top of page

Hasil pencarian

9862 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mengenang La Grande Inter

    WALAU sudah dipastikan juara Serie A musim 2020/2021 sejak 2 Mei lalu, yang  menghapus dahaga gelar Liga Italia selama 11 tahun, Inter Milan tetap tancap gas melakoni empat partai sisa. Tampil di rumah sendiri, Stadio Giuseppe Meazza, skuad besutan Antonio Conte itu menolak bermain santai kala menjamu Sampdoria pada giornata  ke-35, Sabtu (8/5/2021). Sebelum kick off , Sampdoria melakoni guard of honor  sebagai bentuk penghormatan pada Inter yang kini total sudah mengoleksi 19 titel scudetto . Namun penghormatan itu tak membuat Inter tampil lembek. Dalam dua kali 45 menit, Sampdoria dihajar Inter 5-1. Massimo Moratti,   bos Inter periode 1995-2013, turut merasakan euforia tersebut. Harapannya kepada Conte untuk membawa Inter tak berpuas diri amat besar. Inter diharapkannya terus terobsesi pada gelar yang lebih prestisius dari yang dicapai semasa kepelatihan José Mourinho di 2010 dengan treble winners -nya atau bahkan era La Grande Inter  (1960-1967) di masa Inter dipimpin ayahnya, Angelo Moratti. “Conte seorang yang gigih, tahan banting. Ia mampu mencapai tujuannya, melindungi dan membentuk tim juara. Tim yang penuh karakter dan mampu memberi kejutan. Bagi saya dia pelatih yang luar biasa,” puji Moratti, dilansir Corriere dello Sport , 5 Mei 2021.. Guard of Honor  dari Sampdoria untuk jawara Serie A musim 2020/2021, Inter Milan ( inter.it ) Sanjungan senada terhadap Conte dilontarkan Angelo Domenghini (1964-1969), bintang Inter yang jadi bagian Grande Inter . “Inter sangat pantas scudetto . Mereka tim terkuat dan paling kompetitif. Bisa dilihat dari hasilnya dan bagaimana tim dipersiapkan, terutama kekuatan pertahanan. Publik memang menganggapnya (Conte) masih terikat dengan Juve. Tetapi dia juga pernah menang bersama Chelsea. Memang lain era lain permainan sepakbola. Grande Inter juga tim terkuat dengan Juve dan AC Milan sebagai pesaingnya. Musim ini Inter mengalahkan semuanya,” ungkap Domenghini kepada Bergamo News , 5 Mei 2021. Kedisiplinan dan aspek psikologis jadi pegangan penting Conte s ebag a i ma n a Helenio Herrera sang pelaith Grande Inter . Pa ra pemain tak dibiarkan punya gaya hidup bebas. K eteg a san Conte dan Herrera mampu menundukkan ego para pemainnya untuk mau menjalani diet ketat dan pelatihan berat. Conte selalu memperhatikan aspek psikologis dan memotivasi pemainnya sembari terus mengolah taktik sejak sukses bersama Juventus (2011-2014) dan Chelsea (2016-2018). Baginya,seorang pelatih hanya bisa punya prestasi manis di era sepakbola modern jika mampu mengombinasikan semua. “Anda harus punya kemampuan bagus dalam taktik, motivasi, psikologi, serta memenej klub dan media. Anda harus serba-bisa dan Anda hanya akan berhasil jika terus mau belajar,” cetus Conte, disitat ESPN , 8 April 2016. Era Emas di Tangan Il Mago Sebagaimana Conte, Helenio Herrera juga merupakan pelatih berprestasi cemerlang sampai dijuluki Il Mago (si penyihir). Pria kelahiran Buenos Aires, Argentina pada 10 April 1910 tapi berpaspor Prancis itu direkrut bos InterAngelo Moratti pada 1960 dari Barcelona. Tugas membangkitkan Inter dari kubur. Pasalnya sejak Moratti memegang tampuk kepemimpinan pada 1955, tak sekalipun Inter merengkuh titel. “Psikologi dalam sepakbola adalah subyek yang sulit dipahami secara konklusif. Bagi pertandingan antara dua tim kuat, pemenangnya biasanya ditentukan oleh siapa yang mampu menguasai aspek pikiran dan psikologi. Banyak pelatih yang mencoba menanamkan mental juara dan satu contoh pelatih yang kondang atas hasil dari pembentukan attitude dan psikologi adalah Helenio Herrera,” tulis David Hartrick dalam 50 Teams That Mattered. Herrera jel a s butuh waktu mengubah Inter jadi tim juara hanya bermodalkan aspek psikologi. Tiga tahun pertamanya gagal total hingg a nyaris dipecat Moratti lantaran keukeuh menerapkan strategi ofensif sebagaimana kebiasaannya saat menukangi Barça serta Timnas Spanyol. Helenio Herrera Gavilán yang berperan membentuk  La Grande Inter  ( inter.it ) Di tahun, ketiga Herrera menyontek sistem Verrou atau Catenaccio, sistem pertahanan gerendel, yang diperkenalkan pelatih Swiss Karl Rappan. Sistem itu lalu dia sempurnakan dengan formasi 5-3-2. Herrera menyempurnakannya dengan memindahkan satu pemain gelandang ke posisi sweeper (libero) di belakang empat bek agar kemudian dua bek sayap bisa bergerak bebas membantu serangan balik. “Adalah Armando Picchi yang kemudian menjadi libero terbaik dunia di bawah pelatih Prancis-Argentina itu, sementara Giacinto Fachetti bisa mencetak banyak gol bersumber dari sistem ini. Herrera juga membawa Luis Suárez dari Barcelona untuk jadi jenderal lapangan tengah dengan visi fantastis, sedangkan tornante (sayap kanan) Jair da Costa yang jadi andalan dengan kecepatannya siap menerima setiap asupan umpan dari Suárez,” tulis pengamat sepakbola Sam Tighe dalam ulasannya yang dimuat Bleacher Report , 16 April 2013. Pasukan Herrera tentu bukan hanya bertulangpunggungkan tiga pemain di atas. Grande Inter punya “gladiator” tangguh Tarcisio Burgnich, Artistide Guarneri, Carlo Tagnin, Sandro Mazzola, Mario Corso, dan kiper Giuliano Sarti. “Di belakang Picchi ada kiper Giuliano Sarti yang tangguh di tim Grande. Burgnich dan Guarneri bek berkarakter yang berbagi visi Herrera sebagai gerendel di jantung pertahanan. Tagnin dan Gianfranco Bedin penting sebagai bertahan. Mazzola di kanan depan jadi simbol Inter yang mencetak banyak gol indah. Corso di kiri depan juga pemain jenius dengan kaki kirinya yang andal dalam tendangan bebas dan umpan matang,” sambung Hartrick. Skuad Il Biscione di musim 1964/1965 ( inter.it ) Saat bertahan, Herrera bisa mengarahkan lima sampai tujuh pemain melindungi gawang. Tetapi saat menyerang balik secara vertikal, dua bek sayapnya diperintahkan secara sigap untuk membantu serangan balik. Alhasil pemain seperti Fachetti yang berposisi sebagai bek sayap bisa punya koleksi gol sampai 59 buahdi sepanjang 476 penampilannya berseragam La Beneamata (1960-1978). “Saat menyerang balik, para pemain paham apa yang saya inginkan: sepakbola vertikal dengan kecepatan tinggi, dengan tidak lebih dari tiga passing untuk mencapai kotak penalti lawan. Tak mengapa jika Anda kehilangan bola saat bermain vertikal –tetapi jika kehilangan bola dalam permainan lateral (menyamping) Anda akan membayarnya dengan (kecolongan) gol,” ujar Herrera dikutip Jonathan Wilson dalam Inverting the Pyramid: The History of Soccer Tactics. Tetapi transformasi Inter itu takkan berjalan tanpa aspek kedisiplinan. Herrera amat keras soal kedisiplinan. “Herrera menciptakan kultur di mana setiap keberadaan pemainnya dimonitor dan diukur. Para pemain diharapkan rela mati di lapangan demi tim dan jika tidak siap-siap, ditendang dari klub. Para pemain Inter punya diet yang terkontrol, rutinitas latihan yang keras. Menjadikan timnya sangat disiplin walau tak jarang juga menimbulkan ketegangan antara Herrera dan beberapa pemainnya, di mana salah satunya Picchi,” tambahnya. Capaian manis La Grande Inter  meraih trofi European Cup (Liga Champions) musim 1963/1964 (kiri) & musim 1964/1965 ( inter.it ) Dari aspek psikologis, Herrera mencekoki pasukannya setiap kali hendak latihan dan bertanding. Salah satunya dengan cara memasang spanduk bertuliskan“Kelas+Persiapan, Fisik Atletis+Kecerdasan=Scudetto” di kamar ganti tim. Soal psikis, Herrera tak hanya memperhatikan pemain.Eksistensi pendukung dianggapnya jadi suntikan moril bagi timnya. Oleh karenanya dia memberi perhatian pada fans. “Dinamika psikologi Herrera juga kemudian mengarahkannya pada pentingnya peran pendukung. Ia mendesak Moratti membentuk dan membiayai kelompok-kelompok Interisti untuk bisa mendukung tim di laga tandang, baik di (liga) Italia maupun Eropa. Tindakan yang kemudian melahirkan banyak kelompok ultras ,” kataDavid Goldblatt dalam The Ball is Round: A Global History of Football. Hasil racikan Herrera pun berbuah manis. Tiga kali Inter dibawanya merebut scudetto (1962-1063, 1964-1965, 1965-1966), dua kali juara Liga Champions (1963-1964, 1964-1965), dan dua kali memboyong trofi Intercontinental Cup (1964, 1965).

