top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Nasib Tragis Sang Environmentalist

    DEMI merayakan natal bersama keluarganya, Francisco Alves Mendes Filho atau biasa disapa Chico Mendes pulang ke rumahnya di Xapuri, Acre, Brazil pada Oktober 1988. Aktivitasnya keliling Brazil mengkampanyekan kelestarian hutan untuk sesaat dia hentikan dulu. Namun, ada yang berbeda dari perayaan natal tahun 1988 itu. Saat pesta ulangtahunnya yang ke-44, 10 hari sebelum natal, Mendes melontarkan kalimat aneh. “Saya menganggap saya tak akan hidup sampai natal,” ujarnya sebagaimana dikutip Andrew Revkin dalam The Burning Season: The Murder of Chico Mendes and the Fight for the Amazon Rain Forest . Mendes, pria kelahiran Xapuri pada 15 Desember 1944, merupakan penduduk pedalaman belantara Amazon yang getol mengkampanyekan pelestarian hutannya. Hutan hujan terluas di dunia itu merupakan rumah bagi ribuan jenis tanaman dan hewan. “Dan di antara pohon paling ajaib dari semua adalah seringueiras –pohon karet. Kemampuan mereka menghasilkan lateks secara teratur menjadikannya setara dengan pabrik kecil secara biologis”kata Alon Tal dalam tulisannya di buku Speaking of Earth: Environmental of Speeches that Moved the World . Sebagaimana masyarakat di tempat tinggalnya, leluhur Mendes hidup dari menyadap karet alam. “Selama hampir dua abad mereka telah mengekstraksi karet dari pohon-pohon yang tumbuh di sana, untuk memasok nafsu konsumsi karet dunia yang berkembang. Hutan bagi mereka adalah tambang bahan mentah amat berharga,” sambung Tal. Sejak usia sembilan tahun, Mendes sudah diajak menyadap karet oleh ayahnya. Aktivitas itu membuatnya belajar banyak hal tentang karet, mulai dari memilih pohon hingga proses pengasapan sebelum lateks bisa dijual. Pada usia 11 tahun, Mendes bekerja penuh waktu sebagai menyadap karet. Kesehariannya di hutan membuatnya mengenal seluk-beluk hutan di sekitarnya pada usia 18 tahun. Namun, saat itu Mendes belum pernah mengenal dunia di luar hutan apalagi membaca koran. Maka sama seperti masyarakatnya, keluarganya tetap tak tahu bagaimana cara mengatasi utang yang terus menumpuk kepada baron-baron setempat akibat jatuhnya harga karet. Karet merupakan sandaran hidup tiap keluarga dan tumpuan utama perekenomian masyarakat. Begitu pentingnya arti karet bagi membuat mereka pantang merusak hutan. Keharmonisan hubungan manusia-alam itu akhirnya terusik oleh kedatangan perusahaan peternakan ( ranch ). Banyak pengusaha peternakan membabat hutan untuk dijadikan padang penggembalaan hewan ternak mereka setelah pemerintah berkeinginan menyediakan daging terjangkau bagi rakyatnya. Di tempat tinggal Mendes, peternakanFazenda Parana milik Darly Alves da Silva menjadi pemain kunci yang merusak keharmonisan masyarakat dan hutan mereka. “Tahun 1974 mereka membeli sebidang tanah pertama di Xapuri. Darli menjual tanah pertaniannya seluas 250 hektar di Umuarana dan membeli tanah seluas 2.100 hektar di sepanjang kiri-kanan jalan menurun yang membelok ke Xapuri. Di sinilah keluarga itu menciptakan peternakan Fazenda Parana. Padahal daerah itu tadinya adalah sebuah hutan perawan di dalam wilayah suatu seingalistas . Dengan membangun jalan, Lembah Acre, di antara pertengahan 1970-an dan akhir 1980-an telah berubah dari hutan menjadi padang rumput. Dalam proses itu semua, keluarga ini dikenal dengan reputasi pemakai cara kekerasan yang luar biasa,” kata Chico Mendes dalam tulisannya di buku Berjuang Menyelamatkan Hutan: Sebuah Kata Hati . Konflik antara masyarakat dan peternakan terus bermunculan. Dalam suasana itulah Mendes tumbuh tanpa tahu apapun cara untuk menyelesaikannya. Namun, pertemuannya dengan Euclides Fernando Tavora, perwira AD Brazil yang melarikan diri setelah terlibat dalam pemborontakan gagal pimpinan Luis Carlos Prestes pada 1934, mengubah semuanya. Tavora menjadikan Mendes anak didik, mengajarkan membaca, memperkenalkan koran, dan mengajaknya mendengarkan siaran radio. “Dia tak membuang waktu untuk memperkenalkannya pada dasar-dasar sosialis, prinsip-prinsip populis,” kata Alon Tal. Dunia di luar bukan hal asing lagi bagi Mendes sejak itu. Penyelesaian konflik dengan peternakan pun menjadi obsesi Mendes. Untuk itu, Mendes mengajarkan para pemuda di sekitarnya membaca dan menulis. “Pada 1975, Chico mendengar bahwa serikat buruh telah masuk wilayah Acre. Dengan kesadaran kelas yang baru didapat dan hasrat mudanya, ia secara alami cenderung untuk bergabung dengan mereka.” Seiring menguatnya kesadaran teman-temannya akan perlakuan tak adil yang diterima, Mendes mendirikan Rural Workers’ Union dan Rubber Tappers’ Union. Pada 1976, Serikat membuat aksi “standoff”. Sekira 70 orang, lelaki dan perempuan, berjalan menuju hutan untuk menggagalkan penebangan pohon oleh ratusan pekerja yang didukung beberapa pria bersenjata. Aksi itu mendapat dukungan para penyadap karet. Mereka bergandengan tangan membentuk dinding manusia yang menghalangi para penebang pohon (dinamakan empate ). “Itu adalah latihan spontan dalam perlawanan sipil, tetapi itu mengatur nada untuk aksi Mendes berikutnya: tanpa kekerasan, jauh lebih agresif dibanding protes sopan. Para demonstran hanya bertekad untuk menghentikan penebangan,” tulis Alon. Mendes kian aktif mengorganisir dukungan lokal Partai Buruh dalam menyuarakan National Campaign for the Defence and Development of the Amazon. Mereka lalu menuntut pemerintah membuat hutan “extractive reserve” untuk mendukung pelestarian alam sekaligus sumber mata pencarian penduduk. Untuk meluaskan dukungan, Mendes menginisiasi pertemuan nasional penyadap karet di Brasilia pada Oktober 1985. Para penyadap karet dari berbagai pelosok negeri menghadiri pertemuan perdana itu, yang mendiskusikan ancaman lingkungan tempat tinggal mereka dari pembangunan jalan dan perluasan peternakan, serta deforestasi.  Pertemuan itu berhasil menarik perhatian gerakan pecinta lingkungan internasional. Stephan Schwartzman, pecinta lingkungan asal AS, hadir dalam pertemuan itu bersama antropolog Mary Allegretti dan Tony Gross (perwakilan Oxfam). Menurut Margaret E Keck dalam “Social Equity and Environmental Politics in Brazil: Lssons from the Rubber Tappers of Acre”, “pertemuan ini juga menghasilkan pembentukan Dewan Penyadap Karet Nasional dan mulai merumuskan proposal extractive reserve s di Amazon. Hutan cadangan ini, yang dibuat di wilayah publik, akan menjamin penggunaan tanah penyadap karet.” Proposal extractive reserves itu lalu dibawa Serikat ke Sekretaris Lingkungan Hidup Brazil Paulo Nogueira Neto dan dibawa Schwartzman ke Washington. Mendes diundang Environemental Defense Fund and the National Wildlife Federation ke Washington untuk berbicara di depan Kongres AS, World Bank (WB), dan pertemuan tahunan Inter-American Development Bank (IDB) pada Maret 1987. WB dan IDB menyetujui pendanaan extractivereserves . Pemerintah Brazil pun membentuk instrumen hukum bagi pembentukan hutan cadangan itu. “Pada 30 Juni 1988, utusan lokal dari Ministry for Land Reform and Development (MIRAD) menjejakkan kakinya sambil berkata bahwa perkebunan karet Cachoeira tidak akan pernah diambil alih. Hanya 30 hari sesudah itu, suatu perintah untuk pembelian Cachoeira dikeluarkan. Sejak itu, hutan cadangan baru dinyatakan berdiri. Kemudian hutan cadangan lainnya di Sao Luis do Remanso dinyatakan berdiri. Kesemuanya berjumlah 40.000 hektar (150 mil persegi),” kata Mendes. Pada Juli 1987, PBB menganugerahi Mendes Global 500 Award, penghargaan bidang lingkungan yang diberikan kepada aktivis akar-rumput, organisasi lingkungan, dan tokoh masyarakat atas kontribusi mereka terhadap perlindungan lingkungan. Keberhasilan itu membuat Mendes dan rekan penyadap karet masuk dalam bidikan para tuan tanah pengusaha peternakan. Untuk menghancurkan gerakan yang menghalangi kepentingan bisnis mereka, para pengusaha memanfaatkan aparat keamanan dan aparat hukum Brazil yang korup. Perlawanan mereka makin gencar setelah berdirinya União Democrática Rural (UDR). “Di sini di Xapuri, kehadiran UDR mulai terasa. Sejak April 1988, ketika organisasi itu secara formal didirikan, jumlah penembak bayaran di Xapuri bertambah. Sejak itu pula jumlah pembunuhan dan usaha untuk itu meningkat. Orang-orang bersenjata itu dalam kenyataannya adalah sayap militer dari UDR, dan kami adalah target mereka. Tantangan besar lainnya ialah memobilisasi pendapat umum. Dengan begitu kami dapat semakin kuat mendorong pemerintah untuk mengambil alih lebih banyak hutan,” sambung Mendes. Mendes makin sering mendapat ancaman pembunuhan. Pada 29 November 1988, dia mengirim telegram berisi informasi adanya rapat perencanaan pembunuhan dirinya di Peternakan Fazenda Parana ke sejumlah pemangku kebijakan. Namun, pengaduan itu tak ditindaklanjuti. Desa tempat tinggal Mendes juga terus diawasi para pria bersenjata kaki-tangan Darly sejak beberapa bulan sebelum ulangtahun Mendes ke-44. Mereka menghilang begitu pesta itu berjalan lancar dengan banyak tamu. Masyarakat menganggap ketiadaan kaki-tangan Darly di sekitar desa adalah pertanda buruk. Ketika Mendes pulang untuk merayakan natal 1988, para pria bersenjata sudah tak tampak kendati sebetulnya tetap mengawasinya. Kamis 22 Desember malam, Mendes menghabiskan waktu dengan bermain domino bersama beberapa pengawalnya di dapur. Saat hendak menyiram teras belakang, tulis Alon Tal, “Mendes tidak pernah mencapai teras itu. Serentetan tembakan meletus yang membuatnya kembali ke dalam rumah dengan darah berkucuran.” Mendes tewas. Kematiannya menimbulkan kemarahan, terutama di kalangan para penyadap karet. Sementara, penggundulan hutan Amazon semakin menjadi. “Sembilan bulan setelah pembunuhan Chico Mendes, empate masih berjalan baik,” kata Revkin. Namun, korupnya aparat keamanan Brazil membuat pembunuhan Mendes tak pernah benar-benar diusut. Penyerahan diri Darci Alves, anak Darly yang mengaku jadi dalang pembunuhan itu, dan bahkan Darly tak banyak membantu pengungkapan kasus itu. “Chico Mendes merupakan aktivis pedesaan ke-90 yang dibunuh di Brazil tahun itu,” kata Anthony L. Hall dalam bukunya Sustaining Amazonia: Grassroots Action for Productive Conservation .

