top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Sukarno Buang Muka

    Ada kejadian menarik dalam acara pelantikan anggota DPR pekan yang lalu. Puan Maharani terpilih sebagai Ketua DPR. Sang ibu, Megawati Sukarnaputri yang juga mantan Presiden RI ke-5 datang menghadiri. Saat akan memasuki podium tempat undangan VVIP, Megawati terlihat melengos  ketika beberapa orang tokoh hendak menyalaminya. Mereka yang dilewatkan Megawati adalah Surya Paloh, Ketua Partai Nasdem dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari petinggi Partai Demokrat. Sikap buang muka Megawati bisa jadi soal perkara politik. Di masa kepresidenannya (2001—2004), Megawati pernah bersitegang dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tidak lain ayah AHY. SBY adalah salah satu menteri Megawati yang kemudian saling berlawan dalam pemihan presiden 2004. Sementara Paloh sebagai ketua umum Nasdem adalah sekutu PDIP dalam pemilu 2019 namun belakangan mulai bermanuver politik sendiri. Megawati saat Menolak Salaman dengan AHY dan Surya Paloh. dok: Kompas TV. Ibarat pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ayah Megawati, Sukarno, Bapak Proklamator yang juga Presiden RI pertama pun pernah berlaku demikian. Perlakuan Sukarno itu berbekas dalam memori dan kalbu seorang perwira bernama Ahmad Kemal Idris.   Kemal Idris adalah perwira yang mengarahkan moncong meriam ke arah Istana Negara dalam peristiwa 17 Oktober 1952. Saat itu Kemal berpangkat mayor dan menjabat sebagai Komandan Resimen ke-7 Divisi Siliwangi. Menurut Kemal, aksi “koboy” nya itu dilakukannya atas perintah KSAD Kolonel Abdul Haris Nasution. “Yang dipersalahkan, sudah tentu, Nasution dan pasukan-pasukannya seperti saya dan beberapa perwira lain. Kami lalu diperiksa Kejaksaan Agung sampai beberapa hari,” ujar Kemal Idris dalam Memoar Senarai Kiprah Sejarah Jilid 3 . Peristiwa itu selesai dengan diberhentikannya Nasution sebagai KSAD. Beberapa perwira yang terlibat dalam peristiwa itu dikenai disiplin dan sanksi. Meski demikian, Bung Karno tampaknya masih memendam geram kepada Kemal Idris. Pada bulan November 1952, Sukarno mengumpulkan semua komandan resimen, komandan divisi, dan panglima teritorium ke Istana. Bung Karno berkeliling istana menghampiri para perwira. Sebagai tuan ramah, Sukarno beramah tamah dengan menyalami satu demi satu perwira yang hadir. “Tetapi tiba pada giliran saya, ia seakan-akan tidak melihat saya, sehingga tidak mengulurkan tangan untuk berjabatan. Saya dilewatkannya begitu saja.” Kenang Kemal Idris dalam otobiografinya Kemal Idris: Bertarung dalam Revolusi . Perlakuan cuek Sukarno membuat Kemal Idris merasa terhina. Nelangsa bagi Kemal Idris belum cukup sampai disitu. Karier militer Kemal dikemudian hari ikut dibikin macet. Jabatannya sebagai komandan resimen dicopot. Jatahnya untuk sekolah komando ke luar negeri malah dialihkan ke perwira lain. Kemal hanya diberi tempat untuk dikaryakan di Departemen Pertahanan dan Keamanan. Ruang kerjanya ditempatkan jauh di belakang gedung, dekat dengan toilet. Karena frustrasi dan kecewa, Kemal sempat mengisi waktunya dengan berjudi. Pakar politik militer Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto mencatatKemal memang tidak kehilangan jabatan sebagai aksi pasang meriam itu. Tapi sejak itu, Kemal “dicatat” Sukarno sebagai musuh. Akibatnya, karier militer Kemal terhambat lama. Nasib baik menghampiri Kemal ketika dirinya dipindahkan ke Kostrad. Pada 1965, Kemal mendampingi Panglima Kostrad Mayjen Soeharto sebagai kepala staf. Sementara itu, kekuasaan Sukarno mulai goyah akibat gonjang-ganjing politik pasca meletusnya G30S. Ketika gerakan anti Sukarno kian menguat, Kemal Idris ikut ambil bagian. Kemal-lah yang melindungi para mahasiswa demonstran yang gencar menyerukan Sukarno turun. Puncaknya, Kemal mengirimkan pasukan liar tanpa identitas saat sidang kabinet digelar pada Jumat pagi, 11 Maret 1966. Pukulan balik dari Kemal Idris bikin Sukarno panik. “Pada 11 Maret 1966 Kemal berhasil memaksa Sukarno lari terbirit-birit meninggalkan sidang kabinet di Istana Negara Jakarta untuk pada malam harinya di Istana Bogor menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto,” tulis Salim Said. Inilah ihwal rontoknya kekuasan Sukarno. Lewat mandat Surat Perintah 11 Maret (Supersemar), Sukarno lengser dari tahta kepresidenan. Kemal Idris mengklaim perannya dalam peralihan kekuasaan itu. “Bayangkan, kalau saya menarik kembali pasukan itu, apakah Surat Perintah 11 Maret terjadi?” katanya penuh jemawa.

  • Antara Jawa dan Bali

    Negara ini terletak di timur Ka-ling (Jawa), sebelah barat Mi-li-ju. Sebelah utaranya berbatasan dengan lautan. Di sana padi berbuah setiap bulan. Budayanya hampir sama dengan Ka-ling. Mereka memiliki huruf yang mereka tulis di atas daun lontar. Ketika seorang warganya meninggal dunia, mereka mengisi mulutnya dengan emas. Kaki dan tangannya dipakaikan gelang emas. Jenazahnya diberikan minyak kamper, kapur barus, dan minyak wangi lainnya. Setelahnya mereka menumpuk kayu, dan membakar jenazahnya. Pada 647 raja mereka mengirimkan utusan ke Tiongkok untuk membawa upeti yang berupa kain katun, gading gajah, dan cendana putih. Kaisar memberikan surat kekaisaran dan menghadiahkan berbagai barang. Begitulah Bali diberitakan dalam catatan Tiongkok masa Dinasti Tang (618-906). Dalam Sejarah Lama Dinasti Tang, ia disebut dengan nama Dva-ba-dan. Letaknya di selatan Kamboja dan berjarak dua bulan perjalanan laut. Dalam catatan Sejarah Dinasti Song (960-1279) utusan dari Jawa menyebut negara bernama Brahman. Negara ini disebut mereka sebagai negara tetangga. Menurut W.P. Groeneveldt, negara yang disebut Brahman itu telah diidentifikasi sebagai Bali. “Menarik untuk diingat bahwa pada 992 ketika utusan Jawa mengunjungi Tiongkok, orang-orang Jawa menyebut pulau itu negara Brahman,” jelasnya. Nama Brahman terus digunakan oleh orang-orang Tiongkok pada masa selanjutnya. Di sana mereka masih menemukan penganut Hindu, bahkan ketika orang Jawa sudah memeluk Islam. Jika menurut catatan Tiongkok Bali sudah dipimpin raja, sistem birokrasi kerajaan baru terbukti dalam prasasti pertama kali pada abad ke-10. Sejarah politik dan kebudayaan Bali kemudian didominasi oleh dinasti yang terkenal dengan sebutan Warmadewa. Keluarga raja-raja Warmadewa pertama kali muncul dalam sejarah pada 835 saka (913) dengan ditemukannya Prasasti Blanjong yang menyebutkan nama raja Cri Kesari Warmadewa. Ia diduga cakal bakal keluarga Warmadewa. Prasasti itu berkisah, pada 835 Saka (913) bulan Phalguna, seorang raja yang mempunyai kekuasaan di seluruh penjuru dunia b eristana di Keraton Singhadwala. Ia bernama Cri Kesari . Sang raja telah mengalahkan musuh-musuhnya di Gurun dan di Swal. Arkeolog Roedolf Goris dalam Prasasti Bali I berpendapat, yang dimaksud Gurun tak lain adalah Pulau Lombok. Sementara Swal harus dicari di luar Pulau Bali. Pada sisi lainnya (sisi B), prasasti itu meyebut gelar raja yang lebih lengkap yaitu Adhipatih Cri Kesari Warmadewa. Menurut berita di sana, prasasti itu didirikan untuk memperingati kemenangan sang prabu atas seluruh Walidwipa (Pulau Bali). Supratikno Raharjodalam Sejarah Kebudayaan Bali: Kajian Perkembangan dan Dampak Pariwisata menulis, sejak itu raja-raja Bali pun nampaknya mulai menjalin hubungan dengan raja-raja Jawa, mulai dari kemiteraan sampai kekerabatan melalui perkawinan, terutama sejak awal abad ke-11. Menurut arkeolog Universitas Udayana, Ida Bagus Sapta Jaya, dalam “Pemerintahan Keluarga Warmadewa di Bali Serta Hubungannya dengan Jawa Timur” yang terbit di Pusaka Budaya dan Nilai-nilai Religiusitas, hubungan antara keluarga Warmadewa dengan Jawa Timur telah dimulai sejak pemerintahan Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi pada 905 Saka (983). Sapta Jaya menyebut sang ratu yang tak menyandang gelar Warmadewa menimbulkan banyak interpretasi. Salah satunya pendapat epigraf asal Prancis Louis Charles Damais yang mengatakan kalau sang ratu adalah putri Mpu Sindok, penguasa Medang pada periode Jawa Timur, yang bernama Sri Isanatunggawijaya. Hubungan keluarga Warmadewa dengan Jawa Timur bertambah erat dengan adanya perkawinan antara Raja Udayana dan Mahendradatta. Ia adalah putri Raja Sri Makutawangsawarddhana, penerus kedua takhta Mpu Sindok. “Setelah kawin keduanya memerintah di Bali,” tulis Sapta Jaya. Kemudian, pada zaman pemerintahan Marakata (1022-1026), putra kedua Udayana, saudara kandungnya, Airlangga tengah berkuasa di Jawa Timur. Airlangga menikah dengan putri Dharmawangsa Thguh pada 1019. Ia dinobatkan menjadi raja Kahuripan menggantikan mertuanya. “Ini lebih memperjelas lagi bahwa hubungan antara keluarga Warmadewa dengan Jawa Timur sangat erat,” jelas Sapta Jaya. Namun, dalam perkembangan selanjutnya hubungan keduanya berubah menjadi dominasi raja-raja Jawa atas raja-raja Bali. Bentuk paling nyata dari dominasi itu adalah ketika pada abad ke-14 Kerajaan Bali di Bedahulu ditaklukkan Majapahit. Gajah Mada dan Adityawarman yang memimpin tentara Majapahit menyerang Pulau Bali. Sebagai pulau yang paling dekat dengan Jawa, menurut Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama , Bali merupakan wilayah pertama di luar Jawa yang ditaklukkan Majapahit setelah Gajah Mada mengumandangkan sumpahnya yang terkenal itu. “Raja Bali yang hina dan jahat diperangi bala tentara Majapahit dan semua binasa. Takutlah semua pendurhaka dan pergi menjauh,” catat Mpu Prapanca dalam Nagarakrtagama .

