top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Gambar Tikus di Miras Manado

    AGAKNYA di antara sekian banyak kota besar Indonesia, adalah Manado yang paling kentara mewarisi kebudayaan Prancis dari masa Bataafsche Republiek, manakala istana raja di Amsterdam disinggasanai Louis Napoleon sebelum Napoleon Bonaparte dikalahkan Inggris dalam perang di Waterloo 1815 yang menyebabkan sang kaisar kehilangan tentaranya sekitar 25.000 orang. Kata-kata bahasa Prancis yang diserap bahasa Manado sejak masa itu misalnya saguer dari saguouier adalah nama minuman dari nira; fastiu dari fastidieux maknanya ‘membosankan’; capeo dari chapeau artinya ‘topi’; fasung dari façon maknanya ‘cara santun’: popoji dari poche artinya ‘saku’; jelus dari jaloux artinya ‘iri’, dll., dan tidak lupa katrili dari quadrille nama tarian rakyat. Sekarang katrili termasuk kesenian tradisional yang dilestarikan oleh pemerintah setempat melalui festival-festival. Pada umumnya orang di Manado dan Minahasa mengira bahwa katrili berasal dari budaya Portugis atau Spanyol, dua bangsa Barat yang telah lebih dulu mukim di Manado, Kema, Amurang sejak abad ke-16 dan kawin-mawin di sana lantas menurunkan anak-anak yang kemudian disebut borgo . Padahal sebenarnya katrili berasal dari tarian Prancis, masuk ke Manado pada awal abad ke-19, dibawa oleh tentara Prancis dalam pemerintahan Koninkrijk Holland lanjutan dari Bataafsche Republiek yang direkayasa oleh Prancis. Mulanya diceritakan bahwa tentara Prancis berjumlah 6000 orang menjadi tawanan Inggris setelah terjadi perang sengit pada Agustus 1811 di sekitar Salemba Matraman Jatinegara. Sebelumnya, salah seorang bawahan Daendels berdarah Spanyol yang diberi gelar comte di Paris diceritakan sebagai orang kuat yang hadir dalam pembuatan jalan pos Anyar-Panarukan. Panggilannya Don Lopez comte du Paris. Orang di Jawa melafalnya Ho Lopis kuntul Baris . Setelah Prancis dikalahkan Inggris ia pindah ke Manado, kawin dengan pribumi Minahasa, dan tewas di Amurang ketika tsunami melanda kota itu pertengahan abad ke-19. Dalam cerita tutur dikisahkan bahwa tsunami dahsyat itu baru reda setelah seorang zending bernama Graafland –dikenal sebagai penulis buku De Minahasa, Haar Verleden en Haar Tegenwoordige Toestand – berdoa di atas benteng peninggalan Portugis. Cerita ini masih dituturkan sampai 1940-an oleh orang-orang tua Minahasa di desa-desa sekitar atas Amurang antara Malenos, Ritey, Maliku. Nama Don Lopez yang comte itu sendiri dianggap sebagai salah seorang pewaris budaya Prancis yang memperkenalkan pribumi Minahasa memainkan katrili. Katrili asli adalah tarian untuk dua atau empat orang, terdiri dari lima bagian masing-masing (1) Le Pantalon mat 6/8, (2) L’Éte mat 2/4, (3) La Poule mat 6/8, (4) La Trenise mat 2/4, dan (5) La Pastourelle mat 2/4. Ujungnya dimainkan komposisi Finale . Dan, setelah itu diserukan kata-kata “Éternel, sauve le roi!” artinya “Tuhan jayakanlah raja!” Adalah komunitas Indo-Indo yang disebut borgo itu yang merasa paling memiliki tarian ini. Borgo sendiri sejak 1758 dimanfaatkan Belanda untuk menjaga pantai-pantai sekitar Manado, Tanawangko, Amurang dari pelanunan bajaklaut Pilipina. Setelah berjalan dua abad, maka pada 1925 di bawah kebijakan Residen Manado, H.J. Schmidt selaku RMWO 3de kl Eeresabel ex Officer NOIL diberi status kewarganegaraan khusus. Di banyak pesta para borgo biasa bersulang untuk menenggak miras sembari haha-hihi. Ketika miras dari Eropa sulit didapat, maka pribumi di Minahasa pun menyuling saguer menjadi anggur-putih. Sementara karena di botol anggur-putih yang asli ada gambar tikus, bahasa Prancisnya souris , maka orang kampung yang waktu itu belum bisa membaca dan menulis lantas menyimpulkan bahwa minuman yang bergambar tikus itu niscaya berkadar tinggi alkohol. Sampai sekarang orang di Minahasa menyebut anggur-putih adalah ‘Cap Tikus’. Dalam catatan Manado, ketika Pangeran Diponegoro ditahan di Fort Amsterdam, benteng peninggalan Portugis –sekarang tidak ada diratakan tanah oleh Jepang pada PD II– maka sang Pangeran yang mengharamkan miras dan bahkan pernah menyiram miras ke muka residen Yogyakarta, Smissaert, tapi dalam keadaan frustrasi di Manado ia menjadi akrab dengan anggur-putih. Residen Manado, Pietermaat, adalah biangkerok yang menjerumuskannya. Pietermaat sendiri dalam sumber Manado digambarkan sebagai seorang vrijdenker yang sangat memuja Descartes karena pandangannya “cogito ergo sum” tercerabut dari pola-pola ilmu pasti. Walaupun begitu, tak urung upaya syiar yang dilaksanakan oleh zending Jerman, yaitu Schwarz di Langoan dan Riedel di Tondano, dengan patron teologi Pietisme, toh berhasil menggiring pribumi Minahasa ke keyakinan baru berpengharapan dari pegangan biblikal bahasa Prancis “Je suis le chemis, le verite, et la vie,” maknanya “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Maka, bisa dimengerti, mengapa orang di Minahasa yang menyadari kalimat itu berasal dari Injil, gandrung memajang gambar Yesus di dinding rumahnya –yaitu Yesus historis dalam diskursif kristologi sebagai pribadi insani sekaligus pribadi ilahi– selaras dengan kredo yang dihafal umat pada setiap hari Ahad. Sekarang justru di Tondano sebagai tengah-tengahnya bumi Minahasa yang mayoritas Kristen, hidup dengan damai masyarakat Jaton, singkatan Jawa-Tondano yang seluruhnya muslim. Orang Jaton merupakan keturunan dari Kyai Mojo dan Diponegoro. Dalam Babad Menado diceritakan bahwa Ratnaningsih istri Diponegoro melahirkan putranya di Benteng Fort Amsterdam Manado, dan putranya itu diberi nama Menadurahman. Ketika sang pangeran dipindahkan ke Makassar, putranya itu dititipkan pada Kyai Mojo, kuatir kalau-kalau Menadurahman dibunuh Belanda. Maka ketika Diponegoro wafat di Benteng Fort Rotterdam Makassar pada 5 Agustus 1855, laki-laki berumur 25 tahun yang disebut-sebut sebagai putranya itu bukanlah Menadurahman. Dari catatan Manado juga, diceritakan bahwa zending Riedel berdialog dengan Kyai Mojo, dan di situ Sang Kyai menceritakan tentang wawasan Islam damai yang dicetuskan Sunan Kalijaga lewat piranti wayang. Bahwa peran Gareng dalam Punakawan, berasal dari bahasa Arab nala qarin artinya mencari teman mengiaskan Islam sebagai agama yang menggalang persaudaraan nan guyub. Berkaitan dengan itu, kalau ingin melihat jiwa persaudaraan dalam kerukunan bhinneka tunggal ika yang tulen, datanglah ke Tondano. Hebatnya, di Tondano pula ada sinagog, tempat sembahyang bani Yahudi. Kota ini sejuk: sejuk lahir sejuk batin. Di kasad sejuk lahir, ada pemandangan yang heboh. Bahwa dalam rangka menghangatkan tubuh di udara yang sejuk sebagian orang memilih habitual tercela bagate . Arti harafiah bagate adalah ‘mengait’ atau ‘mencantel’. Tapi arti kiasnya adalah ‘menenggak cap tikus’. Untuk itu sudah ada seruan dari pihak gereja agar berhenti bagate . Tapi malah ada mop juga yang mengisahkan tentang umat yang datang ke rumah pendeta hendak memberi salam natal sambil bertanya “Di mana Pak Pendeta?” Dan jawab istrinya, “Cari jo di got.” Maksudnya sang pendeta pun mabuk ‘cap tikus’ lantas tumbang terkulai dan tertidur di got. Orang yang lewat di situ menegur sang pendeta, “Jangan tidur di got.” Dan dalam keadaan masih mabuk sang pendeta menjawab, “Ngana pe got so?”

