top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tiara Penolak Bala

    SEPEKAN belakangan warganet lintas benua riuh berceloteh soal tiara yang dipakai Ratu Inggris Elizabeth II saat menjamu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Istana Buckingham, 4 Juni 2019. Pada gala makan malam kenegaraan itu Ratu Elizabeth II mengenakan tiara rubi merah. Tiara Burma sebutan resminya. Tiara berhias puluhan rubi merah asal Burma (kini Myanmar) itu dianggap warganet di linimasa Twitter punya makna tersembunyi, yakni untuk mengusir setan dan bala, merujuk pada Trump, sosok yang kontroversial. Helen Rose, salah satu warganet, mengungkit mitos bahwa batu rubi bagi masyarakat Burma adalah perhiasan penolak bala dan sial. “Ratu Elizabeth adalah pahlawan. Tiara yang menghiasi kepalanya terbuat dari 96 batu rubi yang dihadiahkan padanya saat pernikahannya dari rakyat Burma untuk mengusir bala dan penyakit. Saya mengaguminya karena skill -nya menghina Trump lewat perhiasan,” kicaunya dengan akun @helenjrose.  Kicauannya hanya satu dari sekian banyak warganet yang berkomentar sumbang. Tapi, apa benar Ratu Elizabeth punya pesan terselubung lewat tiara yang dipakainya saat bersua Trump? Kado Pernikahan Tiara Burma itu merupakan modifikasi dua dari sekian kado pernikahan Elizabeth II dengan Philip Mountbatten pada 20 November 1947. Mengutip Lynne Bell, Arthur Bousfield dan Garry Toffoli dalam Queen and Consort: Elizabeth and Philip: 60 Years of Marriage , dua hadiah itu berupa kalung emas berhias 69 batu rubi merah persembahan rakyat Burma dan tiara berlian dari Mir Osman Ali Khan, nizam (penguasa) Negara Bagian Hyderabad. Saat pernikahan itu, Burma masih menjadi koloni Inggris dan dipimpin Laksamana Lord Louis Mountbatten sebagai penguasa militernya dengan gelar 1st Earl Mountbatten of Burma. Louis merupakan paman Philip. Untuk merayakan pernikahan Elizabeth II dan Philip, Louis menggelar pesta makan malam di mansionnya di Broadlands, setelah di siang harinya dihelat di Westminster Abbey. Elizabeth II menyapa rakyat Inggris pasca-prosesi pernikahan. (Repro Queen and Consort). "Jumlah (rubi) dengan angka 96 memiliki relevansi yang menarik; menurut cerita orang Burma, tubuh manusia dihantui 96 penyakit dan setiap rubinya merupakan penangkalnya. Entah magisnya masih bekerja saat hadiah pernikahan itu dibongkar atau tidak, masih belum diketahui, meski tentunya tindakan itu berlawanan dengan awal makna saat diberikan," tulis Diane Morgan dalam Fire and Blood: Rubies in Myth, Magic, and History . Sementara, berlian-berlian hiasan pendampingnya diambil dari tiara berlian buatan Cartier, perusahaan pembuat perhiasan ternama dunia, pemberian Mir Osman Ali Khan. Kala itu Osman memberi tiga hadiah sekaligus yang hingga kini masih utuh: tiara berlian, kalung berlian, dan bros berlian. Setelah naik takhta, Elizabeth II memadukan keduanya pada 1973. Pengerjaannya dipercayakan pada Asprey & Garrard Ltd (kini Garrard & Co.), perusahaan desain perhiasan langganan kerajaan. Tiaranya dibuat dengan bahan platinum berhias ukiran motif mawar tudor yang gemerlap dengan sejumlah bubuhan berlian dari Omar. Tiara itu kemudian ditambahkan 96 rubi merah Burma untuk membuat makin elegan dan kemewahannya kian mencolok. Kalung Rubi Ratu Elizabeth II persembahan rakyat Burma (Foto: Repro Queen and Consort) Memang, mulanya rubi-rubi itu diyakini orang Burma untuk menangkal bala. Namun sepertinya, takhayul itu tak dipercaya Ratu Elizabeth II. Dalam menjamu Trump pun bukan kali pertama ia mengenakan tiara itu. Saat menjamu (mendiang) Presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun tahun 2004, ia pun mengenakannya. "Perhiasan dipakai sebagai bentuk penghormatan, bukan penghinaan; perhiasan dikenakan untuk membangun dan menjembatani persahabatan, bukan menghancurkannya. Bukan niat sang Ratu untuk membuat kontroversi. Enam dekade pemerintahannya digulirkan menghindari kontroversi sebisa mungkin dan selalu berusaha bersikap netral (soal politik)," sebut pakar perhiasan kerajaan Ella Kay, dikutip Town & Country , 4 Juni 2019.

  • Sejarah Lahirnya Bank Syariah di Indonesia

    BANK-bank umum mendirikan anak perusahaan bank syariah karena melihat potensi nasabah yang besar. Bagaimana sejarah munculnya bank syariah di Indonesia? Pada suatu hari, Sekretaris Jenderal MUI Prodjokoesoemo dan M. Amin Aziz, pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), mendatangi Sukamdani Sahid Gitosardjono. Pengusaha perhotelan ini menjabat Penasihat Yayasan Dana Dakwah yang didirikan MUI. Mereka menyampaikan maksud mendirikan sebuah bank. Amin Aziz ditujuk sebagai project officer pendirian bank itu. Sukamdani mengatakan bank yang sedang dirintis itu dinamakan bank tanpa bunga, yang didasarkan pada bagi hasil. Jadi tidak menyimpang dari hukum Islam: yang membungakan uang berarti riba.

