya dengan menggunakan Toeti yang berwajah rupawan sebagai "umpan", kami berdua beraksi " tutur Karna. Modus aksi mereka hampir selalu sama: Toeti pura-pura mandi di sungai atau kolam yang terlihat dari jalan besar hingga patroli-patroli musuh kerap tergoda untuk turun. Saat situasi seperti itulah, Karna yg sudah siap siap, dari tempat persembunyiannya langsung bergerak dan menyambar senjata-senjata yg ditinggal begitu saja dalam jip. Dia lantas menembakan salah satunya untuk "memancing" prajurit-prajurit musuh itu kembali ke atas sekaligus menyelamatkan Toeti. Selanjutnya, mereka berdua langsung kabur. "Kami memang menghindar bentrok langsung, karena tugas kami memang bukan untuk bertempur tapi khusus mencari senjata dan pelurunya," kenang lelaki yang saat muda jago bermain sepakbola itu. Satu hari, mereka merencanakan operasi di tepi Sungai Ciliwung dekat Kebun Raya Bogor. Kala menjalankannya, aksi itu awalnya seolah akan sukses. Mereka berhasil menipu satu regu serdadu Belanda. Namun tanpa disadari, mereka ternyata telah masuk perangkap musuh dan terkepung. Tak ada jalan lain. Untuk meloloskan diri, mereka berdua harus terjun ke Sungai Ciliwung yg tengah banjir dan airnya berwarna coklat. Mereka pun hanyut dipermainkan kecamuknya air. Karna yg sempat meraih akar pohon selamat. Namun tidak demikian dengan Toeti. Ia terseret arus bah dan tak bisa diselamatkan lagi. "Saya masih melihat tangannya menggapai, mungkin minta tolong. Tapi saya tak bisa berbuat apa-apa. Saya merasa bersalah tak bisa menyelamatkannya," ujar Karna seraya terisak. Karna berhasil pulang ke markas. Namun jiwanya terguncang. Karena taktik aksinya sudah tercium, komandannya kemudian mengungsikan Karna ke wilayah Cianjur. Malang tak dapat dicegah untung tak dapat diraih, saat perjalanan ke Cianjur mereka terjebak suatu pertempuran seru di wilayah Puncak. Kaki Karna pun sempat terkena pecahan peluru mortir. Kendati kakinya kemudian menjadi agak pincang, tidak menjadikan Karna lantas berhenti menjadi gerilyawan. Dia tetap aktif sebagai pejuang di Cianjur. Usianya panjang dan bisa merasakan alam kemerdekaan. Namun bayangan sahabat seperjuangannya, Toeti, tetap lekat di benaknya hingga kini. Tak mungkin pergi, walau penyakit pikun sudah menyerang di usia senja sang gerilyawan tua itu.

  • Penemu Mujair di Indonesia

    Segera setelah ditemukan, ikan ini jadi favorit. Dibudidayakan pada masa kolonial hingga Orde Baru.

  • Bailout Garuda Indonesia dari Bangkrut

    Menteri BUMN pertama, Tanri Abeng, mendapat tugas berat dari Presiden Soeharto. Dia diminta menyelamatkan Garuda Indonesia yang akan dibangkrutkan oleh para kreditur asing. Dengan persetujuan Soeharto, dia pun mengganti seluruh direksi. Tanri Abeng meminta Robby Djohan untuk menjadi direktur utama Garuda. Dia yakin sahabatnya itu dapat menyelamatkan Garuda dari kebangkrutan. Namun, guru para bankir itu malah menolak. “Dia tak butuh kerjaan karena dia sudah kaya dan ingin pensiun,” kata Tanri Abeng dalam No Regrets. Tanri Abeng membujuknya agar mau berbuat untuk negara. Akhirnya, Robby bersedia dengan syarat diberi kewenangan menentukan sendiri orang-orang yang akan membantunya dalam jajaran direksi. Salah satunya Emirsyah Satar. Namun, Emir menolak karena merasa sudah cukup dengan apa yang didapatnya sebagai CEO Niaga Finance Co. Ltd. di Hongkong. Robby menyadari Garuda tak bisa membayar mahal. “Saat itu saja, mungkin Garuda hanya bisa menggaji dia sekitar Rp80 juta, sementara gaji dia di Hongkong bisa mencapai Rp500 juta per bulan,” kata Robby dalam swa.co.id. “Dengan teknik yang sama yang dilakukan Tanri ke saya, saya yakinkan Emir agar mau berkontribusi buat negara.” Emirsyah Satar, mantan Direktur Utama Garuda Indonesia. (iluni-feb-ui.com). Akhirnya, Emir menerima tawaran sebagai direktur keuangan Garuda. Dia mendampingi Robby dalam negosiasi utang Garuda dengan kreditur asing. Selain negosiasi utang, Robby juga melakukan restrukturisasi Garuda. “Robby butuh uang Rp800 miliar untuk rasionalisasi karyawan. Dia berjanji selama satu tahun uang akan kembali. Ternyata, dalam delapan bulan saja utangnya telah dibayar,” kata Tanri Abeng. Robby menjadi dirut Garuda tak sampai setahun (Februari-Oktober 1998). Namun, dia berhasil menyelamatkan Garuda dari kebangkrutan, untuk sementara. Tanri Abeng memintanya untuk memimpin proses merger empat bank bermasalah menjadi Bank Mandiri. Posisinya sebagai dirut Garuda digantikan Abdul Gani. Emir tetap pada posisinya sebagai direktur keuangan. Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, dalam kompas.com, antara tahun 1995-1998 Garuda rugi sekitar Rp5 triliun. Akan tetapi setelah diperbaiki Robby Djohan, pada 1999 bisa untung sekitar Rp0,4 triliun. Namun, Garuda tetap terjerat oleh utangnya. Sehingga meminta pemerintah turun tangan. Pada 11 April 2000, ketika Kwik Kian Gie, menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri, memimpin delegasi Indonesia ke perundingan di Paris Club tentang penjadwalan ulang utang luar negeri multilateral, di lobi hotel sejak pagi, dia melihat seorang Indonesia yang masih muda. Siangnya, dia tanyakan kepada stafnya, apakah orang itu wartawan? “Ternyata dia adalah Emirsyah Satar yang ketika itu menjadi direktur keuangan Garuda Indonesia,” kata Kwik Kian Gie dalam Menelusuri Zaman, Memoar dan Catatan Kritis. Kwik Kian Gie, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1999-2000). (kwikkiangie.com). Emir terbang ke Paris untuk menemui Kwik Kian Gie karena urusan yang mendesak. Kwik Kian Gie menerimanya dan ternyata soal utang Garuda dalam valuta asing yang sangat besar dan tidak mampu dibayar tepat pada waktunya. “Sudah default(gagal bayar), tetapi masih diberi waktu untuk membayarnya. Kalau tidak, akan diumumkan ke seluruh dunia bahwa Garuda Indonesia bangkrut,” kata Kwik Kian Gie. Kwik Kian Gie mengatakan kepada Emir bahwa sepulangnya ke Jakarta pemerintah akan mem-bailout(dana talangan) Garuda. Kwik Kian Gie dan Menteri Keuangan Bambang Sudibyo sepakat bahwa berapa pun, Garuda tidak bisa dibangkrutkan karena Garuda adalah flag carrier Indonesia. Garuda adalah lambang negara. Sekembalinya ke Indonesia, Kwik Kian Gie melapor kepada Presiden Abdurrahman Wahid tentang hasil Paris Club sekaligus tentang kondisi keuangan Garuda. Gus Dur memanggil semua direksi Garuda, antara lain tentunya Direktur Utama Abdul Gani dan Direktur Keuangan Emirsyah Satar. Bambang Sudibyo juga hadir. Gus Dur meminta Kwik Kian Gie berbicara atas nama pemerintah. Dia mengatakan bahwa Garuda adalah flag carrier sehingga akan segera di-bailout oleh pemerintah. Menteri keuangan tidak akan melakukan audit terlebih dahulu karena akan makan waktu sangat lama. Audit bisa belakangan. “Namun, ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi, yaitu seluruh direksi harus janji bahwa setelah bailout ini mutlak tidak akan ada korupsi lagi,” kata Kwik Kian Gie. Dengan bailout, Garuda selamat dari bangkrut. Namun, setelah Kwik Kian Gie menjadi kepala Bappenas (2001-2004) dan setelahnya, Garuda tetap terjerumus dalam utang-utang yang menumpuk. “Dugaan saya besar kemungkinannya dikorup lagi,” kata Kwik Kian Gie.“Ketika menulis (buku) ini saya membaca bahwa mantan Dirut Emirsyah Satar terkena dakwaan korupsi oleh KPK. Menyedihkan!” Setelah lima tahun menjadi direktur keuangan Garuda (1998-2003), Emir pindah ke Bank Danamon sebagai wakil dirut. Dia kembali ke Garuda pada 2005 dan menjadi salah satu dirut Garuda terlama, hampir sepuluh tahun. Sebelum masa jabatannya habis, Emir mengundurkan diri pada 2014. Tiga tahun kemudian, pada 16 Januari 2017, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkannya sebagai tersangka kasus suap dan pencucian uang dalam pembelian pesawat dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC. Dari hasil penyidikan, KPK menemukan aliran uang mencapai Rp100 miliar ke puluhan rekening. Penanganan perkara itu membutuhkan waktu cukup lama, sekitar dua tahun sebelas bulan. Akhirnya, pada 4 Desember 2019, KPK menyerahkan dua orang tersangka, Emirsyah Satar dan pengusaha Soetikno Soetardjo, ke penuntut umum dan segera akan disidang.

