top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sukarno Dilempar Granat Masih Selamat

    Percobaan pembunuhan pertama terhadap Presiden Sukarno. Peristiwa Cikini ini mengakibatkan banyak korban jiwa.

  • Buah Pena Multatuli

    Multatuli identik dengan Max Havelaar. Padahal ia punya karya lain, yang tak kalah sukses.

  • Prasangka Pada Pasien Jiwa Pribumi

    SEORANG lelaki muda dari Yogyakarta yang berprofesi sebagai asisten juru tulis diantar keluarganya ke Rumahsakit Jiwa (RSJ) Magelang. Sebelumnya, ia terserang demam. Kemungkinan besar, demamnya berasal dari stres. Selama bekerja, ia terus meragukan kemampuannya sendiri hingga stres dan membuatnya menderita gangguan jiwa. Selain stres, faktor lain yang dianggap memicu gangguan jiwa ialah kemiskinan. Pasien lain yang berobat ke RSJ Magelang merupakan mantan kuli kontrak di perkebunan Deli. Orang di sekitarnya menganggap si mantan kuli orang bingung. Begitu masuk RSJ, mantan kuli itu langsung ditanya petugas kesehatan tentang apa yang dirasakan, melihat sesuatu, atau mendengar hal-hal aneh. Diagnosis dokter, seperti dikutip Sebastiaan Broere dalam tesisnya “In and Out Magelang Asylum”, menyatakan si kuli menderita delusi parah. Mendiagnosis pasien pribumi di era kolonial tak mudah. Kebanyakan pasien menjawab tidak tahu ketika ditanya tentang kondisinya. Di RSJ Malang, mayoritas pasien dideskripsikan mengalami “bingung” atau linglung yang disebabkan oleh stres. Kebingungan para pasien itu menyebabkan para psikiatris Belanda ikut kebingungan lantaran kendala bahasa dan prasangka kolonial mereka. Psikiatris Belanda PHM Travaglino mengalaminya ketika berjaga di RSJ Malang pada 1920-an. Alhasil, Travaglino kerap kesulitan mendiagnosis pasiennya. Saking bingungnya, ia pernah membuat lelucon tentang kelompok pasiennya. Ada tiga: kelompok yang selalu menjawab tidak tahu, tidak mau, dan kelompok pasien yang belum diperiksa kejiwaannya. Travaglino percaya bahwa alam pikir orang Eropa dan pribumi berbeda. Menurutnya, kaum pribumi masih berada dalam tahap awal perkembangan evolusi sehingga kondisi psikologisnya amat emosional. Ia menganggap orang pribumi sering membuat keributan karena emosi yang meledak-ledak dan berpotensi 10 kali lebih tinggi membuat kerusuhan dibanding orang Eropa. Kebingungan dan prasangka rasial yang dialami psikiatris Eropa sudah menjadi pembahasan sejak permulaan abad ke-20. Pada 1906, Inspektur Layanan Medis Sipil AG Vorderman menyarankan Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri JH Abendanon untuk membentuk satuan tugas dokter pribumi yang khusus menangani gangguan jiwa. Pendapat Vorderman mengacu pada pengakuan Raden Soemeroe, seorang dokter Jawa, yang mengatakan pekerjaannya di RSJ Bogor amat berguna selain sebagai penerjemah juga memandu psikiatris Eropa memahami latarbelakang kultur para pasien pribuminya. “Misalnya, kata baik-buruk atau pintar-bodoh bermakna berbeda bagi orang Eropa dan pribumi. Penilaian tentang ketidaknormalan juga berbeda,” kata Soemeroe seperti dikutip Liesbeth Heeselink dalam Healers on the Colonial Market. Soemeroe lebih jauh berpendapat, pemahaman dokter Jawa pada karakter, bahasa, budaya, dan kondisi lingkugan pribumi memudahkan mereka untuk bersimpati pada pasien pribumi. Hal itu sulit dilakukan para dokter Eropa meski sudah mendapat pelatihan penanganan pasien pribumi. Pejabat layanan medis sipil agaknya mengamini pengakuan Soemeroe. Alhasil, satu atau dua orang dokter Jawa selalu dipekerjakan di RSJ Bogor dan Lawang, Malang untuk mendampingi dokter jiwa Eropa. Di sisi lain, kebijakan itu juga amat ekonomis lantaran meminimalisir anggaran untuk mempekerjakan dokter Eropa. Menurut Liesbeth, alasan ekonomilah yang paling mendorong Komite Kesehatan Kolonial menyepakati ide Soemeroe alih-alih penjabaran sosio-kulturalnya. Pada 1912, anggaran untuk RSJ makin ditekan. Alhasil, pasien pribumi lebih banyak dipegang oleh dokter Jawa dengan pengawasan rutin dokter Eropa. Padahal, seperti ditulis Hans Pols dalam NurturingIndonesia, para pendukung Politik Etis berpendapat bahwa psikologis pribumi dan orang Eropa sebenarnya serupa. CF Engelhard, pengawas kesehatan yang bertugas di Surakarta dan tinggal di Jawa hingga pasca-kemerdekaan, berpendapat bahwa perbedaan kondisi terjadi karena faktor eksternal. “Dengan penuh hormat pada budaya mereka, symptom, perkembangan, dan psikosis orang Jawa tidak berbeda dengan apa yang saya temui di Eropa,” kata Engelhard. Engelhard menyadari bahwa cara pandang semacam ini berkebalikan dengan apa yang diamini para psikiatris di era kolonial seperti Travaglino. Alih-alih menggarisbawahi persamaan, psikiatris Travaglino lebih menekankan pada perbedaan mendasar antara kondisi kejiwaan pasien pribumi dan Eropa.