  • Jejak Perjuangan Bangsa di Stadion VIJ

    Tahun 2018 menjadi momen yang cukup indah bagi Persija. Dua Gelar juara berhasil diraih : Piala Presiden dan Liga Indonesia. Pesta pun digelar di jalanan utama Ibukota. Bahkan mereka hampir meraih gelar ketiga. Tapi mereka takluk oleh PSM Makassar di final Piala Indonesia. Pesta pun urung digelar. Para pemain dari tim Rantau FC bersiap sebelum berlatih di stadion VIJ. (Fernando Randy/Historia). Berdiri sejak 1928, Persija mempunyai sejarah panjang. Sebuah stadion menjadi saksi bisu lahirnya tim kebanggaan kota Jakarta ini. Letak stadion tersebut berada di Petojo, Jakarta Pusat. Kawasan ini sekarang padat penduduk dan banyak bangunan berhimpit. Nama stadionnya merujuk pada nama lama Persija, Stadion Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ). Karat yang terdapat pada setiap besi di stadion VIJ. (Fernando Randy/Historia). Dibangun pada 1928, tadinya nama stadion VIJ adalah Lapangan Petojo. Di balik sejarah stadion VIJ, tergurat nama tokoh Pergerakan Nasional, Mohammad Hoesni (M.H.) Thamrin. Dia figur penting dalam sejarah VIJ dan sepakbola kota Jakarta. Para pemain tim Rantau FC saat beraksi di stadion VIJ. (Fernando Randy/Historia). Thamrin menggunakan sepakbola sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Tidak tanggung-tanggung, dia keluarkan uang sebesar 2000 gulden (sekarang senilai Rp 170 juta) untuk memperbaiki Lapangan Petojo. Tujuannya agar pemuda anak negeri mempunyai stadion layak pakai untuk menggelar kompetisi. Sepinya penonton seakan menjadi saksi VIJ mulai tak lagi dilirik oleh berbagai tim sepakbola. (Fernando Randy/Historia). Thamrin berharap, tumbuhnya kompetisi sepakbola anak negeri akan membuat klub VIJ mampu bersaing dengan klub milik orang Belanda, Nederlandsch Indie Voetbal Bond, yang melarang anak negeri bergabung ke klubnya. Dan pada gilirannya, ide-ide kebangsaan juga akan ikut tumbuh dari lapangan sepakbola. Persites tim asal Kalimantan menjadi salah satu tim yang rutin berlatih di VIJ. (Fernando Randy/Historia). Namun sayang, Stadion VIJ sekarang sangat tidak terawat. Papan skor rusak dan patah, kontur lapangan tidak ideal, tanahnya bergelombang, dan rumputnya mulai botak. Seakan menutupi keanggunan Stadion VIJ pada masa lampau.  Kerusakan di sana-sini memaksa pengelola mengalihkan stadion VIJ untuk berbagai fungsi. Tidak lagi hanya digunakan untuk bermain sepakbola, tetapi juga disewakan untuk acara musik dan pesta pernikahan. Ada sedikit keuntungan, tapi tidak mampu menutup biaya perbaikan sehingga mengurangi minat orang bermain bola di sini. Kondisi papan skor di stadion VIJ yang sudah rusak dan tidak terawat. (Fernando Randy/Historia) Di tengah pemukiman padat penduduk, hingga sisa mural tentang pemain sepakbola menjadi hiasan dan cerita bagi stadion VIJ. (Fernando Randy/Historia). “Ya, sekarang sudah tidak sebanyak dulu yang bermain sepakbola disini. Dulu saat saya kecil, hampir tiap hari ada yang main sepakbola di sini. Timnya macam-macam. Sekarang paling hanya Sekolah Sepak Bola Atamora, Tim Rantau FC, dan Persites,” ujar Roby (60) yang bekerja sebagai tukang parkir VIJ.  Kualitas rumput yang tidak begitu bagus, menjadi salah satu alasan VIJ mulai sepi peminat. (Fernando Randy/Historia). Ironis. Tempat yang menjadi cikal bakal Persija Jakarta, kini telah kehilangan pesona. Tempat yang dulu melahirkan banyak bintang sepakbola Indonesia, kini sudah ditinggalkan. Tempat yang dulu menarik Bung Karno untuk datang menyaksikan pertandingan antara VIJ vs PSIM pada 1932, kini mulai dilupakan.  Bagian stadion yang tampak tak terawat di stadion VIJ. (Fernando Randy/Historia). Apapun kondisinya saat ini, VIJ akan tetap dicatat sebagai salah satu tempat bersejarah. Perjuangan bangsa Indonesia menggapai kemerdekaan ternyata bukan hanya dengan senjata, tetapi juga melalui sepakbola.  Banyak anak-anak memakai kostum sepakbola di lingkungan VIJ, salah satu bukti sepakbola masih begitu dicintai di Petojo. (Fernando Randy/Historia).