  • Suara Penyintas 1965 yang Layak Didengar

    GARIS-garis keriput di kulit kedua perempuan usia senja itu mengindikasikan banyaknya tahun yang telah dilalui keduanya. Kusdalini dan Kaminah, kedua perempuan tadi, memang telah berjuang menyambung hidup dalam kemiskinan sembari menanti keadilan sejak muda hingga tua. Mbah Kam dan Mbah Kus, begitu keduanya disapa, merupakan penyintas G30S yang jadi “lakon” utama dalam film You and I (2021) karya Fanny Chotimah. Keduanya dikenal Fanny sejak 2016. Perkenalan mereka bertiga bermula kala kawan Fanny, Adrian Mulya, Amerta Kusuma, dan Lilik HS tengah mengerjakan buku foto Pemenang Kehidupan. Dari perkenalan itu, Fanny makin mengenal keduanya. Lambat laun, timbul perasaan intim dan personal di sudut hati Fanny. “Pas perkenalan pertama itu saya ingin kenal lebih jauh. Awalnya juga sama sekali enggak pikiran mau bikin film. Memang dalam diri aku ingin kenal saja. Aku juga punya semacam ikatan kalau melihat mereka ingat nenekku. Apalagi nenekku juga (mengidap) demensia kayak Mbah Kus. Aku juga jadi punya kesempatan dengar cerita mereka,” tutur Fanny kepada Historia via percakapan di platform Google Meet, Jumat (7/5/2021). Baca juga: Potret Pahit Penyintas 1965 dalam You and I Kaminah dan Kusdalini antusias kala berbagi kisah tentang kegiatan komunitas film Fanny dan kawan-kawannya yang acap memutar film ala “layar tancap” di kampung-kampung. Ternyata ada keserupaan pengalaman, di mana Kaminah dan Kusdalini berkisah di masa muda mereka dulu ikut paduan suara di bawah naungan Pemuda Rakjat (PR) yang juga tampil keliling kampung. “Dari situ intens datang dan sharing-sharing. Lalu aku melihat apa yang mereka lakukan sama dengan yang aku lakukan. Terus mereka dipenjara tanpa pernah diadili. Saya merasa, kalau itu bisa terjadi sama mereka, berarti bisa juga terjadi sama aku kalau misalnya kejadiannya seperti itu,” imbuhnya. Fanny Chotimah & Adrian Mulya bersama duet penyintas 1965: Sri Kusdalini & Kaminah (Dok. Adrian Mulya) Kejadian yang dimaksud adalah pemburuan, pemenjaraan, hingga pembunuhan orang-orang yang diduga PKI dan simpatisannya pasca-G30September 1965. Di situlah Kaminah dan Kusdalini ditangkap dan ditahan tanpa pengadilan lantaran kaitannya dengan PR yang underbouw PKI. Dari situlah Fanny mendapatkan ide untuk menyuguhkan kisah mereka lewat film dokumenter. “Dari situ muncul urgensi untuk, wah, ini harus didokumentasikan, harus dibikin film dokumenter. Secara enggak langsung juga riset sudah terjadi karena aku membangun relasi itu sejak belum punya pikiran membuat dokumenter. Aku terus minta izin untuk mendokumentasikan dan terus disambut sama mereka. Mbah Kam yang menyemangati kami karena merasa ini warisan untuk generasi muda,” tambah sineas kelahiran Bandung, 18 November 1983 itu. Baca juga: Peter Jackson & Dokumenter They Shall Not Grow Old You and I kemudian jadi proyek dokumenter panjang pertama Fanny. Dia dan tim produksi memulai proyeknya pada 2016. Dengan pendekatan observasional, tim mengikuti keseharian Mbah Kam dan Mbah Kus di rumah, lingkungan tempat tinggal, hingga pertemuan dengan sesama penyintas di bawah payung Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba). Penulisan ceritanya pun bergulir seiring syuting keseharian dua penyintas itu. Sembari merekam keseharian, Fanny juga memikirkan titik kekuatan filmnya agar bisa diterima generasi muda sebagai target penontonnya. “Akhir 2016 sudah mulai meski development cerita masih aku tulis. Karena aku tertarik sama memori itu, kedimensian Mbah Kus yang kupikir personal dan dekat dengan aku. Saat lihat banyak footage , kok kuat banget tentang gimana relasi mereka berdua. Malah kemudian kekuatannya ada di relasi mereka,” lanjut Fanny. Kolase di balik layar "You and I" (Dok. Tim Produksi/KawanKawan Media) Tajuk You and I sendiri dipilih Fanny karena andil Mbah Kus. “ You and I itu sebetulnya dari Mbah Kus. Dulu kan Mbah Kus bisa bahasa Inggris dan Jerman. Saat adegan melihat foto mereka berdua, tiba-tiba muncul (celetukan): ‘ Oh iki, You and I. ’ Itu momennya sama dengan adegan bercanda melihat foto. Aku harus pilih mana momen yang paling kuat. Di proses editing itu pertempurannya untuk mana momen yang kusayang. Aku pertahankan yang (adegan bercanda) itu karena terlihat banget kuatnya relasi mereka. Relasi itu yang bisa relate ke semua orang dan semua usia,” lanjut Fanny. Baca juga: Mengintip Belakang Layar Nyanyian Akar Rumput Dalam proses produksi, Fanny mengaku tantangannya bukan dari faktor-faktor eksternal meski film-film yang mengangkat isu 1965 masih sangat sensitif dan acap mendapat penolakan. Tantangan dalam produksi You and I sampai selesainya editing di tahun 2020 justru datang dari diri sendiri. Pasalnya, karyanya tersebut punya keintiman dengannya. “Jadi tantangan tersendiri terutama di momen-momen Mbah Kus butuh bantuan nyuci, duh aku takut banget dia jatuh, misalnya. Kayak pingin menolong dia. Saat adegan susah masuk ke angkot, biasanya kalau enggak syuting yang kita nolongin. Benturan-benturan di dalam diri itu yang kuat. Tapi di beberapa kejadian aku menekankan sama tim bahwa syuting nomor dua dan yang terpenting adalah keselamatan mereka,” imbuhnya. Kolase tim produksi bersama Kaminah sepeninggal Kusdalini yang wafat pada 2017 (Dok. Tim Produksi/KawanKawan Media) Menahan diri dan emosi jadi tantangan terbesar Fanny. Terlebih saat kesehatan Kusdalini mulai menurun medio 2017. Beberapakali Fanny harus berhenti merekam demi bisa membantu mengevakuasinya ke rumahsakit. “Mbah Kus masuk rumahsakit karena stroke , bertahan tujuh bulan di rumah sakit lalu Mbah Kus pergi (meninggal, red. ). Tahun berikutnya masih syuting tapi bobotnya makin berat dan sedih rasanya. Momen di mana Mbah Kam sudah tidak bisa mempertahakan Mbah Kus, itu juga emosional. Syutingnya sambil nangis. Padahal aku ingin film ini memberi harapan, bukan jatuhnya malah sedih dan dramatis. Tapi harus tetap bisa menguasai diri,” tambah Fanny. Narasi Historis dan Strategi Sebagai sineas yang masa kecilnya tumbuh di era Orde Baru, Fanny mengenal narasi 1965 itu lewat film propaganda penguasa garapan sutradara Arifin C. Noer, Pengkhianatan G30S/PKI . Film itu dulu juga jadi tontonan wajib bagi pelajar, termasuk Fanny. Namun ia mengaku tak pernah menontonnya sampai habis. “Horor banget. Aku selalu bertanya-tanya sejak kecil itu nyata atau enggak. Belum cerita-cerita di sekelilingku. Cerita kayak, ‘Oh, paman saya pernah bunuh PKI.’ Itu aku syok, bunuh orang lalu bangga. Itu ada apa? Di SMA ada teman yang sangat vokal dan kritis karena ingin tahu tentang PKI. Dia berdebat sama guru sejarah. Gurunya jadi kayak, ‘Oh, enggak bisa kamu seperti itu. Hati-hati kamu dicap komunis.’ Aku yang menyaksikan, kenapa sih kok begitu? Akhirnya cari referensi lagi,” kenang Fanny. Baca juga: Perkenalan Hanung Bramantyo dengan Tragedi 1965 dan Pram Fanny Chotimah menguraikan banyak kisah di balik layar via daring (Tangkapan Layar/Historia) Selain dari buku non-fiksi dan novel para penyintas 1965 seperti Pulang (2012) karya Leila Salikha Chudori dan dokumenter Shadowplay (2001) karya Lexy Rambadeta, Fanny mendapat sudut pandang lain Peristiwa 1965 dari kakeknya sendiri. “Ada stigma juga dari mamaku yang bilang komunis itu jahat. Tapi sementara aku juga dapat cerita dari kakek di Bandung. Dia juragan tanah dan punya sawah dan ada yang garap (petani penggarap). Dulu kan BTI (Barisan Tani Indonesia) juga dicari ya. Tapi kakekku itu melindungi BTI. Jadi BTI yang lari minta perlindungan kakekku itu selamat,” sambung sineas otodidak yang berkecimpung di komunitas film Yayasan Kembang Gula dan komunitas perempuan Jejer Wadon tersebut. Dari situ Fanny mulai paham bahwa selain rumit dan kompleks, Peristiwa 1965 juga masih jadi isu sangat sensitif, utamanya kala bulan September dan Oktober. Ia juga sempat diperingatkan Kaminah untuk sementara stop syuting dan “tiarap”. Namun hingga selesainya produksi, Fanny dan tim produksi tak pernah mengalami persekusi dan penolakan dari pihak luar. Baca juga: Pemuda Sosialis di Balik Film Legendaris Hal mencekam yang pernah dialami Fanny justru saat diskusi terbatas buku foto Pemenang Kehidupan . Prosesnya kala itu bareng proses syuting You and I . Fanny, Adrian dan rekan-rekannya sempat didatangi intel. Salah satu rekannya bahkan ada yang sampai dipanggil pihak kepolisian. “Aku sudah tahu dan pengalaman dipanggil intel. Ya saat syuting film aku paham ini risikonya walau pas syutingnya tidak terjadi apa-apa. Aku tentu akan pasang badan kalau terjadi apa-apa sama mereka. Kata Mbah Kus dan Mbah Kam: ‘Ya ini risikonya. Ini risiko perjuangan’,” kata Fanny. Oleh karena mengerti risikonya, Fanny pun mengarahkan narasi You and I dengan kompromi sebagai strategi. Tujuannya agar film tidak condong politis dan tetap menyajikan gambaran humanis walau kedua tokohnya punya latar belakang masa silam kelam. Masa muda Kusdalini (kiri) & Kaminah (KawanKawan Media) Fanny hanya sedikit menyuguhkan keterangan tentang Kusdalini dan Kaminah sebagai anggota paduan suara di bawah naungan Pemuda Rakjat. Keduanya sering mentas keliling kampung, bahkan pernah tampil di hadapan Presiden Sukarno di Jakarta. Kusdalini dan Kaminah jadi dua pemudi Sukarnois yang aktif di Pemuda Rakjat. Faktor ideologis itu membuat keduanya harus mendekam di balik jeruji besi tanpa diadili. Kusdalini ditahan dua tahun dan Kaminah tujuh tahun. “Ini strategi karena buatku (isu 1965) sangat rumit dan kompleks, belum lagi penolakan-penolakannya. You and I ini tidak terasa politisnya dan tidak mengupas sejarah itu. Yang kita bicarakan hari ini adalah sisi kemanusiaannya agar lebih mudah diterima. Juga bicara di generasi ini kita harus punya pendekatan khusus. Aku lihat respon dari generasi ini mereka bisa menangkap karena sisi humanis dan persahabatan itu. Kalau peristiwanya (dari segi politis) mereka bisa cari referensi di tempat lain. Yang Aku tekankan humanismenya,” ungkapnya lagi. Strateginya berbuah manis. Tidak hanya mendapat banyak sambutan positif dari sejumlah perwakilan pemerintah daerah, You and I kemudian juga diapresiasi lebih luas dengan memenangkan kategori dokumenter terbaik sepanjang di Piala Citra 2020, DMZ International Documentary Film Festival di Korea Selatan 2020, dan terakhir di CPH:DOX Denmark 2021. “Ya jadi bisa diputar di Bioskop Online (mulai 9 April 2021) dan bahkan waktu pemutarannya di Solo mengundang pemerintah (daerah) juga. Mereka menyambut baik. Karena fokusnya itu tadi, ke kisah dua penyintas dan narasi setiap penyintas penting, layak didengar, dan berharga karena itu juga berisi kehidupan, kesaksian, dan suara mereka,” tandas Fanny. Baca juga: Proses Kreatif Usmar Ismail di Balik Layar