  • Mencintai Indonesia dalam Suka dan Duka

    AGNES Monica alias Agnez Mo bikin heboh. Dalam wawancaranya dengan Build Series by Yahoo, penyanyi kelahiran Indonesia yang tengah go-international itu mengaku tak punya keterkaitan apapun dengan Indonesia. “Sebenarnya aku enggak punya darah Indonesia atau apapun itu. Aku (berdarah) Jerman, Jepang, China dan aku hanya lahir di Indonesia. Aku juga Kristen dan mayoritas di sana Muslim. Aku tidak bilang bahwa aku tidak berasal dari sana karena saya merasa diterima. Tetapi saya merasa tidak seperti yang lain,” cetusnya. Pernyataan itu sontak memancing respon netizen Indonesia. Banyak yang mengecam ia seolah jadi kacang lupa pada kulitnya atau mengutuk betapa tak bersyukurnya Agnes yang memulai kariernya dari penyanyi cilik di Indonesia. Pun begitu dengan sejumlah media yang ramai-ramai memberitakan pernyataan kontroversial Agnes dengan menitikberatkan pada “saya enggak punya darah Indonesia.” Alhasil, sejumlah tokoh maupun politisi ikut mengkritik Agnes. Padahal, bukan seperti itu maksud Agnes. Ia merasa pernyataannya disalahpersepsikan hingga dipelintir sejumlah pihak. Lewat akun Instagram-nya, Agnes memberi klarifikasi.   “Orang-orang yang hanya ingin menyebar kebencian dengan memelintir pernyataan dan niat saya harusnya malu. Saya hanya mengatakan hal baik, bahkan ketika saya seorang minoritas, saya turut menyebarkan perbedaan yang luar biasa yang saya pelajari di negeri saya. Saya tak bisa memilih darah atau DNA saya, namun saya selalu berdiri untuk negara saya,” kata Agnes di akunnya, @agnezmo. Baginya, Indonesia tetap negeri yang dicintainya, terlepas baik atau buruk pengalaman hidup dalam keragaman yang pernah dirasakannya. Nama besar Indonesia tetap ingin diusungnya di pentas internasional manapun dia berkiprah sebagaimana dilakukan Luis Leeds, pembalap mobil milenial blasteran Indonesia-Australia. Luis Leeds bermimpi tampil di ajang F1 dengan bendera Indonesia (Foto: luisleeds96.com) Belakangan, Leeds “pulang” ke Indonesia, tanah kelahiran ibunya, karena menjatuhkan hati pada Indonesia ketimbang Aussie. Leeds mendambakan jadi pembalap Formula One (F1) dengan bendera merah-putih melekat di mobilnya. Dia tak peduli minimnya infrastruktur pendukung kariernya. “Saya bisa duduk seharian dan berbicara tentang mengapa saya mencintai Indonesia dan mengapa saya terinspirasi untuk pulang ke rumah. Dalam karier balap saya selalu memiliki bendera Indonesia tapi saya tidak pernah berdiri di podium dengan bendera Indonesia di belakang. Saya menyelesaikan musim 2018 (Formula 4) sebagai juara Australia. Jadi sekarang saatnya saya memberikan pengakuan kepada Indonesia bahwa saya merasa layak dan di sinilah saya,” ungkapnya saat diwawancara Kumparan, Jumat (22/11/2019). Hidup-Mati untuk Indonesia Harus diakui, hingga kini pengakuan dunia kepada Indonesia lebih banyak berasal dari bidang olahraga dibanding bidang musik yang dijalani Agnez Mo. Mayoritas pengakuan internasional itu datang dari bulutangkis, olahraga yang semua gelar kejuaraan prestisius internasionalnya pernah dijuarai atlet Indonesia. Dari sekian banyak “pahlawan” yang mengharumkan nama bangsa lewat bulutangkis itu, banyak yang beretnis Tionghoa, beragama minoritas, dan punya pengalaman pahit soal diskriminasi. Pun begitu, mereka hanya mengakui Indonesia sebagai negerinya. Tak pernah ada pernyataan “sekadar numpang lahir di Indonesia” dari mereka. Lie Ing Hoa alias Ivana Lie, contohnya. Kendati status kewarganegaraannya lama tak diakui, dia berulangkali memberi kebanggaan pada negeri dengan menjuarai berbagai kejuaraan internasional. “Lima tahun bertanding di luar negeri, (saya, red.) pakai selembar kertas seperti surat jalan yang menyatakan saya warga negara Indonesia. Jadi sebenarnya lima tahun itu saya stateless. Sedih rasanya. Secara manusia perlu pengakuan ya. Saya merasa bahwa saya lahir di Indonesia, saya berbudaya, berbahasa, merasa sebagai bangsa Indonesia dan sudah membuktikan dengan bertanding bawa nama Indonesia,” kata Ivana kepada Historia. Ivana baru mendapat kewarganegaraan pada 1982 dengan keluarnya SBKRI. Selepas pensiun pada 1990, ia tetap mendarmabaktikan diri menjadi pelatih tim bulutangkis Indonesia hingga kemudian dipercaya jadi staf ahli Menpora Andi Mallarangeng dan Roy Suryo. Kisah serupa juga dialami Liang Tjiu Sia, pelatih yang melahirkan banyak srikandi bulutangkis tingkat dunia seperti Susy Susanti. Sia lahir di Cirebon 69 tahun lampau. Kendati merintis karier di China akibat diskriminasi rasial pada 1966 membuat sekolah Tionghoa yang diikutinya bubar, ia kembali ke Indonesia pada 1985 untuk menjadi pelatih pelatnas putri PBSI. SBKRI didapatnya baru empat tahun kemudian. Kiri ke kanan: Ivana Lie, Christian Hadinata, Liang Tjiu Sia, Alan Budikusuma (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Kepelatihan Sia berjalan hingga 2003. Meski China meminta servisnya kembali setelah itu, Sia menolaknya. “Separuh hidup saya sudah di sana (Cina). Saya inginnya menghabiskan umur di sini. Saya kan lahir di