Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Debat Pendiri Bangsa Soal Papua
PAPUA, wilayah di ujung timur negeri ini kerap memantik silang pendapat sejak dulu hingga sekarang. Ketika para pendiri bangsa merancang luas wilayah Indonesia, debat alot bergaung saat membahas Papua. Rekaman perbincangan ini tercatat dalam dalam rapat BPUPKI pada 10—11 Juli 1945. Suara yang menyetujui masuknya Papua ke dalam wilayah Indonesia didahului oleh Kahar Muzakkar, wakil dari Sulawesi Selatan. Pendapat Kahar Muzakkar dilandasi pertimbangan pragmatis. Namun, dia tetap menghargai rakyat Papua apabila ingin bergabung, bergabunglah secara sukarela. “Biarlah yang tinggal di Papua (yang) agak lebih hitam-hitaman sedikit daripada kita, akan tetapi tanah Papua itu pula menjadi sumber kekayaan kita. Janganlah sumber kekayaan yang diwariskan nenek moyang kita hilang dengan sia-sia belaka,” kata Kahar tercatat dalam Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 29 Mei 1945—19 Agustus 1945. Mohammad Yamin, salah satu anggota yang lain, menguraikan pendapatnya yang cukup panjang. Dia merumuskan konsep Indonesia Raya yang terbentang meliputi wilayah bekas Hindia Belanda, Borneo Utara (Sabah dan Sarawak), Malaya, Timor Portugis (kini Timor Leste), hingga Papua. Menurut Yamin, secara historis, politik, dan geopolitik, wilayah-wilayah tadi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Soal Papua pun demikian. “Papua adalah wilayah Indonesia,” kata Yamin. Menurut Yamin, posisi Papua sebagai pintu gerbang kawasan Pasifik sangat menentukan secara geopolitik. “Sehingga untuk menyempurnakan daerah yang berarti kuat dan abadi, perlulah pulau Papua seluruhnya dimasukan ke dalam Republik Indonesia,” ujar Yamin. Yamin yang seorang ahli hukum dan pakar sejarah itu juga mengikat Papua dengan gagasan historisnya. Bahwa di masa lalu, Papua merupakan vassal (daerah penaklukkan) kerajaan Tidore di Maluku. “Sebahagian dari pulau Papua adalah masuk lingkungan dan adat kerajaan Tidore, sehingga dengan sendirinya daerah itu benar-benar daerah Indonesia,” kata Yamin. Dengan dalil itu, maka jelas sudah alasan untuk memasukan Papua ke dalam kekuasaan negara Indonesia. Keesokan harinya, sidang masih berlanjut dengan agenda pembahasan yang sama. Mohammad Hatta memajukan usulan yang berlainan dengan konsep Yamin. Gagasan “ilmiah” Yamin agak kurang masuk akal bagi Hatta. Khusus untuk Papua, Hatta tidak sepakat memasukan wilayah ini ke dalam Republik Indonesia. Menilik kesamaan etnis yang serumpun Melayu, Hatta lebih memilih Malaya dan Borneo Utara bersama dengan bekas wilayah Hindia Belanda sebagai keseluruhan Indonesia. “Sekiranya bagian Papua itu ditukar dengan Borneo Utara, saya tidak berkeberatan, malah bersyukur,” kata Hatta. “Karena, seperti saya katakan dahulu, saya tidak minta lebih dari pada tanah air Indonesia yang dulu dijajah oleh Belanda.” Mengenai Papua, Hatta mengatakan bahwa orang Papua berasal dari bangsa Melanesia, berbeda dengan Indonesia yang Melayu. Menurut perhitungannya, pemerintah Indonesia kelak masih belum cukup mapan mendidik rakyat Papua menjadi bangsa yang merdeka. Sehingga bagi Hatta, adalah lebih baik menyerahkan masa depan Papua kepada rakyat Papua sendiri atau biar ditangani saja oleh Jepang. Sukarno lalu datang menyampaikan suara yang senada dengan gagasan Yamin. Menurut Sukarno, wilayah Indonesia yang terbentang dari Sumatera hingga Papua adalah karunia Tuhan. Mengutip kitab Negarakertagama (yang dibuat cendekiawan Kerajaan Majapahit, Mpu Prapanca pada 1365), Sukarno menyatakan bahwa sejatinya kekuasaan Kerajaan Majapahit melebar hingga ke pulau Papua. Gagasan Yamin dan Sukarno tampaknya mendapat banyak dukungan dari kebanyakan anggota. Silang gagasan pun tidak terhindarkan. Tokoh senior, Agus Salim, dari kalangan Islam dan Soetardjo yang mantan anggota Volksraad prihatin menyaksikan perdebatan. Mereka mengingatkan agar persoalan Papua jangan sampai jadi bahan pertikaian pendapat. “Pada hari yang lain kita boleh membicarakan soal Papua, tetapi untuk sekarang, untuk sementara waktu, hendaknya kita tunda saja soal Papua. Tuan Ketua, satu kali terlepas dari tangan kita, nanti Papua itu menjadi benda pertikaian menjadi benda perselisihan antara saudara-saudara,” kata Soetardjo. Pun demikian dengan Alexander Maramis, anggota dari Manado, yang menganjurkan agar menunggu sikap penduduk Malaya, Borneo Utara, Timor, dan Papua untuk bergabung dengan Indonesia. Untuk memecahkan kebuntuan, Ketua BPUPKI, Radjiman Wedyodiningrat mengadakan pemungutan suara. Ada tiga opsi untuk dipilih sebagai wilayah negara Indonesia: (1) seluruh Hindia Belanda; (2) Hindia Belanda ditambah Malaya, Borneo Utara, Timor, dan Papua; (3) Hindia Belanda ditambah Malaya dan Borneo Utara minus Papua. Hasilnya, dari 66 peserta sidang, opsi nomor 1 memperoleh 19 suara, opsi nomor 2 memperoleh 39 suara, opsi nomor 3 memperoleh 6 suara, blangko 1 suara, dan lain-lain 1 suara. Pada akhirnya, gagasan kesatuan Yamin dan Sukarno memperoleh suara terbanyak. Konsep ini lah yang kemudian diterima sebagai wilayah Indonesia Raya, dari Sabang sampai Merauke. Sementara usulan Hatta dimentahkan dalam forum karena mendapat suara paling sedikit. Menurut sejarawan Belanda Pieter Drooglever, penentuan masa depan Papua yang dirembug dalam forum BPUPKI bukanlah wadah yang representatif. Pasalnya, tiada seorang pun wakil dari Papua yang menyampaikan suaranya di sana. Dilibatkan pun tidak. Wakil Papua baru tampil sebagai delegasi setahun kemudian dalam Konferensi Malino- perundingan yang diselenggarakan pihak Belanda. Mayoritas para anggota BPUPKI berasal dari Sumatera dan Jawa. Satu-satunya wakil dari kawasan paling timur adalah Johanes Latuharhary yang berasal dari Ambon. Kepentingan kaum Republikan sangat mendominasi. Hatta merupakan satu-satunya tokoh yang bersikap rasional soal Papua. “Semua ini merupakan pilihan-pilihan yang interesan, yang di dalam dasawarsa mendatang tetap akan membuat gejolak dalam percaturan politik di Asia Tenggara. Akan tetapi, untuk sementara hasilnya sedikit saja,” tulis Drooglever dalam Tindakan Pilihan Bebas: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri . Mufakat pendiri bangsa dalam BPUPKI itu nyatanya tetap menyisakan debat di kemudian hari. Ketika Indonesia merdeka, Latuharhary ditunjuk sebagai Gubernur Maluku, yang wilayah ampunya sampai ke Papua. Namun Latuharhary tidak pernah berada di Papua menjalankan pemerintahan. Belanda keburu datang untuk berkuasa kembali. Belanda tetap bercokol di Papua bahkan setelah pengakuan kedaulatan pada 1949. Sengketa panjang Belanda dengan Republik Indonesia pun dimulai.