  • Abu Sinabung Kembali Membubung

    GUNUNG Sinabung lagi-lagi menyemburkan awan panasnya. Dalam beberapa tahun terakhir, Sinabung memang cukup sering memperlihatkan aktivitasnya. Terkini, gunung api tertinggi di Sumatera Utara itu kembali meletus pada minggu kemarin (09/06). Letusan disertai suara gemuruh dan awan panas  ke arah tenggara 3,5 km dan selatan 3 km. Erupsi berlangsung selama 9 menit. Ketinggian abu mencapai 7 km. Ini tergolong cukup tinggi. Melansir info dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), letusan kali ini belum memakan korban jiwa. Masyarakat sudah terbiasa melihat letusan gunung Sinabung sehingga sudah paham perilaku erupsi dan tidak panik melihat letusan. Sampai saat ini, status Sinabung ada di siaga level tiga dan berada di zona merah. Gunung Sinabung memuntahkan awan panas, 9 Juli 2019. Foto:Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sinabung terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Gunung ini merupakan jenis gunung api strato berbentuk kerucut. Puncaknya berada di ketinggian 2451 meter diatas permukaan laut. Orang-orang suku Karo menyebutnya Deleng Sinabung. Berhadapan garis lurus dari Gunung Sinabung terdapat gunung Sibayak, gunung api tertinggi kedua (2212 mdpl) di Sumatera Utara. Jika dilihat kasat mata, gunung Sinabung kurang simetris kakinya, sementara gunung Sibayak ada bopeng di puncaknya. Dalam kepercayaan lama masyarakat Karo, kedua gunung ini saling terkait. Letusan hebat Gunung Sinabung terjadi pada 1600. Letusan itu melululantakkan dataran tinggi Tanah Karo. Kampung-kampung di lereng gunung tertimbun abu vulkanik akibat erupsi. Banyak korban jiwa yang meninggal. Bencana itu menyebabkan populasi suku Karo jadi lebih sedikit ketimbang suku Batak.  Menurut Brahma Putro dalam Sejarah Karo dari Zaman ke Zaman Jilid 1, karena mengerikannya peristiwa letusan itu lahirlah cerita rakyat tentang Gunung Sinabung dan Sibayak. Dikisahkan bahwa Dewa Raja Umang Gunung Sinabung dan Dewa Raja Umang Gunung Sibayak berkelahi dengan hebatnya. Mereka memperebutkan Dewi Ratu Gunung Barus. “Akhirnya Dewa Raja Umang Gunung Sinabung dengan kesaktiannya memancung kepala gunung Sibayak dan putus, terbang ke dekat kampung Kaban yang dinamai sekarang Deleng Sikutu, sedang kaki gunung Sinabung dipancung oleh Dewa Raja Gunung Sibayak,” tulis Brahma Putro. Asap Erupsi Gunung Sinabung di Pagi Hari. Foto: common wikimedia. Gunung Sinabung menjinak setelah letusan dahsyatnya. Meski muntahan vulkaniknya menjadi bencana alam, kawasan gunung Sinabung termasuk salah satu lahan paling subur di Tanah Karo.  Selama beratus tahun kemudian, Sinabung tidak lagi beraktivitas. Sebaliknya, Sibayak masih terus aktif.     Di masa pendudukan Jepang, para serdadu Jepang menyaksikan Sinabung dengan takjub. Puncaknya kerap kali tertutupi oleh awan putih. Takao Fusayama, seorang perwira intelijen Jepang yang pernah bertugas di Tanah Karo dalam memoarnya A Japanese Memoir of Sumatra, 1945--1946: Love and Hatred in the Liberation War menyandingkan Sinabung sebagai gunung Fuji-nya Sumatera.   Pesona yang sama tentang Sinabung juga diuraikan putra Karo kenamaan, Mangku Sitepu. “Ketika puncaknya tidak tertutup awan, gunung ini sangat indah dipandang dari kejauhan, meskipun sebenarnya gunung berapi ini penuh dengan jurang yang curam,” tulis Mangku dalam Corat-coret Anak Desa Berprofesi Ganda. Begitu lamanya Sinabung istirahat. Masyarakat sekitar sempat menyangka gunung itu sudah tidak aktif lagi. Sekira 17 desa berada di kaki gunung Sinabung. Penduduknya menggantungkan kehidupann dari hasil tanah yang subur untuk bercocok tanam . Namun, dari segi wisata, Sinabung masih kalah dengan saudaranya, Sibayak yang kerap jadi destinasi wisata pendakian.   “Para turis alam sering mendaki puncak gunung Sibayak. Sementara itu, kurang diketahui apakah pendakian gunung Sinabung pernah dilakukan,” tulis Bungaran Antonius Simanjuntak, dkk dalam Sejarah Pariwisata: Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesia. Pada 2010, Sinabung bangun dari tidurnya. Tanggal 29 Agustus, Sinabung menyemburkan awan panas dan meletus pada 7 September. Sebanyak 12 ribu warga terpaksa harus mengungsi. Pada 2013, Sinabung kembali meletus. Dan sejak itu, setiap tahun, Sinabung selalu “batuk” memuntahkan isi perutnya sampai saat ini.