sini. Mati juga inginnya di sini,” ujarnya kepada Historia. Kebanggaan pada Indonesia sebagai “tanah tumpah darah” juga lekat di diri Tjhie Beng Go’at alias Christian Hadinata. Pria kelahiran Kebumen, 11 Desember 1949 ini enggan “menggadaikan” negerinya demi apapun. Setelah jadi langganan juara di mancanegara sebagai pemain, ia memilih jadi pelatih Indonesia. Pantang ia menerima tawaran melatih negeri lain. “Bulutangkis Indonesia sudah membesarkan nama saya. Masak sih enggak mau mengembalikan sesuatu untuk bulutangkis nasional? Saya kepingin mengembalikan, dalam arti tenaga, pikiran, waktu, untuk bisa tetap membangun prestasi bulutangkis Indonesia seperti yang sudah dibangun para senior saya,” ujar Christian. Kebanggaan pada Indonesia sebagai tanah-air yang tak kalah besar tentu terdapat dalam diri Susy Susanti (Wang Lianxiang). Ketika ia berlaga di Uber Cup 1998 di Hong Kong yang berbarengan dengan huru-hara 1998, Susy tetap mati-matian memperjuangkan nama baik negerinya di lapangan meski rumah orangtuanya di Tasikmalaya sempat dibakar massa. Kebanggaan pada Indonesia itu tercermin dari jawabannya ketika diwawancara reporter CNN, apakah dirinya akan meminta suaka ke pemerintah Hong Kong dan apakah dia masih menganggap orang Indonesia. “Saya tidak menganggap diri saya orang Indonesia. Saya tidak perlu menganggap begitu. (Karena) saya orang Indonesia. Dan akan selalu menjadi orang Indonesia,” jawab Susy. Alan Budikusuma (Goei Renfang), suami Susy yang kala itu masih jadi pacar, setali tiga uang dengan Susy. Saat ingin menikahi Susy pada 1997, keduanya kesulitan mengurus dokumen pernikahan gegara perkara SBKRI. Betapapun demikian, cintanya pada Indonesia tak luntur. “Saya mempertanyakan kenapa SBKRI harus ada? Kenapa saya dipertanyakan tidak nasionalis, padahal saya bangga dengan Indonesia. Saya lahir di Indonesia (Surabaya, 29 Maret 1968). Orangtua saya juga lahir di Indonesia. Kita pun ingin meninggal di Indonesia, bukan di luar (negeri). Saya orang Indonesia walaupun saya orang Tionghoa,” tutur Alan. Ragam Indonesia dalam DNA Kisah-kisah mereka hanya seujung kuku dari sejumlah orang Indonesia lain yang bangga mengakui Indonesia sebagai negerinya kendati pernah didera perlakuan diskriminatif. Isu rasial memang masih jadi “penyakit” yang belum kunjung sembuh. Penyakit sosial warisan kolonial Belanda itu menyisakan kepahitan pada golongan minoritas. Celakanya, banyak orang tak paham terhadap konsep Indonesia sehingga seringkali berlaku rasis, seperti yang dilakukan dalam merespon pernyataan Agnes. Fenomena ini membuat sejarawan Bonnie Triyana mengatakan bahwa apa yang disampaikan Agnes esensinya sudah betul karena Indonesia dibangun dari konsensus beragam orang dengan latar belakang ras, etnik, politik, dan agama berbeda. Indonesia tidak dibangun dari keterikatan ras yang homogen. Namun, cara penyampaian Agnes saja yang kurang tepat sehingga menimbulkan misinterpretasi dari masyarakat, terutama di dumay. “Identitas kebangsaan Indonesia tidak dibentuk berdasarkan darah (biologis). Kalau Agnes mau menjelaskan dia secara biologis bukan orang Indonesia, padahal untuk jadi orang Indonesia enggak butuh pembuktian biologis, ya dia enggak bisa membedakan konsep ras (biologis), etnis (non-biologis) dengan kebangsaan (sosiologis-politis),” cetus Bonnie. Najwa Shihab dan Grace Natalie yang turut mengikuti tes DNA dalam rangka Pameran Asal Usul Orang Indonesia (Foto: Dok. Historia) Ketidakpahaman masyarakat akan keindonesiaan itulah yang mendorong Historia.id bersama Kemendikbud menggelar pameran Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) melalui proyek tes DNA. Sejumlah relawan yang dites ternyata memiliki nenek moyang beragam darah dari berbagai penjuru dunia. Hasil tesnya menjadi bukti bahwa apa yang disebut orang Indonesia menggugurkan konsep pribumi-nonpribumi, warisan kolonial yang menguat sejak beberapa tahun ke belakang. Bukti heterogenitas individu Indonesia antara lain, hasil tes DNA presenter kondang Najwa Shihab. Di ranah publik ia disebut berdarah Arab. Namun hasil tes DNA-nya  menyatakan mayoritas DNA-nya berasal dari Asia Selatan, yakni 48,54 persen. DNA Timur Tengahnya hanya 3,48 persen. Sementara, di tubuhnya bercampur banyak DNA mulai dari Afrika Utara, Asia Timur, hingga Eropa Selatan. “Di tengah begitu banyak perbedaan yang ada di dalam diri kita, sesungguhnya ini juga menguatkan bahwa satu hal yang menjadikan kita Indonesia adalah niat bersama untuk menjadikan ini rumah bagi semua. Indonesia adalah rumah bersama dan merah-putih jadi tujuan kita sama-sama,” kata Najwa. Hasil tes DNA Grace Natalie, ketua Partai Solidaritas Indonesia, juga menjadi bukti bahwa Indonesia merupakan percampuran banyak ras. Kendati penampakannya sangat Tionghoa, yang membuatnya acap jadi korban diskriminasi, hasil tes DNA- Grace adalah: 76,92 persen Asia Timur, 21,98 persen Diaspora Asia, 1,11 persen Asia Selatan, dan 0,01 persen Afghanistan. "Yang menyatukan kita adalah kesamaan nilai, kesamaan visi, kesamaan cita-cita,” kata Grace.

