Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Mega Proyek Sultan Banten
PERNYATAAN perang Sultan Ageng Tirtayasa pada 11 Mei 1658 semakin memperjelas ketegangan antara Banten dan Batavia (Belanda). Keduanya enggan sepakat sehingga memutuskan untuk melakukan perang terbuka. Pertempuran pun berlangsung setiap hari dengan skala yang cukup besar, baik di darat maupun di laut. Rakyat Banten berusaha mempertahankan wilayahnya tetap merdeka di bawah pimpinan Sultan Ageng. Semangat mereka pun terbukti mampu menghancurkan kekuatan Batavia yang begitu kokoh. “Berhubung dengan Kompeni terus-menerus didesak dan diserang, sehingga lama-kelamaan mereka merasa lelah dan pesimis untuk menang, maka Pemerintah Tinggi Kompeni terpaksa menawarkan perjanjian berdamai kepada Sultan Banten,” tulis Edi. S. Ekadjati dalam Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Jawa Barat . Setelah berada pada suasana damai, Banten segera melakukan perbaikan wilayah. Pemerintah mencoba membangun infrastruktur perairan dan sistem pertanian untuk menunjang perdagangan mereka. Di samping memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan perang sebelumnya. Dalam catatan harian milik pemerintah Batavia ( Dagh-register ), Sultan Ageng memerintahkan bekas panglima perang yang menjadi menteri negaranya, Kiyai Arya Mangunjaya, untuk membangun sebuah pemukiman di bagian terluar wilayah kekuasaan Banten. Mula-mula Kiayi Arya mengumpulkan seluruh kepala daerah di Kesultanan Banten. Kemudian ia meminta mereka mengumpulkan seluruh keluarga di wilayah wewenangnya dan menyuruh setiap keluarga itu mengumpulkan 100 batang pohon kelapa. Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII , menyebut tiap-tiap keluarga umumnya terdiri dari 5 orang, dan mereka akan diberi sebidang tanah seluas 1 hektar. Berbekal arsip-arsip milik pemerintah Belanda, Claude menggambarkan besarnya pemukiman baru milik Kesultanan Banten yang dihuni oleh 5.000 keluarga tersebut. “Pohon-pohon ini harus ditanam di dekat Sungai Ontong Jawa (Cisadane sekarang), yang letaknya dekat dengan Batavia. Ini merupakan proyek yang luar biasa besarnya…sehingga ladang pohon kelapa itu dalam hal ini akan mempunyai luas tanah sebesar kira-kira 5.000 hektar.” tulis Claude. Setidaknya ada 10 desa baru ditempatkan di sepanjang Sungai Cisadane. Fungsi utamanya memang sebagai perkebunan dan pemukiman. Namun lebih jauh, desa-desa itu dipersiapkan oleh sultan sebagai benteng pertahanan alam yang sangat kokoh. Ratusan ribu pohon kelapa yang ditanam di sana digunakan untuk menutupi area Kesultanan Banten. Sehingga Batavia tidak dapat memantau pembangunan yang dilakukan pemerintah. Adanya perjanjian damai tidak membuat rasa curiga hilang begitu saja dari kedua pihak. Batavia masih menempatkan mata-matanya di sekitar perbatasan Banten dan melaporkan seluruh aktivitas yang terjadi di sana. Pada 1663, Banten memulai proyek penggalian terusan dari Sungai Tanara (Cidurian) ke Sungai Pasilian melalui Balaraja, sejauh 6 kilometer menuju Sungai Ontong Jawa (beberapa literatur menyebutnya “Untung Jawa”). Alirannya akan menghubungkan banyak ngarai, yang dapat dilalui oleh kapal-kapal kecil bagi kebutuhan perdagangan. “Pembangunan saluran ini selain bertujuan untuk irigiasi bagi keperluan pertanian, juga untuk mempercepat hubungan militer dari Banten ke daerah perbatasan dengan Batavia,” tulis Nina Herlina Lubis, dkk. dalam Sejarah Banten: Membangun Tradisi dan Peradaban . Bersamaan dengan penggalian terusan itu, pemerintah Banten juga membuat persawahan yang terbentang di sepanjang alirannya. Areal persawahan itu difokuskan untuk menanam tanaman padi. Mereka mencoba membuat lumbung padi yang sangat besar, yang akan menjadi pusat produksi beras di Banten. Sultan Ageng memantau langsung kegiatan pembangunan terusan yang menjadi proyek terbesar pada masa pemerintahannya tersebut. Bahkan ia pernah tinggal selama tiga bulan di Tanara, bersama istri-istri dan anak-anaknya, agar dapat terus melihat proses pembangunannya. Kegiatan administrasi di ibu kota akhirnya diserahkan kepada para pejabat istananya. Pihak Belanda melihat proyek pembangunan terusan dan pedesaan kesultanan Banten itu sebagai sebuah keberhasilan. Utusan dagang mereka menyebut desa di Tanara “sebagai negeri datar yang indah yang ditanami padi”. Pada 1664, belum juga selesai dengan proyek penggalian terusan, Sultan Ageng mulai merencanakan pembangunan sebuah bendungan. Hal itu dilakukan untuk penampungan air serta pengairan ke sawah-sawah yang jumlahnya akan terus bertambah. Setelah proyek terusan Tanara-Pasilian berhasil dirampungkan, pada 1670 sultan segera membuat jalur terusan baru antara Pontang sampai Tanara. Kali ini, sultan berencana membuka jalur dari tepi laut hingga ke pedalaman. Proyek ini dikepalai Kiyai Ngabehi Wangsanala, ipar laki-laki Sultan Ageng, dengan melibatkan 16.000 pekerja dari dalam maupun luar Banten. “Seperti halnya proyek terusan sebelumnya, raja melakukan segala usaha agar proyek Pontang menjadi kepentingan nasional,” tulis Claude. Pada 1673, sultan memesan 12 buah watermolentjes (kincir air) dari Batavia. Mesin itu digunakan untuk mempercepat proses pengairan sawah-sawah di Tanara. Untuk membayar mesin-mesin itu, Pemerintah Banten menyediakan 10 ekor sapi dan 20 pikul lada. Tahun 1675-1677, Sultan Ageng memulai empat proyek besar yang dilakukan bersamaan, yakni pembangunan bendungan di Sungai Pontang dan Sungai Ciujung, serta penambahan terusan di sekitar Tirtayasa, dekat Tanara, dan di daerah Anyer. Catatan pemerintah Batavia kembali menjabarkan situasi pembangunan di wilayah kesultanan Banten tersebut. Disebutkan bahwa setiap laki-laki yang sehat harus ikut dalam proyek pembangunan itu. Banyak dari mereka yang bekerja secara sukarela, namun tidak jarang yang mendapat paksaan dari kepala daerah di sekitar tempat tinggalnya. Begitu pengerjaan proyek pengairan selesai, sultan segera mengalihkan tumpuannya pada pembangunan sebuah kota baru di sekitar terusan. Ia mendirikan rumah-rumah berbahan permanen agar banyak penduduk yang tinggal di sana. “Dalam hubungan ini dapat diperhatikan bahwa sultan gemar sekali akan rumah-rumah dari bata yang berasal dari tradisi China daripada bangunan menurut kebiasaan Jawa dengan kayu dan bambu,” kata Claude. Pada 1678 timbul perselisihan dengan Batavia terkait Cirebon. Sejak itu, perhatian sultan sepenuhnya teralihkan pada militer. Ribuan pekerja laki-laki segera dialihkan menjadi tentara. Lebih jauh, terjadi konflik di dalam istana antara Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji, yang akhirnya memberi peluang bagi Batavia untuk menguasai Banten pada 1682. Mega proyek Sultan Ageng pun akhirnya terhenti. Namun walau begitu, ia berhasil membawa pembangunan yang begitu besar bagi Kesultanan Banten.