  • Judi Resmi di Indonesia

    SELAMA bulan ramadhan kemarin, polisi rutin menggelar razia hiburan malam. Selain merazia minuman keras, praktek perjudian juga menjadi target utama. Operasi tersebut buka  hanya dilakukan di daerah, ibu kota pun tak luput dari operasi razia tersebut.  Sejatinya, pemerintah Republik Indonesia secara resmi mengeluarkan larangan bermain judi sejak tahun 1970-an. Melalui Undang-Undang No.7 tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian, segala praktek perjudian di Indonesia dihapus karena hal itu bertentangan dengan agama, dan moral Pancasila. Namun sebelum undang-undang itu dibuat, perjudian di Indonesia merupakan sesuatu yang legal. Bahkan pemerintah menjadi fasilitator jenis perjudian lain yang disebut “undian berhadiah”. Para penggila judi pun turut senang dibuatnya. “Dengan demikian yang nampak sekarang ini memang adanya pergesaran nilai di masyarakat. Segala macam bentuk perjudian dilarang, tapi pada saat yang sama dilegalisir” tulis M. Syafi’I Anwar dalam “Dana Pelajar pun Menjamin Porkas”, termuat dalam   Panji Masyarakat No.507, 21 Juni 1986. Keputusan Pemerintah Tahun 1960-an di Indonesia berkembang jenis undian berhadiah legal yang dikeluarkan oleh Yayasan Rehabilitasi Sosial. Yayasan ini dibentuk oleh pemerintah untuk urusan-urusan sosial. Karena keperluan dananya begitu besar, dipilihlah undian berhadiah sebagai salah satu cara untuk menutupinya. Pengundian hadiah Yayasan Rehabilitasi Sosial dilakukan setiap satu bulan sekali. Nilainya pun cukup fantastis –untuk ukuran tahun 1960-an– mencapai 500.000 rupiah. Sementara nilai terendahnya berkisar antara 10.000-20.000 rupiah. Tidak hanya undian hadiah milik pemerintah, masyarakat pun dihibur oleh jenis perjudian lain yang tidak berizin. Namanya ”Lotere Buntut”. Cara memainkannya hanya dengan menebak dua angka terakhir undian berhadiah yang dikeluarkan Yayasan Rehabilitasi Sosial. Lotere Buntut ini bertebaran hingga ke pelosok-pelosok. Sasarannya adalah petani, buruh, dan pedagang-pedagang kecil. Tanpa memerlukan peraturan yang sulit, para pecandu permainan ini dapat langsung memasangkan taruhannya. Besaran hadiah yang didapat pun cukup menggiurkan, berkisar antara 60.000-80.000 rupiah. Di ibu kota, gubernur Ali Sadikin membuat gempar. Ia melegalkan permainan judi yang dikenal sebagai Nalo (Nasional Lotre) berdasarkan Undang-Undang No.11 Tahun 1957 tentang tanggung jawab pemerintah terhadap daerahnya sendiri. Namun di balik pro kontra yang menyeret Ali Sadikin, permainan judi itu terbukti mampu membangun Jakarta menjadi lebih baik. Banyak infrastruktur yang dibangun dan pemerintah juga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat kala itu.  Minat masyarakat terhadap undian hadiah dan perjudian sangat tinggi. Hal itu tentu menguntungkan pemerintah dan para pihak terkait. Namun bagi Presiden Sukarno permainan semacam itu justru dinilai sebagai perusak moral bangsa. “Kegiatan ini (perjudian) sempat berhenti di tahun 1965 ketika Presiden Sukarno mengeluarkan Keppres No.113 Tahun 1965 yang menyatakan lotre buntut bersama musik ngak-ngik-ngok merusak moral bangsa dan masuk dalam kategori subversi.” tulis Denny J.A dalam Menegakkan Demokrasi: Pandangan Sejumlah Tokoh dan Kaum Muda mengenai Demokrasi di Indonesia . Dengan dikeluarkannya keputusan presiden itu, ditambah buruknya sistem yang dibuat pihak pengelola, undian hadiah Yayasan Rehabilitasi Sosial pun ditutup. Namun tidak benar-benar dihilangkan. Hanya berganti nama, pada 1978, menjadi Badan Usaha Undian Harapan dengan programnnya Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Dalam laporan Tempo “Wajah Lotre Silih Berganti”, 20 November 1993, SSB mengeluarkan kupon undian berhadiah yang diberi nama Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah (TSSB) atau Kupon Sumbangan Sosial Berhadiah (KSSB). “Kebijakan baru pemerintah ditengarai sebagai ajakan judi terselubung dengan mengganti namanya” tulis Wahyu Lumaksono dalam Legalisasi Porkas dan Dampaknya terhadap Masyarakat pada Tahun 1985-1987 . Pada 1979 undian hadiah SSB diberlakukan. Sebanyak 4 juta kupon disebar, diundi setiap dua minggu sekali. Pengelolaannya diserahkan kepada Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS) yang berpusat di Jakarta. Laporan Kedaulatan Rakyat 27 Maret 1986, menyebut undian SSB setiap tahunnya memperoleh omzet kurang lebih 1 triliun rupiah. Hingga tahun 1985 sebanyak 2,5 miliar uang hasil undian, dari 4 juta lembar kupon yang terjual, disebar untuk keperluan sosial dan kemanusiaan. Judi Olahraga Bersamaan dengan penyebaran undian hadiah SDSB, pemerintah mengeluarkan jenis judi legal lain yakni Porkas . Akronim dari Pekan Olah Raga dan Ketangkasan. Undian berhadiah ini berada di ranah olahraga, dan sepak bola menjadi lahan basah untuk praktek perjudian ini. Sebelum direalisasikan, Presiden Soeharto mengirim Menteri Sosial Mintaredja untuk melakukan studi banding ke Inggris. Tidak main-main, pemerintah mempelajari sistem undian berhadiah ini selama dua tahun. Mereka ingin menciptakan model undian tanpa meninmbulkan ekses judi. Di Inggris sendiri jenis undian berhadiah menggunakan perhitungan-perhitugan yang sistematik. Dalam Managing National Lottery Distribution Fund Balances , yang dikeluarkan oleh lembaga resmi Inggris, menjelaskan perhitungan lotere di negara itu bukan semata-mata tebakan saja, tetapi semacam permainan berhitung yang rumit. Pemerintah Indonesia mencoba melakukan hal yang sama. Setelah melalui serangkaian penelitian, porkas akhirnya diresmikan pada 1985. Aturannya mengacu pada UU No. 2 Tahun 1954 tentang undian. Kemudian diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Sosial No. BSS-10-12/85 bertanggal 10 Desember 1985. Pemerintah mengklaim porkas berbeda dengan undian hadiah berbau judi sebelumnya. Dalam porkas tidak ada tebakan angka, melainkan penebakan menang-seri-kalah. Peredarannya pun hanya sampai tingkat kabupaten, dan batasan usianya 17 tahun. Para pembeli kupon hadiah ini akan bertaruh untuk 14 klub sepak bola di divisi utama. Setelah 14 klub melakukan pertandingan –berjalan selama seminggu– hadiah akan diundi. Pembagian hadiahnya: 50-30-20, berurutan penyelenggara tebakan-pemerintah-penebak. Banyak Ditentang Sejak awal diresmikan, porkas mendapat banyak tentangan dari masyarakat. Walau tidak sedikit yang mendukung program judi legal pemerintah tersebut. Para penentang menyebut pemerintah hanya membuat kedok untuk bermain judi. Sedangkan mereka yang mendukung menganggap program itu dapat membantu permasalahan keuangan negara. “Sebagai tindakan reaksi pihak yang menentang undian tersebut, maka pertengahan 1986 Majelis Ulama Indonesia (MUI) menulis surat yang dilayangkan kepada pemerintah agar pelaksanaan porkas dievaluasi kembali” tulis Wahyu. Semakin besarnya gelombang protes dari masyarakat membuat pemerintah akhirnya mengganti porkas menjadi Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB). Dalam Tempo 28 November 1987, “Menebak-nebak Izin Porkas”, pemerintah memberikan hadiah utama sebesar 8 juta rupiah, dengan harga kupon 600 rupiah perlembar. Kali ini bukan menang-seri-kalah yang dipertaruhkan, tetapi skor pertandingan. Sepanjang tahun 1987, undian KSOB telah meraup dana dari masyarakat sebanyak 221 miliar rupiah. Tidak adanya ketegasan dari MUI untuk mengeluarkan fatwa tentang porkas membuat masyarakat sedikit cemas. Oleh karenanya, sekitar pertengahan Februari 1986 di Bandung berlangsung acara "Forum Silaturahmi Ulama dan Cendekiawan Muslim Jawa Barat". Salah satu agendanya membahas permasalahan porkas. Laporan  Panji Masyarakat  menyebut forum yang dihadiri oleh para ulama, ahli hukum, dan cendekiawan Muslim tersebut sepakat mengharamkan porkas dan mengategorikannya sebagai judi. "Forum juga berpendapat, Porkas Sepakbola dalam praktek merusak kehidupan beragama. Khususnya bagi remaja dan pelajar yang disebabkan oleh adanya kontroversi nilai antara yang mereka pelajari di sekolah dan di rumah dengan ditemukan di masyarakat." tulis Syafi'i. Pernyataan menentang porkas dalam forum itu dituangkan dalam 5 halaman kertas folio, dan ditandatangani oleh 100 ulama dan cendekiawan Muslim Jawa Barat. Di antara mereka yang memberikan tanda tangan terdapat nama-nama seperti KH. Drs. Miftah Farid (ketua MU Jawa Barat), KH. M. Rusyad Nurdin (ketua Dewan Dakwah Jawa Barat), KH. Iping Z. Abidin, Ir. Bambang Pranggono (mantan Sekjen BKPMI), dan lain sebagainya. Tidak hanya dari kalangan ulama dan cendekiawan, para mahasiswa pun semakin gencar melakukan aksi pertentangan. Bermula dari aksi protes mahasiswa UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta pada 1991 yang mendesak pihak universitas mengembalikan uang sebesar 100 juta rupiah yang diberikan YDBKS untuk pembangunan sarana pendidikan di kampus mereka. Gelombang protes memuncak saat beberapa kios yang menjual kupon SDSB di Jakarta dibakar. Mereka geram dengan pemerintah yang lambat mengambil keputusan untuk menarik seluruh kegiatan undian berhadiah tersebut. Peredaran kupon baru benar-benar dapat dihentikan pada 24 November 1993. Para agen perjudian itu tidak lagi mengedarkan kupon SDSB maupun KSOB. Di hadapan anggota DPR, Meteri Sosial Endang Kusuma Inten Soewono mengumumkan penghapusan undian berhadiah.