  • Awal Mula Barang Plastik di Indonesia

    RISET International Pollutant Elimination Network (IPEN), jaringan lembaga swadaya masyarakat internasional untuk lingkungan hidup, menyebutkan telur ayam di dua desa di Jawa Timur berbahaya bagi manusia. Telur itu mengandung dioksin, senyawa hasil pembakaran sampah atau limbah plastik. Demikian rilis IPEN seperti diberitakan bbc.com.

  • Nurtanio, Perintis Industri Pesawat Indonesia

    Dia membuat Indonesia menjadi pelopor industri penerbangan di Asia.

  • Stadion Rizal Memorial Dulu dan Kini

    SEJAK bertolak ke Manila, Filipina pada Kamis, 21 November 2019, Timnas U-23 Indonesia langsung bersiap guna meladeni Thailand di Grup B cabang sepakbola SEA Games 2019, lima hari berselang. Sebagaimana dikutip situs PSSI, timnas asuhan Indra Sjafri itu langsung menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan di Stadion Rizal Memoriam yang bersama Biñan Football Stadium di Provinsi Laguna akan jadi satu dua venue cabang sepakbola. “Kondisi lapangan cukup baik. Bahkan lebih bagus dibanding lapangan C Senayan dan Kamboja. Kami memang perlu adaptasi dan Alhamdulillah latihan pertama cukup memuaskan,” cetus Indra. Yang dimaksud PSSI dalam lamannya tentu Rizal Memorial Stadium, karena ada typo dalam penulisan sehingga menjadi Rizal Memoriam. Stadion itu mungkin venue olahraga paling legendaris di “Negeri Pinoy. Ia berdiri gagah di tengah-tengah Rizal Memorial Sport Complex (RMSC) yang diarsiteki Juan Marcos Arellano y de Guzmán pada 1933 dan rampung setahun berikutnya. Proyek Amerikanisasi di Filipina Sejak 1901, Filipina dikuasai Amerika Serikat lewat pemerintah insularnya. Gabriel Victor Caballero, sejarawan cum pakar International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) Filipina, mengungkapkan, pemerintah insular Amerika mulai “memetakan” modernisasi kota Manila lewat rancangan arsitek Daniel Burnham sejak 1905. Modernisasi itu lebih bernuansa Amerika, yang ditandai salah satunya dengan menggalakkan olahraga berikut infrastrukturnya. “Salah satunya untuk mengganti hiburan rakyat seperti sabung ayam, untuk kemudian mengalihkannya ke olahraga, untuk menjadi cerminan yang lebih baik akan kultur Amerika. Untuk meningkatkan standar hidup masyarakat Filipina menjadi lebih maju,” sebut Caballero dalam artikelnya di Modern ASEAN Architecture Project: 2015-2020, “The Role of Sports Facilities in Metro Manila’s Urban Living from the 1930s to 1970s”. Pada 1908, salah satu infrastruktur yang sudah tersedia adalah Manila Carnival Grounds (MCG). Kompleks hiburan itu pada 1913 dialihfungsikan menjadi venue Far Eastern Championship Games (FECG). Pesta olahraga multicabang pendahulu Asian Games itu diprakarsai Filipina pada 31 Januari 1913. Selain tuan rumah, event itu diikuti Republik Cina dan Kekaisaran Jepang. Pada 1924, Gubernur Jenderal Leonard Wood mencanangkan Manila Carnival Grounds untuk dijadikan kompleks olahraga. Keputusan itu muncul setelah lahan MCG disumbangkan ke pemerintah oleh keluarga Vito Cruz selaku pemilik. “Kompleksnya didesain Juan Arellano yang populer mengarsiteki bangunan-bangunan bergaya neo-klasik dan art deco di masa itu. Pembangunannya dimulai pada 1927 dan tujuh tahun kemudian diresmikan dan dibuka seiring FECG ke-10 pada 1934,” sambung Caballero. Rancangan Rizal Memorial Sport Complex jelang dibangun pada 1927 (Foto: Repro "American Colonisation and the City Beautiful") Di antara venue-venue bisbol, tenis, dan atletik, stadion sepakbolanya menjadi yang paling ikonik. Stadion itu diberi nama Rizal Memorial Stadium untuk menghormati “bapak” revolusi Filipina José Protasio Rizal Mercado y Alonso Realonda alias José Rizal. “Stadion Rizal Memorial berkapasitas 30 ribu penonton. Seperti stadion-stadion olahraga lain di dunia, bangunannya terdiri dari beton tebal dengan banyak motif berbahan kaca bergaya art deco. Sebelum 1941, stadion beserta kompleksnya merupakan kompleks olahraga tertua di Asia,” ungkap novelis cum veteran Perang Dunia II Atilano Bernardo David dalam End of the Trail: A Novel of the Philippines in World War II. Gelaran FEGC 1934 jadi ajang besar terakhir yang digelar di stadion itu. Pasalnya sejumlah bagian bangunan stadion ikut rusak akibat Perang Dunia II. Perbaikan stadion dan venue lain di kompleks RMSC baru bisa dilakukan pada 1953, dalam rangka Asian Games 1954. Sebagaimana Stadion GBK, Stadion Rizal Memorial acap jadi tempat pagelaran banyak akvititas di luar olahraga. Yang paling melekat di ingatan publik Filipina adalah konser The Beatles pada 4 Juli 1966. Rizal Memorial Stadium pada 1960 (kiri) dan arsiteknya Juan Arellano (Foto: Repro "The Role of Sports Facilities in Metro Manila’s Urban Living from the 1930s to 1970s") Hingga 2019, stadion Rizal sudah enam kali direnovasi. Kapasitasnya kini menciut jadi 13 ribu penonton. Pengurangan kapasitas itu untuk menyesuaikan jenis kursi berstandar AFC. Rumput lapangannya pun kini sudah berganti menjadi rumput sintetis. Sejak 2015, stadion ini mulai ditinggalkan timnas Filipina. Terlebih setelah eksisnya sejumlah stadion anyar macam Panaad Stadium di Bacolod, atau Philippine Sport Stadium (kini Philippine Arena) di Bocaue. Bila di Asian Games 1954, Kejuaraan Asia Yunior 1966 dan 1970, dan SEA Games 1981 dan 1991 Stadion Rizal Memorial menjadi lokasi utama, kini hal itu tidak lagi disandangnya. Di SEA Games 2005, stadion ini hanya dijadikan venue atletik. Untuk SEA Games tahun ini, ia hanya sekadar jadi venue cabang sepakbola. Pembukaan SEA Games 2019 bakal digelar di Philippine Arena dan penutupannya di New Clark City Athletics Stadium.

