Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Majakerta yang Dilupa
OBOR untuk upacara pembukaan Asian Games 2018 telah dinyalakan. Gempita perhelatan event olahraga multicabang terbesar Asia mulai membahana. Namun, kemeriahan di ibukota itu tak sampai ke Desa Majakerta di pesisir Indramayu, Jawa Barat. Desa seluas 2,5 kilometer persegi itu memang tak populer. Namanya sempat jadi berita ketika terjadi bencana pada 1995.
- Dari Majakerta ke Jakarta untuk Asia
OBOR Asian Games 2018 telah dinyalakan. Sumber apinya diambil dari api abadi di Stadion Nasional Dhyan Chand, New Delhi, India dan disatukan dengan api Mrapen, Jawa Tengah. Selama 35 hari, obor ini akan diarak sepanjang 18.000 km di 54 kota di 18 provinsi di Indonesia. Pejabat pemerintah, media massa, para atlet serta masyarakat menyambutnya dengan antusias. Pawai obor ini mengingatkan pada pawai obor Asian Games tahun 1962 yang juga diadakan di Indonesia.
- Pepera: Bersama Indonesia atau Mati
PAPUA, 8 Oktober 1968. Tiga orang tentara menjemput Joel Boray di kediamannya. Salah satu dari mereka mengetuk pintu rumah. Yang lain berkata: “Pak Joel Boray, ikut kami sebentar, diperiksa sebentar nanti pulang.” Tidak kuasa melawan, Joel dan kawan-kawannya terpaksa ikut. Joel Boray kena tipu. Sesampainya di markas tentara setempat, dia ditahan. Tentara mengunci mereka dalam satu ruangan dilanjutkan dengan pemukulan hingga berdarah-darah. Penganiayaan itu terjadi karena Joel nekad mengadakan demonstrasi. Dalam aksinya, Joel bersama guru-guru di Biak menolak Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang akan diseleggarakan pemerintah Indonesia. “Oh tidak bisa, kami harus memilih one man one vote karena itu yang paling bagus dengan New York Agreement (Perjanjian New York)” ujar Joel dalam “Koteka Lebih Baik dari Celana” termuat di kumpulan tulisan Bakti Pamong Praja Papua suntingan Leontinne Visser dan Amaponjos Marey. Joel adalah seorang pamong praja. Dia bekerja di kantor Kabupaten Biak sebagai anggota staf. Karena menentang Pepera, dia dikurung selama empat bulan di kompleks Angkatan Laut. “Kalau diadakan pemilihan satu orang satu suara, sudah jelas rakyat Papua senang memilih merdeka sendiri. Ah, itulah rahasianya,” kenang Joel. Satu Pilihan Polemik soal Pepera berkaitan erat dengan Perjanjian New York yang ditandatangani pada 1962. Pasal 18 yang mengatur tentang "pemerintah Indonesia dan penentuan nasib sendiri manyatakan rakyat Papua diberi kesempatan kebebasan memilih bergabung dengan Indonesia atau merdeka". Sementara mekanisme pemungutan suara dilakukan seturut dengan ketentuan internasional. Dalam butir (d) disebutkan, “Hak pilih semua orang dewasa, pria dan wanita yang merupakan penduduk pada waktu pendatanganan persetujuan dan pada waktu perwujudan penentuan nasib sendiri untuk ikut serta…” Dengan kata lain, jajak pendapat rakyat Papua seyogianya diperoleh lewat mekanisme satu orang satu suara. Namun dalam praktik, pemerintah Indonesia menerapkan metode delegasi. Cara ini dianggap tepat dengan kebudayaan Indonesia, disamping kesulitan biaya untuk penyelenggaraannya. Para pemilih diwakilkan lewat Dewan Musyawarah Pepera (DMP) yang dihimpun dari delapan kabupaten. Sekira 800.000 penduduk Papua saat itu diwakili oleh 1026 DMP. Siasat pemenangan Pepera yang demikian itu agaknya terjadi atas sepengetahuan dan inisiasi Menteri Dalam Negeri Amir Machmud. Dalam otobiografinya, Amir mengakui kementerian yang dipimpinnya paling bertanggung jawab atas penyelenggaraan Pepera. Di sisi lain, Presiden Soeharto telah berpesan agar Pepera jangan sampai gagal. Ketika berkunjung ke Irian Barat untuk meninjau persiapan Pepera, Amir mendapati kenyataan yang menohok. Sebagian rakyat Papua tidak begitu memperlihatkan simpatinya kepada Republik Indonesia. Kemungkinan kalah dalam Pepera cukup terbuka. “Bagi saya, dan juga bagi pemerintah Orde Baru, tidak ada pilihan, Irian Barat harus tetap dalam pangkuan Ibu Pertiwi,” kata Amir dalam H. Amir Machmud: Prajurit Pejuang . Mengenai sikap antipati masyarakat Papua, Amir berdalih. Menurutnya propaganda Belanda yang menjajah mereka sekian lama masih mengakar kuat. Jadi, tidak mengherankan apabila sebagian penduduk enggan bergabung dengan Republik. “Bagi saya status Irian Barat telah jelas yaitu wilayah Republik Indonesia. Sebab itu tidak perlu diperdebatkan lagi dari segi hukum internasional,” demikian pengakuan sang menteri. Indikasi Kecurangan Kesaksian pamong praja Papua dalam buku Bakti Pamong Praja Papua menyibak rupa-rupa penyimpangan yang terjadi. Jelang Pepera, tentara yang didatangkan dari luar Papua untuk operasi “pengamanan” kian masif. Tentara memobilisasi massa untuk berpihak kepada Indonesia. Mereka dikumpulkan dalam penampungan khusus serta harus menjalani masa pembinaan. Sebagian bahkan ada yang diboyong ke Jakarta untuk menerima indoktrinasi. “Mereka dicatat dan dianggap sebagai pejuang, kemudian dipilih oleh orang Indonesia untuk duduk dalam Dewan Musyawarah Pepera dan ikut dalam Pepera pada tahun 1969.” ungkap Dolf Faidiban yang pada saat Pepera menjabat Kepala Pendidikan Pemerintah Daerah di Jayapura. Dirk Bernardus Urus, Kepala Pemerintah Setempat di Bentuni mengatakan hal serupa. Menurutnya pemerintah Indonesia tidak mengenal kompromi ataupun menanyakan pendapat masyarakat. Katanya lagi, jika tidak menggunakan kekerasan barangkali Indonesia tidak akan memenangkan Pepera. “Pemerintah sudah menetapkan satu pilihan saja: Harus berintegrasi dengan Indonesia! Tidak ada jawaban lain.” Senada dengan kesaksian tadi, sejarawan Belanda Pieter Droogever dalam Tindakan Pilihan Bebas!: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri menguak pengakuan sejumlah peserta pemilih yang ditunjuk secara asal. Kebanyakan berasal dari Merauke, Wamena, Biak, dan Manokwari. Mereka dipaksa untuk mempelajari jawaban yang berkenan kepada Indonesia lalu membacakannya dengan ancaman mati. Lebih lanjut, Drooglever mengungkapkan, anggota DMP yang terjaring kemudian dikarantina dalam barak atau gedung sekolah selama berminggu-minggu. Akses mereka untuk terhubung ke dunia luar ditutup. Selanjutnya, mereka diinformasikan secara panjang lebar mengenai apa yang harus dilakukan, memilih bergabung dengan Indonesia. “Untuk mengambil hati mereka, tulis Drooglever, “Semua memiliki transistor, sebuah lampu senter, pakaian, dan sedikit uang. Semua itu barang berharga yang sangat tinggi nilainya.”