  • Mengukur Kemurnian Manusia Indonesia

    Banyak masyarakat barangkali masih ragu, atau bahkan tidak percaya dengan kebenaran teori asal mula manusia modern yang pasti selalu dikaitkan dengan benua Afrika. Biasanya muncul pertanyaan: jika benar mengapa setiap orang tidak memiliki fisik seperti orang Afrika? atau siapa sebenarnya leluhur manusia modern itu? Pemikiran seperti itu nyatanya juga masih terus tumbuh di Indonesia. Terlebih para ilmuwan menambahkan teori dari Asia untuk menjelaskan asal usul masyarakat Indonesia. Akhirnya sebagian dari kita belum puas dengan teori para ilmuwan tersebut, dan terus mempertanyakan keaslian nenek moyang yang membentuk gen manusia Indonesia. Baca juga:  Ikuti Proyek DNA: Sebineka Apa Kamu? Dalam acara kajian sains modern, “Asal-Usul Manusia Indonesia”, yang diselenggarakan Museum Nasional Indonesia bekerjasama dengan Gramedia pada 25 Juli 2019 di Auditorium Museum Nasional, Herawati Supolo Sudoyo, Peneliti Genetika Molekul dari lembaga Eijkman, memaparkan dengan jelas unsur genetika manusia Indonesia yang tesusun atas gen dari berbagai bangsa dunia. “Manusia pada dasarnya berkerabat dekat kalau kita lihat dari rekonstruksi silsilah populasi kita,” kata Herawati. Herawati Supolo-Sudoyo, peneliti Molekul Genetika Lembaga Eijkman. (Fernando Randy/Historia). Adanya teori Out of Africa  yang menyebut manusia modern berasal dari Afrika ratusan ribu tahun yang lalu memang cukup membingungkan jika para ilmuwan tidak menjelaskannya dengan lengkap. Herawati mengatakan bahwa persebaran manusia dari Afrika ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, terjadi dalam beberapa tahap yang berlangsung selama ratusan ribu tahun. Sehingga tidak heran jika pada prosesnya terjadi perubahan dalam bentuk fisik akibat perbedaan lingkungan dari tempat asalnya, yakni Afrika. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Colin Groves, profesor Biological-Anthropology di Australian National University, dalam Bones, Stones, and Molecules: Out Of Africa and Human Origins , menyebut jika perubahan bentuk fisik manusia terpengaruh oleh tempat tinggal mereka setelah keluar dari Afrika. Baca juga:  Bukti Terbaru Asal Usul Manusia Modern Dalam mengungkap tabir genetika manusia di seluruh dunia, menurut Herawati, Indonesia memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam proses pencariannya. Sejak dahulu, wilayah Indonesia telah menjadi tempat manusia berlalu-lalang. Dan dari sinilah jenis-jenis manusia tersebar ke daerah-daerah sekitarnya. Seperti manusia dari daratan Asia yang bergerak ke arah timur menuju Pasifik atau ke selatan menuju Australia, sudah tentu akan melewati Indonesia terlebih dahulu. “Indonesia di tingkat genetika populasi dunia sangat penting. Sumbangan kita terhadap genetika molekul itu terbesar. Jadi kunci penyebaran manusia itu ada dikita,” katanya. Ahmad Arif, penulis dan wartawan Kompas.  (Fernando Randy/Historia) Saat proses persebaran terjadi, tidak hanya fisik saja yang terpengaruh, tetapi kebiasaan, bahasa, budaya, bahkan komposisi gen pun ikut berubah. Hal itu terjadi saat manusia mulai melakukan pembauran dengan manusia lain yang memiliki perbedaan secara DNA. Periode perubahan gen masyarakat Indonesia berlangsung selama ribuan tahun. Tergantung dari tempat mereka tinggal. Sehingga setiap kelompok masyarakat memiliki periode yang berbeda. Seperti proses pembentukan etnis Banjar di Kalimantar yang diperkirakan memakan waktu 1.300 tahun, hasil campuran etnis Dayak dan Melayu. Baca juga:  Manusia Indonesia adalah Campuran Beragam Genetika “Menarik bahwa ternyata pencampuran etnis di Indonesia itu sudah berlangsung lama sekali. Prosesnya memang alami, namun dipengaruhi oleh banyak faktor,” kata Ahmad Arif, wartawan Kompas yang menjadi pembicara di acara kajian sains modern “Asal-Usul Manusia Indonesia”. Di Indonesia proses pembauran terbesar terjadi pada era perdagangan hingga kolonial, yang telah dimulai sejak abad-abad pertama Masehi. Pada periode tersebut banyak bangsa yang datang ke Nusantara membawa DNA campuran dari wilayahnya masing-masing. Para pedagang dari Arab, Tiongkok, India, Afrika, dan Eropa, yang melakukan kontak dengan masyarakat lokal perlahan mulai mengalami perubahan di dalam genetikanya. Mereka terpengaruh oleh keadaan lingkungan, kebiasaan, makanan, dan segala jenis interaksi yang terjadi di Nusantara. Di samping hubungan pernikahan. Baca juga:  Spesies Baru Manusia Ditemukan “Orang yang tinggal di pesisir, seperti masyarakat Jawa pesisir, pasti ada gen Chinanya, Indianya, sama Arabnya, walau ga semua. Karena memang itu tempat pertemuan genetis,” kata Herawati kepada Historia . Keadaan itu berlaku juga bagi masyarakat Indonesia, baik yang tinggal di pesisir ataupun pegunungan. Masyarakat pesisir yang berinteraksi langsung dengan bangsa asing, ditambah lingkungan laut, memiliki bentuk genetika yang berbeda dengan masyarakat pedalaman, yang umumnya dipengaruhi oleh gen dalam lingkup yang lebih sempit. Potret peserta diskusi. (Fernando Randy/Historia). Sebagai contoh, Ahmad Arif melakukan tes DNA di salah satu laboratorium genetika di Amerika dan Lembaga Biologi Molekular Eijkman. Ia menggunakan sampel darah dan saliva (air liur) untuk melihat komposisi gen di dalam dirinya. Hasilnya memperlihatkan bahwa leluhur Ahmad berasal dari Tiongkok sekitar 9.000 tahun lalu yang menyebar ke kawasan barat dan selatan Asia Tenggara hingga akhirnya masuk ke Pulau Jawa. Baca juga:  Ciri Negatif Manusia Indonesia  "Misalnya saya yang dikonstruksikan sebagai orang Jawa ternyata DNA saya menceritakan bahwa leluhur saya itu macam-macam. Ada yang sekitar 200 tahun lalu dapat tambahan dari China, ada tambahan dari Asia Selatan, dan seterusnya. Jadi saya menjadi Jawa pun bukan berarti paling pribumi karena semua pun ada jejak pembaurannya," kata Ahmad kepada  Historia . Lalu seberapa murni gen manusia yang disebut masyarakat asli Indonesia? Ahmad menegaskan bahwa tidak ada satupun orang Indonesia yang memiliki gen murni atau gen yang tidak bercampur. “Baca DNA menurut saya bisa dibawa kemana aja, bisa bilang mana yang murni. Walau sebenarnya secara ilmiah gaada yang paling murni, semua orang pasti campuran,” tutupnya.