  • Public Enemy Bernama Scheele

    SEISI Istora Senayan kian riuh. Sorakan muncul dari berbagai sudut tribun penonton. Selain merupakan dukungan untuk pasangan ganda putra Muljadi/Agus Susanto, gemuruh yel-yel penonton juga berfungsi untuk mengintimidasi ganda lawan asal Malaysia, Tan Yee Khan/Ng Boon Hee. Mulyadi/Agus baru saja memenangkan set kedua 18-13 partai kedelapan final Thomas Cup 1967 yang dihelat pada 10 Juni itu. Di set pertama, pasangan Indonesia itu kalah 2-15. Istora menjadi saksi bisu kian panasnya situasi jelang set ketiga. Saat itu, Thomas Cup masih menggunakan sistem interzone dan challenge round . Sebagai juara bertahan, Indonesia cukup menunggu lawan di partai final challenge round . Lawan itu ternyata diisi Malaysia, yang belum lama rujuk dengan Indonesia akibat Konfrontasi. Meski tertinggal 1-3 di hari pertama, 9 Juni, Indonesia menyusul 3-4 di hari kedua via kemenangan di dua nomor tunggal putra oleh pemain muda Rudy Hartono dan Muljadi. Muljadi kembali turun di nomor ganda putra berpasangan dengan Agus. Gemuruh sorakan 12 ribu penonton tuan rumah jelang set ketiga pertandingan Muljadi/Agus membuat Herbert Scheele (sekretaris kehormatan merangkap honorary referee IBF) turun dari tribun kehormatan. Tanpa menghiraukan wasit Tom Bacher asal Denmark yang memimpin pertandingan, Scheele menghentikan pertandingan itu. “Ia merasa terganggu dengan ulah penonton Istora Senayan dalam memberikan dukungan kepada tim Indonesia,” ungkap Suharso Suhandinata dalam biografinya, Diplomat Bulutangkis: Peranannya dalam Mempersatukan Bulutangkis Dunia Menuju Olimpiade. Scheele, yang menginginkan pertandingan bulutangkis bisa setenang pertandingan tenis, risih terhadap psywar penonton Istora yang mengintimidasi pemain Malaysia. Ketidaknyamanan juga dirasakan para pemain Malaysia. “Fokus kami terganggu oleh 12 ribu kericuhan penonton,” kenang Tan Yee Khan di media Malaysia, The Star , 25 September 2010. “Kami ketakutan. Para penonton berdiri di kursi tribun dan berteriak-teriak. Saya juga melihat beberapa tentara (aparat keamanan) mengentak-entakkan popor senapan mereka,” timpal Yew Cheng Hoe, tunggal putra Malaysia yang juga tampil di final. Maka, sambil bertolak pinggang dan melambaikan satu tangan Scheele kemudian memanggil Padmo Sumasto, pimpinan panitia- cum- ketua PBSI. Gesture Scheele tak pelak menjadikannya sasaran amarah penonton. Scheele lantas mengumpulkan perwakilan pemain dan manajer tim masing-masing. Rundingan itu menghasilkan keputusan, sisa pertandingan dimainkan keesokan paginya dengan syarat tanpa penonton. Tim Indonesia menolak. Deadlock itu lalu dibawa ke markas IBF di London. Keputusan Scheele itu “resmi” menjadikannya public enemy (musuh publik) nomor satu masyarakat bulutangkis Indonesia. Kemarahan publik Indonesia terhadapnya bertambah ketika dalam sebuah kunjungan ke Wellington tak lama setelah itu Scheele melontarkan komentar terhadap Indonesia. “HAE Scheele mengatakan, pertandingan-pertandingan Thomas Cup ataupun Uber Cup tidak boleh lagi dimainkan di Indonesia. Dia menghentikan pertandingan Challenge Round (final) karena penonton Indonesia mengancam akan membunuh pemain-pemain Malaysia,” tulis Kompas, 14 Juni 1967. Sementara, sidang IBF di London pada 4 Juli 1967 memutuskan, lanjutan set ketiga partai kedelapan final Thomas Cup mesti digelar di tempat netral. “Orang-orang Eropa tidak familiar dengan atmosfer (penonton) di sini. Itu alasannya kenapa mereka bereaksi seperti itu,” kenang Rudy Hartono, dikutip Bernd-Volker Brahms dalam Badminton Handbook: Training, Tactics, Competition . Selandia Baru lalu terpilih menjadi tuan rumah pertandingan yang dihelat pada Oktober 1967 itu. “Tapi Indonesia tidak muncul. Skor menjadi 6-3 untuk kemenangan Malaysia,” ungkap Ferry Sonneville dalam biografinya Karya dan Pengabdiannya yang ditulis Wisnu Subagyo. IBF menyatakan, skor itu merujuk pada kemenangan walk out (WO) untuk Malaysia atas Indonesia. Alhasil, Malaysia berhasil mengembalikan dominasi Thomas Cup-nya sejak 1949 sebelum direbut Indonesia, dan Indonesia gagal mempertahankan dominasi Thomas Cup yang selalu direbutnya sejak 1958. Kerugian besar itu menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Menteri Luar Negeri Adam Malik sampai ikut berkomentar. “Kita harapkan Malaysia mempunyai sportivitas. Kalau Malaysia menerimanya (trofi Thomas Cup), berarti mereka tidak sportif. Sebab pertandingan belum selesai dan kita telah memperlihatkan kebesaran jiwa kita,” katanya dikutip Kompas , 20 Juli 1967. Toh, Malaysia dengan bangga membawa pulang Thomas Cup. Itu merupakan gelar keempatnya setelah Thomas Cup 1949, 1952, dan 1955. Siapa Herbert Scheele? Sebelum adanya “Insiden Scheele”, publik Indonesia jarang ada yang tahu siapa Scheele dan bagaimana dia bisa sampai dihormati dalam dunia bulutangkis. Menurut Brahms, Scheele dihormati publik bulutangkis dunia lantaran kiprahnya dalam memajukan olahraga itu. Lahir di Bromley, Kent, Inggris pada 1905, pria bernama lengkap Herbert August Edward (HAE) Scheele itu justru lebih dulu karib dengan tenis, kriket, dan hoki. Baru pada usia 22 tahun Scheele memutuskan main bulutangkis dengan mengikuti berbagai event lokal hingga usia 43 tahun. Scheele kemudian masuk ke jajaran pengurus bulutangkis Inggris. Kariernya terus menanjak hingga pada 1938 terpilih menjadi wakil sekretaris IBF (sejak 2006 berubah nama menjadi BWF/Federasi Bulutangkis Dunia). Usai Perang Dunia II, dia bersama koleganya membangun kembali IBF, bahkan seorang diri menyusun buku pedoman IBF setebal 400 halaman. Jabatannya naik menjadi sekretaris IBF. Di tengah usia yang terus menua, sebagai sekretaris kehormatan dan honorary referee Scheele kerap bertindak tegas, lugas, dan saklek terhadap aturan-aturan bulutangkis dunia berdasarkan pedoman IBF yang disusunnya. “Ensiklopedia Berjalan”, “Mr. Badminton” dan beragam julukan lain pun melekat pada pria yang pernah menerima gelar Order of the British Empire (OBE) dari Kerajaan Inggris itu. Reputasi Scheele perlahan mendapat penghormatan dari banyak pihak. “Seorang mantan pebulutangkis ternama pernah mengatakan tentang sosoknya: Di usia keemasan (sebagai pemain), kami bisa sangat tidak menghormatinya. Namun, sekarang saya sadar betapa besar kami berutang padanya. Dia Bapak Bulutangkis, tidak hanya untuk Inggris, tapi juga dunia,” kutip Richard Eaton dalam International Badminton: The First 75 Years. Publik Indonesia sendiri akhirnya bisa memaafkan Scheele. Terlebih, para petinggi bulutangkis tanah air. Salah satu petinggi PBSI, Suharso Suhandinata, bahkan turun tangan menyelamatkan Scheele keluar dari Istora pasca keputusannya menghentikan final Thomas Cup 1967. Keesokan harinya, Suharso ikut mengantar Scheele sampai hotel dan Bandara Kemayoran. Pada 1979, Scheele dan istrinya, Betty, mengunjungi Indonesia. Betty yang tahu kisah suaminya dalam Thomas Cup 1967, terkesan karena tak ada lagi sorakan penghinaan dari penonton Istora. “Publik (Indonesia) nampaknya sudah memaafkanmu,” celetuk Betty yang duduk di sebelah Scheele di meja honorary referee sebagaimana dimuat dalam biografi Suharso. Scheele baru pensiun dari IBF pada 1 Juli 1976, bertepatan dengan perhelatan Thomas Cup ke-10 di Bangkok, Thailand. Namun, hidup Scheele tetap tak jauh dari bulutangkis di mana dia kemudian menjabat penasihat wakil presiden IBF. Lima tahun berselang, 29 Maret 1981, Scheele mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Kent, Inggris karena kanker paru-paru. Namanya diabadikan dalam Hall of Fame BWF dan trofi. “Herbert Scheele Trophy mengabadikan namanya oleh BWF yang diberikan untuk figur-figur yang berjasa besar sejak 1986. Rudy Hartono (1986) dan Susi Susanti (2002) termasuk di antara para penerimanya,” tulis Brahms.

