top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Dukun Beranak Ditelan Zaman

    NEK IPAT, panggilan sehari-hari Fatimah, baru saja pulang dari membantu orang bersalin. Di rumahnya, Bekasi, Jawa Barat, sudah menunggu para ibu yang ingin memijatkan bayinya. Sudah sekira 40 tahun Nek Ipat menjadi dukun beranak. Profesi ini sudah turun-temurun, ibu dan buyutnya dulu juga dukun beranak. “Mama saya 100 tahun jadi dukun bayi. Umurnya sampai 150 tahun. Uyut saya juga dulunya dukun beranak,” kata Nek Ipat kepada Historia . Sekira tahun 1960, Nek Ipat saat umur 20-an, magang pada ibunya untuk membantu orang melahirkan. Sebagai asisten ibunya, dia membantu keperluan dukun beranak seperti mengambilkan air, menyiapkan jamu, membantu memandikan bayi sambil diajari cara menangani orang melahirkan. Setelah ibunya merasa Nek Ipat cukup siap menjadi dukun beranak, dia diharuskan puasa selama 120 hari. Dia menyebutnya tapa pati geni . Pada empat puluh hari pertama, dia hanya diperbolehkan makan dedaunan, empat puluh hari berikutnya hanya boleh makan ubi-ubian, dan empat puluh hari terakhir tidak boleh minum sama sekali. Puasa ini dilakukan menjelang bulan Maulid. Baru setelah berhasil menjalani puasa yang cukup berat ini, Nek Ipat dianggap lulus dan boleh menangani pasien sendiri. Akhir tahun 1970-an, ketika umurnya 35 tahun, Nek Ipat mulai menjadi dukun beranak. Beragam proses kelahiran juga pernah dia jumpai, misalnya bayi lahir sungsang atau ari-ari tertinggal. Setelah menangani persalinan, Nek Ipat merawat ibu dan bayinya selama 15 hari. Dia membuat nangkring jala , jamu, dan peparem (ramuan untuk dibalurkan ke tubuh ibu yang baru melahirkan). “ Nangkring jala buat jaga kalau lahir biar gampang. Sekarang sudah nggak bikin. Jamu juga kalau sekarang orang pada beli,” kata Nek Ipat. Untuk mandi si ibu, Nek Ipat menyiapkan air mandi yang dicampur rebusan tanaman obat jeringau (dlingo) dan bengle. Dukun beranak juga bertugas memandikan si bayi sampai mencuci kotoran bekas melahirkan. “Nenek pernah nanganin orang sampai ke Rawa Lumbu, Tambun, Tanjung Priok juga pernah tahun 80-an. Soal duit mau ada duitnya mau enggak, ditolong sama kita biar selamat dulu. Nanti kalau dia ada rejeki juga bakal ingat sama kita,” kata Nek Ipat. Awal 1990-an Nek Ipat menerima pelatihan dari puskesmas Tambun, Bekasi. Dia diberi alkohol, gunting, sarung tangan, dan alat lain untuk membantu orang bersalin. Alat ini diberikan supaya para dukun beranak membantu persalinan dengan lebih steril. “Dulu kita motong pusar pakai awi (bambu tajam). Obat pusar pakai abu sama asem. Pas ikut pelatihan ke Tambun dikasih gunting juga alkohol,” kata Nek Ipat. Sri Suharyanti, bidan yang pernah bertugas di Puskesmas Kecamatan Makasar, Jakarta Timur pada 1980-an, menceritakan pelatihan yang pernah dia jalankan. Sasarannya, para dukun beranak yang ada di lingkungannya. Dinas Kesehatan memerintahkan para bidan dan staf puskesmas untuk melakukan penataran seminggu sekali kepada dukun beranak di lingkungannya. “Seminggu sekali kita kasih penataran. Kita juga melihat lagi alat yang kita berikan. Kalau masih baru terus berarti nggak dipakai,” kata Sri yang memberikan pelatihan kepada tiga dukun beranak berusia di atas 50. Pada 2008 Kementerian Kesehatan mengeluarkan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 828. Dalam keputusan tersebut memuat kemitraan bidan-dukun. Kemitraan bidan dan dukun menempatkan bidan sebagai penolong persalinan dan mengalihfungsikan peran dukun dari penolong persalinan menjadi mitra bidan dalam perawatan ibu dan bayi pada aspek non-medis. Sejak aturan ini dikeluarkan, Nek Ipat tidak lagi menjadi dukun beranak yang menangani sendiri pasiennya. Pernah suatu kali ada yang meminta Nek Ipat untuk membantu persalinan seorang diri tanpa dampingan bidan, namun dia menolak. “Soalnya kalau sekarang lahiran gua sendiri yang nanganin didenda 1,5 juta. Orang yang lahir sama gua aja ada yang ngasih ada yang enggak. Ikhlas saja. Ada malah setelah lahiran seharian belum makan, kan kasihan. Gua kasih makan, keluar deh duit dari dompet gua,” kata Nek Ipat. Di umurnya yang sudah lanjut usia, teman-teman Nek Ipat sesama dukun beranak sudah jauh berkurang. Nek Ipat juga tidak memiliki penerus. Anak-anak dan cucunya tidak tertarik untuk meneruskan profesi keluarga mereka sebagai dukun beranak.

  • Membangun Solidaritas Internasional

    SETELAH Revolusi Anyelir di Portugal pada April 1974, Timor Portugis menjadi daerah tak bertuan. Portugal meninggalkan daerah itu, mengakhiri tirani, dan membiarkan organisasi politik tumbuh. Meski sudah ada organisasi politik dengan beragam tujuan, masa depan Timor Portugis belum jelas. Dua negara tetangganya, Indonesia dan Australia, ikut terpanggil untuk menentukan masa depan wilayah itu.