  • Dipancung Jepang di Bulan Ramadan

    Serangan Jepang ke Indonesia tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari tentara Belanda. Hal ini disebabkan rakyat Indonesia tidak memberi bantuan. Bahkan di beberapa tempat, rakyat justru menyerbu tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Hanya di beberapa tempat, tentara KNIL memberikan perlawanan sengit kepada Jepang. "Di Sulawesi Tengah, Letnan Infanteri De Jong dan Van Daalen melakukan perang gerilya serta berhasil membunuh banyak serdadu Jepang," tulis sejarawan M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-rempah. Mereka menewaskan tujuh perwira dan ratusan –sumber lain: 35 sampai 70– tentara Jepang dalam pertempuran di Lembosalenda (Korondoda) pada 7 Juli 1942. "Tempat itu merupakan daerah yang paling banyak memakan korban pasukan tentara Jepang sehingga mereka melakukan pembakaran mayat secara besar-besaran," catat Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Sulawesi Tengah , terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jepang mendirikan monumen peringatan berbentuk tujuh tugu untuk tujuh perwira yang tewas. Setiap orang yang melewati tempat itu harus memberi hormat dengan membungkuk ( seikerei ) kepada tujuh tugu itu. Sehingga, tempat itu kemudian dikenal dengan nama seikerei . Tempat itu dijaga seinendan  (barisan pemuda) untuk mengawasi apakah orang yang lewat memberi hormat atau tidak kepada tujuh tugu itu.Apabila ada yang tidak memberi hormat, dia akan dipanggil dan disiksa oleh Jepang. Setelah pertempuran di Lembosalenda , pasukan De Jong dan Van D a alen bercerai -berai, banyak yang tewas , bahan makanan dan amunisi makin habis. Bantuan makanan dan senjata dari Sekutu melalui udara jatuh ke tangan Jepang . Sebelumnya, Jepang juga menyita kapal S anoa yang membawa bantuan Sekutu dari Australia . Akhirnya, pada Agustus 1942, Van Daalen tertangkap di Korondoda dan De Jong tertangkap di Era. "Kedua perwira KNIL ini akhirnya menyerah dan dideportasi ke Manado," tulis Adnan. Keduanya dicungkil matanya sebelum dipancung pada 28 Agustus 1942. Satu-satunya tentara Belandayang lolos dari penangkapan Jepang adalah Jan Klinkhammer. Dia diselamatkan oleh penduduk setempat di sebuah bukit kecil Majalede di daerah padang luas bernama Pesuaka. Dia selamat sampai Jepang menyerah kepada Sekutu. Van Da a len ditangkap Jepang bersama Lonsi, kepala kampung Tomata, serta beberapa orang dari Bungku dan Salabangka. Di antara mereka yang di tangkap termasuk tokoh-tokoh pergerakan Merah Putih di Bungku dan Salabangka, yaitu Haji Hasan dan Abdullah Macan, serta kawan-kawannya. "Pada September 1942 di depan umum yang sengaja dipanggil Jepang untuk menyaksikan, diadakanlah pemancungan 21 orang tokoh-tokoh pergerakan Merah Putih dicampur dengan bekas orang-orangnya Van Daalen dan De Jong," tulis Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Sulawesi Tengah . Gerakan Merah Putih didirikan dan dipimpin oleh Nani Wartabone dan Kusno Danaupoyo pada Februari 1942. Gerakan yang berpusat di Gorontalo, Sulawesi Utara ini mengirim utusan-utusan ke pelbagai tempat di Sulawesi Tengah untuk merebut kekuasaan dari tangan Belanda menjelang kedatangan Jepang. Setelah tokoh-tokoh pergerakan Merah Putih itu, Sejarah Daerah Sulawesi Tengah mencatat, Raja Tojo Tanjumbulu, pemimpin pemberontakan pada Belanda tahun 1942 di Ampana, bersama guru/mubalig Jamaluddin Datu Tumenggung, tokoh PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) asal Parigi bernama Abd. Karim (murid HOS Tjokroaminoto), ditambah delapan orang lainnya gugur dipancung Jepang di muka umum pada akhir bulan Ramadan tahun 1942 –awal Ramadan tahun 1942 jatuh pada 12 September. "Pembunuhan besar-besaran itu akibat fitnah bekas Bestuur Asisten Belanda di Poso bernama Warouw," sebut buku terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan itu.  " Mereka dituduh mata-mata musuh (Sekutu), kaki tangan pemerintah Hindia Belanda, padahal mereka adalah pejuang-pejuang yang ingin memerdekakan bangsa dan wilayahnya dari penjajahan Belanda."

  • Tentara Rusia di Pesawat Tempur Indonesia

    SUATU hari di tahun 1962. Beberapa prajurit Resimen Tempur ke-831 dipanggil secara mendadak ke Moskow. Di depan para anggota Angkatan Udara Uni Soviet itu, seorang petinggi militer bernama Letnan Jenderal A.F. Semyonov  mengumumkan bahwa dalam waktu beberapa hari ke depan mereka akan ditugaskan di suatu tempat yang merupakan salah satu titik konflik di dunia. “Dia tidak menyebut tempat atau nama negara mana pun saat itu kepada kami. Yang jelas wilayah yang akan dituju, kata dia, memiliki perbedaan adat istiadat dan cuaca yang sangat berbeda dengan negara kami,” ungkap K. Dimitriev, seperti dikutip oleh sejarawan militer Uni Soviet Alexander Okorokov dalam buku  Тайные войны СССР  (Perang Rahasia Uni Soviet). Beberapa hari kemudian, Dimitriev dan kawan-kawannya sudah berada di pesawat sipil Ilyushin-18 (Il-18). Setelah transit di Tashkent, New Delhi dan Rangoon, mereka belum juga mendapatkan kepastian akan menuju negara mana. Barulah ketika pesawat lepas landas, di atas Rangoon, kopilot memberikan kepada mereka masing-masing sebuah amplop. “Isinya pemberitahuan bahwa kami akan dikirim dalam suatu misi tempur ke Indonesia,” ujar ahli spesialis senjata udara itu. Di Indonesia, para instruktur dan teknisi pesawat tempur Uni Soviet itu kemudian ditempatkan di Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun. Selain anggota Resimen Tempur ke-831, ikut pula para kru Angkatan Udara Uni Soviet dari Personel ke-2 Skuadron Resimen Pesawat Tempur Pengawal ke-32 yang berkedudukan di Pangkalan Udara Kubinka. “Semua sukarelawan Rusia itu dipimpin oleh seorang kolonel udara bernama Loginov,” ungkap Okorokov. * Resminya, kehadiran para tentara udara Uni Soviet tersebut merupakan bagian dari fasilitas pembelian sejumlah pesawat tempur yang dilakukan Indonesia dari negeri Beruang Merah tersebut. Misi Nasution yang dilakukan pada akhir 1960, meniscayakan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) mendapatkan sejumlah pesawat tempur canggih pada era itu, seperti Tu-16KS, MIG-17, MIG-19S, MIG-21 dan pesawat angkut An-12. Untuk mengoperasikan semua pesawat terbang itu, tentunya diperlukan para instruktur dan tenaga teknis dari Uni Soviet. Terutama itu diutamakan untuk jenis pesawat-pesawat tempur yang secepatnya akan diterjunkan di palagan Irian Barat. Maka atas persetujuan langsung dari Perdana Menteri Nikita Khrushchev, para sukarelawan Uni Soviet pun dikirim ke Indonesia. Soal keberadaan para kru AU Uni Soviet itu diakui sendiri oleh Marsda (Purn) R. Wisnu Djajengminardo dalam bukunya Kesaksian: Memoar Seorang Kelana Angkasa. Menurut mantan Asdir Latihan&Operasi Direktorat Operasi Markas Besar Angkatan Udara (MBAU) itu, para penerbang asing tersebut memang pernah ada. Mereka sepengetahuan Wisnu berfungsi sebagai instruktur bagi para calon pilot pesawat tempur AURI. “Instruktur-instruktur itu memberikan latihan terbang transisi pada penerbang-penerbang Tu-16 AURI di Iswahyudi…” ungkap Wisnu. Wisnu malah ingat, salah satu dari instruktur Rusia itu telah tewas dalam suatu latihan terbang malam di landasan Lanud Iswahyudi. Ceritanya, perwira AU Uni Soviet itu sedang melakukan latihan mengoperasikan Tu-16KS dengan seorang penerbang AURI bernama Soewandi. Pada saat akan mendarat, pesawat mengalami kecelakaan ( crash) . Akibatnya, sang penerbang Rusia langsung tewas dan Soewandi luka-luka. “Penerbang-penerbang Rusia itu enggan menggunakan flight helmet , karena menganggap itu suatu luxury… Karena tidak menggunakan helmet , (saat crash ) tengkuknya terpukul oleh batang besi yang lepas dari belakang tempat duduk pilot,” ujar Wisnu. Sumber Rusia mengamini informasi yang disampaikan Wisnu itu. Dalam bukunya, Okorokov mengidentifikasi instruktur yang mengalami kecelakaan tersebut sebagai Mayor Oleg Borisenko. Bahkan sebagai bentuk penghormatan, pemerintah Uni Soviet telah menganugerahi mendiang Borisenko dengan Bintang Panji Merah. Itu nama salah satu penghargaan militer tertinggi di masa Uni Soviet berjaya. Kecelakaan fatal pun pernah dialami oleh kru Uni Soviet lainnya di Lanud Iswahyudi. Adalah Letnan Senior Mikhail Grankov, teknisi MIG-21 yang harus menemui ajal karena mobil GAZ-69 yang dikendarainya ditabrak sebuah truk militer. Berbeda dengan keterangan Wisnu yang menyangkal adanya pilot Rusia yang pernah turun langsung ke palagan Irian Barat, Okorokov justru mendapatkan keterangan yang berbeda dari para veteran yang pernah ditugaskan ke Indonesia. Menurut staf pengajar di Akademi Ilmu Militer Rusia itu, seorang pilot Rusia pernah dikabarkan menerbangkan salah satu pesawat tempur beridentitas AURI lalu menghajar kedudukan sebuah stasiun radar milik Belanda di Manokwari, Kendati diberitakan sukses menghancurkan kedudukan musuh, pesawat tempur itu tak pernah kembali ke Lanud Iswahyudi. Tak jelas benar, apakah pesawat itu jatuh ditembak musuh atau mengalami kecelakaan saat hendak kembali ke pangkalan. “Dia tidak pernah kembali dari misinya…” ungkap Okorokov.

  • Menyusun Kamus Bahasa Melayu

    PADA 1857, sebuah kapal berpenumpang tiba di Riau. Kapal yang betolak dari Batavia itu sebagian besar diisi orang-orang Eropa. Mereka adalah pegawai negeri di pemerintahan Hindia Belanda yang baru dipindahkan dari wilayah Jawa ke Riau. Seorang peneliti berkebangsaan Jerman, Von de Wall, ada di antara rombongan pegawai tersebut. Von de Wall akan menempati jabatan asisten residen di Riau. Sebelumnya dia tinggal di Kalimantan sebagai wakil pemerintah Hindia Belanda di Kutai. Selama bekerja di sana, Von de Wall menunjukkan ketertarikannya terhadap bahasa dan sastra Melayu. Ketika itu, Von de Wall berhasil menyusun daftar kosakata baru yang belum dikenal. Dia juga cukup fasih mengucapkan bahasa Melayu. Hal itu membuat pemerintah pusat di Batavia terkesan. Mereka lalu mengangkat Von de Wall menjadi pegawai bahasa. Tugasnya: menyusun tata bahasa Melayu, kamus Melayu-Belanda, dan Belanda-Melayu. Kedatangannya ke Riau merupakan bagian dari tugas tersebut.

