Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Cinta Kasih Susi Susanti untuk Negeri
SIAPA tak kenal Susi Susanti? Ikon bulutangkis tunggal putri negeri ini yang jadi idola banyak manusia. Namanya bertengger paling puncak di ranah olahraga saat Olimpiade Barcelona 1992, di mana Susi mempersembahkan medali emas pertama untuk Indonesia di ajang olahraga multicabang terakbar itu. Prestasi itu sudah umum diketahui masyarakat. Pun dengan kisah kasih Susi dengan Alan Budikusuma, pebulutangkis putra yang juga mempersembahkan emas untuk Indonesia di pesta olahraga yang sama. Namun, tidak banyak orang tahu bagaimana perjuangan Susi dan Alan yang menguras keringat dan air mata di balik prestasi mereka. Sisi-sisi itulah yang akan jadi highlight dalam kisah Susi Susanti yang akan diangkat ke layar lebar dengan judul Susi Susanti: Love All oleh Damn! I Love Indonesia bekerjasama dengan Oreima Films dan East West Synergy. Selain diproduseri Daniel Mananta, Susi Susanti: Love All disutradarai sineas muda Sim F. “Film ini ingin menyampaikan bahwa mengasihi adalah jawaban dari semua tantangan yang dialami oleh seorang Susi menjadi seorang juara dunia dan dirinya sendiri. Film ini harus ditonton karena akan banyak hal yang tidak pernah masyarakat tahu latar belakang Susi yang bisa menjadi seorang juara dunia dan legenda,” ungkap Sim F ketika dihubungi Historia, Kamis, 24 Januari 2019. Susi Susanti: Love All berawal dari obsesi Daniel. Idenya sudah mulai eksis di kepala mantan VJ MTV itu sejak 2012, tapi baru bisa direalisasikan pada 2018. “Bisa dibilang lebih ke passion gue punya sebuah misi menyebarkan cerita tentang cinta. Susi Susanti punya cerita tentang cinta terhadap negara, keluarga, olahraga yang digelutinya, terhadap pasangannya (Alan Budikusuma, red. ),” kata Daniel, dilansir Kumparan , 20 September 2018. Setelah beberapa kali menemui sejumlah sutradara, Daniel mempercayakan project ini kepada Sim F yang sudah malang melintang menggarap iklan dan video music . “Ya, ini project -nya Daniel Mananta dan dia menawarkannya ke saya untuk men- direct film ini. Bagi saya, Susi dan Alan adalah sosok yang sangat luar biasa dedikasi hidup mereka untuk bulutangkis dan negara ini,” ujar Sim F. Laura Basuki dirasa paling pas memerankan Susi Susanti. (Instagram @laurabas) Untuk pemilihan para pemeran Susi Susanti Love All , Sim F menangani hampir semuanya. Dia lalu memilih Laura Basuki untuk memerankan Susi dan Dion Wiyoko untuk peran Alan. Untuk memerankan Susi, Laura tak setengah-setengah. Sampai berminggu-minggu dia latihan bulutangkis dilatih langsung oleh Liang Chiu Hsia, pelatih asli Susi Susanti. “Laura sanggup membuat tokoh legenda yang kita banggakan ini, real di mata saya. Bahkan energi yang diberikan Laura untuk memerankan Susi begitu luar biasa kerja kerasnya. Dion juga kerja keras memerankan Alan. Mereka berdua riset dan bertemu sendiri dengan Susi dan Alan,” lanjutnya. Perjuangan dan Pengorbanan Susi dan Alan Selain Laura dan Dion, Susi Susanti: Love All akan diramaikan aktris Jenny Zhang, yang berperan sebagai pelatih Susi, Liang Chiu Hsia; Kelly Tandiono sebagai Sarwendah Kusumawardhani, pesaing terberat Susi; dan Farhan (Muhammad Farhan) sebagai Ketua PBSI 1985-1993 Jenderal Try Sutrisno. “Sebetulnya negara ini berutang banyak pada Alan dan Susi. Nanti di film kita akan tahu utang apa yang lama tidak kita lunasi pada mereka. Saya sendiri merepresentasikan pemerintah, Ketua PBSI,” timpal Farhan, dikutip Kumparan , 22 September 2018. Sudah jadi rahasia umum bahwa di masa Try Sutrisno memimpin PBSI, banyak keluhan yang keluar dari para pebulutangkis. Pasalnya, pendapatan mereka, baik prize money (pendapatan hasil kejuaraan) maupun uang saku, dipotong 50 persen untuk menyehatkan neraca keuangan PBSI. Beberapa pemain lalu memilih keluar, sementara Susi dan Alan bertahan. “Ya itu keadaan yang harus kita terima waktu itu. Gaji, prize money di- cut separuh. Ya kita enggak bisa banyak protes, kan. Tapi kami berdua sampai dalam pemikiran bahwa jangan sampai dikalahkan dan menyalahkan situasi. Itu prinsip saya sama Susi. Apapun yang terjadi, saya sama Susi tetap commit karena sudah dipilih dalam Pelatnas,” terang Alan saat ditemui Historia , 15 Januari 2019. Tapi yang menjadi masalah bagi Susi, Alan, dan banyak pemain lain bukan hanya soal pendapatan dan tantangan fisik jelang Olimpiade 1992. Diskriminasi lantaran mereka berasal dari etnis Tionghoa juga menyusahkan sepanjang karier mereka. Alan ingat, hal paling pahit adalah kebijakan negara yang mewajibkan setiap orang Tionghoa memiliki Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) sebagai bukti nasionalisme mereka. “Terus terang saya kecewa. Kita kan juga lahir di Indonesia. Orangtua kami juga lahir di sini. Kita pun kelak ingin meninggal di Indonesia. Makanya saya selalu mempertanyakan, SBKRI kenapa harus ada? Kenapa kami dipertanyakan tidak nasionalis? Padahal kami nasionalis dan bangga dengan Indonesia,” kata Alan dengan mata berkaca-kaca. Sebagai sosok yang juga lantang berbicara mengenai diskriminasi rasialis, produser Daniel agaknya bakal memberi porsi lebih terhadap soal tekanan mental yang dialami Susi dan Alan dalam Susi Susanti: Love All . “Untuk detailnya, belum bisa saya sampaikan. Intinya, film ini biopik Susi Susanti sebagai seorang atlet bulutangkis. Untuk cerita, mereka (Susi dan Alan) menyerahkan semuanya ke kita. Mereka membantu kita banyak hal,” tambah Sim F. Dalam menggarap film ini, Sim serius melakukan riset, antara lain dengan menemui langsung dua pasutri pemenang Olimpiade Barcelona 1992 itu. Tantangannya adalah soal keotentikan tempat dan lokasi. Proses shooting -nya tak hanya di Jakarta, tapi juga di Tasikmalaya hingga Barcelona. “Susi dan Alan sangat membantu. Semakin riset, semakin tahu latar belakang kehidupan Susi. Yang tersulit adalah membawa era 1980-1990-an ke dalam film karena banyak lokasi yang sudah berubah, bahkan sudah enggak ada,” tambahnya. Film yang diprediksi bakal meledak ini diharapkan bisa menginspirasi agar semakin banyak film biopik bertema olahraga. Susi Susanti: Love All sendiri tercatat akan jadi film biopik bertema olahraga kedua setelah 3 Srikandi (2016) yang menggambarkan perjalanan tiga atlet panahan peraih medali pertama (perak) Indonesia di Olimpiade Seoul 1988. Sayang, kendati proses penggarapan Susi Susanti: Love All sudah selesai Oktober 2018 lalu, masyarakat mesti bersabar karena jadwal tayangnya belum diketahui. “Belum bisa diinfokan. Yang pasti akan ada di bioskop 2019 ini,” kata sang sutradara.