- Evolusi Ritsleting
Zipper dalam bahasa Inggris atau ritsleting, telah melewati beberapa tangan penemu untuk mengembangkan fungsinya. Namun, tak ada yang mampu meyakinkan masyarakat untuk menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Majalah dan industri feysenlah yang membuat ritsleting menjadi populer seperti sekarang. Sebelum ritsleting ditemukan, masyarakat masih memakai kancing yang berderet-deret. Alih-alih untuk tas atau baju, pertama-tama ritsleting digunakan pada sepatu bot. Setelah di terima di dunia mode, pada 1939, sekira 300 juta ritsleting dijual. Perang Dunia II membuat penjualannya menurun terutama di Amerika. Namun kembali bangkit pada akhir 1940-an dengan penjualan melampaui satu miliar per tahun. Penutup Pakaian Otomatis Elias Howe dan rancangan ritsletingnya Elias Howe adalah penemu mesin jahit yang menerima paten pada 1851 untuk “Automatic, Continuous Clothing Closure” atau Penutup Pakaian Otomatis dan Berkelanjutan. Namun, cukup sampai di situ saja. Dia tak memasarkan penemuannya. Akibatnya, dia pun melewatkan kesempatan untuk mendapat julukan Bapak Ritsleting. Clasp Locker Judson dan rancangan ritsleting miliknya Penemu asal Chicago, Whitcomb Judson memasarkan ciptaannya, Clasp Locker, yang mirip dengan yang dipatenkan oleh Howe. Bersama pengusaha Kolonel Lewis Walker, Whitcomb meluncurkan Universal Fastener Company untuk memproduksi perangkat barunya itu. Clasp Locker pun memulai debutnya dalam Pameran Dunia Chicago 1893. Produknya suskses secara komersial. Ritsleting miliknya itu menjadi yang pertama kali dipasarkan. Karenanya Whitcomb Judson dipuji sebagai penemu ritsleting. Namun, patennya pada 1893 itu tak menggunakan kata Zipper . Pengait terpisah Sundback dan rancangan ritsletingnya Seorang insinyur listrik kelahiran Swedia, Gideon Sundback menjadikan bentuk ritsleting seperti yang dikenal kini. Awalnya, Sundback bekerja di Universal Fastener Company. Berkat keterampilannya dan pernikahannya dengan putri manajer pabrik, posisinya naik menjadi kepala desainer di perusahaan itu. Dia memperbarui sistem ritsleting yang sudah ada sebelumnya. Desainnya memiliki dua baris gigi yang menghadap satu sama lain, yang kemudian terdorong tertutup oleh sebuah penggeser. Patennya untuk pengait terpisah ini dikeluarkan pada 1917. Zipper Nama Zipper baru dikenal setelah B.F. Goodrich Company pada 1921 memutuskan untuk menggunakan pengait Gideon pada sepatu bot karet. Sepatu bot dan kantong tembakau adalah dua kegunaan utama risleting selama tahun-tahun awal penciptaannya. Butuh 20 tahun lagi meyakinkan indsutri mode untuk serius mempromosikan pengait bagi pakaian mereka. Ritsleting dan pakaian Iklan pakaian anak dengan ritsleting yang katanya membuat mereka bisa memakai pakaiannya sendiri. Ritsleting berhasil masuk ke industri pakaian lewat iklan. Ini mulai terjadi pada awal 1930-an oleh produsen ritsleting untuk pakaian anak-anak. Namun iklan ini hanya berumur pendek. Baru pada 1937 ritsleting berubah menjadi mode. Ritsleting dekoratif Poster koleksi terbaru Schiaperelli yang menampilkan ritsleting sebagai hiasan Adalah Elsa Schiaperelli memamerkan ritsleting dalam koleksi musim semi 1935. Schiaparelli adalah salah satu perancang mode pertama yang menjadikan ritsleting sebagai elemen gaya dalam desain fesyen. Dia menggunakan ritsleting berwarna cerah pada pakaian olahraga pada 1930, dan menjadikan ritsleting dekoratif berukuran besar dalam koleksi gaun malam pada 1935. Ritsleting akhirnya menjadi ikon desainnya. Sementara itu desainer lain menganggap ritsleting hanya sebagai pengait dan mencoba menyembunyikannya. Ritsleting samping Ilustrasi ritsleting samping Pada pertengahan abad ke-20, celana perempuan umumnya menampilkan ritsleting samping. Norma-norma sosial pada 1940-an dan 1950-an mempengaruhi mode ini. Ritsleting samping juga membuat garis yang lebih halus dalam bentuk celana panjang ketika itu. Sementara jeans dengan ritsleting depan membuat bentuknya lebih menonjol dan terasa tebal. Modern ritsleting Pencapaian besar berikutnya untuk ritsleting datang ketika muncul alat pembuka di kedua ujungnya, seperti pada jaket, sehingga bisa membuka di kedua sisi bagian. Hari ini ritsleting pun digunakan di mana-mana dan digunakan dalam pakaian, koper, barang-barang kulit dan benda-benda lainnya yang tak terhitung jumlahnya.
- Srikandi yang Tak Diakui
BULUTANGKIS sudah jadi pilihan hidupnya sejak belia. Ivana Lie tidak salah memilihnya. Di dunia bulutangkis, dia meretas kelegendaannya. Lahir di Bandung pada 7 Maret 1960 dari pasangan Lie Tjung Sin dan Kiun Yun Moi, Lie Ing Hoa yang kemudian dikenal dengan nama Ivana Lie, hidup dalam keluarga yang ekonominya memprihatinkan. Bersama delapan saudaranya Ivana sering hanya bisa makan nasi tanpa lauk. Untuk bisa menghidupi anak-anaknya yang mayoritas masih kecil, ibunda Ivana yang single parent berkeliling menjual kue. “Saya ikutan jual. Saya jualan ke pasar, ke mana. Kalau musim layangan, kakak saya bikin layangan, saya ikutan (menjual, red .),” ujar Ivana kepada Historia . Namun, Ivana kecil enjoy menjalaninya. Terlebih, di lingkungan tempat tinggalnya kala itu sedang “demam” bulutangkis setelah Rudy Hartono menjuarai All England 1968. Ivana dan teman-temannya pun memainkannya. “Di kampung-kampung ramai, (saya, red .) ikut-ikutan. Pakai sandallah, pakai piringlah, pakai papan, dan lain sebagainya,” ujarnya kepada Historia . “Yang menyentuh adalah ketika Rudy Hartono dkk. juara All England atau Thomas Cup. Kalau pulang kan diarak seperti pahlawan dan itu yang membuat kita saat melihat di TV termotivasi kepengin seperti mereka,” ungkap Ivana kepada Historia. Bulutangkis pun makin sering dimainkan Ivana. Suatu hari, di sekolahnya ada pertandingan bulutangkis antar-SD se-Bandung. Ivana yang kala itu duduk di kelas 5 langsung mengikutinya. Tak dinyana, dia juara satu. “Terus saya diberikan reward , hadiah berupa keringanan biaya uang sekolah. Dari situ akhirnya muncul motivasi. Saya bilang, kalau saya jadi juara, saya bisa membantu orangtua saya,” sambung mantan staf ahli menteri Pemuda dan Olahraga itu. Semangat Ivana pula yang membuat klub Mutiara Bandung memberinya dispensasi pembayaran. “Pelatihnya kan tahu saya selalu semangat, mungkin punya bakat dia lihat. Sejak itu baru saya latihan rutin,” kata Ivana. Pesatnya perkembangan Ivana memancing perhatian Pelatnas PBSI hingga akhirnya terpilih masuk timnas pada 1976. Satu per satu titel tunggal putri bertaraf internasional pun dikoleksinya, mulai dari turnamen perorangan hingga beregu macam SEA Games (1979, 1983) atau Asian Games (1982). Matanya berbinar-binar saat mengingat lagi prestasi-prestasi tinggi itu. “Yang paling menyenangkan adalah kalau kita menang di (pertandingan) multi- event seperti SEA Games atau Asian Games. Kita menang, naik podium, ada ‘Indonesia Raya’ berkumandang, bendera Merah Putih naik. Itu sangat berkesan dan paling menyenangkan,” kata Ivana. Lima Tahun Stateless Namun, seketika suasana hatinya berubah. Kata-kata mulai berat untuk dikeluarkan dari mulutnya. Apa lagi penyebabnya kalau bukan topik pembicaraan mengenai status kewarganegaraan dan pengakuan. “Saya lahir dari orangtua yang statusnya masih asing lah ya, bukan kewarganegaraan Indonesia. Memang datang dari Tiongkok, tapi saya lahir di sini,” ujar Ivana dengan nada suara sendu. Di masa-masa perjuangannya membawa nama harum negeri, Ivana justru bukan pemain yang diakui kewarganegaraannya. Kendati dia lahir di Indonesia, kedua orangtuanya bukan termasuk etnis Tionghoa yang diakui berkewarganegaraan Indonesia “resmi” dengan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). Kebijakan diskriminatif itu bermula dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 tahun 1959 tentang larangan orang asing berdagang eceran di daerah tingkat kabupaten ke bawah selain ibukota provinsi dan wajib mengalihkan usaha mereka ke warga negara Indonesia (WNI). Dampaknya berujung pada eksodus besar-besaran etnis Tionghoa ke Tiongkok. Orangtua Ivana jadi sedikit yang tak ikut “pulang”. Akibatnya, pengurusan kewarganegaraan pun dipersulit. Kalaupun bisa tembus birokrasi, tetap harus merogoh kocek yang dalam. “Mereka tidak mengurus ini karena keterbatasan dana dan karena sulit sekali. Karena orangtua asing, otomatis anak-anaknya walau lahir di Indonesia tetap asing. Begitu peraturannya. Kita hidup juga waktu itu susah, enggak bisa urus itu. Jadi saya masuk pelatnas pun tetap warga negara asing,” sambungnya. Sekira lima tahun Ivana state-less alias tanpa kewarganegaraan. PBSI hanya membantu sebisanya dengan mengurus dokumen kewarganegaraan sementara laiknya surat jalan, yang menyatakan dia sebagai warga negara Indonesia (WNI). Surat jalan itu dipakai saat Ivana berlaga di luar negeri dan dicabut kembali oleh keimigrasian sepulangnya dari bertanding. Sebelumnya pada 1976, perkara status ini pernah membuatnya batal tampil di India untuk sebuah turnamen yunior. Gara-garanya, Ivana tidak punya paspor. Meski dibantu KONI dan PBSI, Ivana butuh lima tahun untuk bisa diakui. Ivana Lie berkisah bagaimana lima tahun statusnya stateless (Foto: Randy Wirayudha/Historia) “Sedih ya… Merasa bahwa walaupun saya lahir di sini, saya berbudaya, berbahasa, semuanya, merasa sebagai bangsa Indonesia dan sudah membuktikan juga dengan saya bertanding membawa nama Indonesia, tapi sampai lima tahun keluar masuk begitu… Susah sekali mendapat kewarganegaraan itu. Sebenarnya lebih kepada, kita secara manusia perlu pengakuan ya. Dan yang membuat saya merasa sedih ya karena tidak ada pengakuan pada saat itu,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Pun begitu, sang srikandi akhirnya mendapat pengakuan juga. Menukil Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia oleh Sam Setyautama, status Ivana Lie tak lagi state-less sejak 29 November 1982 saat memperoleh status kewarganegaraan Indonesia lewat SBKRI. Itupun setelah Ivana bisa bersua Presiden Soeharto saat tim Uber Cup 1981 diterima di Istana Negara. Dalam dialog dengan Presiden Soeharto, Ivana menyampaikan bahwa saat itu statusnya masih warga negara asing. “’Enggak punya KTP, Pak’, saya bilang begitu. “ Lho, kok enggak punya KTP?” tanya presiden sambil tertawa, sebagaimana ditirukan Ivana. “Iya Pak, karena KTP-nya enggak bisa keluar karena saya enggak punya warga negara.” “Nanti coba diini (diurus, red. ),” kata presiden memerintahnya. Ivana menurutinya. “Karena saya ngomongnya sama presiden, kira-kira enam bulan kemudian saya terima (SBKRI) tahun 1982,” ujar Ivana. Delapan tahun sejak menerima SBKRI, Ivana gantung raket dan alih profesi jadi pelatih hingga berbisnis pakaian sport merek Elvana. Pada 2000-an, Ivana dipercaya Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng dan Roy Suryo jadi staf khususnya. Kini, Ivana aktif di PT Djarum.