- Cinta Sultan Bersemi di Perpustakaan
SELEPAS belajar beladiri di Kadilangu, Kustiah, nama kecil Nyi Ageng Serang, harus berkunjung ke Keraton Yogyakarta. Kunjungannya merupakan bagian dari pengenalan budaya keraton sebelum kelak dia menjadi keluarga Kesultanan Yogyakarta. Ayah Kustiah, Panembahan Notoprojo, menjodohkannya dengan seorang putra mahkota bernama Raden Mas Sundoro. Ketika Kustiah berkunjung, sedang ada penyusunan naskah Babad Gianti sehinga dibangunlah perpustakaan. Kustiah sering mampir ke perpusatakaan itu untuk membaca buku-buku sejarah, agama, dan kebudayaan Jawa. Di perpustakaan itu pula Kustiah dan RM Sundoro sering membaca dan mendiskusikan isi buku bersama. Dari pertemuan rutin dan obrolan menyenangkan itu Raden Mas Sundoro, yang kelak bergelar Hamengku Buwono II, jatuh hati pada Kustiah yang masih belia. Namun, Kustiah justru punya pikiran berbeda. “Betapa terbatasnya hidup di keraton,” pikir Kustiah seperti ditulis Kayatun dalam skripsinya “Nyi Ageng Serang dalam Perang Diponegoro”. Di keraton, Kustiah menyaksikan bagaimana para perempuan harus bersikap karena terikat adat istiadat. “Pada saat itu ia mulai berpikir, bagaimana seandainya kelak ia benar-benar telah menjadi istri Mas Sundoro, tentunya ia tidak mau harus mengikuti segala aturan itu,” tulis Kayatun. Padahal, Kustiah masih ingin belajar banyak hal, seperti meningkatkan kemampuan beladiri atau memperdalam pengetahuan. Awal Perjodohan Dua Sahabat Raden Ajeng Kustiah Retno Edi merupakan putri Adipati Serang, desa terpencil di utara Solo, bernama Panembahan Notoprojo. Notoprojo merupakan kawan seperjuangan Pangeran Mangkubumi ketika Mataram perang melawan Belanda. Dalam pemberontakan Mangkubumi, Notoprojo memimpin pasukan di Serang yang ditugaskan merebut kembali wilayah Semarang dan Rembang. Setelah Mangkubumi dinobatkan jadi raja bergelar Sultan Hamengku Buwono I, dia meminta Notoprojo tinggal di keraton. Namun, Notoprojo menolak secara halus dengan bilang dirinya sudah terlalu sepuh untuk tinggal di keraton dan lebih memilih untuk kembali ke Serang. Mendengar jawaban itu, sultan mengajukan usul lain: menjodohkan kedua anak mereka, Raden Ajeng Kustinah dijodohkan dengan Putera Mahkota Raden Mas Sundoro. Perjodohan itu bertujuan agar persahabatan mereka tidak terputus kelak ketika keduanya sudah wafat. Setelah Sultan Hamengku Buwono I wafat, kerabat keraton mendesak agar pernikahan Kustiah dan Sundoro segera dilaksanakan. Kustiah mengiyakan ajakan Sundoro untuk menikah namun dia mengajukan syarat: mereka tidak harus tinggal bersama. Kustiah masih ingin memperdalam ilmu beladiri dan membutuhkan lebih banyak pengalaman hidup untuk memperkuat semangat juangnya. Kustiah meyakinkan calon suaminya untuk memenuhi keinginan itu. Raden Mas Sudoro atau Sultan Hamengku Buwono II menyepakati syarat Kustiah meski baginya suami-istri tidak tinggal bersama adalah hal yang lucu dan janggal. Menjelang hari pernikahan, Kustiah kembali mengajukan syarat: upacara pernikahan cukup secara simbolik saja. Sultan Hamengku Buwono II menerima syarat itu. Mereka pun menikah. Nama Kustiah berubah menjadi Raden Ajeng Kustiah Wulaningsih Retno Edi dan masuk dalam daftar kerabat keraton. Ketika kesehatan Panembahan Notoprojo memburuk, Kustiah meminta izin suaminya untuk merawat sang ayah. Sultan tidak bisa menolak keinginan Kustiah. Selama kepergian Kustiah, sultan menyadari bahwa mereka tidak cocok menjadi suami-istri. Sultan akhirnya memberi kebebasan pada Kustiah untuk memilih jodohnya sendiri. Pada 1787, mereka bercerai. Setelah berpisah, Kustiah menikah lagi dengan Pangeran Mutia Kusumowijoyo yang bergelar Pangeran Serang I sehingga dikenal sebagai Nyi Ageng Serang. “Gelar Nyi Ageng,” tulis Peter Carey dalam Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX, “dia dapat dari dinasnya di Korps ‘para nyai’ di Keraton Yogya. Sedangkan Serang, didapatnya karena menikahi Pangeran Serang.” Meski sudah bercerai, Sultan Hamengku Buwono II dan Nyi Ageng Serang masih menjalin hubungan baik. Sultan tak ingin melepaskan hubungan batin dengan perempuan yang dikenal kuat, tangguh, dan pintar itu. Mereka akhirnya menjadi besan ketika Kustinah, anak Nyi Ageng Serang, menikah dengan Pangeran Aria Adipati Mangkudiningrat, anak Sultan Hamengku Buwono II.