  • Majalah Dunia Wanita Hampir Tutup Karena Cekcok Lauk

    Mohammad Said heran. Lauk-pauk di atas meja makan yang dipandanginya tetap sama dengan yang dihidangkan beberapa waktu sebelumnya. Padahal ia memberi cukup uang belanja pada istrinya, Rohani (Ani) Idrus. Ketika Said menanyakannya, Ani menjawab sebagian uang belanja itu digunakannya untuk membiayai produksi majalah dwimingguan Dunia Wanita. Pasalnya kas Dunia Wanita sedang seret. Sontak Said kecewa dan marah. Sekembalinya dari dinas ke Yogyakarta, Said ingin Dunia Wanita sudah harus ditutup. Ani sedih mendengar perkataan suaminya. Pasalnya, mendirikan media dari dan untuk perempuan merupakan cita-cita Ani sejak belia. Sejak tinggal di Sawahlunto, Ani kerap menjumpai perlakukan tidak adil pada perempuan, seperti kecilnya kesempatan bersekolah, relasi tak setara dalam rumah tangga, dan selalu dianggap lemah. Perlakukan semacam itu membakar semangat Ani untuk bekerja keras supaya tak diremehkan lelaki. Sejak remaja, Ani giat menambah ilmu, rajin belajar, dan tekun membaca riwayat hidup tokoh perempuan. Ani juga aktif di dunia jurnalistik sebagai kontributor di tiga media di Medan. Ketika akhirnya menikah dengan rekan seperjuangannya, Mohammad Said, sejoli ini bersama-sama mendirikan harian Waspada pada 1947. Ani merupakan salah satu tokoh perempuan yang aktif mengembangkan produk jurnalistik sebagai wadah untuk pemikiran perempuan. Sebelum mendirikan Dunia Wanita, ia bekerjasama dengan pemimpin harian Pewarta Deli Amarullah Ombak Lubis mendirikan Majalah Wanita pada akhir 1945. Sayangnya, Wanita tumbang di tengah perang kemerdekaan. Maka ketika mendengar ucapan Said yang hendak menutup Dunia Wanita, Ani amat bersedih. Ia tak ingin menyaksikan media yang ia bangun tumbang untuk kedua kalinya. Beruntung ucapan Said tak jadi kenyataan. Ketika Said berkunjung ke Yogyakarta, ia menemui Sukarno dan Hatta beserta para istri dalam sebuah jamuan makan malam. “Mana Dunia Wanita-nya?” kata Rahmi, yang juga ditimpali oleh Fatmawati. Rupanya, Rahmi dan Fatmawati merupakan pembaca setia Dunia Wanita. Alhasil, sekembalinya Said dari Yogyakarta, ia lantas berubah pikiran. “Dunia Wanita jangan dimatikan. Terbitkan terus berapapun biaya yang diperlukan,” kata Said seperti ditulis Tridah Bangun dalam Ani Idrus, Tokoh Wartawati Indonesia. Ani pun bersuka-cita. Majalah yang terbit pertama pada Juni 1949 itu akan terus menjadi wadah suara perempuan. Ada banyak perempuan yang membantu Ani dalam produksi Dunia Wanita. Selain Asminah Hasibuan yang duduk sebagai pengurus tata usaha dan iklan, ada Titi Rukmi sebagai wakil urusan iklan, wartawan Gadis Rasyid yang berandil sebagai pembantu tetap di wilayah Jawa, penulis Suwarsih Djojopuspito sebagai kontributor di Jakarta, dan Nona Chen Hsiang-Niang yang membantu di wilayah Yogya dan Tegal. Beberapa tokoh perempuan juga ikut menyumbangkan tulisannya ke Dunia Wanita. Antara lain, Maria Ullfah (aktivis perempuan yang menjadi menteri sosial pertama), Hurustiati Subandrio (aktivis perempuan), dan Nyoya Chailan Sjamsu Datuk Tumenggung (aktivis perempuan penentang perkawinan anak). Pembahasan dan isi rubrik Dunia Wanita pun beragam. Selain pembahasan masalah perempuan dalam kesehatan, ada artikel tentang keterampilan menjahit, sejarah perjuangan perempuan, pendidikan, dan cerita bersambung. Ani yang duduk sebagai pemimpin redaksi sudah pasti menyumbang tulisan di samping menulis tajuk rencana setiap terbitannya. Salah satu liputan berseri yang pernah Ani kerjakan ialah laporan pandangan mata kala ia berkunjung ke Jepang paca-Perang Dunia II. “Orang-orang yang mengemis ada juga, tapi mereka tidak berkeliaran atau dianggap mengganggu seperti di Jakarta yang sangat mencolok itu,” tulis Ani dalam Dunia Wanita terbit tahun 1954. Dalam kesempatan lain, Ani menulis tajuk rencana menanggapi pujian dan kritikan dari pembaca. Peredaran Dunia Wanita menjangkau hingga Sumatera, Amuntai, Alabio, dan Makassar. Respon pembaca pun amat baik hingga panjang halamannya bertambah. Semula, Dunia Wanita hanya 20 halaman. Atensi masyarakat dan permintaan layanan iklan yang banyak membuat jumlah halamannya ditambah menjadi 28. Penambahan halaman ini juga membuka kesempatan makin luas bagi para penulis perempuan untuk mengirimkan tulisan ke Dunia Wanita. “Dengan memberikan penerangan-penerangan pada majalah ini kami dapat menyumbangkan bakti untuk kemajuan wanita,” tulis Ani dalam kata pengantar edisi pertama Dunia Wanita.