  • Melacak Jejak Dukun Beranak

    DUKUN beranak tak lagi memegang peran sentral dalam proses persalinan. Dia harus didampingi seorang bidan. Meski begitu, pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara, dukun beranaklah yang membantu kelahiran bayi bahkan di lingkungan istana. Tradisi persalinan dalam masyarakat di Nusantara bisa disaksikan melalui relief candi. Dalam adegan cerita Krsnayana yang dipahatkan di Candi Wisnu, Prambanan dari abad 9 menggambarkan Dewaki ketika akan melahirkan Krsna. Di hadapannya nampak seorang perempuan yang menolongnya melewati proses persalinan. Di belakang Dewaki juga seorang perempuan lagi. Namun tak diketahui apakah dia pelayan Dewaki atau pembantu perempuan yang menolong persalinan tadi. “Orang yang menolong melahirkan, kalau sekarang disebut dukun beranak. Jadi, dalam masyarakat Jawa Kuno telah ada perempuan yang mempunyai profesi sebagai dukun beranak,” tulis Titi Surti Nastiti, arkeolog Puslit Arkenas, dalam Perempuan Jawa . Meski dalam relief jelas digambarkan, tak ada sebutan jelas bagi profesi itu. Prasasti hanya pernah menyebutkan istilah walyan, yang menurut Titi berarti dukun. “Apakah yang dimaksud dengan walyan itu dukun beranak atau dukun biasa masih belum dapat diketahui dengan pasti,” tulisnya. Di Kerajaan Bima yang berasal dari abad 17 M, dukun beranak disebut dengan Sando. Ia bisa laki-laki atau perempuan. Sando perempuan dipanggil dengan Ina oleh orang Bima. Sementara sando laki-laki disebut Ama-ama. Sando punya peran penting dalam prosesi ritual pewarisan tradisi yang berkembang di dalam masyarakat. Kini bukti praktik ritual saat kehamilan dan pasca persalinan sejak masa Kerajaan Bima masih terlacak di Desa Jatibaru, Bima, NTB. Anis Izdiha, antropolog Universitas Gadjah Mada dalam “Warisan Tradisi Kehamilan-Persalinan Kerajaan Bima, Nusa Tenggara Barat” jurnal Prajnaparamita , 5/2017, menulis, pada saat ini, masyarakat Desa Jatibaru memiliki dua pilihan persalinan. Mereka bisa melahirkan di fasilitas kesehatan medis atau dibantu sando. Meski tak memegang peran utama lagi, sando masih berperan pada prosesi ritual budaya, termasuk menjaga pada waktu kelahiran. Sando juga dapat berfungsi sebagai pendamping persalinan menggantikan suami. Ia diminta memantau proses persalinan. Jika ada kesulitan, sando dengan sigap meniup ubun-ubun, perut, atau bagian vagina ibu hamil sebanyak tiga kali. Sando juga akan membacakan doa ke air kemudian diminum si ibu dan sisanya dipercikkan di vaginanya. “Meski sando sudah dilarang untuk melayani persalinan, keterlibatan sando dalam persalinan masih terlihat,” jelas Anis. Pergantian kepemimpinan raja menjadi sultan pun turut mengubah tradisi yang ada. Ritual kehamilan dan persalinan diselenggarakan dalam napas Islam. Sejauh yang dapat dilacak, Museum Asi Mbojo di Bima masih menyimpan enam artefak yang dipakai oleh para perempuan yang melahirkan. Keenam artefak itu menunjukkan bagaimana proses persalinan yang dilakukan di dalam kerajaan. Di antaranya baju Poro Bura dan Tembe Songket . Wujudnya, berupa baju putih dan sarung songket yang dipakai ibu hamil pada saat melahirkan. “Persalinan di dalam kerajaan dilakukan dengan proses ritual yang didahului dengan sebuah persiapan. Seorang ibu yang akan bersalin harus memakai baju poro terlebih dahulu sebelum melakukan prosesi kelahiran,” tulis Anis. Lalu ada Roa Sa’e , periuk tempat ari-ari. Ari-ari bayi harus diletakkan di dalam Roa Sa’e atau periuk yang terbuat dari tanah liat. Berikutnya ada Kula Lo’i yaitu tempat rempah-rempah yang akan digunakan sebagai obat pada saat melahirkan. Adanya Kula Lo’i menunjukkan adanya sebuah ritual khusus bagi seorang ibu pasca bersalin, yaitu memberikan rempah-rempah ke tubuh si ibu. Sedangkan Wadu Lo’i adalah alat batu untuk menggiling rempah-rempah sebagai obat. Piso Lo’i adalah senjata dukun yang akan mengawal kelahiran putra dan putri sultan. Peda Lo’i juga senjata para dukun. Bedanya senjata ini mengawal proses kelahiran anak-anak keluarga sultan. “Peralatan melahirkan, piso lo’i dan peda lo’i merupakan simbol kekuatan seorang sando dalam menangani urusan siklus kelahiran seorang bayi,” jelas Anis. Lebih dari itu, sosok sando masih dilihat sebagai figur kuat yang ditokohkan.

  • Jenderal AD dalam Dokumen Rahasia AS

    DOKUMEN rahasia AS yang baru saja dideklasifikasi dan dibuka untuk publik pada 17 Oktober 2017 menyebut beberapa nama perwira tinggi yang dianggap melindungi Sukarno pasca peristiwa 1965. Pesan telegram bernomor A-503 itu bertajuk “Prospects for a Putsch in Djakarta” (prospek untuk perebutan kekuasaan di Djakarta) dan diberi label: rahasia. Dokumen itu dikirim dari Kedubes AS di Jakarta kepada sekretaris negara di Washington, DC, tanggal 7 Februari 1966, sebulan sebelum peralihan kekuasaan dari Sukarno kepada Letjen TNI Soeharto. Pengirim telegram bernama Edward E. Masters, konselor (penasihat) Kedubes AS untuk urusan politik. “Prospek untuk melawan Istana (Sukarno, red ), bergantung pada sikap militer,” tulis laporan itu. Laporan itu menyebut dua jenderal yang bertentangan dengan haluan kebijakan AS: Brigjen TNI Achmad Sukendro dan Mayjen TNI Ibrahim Adjie. Sukendro dikenal sebagai perwira intelijen Angkatan Darat, orang dekat Nasution, yang menjabat menteri negara merangkap menteri transmigrasi dan koperasi. Sementara Adjie menjabat Panglima Kodam Siliwangi, Jawa Barat. Mereka berdua dikhawatirkan lebih condong terhadap Sukarno. “Sukendro, bagaimanapun, tidak mengendalikan pasukan dan hanya aktif sebagai ahli strategi politik,” tulis laporan itu mengenai Sukendro. Laporan itu juga menyoroti pelarangan “Barisan Sukarno” di Jawa Barat oleh Ibrahim Adjie. Pelarangan itu dapat membangunkan harapan di antara para penentang Istana. Lebih lanjut, pasukan Adjie di Jawa Barat bisa memainkan peran yang menentukan dalam permainan kekuasaan di Jakarta. Keunggulan (pasukan) Adjie mungkin akan diikuti oleh komandan daerah lainnya, seperti Brigjen TNI Solichin, panglima Kodam Hasanuddin di Sulawesi Selatan, Letjen TNI A.J. Mokoginta, panglima Komando Wilayah Sumatera, dan Mayjen TNI Sobirin Mochtar, komandan Batalion 530 Brawijaya. “Namun pelarangan Barisan Sukarno sama sekali tidak menjadi cukup bukti bahwa kesetiaan yang ditunjukkan oleh Adjie terhadap Sukarno memudar,” demikian penilaian terhadap Adjie. Analisis Masters tersebut masukan bagi Duta Besar Marshall Green dan perumus kebijakan politik di Washington untuk Indonesia. Bagaimana nasib kedua jenderal tadi ketika rezim berganti? Keduanya mengalami nasib nahas. Sukendro sejatinya adalah perwira antikomunis garis keras. Pada Juli-September 1960, Sukendro pernah memimpin penindasan terhadap PKI. Sukarno kemudian mengajak Angkatan Darat mencapai sebuah kompromi yang berujung pada pengiriman Sukendro ke pengasingan selama tiga tahun. Dalam masa pengasingan, menurut sejarawan Universitas British Columbia, John Roosa, Sukendro belajar di University of Pitsburgh dan menjalin kontak lebih dekat dengan para pejabat AS dan CIA. Pada akhir 1965, Sukendro menjadi penghubung penting antara Kedubes AS dengan pimpinan Angkatan Darat di bawah Soeharto dan Nasution. “Sukendro segera tersingkir dari lingkaran Soeharto, barangkali karena dia terlalu mandiri,” tulis Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal : Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto. Pada 1967, Sukendro ditangkap atas perintah Panglima Komando Pemulihan dan Keamanan (Pangkopkamtib), Jenderal TNI Soemitro. Selama sembilan bulan, dia ditahan di penjara Nirbaya, Pondok Gede, Jakarta Timur. “Satu laporan intelijen menyebutkan, pada waktu Jenderal Sukendro sekolah di Seskoad, dia pernah mengemukakan di depan salah satu forum, bahwa Dewan Jenderal itu ada,” ujar Soemitro dalam memoarnya Dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib karya Ramadhan K.H. Kepada Soemitro, Sukendro mengakui telah mengatakan seperti itu. Soemitro sempat bingung karena Sukendro teman dekatnya, sama-sama lulusan angkatan pertama SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat). “Namun bagaimanapun juga saya harus menahannya dan akhirnya saya masukan dia di Nirbaya,” kata Soemitro. Sementara itu, Ibrahim Adjie mengalami hal yang tidak jauh berbeda namun agak lebih baik. Adjie memang dikenal sebagai perwira tinggi loyalis Sukarno. Sebagaimana lazimnya politik pembuangan di era Orde Baru, Adjie menempati pos baru di London sebagai duta besar pada 1966. Setelah itu namanya tak bergaung lagi. Dia memilih menjauhkan diri dari hiruk-pikuk politik dan kekuasan.