  • Si Bung dan Para Burung

    PRESIDEN Sukarno dikenal sebagai penyayang binatang, terutama burung. Ia paling tidak suka melihat burung terkurung dalam sangkar. Soal ini diketahui kalangan terdekatnya saja. Namun, banyak orang menyangka Sukarno, sebagai keturunan Jawa, tidak lepas dari hobi memelihara burung. Suatu hari datanglah dua lelaki Maluku ke Istana Negara. Mereka ayah dan anak. Kepada para pengawal presiden, mereka mengatakan ingin mempersembahkan seekor burung nuri raja yang indah kepada presiden. Bagaimana respons Sukarno? Bambang Widjanarko, ajudan Sukarno, mengisahkannya dalam Sewindu Dekat Bung Karno . Alih-alih menolak, Sukarno menyambut tamunya dengan ramah. Ia menanyakan keluarga, perjalanan, dan kondisi daerah asal mereka. Diajaknya pula tamunya menikmati minum teh dengan kue. Setelah banyak bercerita, barulah Sukarno menanyakan soal burung nuri raja yang dibawa tamunya. “Jadi Bapak mau menghadiahkan burung ini kepada saya? Jika ya, saya boleh berbuat apa saja terhadap burung ini, bukan?” ujar Sukarno. “Ya Pak, tentu saja. Terserah Bapak mau diapakan burung ini,” jawab salah seorang tamu itu. “Nah kalau begitu, ikutlah saya,” ujar Sukarno sambil menuruni tangga Istana dan berdiri di pinggir taman. Sambil menoleh kepada si bapak itu, Sukarno lantas memerintahkan seorang pengawalnya untuk melepaskan burung yang indah itu ke alam bebas. Menyaksikan pemandangan tersebut, kedua tamu dari Maluku itu hanya bisa melongo. “Pak, burung ini akan jauh lebih senang bila ia lepas bebas dapat terbang ke manapun. Biarkan ia merdeka, seperti kita pun ingin merdeka selama-lamanya,” kata Sukarno. Masalah burung bagi Sukarno tak bisa dikompromikan. Siapapun yang memasung kebebasan burung, jika ia tahu, pasti akan ia suruh melepaskannya. Hal ini juga pernah dialami Letnan Satu C.H. Sriyono, anggota Detasemen Pengamanan Chusus (DPC) Tjakrabirawa dari Corps Polisi Militer (CPM). Ceritanya, saat bertugas di Istana Tampaksiring, Sriyono membeli seekor jalak bali. Supaya tidak ketahuan Sukarno, ia memasukan jalak bali itu ke salah satu kantong celananya. Namun tetap saja ketahuan. “Itu apa yang ada dalam saku celana kamu? Kok gerak-gerak?” tanya presiden. “Siap! Burung, Pak!” “Lepaskan!” “Siap!” Jalak bali pun bebas, terbang tinggi, meninggalkan pembelinya yang gondok luar biasa.*

  • Mengapa Rumah Cimanggis Harus Diselamatkan?

    PERNYATAAN pers Hussein Abdullah, juru bicara Wakil Presiden Jusuf Kalla, baru-baru ini yang mengatakan sejarawan mendadak perhatian pada Rumah Cimanggis yang akan dihancurkan untuk pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), mendapat bantahan dari Komunitas Sejarah Depok. Ratu Farah Diba, ketua Depok Heritage Community, mengatakan bahwa perhatian terhadap Rumah Cimanggis tidak tiba-tiba. Setidaknya sejak 2011 sejarawan dan pemerhati situs-situs sejarah telah bergerak untuk menyelamatkan situs-situs sejarah termasuk Rumah Cimanggis. Depok Heritage Community telah mendaftarkan Rumah Cimanggis ke kantor Badan Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Serang dengan nomor registrasi 007.02.24.04.11. Pendaftaran ini adalah tindak lanjut dari kerja inventarisasi situs-situs sejarah di Depok yang dilakukan sejak tahun 2010. “Jadi, tujuh tahun lebih sebelum heboh UIII,” tegas Farah, dalam keterangan pers yang diterima Historia. Farah bilang, tentu saja pihaknya dan masyarakat Depok tidak perlu repot jika pemerintah menjalankan amanat UU Cagar Budaya No. 10 tahun 2011. Di sana tertulis, bahwa untuk melestarikan cagar budaya, negara bertanggung jawab dalam pengaturan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya. “Kami para sejarawan dan masyarakat Depok tentu tidak perlu repot melakukan upaya-upaya memperhatikan, menginventarisasi, mengumpulkan informasi kesejarahan dan mendaftarkan situs sejarah,” ujarnya. Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Depok Heri Syaefudin merasa heran kenapa proyek UIII di kawasan RRI tidak disosialisasikan dengan warga Depok. Padahal, dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Depok, kawasan RRI adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH). “Yang santer terdengar justru berita pada tahun 2015 kawasan itu oleh Walikota Nurmahmudi disosialisasikan sebagai arboretum atau hutan kota yang bisa menjadi paru-paru dunia,” ujar Heri. Saat ini, kata Heri, Depok baru memenuhi sembilan persen RTH publik. Oleh karena itu, wacana RTH di kawasan RRI sangat dibutuhkan untuk memenuhi 30 persen kewajiban RTH. “Sekaligus bisa difungsikan sebagai kawasan resapan yang menahan run off jika musim hujan tiba dan dengan demikian mengurangi kemungkinan banjir ke Jakarta,” kata Heri. Sementara itu, sejarawan JJ Rizal menegaskan gerakan #SelamatkanRumahCimanggis berkonsentrasi lebih kepada bagaimana agar situs sejarah itu selamat, bukan pada upaya menolak keberadaan UIII. Sebab, bagi gerakan ini tak perlu mempertentangkan dua hal yang sebenarnya berfungsi sama, yaitu sebagai medium pendidikan. “Seperti juga universitas, bagi kami situs sejarah juga medium pendidikan,” kata Rizal. Apalagi yang akan didirikan adalah Universitas Islam Internasional yang disebut akan dijadikan pusat peradaban Islam. Menurut Rizal, Islam dan sejarah sangat dekat hubungannya. Al-Qur’an hampir dalam banyak kandungan bertutur tentang masa lalu. “Qur’an tak sekadar cerita tapi juga mengajak umatnya memahami makna peristiwa masa lalu agar berpikiran bukan hanya luas tetapi juga sehat. Sebab, dalam kandungan ajaran Islam masa lalu itu adalah sumber pelajaran,” jelas Rizal.