  • Kesaksian di Teuku Umar 40

    JAKARTA, 1 Oktober 1965. Rumah kediaman Menteri Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar No.40 dibekap sepi pagi buta itu. Beberapa prajurit nampak masih terkantuk-kantuk di pos jaga, ketika satu regu pasukan berseragam Resimen Tjakrabirawa (Pasukan Pengawal Khusus Presiden Sukarno) menyergap mereka secara tiba-tiba. “Kami lucuti senjata-senjata mereka dan secara baik-baik komandan kami Pembantu Letnan Satu Djahurup mengatakan agar mereka tidak melawan, karena kami datang terkait dengan perintah langsung dari Presiden Sukarno selaku Panglima Tertinggi ABRI,”kenang Soelemi, eks anggota Tjakra (sebutan untuk Resimen Tjakrabirawa). Usai mengamankan para penjaga, Sersan Satu Soelemi memimpin dua rekannya (Prajurit Kepala Hargijono dan Kopral Kepala Soemardjo) merangsek ke ruangan depan rumah Jenderal Nasution. Dia lantas memutar tangkai pintu. Klik, ternyata pintu tak terkunci sama sekali. Aksi dilanjutkan oleh Soelemi dengan mengetuk pintu kamar Jenderal Nasution secara pelan. “Saya berusaha berlaku secara baik-baik memperlakukan seorang panglima, kami jelas bukan sekelompok garong yang harus mendobrak langsung pintu kamar Pak Nasution,” ungkap Soelemi. Beberapa detik kemudian, terdengar seseorang membuka pintu kamar. Namun entah kenapa, tetiba pintu tersebut dibanting secara keras dan langsung dikunci kembali. Soelemi panik. Insting tentara-nya mengatakan bahwa target akan melakukan perlawanan. Maka diperintahkannya Hargijono untuk membuka paksa pintu dengan cara menembak bagian tangkai pintu. Tretetetetett! Stengun milik Hargijono pun menyalak. Begitu tembakan berhenti, Soelemi langsung menendang pintu dan langsung merangsek masuk kamar. Mereka mendapatkan Johanna Sunarti, istri Nasution, tengah berdiri dalam jarak sekitar 6 meter sambil memangku putri bungsunya, Ade Irma Suryani Nasution. Tubuh Sunarti terlihat gemetar. “Pak Nasution di mana?!” tanya Soelemi “Ada urusan apa dengan Pak Nasution?!” Sunarti malah balik bertanya. “Urusannya Bu, Pak Nasution harus menghadap Presiden pagi ini juga karena ada masalah penting!” “Pak Nasution tidak ada di rumah!”   Ketiga prajurit Tjakra itu tertegun. Beberapa menit sebelumnya, mereka mendengar suara rentetan senjata Brengun dari arah depan rumah. Solemi sempat berpikir, apakah tembakan itu berasal dari Brengun rekannya (Kopral Sardjo) yang ditujukan kepada Nasution? Tanpa banyak bicara mereka kemudian bergegas keluar dan memberitahu Djahurup bahwa Nasution sudah tak berada di kamarnya lagi. Karena keterbatasan waktu, Djahurup memutuskan untuk menyudahi operasi. “Priiittt!!!” bunyi peluit tanda berakhirnya operasi pun ditiup oleh Djahurup. Suaranya terdengar nyaring memecah kesunyian Jakarta di pagi buta itu. Puluhan orang bersenjata kemudian muncul dari setiap sudut rumah Nasution. Mereka lantas kembali menaiki kendaraan masing-masing: 3 truk dan dua jip, dengan membawa serta ajudan Nasution, Letnan Satu Piere Tandean. Cepat sekali mobil-mobil militer itu meluncur ke arah timur Jakarta, meninggalkan asap dan debu yang berterbangan, mengotori kesejukan kawasan Menteng. Kemudian sunyi kembali membekap. * BEBERAPA jam sebelumnya. Hawa panas mendera, nyamuk-nyamuk mengganas. Sunarti lantas bangkit dari ranjang, lalu duduk di sebuah dipan. Dia memandangi suaminya yang sedang sibuk mengusir nyamuk-nyamuk yang tengah berpesta di atas tubuh Ade Irma. Saat itulah dari arah depan rumah, mereka mendengar suara gaduh dan beberapa kali letusan tembakan. Sunarti bergegas keluar kamar dan langsung membuka kunci pintu depan. Begitu melihat rombongan tentara berseragam Tjakra di depan rumahnya, hatinya langsung tercekat. Pikiran buruk pun muncul. Tanpa mengunci kembali pintu utama, dia kembali ke kamarnya, memberitahu sang suami tentang keadaan di luar. “Saya menjadi heran, mengapa Cakrabirawa yang datang?” pikir Sunarti seperti dikutip oleh koran Berita Yudha , 6 Oktober 1965. Sunarti memohon agar Nasution tidak keluar kamar. Dia menyatakan bahwa dirinya memiliki perasaan jelek dengan kedatangan Tjakra. Ade Irma yang terbangun karena suara pembicaraan kedua orangtua-nya, lantas menghampiri Sunarti dan berdiri di dekatnya. Merasa kurang percaya dengan keterangan istrinya, Nasution memutuskan untuk keluar kamar. “Saya akan bicara sendiri dengan orang-orang itu,” ujar Nasution dalam otobiografinya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid VI: Masa Kebangkitan Orde Baru. Kendati dihalang-halangi oleh Sunarti, Nasution tetap memaksa untuk keluar. Begitu membuka pintu kamar, alangkah terkejutnya Nasution ketika didapatkannya para prajurit Tjakra sudah berada di depan pintu kamarnya. Refleks, dia membanting pintu kamar. Beberapa detik kemudian terdengar rentetan tembakan menyalak. Nasution spontan bertiarap, sementara dengan susah payah, Sunarti menguci pintu. “Beberapa Cakrabirawa menggasak pintu dengan senjata, sampai retak-retak,” ungkap Nasution. Mendengar kegaduhan  di kamar anaknya, Zahara Lubis dan Mardiyah (saudara perempuan Nasution) ikut terbangun. Lewat kamar sebelah yang ada pintu penghubungnya, Mardiyah lantas mengambil Ade Irma dengan maksud menyelamatkan bocah itu ke tempat lain. Tetapi karena gugup, Mardiyah salah jalan. Dia justru menuju ruangan di mana terdapat beberapa prajurit Tjakra. Begitu pintu dibuka oleh Mardiyah, langsung disambut rentetan tembakan yang mengenai punggung Ade Irma. Dengan agak nekad, Sunarti lantas menutup pintu itu kembali dan langsung menguncinya. Berondongan peluru kembali menghujam pintu. Dua butir peluru menyerempet tubuh Sunarti: satu mengenai kulit kepalanya, satu lagi mengenai permukaan dadanya. Tanpa mengindahkan maut yang menyasar dirinya, Sunarti menarik Nasution untuk lari keluar kamar. Melalui kamar sebelah dan lorong di depan toilet, Nasution lari menuju ke samping rumah. “Saya naik ke tembok. Dari atas tembok saya menoleh, dan baru jelas betul bahwa anak perempuan saya Ade terkena tembakan di bagian punggungnya,” kenang Nasution. * NASUTION sudah berada di atas tembok pembatas rumahnya dengan gedung Kedutaan Besar Irak, ketika menyaksikan buah hatinya berlumuran darah. Hatinya tercekat sekaligus pilu. Hampir saja dia turun kembali untuk menghadapi para prajurit Tjakra itu. Namun Sunarti mencegahnya. “Selamatkan diri! Selamatkan diri!” ujar Sunarti. Seiring ucapan Sunarti, tetiba terdengar serentetan tembakan. Nasution cepat tersadar dan langsung meloncat ke halaman Kedubes Irak. Terdengar kemudian prajurit yang menembaknya setengah berteriak berbicara kepada kawan-kawannya. “Ada orang lari ke sebelah, saya tembak tidak kena, pelurunya kurang ke bawah!” Nasution memilih tumpukan drum di pekarangan Kedubes Irak untuk tempat persembunyiannya. Orang-orang bersenjata itu seperti tak memiliki nafsu untuk masuk ke pekarangan gedung tersebut. Bisa jadi mereka tahu jika terus merangsek ke gedung itu maka akan menimbulkan masalah diplomatik antara Indonesia dengan Irak. Menjelang jam 5, Nasution mendengar lengkingan peluit berbunyi. Para penyerbu itu pun pergi dalam hitungan menit. * Sejarah kemudian mencatat, Jenderal A.H. Nasution lolos dari dari incaran grup Pasopati, nama kelompok yang ditugaskan untuk ”menjemput”nya. Dia bahkan bersama Letnan Jenderal Soeharto, masih sempat memukul balik Gerakan 30 September-nya Letnan Kolonel Oentoeng Sjamsoeri, bahkan memberangus kekuatan PKI  dan menurunkan Sukarno sekaligus menyapu para loyalis-nya dari pemerintahan . Nasution memang menjadi satu-satunya target yang selamat dari “kegilaan” di Lubang Buaya. Namun untuk itu, dia harus rela kehilangan putri bungsunya, Ade Irma Suryani Nasution. Mengenai tertembaknya Ade ini, Soelemi memiliki versi lain. Menurutnya, Ade terluka parah karena pantulan peluru Stengun yang dimuntahkan dari senjata Hargijono, saat berusaha membongkar pintu kamar Nasution yang terkunci. “Saya bersumpah Demi Allah, kami tidak secara sengaja menembak putri-nya Pak Nas. Kami fokus kepada Pak Nas saja. Setelah tahu dia lolos, ya kami langsung pergi,” papar Soelemi kepada saya dua tahun yang lalu. Soelemi sendiri harus menebus secara setimpal akibat menjalankan “tugas” yang diembannya itu. 13 tahun lamanya (1965-1978), dia harus menjadi penghuni Rutan Salemba, termasuk beberapa bulan mendiami “neraka” bernama Kapal Selam. Itu julukan dari para penghuni Rutan Salemba untuk tempat isolasi yang berada di Blok N. Di Kapal Selam dia harus melupakan dirinya adalah manusia. Di ruangan yang hanya cukup untuk tidur dan membuang hajat itu, dirinya pernah selama berbulan-bulan hanya bisa duduk dan berbaring karena tinggi ruangan yang gelap itu sama sekali tidak memungkinkan seorang manusia untuk berdiri. Selama berbulan-bulan juga dirinya harus puas menahan rasa lapar dengan nasi basi bercampur bangsal (beras yang dimasak dengan kulit-kulitnya) tanpa air minum sama sekali. “Terpaksa saya minum air comberan atau malah air kencing sendiri,” kenangnya dalam nada pahit. Eks prajurit Tjakra itu menghabiskan waktunya di Blok N dengan berteman tikus-tikus got, kecoa, cicak dan kelabang yang kadang harus dia santap. Tumpukan kotoran dan genangan air seni sendiri sudah tak digubrisnya. Penyakit kulit dan pencernaan jadi langganan dia sehari-hari. Namun semua dijalaninya  secara tabah. Dia sadar, semua itu sudah menjadi resiko hidupnya. "Saya sudah menyerahkan semuanya: harga diri, rasa sakit,dan masa depan saya kepada mereka, demi menebus apa yang pernah saya lakukan sebagai seorang tentara yang harus melaksanakan perintah atasan. Saya ikhlaskan semua. Tapi memaksa saya untuk mengakui sebagai komunis, sampai mereka membuat saya mati tak akan saya lakukan.Bukan apa-apa, karena memang saya tak pernah merasa menjadi seorang komunis..." ungkap Soelemi. Matanya menerawang seolah sedang menyaksikan masa lalunya.