- Balada Seorang Instruktur Tua
INGAT anak panah berdetonator milik John Rambo (eks prajurit Baret Hijau US-Army yang kerap menjadi pahlawan di film-film Hollywood)? Ternyata senjata tradisional berujung peluru itu pernah nyaris akan digunakan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) dalam melawan militer Belanda. Ceritanya, suatu hari di tahun 1949, seorang instruktur senior di MA (Militer Akademi) bernama Letnan Kolonel Sahirdjan berhasil membuat sejenis “senjata mutakhir”: panah berpeluru. Dalam ideal pemikiran Sahirdjan, selain mudah dan efektif digunakan dalam perang gerilya, keunggulan senjata ini pelurunya bisa ditembakan tanpa suara dan bila ujung panah berdetonatornya mengenai sasaran vital maka akan berakibat kematian sang musuh. Maka sebelum diluncurkan, dicobalah senjata tersebut. Sebagai sasaran tembak adalah seekor kambing jantan. Di hadapan ratusan rakyat Yogyakarta dan para kadet, Sahirdjan kemudian merentangkan busur. Semua penonton menahan napas, saat anak panah melesat dari busur dan menghantam sang kambing…Dor! Kambing pun terkulai. Para penonton bersorak sorai seraya memberi tepuk tangan tiada henti. Sahirdjan tersenyum, para kadet tertawa bangga. Namun baru saja tepuk tangan riuh itu berhenti, tiba-tiba “kambing mampus” itu bangun kembali dan mengembik, siuman dari pingsannya. Spontan penonton kembali bertepuk tangan. Kali ini diiringi tawa lepas seolah tak henti. Sahirdjan sendiri sambil tersenyum menggaruk-garuk kepalanya walau tak gatal. “Maka gagallah 'senjata mutakhir' itu digunakan untuk memerangi tentara Belanda, karena tidak mematikan dan hanya membuat pingsan,” ungkap sejarawan militer Moehkardi kepada Historia.id . Sosok nyentrik nan sederhana Sahirdjan ternyata tidak pernah hilang hingga menjelang dirinya berpangkat briagadir jenderal dan memangku status sebagai guru besar di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Magelang. Kendati merupakan pejabat senior, Sahirdjan dalam kehidupan sehari-hari tetap jauh dari kemewahan dan memelihara sikap rendah hati. Dikisahkan dalam buku karya Moehkardi, Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1949 , “pakaian kebesaran” Sahidrdjan jika tidak sedang bertugas, adalah celana pendek dan kaos oblong lusuh. Pokoknya jika kebetulan melihatnya berpenampilan seperti itu, orang yang belum kenal pasti menyangka Sahirdjan bukan seorang jenderal guru besar AKABRI. Karena penampilan khasnya ini, Sahirdjan sempat membuat cerita heboh di kalangan taruna AKABRI pada era 1970-an. Ceritanya, suatu hari seorang taruna AKABRI tingkat awal baru pulang dari cutinya dengan membawa oleh-oleh dan beberapa koper. Turun dari becak, sang taruna bingung harus mengangkat sendiri bawaannya yang begitu banyak tersebut. Dalam situasi demikian, tiba-tiba muncul seorang lelaki tua kurus berpakaian celana pendek dan kaos oblong lusuh tak jauh dari tempat sang taruna turun dari becak. Pucuk dicinta ulam tiba, taruna tersebut langsung berseru: “Eh Pak…Pak! Tolong ini angkatkan koper saya!” perintahnya. Lelaki kurus dan berpenampilan lusuh yang dipanggil tersebut cepat-cepat mendekat dan dengan sigap membantu mengangkat kopor hingga ruangan sang taruna. Begitu selesai, sang taruna berinsiatif memberi persen, namun dengan halus dan penuh hormat lelaki tersebut menolaknya. Baru saja beberapa menit “sang jongos” itu pergi, tetiba beberapa taruna senior dalam wajah garang berhamburan mendekati juniornya yang baru pulang cuti itu. Salah seorang menghardik: “Lu tahu siapa orang yang lu suruh membawa koper itu?!” “Siap! Tidak tahu!” “Tahu lu, dia adalah Pak Sahirdjan, brigadir jenderal dan guru besar kita!” Mendengar itu, sang prajurit taruna tersebut hanya bisa bengong. Begitu sadar bahwa dirinya telah melakukan “kesalahan”, dia pun menunduk dalam perasaan penuh penyesalan.
- Omar Dani, Panglima yang Dinista
JAKARTA, 24 Desember 1966. Hakim Mahkamah Militer Luar Biasa (MAHMILUB) mengetuk palu. Vonis hukuman dijatuhkan terhadap terdakwa Omar Dani. Sang pengadil menjeratnya dengan tuduhan berbuat makar. “Menghukum tertuduh dengan hukuman mati dengan tambahan mencabut haknya atas pemilikan sejumlah tanda jasa, memecat tidak dengan hormat dari pangkat dan segala jabatannya,” demikian putusan hakim. Bersamaan dengan suara ketokan palu hakim, berdentang bunyi lonceng gereja di samping gedung Mahmilub. Waktu saat itu menunjukan pukul 00.00 tengah malam. Pergantian hari menandai malam natal, malam kudus bagi pemeluk Kristen. Di saat yang sama, bulan itu bertepatan dengan Ramadhan, bulan suci bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah puasa. Ketika mendengar vonis mati tersebut, Omar Dani hanya mengingat Tuhan. Baginya, pertemuan kekudusan dan kesucian dua agama pada malam itu adalah pertanda kuasa Sang Khalik telah bicara. Meski tahu suatu saat akan berhadapan dengan regu tembak, Dani tetap punya harapan yang menyala. “Engkau Yang Maha Adil, pergunakanlah hati, pikiran, dan tanganku. Allahu Akbar! Allahu Akbar,” kata-kata itulah yang terbersit di benak Dani. Pengalaman ini dikemudian hari dikenangkan Dani dalam biografinya Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani yang disusun Benedicta Surodjo dan JMV. Soeparno. Jadi Pesakitan Petaka itu bermula dari perintah harian yang terbukti keliru. Pada pagi hari 1 Oktober 1965, Omar Dani mengeluarkan pernyataan menyikapi Gerakan 30 September (G30S) yang diumumkan RRI. Dari empat butir perintah, salah satunya berbunyi: “Mendukung Gerakan 30 September yang mengamankan dan menyelamatkan revolusi dan Pimpinan Besar Revolusi (Presiden Sukarno) terhadap subversi CIA.” “Titik beratnya adalah pada dukungan terhadap gerakan yang melakukan pengamanan dan penyelamatan revolusi dan Pimpinan Besar Revolusi. Bahwa ternyata G-30-S melakukan hal yang sebaliknya, tentu saja itu bukan yang dimaksud oleh Omar Dani untuk didukung,” tulis Benedicta dan Soeparno. Sejumlah perwira AD yang dipimpin Soeharto kemudian mengidentifikasi Dani sebagai perwira kiri. Bagi mereka, Dani setidaknya adalah loyalis garis keras Presiden Sukarno yang menolak membubarkan PKI. Kesempatan menggulung Dani tiba ketika Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Sekembali dari masa tugas di Kamboja, Omar Dani langsung diciduk. Pada 21 April 1966, Dani dikenakan tahanan rumah di Kompleks Peristirahatan AU Cibogo, Bogor. Sebulan kemudian, dia dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Nirbaya, Pondok Gede. Keinginan Dani untuk dibela oleh Mr. Sartono dan Mr. Iskak dalam persidangan tidak diizinkan Tim Pemeriksa Pusat (Teperpu). Tidak hanya menimpa Dani. Bala politik juga lebih dulu menyasar kesatuan TNI AU. Sejarawan Asvi Warman Adam mencatat AURI menjadi bulan-bulanan sepekan setelah G30S. Beberapa perwira bahkan keluarganya ikut jadi korban kebencian yang ditujukan terhadap AU karena dianggap terlibat bersama PKI dalam G30S. “Mobil Laksamana Muda Aburachmat, mobil Letnan Udara Satu Wara Chusnul Chotimah dan lain-lain ditabrak oleh jip-jip RPKAD. Ibu-ibu istri anggota AURI yang berbelanja di pasar di luar Halim diejek, juga pasukan karbol (taruna Akademi TNI AU) yang berdiri di pinggir jalan dalam sikap sempurna dan memberi hormat pada iring-iringan jenazah para jenderal korban G30S, diludahi mukanya oleh pasukan AD yang berada di atas panser,” tulis Asvi dalam Menguak Misteri Sejarah . Masa Penderitaan Di RTM Nirbaya, Dani tinggal di kompleks penjara Amal, satu dari tiga kompleks penjara di sana. Kamar tahanannya seperti bungalo. Ukurannya 5x6 meter lengkap dengan berbagai fasilitas: kamar mandi, WC, tempat tidur, sofa, meja makan, dan lemari. Meski