- Jalan Pintas Menuju Harta, Tahta, dan Wanita
ISI benak Dean Karny (Taron Egerton) sekonyong-konyong disesaki peluang saat bertemu Joe Hunt (Ansel Elgort), teman lama semasa SMA, di sebuah kafe elit di WeHo (West Hollywood), California, 9 Juli 1983. Dean yang hanya berbisnis mobil punya mimpi untuk jadi lebih kaya dengan memanfaatkan kecemerlangan otak Joe, teman yang dianggapnya paling cerdas namun kurang beruntung nasibnya. Begitu cara sutradara James Cox membuka adegan dalam film Billionaire Boys Club . Adegan pertemuan Joe-Dean membuka kisah sekumpulan mahasiswa yang menjadi kaya raya secepat kilat dengan ide brilian tapi jatuh dalam sekejap mata yang jadi inti cerita film. Film berdurasi 108 menit ini mentas berkat produksi Armory Films. Debut rilisnya pada 17 Juli 2018 bukan melalui bioskop-bioskop, melainkan via VOD (Video on Demand). Rencananya, film baru akan tayang di bioskop pada 17 Agustus 2018 lewat distributor Vertical Entertainment. Film ini seolah me- remake kisah serupa dengan judul yang sama karya sutradara Marvin J. Chomsky yang terbit 8 November 1987. Bedanya, karya Chomsky berdurasi 200 menit dan hanya ditayangkan lewat stasiun televisi NBC . Cepat Kaya Berakhir Derita Sineas muda James Cox menuangkan kisah nyata sekumpulan mahasiswa yang membentuk sebuah firma investasi dan tentang bagaimana Joseph Henry Gamsky alias Joe Hunt yang hidupnya melesat dalam sekejap dari kondisi pas-pasan. Dari pertemuan Dean dan Joe di WeHo, tercetus ide untuk bermitra dan mendirikan firma investasi dengan nama BBC di tahun yang sama. Nama BBC terinspirasi dari Bombay Bicycle Club, sebuah klub dan restoran elit yang semasa SMA selalu jadi impian Dean untuk bisa jadi anggotanya. Joe langsung menyetujuinya karena dia harus memiliki harta agar bisa menggapai tahta dan wanita. “Di Amerika, uang sama dengan respek,” ujar Dean yang memancing gairah Joe. The Bombay Bicycle Club yang menjadi inspirasi nama firma BBC Kunci untuk menjalankan bisnis mereka: meracik Skema Ponzi, skema tipu-tipu ala MLM ( multi-level marketing ) yang digagas tahun 1919 oleh penipu ulung bernama Charles Ponzi. Jika Ponzi memulainya dengan manipulasi investasi kupon perangko mahal, BBC start dengan investasi mobil BMW. Mereka membelinya dengan harga murah di negara asal, Jerman, untuk kemudian dijual lagi dengan harga berkali-kali lipat di Amerika. Untuk modal awal, Dean menarik investasi dari teman-teman kuliahnya yang tajir di Harvard School for Boys (kini Harvard Westlake School, Los Angeles). Mereka semua berusia 30 tahun ke bawah dan anak-anak konglomerat yang acap bingung bagaimana menghabiskan uang jajan dari orangtua. Dana merekalah yang digunakan untuk membeli BMW-BMW itu selain suntikan investasi dari pengusaha ternama, Ron Levin (Kevin Spacey). Bisnis investasi mereka sukses besar. Saking besarnya laba, Joe sampai berani membeli perusahaan tambang batubara di Chicago yang nyaris bangkrut, Cogenco Energy, seharga USD250 juta. Dengan harta itu, Joe dan Dean merengkuh tahta dan wanita. Joe sendiri meraih mimpi pribadinya untuk bisa menjalin cinta dengan gadis dambaannya, Sydney Evans (Emma Roberts). Terus mengalirnya investasi-investasi baru mengubah gaya hidup mereka. Nyaris setiap hari berpesta. Lucunya, BBC sebagai perusahaan penipu justru memulai kehancurannya dari kena tipu. Ron Levin mengerjai Joe dkk. dengan cek kosong. Rencana BBC ingin menjalankan Cogenco dengan investasi dari Ron jadi berantakan. Gara-gara itu Ron dibunuh bodyguard Joe, Tim Pitt (Bokeem Woodbine), setelah diancam Joe untuk memberi cek asli senilai USD1,5 juta, pada 6 Juni 1984. Sempat bangkit dengan memanfaatkan pertemanan mereka dengan Reza ‘Izzy’ Eslaminia, putra Hedayat Eslaminia, eks-pejabat Shah Iran yang mencari suaka ke Amerika, BBC ambruk lagi gara-gara pembunuhan Hedayat oleh Dean Karny. Cox menutup kisah para pendiri BBC dengan drama nan apik. Fakta Film BBC Sutradara Cox jelas telah meriset film seri dengan judul sama yang ditayangkan NBC pada 1987. Benang merahnya, Cox mengikutsertakan Judd Nelson, pemeran Joe Hunt di film 1987. Di film 2018, Nelson memerankan Ryan Hunt, ayah Joe Hunt. Judd Nelson memerankan Joe Hunt di edisi 1987 dan memerankan Ryan Hunt di film 2018 Namun, sebagai film yang berhubungan dengan sejarah, film ini jelas tak bebas dari “terpeleset” soal fakta. Contoh, percintaan Joe Hunt dengan Sydney Evans. Faktanya, tulis Hype edisi 27 Juli 2018, tokoh Sydney tak pernah ada. Karakter dan penampilan Sydney sengaja dibuat mirip penyanyi Debbie Harry demi menguatkan suasana 1980-an. Pun begitu dengan tokoh Quintana Bisset (Suki Waterhouse) sebagai pacar Dean Karny.
- Angling Dharma, Tokoh Nyata atau Rekaan?