  • Perjalanan Rahasia dari Pegangsaan Timur

    Henriete Josefine Mans masih mengingat kejadian malam itu. Bersama ayah, ibu dan adik-adiknya, putri pertama dari tokoh pejuang Maluku Johannes Latuharhary itu termasuk dalam rombongan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) yang ikut hijrah ke Yogyakarta. “Kami naik kereta api diam-diam dari belakang rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur. Selama di kereta api, lampu-lampu dimatikan dan kami harus diam sama sekali. Sampai-sampai saat seorang adik saya merengek minta makanan, saya bekap mulutnya pakai tangan,” kenang perempuan kelahiran Surabaya pada 15 Juni 1932 itu.

  • Memori yang Membekas dalam 1917

    MUSIM semi 1917 di utara Prancis. Pasukan Inggris tengah percaya diri setelah kubu Jerman mulai mundur. Para perwira tingginya memutuskan, Inggris bakal terus mendesak dan menghancurkan Jerman yang tengah mengonsolidasikan kekuatan di Hindenburg Line. Namun, Inggris tak insyaf bakal masuk perangkap. Hanya sedikit perwira Inggris yang menyadari bahwa sekira 1.600 serdadunya yang dikirim dalam ofensif itu bakal jadi korban penyergapan dan pembantaian. Di sinilah dua serdadu muda, Kopral Blake (diperankan Dean-Charles Chapman) dan Schofield (George MacKay), memainkan perannya. Oleh karena ketiadaan alat komunikasi yang canggih, Jenderal Erinmore (Colin Firth) meminta keduanya jadi kurir untuk menyampaikan pesan peringatan itu. Kebetulan, kakak Blake merupakan satu dari 1.600 serdadu yang rencananya akan dikirim dalam ofensif itu. Jadi peran keduanya tidak hanya menyelamatkan 1.600 rekan mereka, namun juga kakak sang pembawa pesan. Begitu sinopsis film 1917 garapan sutradara Sam Mendes. Film bertema Perang Dunia I yang premier-nya sudah digelar pada 4 Desember 2019 di Royal Film Performance, London itu baru dijadwalkan naik layar di Amerika Serikat pada 25 Desember 2019, serta diputar di seluruh dunia mulai 10 Januari 2020. Meski latar belakangnya Pertempuran Passchendaele atau kadang disebut Pertempuran Ypres III (31 Juli-10 November 1917) di Perang Dunia I, Sam Mendes menggarap cerita fiksi. Pun dengan karakter-karakternya yang dimainkan sejumlah aktor besar sebagai pemeran pendukung: Colin Firth (The English Patient, The King’s Speech), Mark Strong (Sherlock Holmes, Stardust, Robin Hood, Shazam!), dan Benedict Cumberbatch (The Imitation Game, Doctor Strange, Avengers: Infinity War, Avengers: Endgame). Kiri ke kanan: Mark Strong, Colin Firth, dan Benedict Cumberbatch/Foto: universalpictures.com) Semua karakternya rekaan belaka karena 1917 bukan tentang seorang figur besar atau pertempuran itu sendiri. Film ini mengisahkan tentang dua serdadu rendahan dan perjalanan mereka yang pontang-panting menembus garis belakang musuh, menghindari bombardir mengerikan, hingga desingan-desingan peluru di atas kepala mereka. Para pemerannya juga tak sembarangan memainkan karakter masing-masing. Setiap pemeran melakoni risetnya lewat banyak literatur. Salah satunya The Western Front Diaries yang merupakan kumpulan catatan para veteran Perang Dunia I. Tak dinyana, salah satu pemerannya, Chapman, menemukan satu bagian catatan kakek buyutnya sendiri. “Dia mengisahkan tentang bagaimana dia berperang di Perang Dunia I –dia terlibat di salah satu unit kavaleri. Dia sempat tertembak dan terluka. Selama empat hari dia bertahan di no man’s land (medan di antara dua kubu, red.) namun dia tetap selamat dan hidup sampai Perang Dunia II berakhir. Membacanya membuat saya bisa masuk ke suasana saat itu,” tutur Chapman, dikutip Mirror, 5 Desember 2019. Kisah Nyata Kakek Moyang Lewat 1917, Sam Mendes ingin mengajak penonton menengok kembali kisah-kisah yang terpendam dari keluarga masing-masing. Memahami sejarah sebagai bangsa yang besar bisa dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil masyarakat dunia. Chapman hanya salah satu contoh. Toh film 1917, sebagaimana disebutkan di atas, juga terinspirasi dari kisah nyata. Utamanya kisah nyata kakek sang sutradara yang juga veteran Perang Dunia I, Alfred Hubert Mendes. Dari kisah Alfred itulah Sam Mendes meracik inti cerita meski tak semuanya mendasarkan dari pengalaman kakeknya. “Film ini saya dedikasikan untuknya. Kakek saya masih sangat muda saat berperang di Perang Dunia I. Meski tubuhnya kecil, larinya sangat cepat. Oleh karenanya dia diberikan tugas mengantar pesan sebagai kurir di front barat. Setelah perang dia dianugerahi medali untuk keberaniannya,” ungkap Mendes, disitat Deadline.com, 23 November 2019. Kisah Kopral Blake dan Schofield yang terinspirasi dari kisah nyata (Foto: universalpictures.com) Seringnya Sam Mendes belia mendengar cerita dari sang kakek sebelum sang veteran itu wafat pada 199 membuatnya punya memori