menjadi satu-satunya penghuni di situ, Dani dijaga ketat oleh sekompi Yon Para dari Polisi Militer Angkatan Darat. Dia juga diisolasi dari dunia luar. Dani dilarang untuk berbincang dengan sesama tahanan lain. Kesepian menjadi penyakit dalam masa pemenjaraan. Di Nirbaya pula, Omar Dani menerima surat pemecatannya dan pencabutan tanda jasanya yang ditandatangani oleh Presiden Sukarno – sosok yang begitu dijunjung tinggi oleh Dani. Beruntung, Teperpu masih membolehkan keluarga untuk menjenguk Dani saban dua pekan sekali. Salah satu teman dekat Dani di Nirbaya adalah Soebandrio, mantan Menteri Luar Negeri, yang kamar tahanannya bersebelahan. Mereka saling menjaga jika salah seorang menderita sakit. Selama di penjara, Dani memang pernah terserang penyakit Hepatitis C. Persahabatan itu terus berjalin ketika Nirbaya ditutup. Mereka lantas dipindahkan ke RTM Budi Utomo dan Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Sepanjang rezim Orde Baru berkuasa, Omar Dani dinista. Alih-alih dikenang sebagai Panglima AU di masa jaya, sosok Dani lebih ditonjolkan sebagai pengkhianat negara. Kisah klasik tentang bagaimana penguasa melenyapkan nama Omar Dani diungkap oleh budayawan Ayatroehadi. Dalam sebuah seminar, Ayatroehadi menerangkan pengalaman seorang guru sejarah yang membawa murid-muridnya ke museum Angkatan Udara di Yogyakarta. Di situ terpampang foto-foto pimpinan Angkatan Udara masa ke masa. Ada foto KSAU pertama, Suryadi Suryadarma. Namun anehnya tak ada foto Panglima AU yang kedua. Deretan itu langsung kepada KSAU ketiga, Sri Mulyono Herlambang, dan seterusnya. Foto Omar Dani KSAU kedua diraibkan begitu saja. Menurut Ayatroehadi, cara menghitung Orde Baru memang ajaib: dari satu langsung tiga. “Demikianlah salah satu cara rezim Orde Baru merekayasa sejarah,” tulis Asvi. Selain itu, catat Asvi, semasa rezim Orde Baru, hubungan antara Presiden Soeharto dengan AURI sebagai sebuah lembaga tampaknya tidak pernah mesra, Soeharto lebih percaya kepada teknokrat seperti B.J. Habibie ketimbang tenaga ahli AURI dalam membangun industri kedirgantaran. Pada 14 Desember 1982, Omar Dani menerima grasi. Hukumannya diganti menjadi penjara seumur hidup. Akhirnya pada 16 Agustus 1995, Dani dibebaskan karna faktor lanjut usia bersama dengan Soebandrio dan mantan Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI) Sugeng Sutarto. Selama 29 tahun 4 bulan, Dani menjalani hidupnya dengan meringkus dalam tembok penjara. Menurut sang istri Sri Setiani, dikutip Tempo , 21 Juni 2009, pengalaman hampir 30 tahun terasing dipenjara menyisakan beban traumatis bagi Dani. Namun Dani berbesar hati. Sebelum meninggal, dia sempat berujar dengan nada enteng, “Sudahlah, semua sudah terjadi, lagi pula untuk apa saya dendam, wong dia (Soeharto) dulu juga belum tentu memikirkan saya.” Pada akhirnya, Omar Dani beristirahat dengan tenang pada 24 Juli 2009. Dalam usia sepuh: 85 tahun, Sang Marsekal kesayangan Sukarno ini meninggal. Dalam damai tanpa dendam. Sementara, rezim yang memenjarakannya telah tumbang lebih dahulu oleh kekuatan rakyat pada 21 Mei 1998. (Selesai)
- Cerita di Balik Nama-Nama Presiden
Para presiden Indonesia memiliki cerita menarik dengan namanya. Presiden pertama, Sukarno, dalam otobiografinya Penyambung Lidah Rakyat Indonesia , mengungkapkan pergantian namanya. Peyakitan menjadi alasan namanya diubah dari Kusno menjadi Sukarno. Namun, ada cerita lain soal pergantian nama itu: nama Kusno kurang enak kalau dipanggil, seperti memanggil tikus. Sukarno juga pernah menegur media massa yang salah menulis nama anaknya yang kemudian menjadi presiden. “He wartawan, kenapa wartawan itu selalu salah tulis. Guntur Soekarnoputra, salah! Sukarnaputra. Begitu pula Megawati Sukarnaputri. Bukan Soekarnoputri, meskipun namaku adalah Sukarno,” kata Sukarno. Namun, entah mengapa, anak-anaknya sendiri kemudian menggunakan nama Sukarno bukan Sukarna. Presiden kedua memang sejak lahir bernama Soeharto. Ketika menjadi presiden, dia biasa dipanggil Pak Harto. Ketika dia menunaikan ibadah haji, Raja Arab Saudi Fahd bin Abdul Aziz memberikan pilihan nama: Mohammad atau Ahmad. Soeharto lebih suka menggunakan nama Haji Mohammad Soeharto. Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Dia satu-satunya yang menyandang nama ayah, kakek dan buyutnya: Habibie, panggilannya Rudy. Dalam Bahasa Arab, habibi , artinya yang terkasih atau yang tersayang. Ketika bertemu Pangeran Arab Saudi Sultan bin Abdul Aziz, Habibie menyinggung soal namanya. “Prince Sultan, saya memang dari keluarga yang taat beragama Islam. Nama saya Habibie, nenek moyang saya memakai nama-nama Arab, meski kami bukan orang Arab. Sejak kecil saya dididik, ditanamkan keinginan, dan diberi petuah untuk suatu hari nanti dapat menunaikan ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam,” kata Habibie dalam The True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan . Presiden Gus Dur memiliki nama lahir Abdurrahman Ad-Dakhil. “Nama yang berat untuk anak mana pun. Ad-Dakhil, yang diambil dari nama salah seorang pahlawan dari Dinasti Umayyah, secara harfiah berarti Sang Penakluk. Zaman dulu, Ad-Dakhil berhasil membawa Islam ke Spanyol dan mendirikan peradaban yang berlangsung di sana selama berabad-abad,” tulis Greg Barton dalam biografi resmi Gus Dur. Gus Dur pun sebagaimana kebanyakan santri Jawa memilih menggunakan nama ayahnya setelah namanya: Abdurrahman Wahid. “Sesuai dengan kebiasaan Arab, dia adalah Abdurrahman ‘putera’ Wahid, sebagaimana ayahnya, Wahid ‘putera’ Hasyim,” tulis Greg Barton. Bagaimana dengan Susilo Bambang Yudhoyono? Dia lahir di Pacitan pada 9 September 1949 sebagai anak semata wayang pasangan R. Soekotjo dan Siti Habibah. Dalam silsilahnya, dia cucu salah seorang pendiri Pondok Pesantren Tremas. “Dialah yang dijuluki pewaris trah Ki Ageng Buwono Keling dan Kanjeng Sultan Hamengkubuwono II,” tulis Arwan Tuti Artha dalam Dunia Religius SBY . Ki Ageng Buwono Keling merupakan pendiri Pacitan, yang silsilahnya sampai ke pendiri Majapahit. Sehingga SBY pun merunut silsilahnya sampai ke Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Menurut Arwan, nama Susilo Bambang Yudhoyono menunjukan simbolisasi perwira santun yang tengah perang di medan laga. “Kata susila dalam Bahasa Jawa berarti santun, penuh kesusilaan; sedang bambang artinya satria. Adapun yudho artinya perang dan yono artinya menang,” tulis Arwan. Presiden Joko Widodo lahir pada 21 Juni 1961 di RS Brayat Minulyo di Surakarta. Orangtuanya, Sujiatmi dan Wijiatno Notomiarjo, memberinya nama Mulyono. Namun, nama itu tak lama kemudian diganti karena dia berulang kali sakit. “Ada kepercayaan dalam masyarakat Jawa, anak yang sakit-sakitan perlu berganti nama. Maka Mulyono diganti Joko Widodo. Boleh tidak percaya, saya kemudian tumbuh sehat. Itu misteri,” kata Joko Widodo dalam biografinya, Menuju Cahaya karya Alberthiene Endah. Joko Widodo kemudian dikenal dengan panggilan Jokowi. Ternyata ada ceritanya. Pada 1990-an, ketika usaha mebelnya maju, dia berbisnis dengan para pengusaha dari luar negeri. Kantornya tak pernah sepi dari kunjungan para importir. “Di saat itulah sebutan Jokowi muncul,” kata Joko Widodo. Seorang buyer dari Prancis bernama Bernard kesulitan membedakan namanya, Joko Widodo, dengan Joko yang lain. “Kenapa begitu banyak nama Joko di daerahmu? Saya sering bingung. Saya menyebut kamu Jokowi saja agar memudahkan saya membedakanmu dengan Joko yang lain,” kata Bernard tertawa. Joko Widodo tak keberatan. Sejak itu, nama Jokowi mulai eksis. Dalam pergaulan pengusaha mebel, orang-orang memanggilnya Jokowi. Begitu pula setelah dia menjadi presiden.