- Misi Soeharto di Papua
PROGRAM pemerintah untuk membangun jalan Trans-Papua diperkirakan rampung tahun ini. Hingga akhir 2018, telah tercapai pembangunan ruas jalan sepanjang sepanjang 1.982 km dari total target 4.330 km. Proyek ini menjadi program unggulan pembangunan infrastruktur periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo.
- Tukang Pukul dari Ternate
TANPA kenal lelah, tangan kanan Richard Mainaky terus mengayunkan raket untuk memukul kok yang diumpan tangan kirinya. Laju demi laju deras kok itu lalu mengarah ke Gloria Emanuelle Widjaja yang berada di seberang net. Begitu intensnya Richard menggojlok skill antisipasi anak asuhnya itu sampai tumpukan kok yang ada ludes. Gloria merupakan satu dari beberapa anak didik Icad (sapaan akrab Richard Mainaky) di Pelatnas PBSI, di mana dia sudah lebih dari dua dekade jadi spesialis pelatih ganda campuran. Pagi itu, Jumat 11 Januari 2019, Icad sedang tidak membesut pasangan top Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir lantaran keduanya sedang rehat untuk menghadapi Indonesia Masters 2019, yang –dihelat pada 22-27 Januari– akan jadi turnamen perpisahan Liliyana sebelum pensiun. Kendati usianya sudah 53 tahun, Icad masih segar dan fisiknya masih tegap dan kekar bak tukang pukul. Kerasnya genggaman saat bersalaman menandai reputasinya, yang kadang dijuluki “pelatih bertangan besi” atau “raja tega” oleh beberapa pemain binaannya. “Saya prinsip begini. Sebenarnya pelatih itu bukan pintar ya. Dia harus mau tegas, disiplin, kerja keras. Itu yang membuat atlet berhasil. Kalau pelatih cuma pintar tapi tidak tegas dan kerja keras, mau pemain bagaimanapun, akan sulit. Jadi saya punya prinsip harus tegas, agar pemain punya disiplin dan semua harus jalan,” ujarnya kepada Historia. Perantau dari Indonesia Timur Lahir di Ternate, Maluku Utara pada 23 Januari 1965, Richard Leonard Mainaky memiliki perangai keras. Icad gemar bertualang, berburu kelelawar, hingga berkelahi. Dalam 50 Kisah Sukses dan Inspiratif Diaspora Indonesia karya Fairuz Mumtaz disebutkan, Icad jadi anggota Dinasti Mainaky pertama yang lantas jadi panutan empat dari enam adiknya: Rionny Frederik Lambertus Mainaky, Rexy Ronald Mainaky, Marleve Mario Mainaky, dan Karel Leopold Mainaky. Richard Leonard Mainaky saat ditemui di Pelatnas PBSI. (Randy Wirayudha/Historia) Icad dan adik-adiknya dikenalkan bulutangkis oleh ayahnya, Jantje Rudolf Mainaky. “Papi saya itu juara bulutangkis se-Maluku. Jadi Papi saya kirim kita semua main bulutangkis. Padahal dulu zaman kecil, bukan itu cita-cita kami. Saya ingin jadi tentara. Rexy sebenarnya hobi sepakbola, Marleve senangnya tinju,” kenang Icad. Icad diarahkan bulutangkis oleh pamannya saat sudah diajak merantau ke Jakarta. Dia lalu masuk PB 56 dan dilatih Darius Pongoh, ayah dari pebulutangkis era 1980-an Lius Pongoh. Saat PB 56 bubar, Icad dibawa Darius ke PB Tangkas hingga mampu menembus Pelatnas PBSI Senayan pada 1989. Sayang, di Pelatnas kariernya kurang moncer. Penyababnya, tulis Broto Happy Windomisnowo dalam BaktikuBagiIndonesia , kemungkinan lantaran pelatih Christian Hadinata dan Atik Djauhari kerap membongkar-pasang Icad. Hingga awal 1990, Icad bergonta-ganti spesialisasi dari tunggal putra ke ganda putra, lantas ke ganda campuran. Dari gonta-ganti itu pula Icad punya banyak pasangan. Bermula dari Joko Mardianto, Icad lalu berpasangan dengan Icuk Sugiarto, Aryono Miranat, Imay Hendra, Bagus Setiadi, Thomas Indratjaya, hingga Ricky Subagdja. Tapi sampai diduetkan dengan Ricky, karier Icad pun sulit terdongkrak. Prestasi terbaik Icad bersama Ricky hanya menjuarai Polish International pada 1991. Tiga tahun berselang Icad, mundur dari Pelatnas. Dari debt collector ke pencetak juara Setelah pensiun dari Pelatnas, Icad ikut melatih di PB Tangkas selama dua tahun. Tapi lantaran masih banyak waktu luang, Icad sering ikut pamannya jadi debt collector alias penagih hutang. “Sambil melatih kan banyak lowong (waktu) ya. Ya namanya kita dari Maluku, kan . Kebetulan ada saudara saya, Om saya, semua kan memang pekerjaannya begitu. Ada yang jadi bodyguard lah, ada yang jadi preman lah, ada yang jadi tim debt collector.Nah , saya sempat ikut nagih-nagih hutang,” tutur Icad. Pada 1996, Icad kembali terjun ke dunia bulutangkis dengan menjadi pelatih di Pelatnas. “Awalnya sudah mulai keenakan jadi debt collector , tapi lalu dipanggil Koh Chris (Christian Hadinata). Ya saya senang. Beruntunglah saya. Kalau Koh Chris enggak panggil, mungkin ya bisa keterusan. Bisa-bisa jadi kayak John Kei, hahahaha …,” ujar Icad sambil bercanda. Selain banyak belajar dari Christian Hadinata, Icad mengaku mengandalkan insting dalam melatih. Takdir mengatakan, Icad ternyata lebih sukses jadi pelatih ketimbang jadi pemain. Kesuksesan Icad melatih dibuktikan antara lain dari prestasi duet ganda campuran Tri Kusharjanto/Minarti Timur yang prestasi tertingginya meraih medali perak Olimpiade Sydney 2000 dan keberhasilan Nova Widiyanto/Liliyana Natsir juara dunia tahun 2005. Icad kemudian membesut Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Owi/Butet). Keduanya berhasil juara All England, Kejuaraan Dunia, dan yang paling membanggakan, meraih medali emas Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro. Hampir bersamaan dengan masuknya Liliyana Natsir ke PB Djarum, Icad juga turut bergabung ke PB Djarum. Sejak 2018, Icad turut membantu memantau bibit-bibit muda di Audisi Umum PB Djarum selain sibuk mempersiapkan pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti untuk jadi penerus Owi/Butet.