kuat dan ikatan yang emosional yang dalam akan Perang Dunia I. Hal itu mendorongnya menjadikan cerita itu karya layar lebar kedelapannya. Khusus untuk 1917, sang sineas membedah memoar sang kakek, The Autobiography of Alfred H. Mendes: 1897-1991, yang baru diterbitkan pada 2002. Dari memoar itu pula diketahui Alfred Mendes lahir di Trinidad dan Tobago sebagai anak imigran Portugis-Kreol. Alfred Mendes Sr., ayah Alfred H. Mendes, berasal dari Kepulauan Madeira, Portugal. Mendes Sr. seorang pemeluk Presbiterian dan karena keyakinannya ini Mendes dan sejumlah penganut Presbiterian dipersekusi hingga terpaksa hijrah dari Madeira. Mendes Sr. pilih mengungsi ke Port of Spain di Trinidad dan Tobago. “Di akhir tahun 1846 sekira 700 orang Madeira (penganut Presbiterian, red.) tiba di Port of Spain dengan kapal yang disewa seorang saudagar gula. Di antara mereka terdapat ayah saya dan Jardim, adik dari ibu saya,” tutur Alfred H. Mendes dalam memoarnya. Namun pada Desember 1915, di usia 16 tahun Alfred Mendes merantau ke Inggris. Bukannya mendapat pekerjaan yang lebih baik, Alfred malah masuk daftar wajib lapor untuk dilatih di kemiliteran. “Saya tergabung di pasukan King’s Royal Rifles tak lama setelah tahun baru 1916. Sebelum berangkat ke Prancis, saya dipindahkan ke Batalyon I, Brigade Senapan. Di awal Mei 1916, kami tiba di Abbeville di mulut Sungai Somme. Walau saat itu sudah gelap, saya bisa melihat kotanya sudah mengalami kehancuran akibat serangan artileri,” imbuhnya. Kolase foto Alfred Hubert Mendes, kakek sang sutradara film "1917" (Foto: Repro "The Autobiography of Alfred H. Mendes: 1897-1991") Mulanya, Alfred bertugas sebagai pemberi sinyal. Ia kemudian beralih tugas menjadi kurir. Medali atas keberanian yang disebutkan di atas, terjadi saat Alfred secara sukarela menerima misi berbahaya pasca-Pertempuran Poelcappelle. Saat itu komandannya, Kapten Alexander Craigmile, memerintahkannya misi penyelamatan para serdadu yang terluka dan masih hidup. “Saya sudah jenuh menjadi pemberi sinyal dan saya merasa harus berkorban untuk batalyon saya. Jadi saya mengajukan diri,” lanjut Alfred yang melakoni tugas berbahayanya bersama beberapa sukarelawan lain. Suatu malam pada medio Oktober 1917, Alfred dan beberapa sukarelawan keluar dari parit pertahanan untuk menjalankan misinya. Sialnya, malam itu hujan sudah berhenti dan membuat penembak-penembak runduk serta operator senapan mesin Jerman mudah melihat pergerakan mereka. “Terlepas dari tembakan sniper, senapan mesin, dan peluru meriam, saya berhasil kembali ke lubang perlindungan Kompi C tanpa terluka,” sambungnya, dengan membawa beberapa rekan yang terluka. Misinya sukses. Namun saat berada di Kanal La Bassée pada Mei 1918, Alfred terkena serangan gas Jerman. Ia ambruk dan dilarikan ke klinik markasnya untuk kemudian dikirim pulang. Ia baru tersadar saat sudah terbujur di kamar rumah sakit di Sheffield, Inggris.

  • Dirut yang Menyelamatkan Garuda dari Bangkrut

    Garuda Indonesia pernah nyaris bangkrut karena utang yang besar kepada para keditur asing. Utang dalam dolar digunakan untuk menutupi kerugian selama tujuh tahun maskapai penerbangan nasional itu. Kondisinya menjadi sangat parah ketika krisis ekonomi pada 1998. Nilai tukar rupiah meroket menjadi Rp15.000 per dolar Amerika Serikat. Presiden Soeharto menugaskan Menteri BUMN pertama, Tanri Abeng, untuk menyelamatkan Garuda. “Ini tentang Garuda yang akan dibangkrutkan oleh krediturnya. Tugas saudara menyelamatkan agar Garuda tidak di-grounded karena Garuda membawa bendera Republik,” kata Soeharto.  Soeharto menyerahkan map berisi berkas Garuda kepada Tanri Abeng. Setelah mempelajari berkas itu, dia menyimpulkan bahwa tidak satu pun dari direksi Garuda saat itu yang tahu duduk persoalannya. Maka seluruhnya harus diganti. Namun, dirutnya mantan ajudan Soeharto. Konon tidak ada yang bisa menggeser mantan ajudan yang ditugaskan Pak Harto di suatu tempat. Ternyata, Soeharto menyetujui pergantian semua direksi Garuda. “Mengapa hanya dirutnya? Ganti seluruh direksi, di situ sudah lama ada mafia,” kata Soeharto yang menyerahkan sepenuhnya perombakan direksi Garuda kepada Tanri Abeng.  