- Penyesalan Seumur Hidup Jenderal Mashudi
SETELAH memastikan kabar menyerahnya Jepang, rakyat Bandung segera membentuk barisan pengamanan kota. Dimotori pemuda-pemdua Bandung, mereka menyusuri jalan-jalan yang biasa tentara Jepang berkumpul di sana. Kendati awalnya merasa ragu dan takut, rakyat akhirnya memberanikan diri untuk melucuti persenjataan tentara Jepang. Mereka menguasai tempat-tempat penting milik Jepang, terutama gudang senjata, agar tidak lagi muncul perlawanan. Menjelang akhir September 1945, pasukan-pasukan rakyat telah mengamankan seluruh areal militer penting di Bandung. Para pejuang bersorak ria dengan keberhasilan menyingkirkan kekuasaan Jepang di kotanya. “Para pemuda mulai bertindak mengusir pegawai-pegawai Jepang dengan kekerasan. Pemimpin bangsa kita yang lemah, disingkirkan untuk sementara,” tulis A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid II . Namun sayang walau banyak gudang senjata diamankan, tidak semua pejuang tahu cara memakai senjata. Hanya satu regu pimpinan Sukanda yang mengerti banyak senjata, itupun tidak semua jenis. Sisanya hanya bermodal semangat, dan bambu runcing saja. Pada Oktober 1945, berbekal instruksi pemimpin Sekutu, tentara Jepang mulai melancarkan serangan balik. Tanpa diduga mereka telah menyiapkan kekuatan untuk melumpuhkan pergerakan para pejuang Bandung. Gudang senjata yang telah diduduki pun akhirnya dapat direbut kembali pihak Jepang. Perlawanan-perlawanan dari rakyat tidak berarti banyak karena tentara dengan cepat dapat menumpasnya. “Seperti biasa, massa yang mudah dan cepat bangkit, mudah dan cepat pula terdesak dan terpecah belah,” tulis Nasution. Achmad Tirtosudiro, dalam biografinya Jenderal dari Pesantren Legok , mengenang peristiwa pelucutan senjata itu sebagai peristiwa yang amat disesali Letnan Jenderal TNI (Purn.) Mashudi, mantan Gubernur Jawa Barat (1960-1970), seumur hidup. Mashudi, yang saat itu menjadi salah satu pemimpin rakyat, menyuruh agar para pemuda tetap menyimpan senjata di dalam gudang. Mereka harus mempelajari terlebih dahulu cara memakainya agar tidak keliru. Tetapi instruksinya itu malah menjadi bumerang bagi para pejuang. “Kepintaran saya merupakan ketololan saya waktu itu. Coba jangan memakai pertimbangan rasional, harus berlatih segala. Pakai saja otot nekad. Boyong dulu, penguasaan belakangan, seperti dilakukan rekan-rekan lain di banyak tempat di seantero Indonesia,” ucap Mashudi kepada Achmad. Karena persitiwa itu, para pemuda Bandung mendapat julukan Pemuda Peuyeum . Peuyeum sendiri merupakan makanan khas Jawa Barat, berbahan dasar singkong yang difermentasi. Konotasinya berarti para pemuda itu memiliki sifat yang lembek, penakut, dan pengecut. Julukan itu terus melekat. Achmad Tirtosudiro bahkan merasakan langsung dampaknya. Saat sedang berkunjung ke Surabaya untuk urusan Djawatan Kereta Api, bukan saja mendapat sambutan yang kurang hangat dari masyarakat, keselamatan dirinya pun ikut terancam. “Ini ada pemuda peuyeum dari Bandung. Kita potong saja!” kenang Achmad menirukan ucapan orang-orang Surabaya. Walau yakin hanya candaan, tetapi Achmad melihat hal itu sebagai bentuk kekecewaan para pejuang Surabaya terhadap kegagalan pejuang Bandung mempertahankan daerahnya.
- Nasib Presiden Pertama Negara Dunia Ketiga
DINI hari 30 Juni 1985, Haruo Remeliik, presiden pertama Palau, tiba di rumahnya dari acara sosial. Begitu melangkahkan kaki keluar dari mobil, dia mendengar suara senapan macet. Seseorang telah menunggunya di sebuah pickup yang diparkir di jalan seberang rumah Remeliik. Orang tak dikenal itu mencoba menghabisi sang presiden namun gagal. Upaya pembunuhan Remeliik terkait erat dengan persaingan politik dalam negeri dan kebijakannya membawa negerinya tetap gigih menolak nuklir. Sikap itu membuat Palau berseberangan dengan mantan “bapak asuh”-nya, Amerika Serikat (AS). Konflik bermula saat Palau dan wilayah-wilayah lain di Mikronesia –yang ditetapkan PBB menjadi wilayah Trusteeship Territory dengan wali AS pada 1947– mulai mengupayakan pengakhiran status perwalian mereka. Pada 1967, Kongres Mikronesia menciptakan Joint Committee on Future Status dan menetapkan Lazarus Salii (kemudian menjadi presiden Palau kedua), senator lulusan University of Hawaii asal Palau, sebagai ketuanya. Tugas komite itu adalah mencari kemungkinan status alternatif untuk mengakhiri perwalian strategis. Namun, AS lebih menginginkan statusquo . “Dalam negosiasi di Washington pada Mei 1970 AS mengusulkan wilayah-wilayah perwalian menjadi wilayah permanennya dengan status ‘Commonwealth’,” tulis Roy Smith dalam The Nuclear Free and Independent Pacific Movement After Mururia . Delegasi Mikronesia pun langsung menolaknya. Keteguhan masing-masing pihak pada prinsip membuat negosiasi berjalan alot dan mencapai puncaknya pada 1970-an. Di bawah payung Compact of Free Association (CFA), para bangsa di Mikronesia akhirnya mengadakan referendum pada 1978 dan menghasilkan Federasi Mikronesia. Namun, Palau terbagi antara yang mendukung bergabung dengan federasi dan yang ingin berdiri sendiri. Di bawah Gubernur Airai Roman Tmetuchl, Palau akhirnya memutuskan keluar dari federasi. Sebagai tindak lanjutnya, Palau mengadakan Konvensi Konstitusi, 28 Januari-2 April 1979, untuk merancang undang-undang dasarnya. Tak lama setelah itu, Palau pun melangsungkan pemilihan presiden pertamanya. “Yang amat mengejutkan, kekuatan-kekuatan berbeda bersatu di sekitar satu kandidat, Haruo Remeliik, dan memilihnya sebagai presiden dari Konvensi Konstitusi,” tulis Arnold Leibowitz dalam Embattled Island: Palau’s Struggle for Independence. Kemenangan Remeliik, pria keturunan Jepang yang lahir pada 1 Juni 1933, tak hanya mengagetkan banyak orang namun juga menyakitkan Tmetuchl. Banyak orang yakin Tmetuchl bakal menjadi presiden pertama Palau. Sementara, Remeliik merupakan figur low profile . Kemenangan Remeliik yang low profile tak lepas dari dukungan Modekngei, gerakan keagamaan lokal yang muncul setelah Perang Dunia I untuk menjaga agama-agama lokal dari kepunahan akibat misi Katolik, yang dianut dua pertiga penduduk Palau. Remeliik dianggap sebagai figur paling pas ketimbang dua pesaing lain, Tmetuchl dan Lazarus Salii yang amat dekat dengan AS. Remeliik bekerja dalam situasi yang sulit. Di dalam negeri, Remeliik harus meredam kuatnya persaingan politik. Ke luar, dia mesti menyelesaikan negosiasi dengan AS yang macet di bawah payung CFA. “Struktur dasar Compact adalah sederhana. AS akan menerima hak untuk mendirikan pangkalan militer, mengirim bahan nuklir, dan mencegah kekuatan asing terlibat dalam aktivitas militer apa pun. Sebagai gantinya, FAS akan menerima sejumlah besar uang, hak rakyatnya untuk memasuki AS dan bekerja, dan perlindungan militer,” tulis Leibowitz. CFA berseberangan dengan konstitusi Palau dalam tiga hal, yakni batas wilayah Palau, pangkalan militer AS di Palau, dan penggunaan nuklir AS di Palau. Dalam hal batas wilayah, Palau menganut konsep archipelagic sea theory dan territory sea theory , yang memungkinkan negeri itu memiliki laut hingga 200 mil dari garis pantai terluarnya. CFA, mengacu pada kepentingan Washington, menolak kedua teori itu. Namun, sengketa soal izin pangkalan militer dan penggunaan nuklir lebih pelik. AS maupun Palau sama-sama ngotot. AS amat menginginkan keduanya, sementara konstitusi Palau melarang kedua hal itu. Akibatnya, negosiasi macet. AS terus menekan Palau untuk merevisi konstitusinya, sementara Palau berupaya keras untuk mendapatkan kedaulatan penuh. Namun, Remeliik tak bisa begitu saja menghentikan CFA. Selain mengikat secara legal karena sudah ditandatangani, dari sisi ekonomi CFA masih amat diperlukan Palau untuk membangun. Menurut Roy Smith dalam The Nuclear Free and Independent Pacific Movement After Mururia, dengan menandatangani CFA Palau akan mendapat suntikan dana dari AS sebesar 1 miliar dolar selama 50 tahun. “Jumlah ini 10 kali lipat dari dana tahunan di bawah Trusteeship. Efek ekonomi jangka panjang di bawah pendanaan Compact sebagai lawan Trusteeship terbuka untuk diperdebatkan,” tulis Smith. Jumlah pendukung kerjasama di bawah CFA amat besar. Tmetuchl dan Salii yang paling populer. Keduanya merupakan lawan politik Remeliik. Kendati posisinya sulit, Remiliik tetap berupaya membawa Palau menggapai kemerdekaan penuhnya dan menjaga prestis dengan berada di garis depan dalam kampanye anti-nuklir. Dalam kampanye anti-nuklir, Palau menjadi sekutu negara-negara Pasifik lain yang umumnya menentang nuklir dan Green Peace serta organisasi-organisasi lingkungan lain. Kampanye makin gencar setelah Remiliik kembali mengalahkan Tmetuchl dalam pemilihan presiden kedua, 1985. Konsekuensi dari langkah yang diambil Remeliik adalah makin banyak musuh yang mengelilinginya. Pengawasan terhadap dirinya pun meningkat. Pada saat Remeliik menghadiri acara sosial 29 Juni 1985, seorang penembak gelap telah menunggu di depan rumahnya. Begitu Rameliik tiba pada dini hari 30 Juni dan turun dari mobil hendak masuk ke rumahnya, penembak itu menarik pelatuk senapananya untuk menghabisi Remeliik. Namun, dia gagal lantaran senapannya macet. Remeliik mendengar jelas suara senapan macet itu. “Remeliik berlari untuk menghadapi penyerangnya, berduel dengan pria bersenjata itu sebelum akhirnya tiga peluru menghantam Remeliik di kepala dan leher, membunuhnya seketika,” tulis Michael Newton dalam Famous Assassination in World History: An Encyclopedia . Kematian Remeliik menyisakan misteri terkait dalang, pelaku, dan motif pembunuhan hingga jauh hari. “Dua kerabat mantan rival politik Remeliik, Roman Tmetuchl, dan dua rekannya didakwa dengan pembunuhan tersebut tapi tidak dihukum karena bukti tidak memadai. Banyak rakyat Palau pro-Konstitusi percaya CIA yang membunuhnya. Pelaku yang sebenarnya, yang dihukum pada 1993 karena memerintahkan pembunuhan itu, adalah John Ngiraked, yang kepentingan bisnisnya digagalkan Remeliik,” tulis Roger C. Thompson dalam The Pacific Basin Since 1945: An International History.