- Ketua Umum PSSI Mundur karena Malu
KEJUTAN datang dari Kongres PSSI di Sofitel Hotel, Nusa Dua, Bali, Minggu 20 Januari 2019. Di hadapan para peserta kongres, Edy Rahmayadi menyatakan mundur dari jabatannya sebagai ketua umum. Selain karena ingin fokus mengurus Sumatra Utara sebagai gubernur, Edy menyangkal ingin lari dari masalah yang melanda PSSI belakangan ini. Sebagaimana diketahui, belakangan sepakbola Indonesia kembali diguncang “gempa dahsyat” bernama skandal pengaturan skor. Satgas Antimafia yang dibentuk Kapolri sudah menciduk sepuluh tersangka match fixing . Kendati begitu, eks Pangkostrad itu mengaku keputusannya mundur bukan ingin menghindar dari perkara itu. “Biar saya keluar demi PSSI yang lebih baik. Demi Allah bukan karena saya mau menyerah. Tapi kepentingan bangsa ini segala-galanya. Saya mundur bukan karena saya tak bertanggung jawab. Mudah-mudahan wartawan membantu PSSI lebih baik,” kata Edy dalam pidatonya, dikutip Kumparan , Senin 21 Januari 2019. Edy Rahmayadi menyerahkan jabatan kepada Joko Driyono (pssi.org) Dengan begitu, menurut statuta PSSI, Wakil Ketua Umum (Waketum) Joko Driyono akan menjadi pelaksana tugas (plt) hingga masa periode resmi Edy berakhir pada 2020. Tapi toh setelah pengangkatannya sebagai plt, tetap deras di lini masa media sosial muncul tanda pagar #JokoDriyonoOut. Pertanda bahwa sebagian pecinta bola menginginkan sosok pemimpin dari “rezim” berbeda. Belum lagi Joko Driyono juga masuk di daftar figur yang mesti ikut diperiksa Satgas Antimafia Polri sebagai saksi. Sepakbola gajah Guncangan terhadap PSSI hingga mundurnya sang ketum bukan terjadi kali ini saja. Sekira 24 tahun lalu, Azwar Anas juga mundur sebagai ketum PSSI karena timnas Indonesia melakoni dagelan “sepakbola gajah” di Piala Tiger 1998 (kini AFF Cup). Mundurnya Azwar mengharuskan Agum Gumelar mengisi jabatannya. Retno Kustiati dan Fenty Effendy dalam biografi Agum Gumelar: Jenderal Bersenjata Nurani mengungkapkan insiden “sepakbola gajah” terjadi pada 31 Agustus 1998, tatkala timnas Indonesia meladeni Thailand di partai terakhir Grup A Piala Tiger. Dalam laga yang berjalan alot dengan kondisi lapangan Thống Nhất Stadium yang buruk itu, Indonesia sengaja kalah 2-3 dari Thailand. “Mursyid Effendi, bek timnas Indonesia, melakukan gol bunuh diri sehingga membuat Indonesia kalah 2-3. Sebenarnya, sejak awal kedua tim ini tidak menunjukkan sportivitas berolahraga. Baik Indonesia maupun Thailand sama-sama tidak mau menang karena menghindari bertemu tuan rumah Vietnam di semifinal. Thailand memang tidak sportif tapi Indonesia lebih tidak sportif lagi dengan gol bunuh diri itu,” tulis Retno dan Fenty. Di semifinal, Indonesia dikalahkan Singapura (1-2) yang keluar sebagai juara setelah mengalahkan Vietnam (1-0). Sedangkan Indonesia menempati posisi ketiga setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti (5-4). Skandal itu membuat FIFA menjatuhkan sanksi: Mursyid dilarang bertanding seumur hidup, dan masing-masing federasi Indonesia dan Thailand didenda US$40 ribu. Insiden ini juga jadi tamparan keras buat Azwar Anas. “Ya, Azwar Anas sangat terpukul, dan sebagai pemimpin, sebagai ketua umum PSSI yang bertanggung jawab, dia mengundurkan diri secara ksatria,” tulis Abrar Yusra dalam biografi Azwar Anas:Teladan dari Ranah Minang. Azwar Anas (kiri). (Repro Azwar Anas: Teladan dari Ranah Minang ). Keputusan Azwar mengundurkan diri telah bulat setelah Agum Gumelar berkenan menggantikannya. “Tolonglah, Gum. Bapak sudah capek,” ungkap Azwar kepada Agum. Keputusan mundur Azwar diumumkan pada akhir Agustus 1998. “Saya mundur secara ksatria. Orang-orang angkatan saya masih bekerja menurut nilai-nilai. Kami tidak bekerja dengan target utama mencari uang, meskipun uang itu perlu. Kehormatan atau martabat adalah yang nomor satu. Kami tidak sanggup menahan rasa malu, apalagi malu sebagai bangsa! Meskipun demikian, saya tidaklah heran jika ada yang berpendapat bahwa sikap saya terhadap kasus-kasus sepak bola gajah berlebih-lebihan,” kata Azwar . Agum baru secara resmi diangkat jadi pejabat ketua umum pada Sidang Paripurna PSSI pada 30 Oktober 1998. Azwar mengaku percaya pada Agum yang berjanji membenahi PSSI dari sisi organisasi maupun SDM. “Dia bukan orang baru di PSSI. Saya kenal betul dengannya ketika kami sama-sama menjadi pengurus PSSI pada tahun 1991 hingga 1995,” kata Azwar.