  • Ken Angrok di Layar Perak

    PEMUDA itu tampil gagah. Penampilannya yang selalu bertelanjang dada menonjolkan tubuh bagian atasnya yang bidang dan lengannya yang kekar. Rambutnya dibiarkan tergerai hingga bahu. Wajahnya ditumbuhi kumis lebat. Kulitnya kuning langsat. Begitulah kira-kira penggambaran tokoh Ken Angrok (diperankan George Rudy) dalam film Ken Arok dan Ken Dedes (1983) garapan sutradara Djun Saptohadi.

  • Adnan Buyung Nasution dalam Dokumen Rahasia AS

    Adnan Buyung Nasution disebut dalam dokumen rahasia yang telah dideklasifikasi oleh Pusat Deklasifikasi National (NDC) Amerika Serikat dan dibuka untuk publik pada 17 Oktober 2017. Dokumen enam halaman itu merangkum situasi Indonesia pasca Gerakan 30 September 1965 dan upaya kalangan moderat membantu Angkatan Darat menghancurkan PKI. Dokumen tersebut menunjukkan betapa luasnya dukungan pembunuhan massal yang dipimpin Angkatan Darat bahkan di antara kekuatan politik moderat di Indonesia. Dalam amatan pemerintah AS, Buyung dianggap perwakilan kaum moderat yang berguna menyediakan informasi penting bagi Kedubes AS. Memorandum yang dikeluarkan Kedubes AS di Jakarta merekam pembicaraan Buyung dengan Robert Rich, sekretaris kedua Kedubes AS. Buyung yang saat itu berusia 31 tahun dan menjabat asisten Jaksa Agung, mengusulkan untuk terus mengejar komunis guna melemahkan kekuatan PKI. “Ini adalah momen kritis bagi orang-orang moderat Indonesia, seperti anggota PNI dan Masyumi, untuk membubarkan komunis dan menghilangkan kekuatan PKI,” kata Buyung kepada Rich. Buyung disebutkan dua kali mendatangi Kedubes AS pada 15 dan 19 Oktober 1965. Dia mengatakan bahwa Angkatan Darat telah mengeksekusi ribuan orang komunis. Dia berpesan agar sebisa mungkin fakta ini dipegang erat-erat dan disembunyikan dari Presiden Sukarno. Informasi lain yang disampaikannya adalah rencana Angkatan Darat untuk membebaskan pimpinan Masyumi dan PSI yang dipenjara sejak pemberontakan PRRI. Buyung memiliki akses ke pihak AS karena pernah bertugas di intelijen Kejaksaan Agung. Dia juga menjadi asisten yang diperbantukan ( liaison officer ) Kejaksaan Agung untuk mendampingi tamu kehormatan Jaksa Agung AS Robert F. Kennedy yang berkunjung ke Indonesia pada 1962. Anti-PKI Sejak duduk di SMA, Buyung sudah tegas anti-PKI. Ayahnya, Rahmad Nasution menanamkan pelajaran tentang demokrasi, dan setelah agak besar, dia membaca buku-buku ayahnya mengenai bahaya komunisme, otoriterisme, totaliterisme, bahkan militerisme dan fasisme. “Sehingga saya sudah terbentuk menjadi sangat alert terhadap paham komunis. Waktu di IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) saya sudah sadar betul bersikap anti-PKI. Saya menentang IPPI Edi Abdurachman yang cenderung mau mengkomuniskan IPPI,” kata Buyung dalam otobiografinya ,Pergulatan Tanpa Henti: Dirumahkan Soekarno, Dipecat Soeharto . Sikap itu konsisten terus hingga pada Juli 1964, Buyung bersama rekan-rekannya mendirikan Gerakan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Dalam organisasi ini bergabung aktivis pemuda, cendekiawan, hingga tentara yang berpaham sama: anti-PKI. Mereka antara lain para jaksa seperti Adi Muwardi yang menjadi ketua Gerakan Ampera, beberapa tokoh HMI, dan beberapa tentara pelajar maupun kelompok intelijen Angkatan Darat. Gerakan Ampera juga menggandeng tokoh-tokoh militer dari Divisi Siliwangi. Sebagai wakil ketua Gerakan Ampera, Buyung membangun sel-sel Pemuda Ampera di berbagai wilayah: Menteng, Senen, hingga Bogor. Mereka menggalang berbagai elemen masyarakat, mulai dari tukang becak, pedagang asongan, hingga gelandangan dalam program-program kerakyatan yang disebut Program Karya. “Kami berpendapat bahwa salah satu cara melawan PKI adalah dengan merebut hati rakyat, yaitu melakukan kerja nyata, membangun irigasi, penggilingan padi, membuat jembatan, dan sebagainya, di kampung-kampung. Proyek Karya itu sudah sempat kami kerjakan di berbagai tempat di Jawa Barat dan Solo, Jawa Tengah,” kata Buyung. Setelah G30S dan PKI dilibas habis, Gerakan Ampera melebur dalam KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia). Buyung menjadi ketua KASI Jakarta. Dalam rapat-rapat KASI, Buyung mendukung Soeharto sebagai presiden. “Saya adalah orang yang paling gencar mencalonkan Soeharto menjadi presiden daripada Nasution yang saya anggap orang Orde Lama dan terkontaminasi Peristiwa 17 Oktober 1952,” kata Buyung. Namun, dalam rapat KASI kemudian muncul kekhawatiran melihat tentara semakin dominan. “Wah, kalau begini kita jadi alat tentara saja. Kalau dibiarkan, tentara akan berkuasa di negeri ini. Hal ini tidak boleh terjadi. Kita harus bangun kekuatan sipil,” kata Buyung. Upaya Buyung meminta Chaerul Saleh untuk memimpin pemuda dalam mengimbangi tentara tidak berhasil. Wakil Perdana Menteri III itu tidak mau meninggalkan Sukarno. Kekhawatiran Buyung terbukti ketika melihat tentara berkuasa. Dalam suatu pertemuan dengan Presiden Soeharto, Buyung menyampaikan bahwa tentara berkuasa mana-mana dalam ekonomi dan politik: berdagang dengan berbagai cara dan korupsi seperti kasus Pertamina dan kasus Timah Bangka, bahkan penyelundupan senjata ke Biafra. “Waktu saya bilang seret jenderal-jenderal yang korup itu ke pengadilan, Soeharto langsung berdiri meninggalkan ruangan, masuk ke dalam dan tidak balik lagi,” kata Buyung. Setelah kejadian itu, Buyung yang menjabat kepala humas Kejaksaan Agung dibuang ke Medan. Dia menolak dan memilih mengundurkan diri dari Kejaksaan Agung. Dia membuka praktik hukum sendiri dan yang penting dia mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Sebagai tokoh yang kritis, Buyung pernah dipenjara rezim Orde Baru karena dituduh berada di balik kerusuhan Malapetaka 15 Januari (Malari) tahun 1974. Buyung meninggal dunia di Jakarta di usia 81 tahun pada 23 September 2015.