- Corak Asing di Kesultanan Cirebon
AGAMA Islam masuk ke Cirebon pada permulaan abad ke-14. Itu bersamaan terjadinya kontak pertama antara orang-orang asing (Arab dan Tiongkok) dengan pribumi. Islam pun dikenal oleh masyarakat Cirebon sebagai agama pendatang yang dibawa oleh para pedagang Arab dan Tiongkok. Namun karena saat itu belum terjadi kontak budaya yang signifikan, penyebaran Islam pun baru terjadi secara masif pada masa Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon. Ketika pertama datang orang-orang Arab dan Tionghoa menempati wilayah pesisir Cirebon. Sebagai pedagang, mereka lebih banyak melakukan aktivitasnya di sana. Maka tidak heran jika hanya wilayah pesisir saja yang sejak awal telah mengenal Islam. Pada 1415 berdiri kampung Tionghoa (Pecinan) di wilayah Pelabuhan Muara Jati. Pemukiman itu dibangun oleh utusan Laksamana Cheng Ho, penjelajah Tionghoa Muslim dari Dinasti Ming. Salah seorang utusan itu adalah Tan Eng Hoat. “Ia adalah seorang Cina Muslim dan sudah menjadi haji” tulis Rokhimin Dahuri dalam Budaya Bahari: Sebuah Apresiasi di Cirebon . Para pedagang asing itu banyak berinteraksi dengan penduduk lokal. Akibatnya, tidak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk menetap di Cirebon. Mereka kemudian menikahi perempuan-perempuan pribumi. Orang-orang Tionghoa menempati Pecinan, sementara orang-orang Arab menempati Kampung Arab. Peran orang-orang Tionghoa dan Arab di Kesultanan Cirebon cukup besar. Keberadaan mereka berdampak pada perkembangan kebudayaan di masyarakat. Seperti terlihat pada bangunan, kesenian, hingga benda-benda pusaka. Pengaruh Arab Dalam Babad Cirebon diceritakan peran orang-orang Arab dalam penyebaran Islam di Cirebon. Terdapat tiga tokoh penting, yakni Syarif Abdurrahman, Syarif Abdurrahim, dan Syarifah Baghdad. Ketiganya merupakan anak kandung,dari Sultan Baghdad. “Mereka diperintah untuk berlayar ke Pulau Jawa oleh sang ayah. Di Cirebon ketiganya berguru kepada Syekh Nurjati dan diperkenalkan dengan Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon.” tulis Bambang Setia Budi dalam Masjid Kuno Cirebon . Pangeran Cakrabuana kemudian meminta Syarif Abdurrahman dan Syarif Abdurrahim mengajarkan Islam kepada masyarakat Cirebon. Masing-masing diberi satu wilayah untuk dikelola menjadi pemukiman Muslim. Sang kakak menempati wilayah yang sekarang dikenal sebagai Panjunan. Sedangkan sang adik dipercaya mengelola wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kejaksan. Di Panjunan, Syarif Abdurrahman membangun sebuah masjid sebagai pusat ajarannya. Pengaruhnya yang besar membuat masjid Panjunan pernah digunakan sebagai tempat musyawarah dan pertemuan para wali penyebar Islam dari seluruh Nusantara. Sebelum akhirnya dipindahkan ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang didirikan Sunan Gunung Jati. Syarif Abdurrahman juga mendirikan tempat pembuatan jun atau keramik porselen. Dalam prosesnya ia mengajak serta masyarakat pribumi. Sehingga mulai bermunculan tenaga pertukangan di wilayah Panjunan. “Keberadaan tenaga pertukangan dan pengrajin mengandung arti yang dalam bagi masyarakat Cirebon karena memunculkan kelompok masyarakat baru” tulis A. Sobana Hardjasaputra dalam Cirebon dalam Tiga Zaman: Abad ke-15 hingga Pertengahan Abad ke-20 . Sama seperti Panjunan, di Kejaksan Syarif Abdurrahim pun membangun sebuah masjid. Pembangunan masjid Kejaksan hampir berbarengan dengan masjid Panjunan. Keduanya memperlihatkan arsitektur khas masjid abad ke-15 di Cirebon. Cirinya adalah bentuk yang sederhana, terdiri dari ruang shalat, serambi, tempat wudhu, tiang besar, dan sakaguru di puncak atapnya. Sementara itu saudara perempuan mereka, Syarifah Baghdadi, menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia pun turut membantu penyebaran agama Islam bersama saudara dan suaminya. Pengaruh Tiongkok Sama seperti kebudayaan Arab, pengaruh tradisi Tiongkok pun cukup kental terasa di Cirebon. Beberapa masjid kuno di sana menggunakan keramik dari Tiongkok untuk hiasan dindingnya. Jumlahnya tidak sedikit dan motifnya pun sangat beragam. Keramik-keramik itu didatangkan langsung dari Tiongkok. Sebagian besar dibawa oleh para pedagang, sementara sisanya didapat dari utusan raja. Namun ada juga yang dibuat oleh orang-orang Tionghoa yang sudah menetap di Cirebon. Tidak hanya di masjid, keramik-keramik Tiongkok juga menghiasi bangunan publik lainnya. Bahkan di makam Sunan Gunung Jati pun tersebar hiasan-hiasan keramik Tiongkok. Hal itu diperkuat dengan keberadaan istri Sunan Gunung Jati yang berdarah Tionghoa, yakni Ong Tien Nio. Nuansa Tiongkok juga terlihat pada salah satu motif batik di Cirebon, yakni Megamendung. Sobana menyebut bahwa gambaran naga pada kereta pusaka kesultanan Cirebon sangat erat kaitannya dengan kebudayaan Tiongkok. “Namun selain menyerap budaya luar yang bersifat positif, diduga sebagian warga masyarakat Cirebon juga menyerap budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam” kata Sobana. Salah satunya adalah arak. Hal itu didasarkan pada keberadaan pabrik arak di Cirebon yang dikelola oleh orang-orang Tionghoa. Dalam Eenige Offciele Stukken met Betrekking tot Tjirebon , laporan resmi pemerintah Belanda yang ditulis J.L.A. Brandes, menyebut kebiasaan minum minuman keras telah menjadi budaya di pelabuhan-pelabuhan Cirebon yang dibawa oleh para pedagang dari mancanegara.