LEGENDA berkisah Prabu Angling Dharma dilahirkan oleh Pramesti, putri Jayabaya. Sementara Jayabaya merupakan putra Gendrayana, cucu Yudayana dan cicit Parikesit. Silsilahnya jika ditarik sampai ke tokoh Mahabharata: Abimanyu, ayah Parikesit dan Arjuna, kakek Parikesit. Dia bertakhta di Kerajaan Malawapati. Bagi banyak orang, kisah Angling Dharma bukan legenda. Beberapa daerah, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, percaya tokoh itu pernah hidup di masa lalu. Misalnya, di daerah Pati, Jawa Tengah, terdapat makam yang diyakini tempat peristirahatan Angling Dharma. Letaknya di Desa Mlawat, Kecamatan Sukolilo. Nama Mlawat mirip Malawapati, kerajaan Angling Dharma. Dua kilometer dari sana, di Desa Kedung Winong, Kecamatan Sukolilo, diyakini terdapat makam Patih Batik Madrim, tokoh dalam kisah Angling Dharma. Tak hanya daerah Pati, di Bojonegoro juga terdapat Situs Mlawatan di Desa Wotangare, Kalatidu, yang dipercaya sebagai petilasan Angling Dharma. Lebih dari itu, Angling Dharma sempat diwacanakan menjadi ikon Kota Bojonegoro. Sampai-sampai tulisan di gapura perbatasan berbunyi: Selamat Datang di Bumi Angling Dharma. Tim kesebelasan kota itu, Persibo, juga punya julukan Laskar Angling Dharma. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar Sejarah Universitas Negeri Malang menjelaskan, sebelum berkembang kisahnya di berbagai daerah, Angling Dharma muncul lebih dulu dalam sastra lisan pada masa Hindu-Buddha. “Yang menarik kemudian muncul klaim setting area untuk daerah-daerah tertentu. Dalam kisah yang kini dikenal luas, misalnya ada yang disebut Negara Boja atau Bojanagara, yang kemudian dianggap sebagai toponimi daerah yang kini dikenal dengan Bojonegoro,” ujar Dwi lewat sambungan telepon. Penyebutan tokoh Jayabaya di kisah itu mengingatkan pada Sang Mapanji Jayabhaya, penguasa Kadiri yang memerintah pada 1135-1157 M. Dia naik takhta menggantikan Bameswara. Tak banyak keterangan soal asal usulnya. Selama memerintah 22 tahun, baru tiga prasasti yang sampai pada hari ini. Kabarnya, dia menjadi raja setelah merebut hak naik takhta dari kakaknya yang putra mahkota. Pertanyaannya, apakah Angling Dharma tokoh sejarah? Apakah dia berhubungan dengan sejarah Kadiri, khususnya Jayabaya? Dwi sepakat bahwa kemungkinan tradisi lisan kisah Angling Dharma sudah ada sejak sebelum Majapahit. Versi tertulis berjudul Ari Dharma dan adaptasi ke dalam relief candi baru muncul pada era Majapahit. Namun, tak semua karya sastra mengabadikan peristiwa historis. Penokohannya juga tak mesti selalu ada dalam dunia nyata. Sastra jenis kidung yang berkisah tentang tokoh historis misalnya Kidung Ranggalawe dan KidungSorandaka . “Dalam pengisahannya itu juga ada bias. Ada tambahan pengurangan, bias dari fakta untuk dramatika,” kata Dwi. Apalagi hingga kini dikenal banyak versi naskah tentang Angling Dharma. Menurut Lydia Kieven dalam Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit , Angling Dharma sekarang adalah versi Bahasa Jawa Modern dari kidung bahasa Jawa Pertengahan berjudul Aji Dharma . Kisah yang kemudian berkembang itu tak lagi bisa dikorelasikan dengan kisah yang terpahat dalam relief candi. “Saya tidak tahu, kenapa bisa jadi perubahan itu. Saya tidak melihat apakah itu merujuk pada arti harfiah yang sama,” ujar Dwi. Tokoh Rekaan Dwi meyakini Angling Dharma hanyalah tokoh rekaan. Namun, meski tokohnya fiktif, nama tempat, geografis ekologis, jenis tanaman, sungai, dan laut, tetap mencerminkan kondisi nyata pada masa itu. Ia juga sah dianggap sebagai gambaran sosial dan budaya ketika sastra itu ditulis. “Itulah kenapa susastra tetap bisa dijadikan sumber. Tidak untuk memfaktualkan tokoh fiktif. Tokoh bisa rekaan, namun kisahnya bisa saja memang kisah faktual,” kata Dwi. Jika karya fiksi itu kini dianggap seolah faktual, itu wajar. Pasalnya, dia begitu memasyarakat. Itulah, menurut Dwi, mengapa kemudian ada pelokalan atau pengkaitan kisah dengan wilayah tertentu. “Bahkan ada kadang-kadang yang mengatakan, tradisi lisan asal usul daerah itu tergambar di Angling Dharma,” ujar Dwi. Pun jika kemudian dihubungkan dengan Jayabaya. Menurutnya, ini merupakan penjelasan yang ditambahkan kemudian. Soalnya, dalam tradisi sebelumnya, Angling Dharma tak dikenal asal usulnya. “Di kisah ini tidak disebut anak siapa, dari raja mana, baru kemudian pada perkembangan selanjutnya dicantolkan dengan Jayabaya. Ya, itu wajar saja, Jayabaya kan raja yang begitu dikenal orang Jawa,” kata Dwi. Begitu juga soal keberadaan Kerajaan Malawapati. Tanpa ada bukti yang jelas, kerajaan itu pun bisa jadi hanya rekaan. Kalaupun ada tempat yang mirip namanya, kemungkinan hanya meminjam dari kisah Angling Dharma yang sudah begitu dikenal. “Bisa saja kisahnya terkenal dulu, baru kemudian desa-desa itu meminjam nama-nama dalam sastra yang sudah terkenal,” kata Dwi. Makna Ari Dharma Dwi mengatakan kisah Angling Dharma hingga bisa diminati seperti sekarang ini karena keragaman tokohnya. Terutama karena berkaitan dengan cerita binatang. Buktinya, kisah tantrik atau cerita hewan banyak dijumpai sebagai relief dinding candi karena memang disukai pada masanya. Pesan yang terkandung dalam cerita Angling Dharma juga dalam. Tentang kesetiaan dan dharma . “Biasanya yang setia itu istri, tapi ini tidak. Ia (Angling Dharma, red. ) laki-laki yang setia pada istri. Dia ingin ikut mati ketika istrinya mati. Setelah istrinya meninggal, dia bahkan hanya akan mencari wanita yang mirip dengan almarhum istrinya, Satyawati,” jelas Dwi. Dari segi bahasa, ari artinya adik, jika diambil dari judul awalnya, Ari Dharma . Menurut Dwi, ari seperti sebutan suami kepada istrinya. Kebiasaan ini dibuktikan oleh keterangan di Prasasti Muncang dari masa Mpu Sindok pada 866 saka (944 M). Disebutkan istri yang merupakan putri dari raja sebelumnya, Wawa, disebut ariparameswari dyah kepi . "Ada kata ari ' di sana. Ini sebutan Mpu Sindok untuk istrinya, Dyah Kbi," jelas Dwi. Adapun dharma artinya ajaran. Dengan demikian, menurut Dwi, tokoh ini tengah memberikan tuntunan mengenai dharma suami kepada istri termasuk kesetiaan seorang suami kepada pasangannya. "Nampaknya kisah tuntunan. Tokoh ini bukan nama diri. Ini nama sebutan. Tokoh kisah yang memberikan tuntunan, kesetiaan suami," kata Dwi. Di luar itu, kisah ini terbukti mampu melintasi zaman. Ceritanya tak sarat dengan bahasa-bahasa agama, tapi lebih kepada hubungan sosial manusia. Ketika Islam berkembang pun, cerita ini tetap diminati. Bahkan, bentuknya tak lagi literer dan visual, tapi seni pertunjukkan. “Nilai-nilainya universal. Jadi mampu melintas zaman,” ucap Dwi.