  • Bung Hatta yang Sulit Ditembus

    SEJAK kecil, Muhammad Hatta suka dengan sepakbola. Suatu hari, dia terlambat pulang karena bermain sepakbola. Dia pun dihukum neneknya, disuruh berdiri di bawah pohon jambu. Dia tidak boleh keluar dari garis lingkaran di sekitar pohon itu. “Neneknya tidak mengizinkan dia sering bermain karena dia satu-satunya anak lelaki di kalangan keluarga, sehingga neneknya takut kalau Hatta main dengan teman-temannya. Kepada Hatta inilah tertumpah harapan seluruh keluarga,” tulis Solichin Salam dalam Bung Hatta: Profil Seorang Demokrat. Hatta akhirnya bisa bebas bermain bola ketika sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau sekolah menengah pertama) di Padang. Tidak seperti ketika masih di Bukittinggi, neneknya melarang Hatta bermain bola karena cemas cucu kesayangannya cedera. “Aku tidak boleh bermain bola, dia (neneknya, red ) takut kakiku patah. Sekarang aku bebas. Aku bermain di tanah lapang dengan bola yang agak kecil, bola kulit yang dipompa. Saban sore pukul 17.00, aku sudah di tanah lapang. Kalau tidak bertanding, kami berlatih menyepak bola dengan tepat ke gawang,” kata Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku. Hatta masuk perkumpulan sepakbola Swallow. Keahlian olah bolanya mulai terasah lantaran sering berlatih dan bermain di Plein van Rome (kini Lapangan Imam Bonjol, Kota Padang). Teman-temannya mengenal Hatta sebagai pemain bertahan yang tangguh. Sukar dilewati pemain lawan sehingga dijuluki Onpas Serbaar (sulit ditembus). Di perkumpulan Swallow, Hatta tidak hanya menjadi pemain. Dia juga diminta kawan-kawannya sesama penghuni voorklas (kelas pendahuluan MULO) untuk menjadi bendahara. Dia dianggap cakap mengelola keuangan. Apalagi untuk bisa bermain, bolanya harus beli sendiri dari uang iuran perbulan. “Bola harus dibeli dan uang pembeliannya harus dikumpulkan berangsur-angsur dengan jalan membayar kontribusi tiap-tiap bulan,” ujar Hatta. Hatta masih sering bermain bola meski sudah menjadi anggota Jong Sumatranen Bond (JSB). Bersama tim sepakbola asuhan JSB, Hatta berubah posisi menjadi penyerang tengah. Kendati tidak ada catatan berapa gol yang disarangkan, Hatta berhasil mempersembahkan juara Piala Sumatra Selatan tiga tahun beruntun. Kegemarannya terhadap sepakbola tak pernah hilang meski diasingkan pemerintah Hindia Belanda ke Boven Digul, Papua. Bersama Sutan Sjahrir, Mohamad Bondan dan beberapa tahanan politik lainnya, Hatta menggelar friendly match antara pendatang baru dan penghuni lama Boven Digul pada 1935. Penghuni lama menang dengan skor 3-1. Dalam Memoar Seorang Eks-Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan, Mohamad Bondan masih ingat posisi pemain pendatang baru: Marwoto sebagai penjaga gawang, di depannya berjaga dua pemain bertahan Bung Hatta dan Burhanuddin. Tiga pemain gelandang Datuk Singo di kiri, Maskun di tengah, serta Sabilal Rasad di kanan. Di depan berjejer lima penyerang yakni Suka, Bondan, Sjahrir, Lubis dan Muhidin. Setahun berikutnya jelang Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke Banda Neira, mereka menggelar laga perpisahan pada 1 Februari 1936. Entah ketika itu berapa skornya dan siapa yang menang. Seiring waktu berjalan, Hatta yang telah menjadi dwitunggal dengan Sukarno, masih terus menyukai sepakbola. Meski tidak lagi bermain, dia masih sering mengikuti beberapa pertandingan klub-klub lokal maupun tim nasional PSSI. Pada medio Mei 1952 di Lapangan Ikada (kini Kompleks Monas) digelar pertandingan persahabatan antara PSSI melawan tim dari India, Aryan Gymkhana. Dalam laga itu, PSSI kalah dan Hatta nyaris tiada habisnya beradu argumen dengan Sukarno yang ketika itu juga nonton di tribun kehormatan. “Begitu pertandingan usai dengan 1-0, Bung Hatta jadi agresif dan antusias membahas kekalahan PSSI yang diutarakan dengan amat sistematik dan mendetail kepada Bung Karno seperti membicarakan politik yang urgent dan rumit. Bung Karno tampak terpojok dan keteter menjawab argumentasi Bung Hatta,” kenang Guntur Sukarnoputra dalam “Nonton Bola, Apa Tafakur?” termuat dalam Pribadi Manusia Hatta .