- Goodbye Stan Lee!
SETELAH kalah dari Thanos (diperankan Josh Brolin), para Avengers berupaya bangkit dan balik mengalahkan. Mereka lalu mendapatkan solusi: mesin waktu. Alhasil, para Avengers yang tersisa pun comeback ke beberapa titik waktu masa lampau. Steve Rogers alias Captain America (Chris Evans) dan Tony Stark si Iron Man (Robert Downey Jr.) kembali ke suatu waktu di tahun 1970 di sebuah kamp militer Amerika Serikat ber- tagline “Tempat Lahir Captain America”. Mereka datang dengan misi mencuri dua unsur penting untuk mengalahkan Thanos cum mengembalikan kehidupan bumi yang 50 persennya dilenyapkan Thanos: Partikel Pym dan Tesseract dari lab militer di kamp itu. Tapi sesaat sebelum keduanya beraksi, lebih dulu duo sutradara bersaudara, Anthony dan Joe Russo, menggambarkan suasana lawas di kamp tahun itu. Termasuk ketika muncul sekilas seorang gaek pengemudi mobil klasik yang meneriakkan slogan anti-perang ke arah para penjaga kamp: “ Make Love, not War, Hahahaha… ” Si gaek eksentrik itu tak lain adalah Stan Lee, cameo dalam Avengers: Endgame yang rilis 22 April 2019. Sedihnya, itu jadi cameo terakhirnya di film-film bertema semesta Marvel. Cuplikan-cuplikan cameo -nya, termasuk di film Captain Marvel dan Avengers: Endgame ini memang dilakoni sebelum dia tutup usia pada 12 November 2018 karena penyakit pneumonia. Sudah puluhan film dia tampil di depan kamera, baik di franchise Marvel Cinematic Universe (MCU) maupun film-film superhero Marvel lain di luar MCU. Sebut saja di seri-seri X-Men , Spiderman, Deadpool, Fantastic Four yang digarap Sony’s Marvel Universe hingga Marvel Entertainment. Intinya, hampir di semua film yang mengangkat para jagoan bikinannya sendiri. Sebagai cameo , ia kerap muncul dengan celetukan-celetukan serta karakter-karakter nyeleneh, utamanya dalam 22 penampilan di semesta MCU. Laiknya Alfred Hitchcock yang juga kerap nyelonong masuk kamera sebagai cameo , Stan sudah sangat lama melakoninya. Mengutip James Robert Parish dalam Stan Lee: Comic-Book Writer and Publisher , pertamakali dia muncul sebagai cameo di tayangan-tayangan Marvel sudah sejak 1989 dalam serial televisi TheTrial of the Incredible Hulk yang ditayangkan NBC pada 7 Mei 1989. Stan tampil sebagai salah satu juri penentu dalam persidangan Dr. Bruce Banner, alter ego Hulk. Stan Lee (kiri) pertama kali muncul sebagaicameo di film Hulk tahun 1989. (Youtube Christopher Cherigo) Menurut Dedi Fadim, founder Komunitas Marvel Indonesia, kemunculan Stan sebagai cameo jadi semacam penanda bahwa tanpa kerja kerasnya dan teman-temannya (Jack Kirby, Steve Ditko dkk), mungkin film-film Marvel takkan booming seperti sekarang. “Perannya selalu berubah-ubah tapi tetap as human being (manusia) yang bisa kasih statement yang kadang bisa buat kita sebagai penonton mikir dan pemerannya tertegun. Paling berkesan buat saya sih, di Iron Man di mana tokoh Stan Lee disamain sama tokoh bos Playboy Hugh Hefner sama Tony Stark,” ujar Dedi dihubungi Historia. Tidak hanya film-film bertema Marvel, beberapakali dia turut dalam produksi-film-film lain dengan genre berbeda. Seperti The Ambulance (1990), Mallrats (1995), The Princess Diaries 2: Royal Engagement (2004), Kick-Ass (2010), dan Pizza Man (2011). Tak terhitung cameo -nya di berbagai seri televisi dan animasi di luar Marvel. “Bukan sebuah kewajiban ( cameo film-film Marvel). Hanya saja saat lokasi syuting mereka dekat Los Angeles dan saya saat merasa sedang bisa melakukannya. Saya takkan bisa terbang jika lokasinya jauh. Jika lokasinya dekat, saya akan berusaha tampil sebisa saya karena Anda tahu, sekarang saya adalah aktor terbesar dunia, hahaha,” ujar Stan saat diwawancara Neal Conan dalam siaran National Public Radio , 27 Oktober 2010. Goresan Hidup Anak Imigran Lahir di New York, 28 Desember 1922 dengan nama Stanley Martin Lieber, dia tumbuh di lingkungan serba pas-pasan. Orangtuanya, Jack Lieber dan Celia Solomon, merupakan imigran Yahudi asal Rumania. Mereka hidup di sebuah apartemen sederhana dengan hanya ditopang nafkah dari ayahnya yang bekerja sebagai penjahit. Untuk membantu kehidupan keluarganya, kadang Stan nyambi kerja part-time sebagai penulis obituari dan rilis pers untuk National Tuberculosis Center, jadi office boy (OB) di pabrik garmen, hingga jadi sukarelawan di WPA Federal Theatre Project –sebuah proyek amal untuk sejumlah teater yang terkena dampak Masa Depresi. Dalam memoarnya, Excelsior!: The Amazing Life of Stan Lee, disingkap bahwa sudah sejak masa belia Stan getol menulis dan bercita-cita ingin jadi novelis. Ilhamnya datang dari kegemarannya membaca buku dan menonton film, utamanya yang dibintangi aktor Errol Flynn. Kelak dia turut jadi pendorong Stan beralih menulis komik, termasuk saat ia juga mendaftar ke US Army (Angkatan Darat Amerika Serikat). Stan Lee saat berdinas militer di US Army Signal Corps. (Wikipedia) “Saya pernah bertanya pada diri sendiri, ‘Apa yang saya lakukan di sini, menulis komik?’ Saya tak bisa menjawab. Saya hanya merasa harus masuk tentara, menjadi pahlawan seperti Errol Flynn atau John Wayne,” kenang Stan dalam Excelsior!. Ya, pada awal 1942 saat Perang Dunia II tengah berkecamuk, Stan masuk AD Amerika setelah sempat memulai kiprah dalam per-komik-an sebagai asisten penulis dan ilustrator di Timely Comics tiga tahun sebelumnya. Stan bisa hinggap di penerbit komik itu berkat bantuan pamannya, Robbie Solomon. “Tugas saya memastikan botol tinta yang digunakan para ilustrator selalu terisi. Kadang diam-diam saya mengoreksi karya mereka saat mereka sibuk makan siang dan saya rampungkan buat mereka,” sambungnya. Timely Comics merupakan nama penerbit lawas Marvel Comics sebelum di- rebranding pada 1961. Namun sebelumnya, seperti yang diuraikannya, ia turut ingin mengabdi dan masuk AD Amerika di Korps Sinyal dan Komunikasi meski kemudian dimutasi ke Divisi Training Film. Pasca-dinas militer, Stan kembali ke Timely Comics (yang lantas berubah Marvel) hingga menerbitkan karya pertamanya, Fantastic Four, yang dibuat bersama ilustrator Jack Kirby, di mana komiknya terbit medio November 1961. Seiring waktu, karakter-karakter karyanya bersama Kirby (Hulk, Thor, Iron Man, X-Men) bermunculan dan meledak di pasaran pada 1960-an. Tidak ketinggalan karakter Daredevil yang diciptakan bersama Bill Everett, serta Doctor Strange dan Spider-Man bersama Steve Ditko, turut booming dan jadi penanda era baru yang berpengaruh dalam dunia komik superhero. Era itu, cerita dan karakter jagoan Marvel ciptaannya bersama rekan-rekannya lebih realis dan intim dengan kehidupan para pembacanya. “Pengaruhnya paling terasa, dia bisa menularkan cerita dan karakter di komiknya dengan baik. Misal karakter Spider-Man, identik sama karakter anak muda yang kutu buku dan enggak bisa sosialisasi, terus jadi superhero yang bisa diterima masyarakat. Pengembangan karakter dan lingkungan di komiknya juga terus berlanjut mengikuti zaman. Seakan-akan apa yang terjadi di komiknya juga terjadi di dunia nyata,” sambung Dedi Fadim. Salah satu adegan cameo kocak Stan Lee sebagai tukang cukur di Planet Sakaar dalam film Thor: Ragnarok Oleh karena dibuat mendekati dan sangat intim dengan isu-isu yang terjadi di khalayak umum, tidak sedikit cerita yang disuguhkan komikus nyentrik itu tersisip sejumlah isu sosial seperti soal narkoba, diskriminasi, atau intoleransi. Maka, sosoknya juga turut dicintai dan dirindukan lintas golongan, tidak hanya para penggemarnya. “Bagi fans Marvel ia bagaikan seorang ayah, mentor dan panutan. Dia benar-benar mewakili mimpi para fans yang dari dulu hanya dianggap remeh karena cuma demen baca komik. Dia juga mengajarkan hidup dari kesukaan akan sesuatu bisa diterapkan dan dijalankan di mana uang dan harta bukan segalanya yang dicari,” kata Dedi menutup obrolan.