  • Saat Pengawal Kepergok Sukarno Curi Sawo

    SEBAGAI pengawal Presiden Sukarno sejak awal kemerdekaan, AKBP Mangil menyediakan sebagian besar waktunya untuk sang presiden. Besarnya tanggung jawab pada tugas itu membuat keluarganya sering menjadi “korban”. “Biasanya bapak kalau di rumah senang main piano atau ngajak anak-anaknya jalan-jalan. Tapi kalau ditelepon Istana, ya langsung berangkat. Kita anak-anaknya kadang marah nggak jadi diajak jalan-jalan,” kata Teguh Mangil, putra bungsu Mangil, kepada Historia . Lantaran sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berada dekat presiden, Mangil tahu betul kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan presiden dan anak-anaknya. Banyak pengalaman bersama presiden dan para pengawal yang dia dapatkan, mulai dari yang pahit hingga yang manis atau menggelitik. Pengalaman-pengalaman itu dituliskannya dalam memoar berjudul Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967 . Sukarno, kata Mangil, merupakan pribadi yang sangat dekat dengan rakyat dan bawahannya. Arif, supir presiden sejak masa pendudukan Jepang, merupakan salah seorang yang paling diperhatikan. Hal itu dibuktikan dari momen ketika Sukarno singgah di Cisurupan, Garut, guna memberi penerangan kepada penduduk setempat tak lama setelah proklamasi. Usai memberi penerangan dan beramah-tamah dengan rakyat, Sukarno kembali ke mobilnya. Namun tak lama kemudian dia kembali turun karena supir belum ada. Arif ternyata sedang minum kopi dan makan kue ketika ajudan presiden dan beberapa polisi pengawal menemukannya di sebuah warung. Dia tak terburu-buru menyelesaikan aktivitasnya ketika diberi tahu bahwa presiden sudah menunggu. Alih-alih takut, Arif justru menunggu pertanyaan dari presiden ketika rombongan telah kembali memulai perjalanan. Benar saja, pertanyaan yang ditunggu Arif pun tiba. “Rif, kau dari mana?” kata Sukarno. “Dari ngopi, Tuan. Habis mulai dari pagi saya belum minum kopi. Ajudan tidak ngurusi saya. Dan saya kalau belum minum kopi bisa ngantuk di jalan dan bisa kecelakaan. Di dalam mobil, saya yang tanggung jawab sama Tuan, bukan pengawal. Pengawal ‘kan kalau ada bahaya serangan, itu baru tugas pengawal’,” kata Arif, dikutip Mangil. Mendengar penjelasan Arif, presiden pun mafhum. “Sejak peristiwa tersebut Bung Karno memerintahkan kepada ajudan untuk selalu memperhatikan semua sopir yang mengikuti konvoi,” kata Mangil. Perhatian Sukarno juga diberikan kepada para personil polisi pengawal yang bertugas di Istana, sejak masa ibukota berada di Yogyakarta. Ketika buah-buahan di pohon-pohon yang ada di taman istana matang, Sukarno dan Ibu Fatmawati biasa membagikan kepada para polisi pengawal yang tinggal di paviliun belakang istana. Karena kebiasaan itulah seorang polisi pengawal tak sabar untuk menikmati buah sawo ketika suatu hari melihat sawo-sawo di pohon dekat istana tempat tinggal presiden sudah mulai masak. Dia lantas memanjat pohon itu. Sesampainya di atas, dia melihat presiden berjalan menuju pohon tersebut. Karena takut, polisi itu diam saja di atas pohon sembari berharap presiden tak melihatnya. Bung Karno memang tak sedikit pun menoleh ke arah atas pohon. Namun, mata presiden mendapati seesorang di atas pohon sedang berdiam. Sukarno langsung bertanya sekaligus menyindir kepada polisi-polisi yang mengiringinya. “Itu buah sawonya kok tambah?” tanya presiden. Pertanyaan presiden sontak menimbulkan tawa para polisi yang mengawalnya. Pertanyaan presiden pun membuat polisi yang bersembunyi di atas pohon ikut tertawa. Dia pun pasrah karena presiden ternyata mengetahui keberadaannya. “Bapak ‘kan sudah bilang, biar buahnya tua dan matang dulu. Nanti kamu orang juga dibagi. Kalau kamu tidak sabar, pindahkan saja pohon sawo ini ke dekat asramamu itu,” kata presiden menasehati sang polisi. Si polisi pun baru berani turun ketika presiden sudah pergi. Teman-temannya langsung menyambut dengan tertawaan dan ejekan. “Rasain lu.”

  • Menertawakan Kepedihan Hidup Bersama Joker

    DI tepi jalan tengah Kota Gotham, Arthur Fleck (diperankan Joaquin Phoenix) tak henti menyunggingkan senyum sesuai dengan job- nya sebagai badut. Dengan papan iklan ia berakrobat mempromosikan sebuah toko yang tengah obral barang. Nahas, keceriaannya dirusak oleh gangguan sekelompok geng anak muda. Hari itu, nasib Arthur berakhir dengan tergolek di atas aspal akibat dipukuli. Gambaran pedihnya hidup Arthur yang terhimpit kondisi ekonomi itu jadi pilihan sutradara Todd Phillips untuk membuka tirai film Joker . Karakter ini familiar di masyarakat sebagai penjahat yang acap jadi musuhnya superhero Batman beralter ego Bruce Wayne. Namun film ini bukan tentang Batman yang berkelahi melawan kejahatan Joker. Film berdurasi 122 menit ini justru disajikan Phillips untuk mengisahkan kepedihan-kepedihan Arthur, hingga ia menjelma jadi sosok Joker. Peringatan buat Anda yang tak ingin kesal akibat spoiler , mungkin bisa stop baca sampai sini! Arthur Fleck yang diganggu geng anak muda saat bekerja jadi badut (Foto: dccomics.com ) Phillips yang juga bertindak sebagai penulis naskah bersama Scott Silver memang mengambil latarbelakang filmnya di awal 1980-an. Namun suguhannya masih sangat relevan dengan situasi Amerika Serikat maupun Indonesia saat ini, bahwa kehidupan jelata masih tetap dalam genggaman kaum kaya. Arthur digambarkan sebagai seorang dengan penyakit syaraf otak. Jika ia melihat hal menyedihkan, reaksi pada otaknya bukan memunculkan kesedihan, melainkan tawa. Ia tinggal di apartemen kelas bawah bersama ibunya, Penny Fleck (Frances Conroy). Wanita tengah baya itu mengaku pernah 30 tahun bekerja di perusahaan raksasa milik Thomas Wayne (Brett Cullen), namun kondisi kesehatannya memprihatinkan. Jika di siang hari Arthur berprofesi sebagai badut, malamnya ia menjajaki karier sebagai stand-up comedian atau komika dalam bahasa beken di Indonesia. Suatu hari, ia dipecat dari kantor penyalur jasa badut tempatnya bekerja. Upayanya merintis karier sebagai komika pun gagal total. Depresi, ia pun hanya bisa berkhayal punya karier bagus demi bisa diundang ke program tv “Murray Franklin Live Show”, acara tv favorit sang ibunda yang dipandu Murray Franklin (Robert De Niro). Bagi Arthur, Murray figur ayah yang diidamkan tapi tak pernah ia miliki. Arthur juga berkhayal bisa memacari tetangganya yang seorang janda satu anak, Sophie Dumond (Zazie Beetz). Arthur Fleck banting tulang jadi kepala keluarga untuk menafkahi ibunya (Foto: IMDb) Sayang disayang, semua itu hanya ilusi buatnya sampai pada suatu ketika sebuah kejadian mengubah jalan hidupnya. Di sebuah keretaapi, ia membunuh tiga bankir muda yang bekerja untuk Thomas Wayne gegara mem- bully dia. Momen yang tak disadarinya itu melahirkan sebuah gerakan massa, “Kill the Rich”. Ah , untuk menikmati lebih dalam detailnya, baiknya Anda tonton sendiri Joker yang meski di Amerika baru diputar pada 4 Oktober 2019, namun di Tanah Air sudah tayang sejak 1 Oktober 2019. Selain sajian sinematografi yang apik lantaran pengambilan gambarnya tak monoton dan sangat kental suasana retro -nya, Anda juga akan dimanjakan potongan-potongan lagu klasik dan modern macam “Send in the Clowns” (Frank Sinatra), “Rock and Roll Part 2” (Gary Glitter). Kontroversi Kekerasan Film ini menjadi film pertama raksasa Warner Bros yang berbasis serial DC Comics yang bukan tentang DC Extended Universe ( Man of Steel, Batman v Superman: Dawn of Justice, Suicide Squad, Wonder Woman, Justice League, Aquaman, Shazam! ). Anda takkan disuguhkan aksi-aksi superhero di sini, yang nyatanya belakangan sudah mulai membosankan. Joker menghadirkan pemahaman lain pada para penikmatnya atau bahkan kita. Sosok Joker bisa jadi adalah kita semua, masyarakat umum yang hanya bisa menertawakan kepahitan hidup akibat beragam himpitan ekonomi. Tidak selamanya kebaikan bisa mengalahkan kejahatan, yang dibuktikan dengan sosok Thomas Wayne. Di balik sosok konglomerat yang dermawan itu ternyata terdapat sifat munafik. Pesan lain yang disampaikan adalah, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penguasa, entah politik maupun ekonomi, serta “perselingkuhan” mereka dengan aparat penegak hukum turut memupuk keradikalan seseorang. Pada gilirannya, keradikalan itu menular ke masyarakat luas yang punya nasib serupa. Alhasil, situasi  yang tercipta adalah anarki, sebagaimana satu adegan yang diselipkan Phillips di bagian akhir film. Maka meski kemudian memetik banyak pujian, Joker jugamenuai kontroversi. Adegan-adegannya, seperti adegan penembakan massal di Aurora, Colorado, oleh beberapa pihak dianggap bisa memicu kekerasan bersenjata. Adegan itu diyakini terinspirasi dari film yang bertema dark,The Dark Knight Rises (2012). Joker yang Orisinil Setuju atau tidak, salah satu kelebihan film ini adalah sosok Joker-nya. Tak lain karena penampilan Phoenix yang menghipnotis. Banyak kritikus film menyatakan ia pantas dapat Oscar di edisi mendatang atas peran itu. Fans DC Comics mungkin takkan lagi membicarakan Heath Ledger sebagai pemeran Joker terbaik di salah satu seri garapan Christopher Nolan: The Dark Knight (2008). Phoenix dipuji sudah bisa menyandingi Ledger. Phillips menghadirkan Joker yang orisinil. Terlepas dari ciri-ciri fisik yang tak jauh beda, Phillips menghadirkan Arthur Fleck alias Joker yang bukan copy-paste dari versi komik DC. Sosok Joker sendiri sejak kemunculan pertamanya pada 1940 hingga detik ini masih menimbulkan perdebatan. Berbeda dari karakternya yang jelas dikreasikan penulis Bill Finger, sosok visual Joker masih mengundang perdebatan tentang siapa ilustrator penciptanya. Karakter Joker muncul kali pertama di edisi nomor 1 komik Batman pada 25 April 1940 (kiri) terinspirasi dari aktor Conrad Veidt (Foto: Universal Pictures) Dua pendapat masih bersilang pendapat tentang siapa ilustrator pencipta Joker. Kubu pertama menyatakan Bob Kane, kubu lainnya Jerry Robinson. Kubu pendukung Kane berargumen, Kane lebih dulu menciptakan Joker yang terinspirasi dari gambar Joker di kartu remi. Sementara, Robinson mengklaim bahwa dia yang pertamakali mengkreasikan tokoh Joker, terinspirasi dari aktor Conrad Veidt dalam film The Man Who Laughs (1928). Bill Finger sendiri, sebagaimana dimuat Jurnal Con-Tinued: Batmania, dalam diskusi panel di New York Acedemy pada 14 Agustus 1966 mengaku tidak ingat betul siapa di antara keduanya yang menciptakan Joker. “Mulanya saya ditelefon Bob. Dia punya ide tokoh penjahat baru. Dia memegang kartu permainan. Rupanya Jerry Robinson atau Bob, saya tidak ingat siapa, melihat kartu itu dan mereka (Jerry atau Bob) membuat sketsanya. Awalnya tak seperti Joker, lebih seperti badut. Tapi kemudian saya perlihatkan gambar aktor di The Man Who Laughs kepada Bob yang kemudian menggambarnya untuk memberi aspek yang lebih sinis. Lalu dia menggambar sosoknya dengan wajah putih, bibir merah, rambut hijau. Dan itulah Joker,” tutur Finger. Untuk latarbelakang, Finger membuat karakter Arthur menjelma menjadi Joker karena cairan kimia yang menjadikan kulitnya seputih susu, rambutnya sehijau rumput, dan bibir semerah delima. Cairan itu juga yang membuatnya jadi psikopat  gila namun cerdik. Sosok Joker pertamakali dimunculkan DC Comic di komik Batman edisi 25 April 1940. Seiring zaman, dalam komik-komik DC turut muncul beragam versi latarbelakang Joker, mulai dari seorang anggota gangster, pegawai yang mencuri uang perusahaan, hingga seorang komika yang depresi. Namun semua versi serupa soal kegilaan Joker, yakni berawal dari terceburnya dia ke sebuah tangki cairan kimia. Arthur Fleck yang punya penyakit gangguan syaraf otak (Foto: warnerbros.com ) Namun bukan itu yang dihadirkan Phillips dalam film Joker . Arthur alias Joker  dalam karya Phillips merupakan anak yang diadopsi Penny Fleck, wanita pengidap halusinasi akibat patah hati pada Thomas Wayne. Kegilaan Arthur datang dari kelainan syaraf otak yang disebabkan kekerasan oleh pacar Penny di masa kecil. “Kami tidak mengambil apapun dari komik. Kami membuat versi sendiri dari mana seseorang seperti Joker berasal. Kami bahkan tak membuat Joker, namun kisah bagaimana seseorang bisa menjadi Joker. Seorang yang lemah dan tersakiti namun menjadi psikopat yang menggalang anarki di Kota Gotham,” papar Phillips kepada Empire , 8 Juli 2019.