  • Pengabdi Setan Tanpa Klenik

    BUNYI lonceng memenuhi seisi rumah. Itulah cara Mawarni Suwono (Ayu Laksmi) memanggil anak-anaknya. Meski mendengar dengan jelas, anak ketiga, Bondi (Nasar Anus) enggan beranjak. Ia takut pada ibunya sendiri. Akhirnya, anak pertama, Rini (Tara Basro) yang bergegas menemui ibunya di kamar. Ibu mereka sakit parah, ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Dari awal film, sosok ibu sudah digambarkan begitu suram. Tergeletak di kamar dengan gaun tidur usang berwarna putih, rambut kusut panjang terurai, dan wajah pucat. Setelah Mawarni meninggal, sosoknya menjadi teror bagi keluarga, ia menghantui seisi rumah. Suara lonceng dan lagu “Malam Kelam” yang ia nyanyikan menjadi penanda kehadiran tokoh ibu dalam film Pengabdi Setan arahan Joko Anwar. Film horor tidak akan berhasil tanpa suara latar yang mendukung. Joko memilih ikon yang pas untuk menandai kehadiran sosok ibu. Bukan tanpa sebab sosok Mawarni bisa menjadi hantu. Semasa hidup Mawarni pernah mengikuti sekte kesuburan agar bisa memiliki anak. Nasib Mawarni dalam film ini seakan menjadi gambaran tekanan sosial terhadap perempuan untuk bisa memiliki anak setelah menikah. Tekanan ini juga yang mendorong Mawarni ikut sekte kesuburan. Sayangnya, Joko hanya membahas keikutsertaan Mawarni dalam sekte kesuburan melalui penjelasan para pemain dan tidak memperdalam isu kesuburan lebih lanjut. Sekte kesuburan yang diikuti Mawarni memohon pada setan agar pengikutnya bisa memperoleh keturunan. Singkat kata, setan inilah yang menyerupai Mawarni dan meneror seluruh rumah. Ada beberapa perbedaan antara PengabdiSetan arahan Joko Anwar dengan Sisworo Gautama Putra. Kondisi keluarga misalnya, di film Sisworo keluarga digambarkan kaya dengan ayah, ibu, dan dua orang anak, Rita dan Tomy. Mereka selalu sibuk sendiri-sendiri. Tokoh lain dalam film Sisworo adalah Karto, pembantu rumah tangga dan Herman, pacar Rita. Di film Sisworo, Pak Kartolah yang sakit asma dan berkali-kali suara napasnya menjadi latar. Gangguan justru datang dari luar, yakni lewat dukun bernama Darmina. Di film Joko, keluarga terdiri atas ayah, ibu, nenek yang sakit asma, dan empat orang anak: Rini, Toni, Bondi, dan Ian. Mereka kehabisan uang. Bahkan Rini sudah berhenti kuliah karena prioritas keuangan keluarga untuk pengobatan si ibu. Di film ini, sosok Herman bisa disejajarkan dengan Hendra, anak laki-laki Pak Ustaz yang mati kecelakaan. Sosok pengabdi setan yang digambarkan judul film juga berbeda. Film Sisworo menjadikan Darmina (Ruth Pelupessy) sebagai sosok dukun pengabdi setan. Sedangkan dalam film Joko pengabdi setan yang dimaksud adalah Mawarni yang ikut sekte kesuburan. Seperti film-film horor garapan Sisworo yang lain, PengabdiSetan menampilkan klenik dan mistik khas Indonesia. Ketika keluarga Rita memanggil dukun misalnya. Ia membakar kemenyan dengan seperangkat sesaji, memegang keris, sambil berdoa. “Jagad Dewa Batara penguasa tujuh nafsu angkara hindarkan rumah ini dari cengkraman Batara Kala.” Sebaliknya, film Joko tidak memuat unsur klenik sama sekali. Sekte kesuburan yang dijelaskan tokoh Budiman Syailendra dalam film juga tidak memasukkan unsur klenik. Budiman sendiri bukan seorang dukun tapi penulis majalah misteri. Pengabdi Setan yang pertama, berkali-kali membuat penonton menahan napas dan tidak membiarkan mereka merasa lega barang sebentar. Hantu-hantu ditampilkan secara utuh dan mengejar para tokoh sementara ruangan terkunci. Penonton diajak merasakan keputusasaan para tokoh yang terancam. Ending -nya pun seperti film-film horor tahun 1980-1990an, ilmu hitam akan kalah oleh agama. Hal semacam ini, tidak ada dalam film Joko. Secara umum, Joko tidak benar-benar membuat ulang film PengabdiSetan karya Sisworo. Joko membuat versinya sendiri. Ada beberapa kekurangan film karya Joko, yakni artikulasi Bront Palarae yang memerankan tokoh ayah. Tidak jelas apa yang diucapkan Bront ketika berteriak pada sekumpulan orang berpayung di depan rumahnya. Dialog yang diucapkan tokoh Bondi juga terasa tidak natural bila diucapkan anak usia Sekolah Dasar, “Dari kamar ini terlihat areal pemakaman.” Beberapa adegan juga tidak dijelaskan hingga tuntas. Misalnya, penyebab kematian nenek. Penonton hanya tahu dari asumsi warga bahwa nenek mati terpeleset di kamar mandi tapi tidak benar-benar tahu bagaimana si nenek meninggal. Adegan sebelumnya menampilkan nenek terburu-buru melaju dengan kursi rodanya. Pembicaraan ayah ke ibu sebelum meninggal juga tidak terjawab di film ini dan siapa yang menarik tangan Rini dari jendela ketika ia menginap di rumah Pak Ustaz? Meski begitu, Pengabdi Setan arahan Joko Anwar berhasil membuat standar baru film horor Indonesia. Joko menampilkan hantu yang tak melulu menyeramkan, dengan gambaran hantu ibu yang masih terlihat cantik tapi tetap membuat penonton ngeri. Busana yang dikenakan pemain juga sesuai dengan latar waktu 1980-an. Beberapa adegan di filmnya berhasil menggoda penonton dengan ketegangan dan diakhiri dengan komedi. Ketika Rini dan Hendra berada di rumah Budiman misalnya. Penonton sudah deg-degan ketika pintu diketuk yang ternyata tukang pijat. Film Joko barang kali tidak akan cukup menakutkan bagi para pencinta film horor karena tidak banyak adegan mengagetkan di sana. Joko mengejutkan dengan cara yang lain, yakni alur ceritanya.