  • Armada Maut Coen

    Pala menjadi berkah sekaligus bencana bagi orang Banda, yang dibunuh dan terusir dari tanah airnya.

  • Tak Payah Dirundung Fitnah

    DEMI mendapatkan tulisan nama masing-masing di telapak tangan, anak-anak perempuan di Simpang Tonang Tolu rela berkumpul di rumah Sitti Rohana (Kudus). Mereka rela mengantri. Mereka amat gembira begitu Rohana selesai menuliskan nama mereka. Telapak tangan terus mereka pandangi begitu sudah tertera nama diri sendiri. Mereka hafalkan tiap goresan. “M-A-L-A, Mala,” kata Rohana mengajari teman sebayanya. Kesenangan itu ternyata memantik dengki sebagian orang. Ada saja yang mencibir aktivitas Rohana dan kawan-kawannya dengan bilang “banyak lagak” atau menyamakan Rohana dengan anak lelaki. Rohana diam saja. Ia tak ambil pusing. Ketika kembali ke Koto Gadang di usia 17 tahun, Rohana langsung terpikir untuk mengajari teman-teman sebayanya membaca, menulis, menjahit, dan keterampilan lain. Rumah neneknya pun ia jadikan tempat untuk mengajar kecil-kecilan. Usaha dari nol itu berbuah manis. Muridnya terus bertambah dan makin beragam latar belakang. Namun, tetap saja usaha Rohana mengajar tak mulus. Pemikiran kolot beberapa anggota masyarakat yang kadung memfosil sulit dikikis. Ada saja tetua di kampungnya yang berpikir pendidikan yang diberikan hanya membuat anak-anak peremuan menjadi berani melawan adat karena merasa pintar. Ada pula yang khawatir kalau anak perempuan Koto Gadang menjadi pandai membaca, mereka akan berkirim surat dengan lelaki Belanda dan menikah dengan orang luar Koto Gadang. Rohana tak marah atau tersinggung dengan sikap mereka. Ia paham, maksud baik tak selamanya disukai orang. “Saya sama sekali tak berniat buruk apalagi sampai merusak budi pekerti anak gadis di Koto Gadang. Semua yang saya lakukan ini seamta-mata demi kemajuan kaum perempuan agar mendapat pendidikan yang layak,” kata Rohana seperti dikutip Fitriyanti dalam Wartawan Perempuan Pertama Indonesia: Rohana Kudus. Sayangnya, lambat-laun penolakan makin kencang. Terlebih setelah tahun 1908 Rohana menikah dengan Abdul Kudus yang aktivis pergerakan. Sebagian orang tua murid takut anak-anak mereka ditangkap Belanda karena ikut dalam gerakan politik ketika belajar tulis-menulis di rumah Rohana. Puncak dari ketakutan itu, mereka minta sekolah Rohana ditutup dengan alasan tak ada gunanya dan meresahkan. Banyaknya gunjingan dan tekanan membuat Rohana dan Abdul memilih pindah ke Kampung Maninjau. Mereka menetap di sana selama dua tahun, kemudian pindah ke Padang Panjang selama setahun. Selama di tanah rantau, Rohana tetap berkirim surat pada mantan murid-muridnya di Koto Gadang. Dia ingin sekali kembali mengajar di Koto Gadang. Keresahaannya itu ia sampaikan pada Abdul. “Barangkali selama ini saya berjalan sendiri memajukan pendidikan kaum perempuan di kampung.  Mereka merasa dilangkahi dan mengaggap saya telah melanggar adat-istiadat,” kata Rohana, sedih. “Apakah itu yang menurut Adik membuat mereka tersinggung?” kata Abdul menenangkan istrinya. “Memang tidak selamanya tujuan baik kita diterima dengan hati terbuka.”   Selama berada di tanah rantau, Rohana merasa kesepian karena tak punya kegiatan selain mendampingi Abdul. “Apalagi kita belum dikaruniai anak,” Rohana mengeluh. Setelah diskusi itu, keduanya sepakat untuk kembali ke Koto Gadang. Rohana sudah menyusun rencana agar usahanya membuka sekolah tak mendapat penolakan lagi. Begitu tiba di Koto Gadang, Rohana meminta bantuan Ratna Puti, istri seorang jaksa yang posisinya cukup dihormati. Lewat bantuan Ratna Puti, sekira 60 perempuan yang terdiri dari istri para pemuka adat, agama, dan pejabat daerah (para Bundo Kanduang) berhasil diundang dalam pertemuan perempuan. Dalam pertemuan itu, Rohana mengutarakan pentingnya membuka sekolah bagi anak perempuan di Koto Gadang untuk menyiapkan mereka menjadi orang yang mandiri. “Mari bersama-sama kita berniat mengatasi masalah pendidikan untuk kaum perempuan di Koto Gadang. Kita memerlukan sebuah sekolah resmi bagi kaum perempuan, yang tentu saja atas izin pemerintah daerah,” kata Rohana. Rohana Kudus bersama murid-muridnya. (Repro Wartawan Perempuan Pertama Indonesia: Rohana Kudus). Pesan Rohana menyentuh hati para Bundo Kanduang. Mereka pun mendukung pembentukan perkumpulan perempuan yang dinamai Kerajinan Amai Setia (KAS) pada 11 Februari 1911. Lewat perkumpulan ini, didirikanlah sekolah kepandaian putri yang mengajarkan baca-tulis, menjahit, dan menyulam. Rohana duduk sebagai presiden KAS dan sebagai direktris perguruan itu. Pada awal berdirinya, seluruh kegiatan sekolah KAS dilakukan di rumah nenek Rohana, seperti sekolah yang dulu ditentang. Makin hari muridnya makin banyak. Rumah nenek Rohana pun tak cukup menampung. Lebih lagi, lembaga rintisan Rohana sudah resmi berdiri, maka timbullah keinginan untuk membangun gedung sekolah dan sekretariat perkumpulan KAS. Namun, seperti diceritakan Tamar Djaja dalam Rohana Kudus, Srikandi Indonesia, kala itu Rohana tak punya uang. Rekannya yang orang Belanda, Tuan Groenevel, kemudian mengusulkan agar Rohana mengadakan lotere untuk menggalang dana. Rohana pun bergegas mengurus izin penyelenggaraan lotere ke pemerintah setempat. Setelah izin penyelenggaraan lotere berhasil didapatkannya, gunjingan tetangga kembali menerpa. Sebagian tokoh adat, agama, dan Bundo Kanduang tak setuju dengan penyelenggaraan lotere karena dinilai haram. Sementara menurut Rohana, penyelenggaraan lotere ini didasari niat baik untuk pembangunan fasilitas pendidikan. Berhasil menampik satu rintangan, datang lainnya. Rohana dituduh mengkorupsi uang lotere yang berhasil digalang. Tuduhan itu diperparah dengan mengaitkan pekerjaan Abdul yang lebih banyak dikerjakan di rumah. Mereka menuding Abdul tak punya penghasilan hingga membuat Rohana harus memenuhi kebutuhan hidup dan mengutip uang pembangunan sekolah. Tudingan kejam itu membuat Rohana menangis. Ia menolak segala tudingan itu, membela kehormatan Abdul, dan membuktikan kalau ia tidak bersalah di pengadilan Bukittinggi. Pada 21 September 1914, Rohana menyerahkan catatan keuangan KAS pada pejabat negara W Frijling BB di Batavia untuk diperiksa. Pada 6 November 1914, Rohana juga menyerahkan buku catatan keuangan KAS ke pejabat lain, Van Ronkel. Kedua pejabat Hindia-Belanda itu tak menemukan ada kejanggalan. Pemeriksaan keuangan itu selesai pada 1916. Rohana tidak terbukti bersalah. Selama proses persidangan, posisi Rohana digantikan pengurus lain. Namun, ketika kasusnya selesai, alih-alih dikembalikan ke posisinya, Rohana malah disisihkan. Salah seorang murid Rohana yang ia bebaskan dari buta huruf hingga bisa berbahasa Belanda, menjegalnya. Rohana tak diperbolehkan menjabat direktris dan kepala perkumpulan lagi. Rohana juga difitnah berselingkuh dengan lelaki Belanda. Fitnah warga Koto Gadang itu berangkat dari fakta di masa itu hanya Rohana yang berani keluar-masuk kantor pemerintahan dan berkawan dengan lelaki Belanda. Fitnah itu diperparah dengan komentar miring, Rohana belum kunjung hamil padahal sudah menikah sembilan tahun. Namun saat fitnah belum punya anak sedang kuat menerpanya, Rohana hamil. Rohana girang bukan kepalang. Ketika kehamilannya sampai ke telinga banyak orang, tetap saja ada yang memfitnahnya dengan mengatakan kehamilan Rohana merupakan hasil hubungan gelap dengan petinggi Belanda. Sontak saja Rohana marah. “Kita buktikan saja nanti. Biarlah anak ini lahir berkulit hitam dan berhidung pesek!” kata Rohana. Hujaman fitnah itu membuat Abdul khawatir pada istrinya yang tengah hamil. Abdul percaya betul pada istrinya. Tak mungkin Rohana mengutip uang atau main serong dengan lelaki lain. Rohana dan Abdul akhirnya pindah ke Bukittinggi lantaran kondisi Koto Gadang sudah tidak nyaman. Di sanalah anak pertama mereka, Djasma Juni, lahir pada 1917. Rohana pun tak pusing memikirkan Amai Setia yang sudah diambil alih muridnya. Ia lebih memilih membangun sekolah baru di Bukittinggi, Rohana School.*