  • Daftar Panjang Kebakaran Situs Sejarah

    KEBAKARAN yang melanda Museum Bahari Selasa (16/1) lalu telah menghapus sebagian jejak masa lalu perjalanan sejarah bangsa. Gedung A, C, dan D museum yang merupakan bangunan cagar budaya hampir ludes kecuali dinding-dindingnya. Bersama kebakaran itu, sejumlah koleksi museum ikut sirna pula. Celakanya, kecelakaan itu terjadi dengan penyebab yang tak jauh beda dari musibah-musibah lain sebelumnya. Kepala Museum Bahari Husnison Nizar mengakui, museumnya masih minim peralatan keamanan seperti sprinkle dan alat pendeteksi asap. Pembaruan instalasi listrik pun baru dalam tahap rencana dan penganggaran. “Ya kita hanya ada sedia APAR (alat pemadam api ringan). Tahun ini sebenarnya sudah kita anggarkan instalasi listrik, totalnya sekitar Rp800 juta,” tutur Husnison di lokasi, Selasa (16/1/2017). Kebakaran itu mendatangkan keprihatinan masyarakat. Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana langsung meninjau lokasi dan memberi simpati kepada Sonni, sapaan Husnison. “Kita turut prihatin. Yang namanya musibah, kita mana tahu kapan dan bagaimana datangnya. Tapi semoga ini bisa jadi pelajaran ke depannya agar tidak terjadi lagi. Kita juga siap bantu dan kalau ada apa-apa, mohon beritahukan saja ke kami,” cetus Putu, yang juga anggota Komisi X DPR RI, saat berbincang dengan Husnison di lokasi. Kebakaran Museum Bahari menambah panjang daftar musibah yang terjadi pada museum, cagar budaya, dan situs-situs bersejarah di Indonesia. Pada 11 Juli 2017, Istana Bala Putih di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) juga ludes dilahap api. Menurut saksi mata, kebakaran di istana yang didirikan tahun 1931 dan dijadikan tempat tinggal Sultan Kaharudin III itu diawali dengan suara ledakan. Api lalu merembet ke seluruh bangunan yang pada 1959 dihibahkan kepada pemerintah dan dijadikan Gedung Wisma Daerah itu. Di bulan dan tahun yang sama, kebakaran juga menghanguskan sebuah bangunan bersejarah peninggalan masa Hindia Belanda di Bandung. Kebakaran di bangunan yang kini dimiliki PT KAI Daerah Operasi II Bandung itu juga disebabkan korsleting yang terjadi di sebuah kontrakan dekat bangunan tersebut. Pada 19 Oktober 2015, bangunan bersejarah yang ditempati Polres Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan juga habis terbakar. Penyebabnya sama, hubungan arus pendek. Akibat kebakaran itu ruangan Bagian SDM, ruangan Sat. Binmas, ruangan SPKT ludes. Gedung yang didirikan pada 1738 itu semasa Hindia Belanda merupakan kediaman residen Selayar. Setelah dikuasai Laskar Pejuang Rakyat Indonesia Selayar (LAPRIS) dan dijadikan markasnya, gedung itu lalu dijadikan kantor Polres. Di tahun yang sama pula, 16 Juli 2015, kebakaran melumat kelenteng berusia 150 tahun Liong Hok Bio di Magelang. Api diduga berasal dari dupa di salah satu tempat persembahyangan kelenteng. Tiga bulan sebelumnya, 2 Maret 2015, nahas serupa menimpa Vihara Dharma Bhakti di Petak Sembilan, Jakarta Barat. Menurut penyelidikan, api berasal dari lilin dan dupa yang ada di sana. Vihara Dharma, sebagaimana dijelaskan jakarta.go.id , merupakan salah satu vihara tertua di ibukota. Awalnya, vihara yang berdiri pada 1650 itu bernama Kelenteng Guo Kun Guan. Belanda menghancurkan kelenteng itu pada 1748 usai Geger 1740. Tapi kapitan Tionghoa membangunnya kembali pada 1755 dengan nama Kelenteng Jin De Yuan. Kebakaran terhadap bangunan bersejarah juga terjadi pada rumah betang terpanjang dan tertua di Kalimantan Barat, Uluk Palin, pada 13 September 2014. Api diduga berasal dari kayu bakar yang digunakan warga setempat untuk memasak. Menurut catatan, rumah adat suku Dayak sepanjang 286 meter dan lebar 15 meter ini didirikan pada 1941. Rumah itu disekat 53 bilik untuk dihuni 560 jiwa. “Diharapkan musibah ini jadi pelajaran bagi pemerintah karena rumah betang bisa punah. Apalagi Uluk Palin ini bernilai sejarah tak ternilai. Meski arsitekturnya sudah diperbarui, nilai budayanya tak seperti dulu lagi,” ungkap Ketua Komunitas Masyarakat Pariwisata Kapuas Hulu Hermas R Maring, dikutip harian Kompas 15 September 2014. Pada tahun itu pula kebakaran menghanguskan kelenteng tertua di Banyuwangi, Jawa Timur, Hoo Tong Bio, pada 13 Juni. Api berasal dari tempat persembahyangan sisi kanan kelenteng. Akibatnya, beberapa dokumen sejarah dan prasasti pendirian kelenteng yang dibangun pada 1784 itu ikut musnah. Di kota pahlawan Surabaya, Gedung Balai Pemuda mengalami nahas serupa pada 20 September 2011. Api dari korsleting menghanguskan gedung yang berdiri pada 1907 itu. Pada masa kolonial, gedung bernama De Simpangsche Societeit itu merupakan tempat “dugem” orang-orang Belanda. Setelah direbut dan dijadikan markas Pemuda Republik Indonesia (PRI) pada masa revolusi fisik, gedung itu kemudian diambilalih penguasa militer (kini Kodam) pada 1950. Tujuh tahun kemudian, gedung itu diserahkan ke Pemerintah Kota Surabaya, sekaligus mengubah namanya menjadi Balai Pemuda. Tujuh belas hari sebelum kebakaran Balai Pemuda, kebakaran menghanguskan Rumah Bolon di Museum Batak TB Silalahi –yang dibangun mantan menteri Pendayagunaan Aparatur Negara TB Silalahi pada 7 Agustus 2006– di Balige, Sumatera Utara. Lagi-lagi, api berasl dari korsleting. Kebakaran terhadap bangunan cagar budaya juga menghampiri Istana Pagaruyung di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pada 21 Maret 2010. Akibatnya, koleksi kain adat, perabotan rumah tangga, hingga sejumlah alat-alat upacara adat ikut musnah. Hanya beberapa dokumen penting perihal istana yang selamat jilatan api. Dalam catatannya, bangunan yang oleh masyarakat setempat disebut Istana Si Linduang Bulan itu didirikan Sultan Alif Kalifatullah pada 1550. Dua abad kemudian, istana itu direstorasi karena beberapa bagiannya sempat runtuh. Kebakaran pada 2010 itu bukan kebakaran pertama Istana Pagaruyung. Selain pernah mengalaminya saat Perang Paderi (1821), istana itu kembali terbakar pada 3 Agustus 1961dan 21 Maret 2010.