Dalam No Regrets, Tanri Abeng menyebut tiga kriteria dalam memilih dirut Garuda yang baru. Pertama, agar keuangannya tidak berdarah-darah lagi, maka dia harus tahu keuangan. Kalau bisa dia berasal dari perbankan. Orangnya harus kredibel agar dapat dipercaya kreditur. Kedua, dia harus jujur agar dapat memberantas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Ketiga, kepribadiannya harus kuat karena dia harus melakukan perubahan. “Kriteria itu hanya ada di Robby Djohan,” kata Tanri Abeng yang telah mengenalnya selama 20 tahun. “Robby ketika saya tawari posisi tersebut menyatakan bahwa dia tak butuh kerjaan karena dia sudah kaya dan ingin pensiun.” Tanri Abeng membujuknya. Robby bersedia dengan dua syarat “beri saya kewenangan mengambil orang-orang yang saya mau dan kasih waktu enam jam per hari.” Tanri Abeng menyetujuinya dengan mengatakan, “Anda butuh enam, dua atau dua puluh jam sehari terserah asal pekerjaan selesai.” Menurut Rhenald Kasali dalam Change! Robby sendiri mengakui tak tahu apa-apa tentang bisnis penerbangan. Satu-satunya pengalaman yang dia miliki hanyalah menjadi penumpang. Selebihnya dia menghabiskan hidupnya di dunia perbankan (Bank Niaga) dan perhotelan. Wajar saja dia risau. Apalagi utang Garuda saat itu telah mencapai 1,2 miliar dolar, lebih besar dari seluruh asetnya. Selain itu, Garuda memiliki karyawan hampir 13.000. Padahal kebutuhannya hanya sekitar 6.000 orang. Banyak rute yang tidak produktif, sepi penumpang tetapi dibiarkan bertahun-tahun. Citra pelayanannya buruk, sering delay tanpa pemberitahuan. Sehingga Garuda diplesetkan sebagai Garuda Always Reliable Until Delay Announced. “Singkatnya, Garuda telah salah urus,” tulis Rhenald. Robby Djohan, Direktur Utama Garuda Indonesia (Februari-Oktober 1998). (katadata.co.id/syuef.blogspot.co.id). Menurut Roby Djohan dalam bukunya, The Art of Turn Around, manajemen Garuda tidak pernah diurus secara profesional: pengangkatan CEO tidak berdasarkan keahlian manajerial, keputusan-keputusan strategis tidak diambil oleh direksi tapi oleh siapa saja dari Cendana, BPPT, Menteri Perhubungan, atau Menteri Keuangan. Akibatnya, banyak kontrak aneh. Misalnya, pesawat Airbus 330 disewa dengan harga 1,2 juta dolar padahal hasilnya paling tinggi 800 ribu dolar. Belum lagi perilaku para direksi sebelumnya yang mencampuradukkan keperluan bisnis dengan keperluan pribadi. Pada hari-hari pertama kerja, Robby disambut dengan demonstrasi karyawan Garuda. Kepada mereka yang menamakan diri Tim Reformasi, Robby mengatakan, “kesulitan utama memang adalah tidak adanya acceptance, karena organisasi seperti ini biasanya sudah dikuasai oleh establishment yang kuat. Sulit bagi mereka menerima seorang stranger yang dianggap belum tentu mampu dan jangan-jangan akan membubarkan establishment yang sudah dibangun. Tapi saya tidak mau mundur. Saya malah menyatakan bahwa Garuda sebenarnya sudah bangkrut dan saya di sini akan berusaha memperbaikinya." Robby meminta Tim Reformasi atau serikat pekerja tidak ikut campur soal manajemen. Soal kesejahteraan diselesaikan bersama. Tim Reformasi akhirnya tak terdengar lagi. Tapi juru bicaranya belakangan menjadi teman yang baik dalam pembenahan manajemen. Menurut Tanri Abeng, untuk menerbangkan Garuda agar bertahan di udara, Robby butuh uang Rp800 miliar untuk rasionalisasi karyawan. Dia berjanji selama satu tahun uang akan kembali. Ternyata, dalam delapan bulan saja utangnya telah dibayar. Keberanian juga dibutuhkan untuk menghadapi kreditur. Sebagai bankir, Robby tahu caranya memperlakukan debitur-debitur saat mengalami kesulitan membayar. Dengan Emirsyah Satar, direktur keuangannya yang juga seorang bankir, dia berangkat ke London untuk berbicara dengan Bank Exim negara-negara Eropa. "Benar saja, mereka langsung menggebrak, mengintimidasi dengan suara keras, dan mengancam akan menyita pesawat A330 yang disewa," tulis Rhenald. Dengan tenang, Robby menjawab: “Saya datang bukan untuk memecahkan masalah saya tapi masalah Anda. Alasan utama mengapa Garuda kolaps adalah karena bank-bank internasional memberikan pinjaman kepada Garuda yang neraca keuangannya defisit. Dari pengalaman saya selama 30 tahun di bank, saya tidak dapat memahami itu. Dan jika Anda ingin mengambil kembali pesawat Anda, silakan lakukan karena tidak produktif bagi kami.” “Negosiasi berlangsung alot awalnya, tapi Robby dan Emirsyah Satar tak mau mundur. Dia hanya mau membayar pinjaman dalam tempo 16 tahun dengan bunga satu persen di atas SIBOR (Singapore Interbank Offered Rate). Keras, tapi bisa berakhir dengan baik,” tulis Rhenald. Tak sampai setahun Robby memimpin, Garuda selamat dari kebangkrutan. Baginya, restrukturisasi berarti membuang yang jelak-jelak dengan melakukan perubahan-perubahan mendasar. Kepemimpinan, proses manajemen dan operasional, pemasaran, dan sebagainya diubah secara bersamaan. Karena manajemen Garuda sudah bisa keluar dari kesulitan, Tanri Abeng memutuskan untuk menarik Robby kembali ke habitatnya di perbankan. Dia meminta Robby untuk memimpin proses merger empat bank bermasalah. “Ketika saya tawarkan posisi ini ke Robby, dia tak mau kembali ke dunia perbankan. Dia sudah terlanjur kecantol cantik-cantiknya pramugari Garuda,” kata Tantri Abeng. Namun, akhirnya Robby menerima tantangan untuk memimpin proses mega merger jadi Bank Mandiri.