- Adakah Peran Cheng Ho dan Cina dalam Islamisasi Nusantara?
BEBERAPA warganet yang membaca artikel “Apa Agama Cheng Ho?” bersikeras memastikan dia seorang muslim karena, katanya, informasi tersebut terdapat dalam literatur resmi Cina semacam Sejarah Ming (Ming Shi), kitab tarikh tentang Dinasti Ming yang dikompilasi sejarawan istana Dinasti Qing.
- Panglima Wanita Perang Jawa
TIGA hari setelah Perang Jawa berlangsung, Nyi Ageng Serang menerima utusan dari Yogyakarta yang membawa surat dari Pangeran Diponegoro. Dalam surat itu tertulis bahwa Diponegoro meminta doa dan bantuan perempuan berjuluk Lonjong Mimis dan Diraja Meta (dentuman senjata) itu untuk menghadapi perang tersebut. Nyi Ageng Serang dikenal sebagai perempuan kuat, tangguh, dan pintar. Sejak belia dia gemar berlatih ilmu bela diri. Dia dihormati karena kecakapannya dan memiliki kesaktian tinggat tinggi yang konon diperolehnya ketika bersemedi di gua di sekitar pantai selatan Jawa. Banyak orang mendatanginya untuk berguru. Karier Nyi Ageng dalam militer kerajaan dimulai sejak berusia 16 tahun. Kala itu dia masuk Korps Nyai di Keraton Yogyakarta. Di tempat inilah dia mendapat gelar Nyi Ageng, tulis Peter Carey dalam Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX. Sementara, kata Serang dia dapat karena menikahi Pangeran Serang I. Nama kecil Nyi Ageng Serang sendiri adalah Raden Ajeng Kustiah Retno Edi. Begitu menerima surat dari Pangeran Diponegoro, Nyi Ageng bersama pasukannya, Semut Ireng, segera bergerak ke sektor Serang-Demak pada masa-masa awal perang. Dalam setiap pertempuran, dia selalu berkuda putih dan menggunakan seragam serta melilitkan selendang pusaka lambang keperwiraannya di tombaknya. Nyi Ageng Serang, seperti ditulis Kayatun dalam skripsinya, “Nyi Ageng Serang dalam Perang Diponegoro”, dikenal sebagai seorang taktikus dan pengatur strategi perang yang andal. Pangeran Diponegoro sering meminta bantuannya. Pasukan Semut Ireng terdiri dari 500 prajurit dengan posisi yang diatur selalu siap siaga. Di Perang Jawa, Semut Ireng yang selalu memakai panji Merah-Putih yang disebut Panji Gula Kelapa mula-mula menghancurkan pos Belanda di Gambringan kemudian melanjutkan penyerangan ke Purwodadi. Dalam tugas merebut bagian timur Jawa Tengah, Nyi Ageng yang duduk sebagai penasehat dan bergerak bersama anaknya, Pangeran Serang II, memerintahkan pasukannya untuk melakukan penyamaran dengan daun limbu. Kamuflase daun limbu dilakukan dengan cara setiap prajurit membawa daun limbu untuk digunakan sebagai pelindung atau payung. Setelah menyerang pos-pos Belanda dengan taktik “Serangan Hanoman”, yakni menyerang diam-diam dengan pasukan kecil, para prajurit lantas bersembunyi di ladang, semak-semak, atau sawah dengan berlindung di balik daun limbu yang mereka bawa. Taktik ini berhasil mengelabui Belanda. Para tentara pemburu Belanda mengira prajurit Nyi Ageng Serang hilang begitu saja di tengah sawah hijau. Kecerdikan dan pengalaman Nyi Ageng membuat nasihatnya tentang strategi perang selalu didengarkan Pangeran Diponegoro. Dia akhirnya dipercaya menjadi penasihat umum dalam Perang Jawa. Posisi pentingnya selama Perang Jawa membuat Nyi Ageng Serang sangat dihormati pengikut Diponegoro. Pada pertengahan 1826, pejabat Indo-Belanda Paulus Daniel Portier tertangkap dan menjadi tawanan pasukan Diponegoro. Dia meminta Pangeran Serang II untuk mempertemukannya dengan Nyi Ageng yang kala itu sedang bersemedi di sekitar pantai selatan guna bernegosiasi. Permintaan itu tak dikabulkan. Belanda tak pernah berhasil menangkap Nyi Ageng Serang.
- Permainan Kabaddi dalam Lorong Zaman
GEMPITA Asian Games 2018 Jakarta-Palembang sudah mulai terasa meski pembukaannya masih tiga pekan lagi (18 Agustus 2018). Beberapa olahraga baru seperti e-sports dan kano polo ikut dieksebisikan. Namun ada satu cabang yang masih asing di telinga publik tanah air walau sebenarnya bukan olahraga baru. Kabaddi namanya. Kabaddi merupakan olahraga yang lahir di India. Olahraga ini umurnya sudah lebih dari 4000 tahun, sudah menjadi aktivitas tradisional di peradaban India kuno, khususnya di kawasan Punjab, sebelum menyebar ke Andhra Pradesh, Uttar Pradesh, Karnataka, Kerala, Bihar, Haryana, Maharashtra, Telangana, hingga Tamil. Permainannya cukup sederhana. Dua tim yang masing-masing berisi tujuh pemain bergantian menyerang. Durasi permainan dua kali 20 menit. Poin didapatkan jikalau si penyerang mampu menangkap pemain bertahan lawan. Tim yang bertahan juga bisa mencuri poin jika para pemainnya sanggup melumpuhkan penyerang lawan lebih dulu dengan beragam cara, termasuk pakai kaki. Permainan ini mirip permainan tradisional Nusantara seperti permainan Benteng/Bentengan atau Gobak Sodor, misalnya. Menurut laman resmi World Kabaddi Federation, sejarah kabaddi berkelindan dengan sebuah kisah di manuskrip kuno Mahabaratha . Kisah kala Abimanyu, putra Arjuna dari kubu Pandawa, menyerang Kurawa. Abimanyu beraksi solo dan mampu melewati tujuh lapis pertahanan Kurawa meski akhirnya tewas dikeroyok Karna, Duryudana, Dusasana, Drona, Kritavarma, Shalya, dan Sengkuni setelah gagal menemukan jalan keluar dari benteng Kurawa. Kisah ini pun menyebar dan seiring perubahan peradaban, strategi perang Kurawa itu berubah menjadi permainan tradisional. Muncul pula berbagai variasi bentuk permainan dengan banyak nama di tiap wilayah. “Permainannya disebut Hu-Tu-Tu di wilayah barat India, Ha-Do-Do di timur India hingga Bangladesh, Chedugdu atau Sadugdu di selatan