  • Ketika Si Bung Murka

    Apa yang terjadi usai KRI Matjan Tutul dikeroyok oleh tiga kapal perang Belanda? Dalam pelariannya di atas KRI Harimau, Kolonel Sudomo dengan sigap segera mengirim kawat ke MBAL (Markas Besar Angkatan Laut) di Jakarta. Dia meminta agar MBAL mengontak MBAU (Markas Besar Angkatan Udara) agar secepatnya mengirimkan pesawat-pesawat pembom AURI untuk membantu posisi KRI Matjan Tutul. “Saya meminta mereka untuk membom saja kapal-kapal Belanda yang sedang mengejar tersebut, karena jelas mereka semua sudah memasuki wilayah perairan territorial Indonesia,” ujar Sudomo kepada Julius Pour dalam Laksamana Sudomo:Mengatasi Gelombang Kehidupan. Alih-alih terlaksana, permintaan Sudomo itu malah tak mendapat respon apapun. Mengetahui gelagat seperti itu, Asisten Operasi KASAD Kolonel Moersjid yang saat itu ada di dalam KRI Harimau, menjadi geram. Belakangan, diketahui bahwa meskipun kawat itu sampai ke MBAU, namun pihak AURI mengalami kesukaran teknis operasional untuk mewujudkan suatu permintaan yang sifatnya mendadak dan tidak terencana. Presiden Marah Begitu sampai di pangkalan, Kolonel Moersjid langsung terbang ke Jakarta. Setiba di ibu kota, dia lantas menemui Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal A.H. Nasution. Moersjid melaporkan semua yang dia alami di Arafuru, termasuk respon negatif AURI. Nasution menanggapinya dengan diam seribu basa. Moersjid kesal, lantas berkata kepada atasannya itu: “Jenderal takut melaporkan kenyataan ini?” Hening sejenak. Namun keluar juga ucapan dari Nasution “Hari ini akan ada sidang Dewan Pertahanan Nasional di Istana Bogor, silakan Kolonel ikut ke sana…” Empat hari setelah kejadian Insiden Arafuru, Moersjid melangkah ke ruang rapat di Istana Bogor. Di hadapan Presiden Sukarno dan para perwira tinggi, secara emosional dia menceritakan apa yang dia alami selama ada di palagan Arafuru. “Saya tak pedulikan semuanya. Pangkat saya hanya kolonel, pangkat paling rendah dari seluruh hadirin di ruangan tersebut. Saya nothing to lose , maka saya beberkan saja semuanya dengan lugas. Omong kosong AURI mampu menjaga wilayah udara Indonesia up to the minute , omong kosong karena tak seekor pun (pesawat) capung muncul ketika kapal kami diserang…” Mendengar laporan langsung dari Moersjid, wajah Presiden Sukarno menjadi merah padam. Nampak sekali Si Bung menjadi murka. Dia lantas membuat rapat terbatas bersama panglima dari ketiga angkatan: Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Saat memasuki ruang rapat itulah, tetiba Kasal R.E. Martadinata langsung menunjuk muka Kasau Suryadarma. “Mengapa AURI tidak membantu kapal saya?!” tanyanya sambil terlihat emosional. Suryadarma yang merasa tak pernah dilibatkan dalam operasi itu tentu saja tak bisa menerima begitu saja dirinya disalahkan. Menurutnya, tak ada alasan bagi AURI untuk menolak tugas jika memang sebelumnya sudah dikonfirmasi mengenai suatu operasi rahasia. “Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada surat tembusan ke AURI bahwa ALRI sedang mengadakan operasi,” jawab Suryadarma dalam biografinya Bapak Angkatan Udara: Suryadi Suryadarma karya Adityawarman Suryadarma. Usai rapat, Suryadarma langsung menuju MBAU. Dari seluruh berita yang masuk melalui PHB Langgur ditemukan satu berita SOS yang berasal dari KRI Matjan Tutul (bukan dari KRI Harimau). Namun ketika dikonfirmasi oleh PHB Langgur, taka da respon sama sekali dari sana. Saat itu juga, PHB Langgur menindaklanjuti dengan melakukan cross-check ke PHB Cililitan, dilanjutkan dengan menanyakan kepada piket Komando Mandala. Namun piket Komando Mandala pun menyatakan tak tahu menahu tentang adanya kegiatan operasi tersebut. Suryadarma Diberhentikan Merasa tidak ada yang salah dengan AURI, dalam rapat kedua di Istana Merdeka bersama Bung Karno dan Kasad Nasution serta Kasal Martadinata, Kasau Suryadarma menyatakan bahwa AURI tak bisa disalahkan dalam kasus tersebut. “Bagaimana AURI bisa membantu kalau tidak tahu adanya kegiatan kalian. Kita harus lebih terbuka dalam merencanakan semua kegiatan operasi…” ujar Suryadarma. Apapun yang terjadi, Bung Karno terlanjur marah akibat Insiden Arafuru tersebut. Kepada ketiga kepala staf itulah, dia lantas bertanya: siapkah untuk melakukan aksi balas dendam kepada Belanda? Martadinata dan Nasution menyatakan siap. Hanya Suryadarma yang menyatakan tidak. Dalam biografinya, Suryadarma menyatakan tidak yakin dengan kekuatan personilnya. Jika keinginan Bung Karno, bahwa tentara kita harus diterjunkan secara besar-besaran di Irian itu artinya Indonesia sudah menyatakan perang terbuka kepada Belanda. Untuk perang terbuka, kata Suryadarma, PGT (Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara) tentu saja belum memiliki kemampuan itu. Mereka hanya bisa melakukan operasi terbatas saja. Soal perlengkapan komunikasi antar pasukan pun dinyatakan masih minim. Singkatnya, Suryadarma tidak ingin mengorbankan jiwa prajurit-prajuritnya secara sia-sia, hanya untuk menyenangkan hati Bung Karno. Kepada Si Bung, Suryadarma juga memaparkan bagaimana masalah akan terjadi jika pesawat-pesawat pembom AURI tidak mendapat pangkalan yang layak untuk menyerang posisi Belanda di Irian. “Kita memang punya Morotai, tapi terlalu jauh dari Irian. Adapun pangkalan udara Leftuan dan Langguran yang relatif dekat dengan Irian, kondisinya tidak memenuhi syarat untuk didarati oleh MIG-21…”ungkap Suryadarma. Alih-alih bisa menerima alasan Suryadarma, Bung Karno malah menarik Nasution dan Martadinata ke ruang sebelah. Mereka meninggalkan Suryadarma sendirian. Suryadarma sendiri mengakui dia sangat kecewa diperlakukan demikian oleh pimpinan tertingginya. Setelah beberapa lama, Bung Karno dan kedua kepala staf kembali ke ruangan di mana Suryadarma berada. Dengan suara berat namun tegas, ia menyatakan memberhentikan Suryadarma dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Udara dan mengangkat Omar Dani sebagai penggantinya. Tentu saja, sebagai seorang tentara, tak ada sikap lain selain menerima pemberhentian itu secara lapang dada. Sepeninggal Suryadarma, operasi “balas dendam” pun dirancang. Awalnya aksi militer yang diberi sandi “Operasi Jayawijaya” itu akan dilakukan pada 12 Agustus 1962. Lantas karena banyak kendala, kemudian dimundurkan menjadi tanggal 19 Agustus 1962. Sebelum terjadi, empat hari pra operasi, markas besar PBB di New York mengumumkan bahwa perundingan antara Indonesia dengan Belanda telah berhasil mencapai suatu kesepakatan: Belanda akan angkat kaki dari Irian Barat pada 1 Mei 1963, Maka otomatis Operasi Jayawijaya pun tidak jadi diselenggarakan.

  • Pemilik Rumah Cimanggis

    Rumah bersejarah di Depok akan dihancurkan. Alasannya pemilik rumah itu korup semasa menjabat sebagai gubernur jenderal VOC.