- Gertak Sambal ala Timur Pane
MENTERI Pertahanan Jenderal (Purn.) Ryamizard Ryacudu sesumbar. Di hadapan awak media, Ryamizard berkata , “Kalau untuk perang 1000 tahun kita mampu kok!” Seruan itu dilontarkan menanggapi pernyataan calon presiden nomor dua, Prabowo Subianto. Dalam pidato kebangsaannya, Prabowo mengatakan Indonesia hanya mampu berperang selama tiga hari karena terbatasnya ketersediaan peluru. Ucapan Prabowo sendiri menyitir pernyataan Ryamizard dalam twit- nya hasil kajian bersama Kementerian ESDM. Pernyataan Ryamizard soal daya tempur angkatan perang mengingatkan kita pada sosok Timur Pane. Ryamizard dan Timur Pane sama-sama jenderal. Bedanya, Ryamizard adalah jenderal betulan. Pada 2002-2005, Ryamizard adalah orang nomor satu di TNI AD dengan jabatan kepala staf (KASAD). Sementara Timur Pane merupakan tokoh laskar yang mengangkat dirinya sendiri sebagai jenderal mayor. Sebelum menjadi pentolan laskar, Timur Pane dikenal sebagai bandit dan copet di Kota Medan. Namanya kemudian sohor tatkala mengorganisasi pasukan copet dan preman dalam pertempuran Medan Area. Lakonnya dalam sejarah revolusi disebut-sebut menginspirasi sineas Asrul Sani menciptakan karakter Naga Bonar , film yang diproduksi pada 1987 dengan peran utama aktor Deddy Mizwar. Janji Merebut Medan Pada 15 Juli 1947, Mohammad Radjab, wartawan Antara, mewawancarai Timur Pane di markasnya di Kota Prapat yang sejuk, terletak di tepi Danau Toba. Radjab telah mendapat kabar bahwa Timur Pane seorang figur yang terkenal di Sumatera Timur. “Mungkin juga (Timur Pane) sangat ditakuti, karena tindakannya kerapkali radikal, dan musuh yang ditangkapnya terus dipotong saja,” ujar Radjab dalam reportasenya Tjatatan di Sumatera. Reputasi bengis Timur Pane yang sedemikian rupa itu tampaknya terdengar sampai ke Jawa. Panglima Komandemen Jawa Kolonel Abdul Haris Nasution menyebut Timur Pane sebagai pemimpin legiun “Napindo Naga Terbang”, barisan laskar terkuat di Sumatera Utara. Selain itu, Pasukan Timur Pane suka menebar kekacauan ke kalangan rakyat maupun TRI. Yang paling meresahkan adalah menyerobot basis-basis ekonomi milik pemerintah. “Pasukan ini menduduki kebun-kebun,” catat Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 4: Periode Linggajati. “Maka terjadilah bentrokan antara Napindo dan tentara beserta polisi.” Timur Pane sendiri, kata Nasution berpangkat kolonel. Karena pengaruhnya besar di kalangan laskar, pimpinan Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta memberi pangkat sementara jenderal mayor kepada Timur Pane. Dalam lagaknya, Timur Pane punya ciri khas. Sebagaimana dituturkan Maraden Panggabean dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi , Timur Pane gemar sekali memasang bendera kuning ala Jepang pada kendaraannya untuk menunjukkan bahwa perwira dalam kendaraan itu seorang perwira tinggi, tingkat jenderal. Kepada Radjab, Timur Pane berkata bahwa persediaan alat dan senjatanya cukup untuk berperang delapan belas tahun. Apabila pertempuran pecah lagi di Medan, kota itu dapat direbut oleh pasukannya dalam jangka waktu 24 jam. Radjab hanya bisa terheran-heran. Dia sendiri tak begitu yakin dengan ucapan Timur Pane. Menurutnya, sang jenderal mayor bicara berlebihan. “Seorang jenderal pada pendapat saya, tentulah lebih tepat jika ia berbicara dengan meriam, mortir, mitraliur, dan peluru, daripada dengan lidah,” demikian kata Radjab. Pembuktian yang Gagal Pada 27 Juli 1947, Wakil Presiden Mohammad Hatta berkunjung ke Pematang Siantar, Sumatera Timur. Semua pemimpin barisan bersenjata dikumpulkan baik dari kalangan tentara maupun laskar. Timur Pane datang dari Tapanuli menyambut kedatangan Hatta berikut dengan beberapa golongan laskar dan beratus pucuk senjata. Di lapangan terbuka, Hatta berpidato dan menganjurkan untuk memasuki kota Medan. Saat itu, Belanda baru saja melancarkan agresinya yang pertama. “Pada hari itu juga kuperintahkan kepadanya (Timur Pane) memasuki daerah Belanda sekitar Medan,” kata Hatta dalam otobiografinya Untuk Negeriku Jilid 3: Menuju Gerbang Kemerdekaan. Timur Pane menyanggupi perintah Hatta. Dia berjanji untuk merebut kembali kota Medan dari tangan tentara Belanda. Segenap laskar rakyat disitu bersorak sorai. Semangat bertempur menggelora. “Mulai saat itu berkumandanglah semboyan: rebut kembali kota Medan dari tangan Belanda. Mari bersembahyang Hari Raya Idilfitri di Medan,” tulis Edisaputra dalam Bedjo: Harimau Sumatera dalam Perang Kemerdekaan . Namun keesokan harinya, Belanda melakukan pendaratan besar-besaran di Pantai Cermin, gerbang laut untuk memasuki kota Medan. Militer Belanda berkekuatan 500 orang prajurit yang diangkut oleh tujuh kapal. Pendaratan tentara Belanda mendapat hadangan tetapi bukan dari pasukan Timur Pane. “Dalam gerakan itu batalion KNIL 6 dan 4 mendapat perlawan kuat dari pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mempertahankan setiap jembatan dan persimpangan,” tulis Pramoedya Ananta Toer dkk dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid 3 (1947). Meski terjadi pertempuran sengit, pertahanan kota Medan akhirnya jebol. Dalam waktu singkat, tentara Belanda mencapai jalan besar yang menghubungkan Medan dan Pematang Siantar. Sementara Timur Pane dan pasukannya menyingkir kembali ke markasnya di Prapat. Sesumbarnya untuk merebut kota Medan dalam 24 jam ternyata hanya gertak sambal saja.
- Mengenal Empat Perempuan Pertama di Dewan Kota
KEHADIRAN perempuan Indonesia di legislatif merupakan hasil dari perjuangan panjang untuk mendapatkan hak pilih yang fondasinya dimulai dari jajaran Dewan Kota. Usaha tersebut bermula ketika Cornelia Hendrika Razoux Schultz-Metzer ditunjuk sebagai anggota Dewan Rakyat pada 1935. Perempuan Indonesia keberatan atas penunjukan itu lantaran tak ada wakil perempuan pribumi di Dewan Rakyat. Mereka lantas memprotes pemerintah Hindia Belanda agar memberikan hak pilih pada perempuan Indonesia. Kendati pemerintah mengabaikan protes itu, Cornelia mau mendengarkannya. Pada 1937, dia ikut mengajukan mosi mendesak pemerintah kolonial memberikan hak pilih perempuan dari semua kelompok masyarakat. Usul Cornelia, tulis Susan Blackburn dalam Women and the State in Modern Indonesia, juga diabaikan Dewan Rakyat. Desakan pada pemerintah Belanda terus dilancarkan. Banyaknya protes membuat pemerintah akhirnya mengabulkan keinginan mereka. Pemerintah menjamin hak pilih pasif perempuan dari semua ras untuk mengikuti pemilihan Dewan Kota (Gemeente Raad). Tapi para perempuan tidak punya hak untuk memilih dan hanya bisa dipilih. “Kemenangan itu 100% tergantung dari kemauannya kaum laki-laki karena kita, kaum perempuan, tidak