  • Mumi Ibu Hamil dan Janinnya

    Selama beberapa dekade, salah satu mumi Mesir Kuno koleksi Museum Nasional di Warsawa sempat disangka mumi pendeta laki-laki. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa mumi itu seorang perempuan hamil dengan janin yang masih di dalam perutnya.  “Itu benar-benar tidak terduga,” kata Wojciech Ejsmond, arkeolog Polish Academy of Sciences yang memimpin penelitian itu, sebagaimana dikutip New York Times . Para peneliti dari Polandia menemukan mumi perempuan hamil itu ketika melakukan studi komprehensif yang dimulai pada 2016. Mumi itu salah satu dari 40 lebih mumi koleksi Museum Nasional di Warsawa yang mereka kaji.  “Antropolog kami memeriksa ulang area panggul mumi untuk menentukan jenis kelamin mumi dan memeriksa semuanya, dan dia mengamati sesuatu yang aneh di area panggul, semacam anomali,” kata Ejsmond. Anomali itu rupanya adalah kaki kecil janin. Para peneliti menyimpulkan bahwa mumi itu dibuat pada sekira abad pertama SM. Pembalsemmembuatnya dengan hati-hati di beberapa titik. Dia dimakamkan di samping beragam perhiasan dan jimat. “Jenazah itu milik seorang wanita berstatus tinggi yang dibungkus linen dan kain tenun polos dan disertai satu set jimat yang kaya,” jelas Ejsmond.  Awalnya Diyakini Mumi Perempuan Belum diketahui pasti dari mana mumi itu berasal. Sebelum menjadi koleksi Museum Nasional di Warsawa, pada 1826 mumi ini adalah sumbangan untuk Universitas Warsawa. Penyumbang mumi itu mengklaim muminya berasal dari makam raja-raja di Thebes, yakni situs permakaman terkenal para Firaun kuno. Namun, dalam beberapa kasus, barang antik diklaim berasal dari tempat-tempat terkenal untuk meningkatkan nilainya. Karenanya para peneliti masih meragukan asal-usul mumi itu. Awalnya mumi itu memang diyakini sebagai mumi perempuan. Mengingat peti matinya ditutupi ornamen warna-warni dan mewah. “Mumi itu disebut ‘mumi seorang wanita’ pada abad ke-19,” tulis para ahli dalam jurnal hasil penelitian mereka yang dipublikasikan bulan lalu di Journal of Archaeological Science . Namun, praduga itu berubah pada abad berikutnya. Pada 1920,terjemahan hieroglif di peti mati dan penutup mumi mengungkap nama pendeta laki-laki Mesir, Hor-Djehuty. Ditambah lagi hasil pemeriksaan radiologi pada 1990-an membuat beberapa orang menafsirkan jenis kelamin mumi itu adalah laki-laki. Sebagaimana dilansir Smithsonian Mag azine , ketika mumi kembali diteliti menggunakan sinar-X dan CT scan pada 2016, para arkeolog masih berharap akan menemukan tubuh laki-laki di bawah pembungkus kuno itu. “Kejutan pertama kami adalah bukannya menemukan penis, tetapi justru payudara dan rambut panjang, dan kemudian kami menemukan bahwa itu adalah wanita hamil,” jelas Marzena Ozarek-Szilke, antropolog dan arkeolog di Universitas Warsawa. “Ketika kami melihat kaki kecil dan kemudian tangan kecil , kami sangat terkejut.” Menemukan mumi seseorang dalam peti mati orang lain tampaknya biasa terjadi di Mesir Kuno. Sebab, orang Mesir kuno menggunakan ulang peti mati yang pernah dipakai sebelumnya. “Ada kalanya mumi tidak sama dengan peti mati tempat mereka disemayamkan,” kata Ejsmond. “Ini terjadi kira-kira 10 persen dari waktu ke waktu.” Tapi ada catatan dalam penelitian itu bahwa kenyataannya selama abad ke-19, para penggali dan penjarah ilegal juga sering membuka sebagian mumi dan mencari benda-benda berharga sebelum mengembalikan mayatnya ke peti mati. “Tidak harus sama dengan tempat mumi itu ditemukan,” tulisnya. Adapun mumi Warsawa ini memang menunjukkan tanda-tanda penjarahan. Kain pembungkusnya rusak pada bagian leher, di mana mungkin dulunya pernah menyimpan jimat dan kalung. Penyebab Kematian Soal penguburan perempuan hamil di Mesir Kuno sebenarnya sudah pernah diketahui. Namun, ini adalah penemuan mumi perempuan hamil yang pertama.  “Ini seperti menemukan harta karun saat Anda memetik jamur di hutan,” kata Ejsmond. “Kami kewalahan dengan penemuan ini.” Lewat pemindaian sinar-X diketahui sang ibu meninggal di usia antara 20 hingga 30 tahun. Sementara janin dalam kandungannya, dari ukuran kepalanya, berusia 26 dan 30 minggu. Jenis kelamin janin belum ditentukan. Para ahli juga masih belum mengetahui bagaimana “perempuan misterius” itu meninggal. Namun, mengingat tingginya tingkat kematian ibu di dunia kuno, kemungkinan kehamilan adalah faktor kematiannya. Untuk memastikan penyebab kematiannya, peneliti akan menganalisis sampel kecil darah yang diawetkan di dalam jaringan lunak mumi. Nasib Anak yang Belum Lahir Para peneliti penasaran dengan janin yang dibiarkan utuh di dalam tubuh ibunya. Pasalnya, pada kasus lain, bayi yang lahir mati akan dimumikan dan dikuburkan bersama orang tua mereka. Terlebih lagi, empat organ mumi, kemungkinan paru-paru, hati, perut, dan jantung, tampaknya telah diekstraksi, dibalsem, dan dikembalikan ke tubuh sesuai dengan praktik mumifikasi pada umumnya. Karenanya menjadi pertanyaan, mengapa si pembalsem tak melakukan hal yang sama pada bayi yang belum lahir.  Para peneliti berhipotesis bahwa janin pada usia tersebut akan sulit diekstraksi karena ketebalan dan kekerasan rahim. Jadi, pembalsem yang membuat mumi si ibu, mungkin tak dapat mengeluarkan janin tanpa merusak tubuhnya atau janinnya. “Mungkin juga ada alasan agama. Mungkin mereka mengira bayi yang belum lahir itu tidak memiliki jiwa atau akan lebih aman di dunia berikutnya,” kata Ejsmond kepada CNN .  Dalam publikasi para peneliti tercatat bahwa “Studi ini membuka diskusi tentang kepercayaan Mesir Kuno, dapatkah seorang anak yang belum lahir pergi ke dunia akhir?” Mereka berhipotesis, janin mungkin masih dianggap sebagai bagian dari tubuh ibunya karena belum lahir. Kepercayaan Mesir Kuno menyatakan bahwa penamaan adalah bagian penting sebagai seorang manusia. Karenanya bayi yang belum memiliki nama mungkin tak dianggap sebagai individu yang berbeda. “Jadi, perjalanannya ke akhirat hanya bisa terjadi jika dia pergi ke dunia akhir sebagai bagian dari ibunya,” tulis para peneliti. Penemuan janin itu pun sangat penting karena kehamilan dan komplikasinya biasanya hanya meninggalkan sedikit jejak. Bahkan tidak ada bukti osteologis. Alexander Nagel, peneliti di departemen antropologi Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian, menyebut temuan mumi hamil itu sebagai “penemuan unik”. “Secara umum, belum banyak perempuan yang menjadi fokus studi di Egiptologi,” kata Nagel .  Teks kuno ada yang memberikan beberapa wawasan tentang praktik seputar perempuan hamil pada zaman kuno. Papirus dari sekira 1825 SM misalnya, mengungkapkan bahwa bahan seperti madu dan kotoran buaya digunakan sebagai alat kontrasepsi. Namun tetap saja pengetahuan tentang perawatan prenatal (kehamilan) zaman Mesir Kuno tak banyak.   Para peneliti pun berharap dengan mempublikasikan temuannya, keberadaan mumi perempuan hamil ini dapat menarik perhatian dari para dokter dan ahli di bidang lain untuk membantu tahap penelitian selanjutnya. “Ini adalah dasar yang baik untuk memulai proyek yang lebih besar tentang mumi ini,” kata Ejsmond. “Karena akan membutuhkan banyak ahli untuk membuat penelitian interdisipliner yang layak.” Dengan demikian, temuan terbaru dari mumi Warsawa itu membuka jalur baru ke dalam studi kesehatan prenatal dunia kuno.