  • Berbau Kolonial, Sebuah Sekolah di Belanda Ganti Nama

    SEBUAH sekolah dasar di kawasan Indische Buurt, Amsterdam mengganti nama Jan Pieterszoon Coen (JP Coenschool) yang telah disandangnya selama bertahun-tahun. “Sejarah adalah sesuatu yang indah,” kata Sylvie van den Akker, kepala sekolah, seperti dikutip dari situs koran Het Parool kemarin , 16 Januari 2018, namun nama JP Coen menurutnya menanggung beban kelam sejarah. Jan Pieterszoon Coen atau yang bagi sebagian warga Batavia tempo dulu dipanggil Murjangkung, punya catatan hitam dalam sejarah penjajahan di Indonesia. Sebelum jadi gubernur jenderal Batavia pada 1619, dia bertanggungjawab atas pembunuhan massal ribuan orang di kepulauan Banda demi monopoli pala VOC. Apa yang dilakukan JP Coen di masa lalu itu dianggap tak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut sekolah. “Ini sama sekali tidak sesuai dengan nilai kita sebagai sekolah," kata Sylvie kepada NAP Nieuws . "Kami adalah sekolah dasar multikultural yang damai, dan kami juga ingin memancarkan nilai-nilai itu." Nama JP Coen yang disandang sekolah tersebut ternyata menimbulkan rasa tak nyaman di kalangan murid dan para pengajarnya. Gara-gara itu, mereka sepakat untuk menyebut nama sekolah mereka “Coenschool” tanpa menyebut inisial nama depannya sebagai usaha menghilangkan kesan buruk yang melekat pada nama JP Coen. “Nama Coenschool merujuk kepada seorang anak laki-laki, bukan kepada tokoh sejarah,” ungkap Sylvie. Sejak setahun lalu, sekolah yang terletak di wilayah timur Amsterdam itu juga berjejaring dengan Unesco. Organisasi PBB itu dikenal menjunjung tinggi nilai perdamaian, kebebasan, hak asasi manusia dan kesetaraan. Nama sekolah pun diharapkan sesuai dengan semangat nilai-nilai tersebut. Untuk itu staf sekolah kini sedang menyiapkan sebuah survei nama sekolah yang akan diumumkan kepada publik. Mereka berharap warga bisa menyumbangkan nama baru buat sekolah tersebut. Coenschool ini berada di tengah kawasan yang banyak mengabadikan nama daerah di Indonesia sebagai nama jalannya, antara lain Javastraat, Sumatrastraat dan Madurastraat. Kontroversi nama JP Coen tak terjadi hanya sekali di Belanda. Pada 2015 yang lalu, perdebatan juga pernah berlangsung ketika Pemkot Amsterdam menggunakan nama JP Coen sebagai nama terowongan yang menghubungkan Amsterdam dengan Zaandam. Dalam pelajaran sejarah Belanda, VOC tak pernah dikenang sebagai lembaga kolonial yang banyak mendatangkan musibah bagi warga jajahan. Generasi muda Belanda lebih mengenal VOC sebagai perusahaan multinasional pertama di dunia yang pernah berjaya menguasai jalur perdagangan dunia. Namun kini suara-suara kritis bermunculan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tak berkaca kepada sejarah kelam Belanda.*

  • Bang Ali dan Bang Becak

    Gubernur Anies Baswedan menggembar-gemborkan akan menghidupkan kembali rute becak di Jakarta. Rencananya kendaraan roda tiga bertenaga manusia ini dipersiapkan sebagai moda transportasi lingkungan. Wacana Anies memantik perdebatan. Pasalnya, setelah sekian lama becak menjadi kendaraan terlarang di ibukota. Mundur setengah abad silam, keberadaan becak telah merisaukan Ali Sadikin ketika baru menjabat gubernur Jakarta. Dalam artikel bertajuk “Laporan buat Bang Dikin” yang dimuat majalah Selecta tahun 1969, jumlah becak di Jakarta berjumlah 110.000 sedangkan ruas jalan yang dapat dilalui kendaraan sepanjang 921 km. Itu berarti setiap sembilan meter ruas jalan terdapat satu becak. Menghadapi kenyataan demikian, tentu saja Bang Ali harus putar akal. “Soal becak sebenarnya sudah agak lama terasa, bahwa hal itu harus terus ditertibkan. Tak bisa dibiarkan terus begitu seperti adanya, sementara jumlah kendaraan naik terus. Pemerintah DKI harus menertibkannya,” tutur Ali dalam otobiografinya Ali Sadikin: Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi karya Ramadhan K.H. Pada 1970, Ali Sadikin menyatakan Jakarta sebagai “kota tertutup”. Saat itu, dimulailah operasi pembersihan jalan dari orang-orang yang memiliki pekerjaan berbasis jalanan seperti tukang becak dan pedagang keliling. Tahap demi tahap, Ali Sadikin mencetuskan berbagai kebijakan untuk menghilangkan becak dari Jakarta. Pada 16 Mei 1970, Ali Sadikin mengeluarkan instruksi: melarang memproduksi dan memasukkan becak ke Jakarta. Dalam ketentuan ini, becak yang boleh beroperasi harus punya izin lewat prosedur pendaftaran. Tahun berikutnya, Pemda Jakarta menetapkan sejumlah jalan utama dan jalan lintas ekonomi yang tak boleh dilewati becak. Polisi bahkan dikerahkan guna menggerebek becak-becak yang berada di daerah terlarang dan menyita kendaraannya. Pelarangan becak menjadi legal setelah Peraturan Daerah (Perda) No 4/1972 menetapkan becak sama dengan oplet, bukan jenis kendaraan yang layak untuk Jakarta. Perda itu sekaligus menetapkan bahwa Jakarta hanya mengenal empat jenis angkutan umum: kereta api, bus, taksi, dan angkutan roda tiga bermesin. Prakarsa Ali menuai hasil yang cukup signifikan. Dalam waktu singkat, jumlah becak di Jakarta menyusut tajam dari 160.000 menjadi 38.000 buah. Sudah barang tentu yang paling kena imbas dari keputusan Ali Sadikin adalah mereka “abang-abang becak”. “Saya masih sakit hati, Ali Sadikin terlalu mementingkan orang-orang kaya, sedangkan becak digusur terus. Jalan-jalan memang tambah mulus, tapi rakyat tambah kurus,” ujar Kasim, seorang tukang becak yang sudah “narik” selama 14 tahun dikutip Tempo , 18 Juni 1977. “Saya ingin seperti (zaman) Soekarno dulu, saya bisa bebas mencari nafkah tidak seperti sekarang, dimana-mana digencet,” keluh Kasim. Ali Sadikin memahami, tindakan Pemda Jakarta terasa berat oleh para pengemudi becak. Di sisi lain, tak bisa dimungkiri, banyaknya becak di tengah kota menimbulkan beragam macam masalah. Keputusan menertibkan becak harus diambil untuk memperlancar lalu lintas dan untuk mengamankan jiwa pemakai jalan, termasuk jiwa para pengemudi becak sendiri. “Dan kalau lalu lintas Jakarta macet, semua pihak merugi. Lalu lintas di Jakarta harus lancar. Saya harus terus mengusahakan soal ini, dari hari ke hari,” kata Ali Sadikin. Becak dalam Wajah Ibukota Bagi Ali Sadikin penertiban pelarangan becak bukan sekadar mengatasi persoalan lalu lintas. Dia menyadari betul ada permasalahan sosial di balik keberadaan tukang becak di Jakarta. Dalam salah satu edisinya, majalah Ekspress tahun 1970 mengupas becak sebagai salah satu “penyakit” di ibukota. “Tukang becak termasuk pengangguran tidak kentara ( disguised unemployment ). Dalam perkotaan, besar sekali masalahnya,” tulis Ekspress . Menurut sejarawan Susan Blackburn, ada dua alasan mendasar, mengapa Ali Sadikin tak menghendaki becak berkeliaran di Jakarta. Pertama , pekerjaan macam tukang becak menampung imigran dalam jumlah besar. Jika profesi tukang becak diberantas, maka akan menekan laju urbanisasi. Hal ini dapat menjadi cara mengatasi persoalan demografi Jakarta yang padat penduduk. Kedua , para pekerja ini tak sesuai dengan gambaran Jakarta sebagai kota metropolitan yang baru. “Para penarik becak memenuhi jalan, memperlambat aliran lalu lintas kendaraan bermotor dan memperlihatkan secara sekilas gambaran yang memalukan atas teknologi bertenaga manusia yang tersembunyi di balik wajah teknologi modern Indonesia,” tulis Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun . Hiruk pikuk serupa juga dialami penyair-cum-sejarawan Zeffry Alkatiri kala becak memenuhi jalanan Jakarta. Dalam bukunya Pasar Gambir, Komik Cina dan Es Shanghai: Sisik Melik Jakarta 1970-an, dia mengenang Jakarta menjadi macet sebab pertambahan becak tidak pernah terdaftar. Di setiap perempatan atau pertigaan, becak menguasai jalanan, sehingga menimbulkan kemacetan. “Malah kasihan melihat tukang becaknya yang ngos-ngosan genjot pedal becaknya,” ujar Zefry. Dalam skema Ali Sadikin, zona yang telah bebas becak akan dialihkan kepada bemo. Dan untuk menggantikan becak, diperkenalkan bajaj –kendaraan penumpang kecil buatan India dengan mesin dua tak. “Bahwa pada suatu saat nanti, bemo pun harus menyisih juga. Dan bemo akan harus diganti oleh kendaraan yang lebih menyenangkan lagi. Begitu terus. Semua menghendaki perbaikan,” tutur Bang Ali. Meski demikian, ternyata becak tak jua lenyap dari Jakarta. Hingga Ali Sadikin mengakhiri kepemimpinannya, becak tetap bertahan di jalanan ibukota walau harus menyingkir ke kawasan pinggiran. Transportasi bis yang hanya beroperasi di jalan-jalan utama tak memadai permintaan kebutuhan pengangkutan masyarakat, khususnya untuk jarak dekat. Selain itu, mayoritas penarik bacak tak mampu memperoleh surat izin mengemudi dan membayar sewa bajaj. Bertahun berselang, Ali Sadikin mengakui, sebagai cara untuk mengais rejeki di ibukota, memang tak mudah untuk menghapuskan becak. Menurut Ali, nasib tukang becak dan pemilik becak mesti diselesaikan terlebih dahulu baru becak bisa dihapuskan. Namun, Bang Ali –yang digadang-gadang sebagai gubernur terbaik Jakarta– konsisten terhadap keputusannya terdahulu. “Jangan mau jadi kuli becak begitu, kalau kita mau mempertahankan kehormatan bangsa ini,” sebagaimana dikutip dalam salah satu edisi Tempo tahun 1990. Kelemahan Ali Sadikin itu kemudian dituntaskan oleh gubernur-gubernur selanjutnya yang tetap menyisipkan penertiban bacak ke dalam agenda penataan kota. Lantas, dengan menghadirkan lagi becak di Jakarta, apakah Anies telah belajar dari para pendahulunya?