  • Gunakan Adat Jawa, Pernikahan Bung Hatta Bikin Hadirin Tertawa

    SUATU hari tak lama setelah Indonesia merdeka, Hasjim Ning kedatangan pamannya, Bung Hatta. “Bung Hatta memberi tahu kepadaku bahwa ia akan menikah tanggal 18 November 1945 di Megamendung di daerah Cipayung. Dimintanya aku dan ayahku yang ketika itu menetap di Bogor agar ikut menghadiri perkawinannya,” kata Hasjim dalam otobiografi berjudul Pasang Surut Pengusaha Pejuang. Kabar dari Bung Hatta itu membuat Hasjim senang. Sanak-famili Bung Hatta, termasuk Hasjim, telah lama menanti-nanti pernikahan Bung Hatta. Namun, mereka tak berani mengungkit soal itu lantaran Bung Hatta sudah berpendirian tak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. “Bung Hatta sadar apa yang sedang dia prioritaskan,” kata Halida Hatta, putri bungsu Bung Hatta. Maka ketika hari pernikahan Bung Hatta dan Rahmi Rachim –putri Abdul Rachim sahabat Bung Karno– tiba, mereka suka-cita menghadirinya. Tidak banyak memang yang hadir dalam resepsi pernikahan itu karena Bung Hatta ingin resepsi sederhana. “Tidak lebih dari 30 orang, kiraku. Selain dari keluarga kedua pengantin, tentu saja Bung Karno yang menjadi ‘mak comblang’ pernikahan itu ikut hadir bersama Bu Fatmawati,” sambung Hasjim. Bung Karno merupakan orang yang amat memperhatikan Hatta dalam urusan yang satu itu. “Waktu saya bertanya kepada Hatta, gadis mana yang dia pilih, jawabnya: ‘Gadis yang kita jumpai waktu kita berkunjung ke Instituut Pasteur, yang duduk di kamar sana, yang begini, yang begitu, tapi saya belum tahu namanya,” kata Bung Karno kepada R. Soeharto, dikutip dalam Saksi Sejarah. Gadis pujaan Hatta itu ternyata Rahmi Rachim, anak kawannya sendiri. Maka, Bung Karno pun mengajak R. Soeharto ke rumah Abdul Rachim guna melamar Rahmi untuk Hatta. Entah karena jasa baik Bung Karno itu atau bukan, pernikahan Hatta digelar menggunakan adat Jawa. “Aku tidak tahu siapa yang punya gagasan agar diadakan upacara adat Jawa, yakni kedua pengantin melakukan upacara menginjak telur. Mungkin gagasan itu tumbuh karena kehadiran Bung Karno saja,” kata Hasjim. Lantaran menggunakan adat Jawa itulah Hasjim ketiban sial. Tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya, Hasjim diminta mewakili Bung Hatta menemani Titi, adik Bu Rahmi, melakukan ritual injak telur. Permintaan itu jelas membuatnya kaget lantaran sebagai orang berdarah Minang-Palembang, dia tak tahu bagaimana cara melakukan ritual itu. Hasjim terpaksa menerimanya lantaran permintaan itu datang dari Bung Hatta. “Tidak seorang pun yang memberi petunjuk bagaimana mestinya melakukannya secara khidmat, maka aku menginjaknya tak ubahnya bagai tentara Jepang yang menginjak mangsanya meski aku sudah berusaha agar seindah orang menari payung. Dengan sendirinya, upacara adat Jawa yang halus itu menjadi sebuah lelucon yang menerbitkan air mata karena tertawa yang tak tertahankan dari para hadirin,” kenang Hasjim. Setelah resepsi pernikahan selesai, Hasjim berkesempatan ngobrol santai dengan Bung Karno. Di situlah dia mengorek bagaimana Bung Karno bisa “menaklukkan” Bung Hatta sehingga mau menikah padahal banyak sanak-familinya gagal untuk urusan satu itu. “Aku menagih janjinya, yang akan menikah bila Indonesia merdeka. Sekarang kita sudah merdeka, apa lagi. Kalau ia masih menolak, itu namanya tidak normal. Indonesia sulit dipimpin oleh orang yang tidak normal,” kata Sukarno menjawab pertanyaan Hasjim. “Kenapa dengan gadis yang berbeda jauh usianya?” Hasjim bertanya lebih jauh. “Jangan berlagak bodoh, Hasjim. Apa jij kira aku tidak sebanding dengan Fatma?” sahut Sukarno. “Kenapa presiden dan wakil presiden sama-sama memilih gadis muda?” “Supaya kelihatan vitalitasnya prima,” jawab Sukarno, membuat Hasjim tertawa.