  • Akibat Surplus Jenderal

    MASIH ingat Nagabonar? Tukang copet asal Medan di era revolusi yang mengangkat dirinya menjadi jenderal. Rupanya kisah konyol itu bukan rekaan penulis Asrul Sani semata, namun memang fenomena yang kerap terjadi  dalam Perang Kemerdekaan di Indonesia (1945-1949). Menurut Salim Said, begitu banalnya organisasi kemiliteran zaman tersebut, hingga siapa pun yang merasa kuat dan memiliki anak buah merasa berhak mengangkat dirinya menjadi jenderal. “Dalam revolusi kita, ada cerita seorang jagoan yang berhasil merampas jip tentara Belanda langsung mengangkat dirinya sendiri menjadi jenderal,”ujar sejarawan militer Indonesia itu. Memang tak ada yang tak mungkin dalam suasana revolusi. Ketika menjadi kaum pemanggul senjata dianggap sebagai puncak dari pengabdian terhadap nusa dan bangsa, maka para pentolan grup-grup pemuda berlomba untuk mengangkat dirinya sendiri sebagai “yang terhebat”, termasuk dalam soal kepangkatan. “Sesudah proklamasi, negara yang tak bermatapencaharian (kecuali dengan terus mencetak uang), memelihara lebih dari setengah juta tentara dan lasykar serta 60 jenderal,”ungkap A.H. Nasution dalam TNI: Tentara Nasional Indonesia Jilid 1 . Di Kementerian Pertahanan dan Markas Besar Tentara di Yogyakarta saja ditempatkan sekitar selusin jenderal ditambah setengah lusin jenderal politik dari Pepolit (Pendidikan Politik Tentara, bentukan Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin) seperti Jenderal Mayor Sukono Dojopratiknjo, Jenderal Mayor Wiyono, Jenderal Mayor Anwar Tjokroaminito serta jenderal-jenderal Angkatan Laut dan Angkatan Udara seperti Laksamana Nazir, Laksamana Atmadji, Laksamana Pardi, Komodor Suryadarma dan Komodor Zulkarnaen. Surplusnya militer Indonesia kala itu dengan para jenderal menyebabkan banyaknya dari petinggi-petinggi tentara itu yang tak memiliki pekerjaan secara professional. Karena itu sebagai upaya untuk menjadikan mereka “sibuk” maka sebagain besar para jenderal tersebut dikaryakan  ke dalam “tugas-tugas istimewa” seperti mengurus beras, mengurus kina, menangani opium, mengurus tawanan perang, mengurus kereta api dan mengurus istana negara. Di tingkat bawah, surplus jenderal itu juga menumbuhkan kebingungan dan justru rasa tidak hormat. Terjadi gap antara atasan dan bawahan. Para komandan dari kesatuan-kesatuan kecil yang langsung berhadapan dengan musuh di garis depan menjadi kecewa dan kesal dengan situasi tersebut. Terlebih para jenderal itu bisa dengan seenaknya mengangkat  pangkat seseorang yang dia sukai. A.H, Nasution membuat suatu contoh kasus ketika seorang sersan mayor menyumbangkan beberapa ban mobil (yang sangat sukar didapat kala itu) kepada seorang jenderal. Karena merasa suka, sang jenderal lalu menaikan pangkat si sersan mayor menjadi mayor. Suatu loncatan kenaikan pangkat yang mungkin tak akan pernah terjadi lagi di zaman sekarang. “Orang-orang yang kemarin sore dikenal sebagai anggota tentara yang memiliki tugas “kurang berarti”, sekonyong-konyong  muncul di Yogyakarta selaku letnan kolonel atau kolonel,” ujar Nasution. Dengan kondisi seperti itu adalah wajar kalau para prajurit di bawah tidak lagi memiliki rasa hormat dan kepercayaan kepada “para pemilik bintang gemeralapan” itu. Jika berpapasan di jalan, alih-alih memberikan salut secara militer, para prajurit lebih memilih untuk pura-pura tidak melihat atau melengos begitu saja. “Karena kami tahu mereka tidak berjuang seperti kami yang mempertaruhkan nyawa di front pertempuran,” ujar Soedarja (95), salah seorang eks prajurit dari seksi intelijejen Divisi Siliwangi. Kebiasaan “berlomba-lomba tampil sebagai jenderal”  di dinas ketentaraan resmi, ternyata diikuti pula oleh rekan-rekan mereka di kelasykaran. Bahkan obral pangkat dibuat lebih murah lagi oleh mereka. Seorang jago atau jawara yang memimpin puluhan orang dalam satu badan lasykar, maka dengan semena-mena akan menyatakan diri sebagai “komandan resimen A” atau “komandan divisi B”. Di kalangan lasykar proses pengangkatan perwira dan jenderal malah cenderung lebih “kacau” lagi. Ya laiknya dalam film Nagabonar. Tidaklah aneh, kata Nasution, jika saat itu ada ejekan yang beredar di kalangan masyarakat: “Sudah dipastikan kita akan menang melawan Belanda, karena jumlah jenderal kita jauh sepuluh kali lipat banyaknya dari jumlah jenderal mereka.”