  • Tiga Kali Celaka di Indonesia

    KEBAKARAN yang melanda Museum Bahari, Jakarta Utara Selasa (16/1/2018) kemarin tak hanya menghancurkan sebagian bangunan museum, tapi juga benda-benda koleksinya. Menurut dugaan sementara, api berasal dari korsleting. Kepala Museum Bahari Husnison Nizar mengatakan, kebakaran berawal dari sisi utara Gedung C kemudian merembet ke Gedung A dan sebagian Gedung D. Pantauan Historia di lokasi, lantai 2 Gedung D benar-benar ludes terbakar. Hanya tembok-tembok betonnya saja yang masih tersisa. Di antara koleksi museum yang hangus, terdapat miniatur kapal perang Amerika Serikat (AS) USS Houston (CA-30). Kapal penjelajah berat kelas Northampton itu salah satu tulang punggung AL AS di Perang Pasifik, dan menemui ajal di Selat Sunda. Kapal berbobot 9200 ton, panjang 182,9 meter, dan lebar 20 meter itu mulai masuk jajaran armada AL AS pada 7 September 1929. Sebagai flagship Armada Asiatik AL AS dengan komandan Laksamana Thomas Charles Hart, Houston mendapat tugas pertama mendaratkan marinir dan pasukan AL AS ke Shanghai dalam rangka stabilisasi situasi di tengah kecamuk Perang Sino-Jepang II, 31 Januari 1930. Saat Perang Pasifik pecah, Houston menggabungkan diri ke dalam armada ABDACOM (America, British, Dutch, Australia Command) yang berbasis di Surabaya. Houston ikut dalam Pertempuran Selat Makassar, 4 Februari 1942. Kerusakan salah satu moncong meriamnya dalam pertempuran itu membuat Houston kemudian mundur ke Cilacap. Baru setelah bertugas bersama beberapa kapal Sekutu lain mengawal konvoi Sekutu dari Darwin ke Kupang, Houston kembali masuk ke dalam pertempuran bersama 13 kapal perang Sekutu lain. Di bawah komando Laksamana Karel Doorman asal Belanda, armada ABDA bertugas memburu 28 kapal perang Pasukan Invasi Timur Jepang pimpinan Laksamana Takeo Takagi. Houston dan kapal penjelajah berat Inggris HMS Exeter menjadi tulang punggungnya –kemudian head to head dengan dua penjelajah berat Jepang Nachi dan Haguro . Mereka mulai berlayar pada 26 Februari, menuju pantai utara Madura. Karena tak menemukan sasaran, beberapa kapal ABDA lalu kembali ke Surabaya. Dalam perjalanan kembali itulah mereka mendapati lawan. “Pukul 16.16 sore 27 Februari itu penjelajah berat Haguro dan Nachi menembaki Houston dan Exeter . Penanda Pertempuran Laut Jawa telah mulai,” tulis PK Ojong dalam Perang Pasifik . Armada ABDA berantakan. Hanya beberapa kapalnya yang selamat. Laksamana Doorman sendiri ikut tenggelam bersama kapalnya HNMLS De Ruyter . Menurut Ojong, faktor terpenting yang membuat ABDA keok adalah longgarnya garis komando. Masing-masing angkatan laut ABDA berkomunikasi menggunakan bahasanya sendiri sehingga simpang siur. Houston dan HMAS Perth –yang tak mengalami kerusakan berarti– lalu mundur ke Tanjung Priok. Bersama kapal perusak Belanda HNMLS Evertsen, kedua kapal melanjutkan pelayaran menuju Cilacap via Selat Sunda. Dalam perjalanan, malamnya mereka bertemu armada Pasukan Invasi Barat AL Jepang di bawah komando Laksamana Muda Keno Kurita, yang baru mendaratkan pasukan Tentara ke-16 AD Jepang, di Teluk Banten. Tiga kapal ABDA itu terkepung dua kapal induk ringan, lima penjelajah serta 12 kapal perusak Jepang. Kontak senjata pun terjadi lagi. Tembakan meriam-meriam 203 milimeter serta torpedo Houston mengenai tiga kapal perusak dan menenggelamkan satu kapal penyapu ranjau Jepang. Namun, hantaman sebuah torpedo Jepang di lambung Houston pada dini hari 1 Maret 1942 membuatnya lumpuh. Perlahan, Houston menyusul Perth yang sudah lebih dulu tenggelam. Dalam perjalanan menuju dasar samudera, Houston kembali dihantam tiga torpedo Jepang. Nakhoda Kapten Albert Rooks beserta ratusan awak kapal ikut tewas ke dasar laut. Sebanyak 368 awak selamat langsung ditawan Jepang, banyak di antara mereka tewas di kamp-kamp kerja paksa Jepang. Kendati sempat tak diketahui selama sembilan bulan, kabar tenggelamnya Houston akhirnya sampai ke Washington. Kisah utuh mengenai tenggelamnya baru didapat usai perang, dari awak-awak selamat yang sudah bebas dari tahanan. Toh, Houston yang telah menjadi kuburan bagi hampir 650 awaknya tetap tak aman di dasar laut. Setelah 70 tahun tenggelam, bangkai Houston mengalami penjarahan sama seperti bangkai kapal-kapal Perang Dunia II lain. “Militer AS dua tahun lalu mendapati bahwa telah terjadi ‘pelanggaran terhadap kuburan’ Houston , yang tenggelam dalam Pertempuran Selat Sunda, juga di Laut Jawa,” tulis theguardian.com , 16 November 2016. Pada 2017, miniatur Houston menjadi bagian dari hibah pemerintah AS kepada Museum Bahari, Jakarta. Tapi yang namanya Houston selalu tak aman sekalipun miniatur. Selasa (16/1) kemarin, api melahap Museum Bahari beserta koleksinya, termasuk miniatur Houston .