  • Kemasan Anyar Nagabonar

    DALAM kelamnya malam yang diselingi sambaran petir, Nagabonar lahir ke dunia. Ia tumbuh tanpa ayah. Nagabonar kecil (diperankan Azka Dimas) tampil sebagai anak nakal tukang mencuri. Namun, ajaran keras emaknya (Rita Matumona) membuatnya insyaf. Maka ketika tumbuh dewasa (diperankan Gading Marten), Nagabonar tak lagi jadi pencopet. Ketika merantau ke Medan dari desanya di tepi Danau Toba pada 1937, Naga kaget melihat perilaku culas banyak orang, termasuk kawan lamanya Lukman (Rifky Alhabsyi), di kota besar itu. Dari Lukmanlah Naga mengenal mendapat kawan-kawan baru macam Mariam (Roby Tremonti), Bujang (Ence Bagus), Murad (Fermana Manaloe), hingga Sulung Panjaitan (Donny Damara) yang oleh kawanannya dijadikan figur paling dihormati. Mereka inilah yang lantas jadi pasukan Naga saat perang kemerdekaan. Dalam perjalanannya, Naga kepincut seorang gadis indo, Kirana (Citra Kirana). Gadis yang dianggap tercantik se-dunia itu jadi rebutan Naga, Mariam, Yoshida (Harry Ponto) si jenderal Jepang, dan Bastian (Delano Daniel) si kapten Belanda. Bagaimana kelanjutannya? Ah, lebih asyik Anda tengok sendiri di bioskop-bioskop tanah air. Nagabonar: Reborn akan beredar mulai 21 November 2019. Para pemeran Nagabonar: Reborn dalam konferensi persnya, minus pemeran utama Gading Marten (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Di Bawah Bayang-Bayang Nagabonar Lawas Siapa tak kenal Nagabonar? Publik lintas generasi rasanya familiar dengan figur fiktif ciptaan Asrul Sani yang selegendaris Kabayan di cerita-cerita orang Sunda ini. Setiap penikmat filmnya punya kenangan masing-masing entah dari menonton langsung saat film pertamanya, Nagabonar (1987), ditayangkan bioskop maupun di televisi ketika film tersebut ditayangkan tiap 17 Agustus dan Hari Pahlawan 10 November di era 1990-an. Ibu saya berkisah, sehari setelah menontonnya di sebuah bioskop di Manggarai, Jakarta pada 3 Juli 1987, dia melahirkan saya yang lalu juga akrab dengan film yang diperankan Deddy Mizwar itu. Maka ketika Nagabonar: Reborn dirilis, teringat betul film Nagabonar-nya Asrul Sani itu yang tersedia di banyak situs streaming maupun YouTube. Jadi jangan heran bila banyak penonton masa kini bakal membandingkan Nagabonar milenial dengan versi lawasnya. Terutama, membandingkan Nagabonar versi Deddy Mizwar dengan versi Gading Marten. “Memang berat waktu kita punya ide mengangkat cerita Nagabonar. Karena kita tahu setiap film seperti itu (akan dibandingkan, red.). Tapi kalau saya lihat ketika Gading memainkan peran ini total, satu menit-dua menit memang kita merasa begitu. Tetapi setelah itu hilang bayangan (Deddy Mizwar, red.) itu. Yang kita lihat sosok Nagabonar Gading Marten,” ujar Gusti Randa, produser merangkap pemeran dokter Zulham, ayah Kirana, dalam konferensi pers screeningNagabonar: Reborn, Selasa (19/11/2019) di XXI Plaza Indonesia. Gusti Randa, produser film Nagabonar: Reborn (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Tim produksi mengklaim mereka mengangkat banyak konteks baru agar lebih dekat dengan kaum milenial sebagai sasaran. Oleh karena itu beberapa alur cerita dikembangkan lebih jauh untuk melahirkan sosok Nagabonar baru. Tim penulis skenario dan sutradara mengaku diberi kebebasan mengembangkan dasar cerita asli milik Asrul. “Ada tantangan Nagabonar harus dibungkus dan di-update supaya mendekati pada masyarakat kekinian. Juga tantangan isu-isu dan kontekstual yang relevan dengan realitas sekarang. Seperti saat dia merantau ke kota, dia menghadapi realitas majemuk hingga kemudian tumbuh menjadi seorang nasionalis sejati,” kata Fermana, anggota tim penulis skenario, menimpali. Setidaknya ada dua pesan yang ingin disampaikan sutradara dalam Nagabonar: Reborn. Pertama, soal jiwa nasionalisme seorang Nagabonar. Kedua, tentang Nagabonar sebagai seorang yang sangat menghormati perempuan, terutama sosok ibu. Jadilah Nagabonar versi anyar ini insyaf ketika masih kecil karena selalu teringat pesan ibunya. “Ada satu adegan saat perundingan garis demarkasi, di mana dia tak mau sejengkal tanah pun dikuasai Belanda. Saya mencoba menyampaikan pesan-pesan nasionalisme itu. Lalu dia sosok yang menghormati perempuan. Emaknya saat menasihati menanamkan budi baik, dia selalu berkata ‘jangan mencuri kalau kau tak mau masuk neraka.’ Mungkin bisa menjadi inspirasi bagi anak muda. Tentu ini baik untuk Indonesia maju,” ujar Dedi Setiadi sang sutradara. Dibungkus ala FTV, Apa Kata Dunia? Dari tontonan dua jam di layar bioskop, Nagabonar: Reborn menyisakan kesan sebuah suguhan FTV (film televisi). Itu tersua baik dari sisi sinematografi, music scoring, pemilihan angle, maupun alur cerita yang ke sana-sini. Celakanya, Nagabonar: Reborn tidak ditopang riset yang kuat. Properti dan wardrobe-nya sekadar mengulang kengawuran film-film bertema sejarah lain. Seragam serdadu, misalnya, tiada beda antara zaman kolonial, pendudukan Jepang, dan perang kemerdekaan. Ini didapati pada sosok Sulung Panjaitan, pengganti sosok Mayor Pohan, yang sudah berpakaian ala pejuang 1945, berkemeja dan mengenakan sidecap, meski di film tertera tulisan tahun 1937. Lebih ngaco lagi, tampak serdadu Jepang bersenjatakan Austen. Padahal, senapan otomatis asal Australia ini baru diproduksi pada 1942. Kalaupun sudah beredar, baru terbatas di lingkungan militer Australia yang baru masuk Indonesia pada 1946. Adegan tembak-menembak antara Kapten Bastian dengan Nagabonar secara historis terbalik logikanya. Bastian seorang perwira Belanda yang naik pangkat jadi mayor, namun menyandang pistol Nambu buatan Jepang. Sementara, Nagabonar menyandang dua pistol Vickers buatan Belanda. Tampilnya sejumlah tokoh tanpa kejelasan kaitan dengan kehidupan Nagabonar juga amat mengganggu. Itu terlihat misalnya di scene kemunculan eks Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. Dedi mengungkapkan, dia menyampaikan pesan baru soal nasionalisme dalam adegan perundingan garis demarkasi dengan Belanda. Padahal, di Nagabonar (1987) racikan sineas M.T. Risyaf, soal ini dihadirkan lewat adegan Nagabonar enggan manut pada permintaan Belanda. Jiwa nasionalis dan patriotik yang dihadirkan Deddy Mizwar justru lebih “nendang” ketimbang Gading. Yang pasti, bumbu percintaan terlalu berlebihan ditonjolkan dalam film ini, mengalahkan tema kehidupan Nagabonarnya sendiri. Yang bikin ambyar adalah perangai Nagabonar terhadap Kirana, yang awalnya merupakan pacar kapten Belanda Bastian. Tiba-tiba, Naga menculiknya dan memaksanya jadi pacar. Hal itu bertolakbelakang dari sifat Nagabonar versi 1987, yang meski ceplas-ceplos dan konyol namun tetap tak sampai hati memaksa Kirana (diperankan Nurul Arifin) untuk menjatuhkan pilihan padanya. Tak ada adegan menculik Kirana di versi 1987, yang ada cinta itu datang dengan sendirinya tanpa paksaan. Kirana hadir di hati Naga untuk menggantikan kehilangan separuh jiwanya yang hilang, yakni si Bujang (Afrizal Anoda), sahabatnya yang gugur. Sayangnya di Nagabonar: Reborn sosok Bujang hanya jadi pelengkap. Padahal, dalam versi 1987 Bujang bukan figuran dalam hidup Naga. Suka-duka selalu dilalui bersama oleh keduanya. Ketika anak buah Naga yang lain berhamburan saat diserang Belanda, Bujang tetap di samping Naga dan tak pernah gentar menghadapi Belanda. Namun, produser punya alasan mengapa percintaan lebih ditonjolkan dalam Nagabonar: Reborn. “Karena kita tahu penonton kita adalah kaum milenial. Yang everlasting bagi kaum milenial adalah percintaan,” ujar Gusti Randa. Alasan itulah yang mungkin menjadi latar pemilihan Dedi Setiadi sebagai sutradara. Dedi malang-melintang di FTV maupun sinetron. Karena ini pula pesan-pesan nasionalisme yang disampaikannya sangat gamblang sehingga acapakali tak pas dengan suasana era 1930-an sampai era perang kemerdekaan yang jadi latar waktu film. Sekalipun begitu, Nagabonar: Reborn tetap pantas diapresiasi. Di tengah “invasi” film-film Hollywood di tanah air, ia berani muncul dengan pesan nasionalisme lewat tampilan baru. Penonton juga akan disuguhkan gambaran kehidupan dan budaya masyarakat Batak di pesisir Danau Toba yang jarang diangkat ke sebuah film. Sejumlah adegak kocak yang mengocok perut juga menjadi nilai plus tersendiri film ini.

  • Kebanggaan Armada Jepang Karam di Midway

    Kapal Induk Akagi dibanggakan Kaigun sebagai "flagship". Menemui ajalnya di Pertempuran Midway

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page