  • Yang Keliru Tentang Masa Lalu

    JIKA ke Bandung via Cianjur,  anda akan melewati sebuah tugu yang unik di sekitar Pasar Ciranjang (kira-kira 15 km dari pusat kota). Tugu yang terletak di depan deretan rumah toko itu merupakan replika pesawat (disebutkan di tugu tersebut) jenis Boeing 747 berwarna hijau militer dengan simbol KLM (maskapai penerbangan Belanda) lengkap dengan lambang bendera Si Tiga Warna. Monumen apakah itu gerangan? “Katanya itu untuk memperingati jatuhnya pesawat Belanda yang ditembak tentara Indonesia saat zaman perjuangan dulu,” ujar Oni (36), salah seorang warga Ciranjang. Apa yang dikatakan Oni sejatinya jauh dari kebenaran sejarah. Menurut Raden Makmur (90), selama revolusi berlangsung di Indonesia (1945-1949) tak pernah ada satu pun pesawat milik Kerajaan Belanda (terlebih milik penerbangan sipil seperti KLM) yang jatuh di Ciranjang. “Kita mau nembaknya pakai apa? Pake bedil biasa? Ya tidak mungkin,” ujar lelaki yang pernah bergabung dengan lasykar BBRI (Barisan Banteng Repoeblik Indonesia) itu. Menurut Makmur, kisah pesawat terbang jatuh di Ciranjang memang pernah ada. Tapi bukan milik Belanda, melainkan milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris).  Ceritanya beberapa bulan setelah proklamasi, Ciranjang diserang oleh sebuah pesawat pemburu jenis Mustang (atau bisa jadi jenis Mosquito). Selain membom beberapa posisi yang dianggap sarang “ekstrimis” Indonesia, pesawat tersebut juga menembaki mobil-mobil sipil yang tengah melaju di jalan raya. “Termasuk katanya sempat menembaki sedan yang ditumpangi oleh Pak Nata Mihardja, Kepala Polisi Ciranjang, namun tidak sempat kena,” ungkap Makmur. Namun saat bermanuver di sekitar wilayah Curug,  karena terbang terlalu rendah, salah satu sayap pesawat itu membentur sebatang pohon kelapa hingga oleng dan jatuh di tengah pasar. Maka hancur leburlah pesawat legendaris pada Perang Dunia II itu. Pendapat Makmur berkelindan dengan sebuah dokumen berjudul “Beberapa Catatan Tentang Sejarah Perjuangan Rakyat Cianjur dalam Mempertahankan Kemerdekaan NKRI (1942-1949)” yang disusun oleh DHC (Dewan Harian Cabang) Angkatan 45 Kabupaten Cianjur. Dalam dokumen setebal 137 halaman itu, salah seorang veteran bernama Abu Bakar (terakhir berpangkat kolonel) bersaksi bahwa pesawat pemburu itu memang milik RAF yang tengah melancarkan aksinya pada 3 Desember 1945 jam 11.00. Abu Bakar juga membenarkan Mustang itu jatuh karena salah satu sayapnya mengenai batang pohon kelapa yang banyak tumbuh di wilayah Curug. Dalam situasi hilang keseimbangan, pesawat tersebut meluncur tak terkendali dan jatuh di sekitar halaman gedung Kewedanaan Ciranjang persis dekat pasar. “Seorang tukang cukur rambut dan seorang serdadu Jepang tewas seketika tertimpa pesawat yang jatuh itu,” ujar salah satu tokoh terkemuka LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) Kabupaten Cianjur tersebut Namun berbeda dengan versi Makmur yang menyatakan pesawat itu langsung hancur lebur saat jatuh, Abu Bakar menyatakan pesawat itu masih agak utuh ketika mendarat secara keras. Bahkan sekelompok anggota TKR (Tentara Keamanan Rakjat) dari Kompi III Batalyon III  sempat mengepung bangkai pesawat tersebut dan menembaki dua penumpangnya lalu merampas senapan mesin 12,7 dan sebuah pistol buatan Jerman. “Pesawat itu lalu ditembaki secara gencar dan meledak berkeping-keping,” ungkap Abu Bakar. Lantas mengapa versi sejarah yang lebih valid dan bisa dipertanggungjawabkan ini tidak menjadi acuan pembuatan tugu tersebut? Semua orang yang saya temui di Ciranjang tak bisa menjawabnya. Kesalahkaprahan juga terjadi pada Jalan Adi Sucipta di pusat kota Cianjur. Nama yang identik dengan seorang komodor pionir TNI Angkatan Udara itu sebetulnya adalah milik seorang pahlawan perang kemerdekaan asal Cianjur bernama Asmin Sucipta. Namun entah bagaimana ceritanya, nama “Asmin” berubah jadi “Adi”. Pada tahun 1980-an, seorang anggota DPRD Cianjur bernama Rahmat Purawinata pernah mengingatkan soal tersebut ke pihak Pemkab Cianjur dan langsung dituruti dengan mengganti secepatnya nama jalan tersebut dengan Jalan A. Sucipta. Namun begitu dia berhenti dari anggota DPRD, nama jalan tersebut balik lagi ke nama asalnya yang salah: Jalan Adi Sucipta.   “Saya sendiri sampai sekarang tidak tahu apa yang menjadi penyebab berubahnya kembali nama jalan itu,” ujar lelaki yang masih memiliki hubungan darah dengan pejuang Asmin Sucipta tersebut. Lantas siapa sebenarnya Asmin Sucipta atau A. Sucipta itu? Menurut Qadim (95), Asmin adalah seorang pejuang terkemuka Cianjur yang memimpin LASPO, sebuah milisi lokal yang berafiliasi kepada Pesindo (Pemoeda Sosialis Indonesia). Di kalangan pejuang Cianjur dan Sukabumi, Asmin dikenal sebagai seorang penembak runduk yang mumpuni. “Pak Asmin itu jagonya nembak musuh dari jarak jauh. Kalau seorang musuh sudah ada dalam kecenganana (incaran tembakannya) sudah dipastikan dia mati,” ungkap eks anak buah Asmin Sucipta itu. Keahlian Asmin dalam hal menembak diakui oleh putra pertamanya, Mahkun Cipta Subagyo (75). Dari kakeknya, Muhammad To’ib Zamzami (yang tak lain adalah kawan seperjuangan Asmin), Mahkun mendapat cerita bahwa suatu hari sang ayah pernah menghabisi 11 prajurit ubel-ubel (sebutan para pejuang untuk pasukan British India Army) dari jarak sekitar 500 meter hanya dengan mempergunakan Si Dukun, senjata Lee Enfield kesayangannya. “Menurut kakek, waktu itu ayah menembaki serdadu-serdadu yang ada di jalan raya Sukabumi-Cianjur itu dari balik pepohonan di pinggir Sungai Cisarandi” ujar Mahkun . Tak cukup dengan aksi penembakan jarak jauh, Asmin pun terlibat aktif dalam penyerangan-penyerangan nekad ke wilayah kekuasaan militer Belanda. Pernah suatu siang, Asmin melumpuhkan dua serdadu Belanda yang tengah jalan-jalan di sekitar Pasar Bojongmeron. Dengan menggunakan botol kecap, dia memukul kepala kedua serdadu tersebut lantas merampas senjatanya. Karena aksi-aksinya, militer Belanda sangat mengincar Asmin. Dalam suatu perjanjian gencatan senjata pada 1948, Asmin berhasil diringkus lalu dibawa ke penjara Paledang, Bogor. Selanjutnya nasib Asmin berakhir di ujung senapan tim eksekusi mati militer Belanda dan jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dereded, Bogor. Berdasarkan kisah sejarah itu, Mahkun menyatakan harapannya agar nama Jalan Adi Sucipta dirubah kembali menjadi Jalan Asmin Sucipta. Hal itu memang sudah sering disuarakan oleh media dan komunitas pecinta sejarah di Cianjur. “Tapi hingga kini mereka (pemerintah Kabupaten Cianjur) masih saja acuh tak acuh, inilah susahnya kalau punya pemerintah tak memiliki kesadaran sejarah,” ujar Helmy Adam, aktivis komunitas sejarah De Brings Tjiandjoer.

  • Juara di Udara

    TROFI-TROFI itu berjejer rapi di salah satu sudut rak Heritage Room di Skadron 8 TNI AU, Pangkalan Pangkalan Udara Atang Sendjaja (Lanud ATS), Bogor. Mereka jadi penghias bergengsi di antara sejumlah foto maupun memorabilia lawas lain yang mengiringi sejarah skadron tersebut. Meski dimensinya kecil, trofi-trofi itu punya makna besar lantaran jadi penanda prestasi matra udara di mancanegara. “Ini piala-piala kita waktu ikut lomba helikopter tahun 1994 dan 1997. Dua kali kita ikut dan dua kali kita dapat juara II,” sebut Kepala Dinas Personel Lanud ATS Letkol (Pnb) Sigit Gatot Prasetyo kepada Historia. Prestasi itu dipetik pada ajang ASEAN Helicopter Championship (AHC) yang dihelat Tentera Udara Diraja Brunei, 13-19 November 1994 di Kompleks Olahraga Hassanal Bolkiah, Berakas. Perlombaan itu, sudah digelar serta diikuti sejumlah negara Asia Tenggara lainnya sejak 1988, merupakan edisi ketiga. Trofi-Trofi Hasil Perlombaan ASEAN Helicopter Championships 1994 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Soal uji keterampilan, sebelumnya TNI AU masih berkutat pada ajang-ajang yang digelar internal. Eks Danlanud ATS Marsda (Purn) T. Djohan Basyar dalam Home of Chopper menuturkan, Skadron 8 acap jadi andalan dan pulang dengan prestasi tertinggi di sejumlah lomba keterampilan udara antar-satuan udara sejak 1985.  TNI AU pun mempercayakan nama besarnya pada Skadron 8 untuk mewakili Indonesia di AHC 1994 di Brunei. Sebelas personel terbaik dipilih dengan dipimpin Letkol (Pnb) Adityawarman bertolak dari Lanud ATS pada 11 November 1994. “Pada perlombaan itu selain Indonesia, diikuti Brunei sebagai tuan rumah, Malaysia dan Singapura. Setiap negara mengirim dua tim, kecuali Indonesia yang hanya mengirim satu tim, diwakili Skadron 8 menggunakan pesawat (heli SA-330) Puma bernomor HT-3308,” sebut Djohan Basyar. Tim berangkat dari Lanud ATS dengan rute Bogor-Tanjung Pandan-Pontianak (transit)-Kuching-Bintulu-Brunei dan tiba sehari setelahnya. Dari sejumlah kategori, TNI AU turun di dua kategori: navigasi dan uji terbang dengan external load (cargo sling). Dokumentasi Tim Skadron 8 di AHC 1994 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Kontingen TNI AU membuktikan diri dengan keluar sebagai juara II meski berstatus debutan. “Waktu itu Singapura yang jadi juara pertamanya. Dia (RSAF) pakai yang lebih kecil, heli Bell (UH-1 “Iroquois”), sambung Sigit, yang menjelaskan RSAF di lomba itu diwakili Skadron 120 yang sejak 1988 sudah jadi langganan juara. “Lombanya navigasi, seperti lomba mobil slalom begitu, uji keterampilan meliuk-liuk. Lalu (kategori) terbang presisi bawa beban. Jadi kebanggaan juga karena itu kita pertamakalinya tampil.” Itu bukan satu-satunya prestasi mancanegara TNI AU dengan alutsista rotary wings -nya. Tiga tahun berselang, kembali satu trofi mengisi lemari prestasi heritage room Skadron 8 dalam ajang serupa, 2nd Brunei ASEAN Helicopter Invitational Championship, 18-29 Oktober 1997. Trofi Juara II ajang 2nd Brunei ASEAN Helicopter Invitational Championships 1997 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Ajang itu diikuti lima negara: Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina. TNI AU lagi-lagi mengandalkan Skadron 8 dengan heli SA-330 “Puma” bernomor ekor HT-3317. Kategorinya pun tiada beda dengan ajang sebelumnya, uji skill navigasi serta presisi terbang membawa beban. TNI AU juga pulang ke tanah air dari kompetisi itu dengan gelar juara II. “Dua tim yang diturunkan, yaitu tim A yang terdiri dari Kapten (Pnb) Erwin Buana, Lettu (Pnb) Ferry S, Sertu Heris Sudarmadi. Sedangkan tim B Kapten (Pnb) Sugiyono, Lettu (Pnb) Arifin Sjahrir dan Serka Amang Rosadi. Indonesia memperoleh predikat juara umum II bersama dengan Malaysia, sedangkan juara I dipegang Brunei,” tandas Djohan Basyar.