- Trik Sulap Berujung Maut
TERIK mentari Minggu (16/6/2019) siang membakar semangat Mandrake. Di tepi Sungai Hooghly, Kalkuta, India, pesulap cum ilusionis bernama asli Chanchal Lahiri itu sesaat lagi akan melakukan sebuah aksi meloloskan diri dari maut. Sekujur tubuhnya sudah diikat rantai dan digembok oleh para asistennya. Tubuhnya kemudian diangkat menggunakan crane untuk ditenggelamkam ke dasar sungai. Beberapa kali ia masih mencoba mengangkat kepalanya saat tubuhnya mulai menyentuh air. Itulah momen terakhir Mandrake terlihat dalam keadaan hidup yang diabadikan lewat rekaman video. Yang terjadi selanjutnya adalah petaka. Ia gagal lolos dari maut. Escapetrick ala legenda Harry Houdini yang dilakukan Mandrake gagal total. Setelah dinanti 10 menit, Mandrake tak jua muncul ke permukaan sebagaimana rencananya. Aparat setempat pun mencari ke dasar sungai tetapi baru Senin (17/6/2019) jasad Mandrake ditemukan sekira 1 kilometer dari lokasi kejadian. Kepolisian Kalkuta sampai kini masih menginvetigasi terus kasusnya. Tewasnya Mandrake menambah panjang daftar pesulap gagal dan menemui maut setelah mencoba meniru trik-trik Houdini, pesulap legendaris Amerika Serikat berdarah Hungaria yang tenar dengan trik-trik menantang malaikat kematian. Chanchal Lahiri melakukan trik sulap Houdini yang mengakhiri hidupnya. (Youtube Tuitealo). Trik-trik Houdini Lahir dari keluarga Yahudi pada 24 Maret 1874, Erik Weisz melejitkan nama panggungnya, Houdini, sejak kesuksesannya di London pada 17 Maret 1904. Kala itu ia melakoni aksi meloloskan diri dari sebuah borgol khusus. Aksi itu berawal dari tantangan suratkabar Daily Mirror bahwa tiada yang bisa meloloskan diri dari sebuah borgol buatan Nathaniel Hart yang butuh lima tahun pembuatannya. Houdini menjawab tantangan “ Handcuff Act ” itu di Teater Hippodrome London. Diungkapkan William Kalush dan Larry Sloman dalam The Secret Life of Houdini , triknya dilakukan di atas panggung dan namun di balik sebuah tirai. Butuh satu jam 10 menit bagi Houdini untuk bisa melepaskan diri dari belenggu baja itu. Banyak orang meragukan dan merasa bahwa Houdini curang. Mereka mengasumsikan Bess, istri Houdini, mengoper kunci tersembunyi di mulutnya kala mencium Houdini di panggung sebelum tirainya ditutup. Meski misteri trik ini belum terpecahkan, Houdini tetap keluar gedung dengan riuh tepuk-tangan penonton. Houdini pun menganggap trik itu yang tersulit sepanjang kariernya. Setidaknya ada 10 trik sohor dalam sepakterjang Houdini yang kian membuat harum namanya sebagai pesulap dan escape artist. Selain “Handcuff Act”, Houdini juga sohor lewat trik-trik Naked Test Prison Escape, Overboard Box Escape, Vanishing Elephant, Needle Trick, Walking through a Brick Wall, Metamorphosis, Milk Can Escape, Chinese Water Torture Cell, dan Straitjacket Escape. Sejumlah penggemar Houdini yang turut mengikuti jejaknya, kadang mengombinasi beberapa trik Houdini. Namun tidak semua mampu. Beberapa di antaranya tinggal nama, sebagaimana Lahiri di India. Triknya seolah menduplikasi trik Overboard Box Escape minus peti. Aslinya trik ini dilakukan Houdini di East River, New York pada 7 Juli 1912. “Houdini dibelenggu dengan borgol di tangan dan kakinya, kemudian direbahkan ke dalam peti yang dipaku. Lalu petinya diturunkan ke air. Dia meloloskan diri hanya dalam waktu 57 detik,” singkap Doug Henning dalam Houdini: His Legend and His Magic. Poster pertunjukan Harry Houdini melakukan trik sulap Milk Can Esccape. (New York Public Library). Seperti disebutkan di atas, Lahiri menambah daftar peniru Houdini yang berakhir tewas. Jauh sebelum itu, ada Genesta alias Royden Joseph Gilbert Raison de la Genesta. Ia tewas saat mengimitasi trik Milk Can Escape –yang sukses dilakoni Houdini pada 1908, di mana tangannya diborgol dan tubuhnya dimasukkan ke tong susu berisi air– pada 9 November 1930 di Teater Vaudevill di kota Frankfort, Kentucky, AS. Sampai waktu yang ditentukan, Genesta tak jua menampakkan diri. Para asistennya yang panik segera membuka segel tong kaleng susu secara paksa. Genesta pun dilarikan ke rumahsakit tapi nyawanya tak tertolong. Dari penyelidikan akhir, dikatakan, penyebab kematian adalah salah satu bagian tong bengkok, membuatnya tak punya ruang untuk berupaya meloloskan diri. Modifikasi trik Houdini juga mendatangkan ajal buat Karr the Magician. Pesulap bernama asli Charles Rowen itu mencoba meniru trik Straitjacket Houdini di Afrika Selatan. Mulanya Rowan diikat dengan straitjacket atau baju pengekang dan akan meloloskan diri sebelum dirinya ditabrak mobil dari jarak 180 meter dengan kecepatan 72 kilometer per jam. Hitungan matematis memberikan Rowan waktu 10-15 detik untuk meloloskan diri. Sayang, kenyataannya maut tak dapat dibendung kala Rowan mempertunjukkannya ke publik di Balai Kota Springfontein. James D. Robenalt dalam Linking Rings: William W. Durbin and the Magic and Mystery of America mengatakan, sang peniru Houdini itu justru gagal melepaskan diri dari baju pengekang tepat waktu. Tubuhnya keburu terpental mobil yang menabraknya. Joseph Burrus melakukan trik Buried Alive yang menewaskannya. (abc30.com) Pesulap lain yang gagal dalam meniru trik Houdini dan menemui ajalnya adalah Joseph W. Burrus atau Amazing Joe. Dia tewas justru saat mengadakan pertunjukan untuk memperingati 64 tahun kematian Houdini di sebuah malam Halloween 1990. Mengutip laporan suratkabar Los Angeles Times , 1 November 1990, Joe melakoni triknya di taman hiburan Blackbeard’s Family Fun Center dan sebelum beraksi, dengan pede-nya ia mengklaim dirinya lebih hebat dari Houdini. “Saya adalah ahli ilusi dan meloloskan diri. Saya percaya bahwa saya adalah Houdini berikutnya dan akan jadi lebih hebat darinya,” kata Joe. Joe melakoni trik Buried Alive. Dalam trik itu, ia akan berbaring di peti mati dalam keadaan tangan diborgol dan kaki dirantai. Peti itu lantas dimasukkan ke dalam sebuah lubang dan diuruk semen basah dan tanah seberat sembilan ton. Nahas, saat semen cair dituangkan, terdengar bunyi retakan peti. Saat para kru menyelamatkan Joe, semuanya sudah terlambat.*
- Lelucon Long March Siliwangi
BEGITU Belanda menyerang ibu kota Yogyakarta pada 19 Desember 1948, atas perintah Pang lima Besar Jenderal Soedirman, prajurit-prajurit dari Divisi Siliwangi bergerak kembali ke Jawa Barat. Selama perjalanan panjang ( long march ) menempuh jarak sekitar 600 km tersebut, banyak halangan yang menghadang mereka termasuk serangan tentara Belanda dan medan yang berat. Suatu hari, Batalion Kala Hitam yang dipimpin oleh Mayor Kemal Idris tengah bergerak menuruni Gunung Ijen. Untuk mencapai kampung terdekat, mereka harus melewati hutan lembab yang banyak dipenuhi pacet. Itu sejenis lintah yang hidup di wilayah lembab nan dingin. Untuk menghindari gigitan pacet, mereka mempergunakan tembakau yang dibasahi lalu digosokan ke badan dan kaki. “ Walaupun pacet tidak berbahaya, tetapi banyak orang merasa geli melihat lenturan tubuh pacet …” ujar Kemal Idris dalam otobiografinya: Bertarung dalam Revolusi. Salah satu perwira bawahan Kemal Idris ternyata memiliki rasa jijik yang luar biasa terhadap binatang melata itu. Kendati seluruh tubuhnya sudah dilumuri tembakau, namun ketegangan masih mewarnai wajahnya saat pasukan mulai memasuki hutan lembab tersebut. Satu menit, dua menit hingga setengah jam, perjalanan masih aman. Namun begitu memasuki waktu satu jam, tiba-tiba terdengar letusan pistol. Semua anggota pasukan kontan berlindung dan mengokang senjata, siap melakukan pertarungan maut. Setelah diselediki, ternyata pelepas tembakan pistol tersebut adalah letnan yang sangat jijik terhadap pacet-pacet itu. Rupanya saat seekor pacet hinggap di sepatunya, tanpa berpikir panjang ia mengeluarkan pistol dan menembaki pacet malang tersebut. Akibatnya sungguh fatal: bukan sang pacet hancur lebur namun kaki sang letnan pun ikut terluka akibat tembakan sendiri. “ Kejadian itu akhirnya menjadi bahan lelucon saat tiba di markas kami di Cianjur…” ujar Kemal. Lain kisah Kemal, lain pula kisah J.C. Princen, serdadu Belanda yang membelot ke kubu Indonesia dan ikut long march bersama Bataliyon Kala Hitam. Princen bercerita, suatu hari rombongan Yon Kala Hitam sampai di suatu desa yang kosong namun minim makanan. Rupanya, makanan yang ada di desa tersebut telah habis diberikan kepada rombongan long march terdahulu dari pasukan-pasukan Divisi Siliwangi lainnya. Satu-satunya bahan mentah yang bisa didapat di sana hanyalah ikan-ikan mas yang bertebaran di sebuah kolam besar. Mereka lantas mengambil ikan-ikan tersebut dan mengolahnya di dapur umum. Singkat cerita, masakan ikan mas sudah matang dan dihidangkan. Semua anggota Yon Kala Hitam pun dipanggil untuk makan, termasuk Princen. Tanpa banyak cakap, lelaki kelahiran Den Haag yang tengah kelaparan itu pun langsung mengambil sepotong ikan “yang terlihat sangat lezat”. Namun, belum sampai ke tenggorokan, potongan ikan itu langsung dimuntahkannya kembali. “ Rasanya aneh dan membuat perutku mual…” kata Princen. Selidik punya selidik, saking tak adanya bumbu ternyata ikan-ikan mas tersebut pengolahannya hanya direbus di…Air gula! Ya, semacam kolak ikan mas ala long march . “Saat tahu ikan itu hanya diolah dengan menggunakan gula merah, saya lebih memilih kelaparan dan makan dedaunan saja,” kenang Princen. Tak terasa, setelah lebih dari 40 hari berjalan kaki dari Yogyakarta. rombongan long march Bataliyon Kala Hitam sudah mulai memasuki wilayah Jawa Barat. Di tengah kegembiraan karena sudah kembali menapaki tanah kelahiran, di suatu kawasan pegunungan, Mayor Kemal dikejutkan oleh suara teriakan anak buahnya secara tiba-tiba. “Kita diseraaaaangggg, awasss pesawat Belandaaaaa!!!” Tanpa menunggu komando dari Mayor Kemal, sontak semua orang berlarian. Puluhan orang menjatuhkan diri ke jurang dangkal, sedang yang lainnya memasuki hutan. Anak-anak yang menangis “dibekap” mulutnya oleh ibunya masing-masing. Suasana begitu sangat menegangkan. Namun setelah ditunggu-tunggu, pesawat Belanda itu tak jua menghamburkan peluru. Kemal yang juga ikut bersembunyi, lantas keluar semak-semak untuk memastikan keadaan. “ Setelah diperhatikan sungguh-sungguh, ternyata itu hanya seekor elang besar yang sedang mengintai mangsanya,” ujar lelaki yang kelak dikenal sebagai oposan rezim Orde Baru itu.