  • Apakah Rezim Mao Terlibat G30S?

    SEBELUM peristiwa G30S meletus, Ketua CC PKI, D.N Aidit berkunjung ke Beijing. Di sana, Aidit bertemu ketua Partai Komunis Tiongkok (PKT), Mao Zedong. Mereka membicarakan situasi politik yang sedang terjadi di Indonesia; suksesi kekuasaan bilamana Presiden Sukarno wafat atau dilengserkan. Tidak lama berselang, terjadilah peristiwa 1 Oktober 1965. Sukarno kemudian tumbang. Jenderal Soeharto naik tampuk kekuasaan mendirikan rezim Orde Baru. Selain PKI, penguasa Orde Baru mencurigai keterlibatan pemerintah Tiongkok dalam G30S. Pada 1967, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Tiongkok diputuskan. Apakah benar penguasa Beijing berada di balik G30S? “Percakapan antara Mao dengan Aidit barangkali merupakan bukti terkuat,” ujar Taomo Zhou, sejarawan Nanyang University dalam peluncuran dan bedah bukunya Revolusi, Diplomasi, Diaspora: Indonesia Tiongkok, dan Etnik Tionghoa, 1945—1967 yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 29 Juli 2019. Peluncuran dan bedah bukuRevolusi, Diplomasi, Diaspora: Indonesia, Tiongkok, Etnik Tionghoa 1945-1967karya Taomo Zhou di aula gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta, 29 Juli 2019. (Martin Sitompul/Historia) Keterlibatan rezim Mao dalam G30S selalu jadi perdebatan. Menurut Taomo, teka-teki itu dapat terjawab bila merujuk percakapan antara Aidit dan Mao. Transkrip percakapan keduanya tertanggal 5 Agustus 1965 tersebut tersimpan dalam arsip Kementerian Luar Negeri Tiongkok. Lebih dari setengah abad mengendap,  arsip tersebut dideklasifikasi secara bertahap pada 2007. Sebanyak 250 bundel arsip setebal 2000 halaman dibuka hanya terbatas kepada peneliti dan sejarawan. Namun sayangnya, pemerintah Tiongkok mereklasifikasi (menutup akses) arsip berharga itu pada 2013 tanpa alasan yang jelas. Taomo menjadi salah satu sejarawan yang beruntung bisa meneliti arsip-arsip itu untuk keperluan disertasi doktoralnya di Universitas Cornell. Disertasi Taomo yang berjudul “Diaspora and Diplomacy: China, Indonesia and The Cold War, 1945-1967” rampung pada 2015. “Secara fundamental kita dapat katakan bahwa Aidit adalah aktor yang dengan sadar merancang gerakan sedangkan pengaruh Beijing pada dasarnya sangatlah terbatas,” kata Taomo. Menurut Taomo keterlibatan rezim Mao pada prahara paling berdarah dalam sejarah Indonesia tidak signifikan. Ketika bertemu dengan Mao, Aiditlah yang menerangkan rencana gerakan merebut kekuasaan. Mao sendiri terkejut saat mendengar gerakan tersebut akhirnya dilancarkan. Berdasarkan bukti itu, Taomo dalam penelitiannya menggugurkan mitos yang tersebar luas di mana Mao digambarkan sebagai “arsitek G30S”. Kendati demikian, dampaknya cukup berimbas besar terhadap masyarakat Tionghoa di Indonesia. Propaganda pemerintah Soeharto yang mengidentifikasi etnik Tionghoa dengan komunisme telah membuat komunitas minoritas itu rawan terhadap kekerasan dan pengusiran selama berlangsungnya pembunuhan massal pada 1965-1966. Akibatnya, lebih dari 160 ribu orang Tionghoa terpaksa meninggalkan Indonesia untuk kembali ke negeri leluhurnya. Dan selama tiga dasawarsa berkuasa, rezim Orde Baru menerbitkan sejumlah peraturan yang diskriminatif terhadap orang Tionghoa. Misalnya, orang Tionghoa peranakan harus mendapat surat kewarganegaraan dengan tanda khusus, sedangkan pendidikan berbasis bahasa Tionghoa dilarang sama sekali. “Tuduhan Orde Baru bahwa Tiongkok itu terlibat di dalam G30S tentunya menjadi sangat lemah,” ujar sejarawan LIPI Asvi Warman Adam yang menjadi pembedah buku. Pendapat Asvi ini bersandar pada informasi yang disampaikan Aidit kepada Mao dua bulan sebelum G30S. Dan juga mengenai pasokan senjata yang dipersiapkan untuk Angkatan Kelima tidak kunjung sampai ke Indonesia. “Kalau Aidit hanya sekedar menyatakan akan melakukan suatu tindakan atau gerakan tentunya informasi itu adalah sangat umum. Coba kita bandingkan dengan apa yang disampaikan Kolonel Latief kepada Soeharto selang beberapa jam sebelum peristiwa itu terjadi,” kata Asvi. Kendati demikian menurut Asvi, penelitian Taomo berhasil membuat rekonstruksi sejarah yang mengungkapkan beberapa hal yang baru mengenai dinamika hubungan Indonesia-Tiongkok. Sementara itu menurut pakar politik internasional, Dewi Fortuna Anwar, meski tidak terlibat langsung mengorkestrasi G30S, bukan berarti Mao tidak mendukung upaya PKI untuk suatu saat merebut kekuasaan. Apakah itu melalui jalan partai ataupun melalui jalan revolusioner. Bahwa ada fakta senjata untuk Angkatan Kelima belum dikirim, tentunya itu bukan berarti senjata-senjata itu tidak dipesan. “Secara teknis, Beijing memang tidak terlibat langsung (G30S), tapi bahwa Beijing sepenuhnya berada di belakang seandainya PKI menjalankan perebutan kekuasaan itu juga tidak bisa dipungkiri,” ujar Dewi. Tidak hanya mengenai G30S, Taomo juga menyoroti berbagai aspek dari hubungan Indonesia-Tiongkok dalam kurun waktu 1945-67. Mulai dari keterlibatan barisan pengawal “Pao An Tui” di masa revolusi, persaingan Beijing dan Taipei (Kuomintang) merebut pengaruh di Indonesia, pengusiran warga Tionghoa di era Sukarno lewat PP 10/1959, hingga pembekuan hubungan diplomatik pada masa awal kekuasaan Orde Baru. “Buku ini sangat kaya dan betul-betul menambah wawasan kita,” pungkas Dewi.