  • Jenderal Jago Gaple

    SUATU hari di tahun 1993 , Jenderal Edi Sudradjat (Panglima ABRI sekaligus Menteri Pertahanan RI) meminta Sersan Mayor Nius Maapanawang, sopir pribadi merangkap pengawal, mengantarkannya ke rumah mertuanya di Kuningan, Jawa Barat.  “Saya ingat saat itu saya masih terbilang baru sebagai sopir beliau,” kenang eks prajurit Kopassus AD itu. Begitu sampai di Kuningan malam hari, Edi tidak langsung tidur. Dia malah memanggil Nius dan memerintahkannya untuk mengeluarkan “gambar kelelawar” dari mobilnya. Nius yang kebingungan dengan perintah itu, lantas bertanya: “Mohon izin, Jenderal! Maksudnya apa? Obat nyamuk?” “Ah kau ini…Biasa, itu kartu gaple,” ujar Edi sambil tersenyum. Nius pun diam-diam merasa geli dalam hatinya. Selain jago telik sandi dan menembak, Edi pun dikenal piawai bermain gaple. Hobi itu ditekuninya sejak menjadi taruna AKABRI dan kerap dimainkannya ketika dia terlibat dalam berbagai operasi militer seperti di Timor-Timur. Di luar tugas, Edi pun sering bermain gaple ketika waktu senggang, terutama saat menunggu waktu berburu rusa dan babi hutan, salah satu hobinya yang lain. “Dia itu jago kalau main gaple. Dia bisa “tahu” siapa yang lagi memegang kartu balak enam di antara kami, kawan-kawannya main gaple,” kenang Letnan Jenderal (Purn) F.X. Sudjasmin,  koleganya di ketentaraan. Jarang sekali Edi kalah dalam setiap permainan. Karena itulah, kata Sudjasmin, Edi nyaris tak pernah mendapatkan “sanksi” khusus untuk pecundang, seperti memakai helm baja berlapis-lapis atau kuping dipasangi karet. Namun sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya dia terjatuh jua. Dalam suatu pertandingan seru, dia pernah harus mengakui keunggulan dua lawan tanding-nya, yang tak lain adalah para juniornya: Kolonel Sutiyoso dan Kolonel Agum Gumelar. Syahdan, pada suatu siang di tahun 1988, Kolonel Sutiyoso (Asisten Operasi Komandan Jenderal Kopassus) dan Kolonel Agum (Asisten Intel Kopassus) diperintahkan untuk datang ke rumah Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal Edi Sudradjat. Saat menuju rumah KASAD, mereka berdua sempat bertanya-tanya, ada apa gerangan? Setiba di sana, ternyata sudah ada komandan mereka, Brigjen Kuntara. Rupanya Edi mengundang mereka bertiga hanya untuk mengajak bermain gaple. Singkat cerita, mulailah mereka masuk dalam permainan. Edi berpasangan dengan Kuntara, sedangkan Sutiyoso bermitra dengan Agum. Meskipun menghadapi senior-seniornya, Agum dan Sutiyoso tetap melakukan perlawanan secara serius. Pada suatu kesempatan, Agum bisa menggaple kartu sehingga skor langsung berubah menjadi 2-0 untuk kemenangan pasangan Agum-Sutiyoso. Saking gembiranya atas kemenangan itu, Agum berteriak senang sambil menari-nari jejingkrakan. Melihat ulah rekannya itu, Sutiyoso sempat was-was. Dia khawatir kedua perwira tinggi yang ada di hadapannya itu tersinggung. Namun hatinya mulai lega saat melihat sikap Edi dan Kuntara. Alih-alih tersinggung, mereka berdua malah tertawa-tawa melihat ulah Agum. “Di situlah saya melihat sosok Pak Edi yang sangat fair dan gentlemen . Kalau main kalah, ya kalah,” ujar Sutiyoso dalam biografi Edi Sudradjat, Back to Basic: Dari Operasi ke Operasi karya Yudhistira ANM Massardi, Iwan Santosa dan Hendi Jo. Namun tak urung, sepulang dari rumah Edi, Agum sempat ditegur juga oleh Sutiyoso. “Gum, enggak nyadar apa kamu tadi, nari-nari depan KASAD?” ujar Sutiyoso. “Waduh! Iya ya Yos, aku lupa,” kata Agum seraya mesam-mesem.