  • Keturunan Rasulullah di Cina

    SEJAK ceramah bekas Gubernur Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama ihwal QS al-Maidah ayat 51 berbuntut demo besar berjilid-jilid yang dipimpin seorang habib pentolan suatu ormas berlabel Islam, hingga kini masih ada saja yang tak henti-hentinya membenturkan hampir segala hal yang berbau Cina dengan Islam (untuk meraih kepentingan diri dan atau kelompoknya) meski Ahok sudah dipenjara sesuai desakan mereka.

  • Sumbangsih Pertama Indonesia untuk Palestina

    PADA Desember 2017, serombongan relawan asal Indonesia melakukan misi kemanusiaan dengan mengunjungi beberapa kamp pengungsi Palestina. Melalui Hayat Yolu, sebuah lembaga non-pemerintah asal Turki yang menangani pengungsi Palestina di Beirut, mereka menyerahkan bantuan untuk musim dingin senilai 250 ribu dolar Amerika. “Alhamdulillah, bantuan untuk pengungsian Palestina di Beirut Lebanon sudah sampai melalui Hayat Yolu. Kami tidak bisa menyaksikan secara langsung karena pemerintah setempat tidak menjamin keselamatan kami di sana,” kata artis Melly Goeslaw, yang bersama penyanyi religi Opick ikut dalam rombongan, di akun Instagram -nya, @melly_goeslaw, 23 Desember 2017. Pemberian bantuan untuk musim dingin itu sejatinya bukan yang pertama dilakukan Indonesia. Pada pertengahan Desember 1953, Menlu Sunario Sastrowardoyo –kakak dari kakek aktris Dian Sastrowardoyo– mengirim Duta Besar Keliling (mantan menteri luar negeri di Kabinet Presidensil) Ahmad Subardjo dan anggota parlemen dari Partai Persatuan Tarbiyah Islam (Perti) Siradjuddin Abbas ke Yerusalem guna memenuhi undangan dari General Islamic Congress/Conference atau Muktamar Umum Islam. Kedua wakil Indonesia itu datang sebagai peninjau. Muktamar tersebut diprakarsai Ikhwanul Muslimin dengan sokongan dana 100 ribu dolar Amerika dari pemerintah Arab Saudi. Namanya sengaja mengambil nama sama dengan muktamar sebelumnya yang dipimpin Mufti Besar Yerusalem Mohammad Amin al-Husayni pada 1931. Harapannya, ujar pakar politik Islam dan Timur Tengah Martin Kramer mengutip Al Ahram edisi 10 Desember 1953 di laman pribadinya, martinkramer.org , “Amin bersedia memimpin muktamar itu lagi. Ketika itu Amin bermukim di Damaskus, namun otoritas Yordania mencekalnya (ke Palestina).” Kedua wakil Indonesia itu berangkat dari Jakarta pada 1 Desember via Singapura, Bangkok, Karachi, Baghdad dan mendarat di Kairo pagi dua hari kemudian. Siangnya, mereka menemui mantan sekjen Liga Arab Abdurrachman Azam di Kairo. “Haji Abbas dan saya diterima di kediamannya. Dinyatakan penghargaan tinggi atas beleid pemerintah Indonesia untuk mengirim peninjau-peninjau ke Muktamar Islam di Yerusalem. Ini berarti betapa besar minat rakyat Indonesia terhadap perkembangan Islam di dunia,” tulis Subardjo dalam Kesadaran Nasional, Sebuah Otobiografi. Hari berikutnya, Subardjo dan Abbas terbang ke Yerusalem menggunakan pesawat Air Jordan. Di Yerusalem, anggota peninjau Indonesia di muktamar itu bertambah dua dengan masuknya Salim al-Rasjidi (staf perwakilan Indonesia di Mesir) dan Abdul Mukti Ali (mahasiswa merangkap perwakilan Indonesia di Karachi). Muktamar yang sedianya dibuka sejak 3 Desember itu menjadi forum masing-masing perwakilan negara peserta menyuarakan pandangan tentang situasi Palestina, terutama setelah Israel merebut sebagian besar Yerusalem. Hanya Yerusalem Timur kala itu satu-satunya wilayah yang masih dikuasai militer Yordania. Usai muktamar, keesokan harinya para partisipan diajak mengunjungi sejumlah situs di kota tua Yerusalem. Mereka juga mengunjungi kamp-kamp pengungsian di perbatasan Israel-Palestina seperti di Deheisha dan Qibya. Subardjo dan ketiga koleganya melihat sendiri betapa memprihatinkan keadaan kamp-kamp pengungsian itu. Kondisi para pengungsi begitu mengenaskan. Mereka tak hanya kekurangan makanan tapi juga pakaian tebal untuk melewati musim dingin. Beberapa utusan yang berpidato di hadapan para pengungsi tak jarang diiringi emosi dan air mata. “Saya mengunjungi Qibya dan meragukan apakah kita semua manusia. Semoga keraguan ini tak bertahan lama,” cetus Sayyid Qutb, salah satu petinggi Ikhwanul Muslimin, dikutip Kramer dari suratkabar Ha-Po’el Ha-Tza’ir , 22 Desember 1953. Bantuan yang mengalir masih jauh dari tuntutan kebutuhan para pengungsi. Meski ada UNRWA atau Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, kala itu masih sedikit negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mendonasikan bantuan. Indonesia termasuk di dalamnya –itu menjadi sumbangan nyata pertama Indonesia untuk Palestina. “Indonesia juga turut menyumbangnya, kira-kira 60 ribu dolar Amerika, khusus untuk Palestine Relief Fund (Sumbangan Pengungsi Palestina),” lanjut Subardjo. Subardjo dan Abbas sempat menghadiri jamuan Raja Yordania Hussein bin Talal sebelum kembali ke tanah air keesokan harinya. Setibanya di Jakarta, Subardjo dan Abbas menyampaikan hasil dan kesimpulan muktamar berupa resolusi dan anjuran. Inti resolusi, persoalan Palestina harus menjadi tanggung jawab umat Islam di seluruh dunia dengan bersatu dalam persaudaraan. Adapun usulan lain yang diharapkan adalah dibangunnya jalur keretapi Hejaz-Amman, dan pendirian konsulat di Yerusalem oleh negara-negara Islam. Sementara, anjuran yang dihasilkan dari muktamar itu berisi tujuh poin desakan kepada pemerintah negeri peserta. Antara lain, pemerintah negara peserta muktamara memikul persoalan Palestina sebagai persoalan setiap Muslim dan memaknai bahwa mempertahankan tanah suci di Yerusalem sebagai kewajiban fardlu ain , menurut kesanggupan masing-masing; menentang dan mengharamkan setiap hubungan perdagangan dengan Israel; melakukan tindakan nyata untuk membuka jalan bagi beraneka bantuan terhadap para pengungsi Palestina; memperingatkan negara-negara yang pro-Israel bahwa sokongannya terhadap Israel berarti permusuhan terhadap negara-negara yang pro-Palestina; dan menjadikan tanggal 27 Rajab sebagai Hari Palestina. Tanggal ini merujuk pada hari pembuka muktamar, 3 Desember 1953 yang bertepatan dengan 27 Rajab dalam kalender Islam.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page