  • Hak dan Kewajiban Raja sebagai Titisan Dewa

    Seorang raja melegitimasi kekuasaannya dengan menganggap dirinya titisan dewa. Dengan menyandang gelar dari dewa, raja punya hak dan kewajiban, baik terhadap dewa maupun rakyatnya. Riboet Darmosoetopo dalam Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Abad IX-X TU menyebut raja diakui masyarakat sebagai penguasa tertinggi dalam negara yang berbentuk kerajaan. Ia adalah penjelmaan dewa di dunia. “Raja mendapat puji-pujian setara dengan dewa,” tulis epigraf Universitas Gadjah Mada itu. Puji-pujian kepada dewa atau raja terdapat pada manggala prasasti. Biasanya dewa penitis yang dipilih adalah Dewa Wisnu, sang pemelihara dunia atau Dewa Siwa, sang perusak dunia. Sebagaimana Raja Balitung yang mengaku titisan Dewa Rudra, salah satu aspek Siwa. Dalam Prasasti Wanua Tengah III disebut Rudramurti. Sementara Raja Airlangga mengaku titisan Wisnu yang disebut dalam Prasasti Pucangan dari 1041. Raja-raja juga suka menggunakan gelar dengan kata tunggadewa. Maksudnya untuk menyatakan dirinya sebagai wakil dewa di dunia. Misalnya, Raja Tulodong yang punya nama gelar Rakai Layang Dyah Tulodong Sri Sajjanasanmatanuragatunggadewa. Dengan gelar yang membawa nama dewa, raja punya hak dan kewajiban. Dia punya kewajiban menyembah dewa dan patuh pada dharmanya. Dia juga harus menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan rakyatnya. Sementara hak raja adalah menarik pajak di wilayah kekuasaannya. Raja juga berhak menghukum orang yang dinyatakan bersalah dan memberi hadiah kepada orang yang berjasa. Dalam Kitab Ramayana , Raja Rama mengajarkan astabrata kepada Wibisana, adik Rahwana . Astabrata adalah delapan sifat dewa yang sebaiknya dimiliki seorang raja. Seorang raja sebaiknya berperilaku seperti Dewa Indra, yaitu dewa hujan. Dia menghujani anugerah kepada rakyatnya. Raja sebaiknya berperilaku bagai Dewa Agni, sang dewa api. Dia membasmi semua musuh dengan cepat. Raja hendaknya bersikap laiknya Dewa Yama, dewa kematian. Dia menghukum orang yang bersalah tanpa pandang bulu. Raja semestinya meniru sifat Dewa Surya, dewa matahari yang mengisap air secara perlahan kemudian mencurahkannya ke bumi bagai hujan. “Maksudnya, dalam menarik pajak mestinya tidak membebani rakyat, caranya ditarik sedikit demi sedikit, hasilnya untuk kemakmuran rakyat,” tulis Riboet. Raja hendaknya mencontoh sifat Dewa Waruna, dewa laut. Dia harus punya kecerdasan ketika berhadapan dengan situasi sulit. Raja juga harus seperti Dewa Wayu, dewa angin. Dia harus bisa menyusup ke mana pun untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Raja harus seperti Dewa Kuwera, dewa kekayaan. Dia harus bisa menikmati kekayaan miliknya. Sementara sebagai Dewa Soma, dewa bulan. Dia harus menciptakan kebahagiaan bagi seluruh rakyat. Menurut Sudrajat, sejarawan Universitas Negeri Yogyakarta, konsep dewaraja semakin nampak pada masa pemerintahan Airlangga (1019-1043). Bukti arkeologisnya adalah arca perwujudannya sebagai Wisnu yang menunggangi pundak Garuda. Dinasti berikutnya yang mengusung konsep dewaraja adalah Dinasti Rajasa yang berkuasa era Singhasari dan Majapahit. Ini nampak ketika Ken Angrok, sang pendiri dinasti, berperang melawan Kertajaya di Desa Ganter pada 1222. Untuk mengalahkan musuhnya itu, Angrok menahbiskan dirinya dengan gelar Bhatara Guru. Saat wafat pun, Angrok memakai gelar Bhatara Siwa yang dicandikan di Kagenengan. Sudrajat dalam “Konsep Dewa Raja dalam Negara Tradisional Asia Tenggara” yang disampaikan dalam Workshop Mengajar dan Meneliti Asia Tenggara di Pusat Studi Asia Tenggara UGM (2012) menjelaskan setidaknya dimulai dari masa Airlangga, bangunan candi mendapat pemaknaan yang sedikit bergeser. Sebelumnya, di India khususnya, candi didirikan untuk beribadah memuja dewa tertentu. “Pada abad ke-11 dan seterusnya candi biasanya dihubungkan dengan kematian,” tulis Sudrajat. Candi, khususnya yang berada di Jawa Timur biasanya diperuntukkan bagi pendharmaan raja tertentu. Misalnya, Candi Kidal dibuat untuk Raja Anusapati, Candi Jago untuk Raja Wisnuwardhana, dan Candi Jawi untuk Raja Kertanegara sebagai Siwa-Buddha. Pada masa Majapahit konsep dewaraja masih terus berlanjut. Di Candi Simping, Blitar ditemukan arca Harihara yang diduga perwujudan Kertarajasa, raja pertama Majapahit. Dia diwujudkan sebagai Siwa dan Wisnu dalam satu arca. “Bukan jenazah raja yang ada di candi itu, tetapi terdapat arca perwujudan raja dalam bentuk Dewa tertentu,” tulis Sudrajat. Konsep dewaraja ditemukan pula di kebudayaan kuno Asia Tenggara sebagai upaya untuk mempersonifikasikan dewa dalam wujud raja. “Ini berangkat dari konsep bahwa kekuasaan itu konkret, jangan mempertanyakan legalitas karena seluruh kekuasaan diturunkan dari sumber tunggal yang homogen,” jelasnya. Konsep inilah yang dipahami oleh para raja di Asia Tenggara untuk menopang dan melanggengkan kekuasaan nya .

  • Mevrouw Jans Ahli Jamu Asal Semarang

    TINGGAL jauh dari kota besar tak membuat Johanna Maria Carolina Verstegh, putri pemilik perkebunan kopi di Weleri, Jawa Tengah, merasa terisolasi. Dia justru lebih dekat dengan lingkungan alam sekitar lantaran sering menemani ibunya, Albertina van Spreeuwenburg, memetik tanaman obat. Dari kegemaran ibunya inilah Jan akrab dan ikut menggemari jamu. Bagi orang Eropa yang tinggal di pedalaman Hindia-Belanda, akses kesehatan boleh dikata hampir tak ada. Bila ada seorang anggota keluarga yang sakit, bahan alam yang mudah didapat adalah jalan tercepat untuk pertolongan pertama. Fenomena pengobatan tradisional menggunakan tanaman alami itu di kemudian hari mempopulerkan ungkapan " Kijk in Kloppenburg " (Periksa di Kloppenburg). Ungkapan itu mengacu pada buku tentang resep jamu karya Jans Kloppenburg-Verstegh yang terbit pada 1907, Indische Planten en Haar Geneeskracht (Tanaman asli Hindia dan kekuatan penyembuhnya). Tradisi pengobatan alami itu pula yang dipilih Albertina. Mendalami teknik pengobatan tradisional, khususnya jamu, Albertina sering mengobati orang-orang sakit di sekitar tempat tinggalnya. Aktivitasnya itu amat membekas pada diri Jan, yang kemudian mengikuti jejak ibunya. Jans dinikahiHerman Kloppenburg pada 1881, pemuda yang datang dari Belanda lima tahun sebelumnya. Mereka tinggal di sebuah rumah-vila besar di Jalan Bodjong(sekarang Jalan Pemuda), Semarang. Kawasan rumah Jans dianggap tempat paling indah di Semarang kala itu, hunian banyak orang Eropa yang kaya raya. Pernikahan Jans dikaruniai anak bernama Tina. Namun, Tina meninggal di usia 14 tahun lantaran sakit. Dokter pertama mengatakan Tina sakit malaria. Dokter lain mengatakan Tina sakit typhus. Karena sudah telalu parah, Tina tak tertolong dan meninggal pada 1899. Kematian Tina mendorong Jans menulis tentang jamu dan tanaman obat di Hindia-Belanda. Dalam bukunya, Jans tak punya pretensi ilmiah. Ia hanya memberi informasi seputar resep jamu, kegunaan, dan khasiat tanaman obat yang didapat dari lingkungan sekitar. Bahan-bahan tulisannya pun didapat dari para dukun, penjual obat di pasar, atau bertanya pada penduduk sekitar tempat tinggalnya. Profesor Hans Pols dari University of Sydney dalam “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediationngan” menyebut karya Jans menjelaskan pengobatan tradisional secara sistematis. Karya Jans menjembatani kekosongan antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal. Saat pertama kali dicetak, buku Jans terdiri dari dua bagian. Pertama , memuat uraian singkat mengenai nama daerah, asal tumbuhan berikut nama latinnya, morfologi, dan bagian tanaman yang bisa digunakan plus khasiatnya. Bagian kedua memuat resep pengobatan dan petunjuk pemeliharaan sesuai kebiasaan yang dilakukan orang Jawa. Ada banyak pengobatan penyakit yang dijelaskan dalam buku Jans, mulai dari perawatan rambut, penanganan demam hingga pegobatan malaria. Untuk mengobati encok, misalnya, Jans menganjurkan penggunaan daun gandarusa. Setelah ditumbuk hingga halus, daun itu lalu dioleskan ke bagian tubuh yang terasa nyeri. Sementara, untuk mengobati ambeien, Jans menginformasikan cara penyebuhannya dengan meminum air rebusan 12 lembar daun iler. Selain pengobatan dari daun, Jans juga menulis tentang khasiat empon-empon . Kencur, misalnya, amat berguna untuk mengobati batuk. Kencur yang sudah dikupas lalu dicuci, dihaluskan dan diambil airnya sebanyak satu sendok teh untuk diminum sehari. Bisa juga kencur yang sudah dikupas ditelan bulat-bulat. Dalam dua-sampai tiga hari, Jans mengklaim batuk akan segera sirna. Kencur yang dihaluskan, kata Jans, juga bisa untuk obat pegal dan kedinginan karena memberikan efek hangat. Hal itu merupakan kebiasaan dalam masyarakat Jawa, di mana umum para ibu membaluri kencur (biasanya bukan hasil tumbuk atau parutan tapi dikunyah sang ibu) pada bayinya yang sakit. Bagi orang dewasa, kencur tidak banyak berguna karena kurang terasa panas. Sebagai gantinya, pengobatan Jawa menggunakan cabai yang dihaluskan untuk obat penangkal kedinginan. Buku Jans jadi pegangan hampir semua rumah tangga Eropa di Hindia, terutama mereka yang tinggal jauh dari pusat kota. Buku Jans juga menjadi panduan para perempuan Eropa yang me m buat kebun obat pribadi di rumah masing-masing . Hal itu, kata Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada Profesor Murdijati Gardjito dalam bukunya Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Bangsa Asli Indonesia , jadi bukti bahwa pengobatan tradisional kita, jamu, bisa diterima semua kalangan. Reputasi Jans kemudian menyebar dengan cepat di kalangan penduduk Eropa. Banyak pasien yang datang untuk minta disembuhkan. Jans terkenal sebagai ahli jamu dari Semarang.