  • "You Muslim, I Muslim: Teretet No!"

    CERITA zaman perang di Indonesia (1945-1949) tidak selalu berkisar pada kisah-kisah sedih dan menyeramkan. Selalu ada cerita-cerita konyol, naif dan lucu di baliknya. Seperti dialami oleh Raden Makmur saat melibatkan diri sebagai pelaku revolusi di wilayah Sukabumi dan Cianjur. Suatu hari Makmur yang saat itu berusia 16 tahun ditugaskan oleh komandannya di BBRI (Barisan Banteng Repoeblik Indonesia) memeriksa setiap penumpang yang baru saja turun dari kereta api di Stasiun Salajambe, Cianjur.  Kala itu proklamasi baru saja berkumandang. Semangat kemerdekaan tengah membuncah dan mengucapkan kata “merdeka” sambil mengepalkan tinju kanan merupakan kewajiban setiap orang: tak peduli tua atau muda. Di pintu peron, Makmur bersama beberapa kawannya (dengan bambu runcing di tangan) berjaga. Setiap ada penumpang yang tidak berteriak “merdeka” maka mereka akan segera menegurnya secara keras. Bahkan memukulnya jika itu seorang lelaki sepantaran mereka. Seorang remaja kampung yang buta huruf ketahuan tidak mengucapkan kata “merdeka” begitu turun dari kereta api. Tanpa banyak bicara, dia kemudian digelandang dan ditampar keras oleh Makmur. “Kang salah saya apa?!” protes sang remaja kampung dalam bahasa Sunda. “Kamu tidak mengucapkan 'merdeka', tahu!” teriak Makmur sambil memelototkan matanya. “Merdeka itu apa?” tanya sang remaja lagi Ditanya demikian, Makmur bingung. Dia lantas menanyakan kepada kawan-kawannya. Semuanya menggelengkan kepala. “Apa kang, itu merdeka?” “Ahhh! Saya juga tidak tahu! Pokoknya saya diperintahkan komandan begitu ya harus begitu! Kamu jangan melawan saya!” ujar Makmur, pura-pura marah (padahal bingung juga). Makmur juga pernah punya pengalaman lucu. Saat bertugas ke Sukabumi pada akhir 1945, kusir sado (delman) yang membawanya dari Stasiun Sukabumi terus berkoar tentang semangat revolusi dan telah tibanya zaman merdeka. “Memang apa Kang zaman merdeka itu?” tanya Makmur yang sekarang berusia 90 tahun itu. “Zaman bebas, zaman semua serba tidak bayar: naik kereta tidak bayar, naik bus tidak bayar, makan di restoran Cina tidak bayar. Pokoknya enaklah!” jawab sang kusir seenaknya. “Wah kalau begitu saya naik sado ini tidak bayar juga dong?” tanya Makmur. “Eitsss! Bayar dong! Ini mah lain,” jawab sang kusir. Dalam waktu yang sama, di Bandung remaja-remaja seusia Makmur juga bergerak melawan tentara Inggris yang terdiri dari pasukan bule, Gurkha (Nepal) dan India (Sikh, Hindustan dan Pakistan). Namun ada kalanya, permusuhan antara mereka harus terhenti karena…lapar.  Aleh (91) bercerita, suatu hari saat  mereka tengah berjaga-jaga di batas demarkasi (saat ini di rel kereta api Jalan Sumatera), dua tentara BIA (British India Army) mendekati mereka sambil membawa bendera putih. Ketika sudah dekat terjadilah dialog dalam bahasa isyarat dan “bahasa Inggris gaya Bandung” saat itu. Salah seorang serdadu BIA itu menyatakan keinginannya untuk mendapatkan seekor ayam dan akan membelinya dengan harga mahal. Tentunya dia menyatakan itu dalam bahasa isyarat tangan yang melukiskan kepala seekor ayam yang sedang mematuk makanan. Aleh dan kawan-kawannya cepat paham. “Oh kokok (bunyi ayam dalam bahasa Sunda). Okelah! I kokok you Tommygun (jenis senjata yang biasa dibawa tentara Inggris),” ujar Aleh. Maka berlangsunglah tawar menawar dalam “bahasa tarzan” dengan kesepakatan akhir: seekor ayam ditukar dengan beberapa granat tangan dan keju. Soal “bahasa Inggris gaya Bandung” itu juga disebutkan dalam buku Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan karya Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo dan Ummy Latifah Widodo. Dari pengalaman seorang bekas pejuang Bandung bernama Suparyadi, mereka mengisahkan tentang upaya-upaya para pejuang Bandung meyakinkan para serdadu BIA asal India yang beragama Islam (sekarang Pakistan) untuk tidak memerangi bangsa Indonesia. “You muslim, I muslim, teretet no!” teriak para pejuang Bandung yang sebagian besar terdiri dari remaja-remaja tanggung itu. Teretet adalah istilah anak-anak Sunda untuk menirukan bunyi senjata, laiknya kata “dor” dalam bahasa Indonesia atau “bang” dalam bahasa Inggris. Apakah tentara-tentara BIA itu mengerti? Sepertinya lambat laun mereka paham juga. Buktinya orang-orang Pakistan itu banyak yang membelot ke kubu tentara Republik dan ikut berjuang bukan hanya melawan Inggris saja tetapi juga tentara Belanda. *