  • Jurus Brompton Menjadi yang Tersohor

    Kasus dugaan penyelundupan Harley Davidson dan dua sepeda lipat premium merek Brompton menerpa maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Ari Askhara, direktur utama Garuda, terlibat penyelundupan tersebut. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut negara berpotensi rugi Rp532 juta—Rp1,5 miliar. Harga barang selundupan itu termasuk tinggi. Satu sepeda Brompton saja berharga Rp50-60 juta. Meski termasuk mahal untuk kebanyakan orang Indonesia, Brompton laris manis. Sebanyak 5.000 Brompton terjual ke Indonesia pada 2018. Angka itu 10 persen dari total penjualan Brompton di seluruh dunia. Will-Butler Adams, CEO Brompton, pun kaget sepeda itu beroleh tempat di Indonesia. Sementara bagi pesepeda, Brompton adalah sepeda impian. Lambang kesempurnaan dan pencapaian. “Kelebihannya, anti murah dan meningkatkan strata sosial,” canda Gamma Riantori, penggemar sepeda. Candaan itu menggambarkan keunggulan Brompton dibanding sepeda lainnya. Untuk menjaga kualitas, Brompton tak jor-joran memproduksi sepeda. Ini sesuai dengan prinsip awal Andrew Ricthie, pembuat pertama sepeda Brompton, ketika mendirikan pabriknya. “Itu (jumlah yang terlalu banyak, red.) bisa menghancurkan perusahaan,” kata Andrew Ritchie, dalam theguardian.com. Brompton juga menolak pesanan dengan jumlah tertentu dari berbagai pihak. Tak heran kepemilikan sepeda Brompton begitu eksklusif dan terbatas. “Karena udah handmade dan jam kerjanya terbatas. Super profesional,” kata Arman Widyastama, penggemar sepeda lainnya. Kebanyakan pengguna Brompton adalah pekerja kantoran di kota. Mereka melipat sepeda itu saat memasuki angkutan umum dan menyimpannya di bawah meja kantor tanpa kesulitan. Mereka mengaku butuh sepeda berkualitas, nyaman, dan praktis. Tiga hal ini yang sejak awal dilihat oleh Andrew Ritchie. Dia insinyur lulusan Universitas Cambridge, Inggris. Idenya membuat Brompton berawal dari keinginannya membuat sepeda bisa dibawa masuk ke dalam apartemen yang sempit di London. Selain itu, dia melihat warga London terlalu banyak mengeluarkan biaya dari rumah ke stasiun kereta bawah tanah dan bandara. Jika warga pergi dari rumah ke bandara dengan naik taksi, biayanya hampir sama dengan naik pesawat terbang keliling kota. Andrew berpendapat harusnya warga bisa lebih mudah beraktivitas bila ada pilihan moda transportasi lain. Moda transportasi itu juga mesti sanggup mengantarkan warga dari rumah ke stasiun dengan cepat dan murah. Laman curbsidecycle.com mengungkapkan, London adalah kota yang tumbuh berkat jaringan jalan dan jalur kereta api bawah tanah. Warga mengandalkan kereta bawah tanah untuk bepergian. Jika hendak menuju stasiun, warga akan memilih naik mobil atau taksi. Tapi tak semua warga punya mobil dan sanggup bayar taksi terus-menerus. Nah, bagaimana jika warga tak perlu lagi menggunakan taksi atau mobil saat hendak menuju stasiun? Bagaimana jika warga pun bisa membawa sepedanya ke dalam kereta untuk melanjutkan perjalanannya dari stasiun ke tempat tujuan? Di sinilah otak kreatif Andrew bekerja. Sebuah sepeda yang bisa dilipat atau bahkan dimasukkan dalam koper! Bukan yang Pertama Sepeda lipat sebenarnya telah muncul sejak 1887. Penemunya orang Amerika bernama Emmit G. Latta. Penemuannya memungkinkan orang melipat sepeda saat tak digunakan. Saat itu ukuran sepeda lebih besar dari sekarang. Lipatan itu tak mengubah ketinggian sepeda, melainkan memperpendeknya sehingga sedikit menghemat ruang penyimpanan. Penemuan teknologi sepeda lipat terus berkembang. Para insinyur melakukan penyempurnaan pada titik lipatannya. Kaprah pada masa itu sepeda lipat sering rusak pada titik lipatan. Insinyur juga berpikir untuk memperkecil ukuran sepeda dari sisi lebar dan tingginya. Tak cuma panjangnya. Pemakai sepeda lipat pertama berasal dari kalangan militer. “Tapi desainnya benar-benar tak praktis,” sebut Suze Clemitson dalam A History of Cycling in 100 