  • Dahsyatnya Humor Gus Dur

    DARI sekian Presiden Indonesia, barangkali hanya Abdurrahman Wahid yang sohor karena kekocakannya. Presiden RI ke-4 yang biasa dipanggil Gus Dur itu memang punya selera humor yang tinggi. Mulai dari celetukannya hingga pernyataan-pernyataan resminya pun selalu ada unsur jenaka. Betapa lucunya, humor-humor Gus Dur pun abadi dalam ingatan hingga dibukukan dalam berbagai judul. “Dimana-mana, Gus Dur dikenal sebagai orang yang humoris. Humornya luar biasa,” kata istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid ketika membuka “Ekspose Daftar Arsip Foto KH. Abdurrahman Wahid: Gus Dur, Seorang Pejuang Kemanusiaan”, yang diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada Rabu, 24 Juli 2019. Sinta menyatakan pula, banyak peran yang bisa didapat karena humor Gus Dur,. Humor sang presiden bisa menjadi penyambung, pengikat hubungan antara satu negara dengan negara lain.” Ketika Gus Dur berkunjung ke Kuba, Presiden Fidel Castro rela mendatangi hotel tempat Gus Dur menginap. Tujuannya hanya satu: mendengar celotehan Gus Dur. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan cerdik oleh Gus Dur sebagai momentum diplomasi untuk kepentingan Indonesia. “Gus Dur sampai dikejar ke hotel karena (Fidel) ingin mendengar jokes-jokes nya Gus Dur. Dan disitulah dimasukan apa yang menjadi keinginan masing-masing negara,” tutur Sinta.   Keakraban yang sama pun terjadi kala Gus Dur bertandang ke Amerika Serikat. Dalam pertemuan di Gedung Putih, Presiden Bill Clinton sedianya hanya punya waktu 30 menit untuk temu wicara. Namun karena keasyikan ngobrol, cengkrama diantara keduanya jadi berlangsung selama satu setengah jam. Dan ketika Gus Dur hendak pulang, Clinton mengantarkan sampai ke pintu keluar. Sementara itu, di Arab Saudi, Gus Dur pernah menerima surat dari perwakilan rakyat negara tersebut. Surat itu berisi keheranan dan pertanyaan yang ditujukan kepada Gus Dur setelah bersua dengan Raja Arab. “Apa Yang Mulia katakana kepada raja kami hingga kami rakyat Arab sampai bisa melihat giginya sang raja?” sebagaimana dituturkan Sinta Nuriyah. Karena sering berguyon, tingkah Gus Dur ini bisa juga bikin orang-orang di sekitarnya was-was. Bagaimana bisa? Mantan asisten pribadi Gus Dur, Priyo Sambadha, menuturkan kalau Gus Dur  kerap yang menyisipkan bahan candaan dalam pidato kenergaraan. Waktu Gus Dur jadi presiden, Priyo menjabat sebagai deputi pers dan media kepresidenan. “Yang mengerti isi pidato Gus Dur itu hanya dua: Tuhan dan Gus Dur sendiri,” kata Priyo.  Menurut Priyo, selalu ada hal baru yang mencengangkan ketika Gus Dur berpidato. Yang menjadi perhatian bagi protokoler Istana saat itu adalah pidato seorang presiden dengan pidato seorang kiai itu gaungnya sangat berbeda di masyarakat. Apalagi Gus Dur punya kebiasaan unik setiap hari Jumat. Biasanya setelah usai jumatan (sholat jumat), Gus Dur selalu berkomunikasi dengan masyarakat. Bebas berbicara apa saja.   “Jadi kalau Gus Dur mau pidato itu kita deg-degan. Wah, sport jantung kita. Ini mau bicara apalagi,” ujar Priyo.  “Buat kami  saat itu yang terbiasa sekian puluh tahun dengan Pak Harto, itu cultur shock , sebuah kejutan budaya yang luar biasa buat kami para perangkat Istana.”

  • Ketika Karawang Jatuh ke Tangan Belanda

    Jembatan Kedung Gede yang terletak di Tangjungpura, Karawang itu terlihat masih kokoh. Gaya arsitekturnya sungguh unik, mengikuti tren yang pernah berjaya di Eropa pada 1920-an. Sekilas bentuknya mengikuti Jembatan Arnheim yang ada dalam film A Bridge to Far , sebuah film tentang Perang Dunia II yang mengambil setting pertempuran di Belanda. Tak banyak yang tahu bila jembatan yang melintasi Sungai Citarum itu pernah menjadi ajang pertempuran besar selama tiga hari berturut-turut. Pada 21 Juli 1947, tentara Belanda yang datang dari arah Jakarta mencoba menguasai jembatan tersebut untuk menusuk pertahanan Republik di Karawang. “Mereka datang bergelombang seolah tak habis-habisnya,” kenang Telan (94), eks pejuang Republik di Karawang. Dalam Gangsters and Revolutionaries , sejarawan Robert B. Cribb menuliskan bagaimana para serdadu Belanda dari Batalyon 3-9-RI Divisi 7 Desember merangsek ke Karawang via Tambun. Penyerbuan itu dilakukan persis sehari setelah H.J. van Mook, Gubernur Jenderal NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda), mengumumkan pembatalan sepihak kesepakatan Perjanjian Linggarjati yang ditandatangani oleh Indonesia dan Belanda beberapa bulan sebelumnya. Inilah yang mengawali Aksi Polisional I Belanda (pihak Republik menyebutnya Agresi Militer Belanda I). Milisi bumiputra yang tergabung dalam HMOT (Pasukan Non Organik Sang Ratu) juga ada dalam rombongan pasukan Belanda. Mereka masing-masing menjadi pasukan pendobrak yang menempati sebuah gerbong utama, didorong oleh lokomotif yang membawa 17 rangkaian gerbong penuh tentara dan amunisi di belakangnya. “Pemimpinnya sendiri yakni Panji bergerak lewat jalan besar Bekasi-Karawang bersama komandan tentara Belanda bernama Letnan Satu Koert Bavinck. Mereka berdua menaiki jip terbuka dengan karung-karung pasir dan senjata otomatis di kapnya,” ungkap Cribb kepada Historia.id. Sebelum jembatan sempat terjadi bentrokan hebat antara TNI yang diperkuat Batalion Beruang Merah dari Divisi Siliwangi plus pasukan Hizbullah dan pasukan ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia). Karena persenjataan militer Belanda lebih unggul, pasukan TNI akhirnya terpukul mundur ke arah Karawang. Sementara itu, kereta api yang berisi amunisi, tenaga tempur, tenaga zeni, dan para penjinak bom berpacu dengan waktu untuk sampai ke Jembatan Kedung Gede dengan dikawal pesawat Mustang. Di wilayah Cikarang, kereta api sempat dihujani mortir pasukan Republik. Sesaat sebelum memasuki Stasiun Cikarang, sebuah jalur rel kereta api berhasil dirusak oleh prajurit Batalion Beruang Merah. “Ternyata rel kereta api yang rusak itu justru rel yang tidak digunakan kereta api tentara Belanda,” tulis sejarawan Ali Anwar dalam  K.H. Noer Ali: Kemandirian Ulama Pejuang . Kereta api terus melaju ke arah timur. Para prajurit Republik berusaha mengadang di sekitar Jembatan Kedung Gede, namun berhasil diusir oleh tembakan senapan 12,7 dari pesawat Mustang dan tembakan mitraliur dari pasukan Belanda yang stelling di jalan besar. Beberapa puluh meter sebelum jembatan, pasukan pun diturunkan. Ada 38 ranjau darat yang terpasang di rangka jembatan yang bisa dijinakan oleh tim penjinak ranjau Batalion 3-9-RI. Tentara Republik yang terpukul mundur, lantas melakukan upaya terakhir untuk menghantam laju kereta api milik militer Belanda. Dari Stasiun Karawang, mereka meluncurkan sebuah lokomotif tak berawak dalam kecepatan tinggi. Harapannya lokomotif itu menabrak kereta api yang memuat ratusan prajurit Batalion 3-9-RI dan anggota HMOT. Upaya mereka memang berhasil. Tabrakan hebat terjadi di wilayah Tanjungpura. Namun, hasil yang diharapkan tidak sesuai karena prajurit Batalion 3-9-RI dan HMOT sudah turun. Kerugian militer Belanda hanya hancurnya lokomotif dan meriam kaliber besar yang terpasang di depan lokomotif tersebut. Keesokan harinya, militer Belanda melalui Pos Jembatan Kedung Gede melakukan tusukan ke Karawang. Namun, perlawanan dahsyat dari pejuang Republik memukul kembali mereka ke arah Tanjungpura. “Pada 23 Juli 1947, mereka datang lagi dengan kekuatan yang lebih besar dan didukung pesawat tempur dan tank-tank baja,” ujar Telan. Pejuang Republik mundur karena kalah jumlah dan perlengkapan. Batalion Beruang Merah di bawah pimpinan Letnan Kolonel Abdullah Saleh Hasibuan bergerak menuju Tasikmalaya, Hizbullah pimpinan K.H. Noer Ali menghindar ke Yogyakarta, dan pasukan ALRI pimpinan Madmuin Hasibuan meluputkan diri ke arah Tegal. Karawang pun jatuh ke tangan tentara Belanda.