  • Potret Pahit Penyintas 1965 dalam You and I

    MENYIAPKAN makan siang, meminumkan obat sirup hingga mengoleskan krim pereda nyeri. Begitu rutinitas sehari-hari Kaminah merawat Sri Kusdalini yang sudah mulai digerogoti penyakit di pengujung usianya. Rutinitas itu dijalani Kaminah dengan tulus ibarat seorang adik kandung yang menyayangi kakaknya. Kaminah aslinya tak punya pertautan darah dengan Kusdalini. Tembok rumah sederhana di gang sempit di kota Solo dengan cat terkelupas di sana-sini dan atap yang hampir ambruk jadi saksi bahwa kedua perempuan renta itu punya sejarah panjang yang membuat keduanya sudah seperti kakak-adik kandung. Keduanya menjalani hidup dalam kemiskinan. Beruntung sejumlah tetangga dekat Kaminah dan Kusdalini begitu peduli. Tidak hanya sering berbagi kebutuhan hidup, mereka juga bergotong-royong memperbaiki atap rumah Kusdalini tanpa imbalan sepeser pun. Baca juga: Hanyut dalam Nyanyian Akar Rumput Potret kehidupan Kusdalini dan Kaminah yang memprihatinkan itu disajikan sineas muda Fanny Chotimah dalam pembukaan film dokumenter bertajuk You and I . Film ini mengikuti keseharian dua penyintas Peristiwa 1965 itu yang berkalang cinta kasih akibat pengalaman getir yang pernah dialami keduanya. Sutradara debutan itu juga menyuguhkan keterangan tertulis dalam sebuah sisipan dengan foto-foto lawas tentang siapa Kusdalini dan Kaminah. Kedua penyintas disebutkan sempat jadi tahanan politik (tapol). Mereka dipenjara penguasa Orde Baru dalam waktu berlainan tetapi menjalin persaudaraan di balik jeruji besi. Sri Kusdalini (kiri) & Kaminah (kanan) di masa mudanya. (KawanKawan Media). Kusdalini dan Kaminah ditangkap pasca-G30S 1965 sebagai bekas anggota dua kelompok paduan suara berbeda yang bernaung di bawah Pemuda Rakyat, onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Seperti kebanyakan penyintas 1965, Kusdalini dan Kaminah dipenjara tanpa pengadilan. “Bermula dari Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia yang berubah jadi Gerwani). Kita sepaham seperjuangan dan bidangnya itu sama, keputrian. Dia suka nyanyi, aku juga suka nyanyi. Tapi dia di tingkat kota, (kelompok) Gita Patria. Kalau aku kan di tingkat ranting, kecamatan, gitu. Karena satu kelompok gitu (di tahanan), jadi lama-lama makin dekat,” kata Kaminah mengenang dengan logat Jawanya. Kusdalini dibui selama dua tahun. Sementara, Kaminah harus mendekam sampai tujuh tahun. Baca juga: Agar Tak Menguap dalam Senyap Ketika sudah dibebaskan, Kaminah tak diterima lagi oleh keluarganya. Hanya Kusdalini dan mendiang neneknya yang bersedia menampungnya di rumahnya yang sederhana. Untuk menyambung nyawa, Kaminah ikut membantu Kusdalini membatik dan membuka warung makan di depan gang rumahnya. “Yang paling mengesankan (saat) Mbak Kus dipanggil bebas, itu aku…aku sampai pingsan,” imbuh Kaminah menahan sesak di dada dan air mata. Dari ikatan persahabatan yang berubah jadi persaudaraan itu Kusdalini nekat kembali ke penjara demi rutin mengunjungi Kaminah. Ia tak peduli ancaman penjaga penjara demi mengobati lara hati yang masih menerpa Kaminah. “Dia terus jenguk saya. Ngirim (bawa makanan). Sampai diancam Pak Gito: ‘Kus, kamu kok masih ke sini? Mrene kowe arep dilebokke meneh opo piye (Kamu ke sini mau dimasukin penjara lagi atau bagaimana)?’ Katanya, ‘ Mboten’o, Pak. Mesakke adik kulo (Tidak kok, Pak. Kasihan adik saya) kalau tidak dijenguk.’ Dia diancam tidak takut. Sudah di luar, sudah pegang surat pembebasan masak mau diambil lagi? Tapi ya mungkin saja,” tambah Kaminah. Kaminah (kiri) setia menemani Kusdalini saat dirawat di RST Slamet Riyadi. (KawanKawan Media). Kebaikan Kusdalini itu membuat Kaminah tulus membalas budi dengan merawat Kusdalini yang dua tahun terakhir mengalami pikun dan masalah pendengaran. Lutut Kusdalini pun mulai nyeri sampai harus dirawat di Rumahsakit Tingkat III Slamet Riyadi. Di situlah Kaminah setia menemani berhari-hari di kamar rawat inap. Tetapi potret kehidupan Kaminah dan Kusdalini tak melulu pedih. Bercanda kerap dilakukan keduanya untuk mengisi waktu sekaligus membunuh pilu. Seperti saat keduanya menonton program sejarah Metro TV di layar kaca yang berkaitan dengan sejarah kelam Peristiwa 1965. “Itu lho, konco-koncomu (teman-temanmu) dibunuh,” kata Kaminah. “Itu di Jembatan Bacem, arah selatan rumah kita,” timpal Kusdalini. “Jasmerah…” celetuk Kaminah. “Opo Jasmerah?” tanya Kusdalini. “Jangan melupakan sejarah. (Perkataan) Bung Karno…” “Bung Karno? Sukarno masih hidup?” tanya Kusdalini polos. “Ya Allah. Bagaimana Aku bisa omong sama kamu kalau kamu lupa semuanya. Jasmerah itu jangan melupakan sejarah. Kowe kok lali kabeh (kamu kok lupa semuanya),” tukas Kaminah sambil menyunggingkan senyum. Warung makan yang jadi penyambung hidup Kusdalini dan Kaminah usai dibebaskan dari penjara. (KawanKawan Media). Bung Karno merupakan sosok yang paling dipuja Kaminah. Di masa lalu dia ikut paduan suara di bawah sebuah organisasi politik karena mendewakan sang proklamator. “Negara kita sudah makmur tapi adilnya yang belum. Itu yang diperjuangkan, keadilan dan kemakmuran, oleh Sukarno yang begitu gigih, presiden yang tidak korupsi. Makamnya saja sesederhana itu di Blitar. Jomplang sekali dengan makam Pak Harto. Sampai kapanpun mbah (saya) tetap konsisten dengan ajaran Bung Karno,” tandasnya. Untuk mendapatkan detail lebih kehidupan memprihatinkan dua penyintas renta G30S di Solo itu, baiknya tonton sendiri You and I yang diputar via aplikasi daring bioskoponline.com sejak 9 April 2021 Menanti Keadilan hingga Akhir Hayat Jembatan Bacem begitu lekat dalam ingatan Kaminah. Maka ada campur-aduk perasaan di batinnya kala mendapati jembatan dekat perbatasan Surakarta-Sukoharjo itu ditampilkan sebuah program sejarah di layar kaca. Jembatan yang tak jauh dari rumahnya itu bersama Bengawan Solo yang mengalir di bawahnya jadi saksi bisu pembantaian penduduk sepanjang 1965-1966. Menurut sejarawan University of British Columbia Profesor John Roosa dalam Buried Histories: The Anticommunist Massacres of 1965-1966 in Indonesia, Jembatan Bacem sarat sejarah kelam kala pihak militer mengeksekusi ratusan terduga simpatisan PKI tanpa pengadilan. Eksekusi lazimnya dilancarkan setiap malam selama dua tahun hingga membuat Bengawan Solo berwarna merah. “Jembatan yang digunakan tentara sebagai tempat eksekusi memang sudah tidak lagi ada tapi satu pasak bata dan betonnya masih berdiri di tepi sungai bak reruntuhan benteng kuno. Tanpa alasan yang jelas jembatannya dirobohkan dan diganti jembatan baja di sebelahnya. Satu pilar bata yang sudah dirambat tumbuhan vegetasi itulah satu-satunya penanda lokasi eksekusinya,” tulis Roosa. Baca juga: Peliknya Rekonsiliasi Peristiwa 1965 Tak jelas berapa total korbannya. Tetapi, lanjut Roosa merujuk keterangan salah satu penyintas, korbannya tidak kurang dari 144 jiwa. Sebelum dieksekusi, mereka dibawa dengan truk-truk dari sejumlah penjara. Mereka dieksekusi dalam kegelapan malam. “Seorang sesepuh yang tinggal dekat sungai mengatakan bahwa dia dan para tetangganya sering mendengar letusan tembakan setiap malam dari arah jembatan. Setiap subuh tentara memerintahkan warga menyodok-nyodok mayat dengan galah untuk dihanyutkan ke laut saking padatnya sungai itu dengan mayat,” sambungnya. Ilustrasi penangkapan para simpatisan PKI. ( hrw.org ). Surakarta dan daerah-daerah di sekitarnya sejak 1920-an sudah jadi basis komunis, sebut Roosa. Maka pasca-pembunuhan para jenderal di Jakarta dan Yogyakarta, operasi ganyang PKI oleh tentara dan anasir pemuda anti-komunis banyak dilakukan di sana. Pengganyangan di Surakarta dimulai pada 22 Oktober 1965 kala dua kompi RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, kini Kopassus) datang dari Jakarta. Mereka memegang perintah Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie untuk menangkapi dan melenyapkan para pimpinan PKI dengan mengoordinir militer dan kepolisian setempat. “Saat pasukan RPKAD tiba pada 22 Oktober, Surakarta sudah seperti kota terbuka di hadapan pasukan penginvasi. Para komunis yang mendominasi kota tak diatur atau membuat kubu pertahanan. Para pimpinan PKI juga tidak memerintahkan penduduk desa membuat barikade hingga pasukan yang masuk dari Boyolali tak menghadapi tantangan berarti,” sambung Roosa. Baca juga: Tujuh Tahanan Politik Perempuan di Kamp Plantungan Di masa itulah Kaminah dan Kusdalini ditangkap dan dipenjara tanpa diadili. Sebagaimana para korban lain, keduanya sempat dikumpulkan di Balai Kota Surakarta untuk diinterogasi sebelum dikirim ke sejumlah penjara. Sayangnya, sutradara tak memberi keterangan lebih lanjut di mana Kaminah dan Kusdalini dipenjara. Ada kemungkinan keduanya ditempatkan di Plantungan, Kendal, Jawa Tengah. Kamp itu jadi “Pulau Buru”-nya tahanan perempuan. Mayoritas yang ditahan di Plantungan adalah para perempuan yang terindikasi aktif di politik, seni, atau olahraga dengan payung organisasi-organisasi kiri walau tidak cukup bukti untuk diajukan ke pengadilan. “Seperti Ibu Marniti. Ia diinterogasi semalaman di balai kota tentang aktitivitasnya yang berafiliasi dengan PKI. Ia sebelumnya juga anggota Gerwani dan suaminya adalah Kepala Cabang Pemuda Rakjat Surakarta. Dengan data seperti itu ia dianggap simpatisan dan ditahan tanpa diadili di Plantungan sebelum akhirnya dibebaskan pada 1979,” ungkap Roosa. Upaya menuntut keadilan dari Kaminah, Kusdalini dan para penyintas di Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba) Solo. (KawanKawan Media). Bagi yang lebih apes, nyawa para simpatisan atau terduga PKI melayang di Jembatan Bacem. Kisah getir itu mengendap tidak hanya di ingatan para penyintas tapi juga di banyak warga sekitar, bahkan orang luar. Seperti yang dialami aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Firman Lubis. Dia mengetahuinya saat menjadi sukarelawan korban banjir di Solo pada akhir Maret 1966. “Saya merinding mendengarkan cerita tentang metode-metode yang digunakan untuk membunuh para terduga komunis. Sangat tidak rasional. Walau saya benci ideologi komunis, tetapi aksi-aksi di luar hukum yang direstui militer seperti itu membuat saya jijik, apalagi tidak semua korban aslinya adalah komunis. Aksi seperti itu tidak bisa dibenarkan. PKI yang mereka ganyang bukanlah kekuatan militer melainkan partai politik legal yang berisi orang sipil. Situasinya tidak bisa dibandingkan dengan masa perang,” tutur Firman, dikutip Roosa. Betapapun mengerikannya kisah penyiksaan itu di mata orang-orang, para penyintas seperti Kaminah dan Kusdalinilah yang bisa merasakan sakitnya. Lebih parah lagi, penderitaan mereka tak berhenti sampai di penjara saja. Setelah bebas dari penjara, mereka tak bisa jadi orang bebas seperti sedia kala. Kaminah tak bisa pulang karena ditolak keluarganya sehingga harus ditampung Kusdalini. Baca juga: Mengintip Belakang Layar Nyanyian Akar Rumput Kaminah tegar menemani Kusdalini di saat-saat terakhirnya. (KawanKawan Media). Keadilan. Itulah yang dituntut Kaminah dan ribuan penyintas lain. Keadilan belum kunjung tiba bahkan ketika Kusdalini dijemput ajal. Potret itu yang dihadirkan secara observatory oleh Fanny Chotimah lewat You and I . Ia mengangkat kisah getir dua penyintas renta itu untuk menyuarakan keadilan dan kemanusiaan. Di tingkat nasional, itu dilakukannya dengan menayangkan You And I secara daring. Di panggung internasional, You And I diikutkan ke dalam berbagai festival dan sempat memenangi film terbaik kategori Asia di DMZ International Documentary Film Festival 2020 di Korea Selatan serta masuk ke daftar 10 film dokumenter Asia terbaik 2020 versi New Musical Express (Inggris). “Ini adalah cerita tentang ironi kehidupan. Saya tak bisa membayangkan bagaimana kita bisa menemukan belahan jiwa di tempat mengerikan yang tak seorang pun mau mengalaminya. Mereka bertemu di masa muda di penjara dan melalui hidup dengan mimpi yang hancur selama lebih dari 50 tahun. Yang mereka alami adalah bentuk ketidakadilan. Bukan tidak mungkin juga terjadi pada kita. Ini yang jadi perhatian saya. Saya percaya pada keadilan dan kemanusiaan,” ujar Fanny dalam rilisnya. Data Film: Judul: You and I | Sutradara: Fanny Chotimah | Produser: Amerta Kusuma, Yulia Evina Bhara, Tazia Teresa Darryanto | Produksi: KawanKawan Media, Partisipasi Indonesia | Genre: Dokumenter | Durasi: 72 Menit | Rilis: 9 April 2021 (Bioskop Online)