- Status Cagar Budaya untuk Planetarium dan Observatorium Jakarta
PLANETARIUM dan Observatorium Jakarta berdiri di atas lahan bekas milik pelukis terkenal Raden Saleh (1814—1880). Dia memiliki tanah luas di Cikini, Batavia, dan menghibahkan sebagian untuk pengembangan dunia ilmu pengetahuan flora dan fauna. Berdirilah kebun tanaman dan binatang pertama di Hindia Belanda.
- Ketika Kakak Adik Berhadapan dalam Perang
Pergolakan di daerah yang melahirkan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) pada 1958 telah menjadi perang saudara. Di antara prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan tentara Permesta yang saling bermusuhan terdapat orang-orang yang terikat tali persaudaraan. Oleh karena itu, terkadang ada anggota TNI yang membocorkan rencana operasi kepada penduduk untuk disampaikan kepada pasukan Permesta. Sehingga perperangan yang memakan korban dapat dihindari. “Mereka (penduduk) tidak ingin lagi melihat jatuhnya korban dalam perang saudara ini, baik dari kalangan penduduk maupun kalangan oknum TNI sendiri,” kata Phill M. Sulu, mantan anggota Permesta, dalam Permesta dalam Romantika, Kemelut & Misteri . Menurut Phill, malah ada anggota pasukan TNI baik yang reguler maupun TBO (tenaga bantuan operasi) yang sewaktu mengadakan operasi ke sarang pasukan Permesta sengaja melepaskan tembakan ke sasaran kosong, sekadar mengesankan sudah terjadi kontak senjata dengan pihak musuh. Ada juga yang rupanya sengaja membuang atau meninggalkan bekal berupa makanan kaleng atau rokok. Hal seperti ini sering terjadi karena adanya persaudaraan antara anggota TNI dan Permesta. “Misalnya, seorang adik berada di pihak pasukan Permesta, tapi sang kakak adalah anggota TNI. Tak heran jika keadaan ini menimbulkan berbagai cerita yang agak unik dan lucu di tengah peperangan,” kata Phill. Pada suatu waktu terjadi kontak senjata antara patroli TNI dengan pasukan Permesta. Di tengah berlangsungnya baku tembak yang sengit terdengar teriakan dari arah pasukan TNI, “ Andi…bapelaka bae bae ngana, jangan kana kita pe Bren… (Andi…tiarap yang benar, jangan sampai terkena tembakan Bren saya).” Bren adalah senapan mesin ringan. Rupanya anggota TNI itu mengetahui bahwa adiknya bernama Andi berada di antara pasukan Permesta yang sedang diserang. Demi keselamatan adiknya, dia berteriak memberi peringatan. Dari arah pasukan Permesta, tiba-tiba terdengar teriakan balasan. “ Io Alo…ngana lei, jaga bae bae ngana pe testa. Kita pelor Bar nyandak ada mata. (Iya Alo…kau juga, lindungi dahimu, karena peluru Barku tidak punya mata).” Maksudnya BAR (Browning Automatic Rifle), yaitu senapan mesin ringan. PRRI/Permesta berakhir pada 1961.
- Kisah Marsekal dari Soreang
DERU suara helikopter yang melayang di langit Semplak, Bogor, mengiringi perbincangan pagi itu, 24 April 2019. Marsekal Muda (Purn.) Tatang Kurniadi memang tinggal tak jauh dari Pangkalan Udara TNI AU Atang Sendjaja (Lanud ATS). “Kadang penasaran saja kalau ada heli-heli baru di Lanud,” katanya kepada Historia . Selama puluhan tahun bertugas, Tatang kenyang memiloti alutsista berjenis rotary wings (helikopter) maupun fixed wings (pesawat). Alumnus angkatan pertama AKABRI Magelang, 1967, itu berkisah panjang-lebar seputar pengalamannya bertugas di Kalimantan, Papua hingga Timor-Timur (Tim-Tim) di hari-hari terakhir wilayah yang pernah jadi provinsi termuda RI itu. Diceritakannya juga saat di masa senja ikut membangun reputasi KNKT di mata internasional sembari membuka kembali koleksi catatan-catatan beserta sejumlah foto lawasnya. Surat Balasan Sukarno dan Reuni dengan Luhut Lahir di Soreang 3 April 1946, Tatang kecil hidup di alam revolusi kemerdekaan. Kondisi itu melecutnya untuk bercita-cita ingin jadi tentara. Semasa SMP hingga SMA ia aktif ikut kepanduan (kini Pramuka). Sebagai belia yang aktif menulis di kepanduan, pernah satu kali ia berkirim surat ucapan selamat ulang tahun kepada Presiden Sukarno. “Eh enggak dikira, dibalas. Isinya ya begini saja: ‘Dengan salam kami, dan utjapan terima kasih. Soekarno. 6-6-1964’,” ujar Tatang sambil memperlihatkan surat balasan yang disisipi gambar karikatur Sukarno dan amplop lusuh ber logo Istana Presiden RI. Koleksi surat balasan Sukarno (Foto: Dok. Pribadi Marsda Purn. Tatang Kurniadi) Menurutnya, surat balasan yang diterima pada Juni 1964 itu lama “hilang”. “Surat (balasan Sukarno) ini lama saya cari. Baru banget ketemu. Sujud syukur saya pas ketemu saat lagi cari buku lama. Dulu ya iseng saja kirim surat, tulisannya ya mengucapkan selamat ulang tahun,” sambungnya. Namun suasana indah itu berubah seketika setelah G30S. Sebagai pelajar yang aktif, Tatang dan sahabatnya, Luhut B Pandjaitan, turut mendemo Bung Karno di Alun-Alun Kota Bandung dalam barisan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) Bandung. “Sama Luhut, kita sama-sama satu sekolah di SMA Kristen BPPK Bandung. Waktu habis peristiwa itu (penculikan dan pembunuhan para jenderal), dia yang mimpin demo KAPI. Se-Indonesia, baru dia yang berani teriak-teriak, ‘Turunkan Sukarno!’ Sejak SMA memang sudah aktif berkegiatan orangnya,” kenang Tatang. Sempat berpisah, Tatang “bereuni” lagi dengan Luhut di AKABRI. “Cuma penempatannya beda kompi tapi asrama kita berdekatan. Masih baik hubungannya sama saya. Kalau ketemu masih pakai bahasa Sunda: ‘Eh, kumaha sia’ , hahaha…,” ujarnya sambil tertawa. Di Lembah Tidar, Tatang sebagai taruna anyar ditempatkan di Batalyon Taruna C-3 Kompi 1 pimpinan Mayor Abi Umar. “Tapi kalau di luar jam dinas, ada yang namanya Kor dan yang Danyon Kor saya itu Sersan Mayor Hendropriyono. Hampir semua latihan dan hukuman itu bentuknya fisik. Sampai pikiran kita itu kosong dan di situlah dimasukkan kedisiplinan dan ilmu-ilmu kemiliteran.” Dari empat tahun pendidikan, taruna Tatang lulus dengan nilai layak sehingga diambil lagi untuk pendidikan TNI AU. “Ujian terakhir itu namanya Pratangkas. Dari seluruh rangkaian sedari mulai masuk, diuji kembali. Kita disuruh lari lintas alam sambil mengikuti ujian-ujian di sejumlah posnya. Dari sekitar 1000 pendaftar pertama, sekitar 100 orang yang enggak lulus,” ingatnya. Tak berapa lama kemudian, pengumuman hasil ujian itu keluar dengan cara unik. Para taruna yang terdaftar lulus, digojlok lagi pada malam setelah mereka ujian. “Bayangin, sudah badan sakit semua habis ujian, tengah malamnya dibangunin. Nama-nama yang dipanggil disuruh ikut lari lagi pakai beban. Dibilangnya kita dihukum karena kesalahan ini-itu. Padahal ngarang aja itu para senior. Selesai itu kita dibagi pangkat sersan taruna,” lanjut Tatang. Marsda Tatang Kurniadi di masa pensiun (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Itulah cara para senior “melantik” para taruna yang lulus. Sementara, nama-nama yang tak dipanggil itulah yang ternyata tidak lulus. Selepasnya, sejumlah lulusan taruna itu mulai dibagi ke masing-masing matra. “Di situ enggak fair -nya. Yang nilainya bagus-bagus, diambilin Angkatan Darat (AD). Sisanya ya matra yang lain dan biasanya yang paling bawah nilainya diambil kepolisian,” sambungnya. Di situ pula