- Tak Ada Dokter, Mantri pun Jadi
ISTILAH “mantri” kini hampir tak diketahui orang. Di masa lalu, mantri menjadi andalan orang sakit untuk bisa sembuh, selain dokter, perawat, atau bidan. Mantri merupakan petugas medis yang biasanya terdapat di desa dan pelosok. “Mantri cuma ada di Indonesia karena jumlah lulusan kedokteran belum banyak sehingga mantri dikerahkan,” kata Martina Safitry, dosen Institute Agama Islam Negeri Surakarta, pada Historia. Mantri, tulis Martina dalam tesis berjudul “Dukun dan Mantri Pes”, mulanya berarti juru rembug dan sebuah pangkat dalam birokrasi keraton Jawa. Ada mantri guru, mantri tanam, mantri ukur, dan lain-lain. Mantri yang mengurus kesehatan muncul kemudian, ketika wabah cacar menjangkiti Banyumas pada 1847. Wabah itu kebanyakan menyerang buruh pribumi di perkebunan milik Belanda. Lantaran virusnya cepat menyebar dan obat penangkalnya kala itu belum mutakhir, orang-orang Belanda khawatir tertular. Selain itu, wabah cacar yang menyerang buruh membuat usaha perkebunan rugi lantaran jumlah buruh berkurang dan produktivitas turun. Untuk menanggulangi wabah itu, pemerintah kolonial mengirim banyak dokter yang semua orang Belanda. Namun jumlah dokter tak memadai. Lebih lagi, wabah cacar menyerang sampai ke pelosok sementara petugas kesehatan baru terdapat di kota. “Karena keterbatasan jumlahnya, (para dokter, red. ) merasa tidak sanggup untuk menanggulangi keganasan penyakit,” tulis Baha’udin dalam artikelnya di Jurnal Humaniora, Oktober 2006, “Dari Mantri hingga Dokter Jawa” . Akhirnya, dibentuklah profesi baru di bidang kesehatan dengan memberikan pelatihan kilat kepada pribumi. Saat itulah profesi mantri kesehatan lahir, dengan bermacam kategori. Ada mantri cacar, mantri vaksin, mantri pes, bahkan mantri kakus. Arsip foto menunjukkan, pribumi yang dapat pelatihan mantri hanya lelaki, sehingga populer kalimat “berobat ke Pak Mantri”. Upaya pembangunan medis lebih serius baru muncul pada Oktober 1847, saat Kepala Miliataire Geneeskundige Dienst (Dinas Kedokteran Militer) Dr. William Bosch mengusulkan pada Gubernur Jenderal J.J. Rochussen agar mengadakan pendidikan kedokteran Barat untuk penduduk pribumi. Hasilnya, didirikanlah Dokter Djawa School di Weltevreden, Batavia dengan masa studi dua tahun. Di tahun pertama, para siswa diberi pelajaran seputar Fisika, Kimia, Geologi, Botani, Zoologi, dan analisis terhadap tubuh manusia. Sementara pada tahun kedua, para murid diberikan ilmu bedah, Patologi, Anatomi Patologis, material medica, obat-obat pokok, dan pelatihan praktek di klinik. Ketika lulus, siswa mendapat gelar Dokter Jawa meski sebenarnya mereka bukan dokter, melainkan pembantu dokter Eropa ( hulp geneesher ). Sebagian dari Dokter Jawa itu diberi tugas sebagai mantri cacar. Jumlah petugas medis masih belum memadai kendati sekolah dokter pribumi sudah ada. Maka ketika wabah penyakit seperti malaria atau pes muncul, perekrutan dan pelatihan mantri masih terus dilakukan. Ide pembentukan profesi mantri yang lebih paten dilakukan pemerintah Hindia Belanda pada 1935 dengan mendirikan Sekolah Mantri Kesehatan, bekerjasama dengan Rockefeller Foundation. Distrik Purworkerto ditetapkan sebagai model dan labolatorium pelatihan mantri. Para lulusan sekolah itu ditempatkan di kampung-kampung dan daerah terpencil. Sosok mantri kadang tidak bisa dibedakan dengan dokter Jawa karena mereka menggunakan atribut dan peralatan yang sama. Para mantri juga berperilaku laiknya dokter, menganalisis penyakit pasien dan memberi obat. “Kalau menurut peraturan internasional, yang boleh memberi obat hanya dokter, tapi karena jumlahnya masih sedikit, mantri bertugas seperti dokter umum,” kata Martina. Kehadiran mantri di kampung-kampung menjadi jalan bagi pribumi untuk mengenal pengobatan modern yang tidak berjarak lantaran penyembuh dan pasien sama-sama pribumi. Banyak pasien pribumi lantas berobat ke “Pak Mantri” kala penyakit menyerang. Namun, jalaran banyaknya kritik pada kualitas lulusan dokter jawa, pada 1898 Sekolah Dokter Jawa diubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Masa studinya diperpanjang jadi delapan tahun dan gelar yang didapat bukan lagi Dokter Jawa, melainkan Inlandsche Arts (dokter pribumi). “Ada perbaikan kurikulum dan dokter pribumi mulai dicetak. Lulusan eranya Tjipto Mangoenkoesoemo atau Radjiman Wedyodiningrat, bukan difungsikan sebagai mantri atau dokter jawa tapi dokter betulan,” Kata Martina.
- Tan Malaka di Hong Kong
HONG KONG yang lazimnya ramai oleh beragam aktivitas bisnis dan kehidupan sosial dengan udara bebas, kini bergejolak. Sekira satu juta penduduknya turun ke jalan menentang Undang-Undang Ekstradisi yang tengah dibahas badan legislatifnya. Jika UU itu disahkah, roda kehidupan di Hong Kong dipercaya takkan lagi sama. Sejak dikembalikan Inggris pada 1997, Hong Kong dijadikan wilayah otonomi khusus di bawah Republik Rakyat China (RRC). Sampai 50 tahun usai penyerahan, Hong Kong diberi jaminan ketertiban hukum, kebebasan berpendapat, dan sistem perekonomiannya akan tetap sama sebagaimana saat masih di bawah ketiak Inggris.