  • Sinta Nuriyah Berkisah tentang Gus Dur

    Foto-foto Presiden Abdurrahman Wahid (lebih akrab disapa Gus Dur) yang belum terpublikasi kini masuk pengolahan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Arsip foto itu meliputi 180 album yang jika ditotal berjumlah sekira 14 ribuan lembar foto. Beberapa foto menampilkan kunjungan Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur bersama sang istri, Sinta Nuriyah Wahid ke berbagai negara. “Kalau tadi kita menyaksikan dalam foto-foto itu, maka disitu selalu ada seorang perempuan yang mendampingi Gus Dur. Cantik enggak?” ujar Sinta Nuriyah berkelakar kepada hadirin dalam “Ekspose Daftar Arsip Foto KH. Abdurrahman Wahid: Gus Dur, Seorang Pejuang Kemanusiaan”, yang diselenggrakan ANRI pada Rabu, 24 Juli 2019.   Menurut Sinta foto-foto tersebut tidak bisa bercerita banyak. Pun kehadirannya bersama Gus Dur dalam berbagai potret juga tidak berbicara banyak hal. Sinta menuturkan bahwa, sebagai ibu negara dirinya mendampingi Gus Dur hanya dalam forum-forum resmi saja, seperti undangan makan malam ataupun pertemuan formal. Lebih dari itu tidak ada. “Karena sudah ada statement dari Gus Dur kepada saya, bahwa saya tidak boleh mencampuri urusan pemerintahan. Itu kata-kata Gus Dur,” tutur Sinta. Sinta pun memahami apa yang dimaksud Gus Dur untuk “tidak mencampuri” urusan negara. Jauh sebelum itu, dia memang banyak mendengar cerita tentang para pendamping kepala pemerintahan yang ikut campur urusan pemerintahan. Bahkan, terjun lebih jauh lagi dalam mengambil kebijakan. Menurut Sinta intervensi itu dapat membuat masyarakat kurang simpati. Itulah yang mendorongnya berketetapan tidak mencampuri apapun dalam kegiatan Gus Dur mengatur bangsa dan negara. Meski demikian, Sinta Nuriyah bukanlah ibu negara yang suka berdiam diri. Sebagai lulusan woman studies, Sinta bergiat dalam isu-isu perempuan. Dalam hal ini, Sinta aktif memperjuangkan keadilan bagi perempuan dan membela perempuan-perempuan korban kekerasan, termasuk pula para perempuan yang berkecimpung sebagai pekerja seks komersial. Di samping itu, Sinta juga memperhatikan perlindungan terhadap kaum disabilitas dengan membentuk Gerakan Aksesbilitas Umum Nasional (GAUN) pada tahun 2000. “Jadi saya memang tidak pernah mencampuri masalah-masalah pengaturan negara tapi saya juga punya tugas sendiri, tidak diam saja,” ujar Sinta. Selain itu, Sinta juga mengenang Gus Dur sebagai sosok yang humanis dan humoris. Gus Dur adalah presiden yang mengembalikan hak kaum minoritas Tionghoa. Di era Gus Dur, orang-orang Tioghoa diperbolehkan merayakan tradisi kebudayaan seperti Imlek dan Barongsai, sebagaimana orang Dayak ataupun Bali melenggokkan tarian khas masing-masing. Pemikiran Gus Dur yang tidak membedakan antar kaum dipengaruhi pegangan hidup yang sudah mengakar.   “Gus Dur punya semboyan, kata Sinta, “Bukan siapa kamu dan apa agamamu tetapi kebaikan apa yang telah kamu lakukan untuk orang lain. Karena itu, di mata Gus Dur semua orang sama.    Soal sisi humornya, Gus Dur memang dikenal karena kejenakaannya. Kelucuan Gus Dur tidak hanya terdengar di Indonesia melainkan sampai ke luar negeri. Bahkan tidak jarang, lelucon yang dilontarkan Gus Dur jadi alat diplomasi yang efektif kala berhadapan dengan kepala negara asing. Sinta Nuriyah berkisah, Presiden Cuba Fidel Castro pernah sampai mengejar Gus Dur ke hotel hanya  karena ingin mendengar Gus Dur berceloteh. Di Washington, Presiden Bill Clinton yang semula memberikan waktu pertemuan selama 30 menit jadi molor satu setengah jam karena keasyikan ngobrol. Di Arab, rakyat Arab Saudi sampai terheran-heran dan mengirim surat kepada Gus Dur, “Apa Yang Mulia katakan kepada raja kami hingga kami rakyat Arab sampai bisa melihat giginya sang raja?”   “Humor Gus Dur bukan sembarang humor,” kata Sinta, “Karena bisa menjadi penyambung, pengikat hubungan antara satu negara dengan negara lain.” Hingga Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009, Siti Nuriyah telah mendampingi suaminya itu selama 41 tahun, termasuk masa dua tahun sebagai ibu negara (1999-2001).

  • Raja Sebagai Penjelmaan Dewa

    Dia berbadan Dewa Wisnu. Dia dalam keadaan makmur di dunia dan di negara. Dia adalah Cri Jayawarsadigjayasastraprabhu. Ia disembah di seluruh dunia betul-betul sebagai matahari, bulan dan air. Dirinya yang sebagai seribu bulan disembah di dunia. Pembukaan Prasasti Sirah Keting dari 1104 itu menyebut Raja Sri Jayawarsa Digwijaya Sastraprabhu yang dikeramatkan bagai Dewa Wisnu. Konsep semacam ini mengingatkan pada tokoh dalam kesusastraan, Rama atau Kresna yang dikisahkan sebagai penjelmaanWisnu di dunia.   Apa yang tergambar dalam prasasti masa Kadiri itu bukan satu-satunya. Pada masa kuno, umum terjadi jika seorang pemimpin, yaitu raja, dipuja bagai penjelmaan dewa. “Pada masa itu mulai dikenal konsep dewaraja atau raja suci, raja yang memiliki sifat keramat seperti dewa,” kata Sudrajat, sejarawan Universitas Negeri Yogyakarta. Hal itu bukan hanya di Jawa atau Nusantara. Sudrajat dalam “Konsep Dewa Raja dalam Negara Tradisional Asia Tenggara” yang disampaikan dalam Workshop Mengajar dan Meneliti Asia Tenggara di Pusat Studi Asia Tenggara UGM (2012) menjelaskan, di Asia Tenggara banyak pula raja yang mengidentifikasi dirinya sebagai titisan dewa. Dewa Wisnu dan Siwa banyak dipilih raja-raja terdahulu sebagai kekuatan yang ada dalam diri mereka. Raja sebagai titisan Wisnu akan dinilai sebagai raja pencipta kesuburan dan kemakmuran bagi kerajaan. “Sehingga tercipta stigma raja sebagai pengatur dan pemelihara kerajaan,” kata Sudrajat. Bukti-bukti paling tua tentang pemujaan terhadap raja terdapat di Champa dan di Kamboja (Khmer) pada era Pra-Angkor. Di Khmer kuno terdapat pemujaan kepada pemimpin yang dianggap keramat. Pemujaan itu setelah dia dilantik menjadi raja. “Pemimpin itu dianggap mempunyai hubungan khusus dengan Dewa Siwa atau Wisnu,” kata Sudrajat. Prasasti Sdok Kak Thom (802) menguraikan, Raja Jayavarman II mengidentifikasikan diri sebagai Dewa Indra. Dalam kepercayaan Hindu, Dewa Indra adalah raja para dewa yang bersemayam di Indrolaka. Indra pada masa awal Veda dijuluki dengan Devaraja atau rajanya para dewa. Raja-raja di Champa juga kerap menyatakan diri sebagai jelmaan dewa tertentu. Salah satu Prasasti Champa abad ke-9 menyebutkan seorang penguasa bernama Uroja sebagai pendiri dinasti. Ia dipercaya sebagai anak Siwa Mahadeva. Raja-raja Pagan di Myanmar (Burma) juga menggunakan nama dewa sebagai gelar. Misalnya Makutarajanamarajadhiraja yang artinya “mahkota raja para raja”, gelar Dewa Indra. Iswararaja artinya “dewanya para raja”, yaitu Siwa. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munadar dalam Mitra Satata menilai, raja di Asia Tenggara memang sengaja memilih gelar yang “keren” sebagai julukan. “Rakyat di kerajaannya tentu akan lebih menghormati raja yang memiliki gelar dengan kata-kata yang berasal dari bahasa impor, yaitu Sanskerta,” jelas Agus. Menurut Agus, pada masa lalu Sanskerta dianggap bahasa bergengsi yang baku oleh kaum agamawan India, terutama dari kalangan Veda dan Hindu Trimurti. Bagi penganut Buddha pun begitu. Kendati menggunakan bahasa Pali sebagai bahasa pengantar penyebaran agama, kata-kata dari Sanskerta tetap digunakan untuk menamakan konsep dharma Buddha. Menurut Agus, konsep dewaraja bukan hal yang baru dilakukan pada masa kerajaan Hindu Buddha. Bukan pula berasal dari kebudayaan India. Konsep ini bisa dibilang lanjutan dari kepercayaan pada masa prasejarah. “Yaitu transformasi konsep pemujaan arwah leluhur yang telah dikenal oleh penduduk Asia Tenggara sejak masa perundagian menjelang awal Masehi,” katanya. Ketika budaya India mengenalkan nama dewa untuk menjuluki kekuatan supranatural, masyarakat Austronesia menerimanya. Mereka menyetarakan konsep dewa itu dengan arwah nenek moyang yang mereka puja.