  • Persahabatan Raja Ali Haji dengan Von de Wall

    Pada 1995, sebuah buku berjudul  Dalam Berkekalan Persahabatan  atau  In Everlasting Friendship: Letters from Raja Ali Haji , terbit di Leiden, Belanda. Penyuntingnya seorang Jerman bernama Van der Putten, dan seorang Melayu bernama al-Azhar. Buku itu berisi surat-surat Raja Ali Haji, seorang penulis kenamaan Melayu, kepada sahabatnya Von de Wall, seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman, selama periode 1857-1872. Selama bertahun-tahun, keduanya berusaha mencari, dan mengumpulkan surat-surat tinggalan Raja Ali Haji yang sebagian besar tersimpan di Jakarta dan Belanda. Surat yang bisa ditemukan jumlahnya sangat terbatas karena banyak yang rusak dimakan usia. Itu pun hanya surat milik Raja Ali Haji. Sedangkan tinggalan Von de Wall hampir tidak ada jejaknya. Dalam surat-suratnya, Raja Ali Haji memperkenalkan dirinya secara lengkap beserta gambaran fisik serta wataknya. Kepada kawan Eropanya, dia bercerita banyak tentang kehidupan pribadinya. Lebih dari itu, Raja Ali Haji juga menceritakan alasan dan tujuannya mengarang, tentang keluarga, lingkungan tempat tinggal, kesehatan, sampai kesusahannya. “Kepada Asisten Residen Riau itu, Raja Ali Haji bahkan menulis persoalan amat pribadi termasuk lemah syahwat,” tulis Taufik Ikram Jamil dalam “Antara Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dan Raja Ali Haji: Dua Cahaya dari Satu Kutub” dimuat  1000 Tahun Nusantara  karya J.B. Kristanto Bagaimana keduanya bisa berkarib? Menyusun Kamus Melayu Dalam surat-surat yang dikumpulkan Van der Putten dan al-Azhar, termuat  Dalam Berkekalan Persahabatan , disebutkan bahwa pertemuan pertama Raja Ali Haji dan Von de Wall terjadi pada 1857 di Riau. Raja Ali Haji telah dikenal sebagai pengarang terkemuka Riau Lingga, sementara Von de Wall menjabat Asisten Residen Riau. Ketika itu Von de Wall sebenarnya tengah menjalankan dua tugas: menjadi asisten residen dan menyusun kamus Belanda-Melayu. Menurut Hendrik M.J. Maier dalam  Raja Ali Haji dan Hang Tuah: Arloji dan Mufassar , tugas pertama hanyalah tugas sampingan, sedangkan pekerjaan pokoknya adalah penyusunan kamus Belanda-Melayu. “Tugas resminya ialah menyusun kamus bahasa dan tatabahasa Melayu yang boleh dipegang sebagai pedoman oleh pegawai negeri. Tetapi, tidak disangsikan Von de Wall diharapkan pula memberi taklimat kepada pegawai atasannya mengenai perkembangan politik dan ekonomi di kepulauan Riau,” kata Maier. Hermann Theodor Friedrich Karl Emil Wilhelm August Casimir Von de Wall lahir di Giessen, Jerman pada 1809. Dia pertama kali menginjakkan kakinya di Hindia-Belanda pada 1829 sebagai sersan pasukan berkuda ketentaraan Belanda. Pada 1831 dia dipromosikan menjadi pemimpin suatu pasukan pribumi di Cirebon. Karir militer Von de Wall dilepas setelah pada 1834 diangkat menjadi pemimpin sipil di Kalimantan. Selama hampir dua dasawarsa beriktunya dia mengabdikan diri pada pemerintah kolonial Belanda, dengan menempati sejumlah jabatan penting di Kalimantan. Salah satu prestasi Von de Wall yang membuat pejabat tinggi Belanda terkesan adalah ketika dia berhasil mengadakan perjalanan untuk menjalin hubungan baik dengan penguasa-penguasa di pedalaman Kalimantan. Di Kalimantan, Von de Wall menunjukkan ketertarikannya terhadap bahasa Melayu. Dia pun lalu diminta oleh pemerintah pusat di Batavia untuk mengerjakan kamus Belanda-Melayu, yang keberadaannya amat penting dalam melanggengkan kekuasaan mereka di tanah jajahannya. Von de Wall menerima jabatan asisten residen sebagai kompensasi tugas tersebut, dengan bayaran mencapai 1.200 gulden sebulan. “Penyusunan kamus bahasa Melayu-Belanda dianggap sebagai tugas yang amat mustahak karena pemerintah Belanda didesak oleh perlunya pedoman ejaan dan pengembangan kosakata baku untuk pendidikan,” ungkap Jan van der Putten dan al-Azhar Pada 1857, Von de Wall tiba di Riau. Salah satu kesultanan Melayu di Pulau Sumatra tersebut terpilih sebagai tempat penelitian untuk penyusunan kamus karena dianggap memiliki kebahasaan Melayu yang paling asli dan murni dibandingkan daerah lain di Nusantara. Pada waktu itulah, Von de Wall pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Raja Ali Haji. Dalam surat yang ditinggalkan Raja Ali Haji, diceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan sarjana Eropa tersebut. Dikatakan Raja Ali Haji bahwa dia dikenalkan oleh Residen Neuwenhuyzen kepada seorang pejabat pemerintah baru yang diberi tugas “memungut bahasa-bahasa Melayu”. “Maka dari karena inilah, apa hal ihwal saya dahulukan dengan setahu tuan juga, karena itulah jalan adab dan hormat di dalam kitab-kitab peraturan sahabat persahabatan orang-orang Islam adanya, sudah habis putih hati ikhlas saya kepada tuan serta putus pada pikiran saya yang tuan itu semata-mata mencari kebajikan atas saya jua,” kata Raja Ali Haji, sebagaimana termuat Maier. Menjalin Kedekatan Setelah pertemuan pertama, Raja Ali Haji dan Von de Wall semakin sering bertemu. Raja Ali Haji menjadi informan bagi Von de Wall dalam penyusunan kamus Belanda-Melayu. Dia juga membantu kawan Eropa-nya itu menerjemahkan dan mengumpulkan naskah-naskah di Kesultanan Riau Lingga, serta menyusun kosa-kata untuk kamus. Von de Wall tinggal di Tanjung Pinang, sedangkan Raja Ali Haji tingal di Penyengat. Jarak kedua tempat itu, imbuh Maier, lebih kurang satu jam naik perahu kecil. Pertemuan mereka biasanya diisi dengan saling bertukar ilmu. Von de Wall tentang kebahasaan Melayu, sementara Raja Ali Haji tentang pengetahuan Barat yang tidak pernah dia temukan di tempat kelahirannya. “Pertemuan itu semacam penjelmaan pertemuan dua kebudayaan, dua pandangan hidup, seperti dua kalajengking yang bersangkutan dan tidak berlepasan lagi,” ucap Maier. Pada awal terbentuknya kerja sama antara Raja Ali Haji dengan Von de Wall, ikatannya tidak didasarkan pada landasan formal. Raja Ali Haji hanya menerima imbalan berupa hadiah, seperti senjata dan buku, bukan uang. Baru setelah beberapa tahun bekerja dia mendapat tunjangan sebesar 30 rial sebulan. Hubungan persahabatan Raja Ali Haji dan Von de Wall kian erat seiring dengan banyaknya pertemuan keduanya dalam menyusun kamus Belanda-Melayu. Surat-surat yang ditinggalkan Raja Ali Haji juga memberi kesan bahwa sastrawan Riau itu semakin membuka hatinya kepada kawan lain bangsa itu. Ketika sedang masa sulit akibat kekurangan uang, Raja Ali Haji selalu bercerita kepada Von de Wall. Dia juga akan mengutarakan kesedihannya ketika terjadi masalah di lingkungannya. Raja Ali Haji tak segan menceritakan segala hal kepada Von de Wall, termasuk masalah syahwatnya. Bahkan ketika Von de Wall sakit, Raja Ali Haji akan merasa bersedih. “Demi persahabatannya, Raja Ali Haji berani membuka diri secara halus dan sopan. Atas nama kerja sama, dia tidak malu meminta benda yang bermacam-macam. Permintaan itu biasanya tertanam dalam cerita yang cukup menyejukkan,” tulis Van der Putten dan al-Azhar. Tidak hanya dekat dengan Von de Wall, Raja Ali Haji juga cukup akrab dengan pejabat pemerintah Belanda lainnya. Dia kerap dihadiahi berbagai macam buku dari Timur Tengah oleh gubernemen di Batavia. Berbagai permintaannya pun sering dikabulkan, seperti ketika dia meminta sebuah senapan, lilin, mesin cetak, rokok, hingga perekat surat berwarna-warni.  Setelah menyelesaikan pekerjaan membuat kamus Belanda-Melayu, kedekatan Raja Ali Haji dan Von de Wall masih terjalin baik. Keduanya tidak pernah lupa saling bertukar surat. Namun semenjak kesehatan Von de Wall menurun, Raja Ali Haji jarang bertemu secara langsung. Kawannya itu juga lebih sering pergi ke Jawa untuk pemulihan kesehatannya. Menurut Maier, surat terakhir Raja Ali Haji kepada Von de Wall dikirim pada Desember 1872. Setelah itu tidak ada lagi catatan mengenai komunikasi keduanya. Diketahui bahwa, baik Raja Ali Haji, maupun Von de Wall wafat pada 1873. Sang pujangga meninggal di Pulau Penyengat, sementara kawan Eropa-nya di  Pulau Jawa.