India dan Tamil Nadu, serta Kaunbada di utara India. Kabaddi modern merupakan sintesis permainan yang melebur dari beragam permainan dengan berbagai sebutan tadi,” ungkap Pratibha Mittal dalam Kabaddi: Rules and Regulation . Kabaddi di Bumi Asia Di peradaban modern, kabaddi lazim dimainkan di negara-negara tetangga India, macam Pakistan, Bangladesh, Nepal, Srilanka, dan Maladewa. Menurut Ronojoy Sen dalam Nation at Play: A History of Sport in India , permainan kabaddi pertama kali diangkat jadi permainan modern dengan aturan baku pada 1911, dalam sebuah event seni dan budaya di Badshahi Mela di Delhi. “Dijadikan olahraga yang beradab…didesain oleh beberapa kelompok nasionalis dan lembaga pemerintahan untuk kemudian disesuaikan dengan standar internasional terkait peraturan dan regulasi,” ujar Joseph Alter, peneliti peradaban India dari Universitas Pittsburgh, dikutip Ronojoy Sen. Pada awal 1920-an, tim-tim lokal kabaddi mulai bermunculan di berbagai wilayah India. Tiga tahun berselang, kompetisi kabaddi pertama yang digagas Hind Vijay Gymkhana dan diikuti sejumlah tim di Kota Baroda digelar. Kabaddi mulai diikutkan dalam Pekan Olahraga India pada 1938 di Kalkutta. Seturut kemerdekaan India pada 1950, AIKF (All-India Kabaddi Federation) didirikan. Kabaddi ikut dipopulerkan lewat Asian Amateur Kabaddi Federation pimpinan Sundar Ram di Jepang pada 1979. Setelah dieksebisikan di Asian Games 1982, kabbadi akhirnya jadi olahraga resmi Asian Games pada 1990. Timnas Kabaddi Indonesia berlatih ke India jelang Asian Games 2018/Foto: Twitter @sonalgoelias Sementara, Piala Dunia Kabaddi digelar pertama kali pada 2004, tak lama setelah International Kabaddi Federation didirikan. Di Indonesia, kabaddi diperkenalkan sejak 2008, tepatnya di Asian Beach Games 2008 Bali. Kabaddi lalu dijadikan pertandingan eksebisi di Pekan Olahraga Provinsi Bali XII, medio September 2015. Alhasil, kabaddi lebih dikenal masyarakat Pulau Dewata ketimbang masyarakat daerah lain di Bumi Pertiwi. Pengurus Besar Federasi Olahraga Kabaddi Indonesia (PB FOKSI) juga bermarkas di Bali, tepatnya di GOR Lilabhuana, Denpasar. Jelang Asian Games 2018, tim kabaddi Indonesia sempat menimba ilmu ke negeri India. Di Asian Games 2018 nanti, cabang kabaddi akan dipertandingkan Theater Garuda, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, 19-24 Agustus. Ada 12 tim yang ikut serta di cabang ini. Selain India sebagai tim super power -nya dan tuan rumah Indonesia, ada Pakistan, Thailand, Iran, Korea Selatan, Srilanka, Nepal, Bangladesh, Irak, Jepang, dan Malaysia.
- Siapa Sebenarnya Angling Dharma?
SUATU hari Prabu Angling Dharma, raja Kerajaan Malawapati, sedang berburu. Dia memergoki istri gurunya, Nagagini, sedang berselingkuh dengan seekor ular tampar. Angling Dharma pun menarik busurnya untuk membunuh ular jantan itu. Namun, tanpa sengaja ekor Nagagini ikut terluka. “Kurang ajar kau Angling Dharma! Kau akan aku adukan kepada Kakang Naga Bergola!” seru Nagagini. Nagagini pun pulang dengan menyusun laporan palsu. Dia ingin agar suaminya membalas dendam kepada Angling Dharma. Setelah mendengar laporan istrinya, Naga Bergola lalu menyusup ke dalam istana Malawapati. Dia mendengar Angling Dharma sedang membicarakan perselingkuhan Nagagini dengan istrinya, Setyawati. Sang naga pertapa itu pun sadar kalau istrinya yang salah. Naga Bergola lalu muncul. Dia meminta maaf kepada Angling Dharma sekaligus ingin segera moksa. “Aku telah bersumpah lebih baik mati daripada dikhianati seorang istri. Aku akan laksanakan sumpahku,” kata Naga Bergola. Sebelum moksa Naga Bergola mewariskan ilmu kesaktiannya, Aji Gineng kepada Angling Dharma. Ilmu itu akan membuat Angling Dharma paham bahasa binatang. Dia berpesan supaya warisannya dijaga dengan penuh rahasia. Kisah itu membuka episode pertama sinetron kolosal berjudul . Pada 2001, Angling Dharma mulai disiarkan lewat salah satu stasiun TV swasta hingga 2005. Sinetron arahan sutradara Imam Tantowi ini pernah meraih penghargaan sebagai sinetron terpuji di Festival Film Bandung 2004. Dari Lisan ke Tulisan Jauh sebelum kisah ini menjadi demikian populer, Angling Dharma sudah lebih dulu dikenal pada era Majapahit. Menurut Dwi Cahyono, arkeolog Universitas Negeri Malang, kisah itu muncul lebih dulu dalam tradisi lisan kemungkinan pra-Majapahit. Pada masa Hindu-Buddha, sebagai sastra lisan, kisah itu terdapat di berbagai tempat terutama wilayah Jawa Timur sekarang. Sampai-sampai pada masa modern, nama tempat yang disebut dalam cerita, dianggap sebagai awal mula wilayah itu. “Yang menarik adalah klaim setting area untuk daerah-daerah tertentu. Dalam kisah yang kini dikenal luas, misalnya ada yang disebut Negara Boja atau Boja Nagara, ini kemudian dianggap sebagai toponimi daerah yang kini dikenal dengan Bojonegoro,” jelas Dwi. Kisah itu kemudian ditulis kemungkinan pada era Majapahit. Awalnya berjudul AriDharma . Pada perkembangannya dikenal sebagai Angling Dharma . Menurut Lydia Kieven dalam Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit , Angling Dharma sekarang adalah versi Bahasa Jawa Modern dari kidung bahasa Jawa Pertengahan. Judulnya, Aji Dharma. Di luar itu, hingga kini dikenal begitu banyak versi naskah tentang Angling Dharma. “Saya tidak tahu, kenapa bisa jadi perubahan itu. Saya tidak melihat apakah itu merujuk pada arti harfiah yang sama,” ujar Dwi. Relief Angling Dharma Dari bentuk tertulis, kisah Angling Dharma kemudian ditransformasikan lagi ke bentuk visual. Kisah