berhak memilih anggota-anggota dewan gemeente,” tulis Maria Ullfah dalam artikelnya di Majalah Isteri Indonesia tahun 1941, “Soal Hak Pilih”. Pemberian hak pilih pasif di tingkat Dewan Kota itu menjadi setitik cahaya bagi gerakan perempuan. Menanggapi pemberian hak pilih pasif Dewan Kota pada Februari 1938, para perempuan kembali berkumpul. Kongres Perempuan Indonesia (KPI) III di Bandung, Juli 1938, membahas tentang kemungkinan diraihnya hak pilih aktif bagi perempuan dan strategi mengajukan wakil perempuan di Dewan Kota dalam pemilihan berikutnya. Hasilnya, empat perempuan Indonesia terpilih di Dewan Kota pada 1939. Siapa saja mereka? Emma Poeradiredja Emma malang-melintang dalam dunia pergerakan bersama beragam organisasi. Sejak mahasiswa dia aktif di Jong Java dan mengusulkan agar perempuan menduduki jabatan di organisasi tersebut karena melulu didominasi laki-laki. Sembari aktif di Jong Java, Emma rutin menulis di Majalah Tri Koro Darmo . Selepas dari Jong Java, Emma bergabung dengan Jong Islaminten Bond (JIB) pada 1925. Kariernya melesat. Tak lama setelah masuk JIB, Emma dipercaya menjabat sebagai wakil JIB mendampingi Ir Moh. Nur. Pada akhir 1925, Emma naik menjadi ketua JIB, organisasi yang diwakilinya di Kongres Pemuda Indonesia. Tergerak dengan semangat Kongres Pemuda Indonesia I tahun 1927, Emma mendirikan Dameskring dengan tujuan memupuk semangat kepemimpinan perempuan. Anggotanya terdiri dari sembilan perempuan muda di Jawa Barat dengan rentang usia 17-23 tahun. Emma, tulis Susan, merupakan tokoh penting dalam gerakan perempuan dan nasionalis di Jawa Barat. Pada peristiwa Sumpah Pemuda, Oktober 1928, Emma menjadi satu dari sedikit perempuan yang hadir. Pada April 1930, dia kembali mendirikan organisasi perempuan bernama Pasundan Istri (Pasi). Di Kongres Perempuan Indoensia III di Bandung, Emma menjabat sebagai ketua kongres. Hasil kongres pimpinan Emma inilah yang menyepakati gerakan mulai mengawal isu hak pilih perempuan pribumi dalam tubuh parlemen Hindia. Keaktifan Emma memuluskan jalannya menduduki kursi anggota Dewan Kota Bandung pada 1939. Siti Sukaptinah Siti Sukaptinah atau Nyonya Sunario Mangunpuspito dikenal sebagai tokoh elite dalam gerakan perempuan. Sukaptinah aktif di Kongres Perempuan Indonesia (KPI) sejak pertama diselenggarakan, 1928. Ketika beberapa organisasi perempuan dilebur menjadi Isteri Indonesia, Sukaptinah dipercaya menjadi ketua selama dua periode. Semasa kepemimpinannya, lewat Kongres Isteri Indonesia di Semarang, Isteri Indonesia memutuskan untuk memperingati KPI Pertama sebagai hari ibu. Di masa kepemimpinan Sukaptinah pula Isteri Indonesia getol mengawal isu hak pilih perempuan pribumi. Kedua usulan itu lantas dibawa ke KPI III di Bandung, yang dipimpin Emma Poeradiredja, dan diterima. Selain di gerakan perempuan, Sukaptinah juga aktif dalam gerakan nasionalis. Sejak sekolah di MULO Ngupasan, Yogyakarta, dia ikut Jong Java –tempat dia bertemu Sunario Mangunpuspito yang kemudian jadi suaminya. Sukaptinah juga ikut JIB cabang Yogyakarta dan menjadi ketua JIBDA. Ketika pindah ke Semarang, Sukaptinah bergabung dengan Parindra sekaligus menjadi ketua Isteri Indonesia. Ketika hak pilih perempuan pribumi akhirnya diberikan, Sukaptinah masuk ke Dewan Kota Semarang melalui Parindra. Siti Sundari Sudirman Sundari merupakan tokoh lama dalam gerakan perempuan. Di Kongres Perempuan Indonesia pertama (22 Desember 1928), Sundari yang hadir mewakili Putri Budi Sejati menjadi salah satu pembicaranya. Pidatonya membahas tentang nasib perempuan dalam perkawinan. Sundari mendorong perempuan untuk belajar, meningkatkan kepandaian diri, dan berani menyampaikan pendapat. “Kita kaum perempuan haruslah memperpandai diri kita agar bisa dengan sungguh-sungguh mencukupi kebutuhan umum sesuai dengan tuntutan kehidupan zaman,” kata Sundari dalam pidatonya seperti dikutip Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama. Putri Budi Sejati, organisasi asal Surabaya pimpinan Sundari atau dikenal dengan Nyonya Sudirman (bukan Siti Sundari adik dr. Soetomo), bergerak di bidang pemajuan dan pendidikan perempuan. Dalam Konferensi Putri Budi Sejati tahun 1937, Sundari mengatakan bahwa organisasinya tidak ikut dalam soal politik namun memberi kelonggaran pada anggotanya bila ingin bergerak di jalur politik. Sundari menikah dengan R. Soedirman, wakil pengurus besar Parindra di Surabaya. Lewat Parindra pula Sundari masuk Dewan Kota Suarabaya pada 1939. Sri Oemiati Sri Oemiati atau biasa disapa Yat, adalah adik dr. Soetomo, pendiri Budi Utomo. Perempuan kelahiran 1903 ini menempuh pendidikan dasar di Koningin Wilhelmina School, Yogyakarta. Dia lantas melanjutkan pendidikannya ke Lyceum di Batavia. Setamat sekolah, Oemiati menjadi guru sambil aktif dalam gerakan perempuan. Menurut Yat, gerakan perempuan dan guru berada di jalur yang sama, keduanya ingin mendidik dan memajukan kaum perempuan. Keseriusannya dalam bidang pendidikan membuat Yat memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Belanda pada 1927. Di Belanda, Yat kuliah selama dua tahun di Den Haag untuk mengambil ijazah guru kepala sekolah ( hoofdacte ). Bersamaan dengan itu, adik Yat, Siti Sundari, berangkat ke Leiden untuk belajar hukum dan kemudian berteman dekat dengan Maria Ullfah. Sepulang dari Belanda, Yat aktif dalam gerakan perempuan, terutama dalam Kongres Perempuan Indonesia. Ketika usaha perempuan untuk mendapatkan hak pilih di tingkat kota dikabulkan pemerintah, Yat diangkat untuk mengisi kursi Parindra yang kosong di Cirebon pada 1941, dua tahun setelah pemilihan anggota Dewan Kota.
- Prostitusi di Perkebunan Deli
BAGAIMANA caranya seorang perempuan Jawa di Deli bisa membeli sarung? Mereka harus susah payah mengumpulkan uang sen demi sen. Lima sen adalah harga sekali kencan melayani kuli seorang pria Tionghoa. Maka untuk bisa memperoleh sehelai sarung yang harganya 100 sen, mereka harus mampu melakukan persetubuhan dengan kuli pria Tionghoa sebanyak dua puluh kali. Demikianlah kisah perjuangan buruh perempuan yang berprofesi sebagai pelacur di perkebunan Deli, Sumatera Timur. Kondisi miris itu digambarkan ahli hukum Belanda Mr. J. van den Brand dalam buku ringkasnya bertajuk Milioenen uit Deli (Berjuta-juta dari Deli). Brand yang seorang pengacara di kota Medan dan pemimpin redaksi De Sumatera Post menerbitkan brosurnya pada 1902. Dalam brosurnya, Brand menyingkap penderitaan yang dialami para kuli terlebih kuli perempuan yang terpaksa menjadi sundal demi bertahan hidup. “Jangan heran bahwa wanita sebagai itu (pelacur) untuk memiliki sehelai sarung sebagai penutup badannya, harus menjual diri,” kata Brand.