  • Bunuh Diri Massal Penduduk Jerman di Demmin

    Waltraud Reski masih berusia 11 tahun ketika kengerian melanda Demmin, kota kecil 220 kilometer di utara Berlin yang jadi tempat tinggalnya, pada 30 April 1945. Kendati belum paham apa yang sebenarnya sedang terjadi, batinnya diliputi ketakutan ketika mendengar derap langkah dan deru kendaraan tempur Tentara Merah memenuhi Demmin. “Suara ini –tank-tank bergerak masuk– suara yang menakutkan. Setiap kali saya melihatnya dalam sebuah film, sekarang ingatan ini kembali kepada saya,” ujarnya sebagaimana dikutip sejarawan Laurence Rees dalam bukunya yang berjudul Their  Darkest Hour: People Tested to the Extreme in WW II . Sebagaimana warga Demmin umumnya, ketakutan Waltraud timbul akibat berbulan-bulan terus dicekoki berita propaganda oleh pemerintah Jerman-Nazi. Sejak Jerman kalah di Stalingrad, Menteri Propaganda Joseph Goebbels selalu mempropagandakan kengerian yang bakal diterima rakyat Jerman apabila tentara Soviet mencapai tempat tinggal mereka. Dalam pidatonya Goebbels menyatakan begitu “Gerombolan Bolshevik Mongol” –demikan julukan kaum fasis terhadap pasukan Soviet– tiba, mereka akan membumihanguskan kota-kota Jerman yang dilalui, membiarkan penduduk kelaparan, mengirim penduduk kerja paksa ke tundra, dan memerintahkan eksekusi massal. Para prajurit Soviet juga bakal menjarah apa saja yang mereka temui, menyiksa anak-anak sebelum membunuh mereka, dan memperkosa perempuan-perempuan yang ada. Poster-poster miring tentang orang-orang Soviet ditempel di banyak tempat. Tujuan kampanye negatif terhadap Soviet itu adalah untuk mendapatkan dukungan penuh rakyat Jerman. Propaganda tersebut mendapat momennya ketika pasukan Jerman berhasil merebut kembali Desa Nemmersdorf di Prusia Timur dari Tentara Merah pada Oktober 1944. Di sana, pasukan Jerman menemukan jejak pembantaian penduduk desa oleh pasukan Soviet. “Laporan serdadu Wehrmacht bicara tentang sekitar dua puluh kematian –perempuan, anak-anak, dan orangtua. Fakta lain lebih sulit dipastikan, paling tidak karena mesin propaganda di Berlin segera mengirimkan fotografer dan juru kamera untuk melakukan kampanye sensasional,” tulis sejarawan Florian Huber dalam bukunya, Promise Me You’ll Shoot Yourself . Pembantaian di Nemmerdsdorf, The Horror of Nemmerdsdorf, segera menjadi berita yang disuguhkan suratkabar-suratkabar resmi partai maupun yang berafiliasi dengannya selama berminggu-minggu setelah itu. Propaganda itu berhasil mempengaruhi penduduk di berbagai tempat, termasuk Demmin. Waltraud dan keluarganya termasuk yang “termakan” isu tersebut. Keluarga Waltraud telah lama menunggu dengan cemas kenyataan akan tibanya pasukan Soviet. Maka begitu pasukan Soviet tiba di Demmin pada 30 April, mereka langsung masuk ke rumah sambil membarikade pintu-pintu yang ada agar para serdadu Tentara Merah itu tak bisa memasuki rumah mereka. Berbeda dari keluarga Waltraud yang tak memiliki pria karena ayah Waltraud belum kembali dari medan tempur, Gerhard Moldenhauer, seorang kepala sekolah di kota itu yang sejak 1930-an dia merupakan penentang Hitler, memilih melawan ketimbang membiarkan begitu saja pasukan Soviet menduduki kotanya. Setelah mendengar tiga jembatan diledakkan, Moldenhauer langsung mengambil senjatanya. Pertama-tama dia menembak istri dan ketiga anaknya, lalu memberitahu tetangganya bahwa dia baru saja membunuh keluarganya dan setelah itu akan melakukan hal yang sama pada tentara Soviet. Setelah kembali ke apartemennya, Moldenhauer berdiri di tepi jendela dan melepaskan beberapa tembakan ke arah pasukan pembuka tentara Soviet yang bergerak di Treptower Strasse. Beberapa serdadu Soviet langsung roboh dibuatnya. Tak ingin kalah cepat dari tentara Soviet yang bakal mendatangi apartemennya, Moldenhauer lalu menembak kepalanya sendiri. Dia mati. Bunuh diri menjadi pilihan banyak warga Demmin ketika kota itu diduduki pasukan Soviet di pengujung Perang Dunia II. Selain karena kota itu telah ditinggalkan pejabat, militer, maupun milisi Nazi, penduduk tak bisa melarikan diri karena tiga jembatan yang melintasi dua sungai yang memagari Demmin telah dihancurkan militer Jerman ketika mereka mundur. Penghancuran jembatan dilakukan agar mencegah pasukan Soviet bergerak lebih jauh ke Rostok. Namun di sisi lain, penghancuran jembatan itu membuat penduduk tak bisa melarikan diri dari Demmin. Para penduduk yang sudah termakan propaganda itu pun akhirnya memilih bunuh diri ketimbang mesti menghadapi kekejaman pasukan Soviet. Lothar Buchner, anggota Dinas Perburuhan Nasional berusia 27 tahun, merupakan di antara sekian banyak warga Demmin yang enggan mengahadapi kekejaman Soviet. Setelah mencekik dengan tali hingga tewas Georg-Peter, bayi berusia tiga tahun anggota keluarganya, Lothar gantung diri. Langkahnya lalu diikuti istrinya, saudara perempuannya, dan ibu serta neneknya. Tindakan Lothar juga dilakukan seorang polisi tua dan istrinya. Keduanya sama-sama gantung diri. Tindakan pasangan suami-istri itu kemudian diikuti dua putrinya. Hal serupa juga seorang istri muda letnan Jerman yang tinggal berdua dengan bayinya yang berusia tiga tahun. Pun dengan keluarga Bewersdorff, direktur asuransi kesehatan umum kota. Setelah menghabisi semua anggota keluarganya, termasuk dua cucunya yang berusia dua dan sembilan tahun, dia gantung diri. Cara berbeda dengan tujuan sama dilakukan putri seorang tuan tanah Waldberg dan tukang kayu berusia 47 tahun beserta istrinya. Mereka menembak kepala mereka sendiri untuk mati. Sekira 21 nyawa warga Demmin melayang pada 30 April itu.    “Dua puluh satu kasus bunuh diri ini –menggolongkan kematian anak-anak sebagai 'bunuh diri pembunuhan', sejalan dengan bahasa hukum yang umum– dicatat dalam kematian Kantor Catatan Sipil Demmin. Melihat daftar dan melihat serentetan kasus bunuh diri yang tiba-tiba di Demmon pada 30 April 1945, bahkan sebelum invasi Soviet, Anda merasa bahwa ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya –tetapi dua puluh satu kasus bunuh diri itu hanyalah permulaan,” tulis Florian Huber. Banyak penduduk yang kadung tewas itu sebetulnya tertipu propaganda Nazi. Di lapangan, kenyataannya banyak prajurit Tentara Merah yang jauh berbeda dari yang dipropagandakan. Terlebih setelah para serdadu Soviet itu melihat bendera putih tanda menyerah berkibaran di rumah-rumah hingga menara gereja. Maria Buske, istri pendeta setempat yang menjadi pekerja palang merah, bersama kedua putranya yang masih kecil dan ayahnya serta belasan pengungsi yang menumpang di rumahnya, merupakan di antara yang mengalami perlakuan baik pasukan Soviet itu. Awalnya mereka hendak mengungsi, namun gagal karena jembatan telah diledakkan. Mereka akhirnya berdesakan di rumahnya yang kecil sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa di blok rumahnya di Baustrasse. Tak lama kemudian, mereka kedatangan regu perintis pasukan Soviet berisi empat perwira plus 20 puluh prajurit yang membangun jembatan sementara. Kendati sejumlah prajurit meminta paksa arloji dan dan cincin kawin Maria setelah menggeledah rumah, mereka mengizinkan Maria dan keluarganya tetap tinggal di rumah itu. Bahkan, di rumah mereka ditempatkan seorang prajurit penjaga. Hal serupa dialami Irene Broker. Kendati sempat bersembunyi di galian dengan ditutupi tumpukan kompos, dia ditemukan seorang prajurit Soviet tua lalu dibawa kembali ke rumahnya. “Dia memberitahu kami bahwa tidak semua tentara itu baik – ada lebih banyak lagi yang datang dan kami harus bersembunyi. Kami melihat pesawat Rusia melintasi kota. Pusat kota diselimuti asap tebal. Ada kebakaran di semua tempat. Ketika saya melihat keluar jendela loteng, saya bisa melihat api berkobar ke langit,” kata Irene, dikutip Huber. Perlakuan baik yang diberikan tentara Soviet juga diterima Marie Dabs di rumah-pertaniannya, Deven Farm. Seorang prajurit Soviet yang mendatangi Deven Farm memberitahu Maria dengan bahasa Jerman bahwa tak perlu takut pada tentara Rusia. Namun, para serdadu Soviet kemudian menjarahi apapun yang ada di Deven Farm. Menjelang tengah malam, mereka memerintahkan Marie meninggalkan rumah-pertaniannya. Dengan membawa barang-barang yang tersisa, Marie membawa dua putrinya disertai Martha pembantunya mengungsi ke hutan di pinggiran kota. Namun, di tengah perjalanan mereka dihentikan sekelompok tentara. Seorang prajurit memerintahkan Nanni, putri Marie yang berusia 19 tahun, agar kembali ke Deven Farm. Sambil menangis Marie Dabs memohon agar perintah itu tak dijalankan. Beruntung beberapa perwira tinggi Soviet muncul dan membebaskan gadis itu. Marie, anak perempuan, anak laki-laki, dan Martha langsung lari menuju Deven Wood. Nahas, mereka ditangkap oleh lebih banyak tentara sebelum mereka sampai tujuan. Beberapa di antara mereka merampas tas Marie dan memeriksanya, sementara yang lain membawa lari Martha ke hutan. Marie dan anak-anaknya terpisah dari Martha ketika akhirnya mencapai Deven Wood. Di hutan itu mereka menghabiskan malam yang dingin bersama beberapa pengungsi lain.   Sementara itu, Martha tak mereka ketahui lagi nasibnya. Kemungkinan dia diperkosa para serdadu Soviet. Pemerkosaan merupakan perbuatan yang umum dilakukan serdadu Tentara Merah bahkan sejak sebelum memasuki wilayah Jerman. “Biarawati, gadis-gadis, perempuan tua, ibu hamil dan ibu yang baru saja melahirkan semua diperkosa tanpa belas kasihan,” tulis jurnalis Antony Beevor dalam Berlin: The Downfall 1945 . Pemerkosaan oleh Tentara Merah itu pula yang paling ditakuti para perempuan di Demmin. Maka begitu mendengar kedatangan mereka, ibu dan nenek Waltraud segera membarikade pintu-pintu di rumahnya. Namun upaya itu jelas tak bisa mencegah prajurit Tentara Merah masuk rumah mereka. Kendati berhasil melarikan diri dari rumah, mereka kemudian tertangkap sepasukan Tentara Merah. Sekelompok prajurit lalu membawa paksa paksa ibu Waltraud dan memperkosanya. “Kami mengejar mereka dan berteriak, tapi mereka mendorong kami dengan popor senapan,” kata Waltraud, dikutip Laurence Rees. Antara 10-20 kali sang ibu dipaksa melayani nafsu binatang para serdadu Soviet di malam awal Mei 1945 itu. Saking frustrasinya, sang ibu lalu memeluk kedua putrinya untuk diajak bunuh diri dengan nyemplung ke sungai yang airnya deras. “Dan pada titik inilah nenek Waltraud menyelamatkan nyawa mereka untuk terakhir kalinya. Dia menahan ibu Waltraud dan berteriak, ‘Tolong jangan lakukan ini! Apa yang sedang kamu lakukan? Apa yang harus kukatakan pada suamimu saat dia kembali dari medan perang dan kau pergi?’ Akibatnya, kata Waltraud, ibunya ‘menjadi lebih tenang’ dan membiarkan dirinya terbebas dari sungai dan pikiran untuk bunuh diri,” sambung Laurence. Dalam perjalanan, mereka melihat banyak ibu-ibu mengingatkan bayi-bayi mereka di pundak mereka lalu mencemplungkan diri ke sungai itu. Bunuh diri menjadi pemandangan umum di Demmin saat itu hingga setidaknya tiga hari setelah kedatangan pasukan Soviet. Bunuh diri gelombang kedua itu dilakukan penduduk Demmin sebagai akibat perkosaan masif yang dilakukan Tentara Merah. “Itu adalah malam dingin dan mengerikan yang kami habiskan di lantai hutan yang gundul... Saya membawa salah satu mantel bulu saya, dan selimut saya, jadi saya bisa menutupi anak-anak. Di kejauhan kami mendengar teriakan para perempuan yang disiksa dan diperkosa, dan melihat api pertama di atas kota yang terbakar,” kata Marie Dabs. Selain mencemplungkan diri ke sungai, mereka bunuh diri dengan cara menenggelamkan anak-anak dan anggota keluarga mereka lalu mengikuti, menembak, gantung diri, minum sianida, atau menyilet nadi mereka. Namun, tak semua upaya bunuh diri itu berhasil. Banyak upaya itu digagalkan serdadu Soviet. Seorang serdadu bahkan sampai berulangkali memotong tali yang digunakan seorang ibu untuk gantung diri. Upaya lain yang gagal, terjadi secara alami seperti tak mati setelah menembakkan diri sendiri, atau tak mati setelah mencemplungkan diri ke sungai. Banyak bayi yang ditenggelamkan oleh ibu mereka juga selamat. Betapapun, lebih dari seribu jiwa warga Demmin melayang akibat bunuh diri massal itu. Bunuh diri massal Demmin menjadi bunuh diri massal terbesar di Jerman selama Perang Dunia.