Tatang berpisah dengan Luhut. Bukti persahabatannya yang tersisa hanya tulisan tangan Luhut tentang kenang-kenangan di buku harian Tatang. Bunyinya, “Dalam melakukan sesuatu perbuatan, sebelum kau laksanakan, kau berpikirlah dua kali. Dan kau jangan sampai terperosok ke jurang kehancuran. Putra Tidar, Luhut Pandjaitan, Kopral Taruna.” Melebarkan Sayap dalam Tugas Selepas AKABRI, Tatang muda masuk ke sekolah penerbang TNI AU 17 Angkatan Elang 3 di Lanud Andir hingga lulus. Sebermula dari pilot pesawat DC-3 Dakota dalam Skadron II, Tatang lantas beralih ke helikopter. Ia turut dilatih Marinir Amerika untuk bisa bermanuver dengan heli hibah Sikorsky S-58T Twinpac yang ditempatkan di Wing Operasi 004 Skadron 6. “Setelah peristiwa PKI itu kan kita dekat sama Amerika Serikat. Sementara heli-heli kita dari Soviet enggak boleh terbang lagi, dikirimlah (heli) bekas Vietnam (Selatan) Sikorsky. Banyak helinya tapi pilotnya enggak ada. Diambillah pilot-pilot dari Skadron Mig, Tu (Tupolev) serta saya dari Skadron Dakota,” tambahnya. Di kokpit Sikorsky, Lettu Tatang turut dalam Operasi Dharmapala sebagai pilot Skadron 6 yang di-BKO-kan di Kodam XII/Tanjungpura, Kalimantan Barat (Kalbar) dalam rangka pembasmian Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). “Tugas pengiriman logistik buat pasukan AD di pedalaman. Di sana saya juga sampai ganti lima panglima (kodam), walau tahun 1974 sempat diikutkan latihan combat survival di Johor, Malaysia,” kenang Tatang. Kiprah Tatang berlanjut sebagai Dansatgas Lanud Jayapura. Pada 1988, dia dan anak buahnya turut mengamankan satu Pesawat Cessna Australia yang diduga menyuplai senjata untuk OPM (Organisasi Papua Merdeka). Pesawat ditemukan dalam keadaan ditinggalkan di wilayah Toma. Pesawat Cessna Australia yang diamankan TNI AU dengan diangkut heli di Papua (Foto: Dok. Marsda Purn. Tatang Kurniadi) “Mulanya ketika ada atase kedutaan kita di Papua Nugini (PNG) baca berita koran bahwa ada pilot Australia ditangkap polisi PNG karena lari menyeberang dari wilayah kita. Dari sana, dia mengontak BAIS (Badan Intelijen Strategis TNI), lalu BAIS mengontak saya. Jadi saya dan anak buah saya ditugaskan untuk memotret wilayah untuk menemukan itu dari Jayapura sampai Merauke, baru ketemu tiga bulan setelahnya,” tuturnya. Pencarian lokasi pesawat itu baru menemui titik terang setelah anak buah Tatang mencurigai adanya sebuah rumah di ujung landasan Toma. Ketika rumah itu diperiksa, ditemukanlah Cessna yang disembunyikan itu. Tangki bahan bakar dalam keadaan dekok dan tertancap panah. Badan pesawat dicoreti tulisan “Pesawat ini milik OPM”. “Sebenarnya kita ambil pesawat ini diam-diam. Australia juga tidak menanyakan karena kan berarti mereka melanggar. Kemungkinan untuk nge- drop senjata tapi pastinya Australia membantah. Di sana mereka laporannya hanya ada Pesawat Cessna sipil yang hilang. Dari Mabes AU perintahnya untuk dibawa. Kita bongkar dahulu untuk dibawa ke Tanah Merah pakai (heli) Puma. Dari Tanah Merah kita bawa lagi ke Jayapura pakai Pesawat Casa,” kata Tatang. Dari Tim-Tim ke KNKT Hanya gambaran menyedihkan yang terkenang oleh Tatang ketika mengingat hari-hari terakhir Timor-Timur (Timtim) sebelum lepas dari pangkuan RI. Kala itu, dia di-BKO-kan ke Tim-Tim sebagai Kadis Keselamatan Terbang dan Kerja TNI AU yang bertugas mengatur arus penerbangan. Penugasan itu bertolak dari pernahnya Tatang menjalani pendidikan flying safety di Southern California University pada 1979. Tugas Tatang dititikberatkan pada mengontrol safety kesiapan sebuah operasi. Operasi yang diembannya pun bukan angkut personel atau alutsista tapi operasi pengangkutan dokumen, barang-barang berharga, termasuk kontrol arus pesawat Hercules dan Merpati yang membawa pengungsi dari Dili ke Kupang pada 1999. “Mulanya mereka (Australia) mau bikin jalur khusus Darwin-Dili agar tak perlu lapor. Tapi tidak begitu. Kita suruh lapor. Saya tegaskan ke Atase Militer Australia di Dili Terry Delahuntie, agar setiap pesawat yang masuk Dili Lapor ke Koops (Komando Operasi). Kalau tidak, saya beritakan kamu nge- drop senjata. Sejak saat itu turun semua pesawat mereka untuk kita periksa,” kata Tatang. Tatang Kurniadi (kiri) saat turut menyambut Mayjen Cosgrove (Foto: Dok Pribadi Tatang Kurniadi) Setelah Referendum, Panglima Interfet Mayjen Peter Cosgrove pun datang ke Dili jelang peresmian penyerahan keamanan Tim-Tim ke UNTAET (United Nations Transitional Administration in East Timor). “Pas datang, pasukan mereka dulu yang turun bikin perimeter di sekitar landasan. Kita ngelihatin aja, itu mereka ngapain serius banget, padahal kondisinya kan sudah kondusif waktu itu,” kata Tatang menerangkan dirinya saat mendampingi Panglima Penguasa Darurat Militer Jenderal Kiki Syahnakri menyambut Cosgrove. Pendidikan Manajemen Sistem dan Investigasi Keselamatan Transportasi di Amerika pada 1979 itu juga membawa Tatang jadi ketua Komite Nasional Keselamatan Trasportasi (KNKT) pada 2007. Tugas itu diemban Tatang setelah tak lagi menjadi anggota DPR RI dari Fraksi ABRI, jabatan terakhirnya saat aktif di dinas militer, pada 2002. “KNKT itu yang mendirikan Profesor (Oetarjo) Diran. Pada 6 Maret 2007 saya diusulkan dari Mabes AU, besoknya dilantik. Dikiranya gajinya besar, ternyata hanya Rp3,5 juta. Selama menjabat saya enggak pernah cuti karena banyak pekerjaan yang harus kita hadapi. Kecelakaan Garuda (Indonesia) di Yogya dan Adam Air jadi kado penyambutan saya,” ujarnya. Di KNKT, Tatang hanya punya lima investigator yang dipilihnya berdasarkan kepakaran di berbagai medan. “Saya ambil dari AD ada, dari polisi juga ada, dari orang kereta api, orang dinas perhubungan juga yang sudah pada pensiun tapi ahli semua. Untuk yang mengoordinir, saya ambil dari mantan kapuslabfor Polri yang pernah bongkar Bom Bali. Mereka yang pilih sendiri anak buahnya masing-masing. Ketika ada kecelakaan, saya koordinir mereka sebagai anggota KNKT, jadi KNKT itu responsif,” ungkap Tatang. Berbagai kecelakaan pesawat di Indonesia sempat melahirkan sanksi dilarang masuknya pesawat Indonesia ke Eropa. Sambil membenahi KNKT, Tatang terus memperjuangkan dicabutnya larangan terbang itu. Ia memulainya saat turut merumuskan Nota Kesepahaman dalam Kerjasama Keselamatan dan Investigasi Kecelakaan Udara se-ASEAN pada 2012. Langkah itu dilanjutkan dengan masuk ISASI (International Society of Air Safety Investigators), yang belum dijalankan para ketua KNKT sebelum Tatang. “Sejak 2006 itu kan banyak pesawat murah tapi safety -nya kurang, sampai banyak yang jatuh dan menarik perhatian dunia. Jadi responsifnya KNKT ini banyak yang enggak mengerti efeknya, di mana sebelumnya minim anggaran. Padahal kan berpengaruh bagi pasar angkutan udara,” ujar Tatang yang setelah melepas jabatan Ketua KNKT pada 2015 berkecimpung di Lembaga Veteran Republik Indonesia dan Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU) itu. Meski butuh tiga tahun, perjuangannya membangun kepercayaan kembali terhadap penerbangan Indonesia tak sia-sia. Maskapai penerbangan Indonesia kembali diizinkan masuk Eropa.