- Ganja untuk Ritual Pemakaman
Baru-baru ini sebuah penelitian menunjukkan kalau mengisap ganja sudah dilakukan manusia paling tidak sejak 2.500 tahun lalu di Tiongkok. Dari hasil penelitian para arkeolog dan ahli kimia dari Chinese Academy of Sciences dan Chinese Academy of Social Sciences di Beijing, sejenis ganja teridentifikasi sebagai tanaman yang dibakar dalam ritual di makam purba dari 500 SM. Masyarakat di Pegunungan Pamir, Tiongkok Barat, yang melakukan ritual dengan membakar ganja tersebut. Berdasarkan artikel berjudul “The origins of cannabis smoking: Chemical residue evidence from the first millennium BCE in the Pamirs” yang diterbitkan Science Advance, Rabu (12/6), kandungan ganja ditemukan saat menganalisis potongan kayu sisa pembakaran di makam. Residu yang ditemukan di situs mengandung senyawa kimia yang menunjukkan tingkat tetrahydrocannabinol (THC) dalam kadar tinggi. Itu adalah senyawa tanaman yang bersifat psikoaktif atau bisa memunculkan efek euforia pada penggunanya. Selain sisa kayu bakar, peneliti juga menemukan piring dan mangkuk, manik-manik kaca, kain sutra, dan harpa Tiongkok. Ada pula tulang-belulang manusia yang memiliki lubang ditengkoraknya. Lubang pada tengkorak itu diperkirakan akibat hantaman benda keras. Karenanya para peneliti menduga beberapa orang yang dimakamkan di lokasi itu tewas dalam ritual pengurbanan manusia. “Kita dapat mulai menyatukan gambaran tentang upacara penguburan yang meliputi api, musik dan asap halusinogen, yang semuanya dimaksudkan untuk membimbing seseorang ke dalam kondisi setengah sadar,” tulis para peneliti itu. Sebelumnya, batang dan biji ganja pernah ditemukan di beberapa situs pemakaman di sekitar Eurasia. Namun bukti di pemakaman Pamir, yang diverifikasi oleh teknologi ilmiah canggih, menunjukkan hubungan yang lebih langsung antara tanaman dan ritual pada masa-masa awal. “Temuan baru ini memperluas jangkauan geografis penggunaan ganja di wilayah Asia Tengah yang lebih luas,” kata Mark Merlin, profesor botani di Universitas Hawaii di Manoa, yang tidak ikut serta dalam penelitian ini. Menurut sejarawan yang meneliti ganja itu, temuan ganja itu penting. Artinya ganja pernah digunakan untuk memfasilitasi tubuh berkomunikasi dengan alam baka dan dunia roh. Dari penelitian itu juga bisa dikatakan orang pada masa itu telah sengaja menanam ganja dan secara sadar memilih spesies yang efeknya lebih kuat karena temuan itu mengandung senyawa THC tinggi. “Ganja liar, yang tumbuh secara umum di kaki gunung berair di Asia Tengah, biasanya memiliki kadar cannabinol yang rendah, itu suatu metabolit THC,” tulis para peneliti. History mencatat ada beberapa bukti bahwa orang-orang dari budaya kuno sudah tahu tentang sifat psikoaktif tanaman ganja. Mereka mungkin telah menanam beberapa varietas yang menghasilkan THC lebih tinggi untuk digunakan dalam upacara keagamaan atau praktik penyembuhan. “Benih ganja yang terbakar telah ditemukan di kuburan dukun di Cina dan Siberia sejak 500 SM,” tulis laman itu. Ilustrasi tanaman ganja dalam Vienna Dioscurides (512 M) Kendati begitu, studi lain pernah diterbitkan oleh para peneliti dari Freie Universität Berlin dua tahun lalu. Lewat jurnal Vegetation History and Archaeobotany diungkapkan kalau ganja telah digunakan di Jepang dan Eropa Timur dalam waktu hampir bersamaan, yaitu antara 11.500 dan 10.000 tahun yang lalu. Sebagaimana dikutip laman New Scientist, penelitian itu mengkaitkan peningkatan penggunaan ganja di Asia Timur dengan meningkatnya perdagangan lintas benua antara Eropa dan Timur antara 4.000 dan 5.000 tahun yang lalu, pada awal Zaman Perunggu. Orang-orang Yamnaya, yang bermarkas di tempat yang sekarang disebut Eropa Timur, diperkirakan telah mengangkut ganja melintasi benua saat mereka melakukan perjalanan ke arah timur. Diperkirakan ganja adalah salah satu barang komoditas di sepanjang Jalur Perunggu ke Asia, yang kemudian jalur itu dikenal sebagai Jalur Sutra. Jalur itu adalah jaringan kuno rute perdagangan yang menghubungkan Eropa dan Cina. "Tanaman ganja tampaknya telah didistribusikan secara luas sejak 10.000 tahun yang lalu, atau bahkan lebih awal,” ujar Tengwen Long, yang memimpin tim peneliti. Dia menambahkan nilai tinggi tanaman sangat bisa digunakan sebagai alat tukar. Selain sifat piskoaktifnya, ganja juga diambil seratnya untuk bahan pembuatan kain. “Ini akan membuatnya menjadi barang yang ideal, yaitu sebagai tanaman komersial sebelum ada uang tunai,” jelas Tengwen Long.
- Kisah Sang Penghilang Batas
DI DUNIA sains siapa yang tak mengenal Stephen Hawking? Vonis mati yang diterimanya tidak serta merta membuat hidup ilmuwan ini goyah. Itu dibuktikan denan terus berkaryanya dia di bidang ilmu fisika. Sejak tahun 1960-an tidak henti-hentinya, dia mengguncang dunia dengan spekulasi dahsyatnya tentang alam semesta dan kehidupan makhluk hidup di dalamnya. Dilahirkan di Oxford, Inggris, pada 8 Januari 1942, Hawking merupakan putra sulung dari empat bersaudara. Sejak remaja, dia telah memperlihatkan ketertatikan yang besar terhadap ilmu sains dan teknologi. Ketika belajar di St. Albans, Hawking (16 tahun) bersama kawan-kawannya mampu merakit sebuah komputer dengan memanfaatkan suku cadang bekas jam dan pesawat telepon. Pada 1962, Hawking lulus dari Universitas College, Oxford. Menurut Marcus Chown, seorang mantan astronom radio, walau mendapat gelar kehormatan kelas satu di bidang pengetahuan alam, Hawking pernah mengakui dirinya sebagai pemalas ketika masih menjadi mahasiswa. Tidak puas dengan gelar kesarjanaannya, Hawking pun memutuskan untuk mengejar gelar Ph.D di Universitas Cambridge. Di sana dia memilih jurusan yang waktu itu kurang populer, yakni relativitas umum, salah satu teori tentang gravitasi milik Albert Einstein yang mengantarkannya pada kepopuleran sepanjang masa. Namun belum genap setahun belajar di Cambridge, Hawking harus nenerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Bermula dari Natal 1962, ia menyadari tubuhnya semakin lemah tanpa mengetahui sebabnya. Kemudian pada akhir semester pertama di Cambridge, ibunya membujuk Hawking untuk menemui dokter. Setelah melalui rangkaian tes melelahkan selama dua pekan, dokter memvonis Hawking menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS): bentuk paling umum dari penyakit saraf motorik yang menyebabkan kemunduran pada fungsi sel-sel otak. "Pada usia 21 tahun, Hawking menghadapi vonis mati. Yang luar biasa, kendati dia merasa putus asa, dia tidak pernah menyerah." tulis Marcus. Normalnya, penderita penyakit ini hanya akan bertahan hidup tidak lebih dari tiga tahun. Brian Dickie, direktur Asosiasi Pengembangan Riset MND ( motor neurone disease ), menyebut penyakit saraf memiliki tingkatan yang berbeda tergantung dari gen dan lingkungan para penderitanya. "Mengingat obat yang efektif kurang tersedia, kemungkinan Hawking bisa hidup begitu lama bukan lantaran obat tetapi disebabkan oleh jenis penyakitnya." ucap Dickie. Lebih dari itu, alasan Hawking dapat bertahan adalah Jane Wilde. Dia jatuh cinta pada perempuan yang ditemuinya dalam acara pesta mahasiswa di kampusnya. Pasangan itu melangsungkan pernikahan pada 1965. dukungan dari Jane membuat Hawking berjanji akan memanfaatkan sisa waktunya semaksimal mungkin. Ajaibnya, setelah melewati hari-hari bersama perempuan yang dicintainya, perkembangan penyakit Hawking mulai melambat. Semangat hidup Hawking melawan keterbatasannya menjadi penggalan kisah paling menarik dalam buku ini. Penjelasan tentang penyakit yang dideritanya pun disajikan dalam koridor ilmiah yang mudah dicerna awam. Namun sayangnya buku ini tidak menyertakan data-data tentang perkembangan penyakit Hawking. Selain itu tidak adanya wawancara personal berisi pertanyaan lebih intim membuat buku Stephen Hawking A Mind Without Limits ini kurang memperlihatkan sisi pribadi Hawking. Menghilangkan Batas Selain menjelaskan perjalanan