  • Ibu Ani Pergi

    Ibu Negara Ani Yudhoyono meninggal dunia di National University Hospital, Singapura, Sabtu, 1 Juni 2019, pukul 11.50 waktu setempat, setelah menjalani perawatan penyakit kanker darah sejak Februari 2019. Kristiani Herrawatilahir pada 6 Juli 1952 di Yogyakarta, sebagai anak ketiga dari pasangan Sarwo Edhie Wibowo dan Sunarti Sri Hidayah. Ada kisah di balik nama Kristiani Herrawati. Saat dia lahir, Sarwo ditugaskan di Batalyon Kresna di Yogyakarta. Ini suatu kebetulan karena dia mengagumi tokoh pewayangan yang berkarakter baik itu. “Begitu aku lahir, Papi langsung mendapat ilham untuk menyematkan ‘Kresna’ dalam namaku,” kata Ani dalam biografinya, Kepak Sayap Putri Prajurit karya Alberthiene Endah. Tentu saja tidak mungkin diberi nama Kresna karena identik dengan laki-laki. Ditambahi “wati” pun terdengar lucu: Kresnowati. “Akhirnya Papi memberi nama Kristiani.” Sedangkan nama Herrawati dipilih dari penggalan kisah yang pernah diceritakan ayahnya. Herrawati memiliki makna kekuatan yang bisa menyapu bersih halang rintang saat terjadi huru-hara. Ani tumbuh seiring penugasan ayahnya. Setelah Yogyakarta, Sarwo ditugaskan di Gombong, kemudian Magelang. Di sini lahir Pramono Edhie Wibowo pada 5 Mei 1955. Kelak menjabat posisi strategis: Danjen Kopassus, Pangdam Siliwangi, Panglima Kostrad, dan Kepala Staf TNI. Dari Magelang, Sarwo pindah tugas ke Sekolah Para Komando Angkatan Darat di Batujajar, pada 1959. Dia kemudian menjabat komandan RPKAD (Kini Kopassus) yang memimpin penumpasan PKI pasca Gerakan 30 September 1965. Setelah itu, Sarwo menjabat Pangdam II Bukit Barisan dan Pangdam XVII Cenderawasih. Dianggap menyaingi pamor Presiden Soeharto, Sarwo kemudian ditugaskan menjabat Gubernur Akademi Militer di Magelang. Di sinilah dia mendapat menantu, siswa Akmil, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ketika menghadap Sarwo, SBY bertemu Ani yang tengah mengunjungi ayahnya. Saat itu, Ani tinggal di Jakarta karena kuliah kedokteran di Universitas Kristen Indonesia. Sayangnya, dia gagal menyelesaikan pendidikannya. Hubungan SBY dan Ani berlanjut. Keluarga merestui hubungan mereka. SBY dan Ani tunangan pada 1974 karena Ani ikut ayahnya tugas sebagai duta besar di Seoul, Korea Selatan. Ketika Ani kembali ke Indonesia, giliran SBY yang tengah mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat. Setelah kembali dari Negeri Paman Sam, SBY menikahi Ani pada 30 Juli 1976. Mereka dikaruniai dua orang putra: Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono. Ani mengikuti jejak ibunya yang bersuami tentara. Ibunya berpesan: “begitu masuk ke dalam kehidupan tentara, Ani, kamu harus belajar dua hal: kuat mendampingi suami dalam berbagai kondisi tugasnya, serta harus pandai beradaptasi. Tiada lain.” “Pengalaman menjadi anak tentara membuat saya tak kaget setelah menjadi istri tentara. Saya bisa mendampingi SBY menempuh karier militernya dengan corak kehidupan yang berubah-ubah,” kata Ani dalam 10 Tahun Perjalanan Hati karya Alberthiene Endah. Karier militer SBY sampai puncak dengan pangkat jenderal. Dia menjalani pendidikan militer di dalam dan luar negeri. Begitu pula penugasannya. Jabatan terakhir di militer sebagai Kepala Staf Teritorial (Kaster) ABRI. Sedangkan penugasan ke luar negeri sebagai Chief Military Observer United Nation Peace Forces di Bosnia-Herzegovina. SBY pensiun dari militer karena ditunjuk menjadi menteri. Dia menjabat Menteri Pertambangan dan Energi kemudian Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Dia kembali menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Setelah itu, dia mendirikan Partai Demokrat pada 9 September 2002. “Hal yang terasa beda, ketika SBY akhirnya terjun ke dunia politik. Inilah penyesuaian diri saya yang memerlukan mental lebih tangguh. Karena flavour politik beda dengan tempaan dalam kehidupan tentara. Kelihatannya memang tidak sekeras di barak, tapi politik itu 'makan dalem'. Batin dan pikiran digerus,” kata Ani. Walau begitu, Ani mendukung SBY memilih jalan politik untuk mengabdi kepada negara. “Dari istri menteri saya kemudian ikut menyibukkan diri mendampingi SBY membangun Partai Demokrat. Hingga akhirnya dia diantar ke posisi puncak. Menjadi seorang presiden,” kata Ani. Selama mendampingi SBY, Ani dengan semangat menjadi anak-anak tangga yang dilintasi SBY. "Dan sepanjang itu saya berada di sisinya.” Kini, dia berada di sisi-Nya.