  • Sebelas Pesepakbola yang Meninggal di Lapangan

    SEPAKBOLA, olahraga keras. Cedera dapat membuat pemain meninggalkan lapangan dan absen dalam waktu cukup lama. Bahkan, tak jarang pemain yang meninggal di rumput hijau karena serangan jantung atau benturan keras. Seperti yang dialami kiper senior Persela Lamongan, Choirul Huda, kala melawan Semen Padang di Liga Indonesia, Minggu (15/10/2017). Choirul Huda bukan satu-satunya pesepakbola Indonesia yang meninggal di lapangan. Berikut ini sebelas pesepakbola yang tutup usia di lapangan: empat pesepakbola Liga Indonesia dan tujuh pesepakbola yang bermain di klub elite Eropa. Eri Irianto Sepakbola nasional berduka untuk kematian Eri Irianto pada 3 April 2000. Gelandang Persebaya Surabaya dan mantan pilar timnas Indonesia itu tutup usia gara-gara penyakit jantung di usia 26 tahun. Pemain yang terkenal dengan tendangan geledeknya itu sebelumnya terlibat kontak fisik cukup hebat dengan pemain lawan, Samson Kinga dari PSIM Yogyakarta. Eri yang dalam keadaan pingsan segera dilarikan ke Rumah Sakit dr. Soetomo, namun dinyatakan meninggal karena serangan jantung. Jumadi Abdi Jumadi Abdi mengawali karier profesionalnya bersama Persiba Balikpapan pada 2001. Delapan tahun setelah debut, dia kembali ke Kalimantan memperkuat PKT Bontang. Dia tutup usia setelah insiden dengan pemain lawan, pada 7 Maret 2009. Menurut Desi Saraswati dan Jho Juanda dalam 365++ Fakta Sepakbola , pemain gelandang berusia 26 tahun itu kena tendangan pemain Persela Lamongan, Denny Tarkas di bagian perut. Denny didamprat wasit dengan kartu kuning, sementara Jumadi digotong keluar lapangan. ESPN, 15 Maret 2009, melaporkan setelah insiden itu Jumadi tak bisa mencerna makanan selama dua hari. Dokter mendiagnosis terdapat luka dan infeksi organ dalam. Di tengah-tengah operasi, dia koma dan meninggal pada 15 Maret 2009, sebulan sebelum pernikahannya pada 5 April 2009. Sekou Camara Abdoulaye Sekou Camara yang dijuluki “McCarthy” menambah daftar pesepakbola Liga Indonesia yang tinggal nama di lapangan. Bedanya dengan Eri Irianto atau Jumadi Abdi, bomber berpaspor Mali itu tutup usia setelah latihan dengan rekan-rekan setimnya di Pelita Bandung Raya (PBR) pada 27 Juli 2013. Sekou Camara tiba-tiba tumbang. Ofisial PBR segera melarikannya ke rumah sakit terdekat. Nahas, nyawanya tak tertolong dan mengembuskan napas terakhirnya dalam perjalanan ke rumah sakit karena serangan jantung. Usianya saat itu baru menginjak 27 tahun. Akli Fairuz Kemelut berbuah maut. Gara-gara terjadi scrimmage di mulut gawang lawan, Akli Fairuz, pemain Persiraja Banda Aceh, dihantam kaki kiper PSAP Sigli. Sama halnya dengan Jumadi Abdi, Akli Fairuz lantas meninggal karena luka organ dalam. Tragedi ini sampai-sampai disoroti beberapa media asing. Salah satunya The Mirror yang menurunkan tulisan berjudul “Indonesian Premier League Footballer Dies Days After Suffering Horror Tackle” pada 19 Mei 2014. Media asal Inggris itu mengungkapkan kronologisnya, di mana saat terjadi kemelut di depan gawang PSAP Sigli, Fairuz melompat untuk merebut bola. Di saat bersamaan, kiper PSAP, Agus Rahman juga menerkam dan kakinya menghantam perut Fairuz. Meski sudah dibawa ke rumah sakit untuk dioperasi, Fairuz meninggal karena pendarahan organ dalam. Joe Powell Dalam sejarah Arsenal, yang di abad ke-19 masih bernama Woolwich Arsenal, Joseph “Joe” Powell salah satu kapten termuda berusia 23 tahun. Namun, apesnya pada 1896 tidak hanya karier yang berakhir, hidup mantan tentara Inggris dari South Staffordshire Regiment itu juga tamat ketika baru menginjak usia 26 tahun. Dalam Woolwich Arsenal FC 1893-1915: The Club That Changed Football karya Tony Atwood, Andy Kelly dan Mark Andrews, disebutkan pada 23 November 1896 Joe Powell terjatuh dalam suatu insiden dan mengalami cedera patah tulang lengan dalam laga United League kontra Kettering Town. Cederanya menyebabkan tetanus dan keracunan darah. Lengannya sempat diamputasi, namun kondisinya tetap menurun hingga meninggal dalam perawatan pada 29 November 1896. David “Di” Jones Pesepakbola Liga Inggris lainnya yang juga harus tutup usia setelah bermain adalah David “Di” Jones. Dia bermain sebagai bek sayap Manchester City berusia 35 tahun yang juga pemain timnas Wales. Infeksi tetanus juga menjadi penyebab kematiannya pada 27 Agustus 1902. Gary James dalam Manchester: A Football History menulis bahwa Di Jones terjatuh dan mengenai sebuah kaca dalam pertandingan pramusim pada 17 Agustus 1902. Lukanya menimbulkan infeksi dan tetanus hingga keracunan darah. Sepuluh hari setelah perawatan, Di Jones menghembuskan napas terakhirnya. Thomas Blackstock Kejadian aneh nan tragis dialami Thomas Blackstock, bek Manchester United pada 8 April 1907. Blackstock kolaps dan tersungkur tidak bergerak setelah menyundul bola dalam laga pramusim melawan St. Helens Recs. Tim medis segera menggotongnya ke ruang ganti. Tetapi alangkah terkejutnya para pilar Manchester United ketika masuk ruang ganti setelah laga dan mengetahui Blackstock sudah dibawa ke rumah mayat Mill Street. Mark Metcalf dalam Manchester United: 1907-1911 menguraikan, Blackstock dinyatakan meninggal secara alami. Pernyataan itu membuat keluarganya tak mendapat kompensasi apapun dari manaemen The Red Devils. Bob Benson Saat Perang Dunia I masih berkecamuk, Robert William “Bob” Benson sebenarnya memilih keluar dari dunia sepakbola untuk menjadi buruh di sebuah gudang peluru. Tapi pada 19 Februari 1916, pemain bek sayap itu tampil secara sukarela demi menggantikan sahabatnya, Joe Shaw yang tak bisa bermain untuk Woolwich Arsenal (kini Arsenal FC) melawan Reading dalam laga London Combination. Akibatnya fatal. Pasalnya hampir setahun Benson tak bersentuhan dengan bola dan fisiknya belum kembali terbiasa. Di babak kedua, Benson kolaps di lapangan dan kemudian tutup usia di ruang ganti dalam pelukan pelatih George Hardy. Dalam Arsenal Who’s Who, Jeff Harris dan Tony Hogg menyebut Benson dinyatakan meninggal karena pecah pembuluh darah. Benson dimakamkan dengan seragam The Gunners dan tiga bulan berselang diadakan laga Arsenal vs Rest of London XI untuk menghormati Benson. Pavao Angka keramat 13 memicu tragedi untuk gelandang FC Porto, Fernando Pascoal Neves atau biasa disapa Pavao. Pesepakbola kelahiran Chaves, Portugal itu meninggal karena serangan jantung di usia 26 tahun. Donn Risolo dalam Soccer Stories: Anecdotes, Oddities, Lore and Amazing Feats menyebut bahwa Pavao kena serangan jantung hingga tumbang di lapangan pada menit ke-13 dan pertandingan ke-13 di Liga Portugal musim 1973-1974. Ketika itu, Porto tengah melawan Setubal di Stadion Estadio das Antas pada 16 Desember 1973. Renato Curi Setelah meniti karier bersama Giulianova dan Como, Renato Curi mengalami masa jayanya bersama Perugia yang lantas jadi klub terakhirnya. Pasalnya ketika kariernya sedang di puncak pada usia 24 tahun, gelandang kelahiran Montefiore dell’Aso itu meninggal karena serangan jantung, ketika melakoni laga melawan Juventus pada 30 Oktober 1977. Curi terkena serangan jantung dan tumbang di lapangan ketika pertandingan babak kedua baru berjalan lima menit. “Stadion (milik Perugia) kemudian menggunakan namanya (Renato Curi) demi mengenang jasanya,” tulis Adam Digby dalam Juventus: A History in Black and White . Jose Antonio Gallardo Portero (kiper) Malaga yang mentas di Liga Spanyol itu sudah tutup usia di umur 25 tahun. Gallardo meninggal dalam perawatan setelah bertabrakan dengan ariete (penyerang) Celta Vigo, Baltazar Maria de Morais Junior, 21 Desember 1986. Surat kabar El Pais, 16 Januari 1987, mengabarkan Gallardo sempat pingsan hingga dibawa ke rumah sakit terdekat. Tiga jam kemudian siuman dan pulih dari kondisi kritis. Meskipun demikian dia tetap mengalami luka cukup serius di wajah dan menderita hilang ingatan. Setelah ditransfer ke Rumah Sakit Carlos Haya di Kota Malaga, Gallardo justru mengalami koma dan tidak lama kemudian mengalami pendarahan otak. Nyawanya tak tertolong dan dokter menyatakan kematiannya pada 15 Januari 1987.