  • Ganda Campuran, dari Pemain Sisaan Jadi Andalan

    SERASA masih ada yang mengganjal. Dari empat laga final Indonesia Open ke-38 pada Minggu, 21 Juli 2019, hanya ganda putra yang mampu dimenangkan wakil tuan rumah. Yang disayangkan adalah asa di ganda campuran. Sektor ini sejak era 1990-an turut jadi andalan Indonesia di berbagai gelanggang. Terakhir sektor ini memberi satu-satunya medali emas kepada Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, kala pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Owi/Butet) mengalahkan pasangan Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying di final. Dipandang Sebelah Mata Sebagaimana ganda putra, ganda campuran mulanya juga dipandang sebelah mata. Sebagaimana dalam olahraga tenis, nomor ganda di badminton juga kalah pamor dibanding tunggal. Alhasil, tidak ada pelatihan khusus. Pemilihan pemain hanya bersandar pada penilaian pelatih bahwa si pemain bisa mengemban tugas rangkap, tunggal maupun ganda. Realitas itu lumrah pada dekade 1970-an. Pemain ganda legendaris Christian Hadinata pun mengalaminya. “Biasanya pemain tunggal merangkap ganda. Di Kejuaraan Asia 1971, saya malah merangkap di dua nomor ganda. Di ganda putra dengan Ade (Chandra) dan ganda campuran dengan Mbak Retno Koestijah, di mana kita juara di ganda campuran,” ujar Christian kepada Historia. Setahun berselang, Christian berganti pasangan dengan Utami Dewi, adik dari Rudy Hartono, untuk tampil di Olimpiade Munich. Kala itu bulutangkis masih jadi cabang olahraga demonstrasi dan duet Christian/Utami Dewi membawa pulang medali perunggu. Christian Hadinata & Imelda Wiguna, legenda ganda campuran pemenang All England 1979. (badmintonindonesia.org) Prestasi Christian di nomor ganda campuran terus melejit. Bersama Imelda Wiguna, keduanya menjuarai All England 1979. Ketika berpasangan dengan Ivana Lie, Christian berhasil merebut medali emas Asian Games 1982. “All-England 1979 tidak ada yang menyangka. Waktu itu ganda campuran baru populer di kalangan Eropa. Di Asia apalagi di Indonesia, tidak diminati, tidak diseriusi. Begitu juga dengan Ivana di Asian Games (1982). Di Asian Games salah satu kenangan paling manis juga karena suasananya berbeda jika tampil di ajang multi-event seperti Asian Games itu,” sambungnya. Sempat menurun, sumbangan prestasi dari ganda campuran bangkit lagi sejak 1990-an. Sektor ini jadi tanggungjawab Richard Mainaky, eks pemain tunggal dan ganda putra, yang diajak Christian melatih di Pelatnas PBSI. Mengawali dari asisten pelatih pada 1994, dan dua tahun berselang Richard memegang penuh pembinaan ganda campuran. Ia memoles anak-anak asuhnya dari sisa sektor-sektor lain. “Bicara materi dan kualitas, sektor ganda campuran ya bisa dibilang pemain sisa. Tapi ya inilah tantangan saya untuk mengubah pemain buangan jadi pemain juara,” kata Icad, sapaan akrab Richard. Kerja keras Icad berhasil melahirkan bibit demi bibit ganda campuran yang melanjutkan estafet prestasi di sektor itu. Setelah Tri Kusharyanto/Minarti Timur, berturut-turut hadir pasangan Nova Widiyanto/Vita Marissa, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Owi/Butet), hingga Praveen Jordan/Debby Susanto. Semua lahir dari pola keras yang diterapkan pria berjuluk “Pelatih Bertangan Besi” itu. “Saya (punya) prinsip begini. Sebenarnya pelatih itu bukan harus pintar ya. Dia harus mau tegas, disiplin, kerja keras di lapangan. Itu yang membuat atlet berhasil. Kalau pelatih hanya pintar tapi tidak tegas dan kerja keras, mau pemain bagaimanapun akan sulit. Jadi prinsip tegas, kerja keras, dan disiplin semua harus jalan,” sambungya. Hampir semua gelar pernah dipetik anak-anak asuhnya, kecuali Piala Sudirman. Utamanya lewat perjuangan Owi/Butet, duet yang dibesut Icad dari nol. Richard Leonard Mainaky, pelatih kepala ganda campuran Pelatnas PBSI. (Randy Wirayudha/Historia). Sayangnya semua anak asuhnya gagal menyandingkan gelar juara sebagaimana rekan mereka di ganda putra pada Indonesia Open 2019. Owi bersama partner barunya, Winny Kandow, keok di perempatfinal oleh duet Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (11-21, 21-14, 14-21). Owi masih dalam masa transisi setelah “bercerai” dari Butet Januari lalu. Ini jadi pekerjaan rumah Icad berikutnya agar bisa tune dengan pasangan barunya itu. “Tontowi/Winny kalah pengalaman, khususnya Winny. Sedangkan lawan pengalamannya segudang. Itu tanggungjawab saya. Ke depannya kami akan selalu benahi kekurangan secepat mungkin,” ujar Icad di lain kesempatan, dikutip situs resmi PBSI , 19 Juli 2019.

  • Mencegah Pes Mewabah

    MENGERIKANNYA wabah pes di Jawa pada awal abad ke-20 membuat pemerintah kolonial melakukan berbagai cara untuk mencegah penyebarannya. Cara-cara pencegahan yang dilakukan pemerintah tak jarang mengundang reaksi naif dari warga bumiputra. Ketika wabah pertama merebak tahun 1910, tahun berikutnya pemerintah kolonial melakukan disinfeksi di Malang dengan mengasapi rumah penduduk. Namun, kampanye berskala besar itu menimbulkan kecurigaan besar penduduk. Liesbeth Hesselink dalam Healers on the Colonial Market menyebut, warga bumiputra mengira prosedur disinfeksi sebagai sihir jahat yang dilakukan Belanda. Alhasil, usaha pencegahan itu acap menemui penolakan. “Ada yang rumahnya diasapi, dikurung pakai kain besar, dan warganya disuruh menyingkir dulu sementara,” kata Martina Safitry, dosen sejarah IAIN Surakarta yang pernah meneliti sejarah wabah pes di Jawa untuk tesisnya, pada Historia . Penolakan juga terjadi kala petugas kesehatan hendak mendeteksi penyebab kematian penduduk. Biasanya mantri akan melakukan pengambilan jaringan limfa pada jasad korban. Selepas itu, jaringan limfa diteliti untuk menentukan penyebab kematian, pes atau bukan. Namun, ketidaktahuan warga seringkali menyulitkan mantri yang bertugas. Mereka menolak prosedur itu, mengusir petugas kesehatan dan melemparinya dengan batu. Namun, sebenarnya penduduk takut pada wabah pes sehingga di beberapa daerah melakukan usaha pencegahan sendiri. Di Jawa Barat, penduduk memagari desa dengan bambu setinggi atap rumah. Tujuannya, mencegah warga desa tetangga yang terjangkit pes pindah ke desa mereka. Tapi, upaya mengurung seluruh desa ini agak muskil karena beberapa tempat tidak bisa dipagari, misalnya sungai, kebun, atau semak. Lalu, tidak semua warga patuh pada ide ini. Mereka yang tetap ingin bekerja dan lalu-lalang ke desa tetangga terpaksa menyelinap lewat tempat-tempat yang tidak bisa dikurung bambu dan tidak dijaga. Upaya pencegahan pes juga dilakukan lewat rekomendasi perbaikan rumah agar tidak jadi sarang tikus. Program ini diatur dengan rinci dalam Besluit 25 April No. 4064/52 bahwa pekarangan rumah harus bersih dan rapi agar terhindar dari sarang tikus. Segala barang, baik di dalam atau di luar rumah, harus diletakkan pada tempat yang luas dan mudah dibersihkan agar tidak ada tikus yang sembunyi. Bambu bulat dan bambu yang masih kotor tidak boleh digunakan untuk membuat perkakas dan perabot rumah. Baik di dalam rumah maupun di pekarangan tidak diperbolehkan meletakkan barang secara tidak beraturan. Untuk melancarkan program ini, pemerintah mengirim petugas kesehatan untuk mengawasi jalannya perbaikan rumah. Hadjiwibowo, serdadu Royal Dutch Marine, seperti ditulis Liesbeth dalam bukunya, menceritakan bagaimana ayahnya bekerja sebagai pengawas perbaikan perumahan di Departemen Kesehatan Hindia-Belanda. Ayah Hadjiwibowo harus memastikan warga mengganti tiang bambu dengan balok jati, karena tikus cenderung bersarang di bambu berongga. Ayahnya sering dipindahtugaskan untuk berbicara tentang penyebaran wabah dari Jawa Timur ke Jawa Barat. Dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, Martina menyebut pemerintah juga memberikan sanksi bagi siapapun yang melanggar aturan perbaikan rumah. Aturan ini dicatat dalam pasal 2 Staatsblad No. 484 tahun 1916. Orang kulit putih ataupun pribumi yang melanggar akan dikenakan denda 100 gulden atau bila tidak sanggup membayar akan dipenjara selama satu hingga enam hari. Karantina juga dilakukan agar penyakit pes tidak menular. Bila satu orang terkena pes, satu keluarga akan diungsikan. Dalam praktiknya, seringkali bukan satu keluarga yang diungsikan, melainkan satu desa. Ini dilakukan lantaran kebiasaan penduduk untuk mengunjungi orang yang sakit. Padahal, ketika berkunjung belum tentu kutu tikusnya sudah mati tapi malah menular ke penjenguknya. Ketika dikarantina, tiap desa biasanya dijaga dua-tiga petugas atau polisi desa. Hal itu menyebabkan penduduk sering kucing-kucingan dengan menyelinap keluar kamp karantina pada sore hari. Mereka menjaga rumah masing-masing pada malam hari agar tak kemalingan. Paginya, penduduk akan kembali ke kamp karantina. Selain alasan keamanan, penduduk menolak dikarantina karena perlakuan tidak layak. Mereka harus tidur berdesakan sementara pemberian makan seringkali dilempar dari luar lantaran petugas takut tertular. “Perlakuan semacam itu kan tidak menghargai, jadi ada yang menolak dikarantina,” kata Martina. Untuk menghindari diungsikan, banyak warga yang akhirnya menutup-nutupi bila ada keluarga atau tetangganya yang terjangkit pes. Beberapa orang berusaha berobat ke dukun dan diobati dengan dioleskan minyak kelapa panas ke seluruh tubuh. Pengobatan dukun nyatanya tak berhasil sehingga ujung-ujungnya tetap diobati oleh para mantri yang diterjunkan ke desa.