- Manusia Pertama di Benua Amerika
Siapa orang pertama yang tiba di Amerika? Baru-baru ini arkeolog menemukan bukti bahwa manusia sudah menginjak benua Amerika sejak 15.500-16.000 tahun yang lalu.Ilmuwan dari Universidad Austral of Chile yang menemukan jejak kaki berumur 15.600 tahun itu. Seperti dilansir Phys , jejak kaki itu ditemukan saat mengekskavasi Situs Pilauco di Osorno, yang terletak di 820 km selatan Santiago, Chile. Situs ini telah diteliti sejak 2007. Reuters melaporkan, jejak kaki ditemukan pada 2010 di dekat sebuah rumah modern oleh seorang mahasiswa Universidad Austral of Chile. Jejak kaki itu terkubur di bawah sedimen tanah setebal lebih dari tiga meter sehingga bisa terawetkan sampai sekarang. Paleontolog Karen Moreno dan geolog Mario Pinoperlu bertahun-tahun untuk meyakiniitu adalah jejak kaki manusia. Mereka berhati-hati karena bisa jadi itu jejak kaki hewan yang cacat. Daily Mail melaporkan untuk yakin itu memang benar jejak kaki manusia, para peneliti membuat percobaan dengan membuat jejak kaki pada jenis tanah yang mirip dengan arah dan tekanan yang berbeda. Tes ini menggunakan tiga bentuk telapak kaki yang berbeda dengan ukuran yang mirip. Tinggi dan berat pemilik telapak kaki juga tak sama. Para ilmuwan mendapatkan umur jejak kaki manusia itu dengan penanggalan radiokarbon dari sisa-sisa tumbuhan organik yang ada di dekat temuan jejak kaki. Lewat penelitian, mereka bisa memperkirakan jejak kaki itu milik manusia bertelanjang kaki seberat 70 kg. Dia adalah Hominepes Modernus , keluarga Homo sapiens. “Di Amerika ada jejak kaki manusia lainnya, tapi tidak ada yang berasal dari penanggalan sejauh itu,” kata Pino kepada surat kabar Osorno, El Austral, dikutip Phys . Jejak kaki manusia yang ditemukan sebelumnya di situs selatan Osorno berasal dari sekira 1.000 tahun yang lalu. Selain jejak manusia, fosil lain telah banyak ditemukan di Situs Pilauco, termasuk moyang gajah dan kuda Amerika. Moreno bilang penemuan kali ini pun untuk pertama kalinya membuktikan keberadaan manusia di Amerika sejak sebelum 12.000 tahun yang lalu. “Sedikit demi sedikit di Amerika selatan kita mulai menemukan situs dengan bukti keberadaan manusia, tapi yang ini adalah yang tertua di Amerika?” ujarnya dikutip Daily Mail . Berdasarkan laman Ancient Origin , sebelumnya diyakini bahwa penduduk pertama benua Amerika tiba dari Siberia melalui Selat Bearing sekira 10.000 tahun yang lalu. Penemuan ini menantang gagasan bahwa manusia clovis adalah orang pertama yang menetap di benua itu. Temuan itu pun memberikan bukti adanya kolonisasi di wilayah Patagonia utara pada periode Pleistosen akhir. Jejak kaki merupakan bukti pendukung kalau wilayah di bagian paling selatan benua Amerika itu telah dijejaki menusia jauh lebih awal daripada yang diperkirakan. Teori model migrasi pantai akhirnya dibuktikan pula oleh temuan ini. Model ini menerangkan bahwa pemukim pertama yang mendiami Amerika bermigrasi dengan mengikuti garis pantai. Mereka kemungkinan tadinya menempati Kepulauan Pasifik.
- Menggali Budaya Astronomi Nusantara
Masyarakat Nusantara memiliki khazanah pengetahuan keantariksaan (astronomi) berlimpah. Mereka menggunakan pengetahuan tersebut untuk kebutuhan praktis hidup kesehariannya. Orang Bugis, misalnya, terkenal piawai menggunakan pengetahuan astronomi untuk menentukan arah dalam pelayaran. Orang Jawa dan Melayu mahir menentukan kapan masa tanam dan panen melalui pengetahuan astronomi. Selain guna sosial, ada pula guna personal yang diperoleh dari pengetahuan lokal tentang astronomi. Misalnya untuk menentukan saat baik dalam pembuahan rahim. “Jadi, semua pengetahuan yang bersumber kepada pengamatan terhadap alam itu punya kegunaan langsung,” kata Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam Sarasehan 50 Tahun Planetarium dan Observatorium Jakarta di Cikini, Jakarta, 27 April 2019. Hilmar melanjutkan pengetahuan astronomi untuk kebutuhan sehari-hari semacam itu seringkali tidak dianggap sebagai ilmu pengetahuan. Sebaliknya, warisan pengetahuan astronomi dari negeri Barat memperoleh tempat dalam khazanah ilmu pengetahuan. “Pengetahuan lokal pada masa kolonial itu selalu dianggap remeh. Kita ini dianggap sebagai sehimpunan manusia yang tidak saintifik. Tidak punya scientific mind . Kita tidak punya hitung-hitungan, dan seterusnya,” kata Hilmar. Keterputusan dengan Masa Lalu Anggapan remeh itu kemudian mendekam secara turun-temurun di pikiran generasi berikutnya. Mereka enggan mempelajari lagi warisan pengetahuan lokal tentang astronomi. Akibatnya generasi-generasi setelahnya menjadi terputus dengan pengetahuan lokal tentang astronomi. “Kita ini kadang-kadang merasa inferior karena yang satu sudah berkembang, punya institusi macam-macam, sudah menghasilkan begitu banyak temuan dan seterusnya, sementara kita ini belum apa-apa. Padahal kita sebetulnya punya khazanah yang cukup kaya,” ungkap Hilmar. Widya Sawitar, staf Planetarium dan Observatorium Jakarta, menegaskan pandangan Hilmar Farid. Dia mengatakan bahwa pembangunan Candi Borobudur pada abad ke-8 tidak terlepas dari pengetahuan lokal tentang astronomi. Peletakan batu pertama Candi Borobudur memperhitungkan keberadaan sebuah bintang bernama Polaris (Bintang Utara). “Jadi kalau kita mau mencari tahu bagaimana mengarahkan, atau meletakkan batu pertama candi, ternyata dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa hal itu merujuk kepada sebuah bintang, Polaris,” kata Widya. Keberadaan Polaris berfungsi untuk menandai arah utara. Melalui keberadaan Polaris, pekerja Borobudur dapat meneruskan tahap pembangunan berikutnya. Penelitian Widya juga memperlihatkan kekariban masyarakat Nusantara dengan pengetahuan astronomi. Widya menyebutnya sebagai budaya astronomi Nusantara. Dia mengambil contoh budaya astronomi dari khazanah Jawa. Widya menunjukkan penamaan matahari dalam kebudayaan masyarakat Jawa di daerah Yogyakarta dan Surakarta. Dia mencatat terdapat sekira 90 nama untuk menyebut matahari. Masing-masing nama memiliki makna tersendiri, tetapi objeknya tetap sama dan satu jua. Kiri-kanan: Riser Fahdiran, Hilmar Farid, Premana W. Premadi, dan Avivah Yamani, dalam Sarasehan 50 Tahun Planetarium dan Observatorium Jakarta, 27 April 2019. (Hendaru Tri Hanggoro/Historia) Widya kemudian mempelajari Serat Centhini. Dia menemukan sejumlah nama untuk bintang. “Tidak dapat dipungkiri apa yang kita sebutkan juga ada akulturasi antara budaya Jawa dan India,” kata Widya. Nama-nama itu antara lain lintang, kartika, talilintangan, dan banyak lainnya. Dalam Pranoto Wongso , bagian dari Serat Centhini , Widya juga banyak menemukan penamaan terhadap gugus-gugus bintang, planet, dan galaksi. Salah satu gugus bintang bahkan menjadi pedoman musim. Namanya gugus Lintang Kartika. Dalam bahasa Latin terkenal sebagai Pleiades . Gugus bintang ini termasuk dalam rasi bintang Taurus. Tembang-tembang Jawa pun begitu erat kaitannya dengan astronomi. “Saya juga menemukan tembang di sini yang banyak memuat nama benda langit. Ada rasi bintang Layang-Layang, Gubug Penceng. Ada gugus bintang Cruze di sana, ada Prahu Pegat, itu planet Mars. Dalam tembang juga ada Kali sebagai simbolisasi Kali Srayu yang melambangkan galaksi Bimasakti,” kata Widya. Tak ketinggalan soal teori penciptaan alam semesta. Setiap peradaban selalu memiliki gagasan tentang asal mula penciptaan alam semesta menurut versi masing-masing. Legenda Jawa pun menyebutkan bagaimana alam semesta tercipta. Ini berkaitan dengan penciptaan tokoh panakawan bernama Semar atau Hyang Ismaya. Jalan Perdamaian Beralih ke wilayah lain di Nusantara, tersua pula budaya astronomi. Ini terangkum di dalam banyak buku-buku terkenal berbahasa Melayu seperti Bustan al-Salatin , Taj al-Salatin , dan Hikayat Bayan Budiman . Semua buku mengandung pengetahuan astronomi dan ilmu falak. Orang bisa menguak kedalaman budaya astronomi tersebut melalui karya Tatiana Denisova, "Orientation, Navigation and Seafaring in Malay Islamic Historiography from the 4th to 19th Centuries", termuat dalam buku berjudul CASIS, UTM KL—Seminar & Workshop, The Astrolabe: Its History & Application . “Itu contoh-contoh saja bagaimana keterkaitan antara benda langit dengan budaya masyarakat di kesehariaannya. Itu contoh budaya astronomi,” kata Widya. Hilmar mengatakan kekayaan khazanah budaya dan pengetahuan lokal tentang astronomi tersebut hendaknya jangan sampai membuat orang meromantisasinya. Menurutnya sikap tersebut tidak produktif. “Orang jenis ini mengatakan bahwa kita punya peradaban yang besar di masa lalu, sudah punya teknologi canggih dan seterusnya . Dan pekerjaan yang dilakukan oleh orang seperti ini adalah menunggu." Hilmar mengatakan Indonesia punya peluang mengeksplorasi budaya dan pengetahuan lokal tentang astronomi bersama dengan astronomi modern untuk kebutuhan praktis hidup sehari-hari. Dia tidak sepakat memosisikan kearifan lokal dan sains modern secara berlawanan. “Itu menurut saya juga bukan sikap yang baik untuk kemajuan. Keduanya sebetulnya bisa sangat saling menyumbang, saling memperkuat,” ujar Hilmar. Hilmar berharap Planetarium dan Observatorium Jakarta dapat menjadi pivotal role , poros dari pengembangan dan pemanfaatan pengetahuan, dari dialog yang sehat antara astronomi modern dengan kearifan-kearifan lokal tentang astronomi yang sudah lama ada dan menyejarah.





