  • Ketika THR Bikin Geger

    DALAM beberapa hari terakhir, dan tentu saja juga dalam beberapa hari ke depan, perhatian masyarakat Indonesia tersedot pada suatu jenis pendapatan di luar gaji reguler yang diterima para pekerja di Indonesia menjelang Hari Raya Idul Fitri, yaitu THR alias Tunjangan Hari Raya. Pemerintah telah memastikan bahwa Pegawai Negeri Sipil (PNS) akan menerima THR pada H-10 sebelum Lebaran, atau pada awal Mei 2021. Pemerintah juga mewajibkan para pelaku usaha untuk memberikan THR kepada buruhnya tanpa dicicil. Akan ada sanksi bagi yang tidak membayarkan THR. Pro dan kontra pun bermunculan.

  • Kado Pemuda untuk Belanda di Bulan Puasa

    Belanda melancarkan agresi militer pertama pada 21 Juli 1947 ketika umat Islam sedang puasa Ramadan 1366 Hijriyah. Setahun kemudian, pada 21 Juli 1948, tepat pada hari ulang tahun agresi militer Belanda yang juga pada bulan Ramadan 1367 Hijriyah, terjadi peristiwa menggemparkan, yaitu pelemparan granat di dekat bioskop Rex di Senen, Jakarta. Kira-kira pukul 22.00 WIB seseorang berjalan di Kramatplein, diikuti oleh dua orang di belakangnya. Atas petunjuk kedua orang itu, dia melemparkan granat ke arah kedai kopi yang terletak di persimpangan jalan. Granat mengenai meja, jatuh lalu meledak. Di antara orang yang sedang minum-minum di sana, lima orang serdadu KL (Koninklijk Leger atau Tentara Kerajaan Belanda) dan lima orang preman terkena pecahan granat dan menderita luka-luka. Dua serdadu yang luka berat dibawa ke rumah sakit, yang lainnya bisa langsung pulang ke tangsi. Di antara preman itu, seorang Indonesia dan seorang Tionghoa juga luka parah, yang lainnya, seorang Indonesia, seorang Tionghoa, dan seorang Belanda luka ringan.n. Polisi segera datang untuk melakukan pemeriksaan. Polisi militerdan sepasukan dari basis komando kemudian menggerebek pemuda di mana-mana. Mereka menangkap 32 orang. Atas petunjuk salah seorang yang ditangkap, dilakukan penggeledahan di rumah salah seorang yang mereka tangkap itu. Di sini ditemukan dua buah granat tangan merek Mill’s 36, jenisnya sama dengan yang dilemparkan di kedai kopi.Ternyata,di antara 32 orang yang ditangkap itu terdapat pelaku pelemparan granat.Dia mengakui perbuatannya setelah pemeriksaan yang lama. A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia , menyebutkan bahwa koran-koran Belanda menuduh yang berbuat itu adalah TNI dari Yogyakarta, seperti dengan tegas dikatakan oleh Het Dagblad . Dikatakan pula bahwa pelempar granat itu berpakaian seragam tentara Belanda dengan memakai pet berlambang singa seperti yang dipakai KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Dia bernama Jumingan bin Surokromo, seorang anggota Arbeiderscompagnie  di Berelaan. Organisasi yang bertanggung jawab atas pelemparan granat itu bernama Pusat Organisasi Siasat Rahasia (POSAR 9) yang dipimpin oleh Suhadono bin Utomo yang memakai nama samaran Yudo. Dia berhubungan dengan Salendu dkk. di Cipinang dan Usman Sumantri dari SP 88 (Satoean Pemberontak). “POSAR 9 adalah salah satu organisasi gerilya di dalam kota yang mengganggu Belanda dari belakang. Mereka telah membentuk sel-sel dalam KNIL. Mereka mempunyai antara lain ‘fonds Lebaran’ dan sanggup membeli senjata-senjata,” tulis Nasution. Beberapa waktu setelah pelemparan granat itu, polisi menyita sepucuk mitraliur (senapan mesin) dan stengun dari Mukri, anggota POSAR 9 di Tanah Abang. Pemimpin aksi peggranatan itu adalah Suwagi bin Utomo, seorang serdadu pada Militaire Luchtvaart (Angkatan Udara Hindia Belanda). Anggotanya Sutadi dari Alg.   Bewakingscompagnie  (kompi pengawal) yang aktif dalam “fonds Lebaran” , Tiron, dan Sukaman yang juga anggota KNIL. Pengadilan Negeri yang diketuai oleh Cohen (mungkin Mr. Cohen Stuart) menjatuhkan hukuman mati kepada Yudo, Suwagi, dan Jumingan. Sedangkan anggotanya: Sukaman bin Wongsotaruno dihukum 9 tahun penjara, Darmowarsito bin Singodikromo (5 tahun), Tiron bin Gugis (13 tahun), Darmoraharjo bin Marsudiyono (9 tahun), Laso bin Makasaran (2 tahun), dan J. Harianya (9 tahun). “Pembela Mr. Mohd. Syah menerima hukuman penjara itu, tetapi menolak hukuman mati, mengingat latar belakangnya adalah politik, dan membandingkannya dengan kaum partisan di Eropa yang di mana-mana justru disanjung-sanjung,” tulis Nasution. Namun, hakim Cohen menolak kasus itu sebagai kasus politik. Menurutnya, perbuatan tersebut adalah tindak kriminal.

  • Petualangan Hiu Kencana di Pakistan

    SURABAYA, JANUARI1966. Letnan Satu Budi Handoko tetiba mendapat perintah untuk bersiap menyelam. Dikatakan kepada awak kapal selam Korps Hiu Kencana Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) itu bahwa dirinya akan bertugas selama 3 bulan. “Waktu itu belum dikasih tahu mau ditugaskan kemana, hanya diperintahkan untuk menyiapkan pakaian saja,” kenangnya. Dengan kapal selam RI Nagaransang yang dikomandani oleh Kapten (P) Basoeki, Budi kemudian bergerak menuju Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. Bersama RI Nagaransang, ikut pula kapal selam RI Bramastra (dikomandani oleh Kapten Jasin Soedirdjo). Setelah mengisi logistik di lepas pantai Jakarta, dua kapal selam jenis Whiskey buatan Uni Sovyet itu meluncur ke arah Samudera Indonesia. “Barulah di tengah Samudera Indonesia, ada pemberitahuan bahwa kami akan dikirim ke Pakistan guna membantu negara tersebut berperang melawan India,” ungkap Budi. * Jakarta, 10 September 1965. Panglima Angkatan Udara Republik Islam Pakistan Marsekal Madya Asghar Khan bertemu dengan Presiden Sukarno. Dalam kesempatan tersebut, selain menyampaikan surat dari Presiden Pakistan Ayub Khan, Asghar juga meminta dukungan kepada Bung Karno terkait konflik mereka dengan India. “Serangan India ke Pakistan itu sama dengan serangan ke Indonesia juga…”jawab Sukarno seperti dikutip oleh buku Story of  the Pakistan Navy, 1947—1972 (Riwayat Angkatan Laut Pakistan, 1947—1972) terbitan Seksi Sejarah Markas Besar Angkatan Laut Pakistan). Singkat cerita, Indonesia menyanggupi untuk mendukung Pakistan tidak hanya sebatas dukungan politik saja. Presiden Sukarno pun memerintahkan para panglima-nya untuk mengirimkan sejumlah peralatan militer ke Pakistan, meliputi beberapa tank baja, pesawat tempur, kapal perang dan kepal selam. ALRI sendiri mengirimkan Gugus Tugas ke-10-nya yang dipimpin oleh Letnan Kolonel (Laut) T.A. Natanegara. Kekuatan ALRI itu terdiri dari dua kapal cepat roket, empat kapal cepat torpedo, lima tank ampibi dan dua kapal selam. “Untuk kapal selam yang dikirim adalah RI Nagaransang dan RI Bramastra…” demikian menurut buku Sewindu Komando Djenis Kapal Selam, 12 September 1967 , yang ditulis dan diterbitkan oleh Seksi Buku Panitia HUT Sewindu Komando Djenis Kapal Selam. * Setelah 10 hari bergerak di lautan lepas, RI Nagaransang dan RI Bramastra pun sampai di Karachi, ibu kota Pakistan saat itu. Dengan barisan kehormatan, mereka pun disambut oleh pihak Angkatan Laut Pakistan dan langsung ditempatkan di sebuah mess. “Sejak itulah kami kerap melakukan patroli bersama dengan kapal selam Pakistan,” kenang Budi. Sejatinya ketika Gugus ke-10 ALRI tiba di Pakistan, kesepakatan damai antara Pakistan dan India baru beberapa hari saja ditandatangani oleh kedua pimpinan negara tersebut di Tashkent, Uni Sovyet. Namun mengingat situasi kawasan tidak bisa diduga, pihak Pakistan tetap meminta “sukarelawan” Indonesia untuk tetap siap-siaga. Termasuk RI Nagaransang dan RI Bramastra. “Untuk kebutuhan hidup (termasuk gaji perbulan dengan mata uang dollar), kami dijamin oleh pemerintah Pakistan…” ungkap Budi. Menurut Budi, tak ada sama sekali kontak senjata terjadi dengan India selama rombongan Indonesia ada di Karachi. Kegiatan militer hanya sebatas patroli dan latihan bersama saja. Jika pun ada kontak radio dengan kapal selam India, itu sebatas hanya “pamer kekuatan” saja untuk sekadar perang urat syaraf. Budi mengaku selama hidup di Karachi semuanya memang serba terjamin. Bukan saja soal makanan, tetapi juga mereka difasilitasi berbagai hiburan seperti menonton film di bioskop secara gratis. Namun soal makanan, sesungguhnya orang-orang Indonesia merasa tidak begitu cocok. “Mereka kan makanannya itu sejenis roti dan karee ya, kita sebetulnya kurang suka itu,” ujar Budi. Awal Maret 1966, misi militer  Indonesia di Pakistan yang diberi sandi Operasi Nasakom itu pun dinyatakan selesai. Saat melepas kru Hiu Kencana, Presiden Ayub Khan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada segenap anggota Gugus ke-10 ALRI. Mereka, kata Ayub, merupakan contoh terbaik “prajurit-prajurit Ampera” yang bisa dicontoh oleh prajurit-prajurit dan rakyat Pakistan. “Ketika meninggalkan Karachi, kami dilepas dengan barisan kehormatan pula seperti saat kali pertama kami datang,” kenang Budi. Maka berakhirlah petualangan Korps Hiu Kencana ALRI di Pakistan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page