  • Pelopor Jurnalisme Komik di Indonesia

    Bicara soal komik dan jurnalisme, nama Joe Sacco barangkali akan sering disebut. Jurnalis dan kartunis Amerika Serikat ini terkenal karena karyanya, Palestine (1996). Palestine bercerita tentang pengalamannya di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza pada Desember 1991 dan Januari 1992. Sacco menggambarkan situasi di tempat tersebut dan menekankan pada sejarah dan keadaan menyedihkan rakyat Palestina. Selain Palestine , Sacco juga membuat komik hasil reportase Save Area Gorazde (2000), The Fixer (2003), dan Footnotes in Gaza (2009). Karya-karya Sacco kemudian dikategorikan sebagai jurnalisme komik. Di Indonesia, Harian Rakjat , koran yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), telah membuat –yang oleh Harian Rakjat disebut sebagai "cerita gambar yang diangkat dari reportase"– pada 1965. Komik pertama tersebut berjudul Indramajutak Terlupakan , terbit pada 14 Maret 1965. Indramayu tak Terlupakan bercerita mengenai konflik lahan antara petani dengan Jawatan Kehutanan pada 15–16 Oktober 1964. Konflik tersebut mengakibatkan diprosesnya lima orang petani karena dituduh melakukan pengeroyokan terhadap seorang polisi kehutanan. Kelima petani Indramayu tersebut lantas dijatuhi hukuman penjara. Kisah tersebut ditulis oleh Nurlan, wartawan Harian Rakjat yang belakangan diketahui sebagai Martin Aleida. Ia baru berusia 22 tahun saat meliput persidangan lima petani dalam kasus konflik lahan tersebut. Naskah Martin kemudian dilukis oleh pelukis Lekra bernama Bramastho. Kisah tersebut terbagi dalam tiga seri dan terbit setiap hari Minggu, tepatnya pada 14 Maret, 21 Maret, dan 28 Maret 1965. Tiap seri terdiri dari tiga panel gambar beserta narasi reportase di bawahnya. “Saya kira (ide) ini dari Bramastho,” kata Martin Aleida yang menjadi wartawan Harian Rakjat sejak 1963 hingga 1965 ini kepada Historia . Di Harian Rakjat , tidak ada pelukis tetap. Bramastho merupakan pelukis lepas yang hidup dari lukisan. Pasca peristiwa 1965, Martin hanya beberapa kali bertemu dengan Bramastho dan tidak mengetahui kabarnya lagi. “Sesudah peristiwa itu kita masih ketemu beberapa kali. Saling bersembunyi. Saya kira dia sudah meninggal sejak lama,” kata Martin. Sejauh ini, komik yang dibuat Bramastho tersebut menjadi komik berdasar reportase pertama di Indonesia mengingat belum ada karya serupa pada era itu. “Saya kira itu pertama kali di Indonesia. Reportase terus dijadikan komik. Setahu saya itu,” kata Martin. Pada 16 Mei 1965, Harian Rakjat kembali mengeluarkan komik berjudul Bojolali . Kali ini, Harian Rakjat tidak memberi keterangan apakah komik ini berdasarkan hasil reportase. Namun, kisah ini berdasarkan pada peristiwa Boyolali pada November 1964. Komik ini juga disusun menggunakan template yang sama dengan Indramaju tak Terlupakan . Bojolali terbit tujuh bagian selama Mei hingga Juni 1965. Komik ini dilukis oleh Bramastho, sedangkan naskahnya ditulis oleh Amarzan. Menurut Marcel Bonneff dalam Komik Indonesia , pada masa pimpinan Sukarno, komik Indonesia dipenuhi gagasan nasonalisme. Tema-tema pahlawan menjadi arus utama komik Indonesia. Komik dalam Harian Rakjat masuk dalam era ini. Namun, perbedaanya, komik Indramaju tak Terlupakan dibuat berdasarkan hasil reportase. Bonneff mencatat pada 1971 terdapat beberapa koran di Indonesia telah menampilkan komik. Indonesia Raya memuat komik Tarzan , Flash Gordon hingga Dunia Charlie Brown . Kompas memuat komik Perdagangan Sendjata dengan Suku Sioux , sedangkan Berita Yudha menampilkan The Lone Ranger . Bukan hanya koran, majalah mingguan hingga majalah anak-anak juga telah memuat komik. Namun belum ditemukan lagi produk jurnalisme komik saat itu, sebagian besar koran-koran tersebut menyajikan komik fiksi Amerika, cerita wayang, hingga komik satir. Brad Mackay dalam artikelnya "Comic Journalism: A Guest Post By Brad Mackay" di adastracomix.com menyebut bahwa contoh pertama dari jurnalisme komik datang dari Harvey Kurtzman, editor pendiri majalah Mad . Peran Kurtzman dalam jurnalisme komik muncul setelah ia meninggalkan Mad pada 1955. Ia menjadi semacam kartunis selebritas (menggambar kehidupan selebritas). Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, Kurtzman menulis dan menggambar komik untuk Esquire , Pageant,  dan TV Guide . Pada 1960, ketika memulai majalah Help!,  Kurtzman semakin memperjuangkan tren jurnalisme komik. Ia mempekerjakan sejumlah pemain muda berbakat untuk membantu mengisi halaman-halamannya, seperti Woody Allen, John Cleese, Terry Gilliam, dan Gloria Steinem. Kurtzman juga mengirim kartunis seperti Jack Davis dan Arnold Roth untuk mewawancarai Casey Stengel atau melaporkan kehidupan sehari-hari di Moskow.

  • Solidaritas untuk Massa Aksi

    SEMASA demonstrasi massif menolak RKUHP beberapa waktu lalu, Ananda Badudu menggalang solidaritas dengan membuka donasi lewat akun Twitter -nya. Dana yang terkumpul kemudian ia gunakan untuk keperluan medis dan logistik mahasiswa yang berdemo di depan DPR pada 23 dan 24 September 2019. Demonstrasi oleh mahasiswa di Jakarta. (Foto : Fernando Randy/Historia) Maka begitu mendapat laporan lewat Twitter bahwa ada mahasiswa yang kekurangan air, ia langsung mengirimkan air tak berapa lama kemudian. Begitu pula bila ada mahasiswa yang tumbang karena terus ditembaki gas air mata oleh polisi, Ananda akan langsung mengirimkan tim medis. Namun, aksi kemanusiaan itu hanya berlangsung beberapa hari. Pada 27 September dini hari, Ananda ditangkap polisi di rumahnya. Penangkapan itu memicu protes dari masyarakat. Ananda dibebaskan pada sore harinya dengan status saksi. Selain Ananda, para ibu pedagang minuman dan pedagang buah di Jalan Colombo Yogyakarta pun tak ingin ketinggalan membantu aksi. Mereka membagikan sebagian dagangan mereka pada para pendemo. Upaya penggalangan solidaritas untuk gerakan massa juga terjadi pada demonstrasi mahasiswa 1998. Sejumlah ibu bahu-membahu menyediakan nasi bungkus untuk para mahasiswa yang sedang menduduki DPR. Suara Ibu Peduli (SIP) menjadi salah satu gerakan dari para perempuan aktivis. Dalam artikelnya “Politik Representasi Suara Ibu Peduli”, inisiator SIP Gadis Arivia menyebutkan, sebelum membantu logistik mahasiswa pendemo, SIP lebih dulu membuka bazar susu murah. Penjualan susu dan penggalangan dana dari masyarakat untuk aksi mahasiswa itu berhasil mengumpulkan dana lebih dari satu miliar rupiah. Dengan dana itu, para ibu menyalurkan 70.576 nasi bungkus yang mayoritas merupakan nasi padang yang dibeli dari warung di hampir seluruh Jakarta. Selain nasi, mereka menyalurkan pula 1.947 kardus air mineral, 2.811 kardus snack, dan ribuan buah. Jumlah tersebut belum termasuk sumbangan masyarakat berupa bahan makanan seperti telur dan ayam hidup. Selain menyiapkan logistik, SIP juga memberi sumbangan pada newsletter mahasiswa Bergerak dan kaos dengan tulisan “Reformasi Total”. Solidaritas untuk mengirim logistik ke massa aksi juga dilakukan para ibu rumah tangga. Aksi solidaritas ini bisa berjalan berkat hubungan baik yang sudah terjalin ketika rush sembako pada krisis moneter 1997. Kala itu, Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) yang terdiri dari berbagai LSM, salah satunya Kalyanamitra, membentuk koperasi sembako. “Lokasi koperasinya di Kalyanamitra, di Rawa Jati, Kalibat. Tapi itu pekerjaan kolektif dari berbagai organisasi,” kata Ruth Indiah Rahayu yang kala itu tergabung dalam Kalyanamitra, kepada Historia . Dengan memotong jalur distribusi yang panjang, semisal membeli beras langsung ke petani, TRK berhasil menyediakan sembako ke masyarakat dengan harga jauh lebih murah. Harga beras di pasaran saat itu berkisar 2000-2500 rupiah per kilogram . Sementara di koperasi harnya 1000 rupiah per kilogram. Agar penjualan sembako murah tidak salah sasaran, TRK meminta bantuan pada para RT untuk mendata keluarga miskin kota yang tidak mampu membeli sembako. Mereka yang tersaring kemudian diberi kartu. Tiap minggu, antrian koperasi dibuka. “Wah ya orang antri untuk jadi anggota koperasi. Waktu itu yang didata ialah nama ibu, bukan nama bapak,” kata Ruth. Ruth menjelaskan lebih jauh dalam artikelnya “The Women’s Movement in Reformasi Indonesia”, pembuatan koperasi bukan berarti mendomestifikasi perempuan. Sesuatu yang domestik ketika dijadikan gerakan politik justru akan menjadi politis. Ruth menyebutnya politik logistik. Pilihan TRK untuk mendaftar perwakilan tiap keluarga dengan nama ibu pun karena alasan politis. Dari kegiatan koperasi sembako TRK inilah uang untuk membiayai kegiatan dapur umum di didapat. Lebih jauh, Kalyanamitra jadi punya kedekatan dengan ibu-ibu di kampung sekitar. Para ibu dari keluarga miskin-kota-anggota-koperasi inilah yang bekerja di dapur umum Kalyanamitra pada demonstrasi 1998. “Para ibu ini bukan aktivis. Itu aksi kolektif politik para ibu,” sambung Ruth. Nasi bungkus untuk mahasiswa-demonstran dikirim tiga kali sehari. Bahan mentahnya, seperti beras, diambil dari barang-barang koperasi. Makanan ini diolah secara bergantian oleh ibu-ibu di kampung sekitar Kalyanamitra. Tugas memasak dibagi menjadi tiga shift: pagi, siang, dan sore. Ada yang berbelanja kebutuhan seperti kertas nasi dan minuman kemasan, ada juga yang bertugas  mengantarkan makanan ke DPR dan membagikannya. Politik ibuisme yang dijalankan Soeharto membuat para ibu itu aman ketika mengirimkan makanan ke para mahasiswa pendemo. Sumbangan obat-obatan juga diberikan untuk mahasiswa yang tumbang. “Makin hari yang daftar mau ikut masak makin banyak. Mereka ingin memberikan kontribusi politik dalam perubahan,” kata Ruth.