- Jaringan Preman Sisa Orde Baru
PADA 1970-an, geng-geng remaja seperti Berlan dan Siliwangi Boys berkeliaran dan tak jarang melakukan kekerasan di Jakarta. Risih dengan kerusuhan yang mereka buat, Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) Jenderal TNI Soemitro memerintahkan agar kelompok-kelompok dan geng remaja dibubarkan. Namun, ada udang di balik batu. Pembubaran kelompok itu rupanya tak semata untuk mengurangi tingkat kejahatan. Kopkamtib menggunakan kelompok-kelompok tersebut sebagai alat penguatan kekuasaan negara. Kelompok baru kemudian bermunculan, seperti Pemuda Panca Marga, Angkatan Muda Siliwangi, Ikatan Pemuda Karya, dan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia. Semua organisasi masa (ormas) itu punya hubungan erat dengan mliter dan Golkar. Sebagian kelompok baru itu muncul di bawah naungan Ali Moertopo, intel kepercayaan Soeharto yang menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh kriminal.
- Ingin Seperti Beckenbauer
CHRISTIAN Hadinata tak pernah bisa jauh dari bulutangkis. Setelah gantung raket pada 1986, maestro yang akrab disapa Koh Chris itu tetap berkecimpung di olahraga tepok bulu sebagai pelatih di PB Djarum, lantas di Pelatnas PBSI. Selain ingin membalas budi kepada olahraga yang telah membesarkan namanya, alasan yang selalu diungkapkan Koh Chris adalah terinspirasi legenda sepakbola Jerman Franz Beckenbauer. Beckenbauer sudah jadi idolanya sejak muda. “Kalau idola (saya, red .) anehnya justru dari sepakbola, Franz Beckenbauer. Kenapa saya mengidolakan dia? Saya ingin meniru dia. Dalam artian, kariernya sebagai pemain hebat, jadi pelatih juga hebat,” cetus Koh Chris kepada Historia kala berbincang santai di Djarum Foundation, Jakarta, Senin (7/1/2019). Legenda hidup sepakbola dunia berjuluk Der Kaiser itu sohor lantaran sebagai pemain sukses mengantarkan Jerman Barat juara Piala Dunia 1974. Sebagai pelatih, Beckenbauer sukses membawa negerinya juara Piala Dunia 1990. Dalam sepakbola, Beckenbauer tentu bukan satu-satunya legenda jempolan. Tapi menurut Koh Chris, tak ada satupun yang kariernya selengkap Beckenbauer. “Pelé dan (Gerd) Müller itu pemain hebat tapi kan tidak melatih. Maradona juga luar biasa, sempat coba jadi pelatih tapi dia belum berhasil. Itulah saya bilang idola saya Franz Beckenbauer, itu semuanya lengkap. Saya ingin meniru seperti dia itu,” lanjut penggemar klub Spanyol Real Madrid itu. Beralih jadi Pelatih Lahir di Purwokerto, 11 Desember 1949, Christian memahat nama besarnya lewat beragam prestasi di olahraga bulutangkis. Nama besarnya terukir dari nomor ganda putra dan ganda campuran. Bersama Ade Chandra, Koh Chris jadi orang Asia dan Indonesia pertama yang mampu menjuarai ganda putra All England, tahun 1972. Bersama Imelda Wiguna, Koh Chris juga jadi atlet Asia dan Indonesia pertama yang juara ganda campuran All England (1979). Bukan hanya All England yang dijuarai Christian bersama Ade dan Imelda. Mereka mengoleksi sederet gelar perorangan maupun beregu, mulai dari Kejuaraan Dunia, Thomas Cup, hingga Asian Games. Setelah pensiun tahun 1986, Koh Chris memilih jadi pelatih. “Saya memberanikan diri untuk jadi pelatih. Selain ingin seperti Beckenbauer, saya juga ingin mengembalikan (jasa) lewat tenaga, pikiran, dan waktu untuk bisa tetap membangun prestasi bulutangkis nasional. Ya seperti pertandingan atletik lari estafet 4x100 meter saja. Jadi pelari pertama mungkin Pak Tan Joe Hok, pelari kedua Rudy Hartono, kemudian saya pelari ketiga dan lantas bagaimana saya bisa mengoper ke pelari berikutnya agar Indonesia tetap berprestasi di dunia,” ujarnya. Franz Beckenbauer mengantarkan Jerman juara Piala Dunia 1974 sebagai pemain dan 1990 sebagai pelatih. (dfb.de) Koh Chris memulainya dengan belajar dari sejumlah mentor di PB Djarum. Selain dengan Anwari, dia belajar melatih kepada Tahir Djide, Stanley Gouw, hingga teknokrat olahraga MF Siregar. “Pak Tahir itu dosen saya di STO. Kita sering diskusi tentang pelatihan fisik. Juga Stanley Gouw yang pertamakali memasangkan saya dengan Ade Chandra. Dari sisi motivasi, saya belajar dari Pak Siregar maupun Tan Joe Hok,” tambah Koh Chris. Belum lama jadi pelatih di PB Djarum, Koh Chris ditarik ke Pelatnas PBSI pada 1990 oleh MF Siregar yang kala itu menjabat Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI. Karier moncernya di ganda putra menjadi alasan mengapa Koh Chris ditawari melatih sektor ganda putra, tawaran yang langsung diambilnya. “Ya ini kesempatan emas mempraktekkan apa yang sudah saya dapat dari para senior saya. Bermodal keberanian, saya terima tugas itu. Waktu itu PBSI sedang persiapan untuk Olimpiade 1992 di Barcelona,” sambungnya. Di Barcelona 1992 itu, di mana bulutangkis baru pertamakali jadi cabang resmi olimpiade, Koh Chris memoles pasangan Eddy Hartono/Rudy Gunawan hingga meraih medali perak. Sejak itu, namanya sebagai pelatih kian berkibar. Tak ayal, tawaran melatih di luar negeri dengan gaji menggiurkan berdatangan. Namun, Koh Chris selalu menolak. “Alasannya sarat ikatan emosi karena bulutangkis Indonesia sudah menjadikan dirinya menjadi juara dan setelah usai jadi pemain, ingin membalas kebaikan itu,” tulis Monty P. Satiadarma dalam Rahasia Ketangguhan Mental Juara Christian Hadinata . Menjelang persiapan Olimpiade Atlanta 1996, Koh Chris “naik pangkat” jadi Kabid Pelatnas PBSI. Lewat kesuksesan duet hasil polesannya, Ricky Subagdja/Rexy Mainaky, Indonesia berhasil menjaga tradisi emas olimpiade di Atlanta. Di final yang menegangkan, Ricky/Rexy membungkam pasangan Malaysia Cheah Son Kit/Yap Kim Hock 5-15, 15-13, dan 15-12. Ricky Subagdja dan Rexy Mainaky di Olimpiade Atlanta 1996. (BWF Museum) “Itu momen paling manis buat saya sebagai pelatih. Saat persiapan, saya bilang pada mereka, saya enggak mau perak lagi. Kalau perak lagi berarti (prestasi ganda putra) enggak maju. Apalagi perunggu, turun dong prestasinya! Saya targetkan kalian emas. Berani, enggak? Siap, enggak? Mereka menyanggupi. Tentu hasil itu membanggakan sekali buat saya,” kenang Koh Chris. Prestasi Koh Chris sebagai pelatih tak hanya berhenti sampai di situ. Di Olimpiade Sydney 2000, dia kembali mengantarkan Tony Gunawan/Chandra Wijaya meraih emas ganda putra. Olimpiade, Kasih Tak Sampai Ada alasan tersendiri mengapa Koh Chris lebih bangga jika anak-anak asuhnya memetik emas olimpiade ketimbang gelar-gelar kejuaraan lain. Pasalnya, sepanjang kariernya sebagai pemain, ajang multievent inilah yang belum mampu dimenanginya buat Indonesia. Prestasinya di olimpiade paling banter hanya sekadar dua medali cabang demonstrasi, di Olimpiade Munich 1972. Dari olimpiade di negeri pesepakbola idolanya itu Ko h Chris membawa pulang sekeping emas ganda putra bersama Ade Chandra dan perunggu ganda campuran bersama Utami Dewi. “Ya, memang sayangnya saat masih jadi pemain, bulutangkis belum resmi jadi cabang olimpiade. Baru sekadar cabang eksebisi tahun 1972. Tapi 20 tahun kemudian saat saya jadi pelatih, baru diterima sebagai cabang resmi di Olimpiade Barcelona,” tutupnya.