  • Mencari Museum yang Mendidik

    IRAMA lagu dangdut mengalun di sisi barat Museum Kereta Api Ambarawa, Kabupaten Semarang. Rupanya, pengelola museum membuat panggung kecil untuk memberi hiburan kepada para pengunjung selama dua hari ini, 14-15 Oktober 2017, dalam rangka menyemarakkan Hari Museum setiap 12 Oktober. Sebagian besar pengunjung tampak berkerumun, menikmati suguhan lagu, sembari menunggu giliran naik kereta api wisata dari stasiun Ambarawa ke stasiun Tuntang. Di sisi yang lain, sesela lokomotif-lokomotif tua, beberapa anak muda usia SMP berseragam kaos kuning, nampak bergerombol. Mereka menikmati paparan sejarah dari seorang ahli perkeretaapian Indonesia, Tjahjono Rahardjo. Lokasi museum Kereta Api Ambarawa merupakan titik pertemuan antara jalur dengan lebar kereta 1.435 mm ke arah Kedungjati dengan jalur lebar kereta 1.067 mm ke arah Yogyakarta via Magelang. Museum ini berdiri pada 6 Oktober 1976 untuk menyimpan lokomotif uap, ketika jalur rel 1.435 mm ditutup. “Dari kunjungan ini ada hal baru yang saya ketahui, seperti masih adanya kereta uap yang sampai sekarang masih beroperasi. Dari Ambarawa ke Jambu. Dan ada pula kereta wisata yang hanya melayani dari Ambarawa ke Tuntang. Dan gerbongnya lucu. Tua gitu,” ujar Hosea Adi Prasetyo, siswa kelas 7 SMP Masehi PSAK Ungaran. Hosea tak sendiri. Ia bersama sekira 30-an siswa dari beberapa SMP di Kabupaten Semarang sedang mengikuti Lomba Detektif Sejarah yang dihelat Paguyuban Citra Bawana Lestari, museum Kereta Api Ambarawa. “Membuat event seperti Lomba Detektif Sejarah ini bagus. Artinya ada animo kuat dari masyarakat untuk mengetahui museum-museum yang ada di sekitarnya. Nah sekarang tugas saya dan teman-teman di museum kereta api khususnya, untuk bisa memberikan yang lebih menarik, tidak membuat bosan,” ujar Tjahjono Rahardjo. Jika Hosea yang baru berkunjung ke museum kereta api baru pertama kalinya, hal berbeda diungkapkan pengunjung museum KA yang sudah beberapa kali kesana. “Ya membosankan. Gak ada hal baru. Ini karena mengajak anak saja kesini yang selalu pengen naik kereta wisata,” ujar Ratih Hapsari, pengunjung dari Semarang. Ujaran Ratih itu seperti diaminkan oleh Tjahjono Rahardjo. Ia melihat banyak musum kurang atraktif, sehingga sepi pengunjung. “Dalam suasana sekarang ini, yang biasa dengan gawai dan internet, agak susah jika mengajak atau meminta mereka datang ke museum. Apa sih museum itu, barang-barang tua, dengan sedikit teks keterangan. Ini tidak menarik. Tidak hidup,” ujar Tjahjono Rahardjo, pengajar di Universitas Katholik Soegijapranata kepada Historia . Menurutnya, pengelola museum sekarang harus dituntut kreatif, jika ingin menjaring pengunjung dari kalangan muda. “Ada satu pengalaman saya saat ke museum kereta api terbesar di dunia, di York, Inggris. Disana terdapat atraksi di salah satu koleksi museum itu. Jadi di depan satu koleksi, ada seorang dengan busana yang ada sejaman dengan koleksi tersebut. Nah dia mendongeng. Tidak kaku, tapi dengan bahasa populer. Bukan hanya anak muda yang tertarik, tapi saya pun yang sudah berumur ini, juga tertarik,” ujar anggota Indonesian Railway Preservation Society sejak 2006 ini. Tjahjono memberi apresiasi besar terhadap animo masyarakat untuk berkunjung ke museum. Namun ia menyayangkan, pihak museum seperti belum siap. “Di sini banyak koleksi yang bagus ya, namun seperti bisu. Jadi ya pengunjung yang datang hanya mendapatkan hiburan atau rekreasi semata, belum pada taraf edukatif,” pungkas Tjahjono.

  • Mengapa Baret Marinir Berwarna Ungu?

    STEVEN masih ingat kejadian pagi itu. Kala rusuh melanda Jakarta pada 14 Mei 1998, ia terjebak di tengah massa yang sedang beringas di kawasan Jalan Hayam Wuruk. Saat lelaki Tionghoa itu dilanda kebingungan, tetiba sekelompok orang mengepungnya lalu melontarinya dengan berbagai pukulan. “Untunglah dalam kondisi kritis itu, dua tentara berbaret ungu menembakan senjatanya ke udara hingga membuat massa kabur. Mereka lalu mengamankan saya,” kenang pedagang berusia 45 tahun tersebut. Dua tentara berbaret ungu itu tak lain adalah anggota Korps Marinir, salah satu kesatuan elite TNI AL. Lahir dari rahim revolusi Indonesia pada 15 November 1945, Korps Marinir dalam perkembangannya selalu terlibat dalam berbagai operasi tempur dan operasi kemanusiaan yang diadakan oleh TNI AL. “Seperti kesatuan elite lain, sejarah kami adalah suatu sejarah tentang pengabdian tanpa batas untuk negara ini…” ujar Krisna Rubowo, pensiunan marinir berpangkat kolonel. Namun tahukah anda, mengapa salah satu kesatuan elite tertua di Indonesia itu memilih ungu sebagai warna baretnya? Menurut buku Korps Komando AL dari Tahun ke Tahun , dipilihnya warna ungu karena dua hal. Pertama, ungu adalah salah satu warna selendang Nyai Roro Kidul, yang dalam mitologi Jawa merupakan penguasa samudera Indonesia. Selendang ungu milik Sang Ratu Pantai Selatan itu dipercaya sangat ampuh dalam memberikan perlindungan dan pengamanan. Kedua, ungu baret Korps Marinir juga diilhami dari warna bunga Bougenville yang telah gugur sebelum layu. “Ini juga melambangkan pengabdian seorang prajurit Korps Marinir dalam mempertahankan dan memelihara keutuhan negara,” tulis karya yang dibuat oleh Bagian Sejarah KKO-AL (nama lama Korps Marinir) itu. Sejarah juga mencatat, warna ungu dipakai kali pertama oleh Korps Marinir (saat masih bernama KKO AL) berupa pita sebagai kode pengaman pada 1958. Ketika itu pasukan Korps Marinir terlibat dalam Operasi 17 Agustus, suatu aksi militer menumpas pembangkangan PRRI (Pemerintah Revolusiener Republik Indonesia) di Sumatera Barat. Baru pada 1961, Korps Marinir mengabadikan warna ungu bagi baretnya, tepat saat Batalyon I KKO AL terlibat dalam Operasi Alugoro di Aceh.