  • Salam Olahraga! Apa Kabar Ary Sudarsono?

    KENDATI usianya nyaris kepala tujuh, sosok presenter olahraga populer RCTI era 1990-an itu bicaranya masih lugas. Terlebih jika membicarakan bola basket, olahraga yang mengorbitkan namanya, dia jadi berapi-api. Lama menghilang dari sorotan publik, Ary Sudarsono, pria tadi, berkenan menerima Historia di sebuah kedai teh tarik Aceh di Bintaro, Tangerang Selatan. Mengenakan pakaian serba hitam plus peci berwarna sama, Ary bicara banyak soal dunia basket dan kiprahnya di dalamnya. “Basket memang sudah dari SD, jadi enggak mungkin saya lupain,” ujarnya. Menurutnya, dia masih ingin mendarmabaktikan hidupnya buat basket kendati usianya tak lagi muda. Bakti itu dia wujudkan dengan menggagas Liga Bocah Indonesia (LBI). Untuk mewujudkan kompetisi basket setingkat Sekolah Dasar (SD) itu, Ary menggandeng institusi-institusi pendidikan. Ide itu, kata Ary, terinspirasi dari kebijakan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang menetapkan olahraga kompetitif dimasukkan ke dalam kurikulum wajib sebagai bentuk dukungan institusi pendidikan. “Jadi program gue di LBI itu student athlete , kayak Kennedy dulu. Harus ada kerjasama dengan sekolah-sekolah. Agar si murid bisa jago olahraga tapi rapor juga enggak jelek. Itu sejak 2017, tapi sampai sekarang belum terwujud. Saya sudah coba sampaikan ke Erick (Thohir, Dewan Kehormatan PP Perbasi) tapi enggak didukung,” sambungnya. Antara Basket dan Sepakbola Kendati cinta basket, beragam olahraga pernah Ary jajal. “Olahraga itu sebenarnya hobi keluarga. Bapak gue sempat jadi Ketua PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) dan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Jakarta Pusat. Bapak, sebagaimana ibu, juga mantan atlet korfball,” kata Ary. Ary lahir dari pasangan Sudarsono Brotomidjojo dan Tini Ambar Suarti di Jakarta, 20 Juli 1951. Ia anak sulung dari tujuh bersaudara. Sebagai anak pengurus olahraga, Ary ingin pula jadi atlet. Skill basketnya pun terus dia asah hingga di kemudian hari Ary berhasil masuk timnas basket Perbasi sebagai point guard . Di masa senjanya Ary Sudarsono masih berusaha mendarmabaktikan diri di basket nasional (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Semasa SMA, Ary punya tiga pilihan cabang olahraga untuk masa depannya: basket, sepakbola, dan judo. Namun, pada akhirnya Ary memilih basket lantaran itu olahraga pertama yang membuatnya ingin berkiprah di jalur olahraga meski belum tentu bisa menunjang masa depannya. Ary akhirnya berhasil menjadi anggota timnas basket. Di liga, Ary merupakan pemain klub Indonesia Indonesia Muda (IM). Saat sudah mantap di basket dengan rutinnya mengikuti latihan IM itulah Ary digoyahkan pendiriannya. Ajakan berkecimpung di sepakbola mendatanginya. Adalah pelatih legendaris Endang Witarsa yang mengajaknya. “Waktu SMA saya dilihat oleh Endang Witarsa. Dia ajak saya jadi kiper. Dia juga yang melatih saya. Saya tanya, kenapa saya jadi kiper? Kata dia, tangkapan saya bagus. Posisi badan juga bagus, nangkep bolanya bener. Toh karena saya juga pemain basket, kan,” ujar Ary berkisah. Namun sepakbola bukan satu-satunya olahraga lain yang menarik hatinya. Majalah Jakarta Jakarta edisi 1989 mencatat, Ary pernah jadi juara nasional judo yunior pada 1970, hingga diikutkan ke kejuaraan-kejuaraan mancanegara. “Beladiri judo juga sejak kecil. Namanya anak laki, harus punya beladiri. Tapi dari judo saya juga terhindar dari cedera latihan bola. Dari teknik judo saya bisa terbang dan berjatuhan nangkap bola dengan posisi jatuh yang benar,” tambahnya. Ketidakfokusannya itu membuat sang ayah komplain, terlebih saat tahu Ary dilirik pelatih tim PSSI Yunior Djamiat Dalhar. Sang ayah yang saat itu menjabat Ketum PASI, khawatir pendidikan Ary terganggu jika terlalu banyak aktivitas olahraga. Sang ayah mewanti-wantinya bahwa olahraga tak menjamin masa depan cerah. “Bapak saya komplain. Dia lari ke Ketua PSSI, Pak Kosasih (Poerwanegara, red .). Dia tanya, ‘ Broer , ini anak saya elo mau jadiin apa? Masa depannya gimana kalau jadi kiper?’ Pak Kosasih jawabnya, ‘Wah, kalau sampai ke situ saya enggak bisa ngomong apa-apa. Beginilah olahraga Indonesia’,” kata Ary mengenang dialog ayahnya dan Kosasih. Bukan hanya ke PSSI, ayah Ary juga mendatangi Menpora R. Maladi seraya membawa Ary untuk dikenalkan ke sang menteri. “Pesannya sama, ‘Coba dikaji lagi, Dek. Kalau bisa sekolahnya yang benar. Contoh Sarengat. Setelah juara Asian Games dia ambil sekolah dokter’,” tambah Ary. Walhasil, terjadi benturan ambisi antara Ary yang menginginkan olahraga dan ayahnya yang ingin Ary lebih menseriusi pendidikan. Ary mengakui, kesibukannya di dunia olahraga bikin pendidikannya di SMA Perguruan Cikini keteter . Namun, ia memantapkan tekad untuk jalan terus di jalur olahraga. “Ayah saya kasih warning . Siap-siap ya, di olahraga tuh enggak akan jadi apa-apa, katanya. Tapi saya bilang, setiap manusia hidup sudah ada garisnya. Mungkin garis saya di sini (olahraga),” sambungnya. Sang ayah akhirnya luluh. Ary dibebaskan menentukan pilihan hidupnya dengan syarat tak boleh setengah-setengah menjalaninya dan siap menanggung risiko yang bakal menimpa. Seiring perjalanan waktu, Ary akhirnya mesti memilih satu dari kiprahnya di dua cabang. “Suatu saat saya terpilih antara timnas basket dan PSSI Yunior. Ada dua agenda, satu Kejuaraan Asia Yunior di Manila tinggal sebulan lagi, bersama tim PSSI Yunior; satu lagi Kejuaraan Asia untuk basket yang dua bulan lagi. Pak Djamiat enggak mau saya ke basket,” kenangnya. Ary Sudarsono punya alasan memilih basket ketimbang sepakbola dan judo di masa mudanya (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Setelah memikirkan masak-masak, Ary pilih basket. Dengan berat hati ditinggalkannya sepakbola. Ia pun kena omel pelatih Djamiat Dalhar dan Endang Witarsa. “Dasar kamu tampang sinyo, otak pacul, katanya. Kenapa enggak pilih bola? Karena kalau habis latihan kiper, saya enggak bisa belajar. Drill -nya kan gila, bisa babak belur sampai muntah-muntah. Tangan gemetar habis nahan tendangan-tendangan,” ujar Ary. Alasan lain yang bikin Ary menyisihkan sepakbola adalah atmosfernya. Bagi Ary, atmosfer di basket jauh lebih terasa lantaran jarak antara penonton dan lapangan berdekatan. “Interaksi sama penonton terasa sama kita. Meningkat semangat ingin jadi hero di lapangan. Kalau di bola, paling kalau bola kemasukan saja terdengar ‘ Woy , kiper goblok’, hahaha …,” sambung  pria tampan yang selalu ceria itu. Keputusan Ary ternyata betul. Dalam kurun 1970-1978, dia selalu menjadi bagian dari timnas basket Indonesia. Popularitas namanya pun merambah ke luar negeri. Setelah pensiun, Ary tak ingin hidup jauh dari basket. Sempat terpilih menjadi wasit internasional FIBA (federasi basket internasional) pertama dari Indonesia, Ary terus bersemangat mengabdi di basket dengan masuk Perbasi. Di situlah dia gigih mempopulerkan basket ke kalangan muda lewat Indonesian Basketball League (IBL) (kini NBL) hingga Liga Basket Mahasiswa Indonesia (LMI, kini LIMA). Upaya untuk mempopulerkan basket di tanah air juga dilakukan Ary dengan menegosiasikan siaran NBA, dan berhasil dengan bukti disiarkannya NBA di sebuah stasiun tv swasta pada 1990-an. Anda para fans NBA tanah air tentu tak asing dengan wajah dan suara khas Ary yang selalu muncul sebelum pertandingan dimulai dan setelah usai. Dari menjadi presenter NBA itulah Ary kemudian “laku keras” sebagai presenter yang khas dengan jargon “Salam Olahraga!”-nya. Tidak hanya basket, ternyata ia juga jempolan bicara olahraga lain macam sepakbola sampai judo. Selain pernah jadi ring announcer tinju, curriculum vitae -nya penuh dengan beragam julukan: Mr. Golden Whistle, Mr. NBA Asia, Mr. Nike, Mr. FILA, hingga Mr. Showtime. Setelah pensiun basket sebagai pemain dan wasit, nama Ary Sudarsono mengorbit sebagai presenter olahraga legendaris (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Di luar dunia olahraga, Ary juga “melek” politik. Itu dibuktikannya dengan pernah  menjadi kader Partai Amanat Nasional (PAN) meski tak lama. Hanya satu bidang yang tidak dikuasai pria multitalenta itu. “Ya paling berdagang (bisnis) saja yang gue enggak bisa, hahaha …,” celetuknya. Dari basketlah nama Ary populer di masyarakat. Dari olahraga itu pula beragam penghargaan diterima Ary. “Penghargaan-penghargaan dari luar (negeri) itu rata-rata kata-katanya hampir sama. Apresiasi dalam pengembangan basket. Tapi di Indonesia penghargaan gue cuma dua, Lifetime Achievement Award dari SIWO sama Panasonic Award sebagai presenter olahraga terbaik (pria, 2000),” tutur Ary.