- Cheng Ho Tak Menyerang Jawa
HUBUNGAN Tiongkok dan Jawa memang pernah tak baik ketika Raja Kertanagara memerintah menjelang masa akhir Singhasari. Kondisi itu yang sepertinya ingin diungkit oleh Ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang, M.S. Kaban melalui cuitan di akun twitter -nya, @hmskaban, Jumat (11/1). “Cheng Ho pernah bawa puluhan kapal lengkap dengan pasukan untuk serang Majapahit karena tidak mau tunduk bayar upeti pada kaisar China. Era Presiden Jokowi mendarat dengan aman dan tenang ribuan orang RRC di Morowali pake pesawat RR China Airlines. Apakah tampil lagi Gajah Mada dgn Bhayangkara nya,” cuit mantan menteri kehutanan itu. Sayangnya, yang sebenarnya terjadi berdasarkan catatan-catatan Tiongkok, Cheng Ho tak punya niat buruk pada Jawa, khususnya Majapahit. Bahkan, Tiongkok yang kala itu di bawah Dinasti Ming berhubungan baik dengan Majapahit. Jauh sebelum itu, Jawa adalah wilayah pertama di Nusantara yang menjalin hubungan bilateral dengan Tiongkok. Mulai tahun 131 M, Kerajaan Jawa berinisiatif memulai hubungan itu dengan mengirimkan utusannya. Nurni Wahyu Wuryandari, peneliti dari Pusat Studi Cina Universitas Indonesia, mengatakan kedatangan utusan Jawa itu disebutkan dalam catatan resmi kerajaan di Tiongkok, yaitu Hou Han Shu bab ke-6 dan bab ke-116 . Penyusunnya adalah sejarawan istana masa Dinasta Han (206 SM-220 M). Setelah itu, hubungan Jawa dan Tiongkok makin terjalin. Utusan-utusan yang datang dan dikirim dari Jawa terus muncul dalam catatan-catatan resmi kerajaan. Keadaan mulai berubah ketika Tiongkok dikuasai Mongol pada 1279 M. Penjabaran dalam naskah Sejarah Dinasti Yuan sebagian besar soal perseteruan dengan Jawa, khususnya dengan Singhasari. Khubilai Khan, kaisar Dinasti Yuan (1279-1294) mengirim utusan ke Jawa pada 1280, 1281, dan 1286. Dia menuntut Kertanagara, raja Singhasari, untuk mengakui kekuasaannya dengan mengirimkan anggota keluarga Singhasari ke istananya di Beijing. Namun, Kertanagara justru merusak wajah Meng Qi, utusan Mongol terakhir pada 1289, sebagai wujud pernolakan. Khubilai Khan pun marah dan mengirim tiga jenderalnya, Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing (bukan Cheng Ho) untuk menyerang Jawa. Adapun nama Cheng Ho, atau Zheng He, baru muncul dalam Ming Shi atau Sejarah Dinasti Ming. Dia diutus ke Jawa pada 1405. Dalam Sejarah Dinasti Ming, s ejarawan Dinasti Ming memasukkan namanya dalam bab biografi orang terkenal dengan judul Catatan Zheng He. “ Ini bisa dibilang merupakan dokumen resmi yang mewakili sudut pandang pemerintah Tiongkok,” kata Nurni. Menurut Nurni berbeda dengan catatan resmi Dinasti Yuan, dalam Sejarah Dinasti Ming s udah ada pengertian soal pentingnya hubungan dagang dan bagaimana menjaga hubungan dua negara walaupun Jawa dianggap pernah bersalah pada penguasa Tiongkok. “Kenapa sampai begitu?" kata Nurni. "Karena pertalian dagang kalau sampai putus rugi karena menyangkut uang dalam jumlah besar." Narasi tentang Majapahit pun cukup panjang dibandingkan catatan sejarah resmi pada dinasti sebelumnya. Majapahit dalam Sejarah Dinasti Ming muncul pada bab tentang “Jawa.” “Majapahit ada di tiga per lima bagian dari seluruh naskah,” kata Nurni. “Inilah naskah pertama yang memperlihatkan bahwa hubungan bilateral merupakan hal yang sangat penting.” Saking mesranya hubungan Jawa dan Dinasti Ming, dalam naskah tercatat lebih dari 30 kali utusan Jawa mengunjungi Tiongkok, lebih sering dibandingkan masa-masa sebelumnya. Terlepas dari itu, meski Jawa muncul dalam catatannya, Dinasti Ming hanya merujuk pada Jawa Timur. “Hubungan sangat pragmatis antarnegara kaitannya hanya dengan Majapahit,” ujar Nurni.