  • Tottenham Hotspur Tak Pernah Lelah Bertempur

    MENDEKATI hari-H final Champions League, Minggu (2/6/2019) dini hari, Mauricio Pochettino kian dinaungi kegalauan. Pembesut Tottenham Hotspur itu tentu ingin menurunkan pasukan dengan komposisi terbaiknya untuk meladeni Liverpool. Namun apa daya, sudah dua bulan-an Spurs tampil tanpa kapten sekaligus mesin gol Harry Kane akibat cedera engkel. Kendati Kane sudah dua kali nongol di kamp latihan akhir pekan lalu, kekhawatiran tetap masih terpancar di wajah Pochettino. “Jumat dan Sabtu pekan lalu dia sudah mulai bergabung ke latihan tim. Situasinya sangat positif baginya. (Tapi) saya tak bisa bilang bahwa dia akan 100 persen bugar, atau jika dia akan bisa bermain dari menit awal atau tampil dari bangku cadangan atau mungkin tak masuk susunan pemain. Namun kami menyambut positif progres kepulihannya,” sebut Pochettino, dikutip Daily Star , Rabu (29/5/2019). Skenario terburuk jika Kane gagal tampil, Pochettino terpaksa memaksimalkan sisa skuad mudanya macam Dele Alli, Son Heung-min atau Lucas Moura. Sudah kepalang tanggung buat Spurs jika bersikap nothing to lose . Maklum, seumur-umur Spurs hanya punya koleksi tiga gelar Eropa kelas medioker: satu trofi Winners Cup (1962-63) dan dua UEFA Cup yang kini jadi Europa League (1971-72 dan 1983-84). Tottenham Hotspur saat memenangi UEFA Cup 1984 (Foto: Twitter @SpursOfficial) Raihan trofi “Si Kuping Besar” jelas bakal jadi penyempurna kejutan “The Lilywhites” (julukan Spurs) musim ini. Namun yang terpenting, itu bakal jadi momen pertama klub berkomposisi pemain muda itu mencicipinya.  Dilahirkan Sekumpulan Bocah Sekolah Kini, anak-anak muda dari London utara itu sedang menatap sejarah baru. Tinggal Liverpool yang menghalangi mereka nanti di Estadio Wanda Metropolitano, Madrid, tempat laga final bakal digelar. Terlepas dari bagaimana hasilnya nanti, anak-anak muda itu harus bangga ditakdirkan sebagai pencipta sejarah. Mereka bak sebelas pemuda yang mendirikan klub tempat mereka kini merumput. Sebagaimana disingkap dalam A Romance of Football: The History of the Tottenham Hotspur F.C. , penggagas lahirnya Spurs merupakan sebelas siswa Mr. Cameron’s School (kini Scotch Prebysterian Academy) yang sebelumnya merupakan anggota Hotspur Cricket Club. “Para pendirinya adalah J. Anderson, T. Anderson, E. Beaven, R. Buckle, H.D. Casey, L. R. Casey, F. Dexter, S. Leaman, J.H. Thompson Jr, P. Thompson dan E. Wall. Dengan mandiri mereka membeli sendiri bola dan tiang gawang kayunya. Lapangannya dipinjamkan Kapten Delane yang punya hubungan kerabat dari salah satu Thompson bersaudara di Park Lane,” sebut buklet yang dirilis bersama oleh The Tottenham dan Edmonton Weekly Herald pada Februari 1921.  Sejumlah pelajar yang menggagas berdirinya Tottenham Hotspur (Foto: Repro A Romance of Football) Seiring waktu, tambahan pemain Hotspur FC berdatangan dari sekolah lain dan pada Desember 1882 anggota mereka sudah mencapai 18 pemain. Tujuh anggota barunya dibebankan biaya masuk untuk menambah kas klub. Hingga 1921, jersey yang acap mereka pakai berwarna biru gelap. Adapun logo klub baru sekadar lambang huruf “H”. John Rispsher, guru mata pelajaran Alkitab di All Hallows Curch,  yang lantas dijadikan presiden pertama klub, menata klub menjadi terorganisir. Laga kandang pertama mereka, 6 Oktober 1883, melawan klub amatir lain, Brownlow Rovers. Hotspur menang telak 9-0. Namun, sumber lain, A People’s History of Tottenham Hotspur karya Martin Cloake dan Alan Fisher, menyebutkan debut Spurs terjadi pada 30 September 1882 kontra tim lokal Radicals. Spurs keok 0-2. Sementara, kompetisi resmi pertama yang diikuti Spurs baru terjadi pada 1892, yakni kompetisi amatir Southern Alliance. Setelah menjadi profesional dan diakui FA (otoritas tertinggi sepakbola Inggris) pada 20 Desember 1895, Spurs diikutsertakan ke divisi satu Southern League musim 1896. Dua tahun berselang klub ini naik kelas dengan dinaungi perusahaan yang lebih profesional. Namanya pun diganti menjadi Tottenham Hotspur and Athletic Company dengan dibesut pelatih pertamanya Frank Brettell. Nama Spurs mulai dikenal luas setelah menjuarai FA Cup 1901 mengalahkan Sheffield United 3-1 di final. Jersey Spurs berubah menjadi putih pada 1898 yang jadi warna kebanggaan sampai kini. Hingga 1921, logo klub masih berupa huruf “H” berwarna merah. Logo itu berubah sekaligus mengusung moto Audere est Facere (Berani dalam Bertindak) setelah Spurs untuk kedua kalinya memenangkan FA Cup, 1921. “Ayam jantan muncul sebagai logo di jersey setelah 1921. Inspirasinya diambil dari kekaguman Sir Henry Percy, bangsawan yang dijuluki Hotspur, pada taji ayam jantan, meski logo ayam jantan ini sudah dipakai klub sejak 1901,” tulis Leonard Jägerskiöld Nilsson dalam World Football Club Crests: The Design, Meaning and Symbolism of World Football’s Most Famous Club Badges . Pada 1956, logo Spurs diubah lagi dengan tambahan lambang perisai Sir Henry Percy plus sisipan ayam jantan. Namun pada 1983 hiasan perisainya dihilangkan lagi. Pada 2006 logo Spurs dikembalikan seperti awal, ayam jantan yang berdiri gagah di atas sebutir bola tapi tanpa dibubuhi motto klub. Tottenham Hotspur di musim pertamanya berlaga di White Hart Lane pada 1899 Selain logo, kandang Spurs pun mengalami evolusi. Setelah tak lagi menempati Park Lane yang disewa sejak awal berdiri, pada 1888 Spurs pindah ke Northumberland Park. Setahun berselang, Spurs hijrah lagi ke White Hart Lane, dan menetap sampai sekarang. Laga pertama Spurs di kandang baru mereka dihelat 4 September 1899 kontra Notts County. Di markas-markas itulah nama Spurs terus diukir hingga akhirnya jadi klub kuda hitam sepakbola Inggris. Spurs bahkan menjadi pemasok utama striker timnas Inggris era 1980-an hingga 1990-an. Glenn Hoddle, Clive Allen, Gary Lineker, dan Chris Waddle merupakan striker Spurs yang jadi andalan lini depan Inggris.  Hampir semua turnamen pernah dimenangi Spurs. Hingga kini, lemari gelar Spurs sudah terisi masing-masing dua titel Second Division dan First Division, delapan FA Cup, empat League Cup, tujuh Charity Shield, satu Winners Cup, dan dua UEFA Cup. Jika menang kontra Liverpool besok, lemari itu akan kedatangan penghuni baru: trofi “kuping besar” Champions League.

  • Mudik Tahun 1960-an

    BAGI banyak orang Indonesia, mudik Lebaran sudah jadi tradisi. Setelah 365 hari bekerja banting tulang di rantau, mudik menjadi momen tepat untuk mengambil jarak dari keriuhan kota, bertemu keluarga, dan mengunjungi tempat-tempat penuh kenangan masa kanak-kanak. Salah satu sarana transportasi favorit untuk mudik Lebaran adalah kereta api. Tiket bisa dipesan secara daring dan jauh-jauh hari. Perjalanan nyaman dan menyenangkan. Tapi itu cerita masa kini. Di masa lalu sungguh lain ceritanya. Pada 1960-an, banyak orang juga memilih kereta api untuk mudik ke kampung halaman. Selain harga tiketnya terjangkau, pilihan moda transportasi lain masih terbatas. Tiga daerah utama tujuan pemudik kala itu ialah Semarang, Solo dan Yogyakarta. Namun animo masyarakat tak bisa dipenuhi Djawatan Kereta Api (DKA) yang kekurangan gerbong kereta.

  • Berebut Takhta Mataram Kuno

    TAK semua raja yang bertakhta di Mataram Kuno adalah pewaris sah. Prasasti mencatat adanya pergantian kekuasaan yang tak wajar. Setidaknya ada dua prasasti yang memuat nama-nama penguasa Mataram. Prasasti Mantyasih (907 M) dan Prasasti Wanua Tengah III (908 M), keduanya dikeluarkan pada masa Balitung. Berdasarkan daftar raja yang tertulis dalam Prasasti Mantyasih (907 M) terdapat sembilan penguasa di Kerajaan Mataram Kuno sebelum Balitung. Diawali Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya, Śrī Maharaja Rakai Panangkaran, Śrī Maharaja Panunggalan, Śrī Maharaja Rakai Warak, Śrī Maharaja Rakai Garung, Śrī Maharaja Rakai Pikatan, Sri Maharaja Rakai Kayuwangi, Śrī Maharaja Rakai Watuhumalang. Terakhir adalah raja yang menulis prasastinya, Śrī Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung. Sementara itu, berdasarkan Prasasti Wanua Tengah III, di Mataram ada 13 raja yang berkuasa sebelum era Balitung. Berbeda dengan Prasasti Mantyasih, Prasasti Wanua Tengah III menyebut raja-raja berikut hari dan tahun mereka naik takhta.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page