  • Mendengar Peristiwa 1965 di Udara

    HARI itu, 2 Oktober 1965. Letda Udara (kini kolonel purnawirawan) Pramono Adam mendapati hal tak biasa ketika sedang di udara. Kala itu, Pram, sapaan akrab Pramono, sedang menerbangkan helikopter Mi-6 dari Lanud Husein Sastranegara, Bandung menuju Lanud Atang Senjaya, Bogor. Informasi radio begitu ramai di cockpitnya. Informasi itu ternyata menyangkut politik dan menentukan jalannya sejarah bangsa. Kendati perwira, Pram selaku perwira AURI mengaku "buta" politik. Saat itu mayoritas personil AURI “buta” politik. “Memang jaman itu tentara sebetulnya nggak boleh berpolitik, apalagi Angkatan Udara. Kita hanya jadi technology savior. Jadi boleh ngomong hanya soal pesawat, politik nggak ada,” ujarnya kepada Historia.ID. Ketidaktahuan politik itu membuat Pram menjalani hari-hari sejak 30 September hingga 2 Oktober 1965 seperti hari-hari sebelumnya di Wings Operasi 004 Lanud Atang, tempatnya bertugas, kendati situasi politik di pusat tengah bergejolak. Pada 1 Oktober, Pram bersama rekannya seorang penerbang AURI harus menerbangkan heli Mi-6 ke Bandung. “Kita lagi me-repairramp door-nya, itu rusak,” ujar Pram.

  • Melumpuhkan Gerombolan G30S tanpa Peluru

    SERMA purnawirawan Edi B. Somad, veteran Pertempuran Bekasi semasa Perang Kemerdekaan yang dikaryakan di Yonavet Koramil 07 Tambun, Bekasi,selalu ingat kejadian yang dialaminya pada 3 Oktober 1965 saat sedang piket. Kejadian itu merupakan kelindan dari peristiwa 1 Oktober yang terjadi di ibukota. “(Tengah) malam 1 Oktober itu saya sedang piket di Koramil Tambun. Danramilnya Pak Sadikin. Sama kawan-kawan saya dikonsinyir sampai pagi. Tapi sebelum saya pulang siangnya, saya dikasih info sama kawan-kawan lain bahwa di Jalan Kalijambe (Tambun Selatan, red. ) ada gerombolan tentara seragam loreng-loreng pada ngaso ,” ujar Edi kepada Historia. Ternyata yang diinfokan itu adalah pasukan Yon 454/Raiders yang melarikan diri setelah terlibat baku tembak dengan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD, kini Kopassus) di Pondok Gede dekat PAU Halim Perdanakusuma pada 3 Oktober pagi. Mengutip Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang , pasukan Raiders itu sebagian sudah dikonsolidasikan setelah terjadi gencatan senjata yang “dimediasi” perwira Angkatan Udara. “Sedangkan sisanya yang masih ikut petualangan mengundurkan diri ke Tambun. Pengejaran segera dilakukan, hasilnya 237 orang menyerah tanpa membawa korban,” tulis Pour. Info tentang pasukan yang diterima Edi dan kawan-kawannya itu lalu diteruskan ke danramil. Tak lama setelah itu, Edi ditugaskan mendatangi dan membujuk gerombolan tentara tadi agar merapat ke markas Koramil Tambun yang saat itu bertempat di Gedung Tinggi Tambun (kini Gedung Juang Tambun). Jantung Edi sempat berdegup kencang saat tiba di depan gerombolan itu dan disambut dengan kokangan senjata. Setengah mati ia berupaya menenangkan diri agar dapat menjalankan misi dan menjaga supaya jangan sampai memicu letusan senjata. “Siapa itu?” tanya seorang dari gerombolan, sebagaimana ditirukan Edi. “Saya Edi, dari Koramil.” “Ada apa?” “Saya ada perintah dari danramil, Pak Sadikin, bahwa kalian tidak bersalah. Hanya terbawa-bawa (perintah provokatif). Jadi bagaimana, kalian mau melarikan diri tapi tak ada tujuan atau bisa kami koordinir? Nanti bisa dikembalikan ke kesatuan,” kata Edi. Edi B. Somad mengisahkan bagaimana ia dan rekannya di Koramil Tambun melucuti gerombolan pasukan liar terafiliasi PKI tanpa pertumpahan darah (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Tidak langsung memberi jawaban, gerombolan itu “meraba-raba” apakah tawaran Edi itu jebakan atau bukan. Untuk membuktikan bahwa tawaran itu bukan jebakan, dua perwakilan dari mereka lalu ikut Edi ke markas Koramil. Di sana mereka diberi tahu bahwa mereka akan dijamin, tidak hanya keamanannya, namun juga makanan dan rokok. “Mereka akhirnya setuju. Syarat dari kita, semua senjata supaya dikumpulkan di gudang markas. Pas masuk ke markas, kita jelaskan lagi bahwa kita tentara semua kawan. Itu senjatanya ada (senapan mesin) Bren, senapan otomatis (Chung), Thompson, senjata anti-tank. Andaikata waktu itu kita frontal, wah Tambun bisa jadi lautan api sama dia. Orang kita di koramil juga cuma enam orang. Mereka senjatanya komplit,” sambung Edi. Pimpinan mereka pun dipertemukan dengan Sadikin di kantornya. Setelah itu, Edi diperintahkan mengontak Kodim 0507 Bekasi untuk kemudian meneruskan info itu ke Kodam Jaya. Edi dan kelima kawannya lalu mengupayakan pengadaan logistik yang mereka janjikan. “Ya rokok, makanan, semua kita minta bantuan warga sekitar saja. Nasi, lauk, kita minta masakin warga. Saya telefon Kodim Bekasi untuk minta bantuan dikontak ke Kodam. Minta truk 40, untuk mengangkut anggota pasukan PKI yang sudah dilumpuhkan,” ujarnya. Namun, Edi dan komandan Sadikin kaget. Sekira pukul 5 sore bantuan yang datang bukannya truk untuk mengangkut personel, malah konvoi pasukan RPKAD dengan pansernya. “Pak Sadikin marah. Komandan pansernya dilabrak. ‘Saudara jangan unjuk gigi di sini! Kalau mau unjuk gigi, tadi tuh waktu senjata mereka masih di tangan. Sekarang tinggal orangnya doang, senjata sudah dilucuti, malah ditakuti’,” kata Edi menirukan kemurkaan komandannya. Gedung Juang Tambun yang pada 1965 dipakai sebagai Markas Koramil Tambun (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Sementara, melihat kedatangan pasukan RPKAD yang mereka hadapi di Halim di pagi harinya, gerombolan Yon 454/Raiders yang sedang mengaso itupun kocar-kacir melarikan diri. Hanya sekira 200-an sisanya yang bisa ditahan di markas Koramil. Baru ketika malam, tiba truk-truk yang diminta untuk membawa sisa gerombolan itu ke Jakarta. Para personil yang kabur lalu –diketahui kemudian bahwa tidak hanya berasal dari Yon 454/Raiders saja tetapi juga dari Tjakrabirawa dan Brigif I Kodam Jaya– meneruskan perjalanan dan dikabarkan menyerahkan diri di Markas Corps Polisi Militer (CPM) di Cirebon karena kelaparan. “Setelah melapor di Cirebon, laporan CPM Cirebon diteruskan ke markas Resimen Tjakrabirawa. Mereka lalu dijemput Resimen Tjakrabirawa dan kemudian dimasukkan kembali ke asramanya (Kala Hitam) di Jalan Tanah Abang D, sebelum dijebloskan ke Penjara Salemba,” ujar Maulwi Saelan dalam memoarnya, Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page