- Kepak Sayap Dara asal Yogyakarta
SEBUAH undangan dari aktivis perempuan India datang kepada Siti Sukaptinah (Nyonya Sunaryo Mangunpuspito) saat Perang Kemerdekaan masih berkecamuk. Undangan itu berisi permintaan agar Sukaptinah hadir dalam All Indian Women’s Congress yang diselenggarakan di Madras, November 1947. Sukaptinah bingung. Di satu sisi dia ingin datang untuk mengabarkan kemerdekaan Indonesia yang baru berumur dua tahun supaya mendapatkan pengakuan dari negara lain. Di sisi lain, dia tak punya modal. Jangankan paspor, uang pun tak ada. Berkunjung ke luar negeri di tengah situasi krisis menjadi hal yang agak muskil dilakukan. Tapi tekad Sukaptinah kadung membara. Bermodal kenekatan, dia akhirnya mengepalai keberangkatan delegasi Indonesia ke India. Sukaptinah ditemani Utami Suryadarma dan Sulianti Soekonto. Dalam rombongan itu hadir pula Herawati Diah, wartawan Harian Merdeka yang ditugaskan meliput. Mereka semua menumpang pesawat Kalingga Airlines milik Bijayananda (Biju) Patnaik, pengusaha dermawan India kepercayaan Jawaharlal Nehru. Patnaik kerap mengemban misi rahasia bolak-balik terbang ke Yogyakarta untuk membawakan obat-obatan juga bantuan lain untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kebetulan, kala itu Patnaik di Yogyakarta untuk menemui Sukarno. Informasi tentang rencana kepulangan Patnaik ke India didapat dari suami Utami, Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Soeriadi Suryadarma. Sukaptinah, kala itu merupakan anggota Badan Pekerja Komisi Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), langsung melobi sekretariat negara untuk menjadi perantara agar rombongan Korps Wanita Indonesia (Kowani) bisa menumpang pesawat Patnaik. Lobi Sukaptinah berhasil. Pesawat bertolak ke India pada akhir 1947. Saat transit di Singapura, rombongan disambut Mr. Oetojo Ramelan, kakak Utami, yang menjadi anggota perwakilan RI di Singapura. Utami menceritakan dalam memoarnya, Saya, Soeriadi, dan Tanah Air, selama di Singapura mereka mengurus siaran radio luar negeri dan mengadakan konferensi pers dengan para wartawan Singapura untuk memberitakan kemerdekaan Indonesia. Setelah menyelesaikan tugas, Sukaptinah dan rekan-rekannya cuci mata ke pusat perbelanjaan di Arab Street dan Change Aley. Mereka keasyikan jalan-jalan lantaran lama tak melihat barang mewah dan pernak-perik lucu. Alhasil, keempat perempuan itu terlambat sampai lapangan terbang. Muka masam Patnaik dan kru yang marah langsung menyambut mereka. Sesampainya di New Delhi, mereka langsung menggunakan kesempatan untuk menemui Mahatma Gandhi guna memperbincangkan kemerdekaan Indonesia. Baru setelah itu mereka terbang ke Madras, India Selatan. Di Madras, Sukaptinah dan rekan-rekan menginap di rumah Swaminatham yang juga peserta kongres. Sebagai Ketua Kowani dan kepala delegasi Indonesia, Sukaptinah menceritakan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang menarik simpati peserta kongres. Dalam kongres itu delegasi Indonesia berkenalan dengan tokoh perempuan India, seperti aktivis buruh dan ketua kongres Shrimati Anusuyabai Kale, penulis kenamaan Avabai Bomanji Wadia, dan pengacara perempuan Mithan Jamshed Lam. Mereka saling tukar pikiran, terlebih soal politik perempuan. Sukaptinah yang sudah malang-melintang dalam gerakan perempuan sejak era kolonial menemukan kesamaan perjuangan dengan perempuan India. Gerak dalam Politik Sepakterjang Sukaptinah dalam gerakan perempuan terkenal sejak era kolonial. Selain aktif di berbagai organisasi, seperti mengikuti kongres perempuan sejak pertama diadakan, Sukaptinah ikut membidani beberapa organisasi perempuan seperti Istri Indonesia. Sukaptinah ikut membubarkan Fujinkai dan menggantinya dengan Perwani yang merupakan fusi dari beberapa organisasi perempuan. Di pemerintahan, Sukaptinah pernah duduk di Dewan Kota Semarang (Gemeente Raad Semarang) sebagai wakil perempuan dari Parindra. Setelah dari Parindra, Sukaptinah bergabung dengan Masyumi pada 1946, persis setelah pindah dari Jakarta ke Yogyakarta bersama rombongan presiden. Ia masuk anggota Pengurus Besar (PB) Muslimat Masyumi, diketuai Zainab Damiri yang kelak menjadi perempuan pertama di DPRD DIY. Keaktifan Sukaptinah di Masyumi, tulis Sri Sjamsiar Issom dalam tesisnya “Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito Sosok Wanita Pergerakan Indonesia (1928-1956)” terus berlanjut hingga ia naik menjadi ketua PB Muslimat Masyumi. Pada 1950 ia menjadi anggota DPRS dan menjadi wakil ketua panitia Rancangan Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran. Pada pemilu 1955, Sukaptinah mencalonkan diri sebagai wakil perempuan dari Masyumi untuk pemilihan anggota DPR. Ia terpilih sebagai satu-satunya perempuan yang duduk di DPR plus menjadi anggota Dewan Konstituante. Ketika UU Perkawinan yang adil dibahas di parlemen, sikap Sukaptinah berubah. Jika di masa kolonial dia bergabung dan menjadi ketua Istri Indonesia yang menentang poligami, di parlemen dia tampak mendukung. Dukungan itu terlihat kala Komisi Nikah Talak dan Rujuk tak kunjung menggolkan RUU perkawinan yang adil. Nyonya Sumari, anggota DPR dari fraksi PNI, maju membawa usulan tentang hukum pernikahan yang menolak keras poligami. Usulan itu ditentang Sukaptinah. Perubahan sikap Sukaptinah, seperti ditulis Saskia Eleonora Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, lantaran ia datang dari golongan Islam. Menurut Saskia, perempuan yang tergabung dalam organisasi Islam sayap perempuan cenderung berada di posisi pro poligami. Hal ini lantaran induk organisasi mereka yang dikuasai kaum laki-laki mengambil posisi pro sehingga sayap perempuannya mau-tak-mau harus mengekor. Secara pribadi, beberapa anggota organisasi Islam sayap perempuan menolak poligami secara diam-diam atau memilih tak bersuara. Keaktifan Sukaptinah dalam tiga lembaga di kota yang berbeda membuatnya harus bolak-balik Yogyakarta-Jakarta-Bandung. Anak dan suaminya tinggal di Yogyakarta, kerja-kerja DPR dilakukan di Jakarta, sementara Konstituante di Bandung. Perjalanan Sukaptinah dari kota ke kota itu berakhir di masa Demokrasi Terpimpin ketika Sukarno membubarkan Masyumi dan PSI serta menekan simpatisannya. Karena partainya dibubarkan, otomatis Sukaptinah keluar dari DPR. Sukaptinah juga disingkirkan dari kepengurusan Kowani, seperti halnya Maria Ullfah. Sukaptinah kembali ke Yogyakarta dan tetap aktif dalam gerakan perempuan, antara lain dengan mendirikan Wanita Islam –organisasi perempuan independen yang bukan sayap organsasi– pada 1962. Sukaptinah juga membidani kelahiran Badan Musyawarah Wanita Islam Yogyakarta (BMWIY), semacam forum kerjasama antar organisasi perempuan Islam di Yogyakarta. Atas jasanya dibidang politik dan gerakan perempuan, pemerintah menganugerahinya Bintang Mahaputra paa 1993, dua tahun setelah Sukaptinah meninggal. Penerimaan anugerah itu diawakili Indiarto, anak Sukaptinah.
- Perjalanan Dinas Menyedihkan Demi Planetarium
SIAPA sangka Jena, kota kecil yang tenang di Jerman, punya pertautan dengan Jakarta? Kota ini menjadi rujukan para ilmuwan dalam membangun Planetarium. Di kota inilah ilmu astronomi berkembang pesat. Kemudian di sini pula planetarium modern pertama di dunia berdiri pada 1925.





