Objects. Melalui berbagai penyempurnaan teknologi, sepeda lipat untuk masyarakat sipil jauh lebih praktis. Pada 1970-an, sepeda jenis ini di Amerika Serikat lebih sohor dengan nama pocket bicycle atau sepeda kantong. “Dapat dimasukkan ke dalam kopor kecil yang biasa dipakai orang ke luar kota untuk kunjungan singkat,” catat Anwari dalam Sejarah Sepeda dari Masa ke Masa. Melipatnya cukup dengan tiga gerakan dan hanya memerlukan waktu 20 detik. Sepeda buatan pabrik Hub & Axel Bicycle Works Inc. beredar secara terbatas. Harganya US750 dolar atau sekira Rp480.000 setara dengan Rp10,8 juta nilai uang sekarang. Cukup mahal untuk zaman itu. Tapi lembaga konsumen Amerika justru tak menyarankan masyarakat memakai sepeda mahal itu. Menurut mereka, masih ada kemungkinan engsel lipatannya lepas. Di Inggris, dalam dekade 1970-an, warga mulai memakai sepeda lipat merek Bickerton. Inilah sepeda pertama yang panjang, lebar, dan tingginya benar-benar menyusut. Sepeda ini cocok untuk warga penghuni apartemen kecil. Tetapi sepeda ini tidak cukup kecil untuk masuk ke kereta bawah tanah. Penjualannya tak banyak. Pabriknya pun bangkrut. Andrew menyadari kegagalan dan kelemahan sepeda lipat generasi terdahulu. Dia bekerja siang-malam di apartemen mungilnya untuk membuat sepeda lipat terbaru. Dia menghitung secara presisi bagian mana yang seharusnya bisa dijadikan lipatan. Termasuk pula bahan seperti apa yang kuat untuk menopang pengendaranya. Bahan itu mesti enteng juga sehingga orang tak kepayahan ketika berkendara atau mengangkatnya. Gaya Hidup Pada akhirnya, Andrew berhasil menciptakan sepeda impiannya. Dia menamai sepeda itu Brompton, merujuk pada nama gereja Brompton Oratory di seberang apartemennya. “Saya telah menciptakan karpet ajaib yang bisa anda simpan di saku. Hal lama yang diimpikan oleh banyak orang,” kata Andrew dalam wawancara dengan Kate Abbot, jurnalis guardian.com. Rancangan Brompton tak banyak berubah dari tahun ke tahun. Matematika dasar, geometri, dan tekniknya telah begitu sempurna. Dengan begitu, orang tak akan melihat banyak perbedaan pada Brompton lama dan baru. Tetapi kualitas bagian sepeda itu terus meningkat. Untuk semua upaya keras dan fokusnya pada kualitas, Andrew membanderol Brompton dengan harga tinggi. Brompton tak lekas meraih pasaran di negeri asalnya. Reputasi Brompton menjalar dari mulut ke mulut secara perlahan hingga akhirnya menjadi yang tersohor di dalam negeri dan mendapat pasaran ekspor. “Butuh 30 tahun dan sekarang kami mengekspor 80% sepeda kami,” kata Will Carleysmith, kepala desain Brompton, kepada Kate Abbot. Ekspor Brompton bahkan sampai ke kutub selatan. Pembelinya seorang peneliti.  Di Jepang, Brompton membuat fenomena baru. Orang-orang di sana telah lama karib dengan sepeda. Kebanyakan sepedanya model angsa dengan keranjang di depan. Pemerintah menyediakan fasilitas sepeda cukup lengkap, mulai dari tempat parkir sampai jalur khusus. Lalu Brompton masuk dan menjadi bagian gaya hidup baru orang Jepang. Di Indonesia, sepeda lipat masuk pada pertengahan dekade 2000-an. Sepeda lipat menantang dominasi sepeda gunung, balap, dan kumbang. Kebanyakan pemakainya berada di kota. Memasuki dekade 2010-an, Brompton menjelajah Indonesia, seiring tumbuhnya gairah bersepeda orang-orang di kota.  Brompton memperoleh tempat lapang di kalangan pesepeda. Kelas menengah dan atas sanggup menebusnya. Meski kadang mereka harus membohongi istrinya tentang harga sepeda itu. Harga Rp25 juta dibilang hanya Rp5 juta, harga yang normal untuk sepeda lipat kebanyakan.  "Ini kebanyakan penyakit pesepeda," kata Sofian Purnama, pengguna sepeda harian sekaligus pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Kini Brompton sudah jamak tersua di jalanan kota-kota besar. Ia tak hanya menjadi gaya hidup, tapi juga simbol status, pencapaian, dan gambaran tumbuh suburnya kelas menengah dan atas di kota-kota besar.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page