hidup, buku ini juga mencoba membantu mengarahkan para pembaca pada penemuan-penemuan ilmiah Hawking yang begitu menakjubkan. Dalam buku ini para ahli dihadirkan, sebagai kontributor, untuk menjelaskan bidang keahliannya. Seperti Peter J. Bentley, seorang profesor ilmu komputer yang memaparkan secara rinci teknologi yang terpasang pada kursi roda Hawking untuk membantu kesehariannya. Hawking dikenal sebagai perintis di bidang fisika dan kosmologi modern. Dengan cerdas, ia mampu menggabungkan dua bidang keilmuan yang tidak saling berhubungan tersebut. Namun meski begitu, hampir setengah masa hidupnya dihabiskan tanpa bergerak dan bersuara. Sebelum benar-benar kehilangan kemampuan berbicara, Hawking masih memberikan kuliah umum di beberapa perguruan tinggi di Inggris. Dia selalu membawa keluarga serta asistennya untuk menerjemahkan ucapannya yang sudah tidak jelas. Hawking tidak ingin kekurangannya itu menjadi halangan untuk dia terus berkarya. Namun pil pahit kembali harus ditelan Hawking. Pada 1985, dalam sebuah perjalanan dinas ke CERN (Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir), Hawking terserang pneumonia. penyakit itu nyaris merenggut nyawanya. "Dokter-dokter yang menanganinya terpaksa menjalankan operasi trakeonomi untuk memasukkan slang pernapasan, tetapi tindakan ini menyebabkan Hawking kehilangan suaranya." tulis Peter J. Bentley, profesor ilmu komputer di Universitas College, London. Tentu bukan perkara mudah untuk Hawking dapat menerima keadaannya. Karir akademiknya menutut kemampuan berkomunikasi yang baik. Dia harus memberi kuliah di hadapan mahasiswanya, mempresentasikan hasil penelitiannya, bahkan mempublikasikan tulisan-tulisannya. Karena tidak bisa melakukan semua itu, Hawking merasa hidupnya bagai bencana. Tapi bukannya menyerah, Hawking malah mengalihkan perhatiannya pada teknologi. Ia sadar bahwa hanya pengetahuan modern yang dapat membantunya. Untuk itu, Martin King, dokter pribadi Hawking, menghubungi perusahaan teknologi asal California, Words+, yang telah mengembangkan equalizer untuk penderita penyakit saraf motorik. Sistem yang ditawarkan memungkinkan pemakainya memilih kata-kata hanya dengan ketukan tangan. "Sebuah kursor bergerak di bagian atas layar." terang Hawking. "Saya dapat menghentikannya dengan tombol di tangan saya. Dengan cara ini, saya bisa memilih kata-kata yang terpampang di bagian bawah layar. Saya bisa memberikan kuliah, menulis makalah, dan berkomunikasi dengan keluarga saya." Sistem equalizer awalnya dijalankan di sebuah komputer Apple II yang tersambung ke perangkat penyintesis wicara buatan Speech Plus. tidak lama, perangkat lunaknya diganti dengan versi terbaru bernama EZ Keys, buatan perusahaan yang sama. Teknologi itu termasuk paling canggih pada zamannya karena dapat menyimpan lebih dari 4.000 kosakata yang dibutuhkan Hawking. Selama hampir 20 tahun, sejak 1988, Hawking memanfaatkan teknologi penyintesis wicara itu untuk berbagai keperluan ilmiahnya. Namun pada 2005 penyakit ALS yang dideritanya semakin parah. Ia kembali kehilangan kemampuan berkomunikasi karena tidak lagi memiliki kekuatan untuk menekan tombol perangkat wicara di kursi rodanya. Untuk mengatasinya, beberapa asisten serta mahasiswa bimbingannya menciptakan perangkat LED dan sensor inframerah khusus Hawking. Teknologi itu dipasang di kacamata Hawking untuk mendeteksi gerakan kecil pada otot di pipinya. Berkat peranti ini, Hawking dapat terus melanjutkan kegemilangannya dalam membangun ilmu fisika. "Kemampuan komunikasi Hawking kian memburuk ketika dia kehilangan kendali atas otot, dan pada 2011, dia hanya bisa membuat dua kata per menit." tulis Bentley. Setelah itu, Hawking menghubungi salah satu pendiri Intel, Gordon Moore, yang dahulu pernah ditemuinya. Moore kemudian meminta bantuan Justin Rattner, CEO Intel saat itu untuk menyelesaikan persoalan Hawking. Di bawah intel, sebuah tim peneliti dibentuk. Mereka mencoba mencari model komunikasi yang pas bagi Hawking. Berbagai bentuk interface baru pun dicoba untuk mendapat hasil yang sempurna. Percobaan pertama menghasilkan teknologi yang dapat memilih kata dengan cara menggerakkan pupil mata. Namun tidak berhasil karena kelopak mata Hawking selalu turun. Pada percobaan selanjutnya, tercipta teknologi pengukur gelombang otak. Tetapi tidak menunjukkan kemajuan apapun. Akhirnya dengan bantuan asisten mahasiswa Hawking, Jonathan Wood, tim itu dapat menciptakan sistem komunikasi yang canggih. Teknologi yang khusus diciptakan untuk Hawking ini memanfaatkan jaringan saraf tiruan yang mampu memprediksi kata selanjutnya dari sebuah kata yang biasa digunakan Hawking. Misalnya kata "lubang" biasanya diikuti oleh "hitam". Kiprah Nyata Sejak memulai penelitian pasca-doktoralnya, Hawking telah benar-benar fokus pada permasalahan kosmologi, ilmu pengetahuan alam, evolusi, teknologi, dan akhir alam semesta. Dia mengkaji cukup dalam beberapa teori Einstein, terutama yang berhubungan dengan asal mula alam semesta. Pada 1965 dan 1970, Hawking membuat sejumlah teorema besar tentang singularitas:keadaan di mana suatu objek yang dihitung menjadi tak terhingga. Dia bekerja bersama Roger Penrose, ahli matematika Inggris yang mendampingi Hawking dalam sejumlah penemuan penting pertamanya. Penelitian singularitas tersebut menjadi kiprah pertama Hawking dalam mencari bukti terciptanya kehidupan alam semesta. Hawking dan Penrose bahkan berhasil menunjukkan bahwa teori Einstein memiliki kekurangan. Sehingga membuka jalan bagi para ilmuwan untuk terus mencari kebenaran yang sesungguhnya. "Penelitian Hawking tentang singularitas akhirnya membawanya mempelajari aspek destruktif dan misterius yang bertebaran di seluruh alam semesta." tulis Marcus. Setelah mempelajari singularitas, Hawking mulai mengalihkan fokusnya pada salah satu teori paling menakjubkan mengenai alam semesta, yakni lubang hitam. Selama bertahun-tahun, Hawking membuat teori untuk menemukan kebenaran dari “objek hitam” yang baginya tidak benar-benar legam karena berpendar dengan partikel-partikel yang terlepas di sekitarnya. “Jauh dari hampa, ruang ini sesungguhnya sarat energi. Khususnya, partikel-partikel dan antipartikel-antipartikel subatomik yang terus-menerus bermunculan secara berpasangan.” katanya. Hawking mengeluarkan banyak spekulasi yang membuat para ilmuwan dunia kebingungan, sekaligus termotivasi untuk memperdalamnya. Sebagian ilmuwan mencoba membuktikan teorinya dengan memberikan data dan fakta baru. Namun hingga Hawking wafat, belum ada yang secara tepat menjelaskan keadaan dan keberadaan lubang hitam di alam semesta. Secara keseluruhan buku ini layak untuk dibaca. Pemaparan secara ilmiah dan mendalam, dengan bahasa sederhana, tentang hasil kerja Hawking semasa hidupnya membuat para pembaca akan nyaman mencerna isinya. Walau alangkah lebih baik jika buku Stephen Hawking A Mind Without Limits ini memberikan lebih banyak ruang untuk menceritakan keseharian Hawking menghadapi penyakitnya sampai bisa terus berkarya mencengangkan dunia.
- Rencana Pembunuhan Sukarno, Yani, dan Soebandrio
UNTUK kali pertama sejak bergulirnya reformasi, ancaman pembunuhan menyasar pejabat tinggi negara. Ini diungkapkan langsung oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian pasca kerusuhan menyikapi hasil pemilu 21-22 Mei 2019. Mereka yang jadi target pembunuhan antara lain Jenderal (Purn.) Wiranto (Menkopolhukam), Jenderal (Purn.) Luhut Panjaitan (Menko Kemaritiman), Jenderal Pol. Budi Gunawan (kepala Badan Intelijen Negara), dan Yunarto Wijaya (pimpinan lembaga survei Charta Politika). Mantan kepala staf Kostrad, Mayjen TNI (Purn.) Kivlan Zein disebut-sebut berada di balik rencana pembunuhan tersebut. Kivlan sendiri dan orang-orang yang ditugaskan untuk melancarkan aksi pembunuhan sudah tertangkap. Mereka dinyatakan sebagai tersangka dan terancam jeratan pasal perbuatan makar.
- Ekstradisi dari Hong Kong?