  • Bersatu dalam Melodi

    MUSIK dikenal sejak kehadiran manusia modern. Maka, memainkan atau mendengarkan musik, yang memiliki suara berirama atau lagu, menjadi salah satu aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan akan keindahan. Tanpa musik, menurut filsuf Friedrich Nietzsche (1844-1900), hidup akan menjadi kesalahan. Tak semua orang bisa memainkan musik nan indah. Sebagian besar malah hanya ingin menikmatinya untuk mendukung aktivitas atau sekadar mengisi waktu luang. Maka, manusia pun berpikir bagaimana musik bisa didengarkan kapan saja dan di mana saja. Terciptalah alat perekam, penyimpan, penyalur, atau pemutar musik. Kotak Musik Seorang pembuat jam dari Swiss, Antoine Favre Salomon (1734-1820), menciptakan kotak musik pada 1796. Dia membuatnya dari barisan lempengan logam, pengganti lonceng, yang dapat disetel dalam skala nada yang lebih banyak dan ketepatan bunyi yang bagus. sejak 1815, model kotak musik rancangan Salomon mulai diproduksi massal. Di kota Sainte Croix, Switzerland, pengusaha bernama Jeremie Recordon merintis pembuatan massal kotak musik ini. Dia gagal. Pengusaha lain, Samuel Junod, mencoba membuka pabrik serupa. Phonograph Setelah telepon dan telegraf, pada 1877 Thomas Alva Edisson (1847-1931) merancang mesin yang bisa merekam suara pada telepon dan memutarnya kembali. Suara pertama yang terekam dan diputar kembali adalah ucapan Edisson sendiri: “Mary had a little lamb.” Alat ini bernama phonograph. Graphophone Alexander Graham Bell (1847-1922) dan Charles Sumner Tainter (1854-1940) mulanya bekerjasama untuk mengembangkan telepon-radio. Kerjasama berlanjut dengan pembuatan perangkat perekam sekaligus pemutar suara yang disebut graphophone. Setelah dipatenkan dan diproduksi, alat ini digunakan para etnolog di Amerika pada 1890-an untuk merekam suara dan musik bangsa Indian. Piringan Hitam Kualitas suara yang dihasilkan phonograph dan graphophone belum sempurna. Pada 1888, Emile Berliner (1851-1929) merancang alat baru dengan menggunakan media cakram atau piringan, selanjutnya disebut piringan hitam, untuk menyimpan rekaman suara. Untuk mendapatkan suara dari piringan, gramophone ini dilengkapi stylus. Eldridge Reeves Johnson (1867-1945) lalu menyempurnakannya sehingga kecepatan putar piringan menjadi lebih stabil. Pemancar Radio Setelah penemuan gelombang elektromagnetik, Guglielmo Marconi (1874-1937) dari Italia bereksperimen bahwa arus listrik sederhana dapat melintasi udara dari kawat ke kawat. Marconi pun mengembangkan teknologi pemancar dan antena untuk membuat pemancar radio lintas Atlantik, Inggris dan Newfoundland-Kanada. Reginald Aubrey Fessenden (1866-1932) lalu menambahkannya dengan Heterodin, alat untuk mengubah frekuensi radio sehingga frekuensi itu mudah diatur dan dapat diperkuat. Fassenden mengirim suara manusia dan musik dari stasiun radionya di Brant Rock-Masachusets, AS, ke kapal-kapal di lepas pantai Atlantik. Zaman emas radio pun dimulai pada 1920, dengan berdirinya stasiun radio komersial pertama, KDKA, di Pittsburg, AS. Kotak Radio David Sarnoff (1891-1971), yang populer memberitakan tenggelamnya kapal Titanic melalui radio, menyarankan agar radio dibuat secara massal. Menurutnya, radio akan menjadi perlengkapan rumah tangga. Baru tahun 1919, idenya terlaksana dengan berdirinya Radio Corporation of America (RCA), sebuah perusahaan elektronik Amerika. Magnetophone Teknologi perekam suara menjadi praktis dengan adanya Magnetophone model K1 bikinan Allgemeine Elektricitäts-Gesellschaft (AEG) dari Jerman yang dipamerkan pada acara Berlin Radio Show tahun 1935. Magnetophone didasari pada penemuan pita magnetik oleh Fritz Pfleumer (1881-1945). Namun suara yang dihasilkan masih bising. Dalam perkembangannya, magnetophone menghasilkan suara lebih baik dan dipakai secara luas untuk merekam konser, pertunjukan opera, hingga pidato. Selama Perang Dunia II dipakai dalam siaran radio. Dari alat inilah berkembang tape recorder . Walkman Koninklijke Philips N.V atau Phillips, berbasis di Eindhoven-Belanda, meluncurkan compact audio cassette atau kaset sebagai media penyimpan audio baru. Setahun berikutnya diperkenalkan di seantero Eropa dan Amerika. Pada akhir 1970-an, Sony dari Jepang mengembangkan alat pemutar kaset audio portabel dengan nama walkman. Kehadiran walkman mengubah kebiasaan orang mendengarkan musik, yang bisa didengarkan kapan saja dan di mana saja. Pemutar CD April 1982, Lou Ottens, direktur teknik bidang audio dari Phillips, memperkenalkan compact disc atau CD. Phillips dan Sony beradu argumen mengenai ukuran CD. Akhirnya disepakati CD berdiameter 115 milimeter dan memiliki kapasitas penyimpanan audio berdurasi 74 menit, diambil untuk dapat memuat Beethoven 9th Symphony. Sebagai pelengkap, mereka meluncurkan pemutar CD; Sony dengan Goronta dan Phillips dengan Magnavox. Prinsip kerja pemutar CD ini adalah adanya bagian optik sebagai sarana utama membaca kepingan CD. Sony, sekira 1984, juga meluncurkan tipe portabel dari pemutar CD, yang dinamakan D-50 alias discman. iPhone Oktober 2001, perusahaan Apple meluncurkan pemutar musik portabel mini yang disebut iPod. Menurut Steve Jobs, pemutar musik konvensional dengan ukuran besar sudah bukan zamannya. iPod diciptakan untuk mengatasi kebutuhan penyimpanan audio yang besar. Kapasitas iPod pun dibuat dalam ukuran mulai 2 sampai 160 gigabyte. Jenis audio yang diputar dalam iPod adalah mp3, yang dikembangkan Karlheinz Brandenburg, ahli audio dari Fraunhofer Institute-Jerman. Dia berksperimen membuat mp3 pada lagu “Tom’s Diner” yang dinyanyikan Suzanne Vega. Kemunculan mp3 memungkinkan kita mentransfer maupun memutar musik di beragam perangkat, dari telepon selular hingga komputer.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page