  • "Anak Tiri" di Pertempuran Kranji

    SEEKOR ikan arapaima raksasa menjadi pemberintaan Singapura pada 6 Juli 2019. Dengan panjang dua meter dan bobot 150 kilogram, ikan itu hampir membunuh Shannon Lim, seorang peternak, saat akan dipindahkan. “Arapaima mendorong pria berbobot 92 kilogram itu –‘seperti ketika seorang ibu menyeret anaknya di sebuah mal’– sebelum menyundul dadanya, mengakibatkan cipratan hebat dan menjatuhkan Lim ke air,” demikian diberitakan channelnews asia.com . Raksasa air tawar itu berada di sebuah peternakan di Lim Chu Kang, dekat Kranji Reservoir. Di dekat reservoir itu pula seekor buaya sepanjang 3,4 meter ditemukan sebulan sebelumnya. “Waduk Kranji sebenarnya ditetapkan sebagai cagar, dan dulunya merupakan rawa bakau luas yang mendukung kekayaan satwa liar. Kebutuhan akan pasokan air yang meningkat membawa perubahan dramatis pada area tersebut,” tulis buku terbitan Centre for Advanced Studies, National University of Singappore, Public Space: Design, Use and Management . Di wilayah berawa di barat daya Singapura inilah pada awal 1942 penduduk Singapura bahu-membahu dengan pasukan Inggris-Australia menghadang pendaratan pasukan Jepang di bawah pimpinan Mayjen Takuma Nishimura. Setelah sukses menduduki Pantai Sarimbun, pasukan AD ke-25 Jepang di bawah pimpinan Letjen Tomoyuki Yamashita langsung mengambilalih Istana Sultan Johor untuk dijadikan markasnya. Yamashita kemudian menjadikan garis Kranji-Causeway Johor yang –dijaga Brigade ke-22 (bertugas di barat Sungai Kranji) dan ke-27 (timur sungai) AD Australia di bawah pimpinan Brigjen Duncan Maxwell– membentang sepanjang empat kilometer sebagai titik pendaratan kedua untuk masuk ke jantung Singapura. Untuk melaksanakan tugas itu, Yamashita menugaskan Nishimura dengan pasukan Imperial Guard-nya. Langkah Yamashita telah diantisipasi pihak Sekutu-Inggris sejak jauh hari. Pada akhir 1941, Gubernur Singapura Sir Shenton Thomas mendapat telegram rahasia dari sekretaris urusan koloni yang berisi permintaan agar menghilangkan kepentingan sepihak dengan cara merangkul kaum Tionghoa untuk ikut berjuang menahan kemungkinan pendudukan Jepang. Menindaklanjuti perintah itu, gubernur mengadakan pertemuan dengan komunitas Tionghoa di Kuala Lumpur. Hasilnya, pemilihan Tan Kah Kee, tokoh Tionghoa terkemuka di Singapura, sebagai ketua organisasi sukarelawan Tionghoa untuk menghadapi Jepang. Ribuan orang Tionghoa lalu mendaftarkan diri ke dalam barisan sukarelawan pimpinan Tan itu. Mereka lalu dilatih teknik dasar militer oleh Letkol John Dalley, perwira intelijen di Kepolisian Khusus Malaya, dan disatukan ke dalam pasukan bernama Dalforce. “Sebagai hasil dari bantuan yang diberikan Tan Kah Kee, pasukan besar gerilyawan Tiongkok, berjumlah sekitar dua ribu, dibentuk oleh Dalley di Kuala Lumpur dari beragam kelompok Tionghoa –beberapa dari mereka telah ditahan oleh Inggris sebelum perang akibat kegiatan Komunis dan dibebaskan dari penjara untuk mengabdi bersama Dalforce– yang ditambah oleh siswa, guru sekolah, penarik becak, dan buruh Tiongkok. Mereka dibagi menjadi beberapa kompi, masing-masing di bawah komando seorang perwira Inggris,” kata Leon Comber dalam bukunya Dalley and the Malayan Security Service, 1945-48 . Namun, Inggris setengah hati membentuk Dalforce lantaran banyak anggotanya merupakan komunis. Selain hanya memberi 10 hari latihan dasar militer, Inggris mempersenjatai beberapa personil Dalforce dengan senapan usang Lee Enfield .303 berikut jatah peluru 24 butir, beberapa granat tangan, dan bayonet. Banyak personil hanya bersenjatakan senapan berburu. Para personil Dalforce juga hanya dibekali seragam biru berikut ban lengan segitiga, tak ada topi apalagi helm. Meski dianaktirikan, semangat juang para personil Dalforce tetap tinggi. “Dari semua pasukan yang mempertahankan Singapura, Dalforce dikatakan yang paling termotivasi untuk melawan Jepang,” sambung Comber. Simpati terhadap saudara mereka di China yang diduduki Jepang sejak 1930-an menjadi alasan di balik keinginan mereka bertempur melawan Jepang. Kegigihan mereka dibuktikan ketika menahan gerak-maju Jepang di Pantai Sarimbun. “Pada 8 Februari 1942,” kata lektor senior Singapore University of Social Sains (SUSS) Tan Wei Lim dalam buku Cultural Heritage and Peripheral Spaces in Singapore , “Kompi Dalforce No. 2 (berjumlah 150 orang) mundur dari Jalan Lim Chu Kang dan kemudian berenang melalui Sungai Kranji untuk mencapai Jalan Choa Chu Kang, hanya sekitar 60 yang hidup untuk menceritakan kisah mereka.” Ketika Nishimura resmi melancarkan serangannya dengan dibuka oleh bombardir kanon ke Desa Kranji, para personil Dalforce dan prajurit Brigade ke-27 Australia bertahan di hutan bakau sekitar Kranji sambil menunggu kedatangan para prajurit Jepang. Mereka telah menumpahkan di depo Sungai Mandai Kecil ke sungai. Begitu para prajurit Jepang mulai menyeberangi selat dengan menggunakan perahu motor dan sebagian berenang, pasukan Sekutu langsung membakar sungai berminyak tadi dan menghujani lawan dengan tembakan. Korban Jepang berjatuhan, banyak yang mati terbakar. Pasukan Nishimura mundur kembali ke Johor. Baru di jam-jam awal 10 Februari pasukan Jepang kembali ke Kranji. Pertempuran sengit pun terjadi. Namun, kali ini perlawanan dari Sekutu hanya dilakukan pasukan Dalforce yang sudah hampir kehabisan amunisi. Kekuatan tak imbang itu membuat Jepang kemudian berhasil merebut wilayah Kranji-Causeway.   “Mereka hancur berkeping-keping. Mereka menggunakan semua amunisi mereka. Tidak ada yang terluka untuk dibawa kembali. Mereka berdiri di tanah mereka. Mereka mendapat perintah untuk tinggal dan mereka tinggal. Dan mereka semua mati. Batalion senapan mesin Australia tidak tinggal di sana. Mereka mundur. Mereka ketakutan,” kata Kenneth Attiwill, personil Australia yang menyertai Dalley menginspeksi kompi Sungai Kranji pagi harinya, sebagaimana dikutip Cheah Boon Kheng dalam “Japanese Army Policy Toward Chinese and Malay-Chinese Relations in Wartime Malaya”, termuat di Southeast Asian Minorities in the Wartime Japanese Empire . Sehari sebelum Inggris menyerah pada Jepang pada 15 Februari, Dalley membubarkan Dalforce. Para mantan anggotanya melarikan diri, sebagian ke Sumatra tapi mayoritas ke Semenanjung untuk bergabung dengan Malayan Peoples Anti-Japanese Army. Mantan kombatan yang belum sempat melarikan diri dan tertangkap Jepang, dieksekusi dalam Pembantaian Sook Ching. Usai perang, Inggris menutup rapat-rapat sejarah Dalforce. Penyebabnya apa lagi kalau bukan banyak anggota Dalforce merupakan komunis. “Meskipun diadakan upacara publik 6 Januari dan 8 Juni 1946 di Singapura dan London, pihak berwenang menolak mengakui bahwa anggota Dalforce secara resmi menjadi bagian dari pasukan Kerajaan Inggris tahun 1942. Para veteran bersikeras Inggris harus mengakui mereka bukan laskar, tetapi berada di bawah Komando Malaya. Veteran mengklaim bahwa Kolonel Dalley telah memberi tahu mereka saat pembubaran pada 1942, bahwa ‘Anda tentu akan menerima perlakuan sama dengan Tentara Inggris’, kata Karl Hack dan Kevin Blackburn dalam buku War Memory and the Making of Modern Malaysia and Singapore .

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page