RATUSAN ribu orang menyesaki jalan-jalan utama di Hong Kong. Negeri kepulauan dengan status otonomi khusus di bawah Republik Rakyat China (RRC) itu tengah bergejolak. Massa menggugat upaya “komunisasi” oleh pemerintah daratan sejak Minggu (9/6/2019). Menurut sumber Kepolisian Hong Kong yang dikutip Reuters , Selasa (9/6/2019), massa yang terkonsentrasi sudah berjumlah sekira 240 ribu orang. Massa menetang kembalinya cengkeraman China atas negeri mereka. Namun, aksi unjuk rasa damai itu berubah ricuh pada Selasa (12/6/2019). Bentrokan pecah. Polisi terpaksa melontarkan gas air mata, water cannon , dan bahkan tembakan peluru karet sebagaimana kerusuhan demonstrasi pada 2014. Aksi itu dipicu oleh berlangsungnya sidang Dewan Legislatif Hong Kong untuk mengesahkan Undang-Undang Ekstradisi. UU tersebut dianggap sebagai penggembosan demokrasi di Hong Kong. Jika disahkan, pemerintah RRC bisa leluasa menangkapi para tersangka kasus pidana maupun politik yang melarikan diri ke Hong Kong untuk dibawa kembali ke daratan utama guna disidangkan dengan sistem hukum RRC. “Warga Hong Kong tidak percaya pada pemerintah China,” kata Long Chen, salah satu pengunjuk rasa, dilansir CNN World , Selasa (12/6/2019). Long Chen merupakan pekerja maintenance lepas dan terpaksa tak masuk kerja demi “menyelamatkan” masa depan negerinya. Ia hanya satu dari sekian warga Hong Kong dari beragam latarbelakang yang menggugat kembalinya sistem komunis China menjamah Hong Kong. “Kami merasa tak punya pemimpin saat ini. Ini (aksi protes) adalah harapan terakhir kami. UU ini berbahaya. Kami tak mau melihat China melenyapkan kebebasan kami,” kata Sean, mahasiswa yang turut turun ke jalan. Milik China, Inggris dan Kembali ke China Negeri di Semenanjung Kowloon dengan sekira 263 pulau ini sebelum jadi koloni Inggris merupakan wilayah strategis untuk pelabuhan dan pelayaran milik Dinasti Qing. Tetapi gara-gara kalah dari Inggris di Perang Opium I (1839-1842), Hong Kong diserahkan ke Inggris. Baca juga: Islam di Masa Kedinastian Cina Sedianya penyerahan Hong Kong sudah dilakoni menjelang kekalahan Dinasti Qing lewat Konvensi Chuenpi, 20 Januari 1841. Dalam dokumen The Chinese Repository Volume 10 , konvensi itu dihelat antara dua utusan: Sir Charles Elliot dan Qishan (Jing’an). Isinya adalah: penyerahan kepulauan dan pelabuhan Hong Kong kepada Inggris, ganti rugi perang enam juta dolar oleh China kepada Inggris yang dicicil sampai 1846, pembukaan hubungan resmi dua negara, dan dibukanya pelabuhan Canton dalam 10 hari setelah Hari Raya Imlek. Lukisan kapal-kapal Inggris menguasai Hong Kong karya RB Watson (Foto: sothebys.com) Meski diuntungkan, Inggris belum puas. Menteri Luar Negeri Inggris Lord Palmerston mengganti Elliot dengan Jenderal Henry Pottinger. Kesepakatan dalam konvensi itupun gugur dan perang berlanjut hingga ditandatanganinya Perjanjian Nanking, 29 Agustus 1842. Selain menuntut perdagangan bebas dan ganti rugi perang, Inggris menuntut penyerahan Hong Kong dari Kaisar Daoguang dalam isi perjanjiannya. “Segera setelah perjanjian itu ditandatangani, bendera kuning China (Dinasti Qing) dan bendera Union Jack (Inggris) dikibarkan bersama,” ungkap Sir Harry Parkes, salah satu diplomat yang menyaksikan, dikutip Stanley Lane-Poole dalam The Life of Sir Harry Parkes. Perjanjian itu lantas diratifikasi Kaisar Daoguang pada 27 Oktober dan Ratu Victoria pada 28 Desember di tahun yang sama. Isi perjanjiannya baru berlaku efektif pada 26 Juni 1843, ketika Hong Kong resmi berada di bawah ketiak Kekaisaran Inggris. Cengkeraman Inggris kian meluas setelah Konvensi Peking (Beijing), 18 Oktober 1860. Semenanjung Kowloon disewakan China kepada Inggris. Lewat Konvensi Ekstensi Wilayah Hong Kong (1898), di mana statusnya Inggris menyewa pada China selama 99 tahun, semenanjung ini lantas dijadikan wilayah perluasan Hong Kong. Di bawah kolonialisme Inggris, Hong Kong berkembang pesat, mengingat punya pelabuhan yang strategis. Tidak sedikit tokoh pergerakan yang memilihnya sebagai “suaka”. Tan Malaka, salah satunya, yang berkelana ke banyak negeri pasca-diusir pemerintah kolonial dari Hindia Belanda pada 1922. Tan singgah ke Kowloon, seberang pelabuhan Hong Kong, sejak pindah dari Shanghai dengan nama samaran Ong Soong Lee. “Kotanya dikelilingi perairan dan satu-satunya penghubung dengan Canton adalah jalur kereta api yang tentunya banyak diawasi polisi,” sebut Tan dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, jilid 2. Tan Malaka memang jadi target operasi polisi penyelidik Inggris setelah bersua salah satu koleganya, Dawood. Tan pun diciduk kemudian dan diiterogasi polisi penyelidik Inggris dari Singapura berdarah India, Pritvy Chan. Tan dikira buron Filipina yang tengah dicari-cari oleh sang polisi. Tan kemudian ditransfer ke Markas Besar Kepolisian Hong Kong untuk interogasi lanjutan dengan Kepala Inspektur Murphy. Singkat cerita, Tan dalam tahanan Inggris di Hong Kong pernah diminta pemerintah Hindia Belanda untuk diekstradisi. Beruntung, otoritas Inggris di Hong Kong menolak lantaran kebijakan kolonialis Inggris melindungi para pelarian politik, meski kemudian Tan Malaka dideportasi. Seiring waktu, Hong Kong sempat lepas dari tangan Inggris gegara invasi Jepang, yang dimulai di pagi yang sama saat Jepang menyerang Pearl Harbor, 8 Desember 1941. Hong Kong lantas dibanjiri pengungsi dari kalangan terpelajar yang tak ingin jadi korban Perang Sipil China, usai Perang Pasifik. Banyaknya kaum terpelajar membuat industrialisasi Hong Kong bergulir pada 1950-an. Perlahan, Hong Kong jadi macan ekonomi. Status Hong Kong mulai jadi pembahasan lagi sejak 1979. Muara dari pembahasan itu adalah ditandatanganinya Deklarasi Bersama China-Inggris pada 19 Desember 1984. RRC menuntut Inggris mematuhi perjanjian konvensi tahun 1898. Inggris menyanggupi. Pada 1 Juli 1997, Hong Kong terlepas dari 156 tahun cengkeraman kolonialisme Inggris dan diserahkan ke RRC dengan catatan prinsip “Satu Negara, Dua Sistem”. Lukisan kapal-kapal Inggris menguasai Hong Kong karya RB Watson (Foto: sothebys.com) Hong Kong diizinkan menjalankan pemerintahan sendiri selama 50 tahun. Itu artinya, baru pada 2047 Hong Kong bisa benar-benar 100 persen di bawah sistem politik dan hukum RRC. Namun, Beijing tampaknya tak ingin menunggu sebegitu lama. Beberapa isu sudah lama ditebar ke dewan rakyat Hong Kong. Hal itu memicu protes dari rakyat Hong Kong. Pada 2012, gejolak muncul untuk memprotes rencana masuknya materi kurikulum pro RRC ke sekolah-sekolah di Hong Kong. Dua tahun berselang, demo besar-besaran terjadi untuk menentang regulasi pemilu di Hong Kong, terkait keterlibatan Beijing dalam pemilihan kepala eksekutif daerah otonomi Hong Kong. “Hong Kong hanya akan jadi kota China lainnya yang dikuasai Partai Komunis,” kata aktivis pro-demokrasi cum bos perusahaan media Next Digital Jimmy Lai dalam tulisannya di Nikei Asian Review. Isu UU Ekstradisi yang meletupkan gejolak saat ini makin menegaskan campur-tangan RRC. Tanpa UU Ekstradisi saja, kata massa, sudah terjadi beberapa penculikan oleh otoritas China terhadap sejumlah tersangka yang mengungsi ke Hong Kong. Konglomerat Xiao Jianhua, salah satunya. Dia diculik di Hotel Four Seasons pada Januari 2017. Sang pebisnis itu sudah dibawa ke tahanan di daratan China dan nasibnya belum jelas. “Jika undang-undang ini disahkan, di mana mungkin sebentar lagi, sama saja seperti gong kematian bagi Hong Kong yang dunia ketahui sekarang (bebas dan berdemokrasi),” tandas aktivis politik Ray Wong Toi-yeung, disitat Vox , 11 Juni 2019.





