ini bisa ditemukan dalam relief candi. Meski begitu, relief cerita ini baru ditemukan di Candi Jago. Padahal, sebagai cerita ia sudah dikenal baik dalam bentuk kidung maupun Serat Angling Dharma . Versi reliefnya pun tak bisa ditentukan dengan pasti korelasinya dengan narasi manapun. Penetuan kisah relief itu hasil tafsiran Thomas M. Hunter, ahli linguistik dan Jawa Kuno, berdasarkan naskah yang tak diterbitkan karya Bambang Soetrisno, mantan juru kunci Candi Jago. Tafsiran itu pertama kali diungkapnya lewat seminar pada 1989. Dia kemudian menuliskannya lewat makalah “The Aridharma Reliefs of Candi Jago” yang terbit dalam Society and Culture of Southeast Asia: Continuities and Changes pada 2000. Jika dibandingkan, kesamaan versi relief dengan yang dikenal sekarang hanya pada awal kisah sampai ketika Angling Dharma dibuang ke hutan. Sementara perbedaannya begitu banyak. Pertama, kisah pertemuannya dengan Ambarawati, istri keduanya, diceritakan berbeda. Dalam relief mereka bertemu di hutan. Pada kisah yang kini dikenal luas, mereka bertemu di istana. Latar belakang Ambarawati juga berbeda. Dalam relief, perempuan itu adalah anak dari seorang resi yang dikutuk. Sementara dalam versi yang dikenal luas, dia merupakan putri Raja Darmawangsa. Peran Angling Dharma yang berhasil meruwat resi, ayah Amabarawati, juga tak dikisahkan dalam versi yang dikenal luas. Di versi yang banyak dikenal masyarakat, Angling Dharma juga diceritakan terkena kutuk dua kali. Selain dibuang ke hutan, dia juga dikutuk menjadi seekor belibis. Sementara dalam relief, tak ada kisah dia berubah menjadi belibis. Paling mencolok adalah keberadaan dua tokoh Punakawan dalam relief. Ini tak ditemukan dalam versi tertulisnya. Secara keseluruhan, kisah Angling Dharma terdapat dalam tujuh panil relief. Kisahnya di relief didahului dengan adegan naga jantan merayu naga betina. Di Candi Jago, relief Angling Dharma bisa ditemukan di kaki candi, tepatnya pada sisi timur laut. Letaknya setelah relief Tantri Kamandaka dan sebelum relief Kunjarakarna. “Kalau diurutkan setelah cerita trantrik (Tantri Kamandaka: cerita binatang, ). Kenapa ditempatkan begitu? Karena dalam kisah Ari Dharma itu ada kisah binatangnya,” jelas Dwi. Walaupun relief Angling Dharma dipahat di Candi Jago, bukan berarti relief ini dibuat pada masa Singhasari. Itu mengingat Candi Jago dibangun sebagai pendharmaan bagi Raja Singhasari, Wisnuwardhana. Menurut Dwi, relief ini dipahat pada bangunan yang dipugar pada masa Hayam Wuruk. “Di Nagarakrtagama disebutkan Hayam Wuruk melakukan pemugaran terhadap 27 pendharmaan leluhurnya. Candi Jago ini mengalami perombakan signifikan secara arsitektural. Seni pahatnya, wayang style , ini baru hadir pada masa Majapahit,” jelas Dwi. Selain di Candi Jago, masyarakat banyak yang percaya kisah Angling Dharma juga terbaca di relief Candi Mirigambar. Namun banyak ahli yang meragukannya di antaranya arkeolog Belanda N. J. Krom dan Knebel. “Knebel dan kemudian Krom, seperti halnya saya, meragukan penafsiran bahwa relief tersebut menggambarkan Angling Dharma,” jelas Lydia.
- Kisah Pilu Pangeran yang Ditipu
KETIKA hendak berangkat ke Makau untuk melaksanakan komuni pertama, Putra Mahkota Pascal Balthazar Celse dibekali ayahnya, Raja Timor dan Solor bernama Gaspar Balthazar, dengan banyak harta. Kapal Portugis yang akan ditumpanginya dipenuhi dengan emas, perhiasan, batu-batu mulia, pakaian, dan barang-barang berharga lain. Putra kesayangan raja itu juga disertai 30 budak yang diikutsertakan oleh ayahnya untuk melayani segala keperluannya. Yang terpenting, Balthazar didampingi guru spiritualnya ( precepteur ) yang seorang Dominikan berkebangsaan Portugis, Pastor Ignatius. Pastor Ignatius merupakan orang yang membujuk raja untuk mengirim putranya ke Makau supaya komuni diselenggarakan dengan megah. Dia terus meyakinkan Raja Gaspar bahwa hal itu akan menguntungkan kerajaannya. Dari catatan Anne Lombard-Jourdan yang dimuat dalam Archipel, Balthazar lahir di Animata pada 1738. Itu berarti, ketika pergi bersama Pastor Ignatius, Balthazar berusia kurang dari 10 tahun. Meski seorang pangeran, Balthazar yang masih anak-anak tak punya kuasa atas perjalanannya ke Makau. Pastor Ignatiuslah yang mengatur segalanya. Ketika sampai di Makau, rombongan menetap di bruderan Dominikan selama lima bulan. Saat itulah Pastor Ignatius menyalahgunakan kekuasaannya dengan menjual semua budak. Dia lalu membeli bermacam barang yang bisa didagangkan di Eropa. Dari Makau, pastor bersama pangeran menumpang kapal Prancis Duc de Bethuene yang dipimpin Kapten de la Chaise yang bekerja untuk Kongsi Dagang Prancis di Hindia. Pangeran bocah itu dengan mudah dibohongi oleh pastor. Selain diperintahkan untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian budak, Balthazar juga dilarang membuka identitasnya. Pastor itu menakut-nakuti Balthazar dengan mengatakan bahwa orang-orang Prancis menjelajahi lautan untuk menculik raja-raja dari negara jauh. Pangeran yang ketakutan itu pun menuruti semua perkataan pastor. Setelah mengarungi lautan lebih dari 9 bulan, Duc de Bethune tiba di Pelabuhan Lorient, Prancis pada 13 Juli 1750. Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis menceritakan bahwa Pastor Ignatius kabur dengan berpura-pura menyiapkan upacara penyambutan bagi Balthazar. Setelah tiga hari menunggu di kapal dan si pastor tak kunjung kembali, Balthazar khawatir. Dia menanyakan kabar si pastor kepada kapten kapal namun kapten tak bisa menjawabnya meskipun tahu bahwa si pastor penipu tidak akan kembali lagi. “Pendidik palsu ini pandai mengelabui dengan sifatnya yang luwes, dan kebanggan yang terlalu dibuat-buat terhadap kawan sebangsanya. Ia seorang yang cekatan, menyenangkan, dan penuh perhatian, mahir bermuslihat, dan mampu bertindak sangat licik,” tulis seorang pengacara Prancis Andre Lethinois dalam “Permohonan kepada Raja”. Seorang juru masak kapal yang merasa iba kepada Pangeran Balthazar kemudian mengasuhnya di Saint-Malo. Balthazar tinggal di sana selama tujuh tahun. Dari si koki, Balthazar belajar bertahan hidup di Prancis dengan mempelajari bahasa dan masakannya. Ketika si koki meninggal, Balthazar pergi dan bekerja sebagai juru masak di kapal Alexander Agung yang berangkat ke Kanada. Upah dari pekerjaannya sebagai koki dia gunakan untuk berlayar ke Prancis. Di Paris, dia berkenalan dengan seorang perempuan bangsawan bernama de Castellane yang mengenalkannya pada de Sainte Catherine dan mau memberinya tumpangan sampai ke Tiongkok. Namun nahas, pada hari keberangkatan kapal, Balthazar terlambat datang dan kapal sudah berlayar. Dia gagal kembali ke negerinya. Setahun berikutnya, dia mengirimkan surat kepada duta besar Belanda dan Portugal untuk meminta bantuan agar menyampaikan kabar tentang keberadaan dirinya di Prancis kepada sang ayah. Balthazar menunggu selama empat tahun di Lorient dan tidak mendapatkan kabar apapun. Dia lalu berusaha kembali ke negaranya dengan berbagai cara hingga akhirnya para bangsawan Prancis mau membantunya. Namun setelah mendapat dukungan dari para bangsawan Prancis, Balthazar membatalkan kepulangannya. Dia khawatir kepergiannya selama 18 tahun membuat orang tidak mengenalinya dan tidak menyambut baik kedatangannya. Belum lagi, selama 18 tahun tinggal di Prancis dia telah menumpuk banyak utang kepada para bangsawan. Balthazar kemudian tinggal bersama dokter kerajaan, Chevalier di Rue de Bourbon, dan mendapat sedikit bantuan dari Raja Louis XV. Namun, bantuan Raja Louis dan para bangsawan berhenti ketika mereka sadar pangeran tidak bisa melakukan apapun untuk menguntungkan mereka. Dengan utang yang semakin menumpuk dan bantuan dari para bangsawan yang terhenti, kesehatan Balthazar semakin menurun. Harapan terakhirnya hanya pada lelaki tua pembuat keramik di Paris, Charles Preaux. Pak tua Preaux membantunya dengan memberi tempat tinggal dan makanan secara cuma-cuma. Pada April 1774, Balthazar meninggal karena sakit. Setelah lebih dari 20 tahun melanglang buana dengan penuh kesialan dan keberuntungan, dia tidak pernah lagi melihat negeri dan keluarganya.
- Sultan yang Dimakzulkan
Jika anda berkunjung ke komplek makam Pangeran Hidayatullah (Pahlawan Nasional asal Banjarmasin) di Cianjur, akan nampak sebuah makam besar berlapiskan marmer putih di sisi kiri makam sang pangeran. Banyak orang mengira ini adalah makam salah satu kerabat Pangeran Hidayatullah. Namun anggapan itu keliru. “Itu adalah makam Sultan Ibrahim Chaliluddin dari Kerajaan Paserbalengkong,” ujar Helmy Adam (32), anggota De Brings Tjiandjoer, komunitas pecinta sejarah Cianjur. Buku Republik Indonesia Propinsi Kalimantan , yang diterbitkan Kementerian Penerangan tahun 1953, mengakui Sultan Ibrahim Chalilluddin sebagai pejuang dari Kalimantan Timur. Menurut Adjie Benni Sarief Firmansyah Chaliluddin (46), pencantuman nama kakek buyutnya di buku tersebut tentunya tidak asal-asalan. “Buku ini pastinya dibuat berdasarkan kajian ahli-ahli sejarah dan para saksi sejarah yang pada waktu itu masih hidup,” ujar Adjie Benni kepada Presiden Sjarikat Islam Ibrahim Chaliluddin merupakan sultan terakhir Kerajaan Paserbalengkong. Dia diangkat sebagai sultan setelah kekuasaan kerajaan vakum selama beberapa tahun menyusul penangkapan Sultan Adjie Mohammad Ali oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1876. Namun belum lama diangkat sebagai sultan, pada 1906 pihak pemerintah Hindia Belanda memakzulkannya sekaligus membubarkan Kerajaan Paserbalengkong. Kendati demikian rakyat Paserbalengkong masih menganggap Ibrahim Chaliluddin sebagai sultan dan menaati setiap perintahnya. Saat sang raja tanpa tahta itu menjadi presiden Sjarikat Islam (SI) cabang Paser pada 1914, berduyun-duyun rakyat masuk SI. “Termasuk bekas para pembesar Kerajaan Paser yang lantas menjadi pengurus organisasi tersebut,” kata Adjie Benni. Pemerintah Hindia Belanda waswas; orang yang mereka awasi justru masuk organisasi yang sebagai oposisi pemerintah. Dan kecurigaan itu terbukti pada Juli 1915 saat meletus pemberontakan SI di Paser. “Tangsi militer Belanda di Tanah Grogot diserang massa-rakyat pimpinan Pangeran Singa Maulana hingga menimbulkan korban yang banyak di kedua pihak,” tulis Anggraini Antemas dalam koran Buana Minggu , 25 Januari 1976. Konflik bersenjata itu ternyata bukan insiden sesaat. Diperlukan waktu 1,5 tahun bagi pemerintah untuk memadamkannya. Setelah perlawanan kian surut, pada Februari 1916 pemerintah menangkap Ibrahim Chaliluddin dan para pengurus SI Paser. “Kakek buyut saya, setelah disergap secara mendadak di rumahnya, hanya diberi waktu beberapa menit untuk bersiap-siap pergi oleh tentara Belanda,” ujar Adjie Benni. Selanjutnya, Ibrahim dan keluarganya dibuang ke Banjarmasin selama tiga tahun. Mereka lalu dipindahkan ke Teluk Betung, Lampung. Pada 1928, beserta istri dan putranya, Ibrahim kembali dibuang ke Batavia lalu ke Cianjur, tempat dia menghembuskan nafas terakhirnya dua tahun kemudian.





















